You are on page 1of 11

“Seminar Nasional Perumahan Rakyat.

Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan


Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Community Action Planning


sebagai alternatif perencanaan rumah susun rakyat Jakarta berbasis komunitas

Elisa Sutanudjaja

ABSTRAK
Pengadaan rumah susun sebagai pengganti kawasan kampung padat dan kumuh oleh
Pemda DKI Jakarta terkadang tidak tepat sasaran. Salah satu penyebabnya adalah
kurangnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan perancangan rumah
susun. Akibatnya tidak jarang kepemilikan rumah susun berpindah tangan atau bahkan
memiliki tingkat hunian rendah.

Perencanaan berbasis komunitas (Community Action Planning/CAP) diharapkan


memberi peluang masyarakat menengah bawah untuk turut berpartisipasi dalam
perencanaan cikal bakal rumah mereka. Strategi ini merupakan metode perencanaan
alternatif dengan meninggalkan pakem tradisional: perencanaan dibalik meja.

Dengan terlibatnya segala elemen masyarakat dalam CAP ini, memungkinkan


masyarakat memiliki kendali sepenuhnya mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan
perumahan tersebut.

Paper ini bertujuan untuk mengkaji strategi dan metode tepat sehubungan dengan
pengadaan hunian massal berbasis metode CAP – dengan menghadirkan beberapa studi
kasus di negara berkembang sebagai studi banding.

Kata Kunci: CAP, micro planning, pembangunan berkelanjutan, rumah sususn, kampung kota,
slum upgrading, Jakarta

PENDAHULUAN

Pemerintah mencetuskan program 1000 menara rusun (rumah susun) di tahun 2004 demi
pengadaan rumah rakyat yang terjangkau sekaligus berlokasi di tempat cukup strategis. Walaupun
demikian, rumah susun bagi masyarakat Jakarta bukanlah barang baru – dengan hadirnya banyak
rusun di berbagai daerah sebelumnya, seperti rusun Bendungan Hilir, Tanah Abang, Kemayoran
Pasar Jumat, hingga Klender. Namun tak jarang sasaran rusun bergeser dari seharusnya –
masyarakat yang justru menjadi target pasar malahan menyewakan rusun tersebut kepada kaum
ekonomi lebih tinggi dan memilih untuk kembali ke habitat lama mereka. Kasus ini mudah
ditemui di rusun Kemayoran dan Bendungan Hilir.

Berbeda dengan program rusun lawas, program 1000 menara yang akan dibangun di 10 kota besar
merupakan kerja sama antara pemerintah dan developer, dan pihak swasta/developer mendapat
subsidi besar sehingga mampu memberikan harga yang dianggap terjangkau bagi masyarakat
berpenghasilan 2 juta. Lokasi yang dipilih pun strategis seperti Pulogebang, Cawang, hingga
Cipayung. Termasuk pula 2 lokasi yang baru saja selesai disayembarakan oleh Kementerian
Negara Perumahan Rakyat: Sunter dan Kalimalang. Rusun tersebut akan dipasarkan dengan
sistem sewa maupun jual.

Sasaran pembangunan Rusun tahun 2007-2011, yakni pemenuhan kebutuhan Rusun layak huni
sebanyak 1.000 menara atau sekitar 350.000 unit Rusun, dengan harga sewa/jual yang terjangkau
bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah di kawasan perkotaan yang berpenduduk lebih
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

dari 1,5 juta jiwa. Prioritas utama pembangunan Rusun ditujukan pada kotakota dengan tingkat
urbanisasi dan kekumuhan yang tinggi. Kota-kota yang menjadi prioritas pembangunan, antara
lain meliputi: Medan, Batam, Palembang, Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan
Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, dan Makassar.

Pendekatan yang digunakan oleh pemerintah pun adalah pendekatan tradisional dan konvensional,
dimana didalamnya minim keterlibatan masyarakat – hal itu dapat dilihat dari struktur organisasi
Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di kawasan perkotaan. Berdasarkan
Keputusan Presiden no. 22 tahun 2006 mengenai pembentukan tim tersebut, maka disebut pula
anggota tim yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan ketua harian Menteri
Negara Perumahan Rakyat. Anggota yang terlibat adalah Menteri Dalam Negeri, Menteri
Keuangan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Sosial, Menteri Pertahanan, Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Kepala Badan Pertahanan Nasional, dan
Direktur Utama Bank Tabungan Negara. Dibawah tim tersebut adalah Tim Koordinasi Daerah,
yang diketuai oleh Gubernur dimana anggotanya adalah unsur-unsur Pemerintahan Provinsi,
Pemerintahan Kotamadya/Kabupaten dan Pejabat Pemerintahan terkait jika dipandang perlu, serta
Badan Usaha.

KEGAGALAN RUSUN KONVENSIONAL

Diawal mula pembangunannya, Rusun Marunda kerap mendapatkan kesulitan. Tahun 2006, pihak
developer melalui asosiasinya REI (Real Estate Indonesia) menuding birokrasi dan mekanisme
Pemda Jakarta sebagai penyebab molornya pembangunan Rusun Marunda1. Rencananya akan
tersedia 38 blok bagi 3800 keluarga, dimana tiap blok terdiri dari 100 unit. 9 blok dibiayai
langsung oleh Pemda DKI sementara sisanya akan didanai oleh Pemerintahan Pusat dan
developer. Tarif sewa pun akan diperuntukan bagi tiga golongan tak mampu yaitu Rp 90-150
ribu/bulan hingga Rp 300-500 ribu/bulan.

Namun hingga saat ini, masih banyak unit belum dilengkapi oleh fasilitas air dan listrik.
Sementara lokasi tersebut jauh dari fasilitas umum dan sosial, seperti pasar. Dan tak jarang
penghuni mengeluhkan susahnya sarana transportasi umum dari dan ke rusun Marunda. Faktor-
faktor krusial tersebut menyebabkan banyak warga yang menolak pindah ke rusun Marunda
maupun meninggalkan rusun Marunda.

Sementara itu lemahnya koordinasi dituding sebagai penyebab utama terlantarnya kompeks
rusunawa (rumah susun sewa sederhana) di Bekasi Jaya, seperti vandalisme hingga hilangnya
fasilitas listrik.

PENDEKATAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Contoh diatas menunjukkan komunikasi yang tidak efisien terjalin antara semua pihak yang
terlibat dalam proses desain, konstruksi maupun pelaksanaan. Dalam hal ini pihak tersebut adalah
pemerintah, developer, pengguna (penghuni gedung) hingga investor. Memang bukanlah suatu
bentuk komunikasi yang mudah, apabila ditilik dari latar belakang, pandangan maupun prioritas
masing-masing pihak – dan diperparah dengan keterbatasan waktu dan dana. Inilah skenario yang
kerap terjadi dalam proyek sosial pemerintah. Sehingga perlu adanya media komunikasi yang
mampu menfasilitasi semua kepentingan dan pihak (Larasati, 2006).

Beberapa contoh dari proyek desain produk sederhana maupun efektif menunjukkan keberhasilan
komunikasi kreatif itu, seperti Demotech dan buku manual tata cara penyediaan teknologi tepat
guna pada komunitas lokal. Demotech dengan slogan ‘design for self-reliance’ mendukung
1
Parjiyono, J.26 Februari (2007), Birokrasi Berbelit, Pembangunan Rusun Marunda Tersendat, Suara
Pembaruan.
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

penerapan teknologi inovatif dan tepat guna yang dapat dikonstruksi dengan bahan dan
kemampuan lokal, terutama di daerah pedalaman. Seluruh manual dan tata cara (contoh: gambar
1) tersebut dapat diperoleh secara gratis melalui situs mereka – dalam bentuk gambar yang mudah
dimengerti. Situs itupun interaktif, karena menerima masukan dan partisipasi dari pihak luar
sehingga memungkinkan mereka untuk memperbaiki desain maupun proses pertukaran
pengetahuan.

Gambar 1. Contoh gambar manual pembuatan pompa air Demotech

Metode komunikasi melibatkan seluruh pihak: desainer, kontraktor maupun pengguna – dan
mampu menjadi media diskusi antara desainer dan pengguna awam yang tidak familiar dengan
istilah teknik. Dan untuk proyek arsitektural maupun urban seperti layaknya rumah susun, proses
seperti ini sangatlah memungkinkan dan ideal – karena adanya keterlibatan aktif didalamnya.

COMMUNITY ACTION PLANNING (CAP)

Community Action Planning (Microplanning) atau Perencanaan Berbasis Komunitas, Perencanaan


Tindak Bersama Masyarakat, kerap dideskripsikan sebagai metode yang memberikan peluang
bagi masyarakat sipil madani untuk terlibat secara aktif dalam proses-proses perencanaan
termasuk pula dalam hal pelaksanaan dan tahap evaluasi. Kunci utama keberhasilan CAP ini
adalah workshop aktif yang berbasis dan beranggotakan komunitas didukung oleh berbagai
macam pihak, seperti pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, pihak donor dan/atau
swasta(jika ada) hingga pihak akademisi.

Penerapan CAP ini fleksibel dan dapat dengan mudah berbaur dengan pola budaya masyarakat
setempat. Karena fleksibel, maka CAP dapat diterapkan pada proyek skala nasional maupun skala
lokal. Metode perencanaan partisipatif pun mendorong dan membuka peluang bagi seluruh
masyarakat untuk bersama-sama melakukan perencanaan wilayah hingga peningkatan sarana dan
prasarana lingkungan. Semua pihak yang terlibat dalam CAP adalah sama dan sejajar.

Ada 4 tahapan dasar dalam CAP (Goethert & Hamdi, 1988):


1. Pengenalan Masalah dan Pembuatan Prioritas: Apakah masalahnya?
2. Penyusunan Pendekatan, Strategi dan Opsi: Pendekatan apa yang paling sesuai?
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

3. Perencanaan Penerapan: Siapa melakukan apa, kapan dan bagaimana?


4. Tahap Pengawasan dan Evaluasi

Umumnya, CAP dikerjakan dalam bentuk workshop dan forum yang beranggotakan wakil-wakil
komunitas, fasilitator dan para ahli dari berbagai bidang: sanitasi dan pengadaan air, arsitektur,
desain kota, dan lain-lain. Metode workshop seperti ini diterapkan pada The Million Housing
Programme di Sri Lanka pada periode 1984-1989. Kisah sukses ini berlanjut hingga program
berikutnya di tempat sama pada periode 1989-1994. Pendekatan ini mengalami kesuksesan serupa
di Bangladesh, Afrika Selatan, Nairobi hingga Boston dan Polandia (Goethert & Hamdi, 1988).
Kesuksesan pada kota dan negara yang berbeda – terutama bila ditilik dari tingkat Human
Development Index serta kondisi geografis dan geopolitik, menunjukkan bahwa metode CAP
adalah fleksibel.

Selain partisipasi, proses penerapan CAP menggunakan konsepsi Community Contracting,


dimana masyarakat dan komunitas tersebut memegang kendali penuh terhadap keseluruhan
proses: perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan – sambil didampingi oleh para ahli. Disini
masyarakat menjadi subyek sekaligus aktor. Community Contracting muncul akibat dua kondisi:
ketika pemerintah tidak mampu memberikan solusi tepat dan menyediakan sarana dan prasarana
yang cukup bagi masyarakat miskin kota; sementara disaat sama komunitas mampu memberikan
ide dan tenaga, namun tidak mampu mengorganisir atau memiliki dana yang cukup.

SOSIALISASI DAN FASILITATOR

Sosialisasi dan fasilitator memegang peranan penting dalam keberhasilan CAP. Pemilihan metode
sosialisasi pun beragam dan bisa terkulturisasi dengan budaya lokal. Bisa juga dengan metode
sosialisasi dengan menggunakan gambar ilustrasi yang mudah dikenali masyarakat, seperti
contohnya kartun.

Media kartun sebagai sarana sosialisasi, salah satunya dikembangkan oleh Dr. Dwinita Larasati
dalam disertasi doktoralnya. Booklet (Gambar 2) yang dikembangkan beliau dapat dijadikan
panduan umum panduan penerapan desain dan gaya hidup pada hunian berkelanjutan.

Gambar 2. Ilustrasi sosialisasi dengan menggunakan metode DCBA


“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Penyusunan booklet ini menggunakan metode DCBA yang dikembangkan oleh BOOM, sebuah
firma pembangunan berkelanjutan yang berdomisili di Delft. Metode ini merupakan metode
penafsiran antara beberapa kondisi yang berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan.
Kondisi D berarti kondisi normal yang biasanya terjadi, C adalah penggunaan yang benar, B
adalah kondisi dimana sudah terjadi upaya untuk mengurangi kerusakan lingkungan, sedangkan A
adalah situasi paling ideal. Metode DCBA dapat digunakan sebagai instrument untuk diskusi,
terutama yang berhubungan dengan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan (Larasati, 2006)

Sementara fasilitator menjadi jembatan antara birokrasi (pemerintah maupun lembaga donor),
para ahli dan masyarakat. Kedekatan dan pemahaman terhadap budaya setempat menjadi modal
utama fasilitator.

CAP DI INDONESIA

Sebetulnya Metode CAP bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia, khususnya Jakarta. Di era
tahun 1970, Bank Dunia dan UNDP mendanai program Kampung Improvement Program (KIP).
Program ini cukup efektif dengan membagi komunitas kampung dalam unit kecil yang disebut
Unit KIP dengan cakupan luas 1000 ha per kampung dan populasi sekitar 400.000 orang. Tiap
Unit KIP terdiri atas fasilitator dari UNDP dan Bank Dunia, site manager dan ahli konstruksi dan
teknisi.

Efek positif yang ditimbulkan dari program ini demikian besar – seperti munculnya kegiatan
wiraswasta dalam masyarakat hingga kesadaran akan pentingnya sanitasi. Namun yang terpenting
adalah adanya keterlibatan aktif masyarakat kampung, dengan data hampir 80% masyarakat yang
aktif berpartisipasi dalam proses perencanaan dan penerapan mengalami peningkatan kualitas
hidup (Larasati, 2006). Terlebih lagi, Program KIP pun tidak menganjurkan penggusuran,
sehingga akhirnya mampu memberikan rasa aman dan kepemilikan pada masyarakat kampung.

Namun setelah Unit KIP bergabung dengan Perumnas di tahun 1993, terjadi beberapa
kemunduran, terutama ketika akhirnya KIP dianggap bukan prioritas lagi oleh Perumnas.
Diperparah dengan lemahnya pengawasan oleh instansi menyebabkan menurunnya kualitas
pemeliharaan sarana dan prasarana KIP (Surjadi, 1998).

Metode CAP kembali popular di proyek rekonstruksi Aceh dan Yogya, seperti Integrated People-
Driven Reconstruction in Post-Tsunami Aceh oleh Uplink (Urban Poor Linkage Indonesia) dan
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Marco Kusumawijaya serta Proyek CAP GTZ_GLG dan Yayasan Griya Mandiri di Yogyakarta
pasca bencana gempa.

Diagram 3. Diagram alur interaksi dalam CAP Yogyakarta

Secara garis besar, CAP versi Yogyakarta (Dusun Kalinongko, Kampung Karanganyar, dan Cikal
serta Bintaran) dibagi menjadi 3 tahap (diagram 3):
1. Pre CAP,
meliputi proses kulo nuwun (permohonan ijin), sosialisasi dan pengenalan program serta
pembuatan profil dan maket dusun. Proses pembuatan profil dan maket merupakan aktor
penting dalam memudahkan masyarakat setempat untuk mengidentifikasikan potensi dan
masalah dusun mereka.
2. Rembug Warga,
merupakan kegiatan inti dalam proses CAP: dimana proses tersebut diikuti oleh
masyarakat, pejabat pemerintahan dan mitra terkait serta para ahli. Disini masyarakat
aktif berpartisipasi mulai dari identifikasi masalah hingga pilihan solusi dan rencana
tindak lanjut terhadapa permasalahan yang ditemukan.
Di akhir rembug, bersama-sama mereka membentuk panitia pembangunan yang akan
mengkoordinir kelompok kerja dan bertanggung jawab atas hasil dan kemajuan kegiatan.
3. Paska CAP,
kegiatan ini membantu implemetasi program CAP, antara lain penentuan prioritas
program kerja, penyusunan Rancangan Anggaran Biaya dan penerapan. Termasuk
didalamnya adalah evaluasi dan pengawasan – termasuk diantaranya pengawasan dan
audit keuangan.

Begitu banyak kisah sukses dari penerapan CAP Yogyakarta, antara lain masyarakat Kalinongko
berhasil mewujudkan pengadaan air bersih yang direncanakan, dilaksanakan dan dikelola sendiri
– termasuk melakukan perbaikan sarana jalan. Sementara masyarakat Cikal dan Bintaran
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

mewujudkan bangunan serba guna yang dapat difungsikan sebagai pusat evakuasi apabila terjadi
bencana. Dan masyarakat Karanganyar yang padat mampu mengembangkan sistem pemadam
kebakaran kampung bagi kampung mereka yang rentan terhadap bahaya kebakaran.

Dana pun dihibahkan langsung kepada masyarakat, dan mereka mengelola langsung keuangan
secara transparan. Dan ketika dilakukan audit diakhir proyek, terbukti bahwa mereka bertanggung
jawab penuh dengan mendekati level zero corruption.

UTOPIA RUMAH SUSUN

Konsep utopia arsitek untuk hunian massal bertingkat pertama kali dicetuskan oleh Le Corbusier
dalam desain: The Unite d’Habitation di Marseilles. Konsep rumah susun Le Corbusier adalah
apartemen 2 lantai dengan balkon besar. Tata ruang unit didalamnya memungkinkan untuk sistem
lift skip-stop (lift yang hanya berhenti pada leher tertentu). Lantai dasar diperuntukkan untuk
tempat parki, sirkulasi dan kegiatan rekreasi. Namun desain utopis ini mengabaikan esensi
kehidupan sehari-hari dimana area untuk retail ternyata tidak mampu menampung kegiatan retail.
Dan pada akhrnya banyak unit kosong, karena minimnya variasi hidup di The Unite yang hanya
memiliki zoning tunggal, yaitu hunian.

Masalah kedua adalah pola pikir rasionalis ala birokrat yang sangat kental dalam desain itu. Pada
akhirnya The Unite memang menjadi preseden bagi hunian massal di banyak tempat, dari
Amerika, Inggris hingga Venezuela dan Singapura. Namun hampir tidak ada kisah sukses dari
desain utopis ala Le Corbusier ini. Desain rasionalis itu menemui banyak kegagalan pada
masyarakat miskin, hingga puncaknya adalah kegagalan desain kompleks perumahan Pruitt Igoe
yang akhirnya dihancurkan pada tahun 1972.

Utopia bercirikan sosialis dicetuskan oleh Jane Jacobs, setelah melihat kegagalan desain utopia Le
Corbusier. Jacobs mengusulkan hunian bersubsidi (Jacobs, 1961) tidak hanya dari segi financial
tapi juga dari segi fisikal. Hunian bersubsidi ini ditargetkan pada masyarakat yang tidak mampu
memperoleh perumahan yang didirikan oleh pihak swasta. Konsep hunian usulan Jacobs
mengkritisi desain ala kaum utopis resionalis seperti Le Corbusier, yang melakukan segregasi
zoning berdasarkan pendapatan.

Konsep Jacobs kemudian kerap disebut sebagai guaranteed-rent method yang memungkinkan
subsidi silang sehingga masyarakat tidak mampu membayar sewa rumah sesuai dengan alokasi
gaji yang diterimanya. Kemudian subsidi diberikan oleh pemerintah berdasarkan tipe apartemen
yang terbangun, apakah itu bangunan baru atau bangunan renovasi. Selain itu Jacobs menolak
penggusuran dan/atau relokasi serta mendukung perbaikan hunian yang sudah ada. Dalam
konsepnya tidaklah dikenal konsep paternalistik, tetapi justru memerdekakan daerah kumuh.

RUMAH SUSUN SKENARIO JAKARTA

Kota Jakarta berisikan masyarakat yang terlalu miskin untuk membayar hunian berkualitas. Tak
jarang pula kota tidak memiliki suplai hunian cukup, sehingga tak jarang terjadi kepadatan
berlebihan di beberapa tempat. Karenanya dibutuhkan hunian bersubsidi agar masyarakat mampu
memiliki tempat tinggal terjangkau. Desain modular rasional adalah skenario yang banyak terjadi
di rumah susun Jakarta. Ruang minimum demi mengejar harga konstruksi hingga perpindahan
yang sangat cepat, akibat rasa tidak nyaman dalam rusun.

Sebetulnya pemerintah mulai melibatkan kaum arsitek professional dengan sekian kali melakukan
sayembaran rusun yang dikoordinasikan oleh Kementerian Negara Perumahan Rakyat, dan yang
baru saja selesai yaitu untuk daerah rusun Sunter dan Kalimalang. Namun apakah mereka mampu
menghadirkan solusi tepat guna serta memahami denyut kehidupan masyarakat tertentu?
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Gambar 4. Proposal Sayembara Rusun Kalimalang oleh Han Awal & Partners.

Dalam proposal yang diajukan oleh firma Han Awal & Partners menyebutkan usaha mereka untuk
mengambil bentuk kampung secara mentah-mentah dan kemudian disusun vertical dan
bertumpuk.Usaha itu mereka sebut sebagai Belajar dari Kampung: usaha untuk memindahkan
tatanan hidup perkampungan dengan nilai sosial yang tinggi yang menjadi karakter bangsa
kedalam hunian vertikal.

Gambar 5. Diagram perubahan dari pola dasar unit kamung ke denah


“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Ide dasar kampung ini berasal dari arsitek – tanpa partisipasi masyarakat yang mungkin atau
terpinggirkan berkat proyek ini. Ini adalah upaya arsitek untuk menerjemahkan desain dan solusi
berdasarkan kacamata nya sendiri. Hasil desain perlu dipertanggungjawabkan pada masyarakat –
apakah seperti itu yang mereka inginkan? Pemikiran dan argumentasi pembentukan ruang
berdasarkan tiruan mentah-mentah terhadap pola morfologi kampung kota sebetulnya patut
dipertanyakan ? Morfologi kampung muncul akibat keterbatasan lahan dan status jati diri abu-abu
mereka di hadapan pemerintah. Seandainya kembali kepada kampung asal mereka – apakah
morfologi sama ditemukan ditempat itu ?

Kurangnya peranan masyarakat pun terlihat dari susunan dewan juri, yang keseluruhannya adalah
arsitek dan tidak ada satupun yang menempatkan diri sebagai wakil bakal penghuni rusun.
Sehingga penilaian yang diambil pun menghiraukan masyarakat penghuni sebagai subyek.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SEBAGAI PEDOMAN

Beralih pada istilah pembangunan berkelanjutan yang kerap diartikan sebagai Development that
meets the needs of the present without compromising the ability of the future generations to meet
their own needs – pengertian sederhana itu menunjukkan bahwa pembangunan dan
pengembangan rusun secara dasar harus memenuhi kebutuhan hidup mereka tanpa merusak
keberadaan rusun sebagai tempat hidup. Karenanya penting bagi suatu proyek rusun inovatif
untuk melakukan pendekatan baru demi tercapainya sebuah hunian yang livable dan
berkelanjutan, pendekatan itu antara lain:
- Partisipasi komunitas lokal
- Perasaan akan kepemilikan
- Penggunaan bahan dasar lokal dan ketrampilan lokal
- Usaha untuk menemukan solusi lokal
- Mengakui ketrampilan lokal dan kemampuan komunitas

Sesungguhnya dalam Undang-Undang no. 25 tahun 2004 yang mengatur Perencanaan


Pembangunan Nasional, membuka kesempatan, baik dari segi ruang dan peluang bagi masyarakat
untuk terlibat secara mandiri dalam perencanaan pembangunan di wilayah mereka sendiri, Namun
sayangnya hingga saat ini birokrasi pemerintah justru menjauhkan masyarakat

Apabila belajar dari proyek pasca gempa Yogyakarta, maka akan terlihat bahwa masyarakat
apabila diberi ruang partisipasi mampu mengurus dan membuat perencanaan berkaitan dengan
penataan wilayah kawasan serta tata lingkungan yang dapat mendukung sirkulasi kehidupan
masyarakat. Masyarakat pun mampu membuat perencanaan dengan keragaman jenis program
kegiatan – yang tentunya terkadang tidak terpikir oleh arsitek yang bukan berasal dari lingkaran
masyarakat serupa. Program yang diajukan dari, oleh dan untuk masyarakat sendiri, lebih tepat
guna dibandingkan dengan program utopis ala Le Corbusier.

MERACIK CAP DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN HUNIAN DAN RUSUN JAKARTA

Walaupun selama ini kerap diterapkan pada proses rehabilitasi, metode CAP bukannya tidak
mungkin diterapkan dalam penyelenggaraan dan pengadaan hunian di Jakarta – selain upaya
rehabilitasi hunian yang sudah eksis di Jakarta. Konsensus masyarakat dalam CAP sebetulnya
sesuai dengan cirri-ciri masyarakat Indonesia, yaitu gotong royong.

Pelaksanaan CAP memiliki beberapa tantangan, seperti sebagai berikut :


1. Konsultasi berlarut bisa memperpanjang waktu pelaksanaan
2. Perlu adanya toleransi tinggi demi mencapai consensus bersama
3. Perlu adanya komitmen antara masyarakat demi mencapai tujuan bersama
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Namun segi positif penyelenggaraan CAP pun tak kalah banyak, seperti membangun rasa percaya
diri dan harga diri pada masyarakat, meningkatkan rasa kepemilikan akan properti, menghargai
dan merawat properti sebagai bentuk pernghargaan terhadap hasil karya sendiri, hingga
menjadikan CAP sebagai sarana pembelajaran dan bermasyarakat. CAP pun dapat menjadi sarana
membentuk dan memajukan suatu komunitas.

Terlepas dari segala kaitan teknis dan desain semestinya satuan hunian rumah susun, metode CAP
merupakan perwujudan dan penegasan terhadap desain itu sendiri. Desain yang muncul dari
aspirasi masyarakat tentu akan memiliki nilai dan kualitas yang berbeda.

Sehingga langkah-langkah yang perlu diambil guna memadukan metode CAP dalam pengadaan
rumah baik model hunian tunggal padat maupun rumah susun oleh pemerintah adalah :

1. Kenali potensi lokal, baik itu sumber daya alam, keahlian dan manusia
2. Pembentukan komisi di tiap satuan kelompok masyarakat (misalnya per kampung)
3. Giatkan partisipasi penuh masyarakat
4. Metode sosialisasi interaktif yang memungkinkan masyarakat awam untuk memahami
proses desain, konstruksi dan pemeliharaan
5. Perlu adanya tim perencana yang terdiri dari para ahli, birokrat, penyandang dana dan
wakil masyarakat
6. Pemberdayaan masyarakat, baik sebagai tenaga kerja lokal sebelum maupun sesudah
proses konstruksi – demi menanamkan rasa kepemilikan
7. Solusi dan program lokal yang adaptif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
8. Pemberian kepercayaan kepada masyarakat, seperti pengelolaan dana secara komunal
hingga menjadi pengawas dengan didampingi ahli atau fasilitator atu wakil pemerintahan.
9. Pemerintah berperan sebagai pemberi subsidi dan insentif
10. Perlu adanya pengawasan berkala pasca konstruksi

DAFTAR PUSTAKA

Archer, R.W. (1990). An Outline Urban Land Policy for the Developing Countries of Asia.
Bangkok: Human Settlements Division, Asian Institute of Technology.

Budihardjo, Eko & Djoko Sujarto. (1999). Kota Berkelanjutan. Bandung: Penerbit Alumni.

Brennan, E. (1993). Urban Land Housing Issues Dalam Kasarda & Parrell (Ed.) Third World
Cities, Problems, Policies and Prospects. Newbury Park: Sage Publications.

Goethert, R & Hamdi, N. (1988). Making Micro Plans: A Community based process in
programming and development. London: Itdg Publications

Jacobs, J. (1961). The Death and Life of Great American Cities. New York: Random House.

Jansen, J. (2000). Designing and Building with Bamboo. INBAR: Technical Report 20.

Lang, J. (2005). Urban Design: A Typology of Procedures and Products. Oxford: Architectural
Press.

Larasati, D. (2006) Towards an Integral Approach of Sustainable Housing In Indonesia with An


Analysis of Current Practices in Java. Delft: TU Delft.
“Seminar Nasional Perumahan Rakyat. Strategi Percepatan Pembangunan Perumahan Swadaya Berbasis Kearifan
Lokal.17 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara - Universitas Bina Nusantara”

Sanoff, H. (2000). Community Participation Methods in Design and Planning. New York: Wiley.

Surjadi, Charles & Darrundono, Haryatiningsih. (1998). Review of Kampung


Improvement Program Evaluation in Jakarta. Final Report for UNDP/World Bank Water
and Sanitation Program by the Regional Water and Sanitation Group for East Asia and
the Pacific. Jakarta: UNDP/World Bank