Komunitas

MASALAH GIZI DI INDONESIA

SRI KUSPARTIANINGSIH (108104000016)

Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

malah timbul masalah lain di daerah lain di Indonesia terutama kota – kota besar. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Banyak gangguan yang akan terjadi bila kejadian itu terus menerus dialami hingga akhirnya orang tersebut dapat mengalami kurang gizi atau yang sering juga disebut gizi buruk. Indonesia merupakan negara berkembang yang masih mengalami masalah nutrisi selain masalah infeksi yang masih banyak dideritanya. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. United Nations (Januari. Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur. Bila hal ini tidak cepat diatasi maka masalah ini benar – benar akan menjadi masalah yang dramatis dalam sebuah Negara. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi . Namun bila suplai makanan terlalu banyak dan tidak diseimbangi oleh olahraga yang teratur. maka bukan hal yang aneh bila orang tersebut dapat mengalami obesitas. Masalah gizi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang belum pernah tuntas ditanggulangi di dunia. Saat kurang gizi belum teratasi.MASALAH GIZI DI INDONESIA Dalam model dan teori keperawatan Virginia Henderson disebutkan salah satu kebutuhan dasar manusia adalah makan dan minum. Apabila suplai makanan ke dalam tubuh tidak adekuat maka tubuh akan mengalami kekurangan dan lemah. Meledaknya kasus obesitas di beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru bagi Indonesia. Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa makanan dan minuman merupakan hal penting dari seorang manusia. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. sumberdaya manusia dan ekonomi. karena dalam satu Negara terjadi dua masalah yang bertolak belakang yaitu kurang gizi dan kelebihan gizi. bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi pada status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact). Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. yaitu masalah obesitas atau kelebihan gizi. karena kasus obesitas berkaitan erat dengan pola makan yang tidak teratur dan berlebih. Dan masalah ini akan menambah beban yang lebih kompleks dan harus dibayar mahal oleh Indonesia dalam upaya pembangunan kesehatan.

Sebagai pokok masalah di masyarakat adalah rendahnya pendidikan. pola asuh anak yang kurang memadai. Gizi Kurang Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. dan angka kematian balita sebesar 58 per-seribu serta angka kematian ibu sebesar 307 per-seratus ribu kelahiran hidup (UNDP. Sedangkan pada tahun 2004. pengetahuan dan keterampilan serta tingkat pendapatan masyarakat. IPM Indonesia menempati peringkat 111 dari 177 negara(UNDP. 2001). sinergi dan memerlukan dukungan lintas sektor. IPM Indonesia urutan ke 112 dari 174 negara (UNDP. Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. kurang baiknya kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. dengan mengikuti siklus kehidupan. masyarakat. . Salah satu indicator keberhasilan yang dapat dipakai untuk mengukur keberhasilan suatu bangsa dalam membangun sumber daya manusia adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index. Secara langsung dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan tidak cukupnya asupan gizi secara kuantitas maupun kualitas. Rendahnya IPM ini dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk.2003). cerdas dan produktif. yang merupakan peringkat lebih rendah dibandingkan peringkat IPM Negara – Negara tetangga. Pada tahun 2003. sedangkan secara tidak langsung dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan. Dalam hal ini untuk mengatasi masalah gizi diperlukan penanganan faktor–faktor secara terintegrasi. Betapa pun kayanya sumber daya manusia alam yang tersedia bagi suatu bangsa tanpa adanya sumber daya manusia yang bagus maka akan sulit diharapkan untuk berhasil membangun bangsa itu sendiri. yang dapat ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian bayi sebesar 35 per-seribu kelahiran hidup. sehat. 2004). Berdasarkan IPM maka pembangunan sumber daya manusia Indonesia belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. LSM dan swasta.dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur.

9 %. dan ibu ini berkaitan dengan buruknya status gizi. balita.5 cm (HKI. Kebutuhan nutrisi juga harus diperbaiki sejak dini. maka secara otomatis yang lain juga mengikuti dan semua akan menjadi lebih naik.000 bayi setiap tahunnya (Depkes. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya masalah gizi yang masih belum teratasi. namun semua itu terlihat cuma – cuma apabila tidak adanya sumber daya manusia yang mengelola dengan baik dan secara otomatis dapat memajukan perekonomian Negara Indonesia. walaupun sumber daya alam kita kaya. Berdasarkan data diatas dapat dlihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tertinggal dalam masalah kesehatan.9 gram lebih rendah dibandingkan rata – rata berat badan lahir bayi yang lahir dari ibu – ibu yang tidak mengalami KEK. 2004).7 % (Depkes. .Perlu diketahui bahwa lebihdari separo kematian bayi. Tingginya angka kurang gizi pada ibu hamil ini mempunyai kontribusiterhadap tingginya angka BBLR di Indonesia yang diperkirakan mencapai 350. Walau pada tahun 2003 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 16. karena tidaklah mungkin kita dapat melahirkan warga yang sehat dan cerdas apabila kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dengan sempurna. Kurang gizi pada ibu hamil Krisis ekonomi di Indonesia terjadi pada tahun 1998 – 2000 telah menjadikan asupan gizi ibu hamil dari masyarakat kurang mampu khususnya menurun secara signifikan dan menjadikan mereka mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) yang didefinisikan dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23. Namun apalah daya. Ibu hamil yang mengalami KEK mempunyai resiko melahirkan bayi dengan BBLR 5 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil yang tidak mengalami KEK (Mustika 2004). Penelitian yang dilakukan akhir – akhir ini menunjukkan dengan jelas bahwa bayi yang lahir dari ibu yang mengalami KEK mempunyai rata – rata berat badan lahir 2. Jadi sebenarnya semua ini adalah kerterkaitan dan berkesinambungan yang tidak bias dipisahkan sehingga bila yang satu diperbaiki. 2000).568 gram atau 390. Sebenarnya masalah gizi akan teratasi dengan cepat dan signifikan apabila keadaan ekonomi dari Negara kita ini sudah membaik. Prevalensi ibu hamil KEK mengalami kenaikkan selama krisis ekonomi yaitu mencapai 24. 2003).

Kurang gizi pada balita Balita merupakan awal atau periode emas dalam pertumbuhan. Pada saat balita inilah suplai nutrisi harus benar – benar adekuat dan bergizi penting. diperkirakan ada 350 000 bayi dengan berat lahir rendah di bawah 2500 gram. atau terjadi penurunan sebesar 10 % (Susenas 2003). akan tetapi setelah tahun 2000 gizi kurang meningkat kembali. Terdapat 14 propinsi dengan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk masih di atas rata-rata nasional dan 15 propinsi di bawah rata-rata nasional.5%. karena pada periode inilah kemampuan tumbuh kembang otak anak mencapai titik yang maksimal.11%). . Gambaran yang terjadi pada gizi buruk yaitu dari tahun 1989 sampai tahun 1995 meningkat tajam. Tahun 2003 prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 27.18%) dan yang tertinggi di propinsi Gorontalo (46. Setiap tahun. Meskipun sampai tahun 2000 penurunan gizi kurang cukup berarti. kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 1989 yaitu sebesar 37. lalu cenderung fluktuatif sampai dengan tahun 2003.5%. Dan dapat kta cermati bahwa hanya daerah – daerah tertentu yang mengalami gizi buruk sedangkan yang lain masih ddalam batas aman terutama pulau jawa. prevalensi yang terendah masalah gizi buruk dan gizi kurang adalah propinsi Bali (16. Jika dilihat berdasarkan sebaran di propinsi (Susenas 2003). sebagai salah satu penyebab utama tingginya kurang gizi pada dan kematian balita. Peta sebaran prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia. Gambaran keadaan gizi balita diawali dengan cukup banyaknya bayi dengan BBLR.

1 %. dyslipidemia. dan penyakit jantung lainnya. 10. Survei obesitas yang dilakukan akhir – akhir ini pada anak remaja siswa/siswi SLTP di Yogyakarta menunjukkan bahwa 7. Lebih darri sepertiga anak usia sekolah di Indonesia tergolong pendek saat masuk sekolah sekitar 36.2004).Kurang gizi pada usia sekolah Sebagai akibat lebih lanjut dari tingginya angka BBLR dan kurang gizi pada masa balita dan tidak adanya perbaikkan pada masa pertumbuhan yang sempurna pada masa berikutnya. Sedangkan pada anak SD prevalensi obesitas mencapai 9.7 % di Yogyakarta (Ismail. Pada kelompok umur 40 49 tahun overweight maupun obesitas mencapai puncaknya yaitu masing – masing 24. 2003). diabetes mellitus. Sehingga angka kematian dapat menghantui penderita obesitas kapanpun. Walaupun terdapat penurunan presentasi dari 39.8 % mengalami obesitas. Gizi Lebih Begitu ironis saat gizi kurang masih tersebar luas dan cukup banyak yang mengalami masalah ini. Angka . 2004). Data tentang obesitas di Indonesia belum bias menggambarkan prevelensi obesitas seluruh penduduk . tapi dibagian daerah lain malah ada yang mempunyai gizi berlebih.1 % penduduk laki – laki dewasa (>= 18 tahun) mengalami overweight (BMI 25 – 27) dan 6. Hal ini merupakan salah satu indicator adanya kurang gizi kronis.8% di Denpasar (Padmiari dan Hadi. Ini merupakan permasalahan yang baru dibandingkan permasalahan gizi kurang.8 % remaja di perkotaan dan 2 % remaja di daerah pedesaan mengalami obesitas (Hadi. 1999) dan 15.5 % mengalami obesitas.1% pada tahun 1999 namun hal ini tidak sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk (Depkes. Survey nasional yang dilakukan pada tahun 1996/1997 di ibu kota seluruh propinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8.4 % dan 23 % pada laki – laki dan 43 % pada wanita (DEPKES. maka tidak heran bila pada usia sekolah banyak ditemukan anak kurang gizi. Bila gizi kurang identik dengan kurangnya atau ketikmampuan dari factor ekonomi sedangkan pada masalah gizi lebih penyebabnya lebih cenderung dari ketidakmampuan menahan nafsu makan yang berlebih sehingga pola makan tidak terkendali.8% pada tahun 1994 menjadi 36. 2002). tetapi data obesitas pada orang dewasa yang tinggal di ibukota propinsi seluruh Indonesia cukup untuk menjadi perhatian kita.5 % penduduk wanita dewasa mengalami overweight dan 13. Yang menghawatirkan dari obesitas adalah penyakit – penyakit yang menyertai seperti hipertensi.

Belum lagi di dukung oleh peraturan otonomi daerah. remaja. Peran Pemerintah Dalam Menghadapi Masalah Gizi Peran pemerintah untuk program gizi masyarakat dengan tujuan penanggulangan masalah gizi. Seharusnya pemerintah pusat lebih mengawasi pendistribusian Vitamin A ataupun zat besi dan juga lebih mengawasi apakah efisien suadah dana keesehatan yang diberikan kepada pemerintah daerah.prevalensi obesitas diatas baik pada anak – anak maupun orang dewasa sudah merupakan warning bagi pemeritah dan masyarakat luas bahwa obesitas dan segala implikasinya sudah merupakan ancaman yang serius bagi masyarakat Indonesia khususnya di kota – kota besar. Meskipun demikian angka kurang gizi di masyarakat terutama pada kelompok rentan masalah gizi seperi bayi. . Namun bila dicermati lebih dalam. balita. dimana pemerintah dapat mengatur daerahnya sendiri. anak seekolah. ibu hamil. dan menyusui. program suplementasi gizi melalui pemberian makana maupun produk zat gizi seperti pil besi dan vitamin A. Dimanakah sebenarnya letak kesalahan daripenatalaksanaan ini. Terapkan sanksi bila perlu agar pemerintah daerah lebih dapat mempertanggungjawabkan dana kesehatannya. Walaupun sudah terdapat banyak program gizi masyarakat yang diterapkan di Indonesia tapi kenapa masih banyak penderita kurrang gizi yang tersebar luas di Indonesia. sudah banyak program yang diluncurkan. anatara lain program edukasi gizi. program fortifikasi bahan makanan seperti fortifikasi iodium pada garam ataupun fortifikasi besi pada tepung. pemerintah daerah malah sibuk dalam membangun rumah sakit yang canggih dan membeli peralatan yang canggih dibandingkan mengtasi permasalahan kurang gizi ini seperti membeli vitamin A. serta lanjut usia masih tetap menjadi masalah.

go.ac.lipi.id/admin/jurnal/581208491494.pdf. diakses pada hari minggu.pdii. pada pukul 10. tanggal 1 Mei 2011. diakses pada hari minggu.ugm. tanggal 8 Mei 2011.26 WIB http://isjd. pada pukul 23.45 WIB .pdf.DAFTAR PUSTAKA http://lib.id/digitasi/upload/1002_pp0911167.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful