BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah Hukum sebagai kaidah sosial, tidak berarti bahwa pergaulan antar manusia dalam masyarakat hanya diatur oleh hukum. Selain oleh hukum, kehidupan manusia dalam masyarakat selain dipedomani moral manusia itu sendiri, diatur pula oleh agama, oleh kaidah-kaidah sosial, kesopanan, adat istiadat dan kaidah-kaidah sosial lainnya. Antara hukum dan kaidah-kaidah sosial lainnya ini, terdapat hubungan jalin menjalin yang erat, yang satu memperkuat yang lainnya. Adakalanya hukum tidak sesuai atau serasi dengan kaidah-kaidah sosial lainnya.1 Teaching order finding disorder, mempelajari keteraturan (hukum) akan menemukan sebuah ketidakteraturan. Mungkin inilah istilah yang tepat untuk menggambarkan bahwa hukum di negeri ini memang kacau. Berbagai masalah dalam dunia hukum seperti mafia peradilan, korupsi, kesewenang-wenangan, dan suap seolah menjadi hal yang biasa dalam penegakan hukum di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kita tidak berani keluar dari alur tradisi penegakan hukum yang semata-mata bersandarkan pada peraturan perundang-undangan.2 Paradigma positivisme hukum memang menjadi pegangan setiap ahli hukum (sarjana). Hal ini tentunya tidak dapat dipersalahkan begitu saja sebab paradigma positivisme memang merupakan paradigma pemikiran hukum yang mendominasi. Positivisme lahir dalam sistem hukum eropa kontinental. Bermula dari pemikiran ahli ilmu sosial prancis Henri Saint Simon dan Auguste Comte. Positivisme dalam paradigma hukum menyingkirkan pemikiran metafisis yang abstrak. Setiap norma hukum harus diwujudkan ke dalam sebuah norma yang konkrit dan nyata.3 Hukum dan keadilan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, untuk itu dalam menegakkan keadilan kepastian hukum memiliki peranan yang sangat urgen. Didalam aliran

1

Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum Dalam Pembangunan Nasional, Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjararan Penerbit BinaCipta, Bandung, hlm. 2 2 Wongbanyumas, Menuju Hukum Yang Membebaskan (Hukum Progresif, Dikutip dari www.fatahilla.blogspot.com yang diakses pada tanggal 7 Mei 2010 3 Ibid

maka mereka yang menganut aliran ini mencoba menuliskan kausalitas-kausalitas itu dalam wujudnya sebagai perundang-undangan. Paradigma. 2002. dikutip dari www. Menurut paham positivisme.blogspot. 96 5 Mr. hlm. Hukum. sedangkan keadilan dan ketertiban menjadi hal yang dinomor dua kan. serta ditegaskan dalam wujud kesepakatan kontraktual yang konkret antara warga masyarakat atau wakil-wakilnya. Untuk itu diperlukan sebuah renovasi baru terhadap hukum yang berlaku ditengah-tengah masyarakat tanpa menghilangkan kepastian hukum. norma hanya bisa bertahan atau dipertahankan sebagai realitas 4 Soetandyo Wignjosobroto. Diskursus antara kepastian hukum dan keadilan telah lama mengemuka.4 Menurut Soetandyo Wignjosoebroto aliran positivis mengklaim bahwa ilmu hukum adalah sekaligus juga ilmu pengetahuan tentang kehidupan dan perilaku warga masyarakat (yang semestinya tertib mengikuti norma-norma kausalitas). mengenai teraplikasinya hukum kausalitas dalam pengupayaan tertib kehidupan bermasyarakat dan bernegara bangsa. Kompor.5 Soetandyo memaparkan lebih lanjut bahwa apapun klaim kaum yuris positivis. Aliran Positivisme hukum telah memperkuat pelajaran legisme. Aliran Positivisme. melainkan ius yang telah mengalami positivisasi sebagai lege atau lex. yaitu suatu pelajaran yang menyatakan tidak ada hukum di luar undang-undang. dengan aliran positivime tersebut hukum seolah-olah terpisah dari nilai-nilai keadilan yang ada ditengah masyarakat. Perkembangan dan Kritik-Kritiknya. dan apa pula yang sekalipun normative harus dinyatakan sebagai hal-hal yang bukan terbilang hukum. Hubunganhubungan kausalitas itu dihukumkan atau dipositifipkan sebagai norma dan tidak pernah dideskripsikan sebagai nomos.positivisme kepastian hukum merupakan tujuan utama.com yang diakses pada tanggal 9 Mei 2010 . guna menjamin kepastian mengenai apa yang terbilang hukum. metode dan Dinamika Masalahnya. undang-undang menjadi sumber hukum satu-satunya. Jakarta. Undang-undang dan hukum diidentikkan. namun kenyataannya menunjukkan bahwa kausalitas dalam kehidupan manusia itu bukanlah kausalitas yang berkeniscayaan tinggi sebagaimana yang bisa diamati dalam realitas-realitas alam kodrat yang mengkaji “prilaku” benda-benda anorganik. setiap norma hukum harus eksis dalam alamnya yang obyektif sebagai norma-norma yang positif. Disini hukum bukan lagi dikonsepsikan sebagai asas-asas moral metayuridis yang abstrak tentang hakikat keadilan. Elsam & Huma.mrkompor.

6 Terkait dengan kondisi di Indonesia maka persoalannya tidak bisa terlepas dari kenyataan sejarah dan perkembangan hukum. Bagaimana kritik terhadap aliran positivisme hukum? 3. Berbagai ketidakpuasan atas penegakan hukum dan penanganan berbagai persoalan hukum bersumber dari cara pandang yang tidak sama tentang apa yang dimaksud hukum dan apa yang menjadi sumber hukum. sehingga dapat dipahami bila saat ini terdapat perbedaan cara pandang terhadap hukum di antara kelompok masyarakat Indonesia.kausalitas manakala ditunjang oleh kekuatan struktural yang dirumuskan dalam bentuk ancamanancaman pemberian sanksi. Rumusan Masalah: 1. Bagaimana penegakan hokum dengan pendekatan restorative justice ? 6 7 Ibid Ibid . Bagaimana filosopi pemikiran positivisme hukum? 2.7 Para aparat penegak hukum terperangkap kedalam pola pikir postivisme sehingga menganggap hukum sebatas undang-undang.

9 Menurut Lili Rasyidi. Filosofi Positivisme Hukum Positivisme hukum adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan positivisme (ilmu). Genta Publishing. bukan juga karena bersumber pada jiwa bangsa (menurut Savigny). melainkan karena mendapatkan bentuk positifnya dalam instansi yang berwenang. Sumaryono.8 Menurut E. suatu tata hukum negara berlaku bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial (menurut Comte dan Spenser). dimaknai sebagai norma-norma positif falam sistem perundang-undangan. b. Oleh Bernard Sidharta dikatakan. Yogyakarta. dan berakar pada peraturan perundang-undangan yang sedang berlaku saat ini. 8 Anthon F. Berbeda dengan pemikiran hukum kodrat yang sibuk dengan permasalahan validasi hukum buatan manusia. 71 .BAB II PEMBAHASAN A. pemaknaan tersebut mencerminkan penggabungan antara idealisme dan materialisme. Dari segi ontologinya. Hal. prinsip-prinsip dasar positivime hukum adalah: a. dan juga bukan karena dasar-dasar hukum alam. masalah validitas (legitimasi) aturan tetap diberi perhatian. positivisme hukum paling tidak dapat dimaknai sebagai berikut: a.71 9 Ibid. Aliran pemikiran dalam yurisprudensi yang membahas konsep hukum secara eklusif. Susanto. tetapi standar regulasi yang dijadikan acuannya adalah norma-norma hukum. 2010. Sebagai sebuah teori yang menyatakan bahwa hukum hanya akan valid jika berbentuk norma-norma yang dapat dipaksakan berlakunya dan ditetapkan oleh sebuah instrument didalam sebuah negara. Dalam defenisinya yang paling tradisional tentang hakikat hukum. penjelasan seperti itu mengacu pada teori hukum kehendak (the will theors of law) dari Jhon Austin dan teori hukum murni Hans Kelsen. maka pada positivisme hukum. Ilmu hukum Non Sistemik Fondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia. Hal. aktivitasnya justru diturunkan kepada permasalahan konkret .

Penghukuman secara moral tidak dapat ditegakkan dan dipertahankan oleh penalaran rasional. Buku Materi Pokok Pengantar Ilmu Hukum Bagian IV. 111 12 Muhammad Siddiq Tgk. c. 73 Satjipto Raharjo II. ditetapkan. tetapi bukan bahan ilmu hukum karena dapat merusak kebenaran ilmiah ilmu hukum. bentuk hukum formal dipisahkan dari bentuk hukum material. Sumber hukum itu adalah pembuatnya lansung. Armia. harus senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakan. Hukum harus dipandang semata-mata dalam bentuk fromalnya. positum. yaitu hukum 10 11 Ibid. yang diinginkan11. 3. dan semua hukum dialirkan dari sumber yang sama. yaitu pihak yang berdaulat atau badan perundang-undangan yang tertinggi dalam suatu negara. Sedangkan sumber-sumber lain hanyalah sebagai sumber yang lebih rendah. Hart mengemukakan berbagai arti dari positivisme tersebut sebagai berikut: 1. hukum adalah perintah 2. hukum terlepas dari soal keadilan dan terlepas dari soal baik dan buruk.12 Menurut Austin. Analisis terhadap konsep-konsep hukum berbeda dengan studi sosiologis. Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum. Hukum yang bersumber dari situ harus ditaati tanpa syarat. Jakarta. Hal. ilmu hukum tugasnya hanyalah menganalisis unsur-unsur yang secara nyata ada dalam sistem hukum modern. Pradnya Paramita. Ilmu hukum hanya berurusan dengan hukum positif. hlm. pembuktian atau pengujian 5. keputusan-keputusan dideduksi secara logis dari peraturan-peraturan yang sudah ada lebih dahulu. Karunika.b. Hukum sebagaimana diundangkan. Isi hukum (material) diakui ada. hlm. tanpa perlu merujuk kepada tujuan-tujuan sosial. Salah seorang pengikut positivisme Hukum john Austin. histories dan penilaian kritis. 1985.10 Seorang pengikut Positivisme. seorang ahli hukum Inggris yang terkenal dengan ajaran analytical Jurisprudence menyatakan bahwa satu-satunya sumber hukum adalah kekuasaan yang tertinggi dalam suatu negara. kebijaksanaan dan moralitas. sekalipun jelas dirasakan tidak adil. Karena itu. 2008. 4. Jakarta. 6 .

Dasar-Dasar Sosiologi Hukum. B. akan tetapi didasarkan akal. 149 15 Ibid. 2009 hlm. tetapi peraturan-peraturan yang berasal dari perkumpulan-perkumpulan ataupun badan-badan tertentu. Pustaka Belajar. dan hukum yang dibuat oleh manusia. Undang-undang tersebut tidak didasarkan alam. sanksi. tetapi lebih disarkan kepada kekuasaan dari kekuatan penguasa. Yogyakarta. Kritik Terhadap Positivisme Hukum. Austin membagi hukum kedalam dua bagian. 149-150 .yang diterima tanpa memperhatikan kebaikan atau keburukannya. Hukum yang sebenarnya mengandung empat unsur yaitu: perintah. Menurutnya. Hukum adalah perintah dari kekuasaan politik yang berdaulat dalam suatu negara. hlm.14 Hukum yang sebenarnya terdiri atas hukum yang dibuat oleh penguasa bagi pengikutpengikutnya dan hukum yang disusun oleh individu-individu guna melaksanakan hak-hak yang diberikan kepadanya. hukum positif dinamakan Undang-Undang Manusia (Menschelijke Wet) adalah hukum yang ada dan berlaku. Sedangkan hukum yang tidak sebenarnya ialah bukan hukum yang merupakan hukum yang secara lansung berasal dari penguasa.15 Menurut Thomas Aquino. Kemudian hukum yang dibuat oleh manusia tersebut dibedakan lagi antara hukum yang sebenarnya dan hukum tidak sebenarnya. Undang-undang tersebut harus mengabdi kepentingan umum karena undang-undang adalah suatu peraturan tertentu dari akal yang bertujuan untuk mengabdi kepentingan umum dan berasal dari satu “kekuasaan” yang sebagai penguasa tertinggi harus memelihara kesejahteraan masyarakat. Hukum positif aalah sesuatu yang perlu untuk umat manusia.13 Austin juga menegaskan bahwa hukum dipisahkan dari keadilan dan hukum tidak didasarkan pada nilai-nilai yang baik atau buruk. hukum positif kebanyakan ditaati oleh manusia dengan sukarela dengan jalan peringatan-peringatan dan tidak oleh karena paksaan oleh undang-undang. Hukum pada saat berhadapan dengan alam dan kehidupan sosial yang berkembang. harus dapat berlaku secara tidak stagnan dan juga harus fleksibel mengikuti situasi dan kondisi yang 13 14 Ibid Sabian Usman. yaitu hukum yang dibuat oleh Tuhan. kewajiban dan kedaulatan.

melainkan juga membaca kenyataan atau apa yang terjadi di masyarakat. yakni hanya dimaknai sebatas undang-undang. tetapi hukum yang menghamba pada kepentingan manusia untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. hlm. Yogyakarta. sumber hukum yang terpenting bukanlah kehendak penguasa. Hukum tidak hanya produk rasio. 2010. Pada dasarnya norma hukum selalu bersumber dari kenyataan sosial. Dengan begitu pekerjaan penafsiran bukan semata-mata membaca peraturan dengan menggunakan logika peraturan. tetapi bagian dari intuisi. Opini Kompas. tetapi kebiasaan. dan tidak pula terletak pada keputusan-keputusan hakim. Sanksi yang berasal dari penguasa untuk mempertahankan hukum tidaklah esensial. 22 januari 2010 . Rangkang Education. Jadi dalam hal ini Eugen Ehrlich 16 17 Faisal. Hukum merupakan bagian dari karya cipta manusia yang dimanfaatkan untuk menegakkan martabat manusia. menurut Eugen Ehrlich. melainkan pada masyarakat itu sendiri. Menerobos Positivisme Hukum. Sesuai dengan pendapatnya di atas. Sabian Usman. tidak terletak pada pembuat undang-undang/ilmu hukum. Sosiological Yurisprudence adalah suatu aliran dalam filsafat hukum yang antara lain dipelopori oleh Eugen Ehrlich. Manusia tidak menghamba kepada abjad dan titik koma yang terdapat dalam Undang-Undang sebagai buah perwujudan nalar. 125 Op Cit. Menurutnya. Menembus Batas Hukum.dibutuhkan agar selalu dapat mengatur dan menciptakan hasil yang berkeadilan. ialah mewujudkan konsepsi keadilan yang beradab. seperti sila kedua Pancasila. sedangkan nilai-nilai diluar undang-undang tidak dimaknai sebagai sebuah hukum. 16 Salah satu penyebab kemandegan yang terjadi didalam dunia hukum adalah karena masih terjerembab kepada paradigma tunggal positivisme yang sudah tidak fungsional lagi sebagai analisis dan kontrol yang bersejalan dengan tabel hidup karakteristik manusia yang senyatanya pada konteks dinamis dan multi kepentingan baik pada proses maupun pada peristiwa hukumnya.17 Sehingga hukum hanya dipahami dalam artian yang sangat sempit. yang berdasarkan keyakinan akan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. bahwa titik pusat dari perkembangan hukum. Relevansinya dengan nilai dasar kebangsaan. 219 18 Saifur Rohman.18 Aliran Positivisme hukum ini sangat ditentang oleh aliran Sosiological Yurisprudence. tetapi hanya merupakan pelengkap.

Perkembangan masyarakat berkembang dengan sangat cepat. tetapi ia menggunakan istilah yang lebih realistis yakni kenyataan-kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat.sependirian dengan Von Savigny. karena gerakan idealisme membatasi pada pengamatan terjadinya. sehingga kearifan lokal berupa living law terhimpit oleh undangundang yang dibuat oleh penguasa. Cardozo. sedangkan ahli-ahli pikir dan aliran Sosiologis sebagai Pound.S. Sehingga perlawanan-perlawanan terhadap hukum dan putusan pengadilan di Indonesia sampai hari ini masih terjadi karena hukum yang terkristal dalam undang-undang dan putusan pengadilan sangat jauh dari nilai-nilai keadilan yang berlaku ditengah masyarakat. mengarahkan perhatian mereka pada tujuan hukum (The Ends Of Law). sehingga untuk melakukan sebuah pembaharuan hukum selalu tertinggal oleh perkembangan masyarakat.Cohen. . Menurut tokoh ilmu hukum realisme F. berlakunya dan tugasnya akibat hukum secara alamiah. Hal ini telah ada sebelum datangnya Belanda menjajah Indonesia dan menerapkan positivisme dalam dunia hukum. ilmu hukum fungsional merumuskan pengertian-pengertian. pertauranperaturan dan lembaga-lembaga. Disetiap daerah memiliki kehidupan sosial yang berbeda-beda pula begitu juga pranata norma-norma yang ada. Sedangkan didalam aliran positivisme hukum terkunkung dalam sebuah prosedur yang rumit. Hukum dalam istilah-istilah adalah putusan hakim atau tindakan kekuasaan-kekuasaan Negara lainnya dan sebagai bidang ilmu hukum sosiologis (Sosiological Yurisprudence) penilaian hukum dalam istilah tingkah laku manusia yang dipengaruhi oleh hukum. Indonesia sebagai negara yang besar serta kaya akan budaya dan adat istiadat yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. sehingga untuk mengimbangi perkembangannya tersebut hukum harus selalu mengikuti perkembangan masyarakat. Heck. Norma-norma yang ada berupa hukum adat yang masih hidup ditengah-tengah masyarakat. Hukum yang ada harus bisa menjadi pedoman dan solusi terhadap semua permasalahan yang terjadi pada saat tersebut. Gerakan realisme dalam ilmu hukum memperlengkapi aliran Sosiological Idealisme. Al hasil hukum yang ada tidak mampu untuk menjawab tantangan-tantangan zaman.. Geny. Dengan adanya Unifikasi dan Positivisme hukum menutup ruang gerak bagi hukum adat dan hukum kebiasaan-kebiasaan lainnya yang hidup ditengah masyarakat untuk dapat berlaku ditengah-tengah masyarakat.

Pendekatan Restorative Justice Saat ini. Jadi menurut Friedmann hukum memiliki ruang lingkup yang sangat luas. hukum sebagai suatu sistem terdiri dari sub-sub sistem yang saling bergerak yang tidak dapat terpisahkan dan terpengaruh satu dengan lainnya. Sudah saatnya penegakan hukum di Indonesia . Adapun budaya hukum yang baik akan terbentuk apabila semua pihak secara sungguh-sungguh dilibatkan untuk berpartisipasi secara penuh dalam proses pembentukan hukum. yakni menyangkut isi dari norma/aturan hukumnya. Struktur Hukum (legal structure). hukum di Indonesia hanya berpaku pada Undang-Undang tanpa mempertimbangkan faktor sosiologis. Hukum di Indonesia memenjarakan dirinya sendiri pada tujuan keadilan dan kepastian hukum tanpa memerdulikan tujuan kemanfaatan. tidak terbatas pada tekstual berupa peraturan perundang-undangan. baik pemerintah maupun masyarakatnya. Bangsa ini harus menyadari bahwa hukum dibuat untuk manusia sehingga eksistensi hukum harus benar-benar dimaknai untuk memberikan kemanfaatan bagi seluruh manusia. Dari sini kita bisa melihat bahwa aliran positivisme berusaha memenjarakan hukum hanya sebatas tekstual. dan Kultur Hukum (legal culture). yakni menyangkut perilaku budaya sadar dan taat hukum. Teringat dengan perkataan salah satu hakim Hoge Raad bahwa hukum tidak dapat berdiri sendiri tetapi harus ditopang oleh faktor sosiologis. Disorientasi ini tampak dalam sistem pemidanaan yang hanya mampu memenjarakan orang tetapi tidak mampu mengembalikan keseimbangan dan persatuan di tengah masyarakat yang terganggu akibat suatu tindak pidana. aparat penegak hukum maupun sarana dan prasarana. Karena begitu besarnya peran budaya hukum itu. termasuk sumber daya aparatur hukumnya. Penegakan hukum di Indonesia yang tanpa didasari pemahamaman akan filosofi dari tujuan pembuatan hukum itu sendiri menyebabkan terjadinya disorientasi dalam penegakan hukum. C. agar semua orang benar-benar merasa memiliki hukum itu. Penegakan hukum di Indonesia tersandera oleh banyaknya aturan hukum tanpa memperdulikan esensi hukum tersebut untuk kepentingan masyarakat. yakni menyangkut sarana dan prasarana hukumnya.Menurut Friedmann. Sub-sub sistem itu terdiri dari: Substansi Hukum (legal substance). Dalam berfungsinya hukum ditengah masyarakat tidak saja membutuhkan undang-undang belaka tetapi membutuhkan hal-hal lainnya seperti budaya masyarakat. maka ia dapat menutupi kelemahan dari legal substance dan legal structure.

Secara global. kejahatan dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu berat. Pengembalian penegakan hukum di Indonesia pada orientasi yang benar dapat diawali dengan penerapan restorative justice atau prinsip keadilan restoratif. kepastian hukum dan kemanfaatan. Prinsip keadilan restoratif merupakan keadilan yang berupaya mengembalikan keadaan pada kondisi semula. Orang-orang seperti nenek Minah adalah orang-orang yang berada dalam keadaan terpaksa untuk melakukan tindak pidana guna memenuhi kebutuhan pangannya. penerapan restorative justice juga telah direkomendasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000. Kategorisasi kejahatan sebagaimana yang kemukakan di atas membutuhkan sebuah landasan hukum. Teori ini menekankan bahwa dalam penegakan hukum kita harus mengedepankan salah satu tujuan hukum karena sangat susah untuk menerapkan keadilan. penerapan restorative justice dimulai dengan membuat kategorisasi kejahatan. Dalam rekomendasi tersebut. Penerapan restorative justice dalam kasus ringan diperlukan karena rasio perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dan kerugian yang ditimbulkan tidak seimbang. menguntungkan dan memenangkan semua pihak serta tidak terpenjara pada mekanisme yang kaku dan prosedural. Apalagi motif dalam melakukan tindak pidana yang demikian adalah karena kemiskinan. PBB mengajak semua negara untuk mengadopsi restorative justice dalam sistem pemidanaannya. Restorative justice hanya diterapkan terhadap kasus-kasus ringan karena pertimbangan kemanfaatan.dikembalikan kepada orientasi yang benar. kemanfaatan dan kepastian hukum secara sekaligus di era modern ini. sedang dan ringan. Kasus demikian baik dipandang dari kerugian yang ditimbulkan maupun motifnya harusnya diselesaikan secara musyawarah tanpa harus diperkarakan di pengadilan. Penerapan restorative justice terhadap jenis kasus ini juga sesuai dengan perkembangan teori tujuan hukum modern yaitu teori tujuan hukum kasuistik. tiga buah kakao yang dicuri oleh nenek Minah hanya bernilai Rp. Orientasi yang didasarkan pada keseimbangan antara faktor keadilan. penyidikan dan penuntutan dalam kasus ini jauh lebih tinggi dari kerugian yang ditimbulkan. Oleh karena itu perlu kiranya DPR mulai mempertimbangkan untuk memasukkan kategorisasi kejahatan dalam rancangan kitab undang-undang hukum acara pidana yang sedang digodok di DPR sekarang ini. Dalam tataran teknis. KUHAP tersebut juga dalam pasal-pasalnya harus . 000.00 sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk penyelidikan. Dalam kategorisasi tersebut. Sebagai contoh. 10.

Kemajuan tersebut tampak dalam dua hal yaitu diakomodasinya nilai kekeluargaan dalam penegakan hukum serta menempatkan hukum sebagai ultimum remedium atau cara terakhir yang ditempuh dalam menyelesaikan suatu masalah.800 kasus. jelas dan tegas mengenai restorative justice dalam KUHAP maka penerapannya tidak akan terhalang oleh asas legalitas dalam hukum pidana. Ditinjau dari bertumpuknya kasus di lembaga peradilan. Restorative justice yang melibatkan semua pihak baik pelaku. pada tahun 2011 jumlah perkara yang ditangani oleh Mahkamah Agung (MA) adalah 13. Dimasukkannya restorative justice dalam sistem pemidanaan Indonesia merupakan sebuah kemajuan dalam criminal justice system yang dianut negeri ini. Menurut harian Kompas. Belum lagi jika kita membandingkan jumlah kasus yang ditangani oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi dengan jumlah hakim di kedua tingkatan pengadilan tersebut. Restorative justice juga akan membawa manfaat dalam hal menjaga kerukunan bangsa ini. Andai saja satu kasus harus diselesaikan dalam dua hari maka seorang hakim MA yang sudah sepuh harus bekerja 562 hari dalam satu tahun. setiap hakim harus menyelesaikan 281 kasus dalam satu tahun. Dimasukkannya nilai-nilai kekeluargaan dalam sistem pemidanaan juga merupakan bentuk transformasi penegakan hukum di negeri ini dari hukum kolonial menjadi hukum nasional yang berkarakter keindonesiaan. Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan jumlah hakim yang hanya 49 orang. Hal ini juga berfungsi mencegah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat legalistik (rentan hukum) yang cenderung menyelesaikan semua masalah secara litigasi (melalui pengadilan) tetapi menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang didominasi oleh kultur sebagaimana masyarakat Jepang yang cenderung menggunakan cara-cara non litigasi dalam menyelesaikan suatu kasus. restorative justice mampu mengembalikan Indonesia dalam jati diri kebangsaannya yang menjunjung tinggi musyawarah dan nilai-nilai kekeluargaan. Kemampuan restorative justice dalam menjadikan hukum pidana sebagai ultimum remedium akan menyebabkan berkurangnya perkara di lembaga peradilan. penegakan restorative justice adalah suatu hal yang sangat mendesak dan tidak dapat dielakkan. Dengan adanya pengaturan secara spesifik. korban maupun pihak lain yang berkaitan dengan kasus tersebut akan mendamaikan para pihak atau merubah hubungan . Artinya.mengatur mengenai penerapan restorative justice. Suatu hal yang sangat tidak mungkin untuk dilakukan. Ini berarti.

Restorative justice dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan hukum kepada nilai-nilai masyarakat tersebut. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam penegakan hukum di Indonesia karena tanpa adanya peran aktif masyarakat dalam penegakan hukum tidaklah mungkin hukum dapat ditegakkan secara baik dan proporsional. penegakan restorative justice ini dapat menciptakan kembali keseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang sempat terganggu dengan terjadinya suatu tindak pidana. keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Dengan kata lain. Menyadari besarnya manfaat dari penerapan restorative justice di Indonesia tersebut. Citra hukum yang demikian dalam mindset masyarakat perlu diubah dengan mendekatkan hukum kepada nilai-nilai yang ada dalam masyarakat termasuk nilai kekeluargaan. Dengan didekatkannya hukum kepada masyarakat melalui restorative justice maka partisipasi masyarakat dalam proses penegakan hukum akan meningkat.diakses pada tanggal 30 Mei 2012 . struktur maupun budaya hukum masyarakat.mereka yang tadinya bermusuhan secara emosional menjadi akur kembali. http://afifbodoh. Fungsi rekonsiliasi dalam restorative justice inilah yang nantinya akan kembali menciptakan kerukunan. hukum di asosiasikan sebagai sesuatu yang menakutkan bagi masyarakat. Pentingnya peran serta masyarakat dalam penegakan hukum ini juga tergambar dalam teori Lawrence Meir Friedman tentang tiga unsur hukum yang salah satunya adalah legal culture (budaya hukum) masyarakat.blogspot. Dampak positif lainnya dari penerapan restorative justice adalah mengubah citra penegakan hukum di Indonesia menjadi lebih positif. kita berharap agar restorative justice segera diadopsi dalam criminal justice system yang dianut bangsa ini demi terwujudnya penegakan hukum yang baik dan bernurani di negeri Indonesia tercinta. Penerapan restorative justice di Indonesia merupakan sebuah konsep perbaikan secara menyeluruh terhadap penegakan hukum di Indonesia baik dari sisi substansi. Hal ini menandakan ketiadaan partisipasi masyarakat dalam proses penegakan hukum akan menyebabkan hukum kehilangan hakikatnya.html. Citra penegakan hukum di Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan.com/2012/03/hukum-bernurani-dan-restorative-justice.19 19 Abdillah Rifai.

baik pemerintah maupun masyarakatnya. aparat penegak hukum maupun sarana dan prasarana. Ini berarti. termasuk sumber daya aparatur hukumnya. Karena begitu besarnya peran budaya hukum itu. agar semua orang benar-benar merasa memiliki hukum itu. restorative justice mampu mengembalikan Indonesia dalam jati diri kebangsaannya yang menjunjung tinggi musyawarah dan nilai-nilai kekeluargaan. Struktur Hukum (legal structure). yakni menyangkut isi dari norma/aturan hukumnya. maka ia dapat menutupi kelemahan dari legal substance dan legal structure.BAB III KESIMPULAN Hukum sebagai suatu sistem terdiri dari sub-sub sistem yang saling bergerak yang tidak dapat terpisahkan dan terpengaruh satu dengan lainnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa aliran positivisme berusaha memenjarakan hukum hanya sebatas tekstual. Dalam berfungsinya hukum ditengah masyarakat tidak saja membutuhkan undang-undang belaka tetapi membutuhkan hal-hal lainnya seperti budaya masyarakat. Hal ini juga berfungsi mencegah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat legalistik (rentan hukum) yang cenderung menyelesaikan semua masalah secara litigasi (melalui pengadilan) tetapi menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang didominasi oleh . yakni menyangkut sarana dan prasarana hukumnya. Sub-sub sistem itu terdiri dari: Substansi Hukum (legal substance). tidak terbatas pada tekstual berupa peraturan perundang-undangan. Hukum memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Dimasukkannya restorative justice dalam sistem pemidanaan Indonesia merupakan sebuah kemajuan dalam criminal justice system yang dianut negeri ini. Kemajuan tersebut tampak dalam dua hal yaitu diakomodasinya nilai kekeluargaan dalam penegakan hukum serta menempatkan hukum sebagai ultimum remedium atau cara terakhir yang ditempuh dalam menyelesaikan suatu masalah. Adapun budaya hukum yang baik akan terbentuk apabila semua pihak secara sungguh-sungguh dilibatkan untuk berpartisipasi secara penuh dalam proses pembentukan hukum. yakni menyangkut perilaku budaya sadar dan taat hukum. dan Kultur Hukum (legal culture). Dimasukkannya nilai-nilai kekeluargaan dalam sistem pemidanaan juga merupakan bentuk transformasi penegakan hukum di negeri ini dari hukum kolonial menjadi hukum nasional yang berkarakter keindonesiaan.

keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. penegakan restorative justice ini dapat menciptakan kembali keseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang sempat terganggu dengan terjadinya suatu tindak pidana. Dengan kata lain. korban maupun pihak lain yang berkaitan dengan kasus tersebut akan mendamaikan para pihak atau merubah hubungan mereka yang tadinya bermusuhan secara emosional menjadi akur kembali. Restorative justice yang melibatkan semua pihak baik pelaku. Fungsi rekonsiliasi dalam restorative justice inilah yang nantinya akan kembali menciptakan kerukunan. . Kemampuan restorative justice dalam menjadikan hukum pidana sebagai ultimum remedium akan menyebabkan berkurangnya perkara di lembaga peradilan Restorative justice juga akan membawa manfaat dalam hal menjaga kerukunan bangsa ini.kultur sebagaimana masyarakat Jepang yang cenderung menggunakan cara-cara non litigasi dalam menyelesaikan suatu kasus.

blogspot. Yogyakarta. Jakarta.com yang diakses pada tanggal 30 Mei 2012 Mochtar Kusumaatmadja. Dikutip dari www. Pradnya Paramita. Elsam & Huma. http://afifbodoh. Menerobos Positivisme Hukum. Fungsi dan Perkembangan Hukum Dalam Pembangunan Nasional. Susanto. Rangkang Education. Jakarta. metode dan Dinamika Masalahnya. Paradigma. Jakarta. 2010 Sabian Usman. Karunika. Aliran Positivisme. Menuju Hukum Yang Membebaskan (Hukum Progresif. www.html. 2008 Satjipto Raharjo II.com yang diakses pada tanggal 30 Mei 2012 Saifur Rohman. Genta Publishing. Yogyakarta. Yogyakarta.fatahilla. Bandung Abdillah Rifai. 2002 Wongbanyumas.mrkompor. Ilmu hukum Non Sistemik Fondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia.blogspot. 1985 Soetandyo Wignjosobroto.com/2012/03/hukum-bernurani-dan-restorative-justice. Dasar-Dasar Sosiologi Hukum.blogspot. Hukum Yang Benurani Dan Restorative Justice. Buku Materi Pokok Pengantar Ilmu Hukum Bagian IV. 22 januari 2010 Faisal.Kompor.yang diakses pada tanggal 30 Mei 2012 dikutip dari . 2009 Muhammad Siddiq Tgk. 2010 Mr. Opini Kompas. Hukum. Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjararan Penerbit BinaCipta.DAFTAR PUSTAKA Anthon F. Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum. Pustaka Belajar. Menembus Batas Hukum. Armia. Perkembangan dan Kritik-Kritiknya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful