ABSES LEHER DALAM

Nabila Pratiwy Mardhiah Definisi Abses yang terbentuk dalam ruang potensial di antara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber. Etiologi dan patogenesis Penjalaran infeksi dari gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah, leher. Penyebab paling sering infeksi gigi(43%). Kumannya bias aerob, an aerob maupun fakultatif anaerob  streptococcus, staphylococcus ataupun Bacterioides. Infeksi gigi  mengenai pulpa dan periodental -> penyebaran infeksi meluas melalui foramen apikal gigi ke daerah sekitarnya  apex gigi M1 berada diatas myoloid, penjalaran infeksi akan masuk lebih dahulu ke daerah sublingual. M2 dan M3 apexnya berada dibawah myoloid sehingga infeksi langsung ke daerah submaksila. Penyebaran infeksi melalui beberapa jalan, yaitu: hematogen, limfogen dan celah antar ruang leher dalam. Infeksi dari submandibula  meluas ke ruang mastikator  meluas ke parafaring. Klasifikasi  Abses Peritonsil (Quinsy) :. Etiologi: Komplikasi dari tonsillitis akut, infeksi yang bersumber dari kelenjar mucus Weber di kutub atas tonsil. Daerah superior dan lateral fossa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar  infiltrasi supurasi ke ruang peritonsil tersering disini  palatum mole membengkak.
1

Penatalaksanaan: stad infiltrative : antibiotic. obat kumur & kompres dingin leher. abses paru. riwayat infeksi saluran nafas atas. setelah 3-4 hari drenase abses (a’ tiede). Pterygoideus interna  trismus abses pecah  aspirasi ke paru. hipersalivasi. Gejala : Demam. trauma. ‘hot potato voice’. 4-6 minggu setelah drenase abses (a’froid). foetor ex ore.IX-Glossopahryngeus). Tonsilektomi merupakan indikasi absolut pada orang dengan abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas ke jaringan sekitarnya. perubahan suara. analgetik. Komplikasi: abses pecah spontan—pneumonia apirasi/piemia. tonsil bengkak kadang hiperemis banyak detritus. pergerakan leher terbatas. Stad supuratif : insisi abses. mukosa bengkak dan hiperemis. asfiksia. meningitis dan abses otak. demam. Gejala: rasa nyeri dan sukar menelan (odinofagia+disfagia). endoskopi. abses leher dalam terbanyak pada anak. Insisi abses dilakukan via laringoskopi dalam posisi trendelenburg.  Abses Parafaring 2 . Komplikasi: penjalaran ke ruang parafaring. Odinofagia. Pemeriksaan fisik: benjolan dinding belakang faring. Penatalaksanaan: antibiotic. uvula terdorong kontralateral. Dianjurkan untuk operasi tonsilektomi. trauma oleh benda asing atau tindakan medis—adenoidektomi. antipiretik. sesak—stridor. bersamaan dengan tindakan drenase abses (a’chaud). Pemeriksaan fisik: ditemukan trismus.  Abses Retrofaring: biasa ditemukan pada anak usia <5tahun. dan tindakan bedah. Etiologi: infeksi saluran nafas atas – limfadenitis retrofaring. penjalaran infeksi ke parafaring—abses parafaring.(Stadium infiltrat) pembengkakan+ permukaan tonsil hiperemis  proses berlanjut  supurasi menjadi lunak dan tambah bengkak  pembengkakakan mendorong tonsil dan uvula ke arah kontralateral proses berlanjut  peradangan jaringan disekitar  iritasi m. nyeri leher. arkus faring asimetris. abses pecah spontan—pneumonia aspirasi. intubasi endotrakea. analgetik-antipiretik. palatum mole bengkak dan menonjol kedepan. penjalar intracranial—thrombosis sinus kavernosus. Otalgia(nyeri alih N. mediastinitis.sakit kepala. trismus.

angulus mandibula dapat teraba Tatalaksana: antibiotic parenteral dosis tinggi. broad spectrum. abses submandibula. insisi pada tempat paling fluktuatif atau setinggi os hyoid. disfagia. lebih dari 7 mm dan setinggi servikal VI yang lebih 4 mm pada anak dan lebih 22 mm pada orang dewasa 2.perikontinuitatum. rontgen servikal lateral Abses retrofaring: Penebalan jaringan lunak pada prevetebra setinggi servikal II (C2). pendorongan lateral faring ke medial. Injury vascular—nekrosis a.  Angina Ludovici( ludwig’s angina): selulitis ruang submandibula Etiologi: infeksi dentogen tersering M3bawah. pembengkakan rgio submandibular. angulus mandibula tidak teraba.Etiologi: infeksi langsung—tusukan jarum saat tonsilektomi. trismus. faring. Terapi: antibiotika spectrum luas. septicemia Tatalaksana: antibiotika parenteral. Komplikasi: akibat peradangan—spreading hematogen. tonsil. retrofaring. hiperemis dan keras pada perabaan. Pemeriksaan fisik: pembengkakan submandibula. evakuasi abses. Eksplorasi untuk dekompresi Pemeriksaan penunjang 1. adenoid. gigi. odinofagi. Penjalaran infeksi faring. Pemeriksaan fisik: pembekakan faring. pericoronitis. gejala obstruksi jalan napas—sesak. rontgen panoramiks 3 . flukuatif. stridor. supurasi kelenjar limfe bagian dalam dan jaringan sekitanya. nyeri tenggorok. parenteral. Kebanyakan perluasan abses leher dalam lain: abses peritonsil.carotis— ruptur. eksplorasi dalam narkose. Gejala: demam.limfogen. trismus. terkadang merupakan campuran aerob-anaerob Gejala: riwayat nyeri tenggorok & leher. high dose. lidah terangkat keatas dan terdorong ke belakang. periflebitis dan thromboplebitis. Drainase  Abses Submandibula Etiologi: infeksi bersumber dari gigi. evakuasi abses jika 24-48 jam tidak ada perbaikan setelah diterapi antibiotic dengan cara eksplorasi dalam narkosis. Gejala: demam dan nyeri leher. kelenjar liur atau kelenjar limfe subandibula.

4. kombinasi ceftriaxone dan klindamisin. pendorongan saluran nafas. kombinasi ceftriaxone dan metronidazole. batas yang lebih jelas. secara empiris pemberian ceftriaxone dan metronidazole paling efektif. kadang ada air fluid level.Curiga abses berasal dari gigi 3.Tomografi computer (CT Scan) CT scan dengan kontras merupakan gold standar. enterobacter 4 . proteus. Gentamisin (aminoglikosida) dapat ditambahkan jika dicurigai penyebabnya termasuk kuman entrik seperti Klebsiella. yaitu: Kombinasi klindamisn dan gentamisin. kombinasi cefuroxime dan klindamisine atau kombinasi penisilin dan metronidazole. 5. Gambaran abses :lesi dengan hipodens. CT scan diperlukan jika ada perluasan ke daerah mediastinum. pemeriksaan bakteriologi Penatalaksanaan Antibiotik : Sebelum hasil kultur dan uji sensitifitas keluar diberikan antibiotik aerob dan anaerob secara empiris. rontgen toraks Evaluasi mediastinum. Berdasarkan kuman penyebab terbanyak abses leher dalam yaitu jenis streptokokus. stafilokokus dan kuman anaerob. pneumonia akibat aspirasi abses. empiema subkutis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful