Hakikat Sabar (1

)
Kategori Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus | 02-07-2008 | 87 Komentar

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa‟id, hal. 95) Pengertian Sabar Syaikh Muhammad bin Shalih Al „Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24) Macam-Macam Sabar Syaikh Muhammad bin Shalih Al „Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam: 1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah 2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah 3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24) Sebab Meraih Kemuliaan Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa‟di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih. Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta‟ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45). Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta‟ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra‟d [13] : 24). Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75). Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta‟ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra‟il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375) Sabar Dalam Ketaatan Sabar Dalam Menuntut Ilmu Syaikh Nu‟man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya. Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13) Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

hal. tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan.” (Taisirul wushul. Al Furqaan [25]: 31). demi Allah. 122). .” (QS. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. bid‟ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya. „Dia adalah tukang sihir atau orang gila‟.” (QS. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran. 122-123) Lihatlah keteguhan Sa‟ad bin Abi Waqqash radhiyallahu „anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. hal. “Wahai Ibu. Maka wajib bagi para da‟i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan. “Allah ta‟ala berfirman kepada Nabi-Nya. Allah ta‟ala berfirman yang artinya. kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka. Namun dengan tegas Sa‟ad bin Abi Waqqash mengatakan. maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da‟i ini meskipun dia sudah mati. Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. hal. hal.Syaikh Nu‟man mengatakan. yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan. “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang. begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. hal. “Demikianlah. Adz Dzariyaat [51]: 52). “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu. Al An‟aam [6]: 34). 133) Inilah akidah. 24) Sabar di atas Islam Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu „anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran. Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya. sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran. 13-14) Sabar dan Kemenangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al „Utsaimin rahimahullah berkata. andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da‟i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Namun. “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. hal. maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami. dan terkadang berbentuk gangguan fisik. demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka. inilah kekuatan iman. “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat. 13) Sabar Dalam Berdakwah Syaikh Nu‟man mengatakan. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.” Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da‟i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya. Begitu juga Allah „azza wa jalla berfirman. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari‟at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida‟ wal ahwaa‟ yang menghalangi di hadapannya. hendaknya para da‟i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu „alaihim. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu „alaihi wa sallam. Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul. karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid‟ah dan hawa nafsu.

anak. kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri.” (QS. akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. didustakan. Jadi.” Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan. “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka. III/624). hal. sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan. ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini. dll. dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan. dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi. Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan. kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan. dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk). 200) Sabar Menjauhi Maksiat Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan. “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat. Janganlah mendekatinya. Ada yang tertimpa kemiskinan harta. dituduh yang bukan-bukan. itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam. Maka bersabar itu harus. hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak „ala Shahihain. Mereka disakiti. sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran.” (QS. “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan. Al „Ankabuut [29] : 40). Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. Ingatlah juga janji Allah yang artinya. dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka.” (QS.” (HR. “Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta‟ala.” (QS. “Maka masingmasing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya. Ahmad. maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan.Saudaraku. 15-17) Sabar Menerima Takdir Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai. begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. hal. Ali „Imran [3] : 102). “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hambaNya. diperangi. sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah „azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur‟an. karena bahaya dunia. Ath Thalaq [65] : 23). dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul. kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta. Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Ingatlah firman Allah ta‟ala yang artinya. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. ada pula yang binasa karena disambar petir. Sebagaimana difirmankan Allah „azza wa jalla. baik yang terkait dengan nyawa. meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. baik yang berupa kehilangan harta. bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara. “Ketahuilah. harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul. namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah. Huud [11] : 114). (Syarh Arba‟in Ibnu „Utsaimin. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan. salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. hal.” (HR. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini. alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. 15-17) Sabar dan Tauhid . ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur. “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. bahkan ada juga yang dikucilkan. niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi.

atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib. Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari‟at (untuk mengerjakan sesuatu). Orang Arab mengatakan. sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan. ash shabru „ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. “Bab Minal iman billah. Dia berkata. Maka menurut istilah syari‟at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar‟i. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa „ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. atau berupa larangan syari‟at (untuk tidak mengerjakan sesuatu). sabar dalam berbuat taat. Sehingga setiap . ash-shabru „ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah) Syaikh Shalih bin Abdul „Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta‟ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini. Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah. Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa „ala kepada Nabi-Nya shallallahu „alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari „Iyaadh bin Hamaar. Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. tanpa ada perlawanan atau peperangan. menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya. “Di dalam al-Qur‟an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih.Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta‟ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul. Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta‟ala berfirman: „Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. merobek-robek kain dan semacamnya. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran. tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan” Perkataan beliau “Bab Minal imaan. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang. Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah. Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Imam Ahmad rahimahullah berkata. menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi. Ia menempati relung-relung hati. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan. Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari‟at serta menjauhi larangan syari‟at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini.” Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri. Secara bahasa sabar artinya tertahan. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu‟. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan. Sabar adalah bagian iman. gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. semoga Allah merahmati beliau. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran.” Maka hakikat pengutusan Nabi „alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. “Sesungguhnya sabar terbagi tiga. “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh.

392-393) Sabar dan Syukur Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan radhiyallahu „anhu. “Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka diapun merasa ridha” yakni merasa puas terhadap ketetapan Allah “dan ia bersikap pasrah”. yaitu kaum beriman dan kaum yang tidak beriman. Rasa ridha terhadap perbuatan Allah ini termasuk salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Sehingga orang yang beriman memiliki dua nikmat ketika mengalami kesenangan yaitu nikmat dunia dengan merasa senang dan nikmat diniyah dengan bersyukur. beliau mengatakan. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sakit yang dideritanya.muslim. semua urusannya adalah baik. Hal itu dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah. akan tetapi harus dilengkapi dengan melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah. hal. Tazkiyatun Nufus | 02-07-2008 | 12 Komentar Hukum Merasa Ridha Terhadap Musibah Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahu ta‟ala menjelaskan. Namun hal ini hukumnya mustahab (disunnahkan). Inilah salah satu ciri keimanan.389-391) -bersambung insya Allah*** Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel www. Dia merasa ridha dan puas dengan perbuatan Allah. . “Hukum merasa ridha dengan adanya musibah adalah mustahab (sunnah). Maka hukum merasa ridha terhadapnya adalah mustahab. Sedangkan apabila seorang mukmin menerima nikmat diniyah maupun duniawiyah maka dia bersyukur yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar.” (HR. Karena syukur bukan saja mencakup ucapan syukur di mulut saja. yaitu terhadap musibah itu sendiri.cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Sehingga inipun baik bagi dirinya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia bersabar dan tabah menunggu datangnya jalan keluar dari Allah serta mengharapkan pahala dengan kesabarannya itu. Adapun ridha memiliki dua sudut pandang yang berlainan: Sudut pandang pertama: terarah kepada perbuatan Allah jalla wa „ala.id Hakikat Sabar (2) Kategori Akhlaq dan Nasehat. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Oleh karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan antara ridha dengan sabar. Seorang hamba merasa ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala sesuatu.or. Dia merasa ridha terhadap pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah jalla wa „ala. Maka ini baik baginya. Dengan demikian dia memperoleh pahala orang-orang yang sabar. “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan hartanya. Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib. Dia merasa puas dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah. Muslim) Syaikh Al „Utsaimin menjelaskan bahwa manusia dalam menghadapi takdir Allah yang berupa kesenangan dan kesulitan terbagi menjadi dua. Adapun orang yang beriman bagaimanapun kondisinya selalu baik baginya. bukan wajib. Maka itu pun baik baginya. Sudut pandang kedua: terarah kepada kejadian yang diputuskan. Sedangkan kesimpulan yang pas untuk itu adalah sebagai berikut. Karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi (perbuatan) Allah jalla jalaaluhu.” (At Tamhiid. “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam pernah bersabda. Maka itu baik baginya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan anaknya. Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridha yang hukumnya wajib) Alqamah mengatakan. Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan menafikan kesempurnaan tauhid (yang harus ada). dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. hal.

Muslim. Dan gantikanlah ia dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (Hadits riwayat At Tirmidzi dengan nomor 2396 di dalam Az Zuhud. (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin. Musibah itu sendiri terjadi dengan perbuatan Rabb „azza wa jalla sekaligus sebagai rahmat untuk manusia. Dan kita pasti akan kembali kepada-Nya. wal „iyaadzu billaah. kekufuran yang jelas. Karena orang kafir itu tidaklah menyantap makanan atau menikmati minuman kecuali dia pasti mendapatkan dosa karenanya. 2/632. Barang siapa yang diuji dengan suatu musibah lantas diberikan karunia kesabaran oleh Allah maka sabar itulah nikmat bagi agamanya. mendoakan kebinasaan. memprotes takdir. Ia juga menuntut kesabaran sehingga orang yang tertimpanya justru diberi pahala. Ia juga diriwayatkan oleh Al Haakim dalam Al Mustadrak (1/349. Dan apabila dia memuji Rabbnya atas musibah yang menimpanya niscaya dia juga akan memperoleh pujian-Nya. Allahumma‟jurnii fii mushiibatii wa ahklif lii khairan minhaa Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah. hal.” (HR.” “Sesungguhnya ada di antara orang-orang yang apabila mendapat ujian dengan kemiskinan. Sedangkan apabila mendapatkan kesenangan dia tidak bersyukur kepada Allah. bukan dari sisi musibahnya itu sendiri.Adapun orang kafir.” (QS. beliau berkata: Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. kecuali apabila musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa. Mereka memakannya padahal itu haram bagi mereka dan pada hari kiamat nanti mereka akan disiksa karenanya. Sehingga semua rezeki tersebut diperuntukkan bagi kaum beriman saja pada hari kiamat nanti. meninggalkan sebagian kewajiban yang dibebankan padanya dan malah berkubang dengan berbagai hal yang diharamkan sehingga berakibat semakin membahayakan agamanya. 353-354) Doa Apabila Tertimpa Musibah Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‟uun. 96-97) . dengan ringkas. Al Baqarah [2]: 156) Ampunan dari Allah atas dosa-dosanya juga akan didapatkan. 4/376 dan 377). Musibah itulah yang melahirkan sikap kembali taat dan merendahkan diri di hadapan Allah ta‟ala serta memalingkan ketergantungan hatinya dari sesama makhluk. berikanlah ganjaran pahala atas musibah hamba. mencela masa dan caci maki lainnya. “Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat. wal „iyaadzu billaah. begitu pula derajatnya pun akan terangkat. “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. hal. lihat Hishnul Muslim. Barang siapa yang merealisasikan sabar yang hukumnya wajib ini niscaya dia akan memperoleh balasan-balasan tersebut” Selesai perkataan Syaikhul Islam. Adapun orang-orang yang tidak beriman maka nikmat itu bukan menjadi hak mereka. akan tetapi lain halnya bagi orang kafir. dan berbagai maslahat agung lainnya yang muncul karenanya. Setelah dosanya terhapus karenanya maka muncullah sesudahnya rahmat (kasih sayang dari Allah). “Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah dan rezeki yang baik-baik yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya.Al A‟raaf [7]: 32). sakit atau terluka justru menyebabkan munculnya sikap munafik dan protes dalam dirinya. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Bab tentang kesabaran menghadapi musibah. Sehingga bagi orang kafir kesenangan maupun kesulitan adalah sama-sama buruknya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat. Beliau mengatakan: hadits ini hasan gharib. bila ditilik dari sudut pandang musibah yang menimpa agamanya. maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Apabila tertimpa kesulitan mereka tidak mau bersabar. (Lihat Fathul Majiid. maka musibah yang menimpa orang semacam ini sebenarnya adalah nikmat diniyah. dan Allah ta‟ala maha terpuji karena perbuatan-Nya tersebut. mereka berada dalam keadaan yang buruk sekali. Meskipun hal itu bagi orang mukmin tidak dinilai dosa. Ia tercantum dalam Ash Shahihah karya Al Albani dengan nomor 1220) Syaikhul Islam mengatakan. Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Maka bagi orang semacam ini kesehatan lebih baik baginya. Ya Allah.” (QS. bahkan tidak mau terima. “Mereka itulah orang-orang yang diberikan pujian (shalawat) dari Rabb mereka dan memperoleh curahan rahmat. Karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk. Sebagaimana halnya orang yang dengan musibahnya bisa melahirkan sikap sabar dan tunduk melaksanakan ketaatan. atau bahkan penyakit hati. Hal ini bila ditilik dari sisi dampak yang timbul setelah dia mengalami musibah. Maka kesenangan yang dialami oleh orang-orang kafir di dunia ini kelak di akhirat akan berubah menjadi siksaan. Katakanlah: itu semua adalah untuk orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia yang akan diperuntukkan untuk mereka saja pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah ta‟ala yang artinya. Apabila itu yang terjadi maka ia menjadi keburukan baginya. I/107-108) Hikmah di Balik Musibah Dari Anas.

” (QS. dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang. ia menyimpan perasaan marah di dalam hati kepada Allah. Nabi bersabda. “Dan musibah apapun yang menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan tangan-tangan kalian. “Barang siapa yang diinginkan baik oleh Allah maka pasti Dia timpakan musibah kepadanya. Hal ini adalah haram. Oleh karena itu musibah yang menimpa dirinya maka itu sesungguhnya timbul dikarenakan dosa-dosa yang diperbuatnya serta kekurangannya sendiri dalam menjalankan perintah Allah. dan juga para hamba Allah yang shalih. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Apabila dia tertimpa kebaikan dia pun merasa tenang. “Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Sehingga dengan demikian maka bencana itu merupakan hukuman yang di segerakan. “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan : Tingkatan Pertama: Marah Tingkatan ini meliputi beberapa macam keadaan: Kondisi pertama. “Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi. diterjemahkan dari website beliau) Marah Saat Tertimpa Musibah ? Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang marah tatkala tertimpa musibah ? Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab. Sehingga dia pun menjadi marah terhadap apa yang sudah diputuskan Allah. . Hal itu sebagaimana diceritakan di dalam sebuah hadits dari beliau shallallahu „alaihi wa sallam. lalu bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa bencana itu merupakan ujian ataukah kemurkaan dari sisi Allah ? Syaikh Abdul „Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab. Dan juga dia bisa menjadi contoh untuk orang lain dalam hal kesabaran dan keyakinannya untuk berharap pahala. Seperti dengan mendoakan kecelakaan dan kebinasaan atau ucapan semacamnya. kesedihan maupun gangguan yang menimpa seorang mukmin melainkan Allah pasti menghapuskan sebagian dosa kesalahan-kesalahannnya. Adapun kondisi sebagian besar umat manusia yang ada ialah fenomena taqshir/meremehkan dan tidak menunaikan kewajiban yang telah dibebankan. ini juga haram. Dan apabila dia tertimpa ujian maka dia pun berbalik ke belakang. Sedangkan apabila yang mengalami musibah adalah termasuk golongan hamba Allah yang shalih. Dan bisa juga hal itu terjadi demi menghapuskan dosa kesalahan-kesalahan. sebagaimana halnya musibah yang ditetapkan oleh Allah menimpa para Nabi dan sebagian orang yang baik/shalih. Al Hajj [22]: 11). hingga rugilah dia dunia dan akhirat. sebagaimana tercantum dalam firman Allah ta‟ala yang artinya. kemarahannya diekspresikan dengan ucapan. Terkadang dengan hal itu Allah menguji mereka supaya bisa menaikkan derajat mereka serta meninggikan sebutan mereka dan juga demi melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. keletihan. sebagaimana tercantum dalam firman Allah Yang Mahasuci yang artinya.” (QS. dengan kesempitan dan kelapangan. entah berupa penyakit tertentu ataupun musibah yang lainnya. kemudian diikuti oleh orangorang lain yang berada di bawah tingkatan mereka. Sehingga hasil yang ingin diraih dengan sebab terjadinya musibah ialah terangkatnya derajat. “Barang siapa yang melakukan kejelekan pasti akan dibalas. Sedangkan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambaNya maka Allah menahan hukuman atas dosa itu hingga terbayarkan kelak pada hari kiamat.” Namun terkadang bisa juga hal itu merupakan hukuman yang di segerakan disebabkan perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan dan kelambatan diri dalam bertaubat. maka sesungguhnya hal ini termasuk kategori ujian yang diberikan kepada kalangan para Nabi dan Rasul dalam rangka mengangkat derajat serta membesarkan balasan pahalanya. “Allah „azza wa jalla menguji hamba-hambaNya dengan bentuk kesenangan dan kesulitan. peningkatan pahala. An Nisaa‟ [4] : 123).” Dan terkadang Allah juga menimpakan hal itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa-dosa (yang mereka lakukan). bahkan sampai duri yang menusuk bagian tubuhnya. kekalutan. Yang demikian itu sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasul „alaihimush shalatu was salaam. (Majmu‟ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi‟ah juz 4.” Dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. Sebagaimana sudah disabdakan oleh Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Allah ta‟ala berfirman yang artinya. Bahkan terkadang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam kekafiran. Asy Syura [42]: 30).” (QS. penyakit. Kondisi kedua. Tirmidzi. dinilainya hasan).” (HR.Pertanyaan: Apabila ada seseorang yang terkena suatu penyakit atau tertimpa suatu bencana yang berakibat buruk bagi diri atau hartanya. “Tidaklah ada sebuah kesusahan. “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka Allah segerakan hukuman baginya di alam dunia.

artinya tanpa batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran tertentu. dan kami juga akan kembali kepada-Nya”. kesesatan serta kerugian. dan buah-buahan. Dia tidak merasakannya sebagai sebuah beban yang sangat berat. Seperti dengan menampar-nampar pipi. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim. bahkan sekalipun duri yang menusuknya. “Bersabarlah kalian. Tingkatan Kedua: Bersabar Hal ini sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair dalam syairnya. Sehingga terjadi atau tidaknya musibah itu masih terasa berbeda baginya. namun dia masih tetap bersabar. Al Baqarah [2]: 155157). Bukhari (5640) dan Muslim (2572)). bahkan terkadang bisa menjadi sumber penambahan amal kebaikannya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‟di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya. dan bukan hal yang wajib menurut pendapat yang kuat. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah. Yaitu karena dalam tingkatan ini ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. yaitu hamba tidak merasa marah karenanya. kelaparan serta kekurangan harta benda. mencabuti rambut dan perbuatan semacamnya. “Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah. Sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. merobek-robek kain pakaian. kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu. hal.” (QS. Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‟di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya. Namun imannya masih bisa menjaganya untuk tidak marah. Yaitu dengan justru bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Betapa jauhnya perbedaan antara kedua golongan ini. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan shalawat (pujian) dari Tuhan mereka. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.”Ayat ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. (Diterjemahkan dengan penyesuaian redaksional dari Fatawa Arkanil Islam. Perbuatan ini semua haram hukumnya dan meniadakan sifat sabar yang wajib ada.Kondisi ketiga. Sehingga ada dan tidaknya musibah adalah sama saja baginya. jiwa. “Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas. Al Alnfaal [8]: 46). Dia merasa tidak senang atas kejadiannya. Az Zumar [39]: 10). Dia sadar bahwa pada hakikatnya musibah adalah faktor penyebab terhapusnya dosa-dosanya. Tingkatan Ketiga: Merasa Ridha Yaitu seseorang bisa merasa ridha dengan musibah yang menimpanya.” (QS. Dan hal ini adalah tingkatan yang wajib. Allah berfirman yang artinya. Sabar itu memang seperti namanya Pahit kalau baru dirasa Tapi buahnya yang ditunggu-tunggu Jauh lebih manis daripada madu Dia melihat bahwa musibah ini adalah sesuatu yang sangat berat akan tetapi dia tetap bisa tabah dalam menanggungnya. Ini adalah tingkatan yang sangat dianjurkan/mustahab.” (HR. sehingga dia pun merasa lapang dalam melakukannya. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan. “Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bersabar maka dia berhak menerima lawan darinya. hal. Sabar dari kemaksiatan kepada-Nya. Adapun dalam tingkatan sebelumnya terjadinya musibah itu masih dirasakan sebagai sesuatu yang sukar baginya. yaitu dengan cara tidak berkubang di dalamnya. Sebab Allah ta‟ala telah memerintahkan untuk bersabar. “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut. Betapa kecilnya keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan tidak bersabar…” (Taisir Karimir Rahman. Tingkatan Keempat: Bersyukur Inilah tingkatan yang tertinggi. Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya cukup jelas. 76) Allah ta‟ala juga berfirman yang artinya. kemarahannya sampai meluap sehingga terekspresikan dengan tindakan anggota badan. 126-127) Balasan Bagi Orang yang Sabar Allah ta‟ala berfirman yang artinya.” (QS. siksaan. berupa celaan dari Allah. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena .

Asy Syuura: 30). (Apabila anda melakukan hal itu). Sehingga. beliau mengatakan. (Oleh karena itu). maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. “(yaitu) Surga „Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya. maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat. dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Selesai disusun ulang. ed). Kedua. 721) Surga Bagi Orang yang Sabar Allah ta‟ala berfirman yang artinya. baik itu gerakan. Dia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya. Oleh karenanya. َّ َ ُ َ َ ِ ْ َ َّ ٌ َ َ َ َ ‫ما وَضل بََلء إال بِزوب وال سفِع إال بِتَوْ بَت‬ ِ . hendaknya seorang mengakui akan segala dosa yang telah diperbuatnya dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya). hal. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. diam dan keinginannya. Kamis 8/1/1428 Abu Mushlih Al Jukjakarti Semoga Allah mengampuninya Tips Bersabar (2): Sabar Ketika Disakiti Orang Lain Kategori Tazkiyatun Nufus | 28-02-2010 | 26 Komentar Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu seorang hamba untuk dapat melaksanakan kesabaran jenis kedua (yaitu bersabar ketika disakiti orang lain. hendaknya dia mengakui bahwa Allah ta‟ala adalah Zat yang menciptakan segala perbuatan hamba.” (Taisir Karimir Rahman. pasti akan terjadi. [Di antaranya adalah sebagai berikut:] Pertama. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu dan janganlah anda melihat tindakannya terhadapmu. apabila anda melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah.” (QS. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat. ed) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Ali bin Abi Thalib radliallahu „anhu pernah mengatakan sebuah kalimat yang indah. istri-istrinya dan anak cucunya.” Maka (pada kondisi demikian. tidak ada satupun benda meski seberat dzarrah (semut kecil. dan menunjukkan pula bahwa Allah lah penolong segala urusan. beristighfar dan mengucapkan. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki Allah untuk terjadi. Wa shallallahu „ala Nabiyyina Muhammadin wa „ala aalihi wa shahbihi wa sallam. musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi kenikmatan. (sambil mengucapkan): “Salamun „alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian).begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah. ْ َ َّ ٌ ْ َ َّ ٌ ْ َ َّ َ ُ ًَُ‫الَ ٌَشْ جون عبذ إِالَّ سبًَُّ الَ ٌَخَ افَه عبذ إال روب‬ َ “Hendaknya seorang hamba hanya berharap kepada Rabb-nya dan hendaknya dia takut terhadap akibat yang akan diterima dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya. ََْ ُْ ِْ ْ ََ َ َ ٍ ِ ُ ْ ِ ُْ َ ‫وما أَصابَكم مه مصٍبَت فَبِما كسبت أٌَذٌكم وٌعفُو عَه كثٍش‬ َ َ ٍ َِ ْ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu. hamba adalah „alat‟. sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala musibah yang menimpanya dikarenakan dosa-dosanya yang telah lalu.”[1] Dan terdapat sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan selainnya. maka anda akan terbebas dari segala kedongkolan dan kegelisahan. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah dia perbuat sebagaimana firman Allah ta‟ala. Ar Ra‟d: 23-24). maka pasti tidak akan terjadi. Maka segala sesuatu yang dikehendaki Allah untuk terjadi. maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang dia alami justru adalah musibah yang hakiki.

maka hal itu akan menyebabkan hatinya selamat dari (berbagai kedengkian dan kebencian kepada saudaranya) serta hatinya akan terbebas dari keinginan untuk melakukan balas dendam dan berbuat jahat (kepada pihak yang menzaliminya). Keutamaan ini telah diberitakan oleh rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam melalui sabdanya. maka Allah justru akan memberikan kemuliaan kepadanya. Ditinjau dari segi penunaian balasan. (Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam batin. [2] golongan yang moderat yang hanya membalas sesuai haknya dan [3] golongan yang muhsin (berbuat baik) karena memaafkan pihak yang menzalimi dan justru meniggalkan haknya untuk membalas. َ‫وّللاُ ٌُحبُّ المحْ سىٍِه‬ ِ ُ ْ ِ َّ َ “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Allah ta‟ala menyebutkan ketiga golongan ini dalam ayat di atas. َّ َ ُ َ َ َ ْ َ ْ ِ‫أَالَ لٍَِقُم مه وجب أَجْ شيُ علَى ّللا‬ “Perhatikanlah! Hendaknya berdiri orang-orang yang memperoleh balasan yang wajib ditunaikan oleh Allah!”[2] (Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan). ًّ ِ ‫وما صَ اد ّللاُ عبذًا بِعفو إِالَّ عضا‬ َ َ ٍ ْ َ ْ َ َّ َ “Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf. dia (dapat) tercakup dalam firman Allah ta‟ala. Kelima. (Dengan melaksanakan perbuatan di atas). maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata. bagian pertama bagi mereka yang moderat. baik manfaat itu dirasakan sekarang atau nanti. (dengan perbuatan di atas). hendaknya seorang mengetahui pahala yang disediakan oleh Allah ta‟ala bagi orang yang memaafkan dan bersabar (terhadap tindakan orang lain yang menyakitinya). Asy Syuura: 40). Oleh karenanya. Apabila hal ini diiringi dengan pengetahuan bahwa segala pahala tersebut akan hilang jika dirinya menuntut dan melakukan balas dendam. . Manfaat di atas tentu tidak sebanding dengan “kenikmatan dan manfaat” yang dirasakannya ketika melakukan pembalasan. bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas). namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin. yaitu [1] golongan yang zalim karena melakukan pembalasan yang melampaui batas.“Musibah turun disebabkan dosa dan diangkat dengan sebab taubat. Keempat. (Dengan demikian). manusia terbagi ke dalam tiga golongan. (Sehingga) dia memperoleh kenikmatan memaafkan yang justru akan menambah kelezatan dan manfaat yang berlipat-lipat. namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar.” (QS. maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan (setiap pihak yang telah menzaliminya). dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi kegembiraan yang pernah dirasakannya. maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang kecurian satu dinar. tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (senantiasa) memaafkan dan bersabar (terhadap gangguan orang lain kepada dirinya).” Ketiga. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Hendaknya dia juga) mengetahui panggilan malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata. hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dia memaafkan dan berbuat baik. “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. maka hal itu hanya akan mewariskan kehinaan di dalam dirinya. namun mewariskan kehinaan batin. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya.” (QS.”[3] (Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. Apabila dia memaafkan. hendaknya dia mengetahui bahwa seorang yang melampiaskan dendam semata-mata untuk kepentingan nafsunya. Ali Imran: 134).

maka waktunya akan terbuang sia-sia dan hatinya pun akan terpecah (tidak dapat berkonsentrasi untuk urusan yang lainpent). Dan kemungkinan hal ini lebih berbahaya daripada musibah yang ditimbulkan oleh berbagai pihak yang menzhaliminya. Kesepuluh. ketika para mujahid yang berjihad di jalan Allah kehilangan nyawa dan harta. tentu dia tidak lagi memperoleh ganti rugi dari Allah. Oleh karenanya. maka dia akan dianugerahi kesabaran dalam mencari sesuatu itu sekadar kejujuran (dan kesungguhan) yang dimilikinya. Dengan demikian. -dan hal ini merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat-. Begitupula hendaknya dia mengetahui bahwa setiap orang yang memaafkan kesalahan manusia terhadap dirinya. Kesembilan. َ‫وّللاُ ٌُحبُّ الصَّابِشٌه‬ ِ َّ َ ِ . ganti rugi menjadi tanggungan Allah. apabila seorang disakiti atas tindakan yang dia peruntukkan kepada Allah (ibadah-pent). sehingga balasannya menjadi tanggungan Allah. Maka bagaimana bisa salah seorang diantara kita melakukan pembalasan dan pembelaan untuk diri sendiri. hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dirinya disibukkan dengan urusan pelampiasan dendam. Allah ta‟ala berfirman. padahal dia tahu kondisi jiwanya sendiri serta kejelekan dan aib yang terdapat di dalamnya? Bahkan. bahwa setiap orang yang memang jujur (dan bersungguh-sungguh) dalam mencari sesuatu. Apabila Allah membersamai seorang. Sesungguhnya.Keenam. hendaknya dia mengetahui kebersamaan. Barangsiapa yang menuntut ganti rugi kepada makhluk (yang telah menyakitinya). maka hati dan fisiknya akan merasa “fresh” untuk mencapai berbagai manfaat yang tentu lebih penting bagi dirinya daripada sekedar mengurusi perkara pelampiasan dendam. maka Allah berkewajiban memberikan gantinya. bukan di tangan makhluk. dia wajib bersabar dan tidak boleh melakukan pembalasan. atau dia disakiti karena melakukan ketaatan yang diperintahkan atau karena dia meninggalkan kemaksiatan yang terlarang. Berbagai manfaat justru akan luput dari genggamannya. Apabila dia mengetahui pemaafan dan perbuatan baik yang dilakukannya kepada berbagai pihak yang menzalimi merupakan sebab yang akan mendatangkan pahala bagi dirinya. Hal ini dikarenakan dirinya telah disakiti (ketika melakukan ketaatan) di jalan Allah. maka (pada kondisi demikian). Apabila dia tersakiti karena harta. Jiwa yang paling jauh dari berbagai akhlak yang tercela dan paling berhak terhadap berbagai akhlak yang terpuji. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi. maka hendaknya dia menyibukkan diri dengan mencela dirinya sendiri. Realita ini diketahui oleh manusia. Apabila dia memaafkan. maka tentulah (dia akan mudah) memaafkan dan berbuat kebajikan dalam rangka (menebus) dosa-dosanya. Dan orang yang memohonkan ampun setiap manusia yang berbuat salah kepada dirinya. maka Allah pun akan mengampuninya. seorang yang mengalami kerugian (karena disakiti) ketika beribadah di jalan Allah. maka Allah pun akan memaafkan dosa-dosanya. (Hendaknya dia menyadari) bahwa dirinya adalah seorang yang zalim lagi pendosa. Manfaat ini tentu sangat mencukupi seorang yang berakal (agar tidak melampiaskan dendamnya). Apabila dia tersakiti akibat musibah yang menimpanya. Kedelapan. maka segala bentuk gangguan dan bahaya -yang tidak satupun makhluk yang mampu menolaknya. Meskipun demikian. Setiap orang yang tidak mampu bersabar terhadap panas terik di siang hari. tersuci dan terbaik. kecintaan Allah dan ridla-Nya kepada dirinya apabila dia bersabar. Karena dengan demikian. seorang yang arif tentu (menyadari bahwa) jiwanya tidaklah pantas untuk menuntut balas (karena aib dan kejelekan yang dimilikinya) dan (dia juga mengetahui bahwa jiwanya) tidaklah memiliki kadar kedudukan yang berarti sehingga patut untuk dibela. maka tentu dia tidak usah berdagang.akan tertolak darinya. karena mendapatkan harta tanpa dibarengi dengan kesabaran merupakan perkara yang lebih pahit daripada kesabaran itu sendiri. mereka tidak memperoleh ganti rugi karena Allah telah membeli nyawa dan harta mereka. Ketujuh. terpaan hujan dan salju serta rintangan perjalanan dan gangguan perampok. maka hendaknya dia berusaha menyabarkan jiwanya. padahal menyakiti beliau termasuk tindakan menyakiti Allah ta‟ala dan menyakiti beliau termasuk di antara perkara yang di dalamnya berlaku ketentuan ganti rugi. sesungguhnya pelampiasan dendam yang dilakukannya merupakan bentuk pembelaan diri yang dilandasi oleh keinginan melampiaskan hawa nafsu. dirinya tersibukkan (untuk mengoreksi diri dan itu lebih baik daripada) dia mencela berbagai pihak yang telah menyakitinya. yaitu hendaknya dia mengetahui bahwa setiap balasan itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. Jiwa beliau adalah jiwa yang termulia. beliau tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi (jiwanya) (terhadap berbagai pihak yang telah menyakitinya).

” (QS. Tatkala dirinya tunduk dan mendengar hawa nafsu serta terkalahkan olehnya. Seorang yang berakal. ْ ْ )43( ‫ ادفَع بِالَّتًِ ًٌ أَحْ سهُ فَإِرا الَّزي بٍَىَكَ وبٍَىًَُ عذَاوةٌ كأَوًَُّ ولًِ حمٍم (34) وما ٌُلَقَّاٌَا إِال الَّزٌهَ صبَشُوا وما ٌُلَقَّاٌَا إِال رو حظٍّ عَظٍم‬ô َ ُ َّ َ َ ٌ ِ َ ٌّ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ َ ِ َّ ٍ ِ َ َ َ َ َ ِ “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka Allah adalah penolong bagi setiap orang yang bersabar dan memasrahkan setiap pihak yang menzaliminya kepada Allah. Keenam belas. maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya sendiri sehingga dia pun menjadi penolongnya. harta dan kemuliaan yang tetap langgeng ketika pihak yang dizalimi menempuh jalan memaafkan. karena kemarahan (ketika melakukan pembalasan dendam) akan berjalan bersama pemiliknya menuju batas yang tidak dapat ditentukan (melampaui batas. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Betapa banyak pembalasan dendam justru menimbulkan berbagai keburukan yang sulit untuk dibendung oleh pelakunya. yang menunggu pertolongan dan kemuliaan.“Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” (QS. Sehingga dengan demikian. setelah menyakiti dirinya. Dan Allah-lah yang akan membela orang-orang yang beriman. pent-). maka tentu Allah-lah yang menjadi penolongnya. Jika demikian. Kedua belas. Apabila dirinya bersabar dan memaafkan pihak yang menzhaliminya. Fushshilaat: 34-35). maka dia akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan di atas. hendaknya dia mengetahui bahwa tatkala dia bersabar . sebaik-baik penolong dengan seorang yang ditolong oleh hawa nafsunya yang merupakan penolong yang paling lemah? Keempat belas. Kesebelas. Kelima belas. apakah akan sama kondisi antara seorang yang ditolong Allah. Oleh karena itu. maka kerajaan hati akan menang dan bala tentaranya akan kokoh dan menguat sehingga segenap musuh akan terusir. hawa nafsu tidak mampu membatasi diri dalam melakukan pembalasan dendam sesuai dengan kadar yang dibenarkan. justru berubah menjadi pihak yang zalim. Ali „Imran: 146). maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. pihak yang zhalim akan kembali dalam keadaan malu terhadap pihak yang telah dizaliminya. sebaiknya dia tidak mengganti sebagian iman tersebut dengan pelampiasan dendam. Barangsiapa yang membela hawa nafsunya (dengan melakukan pembalasan). Maka tatkala hawa nafsu terkalahkan. hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran merupakan sebagian daripada iman. yang akan menerima kehancuran dan siksaan. baik ditinjau dari segi pengetahuan (maksudnya hawa nafsu tidak memiliki parameter yang pasti yang akan menunjukkan kepada dirinya bahwa pembalasan dendam yang dilakukannya telah sesuai dengan kezaliman yang menimpanya. Dan betapa banyak jiwa. Oleh karenanya. Demikian pula dia akan menyesali perbuatannya. hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran yang dia laksanakan merupakan hukuman dan pengekangan terhadap hawa nafsunya. pent-). Hal ini juga justru akan memperkuat dorongan hawa nafsu serta menyibukkan pikiran untuk memikirkan berbagai bentuk pembalasan yang akan dilancarkan sebagaimana hal ini sering terjadi. Dengan demikian. Apabila dia bersabar. Terkadang. bahkan bisa jadi pihak yang zalim akan berubah menjadi sahabat karib bagi pihak yang dizhalimi. . Ketiga belas. Inilah makna firman Allah ta‟ala. posisi dirinya yang semula menjadi pihak yang dizalimi. Kesabaran mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu berikut setan yang (menyusup masuk di dalam diri). maka hawa nafsu akan senantiasa mengiringinya hingga nafsu tersebut membinasakannya kecuali dia memperoleh rahmat dari Rabb-nya. maka dia telah memelihara dan menjaga keimanannya dari aib (kekurangan). sesungguhnya seorang yang terbiasa membalas dendam dan tidak bersabar mesti akan terjerumus ke dalam kezaliman. tentu tidak akan memilih perkara yang lebih berbahaya. (ketika kesabaran dijalankan). hawa nafsu tentu akan melakukan pembalasan yang lebih. pent-) dan kehendak (maksudnya ditinjau dari segi kehendak. terkadang pembalasan dendam malah menjadi sebab yang akan menambah kejahatan sang musuh terhadap dirinya. Karena hawa nafsu tidak akan mampu melakukan pembalasan dendam dengan adil. tentu nafsu tidak mampu memperbudak dan menawan dirinya serta menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai kebinasaan. kesabaran yang dilakukan oleh seorang akan melahirkan penghentian kezhaliman dan penyesalan pada diri musuh serta akan menimbulkan celaan manusia kepada pihak yang menzalimi.

Kedua puluh. tanggal 27 Rabi‟ul Awwal 1430 H. Dan terkadang hal ini menjadi sebab keselamatan dan kesuksesan abadi. [2] HR.Ketujuh belas. maka sikapnya tersebut merupakan suatu kebaikan yang akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain. apabila seorang memaafkan. Orang yang Berjalan di Atas Wajahnya Kategori Tazkiyatun Nufus | 02-03-2011 | Belum ada komentar Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : ‫د د‬ ‫د‬ ‫بن‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ب‬ ‫دن‬ ‫ذي‬ ‫د‬ ‫دب‬ ‫ب‬ ‫دن‬ ‫ت‬ ‫ن‬ ‫ب‬ ‫دن‬ . apabila dia membalas dendam dan tidak bersabar. maka dirinya akan merasa lega dan beban yang dahulu dirasakan akan hilang. sehingga kebaikannya akan senantiasa bertambah. Kesembilan belas. Kedelapan belas.muslim. ‫ت‬ ‫ص‬ ‫ذي ب ن ع ت ت تم‬ ‫د هلل‬ [4] Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliauPenerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim Artikel www. Bandung. Oleh karena itu. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan tinggal diam terhadap kezaliman yang dilakukannya tersebut. [4] Selesai diterjemahkan dengan bebas dari risalah Al Qo’idatu fish Shobr. Sesungguhnya setiap orang yang bersabar dan memaafkan pihak yang telah menzaliminya. sang musuh akan senantiasa memandang bahwa kedudukan dirinya berada di bawah kedudukan pihak yang telah dizaliminya. maka kezaliman tersebut tidak akan menghapuskan dosa dan tidakpula mengangkat derajatnya. seluruh hal itu justru akan terluput darinya. Sesungguhnya balasan bagi setiap kebaikan adalah kontinuitas kebaikan (kebaikan yang berlanjut). kezaliman yang diderita akan menjadi sebab yang akan menghapuskan berbagai dosa atau mengangkat derajatnya.or. apabila pihak yang dizalimi memaafkan sang musuh. [3] HR. kesabaran dan pemaafan yang dilakukannya merupakan pasukan terkuat yang akan membantunya dalam menghadapi sang musuh. apabila dia menghina atau menyakiti pihak lain. dia akan menuntut penghalalan dari pihak yang telah dizaliminya. Muslim (2588) dari sahabat Abu Hurairah. Apabila pihak yang dizalimi mengabulkannya. meskipun pihak yang dizalimi mendiamkannya. Oleh karena itu. Apabila pihak yang dizalimi membalas dendam. Lihat ad Durr al Mantsur (7/359). seluruh keutamaan itu akan terluput darinya. sebagaimana balasan bagi setiap keburukan adalah kontinuitas keburukan (keburukan yang terus berlanjut). maka hati sang musuh akan tersadar bahwa kedudukan pihak yang dizalimi berada di atasnya dan dirinya telah menuai keuntungan dari kezaliman yang telah dilakukannya. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih serta selain mereka berdua dari sahabat Ibnu‟ Abbas dan Anas. Dengan demikian. maka sikapnya tersebut akan melahirkan kehinaan pada diri sang musuh dan menimbulkan ketakutan terhadap dirinya dan manusia. Maka tentu hal ini cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan dari sikap memaafkan. anda dapat menjumpai sebagian manusia.id [1] Lihat penjelasan perkataan beliau ini dalam Majmu‟ al Fatawa (8/161-180). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Griya Cempaka Arum K4/7. pada hari Senin. Apabila dirinya melakukan pembalasan dendam.

id Sekarang dan Masa Depan Kategori Tazkiyatun Nufus | 03-12-2010 | 4 Komentar Segala puji bagi Allah. kita harus cerdik dan sabar. Hadits ini menunjukkan adanya hari kebangkitan dan pembalasan amal. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar) Hadits yang mulia ini menunjukkan kepada kita berbagai pelajaran penting. Hadits ini menunjukkan bahwa akal yang sehat akan senantiasa tunduk kepada wahyu bukan malah menentangnya. sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat tersebut dengan memanggil Nabi dengan sebutan Rasulullah bukan dengan langsung menyebut namanya. sungguh benar Allah Maha kuasa untuk melakukannya. kesedihan. kita akan memasuki alam akherat… Ya. al-Furqan : 34). kepalanya berada di bawah dan dia berjalan di atasnya untuk menuju pengadilan Allah ta‟ala (lihat QS. di antaranya : 1. Sesuatu -yang belum jelas. Hadits ini menunjukkan besarnya pengagungan kaum salaf kepada hadits-hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam 17. Maka beliau menjawab. Salawat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman. demikian juga Abdu bin Humaid. 20. Bolehnya bersumpah untuk menegaskan sesuatu tanpa diminta 12. Barangsiapa yang melakukan kebaikan di dunia dengan iman dan amal salih maka akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Hadits ini menunjukkan kemahakuasaan Allah ta‟ala 5. Bagaimana pun senangnya orang kafir di dunia maka di akhirat mereka akan sengsara 3. Seringkali kita tertipu oleh pandangan sekilas. Qatadah berkata. Di dalamnya juga terkandung kewajiban untuk membenarkan firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu „alaihi wa sallam 11. Dia berkata. Syaiban menuturkan kepada kami dari Qatadah. Wallahu a‟lam Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel www. Bolehnya menyebut Allah dengan „Rabb kita‟ 16. Cerdik dalam menyikapi segala . Anas bin Malik menuturkan kepada kami bahwa ada seorang lelaki yang bertanya. sedangkan orang yang hidup di dunia dengan kakfiran dan kedurhakaan maka di akhirat dia akan sengsara 6. Hadits ini menunjukkan sopan santun seorang murid kepada gurunya. hidup kita di alam dunia ini pasti berakhir.menjadi tergambar indah dan menyenangkan dengan sekilas pandangan. mereka berdua berkata. sedangkan lafaznya adalah milik Zuhair. penyesalan dan penderitaan berkepanjangan. Setelah itu. Kita yakini bersama. Subhanallah! Oleh sebab itu. “Bukankah Dzat yang telah membuatnya berjalan di atas kedua kakinya ketika hidup di dunia berkuasa pula untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat kelak?”. Yunus bin Muhammad menuturkan kepada kami. saudaraku… kehidupan dunia dengan seabrek tipuan dan sejuta kepalsuan ini tidak selayaknya melupakan seorang muslim akan hakekat yang sebenarnya dari hidup yang dijalaninya. “Wahai Rasulullah. Maka demikian pula hendaknya seorang murid memanggil gurunya dengan sebutan „Ustadz‟ atau yang semacamnya dan tidak dengan langsung menyebut namanya 4.” (HR. Iman kepada hari akhirat 2. Amma ba‟du.Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya. maka kebalikannya justru yang dijumpai. Bolehnya bersumpah dengan salah satu sifat Allah yang disandarkan kepada-Nya 13. yang mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan penuh kenikmatan. Hadits ini menunjukkan wajibnya menundukkan akal kepada wahyu 18.or. Yang merajai pada hari pembalasan. padahal hanya sekilas saja. Hadits ini merupakan mukjizat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dimana beliau mengabarkan kepada kita sesuatu yang belum terjadi di dunia ini 9. Penetapan sifat rububiyah Allah 15. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam benar-benar seorang manusia yang mendapatkan wahyu dari Allah ta‟ala 8. Namun. Orang kafir akan dibangkitkan dalam keadaan terbalik. Wajibnya mengimani perkara gaib 7. Dia berkata. Penetapan sifat „Izzah bagi Allah 14. Di dalamnya terkandung penetapan sifat qudrah/berkuasa bagi Allah ta‟ala 10. bagaimana cara orang kafir itu dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari kiamat nanti berjalan di atas wajahnya?”.muslim. Hadits ini menunjukkan bahwa akal manusia itu terbatas dan bertingkat-tingkat 19. tidak kekal selamanya. kalau diteliti dan dicermati dampakdampaknya serta ujung-ujungnya. alam pembalasan pahala atau penjatuhan hukuman! Maka. “Demi kemuliaan Rabb kita.

Adapun Rabb (Allah) ta‟ala. al-Hadid: 20). yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. apabila kamu takut kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.muslim. takwa itu mencakup tiga tingkatan: 1.” (al-Fawa‟id. Dan sabar dalam menahan godaan yang menggiurkan dari para penebar kebatilan. al-Jumu‟ah: 8). Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). hal. Ali Imran: 142) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata. hal.” (QS.tiada bahagia tanpa takwa kepadaNya. Menjaga diri dari berlebih-lebihan -dalam perkara mubah. seseorang yang menjual surga demi mendapatkan sesuatu yang mengandung kesenangan hanya sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakekat hidup ini akan keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan.dan segala urusan yang tidak penting. “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja. sementara Allah belum mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan mengetahui siapakah orang-orang yang bersabar. 3. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan diliputi dengan kegembiraan dan sejuk dalam menjalani ketaatan (lihat al-Fawa‟id. 34) Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya. Allahul musta‟aan.or. Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). “Keberuntungan paling besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu kelak di hari akherat. Apabila kamu merasa takut kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya dan menghindar darinya. “Dan kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang palsu. kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah). Menjaga diri dari perkara-perkara yang makruh/dibenci. Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya. “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.macam kepalsuan tersebut agar kita tidak tertipu olehnya. Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel www. al-Mulk: 2). Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa dan keharaman. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan tetap hidup. 34). Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). ia pasti menemui kamu. 2. “Katakanlah.” (QS.id  301 301 301 301 301 301 301 301 301         . Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan sehat dan kuat. Sementara. Allah ta‟ala berfirman (yang artinya).” (QS. Bagaimana mungkin dianggap berakal. menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendalidan menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya. lalu Dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.

makasih 2. terkadang kita suka terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia ini. khususnya diri ini yang berlumuran dg dosa.id dengan menyertakan muslim.or.. . re-publikasi.id kok tak menyediakan forum tanya jawab.. ilham 8 December 2010 at 10:55 am Semoga kita menjadi orang yang selalu menjadi orang yang bertakwa kepada Allah swt. Fahrul 7 December 2010 at 3:17 pm Assalamu`alaikum Saya minta ijin copy-paste.supaya kami bisa berkonsultasi. 4. apalagi di zaman moderen ini..amiin Ya Allah. Bapak'e Hanifah 20 May 2011 at 2:43 am renungan yang bagus. ampuni kami ya Allah yang terlalu sering melupakan-Mu...id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 4 komentar 1.semoga Allah mengampuniku.or.Anda diperkenankan untuk menyebarkan. astaghfirullahal „adhim. dengan ditemukannya berbagai macam fasilitas canggis yang terkadang membuat kita lupa terhadap kehidupan yang sesungguhnya. Oh ya muslim. disadari atau tidak.. copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim....or.^_^ 3. deny 6 December 2010 at 7:06 pm izin share.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful