BIK Biomed., Vol. 3, No.4.

Oktober-Desember

2007

Krisis hipertensi. Hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi
Starry H. Rampengan*

Abstract
Hypertensive CrISlS or emergency hypertension is abruptly increased during systolic pressure > 180 mmHg, and diastolic pressure > 120 mmHg, associated with disruption of target organs. Hypertensive crisis is known as the main risk factor in cardiovascular events, and categorized as a special condition that needs aggressive management. The abrupt increase of blood pressure causes endothelial disruption and fibrinoid necrosis of arterioles, followed by vascular destruction, deposits of platelets and fibrin, and autoregulation dysfunction. In treating this hypertensive crisis, the decrease of target blood pressure in the first hour can not exceed 25% of MAP. Then, if the patient's condition is stable, the blood pressure has to be kept at 160/100 mmHg in the next two to six hours. Besides that, patients with hypertensive crisis have to be admitted to the ICU for parenteral medication and high blood pressure monitoring. Keywords: Hypertensive crisis, emergency hypertension

Abstrak
Hipertensi krisis atau hipertensi ernergensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 180 mmHg dan diastolik lebih dari 120 mmHg secara mend adak disertai kerusakan organ target. Krisis hipertensi dikenal sebagai faktor risiko utama kejadian kardiovaskular dan dikategorikan sebagai keadaan khusus yang memerlukan tatalaksana yang lebih agresif. Peningkatan tekanan darah yang mendadak akan menyebabkan jejas endotel dan nekrosis fibrinoid arteriol kemudian berdampak pada kerusakan vaskuler, deposisi platelet, fibrin dan kerusakan fungsi autoregulasi. Target awal penurunan tekanan darah hipertensi emergensi dalam satu jam adalah tidak lebih dari 25 persen nilai MAP kemudian bila sudah stabil tekanan darah dipertahankan 160/100 mmHg dalam 2 - 6 jam bcrikutnya. Pasien dengan krisis hipertensi sebaiknya dirawat di lCU untuk pemberian obat antihipertensi parenteral dan monitoring tekanan darah secara ketat. Kata kunci: krisis hipertensi, hipertensi cmcrgensi
*) Bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Pendahuluan Hipertensi

krisis

merupakan salah satu kegawatan dibidang kardiovaskular yang sering di- jumpai di instalasi gawat darurat. Duapuluh persen pasien hipertensi yang datang ke UGD adalah pasien krisis

hipertensi. Dan 60 juta penduduk Amerika serikat tiga puluh persen diantaranya menderita hipertensi dan hampir 1-2 persen akan berlanjut menjadi hipertensi krisis disertai kerusakan organ target. Data hipertensi krisis di Indonesia masih belum banyak diteliti

163

Hipertensi emergensi harus ditanggulangi sesegera mungkin dalam satu jam dengan memberikan obat-obatan anti hipertensi intravena. gagal jantung kiri akut dengan edema paru. unstable angina pectoris. infark miokard akut. Terdapat perbedaan beberapa penulis mengenai terminologi peningkatan tekanan darah secara akut. Angka harapan hidup lima tahun pad a semua pasien hipertensi krisis tujuh puluh empat persen dengan median harapan hidup 144 bulan. Definisi The Seventh Report Joint National Committee on Prevention. yaitu peningkatan tekanan darah seperti hipertensi emergensi namun tanpa disertai kerusakan organ target. and Treatment of High Blood Pressure (JNe 7) tidak menyertakan hipertensi krisis ke dalam tiga stadium klasifikasi hipertensi. yaitu suatu sindroma peningkatan tekanan darah yang disertai adanya ensefalopati atau nefropati. Detection. Patofisiologi Patofisiologi krisis hipertensi diketahui oleh karena peningkatan secara mendadak resistensi vaskular sistemik yang berhubungan dengan vasokonstriktor humoral. yaitu peningkatan tekanan darah sistolik lebh dari 180 mmHg dan diastolik lebih dari 120 mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ target. Terminologi yang paling sering dipakai adalah hipertensi krisis atau hipertensi emergensi. diseksi atau aneurisma aorta dan eklamsia. Kerusakan target organ yang dimaksud meliputi ensefalopati hipertensi. Istilah lain yang kadang digunakan adalah hipertensi malign an. Evaluation. perdarahan intrakranial. Namun begitu hipertensi krisis dapat dicegah bila pengobatan dengan anti hipertensi yang sesuai di jalankan dengan baik. namun krisis hipertensi dikategorikan dalam pembahasan hipertensi sebagai keadaan khusus yang memerlukan tatalaksana yang lebih agresif. Angka kematian dalam setahun hipertensi emergensi yang tidak diobati mencapai sembi Ian puluh persen. Istilah krisis hipertensi lainnya adalah hipertensi urgensi. Peningkatan tekanan darah yang mendadak ini akan menyebabkan jejas endotel dan nekrosis fibrinoid arteriol kemu- 164 .SH Rampengan: Krisis hipertensi namun studi Multinational Monitoring of Trends and Determinants in Cardiovascular Disease (Monica) yang dilakukan di Jakarta pada tahun 1988 menempatkan hipertensi sebagai faktor risiko utama kejadian kardiovaskular. Pada keadaan ini tekanan darah harus segera diturunkan dalam 24 jam dengan memberikan obatobatan anti hipertensi oral. Angka lcematian dan kesakitan tergantung pada beratnya kerusakan target organ dan stadium hipertensi yang diukur.

nyeri dada. ensefalopati 16. Target awal penurunan tekanan darah hipertensi emergensi dalam satu jam adalah tidak lebih dari 25 persen nilai MAP kemudian bila sudah stabil tekanan darah dipertahankan 1601100 mmHg dalam 2 . kokain. Pemeriksaan laboratorium seperti hitung jenis. Tekanan darah hams dimonitoring secara ketat dan kontinyu tennasuk pada pasien obes harus digunakan cuff pengukur yang sesuai. Oktober-Desember 2007 dian berdampak pada kerusakan vaskuler.4.. No.noid 4. kardiovaskular dan ginjal hams diperiksa seperti sakit kepala. Pada keadaan gagal jantung kiri dan hipertrofi ventrikel kiri pemeriksaan ekhokardiografi perlu dilakukan. kejang. kreatinin dan urinalisa harus disertakan pada pasien krisis hipertensi. Nilai tekanan darah saja tidak mencerminkan hipertensi emergensi bila tanpa disertai kerusakan target organ yang nyata. Penu- 165 . nyeri dada. Kerusakan target organ yang dapat terlibat seperti Tatalaksana Pasien hipertensi emergensi hams dirawat di ruang perawatan intensif untuk monitoring tekanan darah secara kontinu dan pem. fibrin dan kerusakan fungsi autoregulasi. infark miokard akut atau angina tidak stabil 12%.rahan intraserebral atau subarakh. Catatan riwayat penyakit hams dilaporkan untuk mengetahui kegawatan hipertensi.berian obat antihipertensi parente. Obatobat antihipertensi pa-renteral yang direkomendasikan tercantum dalam table 2. Kekerapan komplikasi krisis hipertensi meliputi infark serebral 24. dalam table 1. gagal j antung akut dengan edema pam 37%.BIK Biomed. Vol. Tandatanda gangguan neurologik. deposisi platelet.3%.6 jam berikutnya. 3. EKG dan CT sken kepala sangat penting diperiksa untuk pasien-pasien dengan sesak napas. Foto toraks. perda. amfetamiun dan phencyclidine.5%. Semua pemeriksaan ini harus dilakukan secara simultan seiring terapi antihipertensi yang diberikan. Riwayat penyakit yang menyertai dan penyakit kardiovaskular atau ginjal penting untuk evaluasi. Setelah nilai tekanan darah stabil maka penurunan secara bertahap dapat dimulai untuk mencapai nilai tekanan darah normal dalam 24 sampai 48 jam berikutnya.ra1. Pemeriksaan awal Kunci keberhasilan dalam tatalaksana pasien dengan peningkatan tekanan darah yang progresif adalah kemampuan seorang klinisi membedakan hipertensi emergensi atau urgensi.5%. sesak napas dan edema. atau perubahan neurologis. obatobatan yang diminum terakhir baik yang diresepkan oleh dokter maupun tidak terutarna obatobatan monoamine oxidase inhibitors. diseksi aorta 2% dan eklampsi 4.5%. elektrolit.

24 jam. labetalol. loading dose 500ug/kg dalam satu menit dilanjutkan dengan pemberian infuse 25 -50 ug/kgBB/menit dan dosis dapat ditingkatkan 25ug/kgBB/ menit tiap 10-20 menit hingga respon tekanan darah yang diinginkan sampai dosis maksimum 300ug/ kgBB/menit. Dosis kumulatif maksimum 300 mg selama 24 Jam. Optimalisasi penggunaan kombinasi obat oral rnerupakan pilihan terapi untuk pasien dengan hipertensi urgensi. Nitroprusid. maksimal 5 mg tiap 6 jam.0. dosis inisial 0.6 ug/kgBB/ menit. Fenoldopam.25 mg dalam lima menit tiap en am jam kemudian dititrasi meningkat 1. En alaprilat. Dosis dapat diulangi bila respon penumnan tekanan darah tidak adekuat.1 ug/kgBB/menit sampai dosis maksimum 1.5 mg/jam tiap 5 menit sampai dosis maksimum 15 mg/ jam. diberikan awal 0. Labetalol. Penggunaan obat antihipertensi parenteral maupun oral bukanlah tanpa risiko dalam menurunkan tekanan darah.1 ug/kgBB/rnnt kemudian dititrasi 0. Oleh Karena itu penggunaan nifedipin kerja cepat tidak direkomendasikan untuk terapi awal krisis hipertensi.05 . atau klonidin akan memberikan manfaat untuk menurunkan tekanan darah dalam 24 jam. Nicardipin.SH Rampengan: Krisis hipertensi runan tekanan darah yang cepat dan berlebihan hams dihindari Karena dapat mencetuskan terjadinya iskemia ginjal.5 ug/kgBB/menit dititrasi sesuai toleransi. diberikan secara injeksi intravena 1 . diberikan injek- si intravena 1. Pasien dengan hipertensi urgensi tidak memerlukan obatobatan parenteral. otak dan koroner. Hipertensi emergensi yaitu peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 180 mmHg dan 166 . diberikan 5 mg/ jam kemudian dititrasi sesuai respon 2. bolus inisial 20 mg dilanjutkan dengan bolus 20 80 mg atau pemberian infuse dimulai 2 mg/menit. Esmolol.3 mg/kg maksimum hingga 150 mg selama 10-15 menit. Pemberian loading dose obat oral anti hipertensi dapat menimbulkan efek akumulasi dan pasien akan mengalami hipotensi saat pulang ke rumah. Simp ulan Kunci sukses tatalaksanan hipertensi emergensi adalah kemampuan seorang dokter dalam membedakan hipertensi emergensi dan urgensi. Pemberian obatobatan oral aksi cepat seperti captopril. Diazoxide. maksimal 2 uglkgBB/ menit.25 mg pada interval 12 . Terdapat pengecualian khusus pasien dengan stroke iskemik akut pada tekanan darah sistolik lebih dari 220 mmHg atau diastolic lebih dari 120-140 mmHg maka penurunan tekanan darah awal tidak boleh melebihi 10 sampai 15 persen.

1988. CHEST 2000. Vlasses PH. Hypertensive emergencies and urgencies: definition. Hipertensi emergensi harus ditanggulangi sesegera mungkin dalam satu jam dengan memberikan obat-obatan anti hipertensi intravena. No. 3. Evaluation. J Clin Hypertens (Greenwich). fenoldopam..225:1607-13 Reuler JB. Kerusakan target organ pada hipertensi emergensi (dikutip dari 2) Ensefalopati hipertensi Diseksi aorta akut Edema paru akut dengan gagal napas lnfark miokard aleut/angina tidak stabil Eklamsi Gagal ginjal alent Anemia mikroangiopati hemolitik 167 .3:15864.3:64-74. Pasien dengan krisis hipertensi sebaiknya dirawat di leU untuk pemberian obat antihipertensi parenteral dan monitoring tekanan darah secara ketat. Obat-obatan parenteral yang tersedia dan dapat digunakan antara lain labetalol. The complete report: The seventh report Joint National Committee on Prevention. 5. Hypertensive emergencies and urgencies.118:214-27.4. Agustus 2004.BIK Biomed. Ferguson RK. Varon J. Am J Public Health 1988. and Treatment of High Blood Pressure (JNe 7). nicardipin. Daftar Pustaka I. 4. Hypertensive emergency: a useful diagnostic category. Magarian GJ. esmolol. Tabel 1. Pada keadaan ini tekanan darah harus segera diturunkan dalam 24 jam dengan memberikan obatobatan anti hipertensi oral. Detection. Emergensi room management of hypertension emergencies and urgencies. Oktober-Desember 2007 diastolik lebih dari 120 mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ target. Vol. 2. JAMA 1986. J Gen Intern Med. 6. 3. sodium nitroprusid dan nitrogliserin.78 :623-24. 2001. recognition and management. Vidt DG. Hipertensi urgensi adalah peningkatan tekanan darah seperti hipertensi emergensi namun tanpa disertai kerusakan organ target. The diagnosis and management of hypertensive crises. Marik P. Hickler RB.

1 (or(l!li+r· .~-. ati(d"'.ltkm tlE':.....ut pl:.:s~ taUtiOIl .Jy ! i l..:.. IJiZi!II18SIj.! ! ! ! dt'!-: lauIlDllWllhil.q::"mll\ r~' ~.. 1'i!':.IdiIIHilh' lilt. 168 . .is~lIemk'l ! >l.....I\J~ISIi-"".""1 II ~ t rt-:t10n.. \ll)mltlni. flt'it d~~I"~ i AUltic di'S.-/rnlh ruin VCI'1~ilin~.t1r~Jlh'f' ~Acute-terrventncutar r~ilulo!'.1Iu.' ~jt. heart WJdl. Obat-obatan (Dikuti dari 1) anti hipertensi parenteral untuk hipertensi emergensi..lopl:r.=- ~ twildlll1~. bll)( I.e f+.Ihlsllirlg".O~ co-eo rl\g .. ore II c 11(. vonuung. IV 10-oIJ·ll11sl"A in-au to-zounn lv 2rJ-~u mill 1M 1-'1 hl~f'\I' (.- hf-Mf"iltJr.INOI"'1l0NS . nurse tntoxkauon I..lt~r\t.. hto.jI€or .~!mjl1 trl infu$ioo~ m$/ ~De..r.. E'x(er.~":.'t!OSlrtIP~ll:"II'iI\ll? ! ~ eme n~~n(le:.1illl I1I~h 11)U<l<1 ililiJI ~'h2~~I.. Il·laro~llI.:to!'lJt~ mi'Oc::m:H~1 iM~(tioll hy.eI III . srotenua 1 j Mo~ '\'!uSllrl'p':"ll(·II<:.~o!tt~r~'I":E'II~[lS 10..2 11)·potE-nSIOII.I 4 Ilr~ rle s ".111.. is'hemiJ Plt:iilJtll')\I'i taH ln pleHure 11'1 hibh·rt.1..IH~ 1M Taf. l::-:)(111"1n.l. asuune..)Ill.SH Rampengan: Krisis hipertensi Tabel 2.!.'!lp lil1~ling-.llIc.-'.''''. hl t 3\/f)IIr.i.urlill.(lll.ll:JU~J.11111tares: \lJllabl~ s rl:':pons.'pL .~!t(tiofl.I'....'11 il. aLtllC.oI::J ! I l"..'PllHi'Il'iI''':· o"1)lE'lii!ll' l'..liIUl~ .:JIC. IhI0q'll~tl' .:~dlltt"rltllilh'-:ljrLIn...1 I i E~13111~<.atl' 1'·/p".wJ:lLlli:'.uute heart f"'lu[(. andccarude S·N(.3k. 1 SS>l:CIIU.( ~('t. then So][10pt'n.-6. !"'" 1-..Jl(.nfuslm..}r·1 1 .'l' (!IIIE: d..1 ncius alter ~ min or i/~((e~.)lf.'m~\Jll ! .'::.-t Jell"'? 11lfJlt 1.M....O l1\~imill huuucn :Z51)-51~1O ~1~..b':'l.ll1/<7.V 1Q mill rJ ~-6hrs botus eveiv Cl...(.! of Jlliin.'I. ! a."ltl)()~t. -.t-Ilt:lll .....

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful