Asuhan keperawatan pada klien ” HIDROSEFALUS”

Filed Under: Neurobehaviour — putri_rahza — 34 Comments November 30, 2009 2.1 Definisi Hidrocephalus adalah: suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intra kranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS (Ngastiyah,2005). Hidrocepalus adalah akumulasi cairan serebrospinal dalam ventrikel cerebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural (Suriadi,2006) Hidrocephalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem Ventricular. Ketika produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal mengakumulasi di dalam sistem Ventricular (nining,2008). Gambar : Anak dengan hidrocephalus 2.2 Klasifikasi Hydrocephalus 2.2.1 Hidrosephalus pada anak atau bayi pada dasarnya dapat di bagi dua: 1. Kongenital Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan, sehingga ;  Pada saat lahir keadaan otak bayi terbentuk kecil  Terdesak oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan intrakranial sehingga pertumbuhan sel otak terganggu. 2. Didapat Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah penyakit-penyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana pengobatannya tidak tuntas. Pada hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya peninggian tekanan intrakranial.Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital dengan di dapat terletak pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya. 2.2.2 Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu : 1. Hydrocephalus komunikan Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat aliran bebas CSF dalam sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan. Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP).

tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. 1). dimentia. ataxic gait. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim. 2. Biasanya diakibatkan obstruksi dalam sistem ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. produksi CSF ternyata berkurang + 0. Biasanya gangguan yang terjadi pada hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non komunikan. Umumnya terdapat pada orang dewasa. Melalui satu pasang foramen Lusckha CSF mengalir cerebello pontine dan cisterna prepontis.Pada anak dengan hidrosefalus. hemmorhage serebral atau thrombosis. dari sini melalui aquaductus Sylvius menuju ventrikel IV. Arachnoid b. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala.Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Tekanan intrakranial biasanya normal. Plexus choroideus (yang merupakan bagian terbesar) 2). CSF mengalir dari II ventrikel lateralis melalui sepasang foramen Monro ke dalam ventrikel III. dapat terjadi atrofi serebral. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala. ternyata CSF mengalir dari tempat pembentuknya ke tempat ke tempat absorpsinya. 3. Parenchym otak 3). biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP) 2. Hydrocephalus non komunikan Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga menghambat aliran bebas dari CSF. Hidrocephalus Bertekan Normal ( Normal Pressure Hidrocephalus ) Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral. CSF di bentuk oleh PPA. Pembentukan CSF Normal CSF diproduksi + 0.35 ml / menit atau 500 ml / hari dengan demikian CSF di perbaharui setiap 8 jam. mengitis. 30 / menit. Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada sistem ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular.3 Fisiologi Cairan Cerebro Spinalis a. Cairan yang keluar dari . pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka. Sirkulasi CSF Melalui pemeriksaan radio isotop. incontinentia urine. gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi .

Melalui cisterna di supratentorial dan kedua hemisfere cortex cerebri. 2. Semua meningitis bakterialis dapat menyebabkan hidrosefalus akibat dari fibrosis leptomeningeal. cedera kepala.utero ataupun setelah lahir. Dari sini mengalir ke superior dalam rongga subarachnoid spinalis dan ke cranial menuju cisterna infra tentorial. Lesi masa menyebabkan peningkatan resistensi aliran liquor serebrospinal dan kebanyakan tumor berlokasi di fosa posterior.4.foramen Magindie menuju cisterna magna. letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian/total. 2. Perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kejadian seperti prematur. Umumnya gejala Hidrocefalus terlihat sejak lahir/progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir. c. ruptura malformasi vaskuler. Gangguan aliran vena. Pada sebagian besar pasien banyak yang etiologi tidak dapat diketahui dan untuk ini diistilahkan sebagai hidrosefalus idiopatik. Kista arachnoid dan kista neuroepitalial merupakn kelompok lesi masa yang menyebabkan aliran gangguan liquor berlokasi di daerah supraselar atau sekitar foramen magmum.Djoko Listiono( 1998) : 1. Hidrosefalus yang terjadi biasanya multi okulasi. c. Sebab-sebab Prenatal Sebab prenatal merupakan faktor yang bertanggung jawab atas terjadinya hidrosefalus kongenital yang timbul in. Sindrom Dandy-Walker . Meningitis. Sebab-sebab Postnatal a. 2. Seabb-sebab ini mencakup malformasi ( anomali perkembangan sporadis ).Tumor lain yang menyebabkan hidrosefalus adalah tumor di daerah mesencephalon. b.2 Penyebab sumbatan aliran CSF Penyebab sumbatan aliran CSF yang sering terdapat pada bayi dan anak – anak : Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi adalah: 1.4 Etiologi 2. trombosis jugularis. Kelainan bawaan a.4.1 Etiologi Hidrosefalus menurut L. hal ini disebabkan karena keikutsertaan adanya kerusakan jaringan otak d. infeksi atau kelainan vaskuler. Sirkulasi berakhir di sinus Doramatis di mana terjadi absorbsi melalui villi arachnoid. Stenosis Aquaductus sylvii merupakan penyebab yang paling sering pada bayi/anak (60-90%) Aquaductus dapat berubah saluran yang buntu sama sekali atau abnormal ialah lebih sempit dari biasanya. b. Biasanya terjadi akibat sumbatan antomis dan fungsional seperti akhondroplasia dimana terjadi gangguan drainase vena pada basis krani. Spina bifida dan cranium bifida Biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan cerebelum.

infeksi (meningitis.Tumorfossa posterior. Histositosis X. Trombosis sinus venosus.pneumonia. sehingga walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan. Infeksi Infeksi mengakibatkan perlekatan meningen (selaput otak) sehingga terjadi obliterasi ruang subarakhnoid. Gangguan vaskuler. Arterio venosusmalformasi. Galeni. d. ventrikel serebral melebar.5 Patofisiologi Hidrocephalus ini bisa terjadi karena konginetal (sejak lahir). menyebabkan permukaan ventrikuler mengkerut dan merobek garis ependymal. 6. c. Neoplasma tersebut antara lain: a. limfoma. Neoplasma Terjadinya hidrosefalus disini oleh karena obstruksi mekanis yang dapat terjadi di setiap aliran CSS. Proses akut itu merupakan kasus emergency. Leukemia. Anomali pembuluh darah 2. d.Dilatasi sinus dural. Basilaris. c. a. pendarahan di kepala dan faktor bawaan (stenosis aquaductus sylvii) sehingga menyebabkan adanya obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan subarachnoid. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan .misalnya meningitis. b. Ekstaksi A. White mater dibawahnya akan mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. 2. 5.TBC). 3. Pailloma pleksus khoroideus. e. d. Degeneratif.Merupakan atresia congenital foramen luscha dan mengendie dengan akibat Hidrocefalus obstruktif dengan pelebran sistem ventrikel terutama ventrikel IV sehingga merupakan krista yang besar di daerah losa posterior.Tumor ventrikel III. Malformasi V. Pada bayi dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi peningkatan massa cranial. Proses dilatasi itu dapat merupakan proses yang tiba – tiba / akut dan dapat juga selektif tergantung pada kedudukan penyumbatan. Pada gray matter terdapat pemeliharaan yang bersifat selektif. b. Kista Arachnoid Dapat terjadi conginetal membagi etiologi menurut usia e. Perdarahan 4. inkontinentia pigmenti dan penyakit krabbe.

Muntah b. Pada bayi terlihat lemah dan diam tanpa aktivitas normal. 2.Stenosis aquaductal (Penyakit keluarga / keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada ventrikel laterasl dan tengah. pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow). Kerusakan dalam absorbsi dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak komplit. Tampak adanya dsitensi vena superfisialis dan kulit kepala menjadi tipis serta rapuh. Tanda – tanda peningkatan tekanan intracranial antara lain : a. 1. lama kelamaan menjadi besar dan mengeras menjadi bentuk yang karakteristik oleh peningkatan dimensi ventrikel lateral dan anterior – posterior diatas proporsi ukuran wajah dan bandan bayi.6 Manifestasi Klinis Kepala bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol. Bayi : 1. 3. Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistim ventrikel . 2. spasme ekstremitas. Keterlambatan penutupan fontanela anterior. Jika route kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi. sedikit tinggi dari permukaan tengkorak. jika anak hidup maka akan terjadi retardasi mental dan fisik. Proses ini pada tipe communicating dapat tertahan secara spontan atau dapat terus dengan menyebabkan atrofi optik. sebagai akibatnya menujukkan gejala : Kenailkan ICP sebelum ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar. Puncak orbital tertekan ke bawah dan mata terletak agak kebawah dan keluar dengan penonjolan putih mata yang tidak biasanya. malnutrisi dan kematian. CSF melebihi kapasitas normal sistim ventrikel tiap 6 – 8 jam dan ketiadaan absorbsi total akan menyebabkan kematian.Uji radiologis : terlihat tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah – pisah dan pelebaran vontanela. Klien dengan tipe hidrosephalus diatas akan mengalami pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol memenuhi sebagian besar ruang dibawah tentorium. Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun. CT scan dapat menggambarkan sistim ventrikuler dengan penebalan jaringan dan adnya massa pada ruangan Occuptional. sutura cranial telah menutup sehingga membatasi ekspansi masa otak. Syndroma dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar pada ventrikel IV. konvulsi.mengembang dan terasa tegang pada perabaan. Pada orang yang lebih tua. Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma normal yang pada didning rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Gelisah c. Menangis dengan suara ringgi . keras. sehingga fontanela menjadi tegang.

2. Nyeri kepala 2. 3. adanya pelebaran sutura. lebar halo dari tepi sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm. Alat yang dipakai lampu senter yang dilengkapi dengan rubber adaptor. Lingkaran kepala Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dicurigai. Anak yang telah menutup suturanya . Penglihatan ganda.d. perubahan personalitas 4. Perubahan pupil 2. untuk keperluan diagnostik hidrosefalus dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang( . nystagmus. Rontgen foto kepala Dengan prosedur ini dapat diketahui: a. kontruksi penglihatan perifer 6. perubahan pupil.Peningkatan sistole pada tekanan darah.7 Pemeriksaan Diagnostik Selain dari gejala-gejala klinik. b. Pada hidrosefalus. 4. Alis mata dan bulu mata ke atas. Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluh – pembuluh darah terlihat jelas 6. pemeriksaan ini dilakukan dalam ruangan yang gelap setelah pemeriksa beradaptasi selama 3 menit. keluhan pasien maupun dari hasil pemeriksaan fisik dan psikis. Ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun 5. ―sunset eyes‖ 8. lelah. Lethargi. atropi optic 9. Strabismus. lethargi – stupor. penurunan nadi. Hidrosefalus tipe juvenile/adult oleh karena sutura telah menutup maka dari foto rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan tekanan intrakranial. jika penambahan lingkar kepala melampaui satu atau lebih garis-garis kisi pada chart (jarak antara dua garis kisi 1 cm) dalam kurun waktu 2-4 minggu. yaitu: ukuran kepala. Transimulasi Syarat untuk transimulasi adalah fontanela masih terbuka. yaitu : 1. Tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial : 1. sehingga sclera telihat seolah – olah di atas Iris 7. tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial kronik berupa imopressio digitate dan erosi prosessus klionidalis posterior. Bayi tidak dapat melihat ke atas. peningkatan pernafasan dan tidak teratur. Pada anak yang besar lingkaran kepala dapat normal hal ini disebabkan oleh karena . Hidrosefalus tipe kongenital/infantile. Strabismus 7. Peningkatan tonus otot ekstrimitas 5. Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas. apatis. Muntah 3. 2.

2.8 Penatalaksanaan Penanganan hidrocefalus masuk pada katagori ‖live saving and live sustaining‖ yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Pendapat lain mengatakan pemeriksaan USG pada penderita hidrosefalus ternyata tidak mempunyai nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini disebabkan oleh karena USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem ventrikel secara jelas. Ventrikulografi Yaitu dengan memasukkan konras berupa O2 murni atau kontras lainnya dengan alat tertentu menembus melalui fontanela anterior langsung masuk ke dalam ventrikel. 5. Pada hidrosefalus komunikans gambaran CT Scan menunjukkan dilatasi ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal dari daerah sumbatan. Setelah kontras masuk langsung difoto. Ultrasonografi Dilakukan melalui fontanela anterior yang masih terbuka. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih besar dari occipital horns pada anak yang besar. yaitu menghubungkan ventrikel dengan subarakhnoid . Dengan USG diharapkan dapat menunjukkan system ventrikel yang melebar. Di rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT Scan. 6. maka akan terlihat kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. prosedur ini telah ditinggalkan. 4. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan kematian sehingga prinsip pengobatan hidrocefalus harus dipenuhi yakni: 1. Mengurangi produksi cairan serebrospinal dengan merusak pleksus koroidalis dengan tindakan reseksi atau pembedahan. Pada anak yang besar karena fontanela telah menutup untuk memasukkan kontras dibuatkan lubang dengan bor pada kranium bagian frontal atau oksipitalis. seperti halnya pada pemeriksaan CT Scan. Ventrikulografi ini sangat sulit. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi caira serebrospinal dengan tempat absorbsi. dan mempunyai risiko yang tinggi. CT Scan kepala Pada hidrosefalus obstruktif CT Scan sering menunjukkan adanya pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Ventrikel IV sering ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Untuk mengetahui kondisi patologis otak dan medula spinalis dengan menggunakan teknik scaning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh 2. 7.hidrosefalus terjadi setelah penutupan suturan secara fungsional. atau dengan obat azetasolamid (diamox) yang menghambat pembentukan cairan serebrospinal. Tetapi jika hidrosefalus telah ada sebelum penutupan suturan kranialis maka penutupan sutura tidak akan terjadi secara menyeluruh.

Misalnya: pungsi lumbal yang berulang-ulang untuk terapi hidrosefalus tekanan normal. Drainase ke dalam anterium mastoid f. kateter harus diganti sesuai dengan pertumbuhan anak dan harus diwaspadai terjadinya infeksi sekunder dan sepsis. Pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ ekstrakranial. dan bersifat hanya sementara. CSS dialirkan ke sinus sagitalis superior Ventrikulo-Bronkhial. Ventrikulo-Mediastinal. Tindakan bedah pemasangan selang pintasan atau drainase dilakukan setelah diagnosis lengkap dan pasien telah di bius total. Cara ini merupakan cara yang dianggap terbaik namun. lentur. Eksternal CSS dialirkan dari ventrikel ke dunia luar. Drainase ventrikule-peritoneal b. tidak mudah putus. Suatu reservoir yang memungkinkan aspirasi dari CSS untuk dilakukan analisis. Drainase Lombo-Peritoneal c. Disusul kemudian dibuat sayatan kecil di daerah perut. yakni: a. 4. Internal a. ujungnya ditempatkan setinggi foramen Monroe. CSS dialirkan ke Bronhus. dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan. CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain Ventrikulo-Sisternal. antara ujung selang di kepala dan perut dihubiungakan dengan selang yang ditanam di bawah kulit hingga tidak terlihat dari luar. Drainase ventrikulo-Pleural d.3. Teknik Shunting: 1. 5. Pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau pintasan jenis silicon yang awet. Sebuah kateter ventrikular dimasukkan melalui kornu oksipitalis atau kornu frontalis. 2. ―Lumbo Peritoneal Shunt‖ CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga peritoneum dengan operasi terbuka atau dengan jarum Touhy secara perkutan. . 2. lalu selang pintasan dipasang. CSS dialirkan ke sisterna magna (Thor-Kjeldsen) Ventrikulo-Atrial. Mengalirkan cairan serebrospinal ke dalam vena jugularis dan jantung melalui kateter yang berventil (Holter Valve/katup Holter) yang memungkinkan pengaliran cairan serebrospinal ke satu arah. Dibuat sayatan kecil di daerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak dan selaput otak. CSS dialirkan ke rongga peritoneum. Ada 2 macam terapi pintas / ― shunting ―: 1. Drainase ventrikule-Uretrostomi e. b. CSS dialirkan ke mediastinum Ventrikulo-Peritoneal.

obstruksi. Komplikasi yang sering terjadi pada shunting: infeksi. abses abdomen 5.11 Dampak Hospitalisasi Anak Penderita Hydrocephalus dan keluarganya Reaksi Hospitalisasi Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak. Jika tidak dioperasi 50-60% bayi akan meniggal karena hidrosefalus sendiri ataupun penyakit penyerta. dan sektar 60% dengan cacat intelek dan motorik bermakna.9 Komplikasi Komplikasi Hidrocefalus menurut Prasetio (2004): 1.sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan . baik yang terletak proksimal dengan tipe bola atau diafragma (Hakim. Sebuah katup yang terdapat dalam sistem Shunting ini. Pembesaran kepala 3. Ekstremitas mengalami kelemahan. sekitar 70% diharap dapat melampaui masa bayi. sekitar 40% dengan intelek normal. 5. ascites akibat CSS. Peningkatan TIK 2. kerusakan otak 4. 2. 4. Ventriculo-Atrial Shunt. hematom subdural. Prognosis bayi hidrosefalus dengan meningomilokel lebih buruk. Slang silastik ditanam dalam lapisan subkutan b. Holter) maupun yang terletak di distal dengan katup berbentuk celah (Pudenz).pengalaman sebelumnya terhadap sakit. Ventriculo-Peritneal Shunt a. Pitz. Ujung distal kateter dimasukkan ke dalam atrium kanan jantung melalui v. Proses aliran darah terganggu 2. Pada anak-anak dengan kumparan silang yang banyak. jugularis interna (dengan thorax x-ray ® ujung distal setinggi 6/7). Pudenz.10 Prognosa Keberhasilan tindakan operatif serta prognosis hidrosefalus ditentukan ada atau tidaknya anomali yang menyertai. sensibilitas kulit menurun 6. 2. memungkinkan tidak diperlukan adanya revisi walaupun badan anak tumbuh memanjang. Meningitis. Dengan bedah saraf dan penatalaksanaan medis yang baik.3. Skitar 40% bayi yang bertahan memiliki kecerdasan hampir normal. Prognosis hidrosefalus infatil mengalami perbaikan bermakna namun tidak dramatis dengan temuan operasi pisau. H2O. ventrikularis. Kerusakan jaringan saraf 7. keadaan CSS yang rendah. Ujung distal kateter ditempatkan dalam ruang peritoneum. mempunyai prognosis lebih baik dari hidrosefalus yang bersama dengan malformasi lain (hidrosefalus komplikata). Katup akan membuka pada tekanan yang berkisar antara 5-150 mm. kraniosinostosis. inkoordinasi.

Membina hubungan secara dangkal f. Sehingga ada perasaan malu. Menangis keras b. berontak.reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan. perlukaan tubuh.Masa remaja (12 sampai 18 tahun ) Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya Saat MRS cemas karena perpisahan tersebut.dan rasa nyeri. Masa bayi(0-1 th) Dampak perpisahan Pembentukan rasa P.Masa todler (2-3 th) Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan . Pembatasan aktivitas Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. menjerit. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun ) .D dan kasih saying. anak tak aktif. menolak perhatian orang lain b. takut sehingga menimbulkan reaksi agresif. Tahap protes menangis.pada umumnya.koping yang dimilikinya. perasaan takut mati. Masa sekolah 6 sampai 12 tahun Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai .Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Perawatan di rumah sakit : a. Mulai menerima perpisahan e.Disini respon perilaku anak dengan tahapnya. a. kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg. kehilangan. apatis c.Sering bertanya . Pengingkaran/ denial d. Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas a. a. marah. Ekspresi wajah yang tak menyenangkan 2.Menangis perlahan .Menolak makan .tidak mau bekerja sama dengan perawat. Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol . Reaksi anak pada hospitalisasi : 1. Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal 5. sedih. keluarga. kelemahan fisik. Anak mulai menyukai lingkungannya 3. 4. kurang menunjukkan minat bermain. Kehilangan kontrol b. Pergerakan tubuh yang banyak c. Putus asa menangis berkurang. kehilangan klp sosial.

rasa bersalah BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan keperawatan pada Gangguan Hidrocephalus 3. perasaan sedih dan frustasi kehilangan anak yang dicintainya: 1. 3. Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi: 1. Takut dan cemas.1 Pengkajian 1. benci. Perasaan sedih: Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain. Tidak kooperatif dengan petugas Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon : a. Riwayat Penyakit Dahulu Alamat 2. Perawatan yang tidak direncanakan 4. menolak kehadiran orang lain b. Prosedur yang menyakitkan 2. bertanya-tanya b. Pengalaman perawatan sebelumnya 2. Informasi buruk tentang diagnosa medis 3. menolak tindakan. Data demografi 1) Nama 2) Usia : Kebanyakan terjadi pada anak-anak pada usia infant 3) Jenis Kelamin : Hidrocephalus sebagian besar mengenai anak laki – laki 4) Suku/ bangsa 5) Agama 6) Pendidikan 7) Pekerjaan prematur 3. putus asa. Riwayat Penyakit Sekarang : Pendarahan otak yang berhubungan dengan kelahiran . Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS:  Marah. cemburu. Pengumpulan Data 1. menarik diri c. Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan b. Perasaan frustasi : Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif.Reaksi yang muncul : a.

muram 6. 3. Potensial komplikasi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan akumulasi cairan serebrospinal. perubahan pupil. Tidak mampu menatap dengan pandangan yang jelas. lelah. Pengkajian persistem B1 (Breath) : Dispnea. Tidak menunjukkan reaksi 8. Tidak ada tanda-tanda untuk bicara 5. kontruksi penglihatan perifer. muntah. dahi menonjol dan mengkilat pembesarankepala. Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum. Mengangkat kepala setinggi 45 0 sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas bahkan kesulitan menggerakkan kepala 2. Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh. trauma sewaktu lahir Postnatal : Infeksi. tidak dapat melihat ke atas. kejang B4 (Bladder) : Oliguria B5 (Bowel) : Mual. Melihat dan menatap wajah anda. ronchi. penurunan nadi B3 (Brain) : Sakit kepala. kami mengambil kasus pada anak yang antara 0-3 bulan. ―sunset eyes‖.Antrenatal : Perdarahan ketika hamil Natal : Perdarahan pada saat melahirkan.tidak dapat menatap ke atas 4. alis mata dan bulu mata ke atas sehingga sclera telihat seolah – olah di atas Iris 3. Suka tertawa keras Diam. peningkatan sistole tekanan darah. malas makan B6 (Bone) : Kelemahan. TBC. meningitis. Tujuan: Tidak terjadi peningkatan TIK Kriteria Hasil:  Kesadaran Komposmetis . penglihatan ganda. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Dari riwayat pertumbuhan dan perkembangan ini. strabismus. Peningkatan tonus otot ekstrimitas 3. Bereaksi terkejut terhadap suara keras Tidak ada respon terhadap stimulus apapun 7. Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah tidak dapat menatap ke atas. gangguan kesadaran. peningkatan frekuensi napas B2 (Blood) : Pucat. Riwayat penyakit keluarga 2. neoplasma 4.2 Diagnosa Keperawatan 1. pendengaran. diare. memiliki penglihatan ganda. No Bayi Normal Bayi Hidrosefalus 1. kontak Kurang bisa mengenali orang terdekat. penciuman. Mengenal ibu dengan penglihatan.

tidak terjadi penekanan pada lobus oksipitalis dan tidak terjadi pembesaran pada kepala 2. Tidak terjadi nyeri kepala  TTV normal Intervensi Rasional 1. untuk mengurangi peningkatan TIK 1. bed plang dll dipasang agar tidak cedera ) 2. Observasi ketat tanda-tanda peningkatan TIK (Nyeri kepala. Ketidakmampuan dalam penglihatan tidak bertambah parah. kontruksi penglihatan perifer strabismus. Klien tidak banyak bergantung pada orang lain 3. muntah. Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK 2. penglihatan ganda. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penekanan lobus oksipitalis karena meningkatnya TIK Tujuan : Tidak terjadi disorientasi pada anak Kriteria Hasil :  Penurunan visus tidak bertambah lebih parah  Anak bisa mengenali lingkungan sekitarnya Intervensi Rasional 1. Dengan dilakukan pembedahan. Klien merasa nyaman dan aman 2. perubahan personalitas. Membantu orientasi tempat c. Pantau terus tingkat kesadaran anak 3. Membantu ADL pasien b. Berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan pembedahan. lelah. diharapkan cairan cerebrospinal berkurang. Mempertahankan visus agar tidak terjadi penurunan visus yang lebih parah a. pengobatan dan perubahan pola hidup yang dibutuhkan . lethargi. ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun. Membantu pasien untuk mengenali sesuatu dengan kondisi penglihatan yang terganggu 1. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan penyakit yang di derita oleh anaknya Tujuan : Meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai penyakit yang diderita anaknya Kriteria Hasil :  Kecemasan orang tua pada kondisi kesehatan anaknya dapat berkurang  Orang tua mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. Perubahan pupil) 2. Penurunan keasadaran menandakakan adanya peningkatan TIK 3. Untuk mengetahui kondisi aliran darah dan aliran oksigen ke otak 4. apatis. sehingga TIK menurun. Pantau terus adanya perubahan TTV 4. Berikan tempat yang nyaman dan aman ( pencahayaan terang. klien tidak mengalami disorientasi tempat.

Observasi pola dan frekuensi napas 4. Suplai oksigen klien dapat tercukupi sehingga klien tidak mengalami hipoksia 3. Untuk mengetahui adanya kelainan suara 5. Memberikan stimulasi atau rangsangan untuk perkembangan kepada anak 1. Klien merasa nyaman dan tidak merasa sesak napas 2. Auskultasi suara napas 1. Agar perkembangan klien tetap optimal . Keluarga dapat mengemukakan perasaannya sehinnga perasaan orang tua dapat lebih lega 2. Pengetahuan kelurga bertambah dan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat klien post operasi 4. 4. Pengetahuan orang tua bertambah mengenai penyakit yang di derita oleh anaknya sehinnga kecemasan orang tua dapat berkurang 3. RR dalam batas normal Intervensi Rasional 1. Jelaskan tentang kondisi penderita. Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi 4.Intervensi Rasional 1. prosedur. Mempertahankan berat badan agar tetap stabil 2. Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti 1. Beri kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kesedihannya 2. Posisikan klien posisi semifowler 2. Memberikan diet nutrisi untuk pertumbuhan 2. terapi dan prognosanya. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan pembesaran kepala Tujuan : Klien tidak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan Kriteria Hasil :  Pertumbuhan dan perkembangan klien tidak mengalami keterlambatan dan sesuai dengan tahapan usia Intervensi Rasional 1. Beri kesempatan orang tua untuk bertanya mengenai kondisi anaknya 3. Pemberian oksigen 3.Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan pola napas 4. Resiko ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk Tujuan : Jalan nafas tetap efektif Kriteria Hasil :  Anak tidak sesak napas  Tidak terdapat ronchi  Tidak retraksi otot bantu pernapasan  Pernapasan teratur.

ketidakstabilan.latihan. Surat menyurat. Mencegah timbulnya ifeksi 3. Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif. Pantau tanda-tanda infeksi( letargi. Antibiotik dapat mencegah timbulnya infeksi 3. bertemu teman sekolah 3.6. Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan a. Pantau asupan nutrisi 4.bermain . Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah d. Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan drain/shunt Tujuan: Tidak terdapat tanda-tanda infeksi ( 3 x 24 jam ) Kriteria Hasil:  TD dalam batas normal  Tidak terdapat perdarahan  Tidak terdapat kemerahan Intervensi Rasional 1. nafsu makan menurun.1 Intervensi Perawatan Dalam Mengatasi Dampak Hospitalisasi  Fokus intervensi keperawatan pada hospitalisasi adalah: 1) meminimalkan stressor 2) memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga 3) mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit 1. Modifikasi ruang perawatan c. Buat jadwal untuk prosedur terapi. b. Mengetahui penyebab terjadinya in feksi 2. Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan b.Kolaborasi dalam pemberian antibiotik 1. Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress Dapat dilakukan dengan cara : a. Lakukan rawat luka 3. Asupan nutrisi dapat membantu menyembuhkan luka 4. Mencegah perasaan kehilangan kontrol c. Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan c. perubahan warna kulit ) 2.2. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak b. Mencegah perasaan kehilangan kontrol: a.

Menghadirkan orang tua bila memungkinkan d. Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya b. Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita. Kesimpulan Hidrocephalus adalah: suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intra kranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar b. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak a. Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri a. Tunjukkan sikap empatie. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit a. 6. Memberi support kepada anggota keluarga. Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri b.Berikan identitas pada anak. Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu : . d. BAB IV PENUTUP 1. gambar. Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak c.d. Mengorientasikan situasi rumah sakit. Merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan dilatasi yang progresif pada sistem ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari jaringan – jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arachnoid. Kenalkan pada pasien yang lain. c. Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan 4. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka 5.Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak b. Akibat berlebihannya cairan serebrospinalis dan meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan terjadinya peleburan ruang – ruang tempat mengalirnya liquor. Jelaskan aturan rumah sakit. Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak c. Meningkatkan kemampuan kontrol diri d. Memberi kesempatan untuk sosialisasi e.  Pada hari pertama lakukan tindakan : a.

1996.Tanggal akses 12 Oktober 2009 pukul 09.blogspot. 2000.Hidrochepalus komunikan Hidrochepalus non-komunikan Hidrochepalus bertekanan normal Insidens hidrosefalus pada anak-anak belum dapat ditentukan secara pasti dan kemungkinan hai ini terpengaruh situasi penanganan kesehatan pada masing-masing rumah sakit. Jakarta:EGC Cecily LB & Linda AS. Jakarta : EGC Carpenito. Dalam hal ini maka tindakan terapeutik semacan ini perlu.2006. Volume II. Reaksi Hospitalisasi.2000.wordpress.Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 3. Jakarta:CV Sagung Seto Hudak & Gallo. 2001. Pendekatan Holistik.com.ns-nining. 2000.com/2008/03/asuhan-keperawatan-anak-dengan.Diagnosa Keperawatan Edisi 10. Linda Juall. Jakarta:EGC Suzanne CS & Brenda GB.30 WIB www. Linda Juall. Indoskripsi.Tanggal akses 12 Oktober 2009 pukul 09. 2.10 WIB Harnawartiaji.Asuhan Keperawatan Pada Anak. Nursing Diagnosis (application to clinical practice) edisi 8 . Jakarta:EGC Farinqhusyank.Keperawatan Kritis. Volume 3.com/2009/02/…/askep-hidrosefalus/.html. Indoskripsi. Edisi III. Marilyn E. Tanggal akses 17 November 2009 pukul 13. Edisi 8. Saran Tindakan alternatif selain operasi diterapkan khususnya bagi kasus-kasus yang yang mengalami sumbatan didalam sistem ventrikel.45 WIB afiyahhidayati. Hydrocephalus. Edisi I. 1999. DAFTAR PUSTAKA Suriadi & Rita Yuliani.New York: Lippincott Carpenito.Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC .Tanggal akses 12 Oktober 2009 pukul 09. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan.com. 2008. 15 WIB Doenges.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful