1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kajian masalah akad dalam asuransi syariah termasuk salah satu tema
yang penting untuk di bahas dan di teliti. Karena setiap transaksi dalam islam
harus berdasarkan akad yang telah ditentukan sebelum terjadinya transaksi.
Suatu akad merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan oleh dua
atau beberapa pihak yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri.
Kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya
tersembunyi dalam hati.
Oleh sebab itu, untuk menyatakan kehendak masing-masing harus
diungkapkan dalam suatu pernyataan atau akad. Pernyataan pihak-pihak yang
berakad itu disebut Ijab dan Qabul. Sedangkan premi adalah kewajiban peserta
untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai dengan
kesepakatan dalam akad.

B. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan mengenai Akad Dan Premi Dalam
Asuransi Syariah,yang meliputi :
A. Aqad (akad) Dalam Asuransi Syariah
B. Akad Dalam Asuransi Konvensional
C. Pedoman Umum Asuransi Syariah

2
BAB II
PEMBAHASAN
Akad Dan Premi Dalam Asuransi Syariah
A. Aqad (akad) Dalam Asuransi Syariah
1. Pengertian Akad dan Aqad (akad) Dalam Asuransi Syariah
Lafal akad, berasal dari lafal Arab Al-„Aqd yang berarti perikatan,
perjanjian, dan pemufakatan Al-Ittifaq. Secara terminologi fiqh, akad
didefinisikan dengan:
“Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan
penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada
obyek perikataan.
1

Pencantuman kalimat yang sesuai dengan kehendak syariat maksudnya
adalah bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak
dianggap sah apabila tidak sejalan dengan kehendak syara’. Misalnya,
kesepakatan untuk melakukan transaksi riba, menipu orang lain, atau
merampok kekayaan orang lain.
2

Sedangkan pencantuman kalimat “berpengaruh pada obyek perikatan”
maksudnya adalah terjadinya perpindahan pemilikan dari satu pihak (yang
melakukan Ijab) kepada pihak yang lain (yang menyatakan Qabul). Dalam
teori hukum kontrak secara syariah (Nazarriyati Al-`Uqud), setiap terjadi
transaksi, maka akan terjadi salah satu dari tiga hal berikut:
3


1
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syari‟ah (life And general): Konsep Dan Sistem
Operasional, Cet-1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), hal.38
2
Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Media Pratama, 2000), hal. 97
3
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syari‟ah (life And general)…, hal. 39
3
1. Kontraknya sah,
2. Kontraknya fasad, dan
3. Aqadnya batal.
Untuk melihat kontrak itu jatuhnya kemana, maka perlu diperhatikan
instrumen mana dari aqad yang dipakai dan bagaimana aplikasikasinya.
Az-Zarqa menyatakan bahwa dalam pandangan syara’ suatu akad
merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan oleh dua atau beberapa pihak
yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. Kehendak atau
keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam
hati.
Oleh sebab itu, untuk menyatakan kehendak masing-masing harus
diungkapkan dalam suatu pernyataan. Pernyataan pihak-pihak yang berakad itu
disebut Ijab dan Qabul. Ijab adalah pernyataan pertama yang dikemukakan
oleh salah satu pihak, yang mengandung keinginannya secara pasti untuk
mengikatkan diri. Sedangkan Qabul adalah pernyataan pihak lain setelah ijab
yang menunjukkan persetujuannya untuk mengikatkan diri.
4

Atas dasar ini, lanjut Az-Zarqa’, setiap pernyataan pertama yang
dikemukakan oleh salah satu pihak yang ingin mengikatkan diri dalam suatu
akad disebut Mujib (pelaku ijab) dan setiap pernyataan kedua yang
diungkapkan pihak lain setelah Ijab disebut Qabil (pelaku Qabul); tanpa
membedakan antara pihak mana yang memulai pernyataan pertama itu.

4
Ibid, hal. 39
4
Misalnya dalam akad jual beli, jika pernyataan untuk melakukan jual
beli datangnya dari penjual, maka penjual disebut dengan Mujib sedangkan
pembeli disebut dengan Qabil. Pernyataan ijab tidak selalu datangnya dari
pembeli, melainkan boleh juga dari penjual. Apabila ijab dan qabul telah
memenuhi syarat-syaratnya, sesuai dengan ketentuan syara’, maka terjadilah
perikatan antara pihak-pihak yang melakukan ijab dan qabul dan muncullah
segala akibat hukum dari akad yang disepakati itu.
Dalam kasus jual beli, misalnya, akibatnya adalah berpindahnya
pemilikan barang dari penjual kepada pembeli dan penjual berhak menerima
harga barang. Dalam akad ar-rahn (jaminan utang), misalnya, pihak penerima
jaminan berhak untuk menguasai barang jaminan (Al-Marhun) sebagai jaminan
utang dan pihaknya yang menjamin barang (Al-Rahin) berkewajiban melunasi
utangnya. Ijab dan qabul ini, dalam istilah fiqh disebut juga dengan Shighat Al-
„Aqd (ungkapan/pernyataan akad)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang ulama salaf ternama dalam
kitabnya yang terkenal Majmu` Fatawa

mengatakan: “Akad dalam Islam
dibangun atas dasar mewujudkan keadilan dan menjauhkan penganiayaan.
Sebab pada asalnya harta seseorang muslim lain itu tidak halal, kecuali jika
dipindahkan haknya dengan kesukaan hatinya (kerelaan). Akan tetapi hatinya
tidak akan suka, kecuali apabila ia berikan miliknya itu dengan kerelaan bukan
terpaksa, dengan ketulusan bukan karena tertipu atau terkecoh.
5


5
Ibid, hal. 40
5
Keadilan itu diantaranya ada yang jelas dapat diketahui oleh setiap
orang dengan akalnya, seperti halnya pembeli wajib menyerahkan harga dan
penjual menyerahkan barang jualannya kepada pembeli secara jelas, dan
dilarang berbuat curang dalam menakar dan menimbang, wajib jujur dan
berterus terang, haram berbuat bohong dan berkhianat, dan bahwa hutang itu
mesti dibalas dengan melunasinya dan mengucapkan pujian.


Untuk maksud itu maka akad-akad dalam mu`amalah sangat luas
sampai mencakup segala apa saja yang dapat merealisir kemaslahatan-
kemaslahatan. Sebab mu`amalah pada dasarnya adalah boleh dan tidak
terlarang, dan kaidah-kaidahnya memberi kemungkinan mengadakan macam-
macam akad baru yang dapat merealisir pola-pola mu`amalah baru pula. Hal
inilah yang merupakan kemudahan, keluasan dan keuniversalan ajaran Islam.
Namun demikian kejelasan akad dalam praktek muamalah penting dan
menjadi prinsip karena akan menentukan sah tidaknya mu`amalat tersebut
secara syar`i. Apakah akad yang dipakai adalah akad jual-beli (tabaduli), akad
As-Salam (meminjamkan barang), akad Syirkah (kerjasama), akad Muzara`ah
(pengelolaan tanah dan bagi hasil), akad Ijarah (sewa), Mudharabah, Wakalah
dan seterusnya.
6

Demikian pula halnya dalam asuransi, akad antara perusahaan dan
peserta harus jelas. Apakah akadnya jual beli (Aqd Tabaduli) atau akad tolong-
menolong (Aqd Takafuli) atau akad lainnya seperti yang disebutkan diatas.


6
Ibid, hal. 40
6
B. Akad Dalam Asuransi Konvensional
Dalam asuransi biasa (konvensional) terjadi kerancuan/ketidakjelasan
dalam masalah akad. Pada asuransi konvensional akad yang melandasinya
semacam akad jual beli (Aqd Tabaduli). Karena akadnya adalah akad jual beli,
maka syarat-syarat dalam akad tersebut harus terpenuhi dan tidak melanggar
ketentuan-ketentuan syariah. Syarat-syarat dalam transaksi jual beli adalah
adanya penjual, pembeli, barang yang diperjualbelikan, harga dan akadnya.
7

Pada asuransi konvensional, penjual, pembeli, barang yang
diperjualbelikan atau yang akan diperoleh serta ijab kabul (akad) jelas, akan
tetapi yang menjadi masalah adalah harganya (berapa besar premi yang akan
dibayar) kepada perusahaan asuransi.
Padahal hanya Allah yang tahu tahun berapa kita meninggal. Jadi
pertanggungan yang akan diperoleh sesuai dengan yang diperjanjikan ini jelas,
akan tetapi jumlah yang akan dibayarkan menjadi tidak jelas, tergantung usia
kita, dan hanya Allah yang tahu kapan kita meninggal. Firman Allah SWT:
.4` =·=Ò¡ }g` ·O4:1´G`
·º)³ ÷p^O)¯) *.- …
Artinya:
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali
dengan izin Allah (At-Taghabun:11)
Terdapat perbedaan pendapat para ulama fiqh dalam menentukan rukun
suatu akad. Jumhur ulama fiqh menyatakan rukun akad terdiri atas:
8


7
Sayid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid 12, hal. 15
8
Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah…, hal. 99
7
1. Pernyataan untuk mengikatkan diri (Shighat Al-„Aqd)
2. Pihak-pihak yang berakad (Al-Muta‟aqidain)
3. Obyek akad (Al-Ma‟qud „Alaih)
Ulama Hanafiyah berpendirian bahwa rukun akad itu hanya satu, yaitu
Shighat Al-„Aqd (ijab dan qabul), sedangkan pihak-pihak yang berakad dan
obyek akad, menurut mereka, tidak termasuk rukun akad, tetapi termasuk
syarat-syarat akad, karena menurut mereka, yang dikatakan rukun itu adalah
suatu esensi yang berada dalam akad itu sendiri, sedangkan pihak-pihak yang
berakad dan obyek akad berada diluar esensi akad.
Shighat al-„aqd merupakan rukun akad yang terpenting, karena melalui
pernyataan inilah diketahui maksud setiap pihak yang melakukan akad. Shighat
al-„aqd ini diwujudkan melalui ijab dan qabul. Dalam kaitannya dengan ijab
dan qabul ini, para lama fiqh mensyaratkan:
9

1 Tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu jelas, sehingga dapat
dipahami jenis akad, yang dikehendaki, karena akad-akad itu sendiri
berbeda dalam sasaran dan hukumnya.
2 Antara ijab dan qabul itu terdapat kesesuaian
3 Pernyataan ijab dan qabul itu mengacu kepada suatu kehendak masing-
masing pihak secara pasti, tidak ragu-ragu.
Ijab dan qabul ini bisa berbentuk perkataan, tulisan, perbuatan, dan
isyarat. Dalam akad jual beli, misalnya, pernyataan ijab diungkapkan dengan
perkataan “saya jual buku ini dengan harga Rp. 10.000”, dan pihak lainnya
menyatakan qabul dengan perkataan “saya beli buku ini dengan harga Rp.
10.000”. Pernyataan ijab dan qabul melalui tulisan juga demikian, dan harus
memenuhi ketiga syarat yang dikemukakan di atas.

9
Ibid, hal. 100
8
Dalam pernyataan kehendak untuk melakukan suatu akad melalui
tulisan ini, para ulama membuat suatu kaidah fiqh yang menyatakan bahwa:
“Tulisan itu sama dengan ungkapan lisan”. Artinya, pernyataan yang jelas
yang dituangkan dalam bentuk tulisan, kekuatan hukumnya sama dengan
ungkapan langsung melalui lisan.
Dalam buku Panduan Syarikat Takaful Malaysia , dijelaskan tentang
rukun akad:
10

1 Aqid, yaitu pihak-pihak yang mengadakan Aqd (misalnya Takaful dan
peserta),
2 Ma`kud `alaihi yaitu sesuatu yang diakadkan atasnya (barang dan
bayaran), dan
3 Sighat (ijab dan kabul). Ma`kud `alaihi dalam asuransi konvensional
oleh ulama dianggap masih gharar, karena akad yang melandasinya
adalah aqdun muawadotun maliyatun (kontrak pertukaran harta
benda) atau aqd tabaduli (akad jual beli).
Sementara itu pada asuransi syariah, akad yang melandasinya bukan
akad jual beli (aqd tabaduli), atau akad mu`awadhah sebagaimana halnya pada
asuransi konvensional, tetapi akad tolong menolong (Aqd takafuli), dengan
menciptakan instrumen baru untuk menyalurkan dana kebajikan melalui akad
tabarru` (hibah).



10
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syari‟ah (life And general)…,hal. 42
9
C. Pedoman Umum Asuransi Syariah
Majelis Ulama Indonesia, melalui Dewan Syariah Nasional,
mengeluarkan fatwa khusus tentang: Pedoman Umum Asuransi Syariah
sebagai berikut:
11

Pertama: Ketentuan Umum
A. Asuransi Syariah (Ta`min, Takaful, Tadhamun) adalah usaha saling
melindung dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui
investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola
pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad
(perikatan) yang sesuai dengan syariah.
B. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah
yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba
(bunga), zulmu (Penganiayaan), riswah (suap), barang haram dan
maksiat.
C. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan
komersil.
D. Akad tabarru` adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan
kebaikan dan tolong menolong, bukan semata untuk tujuan komersil.
E. Premi adalah kewajiban peserta untuk memberikan sejumlah dana
kepada perusahaan sesuai dengan kesepakatan dalam akad.
F. Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberi perusahaan
asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad

11
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman
Umum Asuransi Syari’ah
10
Kedua: Akad Dalam Asuransi
A. Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas
akad tijarah dan atau akad tabarru`.
B. Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat (1) adalah mudharabah,
sedangkan akad tabarru` adalah hibah.
C. Dalam akad sekurang-kurangnya disebutkan:
 Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan
 Cara dan waktu pembayaran premi
 Jenis akad tijarah dan atau akad tabarru` serta syarat-syarat
yang disepakati sesuai dengan jenis asuransi yang diakad.
Ketiga: Kedudukan Para Pihak Dalam Akad Tijarah dan Tabarru`
A. Dalam akad tijarah (mudharabah), perusahaan bertindak sebagai
mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai sohibul mal
(pemegang polis).
B. Dalam akad tabarru` (hibah), peserta memberikan hibah yang akan
digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah.
Sedangkan perusahaan sebagai pengelola dana hibah
Keempat: Ketentuan Dalam Akad Tijarah dan Tabarru`
A. Jenis akad tijarah dapat dirubah menjadi jenis akad tabarru` bila
pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya
sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan
kewajibannya
B. Jenis akad tabarru` tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah
11
Kelima: Jenis Asuransi dan Akadnya
A. Dipandang dari segi jenis, asuransi itu terdiri atas asuransi kerugian
dan asuransi jiwa
B. Sedangkan akad bagi kedua jenis asuransi tersebut adalah
mudharabah dan hibah
Keenam: Premi
A. Pembayaran premi didasarkan atas jenis akad tijarah dan jenis akad
tabarru`
B. Untuk menentukan besarnya premi perusahaan asuransi dapat
menggunakan rujukan table mortalita untuk asuransi jiwa dan table
morbidita untuk asuransi kesehatan, dengan syarat tidak
memasukan unsur riba dalam perhitungannya.
Fatwa tersebut diatas, sementara ini merupakan acuan bagi perusahaan
asuransi syariah di Indonesia terutama menyangkut bagaimana akad-akad
dalam bisnis asuransi syariah dan ketentuan lain yang terkait dengannya.
Pada suatu kesempatan, kami diskusi dengan Doktor Jafril Khalil dalam kaitan
Fatwa DSN-MUI diatas, beliau pakar asuransi syariah yang kebetulan disertasi
doktornya tentang akad-akad asuransi. Kami berkesimpulan bahwa akad-akad
dalam asuransi syariah tidak hanya sebatas pada akad Tabarru` dan
mudharabah saja, akan tetapi beberapa akad-akad tijarah lainya yang ada dalam
fiqh Islam, seperti misalnya al-musyarakah, al-wakalah, al-wadiah, asy-
Syirkah, Al-Musamahah, dan sebagainya dibenarkan oleh syara` untuk
digunakan dalam asuransi syariah.
M.M. Billah, dalam kaitan dengan akad-akad dalam asuransi syariah,
lebih cenderung tidak menggunakan istilah tabarru`, tapi menggunakan istilah
al-musahamah (contribution/kontribusi). Hal ini mungkin sebagai solusi dari
12
perdebatan bahwa dalam akad tabarru` tidak boleh ada pengembalian lagi
(mudharabah). Karena premi (tabarru`) sudah diikhlaskan dan hanya
mengharapkan ridha Allah swt.
Sementara dalam prakteknya pada asuransi syariah saat ini., terutama
pada term insurance (life) dan pada seluruh produk general insurance terdapat
yang disebut mudharabah, yang diberikan kepada nasabah apabila tidak terjadi
klaim. Disini terjadi kerancuan karena disatu sisi dikatakan bahwa pada akad
tabarru` tidak mengharapkan pengembalian kecuali pahala dari Allah, tapi
dalam prakteknya nasabah mendapat pengembalian berupa mudharabah (bagi
hasil) jika tidak terjadi klaim.
Berdasarkan hukum Islam untuk membuat polis takaful (asuransi
syariah) harus ada subyek pokok yang beresiko, yang mana atas subyek pokok
tersebut, dua pihak (pengelola dan peserta) harus menyetujui proposal (ijab)
dan persetujuan (qabul) yang mana kedua pihak setuju untuk berbagi tanggung
jawab dalam menyediakan jaminan materi yang memadai terhadap resiko yang
nyata tapi tidak terduga atas subyek pokok.
Dengan kata lain ketentuan dalam polis takaful (asuransi syariah)
adalah proposal (ijab), penerimaan (qabul), penerbitan cover note (dokumen
sementara untuk polis yang disediakan pengelola bagi peserta) dan pembayaran
takaful kontribusi (Al-Musahamah).
Al Zuhaili juga dalam kitabnya menjelaskan tentang Syarikat al-
Musahamah. Syarikat Al Musahamah kata syaikh al-Zuhaili adalah merupakan
salah satu jenis syarikat harta (syarikah al amwal) yang penting. Modal syarikat
13
ini adalah terdiri dari modal-modal kecil yang jumlahnya banyak, dan dimana
setiap bagian tersebut disebut saham.
Agus Haryadi memberi ilustrasi tentang konsep al-musahamah seperti
ketika kita ingin main bola, kemudian masing-masing iuran atau kontribusi
sesuai kemampuan yang dimiliki untuk keperluan bersama yaitu beli bola.
Kemudian bola terbelih dan dipakailah bersama. Setelah permainan selesai
kemudian bola tadi diberikan kepada seorang diantaranya untuk dibawa
pulang. Demikian seterusnya kadang bola tersebut dipakai lagi bersama.
Konsep akad Al-Musamahah seperti ini lebih mirip dengan konsep
asuransi yang sementara ini banyak dipakai oleh asuransi syariah yang ada di
beberapa negara termasuk di Indonesia. Dengan melandaskan diri pada prinsip
takafuli, asuransi syariah (terutama untuk asuransi jiwa) menerapkan dua
bentuk akad diawal penerimaan premi, yakni akad tabungan investasi dan akad
kontribusi. Akad tabungan investasi berdasarkan prinsip al-mudharabah
sementara kontribusi berdasarkan prinsip hibah.
Hibah ini dilakukan secara berjamaah dan mengandung efek saling
menanggung. Besarnya hibah sekitar 5% dari total premi, selebihnya (95%)
akan masuk ke dalam tabungan investasi nasabah. Perusahaan asuransi syariah
akan menempatkan dana tabungan dan kontribusi tadi pada proyek-proyek
investasi yang halal dan menguntungkan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
14
Lafal akad, berasal dari lafal Arab Al-„Aqd yang berarti perikatan,
perjanjian, dan pemufakatan Al-Ittifaq. Secara terminologi fiqh, akad
didefinisikan dengan: “Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan
qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang
berpengaruh pada obyek perikataan.
Akad dalam praktek muamalah penting dan menjadi prinsip karena
akan menentukan sah tidaknya mu`amalat tersebut secara syar`i. Apakah akad
yang dipakai adalah akad jual-beli (tabaduli), akad As-Salam (meminjamkan
barang), akad Syirkah (kerjasama), akad Muzara`ah (pengelolaan tanah dan
bagi hasil), akad Ijarah (sewa), Mudharabah, Wakalah dan seterusnya.
Dalam asuransi biasa (konvensional) terjadi kerancuan/ketidakjelasan
dalam masalah akad. Pada asuransi konvensional akad yang melandasinya
semacam akad jual beli (Aqd Tabaduli). Karena akadnya adalah akad jual beli,
maka syarat-syarat dalam akad tersebut harus terpenuhi dan tidak melanggar
ketentuan-ketentuan syariah. Syarat-syarat dalam transaksi jual beli adalah
adanya penjual, pembeli, barang yang diperjualbelikan, harga dan akadnya.
Terdapat perbedaan pendapat para ulama fiqh dalam menentukan rukun
suatu akad. Jumhur ulama fiqh menyatakan rukun akad terdiri atas:


1 Pernyataan untuk mengikatkan diri (Shighat Al-„Aqd)
2 Pihak-pihak yang berakad (Al-Muta‟aqidain)
3 Obyek akad (Al-Ma‟qud „Alaih)
Adapun Pedoman Umum Asuransi Syariah sebagai berikut:


1. Asuransi Syariah (Ta`min, Takaful, Tadhamun) adalah usaha saling
melindung dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui
investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola
15
pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad
(perikatan) yang sesuai dengan syariah.
2. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah
yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba
(bunga), zulmu (Penganiayaan), riswah (suap), barang haram dan
maksiat.
3. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan
komersil.
4. Akad tabarru` adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan
kebaikan dan tolong menolong, bukan semata untuk tujuan komersil.
5. Premi adalah kewajiban peserta untuk memberikan sejumlah dana
kepada perusahaan sesuai dengan kesepakatan dalam akad.
6. Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberi perusahaan
asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad






DAFTAR PUSTAKA

16
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syari‟ah (life And general): Konsep Dan
Sistem Operasional, Cet-1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004)
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari‟ah Wacana Ulama dan Cendekiawan,
(Bank Indonesia dan Tazkia Institute, 1999)
Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Media Pratama, 2000)
Sayid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid 12
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman
Umum Asuransi Syari’ah

38 2 Nasrun Haroen. atau merampok kekayaan orang lain. 2004). kesepakatan untuk melakukan transaksi riba. berasal dari lafal Arab Al-„Aqd yang berarti perikatan. maka akan terjadi salah satu dari tiga hal berikut:3 Muhammad Syakir Sula. 2000). Aqad (akad) Dalam Asuransi Syariah 1. hal. (Jakarta: Gema Insani Press. Dalam teori hukum kontrak secara syariah (Nazarriyati Al-`Uqud). Pengertian Akad dan Aqad (akad) Dalam Asuransi Syariah Lafal akad. Misalnya. Asuransi Syari‟ah (life And general): Konsep Dan Sistem Operasional. 97 3 Muhammad Syakir Sula. Asuransi Syari‟ah (life And general)…. hal. perjanjian. akad didefinisikan dengan: “Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikataan. dan pemufakatan Al-Ittifaq. Cet-1.BAB II PEMBAHASAN Akad Dan Premi Dalam Asuransi Syariah A. Secara terminologi fiqh.1 Pencantuman kalimat yang sesuai dengan kehendak syariat maksudnya adalah bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sejalan dengan kehendak syara’. 39 1 2 . menipu orang lain. setiap terjadi transaksi.2 Sedangkan pencantuman kalimat “berpengaruh pada obyek perikatan” maksudnya adalah terjadinya perpindahan pemilikan dari satu pihak (yang melakukan Ijab) kepada pihak yang lain (yang menyatakan Qabul). hal. Fiqh Muamalah. (Jakarta: Media Pratama.

Oleh sebab itu. Sedangkan Qabul adalah pernyataan pihak lain setelah ijab yang menunjukkan persetujuannya untuk mengikatkan diri. Kontraknya sah. Untuk melihat kontrak itu jatuhnya kemana. 4 Ibid. Kontraknya fasad. Az-Zarqa menyatakan bahwa dalam pandangan syara’ suatu akad merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan oleh dua atau beberapa pihak yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. hal. maka perlu diperhatikan instrumen mana dari aqad yang dipakai dan bagaimana aplikasikasinya. Kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati. setiap pernyataan pertama yang dikemukakan oleh salah satu pihak yang ingin mengikatkan diri dalam suatu akad disebut Mujib (pelaku ijab) dan setiap pernyataan kedua yang diungkapkan pihak lain setelah Ijab disebut Qabil (pelaku Qabul). tanpa membedakan antara pihak mana yang memulai pernyataan pertama itu. Pernyataan pihak-pihak yang berakad itu disebut Ijab dan Qabul. 4 Atas dasar ini. 2. Ijab adalah pernyataan pertama yang dikemukakan oleh salah satu pihak. Aqadnya batal. lanjut Az-Zarqa’. yang mengandung keinginannya secara pasti untuk mengikatkan diri. 39 3 . dan 3.1. untuk menyatakan kehendak masing-masing harus diungkapkan dalam suatu pernyataan.

maka penjual disebut dengan Mujib sedangkan pembeli disebut dengan Qabil. maka terjadilah perikatan antara pihak-pihak yang melakukan ijab dan qabul dan muncullah segala akibat hukum dari akad yang disepakati itu. misalnya. Sebab pada asalnya harta seseorang muslim lain itu tidak halal. kecuali jika dipindahkan haknya dengan kesukaan hatinya (kerelaan). Pernyataan ijab tidak selalu datangnya dari pembeli. kecuali apabila ia berikan miliknya itu dengan kerelaan bukan terpaksa. Ijab dan qabul ini. Dalam kasus jual beli.5 5 Ibid. jika pernyataan untuk melakukan jual beli datangnya dari penjual. Apabila ijab dan qabul telah memenuhi syarat-syaratnya. hal. seorang ulama salaf ternama dalam kitabnya yang terkenal Majmu` Fatawa mengatakan: “Akad dalam Islam dibangun atas dasar mewujudkan keadilan dan menjauhkan penganiayaan. akibatnya adalah berpindahnya pemilikan barang dari penjual kepada pembeli dan penjual berhak menerima harga barang. Akan tetapi hatinya tidak akan suka. pihak penerima jaminan berhak untuk menguasai barang jaminan (Al-Marhun) sebagai jaminan utang dan pihaknya yang menjamin barang (Al-Rahin) berkewajiban melunasi utangnya. 40 4 . melainkan boleh juga dari penjual. Dalam akad ar-rahn (jaminan utang). dengan ketulusan bukan karena tertipu atau terkecoh. dalam istilah fiqh disebut juga dengan Shighat Al„Aqd (ungkapan/pernyataan akad) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.Misalnya dalam akad jual beli. misalnya. sesuai dengan ketentuan syara’.

haram berbuat bohong dan berkhianat. wajib jujur dan berterus terang. Wakalah dan seterusnya. Namun demikian kejelasan akad dalam praktek muamalah penting dan menjadi prinsip karena akan menentukan sah tidaknya mu`amalat tersebut secara syar`i. keluasan dan keuniversalan ajaran Islam. Untuk maksud itu maka akad-akad dalam mu`amalah sangat luas sampai mencakup segala apa saja yang dapat merealisir kemaslahatankemaslahatan.Keadilan itu diantaranya ada yang jelas dapat diketahui oleh setiap orang dengan akalnya. dan bahwa hutang itu mesti dibalas dengan melunasinya dan mengucapkan pujian. Sebab mu`amalah pada dasarnya adalah boleh dan tidak terlarang. Apakah akad yang dipakai adalah akad jual-beli (tabaduli). dan kaidah-kaidahnya memberi kemungkinan mengadakan macammacam akad baru yang dapat merealisir pola-pola mu`amalah baru pula. 40 5 . dan dilarang berbuat curang dalam menakar dan menimbang. 6 Ibid. Apakah akadnya jual beli (Aqd Tabaduli) atau akad tolongmenolong (Aqd Takafuli) atau akad lainnya seperti yang disebutkan diatas. akad antara perusahaan dan peserta harus jelas. akad Muzara`ah (pengelolaan tanah dan bagi hasil).6 Demikian pula halnya dalam asuransi. Hal inilah yang merupakan kemudahan. hal. akad Ijarah (sewa). Mudharabah. seperti halnya pembeli wajib menyerahkan harga dan penjual menyerahkan barang jualannya kepada pembeli secara jelas. akad As-Salam (meminjamkan barang). akad Syirkah (kerjasama).

Pada asuransi konvensional akad yang melandasinya semacam akad jual beli (Aqd Tabaduli). pembeli. Firman Allah SWT:  Artinya:    …    Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah (At-Taghabun:11) Terdapat perbedaan pendapat para ulama fiqh dalam menentukan rukun suatu akad.7 Pada asuransi konvensional. Akad Dalam Asuransi Konvensional Dalam asuransi biasa (konvensional) terjadi kerancuan/ketidakjelasan dalam masalah akad. Jilid 12. Jumhur ulama fiqh menyatakan rukun akad terdiri atas: 8 7 8 Sayid Sabiq. dan hanya Allah yang tahu kapan kita meninggal. Fiqhus Sunnah. maka syarat-syarat dalam akad tersebut harus terpenuhi dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan syariah. hal. barang yang diperjualbelikan. harga dan akadnya. Syarat-syarat dalam transaksi jual beli adalah adanya penjual. 99 6 . akan tetapi yang menjadi masalah adalah harganya (berapa besar premi yang akan dibayar) kepada perusahaan asuransi. barang yang diperjualbelikan atau yang akan diperoleh serta ijab kabul (akad) jelas. Padahal hanya Allah yang tahu tahun berapa kita meninggal. akan tetapi jumlah yang akan dibayarkan menjadi tidak jelas. Jadi pertanggungan yang akan diperoleh sesuai dengan yang diperjanjikan ini jelas. tergantung usia kita. Karena akadnya adalah akad jual beli. Fiqh Muamalah…. hal. penjual. 15 Nasrun Haroen.B. pembeli.

1. perbuatan.000”. karena akad-akad itu sendiri berbeda dalam sasaran dan hukumnya. dan isyarat. karena melalui pernyataan inilah diketahui maksud setiap pihak yang melakukan akad. 2 3 Antara ijab dan qabul itu terdapat kesesuaian Pernyataan ijab dan qabul itu mengacu kepada suatu kehendak masingmasing pihak secara pasti. pernyataan ijab diungkapkan dengan perkataan “saya jual buku ini dengan harga Rp. dan pihak lainnya menyatakan qabul dengan perkataan “saya beli buku ini dengan harga Rp. hal. yang dikatakan rukun itu adalah suatu esensi yang berada dalam akad itu sendiri. karena menurut mereka. misalnya. dan harus memenuhi ketiga syarat yang dikemukakan di atas. sehingga dapat dipahami jenis akad. para lama fiqh mensyaratkan:9 1 Tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu jelas. sedangkan pihak-pihak yang berakad dan obyek akad. Dalam akad jual beli. yang dikehendaki. Pernyataan untuk mengikatkan diri (Shighat Al-„Aqd) Pihak-pihak yang berakad (Al-Muta‟aqidain) Obyek akad (Al-Ma‟qud „Alaih) Ulama Hanafiyah berpendirian bahwa rukun akad itu hanya satu.000”. Dalam kaitannya dengan ijab dan qabul ini. sedangkan pihak-pihak yang berakad dan obyek akad berada diluar esensi akad. 9 Ibid. 10. tidak termasuk rukun akad. Ijab dan qabul ini bisa berbentuk perkataan. Pernyataan ijab dan qabul melalui tulisan juga demikian. 10. yaitu Shighat Al-„Aqd (ijab dan qabul). tetapi termasuk syarat-syarat akad. tulisan. 3. 2. Shighat al-„aqd merupakan rukun akad yang terpenting. tidak ragu-ragu. 100 7 . menurut mereka. Shighat al-„aqd ini diwujudkan melalui ijab dan qabul.

hal. Artinya. Sementara itu pada asuransi syariah. atau akad mu`awadhah sebagaimana halnya pada asuransi konvensional. yaitu pihak-pihak yang mengadakan Aqd (misalnya Takaful dan peserta). kekuatan hukumnya sama dengan ungkapan langsung melalui lisan.Dalam pernyataan kehendak untuk melakukan suatu akad melalui tulisan ini. para ulama membuat suatu kaidah fiqh yang menyatakan bahwa: “Tulisan itu sama dengan ungkapan lisan”. akad yang melandasinya bukan akad jual beli (aqd tabaduli). 42 8 . dijelaskan tentang rukun akad: 10 1 Aqid. 2 Ma`kud `alaihi yaitu sesuatu yang diakadkan atasnya (barang dan bayaran). tetapi akad tolong menolong (Aqd takafuli). dan 3 Sighat (ijab dan kabul). pernyataan yang jelas yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam buku Panduan Syarikat Takaful Malaysia . dengan menciptakan instrumen baru untuk menyalurkan dana kebajikan melalui akad tabarru` (hibah). Asuransi Syari‟ah (life And general)…. karena akad yang melandasinya adalah aqdun muawadotun maliyatun (kontrak pertukaran harta benda) atau aqd tabaduli (akad jual beli). 10 Muhammad Syakir Sula. Ma`kud `alaihi dalam asuransi konvensional oleh ulama dianggap masih gharar.

C. E. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan). bukan semata untuk tujuan komersil. C. Asuransi Syariah (Ta`min. riba (bunga). Pedoman Umum Asuransi Syariah Majelis Ulama Indonesia. D. Akad tabarru` adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebaikan dan tolong menolong. zulmu (Penganiayaan). barang haram dan maksiat. F. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersil. Takaful. Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberi perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah 11 9 . maysir (perjudian). Tadhamun) adalah usaha saling melindung dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. B. riswah (suap). mengeluarkan fatwa khusus tentang: Pedoman Umum Asuransi Syariah sebagai berikut: 11 Pertama: Ketentuan Umum A. Premi adalah kewajiban peserta untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai dengan kesepakatan dalam akad. melalui Dewan Syariah Nasional.

Dalam akad tabarru` (hibah). Dalam akad tijarah (mudharabah). Sedangkan perusahaan sebagai pengelola dana hibah Keempat: Ketentuan Dalam Akad Tijarah dan Tabarru` A. Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas akad tijarah dan atau akad tabarru`. sedangkan akad tabarru` adalah hibah. B. Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat (1) adalah mudharabah.Kedua: Akad Dalam Asuransi A. perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai sohibul mal (pemegang polis). peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah. C. Ketiga: Kedudukan Para Pihak Dalam Akad Tijarah dan Tabarru` A. B. Dalam akad sekurang-kurangnya disebutkan:    Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan Cara dan waktu pembayaran premi Jenis akad tijarah dan atau akad tabarru` serta syarat-syarat yang disepakati sesuai dengan jenis asuransi yang diakad. Jenis akad tabarru` tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah 10 . Jenis akad tijarah dapat dirubah menjadi jenis akad tabarru` bila pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya B.

kami diskusi dengan Doktor Jafril Khalil dalam kaitan Fatwa DSN-MUI diatas. Pada suatu kesempatan. akan tetapi beberapa akad-akad tijarah lainya yang ada dalam fiqh Islam. Dipandang dari segi jenis. al-wadiah. Sedangkan akad bagi kedua jenis asuransi tersebut adalah mudharabah dan hibah Keenam: Premi A. beliau pakar asuransi syariah yang kebetulan disertasi doktornya tentang akad-akad asuransi.Kelima: Jenis Asuransi dan Akadnya A. sementara ini merupakan acuan bagi perusahaan asuransi syariah di Indonesia terutama menyangkut bagaimana akad-akad dalam bisnis asuransi syariah dan ketentuan lain yang terkait dengannya. al-wakalah. dalam kaitan dengan akad-akad dalam asuransi syariah. seperti misalnya al-musyarakah. Pembayaran premi didasarkan atas jenis akad tijarah dan jenis akad tabarru` B. dan sebagainya dibenarkan oleh syara` untuk digunakan dalam asuransi syariah. M. Billah. lebih cenderung tidak menggunakan istilah tabarru`. asySyirkah. asuransi itu terdiri atas asuransi kerugian dan asuransi jiwa B. dengan syarat tidak memasukan unsur riba dalam perhitungannya. Hal ini mungkin sebagai solusi dari 11 . Al-Musamahah. Fatwa tersebut diatas. Untuk menentukan besarnya premi perusahaan asuransi dapat menggunakan rujukan table mortalita untuk asuransi jiwa dan table morbidita untuk asuransi kesehatan. Kami berkesimpulan bahwa akad-akad dalam asuransi syariah tidak hanya sebatas pada akad Tabarru` dan mudharabah saja.M. tapi menggunakan istilah al-musahamah (contribution/kontribusi).

Al Zuhaili juga dalam kitabnya menjelaskan tentang Syarikat alMusahamah. penerbitan cover note (dokumen sementara untuk polis yang disediakan pengelola bagi peserta) dan pembayaran takaful kontribusi (Al-Musahamah). Disini terjadi kerancuan karena disatu sisi dikatakan bahwa pada akad tabarru` tidak mengharapkan pengembalian kecuali pahala dari Allah.. Syarikat Al Musahamah kata syaikh al-Zuhaili adalah merupakan salah satu jenis syarikat harta (syarikah al amwal) yang penting. Modal syarikat 12 . penerimaan (qabul). Sementara dalam prakteknya pada asuransi syariah saat ini. yang mana atas subyek pokok tersebut. tapi dalam prakteknya nasabah mendapat pengembalian berupa mudharabah (bagi hasil) jika tidak terjadi klaim. yang diberikan kepada nasabah apabila tidak terjadi klaim. Karena premi (tabarru`) sudah diikhlaskan dan hanya mengharapkan ridha Allah swt. dua pihak (pengelola dan peserta) harus menyetujui proposal (ijab) dan persetujuan (qabul) yang mana kedua pihak setuju untuk berbagi tanggung jawab dalam menyediakan jaminan materi yang memadai terhadap resiko yang nyata tapi tidak terduga atas subyek pokok. terutama pada term insurance (life) dan pada seluruh produk general insurance terdapat yang disebut mudharabah. Berdasarkan hukum Islam untuk membuat polis takaful (asuransi syariah) harus ada subyek pokok yang beresiko. Dengan kata lain ketentuan dalam polis takaful (asuransi syariah) adalah proposal (ijab).perdebatan bahwa dalam akad tabarru` tidak boleh ada pengembalian lagi (mudharabah).

Hibah ini dilakukan secara berjamaah dan mengandung efek saling menanggung. Konsep akad Al-Musamahah seperti ini lebih mirip dengan konsep asuransi yang sementara ini banyak dipakai oleh asuransi syariah yang ada di beberapa negara termasuk di Indonesia. Dengan melandaskan diri pada prinsip takafuli. Besarnya hibah sekitar 5% dari total premi. Demikian seterusnya kadang bola tersebut dipakai lagi bersama. asuransi syariah (terutama untuk asuransi jiwa) menerapkan dua bentuk akad diawal penerimaan premi. selebihnya (95%) akan masuk ke dalam tabungan investasi nasabah. dan dimana setiap bagian tersebut disebut saham. Setelah permainan selesai kemudian bola tadi diberikan kepada seorang diantaranya untuk dibawa pulang. BAB III PENUTUP A. kemudian masing-masing iuran atau kontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki untuk keperluan bersama yaitu beli bola. Kesimpulan 13 . yakni akad tabungan investasi dan akad kontribusi. Agus Haryadi memberi ilustrasi tentang konsep al-musahamah seperti ketika kita ingin main bola. Akad tabungan investasi berdasarkan prinsip al-mudharabah sementara kontribusi berdasarkan prinsip hibah. Perusahaan asuransi syariah akan menempatkan dana tabungan dan kontribusi tadi pada proyek-proyek investasi yang halal dan menguntungkan. Kemudian bola terbelih dan dipakailah bersama.ini adalah terdiri dari modal-modal kecil yang jumlahnya banyak.

dan pemufakatan Al-Ittifaq. Secara terminologi fiqh. maka syarat-syarat dalam akad tersebut harus terpenuhi dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan syariah. akad didefinisikan dengan: “Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikataan. Apakah akad yang dipakai adalah akad jual-beli (tabaduli). barang yang diperjualbelikan. Mudharabah. berasal dari lafal Arab Al-„Aqd yang berarti perikatan. akad Muzara`ah (pengelolaan tanah dan bagi hasil). Asuransi Syariah (Ta`min. Jumhur ulama fiqh menyatakan rukun akad terdiri atas: 1 2 3 Pernyataan untuk mengikatkan diri (Shighat Al-„Aqd) Pihak-pihak yang berakad (Al-Muta‟aqidain) Obyek akad (Al-Ma‟qud „Alaih) Adapun Pedoman Umum Asuransi Syariah sebagai berikut: 1. akad Syirkah (kerjasama). Syarat-syarat dalam transaksi jual beli adalah adanya penjual. pembeli. perjanjian. Wakalah dan seterusnya. harga dan akadnya. Akad dalam praktek muamalah penting dan menjadi prinsip karena akan menentukan sah tidaknya mu`amalat tersebut secara syar`i. Dalam asuransi biasa (konvensional) terjadi kerancuan/ketidakjelasan dalam masalah akad. Terdapat perbedaan pendapat para ulama fiqh dalam menentukan rukun suatu akad.Lafal akad. akad Ijarah (sewa). Takaful. Karena akadnya adalah akad jual beli. akad As-Salam (meminjamkan barang). Pada asuransi konvensional akad yang melandasinya semacam akad jual beli (Aqd Tabaduli). Tadhamun) adalah usaha saling melindung dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola 14 .

Akad tabarru` adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebaikan dan tolong menolong. bukan semata untuk tujuan komersil. riba (bunga). Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersil. 4. maysir (perjudian). 3. Premi adalah kewajiban peserta untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai dengan kesepakatan dalam akad. zulmu (Penganiayaan). riswah (suap).pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. 2. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan). 6. 5. Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberi perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad DAFTAR PUSTAKA 15 . barang haram dan maksiat.

2004) Muhammad Syafi’i Antonio. Bank Syari‟ah Wacana Ulama dan Cendekiawan. 2000) Sayid Sabiq. (Jakarta: Media Pratama. Cet-1. Fiqh Muamalah. Asuransi Syari‟ah (life And general): Konsep Dan Sistem Operasional. (Jakarta: Gema Insani Press. (Bank Indonesia dan Tazkia Institute. Fiqhus Sunnah. Jilid 12 Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah 16 . 1999) Nasrun Haroen.Muhammad Syakir Sula.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful