A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara

1

sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. religius dan yuridis-formal. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. James A. (1996). selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. 3 July’96. Vol 24 No. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. 1995. M. A. . (3) landasan sosial-budaya. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. landasan psikologis. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Stoner. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Woolfolk. dengan mencakup: (1) landasan filosofis.Pd. Boston : Allyn & Bacon. Educational Psychology. Kata kunci : bimbingan dan konseling. Bandung : PT. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.Pd. 4 . Management. (1987). (2005). (2) landasan psikologis. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. landasan filosofis. M. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Anita E. Uman Suherman.——–. Landasan Bimbingan dan Konseling. London : Prentice-Hall International Inc. Sebagai sebuah layanan profesional. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan. landasan sosial-budaya. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Remaja Rosda Karya. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.dan Juntika N. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.

Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut :  Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. Selanjutnya. B. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling. dengan layanan bimbingan dan konseling. Alblaster & Lukes. yaitu landasan filosofis. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. Secara teoritik. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Dengan kata lain. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Demikian pula. landasan psikologis. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. 5 .Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. Patterson. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Ibarat sebuah bangunan.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor.. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. para penulis Barat . mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. landasan sosial-budaya.tentang landasan bimbingan dan konseling. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. khususnya bagi para konselor.. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. dalam Prayitno. etis maupun estetis.(Victor Frankl.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai ―polisi sekolah‖. Thompson & Rudolph. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi.

Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. golongan darah. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. seperti : rasa lapar. (d) belajar. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. (c) perkembangan individu. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. (b) pembawaan dan lingkungan. embisil atau ideot). Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. a. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Manusia pada hakikatnya positif. b. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. Demikian pula dengan lingkungan. seperti struktur otot. normal atau bahkan sangat kurang (debil. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. 2. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. yang mencakup aspek psiko-fisik. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. bakat. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. dan (e) kepribadian. Manusia memiliki dimensi fisik. warna kulit. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. seperti rekreasi. kecerdasan.        Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. ada yang sangat tinggi (jenius). Misalnya dalam kecerdasan. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 .

e. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. frustrasi dan konflik. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. d. moral dan sosial. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Allport (Calvin S. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. afektif maupun psikomotor/keterampilan.. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. ketegangan emosional. Manusia belajar untuk hidup. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. Tanpa belajar. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai ―suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Hall dan Gardner Lindzey. bahasa dan kognitif/kecerdasan. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. dan (3) Teori Belajar Gestalt. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.memadai. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. baik dalam aspek kognitif. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. c. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme.dan menjadi tersia-siakan. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. 7 . Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya.

Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak ―dijembatani‖. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Sejak lahirnya. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Seperti mudah tidaknya tersinggung. tampang. maka 8 . Teori Medan dari Kurt Lewin. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Sikap. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. yaitu disposisi reaktif seorang. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. cuci tangan. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Horney dan Sullivan. Selain itu. hormon. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. psikologi perkembangan. 3. teori Personologi dari Murray. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Stabilitas emosi. yaitu bidang psikologi umum. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Hull. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. yang mencakup :       Karakter. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Responsibilitas (tanggung jawab). Fromm. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Watson. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. sedih. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Sementara itu. Teori Psikologi Individual dari Allport. Temperamen. Begitu pula. Oleh karena itu. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. negatif atau ambivalen. Teori Sosial Psikologis dari Adler. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. atau putus asa. Sosiabilitas. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud.

Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. biologi. yaitu : (a) perbedaan bahasa. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Moh. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. seperti: pengamatan. (b) komunikasi non-verbal. filsafat. analisis dokumen. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. 2003). dan bahkan mungkin bertolak belakang. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. pemikiran. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat ―multireferensial‖. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. Menurut Gausel (Prayitno. Sejalan dengan perkembangan teknologi. 4. ilmu ekonomi. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. (c) stereotipe. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. manajemen. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. sosiologi. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. yaitu kesamaan di atas keragaman. prosedur tes. wawancara.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. dan (e) kecemasan. antroplogi. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. (d) kecenderungan menilai. statistik. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. ilmu hukum dan agama. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. seperti : psikologi. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. ilmu pendidikan. evaluasi.

yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. Ditegaskan pula oleh Moh. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. landasan religius dan landasan yuridis-formal. Moh. 10 . 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Sebagai ilmuwan. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Undang – Undang. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. C. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. dalam bentuk ―cyber counseling‖. Dikemukakan pula. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling.pendidikan. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Peraturan Pemerintah. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.

Hall & Gardner Lidzey (editor A. Bandung : Refika Gerungan 1964. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Learning & Instruction. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. 1980. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. SMA dan SMK Muhibbin Syah. Psikologi Sosial. (c) perkembangan individu. 2004. Theory Into Practice. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.T. Psikologi Pendidikan. Surya. (d) belajar. 1997. Supratiknya). Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Remaja Rosdakarya.1992. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Elizabeth B. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Developmental Phsychology. Koswara). Bandung PPB . Jakarta : PT Raja Grafindo. Calvin S. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. New York : McMillan Publishing. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Bandung : PT ErescoH. PT Golden Terayon Press. Bandung : P. Gerlald Corey. 2003. (b) landasan psikologis. 2003. (c) landasan sosial-budaya. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. meliputi : (a) motif dan motivasi. Margaret E. landasan religius dan landasan yuridis-formal.———-2006. (b) pembawaan dan lingkungan. Jakarta. Majalengka : Sanggar BK SMP. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. E. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Hurlock. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. 2003. dan (d) kepribadian. 2005.IKIP Bandung . 2005. 11 . Psikologi Belajar. Arifin.M.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis.

(2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya.———-. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. dkk.2005. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. 2004. dan karir. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Jakarta : Rineka Cipta . Wawasan dan Landasan BK (Buku II). masyarakat. 2004. Sekolah/Madrasah. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. keluarga. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. 1984. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. baik dalam kehidupan pribadi. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. Teori dan Praktek. 1. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. dan tugas-tugas perkem-bangannya. maupun lingkungan kerja. tempat kerja. 2003. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. Syamsu Yusuf LN. serta 12 . Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.——–2003. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:    Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Konseling Individual. pergaulan dengan teman sebaya. dkk. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Jakarta : Rajawali. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Teori-Teori Psikologi Sosial. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. kekuatan.Prayitno. belajar (akademik). 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. Willis. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. maupun masyarakat pada umumnya. Psikologi Kepribadian. 2004. Jakarta : Depdiknas . penyesuaian dengan lingkungan pendidikan.

menghormati atau menghargai orang lain. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. mencatat pelajaran. Dapat membentuk pola-pola karir. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. seperti membuat jadwal belajar. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :       Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. persaudaraan. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. 2. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. 3. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. seperti keterampilan membaca buku. Memiliki rasa tanggung jawab. dan kesejahteraan kerja. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. kemampuan. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. asal bermakna bagi dirinya. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. mengggunakan kamus. seperti kebiasaan membaca buku. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. dan sesuai dengan norma agama. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Mengenal keterampilan. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. disiplin dalam belajar. Oleh karena itu. yaitu kecenderungan arah karir. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. atau silaturahim dengan sesama manusia. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :          Memiliki pemahaman diri (kemampuan. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). baik fisik maupun psikis. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.       dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. prospek kerja. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. tanpa merasa rendah diri. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. kemampuan dan minat. mengerjakan tugas-tugas. 13 . Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.

(1953). (2003). Guidance and Counseling in the Schools. Herr Edwin L. Depdiknas. California : Myfield Publishing Company.H.ncat. Menteri Pendidikan Nasional. (2001).I. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. D. J. Balitbang Diknas. Comm.Nancy. Alizabeth B. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor.J. ASCA (American School Counselor Association). (2005). Cobia. (1990). Donna A. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Bandung: ABKIN Bandura. UK: Cambridge University Press. G. & Henderson.L. Depdiknas. Cambridge. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. (2003). Ellis. Browers. 2006). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Depsiknas. (2005). The National Model for School Counseling Programs. The Art of Integrative Counseling. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Dameron. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Departemen Pendidikan Nasional. Engels. (2007). Patricia A. Depdiknas. Columbia: The Educational Resources Information Center. (Ed. Adolescence. Introduction to Counseling and Guidance. (2003). VA: AACD.DAFTAR RUJUKAN AACE. Alexandria. Gibson R. (1992). CA: Brooks/Cole. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2005). (Eds). BSNP dan PUSBANGKURANDIK.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.W dan J. New Jersey. Judy L. (2006). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2006). Self-Efficacy in Changing Soceties. http://aace. A. & Mitchel M. Development Taks and Education. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 14 .D. Draft. Depdiknas. Belomont. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL.). & Hatch. (1956). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (1995). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (2002). Handbook of School Counseling. (1986). Jakarta: Puskur Balitbang. New York: David Mckay. New York : MacMillan Publishing Company. Debra C. Havighurts. T. (2003). R. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. 2006. Hurlock. Merrill Prentice Hall Corey. (1979). Houston : Shell Com. Child Development.

Ltd. Syamsu Yusuf L. Woolfolk. Adapun teknik yang 15 . Anita E.dan Juntika N. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya. London : Prentice-Hall International Inc. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2005). Jakarta : Balitbang Depdiknas. James J. ——–. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Management. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. 2006. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. 2004. Pusat Kurikulum. LIPI. 2. (1987). Melalui fungsi ini. Muro. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan norma agama). Madison : Brown & Benchmark. M. 3 July’96. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. (2003). Bandung : CV Bani Qureys. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. Uman Suherman. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. pekerjaan. Pikunas. (2003). Terry. (1996). Balitbang Depdiknas. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Fungsi Preventif. Bandung : Remaja Rosda Karya. 1995. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Lustin. Bandung : PT. Educational Psychology. Human Development. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Boston : Allyn & Bacon. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.Pd. supaya tidak dialami oleh konseli. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. (1976). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Fungsi Pemahaman. dkk. Michigan School Counselor Association. & Kottman. (1995). (2005). Vol 24 No. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14.N.Menteri Pendidikan Nasional. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Landasan Bimbingan dan Konseling. James A. Sunaryo Kartadinata. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. ——–. Remaja Rosda Karya. (2005). Stoner. Berdasarkan pemahaman ini.

rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. sosial. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. home room. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. dan karyawisata. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. berperasaan dan bertindak (berkehendak). 3. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. yang memfasilitasi perkembangan konseli. drop out. Fungsi Adaptasi. 6. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. baik menyangkut aspek pribadi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. 9. baik anak- 16 . Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. bakat. Fungsi Fasilitasi. konselor. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. dan bimbingan kelompok. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. diantaranya : bahayanya minuman keras. baik pria maupun wanita. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. Fungsi Perbaikan. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). dan remedial teaching. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. Fungsi Penyembuhan. tutorial. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Fungsi Pengembangan. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. serasi. memilih metode dan proses pembelajaran. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. 5. Dalam melaksanakan fungsi ini. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. dan kebutuhan konseli. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. dan pergaulan bebas (free sex). Prinsip-prinsip itu adalah: 1. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. belajar. Fungsi Penyesuaian. merokok. informasi. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. 10. penyalahgunaan obatobatan. maupun karir. minat. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. Fungsi Penyaluran. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. 7.dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. kemampuan. 8. 4. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. jurusan atau program studi. Fungsi Pemeliharaan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah.

pendidikan. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. 1. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. yaitu meliputi aspek pribadi. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. remaja. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). memberikan dorongan. 3. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. sosial. 4. Mereka bekerja sebagai teamwork. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Agar konseli dapat terbuka. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. maupun dewasa. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. anak. perusahaan/industri. lembaga-lembaga pemerintah/swasta. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Asas kesukarelaan.2. dan masyarakat pada umumnya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan menekankan hal yang positif. dan peluang untuk berkembang. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. menyesuaikan diri. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. 2. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. 17 . 3. 6. tetapi juga di lingkungan keluarga. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. 5. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). dan pekerjaan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Asas Kerahasiaan. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut.

hukum dan peraturan. atau ahli lain . baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. (2003). yaitu nilai dan norma agama. 7. adat istiadat. tidak monoton. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. mampu mengambil keputusan. http://aace. menghayati. 6. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.ncat. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. guruguru lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. 9. Lebih jauh.4. 8. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. saling menunjang. DAFTAR RUJUKAN AACE. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. 5. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. Asas Kedinamisan. Asas Kekinian. Pelayanan yang berkenaan dengan ―masa depan atau kondisi masa lampau pun‖ dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Asas Keharmonisan. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Dalam hal ini. dan terpadu. Asas Keahlian. 11. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Asas kegiatan. dan kebiasaan yang berlaku. Asas Keterpaduan. harmonis. 10.edu 18 . Asas Alih Tangan Kasus. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. ilmu pengetahuan. Asas kemandirian. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

Self-Efficacy in Changing Soceties. Merrill Prentice Hall Corey. Debra C. Introduction to Counseling and Guidance. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Comm. Alizabeth B.J. UK: Cambridge University Press. (1992). Michigan School Counselor Association. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. D. Belomont. G. New York : MacMillan Publishing Company. (2005). (2006). The National Model for School Counseling Programs. (2003). (2005). (2001). & Henderson. Menteri Pendidikan Nasional. (2007). & Mitchel M. (2005). (Eds). Hurlock. R. (1956). J. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Alexandria.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.H. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (1990). 19 . Cobia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Donna A.W dan J. Cambridge. Browers. Child Development. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. VA: AACD. (1979). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.I. CA: Brooks/Cole. Draft. & Hatch. Adolescence. Dameron. Depsiknas. Departemen Pendidikan Nasional. (2003). California : Myfield Publishing Company. ASCA (American School Counselor Association). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Guidance and Counseling in the Schools. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Gibson R. A. (1953). Depdiknas. Depdiknas. Houston : Shell Com. Patricia A. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. New York: David Mckay. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (2002).D. Bandung: ABKIN Bandura. Depdiknas. (1986). Handbook of School Counseling. Havighurts. Engels. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. 2006. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2006).Nancy. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. T. Balitbang Diknas. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Judy L. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (Ed. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. 2006). 2006. Jakarta: Puskur Balitbang.).L. New Jersey. (1995). Development Taks and Education. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Depdiknas. Herr Edwin L. (2003). The Art of Integrative Counseling. (2005). Ellis. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Columbia: The Educational Resources Information Center. New York : McGraw Hill Book Company Inc.

2004. Lustin. dkk. (1995). Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Human Development. Bandung : CV Bani Qureys. Pusat Kurikulum. (2005). serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. ——–. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. London : Prentice-Hall International Inc. (1996). LIPI. serta memilih dan mengambil keputusan karir. (2005).N. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Bandung : Remaja Rosda Karya. Remaja Rosda Karya. Educational Psychology. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. anggota keluarga. Terry. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. Sunaryo Kartadinata. 1995.Pd. Uman Suherman. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. (1987). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Syamsu Yusuf L. James J.Muro. Management. Stoner. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Anita E. Pengembangan karir. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. 2008     Pengembangan kehidupan pribadi. ——–. Boston : Allyn & Bacon. Pengembangan kehidupan sosial. Pikunas. M. James A. 3 July’96. (1976). bakat dan minat.dan Juntika N. (2003). Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Balitbang Depdiknas. (2003). Bandung : PT. Woolfolk. 20 .Ltd. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. & Kottman. Madison : Brown & Benchmark. Landasan Bimbingan dan Konseling. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. Pengembangan kemampuan belajar. Jakarta : Balitbang Depdiknas. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. menilai. Vol 24 No.

karier. sosial. diantaranya: Layanan Orientasi. magang. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Layanan Konseling Perorangan. pendidikan lanjutan). Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.     Layanan Konten. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. kegiatan ko/ekstra kurikuler. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. serta untuk pengambilan 21 . Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Bimbingan Kelompok. kelompok belajar. program latihan. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. dalam bidang pribadi. pergaulan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. jurusan/program studi. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. Layanan Informasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.

22 . dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. baik tes maupun non tes. Alih Tangan Kasus. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. sistematik. Mediasi. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Himpunan Data. Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. pemahaman. keterangan. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Konsultasi. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok. terpadu dan sifatnya tertutup. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. mencakup :      Aplikasi Instrumentasi Data. komprehensif. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Konferensi Kasus. dokter serta ahli lainnya. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen.   keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan. yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka. Kunjungan Rumah. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. kemudahan.

Namun sejak tahun 1951. akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan. Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut. Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900). terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. 1981 dalam Bahrul Falah. (2) keadaan sosial. psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. dan (4) perkembangan ilmu (scientific).Konsep Bimbingan Karier Diterbitkan Februari 7. rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar. namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi. dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul.Pd. termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya. Helmotz dan Wundt. tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan. M. sikap. seperti urbanisasi. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh. (3) kondisi ideologis. para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Hattari (1983) menyebutkan 23 . maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites. diantaranya : (1) keadaan ekonomi. khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner. konsep diri. 1987). Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan. Sedangkan pada model karier.

Sementara itu. pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984. bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. bidang bimbingan karier diarahkan untuk : 1. yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting. khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill). Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA. dalam perspektif pendidikan nasional. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dalam perkembangannya. dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah. dalam bentuk cyber counseling. sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini. Selanjutnya. bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an. bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994. berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya. 24 .bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas.

3. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Bimbingan dan Konseling (Makalah). 1983. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna 25 . 4. bermasyarakat. Jakarta : BP3K. yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. dkk. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga.Pd. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. sosial. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. Ke Arah Pengertian Developmental. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. (Muslihudin. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Hattari. belajar ataupun kariernya. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. Untuk itulah. perusahaan. 6. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). Bandung : LPMP Jawa Barat. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. 5. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. dkk.2. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. sosial. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Namun. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. berbangsa dan bernegara. 1987. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan.. Diantaranya. 2004. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. mereka mempertanyakan. belajar maupun kariernya. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. M.

biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. ciri-ciri pekerjaan. Namun. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. cita-cita. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. pasar kerja. minat. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. dan sebagainya. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. atau minat pekerjaannya. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Di samping itu. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Untuk itulah. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. baik tentang bakat. Materi Informasi. jenis dan prospek pekerjaan. Karena. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. materi informasi yang bersifat personal. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. seperti kondisi sosio-kultural. jenis pekerjaan. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. diantaranya:       Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. persyaratan. karier. Dalam hal ini. baik melalui media cetak atau eleltronik. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. ciri-ciri kepribadian. bakat. seperti kecerdasan. seperti bakat. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. 26 . Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan.memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet.

agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. artikel. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. keterangan. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Selain itu. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung 27 . Misalkan. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. Selain itu. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. berdasarkan hasil pengalamannya.Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. Dalam hal ini. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. (1995). dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. (1997). dapat dilakukan pula melalui media ―papan bimbingan‖. dalam rangka menambah wawasan. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian.Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Dari hasil kunjungan. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. Untuk itu. Sebagaimana telah disinggung di atas. misalkan dengan mengundang ―tokoh karier‖. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya.

Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. mendiagnosis. Begitu pula. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.Winkel. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. yaitu sama-sama menginginkan konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Dalam hal ini. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. 2. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata.S. perencanaan individual. 28 . (1991). Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. W. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. pelayanan responsif. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya.

Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. 5. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.Kendati demikian. Masalahnya. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. 3. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Begitu pula sebaliknya. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. suatu masalah dianggap berat namun 29 . penguatan mental/psikis. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. khususnya dalam rangka pelayanan responsif. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. Misalkan. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. serta teknis medis lainnya. 6. Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. 7. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. baik untuk kepentingan pencegahan. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. modifikasi perilaku. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. pengubahan lingkungan. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa.

masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. 9.dan lingkungan. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . pemberi informasi. 30 .dan piha-pihak lain. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. Pekerjaan yang profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa.sosial. seperti ―praktik pribadi‖. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.siswa. disiplin dan keamanan di sekolah. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Di sekolah misalnya. Namun demikian. 10. pembangun kekuatan. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. penunjuk jalan. Konselor adalah kawan pengiring. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah.setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. sekolah dan masyarakat sekitarnya. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. orang tua.guru. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah ―polisi sekolah‖ yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran.

menghambat. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.Oleh sebab itu.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 15. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. bersikap ―jemput bola‖. Dengan kata lain.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. Konselor harus aktif. tujuan yang ingin dicapai. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Lebih jauh. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. dalam hal ini konselor. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. 31 . Di sekolah. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. tujuan. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. pihak lain pun. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. dan asas-asas tertentu). apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. guru pembimbing memang harus aktif. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja ―benar‖ dan bisa pula ―tidak‖. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.Sementara itu.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. maka hasilnya akan kurang mantap. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. tersendat-sendat. Pada dasarnya. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. terutama klien.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. 13.11. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah ―mulut‖ dan keterampilan pribadi. Sedangkan jawaban ‖tidak‖. dan sarana yang tersedia. ada dan digunakannya instrumen (tes.inventori. jenis dan sifat masalah. metode. Bahkan sering kali terjadi. Jawaban ‖benar‖. Masalah yang tampaknya ―sama‖ setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. 12. 14. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu.

Misalkan. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 .2003. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1.. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan ―cepat‖ itu adalah dalam hitungan detik atau jam. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut.

Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa ―Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal―. Hal yang cukup mengagetkan penulis.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling.(lihat 1. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‗Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling―. bertempat di Cikole Lembang Bandung. memiliki mental yang sehat. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera‖.Pd. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. Layanan Dasar. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. Ketika membuka kegiatan pelatihan. M. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. memperoleh keterampilan hidup. Sunaryo. Prof. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). 2.Selama mengikuti pelatihan. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. yaitu : 1. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang disajikan secara sistematis. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya 33 . Dr. selaku ketua PB.ABKIN. Layanan Responsif. standar kompetensi konselor. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual.yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. Agus Taufiq. merencanakan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Uman Suherman. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. Perbedaannya.Pd. mau pun Kurikulum 1994. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. referal dan bimbingan teman sebaya. Syamsu Yusuf L. belajar. Layanan dukungan sistem. maupun karier. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. Layanan Perencanaan Individual. atau mengelola pengembangan dirinya. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. M. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. Kendati demikian. memelihara. konseling kelompok. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. baik menyangkut aspek pribadi. M.. manajemen program. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. konsultasi dengan guru lain. 3. hubungan masyarakat dan staf. Untuk lebih jelasnya. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. baik dalam Kurikulum 1975.Pd. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr.Terkait dengan 34 . sosial. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. M. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Dr.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. Selain itu. penasihatan individual atau kelompok. 4. staf ahli. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. konseling individual. dan masyarakat yang lebih luas. dan Dr.Pd.N.Pd. A. Kurikulum 1984. M. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. dan penelitian dan pengembangan. Uman Suherman. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. (d) strategi pelayanan. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. Daftar konseli 3.penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . konseling kelompok. Laporan semesteran/tahunan 6. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. bibliokonseling. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. 2. konsultasi. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Laporan bulanan 5. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Laporan hasil evaluasi program. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. bimbingan kelompok. Dalam hal ini. (c) pemilihan instrumen/media. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. berbentuk : 1. kotak masalah. media cetak : liflet. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. audio. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. kunjungan rumah. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . proses. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling :    Pemahaman : (antara lain : sosiometri. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. bimbingan klasikal. audio visual. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. catatan anekdot. buku saku) 7.

dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja.B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. PROSEDUR. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai. dan atau (4) personality. 4. (2) struktural – fungsional. (C) Diagnosis. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. 2008 Sebagai sebuah layanan profesional. yaitu: (A) Identifikasi kasus. yakni : 1. Melakukan analisis sosiometris. (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. Developing a desire for counseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik. 5. 36 . telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. B. (D) Prognosis. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. (B) Identifikasi masalah. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. tes bakat. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. 3. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan. (3) behavioral. 2. seperti tes inteligensi. Prayitno dkk. Maintain good relationship. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. (E) Treatment. namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu. menciptakan hubungan yang baik. Call them approach. PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Mei 31. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar.

Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu: 1. (3) hubungan sosial. (9) keadaan dan hubungan keluarga. (7) agama. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh. (6) pendidikan dan pelajaran. W. non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. proses. C. (2) diri pribadi. ataupun out put belajarnya. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. emosi. baik yang bersifat direktif. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. kecerdasan. Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. (4) ekonomi dan keuangan. dan (2) faktor eksternal. E. D. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus . Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. F. 37 . ( hubungan muda-mudi. melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia.kasus yang dihadapi.H. kepribadian. yaitu : (1) faktor internal. berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung). lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien. bisa dilihat dari segi input. dan (10) waktu senggang. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus).dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). nilai dan moral. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. bakat. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. (5) karier dan pekerjaan. Namun. seperti : lingkungan rumah.

Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. 4. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang. 12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. dan 3. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 3. 2. produktif. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). Jakarta : Depdiknas. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif. 2003. Psikologi Pendidikan. 7. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Sumber: Abin Syamsuddin Makmun.2. 8. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. 9. Sementara itu. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Depdiknas. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 38 . 11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Kriteria keberhasilan tampak segera. diantaranya apabila: 10. dkk. 2004. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 5.

39 . yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. terutama asas kerahasiaan. Membuat penaksiran dan perjajagan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Menegosiasikan kontrak. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. keterbukaan. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. berisi : (1) Kontrak waktu. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. diantaranya :     Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). (2) Kontrak tugas. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). dan kegiatan. B. Secara umum. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. Oleh karena itu. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. A. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). (2) tahap inti (tahap kerja). memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.Pd. diantaranya :   Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. M. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. kesukarelaan. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.

Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.tugas profesionalnya. rational emotive therapy (RET). ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. sehat dan dinamis. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . Hal ini bisa terjadi jika :    Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. yaitu :     Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Dalam bentuk tayangan slide. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. DYP Sugiharto. yaitu . (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. C. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . M. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. dan trait and factor. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. gestalt. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Dr. (1) menurunnya kecemasan klien. baik oleh pihak konselor maupun klien.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. psikoanaliss. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.

sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. 3. B. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. (c) peniruan. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. 41 . 2008 A. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. 4. 2. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. (b) pembiasaan operan. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1.

Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. Evaluation termination. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. kekuatan dan kelemahannya. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3.D. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Technique implementation. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. 5. atau melakukan referal. 2. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral    Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. 3. Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. (b) apakah tujuan itu realistik. (c) kemungkinan manfaatnya. tingkah laku penyesuaian. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. dan (d)k emungkinan kerugiannya. 4. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. 42 . Goal setting. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. Feedback. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. pola hubungan interpersonal. Assesment. Konselor aktif : 1. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan.

Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. kesulitan menyatakan tidak. Sumber : Dr. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. model fisik.Pd. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. tape recorder. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. DYP Sugiharto. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung.  Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. atau contoh nyata langsung). Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. dapat menggunakan model audio. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. (Makalah) 43 . Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. M.

persepsi. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang ―ada‖ kecuali ―sekarang‖. pasif.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. ingin dimaklumi. rasa berdosa. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. kecemasan dipandang sebagai ―kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian‖. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. membela diri. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. kemarahan. kecemasan. lemah. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). B. perasaan. 2008 A. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. jantung. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. otak. dan tingkah lakunya Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang 44 . perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. sakit hati. menuntut. kedudukan. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi. pera-saan. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. dan sebagainya. emosi. Under dog adalah keadaan defensif. rasa diabaikan. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. Dalam pendekatan ini. tidak berdaya. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan ―top dog‖ dan keberadaan ―under dog‖. (3) aktor bukan reaktor. kebencian. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. mengancam. dan pemikirannya. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. maka mereka mengalami kecemasan. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. Meskipun tidak bisa diungkapkan.

Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. 45 . Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. interpretasi maupun memberi nasihat. serta mendapatkan insight secara penuh. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum ―hitam-putih‖ . C. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya.Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. D. memahami kenyataan atau realitas. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya.

fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Teknik Konseling 46 . bodoh. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk ―melepaskan‖ diri dari konselor. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. atau gila. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. Fase keempat. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Melalui fase ini. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Fase kedua. perasaan. dirinya tidak berdaya. Fase ketiga. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. perasaan-perasaannya. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Dalam hal ini. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. konselor mengembangkan pertemuan konseling. dalam situasi di sini dan saat ini. dan tingkah lakunya. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.

Orientasi Eksperiensial. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. Orientasi Sekarang dan Di Sini. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya ―mengapa‖. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik ―kursi kosong‖. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : ―…dan saya bertanggung jawab atas hal itu‖. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu‖ 47 .Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Misalnya : ―Saya merasa jenuh. (c) kecenderungan ―anak baik‖ lawan kecenderungan ―anak bodoh‖ kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Dalam kaitan itu. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting.

Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Sumber : Dr. Meskipun tampaknya mekanis.Pd. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.Sering terjadi. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.―Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. M. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. ―Saya malas. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran ―ekshibisionis‖ bagi klien pemalu yang berlebihan. (Makalah) 48 . dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu‖. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu‖. DYP Sugiharto.

Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. emosional. tingkah laku. dan irasional. Belief (B) yaitu keyakinan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Belief (B). dan keran itu tidak produktif.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. dan kerana itu menjadi prosuktif. (c) orang tua atau masyarakat 49 . Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. dan kompeten. yang dapat diterima menurut akal sehat. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. pandangan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. kelulusan bagi siswa. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. dan Emotional consequence (C). sangat personal. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. nilai. yaitu Antecedent event (A). atau sikap orang lain. antara kenyatan dan imajinasi. Perceraian suatu keluarga. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. kejadian. tidak masuk akal. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. B. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. masuk akal.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. interpretasi. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Keyakinan seseorang ada dua macam. kekhawatiran. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. bijaksana. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. bahagia. 2008 A. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.

mengerikan.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. (2) minat sosial. (6) menerima ketidakpastian. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (4) toleransi terhadap pihak lain. cara berpikir. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Kedua. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. rasa marah. persepsi. Ketiga. C. (5) fleksibel. disalahkan. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . dan dihukum. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. rasa cemas. (3) pengarahan diri. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. D. merasa was-was. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. rasa berdosa. merusak. ( penerimaan diri. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (9) berani mengambil risiko. jahat. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. rasa bersalah. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. dan (10) menerima kenyataan. bencana yang dahsyat. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.

Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. 2. 4. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan ―menekan‖ sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . E. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. Aktif-direktif. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. Emotif-ekspreriensial. afektif. 3. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. mendorong.  masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Behavioristik. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Kognitif-eksperiensial. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien.

kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. atau meniru model-model sosial. Dengan memberikan reward ataupun punishment. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). M. Dengan tugas rumah yang diberikan. Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Pendekatan-Pendekatan Konseling. latihan.Pd. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. DYP Sugiharto.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. (Makalah) 52 . mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. membiasakan diri. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. mengobservasi. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Sumber : Dr.

dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. 2. Menutup wawancara konseling E. Fungsi konselor   Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. D. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat:       Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. Klien diminta 53 . Tujuan Konseling   Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. ego. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Langkah-langkah yang ditempuh :        Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. disikusikan. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Deskripsi Proses Konseling 1. terutama usia 2-5 tahun. Teknik Konseling  Asosiasi bebas. Konsep Dasar 1. untuk ditata. konflik dan simbolisme. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. yaitu id. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. Hakikat manusia. dan super ego C. 2008 A. Manusia secara esensial bersifat biologis. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya.

Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. resistensi berati penolakan. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Transferensi adalah mengalihkan. 2. anonim. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. asosiasi bebas. B. Hal ini disebut juga katarsis. resitensi dan transferensi. Dalam hal ini. dan transferensi klien. Menurut Freud. mimpi. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. kebencian. Konsep Dasar: 1. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. 3. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. 2008 A. Analisis mimpi. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Interpretasi. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Konselor menetapkan. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Manusia merupakan seseorang yang ada.    mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. baik dalam asosiasi bebas. Manusia tidak pernah statis. Dengan perkataan lain. pengalamannya tertekan. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. resistensi. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. objektif. 54 . Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Analisis resistensi. Memandang manusia sebagai individu yang unik. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. seksualitas. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari.

(2) mengambil keputusan yang tepat. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. 3. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. 5. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. 2007. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. (2) respect (rasa hormat). Memperbaiki dan mengubah sikap. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. (3) understanding (pemahaman). Konseling Individual. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). E. Sumber: Sayekti. Willis. yang unik. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas.C. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. (4) mewujudkan dirinya. Saya adalah saya 2. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. 4. Teori dan Praktek. 4. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. Deskripsi Proses Konseling 1. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (3) mengarahkan diri. (4) reassurance (menentramkan hati). Bandung: Alfabeta 55 . Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. 3. Rogers. persepsi cara berfikir. (5) encouragement (memberi dorongan). Tujuan Konseling 1. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. 1997. D. 2. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.

Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. 3. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. 2008 A. 4. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Tanggung jawab 56 . maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Menurutnya. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. dianalisis dan ditafsirkan.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. diperbaiki. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. 5. 2. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. 2. 3. yang hadir di seluruh kehidupannya. sebagai pengalaman yang berharga.

dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. C. Tujuan Terapi 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. D. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. 3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. 4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 4. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 5. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 6. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya

57

7. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. 8. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Sumber:

untuk

Sayekti. 1997. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Willis. 2007. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Teknik Umum Konseling (1)
Diterbitkan Januari 15, 2008

Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum, diantaranya : A. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Meningkatkan harga diri klien. 2. Menciptakan suasana yang aman 3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang baik :
    

Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

Contoh perilaku attending yang tidak baik :
    

Kepala : kaku Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot. Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling. Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

B. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan

58

dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat dua macam empati, yaitu : 1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :‖ Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda‖. ‖ Saya dapat memahami pikiran Anda‖.‖ Saya mengerti keinginan Anda‖. 2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu‖. C. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu : 1. Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ‖ Tampaknya yang Anda katakan adalah ….‖ 2. Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ‖ Tampaknya yang Anda katakan…‖ 3. Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ‖ Tampaknya yang Anda katakan suatu…‖ D. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu : 1. Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :‖ Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….‖ 2. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ‖ Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja‖. 3. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :‖ Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda‖ E. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor. 59

dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Klien : ‖ Empat ‖ Konselor: ‖ Sekarang berapa ? ‖ Klien : ‖ Sebelas ‖ H. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. bagaimana. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Konselor: ‖Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ‖. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. dapatkah.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Oleh karenanya. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ‖ Konselor : ‖ Tampaknya Anda masih ragu. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. lebih baik gunakan kata tanya apakah. akan tetapi saya tidak mengambilnya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.. terus…. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Contoh dialog : Klien : ‖ Itu suatu pekerjaan yang baik. Contoh : ‖ Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ‖ G. Contoh dialog : Klien : ‖ Saya putus asa… dan saya nyaris… ‖ (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ‖ ya…‖ Klien : ‖ nekad bunuh diri‖ Konselor: ‖ lalu…‖ 60 . (3) memberi arah wawancara konseling. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. lalu….‖ F. adakah. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Contoh dialog : Klien : ‖Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan‖. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). ya…. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.

dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Jakarta.‖ Sumber : Sofyan S. Saya tak dapat lagi menahan diri. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.‖ K. Willis. Jakarta : PPPG 61 . bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Membantu orang tua memang harus. Contoh : ‖ Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Arifin. Klien : ‖ Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. PT Golden Terayon Press. Karena tantangan masa depan makin banyak. kedua. Bandung : Alfabeta H. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.I. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA‖. bukan pandangan subyektif konselor.‖ Konselor : ‖ Bisakah Anda mencobakan di depan saya. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. J. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. (3) meningkatkan kualitas diskusi.‖ Konselor : ‖ Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.M. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.(2005.Konseling Individual. Contoh dialog : Klien : ‖ Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Teori dan Praktek. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. 2003. 2004. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Sugiharto.

telah membuat kamu menderita. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling .Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ‖. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Fokus pada diri klien. senyum dengan kepedihan. Contoh: ‖ Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. atau kontradiksi dalam dirinya. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Tapi bagaimana ya?‖ Konselor : ‖ Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. diantaranya : 1. Fokus mengenai budaya. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. konflik. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. ide awal dengan ide berikutnya. Misalnya dengan mengatakan : ‖ Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ‖. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Fokus pada topik. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. dan sebagainya. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?‖ 3. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?‖ B. (2) meningkatkan potensi klien. Contoh : ‖ Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan‖. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya.‖ C. Fokus pada orang lain. 4. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Contoh : ‖ Roni. Contoh dialog : 62 . 2. 2008 A. Contoh dialog : Klien :‖ Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Contoh : ‖ Tanti. Oleh karena itu.

Klien : ‖ Saya baik-baik saja‖.(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).‖ Konselor :‖ Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres‖. ‖Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ‖. D. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Contoh dialog : Klien : ‖ Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.‖ Konselor : ‖Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.‖ E. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Contoh : ‖ Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.‖ F. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik, komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh dialog : Klien :‖Saya tidak senang dengan perilaku guru itu‖ Konselor :‖…………..‖ (diam) Klien :‖ Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu.. Konselor :‖…………..‖ (diam) G. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Contoh: ‖ Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali‖. G. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. 63

Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ‖ Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab, dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.‖ H. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Contoh : ‖ Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.upi.com di internet‖. I. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh : ‖ Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ‖ J. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG

Teknik Khusus Konseling
Diterbitkan Januari 15, 2008

Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling, yaitu : 64

1. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. 2. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 3. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. 4. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 5. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Kecenderungan ―anak baik‖ lawan kecenderungan ―anak bodoh‖. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.

65

8. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu‖. Sering terjadi. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. ―Saya malas. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. 9. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran ―ekshibisionis‖ bagi klien pemalu yang berlebihan. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu‖ Meskipun tampaknya mekanis. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 .Melalui dialog yang kontradiktif ini. 6. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : ―…dan saya bertanggung jawab atas hal itu‖. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu‖ ―Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik ―kursi kosong‖. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 7. Misalnya : ―Saya merasa jenuh.

Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Jakarta : PPPG 67 . mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Sofyan S. Sumber : H. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.M. Dengan tugas rumah yang diberikan. Bandung : Alfabeta Sugiharto. 2003. 10. Home work assigments.(2005. 12. 13. 11. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. membiasakan diri. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. mendorong.Konseling Individual. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Arifin. PT Golden Terayon Press. 2004. Teori dan Praktek. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Jakarta. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. Willis. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. terus bertahan. susah tak ada/punya teman yang peduli. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. Makin lama perasaan ditolak. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. dan sombong.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Dasar saya anak desa. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. orang lain. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. kurang bersahabat. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. mengontrol dunia. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. terisolik. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif.

yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. teliti. dan seterusnya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. Allah mengasihi saya. memaki-maki diri saya sendiri. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Cara konselor ialah 69 . Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Ide-ide ini diajarkan. Ia menjadi minder. Itu berarti salah saya. 50% netral. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. bermain peran. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. mengobservasi dan evaluasi diri. pemberian nasehat secara tepat. tak seperti orang/teman-teman lainnya. Tekniknya jelas. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. karena saya berharga dihadiratNya. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. sugestif. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). hanya 10% saja yang membeci saya. karena saya tak berharga.dibiarkan terus berlangsung. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. puas dan bangga. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. peduli. pemalu. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. semua teman memperhatikan / mendukung. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. Saya pantas menderita karena semuanya itu. bahkan adakalanya saya benci. Sehubungan dengan kasus. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi.

IKIP Semarang Pres. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. 70 . Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). 1991. S. 1998. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. 1998. 4. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. IKIP Padang Rosjidan. 1991/1995. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. 2. Corey G. Yogyakarta. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Kota Kembang. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. SUMBER Aryatmi.dengan pendekatan yang tegas. Konseling Pancawashita. jika kita mengharap untuk berubah. menantang. 3. progdi BK PPB. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Prayitno.. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. (5) menerima kenyataan bahwa. Satya Wacana Semarang. Jakarta Surya. 1988. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali.. mendebat.. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. FIP. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Pengantar Teori-teori Konseling. Kesimpulannya. M. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. Kesegaran hasil yang dicapai. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli.

dan analgesik (Martin. *) Sofyan S. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Konseling Kelompok.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. Turki. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. terutama di Amerika Serikat dan Afrika. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Pasca RSKO. Konseling Agama. 1977). Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Konseling Keluarga. rematik. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Kunjungan. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau ―Ramuan Hebat‖ (Great Herbal). dan Asia. 22-5-2001). Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Mesir. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. Pemulihan. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. tidak menyalahkan pihak luar. 1977). klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. dan segitiga emas (Kamboja. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. terutama remaja. 1977. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. Martin. dan untuk bahan analgesik (Kisker. Thailand). dan Amerika Selatan. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. obat lemah badan. keluarga. 1977). malaria. Kata Kunci: Konseling Terpadu. pecandu narkoba. Vietnam. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Australia. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Cina. Opium banyak pula ditemukan di Cina. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. dan Partisipasi Sosial. Pendidikan dan Pelatihan. Bagaimana di Eropa. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik.

Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. Hal ini berarti. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. Ciri pergaulan AMK adalah bebas. 1. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. 25-52001). Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor.800 miliar. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. Sebagai perbandingan. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. 2001).2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. 1993).200. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock.Willis. (c) mencintai keluarga. suatu angka yang fantastis. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp.bulan. namun terbentur pada lemahnya hukum. melalui metode Konseling Terpadu. maka AMK pun menirunya. 1979). namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. Willis. Minnesota. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. 72 . Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N.000 = Rp.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Masalahnya. dan film-film. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. VCD. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. kolusi. 1995). pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. 1978). Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. 1989). pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann.000. Ulwan. khususnya generasi muda. konsumtif. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). 1. sehingga narkoba mudah beredar. Artinya. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. Sedangkan.200. Minneapolis. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. 1979).

Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. guru-guru BK di sekolah. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. 2.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. intelektual. and back to destructive drinking‖. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. sosial. para siswa. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. tokoh-tokoh masyarakat. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. memahami. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. Willis 1995). (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. terbuka. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. Jika konselor tidak menguasai soal agama. dijauhi orang-orang yang dicintai. dan fisik. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. institute nutrition and vitamin therapy. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. prescribe mood-controlling medications. dan asli (genuine) dari konselor. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. akan tumbuh 73 . Mann memuji pendekatan Panti St. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. or back on the job. Melalui interpersonal relation. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. ibu-ibu pengajian. 1977). Sebagai seorang dokter medis. hangat. 1980). terapi nutrisi/vitamin. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. spiritual. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. menerima cobaan hidup dengan tawakal. sarjana. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing.―There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. Selanjutnya. kehilangan pekerjaan. dsb). taat ibadah. back home. (3) menerima realita hidup dengan jujur. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. dan sebagainya. anggota DPR. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. dan berbuat baik terhadap sesama. 2. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. and than put the patient back on the street. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. 2. bermoral.

kepercayaan diri klien (Yalom. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. serta penyesalan terhadap masa lalu. percaya diri.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. suami/istri. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. 3. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. orang tua. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. pacar. dan masyarakat. pesan. 5. Demikian juga. merusak diri. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. marah. 2. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. sedangkan pesertanya adalah klien. mencemarkan nama keluarga. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. dan sebagainya. suami. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. 74 .. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. saudara. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. ibu. dan masyarakat. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. keluarga. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. istri. Kemudian. Selanjutnya. saudara. 1982). kritikan-kritikan. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. Di samping itu. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. dan keluarga dekat lainnya. Selanjutnya. keluarga. 4. Di samping itu. Selanjutnya. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. 1985). klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. 2.

Sumber : http://depdiknas. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. Willis. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. 2008 Dalam proses konseling. Perilaku Non Verbal: Efektif Nada suara disesuaikan dengan klien (tenang. bimbingan kelompok. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1.id. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau ―Anda‖ Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya ―mengapa‖ Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. Okun (Sofyan S. Barbara F. sedang) Memelihara kontak mata yang baik Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat Tidak efektif Berbicara terlalu cepat atau terlalu pelan Duduk menjauh dari klien Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut 75 . serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan.go. baik perilaku verbal maupun non verbal. dan konseling keluarga. seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Kendati demikian. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Sebagai lembaga pendidikan. Oleh karena itu. Willis.tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Secara visual. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. harus diingat sekolah bukan ―lembaga hukum‖ yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. 2004. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya.

Sebagai ilustrasi. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Masalah (kasus) ringan. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). kesulitan belajar pada bidang tertentu. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. malas. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. Oleh karena itu. 77 . Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya.Dengan melihat gambar di atas. minum minuman keras tahap awal. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. Perlu digarisbawahi. Lebih jauh. Dalam hal ini. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Sofyan S. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. keinginan untuk melanjutkan sekolah. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. berkelahi dengan teman sekolah. Dalam hal ini. berpacaran. seperti: membolos. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. bertengkar. mencuri kelas ringan. serta hal-hal positif lainnya. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan).

perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. pelaku kriminalitas. agar 78 . karena gangguan di keluarga. seperti: gangguan emosional. Masalah (kasus) berat. dengan perbuatan menyimpang. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. kecanduan alkohol dan narkotika. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. seperti: gangguan emosional berat. guru dan sebagainya. polisi. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. polisi. siswa hamil. Masalah (kasus) sedang. mencuri kelas sedang.2. ahli/profesional. melakukan gangguan sosial dan asusila. 3. berpacaran. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. Secara visual. dokter. minum minuman keras tahap pertengahan. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. berkelahi antar sekolah. percobaan bunuh diri. kesulitan belajar.

(c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. dan informal. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. dasar dan menengah. dan berpotensi. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. dan khusus. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. individual. dan (f) ersikap demokratis B. 4. 1. kejuruan. jenjang. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. C. kebebasan memilih. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian.C. 2008 A. non formal. keagamaan. sosial. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. individualitas. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. bermoral. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. 3. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan 79 .

(b) melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling.dan profesi. pimpinan sekolah/madrasah. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. personal. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. 4. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.2. karier. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai 80 . dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. proses dan program bimbingan dan konseling. Sumber : ABKIN. Namun. 6. 5. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. (c) memfasilitasi perkembangan. tenaga administrasi) Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. 3. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. akademik. tujuan. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. 2007. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. (b) mengkomunikasikan dasar. wali kelas. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. konseling. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. dan sosial konseli. tujuan. 2008 Dalam Permendiknas No. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. orang tua. tujuan. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling.dan profesi.

mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dalam bentuk naskah akademik. (3) Kematangan emosi. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (6) Kesadaran gender. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (4) Kematangan intelektual. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 Aspek Perkembangan Landasan religius hidup Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Mengenal bentukbentuk dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baik-buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain Mengenal konsepkonsep dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturanaturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi aktifitas belajar berbagai perilaku Tindakan Melakukan bentukbentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan 2 Landasan perilaku etis 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual Kesadaran tanggung jawab sosial 5 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam 81 . (7) Pengembangan diri. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).oleh peserta didik. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (2) Landasan perilaku etis.

melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (7) Pengembangan diri. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dekatnya Mengenal ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam kehidupan Mengenal norma berinteraksi teman sebaya normadalam dengan lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan Menerima keadaan diri sebagai bagian dari lingkungan Memahami perilaku hemat. 2008 Dalam Permendiknas No. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan 82 . (3) Kematangan emosi. Oleh karena itu. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan seharihari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan kesiapan karier dan 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya Sumber : Depdiknas. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dekatnya Menghargai ragam pekerjaan dan aktivitas sebagai hal yang saling bergantung Menghargai normanorma yang dijunjung tinggi dalam menjalin persahabatan dengan teman sebaya Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (2) Landasan perilaku etis. (6) Kesadaran gender. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13.lingkungan kehidupan sehari-hari 6 Kesadaran gender Mengenal diri sebagai laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri dalam lingkungan dekatnya Mengenal perilaku hemat.Jakarta. (4) Kematangan intelektual. (9) Wawasan dan kesiapan karier. dalam bentuk naskah akademik. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Namun. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.2007. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.

ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari. Menyadari keragaman nilai dan 83 . Mengekspresikan ragam pekerjaan. Berinteraksi dengan orang lain atas dasar nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan hidup. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari. pendidikan dan 9 Wawasan dan kesiapan karier Menyadari manfaat perilaku hemat.sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari. Mengidentifikasi ragam alternatif pekerjaan. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Landasan hidup religius Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Mengenal arti dan tujuan ibadah Berminat mempelajari arti dan tujuan ibadah Memahami keragaman aturan/patokan dalam berperilaku dalam konteks budaya Memahami keragaman ekspresi perasaan diri dan perasaan orasaan orang lain Menyadari adanya resiko dari pengambilan keputusan Menghargai nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari Menghargai peranan diri dan orang lain sebagai lakilaki atau perempuan dalam kehidupan sehari-hari Tindakan Melakukan berbagai kegiatan ibadah dengan kemauan sendiri Bertindak atas pertimbangan diri terhadap norma yang berlaku 1 2 Landasan perilaku etis Mengenal alasan perlunya mentaati aturan/norma berperilaku 3 Kematangan emosi Mengenal caracara mengekspresikan perasaan secara wajar Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah Mempelajari cara-cara memperoleh hak dan memenuhi kewajiban dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan atas dasar pertimbangan kontekstual Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan resiko yang mungkin terjadi. Berinteraksi dengan lain jenis secara kolaboratif dalam memerankan peran jenis Meyakini keunikan diri sebagai aset yang harus dikembangkan secara harmonis dalam kehidupan Membiasakan diri hidup hemat. 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender Mengenal peranperan sosial sebagai laki-laki atau perempuan 7 Pengembangan diri Mengenal kemampuan dan keinginan diri Menerima keadaan diri secara positif 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) Mengenal nilainilai perilaku hemat. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.

( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). (7) Pengembangan diri.Jakarta.aktivitas dalam dengan kemampuan diri 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya Mempelajari norma-norma pergaulan dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya persyaratan dan aktivitas yang menuntut pemenuhan kemampuan tertentu Menyadari keragaman latar belakang teman sebaya yang mendasari pergaulan pendidikan dan aktifitas yang mengandung relevansi dengn kemampuan diri Bekerja sama dengan teman sebaya yang beragam latar belakangnya Sumber : Depdiknas. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (2) Landasan perilaku etis. (2) akomodasi 84 . Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (6) Kesadaran gender. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. dalam bentuk naskah akademik. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). (9) Wawasan dan kesiapan karier. Namun. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (4) Kematangan intelektual. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.2007. (3) Kematangan emosi. 2008 Dalam Permendiknas No. Oleh karena itu.

ulet.ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiri Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis Mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas. sengguh-sungguh dan kompetitif dalam keragaman kehidupan Mempelajari kemampuan diri. pendidikan. dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarah Mempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya Mengenal normaAkomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain Menyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinya Menyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidup Menerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya Menerima nilai-nilai hidup hemat. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. sungguhsungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri 2 perilaku 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri 8 Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 9 Wawasan kesiapan karier dan Internalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karir Mengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan. peluang dan ragam karir Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku Mengekspresikan 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya Kesiapan diri untuk 11 Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya Mengharagai norma- 85 . ulet. peluang dan ragam pekerjaan. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Landasan religius Landasan etis hidup Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan 1 Mempelajari hal ihwal ibadah Mengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektif Mempelajari keragaman interaksi sosial Mempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan Mempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosial Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat.(memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).terbuka dan tidak menimbulkan konflik Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif Berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan Berkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman Menampilkan hidup hemat. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.

ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis Mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas.Jakarta. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi No Aspek Perkembangan Landasan religius Landasan etis hidup Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain Menyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinya Menyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidup Menerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya Menerima nilai-nilai hidup hemat.menikah berkeluarga dan norma pernikahan dan berkeluarga norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga Sumber : Depdiknas. ulet. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.ulet. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13. sungguhsungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri 1 Mempelajari hal ihwal ibadah Mengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektif Mempelajari keragaman interaksi sosial Mempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan Mempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosial Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.2007. sengguh-sungguh dan kompetitif dalam 2 perilaku 3 Kematangan emosi 4 Kematangan intelektual 5 Kesadaran tanggung jawab sosial 6 Kesadaran gender 7 Pengembangan diri Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) 8 86 . 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).terbuka dan tidak menimbulkan konflik Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif Berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan Berkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman Menampilkan hidup hemat.

Jakarta. pendidikan. 87 .Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.2007. peluang dan ragam pekerjaan. peluang dan ragam karir Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga Internalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karir 11 Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Mengenal normanorma pernikahan dan berkeluarga Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya Mengharagai normanorma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis Simber: Depdiknas.9 Wawasan kesiapan karier dan 10 Kematangan hubungan dengan teman sebaya keragaman kehidupan Mempelajari kemampuan diri. dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarah Mempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya mandiri Mengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan.

3. seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. bulanan serta mingguan. 2008 A. B. Dilihat dari jenisnya. Program Tahunan. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. (2) pelaksanaan. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. sasaran pelayanan (4) . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. Program Mingguan. (3) format kegiatan.Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. Program Harian. dan (3)penilaian 1. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi 2. yaitu : (1) perencanaan. 88 . (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. 4. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. Program Bulanan. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Program Semesteran. dan (5) volume/beban tugas konselor. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. yaitu: 1. 5.

himpunan data. kunjungan rumah. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan 89 . Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka dengan peserta didik. kegiatan konferensi kasus. untuk menyelenggarakan layanan orientasi.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. bimbingan kelompok. dan (2) kegiatan non tatap muka. konseling perorangan. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. penempatan dan penyaluran. dan pihak-pihak yang terkait. penguasaan konten. dan alih tangan kasus. pemanfaatan kepustakaan. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. insidental dan keteladanan. dan mediasi. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. substansi. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. jenis kegiatan. kegiatan instrumentasi. waktu. B. dan (e) waktu dan tempat. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas. tempat. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. konseling kelompok. serta alat bantu yang digunakan.

C. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG).Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. belajar. guru. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. dan pengembangan karir konseli. 90 . 2. 3. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Penilaian segera (LAISEG). Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. bakat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan (2) penilaian proses. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG).

perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. 1. Gambar 1. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). responsif. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Dengan demikian 91 . dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. 2. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. rancangan. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan.Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. 3. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. mengandung arti bahwa bentuk. Namun. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal).

Patricia A. Bandung: ABKIN Bandura. Introduction to Counseling and Guidance. The Missouri Comprehensive Guidance Model. Donna A. 92 . (2001). Self-Efficacy in Changing Soceties. Draft. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Depdiknas. The Art of Integrative Counseling. J. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Alexandria. Debra C. Columbia: The Educational Resources Information Center. VA: AACD. T. Guidance and Counseling in the Schools. (Ed. (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Jakarta: Puskur Balitbang. Houston : Shell Com. DAFTAR RUJUKAN AACE. Alizabeth B. Cobia. Gibson R. A. Comm. (1992). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Engels. (2006). Herr Edwin L. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (1986). G. http://aace.H. Development Taks and Education. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL.). (2003). (1990). New Jersey.J. Handbook of School Counseling. California : Myfield Publishing Company. Havighurts. (1956).pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. New York: David Mckay. Adolescence. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Hurlock. & Henderson. Depsiknas.D.I. (Eds). Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2003).ncat. R. Dameron. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. D. (2007). (2003). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Depdiknas. Ellis. (2005). Balitbang Diknas. Browers. Judy L. ASCA (American School Counselor Association). & Mitchel M. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. 2006). Cambridge. (2002). Belomont. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2006). Child Development. Merrill Prentice Hall Corey.W dan J. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Depdiknas. The National Model for School Counseling Programs. New York : MacMillan Publishing Company. (2005). (1995).Nancy. UK: Cambridge University Press. (1953). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. & Hatch. CA: Brooks/Cole.L. Depdiknas. (1979).

Woolfolk. Pikunas. Bandung : PT. Vol 24 No. James J.Pd. 93 . The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. dkk. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. (1987). London : Prentice-Hall International Inc. 1995.Pd. LIPI. (1976). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Bandung : CV Bani Qureys. Management. Human Development. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. 3 July’96. James A. Akhmad Sudrajat. Lustin. Syamsu Yusuf L. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Boston : Allyn & Bacon. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Terry. (2003). (2005). 2006. Balitbang Depdiknas. ——–. ——–. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. M. ―Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Pusat Kurikulum. Muro.Ltd. Sunaryo Kartadinata. Madison : Brown & Benchmark. Bandung : Remaja Rosda Karya. (1996).N. 2006. (2005). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Landasan Bimbingan dan Konseling. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.Menteri Pendidikan Nasional. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. M. Stoner. Educational Psychology. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Remaja Rosda Karya. (2003). 2008 Oleh : Drs. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. 2004. Michigan School Counselor Association. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. & Kottman. Anita E.dan Juntika N. Uman Suherman. (2005).

sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Oleh karena itu. Sesungguhnya. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 1. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. tulisan ini. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dalam hal ini. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. petunjuk teknis dan sebagainya. Akibatnya. petunjuk pelaksanaan.Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Maka. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. ketentuan. seperti : malas. Konselor 94 . Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. melalui berbagai bentuk aturan. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. Oleh karena itu. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan.

agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. konselor dituntut bekerja secara profesional. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan.didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. untuk menguasai teknik- 95 . Sementara. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. Bahkan. Dengan kata lain. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. Bagaimanapun. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. Sehingga pada gilirannya. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Sedangkan secara langsung. Misalkan. penataran dan pelatihan. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. baik secara langsung maupun tidak langsung. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs dalam internet. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Dari sini. seperti : seminar. Secara tidak langsung.

namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. 2. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). terutama masyarakat dan orang tua siswa. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Namun pada kenyataannya. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. Bagaimanapun masyarakat. Kemudian. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. Walaupun demikian perlu dicatat. Artinya. dengan bercermin dari kekurangan. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para 96 . dan setiap setelah selesai mempraktekkan. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang mewakili pihak pemerintah. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Jadi wajar sekali.teknik konseling. Berbekal kesabaran dan ketekunan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Sekalipun ada. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dengan adanya akuntabilitas ini. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya.

Dan pada gilirannya. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. Tentu saja. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. Atau secara kreatif. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. Oleh karena itu. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. Oleh sebab itu. Dalam hal ini. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). seperti kepala sekolah. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. kapan saja diperlukan. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai ―orang yang paling banyak tahu‖ tentang keadaan siswanya secara personal. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. Dr. konselor seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. Dengan kata lain. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak 97 . pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize.siswa. Karena. Dengan sendirinya. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Prayitno. dewan sekolah atau siapa pun. yang berhubungan dengan data siswa. Bahkan bila perlu. Hal yang perlu dicermati.

Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. Dr. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. (1997). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Untuk itulah. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). (1995). Departemen Pendidikan Nasional.. informasi-informasi yang berkenaan dengan ― prinsip kerahasiaan klien ― harus tetap dijaga sebaik mungkin. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Tentu saja. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Demikianlah. Makalah . (2001).(1994). Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung 98 . Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Prof.tidak boleh untuk disampaikan. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU).(1995). yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. khususnya dalam forum Komite Sekolah.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. (1991). yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. sasaran dan hasil Memfokuskan pada pencapaian (accomplisment) Responsif dan beradaptasi dengan 99 . Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. dan (3) evaluasi hasil. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul ―Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. (2) evaluasi program.S. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. W. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Sementara itu. orang tua dan masyarakat Didukung dan dimiliki oleh seluruh komunitas Mengukur dampak yang dikaitkan dengan tujuan Berurusan dengan pencapain tujuan. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. guru. 1. Counselors Role in a Changing Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27.Winkel. 2008 Pola Lama Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Disampaikan dan dilaksanakan hanya oleh konselor Dimiliki hanya oleh staf konseling (konselor) Mengukur jumlah usaha yang dilakukan Berurusan dengan proses melaksanakan pekerjaan Memfokuskan pada tujuan dan yang dianggap baik Bekerja untuk memelihara sistem yang Pola Baru Melayani seluruh siswa (guidance for all) Dilaksanakan berdasarkan kurikulum Terjadwal (kalender) Kolaboratif antara konselor.

html Sofyan S. 2004. (c) pemilihan instrumen/media. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda.wisconsin. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Konseling Individual. Daftar konseli 100 . Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. Bandung : Alfabeta. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. berbentuk : 1. Teori dan Praktek. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Kendati demikian. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. klien (siswa) terbuka Klien (siswa) sebagai subyek Konselor hanya membantu dan memberi alternatif-alternatif Gary L. Willis. 2. (d) strategi pelayanan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran.ada Membicarakan tentang bagaimana bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Melihat kelemahan klien Berorientasi pemecahan masalah klien (siswa) Konselor serius Dialog menekan perasaan klien dan klien (siswa) sering tertutup Klien sebagai obyek Konselor dominan dan bertindak sebagai problem solver Sumber : perubahan Membicarakan tentang efektivitas kerja Bersifat pedagogis Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pengembangan potensi positif klien (siswa) Menggembirakan klien (siswa) Dialog konselor menyentuh klien (siswa). dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai.dpi. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.gov/sspw/counsl1.

masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Sementara itu. Laporan 5. Data kebutuhan dan 4. Sebaliknya. Laporan 6. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. 101 . media cetak : liflet. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. konselor. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. bimbingan klasikal. Demikian pula. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung.3. audio visual. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. bimbingan kelompok. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. konsultasi. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. konseling kelompok. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Laporan hasil evaluasi program. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. audio. kotak masalah. bibliokonseling. catatan anekdot. proses. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling :    permasalahan konseli bulanan semesteran/tahunan Pemahaman : (antara lain : sosiometri. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Dalam hal ini. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. kunjungan rumah. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. buku saku) 7. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib.

2007. sosial. Jakarta 102 . Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan pengembangan diri ditetapkan dalam proses transaksional oleh konseli. Tujuan Umum 3. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5.Selengkapnya. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). sosial. belajar dan karier. karier. difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses berdasarkan respons ideosinkretik konseli dalam transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. Wilayah Gerak 2. dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Utama Pilihan Strategis Minim dalam Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. belajar. Konteks Tugas Guru Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pembelajaran yang mendidik melalui mata pelajaran dengan skenario guru-murid Pengembangan kemampuan penguasaan bidang studi dan masalah-masalahnya Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Konselor Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pelayanan yang memandirikan dengan skenario konseli-konselor Pengembangan potensi diri bidang pribadi. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Pencapaian Standar Kemandirian Kompetensi Lulusan kehidupan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Pemanfaatan Instructional Effects & Nurturant Effects melalui pembelajaran yang mendidik Perencanaan intervensi tindak Kebutuhan belajar ditetapkan terlebih dahulu untuk ditawarkan kepada peserta didik Pelaksanaan intervensi tindak Penyesuaian berdasarkan ideosinkretik didik yang terstruktur proses respons peserta lebih Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pengenalan diri dan lingkungan oleh konseli dalam rangka pengentasan masalah pribadi.

hal. Menurut dia. Menurut Sofyan. Willis. ―Alternatif bisa diusulkan guru. tapi siswa tetap yang harus memikirkan. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. Dr. Padahal. ―Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. H. Yang baik. ia mengungkapkan. Sofyan S.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan.‖ ungkapnya. Terutama.com/cetak/2006/042006/07/0702. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. 6 September 2006. Berkaitan dengan peran sekolah. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat.. Sunaryo Kartadinata. 20 dengan judul tulisan ―Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai‖. Menurut dia. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan.Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. Belitung. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Dr. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : 103 .‖ ujarnya.pikiran-rakyat.Pd. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. Jl. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. Karenanya. katanya. alternatif juga dari dia (siswa-red). Prof. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. mengatakan hal itu kepada ‖PR‖ di sela-sela lokakarya ―Konselor Sekolah‖ di SMAN 5 Bandung. Supaya konseling cukup efektif. M. Karenanya. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Selain terlalu sering memberikan nasihat. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. bukan yang memiliki masalah saja. Sumber : http://www. Saat melakukan konseling. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri.

misalnya melalui asesmen psikologis. menggunakan penyikapan yang empatik. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. nilai. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu 104 . Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. dan karier. akademik. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). baik terkait dengan pendidikan maupun karier. (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor.Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. (5) yang dilandasi sikap. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling.. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. Misalnya. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya.melalui pendidikan. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. pribadi-sosial. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). layanan etis normatif. Menurutnya. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. dan bukan layanan bebas nilai. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional.

.Pikiran Rakyat. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. 105 . 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. terutama guru pendidikan khusus. Selain itu. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. seperti dalam olah raga. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. Ditjen PMPTK. seni dan sebagainya Atas semua itu. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. M. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. serta berguna untuk manusia lain. sejahtera. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. BSNP.guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. Pada jenjang SMP dan SMA. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities).Pd.―Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai‖. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. hal. Sumber : Sunayo Kartadinata. konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. 6 September 2006. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. melalui direct behavioral consultation. Dalam hal ini.

– yang juga kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh.Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang ―mengerikan‖ dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa‘i Dayari. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Beliau memberikan analisis panjang lebar. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I.. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB).singkatnya pertanyaan itu. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. jika penulis kelak menjadi guru BP. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. Akhirnya. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). Hanya selang satu tahun setelah lulus. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. Empat tahun kemudian. Jawaban singkatnya. walaupun pada saat itu penulis merupakan ―orang yang bermasalah‖. Setelah keluar dari ruangan BP. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. 106 . Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Selanjutnya. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. sekitar 32 tahun yang lalu. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. yang mengakibatkan penulis ―terpaksa‖ harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran.

20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. sedangkan guru pembimbing terpaksa harus gigit jari. Pada tahun 2003. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif).Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984.. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu ―mengejar-ngejar kasus‖ semata. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada jurang ―degradasi‖. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. Hanya sangat disesalkan. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). menggantikan sebutan Guru BP. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. 107 .Begitu juga. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan.Pada awal menjadi Guru BP. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. tempat kelahiran penulis. Sebaliknya. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK.

karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling.SMA pada saat itu. konseling sebagai ―polisi sekolah―pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini.Pd. khususnya di kalangan siswa. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. sampai dengan sekarang. Kesan lama. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. Dalam tataran teoritis. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. Kelangkaan Tenaga Konselor 108 . Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. meski secara formal istilah ini belum digunakan. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Di sisi lain. Menurut pandangan penulis. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. M. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat.mata pelajaran di sekolah. yaitu : 1. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). Sayangnya. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling.Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini.

kualitas dan distribusinya. dalam kebijakan sertifikasi guru. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Begitu juga. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. dengan memperhitungkan segi kuantitas. Meminjam bahasa ekonomi. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya.Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. 2. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. Jadi. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya dilaksanakan. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. Jika ke depannya. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang 109 . Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. Contoh kasus. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. baik secara personal maupun lembaga.. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Contoh kasus terbaru. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. Oleh karena itu. Dalam dokumen KTSP. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. Sehingga.

Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang ―Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia‖ yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. oleh siswa. Uman Suherman. M. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. *)) Akhmad Sudrajat. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. M. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. dengan menghadirkan pembicara Dr. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di 110 . mengusung tema ‖ Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia―. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. Jika tidak. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling.Pd.Pd. kepala sekolah.menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. guru mata pelajaran. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. Misalnya. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6.

saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan.M. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. 2. baik laporan harian. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat. saya memilih topik pembicaraan: ―Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”.Pd. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. 4. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. Bertindak layaknya seorang ‖politisi‖ yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. baik dalam bidang akademik. 6. H. maupun bidang karier. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). sosio-personal. M. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Rachmat Setiawan. Untuk itu. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. 3. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Pada saat sedang mengikuti rapat. atau tahunan.sekolah hanya makan gaji buta. In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. 1. (2) peran 111 . Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. tidak jelas kerjanya. Tema pelatihan kali ini adalah ― Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan‖ dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. Bapak Drs. bulanan.

Dalam jadwal resmi. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. 2008 112 . maka atas seijin panitia setempat. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah.guru dalam layanan konseling di sekolah. Tentunya saya berharap. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling.

(5) Karier dan Pekerjaan (KDP). (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). pengembangan maupun kuratif. seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. mudah dan akurat. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya.Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. baik yang bersifat preventif. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. (3) Hubungan Sosial (HSO). dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. dkk. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Untuk kepentingan analisis data. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Nilai dan Moral (ANM). Anda dapat men-download materi tersebut. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung ―over protection‖. 113 . Sayangnya. (2) Diri Pribadi (DPI). Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. (7) Agama. Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. Kendati demikian. dan (10) Waktu Senggang (WSG). karena kesempatan yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. Melalui analisis data berbasis komputer ini. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). Tentunya.

4. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (d) melihat kehidupan sebagai ―zero-sum game‖. (d) peduli akan hubungan mutualistik. (c) peduli akan paham abstrak. dan perspektif diri. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. (g) takut tidak diterima kelompok. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (f) kurang introspeksi. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. 3. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. (g) mengenal kompleksitas diri.Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. Konformistik. (d) bertindak dengan motif dangkal. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. seperti keadilan sosial. (e) peduli akan self fulfillment. 114 . Impulsif. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. 2. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. Dengan alat ITP. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. (e) memikirkan cara hidup. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. (c) beorientasi hari ini. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. (c) peduli akan aturan eksternal. 6. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. 7. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (b) berfikir sterotip dan klise. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. motif. Individualistik. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (b) bergantung pada lingkungan.. Perlindungan Diri. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan 5. (c) mampu melihat keragaman emosi. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. dkk. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. Sadar Diri. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. Berdasarkan hasil pengukuran ini. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. Otonomi. (d orientasi pemecahan masalah. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. Seksama.

Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. Semakin tinggi skor konsistensi.Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. Yang diskor 66 soal. (9) wawasan dan persiapan karir. Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa.Yang diskor 40 soal. untuk jumlah siswa yang besar. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. (3) kematangan emosional. Yang diskor 66 soal. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. Proses penyekoran. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. cara ini akan memakan waktu. (5) kesadaran tanggung jawab. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. penghitungan skor konsistensi. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Yang diskor 40 soal. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. ( kemandirian perilaku ekonomi. Namun. (2) landasaan perilaku etis. ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Hasil duplikasi diletakkan di bagian akhir angket. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. (7) penerimaan diri dan pengembangannya. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). Dengan ATP. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: 115 . cepat dan menyenangkan. (4) kematangan intelektual. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek.

5 116 . Expor hasil pengolahan Impor data dari file Microsoft Excel.Pengolahan data mentah secara cepat. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. distribusi frekuensi nilai. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. dkk . Manajemen data. yang terdiri atas: profil kelompok. dan penggabungan kelompok. yang terdiri atas: profil individual. Sumber : Sunaryo.Analisis per individu. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. Multi window. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. delapan butir tertinggi dan terendah. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Manual Guide ATP Versi 3. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. grafik distribusi frekuensi konsistensi.Analisis kelompok. data ke Microsoft Excel®.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful