1

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menyampaikan pendahuluan sebelum penulisan pembahasan makalah seperti latar belakang permasalahan, rumusan masalah, dan tujuan penulisan makalah.
A. Latar Belakang

Psikiatri merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari segala hal yang berkaitan dengan gangguan jiwa. Salah satu gangguan jiwa tersebut adalah gangguan persepsi. Persepsi bukan sekedar fenomena visual yaitu segala sesuatu yang kita “lihat” secara fisik. Para ahli perkembangan menganggap persepsi sebagai bagian untuk memahami input sensorik yang di sambungkan ke otak oleh indra dan dihantarkan menuju susunan syaraf pusat. Dengan kata lain, persepsi adalah penerjemah otak atas informasi yang disediakan oleh semua indra fisik. Segala sesuatu yang telah ada dalam pikiran kita, semua yang kita inginkan, kehendaki, sangka, dan butuhkan,serta pengalaman masa lalu membantu menentukan persepsi. Bagian-bagian mental ini dapat memepengaruhi persepsi kita lebih daripada yang kita pikirkan. Harapan (harapan perseptual) adalah elemen yang paling luas dalam persepsi. Kita adalah hasil bentukan “kebiasaan perseptual” yaitu kita melihat apa yang telah kita pelajari untuk dilihat dan diharapkan untuk dilihat dan kita mendengar apa yang telah kita dengar dan di harapkan untuk didengar. Jika tidak demikian, maka ego kita yang totaliter secara sederhana akan menyaring untuk kemudian membuangnya, walaupun belum sempat dikenali. Melalui harapan, kita merasa cukup masuk akal, puas dan aman untuk membuat asumsi-asumsi mengenali diri, orang lain, dan dunia disekitar kita. Banyak dari asumsi ini yang didasarkan atas perhatian akan konstannya dunia fisik, yang sebenarnya merupakan asumsi yang salah. Tidak ada sesuatu didunia fisik yang tidak hilang esok hari. Persepsi manusia pada umumnya memiliki beberapa karakteristik. Kita cenderung menerima obyek daripada mengenali kualitas-kualitas sensoriknya. Dengan kata lain, kita melihat pohonpohon yang hijau daripada bagian-bagian pohon yang hijau. Banyak studi mengindikasikan bahwa gambar apapun yang dilihat tergantung pada kata-kata dan sebutan gambar tersebut. Persepsi kita dapat membohongi kita dalam banyak cara. Mc.Connell dengan tegas menyatakan “persepsi sensorik berbohong pada kita secara konstan dan otak kita mengetahuinya. Secara khusus, kedua mata kita adalah organ yang paling terburuk dalam hal ini sehingga dikatakan bahwa dunia ini penuh dengan ilusi visual. Jika kita hendak bertahan hidup, kita harus menemukan sebuah cara
1

2 . maka kita dapat menemukan bagaimana sebenarnya ilusi persepsi.2 untuk menerima perbedaan antara ilusi dan realitas. Tujuan Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulis sebagai berikut. Bagaimanakah penjelasan tentang persepsi sebagai sebuah pengantar terhadap gangguan persepsi? 2. Max Born menandaskan “materi yang diberikan oleh indera kita tampak sebagai fenomena kedua yaitu yang diciptakan oleh adanya interaksi organ-organ indera dengan proses-proses yang sebenarnya hanya bisa ditemui secara tidak langsung melalui interprestasi teoritis mengenai hubungan eksperimental hal yang diobservasi. Bagaimanakah gangguan persepsi dalam perspektif ilmu psikiatri? 3. 2. Mengetahui contoh kasus dalam gangguan persepsi. Jika kita mengetahui ilmu-ilmu pasti dengan baik. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas dapat di ambil permasalahan dengan rumusan sebagai berikut. Mengetahui gangguan persepsi dalam perspektif ilmu psikiatri. 1. kita menjelaskan tentang gangguan-gangguan persepsi dalam makalah ini untuk mengetahui persepsi secara keseluruhan serta dapat membedakan antara ilusi dan realitas dalam suatu persepsi. Oleh karena itu. Memahami penjelasan tentang persepsi sebagai sebuah pengantar terhadap gangguan persepsi. 3. Bagaimanakah contoh kasus dalam gangguan persepsi? C. B. 1.

2. dan pusat susunan saraf. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Objek yang dipersepsi.3 BAB II PEMBAHASAN GANGGUAN PERSEPSI Dalam bab ini membahas dan menjawab semua permasalahan yang telah di buat dalam pendahuluan. Perhatian . Proses ini disebut proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses diotak sebagai 3 . kwalitas atau hubungan serta perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati. Stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh saraf sensoris ke otak. yaitu: 1. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada suatu objek. Untuk menyadari atau mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian. oleh gangguan jiwa (emosi tertentu dapat mengakibatkan ilusi. 3. juga harus ada saraf sensorik sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan saraf yaitu otak. Alat indera. Stimulus dapat datang dari luar maupun dari dalam individu yang bersangkutan yang langsung mengenai saraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Proses stimulus mengenai alat indera merupakan proses kealaman atau proses fisik. Disamping itu terdapat beberapa factor yang berperan dalam pembentukan persepsi. dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor. saraf. mengetahui dan mengartikan setelah panca inderanya mendapat rangsangan. keracunan. Proses terjadinya persepsi dimulai dari adanya objek yang menimbulkan stimulus. A. yaitu langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Selain alat indera atau reseptor sebagai penerima stimulus. Pengantar Persepsi Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus atau bisa dibilang persepsi merupakan daya/kemampuan seseorang untuk mengenal benda/barang. obat halusinogenik).psikosa dapat menimbulkan halusinasi) atau oleh pengaruh lingkungan sosiobudaya (mempengaruhi persepsi karena penilaian yang berbeda dan orang dari lingkungan sosiobudaya yang berbeda pula). Persepsi dapat mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulus yang diterima individu. Jadi persepsi itu dapat terganggu oleh gangguan otak (karena kerusakan otak. sehingga stimulus tersebut mempunyai arti bagi individu yang bersangkutan dengan demikian stimulus merupakan salah satu factor yang berperan dalam persepsi.

Halusinasi ini sering berbentuk : Akoasma. Gangguan Persepsi dalam Perspektif Ilmu Psikiatri Dalam mencoba memahami sebuah informasi yang kita dapat pasti kita menemukan beberapa gangguan baik pada faktornya maupun prosesnya. Halusinasi yang tidak normal (patologis) adalah halusinasi yang sesuai dengan panca indra. Yaitu halusinasi hipnagogik yang terjadi sesaat sebelum terlelap tidur persepsi sensoriknya bekerja salah. Dan sama dengan halunisani hipnagogik namun terjadi tepat saat hampir terbangun dari tidur biasa disebut halusinasi hipnopompik yang disamping itu ada pula pengalaman halusinatorik dalam impian yang normal. Halusinasi merupakan salah satu tanda gangguan jiwa yang cukup serius dan sering dijumpai pada pasien-pasien Skizofrenia. yaitu suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan secara tegas Phonema. yaitu : a. Halusinasi auditorik (pendengaran). Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran inilah yang disebut proses psikologis. padahal itu tidak ada sama sekali. Gangguan ini bisa berupa halusinasi. dan agnosia. yaitu suara-suara yang berbentuk suara jelas seperti yang berasal dari manusia. Contoh (pada indera penglihat): seseorang seakan melihat bayangan putih. B. sehingga penderita mendengar kata-kata atau kalimat kalimat tertentu 4 . Proses ini merupakan proses terakhir dari persepsi dan merupakan proses persepsi sebenarnya. Dengan kata lain. didengar atau yang diraba. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk. Namun tidak semua halusinasi tersebut merupakan suatu gangguan yang terjadi pada orang abnormal. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa taraf terkahir dari proses persepsi adalah individu menyadari tentang apa yang dilihat. 1) Halusinasi Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar pada reseptor-reseptor panca indera. ilusi. yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera. derealisasi. Penderita mendengar suara-suara orang yang berbicara atau mendengar suara-suara kacau balau yang tidak jelas yang sebenarnya tidak ada. Ada halusinasi yang juga terjadi pada orang normal. gangguan psikofisiologik. jenis ini paling sering terjadi dibandingkan dengan jenis lainnya. halusinasi adalah persepsi tanpa obyek. depersonalisasi. diraba atau didengar.4 pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat.

mengalami perubahan bentuk. bayangan daun dilihatnya seperti seorang penjahat. penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada seperti melihat bayangan. g. d. b. penderita merasakan adanya sentuhan baik yang membuatnya merasa nikmat atau tidak nyaman yang sebenarnya rangsangan tersebut tidak ada. Ada anggapan konvensional bahwa ada ilusi yang bersifat fisiologis dan ada ilusi yang bersifat kognitif. 5 . halusinasi ini merupakan suatu persepsi. Halusinasi olfaktorik (pembauan). Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual. e. Halusinasi taktil (perabaan). c. Halusinasi gustatorik (pengecapan). Hal ini sering terjadi pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba. h. Halusinasi kinestetik. Ilusi fisiologis seperti yang terjadi pada afterimages atau kesan gambar yang terjadi setelah melihat cahaya yang sangat terang atau melihat pola gambar tertentu dalam waktu lama. Halusinasi autoskopi. i. timbul pada neurosa histerik karena konflik emosional 2) Ilusi Ilusi adalah interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapan yang benar terjadi karena rangsangan pada panca indera. Halusinasi visual (penglihatan). perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya j. a. Ini diduga merupakan efek yang terjadi pada mata atau otak setelah mendapat rangsangan tertentu secara berlebihan. Adapun ilusi itu dipengaruhi oleh emosi pada suatu waktu tertentu dan biasanya yang bersangkutan dapat mengoreksinya sesudahnya. penderita merasakan ada rasa makanan atau rasa suatu zat yang sebenarnya hal tersebut tidak ada. Halusinasi histerik. kilatan sinar suci atau melihat sesorang yang telah meninggal. dan bergerak sendiri. penderita mencium bau tertentu yang sebenarnya tidak ada di tempat tersebut. penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya. dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba. di mana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan manusia lain atau benda lain.5 b. Ilusi optis adalah ilusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia. penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya. Halusinasi visceral. Contoh: suara angin didengar seperti memanggil namanya. Halusinasi haptik. f.

Pengalaman depersonalisasi menyebabkan distres atau hendaya pribadi yang signifikan pada satu atau lebih area fungsi yang penting. Ciri-ciri diagnostik dari gangguan depersonalisasi berdasarkan DSM-IV-TR adalah a.6 c. Individu tersebut mampu mempertahankan pengujian realitas (contohnya. Ilusi kognitif. b. Pengalaman yang berulang dari depersonalisasi. Biasanya datang secara tiba-tiba dan menghilang secara bertahap. 3) Depersonalisasi Depersonalisasi ialah perasaan aneh tentang dirinya sendiri. Juga dapat muncul suatu perasaan tidak nyata mengenai dunia luar yang mencangkup perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungan sekitar atau dalam perasaan mengenai periode waktu. membedakan kenyataan dari ketidaknyataan) saat keadaan depersonalisasi. d. Mencangkup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan yang biasa mengenai realitas diri sendiri. panjang atau sifat kurva (lurus lengkung)]. diasumsikan terjadi karena anggapan pikiran terhadap sesuatu di luar. Pengalaman ini dapat memiliki karakteristik seperti mimpi. ilusi distorsi [terdapat distorsi ukuran. Depersonalisasi tidak dapat dimasukkan ke dalam gangguan lain atau dalam arti tidak merupakan efek langsung dari obat-obatan. Semua perasaan ini dapat diasosiasikan dengan kecemasan. 4) Derealisasi Derealisasi merupakan perasaan aneh yang muncul tentang linkungannya dan tidak menurut kenyataan. Contoh: perasaan seperti sudah berada diluar badannya (misalnya pengalaman diluar tubuh atau yang sering kita sebut dengan OBE “out of the body experience”. c. 6 . ilusi paradoks [karena objek yang paradoksikal atau tidak mungkin ]. seperti disebabkan karena schizoprenia atau halusinogen]. Ini dibedakan dari “waham hipokhodrik”) dan dari disorientasi terhadap dirinya sendiri. Atau sesuatu bagian tubuhnya sudah bukan miliknya lagi. alkohol atau kondisi medis.dan ilusi fiksional [sebagai persepsi terhadap objek yang sama sekali berbeda bagi seseorang tapi bukan bagi orang lain. seperti fungsi sosial atau pekerjaan. Orang atau obyek dapat tampak berubah ukuran atau bentuk dan dapat pula mengeluarkan suara yang berbeda. yang ditandai oleh perasaan terpisah dari proses mental atau tubuh seseorang seolah-olah menjadi pengamat luar dari dirinya sendiri. Pada umumnya ilusi kognitif dibagi menjadi ilusi ambigu [gambar atau objek bisa ditafsirkan secara berlainan] . atau perasaan bahwa dirinya sudah tidak seperti biasa lagi. Dalam suatu tahap orang merasa terpisah dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya seperti sedang mimpi atau bertingkah laku seperti robot.

bukan keseluruhan objek. hipertensi. Agnosia ini terdiri dari beberapa jenis. nafas rasnya pendek. Obyek visual adalah ketidakmampuan untuk mengenali obyek yang terbagi menjadi: a) Formulir agnosia : pasien hanya merasakan bagian rincian. kepala enteng. orang. Hal ini biasanya berhubungan dengan cedera otak / penyakit syaraf. Agnosia adalah hilangnya kemampuan untuk mengenali benda – benda. 5) Gangguan psikofisiologik Gangguan ini adalah gejala pada bagian tubuh yang disarafi oleh susunan saraf vegetatif yang disebabkan oleh pengaruh gangguan emosi juga. pruritus. vascular headache e. Panca indera: mata berkunang-kunang dan tinnitus 6) Agnosia Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengorganisasikan informasi sensorik agar bisa mengenal benda – benda / hilangnya daya untuk mengenali arti stimuli sensoris macamnya sesuai indranya. urtikaria. muntah-muntah. g. Otot dan tulang: otot tegang sampai kaku c. antara lain: a. diare Alat kemih dan kelamin: sering kencing. Alat pencernaan: lambung perih. merasa berat di dada. perut kembung) d. Visual agnosia dikaitkan dengan lesi kiri lobus oksipital dan lobus temporal. khususnya setelah kerusakan pada lobus temporal. Perubahan fisiologik ini biasanya menyertai keadaan emosi tertentu. Contoh: segala sesuatu yang dialaminya seperti dalam mimpinya (seakan terpisah dari kejadian yang nyata). dan hiperhidrosis b.. f. bentuk / bau sementara arti tertentu tidak cacat juga tidak ada kerugian memori yang signifikan. suara. tenggorokan kering. 7 . b. Alat pernapasan: sindroma hiperventilasi(bernafas berlebihan sehingga dapat menimbulkan rasa pusing. pada umumnya reversible dan biasanya tidak mengakibatkan kerusakan jaringan permanen. Banyak pasien telah cacat parah bidang visual. Perasaan seperti lingkungan fisik dan social sudah berubah.7 termasuk pusing dan ketakutan akan menjadi gila atau dengan depresi. impotensi. Jantung dan pembuluh darah: palpitasi. Kulit: Dermatitis. Gangguan seperti ini mungkin terjadi pada: a.

mereka milik atau membuat sebuah gambar keseluruhan dari rincian. Mereka benar – benar tidak dapat melihat hutan untuk pohon. Mereka tidak bisa melihat adegan. mereka yang agnosia apperceptive tidak mampu untuk menyalin gambar. misalnya. penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan prosopagnosia dapat menunjukkan respons emosional untuk wajah – wajah akrab. Para ahli tidak sepakat tentang penyebab prospagnosia. nama atau pekerjaan. 8 . walaupun tidak secara sadar mengenali orang. Pasien yang menderita agnosia asosiatif dapat mereproduksi gambar melalui penyalinan.8 b) Agnosia finger : ketidakmampuan untuk membedakan jari – jari tangan. Simultanagnosia merupakan gejala umum sindrom balint. Dia mungkin. tahu bahwa garpu adalah suatu yang anda makan dengan tapi mungkin kesalahan untuk sendok. menyalin. atau membedakan antara rangsangan visual yang berbeda. Hal ini hadir dalam lesi yang dominan lobus parietal dan merupakan komponen dari sindrom berst mann. Penurunan dapat bervariasi dari kekurangan perhatian ringan untuk menyelesaikan ketidakmampuan untuk melakukan penalaran spesial berkaitan dengan sisi menderita. e) Apperceptive agnosia : pasien tidak dapat membedakan bentuk visual dan begitu sulit mengakui. d) Agnosia asosiatif : pasien dapat menggambarkan adegan visual. seperti identitas orang tersebut. Gangguan ini mengambil namanya dari sebuah percobaan di mana pasien ditunjukkan benda tercermin dalam cermin dan melihat mereka. tetapi hanya satu persatu. h) Alexia agnosia : ketidakmampuan untuk mengenali teks. kadang – kadang bahkan termasuk mereka sendiri. tetapi tidak dapat menemukan mereka ketika di minta. dan kelas objek tapi masih gagal mengenali mereka. Tidak seperti pasien yang menderita agnosia asosiatif. Terpengaruhnya orang mungkin mampu mengenali seseorang melalui isyarat lain. Penurunan mungkin berbeda dari wajah membuat tidak masuk akan untuk dapat melihat wajah tapi tidak menghubungkan mereka dengan informasi semantik. Hal ini terutama mungkin setelah bilateral (kedua sisi) atau kerusakan lobus temporal kanan. c) Simultanogsia : pasien dapat mengenali objek atau rincian dalam menerka bidang visual. f) Agnosia cermin : pasien tidak dapat mengenali obyek atau aktivitas di kiri atau kanan lapangan pandang mereka. seperti suara yang dikenalnya atau pakaian. Anehnya. g) Prospagnosia : pasien tidak dapat secara sadar mengenali wajah – wajah akrab. Ini mungkin obyek spesifik persepsi.

9 c. Somatosensori agnosia / astereognisa terhubung ke taktil akal yaitu sentuhan. Amusia adalah agnosia untuk musik tuli. Secara pathofisiologi. Kortikal mengacu kepada orang – orang yang tidak menanggapi informasi pendengaran tetapi pendengaran yang utuh. pasien di minta untuk mengidentifikasi bagian – bagian tubuh mereka yang lumpuh atau objek dalam bidang hemivisual mereka. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi deficit primer indra individu atau komunikasi yang dapat mengganggu tes untk diagnosis. e. Tidak ada pengobatan khusus untuk agnosia. terjadinya agnosia karena adanya gangguan visual otaknya atau disfungsi neurologist akibat dari stroke. Adapun pemeriksaan yang menunjang adalah dengan pengujian neuropsychologic dan CT atau MRI dengan atau tanpa protocol angiographic. baru dicatat dan dicantumkan jenis reaksi itu. Pasien menemukan kesulitan untuk mengenali obyek yang sama dari gambar atau membuat gambar dari mereka. d. Pengujian neuropsychologic dapat membantu mengidentifikasi agnosia lebih halus. misalnya: 9 . massa) dan untuk memeriksa atrofi gangguan degeneratif. Jika diduga emineglect. Pada CT atau MRI dengan atau tanpa protocol angiographic digunakan untuk mengarakteriasi lesi sentral (infark. sehingga pada daera tersebut terdapat lesi yang dapat menyebabkan kerusakan syaraf sehingga terjadi berbagai bentuk agnosia. Achromoptasia mengacu pada kekurangan persepsi warna. Agnosia warna : ada perbedaan antara persepsi warna versus pengakuan warna tengah. Agnosia merupakan hasil dari kerusakan dari daerah tertentu di otak lobus oksipital atau parietal otak. Pemikiran untuk dihubungkan ke lesi atau kerusakan di korteks somatosensori. demensia gangguan perkembangan atau kondisi neurologist lainnya. Agnosia auditori : mengacu pada gejala yang mirip dengan lingkungan isyarat non verbal pendengaran. Rehabilitasi terapi okupasi dapat membantu pasien belajar untuk mengimbangi kekurangan mereka. pasien diminta untuk mengidentifikasi objek melalui pengobatan sentuhan atau rasa lain. Tapi terapi tersebut kadang dapat meningkatkan agnosia tergantung pada etiologinya. 7) Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi Sering secara simbolik menggambarkan suatu konflik emosional: dibedakan dari gangguan psikofisiologik dari penipuan atau simulasi dan dari gangguan nerologik (tanda-tandanya sesuai dengan anatomi susunan saraf). perdarahan. Hal ini terpisah dari kata tuli (juga dikenal sebagai kata ketulian murni) yang agnosia terhubung ke informasi verbal pendengaran reseptif. Pada pengujian neuropsychologic. Jika sudah pasti bahwa rekasi itu merupakan reaksi konversi.

Penampilan klien tampak tidak rapih. klien mengatakan lebih suka menyendiri. klien mengatakan orang terdekat dirumahnya adalah ayahnya karena saat klien ada masalah yang melindungi adalah ayahnya. kami mengambil sebuah contoh kasus yang kongkrit dari gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran dari sebuah Karya Tulis Ilmiah berjudul. observasi pengukuran dan diskusi. b.suku bangsa Indonesia. 3. Poncol lautan. Klien mengatakan selama dirumah tidak pernah mengikuti kegiatan di lingkungannya karena malas. “Halusinasi”. rambut klien tampak kotor. status menikah. dengan diagnosa medis skizofrenia paranoid 2. Alasan Masuk RSJ Klien mengatakan dibawa ke Rumah Sakit Umum Duren Sawit oleh petugas panti. Mikropsia: benda-benda kelihatan lebih kecil dari yang sebenarnya. Status Mental a. pada saat itu klien mengatakan mendengar suara bisikan laki-laki yang mengaku sebagai pangeran Charles. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. umur 35 tahun. Psiksosial Hubungan Sosialnya. 10 . e. rambut klien tampak kusut. Gangguan penglihatan atau pendengaran Perasaan nyeri Makropsia: benda-benda kelihatan lebih besar dari yang sebenarnya. pendidikan terakhir SLTP.dari badan klien tercium bau. R. Parehstesia: indera peraba yang berubah.10 a. agama Kristen katolik. kulit klien tampak kotor. umpamanya merasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Anesthesia: kehilangan indera peraba dalam kulit pasien tetapi tidak sesuai dengan anatomi saraf. d. terdapat pada nerosa histerik f. Beberapa data yang didapatkan adalah sebagai berikut: 1. Identitas Klien Nama klien Ny. Klien megatakan malas bergaul dengan orang lain. celana klien tampak kotor. merasa panas atau tebal pada kulitnya. C. klien mulai dirawat pada tanggal 10 juni 2010. c. Contoh Kasus Gangguan Persepsi Dalam pembahasan ini. alamat Jl. Masalah Keperawatan: Isolasi Sosial 4.

klien mengatakan bisikan itu timbulnya pada saat sebelum tidur dan saat bangun tidur. Masalah Keperawatan: Resiko Prilaku Kekerasan. setan. klien mengatakan risih dengan suara bisikan itu. c. Gangguan persepsi yang utama pada skizoprenia adalah halusinasi. klien tampak bicara sendiri. Penangangan medis pada halusinasi pendengaran adalah dengan pemberian obat – obatan dan tindakan lain (Nasution.11 baju klien tampak kotor. gangguan harga diri. klien mengatakan kalau timbul suara bisikan itu langsung tutup telinga. klien tampak kumat-kamit sendiri. Sebelum membahas penanganan kasus di atas. halusinasi menghasilkan tingkah laku yang tertentu. Nada suara klien tampak keras. pandangan mata klien tampak tidak fokus. 2004). klien tampak ketawa sendiri. Halusinasi ini menghasilkan tindakan/perilaku pada klien seperti yang telah diuraikan tersebut di atas (tingkat halusinasi. Masalah Keperawatan: Gangguan sensori persepsi: Halusinasi pendengaran. Masalah Keperawatan: Isolasi social dan Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengarang. Pembicaraan pada saat beriterkasi klien tampak santai. Masalah Keperawatan: Defisit Perawatan Diri. atau mengingkari rangsangan terhadap kenyataan. Biasanya dirangsang oleh kecemasan. yaitu : a) Psikofarmakologis : Obat – obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran yang merupakan gejala psikosis pada klien skizoprenia adalah obat – obatan anti psikosis. klien tampak melamun. karakteristik dan perilaku yang dapat diamati). sehingga halusinasi menjadi bagian hidup klien. klien tampak tidak fokus. klien mengatakan suara bisikan itu selama 6 menit. Interaksi Selama Wawancara Kontak mata klien tampak kurang. Halusinasi pendengaran adalah paling utama pada skizoprenia. suara – suara biasanya berasal dari Tuhan. tiruan atau relatif. d. kancing baju klien tidak sesuai. klien mengatakan bisikan itu mengaku pangeran Charles. klien tampak melamun. b. sebelumnya akan dijelaskan mengenai hubungan skhizoprenia dengan halusinasi. Adapun kelompok yang umum digunakan adalah : 11 . kritis diri. Persepsi klien mengatakan suka mendengar suara bisikan laki-laki.

lingkungan/tempat dan waktu. Setelah itu pasien akan didiamkan sampai tersadar dengan sendirinya. kemudian dokter akan mengalirkan listrik ke otak pada voltase tertentu yang menyebabkan si pasien akan mengalami kejang (seizure) selama beberapa saat. Daftar Obatnya b) Terapi kejang listrik/Electro Compulsive Therapy (ECT) : Electroshock Therapy atau biasa disebut juga dengan ElectroConvulsive therapy merupakan terapi untuk menciptakan seizure (kejang) di otak menggunakan listrik yang dikenakan pada pasien yang telah dibius. pasien akan dibius supaya tidak sadarkan diri dan kemudian diberi obat untuk melemaskan otot. entah kejang di otak saja maupun yang terlihat di tubuh juga. 12 . Sebelum diberi terapi. orang lain. Pasien juga diberi blok karet di mulutnya untuk menghindari penggigitan lidah ketika diberi terapi.12 Tabel 1. Klien yang mengalami gangguan persepsi halusinasi dengar akan dibimbing dengan pengasuhan keperewatan agar perlahan-lahan mampu mengenali halusinasinya dan akhirnya bisa mengendalikan halusinasinya sendiri. Sehingga diharapkan klien dapat mengenali keadaan sekitarnya (kembali ke realitas). Pasien ECT adalah mereka yang memiliki depresi akut dimana sudah tidak bisa diobati dengan obat anti-depressant dan mood swing medication. (Sumber: http://www.electroboy. Hal ini diperuntukkan agar tidak ada otot maupun sumsung tulang belakang yang rusak.com) c) Terapi aktivitas kelompok (TAK): Terapi Aktivitas Kelompok merupakan upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien yaitu diri sendiri. ECT biasanya diterapkan ke pasien melalui beberapa kali pertemuan (6-12) dalam waktu lebih dari 2 minggu.

atau perasaan bahwa dirinya sudah tidak seperti biasa lagi. Diagnostik 4.13 BAB III PENUTUP Dari pembahasan yang telah dijabarkan. B. Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi (secara simbolik menggambarkan suatu konflik emosional: dibedakan dari gangguan psikofisiologik dari penipuan atau simulasi dan dari gangguan nerologik (tanda-tandanya sesuai dengan anatomi susunan saraf). Gangguan untuk persepsi ini bisa berupa halusinasi (persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar pada reseptor-reseptor panca indera. depersonalisasi (perasaan aneh tentang dirinya sendiri. agnosia (Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengorganisasikan informasi sensorik agar bisa mengenal benda – benda / hilangnya daya untuk mengenali arti stimuli sensoris macamnya sesuai indranya).Proses Interaksi. dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. gangguan psikofisiologik (gejala pada bagian tubuh yang disarafi oleh susunan saraf vegetatif yang disebabkan oleh pengaruh gangguan emosi juga).). mengetahui dan mengartikan setelah panca inderanya mendapat rangsangan. Pengumpulan data:Identitas. kwalitas atau hubungan serta perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati.Alasan. dan .).Pembicaraan.Penampilan. Pendapat Penyusun Menurut kami dalam mengatasi gangguan persepsi ini. derealisasi (perasaan aneh yang muncul tentang linkungannya dan tidak menurut kenyataan. Kesimpulan Dari penjabaran pembahasan dapat disimpulkan bahwa Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus atau bisa dibilang persepsi merupakan daya/kemampuan seseorang untuk mengenal benda/barang. 3. Observasi dan wawancara 2. ilusi (interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapna yang benar terjadi karena rangsangan pada panca indera).). dalam bab ini akan memaparkan penutup yang berupa kesimpulan dan pendapat penyusun baik mengenai kritik maupun saran.Psiksosial. Penanganan 13 . A.

lebih baik langsung gunakan persepsi untuk nalar dalam mencari kebenaran dan melakukan respons.14 Dan hindari bermain-main dengan persepi. 14 . Halusinasi dan ilusi dalam perspektif psikiatri berbeda makna dengan asumsi umum yang berkaitan dengan mistis.

J. Bandung : CV. 2003. Pengatar Psikologi Umum. Efektifitas Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Halusinasi Terhadap Penurunan Kecemasan Klien Halusinasi Pendengaran di Ruang Sakura RSUD Banyumas.1994. Nasution. Psikologi Abnormal. Lynn. 2004. USU Digital Library. Diakses tanggal 05 Maret 2012.15 DAFTAR PUSTAKA Atkinson. 2006.. 2004.. Nevid. Sitanggang. Greene B. Jogjakarta : IRCiSoD Walgito. Gangguan Persepsi Sensori: Hlusinasi Pendengaran. http://amaliarahmah. vol.Pengantar Psikologi. 3 no. Kamus Psikologi. Personality Psychotherapy. ARMICO Wilcox. Jakarta : ERLANGGA Rahman. Jogjakarta : ANDI 15 . Henry. 2008). amalia. 1 (Maret.1992.A. Rathus S. dkk.Bimo.wordpress. Januarti. Rita L. edisi 11. Batam : INTERAKSARA Isnaeni. Jilid 1.. dkk. Mahmun L.S. ElectroConvulsive Therapy – ECT. Jurnal Keperawatan Soedirman.com/2010/03/03/electroconvulsive-therapy-ect/.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful