Kasus Infark Miokard Tn.

I berusia 50 tahun dirawat di rumah sakit dengan keluhan nyeri dada sejak 3 hari yang lalu (keluhan masuk rumah sakit) . Nyeri yang dirasakan secara tiba-tiba dan berlangsung terus menerus . Nyeri dirasakan semakin berat saat beraktifitas sampai tak tertahankan . Sealama dirawat di bangsal klien tampak gelisah dan takut akan penyakitnya bertambah parah . Klien tampak meringis kesakitan , klien juga mengeluh sesak napas (susah bernapas) , klien terlihat pucat dan berkeringat dingin , porsi makan klien , disisakan . Istri klien mengatakan bahwa suaminya malas makan . Selama 3 hari dirawat , suhu klien meningkat 38,5 c , nadi 102 x/menit (tidak teratur) , pernapasan 28 x/menit dan TD klien 150/100 mmHg . Klien tampak lemah , bibir pecah-pecah dan kering , badan klien teraba panas .

isi . Patogenesis Umumnya IMA didasari oleh adanya ateroskeloris pembuluh darah koroner. Dengan demikian. Pengertian Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. (cabang sirkumfleks). Secara morfologis. Kerusakan miokard terjadi dari endokardium ke epikardium. Fisiologi Sirkulasi Koroner Arteri koroner kiri memperdarahi sebagaian terbesar ventrikel kiri. Arteri koroner kanan memperdarahi sisi diafragmatik ventrikel kiri. Sebaliknya pada IMA sub-endokardial. septum dan atrium kiri. nekrosis terjadi hanya pada bagian dalam dinding ventrikel. IMA transmural mengenai seluruh dinding miokard dan terjadi pada daerah distribusi suatu arteri koroner. Nodus SA lebih sering diperdarahi oleh arteri koroner kanan daripada kiri. D. Nodus AV 90% diperdarahi oleh arteri koroner kanan dan 10% diperdarahi oleh arteri koroner kiri (cabang sirkumfleks). menjadi komplit dan ireversibel dalam 3-4 jam. IMA dapat terjadi transmural atau subendokardial. B. obstruksi arteri koroner kiri sering menyebabkan infark anterior dan infark inferior disebabkan oleh obstruksi arteri koroner kanan. C. Nekrosis miokard akut hampir selalu terjadi akibat penyumbatan total arteri koronaria oleh trombus yang terbentuk pada plak aterosklerosis yang tidak stabil. juga sering mengikuti ruptur plak pada arteri koroner dengan stenosis ringan (50-60%).KONSEP MEDIS INFARK MIOKARD AKUT A. Segera setelah terjadi IMA daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan akibat penurunan ejection fraction. sedikit bagian posterior septum dan ventrikel serta atrium kanan. Patofisiologi Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA adalah komplikasi hemodinamik dan aritmia.I.

Aritmia merupakan penyulit IMA tersering dan terjadi terutama pada menit-menit atau jam-jam pertama setelah serangan. Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi. Terjadinya penyulit mekanis seperti ruptur septum ventrikel. Pasien IMA inferior umumnya mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan akibat kecenderungan bradiaritmia meningkat. untuk mempertahankan curah jantung. Kompensasi ini jelas tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau bahkan sudah fibrotik. khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergeik. Sebaliknya perburukan hemodinamik akan terjadi bila iskemia berkepanjangan atau infark meluas. Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal. Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia. Peningkatan tekanan atrium kiri di atas 25 mmHg yang lama akan menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung).sekuncup (stroke volume) dan peningkatan volume akhir distolik ventrikel kiri. Daerah-daerah diskinetik akibat IMA akan menjadi akinetik. tetapi juga daerah iskemik di sekitarnya. karena terbentuk jaringan parut yang kaku. Sebaliknya bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemia atau infark lama. tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Sistem saraf otonom juga berperan besar terhadap terjadinya aritmia. regurgitasi mitral akut dan aneurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung. sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior . Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang tadinya iskemik mengalami perbaikan. daya hantar rangsangan dan kepekaaan terhadap rangsangan. Miokard sehat dapat pula mengalami hipertropi. Bila IMA makin tenang fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati. Pemburukan hemodinamik ini bukan saja disebakan karena daerah infark. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik. tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan masa refrakter. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun yang non infark. Perubahan-perubahan hemodinamik IMA ini tidak statis. pemburukan hemodinamik akan minimal.

F. 3. Adanya krepitasi basal menunjukkan adanya bendungan paru-paru. E. Diseksi aorta (nyeri dada umumnya sangat hebat. rahang bahkan ke punggung dan epigastrium.akan mempertinggi kecenderungan fibrilasi ventrikel dan perluasan infark. perasaan tidak enak di dada atau epigastrium. leher. nyeri pada distribusi saraf tersebut) 6. dapat menjalar ke perut dan punggung). berdebar-debar atau sinkope. keringat dingin. Walaupun IMA dapat merupakan manifestasi pertama penyakit jantung koroner namun bila anamnesis dilakukan teliti hal ini sering sebenarnya sudah didahului keluhan-keluhan angina. Nyeri dapat menjalar ke lengan (umumnya kiri). muntah. Kelainan intra-abdominal (kelainan akut. Kompresi saraf (terutama C8. Kadangkadang. Kelainan pada pemeriksaan fisik tidak ada yang spesifik dan dapat normal. ditekan. Nyeri dapat disertai perasaan mual. terutama pada pasien diabetes dan orang tua. Diagnosis Banding 1. Pasien sering tampak ketakutan. sesak. Takikardia. pankreatitis dapat menyerupai IMA) . paradoksal dan irama gallop. Kelainan lokal dinding dada (nyeri bersifat lokal. pusing. ditusuk. Kelainan saluran cerna bagian atas (hernia diafragmatika. bertambah dengan tekanan atau perubahan posisi tubuh) 5. kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik yang tampak atau berada di dinding dada pada IMA inferior. Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pectoris dan tak responsif terhadap nitrogliserin. Angina Pectoris tidak stabil/insufisiensi koroner akut. Dapat ditemui BJ yakni S2 yang pecah. esofagitis refluks) 4. 2. Gejala Klinis Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal. dingin dan hipotensi ditemukan pada kasus yang relatif lebih berat. seperti diremas-remas. tidak ditemukan nyeri sama sekali. panas atau ditindih barang berat. kulit yang pucat. bahu.

Takikardia atrium multifokal 13. Prognosis Beberapa indeks prognosis telah diajukan. Gangguan hantaran atrioventrikular 5. Regurgitasi mitral akut 22. Flutter dan Fibrilasi ventrikel 17. Takikardia idioventrikel 16. Irama nodal 4. Komplikasi 1. secara praktis dapat diambil pegangan 3 faktor penting yaitu: 1. Takikardia ventrikel 15. Perikarditis 20. Potensial terjadinya aritmia yang gawat (aritmia ventrikel dll) 2. 3. Renjatan kardiogenik 18. Takikardia supraventrikel 10. Takikardia sinus 8. Bradikardia sinus 3. Aneurisme ventrikel 21.G. Kontraksi prematur ventrikel 14. Potensial serangan iskemia lebih lanjut. Kontraksi atrium prematur 9. Flutter atrium 11. Potensial pemburukan gangguan hemodinamik lebih lanjut (bergantung terutama pada luas daerah infark). Gangguan hantaran intraventrikel 6. . Aritmia 2. Asistolik 7. Ruptur jantung dan septum H. Fibrilasi atrium 12. Tromboembolisme 19.

Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik: Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk.Takut mati. kuku dan membran mukosa. GJK. anasarka.Friksi.Edema.Riwayat pola hidup menetap.II. . dicurigai perikarditis . edema perifer. tidak dapat tidur .Takikardia.Menyangkal gejala penting.Pucat atau sianosis pada kulit.TD dapat normal atau naik/turun.Riwayat IM sebelumnya. Integritas ego: Gejala: .Murmur bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot papilar.BJ ekstra (S3/S4) mungkin menunjukkan gagal jantung/penurunan kontraktilitas atau komplian ventrikel . Sirkulasi: Gejala: . DM.Nadi dapat normal. . penuh/tak kuat atau lemah/kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat. Tanda: . masalah TD. krekels mungkin ada dengan gagal jantung/ventrikel.FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN A. perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk/berdiri. . Aktivitas/istirahat: Gejala: . jadual olahraga tak teratur Tanda: . penyakit arteri koroner.Kelemahan. 3. perasaan ajal sudah dekat . . tidak teratur (disritmia) mungkin terjadi. DVJ. kelelahan.Irama jantung dapat teratur atau tak teratur. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah: 1. dispnea pada istirahat/kerja 2. . .

Hygiene: Gejala/tanda: . menyangkal. Makanan/cairan: Gejala: . cemas. kepala berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk/istirahat) Tanda: . Nyeri/ketidaknyamanan: Gejala: . Tanda: . kehilangan napsu makan. marah. bersendawa.Perubahan berat badan 6.Marah pada penyakit/perawatan yang ‘tak perlu’ .Lokasi nyeri tipikal pada dada anterior.Kelemahan 8.Gelisah. . kulit kering/berkeringat . perilaku menyerang .Fokus pada diri sendiri/nyeri.Bunyi usus normal atau menurun 5. Neurosensori: Gejala: .Pusing. . 7.. tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin.Menolak.Kesulitan melakukan perawatan diri. pekerjaan dan keuangan.Mual. kurang kontak mata .Kuatir tentang keluarga.Nyeri dada yang timbul mendadak (dapat/tidak berhubungan dengan aktifitas). 4. substernal.Muntah.Perubahan mental . Tanda: . prekordial.Penurunan turgor kulit. nyeri ulu hati/terbakar. Eliminasi: Tanda: . dapat .

Catatan: nyeri mungkin tak ada pada pasien pasca operasi. tertekan.Kualitas nyeri ‘crushing’. . dispnea nokturnal . perubahan postur tubuh. merintih.Riwayat merokok.Pucat/sianosis . hospitalisasi) Tanda: . Tanda: . .Wajah meringis. meregang. Pernapasan: Gejala: . leher. merah muda kental 10.Peningkatan frekuensi pernapasan . wajah. punggung. dengan DM.Menarik diri.Batuk produktif/tidak produktif . rahang. Interaksi sosial: Gejala: . keluarga) . mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.Kesulitan istirahat dengan tenang.Respon otonom: perubahan frekuensi/irama jantung. berat. pernapasan. . kehilangan kontak mata .Menangis. menetap. respon emosi meningkat .Menarik diri dari keluarga . siku.Bunyi napas bersih atau krekels. . kesadaran. penyakit pernapasan kronis Tanda: .Stress saat ini (kerja. hipertensi dan lansia. . wheezing . TD.Instensitas nyeri biasanya 10 pada skala 1-10.Dispnea dengan/tanpa kerja. warna kulit/kelembaban. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium. menusuk. keuangan. menggeliat.Kesulitan koping dengan stessor yang ada (penyakit.menyebar ke tangan. seperti dapat dilihat. abdomen. 9. rahang.Sputum bersih.

Penyuluhan/pembelajaran: Gejala: . Hipertensi. DM. Tes Diagnostik EKG Laboratorium: Enzim/Isoenzim Jantung Radiologi Ekokardiografi Radioisotop .Riwayat penggunaan tembakau B. Penyakit Vaskuler Perifer .Riwayat keluarga penyakit jantung/IM. Stroke.11.

durasi). lokasi. catat setiap respon verbal/non verbal. distraksi. perubahan hemo-dinamik 2. Bantu melakukan teknik relaksasi (napas dalam/perlahan. INTERVENSI KEPERAWATAN A.Membantu menurunkan persepsi-respon nyeri dengan memanipulasi adaptasi fisiologis tubuh terhadap nyeri. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.Nitrat mengontrol nyeri melalui efek vasodilatasi koroner yang meningkatkan sirkulasi koroner dan perfusi miokard. Sesak b/d 4. .III. Nyeri adalah pengalaman subyektif yang tampil dalam variasi respon verbal non verbal yang juga bersifat individual sehingga perlu digambarkan secara rinci untuk menetukan intervensi yang tepat. Berikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan perhatian yang tulus kepada klien.Agen yang dapat mengontrol nyeri melalui efek hambatan rangsang .Menurunkan rangsang eksternal yang dapat memperburuk keadaan nyeri yang terjadi. 2. Nitrostat. .Antiangina seperti nitogliserin (Nitro-Bid. pindolol (Visken). visualisasi.Beta-Bloker seperti atenolol (Tenormin). Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner. diltiazem (Prokardia). Pantau nyeri (karakteristik.Penyekat saluran kalsium seperti verapamil (Calan). Ansietas (cemas) b/d 5. Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner. meperidin (Demerol) . Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi: . Nitro-Dur) . Demam (peningkatan suhu tubuh) b/d 3. propanolol (Inderal) .Analgetik seperti morfin. bimbingan imajinasi) 4. Anoreksia b/d IV. 3. 1. Rasionalisasi : . intensitas. .

Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas.Auskultasi bunyi nafas. B. catat adanya bunyi nafas. tak ada fungsi nafas (asma berat). .TTV dapat meningkat secara tiba-tiba khususnya suhu tubuh -Kompres air hangat Rasional : Terjadi dilatasi pembuluh darah dan pori-pori kulit sehingga panas tubuh dapat menurun -Menganjurkan klien banyak minum air putih Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.(Kontra-indikasi: kontraksi miokard yang buruk) .Bekerja melalui efek vasodilatasi yang dapat meningkatkan sirkulasi koroner dan kolateral. -Menganjurkan klien untuk memakai pakaian yang tipis dan menyerap Rasional : Dapat mengurangi rasa gerah dan mempercepat proses pertukaran udara disekitarnya -Mengatur ventilasi ruangan Rasional : Suhu ruangan yang rendah dan suhu tubuh yang meningkat menyebabkan terjadinya konveksi C. misalnya : wheezing. Beberapa di antaranya bekerja sebagai antiaritmia. Sesak b/d akumulasi mukus. Demam (Gangguan peningkatan suhu tubuh) b/d Nekrosis pada arteri koronaria.Morfin atau narkotik lain dapat dipakai untuk menurunkan nyeri hebat pada fase akut atau nyeri berulang yang tak dapat dihilangkan dengan nitrogliserin.simpatis. ronkhi.Observasi TTV terutama suhu tubuh tiap 2 jam Rasional : Pada pasien thypoid . . Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema). Intervensi : . menurunkan preload dan kebu-tuhan oksigen miokard. .

batuk pendek. -Kaji pasien untuk posisi yang aman. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan. khususnya pada klien lansia. -Berikan air hangat. Ansietas (cemas) b/d ancaman/perubahan kesehatan-status sosio-ekonomi. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan marah. mengi dan produksi mukosa. cemas/takut terhadap situasi krisis yang dialaminya. menetap. D. sakit akut/kelemahan. 3. Rasional : penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran.Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi. Rasional : Membebaskan spasme jalan nafas. 2. -Observasi karakteristik batuk. Rasional : Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. basah. Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi). -Kolaborasi obat sesuai indikasi. INTERVENSI 1. Pantau respon verbal dan non verbal yang menunjukkan kecemasan klien. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk.. . Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. ancaman kematian.

-Menganjurkan menjaga kebersihan oral/mulut Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak pada mulut/lidah. Anoreksia (Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan) b/d proses infeksi pada usus halus -Mengkaji pola makan tiap hari Rasional : Mengetahui kebutuhan nutrisi klien -Memberikan makanan lunak Rasional : Mencukupi kebutuhan nutrisi tanpa memberi beban yang tinggi pada usus . kemarahan. Klien mungkin tidak menunjukkan keluhan secara langsung tetapi kecemasan dapat dinilai dari perilaku verbal dan non verbal yang dapat menunjukkan adanya kegelisahan. dapat berupa cemas/takut terhadap ancaman kematian. penolakan dan sebagainya. RASIONALISASI: .Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan. Kolaborasi pemberian agen terapeutik anti cemas/sedativa sesuai indikasi (Diazepam/Valium. Flurazepam/Dal-mane. E.4. perubahan peran sosial dan sebagainya. EVALUASI Klien menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung Klien menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru -Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan .Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.Respon klien terhadap situasi IMA bervariasi. cemas terhadap ancaman kehilangan pekerjaan.dan dapat meningkatkan nafsu makan -Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dan mencegah mual dan muntah IV. . . Lorazepam/Ativan).

-Tidak berhasil Tuliskan tindakan keperawatan yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. .

Carpenito (2000). Price & Wilson (1995). .6.4.DAFTAR PUSTAKA 1. BP FKUI. Rencana Asuhan Keperawatan. Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta 3. EGC. Ed. Doenges at al (2000). Jakarta. Jakarta 4. Ed. Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta 2. EGC. Soeparman & Waspadji (1990).3. Ed. EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful