1.

PENDAHULUAN
Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Mula-mula Emil Kreaplin (18561926) menyebutkan gangguan dengan istilah dementia prekok yaitu suatu istilah yang menekankan proses kognitif yang berbeda dan onset pada masa awal. Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler (18571939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emosi dan perilaku pada pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.[1] Skizofrenia merupakan suatu deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau “deteriorating”) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi , serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.[2] Skizofrenia merupakan salah satu dari kelompok gangguan psikotik, yang dikarakteristikkan dengan simptom positif atau negatif dan sering dihubungkan dengan kemunduran penderita dalam menjalankan fungsinya sehari-hari. Seseorang yang menderita skizofrenia akan mengalami kesulitan untuk membedakan manakah pengalaman yang berdasarkan realita atau bukan, pikiran yang sesuai dengan logika atau tidak, perilaku yang serasi atau tidak. Skizofrenia akan memperburuk kemampuan seseorang untuk bekerja, sekolah, berhubungan dengan orang lain dan merawat diri. Penderita dengan

skizofrenia dapat mengalami remisi dan kekambuhan, mereka dapat dalam waktu yang lama tidak muncul gejala, maka skizofrenia sering disebut dengan penyakit kronik. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang akan membebani masyarakat sepanjang hidup penderita. [1]

Penanganan yang terbaik yang dilakukan terhadap penderita skizofrenia meliputi penatalaksanaan yang menyeluruh dan terintegrasi serta

memperhatikan seluruh aspek dari tiap-tiap penderita sehingga tidak hanya dapat meningkatkan kualitas hidup dan harkat penderita skizofrenia itu sendiri tetapi juga keluarganya. [1]

2. DEFINISI
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, “schizein”yang berarti “terpisah”atau “pecah”, dan “phren” yang artinya “jiwa”. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Secara umum, simptom skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom positif, simptom negatif, dan gangguan dalam hubungan interpersonal. [1] Eugen bleuler (1857 – 1939) memperkenalkan istilah Skizofrenia, karena gangguan ini menyebabkan terjadinya perpecahan antara pikiran, emosi, dan perilaku. Menurut Eugen Bleuler ada 4 gejala fundamental (primer) untuk skizofrenia, yaitu: Asosiasi terganggu (terutama kelonggaran asosiasi) ; Afektif terganggu; Autisme; Ambivalensi. Konsep ini yang dikenal dengan 4 A. Gejala pelengkap (sekunder) untuk skizofrenia menurut Bleuler adalah waham dan halusinasi. [1] Kurt Schneider (1887 – 1967) membagi gejala skizofrenia menjadi 2 bagian, yaitu first rank symptom dan second rank symptom. First rank symptom penting untuk menegakkan diagnosis skizofrenia tetapi simptom tersebut tidak patognomonik. [1] First rank symptom terdiri dari : [1, 3] 1) Audible thought (pikiran yang dapat didengar) 2) Voices arguing atau discussing (suara- suara yang berdebat atau berdiskusi atau keduanya) 3) Voices commenting (suara-suara yang mengomentari) 4) Somatic passivity experiences (pengalaman pasivitas somatik) 5) Thought withdrawal and experiences of influenced thought (penarikan pikiran dan pengalaman pikiran yang dipengaruhi lainnya)

6) Thought broadcasting (siar pikiran) 7) Delusional persepsi (persepsi bersifat waham) Second rank symptom terdiri dari: [1, 3] 1) Gangguan persepsi lain 2) Ide yang bersifat waham yang tiba-tiba 3) Kebingungan 4) Perubahan mood depresi dan euforik 5) Kemiskinan emosi

3. EPIDEMIOLOGI
Skizofrenia mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di dunia (ratarata 0,85%). Angka insidens skizofrenia adalah 1 per 10.000 orang per tahun.
[1]

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering, hampir 1% penduduk dunia menderita psikotik selama hidup mereka di Amerika. Skizofrenia lebih sering terjadi pada Negara industri terdapat lebih banyak populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah.[2] Prevalensi skizofrenia berdasarkan jenis kelamin, ras dan budaya adalah sama. Wanita cenderung mengalami gejala yang lebih ringan, lebih sedikit rawat inap dan fungsi sosial yang lebih baik di komunitas dibandingkan lakilaki. Onset skizofrenia pada laki-laki terjadi lebih awal dibandingkan pada wanita. Onset puncak pada laki-laki terjadi pada usia 15-25 tahun sedangkan pada wanita terjadi pada usia 25-35 tahun. Skizofrenia jarang terjadi pada penderita berusia kurang dari 10 tahun atau lebih dari 50 tahun. Pengobatan skizofrenia pada penderita yang berusia antara 15-55 tahun kira-kira hanya sebanyak 90%. Individu yang didiagnosis dengan skizofrenia 60-70% tidak pernah menikah. Penderita skizofrrenia 25-50% berusaha untuk bunuh diri dan 10% nya berhasil melakukan bunuh diri. [1]

4. ETIOLOGI
1. Model Diatesis-stres Merupakan integrasi faktor biologis, faktor psikososial, faktor lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dikenai oleh

[3] Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau psikologis (misal kematian orang terdekat). dan interaksi antara kerusakan tersebut dengan stressor lingkungan dan sosial. Peningkatan ini mungkin merupakan akibat dari meningkatnya pelepasan dopamin. b. dan trauma. Ada korelasi antara efektivitas dan potensi suatu obat antipsikotik dengan kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor dopamine D2. 4] . Sedangkan dasar biologikal dari diatesis selanjutnya dapat terbentuk oleh pengaruh epigenetik seperti penyalahgunaan obat. Obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik seperti amfetamin dapat menimbulkan gejala psikotik pada siapapun. atau hipersentivitas reseptor dopamin. stress psikososial . turunnya nilai ambang. Munculnya hipotesa ini berdasarkan observasi bahwa : a. skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan aktivitas neurotransmitter dopaminergik. atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Faktor Neurobiologi Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien skizofrenia ditemukan adanya kerusakan pada bagian otak tertentu. Keempat area tersebut saling berhubungan. korteks frontal.[3] Hipotesa Dopamin Menurut hipotesa ini.[3. Dua hal yang menjadi sasaran penelitian adalah waktu dimana kerusakan neuropatologis muncul pada otak. sehingga disfungsi pada satu area mungkin melibatkan proses patologis primer pada area yang lain. yaitu sistem limbik. memungkinkan perkembangan skizofrenia.[3] Terdapat beberapa area tertentu dalam otak yang berperan dalam membuat seseorang menjadi patologis. Namun sampai kini belum diketahui bagaimana hubungan antara kerusakan pada bagian otak tertentu dengan munculnya simptom skizofrenia. terlalu banyaknya reseptor dopamin.suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stress. cerebellum dan ganglia basalis. [3] 2.

Satu penelitian yang mendukung model diatesis-stres menunjukkan bahwa kembar monozigotik yang diadopsi yang kemudian menderita skizofrenia kemungkinan telah diadopsi oleh keluarga yang tidak sesuai secara psikologis. kerusakan ego (ego defect) Prevalensi (%) 1. Pada penelitian anak kembar. Menurut Freud.0 47. Teori Psikoanalitik Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari fiksasi perkembangan. Semakin dekat hubungan kekerabatan semakin tinggi risiko. Faktor Psikososial 4.0 12.0 8. Penelitian pada kembar monozigotik yang diadopsi menunjukkan bahwa kembar yang diasuh oleh orang tua angkat mempunyai skizofrenia dengan kemngkinan yang sama besarnya seperti saudara kembarnya yang dibesarkan oleh orang tua kandungnya.0 40.1 Teori Tentang Individu Pasien a. yang muncul lebih awal daripada gangguan neurosis. skizofrenia adalah gangguan yang bersifat keluarga (misalnya. Faktor Genetika Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara bermakna. Temuan tersebut menyatakan bahwa pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan. kembar monozigot mempunyai risiko 4-6 kali lebih sering menjadi sakit bila dibandingkan dengan kembar dizigot.3. Sesuai dengan penelitian hubungan darah (konsanguinitas). semakin mungkin kembar adalah sama-sama menderita gangguan. Untuk mendukung lebih lanjut dasar genetika adalah pengamatan bahwa semakin parah skizofrenia. [3.0 . 4] Populasi Populasi umum Bukan saudara kembar pasien skizofrenik Anak dengan satu orang tua skizofrenik Kembar dizigotik pasien skizofrenik Anak dari kedua orang tua skizofrenik Kembar monozigotik pasien skizofrenik 4.0 12. kompleks dan poligen. terdapat dalam keluarga).

[3] Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan skizofrenia disebabkan oleh kesulitan interpersonal yang terjadi sebelumnya.[3] b. yaitu cemas hipersensitivitas terhadap berbagai stimulus. terutama yang berhubungan dengan apa yang disebutnya berlebihan. Teori Psikodinamik Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud. seperti seks dan agresi. kerusakan ego mempengaruhi interpretasi terhadap realitas dan kontrol terhadap dorongan dari dalam. Hal utama dari teori Freud tentang skizofrenia adalah “decathexis” obyek dan regresi sebagai respon terhadap frustasi dan konflik dengan orang lain. dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia.[3] Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal serta kerusakan ego yang mungkin merupakan hasil dari relasi obyek yang buruk-turut memperparah simptom skizofrenia.[3] Secara umum. Halusinasi mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien untuk menghadapi realitas yang obyektif dan mungkin juga merepresentasikan ketakutan atau harapan terdalam yang dimilikinya.[3] Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi masing-masing pasien. Gangguan tersebut terjadi akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak. Disintegrasi ego yang terjadi pada pasien skizofrenia merepresentasikan waktu dimana ego belum atau masih baru terbentuk. pandangan psikodinamik setelahnya lebih mementingkan pengasuhan ibu yang salah.memberikan kontribusi terhadap munculnya simptom skizofrenia. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur. Hambatan dalam membatasi stimulus menyebabkan kesulitan dalam setiap fase .

dan karakteristiknya adalah absennya perilaku/fungsi tertentu.2 Teori Tentang Keluarga Beberapa pasien skizofrenia sebagaimana orang yang mengalami nonpsikiatrik berasal dari keluarga dengan disfungsi.[3] 4. hubungan dengan manusia dianggap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap skizofrenia. orang menjadi skizofrenia karena pada masa kanak-kanak ia belajar pada model yang buruk.[3] Menurut pendekatan psikodinamik. namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang mendasar. semua pendekatan psikodinamik dibangun berdasarkan pemikiran bahwa simptom-simptom psikotik memiliki makna dalam skizofrenia. yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia.perkembangan selama masa kanak-kanak dan mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal. Antara lain: Double Bind Konsep yang dikembangkan oleh Gregory Bateson untuk menjelaskan keadaan keluarga dimana anak menerima pesan yang .[3] c. Misalnya waham kebesaran pada pasien mungkin timbul setelah harga dirinya terluka. yang sebenarnya juga memiliki masalah emosional. Simptom negatif berkaitan erat dengan faktor biologis. Teori Belajar Menurut teori ini. Selain itu. Ia mempelajari reaksi dan cara pikir yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya. Sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin timbul akibat konflik intrapsikis. yaitu perilaku keluarga yang patologis. dan erat kaitannya dengan adanya konflik. [3] Tanpa memandang model teoritisnya. menurut pendekatan ini. simptom positif diasosiasikan dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus.

sehingga kemudian ia menarik diri kedalam keadaan psikotik untuk melarikan diri dari rasa konfliknya itu.[3] Pseudomutual and Pseudohostile Families Dijelaskan oleh Lyman Wynne. beberapa keluarga mensuppress ekspresi emosi dengan menggunakan komunikasi verbal yang pseudomutual atau pseudohostile secara konsisten.[3] 4. Pada keluarga tersebut terdapat pola komunikasi yang unik. sikap maupun perasaannya. Banyak penelitian menunjukkan keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi (dalam hal apa yang dikatakan maupun maksud perkataan) meningkatkan tingkat relapse pada pasien skizofrenia. dan menghasilkan dominasi dari salah satu orangtua.3 Teori Sosial Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi dan urbanisasi banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia. terjadi hubungan yang tidak seimbang antara anak dengan salah satu orangtua yang melibatkan perebutan kekuasaan antara kedua orangtua. Sedangkan pada pola keluarga Skewed. dimana terdapat perpecahan yang jelas antara orangtua. Meskipun ada data pendukung. Akibatnya anak menjadi bingung menentukan mana pesan yang benar.bertolak belakang dari orangtua berkaitan dengan perilaku.[3] Schims and Skewed Families Menurut Theodore Lidz. yang mungkin tidak sesuai dan menimbulkan masalah jika anak berhubungan dengan orang lain di luar rumah. pada pola pertama. salah satu orangtua akan menjadi sangat dekat dengan anak yang berbeda jenis kelaminnya. kejam dan sangat ingin ikut campur urusan pasien skizofrenia. [3] Ekspresi Emosi Orang tua atau pengasuh mungkin memperlihatkan sikap kritis. namun penekanan saat ini adalah .

2. d. Gangguan atensi Suatu gejala dapat dikatakan simptom negatif apabila ditemukan skizofrenia adanya seperti penurunan afek fungsi normal pada emosi tumpul. Anhedonia Berkurangnya minat dan menarik diri dari seluruh aktifitas yang menyenangkan dan biasa dilakukan oleh penderita. dan menarik diri dari hubungan sosial. yaitu: a. . yaitu: 1.[3] 5. dalam kelancaran dan produktivitas. pikiran yang streotipik dan kurangnya spontanitas. bersikap menjadi lebih pasif. Perawatan diri dan fungsi sosial yang menurun juga dapat menjadi tanda dari simptom negatif pada penderita skizofrenia. c. disorganisasi pembicaraan. Alogia Keterbatasan pembicaraan dan pikiran. e. halusinasi. GEJALA KLINIS Gejala yang tampak dari suatu skizofrenia dibagi dalam 5 dimensi. Affective Flattening Ekspresi emosi yang terbatas. Simptom positif Simptom positif menggambarkan fungsi normal yang berlebihan dan khas. b. meliputi waham. dan disorganisasi perilaku seperti katatonia atau agitasi. Simptom negatif Simptom negatif terdiri dari 5 tipe gejala. penarikan (emotional withdrawal) dalam berkomunikasi. dalam rentang dan intensitas. Hal lain yang sering tampak dari simptom negatif adalah kesulitan dalam berpikir abstrak. Avolition Keterbatasan perilaku dalam menentukan tujuan. hubungan yang buruk dengan lingkungan sekitarnya.dalam mengetahui pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit.

merusak barang orang lain. Gangguan kognitif spesifik yang lain adalah gangguan atensi dan gangguan pengolahan informasi. maupun dalam bentuk fisik maupun katakata yang kasar. 5. mood cemas. Simptom depresi dan anxious Seringkali didapatkan bersamaan dengan smptom lain seperti mood yang terdepresi. Simptom kognitif Simptom kognitif dapat saling tumpang tindih dengan simptom negatif. Hostilitas dapat berupa penyerangan secara fisik atau verbal terhadap orang lain di lingkungan sekitarnya. Termasuk juga perilaku yang mencelakakan diri sendiri (suicide). selain gangguan pikiran dapat juga terjadi inkoheren. irritabilitas. tension. atau neologisme. rasa bersalah (guilt). Gangguan kognitif yang paling berat dan paling sering didapatkan pada penderita skizofrenia adalah:  Gangguan    verbal fluency (kemampuan untuk mengsilkan pembicaraan yang spontan) Gangguan serial learning (urutan peristiwa) Gangguan dalam vigilance (kewaspadaan) Gangguan eksekutif (masalah dengan atensi. konsentrasi.3. prioritas dan perilaku pada hubungan sosial) 4. Simptom ini menekankan pada pengendalian impuls. Simptom agresif dan hostile Simptom agresif dan hostilitas pada penderita skizofrenia dapat tumpang tindih dengan simptom positif. DIAGNOSIS KLINIS Kriteria diagnostik menurut PPDGJ III (F 20) : Ø Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang jelas : . atau seksual acting out. asosiasi longgar.[1] 6. atau kecemasan.

(d) Waham-waham menetap jenis lainnya.“Thought broadcasting”: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. (tentang „dirinya”: secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran. atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain). atau . namun kulitasnya berbeda.“delusional perception”: pengalaman inderawi yang tak wajar.Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara).“delusion of control” : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. (b) .Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. atau . walaupun isinya sama. .(a) . biasanya bersifat mistik atau mukjizat.Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien. misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu. atau .“Thought echo” : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras). atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca. tindakan atau penginderaan khusus). atau . yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. yang bermakna sangat khas bagi dirinya. atau . .“delusion of passivity”: waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar. dan .“delusion of influence”: waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.“Thought insertion or withdrawal”: isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar (withdrawal). dan isi pikiran ulangan. (c) Halusinasi auditorik : .

sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude). bicara yang jarang.[5] Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam salah satu tipe. tidak berbuat sesuatu. yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan. atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. atau neologisme. dan stupor. tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. Ø Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour). dan penarikan diri secara sosial.Ø Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas : (a) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja. Kriteria diagnostik menurut PPDGJ III yaitu:  Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia . posisis tubuh tertentu (posturing). (d) Gejala-gejala “negatif” seperti sikap sangat apatis. seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement). Ø Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). (b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisispan (interpolation). dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar. PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci (Undifferentiated). bermanifestasi sebagai hilangnya minat. mutisme. hidup tak bertujuan. negativisme. apabila disertai baik oleh waham yang mengambang mauupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap. atau fleksibilitas cerea. (c) Perilaku katatonik.

Perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas 5. Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid. terdisorganisasi atau katatonik. alogia. B. Waham 2.  Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia. Disfungsi sosial atau pekerjaan C. Disingkirkan gangguan penggunaan zat atau kondisi medis umum E. atau katatonik.[5] Kriteria diagnostik skizofrenia menurut DSM IV-TR: A. Halusinasi 3. diagnosis tambahan skizofrenia dibuat bila waham dan halusinasi menonjol Menurut DSM IV-TR skizofrenia tipe tidak terinci merupakan suatu tipe skizofrenia di mana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A. atau avolition Dapat hanya 1 gejala bila dijumpai waham bizarre atau halusinasi dengar berupa mengomentari perilaku pasien (commentary) atau dua atau lebih suara yang berbicara (voices conversing). Simptom negatif contohnya afek datar. . Terdapat 2 atau lebih gejala di bawah ini selama satu bulan atau kurang dari sebulan jika pengobatan berhasil. tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid. 1. hebefrenik. Jika terdapat gangguan perkembangan pervasif. Bicara disorganisasi 4. Durasi : gangguan terus menerus selama 6 bulan disingkirkan gangguan skizoafektif dan gangguan mood D.

seringkali sebelum perkembangan gejala lain. dan psikiatrik. klinisi harus mempertimbangkan kemungkinan suatu kondisi medis nonpsikiatrik. bahkan tanpa adanya gejala fisik yang jelas.7. bahkan pada pasien dengan diagnosis skizofrenia sebelumnya. Manifestasi psikiatrik dari banyak kondisi medis nonpsikiatrik dapat terjadi awal dalam perjalanan penyakit. Pertama. DIAGNOSIS BANDING Gangguan Psikotik Sekunder dan Akibat Obat Gejala psikosis dan katatonia dapat disebabkan oleh berbagai macam keadaan medis psikiatrik dan dapat diakibatkan oleh berbagai macam zat. termasuk riwayat gangguan medis. Orang telah menipu . Dengan demikian klinisi harus mempertimbangkan berbagai macam kondisi medis nonpsikiatrik di dalam diagnosis banding psikosis. klinisi harus berusaha untuk mendapatkan riwayat keluarga yang lemgkap. atau gangguan katatonia akibat zat. klinisi harus cukup agresif dalam mengejar kondisi medis nonpsikiatrik jika pasien menunjukkan adanya gejala yang tidak lazim atau jarang atau adanya variasi dalam tingkat kesadaran. Jika psikosis atau katatonia disebabkan oleh kondisi medis nonpsikiatrik atau diakibatkan oleh suatu zat.[3] Berpura-pura dan Gangguan buatan Baik berpura-pura atau gangguan buatan mungkin merupakan suatu diagnosis yang sesuai pada pasien yang meniru gejala skizofrenia tetapi sebenarnya tidak menderita skizofrenia. Seorang pasien skizofrenia mempunyai kemungkinan yang sama untuk menderita tumor otak yang menyebabkan gejala psikotik dibandingkan dengan seorang pasien skizofrenik. diagnosis yang paling sesuai adalah gangguan psikotik akibat kondisi medis umum. Pada umumnya. Kedua. suatu kenyataan yang dapat membantu klinisi untuk membedakan kedua kelompok tersebut. Ketiga. klinisi harus mengikuti tiga pedoman umum tentang pemeriksaan keadaan nonpsikiatrik. [3] Saat memeriksa seorang pasien psikotik. neurologis. pasien dengan gangguan neurologis mempunyai lebih banyak tilikan pada penyakitnya dan lebih menderita akibat gejala psikiatriknya daripada pasien skizofrenik.

tetapi penting karena tersedianya pengobatan yang spesifik dan efektif untuk mania dan depresi. [3] . klinisi harus menunda diagnosis akhir atau harus menganggap adanya gangguan mood. bukannya membuat diagnosis skizofrenia secara prematur. gangguan psikotik singkat. Gangguan skizofreniform berbeda dari skizofrenia karena memiliki lama (durasi) gejala yang sekurangnya satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan. pasien tersebut biasanya memilki alasan finansial dan hukum yang jelas untuk dianggap gila. Gangguan skizoafektif adalah diagnosis yang tepat jika sindroma manik atau depresif berkembang bersama-sama dengan gejala utama skizofrenia. dan gangguan skizoafektif. beberapa pasien dengan skizofrenia seringkali secara palsu mengeluh suatu eksaserbasi gejala psikotik untuk mendapatkan bantuan lebih banyak atau untuk dapat dirawat di rumah sakit. Tetapi. Orang yang secara lengkap mengendalikan produksi gejalanya mungkin memenuhi diagnosis berpura-pura (malingering). [3] Gangguan Psikotik Lain Gejala psikotik yang terlihat pada skizofrenik mungkin identik dengan yang terlihat pada gangguan skizofreniform. Pasien yang kurang mengendalikan pemalsuan gejala psikotiknya mungkin memenuhi diagnosis suatu gangguan buatan (factitious disorder). Gejala afektif atau mood pada skizofrenia harus relatif singkat terhadap lama gejala primer. [3] Suatu diagnosis gangguan delusional diperlukan jika waham yang tidak aneh (nonbizzare) telah ada selama sekurangnya satu bulan tanpa adanya gejala skizofrenia lainnya atau suatu gangguan mood. Gangguan psikotik berlangsung singkat adalah diagnosis yang tepat jika gejala berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan jika pasien tidak kembali ke tingkat fungsi pramorbidnya. Tanpa adanya informasi selain dari pemeriksaan status mental.menderita skizofrenia dan dirawat dan diobati di rumah sakit psikiatrik. [3] Gangguan Mood Diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood dapat sulit.

Untuk tujuan diagnostik. skizofrenia terjadi pada seseorang yang mempunyai sifat individual. Terlepas dari penyebabnya. 5.Gangguan Kepribadian Berbagai gangguan kepribadian dapat ditemukan dengan suatu ciri skizofrenia. dan tiap pendekatan terapeutik tunggal jarang mencukupi untuk menjawab secara memuaskan gangguan yang memiliki berbagai segi. dan sosial psikologis yang unik. gangguan kepribadian skizotipal. 2. mempunyai gejala yang ringan. dan ambang adalah gangguan kepribadian dengan gejala yang paling mirip. 3. Kenyataan bahwa angka kesesuaian untuk skizofrenia pada kembar monozigotik adalah 50% telah diperhitungkan oleh banyak peneliti untuk menyarankan bahwa faktor lingkungan dan psikologis yang tidak diketahui tetapi kemungkinan spesifik telah berperan dalam perkembangan gangguan. Tujuan utama perawatan di rumah sakit adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh. penelitian telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar. schizoid.[3] . 3. Menstabilkan medikasi. [3] Perawatan di Rumah Sakit Indikasi utama perawatan di rumah sakit adalah : 1. suatu riwayat ditemukannya gangguan selama hidup pasien. 2. dan tidak adanya onset tanggal yang dapat diidentifikasi. Gangguan kepribadian. TERAPI Tiga pengamatan dasar tentang skizofrenia yang memerlukan perhatian saat mempertimbangkan pengobatan gangguan. Perilaku yang sangat kacau atau tidak sesuai. 4. Skizofrenia adalah suatu gangguan yang kompleks. [3] 8. keluarga. Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia. tidak seperti skizofrenia. yaitu : 1.

gangguan atensi) atau gangguan kognitif dan mood. pekerjaan dan hubungan sosial. [4] a) Antipsikotik atipikal Penemuan dari klorpromazin pada 1950 mengubah dengan cepat pengobatan skizofrenia. Obat APG-I disebut juga antipsikotika konvensional atau tipikal sedangkan APG-II disebut juga antipsikotik baru atau atipikal. Klorpromazin dan yang serupa dengan antipsikotik menurunkan simptom positif dari skizofrenia. Obat ini dibagi dalam dua kelompok.[3] Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Efek sekundernya mampu menurunkan aktivitas dopaminergik yang sesuai untuk memblok dari reseptor D2. Lamanya perawatan di rumah sakit tergantung pada keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. antipsikotik mengobati gejala gangguan dan bukan suatu penyembuhan skizofrenia. tetapi efek terbatas simptom negatif (affective Flattening. Generasi pertama dari obat-obat ini dinamakan neuroleptik karena memberikan efek samping neurologis seperti catalepsy pada tikus percobaan dan EPS pada manusia. avolition.Sejak diperkenalkan diawal tahun 1950-an medikasi antipsikotik telah menyebabkan revolusi dalam pengobatan skizofrenia. kualitas hidup.[6] Keefektifan dari obat neuroleptik menjadi lebih baik pada simptom positif dari skizofrenia. . berdasarkan mekanisme kerjanya. yaitu dopamine receptor antagonist (DRA) atau antipsikotika generasi I (APG-I) dan serotonin-dopamine antagonist (SDA) atau antipsikotika generasi II (APG-II). anhedonia. perawatan diri sendiri. [3] Terapi Somatik Antipsikotik Skizofrenia diobati dengan antipsikotika (AP). alogia. Tetapi.[3] Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan.

[6] Obat high-potency seperti haloperidol dan fluphenazin sering menjadi pengobatan pilihan. atau trihexyphenidyl mungkin digunakan atau diganti ke medium-potency (trifluoperazin) atau obat yang low-potency (thioridazine). dan reseptor muskarinik adalah yang menentukan kecenderungan untuk penyakit EPS. Dengan pengecualian dari pengganti benzamide. yang highly selective D2 receptor antagonist. ziprasidone) mungkin pilihan pengobatan terutama jika pasien sensitif EPS. thioridazin. Karena kemiripan dari mekanisme dasar. risperidon. Peningkatan serum prolaktin dan sedatif dan . 5-HT2A. mesoridazin) lebih sedatif dan lebih hipotensi daripada High-potency seperti haloperidol dan fluphenazin.[6] Lebih dari 70% pasien dengan skizofrenia (dan gangguan psikotik lainnya) perbaikan signifikan pengalaman klinis dari gejala positif dan disorganisasi ketika diobati dengan obat ini selama 4-6 minggu dengan tepat dosis. Salah satu dari atipikal antipsikotik (clozapin. Afinitas reseptor D2 meramalkan level kerentanan terhadap EPS. termasuk availabilitas dari persiapan long acting. Jika EPS terjadi obat anti kolinergik seperti benztropin. seperti sulpiride dan amisulpiride. obat ini juga afinitas variabel untuk mengikat reseptor neurotransmitter lainnya. olanzapin. Pilihan obat neuroleptik tipikal untuk digunakan dasar pertimbangan variasi.[6] Afinitas obat antipsikotik pada D2. Low High Potency menurunkan agitasi dan perilaku agresif. serindole.Dengan pemberian yang berkepanjangan (7-21 hari) menginaktifasi dari mesolimbik dan mesokortikal DA neuron (yang mana bermula dari ventral tegmentum) dan substansia nigra DA neuron yang mungkin mengkontribusi efek anti psikotik dan EPS secara berturut-turut. biperiden. Obat yang terakhir lebih menghasilkan EPS daripada Low-potency. Obat Low-potency (dosis yang biasa diberikan 300mg/hari atau lebih seperti klorpromazin.

Efek samping yang lain dari atipikal neuroleptik seperti ginekomasti. dan retinitis hasil dari efek toksik pada target jaringan spesifik. fotosensitifitas. Clozapine adalah suatu antagonis lemah terhadap reseptor D2 tetapi merupakan antagonis yang kuat terhadap reseptor D4 dan mempunyai aktivitas antagonis pada reseptor serotogenik.[3] Prinsip-Prinsip Terapetik 1. impotensi. Risperidone menjadi obat lini pertama dalam pengobatan skizofrenia karena kemungkinan obat ini adalah lebih efektif dan lebih aman daripada antagonis reseptor dopaminergik yang tipikal.[3]  Risperidone Adalah suatu obat antispikotik dengan aktivitas antagonis yang bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan pada reseptor dopamine tipe 2 (d2). Mekanisme kerjanya belum diketahui secara pasti. Efek hematologi. Suatu antipsikotik yang telah bekerja dengan baik di masa lalu pada pasien harus digunakan lagi. Obat ini merupakan lini kedua. jaundice. efek pada jantung. Lama minimal percobaan antipsikotik adalah empat sampai enam minggu pada dosis yang adekuat. 3. dan amenorrhea juga dari blokade DA. Klinis harus secara cermat menentukan gejala sasaran yang akan diobati 2. [6] b) Antipsikotik atipikal  Clozapine Adalah suatu obat antipsikotik yang efektif. Peningkatan berat badan pada blokade reseptor 5-HT2c dan H1. . diindikasikan pada pasien dengan tardive diskinesia karena data yang tersedia menyatakan bahwa clozapine tidak disertai dengan perkembangan atau eksaserbasi gangguan tersebut.hipotensi efek samping histaminergik (H1) dan adrenergik (α2) reseptor antagonis. Agranulositosis merupakan suatu efek samping yang mengharuskan monitoring setiap minggu pada indeks-indeks darah.

5. 3. tanpa melakukan pemeriksaan fisik atau laboratorium pada diri pasien. Strategi tambahan adalah suplementasi antipsikotik dengan lithium (eskalith). 2. Dalam situasi gawat. Ketidakpatuhan dengan antipsikotik merupakan alasan utama untuk terjadinya relaps dan kegagalan percobaan obat. Kemungkinan bahwa pasien telah mengingesti zat yang akan berinteraksi dengan antipsikotik sehingga menyebabkan depresi sistem saraf pusat. Resiko tinggi untuk kejang dari penyebab organik atau idiopatik.[3] Pemeriksaan Awal Obat antipsikotik cukup aman jika diberikan selama periode waktu yang cukup singkat. suatu antikonvulsan seperti carbamazepine atau valproate terapi (depakene). Penggunaan pada lebih dari satu medikasi antipsikotik pada satu waktu adalah jarang diindikasikan.[3] Kontraindikasi Utama Antipsikotik: [3] 1.4. dapat dicoba antipsikotik kedua dengan struktur kimiawi yang berbeda dari obat yang pertama. atau suatu jarang benzodiazepine. 4. Pada pemeriksaan biasa harus didapatkan hitung darah lengkap dengan indeks sel darah putih. obat ini dapat diberikan kecuali clozapine. Waktu percobaan yang tidak mencukupi. Pemakaian antipsikotik dosis-mega . tes fungsi hati dan ECG khususnya pada wanita yang berusia lebih dari 40 tahun dan laki-laki yang berusia lebih dari 30 tahun. Pasien harus dipertahankan pada dosis efektif yang serendah mungkin yang diperlukan untuk mencapai pengendalian gejala selama periode psikotik. Setelah menghilangkan alasan lain yang mungkin bagi kagagalan terapi antipsikotik. Adanya glukoma sudut sempit jika digunakan suatu antipsikotik dengan aktivitas antikolinergik yang bermakna. Kegagalan Pengobatan 1. Riwayat respon alergi yang serius 2.

[3] Terapi Psikososial Ø Terapi Perilaku Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial. [3] Obat Lain Ø Lithium Efektif dalam menurunkan gejala psikotik lebih lanjut pada sampai 50 persen pasien dengan skizofrenia dan merupakan obat yang beralasan untuk dicoba pada pasien yang tidak mampu menggunakan medikasi antipsikotik.diindikasikan. karena hampir tidak ada data yang mendukung praktek tersebut. kemampuan memenuhi diri sendiri. dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau . Tetapi keparahan psikosis dapat di eksaserbasi setelah putus dari benzodiazepine.[3] Terapi Somatik Lainnya Elektrokonvulsif ( ECT ) dapat diindikasikan pada pasien katatonik dan bagi pasien yang karena suatu alasan tidak dapat menggunakan antipsikotik (kurang efektif). dan pasien skizofrenia yang berespon terhadap dosis tinggi diazepam (valium) saja. latihan praktis. Pasien yang telah sakit selama kurang dari satu tahun adalah yang paling mungkin berespon.[3] Ø Antikonvulsan Carbamazepine dan valproat dapat digunakan sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dengan lithium atau suatu antipsikotik. namun jika digunakan sendiri-sendiri mungkin efektif dalam menurunkan episode kekerasan pada beberapa pasien skizofrenia. Walaupun tidak terbukti efektif dalam menurunkan gejala psikotik pada skizofrenia.[3] Ø Benzodiazepin Pemakaian bersama-sama alprazolam (xanax) dan antipsikotik bagi pasien yang tidak berespo terhadap pemberian antipsikotik saja.

topik penting yang dibahas dalam terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan kecepatannya. Dan bila seorang dengan skizofrenia kemudian menjadi sembuh.[7] . maka kira-kira sepertiga dari mereka akan sembuh sama sekali (“full remission atau recovery”). Yang sisanya biasanya mempunyai prognosa yang jelek. PROGNOSIS Dahulu bila diagnosis skizofrenia dibuat. Sepertiga yang lain dapat dikembalikan ke masyarakat walaupun masih didapati cacat sedikit dan mereka masih harus sering diperiksa dan diobati selanjutnya (“social recovery”). pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara cepat.[3] 9. Jika masalah memang timbul pada pasien di dalam keluarga. sehingga mungkin menjadi penghuni tetap di rumah sakit jiwa. Latihan keterampilan ini melibatkan penggunaan kaset video orang lain dan pasien permainan simulasi (role playing) dalam terapi.[3] Ø Terapi Berorientasi Keluarga Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. dan pekerjaan rumah tentang keterampilan yang telah dilakukan. Terapi ini dapat secara langsung membantu dan berguna bagi pasien dan merupakan tambahan alami bagi terapi farmakologis. Dengan demikian frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang dapat diturunkan. bahwa kepribadiannya selalu akan menuju ke kemunduran mental (deteriorasi mental). bahwa bila penderita itu datang berobat dalam tahun pertama setelah serangan pertama. mereka tidak dapat berfungsi di dalam masyarakat dan menuju kemunduran mental.hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan. Sekarang dengan pengobatan modern ternyata. Setelah periode pemulangan segera. maka ini berarti bahwa sudah tidak ada harapan lagi bagi orang yang bersangkutan.[3] Latihan Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Trainning) Sering dinamakan terapi keterampilan sosial (social skills therapy). maka diagnosanya harus diragukan.

Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang akan membebani masyarakat sepanjang hidup penderita.Untuk menetapkan prognosa kita harus mempertimbangkan semua faktor di bawah ini: [1. dan perilaku.  Etiologi skizofrenia: . Dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun. dikarakteristikkan dengan disorganisasi pikiran. KESIMPULAN  Skizofrenia mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di dunia (rata-rata 0. dan pramorbid yang pekerjaan. seksual. bercerai. atau janda/duda Riwayat keluarga gangguan mood Riwayat keluarga skizofrenia Sistem support yang baik Gejala positif Sistem support yang buruk Gejala negatif atau tanda dan gejala neurologis Riwayat trauma masa perinatal Riwayat skizofrenia sebelumya 10. 8] Prognosis Baik Onset lambat Onset akut Prognosis Buruk Onset muda Onset berlahan-lahan & tidak jelas Faktor pencetus jelas Riwayat sosial.85%). Riwayat sosial. pekerjaan.Neurobiologi . dan pramorbid yang baik buruk Gejala gangguan mood (terutama Perilaku menarik diri atau autistik gangguan depresi) Telah menikah Tidak menikah. 3. 7.Model Diatesis-stres . perasaan. Tidak ada faktor pencetus seksual. Namun prevalensi untuk skizofrenia tipe tak terinci belum ada literatur yang menjelaskan.

Kriteria menurut DSM-IV: Terdapat 2 atau lebih gejala waham. Kriteria diagnostik menurut PPDGJ III yaitu: o Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia o Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid. atau katatonik.Gangguan psikotik sekunder dan akibat obat  Penatalaksanaan skizofrenia: .dll .Genetika .Gangguan kepribadian . faktor pencetus. halusinasi.Gangguan mood .Perawatan rumah sakit . dan simptom negatif selama satu bulan atau kurang dari sebulan jika pengobatan berhasil. bicara disorganisasi.Faktor Psikososial  Skizofrenia tipe tidak terinci (Undifferentiated).Terapi psikososial  Prognosis : tergantung dari berbagai faktor.Terapi somatik (antipsikotik) . o Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.Gangguan psikotik lainnya . gejala. terdisorganisasi atau katatonik  Diagnosis banding skizofrenia: . hebefrenik. sistem pendukung. antara lain : onset.. perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas. seksual. tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid. riwayat keluarga. riwayat sosial.

Brent. Lewis. 4 September 2011 [cited 2011 17 September].M. S. Michael J. McIntosh. 7 ed. Smyth. 2008.. 2005..T. Hadisukanto. David.J.I. Ebert.L. 2007. Anonymous. 2001. Rujukan Ringkas dari PPDGJIII.. Rajan. Roger. B. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.news-medical. E..D. Michelle S. Michael E. 8. David A.. ed. D. Kupfer.. Maramis. Current Diagnosis & Treatment in Psychiatry. Jack A. Maslim. Kaplan. Thase. Buku Ajar Psikiatri. D. W. Vol. N. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Andrew. Editor. 2. Diagnosis Gangguan Jiwa. Semple.R. Available from: http://www. Benjamin J. D. 7.. Oxford University Press: United Kingdom. Harold I. 5. Editor.. Charles F. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Travis. Jonathan. Skizofrenia & Diagnosis Banding. Reynolds. Skizofrenia.. 2010. 4. 2001. 1. M. The McGraw-Hill Companies: Tennessee. Sinopsis Psikiatri.DAFTAR PUSTAKA 1. M. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.W. Saddock. et al. S.. Elvira and G. Nurcombe.D.H. Burns. 2007... 6. ed. Skizofrenia. Oxford American Handbook of Psychiatry. Skizofrenia.. 3. Ebert.D. Jakarta: Universitas Trisakti.J. Amir. Darjee.aspx. and M. D. Sinaga.D.R.F. M.H.. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Loosen. David A. . P. Kupfer.net/health/Schizophrenia. and B. Grebb.

Nur Eddy SUPERVISOR : dr. Faisal Idrus Sp.3] LAPORAN KASUS SKIZOFRENIA PARANOID [F 20. H.BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA REFERAT & LAPORAN KASUS SEPTEMBER 2011 REFERAT SKIZOFRENIA TAK TERINCI (UNDIFFERENTIATED) [F 20. KJ (K) DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2011 . M.0] OLEH : Andi Farras Wati (110207041) PEMBIMBING : dr.

Supervisor. Faisal Idrus. Nur Eddy ) ( dr.HALAMAN PENGESAHAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama : Andi Farras Wati Stambuk : 110207041 Telah menyelesaikan tugas referat “SKIZOFRENIA TAK TERINCI (UNDIFFERENTIATED) [F 20.0] ” dalam rangka kepaniteraan klinik bagian psikiatri Makassar . H. Sp.3] ” dan laporan kasus “ SKIZOFRENIA PARANOID [F 20. M. ( dr. September 2011 Pembimbing. KJ (K) ) .

. Definisi ................................................. DAFTAR ISI ...... Terapi ..................... 2........................................................................................................................................................................................................................................ 4.................................................................................................................................................................................................................. Diagnosis Klinis ................ LAMPIRAN i ii iii 1 2 3 3 9 10 14 16 22 23 25 ........................... 3...................... HALAMAN PENGESAHAN .................................................. 8...................................... Pendahuluan ... 6................. Kesimpulan ............................................................... Epidemiologi ...................................... Etiologi ........................................................ DAFTAR PUSTAKA ......................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................... Diagnosis Banding .................... 1.......... Prognosis ............................... 5.. 9...................................... 7......................................... Gejala Klinis ...... 10................................................................

tetapi masyarakat lebih menekankan kepada penderita bahwa mereka adalah orang yang sangat berbahaya bagi lingkungan sekitarnya. [1] Psikosis dapat terjadi ketika seseorang kehilangan kemampuannya untuk membedakan apakah yang diaalaminya itu pengalaman yang berdasarkar realita atau bukan. depresi. psikotik terbagi atau folie adeux. serta penderitaan yang dialami oleh pasien dan pihak keluarga. diasingkan. . Hal ini menyebabkan penderita sering dianggap menjadi beban dan kurang berguna bagi masyarakat. brief psikotik disorder. dan psikotik karena kondisi medis umum atau zat.Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih besar dari masyarakat disekitarnya dibandingkan individu yang menderita penyakit medis lainnya. Gangguan yang termasuk ke dalam kelompok psikosis adalah skizofrenia. atau dipasung. Ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan atau pengertian yang salah dari keluarga atau anggota masyarakat mengenai skizofrenia. Akibat kurangnya pengetahuan mengenai skizofrenia. waktu yang diberikan oleh care-givers untuk penderita. misalnya perlakuan kekerasan. pembicaraan. besarnya biaya yang harus dikeluarkan baik secara langsung untuk membeli obat-obatan dan biaya perawatan. Skizofrenia bukan masalah psikologis semata. gangguan waham. perjalanan penyakit yang kronik dan tidak sembuh. skizoafektif. gangguan kognitif. Kurangnya kesadaran masyarakat akan penyakit ini mungkin berhubungan dengan penatalaksanaan yang tidak adekuat dan fasilitas perawatan yang tidak memadai. ini merupakan gangguan jiwa yang harus dutangani dengan tepat dan benar. Hal ini akan mempengaruhi perasaan. demensia. Onset yang timbul pertama kali pada skizofrenia sering ditemukan pada usia remaja atau dewasa muda. inisiatif. menyebabkan timbulnya pengertian yang salah baik di pihak keluarga maupun lingkungan sekitar sehingga penanganannya menjadi lebih lama disebabkan kebingungan keluarga dalam mencari bantuan yang tepat. pergerakan. Hal ini tampak jelas dialami oleh penderita skizofrenia. mereka sering mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Beban ekonomi dan penderitaan yang harus ditanggung oleh penderita skizofrenia ternyata sangat besar. diisolasi. Sedangkan gangguan yang berhubungan dengan gambaran psikotik adalah mania. maupun secara tidak langsung seperti hilangnya pendapatan pasien. pikiran. Suatu gangguan sudah dapat dikatakan psikosis apabila terdapat gejala berupa waham atau halusinasi. Masyarakat pada umumnya mengesampingkan bahwa perubahan pada seseorang yang menderita skizofrenia berhubungan dengan kepribadiannya yang terpecah. skizofreniform. pekerjaan dan kehidupan sosial dari penderita. perilaku.

. perasaan.dikarakteristikkan dengan disorganisasi pikiran. proses atatu isi pikir dan gerakan serta akan tergantung pada orang lain selama hidupnya. dan perilaku. Seseorang yang menderita skizofrenia akan mengalami gangguan dalam pembicaraan yang terstruktur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful