PERPINDAHAN PANAS DAN MASSA PADA PENGEMBUNAN CAMPURAN METANOL~AIR~UDARA DALAM KONDENSOR TEGAK

Sarto', Bambang Seehendro', I Made Bendiyasa', dan Rochmadf"
ABSTRACT Condensation of vapor-gas mixtures is a simultaneous heat and mass transfer processes. Theoretical studies on condensation of vapor and gas mixtures have been done extensively, but have not given satisfactory results yet. The objective of the research is to determine semi-empirical equations, which are simple and accurate enough, to be used to estimate the heat and mass transfer coefficients for methanol (l)-water(2)--air condensation. The experiment was conducted in a vertical double pipe condenser of 1.7 m length. The innerand outer pipe sizes were, respectively, 1" and 2 ", The mixture of vapors and gas was flowing in annulusfrom the top of the condenser and cooling water was countercurrently flowing inside the tube. The experimental data consisted of flow-rates and temperatures of the cooling water, compositions and temperatures of the vapor-gas, flow-rates and temperatures of condensate, airflow-rates, and pressures of the system. Heat and mass transfer coefficients were evaluated based on the experimental data using simple mathematical models, that were developed from heat and mass balances. The relationship of the Nusselt number with the Reynolds number, Prandtl number, and gas molefractions is expressed as: Nu=365, 6800 (1_y,J2.8423 ReO,8097 Pr1!3 .and the relationship between Sherwood number with Reynolds number, Schmidt number, and gas mole fraction are as follows Sh1=25,5950(1_Yli,7652Re°.7851 Scl!3, Sh2=32, 7567(1_y,J3,0585Reo,9312 Sew, Keywords: condensation: methanol-water-air, heat and mass transfer PENDAHULUAN . atau terembunkan tetapi sebagai kabut. Pembentukan kabut disebabkan oleh kecepatan perpindahan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan perpindahan massa. Secara umum, cara perancangan kondensor campuran uap dan gas (parsial) dapat dikelompokkan menjadi 2 model, yaitu model setimbang (equilibrium mode!) dan model tidak setimbang (nonequiiibrium mode!). Fenomena pengembunan uap yang mengandung gas 'lebih dapat dijelaskan dengan model tak setimbang daripada model kesetimbangan karen a kemungkinan terjadinya perbedaan suhu antara badan uap-gas dengan suhu batas antannuka semakin besar. Model tak setimbang berdasarkan model lapisan telah diajukan oleh Colburn dan Drew pada tahun 1937 (Schrodt, 1973). Beberapa cara perancangan kondensor parsial dikembangkan berdasarkan model tidak setimbang. Perbedaan pengembangannya terletak pada mekanisme perpindahan massanya, yang dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu model difusivitas efektif (Schrodt, 1973), model linear (Toor, 1964), dan model interaksi (Krishna dan Panchal, 1976; Burghardt dan Berezowski, 1992; Mazzarotta dan Sebastian, 1995),

Pengembunan campuran : uap mempunyai cakupan yang luas dan merupakan suatu operasi yang sangat penting di industri. Karakteristik prosesnya sangat dipengaruhi oleh sifat komponen penyusunnya, seperti titik didih, polaritas dan difusivitasnya. Adanya uap (gas) yang tidak. dapat mengembun sangat berpengaruh pada proses pengembunan secara keseluruhan. Pengaruhnya bukan hanya pada penurunan laju perpindahan kalor, tetapi juga pada penurunan laju perpindahan massanya. Perbedaan peristiwa pengembunan uap yang mengandung gas dengan pengembunan uap tanpa gas, adalah pada lebar sempitnya rentang pengembunan (condensing range). Uap mumi mempunyai suhu jenuh tertentu atau mempunyai rentang pengembunan sangat kecil, sedangkan pengembunan campuran uap multikomponen tanpa gas mempunyai rentang pengembunan selebar perbedaan antara suhu embun tertinggi dan suhu embun terendah. Rentang pengembunan menjadi sangat lebar untuk pengembunan campuran uap dan gas, bahkan pada keadaan tertentu uap {gas) tidak dapat terembunkan,
I

Sarto, Dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UOM. Jl Grafika no 2 Yogyakarta, Telp.: 0274902171, Fax: 0274 902170 Email: sarto@ehemeng,ugm.ac.id 2 Bambang Soehendro, Dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM. 11Grafika no 2 Yogyakarta, Telp.: 0274 902171 3 I Made Bendiyasa, Dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM. JI Grafika no 2 Yogyakarta, Telp.: 0274 902171 4 Roehrnadi, Dosen Jurusan Teknik Kimia Faku1tas Teknik UGM. 11Grafika no 2 Yogyakarta, Telp.: 0274 902171

360

MEDIA TEKNIK No.3 Tahun

xxx

Edisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012

maka akan diperoleh hasil yang mendekati eksak dengan cara yang lebih sederhana (Sarto dkk. Penyederhanaan model perpindahan kalor menjadi model perpindahan kalor linear terkoreksi. Adapun persamaan perpindahan terkoreksi menjadi persamaan (9). Taylor dan Krishna (1993) juga membandingkan kecepatan perpindahan massa overall percobaan perpindahan massa dalarn kolom dinding terbasahi sistem asetonbenzen-nitrogen/helium oleh Modine dengan prediksi oleh Krishna dan Furno pada tahun 1986 dengan hasil penyimpangan terbesar untuk prediksi model interaksi dan model prediksi difusivitas efektif berturut-turut sekitar 25% dan 60%. yang ditunjukkan oleh persamaan (1). dan model difusivitas efektif berdasarkan Colburn dan Hougen dengan hasil percobaan. 1 1 hg W (3) = 1t D Z Model eksak melibatkan interaksi antar bahan dalam uap. dan (c) model difusivitas efektif. _---'-'pc_ d(WC Tc) cIA = h (T . teori terIinear Toor (1964). yaitu menyimpang sampai 30% untuk sistem isopropanolair-refrigeran dan 15% untuk isopropanol-air-nitrogen. 2002). (8). Akan tetapi. 361 MEDIA TEKNIK No. koefisien perpindahan massa. yang ditunjukkan oleh persamaan (4) sampai ke persamaan (5). dan algoritma perhitungan yang sangat rumit (Webb. Perbandingan hasil percobaan Webb dan Sardesai (1981) dengan prediksi Furno pada tahun 1986 dalam Taylor dan Krishna (1993) menunjukkan bahwa prediksi komposisi embunan menyimpang sampai sekitar 37% dari data percobaan.Cp. 1994). Peristiwa yang terjadi dalam fasa uap merupakan inti permasalahan pengembunan campuran uap multikomponen dengan gas. 1973. 1973).Perumusan secara matematis model lapisan untuk perpindahan panas dan massa multikomponen telah banyak dilakukan (Schrodt. Permasalahan menjadi semakin rumit dengan adanya interaksi antara komponen yang akan mengembun dalam peristiwa perpindahan massa. Interaksi antara senyawa yang mendifusi dalam campuran multikomponen sangat berperan dalam perancangan sistem perpindahan massa multikomponen (Behren dkk. Model difusivitas efektif menghasilkan prediksi penurunan suhu yang mencapai 20% lebih besar daripada hasil percobaan. Krishna dan Panchal. Pada dasarnya perbedaan ketiga perumusan tersebut adalah pada ada atau tidak adanya interaksidifusi uap. menghasilkan persamaan (8). untuk kecepatan pengembunan isopropanol. 1995).Ts} \ dA e' -1 g P (1) g g E= A Ln. sementara masuknya interaksi· difusional akan memperumit model. sedangkan koefisien difusivitas dihitung dengan persamaan Wilke-Chang (Treyball. =-n· dA J (4) (5) (6) (7) refrigeran dan isoproanol-air-nitrogen. 1981). model interaksi memberikan hasil yang lebih jelek dibandingkan dengan model difusivitas efektif.3 Tahun XXX Edisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012 . Nilai koefisien perpindahan diperkirakan dengan analogi Chilton-Colburn (Perry dan Chilton. Koefisien perpindahan panas pengembunan sistem multikomponen dikoreksi dengan faktor Ackerman. dN. semuanya masih memerlukan data sifatsifat fisis yang berkaitan dengan perhitungan nilai koefisien perpindahan panas. Pada cara-cara perancangan kondensor yang telah disebutkan. cenderung memberikan penyimpangan yang lebih besar. Untuk kecepatan pengembunan air. yaitu (a) model matrik eksak KrishnaStandart (1976). yaitu mencapai sekitar 15%. .GC dT = h {_E_}(T . model difusivitas efektif memberikan hasil yang paling jelek. Perbedaan model yang mereka ajukan terletak pada perpindahan massanya.T ) 0 g c (10). (b) model linear. seperti cara Krishna-Standart (1976). dan koefisien difusivitas. dengan nilai koefisien perpindahan kalor dan massa diperoleh dari percobaan. yaitu sekitar 5 %. Hasil prediksi penurunan suhu gas dengan cara Krishna-Standart memberikan hasil yang tidak banyak berbeda dengan percobaan. 1977.. ___ . 1972). yang dapat dikelompokkan menjadi 3 cara. Mazzarotta dan Sebastiani. Sistem yang dipelajari adalah campuran isopropanol-air- (9). Pemakaian model perpindahan massa dengan pengabaian interaksi. massa akan Webb dan Sardesai (1981) membandingkan manfaat teori pengembunan multikomponen. Jika analisis pengembunan seakan-akan dilakukan dengan model tanpa interaksi.

Data yang diperoleh dari pengukuran Jangsung meliputi suhu (uap-gas. Sedangkan suhu uap diukur dengan 7 buah tennokopel. 15 mil (0. Pasangan metanol-air dipilih dengan alasan bahwa metanol jauh lebih volatil daripada air. Rangkaian alat percobaan dapat dilihat pada Gambar I. Nu=I8. Adapun alat ukur dan pengatur yang digunakan meliputi termokopel.73%. silinder pengukur kondensat. 22. dan termokopel untuk air pendingin berturut-turut sebesar 20 mil (0.8493ReO.62%. diharapkan mewakili campuran uap dengan sifat relatif di antara keduanya bahan yang lebih volatil mempunyai koefisien difusivitas yang lebih besar.84653 1/3.5388(1_Yn)2.8364 Sc 1/3. Pada makalah ini disampaikan hasil penelitian pengembuan campuran metanol-airudara.67 mm). 2002).54% Penelitian pengembunan sistem campuran uap dan gas yang lain perlu dilakukan untuk mendapatkan persamaan serupa. dan kondensat). tekanan. serta alat ukur dan pengatur.3768(1_yn)2.SJ95ReO.820J l/3 Pr She=3. Tennokopel yang digunakan adalah jenis T. Kondensor berupa 2 pipa konsentrik (double pipe exchanger). Nu=23. 7003( l-y n)2. dan kondensor akhir. tennokopel uap-gas. (12). dan 22. alat pendukung. Uap metanol dan air. Alat yang digunakan dapat dibagi menjadi 3 kelompok. (9) dan (10) diselesaikan secara numerik untuk mendapatkan nilai koefisien perpindahan panas dan massa sistem yang dipeJajari dengan bantuan beberapa persamaan terkait dengan sifat-sifat bahan. dan tebal kondensat. flowmeter udara. dan dinding kondensor).91 47(1_yn)2. masing-masing dengan kapasitas 2.. yaitu etanol terhadap toluen.7669Reo. pengaktifannya dilakukan sebelum pengukuran terhadap peubah-peubah proses. tetapi air mempunyai koefisien difusivitas lebih besar. 362 MEDIA TEKNIK No. Pengukuran peubah operasi dan pengambilan sampel campuran uap-gas dilakukan setelah keadaan ajeg tercapai. masing-masing berdiameter I dan 2 inch.9213 l/3 SC Shb=2.8495(I_Yn)2. Boiler dirancang dengan kapasitas 18 Liter cairan dan dilengkapi 4 buah pemanas listrik.0197(1_yn)3. Sementara itu. flowmeter air. Air pendingin dialirkan dan diatur untuk memperoleh debit tertentu dalam keadaan ajeg. dan 3 mil (0.1 mm). Di samping kedua pipa tersebut. 2008). tennokopel untuk dinding kondensor.Penelitian pengembunan sistem etanol-benzenudara telah dilakukan untuk memperoleh data percobaan yang dapat dipakai untuk mengestimasi nilai koefisien perpindahan panas dan massa pada persamaan (8) dan (9) dalam bentuk persamaan bilangan tidak berdimensi berikut (Sarto dkk.8oo7rl/3 P Shl=6. Sampel uapgas diambil untuk kemudian dianalisis dengan Gas Chromatography (GC). air. debit dan tekanan udara diatur dengan regulator dan katup. transduser tekanan. katub. Pada penelitian ini persamaan (8). udara. Alat utama terdiri atas 2 buah boiler dan kondensor uji. Sc Sh2=5. pengukur tebal. dengan panjang 1. Pengukuran suhu dilakukan secara otomatis menggunakan perangkat akuisisi data.9198ReO.7S03ReO. Penguapan bahan diawali dengan pemanasan pendahuluan. Pemanas pendahuluan ini dilakukan sampai suhu bahan mencapai titik didihnya. (15) dan (16) (Sarto dkk.29. Dinding pipa kecil diukur suhunya dengan menempelkan 4 tennokopeI· secara elektrokimia. dengan ukuran untuk tennokopel boiler. Percobaan pengembunan campuran etanol-toluen-udara juga telah dilakukan. kecepatan alir (udara. (14) (15) (16) (II). dibangkitkan dalam boiler yang berbeda. dan pemanas. Perangkat akuisisi data tidak hanya berfungsi untuk pengambilan data suhu. dan 30. dengan standar deviasi berturut-turut sebesar 22. tetapi juga untuk memantau keadaan proses. yaitu dengan menghidupkan semua pemanas boiler. penyedia air pending in. (12) dan (13) diharapkan mewakili campuran 2 uap dengan titik didih dan koefisien difusivitas yang hampir sarna.7 meter.9182Reo. air pendingin.5 mm). CARA PENELITIAN Bahan yang dipakai pada penelitian ini adalah metanol (pa). (13). Alat pendukung terdiri dari fasilitas pipa terisolasi. listrik. yaitu alat utama. 10 mil (0. air (aquades) dan udara. ada pipa tembaga yang dimasukkan ke dalam pipa dalam.33 mm).91 %. Koefisien perpindahan kalor dan massanya dapat diestimasi dengan persamaan (14). Oleh karena itu. Persamaan (11).3 Tahun XXX Edisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012 .9128l/3 SC dengan standar deviasi masing-masing sebesar 32.000 watt.19%.04%. yang berfungsi sebagai pemegang 7 tennokopel untuk mengukur suhu air pendingin. Pipa luar (2") dilubangi sebanyak 7 buah untuk pengambilan cuplikan uap dan gas.

Peristiwa ini disebabkan oleh adanya perbedaan titik didih dan koefisien difusivitas antara metanol dan air. sehingga pada suhu di atasnya metanol dapat dianggap sebagai noncondensable gas. debit air pendingin.Keterangan : 5 1. tekanan sistem dan keeepatan air pendingin. 8. Sebagaimana pola perubahan suhu pada sistem etanol-benzen-udara (Sarto dk.282 em%. Nilai parameter yang muneul pada persamaan dievaluasi pada setiap penggal (inkremen) kondensor yang panjangnya 25 em.. Tabel 1 menunjukkan bahwa suhu eampuran uap-gas. Pengatur tekanan 10 6 7 8 Cairan 1 Cairan2 Udara (9 atm) Air pendingin Gambar 1. yaitu data pereobaan 53 dengan tekanan eampuran uap-gas.0 Limen. debit eampuran uap-gas. 5. yaitu 0. yang diperoleh diolah untuk mendapatkan koefisien perpindahan panas dan massa dengan bantuan model matematik yang disusun berdasarkan pada neraea panas dan massa sistem pengembunan yang ditunjukkan oleh persamaan (8) dan (9). yang tidak seteratur profil suhu air pendingin kedua sistem terse but. Hal ini diperkuat dengan data bahwa fraksi mol metanol mulai mengalami penurunan setelah suhu uap-gas sekitar 70°C. Ketidakteraturan perubahan suhu tersebut terjadi pada suhu eampuran uap-gas sekitar 70°C. 6. 4. Setelah suhu di bawah70°C. PenW1gkapkondensat 11. dengan contoh datanya ditunjukkan pada Tabel 1. sementara koefisien difusivitas metanol juga lebih rendah daripada koefisien difusivitas air. dan . 3. Rangkaian Alat Percobaan Pengembunan Campuran Metanol-Air-udara Data pereobaan seperti suhu dan komposisi eampuran uap-gas beberapa tempat sepanjang kondensor. pemasukan. yang berarti bahwa metanol mulai mengembun pada sekitar suhu tersebut. 2002) dan etanol-toluen-udara (Sarto dkk. keeuali pada penggal awal yang panjangnya 10 em diukur dari tempat pemasukan umpan eampuran uap-gas. 9. 2.. yang berakibat pada perbedaan sifat pengembunan kedua komponen tersebut. Pada suhu di atas 70°C. dan 192 ee/men . metanol sudah ada yang mengembun sehingga seakan-akan terjadi kenaikkan fraksi mol gas pada daerah suhu sekitar 70°C. 430 cc/men. Titik didih metanol lebih rendah daripada titik didih air..3 Tahun XXX Edisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012 363 .088 dan 0. Perbedaan profil suhu sepanjang kondensor pada sistem metanol-air-udara dengan kedua sistem tersebut adalah perubahan profil suhu air pendingin. 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pereobaan dilakukan sebanyak 13 kali. 2008). sedangkan metanol masih belurn ada yang mengembun sehingga dapat dianggap sebagai gas. 7. baik eampuran yang diembunkan maupun media pendingin. suhu dinding.33 psig. suhu air pending in semakin keeil dengan semakin jauhnya dari ujung MEDIA TEKNIK No. yaitu 64. dan debit kondensat berturut-turut adalah 0. uap yang mengembun hanya air saja. Boiler Pernanas Pen gering udara Flo wmete r Tansduser Tekanan Kondensor uji Kondensor penyempuma Penampung kondensat berskala Akuisisi data 10.5 dan 100°C.

746 4.956 2.879 2.381 7.386 1.366 2.928 0.]22 2.367 0.716 4.065 6.453 3.441 4.382 4.171 No 43 posisi 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 h 5.606 4.49 75.357 2.]42 3.596 2.587 2.854 3.418 3.148 5.6301 0.499 1.900 2.169 0.449 4.852 1.323 2.481 3.454 2.831 6.32] 3.468 5.253 1.0343 0.]75 6.630 1.257 1.428 2.932 2.127 3.802 8.211 4.479 1.3 TahunXXX Edisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012 .660 6.825 2.662 4.947 4. 0.582 2.06 35.048 2.162 2.646 1.151 kgm 6.6283 0.927 0.059 3.075 4.02 59.647 1.587 5.276 2.844 4.394 2.6583 .259 2.824 1.990 4.136 1.221 1.939 4.325 2.132 9.101 1.6518 0.530 2.188 4.964 1.139 1.555 2.184 1.649 1.294 1.3164 0.566 2.314 2. krnol/ m2s) .90 67.640 4.289 2.154 0. Contoh data pereobaan pengembunan eampuran metanol-air-udara Posisi 1 2 3 4 5 6 7 Tg.453 1.158 5.905 4.76 Tw.790 1.152 1.351 2.680 2.0339 0.313 No 44 posisi 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 h 2.OC 76.076 3.248 4.3289 0.484 2.315 2.700 1.562 7.0081 0.092 3.0083 0.403 1.078 1.52 76.502 2.154 6.993 3.243 0.077 8.06 41.139 2.284 1.307 3.921 1.980 6.555 1.312 0.470 2. Hasil perhitungan nilai koefisien perpindahan panas (h.658 5.344 1.").895 2.043 4.3109 Ya 0.126 0.303 2.543 1.785 Kg.753 1.975 1.888 0.645 2.888 2.684 4.641 Kgm 4.") dapat diperoleh.521 5.536 5.oC 71.211· 0.575 2.334 3.278 1.906 4.018 1.119 0.157 2.952 3.245 0.343 1.431 Kg.33 Ym 03263 0.831 4.069 7.118 3.808 3.394 7.265 0.016 2.93 Te.3271 0.604 2.6026 Yn 0.0256 0. No 40 posisi 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 I 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 h 4.251 2.997 2.37 53.72 29.279 9.444 0.038 4.6458 0.952 4.450 2.821 4.837 1.985 4.672 5.474 1. Tabel 2.56 76.226 2.15 48.77 33. koefisien perpindahan massa metanol (kg.131 1.Tabel 1.347 0.865 46 47 48 49 50 51 52 53 54 2 3 4 5 6 7 364 MEDIA TEKNIK No. kmol! m2s) dan koefisien massa air (kgm. Tabel 2 menunjukkan hasilperhitungan nilai-nilai koefisien tersebut untuk 12 pereobaan dari 13 pereobaan.299 2.649 2.963 .3312 0.752 2.812 0.032 1.417 0.379 1.481 3. dan koefisien perpindahan massa air (kg. 0. nilai koefisien perpindahan panas (hg").170 3.060 2.038 6.277· 3.0865.0084 0.666 5. 2.425 3.053 1.292 0.895 3.960 0.754 2.687 0.569 1. Berdasarkan pada data yang didapatkan dan persamaan-persamaan yang diperoleh dari neraea panas dan massa beserta persamaan-persamaan terkait sifat alat dan bahan.051 2.615 3.3172 0.761 kg.016 3.200 3.378 4.592 2.403 4.664 3.426 2.322 0.6.413 6.145 3.268 0.997 2.959 2.903 1.620 2.157 1.818 2.949 3.oC 44.750 4.62 73.806 2.898 1.852 1.076 5.291 1.560 Kgm 4.857 2.974 2.798 3.90 64.150 3.652 2.771 1.412 1.537 3.6352 0.102 2.362 0.527 2.902 2.616 2.967 3.807 1.851 2.622 2.067 1.023 4. 0.102 1.147 2.087 3.611 3.235 2.283 1.928 7.53 59.921 0.416 1.890 1.871 1.041 2.288 1.49 68. kJ/m2s K) serta koefisien massa metanol (kg-.594 8.921 1.590 0.08 38.361 0.84 42.

6 3. sebagaimana dijelaskan di atas.16%.910.6 4. kemudian ada saat tetap atau justru naik. ShJ =25. dan standar deviasi sebesar 30.4 3. karena berubahnya status metanol elari gas menjadi uap.-~------____'_' 4.. Adapun perubahan bilangan Schmidt berturutturut sebesar 4.4 3.0 +----~---_-----~--~ 3. Hubungan antara Bilangan Nusslet dengan Bilangan Reynolds Sistem Metanol-AirUelara Hubungan antara bilangan Reynolds dan bilangan Sherwood ditunjukkan pada Gambar 4 dan 5.2 3. 1.6 Log(Re) • • 3. MEDIA TEKNIK No.-rT-----'--__:__'___' 4.0 3. akan diperoleh persamaan (14) dan persamaan (15) berturut-turut untuk metanol dan air.J2.9312 Sew (14) sebesar (15) dengan bilangan Schmidt sebesar 2.691.J2.2 3. dan fraksi campuran uap-gas dengan panjang kondensor sistem metanol-air-udara berbeda dengan sistem etanol-benzen-udara dan etanol-toluen-uelara.8 3.o585Reo. Hal ini disebabkan oleh perbedaan peristiwa pengembunan.B 3.0 4. Dengan memvariasi kondisi umpan kondensor sebanyak 14 mac am.§' .8 4.6 3.47%. Pola hubungan antara suhu air pendingin.0 Gambar 4. maka hubungan antara bilangan Nusselt dengan bilangan Reynolds sistem metanol-air-udara mengikuti persamaan (B). yaitu adanya kemungkinan naiknya nilai koefisien perpindahan panas dan massa dengan panjang kondensor.2 • Gambar 5. Keadaan tersebut disebabkan oleh makin kecilnya kandungan gas.3 Tahun XXX Bdisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012 365 .6 3.8097 PrJ:3 .0 3.2 4.8 ]' 4.8 • 3. Hubungan antara Bilangan Sherwood Air dan Bilangan Reynolds sistem Metanol- Air-Udara KESIMPULAN 4.0 3. dan standar deviasi sebesar 40. (13) dengan bilangan Prandtl sebesar 0. 5950(1_y. 7567(l_y.285. Nilai kofisien terse but mula-mula turun.2 3. Berdasarkan Gambar 3 dan memperhatikan pengaruh jumlah udara. seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Adapun sistem metanol-air-udara mempunyai sedikit perbedaan.Pada Tabel 2 terlihat bahwa kemiripan kecenderungan perubahan nilai koefisien perpindahan panas dan massa sepanjang kondensor pada sistem etanol-benzen-udara dan sistem etanol-toluen-udara.0 1 4.78Jl Sew Untuk metanol dengan bilangan Schmidt 3. data hasil percobaan menunjukkan bahwa rentang nilai perubahan bilangan Reynolds dan bilangan Nusselt berturut-turut sebesar 1200-5500 dan 500-24700.t:! ~ 4. masing percobaan.289.6 3. yang hubungannya dapat dilihat pada Gambar 3.4 -~----'. Rentang perubahan bilangan Sherwood sistem metanol-air-udara seluruh percobaan antara 18000 dan 28700.2 3.J3. serta 3.2·---··-····-_·-·-.4 3. ..545 dan 3.4 • • •• • • • ~ . .0 3.125 dan 2.7652 Reo.954..85%.4. dan dengan memperhatikan komposisi udara pada masing- Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 6800 (l_y.0 +-----_---_---_-------1 3.8423Rl.8 Gambar 3. 5. dan standar deviasi sebesar 49.4 log(Re) 3. Sh2=32. meskipun bilangan Reynolds-nya turun.2 3. untuk kemudian turon lagi. Hubungan antara Bilangan Sherwood Metanol dan Bilangan Reynolds Sistem Metanol-Air.8 3.·------·--·------·-·---.'-----'-~---. 4.0 3.6 ~----------_':__. suhu uap-gas.Udara Nu=365.4 Log(Re) 3..

Ch. :'Compa. 18. Sh2 = bilangan Sherwood komponen 1 Taylor.. 161-171.E. Chern. Din difusivitas. Seminar Nasional N. Sh. I. 31. 448-455.Behr~~. D.16 %. LM dan Rochmadi. pp. Burghardt. no. dan Standart.U dara 2 hg• = koefisien perpindahan kalor terkoreksi. "Mass Transfer Operations". massa dalam bentuk bilangan tak berdimensi untuk Krishna. C International Student Edition. 1993.. kmol/s Teknik Kimia "Kejuangan ". vol. Nu = bilangan Nusslet Schrodt.. A.y .V. m Is Tokyo.I. 124-133. N/m2 19. RE..47%. vol. pp. vol. Eng. Sci. G kecepatan molar uap. Soehendro. Engineers Handbook" 5th ed..6800 (1. kmol/tm' s) dalam Kondensor Tegak". no. RG. pp. J/(m K) dalam Kondensor Tegak". Journal. kmol/m' 456-461. m Canadian Journal of Chern. c = konsentrasi total. 1964. 4. 25-30. J.)2. no. "Perpindahan Panas dan Massa pacb 2 J/(m K) Pengembunan Campuran Etanol. 1981.E Journal 40.7567 (l_Yn)3. 1. Journal. Forum Teknik.I.1976.rison of Various Mass Transport Model 10 Multicomponent Condensation".. Tc suhu air pendingin. K hal. 753-754..8097 Prl13 Flow". 2002.5950 (1_Yn)2. M. OF teballapisan film. 2008.Ch...I. "Process Daftar arti lambang Design of Condenser for Vapour Mixtures in the Presence of Non Condensable Gases".E. R. 435-477. G. D.85% dan 30. Z = panjang pipa. J. 10.R. 2. kmolls Webb. 1982. 507-520. ' Mazzarotta. Int. kmol/Inr's) Sarto. A. T.3 Tahun XXX Edisi Agustus 2008 ISSN 0216-3012 . 1973. vol. no. pp. no. kgj' koefisien perpindahan massa terkoreksi.R dan Sardesai.Benzen.!. 26. Eng. International Book Company. m Personal Communication. C. C. G. R. W. dan Chilton. kmoll 2008.. 7. R. pp.. Hubungan semi empirik koefisien perpindahan And Processing. 1994. 5. Journal.O. 383-389. 32. 1973. [B] = matrik koefisien perpindahan massa Webb. "Condensation of untuk sistem metanol-air-udara adalah sebagai . kmol/(m2s) Vapour-Gas Systems". dan Berezowski. G. 3.4. The 2 A = luas. dan Wasa. Bendiyasa. Multicomponent Mass Transfer in Turbulence NU4 = 365. "Chemical D diameter luar Eipa dalam.L. 1972.0S8S 932 l13 ReO. McGraw-Hill Vi = kecepatan mol masing-masing komponen. fluks udara.. D.. 1977. Chern. P si tekanan parsial komponen i pada interface. R dan Krishna. B.pp. 2. suhu batas uap-kondensat (interface). "Vertical of [<I>] = matrik faktor koreksi fluks tinggi Multicomponent Mass Transfer Model for [I] = matrik identitas Condensation Inside a Vertical Tube". kmoll (nr's) Sarto. New York. 22.76s2 ReO.Ch. = bilangan Sherwood komponen 1 A. Eng . Bendiyasa.. m. E. "Simultaneous Heat and Mass n. no.. R dan Sebastian. SC Multicomponent Film Model Incorporating a General Matrix Methode of Solution to the dengan standar deviasi masing-masing sebesar Maxwell-Stefan Equation". pp.H. "Multicomponent Tg = suhu gas. Soehendro. Shj= 25. vol.R.. Tokyo. H. m Multiphase Flow. vol. "Solution of the Linearized N/m2 Equation of Multicomponent Mas Transfer: 1. Pgi = tekanan parsial komponen uap i. 2. = kecepatan alir molar. kmol/(m2 s) Transfer from Multicomponent Condensing nr fluks molar total. "Multicomponent Condentation". Toor. John Wiley & Sons. "Perpindahan Panas dan Massa pada (m2s) Pengembunan Campuran Etanol-Toluen-Udara n fluks molar uap.T. Binary Vapour Mixture in he Presence of an Inert berikut Gas". dengan standard deviasi sebesar 49. dan Panchal. Jilid Jig = fluks difusi molar komponen i dalam gas. 73. Vol. McGraw-Hill. Tw = suhu dinding. Ch.T.8423 ReO. Persamaan semi empirik koefisien perpindahan panas dalam bentuk bilangan tak berdimensi untuk sistem metanol-air-udara adalah sebagai berikut DAFT AR PUST AKA 366 MEDIA TEKNIK No. hal.E. kapasitas panas uap.~.. Jones. 1992. "A Sh2= 32. RH. Vol. 1995. hal.M dan Rochrnadi hg koefisien perpindahan panas pada lapisan uap. 741-745. A.78SI l13 Sc Krishna. J/(kg K) Perry. C Treyball. K Mass Transfer". A. C.L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful