1

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah Setiap pelaku usaha dalam menjalankan usahanya memiliki motivasi dan tujuan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu diperlukan kerja sama dengan pihak pelaku usaha lain, agar cakupan ekspansi usahanya bisa jauh menjadi lebih luas dan dengan demikian hasil yang didapat pun bisa menjadi berlipat ganda. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya dunia usaha banyak pelaku usaha yang melakukan ekspansi usaha dalam skala yang lebih besar. Agar ekspansi usaha tersebut dapat terlaksana, tentunya tidaklah memungkinkan apabila pelaku usaha tersebut hanya menjalankan usahanya tanpa merangkul pelaku usaha lain untuk saling bekerja sama dalam mengembangkan usahanya. seiring dengan adanya mekanisme pasar bebas, maka semakin terbuka kesempatan bagi para pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi.1 Dalam menjalankan usahanya, para pelaku bisnis pada prinsipnya harus mengikuti etika dalam berbisnis. Namun kenyataannya, dalam mencapai tujuannya tersebut, tidak sedikit pelaku usaha yang menjalankan usahanya dengan menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mempedulikan kepentingan orang/ pihak lain, sehingga hal ini berakibat pada munculnya berbagai bentuk penggabungan usaha yang sejatinya tidak sehat apabila dipraktekan, karena dapat menciptakan iklim usaha yang dinilai tidak etis Tumbuhnya perusahaan-perusahaan swasta besar beserta dengan anak- anak perusahaan yang menguasai pangsa pasar secara luas menimbulkan kekhawatiran
1 Faisal Salam, Pertumbuhan Hukum Bisnis di Indonesia, Penerbit Pustaka, Bandung, 2005, hlm 282.

bagi masyarakat terutama bagi para pengusaha menengah ke bawah. Kekhawatiran tersebut menimbulkan kecurigaan telah terjadinya suatu perbuatan yang tidak wajar dalam pengelolaan bisnis mereka, seperti telah terjdinya praktek monopoli dan persaingan curang/ persaingan tidak sehat antar sesama pelaku usaha yang berdampak sangat merugikan pelaku usaha lain.2 Adapun yang dimaksud dengan praktek monopoli ialah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibtakan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Sedangkan yang dimaksud dengan persaingan curang (persaingan tidak sehat) adalah suatu persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak jujur atau dengan cara melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.3 Dalam dunia bisnis, bentuk kerjasama dalam rangka pengembangan usaha tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui penggabungan (merger), peleburan (konsolidasi), maupun pengambilalihan (akuisisi) badan usaha.4 Pelaksanaan merger di Indonesia telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata juncto beberapa Peraturan Pemerintah yang mengatur mengenai perjanjian dalam pelaksanaan merger, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Perseroan Terbatas, yang mengatur mengenai aspek badan hukum perusahaan yang akan melakukan merger, dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Merger merupakan sarana yang penting untuk mencapai efisiensi dan produktivitas ekonomi. Pelaksanaan merger dapat memperbesar skala usaha suatu
2 Ibid. 3 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis - Menata Bisnis Modern DI Era Global, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm 213. 4 Abdul Moin, Merger, Akuisisi, dan Divestasi, Penertbit PT. Ekonisia Press, Yogyakarta, 2007, Hlm. 2.

6 Untuk mengantisipasi hal tersebut.3 perusahaan. Refika Aditama.8 Dalam Undang-Undang No. Hal yang menjadi masalah ialah apabila perusahaan tersebut menggunakan cara persaingan yang tidak sehat untuk menguasai pasar. perjanjian penetapan dibawah harga pasar. kekuatan monopoli perusahaan yang bergabung tersebut juga akan semakin besar. 7 Faisal Salam. 9 Ibid.5 Penguasaan pasar dapat dicapai oleh perusahaan yang melakukan merger melalui persaingan yang sehat. 2006. maka dengan adanya merger. Pemerintah mengeluarkan UndangUndang No. pemboikotan. oligopoli. Penerbit PT.9 Dalam Undang-Undang ini 5 Johannes Ibrahim. Undang-Undang ini difungsikan sebagai rambu-rambu untuk setidaknya dapat menghindarkan terjadinya penguasaan pangsa pasar dalam satu tangan (monopoli) dan praktek persaingan yang curang. Hukum Organisasi Perusahaan – Pola Kemitraan dan Badan Hukum. Bandung. Namun apabila ditinjau dari sisi pasar. efektif. 81 6 Ibid. price fixing. oligopsoni. hlm. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat juga diatur mengenai laranganlarangan untuk melakukan perbuatan yang mengacu pada pemusatan kekuatan ekonomi dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua pelaku bisnis dalam iklim usaha yang sehat. dan efisien agar tumbuh ekonomi pasar yang wajar dengan menentukan larangan beberapa jenis perjanjian yang mengarah pada terjadinya praktek monopoli. integrasi vertikal. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat disebutkan bahwa setiap orang yang berusaha di Indonesia harus dalam situasi persaingan yang sehat sehingga tidak menimbulkan pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu dan tetap mengacu pada perjanjian internasional yang telah disepakati Indonesia. Hlm 290. . pembagian wilayah pemasaran. perjanjian yang dilarang tersebut termasuk perjanjian yang dilakukan dengan pihak luar negeri. Cit.7 Dalam Undang-Undang No. Op. pembentukan kartel dan trust. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 283. 8 Ibid. Hlm.

juga disebutkan bahwa merger itu juga dilarang jika dapat menyebabkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. sebagai lembaga pengawas persaingan usaha di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan pembahasan yang akan dituangkan kedalam penulisan hukum yang berjudul : “PENGGABUNGAN USAHA YANG DILARANG MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA” Identifikasi Masalah . diharapkan para pelaku usaha dapat bersaing secara sehat sehingga seluruh kegiatan ekonomi dapat berlangsung lebih efisien dan memberi manfaat bagi konsumen. Berdasarkan Pasal 30 ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengenai penggabungan usaha (merger) yang dilaksanakan di Indonesia. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tersebut beserta dengan lembaga yang mengawasi pelaksanaannya. KPPU berdiri sebagai suatu lembaga independen dan terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah atau pihak lain dan bertanggung jawab kepada Presiden. sehingga dalam hal ini KPPU haya terkesan mengandalkan laporan dari masyarakat atau pihak yang dirugikan tanpa adanya inisiatif dari pihak KPPU itu sendiri. dalam melaksanakan tugas pengawasan dan kewenangan yudisial. KPPU baru menjalankan tugasnya ketika mendapatkan laporan dari masyarakat atau pengaduan dari pihak-pihak yang dirugikan mengenai adanya pelanggaran terhadap Undang-Undang No. Namun demikian. Dengan hadirnya Undang-Undang No.

penulis mencoba untuk mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: Sejauh mana dampak negatif dari praktek penggabungan usaha yang dilarang bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia dikaitkan dengan undang-undang No 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat? Bagaimana efektifitas peran KPPU dalam mencegah dan menindak praktekpraktek penggabungan usaha yang dilarang di Indonesia berdasarkan undang-undang No 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat? Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan dari diadakannya makalah ini adalah: Untuk menentukan sejauh mana dampak negatif dari praktek penggabungan usaha yang dilarang bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Untuk menentukan efektifitas peran dari KPPU dalam mencegah dan menindak praktek-praktek penggabungan usaha yang dilarang di Indonesia.5 Dari uraian serta paparan di atas. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah pengkajian materi dari penulisan skripsi ini. maka penulis akan menyusun makalah ini berdasarkan sistematika pengelompokan babbab yang terdiri dari: BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang alasan atau latar belakang penulis membuat penulisan hukum bertemakan masalah penggabungan usaha yang dilarang menurut peraturan .

BAB IV KESIMPULAN Bab ini berisi kesimpulan atas materi-materi yang telah dibahas dalam babbab selanjutnya.perundang-undangan di Indonesia. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dipaparkan penjelasan-penjelasan secara teoritis mengenai pengertian penggabungan usaha (merger). Selain latar belakang. BAB III ANALISIS / PEMBAHASAN Bab ini berisikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hukum yang muncul antara penggabungan usaha (merger) dan praktek moonopoli serta persaingan tidak sehat disertai dengan analisis terhadap contoh kasus yang memiliki keterkaitan dengan tema penggabungan usaha yang dilarang berdasarkan hukum di Indonesia. bab ini juga menguraikan identifikasi masalah. alasan dilakukannya merger. serta sistematika penulisan. serta keterkaitan antara penggabungan usaha dengan merger. serta potensi munculnya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dengan dilaksanakanya merger. maksud dan tujuan yang hendak dicapai. BAB II .

27 Tahun 1998 tentang Penggabungan. yaitu: “Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 1 (satu) perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada dan selanjutnya perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar. . yaitu:10 “Merger is combination of two or more corporation. 77-78. where the dominant unit absorbs the passive unit.” Dari pengertian Penggabungan Usaha tersebut diatas. dijelaskan mengenai pengertian Penggabungan Usaha (Merger). dimana perusahaan yang dominan mengabsorpsi perusahaan yang pasif. maka dapat diketahui bahwa Penggabungan Usaha (Merger) memiliki unsur-unsur sebagai berikut: Adanya perbuatan hukum. perusahaan yang dominan melanjutkan kegiatan. usually under the same name.” Black’s Law Dictionary memberikan definisi mengenai Merger. pada umumnya dengan nama yang sama). Cit. Hlm. 10 Johannes Ibrahim.7 PENGGABUNGAN USAHA YANG DILARANG BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA Penggabungan Usaha (Merger) Pengertian Penggabungan Usaha (Merger) Dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah No. Op. the former continuing operations.” “(Penggabungan (Merger) adalah suatu kombinasi dari 2 (dua) atau lebih perusahaan. Adanya 2 (dua) perseroan atau lebih. dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. perusahaan yang dominan mengabsorpsi perusahaan yang pasif. Peleburan.

57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Hukum Merger Perseroan Terbatas. terdapat 3 (tiga) tipe merger. 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan. Peraturan Pemerintah No. dan Adanya keputusan yang sama.Adanya tujuan yang sama. Peleburan. 5 Tahun 1999 tetang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. sedangkan merger vertikal terjadi apabila 2 (dua) perusahan yang memiliki tahapan operasionalproduksi yang berbeda. Tipe Penggabungan Usaha (Merger) Secara umum. Merger horizontal terjadi apabila 2 (dua) perusahaan yang memiliki lini usaha yang sama bergabung. Peraturan Pemerintah No. Konsolidasi. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. 2004. 28 Tahun 1999 tentang Merger. Merger konglomerat terjadi apabila 2 (dua) perusahaan yang tidak memiliki usaha yang sama (terkait) bergabung. Penerbit PT. yaitu merger horizontal. 31 . diatur dalam: Undang-Undang No. 11 Cornelius Simanjuntak. dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. merger vertikal. yaitu salah satu perseroan akan menggabungkan diri kepada (ke dalam) perseroan yang menerima penggabungan. Citra Aditya Bakti. 11 Dasar Hukum dilaksanakannya Penggabungan Usaha (Merger) di Indonesia Mengenai penggabungan usaha (merger) di Indonesia. dan Akuisisi Bank. yaitu perseroan yang menggabungkan diri akan bubar. Hlm. Bandung. dan merger konglomerat.

213-214. Kualitas barang dan/atau jasa. 12 Munir Fuady. . Hlm. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang atau atas penggunanaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. menurut Pasal 1 huruf b UndangUndang No. Dengan demikian. Praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat harus dilarang dan diatur oleh hukum karena tindakan monopoli dapat memberikan dampak negatif terhadap: Harga barang dan/atau jasa.9 Monopoli dan Persaingan Curang Pengertian Monopoli dan Persaingan Curang12 Salah satu bidang yang dilingkupi oleh hukum bisnis adalah bidang anti monopoli dan antitrust (persaingan curang). 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. praktek monopoli adalah suatu pemusatan ekonomi oleh 1 (satu) atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Pasal 1 huruf a Undang-Undang No. Op. Cit. Sedangkan yang dimaksud dengan persaingan curang (persaingan tidak sehat) adalah suatu persaingan antarpelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak jujur atau dengan cara melawan hukum atau menghambat persaingan usaha. Adapun yang dimaksud dengan istilah ‘pemusatan kegiatan ekonomi’ adalah suatu penguasaan yang nyata atas suatu pasar oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga dapat menentukan harga barang atau jasa. Kuantitas barang dan/atau jasa.

. Larangan-larangan tersebut berupa larangan untuk: Oligopoli. Larangan melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan tidak sehat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ialah: Larangan melakukan perjanjian dengan pelaku usaha lain yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Oligopsoni. Kartel. Trust. Penetapan Harga. Pemboikotan. Pembagian Wilayah. Monopsoni. Integrasi Vertikal. Kegiatankegiatan yang dilarang itu adalah: Monopoli. Perjanjian Tertutup. Perjanjian dengan pihak luar negeri. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat Adapun hal-hal yang dilarang berdasarkan ketentuan dalam UndangUndang No.Hal-hal yang dilarang berdasarkan Undang-Undang No.

Cit. Akuisisi dan Konsolidasi. Persengkongkolan Posisi Dominan di Pasar. Op. Pelaksanaan merger dapat memperbesar skala usaha suatu perusahaan yang melakukan merger. Namun apabila ditinjau dari sisi penguasaan pasar. Penguasaan pasar dilarang oleh Undang-Undang Persaingan Usaha Tidak Sehat. 14 Munir Fuady. Pemilikan Saham. Itulah sebabnya. hukum tetang merger dan hukum tentang persaingan usaha tidak sehat sangat mewanti-wanti agar suatu merger tidak sampai melangar ketentuan UndangUndang tersebut. Hubungan Undang-Undang Persaingan Usaha Tidak Sehat dengan Penggabungan (Merger) Badan Usaha13 Merger merupakan sarana yang penting untuk mencapai efisinesi dan produktivitas ekonomi. Semakin besar skala usaha suatu perusahaan tersebut. Hlm. sehingga keuntungan yang diperoleh pun lebih besar. yaitu posisi yang timbul dari kegiatan sebagai berikut: Penyalahgunaan Posisi Dominan. Jabatan Rangkap. Penguasaan pasar dapat dicapai oleh perusahaan yang melakukan merger melalui persaingan yang sehat. merger tersebut berarti memperbesar penguasaan pasar sehingga kekuatan monopoli perusahaan yang bergabung tersebut juga akan semakin besar. biaya produksi rata-rata perusahaan yang bersangkutan akan semakin menurun. Hlm. Op.11 Penguasaan Pangsa Pasar. 14 13 Johannes Ibrahim. 106 . 90-92. Cit. Hal yang menjadi masalah adalah apabila perusahaan tersebut menggunakan cara persaingan yang tidak sehat melalui pelaksanaan merger tersebut dalam usahanya untuk menguasai pasar. Merger.

91. Hal ini akan mengakibatkan kelangkaan penawaran. Adanya ketidakstabilan atas supply produk tersebut di masyarakat. Kesejahteraan ekonomi masyarakat menjadi terhambat. Konsumen tidak dapat mengkonsumsi lebih 15 Harga supracompetitive ialah harga yang melampaui harga yang dianggap wajar oleh masyarakat pada umumnya. . Pelaku usaha tersebut dapat menekan dan mengeksploitasi konsumen. misalnya dengn berproduksi di bawah kapasitasnya. sehingga berdampak pada pembangunan nasional.cit. produknya tetap akan diserap konsumen. Apabila pada masa yang akan datang pasar tersebut harus dibuka. baik berupa barang maupun jasa. Hal ini disebabkan karena ketersediaan produk tersebut hanya bergantung pada satu produsen. konsumen tidak mempunyai pilihan lain kecuali membeli produk. sehingga masalah yang muncul secara internal pada perusahaan itu akan mengganggu produksi secara nasional.Dalam struktur pasar dimana hanya terdapat satu perusahaan dan terdapat banyak pembeli yang tergantung pada perusahaan tersebut. sehingga hal ini merugikan konsumen. berapapun harga produk dan bagaimanapun kualitasnya. sangat mungkin pelaku usaha tersebut harus dibuka. sehingga produk yang dijual menjadi mahal. Pelaku usaha yang memonopoli suatu pasar dapat memanfaatkan harga supracompetitive ini untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin dari konsumen. Hlm. Pelaksanaan Merger dapat mengarah pada persaingan usaha tidak sehat dengan alasan: Pemanfaatan sumber-sumber ekonomi menjadi tidak ekonomis. Pelaku usaha tersebut beranggapan. Hal ini dapat terjadi karena dalam pasar tersebut. Op. dari pelaku usaha yang bersangkutan. perusahaan tersebut dapat menerapkan harga supracompetitive15 yang merugikan konsumen. sehingga pelaku usaha tersebut tidak terpacu untuk mencari pola produksi yang terbaik atau paling efisien. sangat mungkin pelaku usaha tersebut tidak dapat bertahan dan akan gulung tikar. Menghambat munculnya inovasi-inovasi baru dalam produk tersebut. Hal ini terjadi karena hanya terdapat satu produsen di pasar. Johannes Ibrahim. akibatnya produk tersebut menjadi tertinggi dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh negara lain.

haruslah diperhatikan faktor-faktor utama sebagai berikut:16 Berapa banyak pelaku pasar untuk produk yang bersangkutan. tidak berpeluang untuk menghasilkan dan menjual produknya secara langsung ke pasar. Hal ini sangat mengurangi tingkat kesejahteraan. Syarat-syarat penjualan produk. sehingga potensi untuk memperoleh pendapatan juga tidak dapat dimanfaatkan. Kecenderungan arah perubahan kondisi pasar. yang sangat banyak jumlahnya. Cit. merger sangat erat kaitannya dengan 16 Munir Fuady. demikian pula produsen skala menengah dan kecil. yang dapat mengakibatkan timbulnya monopoli atau persaingan tidak sehat. Ketersediaan produk subtitusi. Kondisi finansial dari pelaku pasar. Berapa besar pangsa pasar yang dikuasainya. Salah satu perbuatan hukum yang dapat menimbulkan posisi dominan di pasar adalah tindakan merger. Hlm. 128 . Op. keuntungan yang akan diperoleh akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pasar bersaing. sedangkan peluang produsen untuk masuk ke sektor tersebut tertutup. Apabila mencapai permintaan.Cit.13 banyak dari yang seharusnya dapat dikonsumsi seandainya kondisi pasarnya bersaing. suatu perusahaan dilarang memiliki posisi dominan. Kemudahan mendapat jalan masuk ke pasar. Hlm. Tipe (Bentuk) Merger yang menciptakan Praktek Monopoli17 Sebagaimana dijelaskan diatas. 106 17 Cornelius Simanjuntak. Market performance. Op. Oleh ketentuan di bidang persaingan usaha tidak sehat. Untuk dapat memastikan ada atau tidaknya unsur praktek monopoli dan persaingan tidak sehat.

bahwa Bank Indonesia dalam memberikan izin merger akan menilai apakah pelaksanaan merger tersebut tidak akan menimbulkan pemusatan ekonomi pada 1 (satu) orang atau kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.regulasi monopoli dan persaingan tidak sehat. Namun demikian. Berbagai macam tipe merger sebagaimana telah dijelaskan diatas. yang paling berpotensi untuk menimbulkan praktek monopoli ialah merger yang berbentuk horizontal. maka merger horizontal tersebut tetap dapat dijalankan dan tidak terkena larangan yang diatur dalam Pasal 28 ayat (1) UndangUndang No. 5 Tahun 1999 tentang larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pentingnya pengaturan larangan praktek monopoli tersebut terlihat pada merger bank. yaitu keduanya terkait dengan “barang atau jasa sejenis”. yaitu merger 2 (dua) perusahaan yang memiliki lini usaha yang sama atau bersaing di industri yang sama “banyak menyebabkan terjadinya monopoli”. Konsolidasi. . 28 Tahun 1999 tentang Merger. dinyatakan dengan tegas di dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. dan Akuisisi Bank. Alasannya sangat jelas. tidak semua merger horizontal akan menyebabkan terjadinya praktek monopoli karena apabila penguasaan pangsa pasar 1 (satu) jenis barang atau jasa tertentu oleh 1 (satu) pelaku usaha atau 1 (satu) kelompok pelaku usaha (yang melakukan merger) menguasai tidak lebih dari 50% (lima puluh persen) atau merger yang terjadi tidak akan mengakibatkan barang dan atau jasa yang bersangkutan tidak ada substitusinya atau merger tersebut tidak akan mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama. karena terdapat perbedaan mendasar (pokok) diantara merger horizontal dan praktek monopoli. karena merger merupakan suatu penggabungan usaha antara 2 (dua) perusahaan ke dalam 1 (satu) perusahaan yang mana dengan penggabungan usaha tersebut maka akan menimbulkan adanya penguasaan 1 (satu) perusahaan hasil merger atas produk-produk atau jasa-jasa dari perusahaan yang menggabungkan diri.

serta sebagai implementasi dari semangat dan jiwa UUD 1945 yang berlandaskan pada asas demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum. KPPU merupakan lembaga yang independen. Tujuan dibentuknya KPPU adalah agar implementasi undang-undang serta pertauran pelaksanaannya dapat berjalan efektif sesuai dengan asas dan tujuannya. Dalam mengawasi dan menerapkan UU No. Antara lain KPPU bertujuan untuk melakukan advokasi sehigga secara bertahap bidang bisnis yang struktur pasarnya banyak yang . KPPU mempunyai peranan yang sangat besar dan penting. persyaratan. dan pemberhentiannya diatur dalam pasal 31 sampai dengan pasal 33 UU No. Sanksi tersebut berupa tindakan administratif. pengaturan mengenai keanggotaan KPPU. Undang. yang terlepas dari pengaruh pemerintah atau pihak lain serta berwenang dalam melakukan pengawasan dan menjatuhkan sanksi. walaupun secara struktural pertanggungjawaban atau kinerjanya KPPU memberikan laporan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Umum secara berkala. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat memberikan jaminan kepastian hukum untuk lebih mendorong percepatan pembangunan ekonomi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umum. Tugas Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) merupakan lembaga nonstruktural yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaa pemerintah serta pihak lain. sedangkan sanksi pidana merupakan wewenang pengadilan. ditetapkan bahwa KPPU dibentuk untuk mengawasi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya agar tidak melakukan praktek monopoli atau ersaingan usaha tidak sehat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.15 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Di Indonesia. Dalam pasal 1 butir 18 UU tersebut.undang No.

masih monopolis atau oligopolis berubah menjadi pasar bersaing.19 Agar peran KPPU tersebut dapat terlaksana dengan baik. sehingga hanya yang besarlah yang menguasai pasar dan mempu menentukan harga produk sesuai kehendaknya. maka KPPU memiliki tugas berdasarkan Pasal 35 UU No. agar sesuai dengan UU No. melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai dengan Pasal 24. peran KPPU adalah mengupayakan agar persaingan tersebut berjalan sehat. Juga jangan lagi pelaku usaha besar menghambat calon pesaing. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. yaitu: melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 16.18 Disamping itu terhadap bidang yang telah menjalankan mekanisme persaingan. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 28. memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah yang 18 19 . mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36. Jangn lagi adanya pelaku usaha yang besar melakukan ekspansi usaha dalam rangk menguasai pasar.

meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini. atau setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f. memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan . atau alat bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan. wewenang KPPU adalah menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. dan atau menilai surat. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat.17 berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Wewenang Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Berdasarkan Pasal 36 UU No. meneliti. memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja Komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat. menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undang-undang ini. yang tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi. mendapatkan. saksi. dokumen. melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau oleh pelaku usaha atau menghadirkan pelaku usaha. melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. saksi ahli.

menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-undang ini. BAB III DAMPAK NEGATIF DARI PRAKTIK PENGGABUNGAN USAHA YANG DILARANG DAN EFEKTIFITAS PERAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) Dampak negatif dari praktek penggabungan usaha yang dilarang bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. .

sumber daya modal. sumber daya manusia. keahlian atau kewirausahawan. namun apabila penggabungan usaha itu kemudian menimbulkan adanya kecenderungan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. sehingga pelaku usaha hanya fokus pada keuntungan yang sebesar-besarnya. Faktor non ekonomi. penerapan stategi investasi. seperti misalnya kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat. dan masalah manajemen organisasi. yaitu Faktor ekonomi.19 Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Suatu penggabungan usaha (merger) sebenarnya tidak dilarang untuk dilakukan di Indonesia. 5 Tahun 1999. maka produk barang/jasa yang beredar di pasaran bukanlah produk yang terbaik yang dapat dihasilkan. Penggabungan usaha (merger) diatur dalam Undang-Undang no. maka penggabungan usaha (merger) tersebut telah melangar ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. dan sistem ekonomi yang berkembang dan berlaku di suatu negara. Suatu penggabungan usaha (merger) yang mengarah pada praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaigan Usaha Tidak Sehat. dan tidak . antara lain: Oleh karena suatu pangsa pasar dikuasai oleh satu pihak saja. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan pendapatan perkapita di negara tersebut. keadaan politik. diantaranya adalah sumber daya alam. kemampuan dan motivasi usahawan dalam mengembangkan usaha. Hal ini disebabkan karena para pelaku usaha tidak memiliki saingan dalam bidang usaha yang dijalankan.

Pelaku usaha yang menguasai bidang usaha tertentu akan terhambat dalam kreativitas karena tidak terpacu untuk melakukan inovasi-inovasi atas produk barang/jasa sehingga produk barang/jasa yang dihasilkan akan tetap sama dari tahun ke tahun.memperhatikan hak dari konsumen itu sendiri. Apabila mencapai permintaan. Proses merger perusahaan di indonesia biasanya diikuti dengan pengurangan . Pelaku usaha tersebut dapat menekan dan mengeksploitasi konsumen. sedangkan peluang produsen untuk masuk ke sektor tersebut tertutup. keuntungan yang akan diperoleh akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pasar bersaing. Hal ini sangat mengurangi tingkat kesejahteraan. misalnya dengan berproduksi di bawah kapasitasnya. Supply suatu produk barang/jasa yang dihasilkan oleh pelaku usaha yang melakukan praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat akan terganggu apabila terjadi masalah dalam perusahaan yang melakukan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. sehingga potensi untuk memperoleh pendapatan juga tidak dapat dimanfaatkan. yang sangat banyak jumlahnya. demikian pula produsen skala menengah dan kecil. Kesejahteraan ekonomi masyarakat menjadi terhambat. maka harga penjualan sahamnya cenderung akan dinilai di bawah harga pasar yang wajar. tidak berpeluang untuk menghasilkan dan menjual produknya secara langsung ke pasar. Konsumen tidak dapat mengkonsumsi lebih banyak dari yang seharusnya dapat dikonsumsi seandainya kondisi pasarnya bersaing. sehingga akan terjadi kelangkaan di dalam pasar akan produk barang/jasa tersebut. sehingga berdampak pada pembangunan nasional. sehingga terjadi kelangkaan di pasar dan harga menjadi tinggi. Karena proses merger biasanya dilakukan atas dorongan untuk cepat terselesainya masalah keungan di dalam salah satu perusahaan peserta merger.

Namun demikian. penggabungan usaha (merger) yang tidak mengarah pada praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. serta sebagai implementasi dari semangat dan jiwa UUD 1945 yang berlandaskan pada asas demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum. karena suatu perusahaan pada umumnya memiliki teknologinya sendiri dalam menjalankan usaha. Semakin besarnya kekuatan suatu perusahaan. Merger yang dilaksanakan untuk menghasilkan efisiensi akan menjadikan eksistensi tenaga kerja sebagai fokus utama bagi para manajemen (Direksi). yaitu apakah merger yang akan dilakukan akan mengakibatkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan perusahaan-perusahaan yang melakukan merger. karena: Diperolehnya peningkatan modal perusahaan dan adanya keunggulan dalam mengatur dan mengelola biaya akibat bertambahnya skala usaha. Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan. sehingga dapat menghasilkan produk barang dan jasa yang terbaik untuk ditawarkan dalam masyarakat (pasar). yang kemudian dapat memperbesar margin yang diperoleh perusahaan. Untuk itulah dibentuk Undang. Sebagai salah satu faktor penggerak usaha perseroan. Adanya kemajuan secara teknologi. . karyawan merupakan pihak yang terkena dan merasakan akibat langsung akan adanya merger.21 jumlah karyawan di perusahaan tersebut.undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang memberikan jaminan kepastian hukum untuk lebih mendorong percepatan pembangunan ekonomi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umum.

disebutkan bahwa salah satu tugas KPPU adalah melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. dalam pasar dengan entry barrier yang tinggi. 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan Atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dinyatakan bahwa penilaian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengenai suatu penggabungan usaha (merger) yang mengakibatkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat adalah: Konsentrasi pasar Hambatan masuk pasar artinya mengidentifikasi hambatan masuk pasar (entry barrier) dalam pasar yang bersangkutan.Efektifitas peran KPPU dalam mencegah dan menindak praktek-praktek penggabungan usaha yang dilarang di Indonesia. Dalam pasar dengan entry barrier rendah. maka KPPU dapat menggunakan kewenangannya untuk memerintahkan penghentian perjanjian-perjanjian yang dilarang dan kegiatan usaha yang dilarang. Penilaian tentang apakah dalam suatu penggabungan usaha (merger) telah mengarah pada praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Dalam Pasal 35 Undang-Undang No. Potensi perilaku anti persaingan artinya jika merger melahirkan satu pelaku . Dalam pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. dalam menjalankan tugas dan kewenangannya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pihak lain. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sebagai suatu lembaga independen. Sebaliknya. atau kegiatan usaha yang dilarang. KPPU tidak hanya melihat pada besarnya penguasaan pangsa pasar oleh satu pelaku usaha. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) merupakan suatu lembaga yang bersifat independen. merger cenerung mengarah pada praktek monopoli. merger cenderung tidak menimbulkan dugaan praktek monopoli. Apabila KPPU menilai telah terjadi perjanjian-perjanjian yang dilarang.

maka merger tersebut tidak berpotensi menimbulkan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Kepailitan artinya yaitu jika merger dilakukan dengan alasan menghindari terhentinya badan usaha tersebut beroperasi di pasar. Dalam hal ini. Meskipun Komisi bertanggung jawab kepada Presiden. Jika kerugian konsumen lebih besar bila badan usaha tersebut keluar dari pasar. namun dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya. penerbitan penetapan-penetapan dan putusan-putusan atas perkara yang ditangani. Tugas tersebut dilaksanakan KPPU melalui tindakan penanganan perkara. 5 Tahun 1999. maka persaingan yang sehat akan lebih diutamakan dibanding mendorong efisiensi bagi pelaku usaha. Jika nilai dampak anti-persaingan melampaui nilai efisiensi yang dihasilkan merger.23 usaha yang relatif dominan terhadap pelaku usaha lainnya di pasar. Efisiensi yaitu jika merger dilakukan dengan alasan untuk efisiensi perusahaan. KPPU dapat bersifat obyektif dan netral serta hanya berdasarkan Undang-Undang dan bukan karena petunjuk atau pengaruh pihak lain. dan pelaksanaan upaya-upaya lanjutan yang terkait dengan eksistensi dn pelaksanaan penetapan dan putusan atas suatu perkara. memudahkan pelaku usaha tersebut untuk menyalahgunakan posisi dominannya. yaitu tindakan monitoring putusan dan upaya litigasi. Oleh karena itu Komisi dalam pengawasan dan pelaksanaan UU ini secara struktural tidak berada dibawah lembaga pemerintahan manapun termasuk di bawah Presiden. kedudukan KPPU harus independen agar dalam memberi keputusan. perlu dilakukan perbandingan antara efisiensi yang dihasilkan dengan dampak anti-persaingan yang dicapai dalam merger tersebut. Komisi tidak dapat dipegaruhi oleh Presiden atau setidak-setidaknya tidak dinyatakan UU bahwa . Sebagai salah satu lembaga penegak hukum. Seluruh tugas yang diamanatkan dalam UU No. tugas penegakan hukum adalah tugas utama atau inti dari seluruh tugas dari seluruh tugas yang diberikan kepada KPPU.

diberikan juga mengenai hal-hal apa saja yang merupakan wewenang dari KPPU itu sendiri. Undang-Undang No. karena pelaksanaan tugas dan wewenangnya didasarkan pada laporan dari warga masyarakat atau pengaduan dari pihak yang dirugikan. Hal ini menyebabkan peran dari KPPU itu kurang efektif. Namun demikian.Presiden berhak untuk itu. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. menyebutkan bahwa setiap orang yang mengetahui telah terjadi atau patut diduga telah terjadi pelanggaran terhadap Undang-undang ini serta pihak yang dirugikan sebagai akibat terjadinya pelanggaran terhadap Undangundang ini dapat melaporkan secara tertulis kepada Komisi dengan keterangan yang jelas tentang telah terjadinya pelanggaran. Selain wewenang yang disebutkan dalam pasal 36 Undang-Undang No. salah satunya ialah menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Dalam pelaksanaannya. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. maka Komisi wajib melakukan pemeriksaan pendahuluan. Ini berarti. pihak yang diberi kesempatan utnuk melapor bukanlah hanya pihak yang dirugikan. Ketentuan ini tentunya mengakibatkan adanya ketidakmaksimalan bagi KPPU dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. KPPU juga diberikan wewenang untuk mengambil tindakan administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. tetapi juga setiap orang yang mengetahui telah terjadinya pelanggaran atas Undang-Undang ini. tidak diatur bahwa KPPU dapat menjalankan tugas pengawasan dan wewenangnya berdasarkan inisiatif dari KPPU itu sendiri. Pasal 36 Undang-Undang No. Dan berdasarkan laporan tersebut. teryata pihak-pihak yang melakukan kerjasama melalui penggabungan usaha (merger) tidak diwajibkan untuk memberikan laporan kepada KPPU terkait dengan penggabungan usaha yang dilakukan serta dengan .

5 tahun 1999 ini. maupun pengambilalihan usaha (akuisisi). Apabila hanya mengandalkan laporan dari masyarakat dan dari pengaduan pihak-pihak yang dirugikan. 5 Tahun 1999. maupun perbuatan hukum lain sebagaimana diatur dalam UU No.25 perjanjian-perjanjian kerjasama yang dibuat oleh para pelaku bisnis. Dan juga ketika seorang pelaku usaha melakukan tindakan hukum penggabungan usaha (merger). belum laggi bahwa . 5 Tahun 1999. yang disebabkan oleh ketidaktahuan KPPU atas perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pelaku usaha dan perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pelaku usaha di Indonesia. baik dengan pelaku usaha dalam negeri maupun dengan pelaku usaha luar negeri melaporkan pembentukan perjanjian tersebut kepada KPPU. Hal ini tentunya membuat KPPU tidak dapat mengetahui dengan jelas. Agar KPPU itu dapat berjalan secara efektif. maka akan tidak cukup efektif pencegahan dan pemberantasan praktik-praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana yang ingin dicegah dan diberantas oleh UU No. yang mungkin saja melanggar ketentuan dalam Undang-Undang No. Bila hanya tergantung pada laporan dan mengandalkan laporan masyarakat dan pengaduan pihak-pihak yang dirugikan saja. maka KPPU tidak dapat menganalisa dan melaksanakan tugasnya atas inisiatif sendiri. usaha-usaha mana sajakah yang telah melakukan kerjasama dan melakukan penggabungan usaha (merger). 5 Tahun 1999 sangat sedikit yang akan terungkap. seharusnya di dalam UndangUndang itu mewajibkan setiap pelaku usaha yang membuat suatu perjanjian dengan pelaku usaha yang lain. peleburan usaha (konsolidasi). Karena apabila KPPU tidak memperoleh laporan dari para pelaku usaha yang melakukan bisnis dan kerjasama. maka harus memberikan laporan kepada KPPU terkait dengan perbuatan hukum yang dilakukan. maka praktek-praktek monopoli dan persaiingan usaha tidak sehat yang dicegah atau diberantas dengan adanya UU No. sehingga KPPU tidak dapat memberikan penilaian atas kecenderungan penggabungan usaha manakah yang berpotensi menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hal ini dilakukan agar KPPU dapat melaksanakan tugas dan kewenangan yang dimiliki secara efektif.

sehingga sudah sangat terlambat. maka Bank Indonesia dapat berfungsi sebagai pihak yang menilai. 5 tahun 1999. bahwa Bank Indonesia dalam memberikan izin merger akan menilai apakah pelaksanaan merger tersebut tidak akan menimbulkan pemusatan ekonomi pada 1 (satu) orang atau kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat. antara lain: . 28 Tahun 1999 tentang Merger. Dengan pengaturan yang demikian. kecenderungan atas terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dapat dicegah sebelum penggabungan usaha (merger) itu terjadi oleh suatu lembaga yang ditunjuk berdasarkan perundang-undangan. Konsolidasi. akan diterima ketika persaingan usaha tidak sehat dan praktek monopoli sudah terjadi. Berbeda dengan penggabungan usaha (merger) di bidang perbankan. dan Akuisisi Bank. Suatu penggabungan usaha (merger) yang mengarah pada praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini mengakibatkan dalam bidang perbankan.pengungkapan laporan masyarakat atau pengaduan pihak-pihak yang dirugikan tersebut. Di bidang Perbankan. yaitu Bank Indonesia. apakah suatu merger yang dilakukan itu akan berpotensi menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam UU No. dinyatakan dengan tegas di dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. BAB IV SIMPULAN Dampak negatif dari praktek penggabungan usaha yang dilarang bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

tindakan inisiatif pengawasan yang dilakukan oleh Komisi harus menjadi perhatian khusus dibawah Biro Pengawasan KPPU dengan harapan dapat memaksimalkan peran investigasi guna mencegah praktik-praktik usaha yang dilarang. Ketentuan ini tentunya mengakibatkan adanya ketidakmaksimalan bagi KPPU dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Apabila hanya mengandalkan laporan dari masyarakat dan dari pengaduan pihak-pihak yang dirugikan.27 Produk barang/jasa yang beredar di pasaran bukanlah produk yang terbaik yang dapat dihasilkan. Oleh karena itu. sehingga pengembangan dan kelangsungan pasar yang berkeadilan dapat tercapai. Kesejahteraan ekonomi masyarakat menjadi terhambat. Harga produk barang/ jasa dapat dinaikkan tanpa pertimbangan apapun. . maka akan tidak cukup efektif pencegahan dan pemberantasan praktik-praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana yang ingin dicegah dan diberantas oleh UU No. Terhambatnya kreativitas dalam menghasilkan produk. Efektifitas peran KPPU dalam mencegah dan menindak praktek-praktek penggabungan usaha yang dilarang di Indonesia. Terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja terhadap karyawan. Harga penjualan sahamnya cenderung akan dinilai di bawah harga pasar yang wajar. 5 Tahun 1999. Peran dari KPPU itu kurang efektif. karena pelaksanaan tugas pengawasan dan wewenangnya didasarkan pada laporan dari warga masyarakat atau pengaduan dari pihak yang dirugikan. Adanya kelangkaan produk barang/ jasa ketika terjadi masalah internal dalam perusahaan tersebut.

Akuisisi. Komisi dapat langsung bergerak untuk melakukan penggeledahan. Jadi. Berbeda dengan penggabungan usaha (merger) di bidang perbankan. Penertbit PT. dan Divestasi. Merger. .Kelemahan berikutnya yang ada pada KPPU adalah bahwa Lembaga Independen tersebut tidak memiliki kewenangan pengeledahan dan eksekutorial. Dibeberapa Negara lain yang memiliki anti-monopoly authority. Di bidang Perbankan. model kewenangannya sampai tingkat penggeledahan. Bank Indonesia dalam memberikan izin merger akan menilai apakah pelaksanaan merger tersebut tidak akan menimbulkan pemusatan ekonomi pada 1 (satu) orang atau kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Buku Abdul Moin. begitu Pengadilan memberikan ijin. Ekonisia Press.

Bandung. Penerbit PT. Hukum Merger Perseroan Terbatas. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. Citra Aditya Bakti. 28 Tahun 1998 tentang Merger. Cornelius Simanjuntak. 2005. Johannes Ibrahim. 2006. dan Akuisisi Bank.Menata Bisnis Modern DI Era Global. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Perseroan Terbatas. 2004. Refika Aditama. Pertumbuhan Hukum Bisnis di Indonesia. Peraturan Pemerintah No.29 Yogyakarta. Citra Aditya Bakti. . Konsolidasi. Hukum Organisasi Perusahaan – Pola Kemitraan dan Badan Hukum. Peleburan. Bandung. Penerbit PT. Penerbit PT. Peraturan Pemerintah No. Penerbit Pustaka. Bandung. Faisal Salam. Perundang-undangan Undang-Undang No. Bandung. Peraturan Pemerintah No. 2007. Pengantar Hukum Bisnis . 2005. Munir Fuady. 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan.