DAMPAK KENAIKAN BBM TERHADAP MASYARAKAT DAN EKONOMI INDONESIA

Kentia Sutjiati Pexi
11130210080 Akuntansi 2011

Berdasarkan angka-angka itu. ongkos angkut ditambah pula tuntutan dari karyawan untuk menaikkan upah yang pada akhirnya keuntungan perusahaan menjadi semakin kecil. Lalu beberapa hari kemudian dikoreksi menjadi kira-kira 12 persen. selanjutnya kembali dikoreksi menjadi 14 persen. Turunnya daya beli masyarakat mengakibatkan tidak terserapnya semua hasil produksi banyak perusahaan sehingga secara keseluruhan akan menurunkan penjualan yang pada akhirnya juga akan menurunkan laba perusahaan.9 persen. Dengan mengacu pada inflasi kumulatif Januari-September 2005 sebesar 9. Kali ini dan untuk ke sekian kalinya pemerintah salah langkah.Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan sangat vital dalam semua aktifitas ekonomi. Di lain pihak dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak tersebut akan memperberat beban hidup masyarakat yang pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan.7 persen tentu saja tergolong luar biasa sehingga membuat inflasi kumulatif Januari-Oktober menjadi 15. Di awal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). dan investor selalu berusaha mananamkan dana pada investasi portofolio yang efisien dan relatif aman.1 persen. Inflasi Oktober berdasarkan perhitungan "tahun ke tahun" (year on year) lebih tinggi lagi. . inflasi bulan Oktober sebesar 8. Kekhawatiran banyak kalangan atas dampak kenaikan harga bahan bakar minyak yang sangat drastis menjadi kenyataan.6 persen. seorang menteri ekonomi menegaskan bisa menahan laju inflasi tahun 2005 di sekitar 10 persen. Hitunghitungan pemerintah jelas keliru dan menyederhanakan masalah. yakni 17. Dampak langsung perubahan harga minyak ini adalah perubahan-perubahan biaya operasional yang mengakibatkan tingkat keuntungan kegiatan investasi langsung terkoreksi. laju inflasi tahun 2005 diperkirakan berkisar 16-18 persen atau titik tengahnya adalah 17 persen. Kenaikan harga BBM bukan saja memperbesar beban masyarakat kecil pada umumnya tetapi juga bagi dunia usaha pada khususnya. Angka laju inflasi yang diumumkan dua hari sebelum Idul Fitri betul-betul di luar dugaan hampir semua pemerhati ekonomi dan bahkan kalangan pemerintah sendiri. Secara sederhana tujuan investasi adalah untuk maksimisasi kemakmuran melalui maksimisasi keuntungan. Multiple efek dari kenaikan BBM ini antara lain meningkatkan biaya overhead pabrik karena naiknya biaya bahan baku. Hal ini dikarenakan terjadi kenaikan pada pos-pos biaya produksi sehingga meningkatkan biaya secara keseluruhan dan mengakibatkan kenaikan harga pokok produksi yang akhirnya akan menaikkan harga jual produk.

dampak kenaikan harga BBM kali ini lebih berat dirasakan oleh UKM dan bersifat seketika. Tanda-tanda ke arah sana sudah semakin nyata. Memang pemerintah menggulirkan beberapa obat penawar rasa sakit dalam bentuk paket insentif bagi dunia usaha yang meliputi paket fiskal. Dengan mempertimbangkan bahwa paket insentif dan BLT sangat terbatas cakupannya dan mengingat pula belum semua terwujud.000 per bulan yang dibayarkan di muka sekaligus untuk tiga bulan. yakni kenaikan harga BBM sebesar 114 persen berdasarkan rata-rata tertimbang. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari keniscayaan Bank Indonesia untuk . Pemerintah juga mengucurkan dana bantuan langsung tunai (BLT) bagi setiap keluarga miskin sebesar Rp 100. dan berorientasi pada pasar dalam negeri—terempas. Padahal. Padahal. maka tohokan kenaikan harga BBM berpotensi menambah dan memperpanjang penderitaan rakyat. Dengan BLT ini bahkan pemerintah sangat yakin bisa menekan jumlah orang miskin—sungguh suatu perhitungan yang teramat matematik—statik yang seolah-olah menempatkan 220 juta penduduk Indonesia bagaikan mesin tanpa jiwa dan emosi di dalam laboratorium yang terisolasi. UKM inilah yang menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS). sangat tidak realistis untuk menyelesaikan semua masalah itu sekaligus dengan hanya menggunakan satu jurus pamungkas. kenaikan harga BBM pada 1 Oktober lalu berdampak seketika terhadap peningkatan pengangguran terbuka sebanyak 426. kaidah Tinbergen (Tinbergen's rule) mengatakan bahwa satu instrumen kebijakan hanya bisa secara efektif menyelesaikan satu masalah saja.Memang disadari bahwa besarnya disparitas harga BBM di dalam dan luar negeri menimbulkan banyak masalah. Tak seperti krisis tahun 1998 yang membuat banyak perusahaan besar—terutama yang banyak berutang dalam mata uang asing. memiliki kandungan impor yang besar. sementara usaha kecil dan menengah (UKM) dan atau sektor informal justru mampu bertahan. serta kebijakan di bidang perberasan. reformasi di bidang tata niaga dan transportasi. Namun. Usaha berskala menengah-besar diperkirakan mulai mengalami tekanan serius pada tahap selanjutnya.000 pekerja. Jajaran penganggur ini niscaya akan terus bertambah panjang dalam setahun ke depan karena gelombang PHK akan terus berlanjut setelah Lebaran dan Tahun Baru nanti. Salah satu penyebab utamanya ialah kenaikan tajam suku bunga pinjaman. serta masalah-masalah baru yang muncul sehingga diragukan efektivitasnya.

Jika pada angka ini posisi rupiah terus mengalami tekanan "berat". maka boleh jadi suku bunga SBI akan terus dinaikkan. Pilihan pahit ini harus dipilih mau yang paling sedikit biayanya bagi perekonomian atau yang mana.25 persen. membuat dunia usaha kian kalang kabut. pekerjaan rumah pemerintah bukannya berkurang. Berdasarkan pengalaman dua tahun terakhir saja. Bagaimana jika kurs yang dibiarkan mengambang akan mengarah pada destabilizing speculation? Pilihan ekstrem kalau memang suku bunga tinggi lebih memukul perekonomian ialah mem-peg nilai rupiah. Menghadapi tekanan yang bertubi-tubi. Inilah kenaikan BI Rate tertinggi sejak diperkenalkan untuk pertama kalinya pada 5 Juli tahun ini. Pada hari yang bersamaan dengan pengumuman angka inflasi oleh BPS. Investor asing dan lembaga-lembaga internasional memuji langkah berani pemerintah. Jika ekspektasi masyarakat terhadap inflasi "manteng" pada angka 17 persen. . sehingga membawa konsekuensi untuk menjaga interest rate differential dengan luar negeri. Sekalipun opsi ini sangat ditentang oleh penganut aliran ekonomi mainstream. Karena. Segala tindakan pemerintah harus betul-betul terukur. maka hampir bisa dipastikan bahwa Bank Indonesia akan terus menaikkan BI Rate. Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 125 basis poin menjadi 12.5 persen. Kenaikan suku bunga bisa diredam asalkan pergerakan nilai tukar rupiah agak dibiarkan fleksibel. tak ada salahnya untuk mulai menghitunghitung untung-rugi dan prakondisi yang harus terpenuhi. Akibat kenaikan harga BBM yang tak kepalang. Kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. serta dengan mengambil selisih rata-rata suku bunga SBI bertenor satu bulan dan angka inflasi yang amat konservatif sebesar 1-1. kenaikan harga BBM tak mungkin lagi dikoreksi karena dampak terhadap kenaikan harga-harga boleh dikatakan sudah terjadi penuh. kiranya amat sulit mencapai target suku bunga rendah dan rupiah kuat bersamaan. Secara teknis. Tantangan jangka pendek ini harus dihadapi dengan sangat hati-hati. Paling tidak pemberlakuannya bersifat darurat dan sangat sementara. malahan bertambah banyak dan lebih pelik serta lebih berisiko.terus-menerus meredam instabilitas makro-ekonomi. maka suku bunga SBI berpotensi terus naik mendekati 20 persen. maka suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor satu bulan hingga Desember akan bergerak cepat ke tingkat 15 persen. Karena negeri kita tergolong sebagai small open-economy yang menerapkan rezim devisa bebas. termasuk kenaikan suku bunga pinjaman.

Jadi. Misalnya. solar. dan minyak tanah dari waktu ke waktu relatif sama. Kenaikan harga beberapa jenis BBM ini akan menyebabkan kenaikan harga di berbagai level harga. Perilaku kenaikan harga barang-barang kebutuhan masyarakat setelah terjadi kenaikan harga beberapa jenis BBM seperti premium (bensin pompa). apa bedanya antara memberi subsidi kepada rakyat dan membayar suku bunga lebih tinggi kepada kreditor asing? Kita berharap pemerintah lebih peka pada derita rakyatnya sendiri. Begitu seterusnya. Dan biasanya kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat terjadi ketika isu kenaikan harga BBM mulai terdengar. Kita harus berdaulat secara politik dan ekonomi. Banyak pilihan kebijakan yang masih tersedia untuk mewujudkannya asalkan kita mau mengubah pola pikir kita yang selama ini terlalu dibelenggu oleh setting perekonomian negara maju yang kelembagaannya sudah sedemikian sangat lengkap. Ekspektasi inflasi ini muncul karena pelaku pasar terutama pedagang eceran ikut terpengaruh dengan kenaikan harga BBM dengan cara menaikkan harga barang-barang dagangannya. dan tidak korup. Dampak ini dapat menimbulkan suatu ekspektasi inflasi dari masyarakat yang dapat mempengaruhi kenaikan harga berbagai jenis barang/jasa. dengan naiknya premium sebagai bahan bakar transportasi akan menyebabkan naiknya tarif angkutan.Para kreditor mengamini karena terang saja mereka merasa lebih nyaman jika APBN lebih banyak dialokasikan untuk pembayaran bunga dan cicilan utang. Dengan kenaikan tarif angkutan tersebut maka akan mendorong kenaikan harga barang-barang yang banyak menggunakan jasa transportasi tersebut dalam distribusi barangnya ke pasar. efek menjalar (contagion effect) kenaikan harga BBM terus mendongkrak biaya produksi dan operasional seluruh jenis barang yang menggunakan BBM sebagai salah satu input produksinya yang pada akhirnya beban produksi tersebut dialihkan ke harga produk yang dihasilkannya. Walaupun dampak kenaikan harga BBM tersebut sulit dihitung dalam gerakan kenaikan inflasi. tetapi dapat dirasakan dampak psikologisnya yang relatif kuat. seperti harga barang di tingkat produsen. Gerakan kenaikan harga dari satu level harga ke level harga berikutnya dalam suatu . Demikian pula dengan harga solar yang mengalami kenaikan juga akan menyebabkan kenaikan harga barang/jasa yang dalam proses produksinya menggunakan solar sebagai sumber energinya. Keadilan harus jadi acuannya. Kepentingan nasional harus di atas segala-galanya. distributor/pedagang besar sampai pada akhirnya di tingkat pedagang eceran.

Dan biasanya kenaikan harga di tingkat eceran (retail price) ini lebih besar dibandingkan dengan kenaikan harga di tingkat harga produsen (producer price) maupun di tingkat pedagang besar (wholesale price). Dengan demikian. perubahan harga yang dihitung adalah dari harga bensin Rp 1.450/liter. Menurut salah satu sumber di Badan Pusat Statistik.28 persen. Karena kenaikan BBM terjadi di bulan Juni.300/liter atau naik 13. Tekanan inflasi akan semakin besar apabila pemerintah menaikkan tarif dasar listrik rata-rata.54 persen. untuk jenis barang BBM yang harganya ditentukan pemerintah. Kenaikan harga beberapa jenis BBM bulan Mei 1998. . pada bulan Juli 2001. Tetapi.3 persen menjadi inflasi dua digit. solar.46 persen. sumbangan inflasi dari BBM (bensin. solar. dan minyak tanah) akan mencapai 0. Sementara untuk bulan Juli 2001. Inflasi bulan Juni 2001 sebesar 1.150/liter menjadi Rp 1.05 persen.04 persen. hampir 50 persen dari pengaruh kenaikan BBM sudah dihitung dalam penghitungan inflasi pada bulan Juni 2001. Perlakuan ini juga berlaku untuk jenis barang BBM lainnya. Ditambah lagi sumbangan inflasi pelumas/oli yang apabila naik 15 persen akan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.450/ liter atau naik 11. dengan adanya kenaikan harga BBM sepertinya pemerintah harus merevisi asumsi inflasi APBN tahun 2001 yang hanya berkisar 9. yang jelas muara dari akibat kenaikan harga BBM ini adalah konsumen akhir yang notabene adalah berasal dari kebanyakan masyarakat ekonomi lemah yang membutuhkan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari dengan membeli barangbarang kebutuhannya sebagian besar dari pedagang eceran.67 persen dan laju inflasi dari Januari-Juni 2001 sudah mencapai 5. Justru dampak tak langsung yang merupakan hasil multiplier effect dapat menyeret tingkat inflasi lebih tinggi lagi. Sumbangan inflasi dari BBM akan bertambah besar jika komponen BBM lainnya yang tidak ditetapkan pemerintah bergerak sesuai selera pasar. Dampak ini hanya sebagian kecil saja yang terjangkau dari pandangan kita. nilai yang digunakan dalam penghitungan inflasi bulan Juni adalah ((1150 + 1450)/2) = 1300 sehingga perubahan yang digunakan adalah perubahan dari harga Rp 1.300/liter menjadi Rp 1.150/liter menjadi Rp 1. terulang kembali di bulan Juni 2001 dengan beberapa skenario kenaikan harga beberapa jenis BBM (premium. Misalnya bensin naik dari Rp 1.saluran perdagangan (distribution channel) adakalanya memerlukan waktu (time lag). minyak tanah).

masih banyak faktor pemicu inflasi lain seperti peristiwa SI MPR dan faktor musiman seperti Lebaran dan Natal yang akan mendongkrak tingkat inflasi lebih tinggi lagi. .Sebab. setelah bulan Juli tahun ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful