ACARA I TANAH SEBAGAI HABITAT MAKROFAUNA

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Tanah merupakan habitat bagi bermacam-macam makhluk hidup dan jumlah sangat banyak, baik nabati maupun hewani. Ada yang tergolong mikrobiota, mesobiota dan makrobiota. Makhluk hidup yang hidup di dalam tanah membentuk flora dan fauna khas yang berasosiasi dengan bahan penyusun tanah yang merupakan benda abiotik, yaitu batuan, mineral, air dan udara. Sebagai suatu kesatuan komponen biotik dengan komponen abiotik maka tanah merupakan suatu sistem ekologi. Kelompok fauna tanah terdiri dari mikrofauna, mesofauna, dan makrofauna. Yang termasuk mikrofauna ialah protozoa dan nematode, mesofauna adalah rayap dan semut, dan makrofauna ialah cacing tanah. Proses kimia oleh biota tanah dapat memperbaiki sifat kimia tanah contoh adalah cacing dimana lewat sismbiosis dengan bakteri di perutnya dapat mengubah tanah secara kimiawi sehingga tanah telapukkan dan menghasilkan unsur-unsur yang sangat dibutuhkan tanaman. Setiap kedalamamn tanah tertentu jenis makrofaunanya berbeda dan jenis tanah menentukan jenis dari makrofauna. Makrofauna yang ada di dalam tanah memiliki peranan yang penting, yaitu salah satu faktor penting yang mempengaruhi faktor pembentuk tanah. Peran makrofauna dalam pembentukan tanah adalah sebagai agen pembentuk struktur tanah dan pori-pori tanah. Selain itu juga berperan dalam pendekomposisian sisa-sisa organik. 2. Tujuan Praktikum Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah Acara I “Tanah sebagai Habitat Makrofauna“ mempunyai beberapa tujuan yaitu :

a. Menghitung populasi makrofauna tanah (anesik, epieik dan endogeik) pada jenis lahan yang berbeda (lahan terbuka, rumput, semak dan pohon). b. Mempelajari pengaruhnperbedaa jenis lahan terhadap populasi makrofauna tanah. c. Mengidentifikasi makrofauna tanah pada perbedaan jenis lahan. 3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah Acara I “Tanah sebagai Habitat Makrofauna“ dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 30 Maret 2011 di berbagai jenis lahan yang ada di lingkungan Fakultas Pertanian UNS untuk pengambilan sampel dan identifikasi makrofauna dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian UNS.

B. Tinjauan Pustaka Kelompok makrofauna tanah (ukuran > 2 mm) terdiri dari milipida, isopoda, insekta, peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah. Biomasa cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan pH, keberadaan horison organik, kelembaban tanah dan kualitas humus.Rayap berperan dalam pembentukan struktur tanah dan dekomposisi bahan organik (Maftu’ah et al, 2005). Semut, rayap, laba-laba termasuk binatang berderajat agak tinggi. Kesemuanya dengan berperan membantu pelapukan danpenghancuran bahan organic di dalam tanah. Tetapi tidak sedikit pula yang merugikan pada pertumbuhan tanaman. Organisme-organisme yang berkependudukan di dalam tanah yang sanggup mengadakan perubahan-perubahan besar di dalam tanah, terutama dalam lapisan atas atau top soil di mana akar tanaman dapat dengan mudah diperoleh bahan makanam (Sutejo et al, 2004).

Cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat-sifat tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dan hewan yang berbeda memiliki kebutuhan akan cahaya, air, suhu, dan kelembapan yang berbeda. Jumar (2000) menyebutkan berdasarkan responnya terhadap cahaya, makrofauna tanah ada yang aktif pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sugiyarto (2000) menjelaskan bahwa kebanyakan makrofauna permukaaan tanah aktif di malam hari. Selain terkait dengan penyesuaian proses metabolismenya, respon makrofauna tanah terhadap intensitas cahaya matahari lebih disebabkan oleh akitivitas menghindari

pemangsaan dari predator. Dengan pergerakaannya yang umumnya lambat, maka kebanyakan jenis makrofauna tanah aktif atau muncul ke permukaan tanah pada malam hari. Beberapa metode, seperti metode lempeng agar dan metode larutan memberikan informasi yang berhubungan dengan berlimpahnya golongan mikroorganisme yang dapat berkembang terus atau kemampuan berkembang biak yang juga bersangkut paut dengan sifat atau keadaan alami proses-proses biokhemis yang berpengaruh terhadap keberadaan organisme di dalam tanah. Motede-metode ini berdasarkan pada perkembangan sel-sel hidup dalam berbagai bentuk koloni. Jumlah organisme yang didapat atau diketahui dalam penelitian dengan menggunakan salah satu di antara metode-metode ini umumnya dilaporkan berkisar dari satu juta sampai limapuluh juta pada per gram tanah (Mulyani et al, 1999). Kehidupan dalam tanah analog dengan kehidupan di atas tanah. Akar, dan tumbuhan di dalam tanh merupakan bagian dari produsen primer. Terdapat konsumen dan pengurai yang saling dihubungkan oleh rantai makanan. Barangkali perbedaan utama antara ekologi di atas dan di bawah daerah peralihan janah adalah bahwa di atas daerah peralihan hewan berperan dominan sebagai konsumen dan di bawah daerah peralihan jasad renik berperan dominan sebagai pengurai. Pengurai ini terutama bersel tunggal dan mikroskopis disebut mikrobia (Madigan et al, 2001).

C. Alat, Bahan dan Cara Kerja 1. Alat a. Cangkul dan linggis b. Frame besi untuk monolith c. Gelas plastik aqua d. Flakon e. Sungkup f. Kuas kecil g. Ember plastik h. Petridish i. Lup/kaca pembesar j. Pinset 2. Bahan a. Tanah pada berbagai jenis lahan yang berbeda b. Formalin 4% c. Deterjen d. Alkohol 75% e. Aie/aquadest 3. Cara Kerja a. Menentukan lokasi pengambilan contoh makrofauna tanah b. Isolasi makrofauna epigeik (pitfall) : 1) Buat lubang untuk menanam gelas plastik aqua (perangkap jebak) 2) Isi gelas dengan larutan deterjen sampai ¼ tinggi tabung 3) Tanam gelas plastik aqua hingga sejajar dengan permukaan tanah, lalu pada bagian atasnya ditutup dengan sungkup 4) Biarkan saru hari, lalu pada hari berikutnya ambillah gelas tersebut yang berisi makrofauna untuk dilakukan identifikasi di laboratorium

5) Setelah di laboratorium, cuci specimen menggunakan air bersih, lalu masukkan ke dalam flakon yang berisi alkohol 75% 6) Identifikasi dan gambarlah makrofauna yang ditemukan c. Isolasi makrofauna anesik dan endogeik (monolith) : 1) Letakkan frame besi berukuran 25 x 25 x 10 cm3 pada titik yang ditentukan 2) Buatlah 3 monolith dengan ukuran 25 x 25 x 30 cm3 3) Ambil tanah tiap kedalaman 0-10 cm. 10-20 cm, 20-30 cm dan masukkan ke dalam ember plastik 4) Lakukan hardsorting insitu. Specimen cacing tanah dimasukkan ke dalam flakon yang berisi formalin 4%, sedangkan makrofauna lainnya dimasukkan kedalam flakon yang berisi alkohol 75% menggunakan kuas 5) Setelah di laboratorium, bersihkan specimen menggunakan air bersih lalu masukkan kembali ke dalam flakon yang baru 6) Identifikasi dan gambarlah makrofauna yang ditemukan

Hasil Pengamatan dan Pembahasan Tabel 1.3 Pengamatan Monolith Kelompok 1 Kedalaman Perlakuan Identifikasi 0-10 cm Nama: Larva kaki seribu Ordo: Famili: Jumlah 4 Ciri-ciri
 berukuran panjang dan punya banyak kaki warna hitam  tubuh beruas-ruas  hidup di tanah lembab  krg lebih 90% tubuhnya tersusun oleh air

Keterangan
 hidup di atas permukaa n tanah makan kotoran/ seresahan  hidup di atas permukaa n tanah  makan kotoran/ seresahan Sebagai soil enginering

Gambar

10-20 cm Lahan Terbuka

Nama: Cacing 2 tanah Ordo: Famili:

20-30 cm Sumber: Laporan Sementara Tabel 1.3 Pengamatan Pitfall Kelompok 1 Perlakuan Identifikasi Nama: Rayap Ordo: Famili: Lahan Terbuka Jumlah 7

-

-

-

Ciri-ciri
 panjang krg lebih 0,3 cm  punya 2 pasang kaki  tubuh terdiri dari kepala,thora x dan abdomen  punya antena

Keterangan
 epigeik  makan seresah sebagai litter transformers

Gambar

Sumber: Laporan Sementara 2. Pembahasan Tanah selain menjadi tempat untuk bertumbuhnya tumbuhan juga menjadi habitat bagi beberapa hewan yang disebut dengan biota tanah. Biota tanah ini berperan dalam pembentukan kesuburan biologi tanah. Biota tanah yang

berukuran lebih dari 1 mm disebut makrofauna tanah. Makrofauna tanah dibagi menjadi tiga kelompok yaitu biota yang mencari makan di permukaan tanah (epigeik), di dalam tanah (endogeik), dan yang hidup di dalam tanah tapi mencari makan di permukaan tanah (anesik). Pada pengamatan makro fauna kali ini dilakukan dua cara yaitu metode monolith dan metode pithfall. Metode monolith digunakan untuk mengamati mskrofauna yang hidup di dalam tanah sedangkan metode pitfall di gunakan untuk mempelajari makrofauna yang hidup di permukaan tanah. Metode Pitfall digunakan untuk mengisolasi makrofauna epigeik, dilakukan dengan cara menanam gelas aqua hingga sejajar dengan permukaan tanah. Kemudian bagian atasnya ditutup dengan sungkup. Setelah sehari kemudian makrofauna yang terjebak diidentifikasi di laboratorium. Pada gelas aqua yang ditanam terlebih dahulu diisi dengan air deterjen. Air deterjen tersebut akan mengeluarkan aroma yang cukup menarik perhatian makrofauna epigeik. Ketika makrofauna mendekat. Maka akan terjatuh pada gelas aqua yang sudah ditanam sejajar tanah. Pada identifikasi makrofauna dengan metode pithfall terdapat jenis makrofauna yaitu bekicot, laba-laba, semut hitam, semut angkrang, semut merah dan belalang. Metode Monolith digunakan untuk isolasi makrofauna anesik dan endogeik. Dilakukan dengan cara meletakkan frame besi kemudian ditekan hingga frame terbenam dan rata permukaan tanah. Setelah itu diambil tanah dalam frame tersebut setiap kedalaman 0-10 cm, 10-20 cm, dan 20-30 cm. Kemudian dilakukan handsorting terhadap masing-masing sample tanah. Makrofauna tanah merupakan organisme tanah yang berukuran antara ≥ 1 mm (Hanafiah, 2005). Pada umumnya makrofauna tanah merupakan kelas Arthropoda dan Annelida yang menguntungkan maupun merugikan bagi tanaman. Beberapa contoh makrofauna tanah antara lain : berbagai serangga, millipoda (kaki seribu), kumbang tanah, tungau, sentipoda (kaki seratus), labalaba, rayap, semut, dan cacing tanah.

Fungsi kologi makrofauna tanah sangat beragam antar spesies. Ada yang berperan sebagi pengurai (dekomposer), penghancur seresah (litter transformer), dan penggali tanah (soil ecosystem engineers) (Fragoso et al., 1997). Berdasarkan habitatnya, makrofauna tanah dapat dibedakan menjadi tiga, meliputi : (1) makrofauna yang aktif di permukaan tanah (epigeik), (2) aktif di dalam tanah (endogeik), dan (3) mengambil makanan dari permukaan tanah, namun tinggal di dalam tanah (anesik) (Lee, 1985). Sebagai contoh makrofauna epigeik adalah cacing tanah Peryonix excavatus, belalang, dan lain-lain. Semut, rayap, dan beberapa spesies cacing tanah merupakan contoh ,makrofauna anesik. Cacing tanah Pontoscolex corenthrurus merupakan contoh makrofauna endogeik. Pada praktikum kali ini digunakan 2 metode untuk mengisolasi makrofauna, yaitu metode pitfall dan monolith. Keduanya dilakukan pada daerah pertanaman monokultur dan polikultur. 1. Metode Pitfall Digunakan untuk mengisolasi makrofauna epigeik. Dilakukan dengan cara menanam gelas aqua hingga sejajar dengan permukaan tanah. Kemudian bagian atasnya ditutup dengan sungkup. Setelah sehari kemudian makrofauna yang terjebak diidentifikasi di laboratorium. Pada gelas aqua yang ditanam terlebih dahulu diisi dengan air deterjen. Air deterjen tersebut akan mengeluarkan aroma yang cukup menarik perhatian makrofauna epigeik dan membuat licin sehingga makrofauna yang terjebak tidak dapat keluar lagi dari jebakan. Ketika makrofauna mendekat, maka akan terjatuh pada gelas aqua yang sudah ditanam sejajar tanah. Berdasarkan hasil praktikum kelompok 1 menggunakan pitfall pada perlakuan berupa 7 ekor rayap. 2. Metode Monolith Metode monolith digunakan untuk isolasi makrofauna anesik dan endogeik. Dilakukan dengan cara meletakkan frame besi kemudian ditekan lahan terbuka diperoleh makrofauna

hingga frame terbenam dan rata permukaan tanah. Setelah itu diambil tanah dalam frame tersebut setiap kedalaman 0-10 cm, 10-20 cm, dan 20-30 cm. Kemudian dilakukan handsorting terhadap masing-masing sample tanah. Berdasarkan hasil praktikum kelompok 1 menggunakan monolith di lahan terbuka, pada kedalaman 0-10 cm dari atas permukaan tanah diperoleh makrofauna berupa 4 ekor larva kaki seribu. Pada kedalaman 10-20 cm ditemukan cacing tanah sebanyak 2 ekor sedangkan pada kedalaman 20-30 cm tidak ditemukan makrofauna. Makrofauna tanah merupakan kelompok fauna bagian dari

biodiversitas tanah yang berukuran 2 mm sampai 20 mm (Gorny dan Leszek, 1993). Makrofauna tanah merupakan bagian dari biodiversitas tanah yang berperan penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah melalui proses imobilisasi dan humifikasi. Dalam dekomposisi bahan organik, makrofauna tanah lebih banyak berperan dalam proses fragmentasi (comminusi) serta memberikan fasilitas lingkungan (mikro habitat) yang lebih baik bagi proses dekomposisi lebih lanjut yang dilakukan oleh kelompok mesofauna dan mikrofauna tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi (Lavelle et al., 1994). Peran makrofauna tanah lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan dan hewan yang mati, pengangkutan materi organik dari permukaan ke dalam tanah, perbaikan struktur tanah, dan proses pembentukan tanah. Dengan demikian makrofauna tanah berperan aktif untuk menjaga kesuburan tanah atau kesehatan tanah (Hakim, 1986 ; Adianto, 1993; Foth, 1994). Faktor- faktor yang mempengaruhi kehidupan makrofauna ini ditentukan oleh banyak sedikitnya bahan makanan di lingkungan. Jenis vegetasi yang menutupi lingkungan tersebut juga mempengaruhi jumlah dan jenis dari makrofauna yang hidup. Faktor yang lain ialah banyak-sedikitnya predator di lingkungan serta adanya bahan pencemar dan pengrusakan karena ulah manusia. Makrofauna berperan sebagai pencacah seresah sehingga

mikroorganisme tanah lebih mudah untuk mendekomposisi BO. Antara mikrooranisme dan makrofauna terjadi simbiosis yang terjadi di dalam perut makrofauna. Makrofauna tidak dapat menguraikan selulosa sehingga dengan simbiosis tersebut selulosa dapat terdekomposisi

DAFTAR PUSTAKA

Anderson JM. 1994. Functional Attributes of Biodiversity in Landuse System: In D.J. Greenland and I. Szabolcs (eds). Soil Resiliense and Sustainable Land Use. CAB International. Oxon Adianto, 1993. Biologi Pertanian, Pupuk Kandang, Pupuk Organik Nabati dan Insektisida. Bandung: Alumni. Buckman, M.H & Brady. 1982. Ilmu Tanah. Jakarta: Bharata Karya. Crossley Jr. DA, Mueller BR & Perdue JC. 1992. Biodiversity of microarthopds in agricultural soil: relations to processes. Agric. Ecosyst. Environ. 40,3746

Gorny, M. and Leszek G. 1993. Methods in Soil Zoology. Polish Scientific Publishers. Warszama. Madigan et al. 2001. Biology of microorganisms, Prentice Hall, Inc. New Jersey. Maftu’ah, Alwi dan Mahrita. 2005. Potensi Makrofauna Tanah Sebagai Bioindikator Kualitas Tanah Gambut. Jurnal Bioscientiae Vol. 2 No.1: 1-14. Mulyani, Mul. S, Kartosapoetra, A.G, Sastroatmodjo. 1999. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta. Jakarta. Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Primack BR, Supriatna J, Indrawan M. & Kramadibrata P. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Sugiyarto. 2000. “Keanekaragaman Makrofauna Tanah Pada Baerbagai Umur Tegakan Sengon di RPH Jatirejo Kabupaten Kediri”. Biodiversitas. 1 (2) : 11-15. Sutejo. 2008. Makrofauna Tanah. www.goggle.com. Di akses pada tanggal 14 April 2011. Wallwork, J.A. (1970). Ecology of Soil Animals. McGraw-Hill. London-New YorkSydney

ACARA II PERAN BIOTA DALAM DAUR HIDROKARBON

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Di dalam tanah mikroorganisme mendekomposisi bahan organik dari bentuk komplek menjadi senyawa sederhana sehingga terbentuk unsur hara yang tersedia bagi tanaman. Dekomposisi dilakukan oleh makroorganisme yang berperan dalam menguraikan seresah menjadi potongan-potongan kecil yang selanjutnya akan diuraikan menjadi mineral-mineral sekunder oleh mikroorganisme.

Perisitwa ini dapat dimanfaatkan dalam menunjang praktek pertanian di lapangan, yaitu digunakan dalam pembuatan pupuk. Kegiatan

pendekomposisian bahan organik oleh mikroorganisme dapat diterapkan dalam pembuatan pupuk kompos dan vermi kompos. Pupuk Kompos yaitu jenis pupuk alam yang dibuat dari bahan-bahan seperti pupuk kandang, pupuk hijau, jerami dan lain-lain. Manfaat penggunaan kompos terhadap tanah yaitu : Menambah kesuburan tanah, Memperbaiki sifat kimia tanah, sehingga unsur hara yang tersedia dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman, Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan gembur, Memperbaiki tata air dan tata udara di dalam tanah dan Memperbaiki kehidupan jasad renik yang hidup di dalam tanah. Sedangkan Vermi kompos, yaitu kompos yang dalam proses pembuatannya menggunakan bantuan cacing. Aktifitas mikroorganisme di dalam tanah itu dicirikan dengan adanya pelepasan CO2 baik oleh mikroorganisme, C organik yang terdekomposisi sehingga menghasilkan CO2 maupun respirasi yang dilakukan oleh akar tanaman pada media tanam (tanah). Karbondioksida yang dilepaskan dari tanah mencerminkan metabolisme bersih dari aktifitas mikroorganisme, tanaman dan hewan yang ada di dalam tanah.

2.

Tujuan Praktikum Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah Acara II “Peran Biota Dalam Daur Hidrokarbon“ mempunyai beberapa tujuan yaitu : d. Mahasiswa mampu membuat kompos konvensional dan kompos melalui proses vermikomposting e. Menisolasi dan mengidentifikasi koloni mikro dalam proses pengkomposan konvensional dan vernikomposting f. Menentukan tingkat aktivitas mikroorganisme dalam proses vermikomposting

3.

Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah Acara II “Peran Biota Dalam Daur Hidrokarbon“ dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 6 april 2011 dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian UNS.

B.

Tinjauan pustaka Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energy (Gaur, 1980). Cacing diantaranya yang digunakan dalam (Eisenia proses foetida), pembuatan dan vermikompos (cacing

brandling-worms

redworms

merah) (Lumbricus rubellus). Cacing-cacing ini jarang ditemukan di dalam tanah, dan dapat menyesuaikan dengan kondisi tertentu di dalam pergiliran tanaman. Di luar negeri ”bibit” cacing-cacing telah diperjualbelikan di tokotoko pertanian. Vermikomposting dalam skala kecil dapat mendaur ulang sampah dapur menjadi vermikompos yang berkualitas dengan

menggunakan ruang terbatas (Sugiharto, 2011). Jumlah CO yang dihasilkan di dalam tanah oleh mikroorganisme mendekati dengan yang diperlukan tanaman-tanaman bagi fotosintesa bahan organic. Dalam sementara tanah, seperti padang rumput yang luas sekali (prairi) dan tanah gambut kandungan bahan organic kemungkinan demikian lebih tinggi (10 % atau lebih), sebaliknya dalam tanah-tanah berpasir yang miskin, kemungkinan adalah 1 % atau kurang (Haster, 1995). Dengan memanfaatkan salah satu jenis sampah alam yaitu daun yang sudah tua, maka kita dapat membuat kompos . Daun - daun yang sudah tua dan berguguran sebaiknya tidak dibuang begitu saja di tempat pembuangan akhir.

Harus ada pemanfaatan lebih lanjut untuk mengurangi masalah timbunan sampah juga. Salah satu pemanfaatan daun yang sudah tua adalah dengan menyulapnya kembali menjadi sesuatu yang berguna yaitu kompos (Anne Ahira, 2010). Pada tahap awal atau dekomposisi intesif berlangsung, dihasilkan suhu yang cukup tinggi dalam waktu yang relative pendek dan BO yang mudah terdekomposisi akan diubah menjadi senyawa lain. Pada tahap pematangan utama dan pasca pematangan, bahan yang sukar akan terdekomposisi akan terurai dan membentuk ikatan komplek lempung-humus. Prodok yang dihasilkan adalah kompos matang yang mempunyai ciri antara lain: (1) tidak berbau; (2) remah; (3) berwarna kehitaman; (4) mengandung hara yang tersedia badi tanaman; dan (5) kemampuan mengikat air tinggi (Sutanto,2002). C. Alat, Bahan dan Cara Kerja 1. Alat a. Vermikomposting a) Cetok b) Ember c) Saringan d) Karung goni e) Bak semen atau terpal f) Selang air g) Termometer b. Pengomposan a) Sekop b) Tempet pembuatan kompos c) Ember d) Penutup plastik/ mulsa e) Termometer f) Erlenmeyer 100 ml, 250 ml atau 500 ml

g) Skalpel dan spatel h) Pisau i) Sealer kantong plastik j) Shaker, vortex k) Petridish steril l) Tabung reaksi m) Mikropipet 1 ml n) Driglasky o) Autoklaf p) Jarum ose q) Bunsen r) Baki/ nampan plastik s) Kantong plastik kemasan 50 gr atau 100 gr c. Evolusi CO2 a) Alat penginkubasi (sungkup) b) Flakon c) Karet d) Plastik transparan e) Alat penyuntik 2. Bahan a. Vermikomposting a) Cacing tanah (Lumbricus ruellus, Pontoscolex corenthrurus) b) Jerfami c) Kotoran sapi b. Pengomposan a) Jerami kering yang dicacah sebagai bahan kompos b) Pembawa (carrier) yang mengandung gambut, lempung, gambut + lempung dan dedak c) Kompos jerami

d) Media NA dalam petridish e) Garam fisiologis c. Evolusi CO2 a) Areal lahan b) KOH c) HCl d) BaCl2 e) Aquadest f) Indikator PP g) Indikator MO 3. Cara Kerja a. Vermikomposting a) Siapkan media tumbuh cacing berupa kotoran sapi dan jerami b) Rendam jerami selama ± 1 minggu. Perendaman ini bertujuan agar bahan baku kompos menjadi lebih lunak dan untuk menghilangkan sisa pestisida c) Campurkan bahan-bahan di atas hingga tercampur rata dan memasukkan campuran tersebut ke dalam wadah, lalu membiarkan hingga suhunya mulai turun hingga 1 hari d) Setelah dingin, masukkan cacing tanah sebanyak 100 gram e) Pelihara cacing tanah dengan memberi makan. Cacing tanah diberi pakan sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam yaitu berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagi media. Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah antara lain adalah : 1) Pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender 2) Bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan

3) Tutup pakan dengan plastik, karung atau bahan lain yang tidak tembus cahaya 4) Pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi 5) Bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1 f) Jika media terlalu kering, lakukan penyiraman hingga media lembab kembali g) Lakukan pemanenan jika dalam media sudah nampak butiran kotoran cacing atau medianya sudah lebih halus dan warnanya lebih gelap. Panen dilakukan dengan cara memisahkan cacing tanah dengan mdia. Kascing yang dihasilkan siap digunakan sebagai pupuk organik b. Pengomposan a) Ambil jerami kering dan dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil (23)cm b) Basahi jerami dengan air kemudian ditumpuk dengan ketinggian ± 0,5 m c) Tutup tumpukan jerami tadi dengan mulsa plastik dan membiarkan selama 1 minggu c. Isolasi dan Identifikasi Koloni Mikro dalam Proses Pengomposan dan Vermikomposting a) Ambil kompos jerami pada fase termofilik dan kompos dari hasil vermikomposting b) Siapkan erlenmeyer 250 ml yang berisi 90 ml air atau larutan fisiologis steril. Mamasukkan kompos jerami ke dalam erlenmeyer secara aseptis. Menggojog hingga homogen c) Buat seri larutan pengenceran sampai 10-7 d) Siapkan media NA dalam petridish, kemudian melakukan inokulasi secara surface plating menggunakan suspense bintil akar pada tiap pengenceran. Menginkubasikan pada suhu kamar selama 2 x 24 jam

e) Siapkan media agar miring NA di tabung reaksi. Kemudian melakukan isolasi koloni-koloni bakteri yang dipilih ke dalam agar miring tersebut, yaitu koloni bakteri yang menunjukkan zona bersih dan terpisah dari koloni lainnya. Apabila tidak ada koloni yang terpisah secara jelas, mengambil dari koloni yang paling memungkinkan, lalu melakukan inokulasi secara goresan pada media NA pada petridish sehingga diperoleh koloni-koloni yang terpisah secara jelas. Menyimpan pada suhu kamar hingga koloni tumbuh cukup lebat selama 1 minggu. d. Evolusi CO2 a) Memasang alat semacam kurungan dari besi (sungkup) yang sudah ditutup plastik transparan dan di dalamnya dipasang flakon berisi KOH atau NaOH di areal lahan b) Membiarkan alat tersebut selama semalam c) Menyuntikkan BaCl2 ke dalam flakon berisi KOH atau NaOH kemudian menutupnya rapat-rapat d) Menetesi larutan KOH dengan indikator PP sehingga warnanya berubah menjadi merah muda e) Menetesi larutan KOH + indikator PP dengan HCl sampai warnanya berubah menjadi putih keruh f) Menetesi larutan KOH dengan MO sehingga warnanya menjadi orange g) Menetesi larutan KOH dengan + MO dengan HCl sampai warnaya berubah menjadi putih keruh h) Mencatat volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut : r=
( )

x

Keterangan : r a : diameter tabung jebakan : ml HCl baku

b n HCl V

: ml HCl blanko : Normalitas HCl : 0,01N : volume KOH

DAFTAR PUSTAKA

Ahira,

Anne.

2010.

Membuat

Kompos

Dari

Daun-

Daun

Gugur.

http://www.anneahira .com/ Membuat-Kompos.Htm/. Diakses Diakses Pada Hari Minggu Tanggal 10 April 2011. Gaur, D. C. 1980. Present Status of Composting and Agricultural Aspect, in: Hesse, P. R. (ed). Improvig Soil Fertility Through Organic Recycling, Compost Technology. FAO of United Nation. New Delhi. Haster. 1995. Ikhtisar Biologi. Pionir Jaya. Bandung. Sugiharto. 2011. Vermikompos. http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomyagriculture/2129569-vermikompos/. Diakses Diakses Pada Hari Minggu Tanggal 17 April 2011.

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

ACARA III PERAN BIOTA DALAM PENAMBATAN N2 SIMBIOTIK DAN NON SIMBIOTIK

D. Pendahuluan 4. Latar Belakang Nitrogen adalah unsur utama penyusun komponen atmosfer, sebanyak 78,17 %.Tetapi keberadaan nitrogen tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tumbuhan.Dengan demikian diperlukan suatu mekanisme tertentu agar kebutuhan nitrogen pada tumbuhan dapat terpenuhi, salah satunya adalah dengan simbiosis, contohnya adalah simbiosis antara bakteri Rhizobium sp dengan akar tanaman polong-polongan (Leguminaceae). Simbiosis ini sangat

penting pada dunia pertanian karena bakteri rhizobium sp mengikat unsur nitrogen dari lingkungan sekitar dan menularkan ke tumbuhan. Pada pertanian tanaman kedelai , bakteri rhizobium sp menempel pada bintil akar. Keadaan tersebut membuat tanaman tumbuh subur dan untuk melangsungkan hidupnya karena tanaman tersebut telah terinfeksi oleh bakteri Rhizobium sp. Dengan demikian bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. 5. Tujuan Praktikum Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah Acara III “Peran Biota Dalam Penambatan N2 Simbiotik Dan Non Simbiotik“ mempunyai beberapa tujuan yaitu : g. Mempelajari, mengamati efektivitas infeksi Rhizobium akar pada tanaman Leguminosae yang terinfeksi h. Mengetahui kemampuan hidup Rhizobium dan Azolla pada kondisi yang berbeda i. Mengetahui kemampuan hidup Rhizobium dan Azolla dalam menambat N pada kondisi yang berbeda j. Mengetahui proses penambatan N secara Sinbiotik dan Non Simbiotik k. Mengetahui metode perhitungan (enumerasi) bakteri pengoksidasi

Amonium dan Nitrat dalam tanah 6. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah Acara III “Peran Biota Dalam Penambatan N2 Simbiotik Dan Non Simbiotik “ dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 April 2011 di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian UNS.

E. Tinjauan Pustaka

Bakteri rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legume, kelompok bakteri ini akan menginfeksiakar tananam dan membentuk bintil akar di dalamnya. Rhizobium hanya bisa memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada di dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan rhizobium terhadap pertumbuhan tanaman khususnya berkaitan dengan masalah ketersediaan nitrogen bagi tanaman inangnya (Rahmawati, 2005). Azolla merupakan tanaman pakuan air yang hidup di lingkungan perairan dan sebaran yang cukup luas. Seperti halnya tanaman leguminose, azolla mampu menambat N2 udara karena mampu berasosiasi dengan sianobakteri (Anabaena azollae) yang hidup di rongga daunnya. Asosiasi azolla-anabaena memanfaatkan jenergi dari hasil fotosintesis untuk mengikat N2 udara (Sutanto, 2002). Untuk meningkatkan ketersediaan dan kadar N dapat dilakukan dengan memanfaatkan jasa mikrobia penambat nitrogen, baik yang hidup bebas dari kelompok algae hijau-biru seperti Nostoc, Anabaena sp, maupun yang bersimbiosis seperti Anabaena azollae dengan paku air Azolla (Sudadi, 2007). Sebagian besar nitrogen di alam terdapat di atmosfer yaitu sekitar 78%, ini lebih tinggi dibandingkan dengan oksigen yang hanya sebesar 21%. Nitrogen di atmosfer dalam bentuk senyawa N2 (gas inert), yang tidak bisa secara langsung dimanfaatkan oleh tanaman tingkat tinggi. Ada 4 pola dasar perubahan N2 menjadi bentuk N yang dapat digunakan tanaman yaitu : a. Fiksasi oleh rhizobia dan mikroorganisme lain yang bersimbiosis baik oleh tanaman leguminose maupun non-leguminose. b. Fiksasi oleh mikroorganisme tanah yang hidup bebas (Azotobacter dan Clostridium) dan kemungkinan oleh organism yang hidup pada daun tanaman tropik, serta oleh Blue-Green Algae yang merupakan simbiosis antara Anabaena azolla (a blue green algae) dan Azolla (a water fern). c. Larut dalam air hujan oleh muatan listrik atau energi di atmosfer.

d. Fiksasi dengan berbagai metode yang dilakukan oleh pabrik-pabrik pupuk sintetis (Winarso, 2005). Leghemoglobin dihasilkan oleh inang bukan oleh bakteroid dan memberikan warna karakteristik (pink) pada nodul. Inang juga menyediakan senyawa C4 dikarboksilat (suksinat) yang digunakan sebagai substrat respirasi, dimetabolismekan membentuk malat dan dekarboksilasi menjadi piruvat dengan bantuan enzim malat (malic enzyme), kemudian dioksidasi lewat siklus TCA untuk menghasilkan ATP dan reduksi yang diperlukan untuk fiksasi N2 (Jawetz, 2001).

F. Alat, Bahan dan Cara Kerja 4. Alat 1) Silet atau pisau 2) Pipet volume dan pipet drop 3) Penyala bunsen 4) Tabung reaksi 5) Petridish 6) Erlenmeyer 7) Autoclave 8) Gelas plastik 9) Mortar dan pestele 10) Penggaris 5. Bahan 1) Bintil akar kacang tanah 2) Azolla 3) Aquadest 4) Media YEMA 5) Garam Fisiologis

6) Medium Hara  Pengoksidasi Amonium a) 10 ml larutan induk hara makro b) 1 ml larutan induk Fe-khelat c) 1 ml larutam induk hara mikro dalam aquadest 800 ml d) 10 ml (NH4)SO4 e) 0,02 gram Bromotymol blue f) Aquadest sampai 1 liter  Pengoksidasi Nitrit a) 10 ml larutan induk hara makro b) 1 ml larutan induk Fe-khelat c) 1 ml larutam induk hara mikro dalam aquadest 800 ml d) 10 ml KNO2 e) 0,02 gram Bromotymol blue 6. Cara Kerja 1) Cara isolasi bakteri Rhizobium sp dari tanaman:  Ambil bintil akar pada tanaman leguminose kemudian sterilkan dengan aquadest  Kemudian tumbuk bintik akar  Masukkan 10 g bahan tersebut ke dalam 90 ml garam fisiologis, lalu digojog hingga homogen (pengenceran 10-1)  Mengambil 1 ml larutan 10-1, masukkan ke dalam 9 ml garam fisiologis, lalu digojog hingga homogen (pengenceran 10-2)  Lakukan hal yang sama hingga pengenceran 10-9  Isolasi bakteri penambat N menggunakan media YEMA, dengan cara sebagai berikut:  Untuk bakteri penambat N: ambil 0,1 ml larutan 10-2 dan tuangkan ke dalam media YEMA, lalu ratakan larutan tersebut ke seluruh media

menggunakan dryglassky steril. Lakukan hal yang sama hingga pengenceran 10-5  Inkubasi isolat-isolat tersebut pada suhu kamar, dengan posisi petridish terbalik, selama 4-12 hari  Menghitung jumlah koloni yang tumbuh menggunakan hand colony counter 2) Pengujian pertumbuhan azolla pada berbagai macam kondisi:  Saipakan tanah yang sudah diayak dengan Ǿ 0,5 mm  Masukkan tanah kedalam gelas plastik sebanyak 200 gr, lalu digenangi air sampai tanah agar Azolla berada dalam 3 kondisi: a) Macak-macak 0 cm (akar masuk ke dalam tanah) b) Tergenang air 2 cm di atas permukaan tanah (menyentuh permukaan tanah) c) Tergenang air 5 cm di atas permukaan tanah (menggantung) d) Tergenang air 7 cm di atas permukaan tanah (menggantung)  Masukkan azola ke dalam masing-masing gelas perlakuan dan amati setiap minggu pertumbuhannya  3) Perhitungan mikrobia pengoksidasi amonium dan nitrat dalam tanah:  Menimbang tanah seberat 10 gram dengan kertas minyak untuk menjaga kontaminasi bakteri dari luar nyalakan bunsesn disamping timbangan  Memindahkan sampel tanah ke dalam botol 250 ml yang berisi 90 ml larutan pendispersi dan menggojognya selama 30 menit pada 50 rpm pada mechanical shaker  Menginokulasi tabung biakan pengoksidasi amonium dan nitrit dengan 0,1 ml dari masing-masing seri pengenceran  Menutup tabung biakan dan menginokulasinya selama 4-5 minggu  Mengamati perubahan yang terjadi pada tabung dari setiap seri

DAFTAR PUSTAKA

Jawetz E., Melnick J.L., Alderberg E.A., 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Airlangga University Press. Surabaya Rahmawati, N. 2005. Pemanfaatan Limbah Pabrik Gas Asetilen dan Mikoriza Vasikular Arbuskular untuk Memperbaiki Sifat Kimia Tanah, Pertumbuhan dan Produksi Kedelai pada Berbagai Kondisi Kelembaban Tanah Ultisol. Program Pascasarjana. Universitas Sumatra Utara. Medan.

Sudadi. 2007. Aspek Mikrobiologis Pengelolaan Nitrogen di Lahan Basah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No.1 hal: 68-73. Sutanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik, Kanisius. Yogyakarta Winarso, Sugeng. 2005. Kesuburan Tanah dasar kesehatan dan kualitas tanah. Gava Media. Yogyakarta.

ACARA IV PERAN BIOTA DALAM TRANSFORMASI P

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Mikoriza mrupakan simbion yang obligat dan memerlukan akar tanaman untuk melengkapi daur hidupnya. Infeksinya

dengan tanaman inang tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan pada tanaman yang terinfeksi kecuali pada beberapa tanaman seperti jagung memperlihatkan warna kuning pada akarnya. Mikoriza mempunyai harapan yang baik dalam memacu pertumbuhan tanaman, terutama pada lahan-lahan yang miskin unsur hara P. Hal ini disebabkan mikoriza mempunyai sifat yang dapat meningkatkan penyerapan unsur hara terutama unsur hara P, N, dan unsur hara mikro seperti Zn, Cu, dapat meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan dan dapat meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Simbiosis antara mikoriza dengan tanaman bersifat tidak spesifik, namun kelimpahan (abundance) populasinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pH tanah, ketersediaan P, kandungan Al dan Fe, dan lain-lain. Diduga kedalaman tanah turut berpengaruh terhadap kelimpahan populasi mikoriza. Pengamatan mikoriza biasanya dilakukan dengan mengisolasi propagule spora dari tanah rhizosfer, maupun pengecatan akar. 2. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum acara III Mikoriza adalah sebagai berikut : a. Mengetahui dan membandingkan spora mikoriza pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) dengan perlakuan yang berbeda. b. Mengetahui infeksi VAM (Vesicular Arbuscular Michoryza) pada korteks akar tanaman kacang tanah. c. Mengetahui peran VAM (Vesicular Arbuscular Michoryza) dalam mentransformasi P 3. Waktu dan Tempat Praktikum acara III ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal Mei

2011 pukul 13.00 - 15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka

Mikoriza berasal dari kata Miko (Mykes = cendawan) dan Riza yang berarti akar tanaman. Struktur yang terbentuk dari asosiasi ini tersusun secara beraturan dan memperlihatkan spektrum yang sangat luas baik dalam hal tanaman inang, jenis cendawan maupun penyebarannya. Nahamara (1993) dalam Subiksa (2002) mengatakan bahwa mikoriza adalah suatu struktur yang khas yang mencerminkan adanya interaksi fungsional yang saling menguntungkan antara suatu tumbuhan tertentu dengan satu atau lebih galur mikobion dalam ruang dan waktu (Smith, S. E. & D. J. Read, 1997). Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Mikoriza mrupakan simbion yang obligat dan memerlukan akar tanaman untuk melengkapi daur hidupnya. Mikoriza secara umum terbagi atas 2 (dua) golongan, yaitu : ektomikoriza dan endomikoriza. Pembagian ini didasarkan pada tempat mikoriza bersimbiosis pada akar. Ektomikoriza merupakan mikoriza yang menginfeksi permukaan luar tanaman dan di antara sel-sel apeks akar. Endomikoriza merupakan mikoriza yang menginfeksi bagian dalam akar tanaman di dalam dan di antara sel-sel apeks akar. Ektomikoriza kebanyakan bersimbiosis dengan tanaman tahunan atau tanaman pohon. Beberapa diantaranya yang sempat tercatat adalah: sengon, jati, beberapa tanaman buah seperti mangga, rambutan, jeruk dsb. Bentuk simbiose ini dapat terlihat secara morfologis berupa jalinan miselia pada bagian rambutrambut akar. Beberapa jenis mikoriza tampak jelas secara mikroskopis tanpa proses pewarnaan pada bagian permukaan rambut akar tanaman

(Winarsih dan J. B. Baon, 1999). Endomikoriza banyak ditemukan pada tanaman semusim, seperti tanaman kacang-kacangan, padi, jagung, beberapa jenis sayuran, dan tanaman hias. Pengamatan mikroskopis pada perbesaran 100 x dengan perlakuan staining jels menunjukkan adanya vesikel dan kadang tampak pula arbuskula dalam sel tanaman yang terinfeksi oleh mikoriza. Infeksi mikoriza dalam sel tanaman yang

ditunjukkan dengan terbentuknya vesikel dan arbuskula sangat penting dalam simbiose antara mikoriza dan tanaman. Dengan terbentuknya vesikel dan arbuskula dalam sel tanaman, berarti simbiose telah terjadi dengan sempurna dan tanaman sudah dapat menikmati hasil kerja mikoriza berupa unsur hara yang diserap dari dalam tanah (Sieverding, 1991). Kondisi lingkungan tanah yang cocok untuk perkecambahan biji juga cocok untuk perkecambahan spora mikoriza. Demikian pula kindisi edafik yang dapat mendorong pertumbuhan akar juga sesuai untuk perkembangan hifa. Jamu mikoriza mempenetrasi epidermis akar melalui tekanan mekanis dan aktivitas enzim, yang selanjutnya tumbuh menuju korteks. Pertumbuhan hifa secara eksternal terjadi jika hifa internal tumbuh dari korteks melalui epidermis. Pertumbuhan hifa secara eksternal tersebut terus berlangsung sampai tidak memungkinnya untuk terjadi pertumbuhan lagi. Bagi jamur mikoriza, hifa eksternal berfungsi mendukung funsi reproduksi serta untuk transportasi karbon serta hara lainnya kedalam spora, selain fungsinya untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah untuk digunakan oleh tanaman (Pujianto, 2001) Keberadaan VAM dalam akar tanaman menyebabkan beberapa perubahan pada morfologi akar secara umum seperti perubahan struktur sel akar, kepekatan sitoplasma, dan sebagainya, namun tidak mempengaruhi perubahan fisiologi tanaman inang secara signifikan. Misalnya, jaringan konsentrasi senyawa yang mengatur pertumbuhan dan perubahan unsur kimia lain, meningkatkan laju fotosintesis, dan perubahan partisi fotosintetik untuk tunas dan akar. Potensi peningkatan penyerapan mineral dari tanah untuk perubahan dalam status nutrisi jaringan inang, pada gilirannya mengubah aspek struktural dan biokimia dari selsel akar. Beberapa hal di atas dapat mengubah permeabilitas membran sehingga kualitas dan kuantitas akar juga akan semakin meningkat. VAM juga mampu menginduksi perubahan komposisi mikroorganisme rhizosphere, sehingga tepat untuk disebut dengan "mycorrhizosphere". Pengaruh akhir dari proses tersebut

adalah tanaman sehat, lebih mampu menahan tekanan lingkungan dan menoleransi atau mengurangi efek penyakit tanaman (Atmaja, 2001).

C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja 1. Alat a. Gelas aqua b. Saringan kasar dan halus (spora) c. Cawan petri d. Kompor atau pemanas e. Mikroskop f. Pipet kecil g. Panci h. Gelas piala i. Deglass dan kaca preparat j. Polibag 2. Bahan a. Pupuk mikoriza b. Kacang tanah c. Larutan alkohol 50% d. KOH 10% dan HCl 1N e. Aquadest f. Tryplanblue 0,05% 3. Cara kerja a. Kultur Pot 1) Menyiapkan media untuk kultur pot bisa berupa tanah berpasir dan Entisol. Media disiapkan dalam polibag. 2) Media yang telah disiapkan dibasahi dan dibuat koakan kurang lebih lebarnya 2 cm dan dalam 3 cm. Starter inokulum FMA (spora 50-100

spora/pot atau kultur tersedia sebanyak 5-10 gr/pot) dimasukkan dalam koakan tersebut. 3) Diatas inokulum ditananam 2 biji kacang tanah. 4) Kultur dipelihara dengan pemberian air secukupnya setiap hari, dihindari jangan sampai tergenang. Pemupukan dilakukan dengan pemberian larutan Johnson sesuai petunjuk. Pemberian pupuk dihentikan setelah tanaman berumur 1,5 bulan. 5) Pada saat tanaman mulai berbunga, penyiraman dihentikan dan tanaman dibiarkan perlahan mongering. Setelah mongering, batang tanaman dipotong dan akar serta inokulum dipanen. 6) Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur 1,5 bulan. Rhizosfer serta tanaman kacang tanah tetap disimpan untuk pengamatan selanjutnya. b. Pemisahan spora dari tanah : 1) Rhizosfer yang berasal dari kultur pot perlakuan pupuk mikoriza (TxBxI1 dan TxBxI3 ) sebanyak 25 gr dicampur dengan air (100 ml) dalam gelas piala, kemudian aduk rata dan biarkan beberapa detik agar partikel kasar mengendap. 2) Menuang cairan (didekantasi) melalui saringan kasar (60 mikron) untuk memisahkan partikel kasar. Menampung cairan yang melewati saringan pertama. Mencuci saringan dengan air mengalir, jangan menggunakan tangan atau benda lain karena dapat merubah ukuran saringan. 3) Menyaring kembali hasil tampungan dari saringan ke-2 dengan ukuran saringan yang lebih halus (90 mikron). Menampung hasil saringan ke2 dan mencuci saringan dengan air mengalir 4) Menyaring hasil saringan ke-2 untuk terakhir kali dengan saringan peling halus (250 mikron). Memindahkan sisa yang tertinggal pada saringan dalam cawan petri (± 4 petri). Caranya : membalik saringan,

menyemprot bagian yang terdapat seresah yang tertinggal dengan air dan menaruh cawan petri di bawah saringan. 5) Mengamati hasil saringan pada cawan petri dibawah mikroskop binokuler dan mengamti spora Mikoriza pada tegakan akar yang berbeda. a. Pengecatan akar 1) Mencuci bersih akar tanaman yang diambil dari lapang (terutama akarakar yang halus atau rambut akar). Kemudian merendam ke dalam larutan alkohol 50%. 2) Mengambil potongan akar yang tersimpan pada larutan alkohol dan mencuci bersih, lalu dipotong dengan ukuran 1 cm. 3) Memanaskan air ke dalam panci (water bath) 4) Menyiapkan larutan KOH 10% (20 ml), kemudian memasukkan potongan akar tadi ke dalam larutan KOH dan memanaskan ke dalam panci pada suhu 90oC selama 5-10 menit tergantung pada ketebalan akar atau sampai akar tanaman layu. 5) Mencuci akar menggunakan aquadest 6) Merendam akar di dalam HCl 1N sampai berwarna putih 7) Mencuci kembali akar dengan menggunakan aquadest 8) Meletakkan akar ke dalam cawan petri dan menambahkan cat tryplanblue 0,05% kemudian mendimkan selama ± 1 jam agar cat tryplanblue masuk dalam sel atau memanaskan kembali ± 5 menit. 9) Mengamati infeksi Mikoriza di bawah mikroskkop (± 5 potong akar). DAFTAR PUSTAKA

Atmaja, I. W. D. 2001. Bioteknologi Tanah (Ringkasan Kuliah). Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar

Pujiyanto. 2001. Pemanfatan Jasad Mikro, Jamu Mikoriza dan Bakteri Dalam Sistem Pertanian Berkelanjutan Di Indonesia: Tinjauan Dari Perspektif Falsafah Sains. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sieverding, E. (1991). Vesicular arbuscular mycorrhiza: Management in tropical agrosystems. Germany, GTZ GmbH. Smith, S. E. & D. J. Read. (1997). Mycorrhizal Symbiosis. London, Academic Press. Subiksa, IGM. 2002. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Winarsih, S. & J. B. Baon (1999). Pengaruh masa inkubasi dan jumlah spora terhadap infeksi mikoriza dan pertumbuhan planlet kopi. Pelita Perkebunan, 15(1) , 13-21.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful