BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada klien gangguan jiwa akan mengalami berbagai gangguan jiwa dengan tanda dan gejalanya, antara lain : 1. Perilaku Kekerasan Tanda dan Gejala : - Aspek biologi Tekanan darah meningkat, takikardi, wajah memerah, pupil melebar, frekuensi dan pengeluaran urin meningkat - Aspek Emosional Individu merasa tidak nyaman, tidak berdaya, mengamuk, bawel, bermusuhan, menarik diri - Aspek Intelektual Mendominasi, berdebat, meremehkan - Aspek Sosial Interaksi sosial budaya, konsep rasa percaya diri, ketergantungan, tanda menarik diri, pengasingan, ejekan - Aspek Spiritual 1Mempengaruhi hubungan individu dengan orang lain dan moral mempengaruhi ungkapan marah individu 2. Menarik Diri Tanda dan Gejala : - Kurang sopan - apatis - ekspresi wajah kurang berseri - tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri - komunikasi verbal menurun atau tidak ada - mengisolasi diri - tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitar - aktivitas menurun - kurang energi dan harga diri rendah 3. Halusinasi Tanda dan Gejala : - menarik diri - tersenyum dan bicara sendiri - duduk terpaku memandang satu arah - kadang menyerang

- gelisah - menggerakkan mulut tanpa suara - pergerakan mata yang cepat - respon verbal yang lambat - diam dan berkonsentrasi - terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah - perhatian dengan lingkungan berkurang - konsentrasi terhadap pengalaman sensorinya - kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realita - perintah halusinasi ditaati - sulit berhubungan dengan orang lain - tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor dan berkeringat 4. Harga Diri Rendah Tanda dan Gejala : - perasaan negatif terhadap diri sendiri - hilangnya percaya diri - merasa bersalah terhadap diri sendiri - merasa gagal mencapai keinginan - perasaan malu terhadap diri sendiri - gangguan dalam hubungan sosial ( menarik diri ) - menciderai diri sendiri - mengungkapkan ketakutan Pada penulisan ilmiah ini akan dibahas gangguan jiwa dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah. Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya . selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu. Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu : gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam ber-hubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan

Manfaat Praktis Diharapkan dapat menambah pengetahuan orangtua. Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Manfaat Teoritis Diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana perkembangan ilmu psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi sosial terutama yang berhubungan gangguan jiwa dengan harga diri rendah b. Mendorong partisipasi aktif klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program kesehatan jiwa. Tujuan Khusus 1. nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek. Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Menciptakan nilai dan norma sosial yang menunjang upaya untuk meningkatkan kondisi dan kegiatan kesehatan jiwa. C. Tujuan Umum dan Khusus Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini dibedakan menjadi dua yaitu : a. D. B. Meningkatkan penggunaan sarana pelayanan kesehatan jiwa yang tersedia. dan remaja mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan jiwa dengan harga diri rendah. adanya kegagalan dan ketidak berdayaan. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi harga diri rendah dan skizofrenia. Manfaat Penulisan Ilmiah a. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Identifikasi Masalah Dari latar belakang dan judul karya tulis yang telah di jabarkan di atas maka terdapat banyak masalah yang muncul terutama dalam perawatan pasien gangguan jiwa dengan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah. Dalam hali ini klien merasa harga dirinya hilang. b. tujuan serta keinginannya. 2. merasa kecewa. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa sebagai suatu milik masyarakat yang berharga. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). 3. Membantu masyarakat agar mampu memprakarsai atau berupaya dalam kegiatan kesehatan jiwa baik secara perorangan maupun berkelompok. efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. 3.lingkungan. Tujuan Umum 1. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Bila penelitian ini terbukti maka hasil penelitian ini juga dapat digunakan untuk preventif terhadap kenakalan remaja dengan meningkatkan . pendidik. 2. Meningkatkan pengetahuan klien tentang berbagai gangguan dan penyakit jiwa dalam klien.

seperti cita –cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol. Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan.(stuard sundeen : 1998) Harga diri rendah adalah semua pikiran. merasa gagal mencapai impian. hilangnya kepercayaan diri. B. merasa tidak berharga. membuat anak merasa tidak berguna.( Keliat :1998) Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. Transisi peran sehat sakit terjadi akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi.( Stuart. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian. Pada saat anak berkembang lebih besar. Gail W (2002) penyebab harga diri rendah berasal dari sumber internal atau eksternal Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan peristiswa yang mengancam kehidupan. seperti : 1. hilang kepercayaan diri. tidak berguna. dan tidak ada harapan. Ideal Diri tidak realistis. Gail W : 2002 ) harga diri rendah adalah perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. pesimis. merasa gagal mencapai keinginan. b. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan . keyakinan dan kepercayaan yang negatif tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis sebereapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. a. Ia membuat standart yang tidak dapatdicapai. Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang mempengaruhi gangguan harga diri. Perkembangan individu. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri. Etiologi Menurut Stuart. Pengertian Harga diri rendah merupakan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya rasa percaya diri. seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. 2. 8Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkn dan individu mengalaminya sebagai frustasi.keharmonisan dalam keluarga dan menumbuhkan konsep diri yang positif pada gangguan jiwa dengan harga diri rendah. c. memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. BAB II TINJAUAN TEORI A. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan.

kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan ( Keliat . klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan. tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh. Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu. Syok Psikologis. Perubahan tubuh berkaitan Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. 3. g. Seperti hemiplegi.luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Individu yang stabil. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. . Umpan balik interpersonal yang negatif Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan. 1992). f. sering berkaitan dengan fungsi saraf. menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang. Kegagalan fungsi tubuh. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik. amputsi . akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan. Standard sosial budaya. Gangguan fisik dan mental Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya. Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan. realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan.1992 ). Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. seperti adanya perasaan minder. b. sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat. Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala. e. Operasi. Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa . protesa dan lain –lain. buta. Seperti : mastektomi. c. seperti : a. Stresor-stresor tersebut dapat berupa : a. seperti. munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri (fisik). Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.akhirnya percaya diri akan hilang. Tergantung pada mesin. Pandangan yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari. makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri. menerima stimulus dari orang lain. d.

yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba. kasih sayang dari keluarga. perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan. Privacy yang kurang diperhatikan. 4. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. pasif. c. Pengalaman traumatik yang berulang. mengubah arti trauma. a. misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat yang tidak sopan (pengukuran pubis. penghargaan yang kurang bahkan sedih yang berkepanjangan karena kehilangan orang yang dicintai. dipenjara tiba-tiba ). Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat.b. yaitu sebelum sakit/dirawat klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. adaptif. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru. merasa tidak berharga dan individu tidak adaptif dalam menyelesaikan masalah. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Klien menjadi sadar akan kenyataan. C. dituduh KKN. misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan. tergantung. bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap. berbagai tindakan tanpa persetujuan. ingin lari dari kenyataan . respon yang biasa efektif terganggu. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai. Harapan akan struktur. teman. c. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.misalnya akibat aniaya fisik. Pohon Masalah (Problem Tree) Resiko Perilaku Kekerasan Harga Diri Rendah . bencana alam. apatis. Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara : 1. Sistim keluarga yang tidak berfungsi. Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik. Individu akan sedih. pemasangan kateler pemeriksaan perincal) b. 2. dicerai suami. cemas. Hal tersebut juga disebabkan oleh individu merasa kurang atau tidak dapat perhatian. Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. kecelakan atau perampokan. emosi dan seksual. Menarik diri. putus sekolah. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. emosi. Situasional. tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. putus hubungan kerja. peperangan. tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya. Psikopatologi Menurut keliat (1998) penyebab dari harga diri rendah adalah tidak mampu individu menyesuaikan diri terhadap adaptif dan situasi / pressor yang dihadapi baik internal maupun eksternal. D. Klien menjadi pasif. kecelakaan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma. 5. misalnya harus operasi.

terbuang dan tidak berharga. Pohon Masalah Harga Diri Rendah E. 1. sebagai berikut: Perasaan negatif terhadap diri sendiri 2. Pemeriksaan penunjang v HB = 12. tidak ada harapan. Merasa bersalah terhadap diri sendiri Merasa gagal mencapai keinginan Perasaan malu terhadap diri sendiri Gangguan dalam hubungan sosial menarik diri Menciderai diri sendiri Mengungkapkan ketakutan F. Tanda dan Gejala Episode harga diri rendah dapat terjadi pada gangguan harga diri rendah. dan kadang-kadang sampai tidak bisa menangis Tanda dan gejala gangguan jiwa dengan harga diri rendah. Pasien sering mengaku bahwa perasaannya sakit sekali. Hanya dengan memperhatikan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga. maka kita baru dapat membedakannya dengan jelas. Hilangnya percaya diri 3. Gejala pokok dan harga diri rendah adalah perasaan yang sedih dan kehilangan interes terhadap segala sesuatu.Ketidakberdayaan Resiko Core Problem Penyebab Gb. Pasien dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung.7 gr % v Leukosit = 6.900 mm v BBS = 1 jam : 5 mm/jam v Eosinofil = 6 % v Segmen = 56 % v Lymfosit = 38 % v SGOT = 18 U/L .

Kriteria evaluasi Klien dapat menyebutkan kemempuan yang dapat dilaksanakan 2. Diagnosa Keperawatan 1. Aspek positif yang dimiliki klien b. mau menyebutkan nama. Klien dapat menyebutkan aspek positif keluarga c. lingkungan b. keluarga. Intervensi a. intervensi Diskusikan dengan klien tentang : a. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya TUK IV : Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki . Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien TUK II : Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki 1. mau mengutarakan masalah yang dihadapi 2.v SGPT = 16 U/L G. Aspek positif klien. Kemampuan yang dimiliki klien Bersama dengan klien buat daftar tentang : a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan b. Kriteria evaluasi a. hindarkan memberi penilaian negatif TUK III : Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan 1. Diagnosa 1 : l Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah TUM : Klien dapat meningkatkan harga dirinya TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya 1. Klien dapat menyebutkan aspek positif da kemampuan yang dimiliki klien b. menunjukkan rasa senang. intervensi a. Perkenalkan diri dengan sopan c. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. Kriteria evaluasi Ekspresi wajah bersahabat. mau menjawab salam. klien mau duduk berdampingan dengan perawat. mau berjabat tangan. Kemampuan yang dimiliki klien Kemudian beri pujian yang realistik. ada kontak mata. Klien dapat menyebutkan aspek positif lingkungan klien 2.

Bina hubungan saling percaya. Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien c.3.Klien dapat menggunakan obat yang benar. Beri pujian atas usahayang dilakukan klien d. beritahu tujuan interaksi. Kriteria evaluasi Klien dapat melakukan kegiatan sesuai jadwal yang dibuat 2. Kriteria evaluasi Klien dapat memnfaatkan sistem pendukung ada di keluarga 2. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan baik di rumah G.9. ciptakan . Kemampuan kegiatan mandiri b. Irtenvensi a.Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan.Klien dapat membina hubungan saling percaya.Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif. Anjurkan untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan b.Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. kontrak waktu yang tepat. 7. Intervensi a. 2.Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.5. Intervensi : 1. Kriteria evaluasi klien dapat membuat rencana kegiatan harian 2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat c. Diagnosa 2 : l Resiko perilaku kekerasan TUM : klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan. Intervensi Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari se-suai kemampuan klien : a.4. Salam terapeutik. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah b.1.TUK : 1. Kegiatan dengan bantuan Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan TUK V : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal rencana yang dibuat 1. perkenalan diri.8. 6. Diskuaikan kemungkinan pelaksaan kegiatan setelah pulang TUK VI : Klien dapat memanfaatkan sistem yang ada 1.

Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat. observasi respon verbal dan non verbal. 5. Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya. 3. bersikap empati. 13. Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien. latihan manajemen perilaku kekerasan. sembahyang.Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat. . 14. 11. 6. Membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat. Mengetahui bagaimana cara klien melakukannya.lingkungan yang aman dan tenang. latihan asertif. Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan..Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga. 9. 8. 7. Memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan. . . meningkatkan harga diri klien. Mendorong pengulangan perilaku yang positif. Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal Pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan. 4. Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel. 12. Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penye-lesaian masalah yang konstruktif pula.Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal. Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif. Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien. 10. Mencari metode koping yang tepat dan konstruktif.Secara spiritual : anjurkan klien berdua. Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien. Menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif. . Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi. Memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien. Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”. Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran. Mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah. . 2.

17. Memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. 20. 24. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien. Meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat klien secara bersama. 22. BAB III TINJAUAN KASUS A. Terkait dengan cara mengontrol perilaku kekerasan secara konstruktif. Mengetahui sejauh mana keluarga menggunakan cara yang dianjurkan. Pengkajian Umum Pasien a. Mengetahui kemajuan klien selama diintervensi. mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan. J Alamat : Solo . Memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien. 15. Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.Sikap tenang. 19. 16. Mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat. Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut. Meningkatkan harga diri klien.Dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien. 18. Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih. Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi. Mengetahui respon keluarga dalam merawat klien. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut. Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah. Bantu keluarga mengenal penyebab marah. Jelaskan cara-cara merawat klien. Menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien. Identitas Diri Nama : Bp. 23. 21. bicara tenang dan jelas.

Identitas Penanggung Jawab Nama : Bp. Tahun 1997 klien sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang anak laki-laki teapi awal tahun 2002 klien bercerai dengan istri dan anak klien sakit-sakitan kemudian anaknya meninggal. 4. Klien merasa kecewa. Pengobatan kurang berhasil karena klien di rumah kambuh lagi. Pemeriksaan Fisik Tekanan darah : 120 / 80 mmHg Nadi : 88x /menit Suhu : 36. masih sering bingung 3. tidak berdaya.60 C Pemeriksaan penunjang ¶ HB = 12.81. tahun 2003 dua kali. tahun 2004 satu kali. Akhirnya dibawa ke rumah sakit. kepercayaan diri hilang. sulit tidur. sering mondar-mandir setelah cerai dengan istri dan anaknya meninggal. S Alamat : Solo Agama : Islam Pekerjaan : Swasta c. sering marah dan ngamuk. Mulai saat itu klien mengalami gangguan mental. pengen marah.44 25 1. 2. Faktor Prespitasi Klien mengatakan bingung.900 mm ¶ BBS = 1 jam : 5 mm/jam ¶ Eosinofil = 6 % ¶ Segmen = 56 % ¶ Lymfosit = 38 % .Agama : Islam Status Perkawinan : Duda Pendidikan : SMP Pekerjaan : Buruh b. Faktor Predisposisi Klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.7 gr % ¶ Leukosit = 6. tahun 2002 pernah satu kali. tahun 2006 dua kali. Pada tanggal 25 Juli 2007 masuk sudah tujuh kali di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Catatan Masuk Tanggal : 25 – 07 – 2007 No Reg : 01. Alasan Masuk Pada awalnya Riwayat masa lalu klien sebelum membina rumah tangga dan klien juga tidak mempunyai keturunan yang memderita gangguan jiwa.

Dia anak sulung dari lijma bersaudara. Genogram(1). akan tetapi klien mengatakan rambutnya seperti diri walaupun seperti itu. dia bekerja juga membantu orang tuanya. Dalam masyarkat klien sering ikut kegiatan Ï Ideal Diri Klien ingin cepat sembuh dan ingin membina keluarga yang lebih baik lagi juga mau bekerja Ï Harga Diri Klien merasa malu karena sudah cerai dengan istri. Ï Peran Diri Klien mau bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Psikososial // : Perempuan : Laki-Laki : Meninggal // : Cerai : klien Gb.¶ SGOT = 18 U/L ¶ SGPT = 16 U/L 5. Konsep Diri Ï Gambaran Diri Klien mengatakan tubuhnya bias. Klien mengatakan sudah menikah tetapi sudah lama cerai dengan istrinya. Genogram (2). Klien mengatakan menerima apa adanya. belim mempunyai pekerjaan tetap dan hanya lulusan dari SMP (3) Hubungan Sosial Orang yang paling dekat dengan klien adalah ibunya. Dia baik dan mauberhubungan dengan orang lain (4) Spiritual Klien bergama islam sebelum masuk ke RSJ klien aktif dalam beribadah. tidak ada anggota tubuh yang sangat disukai dan yang dibenci. selama di RSJ hubungan klien dengan pasien yang lain baik. 2 . Ï Identitas Diri Klien dapat mengenal dirinya sendiri mengenai dia adalah laki-laki dalam keluarganya. Setelah masuk RSJ klien juga .

Mandi dua kali sehari. tidur siang sering terjaga dan hanya memejamkn mata. klien masih bingung dengan masalah yang sering dipikirkan . lambat dalam menyerap pembicaraan lawan bicara. keramas teratur dua hari satu kali d. Buang Air Besar / Buang Air Kecil Klien buang air besar dan buang air kecil sendiri tanpa bantuan. Kebutuhan Persiapan Pulang a. Mekanisme Koping Klien masih ragu dalam membicarakan masalahnya dengan orang lain. bicara jelas dan nada suara tinggi Ï Aktifitas motorik Klien mau melakukan aktifitas apa saja Ï Afek Afek klien tumpul. mengambil sendiri. masih bingung selama di RSJ karena dia menginginkan pulang Ï Interaksi selama wawancara Kontak mata ada. Ï Memori Gangguan daya ingat klien jangka pendek.aktif beribadah (5) Status Mental Ï Penampilan Penampilan rajin. Makan Klien makan tiga kali menu dari rumah sakit habis satu porsi. Berpakaian dan berias Klien ganti baju dua kali sehari. klien mandi dua kali sehari Ï Pembicaraan Agak cepat. mau gosok gigi. tempat maupun kejadian menimpanya. tetapi masih dapat kembali ketopik pembicaraan semula dan pembicaraan klien ringkas. (6). tidak mau merespon tanpa rangsangan yang kuat Ï Alam pikiran Klien merasa sedih. berih dan rapi. Istirahat tidur Klien susah tidur karena masih bingung ketika mengingat masalahnya. berdandan rapi. bersemangat dalam wawancara Ï Arus pikir Kadang klien blocking. Kegiatan didalam dan diluar ruangan Klien mengikuti kegiatan di bangsal (klien sering diikutkan dalam rehabilitasi) (7).Penggunaan obat Klien minum obt secara teratur tanpa bantuan dan paksaan g. f. Ï Ingkat kesadaran Klien sadar bahwa ketika di rumah sakit dapat mengingat waktu. makan dengan duduk dan membersihkan alat makan sendiri b. di toilet dan membersihkannya c. dapat memakai pakaian sendiri. e.

Resiko perilaku kekerasan Harga Diri Rendah Ketidakberdayaan C. pandang-an mata melotot DS : Klien mengatakan lulusan SMP.B. sudah cerai dengan istrinya. susah tidur. Klien mengatkan tidak berguna dan tidak dapat bekerja lagi DO : Klien kelihatan banyak diam. Analisa Data No Tanggal Data Masalah 1 15 – 08 . mengatakan belum mempunyai pekerjaan tetap. dan hanya lulusan SMP DO : Klien masih ragu dalm membicarakan masalahnya di Rumah Sakit DS : Klien kecewa setelah cerai dengan istrinya. Pohon Masalah (Perumusan Masalah) Resiko Perilaku Kekerasan Harga Diri Rendah Ketidakberdayaan Resiko Core Problem Penyebab .2007 DS : Klien mengatakan waktu di rumah pernah marah dan mengamuk DO : Mondar-mandir.

Prioritas Masalah Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah E. Pohon masalah Harga Diri Rendah D. P : Melanjutkan SP II 16 – 8 2007 12.00 SP II l Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien l Membantu klien dalam menilai kemampuan l Membantu klien dalam memilih kegiatan yang masih dapat digunakan l Melatih klien mempraktekkan kegiatan yang dipilih l Memberi pujian yang realistic l Mengajurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian S : Klien mampu menyebutkan kemampuan yang dimiliki l Mengepel lantai l Mencuci piring l Menyapu lantai . 1. Intervensi Keperawatan ( Evaluasi ) TGL Jam No Dx Implementasi Evaluasi 09 – 8 2007 10. Klien telah mampu berkomunikasi dengan perawat. J O: ¶ Klien mau diajak berbincang-bincang ¶ Klien mau menjawab pertanyaan perawat A.Gb.00 SP I l Membina hubungan saling percaya l Menyapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal l Menanyakan nama lengkap dan nama panggilan klien l Menjelaskan tujuan pertemuan S : Klien menyatakan nama lengkap dan nama panggilan klien adalah Mr.

Kegiatn yang kedua klien memasukkan ke dalam jadwal harian A : Klien telah mampu mempraktekkan “Merapikan tempat tidur” Pk : Melanjutkan latihan kegiatan selanjutnya yang ketiga “Mencuci piring” SPIV l Mengevaluasi Jadwal kegiatan harian l Melatih kemampuan selanjutnya “Mencuci piring” l Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian S : Klien mengatakan sudah latihan mem-praktekkan “Mencuci piring” dan klien merasa senang O: Klian mau latihan dalam mempraktekkan “Mencuci piring”.00 SP III l S : Klien mengatakan sudah latihan mem-praktekkan “Merapikan tempat tidur” dan klien merasa senang O: Klian mau latihan dalam mempraktekkan “Merapikan tempat tidur”.Klien merasa senang setelah mempraktekkan latihan yang pertama “mengepel lantai” O : Klien mau latihan dalam mempraktekkan “mengepel lantai” Klien memasukkan dalam jadwal harian A : Klien telah mampu latihan mempraktekkan “mengepel lantai” Pk : Melanjutkan kegiatan selanjutnya “Merapikan tempat tidur” Pr : l Mengevaluasi jadwal kegiatan harian l Melatih kemampuan yang kedua “Merapikan tempat tidur” l Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian 22 – 8 2007 09. Kegiatn yang kedua klien memasukkan ke dalam jadwal harian A : Klien telah mampu mempraktekkan “Mencuci piring” Pk : Melanjutkan latihan kegiatan selanjutnya yang keempat “Menyapu lantai” SPV l Mengevaluasi Jadwal kegiatan harian l Melatih kemampuan selanjutnya “Menyapu lantai” l Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian S : Klien mengatakan sudah latihan mem-praktekkan “Menyapu lantai” dan klien merasa senang O: Klian mau latihan dalam mempraktekkan kegiatan-kegiatan yang mampu dilakukan dan klien memasukkan ke dalam jadwal harian A : Klien telah mampu mempraktekkan kemampuan yang dimiliki Pk : Menyuruh klien latihan di rumah BAB IV PEMBAHASAN .

Resiko Perilaku Kekerasan : Menciderai diri sendiri dan orang lain Pada pengkajian Bp. Penulis juga menemukan keterangan tentang klien dalam status keperawatan dan keluarganya. pengkajian dengn klien dilakukan dengan observasi langung dengan klien Pada pengkajian data yang muncul pada Bp. Klien juga mengatakan bahwa klien pernah marh dan ingin memukul ibunya. karena selama di RSJ klien berhubungan dan berinteraksi dengan baik terhadap perawat dan teman-teman klien yang lain. dan apabila di ajak komunikasi yang mengarah pada permasalahan yang dihadapi. dan gangguan dalam hubungan sosial : menarik diri Sedangkan data dan gejala yang terdapat pada tinjauan teori tetapi tidak terdapat pada tinjauan kasus adalah gangguan hubungan sosial menarik diri. pesimis. tidak berguna. perawat dan catatan medik perawatan dalam status klien.Kp. S. mengungkapkan ketakutan. Dimana pada kenyataannya selam di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) hubungan klien dengan perawat dan klien yang lain sangat baik. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Pada pengkajin Bp. tidak ada harapan. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan teori seseorang dengan gangguan konsep diri akan muncul masalah-masalah antara lain : 1.2003) 36Tanda dan gejala yang tidak muncul adalah gangguan dalam hubungan sosial : menarik diri. Hal ini sesuai dengan konsep tentang tanda dan gejala yang muncul pada gangguan konsep diri: harga diri rendah. A. Pada data objektif yaitu klien sering kelihatan resah. penulis akan menguraikan pembahasan tentang pengelolaan kasus pada Bp. J data yang mengarahkan pada masalah. perasaan negative terhadap diri sendiri. 2. Data tersebut penulis tidak menemukan pada klien selama di RSJ. Sebalum masuk RSJ.( salbiah. Emosi klien langsung timbul. akan tetapi klien mampu mengontrolnya. perasaan malu terhadap diri sendiri. bahwa sebelum masuk RSJ klien aktif dan mau berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di masyarakat. malu terhadap diri sendiri. mengatakan tidak berharga seakan-akan gagal mencapai keinginan dan belum mempunyai pekerjaan tetap. bingung. dalam masyarakat klien sering ikut kegiatan dan selalu berpartisipsi dalam hal gotong royong. klien juga sering membantu dan menolong teman-teman / klien lainnya. hanya lulusan SMP. merasa tidak berharga. Data objektif yang didapat dari klien yaitu klien sering terlihat bingung. Hal ini menunjukkan bahwa klien mempunyai . sulit tidur. J data yang mengarah pada masalah tersebut didukung dengan data subjektif yaitu klien mengatkan sering merasa bingung dan ingin marah-marah. Menurut (stuard sundeen : 1998) tanda dan gejala gangguan konsep diri : Harga diri rendah adalah merupakan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya rasa percaya diri. Klien mau berhubungan dengan orang lain. J yaitu klien sering merasa bingung dan ingin marah. hilangnya percaya diri. Pengkajian Penulis memperoleh data dalam pengkajian dari klien. J dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah dari tahap pengkajian sampai dengam evaluasi.Pada bab ini. B. saat interaksi tidak focus pada pembicaraan dan selalu lambat dalam menerima pernyataan. didukung dengan data subjektif yaitu klien mengatakan.

yang terbagi menjadi dua diagnosa. banyak diam. Data tersebut penulisa tidak menemukan karena klien sudah mempunyai sebagian koping yang diajarkan perawat. Dengan demikian penulis dapat melakukan evaluasi dan dapat mencapai criteria hasil sesuai pada perencanaan tinakan-tindakan STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN I a. Rencana Tindakan Keperawatan Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan Bp. Data yang terdapat pada tinjauan teori tetapi tidak terdapat pada tinjauan kasus yaitu menciderai diri sendiri. J sesuai dengan konsep dasar keperawatan yang bersumber pada SOP yang merupakan standart asuhan keperawatan. Penulis juga sudah dapat memberi penyuluhan kepada klien tentang masalah harga diri rendah. penulis tidak menemukan hambatan yang berarti karena penulis dibantu perawatan ruangan yang sangat kooperatif.resiko perilaku kekerasan : menciderai diri sendiri dan orang lain. Berikut ini penulis uraikan evaluasi dan interaksi pertama klien sudah mau berkenalan. C. J penulis dapat melakukan semua tindakan yang ada pada konsep dasar keperawatan. kontak mata kurang Diagnosa keperawatan Gangguan konsep diri : harga diri rendah Tujuan khusus. Evaluasi Tahap akhir proes keperawatan adalah evaluasi yang merupakan catatan hasil perkembangan yang dicapai setelah dilakukan implementasi dan tahap evaluasi mengunakan pendekatan SOAP (Subjektif. E. penyebab harga diri rendah dan cara merawat klien dengan harga diri rendah pada saat di rumah. Implementasi Pada pelaksanaan tindakan keperawatan . Proses Keperawatan 1. Dalam rencana tindakan keperawatan pada Bp. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya TUK II : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki TUK III : Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan . pertemuan pertama klien sudah mau berkenalan dan berjabat tangan. Interaksi seterusnya klien sudah mampu mengungkapkan perasaannya tentang masalah yang dihadapi. kecuali pada TUK III yaitu klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan secara maksimal karena klien adalah seorang yang mempunyai perasaan negative terhadap diri sendiri dan sering merasa bingung ketika akan menilai kemampuan yang dimiliki D. salah satunya yaitu mengontrol marah. menyendiri. Setiap diagnosa terdiri dari dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. berjabat tanganm dan menjawab salam. Pada pertemuan kedua dan ketiga serta pertemuan selanjutnya klien sudah mampu menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan Pada pelaksanaan tindakan keperawatan ini penulis juga sudah dapat berinteraktif dengan keluarga klien. Objektifm Assesment. seangkan dalam tujuan khusus tediri dari beberapa intervensi yang di tegakkan untuk mencapai tujuan khusus tersebut. Pada pelaksanaan implementasi. Planing). Kondisi klien Klien tampak murung.

. Strategi komunikasi 1.TUK IV : Klien dapat ( menetapkan ) merencanakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki b.boleh ssaya tahu nama bapak siapa? Suka dipanggil apa? Wah ama yang bagus ya pak. murung dan tidak bergabung dengan teman yang lain. bapak bisa menceritakan kira – kira adakah anggota keluarg yang mengalami hal yang sama dengan yang bapak alami sekarang?” . baik verbal maupun non verbal Perkenalkan diri dengan sopan Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan klien Jelaskan tujuan pertemuan Juur dan menepati janji Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien TUK II Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif Utamakan memberi pujian yang realistik TUK III Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit TUK IV Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan a. tempat ini namanya apa? Lantas kenapa bapak bisa sampai di sini? Siapa yang membawa bapak ke sini? Bapak. Tindakan keperawatan TUK I : Membina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik Sapa klien dengan ramah. Fase orientasi a. Salam terapeutik “ Selamat pagi. ada apa pak? Apa bapak tahu. Kegiatan yang membutuhkan bantuan total 2. di sini saya akan menemani bapak ngobrol. boleh saya tanya bagaimana perasaan bapak saat ini? Baiklah saya akan membantu menyelesaikan masalah bapak ya. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan c. Kegiatan mandiri b. Perkenalkan nama saya perawat rusniati. pak? Boleh saya duduk di sini? Iya. Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi klien 3. Evaluasi / validasi “ Saya perhatikan dari tadi bapak lebih banyak diam.”. terima kasih. Kegiatan dengan bantuan sebagian c.

Nanti kita juga akan melakukan latihan sesuai dengan kemampuan bapak. Saya yakin pasti bapak mempunyai banyak kemampuan dan kelebihan. baiklah pak.besok bapak mencoba .wah bagus ya bapak. Evaluasi subyektif “ Bagaimana perasaan bapak sekarang? Bagaimana perasaam bapak setelah melakukan kegitan ini dan berbincang – bincang dengan saya?” b. iya bagus…bapak tandai M bila bapak dapat melakukan sendiri tanpa disuruh. Nah akhirnya selesai juga ya pak.. kesibukan bapak apa? Tentunya bapak punyak hobi. Apakah bapak sudah mengerti? Bagus sekali…sekarang kita tempelkan jadwalnya di samping tempat tidur bapak. kalau bapak sudah pulang. sekarang mana yang dapat bapak lakukan di sini? Bapak suka yang mana?merapikan tempat tidur. sekarang kelihatan bersih dan tambah rapi kan pak? Bapak dapat memasukkan kegiatan bapak ke dalam jadwal harian.” Fase terminasi a. kenapa pak? Kenapa bapak malu? Bapak di rumah tinggal sama siapa? Selama di rumah. Ternyata bapak mempunyai 4 kemampuan yang luar biasa. Tanda T.” Fase kerja “ Bapak kok kelihatannya murung. Bapak kalau merapikan tempat tidur berapa kali sehari? Jam berapa? Nah. silahkan pak! Bagus. yang mana sudah bapak lakukan?” c.Kontrak “ Boleh hari ini saya akan mengajak bapak untuk ngobrol. jika bapak bisa melakukan tapi masih perlu diingatkan. pakai sapu lidi juga ya pak biar tambah bersih. kalau bapak tidak melakukan. mencuci piring. kita masukkan kegiatan merapikan tempat tidur pada jam 06. Bapak suka ngobrol di mana? Di sini. bisa dibilang sharing atau mengungkapkan hal – hal yang bapak alami saat ini. dari tadi saya melihat menyendiri terus dan diam. Besok bapak mencoba kegiatan yang ke-2 ya pak! Yaitu menyapu lantai. Kita coba pertemuan hari ini membahas tentang kemampuan yang bapak miliki. kegiatan tadi dapat bapak lakukan setiap hari ya pak dan juga dapat bapak lakukan di rumah nanti. Kontrak “ Karena waktu kita sudah habis. kalau boleh tahu apa hobi apa? Coba sebutkan! Menyapu lantai. pertemuan hari ini sampai disini dulu ya pak.. Evaluasi obyektif “ Bapak tadi sudah mengungkapkan kemampuan sebanyak 4 ya pak? Coba sebutkan lagi pak! Dari kemampuan 4 tadi. mengepel lantai. nah kalau begitu kita coba praktekkan sekarang ya pak! Sekarang coba mulai bapak rapikan tempat tidur bapak sendiri!waktu membersihkan. Rencana tindak lanjut “ Bapak.00 pagi dan jam 16.00 sore. tanda B. berapa lama? 15 menit? Oke. merapikan tempat tidur.

Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien b. Tujuan a. Terminasi a. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian B. kemudian bak sampah. Rencana tindak lanjut Baiklah. Saya permisi dulu ya pak.praktekkan kegiatan menyapu lantai. baiklah kalau begitu.00 pagi. sekarang dicatat dalam jadwal dulu ya. bagaimana dengan latihan kita yang kemarin? Apakah sudah dicoba lagi? Berapa kali bapak melakukannya? Wah bagus sekali c. selamat pagi pak? Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah bapak masih ingat dengan saya? b. Kondisi Pasien 2. melatih kemampuan kedua c. Sekarang kita lakuakan bersama! Ya bagus. Orientasi Assalamu ’alaikum. Sekarang semuanya sudah disapu dan coba bapak lihat hasilnya! Ternyata bersih sekali kan? Bagaimana kalau kegiatan ini dimasukkan kedaftar kegiatan bapak? Dalam seminggu bapak ingin melakukan kegiatan ini berapa kali? Harinya ap saja? Nah. Validasi Bagaimana perasaan bapak sekarang? Oh ya. bapak mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit? Kita bersihkan lantai bagian dalam saja ya pak 2. bapak bisa jam berapa?jam 08.. Diagnosa Keperawatan Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah 3. tempatnya dimana pak?disini lagi. Kontrak Hari ini kita mau latihan menyapu lantai. Strategi Komunikasi 1. Evaluasi Subjektif : Bagaimana perasaan bapak setelah berlatih bersama-sama menyapu lantai? Objektif : Coba sekarang kita lihat hasil dari latihan tadi sekali lagi! Wah ternyata lantainya benar-benar tampak bersih ya b. pesan saya jangan lupa mengerjakan latihan-latihan kegiatan hari ini dan kemarin sesuai dengan . Kerja Sebelum kita mulai menyapu. Proses Keperawatan 1. mari kita mampersiapkan alatnya dulu ya pak! Yang pertama sapu.” STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN II A. supayatidak lupa 3. bagus sekali.

Tindakan keperawatan a.jadwal yang telah kita buat. sebelum perbad tempat tidur. Beri pujian atas keberhasilan klien c. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN III A. Evaluasi / Validasi “ Bagaimana perasaan bapak sekarang?Bagaimana bapak sudah mencoba melakukan kegiatan kemarin? Mari kita lihat jadwalnya bersama-sama pak! Nah. Kontrak ” Karena waktunya sudah habis. Tujuan Klien dapat melaksanakan kegiatan sesuai kondisi sakit dan Kemampuan-nya 4. ada kontak mata 2. Kegiatan selanjutnya mencuci gelas c. sekarang sudah rapi dan bagus sekali. hari ini kita akan melanjutkan perbincangan kita. bapak bersedia? 2. Nanti bapak bisa memasukkan kegiatn ini di jadwal bapak . Permisi selamat pagi. saya pamitan dulu. sekarang bapak beri tanda disini ya! Iya bagus c. siapkan dulu peralatan yang diperlukan ya pak…! Sekarang bapak bisa ambil ganti perbadnya. Proses Perawatan 1. Kondisi klien Klien tampak kooperatif. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah B. Fase orientasi a. pertemuan hari ini sampai disini dulu ya pak! Besok bapak mencoba melakukan kegiatan mencuci gelas dan piring! Bapak bisa jam berapa? Jam 12 siang? Baiklah kalau begitu pak. Kontrak Kali ini bapak akan melakukan kemampuan bapak yang lainnya ya pak? Bapak nanti coba perbad tempat tidur ya pak? Disini kita akan berbincang-bincang selama 15 menit saja ya pak. bapak beredia?” Baiklah… b. Salam terapeutik “ Selamat pagi pak? Masih ingat dengan saya? Sesuai dengan janji yang telah kita sepakati kemarin. Fase kerja Begini ya pak. Strategi Komunikasi 1. Nah coba bapak sekarang lakukan perbad! Bisa kan pak? Wah sudah selesai. Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang lebih / telah direncanakan b. Kegiatan ini nanti dapat dikerjakan setelah bapak dibawa pulang. Diagnosa keperawatan Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah 3.

kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah b. Evaluasi Objektif “ Bapak sudah melakukan banyak kegiatan ya pak?di lihat dari jadwal ini! Coba bapak bisa mengingat dan menyebutkannya?” iya bagus sekali c. tindakan Keperawatan a. bagaimana ceritanya keluarga saudara bisa mem-bawa kesini? . Strategi Komunikasi 1. Evaluasi subjek Bagaimana perasaan bapak setelah melakukan kegiatan tadi? b. Diagnosa keperwatan Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah 3. bapak dapat melakuknnya. Salam Orientasi ” Selamat pagi pak ?Perkenalkan saya perawat Rusniati bisa dipanggil Nia. saya merawat keluarga saudara disini” b. berhubung waktu kita sudah habis. evaluasi / Validasi kalau boleh saya tahu. Kontrak “Nah pak. Rencana tindak lanjut “ Nanti waktu di rumah. Kondisi klien Klien tampak kooperatif. Tujuan Khusus Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada 4. Fase Terminasi a. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat c. Fase Orientasi a. Proses Keperawatan 1. Beri pendidikan.00 pagi ya pak? “Saya permisi dulu ya pak…” Strategi Pelaksanaan Tindakan keperawatan IV A.dengan memberi tanda ya pak! 3. Nanti kita lanjutkan lagi ketemu ya pak? Tempatnya disini lagi ya pak? Mau jam berapa? Oh ya jam 10. ada kontak mata 2. Bapak bisa melakukan kegitan ini setiap dua minggu sekali. Bapak juga bisa memasukkannya dalam jadwal kegiatan harian yang sudah dibuat d. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah B.

Tolong ya pak solusi tadi anda terapkan kepada keluarga saudara! Permisi dulu ya pak . sering berdiam diri. pak dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh dan sangat membantu proses penyembuhan klien. 2.Bagus. Disini saya akan memberikan solusi bagaimana cara merawat klien dengan gangguan konsep diri ” harga diri rendah”. keluarga harus selalu memberikan dukungan. Kontrak Karena waktunya sudah habis. c. keluarga saudara sekarang telah terkena gangguan konsep diri. Fase Kerja Begini ya pak.c. Rencana tindak lanjut tolong solusi tadi diterapkan sama keluarga saudara baik masih di Rumah Sakit maupun sudah di Rumah nanti! d. pertemuan ini kita sudahi dan saya akan melanjutkan tugas. Tingkatkan rasa percaya diri rasa percaya diri dengan melibatkan dalam kegiatan yang klien sukai.memberikan penghargaan dan pujian setiap tindakan klien.. sehingga keluarga saudara menjadi murung. Kontrak ”Bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang tentang sakit yang sedang diderita keluarga saudara?Bagaimana?Setuju?Baiklah pak nanti kitajuga akan membahas tentang cara merawat keluarga saudara. evaluasi objektif Coba pak ulangi lagi bagaimana merawat klien dengan harga diri rendah. Fase Terminasi a. evaluasi subjektif bagaimana perasaan pak setelah melakukan diskusi tadi? b. Keluarga tidak boleh memberi hukuman dan menuduh / menfitnah. Apakah pak bisa mengerti? 3. kita bisa mulai sekarang disini. pak mempunyai waktu luang? 15 menit?setuju?Baiklah. Perlu diketahui. Diantaranya adalah keluarga dapat menerima klien apa adanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful