KEPRIBADIAN

Kepribadian atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah personality berasal dari bahasa latin persona yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan.1 Dalam bahasa Arab kontemporer, kepribadian ekuivalen dengan istilah syakhshiyyah. syakhshiyyah berasal dari kata syakhshun yang berarti pribadi. Kata ini kemudian diberi ya’ nisbat sehinga menjadi kata benda buatan syakhshiyat yang berarti kepribadian. (Syamsu Yusuf LN dan A. Juntika Nurihsan, 2008 : 212) Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan: (1) identitas diri atau jati diri seseorang, (2) kesan umum seseorang tentang diri atau orang lain, dan (3) fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah. Syamsu Yusuf LN dan A. Juntika Nurihsan (2008 : 3) mengemukakan bahwa ada beberapa pengertian kepribadian menurut para ahli diantaranya : 1) Calvin S. Hall & Gardner Lindzey mengemukakan bahwa secara populer, kepribadian dapat diartikan sebagai : (1) keterampilan atau kecakapan sosial (social skill), dan (2) kesan yang paling menonjol, yang ditunjukan seseorang terhadap orang lain. 2) Woodworth mengemukakan bahwa kepribadian merupakan ”kualitas tingkah laku total individu”. 3) Dashiell mengartikannya sebagai ”gambaran totol tentang tingkah laku individu yang terorganisasi”. 4) Derlega, Winstead & jones (2005) mengartikannya sebagai ”Sistem yang relatif stabil mengenai karakteristik individu yang bersifat internal, yang berkontribusi terhadap pikiran, perasaan dan tingkah laku yang konsisten”. 5) Carl Gustav Jung mengemukakan bahwa kepribadian adalah seluruh pemikiran, perasaan dan prilaku nyata, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Kepribadian, bagi sebagian orang yang peduli, menjadi suatu keharusan untuk dimiliki. Hal ini menjadi sangat penting ditengah-tengah merosotnya akhlak generasi bangsa, bagaimana tidak bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai kepribadian luhur sedangkan bangsa yang tidak mampu mempertahankan kepribadiannya, hanya akan menjadi bangsa yang tinggal cerita dan menjadi dongeng pengantar tidur di masa-masa yang akan datang. Begitu besar arti kepribadian, hingga seorang peneliti bernama Hanna Djumhana Bastaman mengemukakan beberapa fungsi kepribadian yang harus diketahui dan dipahami, diantaranya :

1

Seorang aktor Yunani Kuno telah terbiasa memakai topeng (persona) ketika memerankan seorang tokoh dalam suatu drama. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan identitas dan untuk keleluasaan nya dalam memerankan sosok pribadi lain. Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007 : 17).

1

2

1) 2) 3)

4)

Fungsi pemahaman (understanding); memahami kepribadian apa adanya dan bagaimana seharusnaya; memberikan penjelasan yang benar, masuk akal dan ilmiah-qurani mengenai tingkah laku manusia. Fungsi pengendalian (control); memberi arah yang efektif dan efisien untuk berbagai tingkah laku manusia, serta memanfaatkan temuan-temuan ilmiahqurani secara benar untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Fungsi peramalan (prediction); memberi gambaran mengenai kondisi tingkah laku manusia dimasa mendatang (termasuk kehidupan setelah mati dan di akhirat kelak) serta memperkirakan hal-hal yang akan terjadi pada waktu periode tertentu. Fungsi pendidikan (education); meningkatkan kualitas prilaku manusia; menunjukan tingkah laku yang benar dan baik; dan memberi arahan bagimana mengubah tingkah laku yang salah menjadi benar, sehingga membentuk kepribadian yang sempurna (kamil) dan paripurna/menyeluruh (syamil). (H. Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, 2006 : 50)

Dengan demikian kita dapat mengetahui betapa pentingnya arti sebuah kepribadian yang menjadi ciri kebesaran dan keluhuran suatu bangsa. Disamping itu kepribadian juga merupakan cermin, artinya kita dapat mengukur kepribadian kita melalui kepribadian orang lain dalam rangka memperbaiki kepribadian diri sendiri. Di tempat yang berbeda E.B Hurlock (1986) mengemukakan bahwa jika seseorang memiliki kepribadian yang sehat maka dengannya akan timbul hal-hal sebagai berikut : 1) Mampu menilai diri sendiri secara realistik. 2) Mampu menilai situasi secara realistik. 3) Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik. 4) Menerima tanggungjawab. Individu yang sehat adalah individu yang bertanggungjawab. 5) Kemandirian (autonomy). 6) Dapat mengontrol emosi. 7) Berorientasi tujuan. 8) Berorientasi keluar (exstrovert). 9) Penerimaan sosial. 10) Memiliki filsafat hidup. 11) Berbahagia. Individu yang sehat, situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan. (Syamsu Yusuf LN dan A. Juntika Nurihsan, 2008 : 12) Sebagai individu yang senantiasa ingin mencapai konsep kepribadian yang telah diutarakan diatas, tentu kita berusaha sekuat tenaga agar harapan itu bisa terwujud sehingga kita menjadi individu yang penuh cinta dan dicintai. Sebagai manusia yang penuh dengan kealfaan, kita sering disudutkan pada dua kondisi bebeda yang memaksa kita untuk ”rela” dan ’’ikhlas” dalam menghadapinya. Harus dipahami bahwa manusia bukanlah malaikat yang senantiasa istiqomah dalam kebenaran tetapi bukan pula setan yang selamanya dalam kebathilan. Manusia adalah makhluk yang netral (kalau boleh dikatakan demikian), yang terkadang kepribadiannya berkembang seperti malaikat akan tetapi dalam

3

waktu yang berbeda terkadang seperti setan yang jauh dari nilai-nilai agama. Hal ini bisa saja terjadi karena bergantung pada pilihan yang diyakini untuk djadikan pedoman hidup.2 Bagi mereka yang tetap dalam komitmen kepada kebenaran, meskipun harus menempuh perjuangan hidup yang sulit, maka individu tersebut akan lahir dan berkembang sebagai manusia yang berkepribadian mantap (positif). Dalam Al Qur’an tipe kepribadian positif itu setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga macam. 1. Kepribadian Mukmin Mukmin berarti orang yang beriman. Kata iman (percaya) seakar dengan : (1) kata amanah (terpercaya) yang merupakan lawan dari khianat dan (2) kata aman (keadaan aman). Secara etimologi, iman berarti pembenaran (tashdiq). Orang yang beriman adalah orang yang benar dalam memegang dan melaksanakan amanat, sehingga hatinya merasa aman. Seorang yang memiliki kepribadian mukmin, maka darinya akan lahir berbagai kepribadian mulia. a) Kepribadian Robbani Kepribadian Robbani adalah kepribadian individu yang mencerminkan sifatsifat Tuhan. b) Kepribadian Malaki Kepribadian Malaki adalah kepribadian individu yang mencerminkan sifatsifat malaikatan (malakiyyah). c) Kepribadian Qur’ani Kepribadian Qur’ani adalah kepribadian individu yang mencerminkan nilainilai Al Qur’an (qur’aniyyah). d) Kepribadian Rasuli Kepribadian Rasuli adalah kepribadian individu yang mencerminkan sifatsifat kerasulan (rasuliyyah). e) Kepribadian Yawm Akhiri Kepribadian Yawm Akhiri adalah kepribadian individu yang didapat setelah mengimani, memahami dan mempersiapkan diri untuk memasuki hari akhir dimana seluruh prilaku manusia dimintai pertanggungjawaban. f) Kepribadian Taqdiri Kepribadian Taqdiri adalah kepribadian individu yang didapat setelah mengimani, memahami, mengaplikasikan ketentuan dan aturan Alloh Swt. dalam kehidupan ini, sehingga ia mendapatkan rahasia dan hikmah hidupnya menuju keselamatan di dunia dan akhirat.
2

“Maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa manusia, fujur (kefasikan) dan taqwa (beriman dan beramal shaleh)”. (QS : Asy Syamsu [91]: 8) “Bahwasannya Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau tidak mereka sendiri merubahnya”. (QS : Ar Rad [13] : 11)

4

2.

Kepribadian Muslim Muslim berarti orang Islam. Kata ”islam” seakar dengan kata al salam, al salm dan al silm yang berarti menyerahkan diri, kepasrahan, ketundukan dan kepatuhan; kata ”al silm” dan ”al salm” yang berarti damai dan aman; kata ”al salam” dan ”al salamah” yang berarti bersih dan selamat dari cacat, baik lahir maupun batin. Orang yang berislam adalah orang yang menyerah, tunduk, patuh, dalam melakukan prilaku yang baik, agar hidupnya bersih lahir batin yang pada gilirannya akan mendaptkan keselamatan dan kedamaian hidup di dunia dan akhirat. Seorang yang memiliki kepribadian muslim, maka darinya akan lahir berbagai kepribadian mulia. a) Kepribadian Syahadatain Kepribadian Syahadatain adalah kepribadian individu yang didapat setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, memahami hakikat dari ucapannya serta menyadari akan segala konsekuensi persaksiannya tersebut. b) Kepribadian Mushalli Kepribadian Mushalli adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan shalat dengan baik, konsisten, tertib dan khusyu’, sehingga dia mendapatkan hikamah dari apa yang dikerjakan. c) Kepribadian Shaim Kepribadian Shaim adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan ketaqwaan, sehingga ia dapat mengendalikan diri dengan baik. d) Kepribadian Muzakki Kepribadian Muzakki adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan zakat dengan penuh keikhlasan, sehingga ia mendapatkan hikmah dari apa yang dilakukan. e) Kepribadian Haji Kepribadian Haji adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan haji yang semata-mata dilakukan karena Alloh swt., sehingga ia mendapatkan hikmah dari apa yang dilakukan. f) Kepribadian Muhsin Muhsin berarti orang yang berbuat ihsan. Kata ”ihsan” berasal dari ”hasuna’ yang berarti baik atau bagus. Seluruh perilaku yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan kemudharatan merupakan prilaku yang ihsan. Jadi yang dimaksud kepribadian muhsin adalah kepribadian yang dapat memperbaiki dan mempercantik individu, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, sesamanya, alam semesta dan kepada Tuhan yang diniatkan hanya untuk mencari ridha-Nya. (Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, 2007 : 185)

5

Perkembangan kepribadian individu dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya faktor hereditas dan lingkungan. Faktor hereditas yang mempengaruhi kepribadian antara lain : bentuk tubuh, cairan tubuh, dan sifat-sifat yang diturunkan dari orang tua. Adapun faktor lingkungan antara lain : lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat. (Syamsu Yusuf LN dan A. Juntika Nurihsan, 2008 : 19) Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian individu. Karena keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi individu, setiap individu banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan para anggota keluarga merupakan ”significant people” bagi pembentukan kepribadian individu. Perlakuan keluarga yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan yang diberikan kepada setiap individu, baik nilai agama maupun nilai sosial budaya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan individu menjadi pribadi dan warga masyarakat yang sehat dan produktif. Seperti telah disinggung di awal, maka secara garis besar dapat disimpulkan bahwa ada dua faktor utama yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian seorang individu, yaitu faktor hereditas (genetika) dan faktor lingkungan (environment). Islam sebagai agama yang sejalan dengan fitrah insani, tentu sangat mengedepankan pentingnya pendidikan/pembinaan dalam rangka mengexplor kepribadian positif yang ada dalam diri setiap individu. Individu yang dikembangkan dalam iklim demokratis cenderung memiliki ciri-ciri kepribadian : lebih aktif, lebih bersikap sosial, lebih memiliki harga diri (percaya diri), lebih memiliki keinginan dalam bidang intelektual, lebih orisinil dan lebih konstruktif dibandingkan dengan anak yang dikembangkan dalam iklim autoritarian. (Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, 2008 : 29) Untuk mencapai kepribadian positif yang integral dan sehat, maka setiap sistem atau aspek kepribadian harus mencapai tahap perkembangan sepenuhnya. Proses perkembangan secara penuh ini disebut proses pembentukan diri atau penemuan diri. Meminjam istilah Jung (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 1985 : 109) bahwa proses seperti ini disebut dengan proses individuasi. Proses individuasi ini (masih menurut Jung) ditandai oleh beberapa tahapan perkembangan. Tahap Pertama Membuat sadar fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidak sadaran. Dengan cara ini, tegangan dalam batin berkurang dan kemampuan untuk mengadakan orientasi serta penyesuaian diri meningkat. Tahap Kedua Menyadari bahwa manusia hidup dalam berbagai tegangan pasangan yang berlawanan, baik rohaniah maupun jasmaniah. Manusia harus tabah menghadapi masalah ini serta dapat mengatasinya. Tahap Ketiga Adanya hubungan yang selaras antara kesadaran dan ketidaksadaran, adanya hubungan selaras antar segala aspek dari kepribadian yang ditimbulkan oleh titik pusat kepribadian, menerangi menghubungkan, serta mengkoordinasikan seluruh

6

aspek kepribadian. Gambaran manusia yang mampu mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadiannya ini disebut manusia integral atau manusia ”sempurna”.3 (Syamsu Yusuf LN dan A. Juntika Nurihsan, 2008 : 92)

3

Menurut konsep agama (Islam), bahwa setiap manusia dalam rangka mewujudkan cita-cita menjadi manusia “sempurna’, maka haruslah berpedoman pada diri Rosululloh SAW sebagai panutan dan ikutan umat, hal ini sejalan dengan apa yang telah difirmankan Alloh SWT dalam Al qur’an Surat Al Ahzab [33] : 21, yang artinya “sungguh telah ada pada diri Rosululloh SAW suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Alloh SWT dan (kedatangan) hari qiyamat dan yang banyak mengingat Alloh SWT.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful