PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN PROSA

Pendahuluan Pendidikan sebagai institusi formal merupakan lingkungan yang kondusif dalam menumbuhkembangkan potensi kreatif siswa. Agar dapat tercipta kondisi yang demikian, pelaksanaan proses belajar-mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar siswa yang secara langsung mengalami keterlibatan internal dan emosional dalam proses belajar-mengajar. Pengajaran sastra berusaha mendekatkan siswa kepada sastra, berusaha menumbuhkan rasa peka dan rasa cinta kepada sastra sebagai suatu cipta seni. Dengan usaha ini, diharapkan pengajaran sastra dapat membantu menumbuhkan keseimbangan antara perkembangan kejiwaan anak, sehingga terbentuk suatu kebulatan pribadi yang utuh. Rahmanto mengemukakan bahwa “Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu: membantu keterampilan membaca, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak ((1998:16). Pernyataan di atas sejalan dengan GBPP bahasa Indonesia ada bertuliskan: “Siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan berbahasa”. Memaknai isi GBPP, cerpen adalah salah satu bentuk sastra yang perlu diapresiasi oleh siswa SMP. Apresiasi cerpen di kalangan terpelajar merupakan suatu yang kehadirannya tidak boleh diabaikan. Hal ini terlihat dalam buku ajar siswa SMP pada standar kompetensi siswa mampu mengapresiasi puisi, cerpen, dan karya sastra Melayu Klasik Pendekatan komunikatif perlu dipahami oleh setiap guru bahasa dan sastra Indonesia agar dapat menyusun perencanaan pengajaran, melaksanakan penyajian materi pelajaran, mengevaluasi hasil belajar dan proses pembelajaran dengan baik. Pendekatan komunikatif dipandang sebagai pendekatan yang unggul dalam pengajaran bahasa. Keunggulan ini antara lain karena berdasarkan pada pandangan ilmu bahasa dan teori belajar bahasa yang mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya. Di

Kelemahan pendekatan struktural ialah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk berlatih menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih urgen dimiliki oleh para siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidahkaidah bahasa. kemudian makna unsur-unsur tersebut. melalui berbagai kegiatan pembelajaran diharapkan siswa menguasai kemampuan berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan. audiolingual method. Hakikat Pendekatan Komunikatif Munculnya istilah pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. struktur kalimat. dan cognitive learning theory). Berdasarkan uraian tersebut. Artinya. . Pendekatan struktural menitikberatkan pengajaran bahasa pada pengetahuan tentang kaidah bahasa (tatabahasa) yang biasanya disusun dari struktur yang sederhana ke struktur yang kompleks. tujuan pengajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah membentuk komunikatif siswa. Kajian Teori 1. bnetuk-bentuk kata. B. direct method.samping itu. maka tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes (11972) disebut kompetensi komunikatif. makalah ini akan memfokuskan uraian pada pendekatan komunikatif dengan judul Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Prosa (Cerita). Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa muncul pada tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap empat aliran pembelajaran bahasa yang dianut sebelumnya (grammar translation method. Para pembelajar mula-mula diperkenalkan bunyi-bunyi. Berdasarkan teori tersebut. Keempat metode itu memiliki ciri yang sama iaitu pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut pembelajaran bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan struktural.

bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi. Selanjutnya. Tipe Kegiatan . Teori Bahasa Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Oleh karena itu. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari. Dengan kata lain. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini ialah teori pemerolehan bahasa kedua secara alami. iaitu: a. yang harus dipehatikan ialah kebutuhan para pembelajar. menurut Syafi’ie (1998) ada delapan hal yang perlu diperhatikan. Silabus Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran. c. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif. bukan pengetahuan tentang bahasa. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan siswa iaitu kebutuhan berkomunikasi.Kelemahan dari pendekatan struktural itulah mengilhami lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. b. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang diilih harus sesuai dengan kebutuhan siswa. maka tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi). d. e. Teori Belajar Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa.

Prosedur Pembelajaran Komunikatif Berkenaan dengan prosedur pembelajaran dalam kelas bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif. tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. baik secara bersama-sama. Para siswa mengulang contoh lisan gurunya. negosiasi makna. Garis besar tersebut sebagai berikut. f. g. atau secara individu. Peranan Guru guru berperan sebagai fasilitator. konselor. Pelatihan Lisan Dialog yang Disajikan Pelatihan ini diawali dengan contoh yang dilakukan oleh guru. dan manajer proses belajar. 1996). Tanya-Jawab . sebagai negosiator dan interaktor. Di samping itu. kelompok kecil. b. c. h. a. atau kegiatan berinteraksi. Penyajian Dialog Singkat Penyajian ini didahului dengan pemberian motivasi dengan cara menghubungkan situasi dialog dengan pengalaman pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian. Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. setengah. Finochiaro dan Brumfit (dalam Azies. siswa tidak hanya menguasai struktur bahasa. 2.Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi. Peranan Siswa Peranan siswa sebagai pemberi dan penerima. pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. menawarkan garis besar kegiatan pembelajaran untuk tingkat sekolah menengah pertama.

dapat dilihat adanya kesamaan antara prosedur pembelajaran yang berdasarkan prinsip pendekatan struktural. juga mereka tidak memiliki tujuan berkomunikasi. Pemberian Tugas Memberikan tugas tertulis sebagai pekerjaan rumah i. Penarikan Simpulan Siswa diarahkan untuk membuat simpulan tentang kaidah tata bahasa yang terkandung dalam dialog. Kedua. Pengkajian Siswa diajak untuk mengkaji salah satu ungkapan yang terdapat dalam dialog. Harmer (1998) mengemukakan bahwa tahap-tahap pembelajaran bahasa komunikatif harus dimulai dari aktivitas nonkomunikatif menuju aktivitas komunikatif. g. Memperhatikan prosedur di atas. Aktivitas Produksi Lisan Dimulai dari aktivitas komunikasi terbimbing sampai kepada aktivitas yang bebas. Aktivitas Interpretatif Siswa diarahkan untuk menafsirkan beberapa dialog yang dilisankan. Pertama. para siswa diberi tugas untuk memberikan contoh ungkapan lain yang fungsi komunikatifnya sama. tanya-jawab yang berdasarkan topik dan situasi dialog. f.Hal ini dilakukan dua fase. Selanjutnya. h. e. Dalam fase kegiatan nonkomunikatif. Evaluasi Evaluasi pembelajaran dilakukan secara lisan (Tarigan. tanya-jawab tentang topik itu dikaitkan dengan pengalaman pribadi siswa. para pembelajar belum memiliki keinginan untuk berkomunikasi. . 1991). Pada tahap ini peranan guru masih dominan. Lain halnya yang disodorkan oleh Littlewood adalah prosedur metodologis yang terbagi atas kegiatan prakomunikatif dan kegiatan komunikatif. Sejalan dengan itu. d.

Kegiatan interaksi sosial Kegiatan komunikasi fungsional dapat berupa kegiatan berbahasa untuk saling membagi informasi dan kegiatan berbahasa untuk mengolah informasi yang keduanya dapat dirinci menjadi: a. Kegiatan komunikasi fungsional 2.guru masih sering melakukan intervensi. Pembelajar tidak lagi menitikberatkan pada bentuk. dan f. 3. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Apresiasi Prosa (Cerita) . mengemukakan ada dua kegiatan komunikatif yang perlu dikenal. memerankan lakon pendek yang lucu d. kegiatan saling membagi informasi dengan kerja sama yang tidak terbatas c. simulasi c. Dalam fase komunikatif. melaksanakan berbagai bentuk diskusi. kegiatan mengolah informasi Kegiatan interaksi sosial dapat berupa a. berdebat. kegiatan saling membagi informasi dan mengolah informasi d. Berkenaan dengan penggunaan pendekatan komunikatif Littlewood. dialog dan bermain peran b. tetapi pada isi. improvisasi e. pemebelajar sudah memiliki keinginan dan tujuan berkomunikasi. iaitu: 1. kegiatan saling membagi informasi dengan kerja sama yang terbatas b.

pembelajaran sastra dapat dengan mudah diintegrasikan dengan pembelajaran bahasa. memperluas wawasan kehidupan. tentang prosa. Dalam pembelajarn prosa para siswa dibimbing untuk dapat mengidentifikasi perbedaan nama. alur. sesuai karakteristik pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif. Hal apa saja yang harus dipahami siswa? Ada tiga hal yang penting untuk diperhatikan. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.dan sering menjadi idola pembacanya. Tidak ada cerita tanpa tokoh. Tujuan umum pengajaran sastra agar siswa mampu menikmati. Berkenaan dengan tokoh dalam cerita iaitu tokoh pratagonis dan tokoh antagonis. Membaca prosa termasuk kegiatan membaca pemahaman.Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Perbedaan tokoh itu ditandai dengan perbedaan nama. Daya tarik sebuah cerita antara lain disebabkan oleh adanya pertentangan antara tokoh pratagonis dengan tokoh antagonis. maka para pembaca berpihak kepadanya. membaca prosa. Pemahaman Tokoh Cerita Tokoh termasuk unsur cerita yang sangat penting. baik pemahaman (reseptif) maupun penggunaan (produktif). maka pelaksanaannya berintegrasi dengan pembelajaran bahasa. Di samping itu. memahami. diabadikan kepada kepentingan pengembangan kemampuan berkomunikasi. tokoh yang satu berbeda dengan tokoh yang lainnya. dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian. Dalam proses pembelajaran prosa ada berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan. kondisi fisik. iaitu: tokoh. baik lisan maupun tulisan. Sastra sendiri merupakan karya seni yang menggunakan bahasa. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ialah menyimak pembaca prosa. dan mengarang prosa. siswa diarahkan untuk memahami prosa yang dibacanya. Tokoh pratagonis adalah tokoh yang mendapat simpati pembaca. dan watak setiap tokoh yang terdapat dalam cerita yang dibacanya. dan perbedaan watak masing-masing tokoh. Tokohtokoh dalam cerita bersifat unik. a. Baik tokoh pratagonis maupun tokoh antagonis . Tokoh antagonis dibenci pembaca karena hadir sebagai lawan dari tokoh pratagonis. perbedaan fisik. dan latar cerita. karena memiliki watak tertentu. Dalam kegiatan pembelajaran prosa. Oleh karena itu.

Dapat membuat pendidikan (pembelajaran) lebih produktif. adat istiadat dan suasana tertentu. alur. Media Pembelajaran Prosa (Cerita) Media pembelajaran merupaka salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pembelajaran. mereka dibimbing pula untuk menemukan tokoh pratagonis dan antagonis. Rangkaian kejadian itu dibangun berdasarkan hukum sebab akibat. Dengan demikian. Dapat membuat pendidikan (pembelajaran) lebih individual (Jobrohim. 4. . Perilaku seorang tokoh dalam sebuah cerita sangat berkaitan dengan karakter para tokohnya. Penggunaan media dalam pembelajaran sedikitnya ada dua keuntungan iaitu: a. Pemahaman Latar Cerita Sebuah cerita terjadi di sebuah tempat dan pada waktu tertentu. siswa dibimbing untuk menemukan tokoh utama dan tokoh pendukungnya. Guru dalam hal ini membimbing siswa menemukan ketiga unsur yang terkandung dalam cerita yang dibacanya. dan b. Dalam pembelajaran membaca prosa (cerita). Di samping itu. c. budaya. dapat dilihat bahwa tokoh cerita. Tempat dan waktu terjadinya sebuah peristiwa mempunyai iklim. dan latar merupakan unsur-unsur cerita yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tokoh utama baik yang berkarakter menyenangkan maupun yang berkarakter tidak menyenangkan (jahat).biasanya menjadi fokus cerita biasa disebut tokoh utama. Sebuah peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita harus berdasarkan sebab yang masuk akal (logis). b. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi karakter setiap tokoh. kondisi. Berdasarkan uraian tersebut. dapat dikatakan bahwa latar sebuah cerita dapat berpengaruh terhadap karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita yang bersangkutan. biasanya didukung oleh tokoh-tokoh yang lain yang biasa disbut tokoh pendukung. 1994). Pemahaman Alur Cerita Alur atau plot ialah rangkaian kejadian dalam cerita.

Cara yang lebih praktis tentu saja memilih siswa yang mahir berdeklamasi untuk tampil di muka kelas. Dengan adanya media. tetapi juga melalui kegiatan melihat dan mengamati. dan demikian pula siswa yang lebih kuat daya dengarnya. para siswa tidak hanya dapat belajar melalui menyimak. Untuk pelatihan deklamasi mungkin diperlukan model. iaitu: . 1994). Para siswa lebih kuat daya ingat dan daya serapnya melalui kegiatan melihat. Namun dalam kenyataannya di sekolah penilaian hasil belajr sastra lebih menekankan ranah kognitif. Hal ini dapat meningkatkan kekuatan memori dan perhatian sehingga pembelajaran akan lebih produktif. (Jobrohim. Hasil penilaian tersebut bermanfaat bagi siswa untuk mengukur kemajuan belajarnya dan bermanfaat pula bagi guru untuk menemukan kekurangan dan kelebihan yang selanjutnya dijadikan masukan bagi perbaikan bagi kegiatan pembelajaran berikutnya.Penggunaan media dapat membuat pembelajar lebih produktif karena media menyuguhkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Evaluasi Evaluasi atau penilaian dimaksudkan untuk mengetahui apakah program yang bersangkutan telah sesuai dengan perencanaan atau telah mencapai target atau belum. Model deklamasi yang baik dapat diharapkan melalui rekaman vidio dan mungkin pula menghadirkan deklamator yang baik ke ruang belajar. Moody mengetengahkan adanya empat tingkatan tes sastra. 5. Dengan demikian. juga membuat pembelajar lebih individual. (Jobrohim. penggunaan media pun dapat mewadahi potensi individual para siswa. tidak hanya melibatkan satu alat indra saja. Penilaian dalam pembelajaran sastra ditujukan oleh dua hal yakni. Di samping itu. Berkenaan dengan tes sastra. Dan saat yang biasanya dinantikan oleh para siswa adalah penampilan guru sebagai deklamator yang selalu mengesankan. penggunaan media. di samping dapat membuat pembelajaran lebih produktif. 1994). Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dapat terjadi jika penilaian yang dilakukan lebih ditekankan pada kemampuan apresiasi siswa (secara langsung). Alat penilaian sebenarnya dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran sastra. hasil belajar siswa dan proses pembelajaran itu sendiri. ranah psikomotor dan afektif kurang mendapat perhatian.

Para siswa dipersilahkan membaca karya sastra yang telah dipilih itu. misalnya biografi pengarang. Aplikasi Pembelajaran Prosa (Cerita) Berikut ini akan disajikan langkah-langkah pembelajaran prosa (cerita). dan kepraktisan. Ada baiknya guru menyampaikan pengantarnya terlebih dahulu tentang cerpen tersebut untuk menumbuhkan motivasi mereka. C. isi dan pertimbangan pedagogis. Mereka membaca sekedar kesenangan semata. Tingkat Perspektif Tes ini berkaitan dengan pandangan siswa mengenai karya sastra yang dibacanya.a. Siswa membaca karya sastra sebagai kegiatan yang menyenangkan. b. misalnya cerpen Kado Perkawinan karya Hamzat Rangkuti. Dalam kegiatan ini guru telah memilih sebuah cerita yang telah dipertimbangkan dari segi bahasa. perlu pula dipahami bahwa tes sastra harus memenuhi persyaratan tes yang baik seperti halnya tes-tes yang lain. yakni kesahihan (validitas). Pembacaan oleh siswa dilakukan tanpa dibebani oleh tugas-tugas yang rumit. . Tes ini menuntut kemampuan kognitif siswa yang lebih tinggi tidak hanya tingkat pemahaman. 1988). Di samping tingkatan tes tersebut. Tes ini pun menuntut kemampuan kognitif siswa pada tingkat tinggi. Kemampuan kognitif yang dituntut adalah tingkat aplikasi. c. sintesis. Tingkat Konsep Tes ini berkaitan dengan persepsi tentang bagaimana unsur-unsur karya sastra diorganisasikan. Tingkat Informasi Merupakan tes yang berkenaan dengan data dasar suatu karya sastra dan data yang menunjang dalam proses penafsiran karya sastra yang bersangkutan. dan yang terutama adalah evalusi (Nurgiantoro. a. tetapi juga tingkat analisis dan sintesis. d. Keterpercayaan (reabilitas). evaluasi. analisis. dan sintesis. Tingkat Apresiasi Kemampuan kognitif yang dituntut oleh tes ini adalah aplikasi. analisis.

Di bagian cerita manakah sesungguhnya cerita ini dimulai 4. Siswa menganalisis dan mendiskusikan tokoh dan ciri khas tokoh cerpen Kado Perkawinan. 5. f. pribadi. c. h. Pada langkah ini. juga klimaks dan pengakhirannya . Siswa menganalisis dan mendiskusikan alur cerpen Kado Perkawinan. dan latar sosialnya. i. Siswa menganalisis dan mendiskusikan motif psikologi dari perilaku setiap tokoh dalam cerpen Kado Perkawinan. Menyusun pertanyaan. Siswa menganalisis dan mendiskusikan pengaruh psikologis tokoh dari latar terhadap setiap tokoh dalam cerpen Kado Perkawinan. g. e. Siapakah tokoh utama atau pratagonis cerita ini? Gambarkan keadaan fisik. Siswa menganalisis dan mendiskusikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam cerpen Kado Perkawinan. Siswa menganalisi dan mendiskusikan tema cerpen Kado Perkawinan. Siswa menganalisis dan mendiskusikan latar dan ciri khas latar cerpen Kado Perkawinan. Guru harus membimbing mereka agar sampai pada sebuah pertanyaan analisis yang tepat dan relevan. Tuliskan bagian permulaan konflik yang mendasari cerita ini. Pertanyaan Apresiatif tentang Cerita 1. d. para siswa diberi tugas untuk menyusun pertanyaan berkenaan dengan cerpen yang dibacanya. Bagaimana sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan! 3.b. Rumuskan masalah yang ingin diungkapkan pengarang! 2. Pertanyaan sebaiknya muncul pada bagian berikut di bawah subjudul Pertanyaan Apresiatif tentang Cerita. Siswa mengidentifikasi dan mendiskusikan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang mendukung cerpen Kado Perkawinan. j.

Konsekuenkah pengarang dalam mengurutkan ceritanya sesuai dengan point of view yang dipilihnya? 9. yakni kesahihan (validitas).com/tentang-kami/artikel-7/ . Keterpercayaan (reabilitas). peran materi. 4. 3. Suasana apakah yang terasa dalam cerita itu? 10. Yang perlu diperhatiak untuk memahami pendekatan komunikatif iaitu: teori belajar. 5.6. Apakah peristiwa-peristiwa dalam cerita ini diungkapkan pengarang secara jelas dan sederhana? 7. pemberian tugas. aktivitas produksi lisan. pengkajian. Penutup 1. Garis besar kegiatan pembelajaran tingkat sekolah lanjutan pertama dengan prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif iaitu: penyajian dialog singkat. agar siswa memahami prosa yang dibacanya iaitu: tokoh. Bagaimana gambaran ciri-ciri jasmaniah tokoh pratagonis cerita ini? 8. aktivitas interpretatif. tanya jawab. peran siswa. 2. tipe kegiatan. penarikan simpulan. dan latar cerita. Ada tiga hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran prosa. teori bahasa. dan kepraktisan http://solehamin. pelatihan lisan dialog yang disajikan. Tes sastra harus memenuhi persyaratan tes yang baik seperti halnya tes-tes yang lain. peran guru. dan evalusi. Dari manakah sumber suasana cerita itu muncul? Apakah dibangun oleh gaya penceritaan pengarang atau tokoh-tokohnya? D. alur. tujuan.wordpress. silabus. Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful