Sejarah 'Aisyiyah Administrator Kamis, 23 Maret 2006 Sejak mendirikan Muhammadiyah, KH.

Ahmad Dahlan sangat memperhatikan pembinaan terhadap wanita. Untuk pertama anak-anak wanita yang benar-benar mendapat pengemblengan dan dipersiapkan supaya nanti dapat dijadikan pengurus dalam wanitanya Muhammadiyah, ada enam orang, yaitu : 1. Siti Bariyah 2. Siti Dawimah 3. Siti Dalalah 4. Siti Busyro (puteri beliau sendiri) 5. Siti Wadingah 6. Siti Badilah Zuber Meskipun mereka masih anak-anak yang paling tinggi usianya baru 15 tahun tetapi mereka sudah diajak memikirkan soal-soal kemasyarakatan. Sebelum `Aisyiyah secara kongkret terbentuk, sifat gerakan pembinaan wanita itu baru merupakan kelompok anak-anak yang senang berkumpul kemudian diberi bimbingan oleh KH.Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan dengan pelajaran agama. Kelompok anak-anak ini belum merupakan suatu organisasi, tetapi kelompok anak-anak yang diberi pengajian. Disamping para gadis, orang-orang wanita yang sudah tuapun menjadi perhatian beliau. Karena ajaran dalam agama Islam tidak diperkenankan mengabaikan wanita. Mengingat pentingnya peranan wanita yang harus mendapatkan tempat yang layak, Nyai Dahlan bersama-sama KH Ahmad Dahlan mendirikan kelompok pengajian wanita yang anggotanya terdiri dari para gadis-gadis dan orang-orang wanita yang sudah tua. Dalam perkembangannya kelompok pengajian wanita itu diberi nama SAPA TRESNA. Sapa Tresna ini belum berupa organisasi, tetapi hanya suatu gerakan pengajian saja. Maka untuk memberikan suatu nama yang kongkrit menjadi suatu perkumpulan, KH Mokhtar mengadakan pertemuan dengan KH Ahmad Dahlan yang juga dihadiri oleh KH Fachruddin dan Ki Bagus Hadikusumo serta pengurus Muhammadiyah lainnya di rumah Nyai Ahmad Dahlan. Waktu memberikan nama perkumpulan itu diusulkan nama FATIMAH, tetapi nama itu tidak diterima rapat. Kemudian oleh KH Fahrodin dicetuskan nama `AISYIYAH. Ruparupanya nama inilah yang paling tepat sebagai organisasi wanita baru itu. Mengapa nama Aisyiyah itu dipandang tepat, karena diharapkan perjuangan perkumpulan itu meniru perjuangan `Aisyah isteri Nabi Muhammad SAW yang selalu membantu berdakwah. Setelah secara aklamasi perkumpulan itu diberi nama `Aisyiyah, kemudian diadakan upacara peresmian. Upacara peresmian itu waktunya bersama-sama dengan peringatan isro` mi`roj Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab 1335 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Mei

Membulatkan tekad untuk membela kesucian agama Islam e. Menjaga persaudaraan dan kesatuan kawan sekerja dan seperjuangan Sejarah IRM Administrator Kamis. Pembantu Siti Dawimah. Susunan pengurus `Aisyiyah hasil kesepakatan dalam pembentukan telah ditetapkan sebagai berikut : Siti Bariyah. tidak menghendaki sanjung puji dan tidak mundur selangkah karena dicela. proses sejarah organisasi ini memang tidak sederhana. sedang untuk bimbingan jiwa keagamaannya dibimbing langsung oleh KH Ahmad Dahlan. Setelah pengurus `Aisyiyah secara resmi terbentuk. KH Ahmad Dahlan memberikan bekal perjuangan sebagai berikut : a. Pembantu Siti Wadingah. Latar belakang berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan latar belakang berdirinya Muham-madiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar yang ingin melakukan pemurnian terhadap pengamalan ajaran Islam. Fatimah Wasool. Bendahari Ny. Penuh keinsyafan bahwa beramal itu harus berilmu c. Jangan mengadakan alasan yang tidak dianggap sah oleh Tuhan Allah hanya untuk menghindari suatu tugas yang diserahkan d. Penulis Siti Aminah Harowi. Pembantu Selanjutnya KH Mokhtar memberi bimbingan administrasi dan organisasi. Pembantu Siti Busyro. b. 23 Maret 2006 Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) merupakan metamorfosis dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang berdiri tahun 1961. Tempat duduk murid-murid yang wanita dan kaum ibu dipisahkan dengan kelambu berwarna merah jambu. sekaligus sebagai salah satu konsekuensi dari banyaknya sekolah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah untuk . Namun.1917 M yang diadakan oleh Muhammadiyah untuk yang pertama kalinya. Abdullah. Interpretasi sejarah bisa jadi berbeda-beda dalam memandang perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Remaja Muham-madiyah. Pembantu Ny. ketua Siti Badilah. Adapun yang bertindak sebagai pembuka kelambu pada upacara itu ialah KH Mokhtar. Dengan keiklasan hati menunaikan tugasnya sebagai wanita Islam sesuai dengan bakat dan kecakapannya. Pembantu Siti Dalalah. H.

bahkan para aktifisnya diancam akan dikeluarkan dari sekolah Muhammadiyah bila tetap akan meneruskan rencananya. yang juga mendapatkan resistensi dari Muhammadiyah sendiri. termasuk Muhammadiyah. Oleh karena itulah dirasakan perlu hadirnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai organisasi para pelajar yang terpanggil kepada misi Muhammadiyah dan ingin tampil sebagai pelopor. termasuk dari Muhammadiyah sendiri. Di samping itu. karena pada tahun 1948 PSII keluar dari Masyumi yang kemudian diikuti oleh NU pada tahun 1952. yaitu Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). yaitu Pandu Islam (PI). Jika merentang sejarah yang lebih luas. Pada tahun 1957 juga berdiri IPSM (Ikatan Pelajar Sekolah Muhammadiyah) di Surakarta. Akan tetapi. tetapi dibubarkan juga oleh Muhammadiyah (yaitu Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah). Ketika Partai Islam MASYUMI berdiri. Pada tahun 1919 didirikan Siswo Projo yang merupakan organisasi persatuan pelajar Muham-madiyah di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Sedangkan Muhammadiyah tetap bertahan di dalam Masyumi sampai Masyumi membubarkan diri pada tahun 1959. sebenarnya upaya para pelajar Muhammadiyah untuk mendirikan organisasi pelajar Muhammadiyah sudah dimulai jauh sebelum Ikatan Pelajar Muhammadiyah berdiri pada tahun 1961. berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan sebuah background politik ummat Islam secara keseluruhan. Jika dilacak jauh ke belakang. upaya ini mendapat tantangan dari Muhammadiyah. yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII).membina dan mendidik kader. Setelah GKPM dibubarkan. organisasi-organisasi Islam di Indonesia merapatkan sebuah barisan dengan membuat sebuah deklarasi (yang kemudian terkenal dengan Deklarasi Panca Cita) yang berisikan tentang satu kesatuan ummat Islam. di Yogyakarta berdiri GKPM yang berumur 2 bulan karena dibubarkan oleh Muhammadiyah. satu gerakan mahasiswa Islam. di Sulawesi (di daerah Wajo) didirikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. pelangsung penyempurna perjuangan Muhammadiyah. Pada tahun 1950. yaitu Masyumi. namun akhirnya dibubarkan oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. satu gerakan pelajar Islam. Pada tahun 1954. Resistensi dari berbagai pihak. satu gerakan pemuda Islam. resistensi dari Muhammadiyah terhadap gagasan IPM juga disebabkan adanya anggapan yang merasa cukup dengan . Bertahannya Muhammadiyah dalam Masyumi akhirnya menjadi mainstream yang kuat bahwa deklarasi Panca Cita hendaknya ditegakkan demi kesatuan ummat Islam Indonesia. Kesepakatan bulat organisasi-organisasi Islam ini tidak dapat bertahan lama. Setelah tahun 1947. yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 1926. di Malang dan Surakarta berdiri GKPM (Gabungan Keluarga Pelajar Muham-madiyah). dan satu Kepanduan Islam. berdirinya kantong-kantong pelajar Muhammadiyah untuk beraktivitas mulai mendapatkan resistensi dari berbagai pihak. bahwa ummat Islam bersatu dalam satu partai Islam. pada tahun 1956 didirikan Uni SMA Muhammadiyah yang kemudian merencanakan akan mengadakan musyawarah se-Jawa Tengah. Selanjutnya pada tahun 1933 berdiri Hizbul Wathan yang di dalamnya berkumpul pelajar-pelajar Muhammadiyah. Selanjutnya pada tahun 1956 GKPM kembali didirikan di Yogyakarta. terhadap upaya mendirikan wadah atau organisasi bagi pelajar Muhammadiyah sebenarnya merupakan refleksi sejarah dan politik di Indonesia yang terjadi pada awal gagasan ini digulirkan.

Rencana pendirian IPM tersebut dimatangkan lagi dalam Konferensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta tanggal 18-20 Juli 1961. Tanggal 18 Juli 1961 ditetapkan sebagai hari kelahiran Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Pembicaraan-pembicaraan mengenai perlunya berdiri organisai pelajar Muhammadiyah banyak dilakukan oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muham-madiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. dan secara nasional melalui forum tersebut IPM dapat berdiri. Muktamar Pemuda Muhammadiyah meminta kepa-da Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran supaya memberi kesem-patan dan memnyerahkan kompetensi pemben-tukan IPM kepada PP Pemuda Muhammadiyah. yang cukup bisa mengakomodasikan kepentingan para pelajar Muhammadiyah. Dengan keputusan konferensi Pemuda Muham-madiyah di Garut tersebut akhirnya diperkuat pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke II yang berlangsung pada tanggal 2428 Juli 1960 di Yogyakarta. Pimpinan IPM (tingkat ranting) didirikan di setiap sekolah Muhammadiyah. Perkembangan IPM akhirnya bisa memperluas jaringan sehingga bisa menjangkau seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia. Dengan kegigihan dan kemantapan para aktifis pelajar Muhammadiyah pada waktu itu untuk membentuk organisasi kader Muhammadiyah di kalangan pelajar akhirnya mulai mendapat titik-titik terang dan mulai menunjukan keberhasilanya. Sementara di sekolah- . seperti Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul ‘Aisyiyah. yaitu dengan memutuskan untuk membentuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Keputusan II/No. Kata sepakat akhirnya dapat tercapai antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran tentang organisasi pelajar Muhammadiyah. Muktamar Pemuda Muhammadiyah mengama-natkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menyusun konsepsi Ikatan Pelajar Muham-madiyah (IPM) dari pembahasan-pembahasan muktamar tersebut. dan untuk segera dilaksanakan setelah mencapai kesepakatan pendapat dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran. Berdirinya Pimpinan IPM di sekolah-sekolah Muhammadiyah ini akhirnya menimbulkan kontradiksi dengan kebijakan pemerintah Orde Baru dalam UU Keormasan. yaitu ketika pada tahun 1958 Konferensi Pemuda Muhammadiyah Daerah di Garut berusaha melindungi aktifitas para pelajar Muhammadiyah di bawah pengawasan Pemuda Muham-madiyah. Keputusan tersebut di antaranya ialah sebagai berikut : 1.adanya kantong-kantong angkatan muda Muhammadiyah. 4). Kesepakatan tersebut dicapai pada tanggal 15 Juni 1961 yang ditandatangani bersama antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran. 2. bahwa satu-satunya organisasi siswa di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia hanyalah Organisasi Siswa Intra-Sekolah (OSIS). dan sistematis. intensif. Mulai saat itulah upaya pendirian organisasi pelajar Muhammdiyah dilakukan dengan serius.

sekolah Muhammadiyah juga terdapat organisasi pelajar Muhammadiyah. . akhirnya Pimpinan Pusat IPM membentuk team eksistensi yang bertugas secara khusus menyelesaikan permasalahan ini. anak jalanan. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. yang selanjutnya disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1992 melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muham-madiyah Nomor 53/SK-PP/IV. Keputusan pergantian nama ini tertuang dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat IPM Nomor VI/PP. Dalam situasi kontra-produktif tersebut. karena perubahannya mengandung unsur-unsur kooptasi dari pemerintah. Setelah dilakukan pengkajian yang intensif. agar IPM melakukan penye-suaian dengan kebijakan pemerintah. Dengan demikian. Dengan demikian. Bahkan ada yang mengang-gap bahwa IPM tidak memiliki jiwa heroisme sebagai-mana yang dimiliki oleh PII yang tetap tidak mau menga-kui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasinya.B/1. Namun sesungguhnya perubahan nama tersebut merupakan blessing in disguise (rahmat tersembunyi). Perubahan nama dari IPM ke IRM sebenarnya semakin memperluas jaringan dan jangkauan organisasi ini yang tidak hanya menjangkau pelajar. dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Perubahan ini bisa jadi merupakan sebuah peristiwa yang tragis dalam sejarah organisasi. Bahkan pada Konferensi Pimpinan Wilayah IPM tahun 1992 di Yogyakarta.IPM/1992. seperti santri. Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu (Akbar Tanjung) secara khusus dan implisit menyampaikan kebijakan pemerintah kepada IPM. dan lain-lain. ada dualisme organisasi pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. yaitu IPM. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah.b/1992 tentang pergantian nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. secara resmi perubahan IPM menjadi IRM adalah sejak tanggal 18 Nopember 1992. tetapi juga basis remaja yang lain. team eksistensi ini merekomendasikan perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Remaja Muhammadiyah.

Maret II 1988. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan. dan kemiskinan 7. Keinginan tersebut sangat logis dan realistis. halaman 19). sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil. Dengan demikian. khurafat. Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah. Hisyam (periode 1934-1937). Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. nomor 6 tahun ke-68. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus. Kehidupan ekonomi. Di samping itu. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni. bahkan ke-syirik-an. kebodohan. . Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak. kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal. gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan.Di samping itu. Namun demikian. serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk 3. Dahlan. serta adanya ancaman komunisme di Indonesia 2. sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keha-rusan sejarah. Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah. tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah. insinyur. serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi 8. serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler 6. KHA. Dengan demikian. 1990: 102) : 1. Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah. Pada saat itu. lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi'atul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri. yang berpesan bahwa "dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter. sosial. dan politik yang semakin memburuk Dengan latar belakang tersebut. dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme 5. sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. meester. karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis 4.

Di samping itu. Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan. Namun karena berbagai macam hal. yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Dengan demikian. maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah. Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah. baik secara pribadi maupun kelembagaan. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah. karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan melalui HMI (Farid Fathoni. Pemuda Muhammadiyah. serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah. keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah). Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Nasyi'atul Aisyiyah. sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil. terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). 1990: 94). Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah. Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Bila asumsi itu benar adanya. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan. gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. keinginan tersebut belum bisa diwujudkan. dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. dan beliau setuju. Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang. baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain. karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung cukup sengit.Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM. . Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi. Setidaknya.

). dr.). maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Badawi. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu. Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. peraturan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni. Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Keempat. yaitu : 1. Rosyad Saleh (IAIN. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan ‘Enam Pene-gasan IMM' oleh KHA. pada tahun itu (1956) Muham-madiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta. Tiga bulan setelah penjajagan tersebut." Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) diselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muham-madiyah di Yogyakarta (saat itu. Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya. 4. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah. yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). 3. gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah. 1990: 98). Badawi. 2. Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Drs. Kedua. tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah.. Drs.Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM. Ir..). undang-undang. Oleh karena itu.. Sudibyo Markus (UGM. serta dasar dan falsafah negara 5..). Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah 6. Dengan demikian. Ketiga. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta'ala dan senantiasa diabdikan untuk . Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang ". Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi maha-siswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum. Pertama. perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM. sedang-kan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM. Pada saat itulah. 1959. yaitu KHA. dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan Masyumi.

Banjarmasin. Sebagai upaya menopang. dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa. Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adalah sebagai berikut : 1. Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan IMM'. pelangsung. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. serta berbagai konsep lainnya. seperti Bandung. Muhammadiyah dalam membangun ummat memerlukan kader-kader yang tangguh yang akan meneruskan estafet perjuangan dari para pendahulu di lingkungan . Membina.kepentingan rakyat Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muham-madiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi Islam dalam rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah. ummat. Medan. Dengan demikian. meningkatkan. rancangan kerja. Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta. maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Padang. termasuk lambang IMM. 1990: 102). Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo. Jember. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam 3. sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan. Sebagai pelopor. dan persyarikatan Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta. Jakarta. maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 . dan lain-lain. Surakarta. dan lain-lain. Gerak Arah IMM. dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah 4. maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia. mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa 2. Sejarah Nasyiatul 'Aisyiyah Administrator Kamis. bentuk kegiatan. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM. 23 Maret 2006 Berdirinya Nasyi'atul Aisyiyah (NA) juga tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan rentang sejarah Muhammadiyah sendiri yang sangat memperhatikan keberlangsungan kader penerus perjuangan. Sukabumi. melangsungkan. Tuban. dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah 5.

yakni suatu gerakan untuk membina anak laki-laki dan perempuan yang berumur 4-5 tahun. Karangkajen. dan diwadahi dalam kegiatan bersama. Setelah lima bulan berjalan. seorang guru Standart School Muhammadiyah. Jam'iatul Athfal dilaksanakan seminggu dua kali untuk anak-anak yang berumut 7-10 tahun. ia menekankan bahwa perjuangan Muhammadiyah akan sangat terdorong dengan adanya peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para muridnya. karena SP Wanita membekali wanita dan putri-putri Muhammadiyah dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan. yaitu di Suronatan. Sementara itu juga diselenggarakan tamasya ke luar kota setiap satu bulan sekali. Dengan bantuan Hadjid. yaitu pada tahun 1924. memperbaiki akhlak. Gagasan Somodirdjo ini digulirkan dalam bentuk menambah pelajaran praktek kepada para muridnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya mulai segmented dan terklasifikasi dengan baik. Kegiatan SP Wanita merupakan terobosan yang inovatif dalam melakukan emansipasi wanita di tengah kultur masyarakat feodal saat itu. dan Kotagede. Dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah. Pelajaran pokok yang diberikan adalah dasar-dasar keislaman pada anak-anak. Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah menanamkan rasa persatuan. Aktivitas Tajmilul Akhlak diadakan untuk anak-anak berumur 10-15 tahun. seorang kepala guru agama di Standart School Muhammadiyah. berpidato. SP mempunyai ranting-ranting di sekolah Muhammadiyah yang ada. Kegiatan SP Wanita adalah pengajian. Kegiatan SP Wanita dipusatkan di rumah Haji Irsyad (sekarang Musholla Aisyiyah Kauman). intelektual. Namun dengan munculnya SP Wanita. Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa Praja (SP). Perkembangan selanjutnya. Pada awalnya. maka pada tahun 1919 Somodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para remaja putra-putri siswa Standart School Muhammadiyah. baik dalam bidang spiritual. Pada tahun 1923. Hadirnya SP Wanita sangat dirasakan manfaatnya. dan memperdalam agama. mengadakan peringatan harihari besar Islam. SP Wanita telah mampu mendirikan Bustanul Athfal. Seminggu sekali anggota SP Pusat memberi tuntunan ke ranting-ranting. Bausasran. jama'ah subuh. Dirasatul Bannat diselenggarakan dalam bentuk pengajian sesudah Maghrib bagi anak-anak kecil. membunyikan kentongan untuk membangunkan umat Islam Kauman agar menjalankan kewajibannya yaitu shalat shubuh. Para orang tua seringkali melarang anak perempuannya keluar rumah untuk aktifitas-aktifitas yang emansipatif. dan kegiatan keputrian. Gagasan mendirikan NA sebenarnya bermula dari ide Somodirdjo. diadakan pemisahan antara anggota laki-laki dan perempuan dalam SP. kultur patriarkhis dan feodal tersebut bisa didobrak. SP Wanita . Kultur patriarkhis saat itu benar-benar mendomestifikasi wanita dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga.Muhammadiyah. Kegiatan Thalabus Sa'adah diseleng-gerakan untuk anak-anak di atas umur 15 tahun. maupun jasmaninya. Perkembangan SP cukup pesat. SP Wanita mulai diintegrasikan menjadi urusan Aisyiyah.

NA hampir tidak terdengar lagi perannya di tengahtengah masyarakat. dan kursus administrasi. Perkembangan NA semakin pesat pada tahun 1939 dengan diseleng-garakannya Taman Aisyiyah yang mengakomodasikan potensi. mengadakan tabligh ke berbagai daerah. Pada Muktamar Muhammadiyah di Palembang tahun 1957. Baru setelah situasi mengijinkan. Mereka menga-dakan shalat Jum'at bersama-sama. yang sekaligus juga menetapkan nyanyian Simbol Padi sebagai Mars NA. Tahun 1935 NA melaksanakan kegiatan yang semakin agresif menurut ukuran saat itu. maka nama Siswa Praja Wanita diganti menjadi Nasyi'atul Aisyiyah (NA) yang masih di bawah koordinasi Aisyiyah. tahun 1950. percaturan politik dunia yang mempengaruhi Indonesia membawa akibat yang besar atas kehidupan masyarakat. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh NA dengan menghasilkan rencana kerja yang tersistematis sebagai sebuah organisasi. Organisasi NA mengalami kemacetan. minat. Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 diputuskan untuk memberi status . Pada tahun 1926. hal ini berarti NA berhak mengadakan konferensi tersendiri. NA dijadikan bagian yang diistimewakan dalam Aisyiyah. Pada tahun 1931 dalam Konggres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta diputuskan semua nama gerakan dalam Muhammadiyah harus memakai bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Pada tahun 1929. Prasaran tersebut disampaikan oleh Baroroh. dan bakat putri-putri NA untuk dikem-bangkan. Taman Aisyiyah juga menghimpun lagu-lagu yang dikarang oleh komponis-komponis Muhammadiyah dan dibukukan dengan diberi nama Kumandang Nasyi'ah. dari Muktamar Aisyiyah disampaikan sebuah prasaran untuk mengaktifkan anggota NA yang pokok isinya mengharapkan kepada Aisyiyah untuk memberi hak otonom kepada NA. Dengan demikian. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan aktifitas yang tidak wajar dilaksanakan oleh wanita pada saat itu. sehingga terbentuk Pimpinan Aisyiyah seksi NA di seluruh level pimpinan Aisyiyah. Muktamar tersebut memutuskan bahwa Aisyiyah ditingkatkan menjadi otonom. karena cabang-cabang Muham-madiyah di luar Jawa sudah banyak yang didirikan (saat itu Muhammadiyah telah mempunyai cabang kurang lebih 400 buah). Muhammadiyah mengadakan Muktamar untuk mendinamisasikan gerak dan langkahnya. Konggres Muhammadiyah yang ke-18 memutuskan bahwa semua cabang Muhammadiyah diharuskan mendirikan SP Wanita dengan sebutan Aisyiyah Urusan Siswa Praja. NA diberi kesempatan untuk mengadakan musyawarah tersendiri.juga menerbitkan buku nyanyian berbahasa Jawa dengan nama Pujian Siswa Praja. Pada Konggres Muhammadiyah ke-26 tahun 1938 di Yogyakarta diputuskan bahwa Simbol Padi menjadi simbol NA. Selanjutnya pada Muktamar Muham-madiyah di Jakarta pada tahun 1962. Dengan adanya keputusan itu. Selain itu. Pada masa sekitar revolusi. kegiatan SP Wanita sudah menjangkau cabang-cabang di luar Yogyakarta.

Tapak Suci sebagai salah satu varian seni beladiri pencak silat juga memiliki ciri khas yang bisa menunjukkan identitas yang kuat. Demikian pula bahwa seni beladiri pencak silat di Indonesia juga beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Sejarah Tapak Suci Administrator Kamis. pencak silat yang merupakan seni beladiri khas Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang dikembangkan untuk mewujudkan identitas. Busyro Syuhada. Perguruan Cikauman banyak melahirkan pendekar-pendekar muda yang akhirnya mengembangkan cabang perguruan untuk memperluas jangkauan yang lebih luas dengan nama Perguruan Seranoman pada tahun 1930. Di Kauman inilah pendekar KH. Dengan didahului mengadakan konferensi di Solo. yaitu dua orang murid yang tangguh dari KH. aliran ini kemudian berkembang menjadi perguruan seni bela diri di Kauman Yogyakarta karena perpindahan guru (pendekarnya). NA yang saat itu diketuai oleh Siti Karimah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk mengadakan musyawarahnya yang pertama di Bandung. . dan banyak yang gugur dalam perlawanan bersenjata. tampaklah wajah-wajah baru dari 33 daerah dan 166 cabang dengan penuh semangat. Sebagaimana seni beladiri di negara-negara lain.A Wahib dan Pendekar A. akibat gerakan perlawanan bersenjata yang dilakukannya sehingga ia menjadi sasaran penangkapan yang dilakukan rezim kolonial Belanda. Berawal dari aliran pencak silat Banjaran di Pesantren Binorong Banjarnegara pada tahun 1872.otonom kepada NA. 23 Maret 2006 Tradisi pencak silat sudah berurat-berakar di kalangan masyarakat Indonesia sejak lama. Ciri khas tersebut dikembangkan melalui proses panjang dalam akar sejarah yang dilaluinya. maka berhasillah NA dengan munasnya pada tahun 1965 bersama-sama dengan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bandung. Busyro Syuhada mendapatkan murid-murid yang tangguh dan sanggup mewarisi keahliannya dalam seni pencak silat. Di bawah kepemimpinan Majelis Bimbingan Pemuda. Dimyati. Dalam Munas yang pertama kali. Perguruan ini memiliki landasan agama dan kebangsaan yang kuat. yaitu KH. Busyro Syuhada. Perkembangan kedua perguruan ini semakin hari semakin pesat dengan pertambahan murid yang cukup banyak. akhirnya dengan secara organisatoris NA berhasil mendapatkan status yang baru sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Perguruan seni pencak silat ini didirikan pada tahun 1925 dan diberi nama Perguruan cik auman yang dipimpin langsung oleh Pendekar M. Murid-murid dari perguruan ini kemudian banyak menjadi anggota Laskar Angkatan Perang Sabil (APS) untuk melawan penjajah. Perguruan ini menegaskan seluruh pengikutnya untuk bebas dari syirik (menyekutukan Tuhan) dan mengab-dikan perguruan untuk perjuangan agama dan bangsa.

pada tahun 1966 diselenggarakan Konferensi Nasional I Tapak Suci yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. . Pemuda Muhammadiyah hadir sebagai pelopor. pelangsung. Perguruan Tapak Suci yang berkedudukan di Yogyakarta akhirnya berkembang di Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya. Pada perkembangan selanjutnya. yang di antaranya ialah Perguruan Kasegu pada tahun 1951. Dan pada Sidang Tanwir Muham-madiyah tahun 1967. Demikian pula halnya dengan Pemuda Muhammadiyah. namun mendapatkan tentangan dari para ulama Kauman dan para pendekar tua yang merasa terlangkahi. yaitu mendirikan Perguruan Tapak Suci pada tanggal 31 Juli 1960 yang merupakan keberlanjutan sejarah dari perguruan-perguruan sebelumnya. desakan itu semakin kuat. Sebagai salah satu organisasi otonom tertua di lingkungan Muhammadiyah (berdiri pada tanggal 2 Mei 1932). Setelah meletusnya pemberontakan G30 S/PKI. dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. yaitu semangat untuk membangun generasi yang tangguh untuk masa mendatang. Profil Pemuda Muhammadiyah Administrator Kamis. Tapak Suci Putera Muhammadiyah ditetapkan menjadi organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah. dan Perguruan Tapak Suci dikem-bangkan lagi namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Pada saat itulah berhasil dirumuskan pemantapan organisasi secara nasional. dan akhirnya disepakati untuk menggabungkan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan. Seluruh perangkat organisasional dipersiapkan. maka gagasan untuk menyatukan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan dimulai.Lahirnya pendekar-pendekar muda hasil didikan perguruan Cikauman dan Seranoman memungkinkan untuk mendirikan perguruan-perguruan baru. karena Tapak Suci Putera Muham-madiyah juga mampu dijadikan wadah pengkaderan Muhammadiyah. 23 Maret 2006 Spirit Muhammadiyah senantiasa mengilhami setiap organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah. Pada tahun 1963. yang lahir dengan semangat yang sama dengan berdirinya Muhammadiyah. Atas desakan murid-murid dari Perguruan Kasegu inilah inisiatif untuk menggabungkan semua perguruan silat yang sealiran dimulai. Dengan pendekatan yang intensif dan dengan pertimbangan bahwa harus ada kekuatan fisik yang dimiliki ummat Islam menghadapi kekuatan komunis yang melakukan provokasi terhadap ummat Islam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful