l.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Perlindungan Konsumen
Masalah perlindungan konsumen semakin gencar dibicarakan. Permasalahan ini tidak akan pernah habis dan akan selalu menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Selama masih banyak konsumen yang dirugikan, masalahnya tidak akan pernah tuntas. Oleh karena itu, masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan. Hak konsumen yang diabaikan oleh pelaku usaha perlu dicermati secara seksama. Pada era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, banyak bermunculan berbagai macam produk barang/pelayanan jasa yang dipasarkan kepada konsumen di tanah air, baik melalui promosi, iklan, maupun penawaran barang secara langsung. Jika tidak berhati-hati dalam memilih produk barang/jasa yang diinginkan, konsumen hanya akan menjadi objek eksploitasi dari pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab. Tanpa disadari, konsumen menerima begitu saja barang/jasa yang dikonsumsinya. Perkembangan perekonomian, perdagangan, dan perindustrian yang kian hari kian meningkat telah memberikan kemanjaan yang luar biasa kepada konsumen karena ada beragam variasi produk barang dan jasa yang bisa dikonsumsi. Perkembangan globalisasi dan perdagangan besar didukung oleh teknologi informasi dan telekomunikasi yang memberikan ruang gerak yang sangat bebas dalam setiap transaksi perdagangan, sehingga barang/jasa yang dipasarkan bisa dengan mudah dikonsumsi. Permasalahan yang dihadapi konsumen tidak hanya sekedar bagaimana memilih barang, tetapi jauh lebih kompleks dari itu yang menyangkut pada kesadaran semua pihak, baik pengusaha, pemerintah maupun konsumen itu sendiri tentang pentingnya perlindungan konsumen. Pengusaha menyadari bahwa mereka harus menghargai hak-hak konsumen, memproduksi barang dan jasa yang berkualitas, aman untuk digunakan atau dikonsumsi, mengikuti standar yang berlaku, dengan harga yang sesuai. Pemerintah menyadari bahwa diperlukan undang-undang serta peraturan-peraturan disegala sektor yang berkaitan dengan berpindahnya barang dan jasa dari pengusaha ke konsumen. Pemerintah juga bertugas untuk mengawasi berjalannya peraturan serta undangundang tersebut dengan baik. Tujuan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen yang direncanakan adalah untuk meningakatkan martabat dan kesadaran konsumen, dan secara tidak langsung mendorong pelaku usaha dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Yang perlu disadari oleh konsumen adalah mereka mempunyai hak yang dilindungi oleh undang-undang perlindungan konsumen sehingga dapat melakukan sosial kontrol terhadap perbuatan dan perilaku
1

1.asas-asas dan tujuan perlindungan konsumen yang mungkin akan berguna bagi pembaca khususnya mahasiswa dimasa yang akan datang. Selain kurangnya tingkat kesadaran konsumen akan hak-hak dan kewajibanya yang terkait dengan tingkat pendidikannya yang rendah. faktor utama yang menjadi penyebab eksploitasi terhadap konsumen sering terjadi adalah masih rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan haknya.pengusaha dan pemerintah.perumus. 2 .pelaksana sekaligus pengawas atas jalannya peraturan yang telah dibuat sepertinya masih kurang serius dalam menjalankan kewajibannya. Pada penulisan makalah ini kita akan membahas mengenai bagaimana perlindungan terhadap konsumen serta apa saja hak dan kewajiban konsumen. Dalam makalah ini kami juga akan menjelaskan tentang prinsip .3 Metode Pembahasan Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode literatur kaji pustaka terhadap buku-buku yang berhubungan dengan tema makalah yang kami buat dan juga bersumber dari beberapa artikel dari internet. 1. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen diharapkan upaya perlindungan konsumen di Indonesia dapat lebih diperhatikan. Produsen yang mencari keuntungan pun masih membandel dengan menghalalkan segala cara untuk memaksimalkan laba yang diperoleh tanpa memperhatikan undang-undang yang berlaku serta keselamatan konsumennya.2 Rumusan Masalah Menurut Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen). Dengan lahirnya undang-undang No.pemerintah selaku penentu kebijakan. hal tersebut terkait erat dengan rendahnya pendidikan konsumen. Tentunya.

Berdasarkan dari pengertian tersebut. globalisasi dan perdagangan bebas yang 3 . yang bermula dari ”benih hidup dalam rahim ibu sampai dengan tempat pemakaman dan segala kebutuhan diantara keduanya”. tentang perlindungan konsumen disebutkan bahwa “Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen”. orang lain. orang atau perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu. yang dimaksud konsumen ialah orang yang berstatus sebagai pemakai barang dan jasa.Dengan adanya UU Perlindungan Konsumen beserta perangkat hukum lainnya. dan mereka pun bisa menggugat atau menuntut jika ternyata hak-haknya telah dirugikan atau dilanggar oleh pelaku usaha. Dalam Undang-Undang No. baik bagi kepentingan diri sendiri.8 Pasal 1 Butir 1 Tahun 1999. atau sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang. Di samping itu.ll.PEMBAHASAN 2. Perlindungan konsumen yang dijamin oleh undang-undang ini adalah adanya kepastian hukum terhadap segala perolehan kebutuhan konsumen. Kepastian hukum itu meliputi segala upaya berdasarkan atas hukum untuk memberdayakan konsumen memperoleh atau menentukan pilihannya atas barang dan/atau jasa kebutuhannya serta mempertahankan atau membela hak-haknya apabila dirugikan oleh perilaku pelaku usaha penyedia kebutuhan konsumen. Kepastian hukum untuk melindungi hak-hak konsumen. konsumen memiliki hak dan posisi yang berimbang. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.1 Pengertian Konsumen Konsumen secara harafiah memiliki arti.2 Perlindungan Konsumen Berdasarkan UU no. memberikan harapan agar pelaku usaha tidak lagi sewenangwenang yang selalu merugikan hak konsumen. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mendefinisikan konsumen sebagai setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat. yang diperkuat melalui undang-undang khusus. Di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah menghasilkan berbagai variasi barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. 2. keluarga.

perlu upaya pemberdayaan konsumen melalui pembentukan undang-undang yang dapat melindungi kepentingan konsumen secara integrative dan komprehensif serta dapat diterapkan secara efektif di masyarakat. Kondisi yang demikian pada satu pihak mempunyai manfaat bagi konsumen karena kebutuhan konsumen akan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebarnya kebebasan untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang dan/atau jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya pendidikan konsumen. baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran konsumen akan haknya masih rendah. kondisi dan fenomena tersebut dapat mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen berada pada posisi yang lemah. Upaya pemberdayaan ini penting karena tidak mudah mengharapkan kesadaran pelaku usaha yang. Atas dasar kondisi sebagaimana dipaparkan diatas. Prinsip ini sangat potensial merugikan kepentingan konsumen.didukung oleh kemajuan teknologi telekomunikasi dan informatika telah memperluas ruang gerak arus transaksi barang dan/atau jasa melintasi batas-batas wilayah suatu negara. Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini dalam pelaksanaannya tetap memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha kecil dan menengah. Di sisi lain. sehingga barang dan/atau jasa yang ditawarkan bervariasi baik produksi luar negeri maupun produksi dalam negeri. 4 . Hal ini dilakukan melalui upaya pembinaan dan penerapan sanksi atas pelanggarannya. tetapi justru sebaliknya perlindungan konsumen dapat mendorong iklim berusaha yang sehat yang mendorong lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan melalui penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas. Piranti hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku usaha. Undang-undang Perlindungan Konsumen dimaksudkan menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen. Konsumen menjadi objek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya oleh pelaku usaha melalui kiat promosi. Oleh karena itu. dimana pada dasarnya prinsip ekonomi pelaku usaha adalah mendapat kentungan yang semaksimal mungkin dengan modal seminimal mungkin. serta penerapan perjanjian standar yang merugikan konsumen. Di samping itu. cara penjualan.

seperti: • Undang-undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Barang. • Undang-undang Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten. • Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan. • Undang-undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene. • Undang-undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 1989 tentang Merek.Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini dirumuskan dengan mengacu pada filosofi pembangunan nasional bahwa pembangunan nasional termasuk pembangunan hukum yang memberikan perlindungan terhadap konsumen adalah dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah kenegaraan Republik Indonesia yaitu dasar negara Pancasila dan konstitusi negara Undang-Undang Dasar 1945. • Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. • Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri • Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. • Undang-undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran. • Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. • Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan. • Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen pada dasarnya bukan merupakan awal dan akhir dari hukum yang mengatur tentang perlindungan konsumen. • Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-undang Hak Cipta sebagai mana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987. sebab sampai pada terbentuknya Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini telah ada beberapa undang-undang yang materinya melindungi kepentingan konsumen. • Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. menjadi Undang-undang. • Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). 5 . • Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan. • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. • Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Disamping itu.

42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini merupakan wadah yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen. Pasal 21 ayat (1). Di Indonesia. perlindungan terhadap hak-hak konsumen bisa dilakukan dengan penuh optimisme. Alasannya. dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang Merek. Pada tanggal 30 Maret 1999.3 Dasar Hukum Perlindungan Konsumen Hukum perlindungan konsumen yang berlaku di Indonesia memiliki dasar hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Undang Undang No. pasal 21 ayat (1). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyepakati Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang perlindungan konsumen untuk disahkan oleh pemerintah setelah selama 20 tahun diperjuangkan. Hukum Perlindungan Konsumen merupakan cabang dari Hukum Ekonomi. Pasal 27 . 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. Di kemudian hari masih terbuka kemungkinan terbentuknya undangundang baru yang pada dasarnya memuat ketentuan-ketentuan yang melindungi konsumen. dan Pasal 33. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1997 tentang Paten. permasalahan yang diatur dalam hukum konsumen berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan barang / jasa. Demikian juga perlindungan konsumen di bidang lingkungan hidup tidak diatur dalam Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini karena telah diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup mengenai kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. 2. RUU ini sendiri baru disahkan oleh pemerintah pada tanggal 20 april 1999. 3821 6 . Dengan adanya dasar hukum yang pasti.• Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Perlindungan konsumen dalam hal pelaku usaha melanggar hak atas kekayaan intelektual (HAKI) tidak diatur dalam Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini karena sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta. dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah: • • Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1). yang melarang menghasilkan atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang melanggar ketentuan tentang HAKI. Dengan demikian.

58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. Kota Yogyakarta Kota Surabaya. 795 /DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen Dengan diundang-undangkannya masalah perlindungan konsumen. dimungkinkan dilakukannya pembuktian terbalik jika terjadi sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. • • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2001 Tanggal 21 Juli 2001 tentang Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat. Kota Semarang. Undang Undang No. Dasar hukum tersebut bisa menjadi landasan hukum yang sah dalam soal pengaturan perlindungan konsumen. dan Kota Makassar. Kota Bandung. Di samping UU Perlindungan Konsumen. Kota Jakarta Pusat. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Usaha Tidak Sehat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2001 Tanggal 21 Juli 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen. Konsumen yang merasa haknya dilanggar bisa mengadukan dan memproses perkaranya secara hukum di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Kota Palembang. Kota Jakarta Barat. masih terdapat sejumlah perangkat hukum lain yang juga bisa dijadikan sebagai sumber atau dasar hukum sebagai berikut : • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2001 Tanggal 21 Juli 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 605/MPP/KEP/8/2002 tentang Pengangkatan Anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Pada Pemerintah 7 • • • . 235/DJPDN/VII/2001 Tentang Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2001 Tanggal 21 Juli 2001 tentang Pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Pemerintah Kota Medan. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian Sengketa Peraturan Pemerintah No. Kota Malang. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 302/MPP/KEP/10/2001 tentang Pendaftaran Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.• • • • • Undang Undang No.

Kota Yogyakarta.4. yakni : • Asas manfaat Maksud asas ini adalah untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar.2 Tujuan perlindungan konsumen Dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 3. pemakaian. ada lima asas perlindungan Konsumen. Kota Surabaya.Kota Makassar. dan pemanfaatan barang/jasa yang dikonsumsi atau digunakan. disebutkan bahwa tujuan perlindungan konsumen adalah sebagai berikut. Asas keseimbangan Asas ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen.4 Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen Upaya perlindungan konsumen di tanah air didasarkan pada sejumlah asas dan tujuan yang telah diyakini bisa memberikan arahan dalam implementasinya di tingkatan praktis. Kota Semarang. Asas keamanan dan keselamatan konsumen Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan. Kota Bandung. Dengan adanya asas dan tujuan yang jelas. dan Kota Medan. hukum perlindungan konsumen memiliki dasar pijakan yang benar-benar kuat.4. 2. pelaku usaha. serta negara menjamin kepastian hukum. 2. Asas keadilan Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bisa diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. dan pemerintah dalam arti material maupun spiritual. Kota Palembang. • • • Asas kepastian hukum Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen.1 Asas perlindungan konsumen Berdasarkan UU Perlindungan Konsumen pasal 2. 8 • . 2.besarnya bagi kepentingankonsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.

dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.5 Hak dan Kewajiban Konsumen 2. perlindungan. • Hak atas informasi yang benar. • Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. • Hak untuk mendapatkan advokasi. • Hak untuk didengar pendapat keluhannya atas barang/jasa yang digunakan. jika ditengarai adanya tindakan yang tidak adil terhadap dirinya. keamanan. Tujuannya. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa. Konsumen kemudian bisa bertindak lebih jauh untuk memperjuangkan hak-haknya. Berdasarkan UU Perlindungan konsumen pasal 4. konsumen memiliki sejumlah hak dan kewajiban. dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. hak-hak konsumen sebagai berikut : • Hak atas kenyamanan. • Hak untuk memilih dan mendapatkan barang/jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Dengan kata lain. kesehatan. kemampuan. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih dan menuntut hak. dan keselamatan konsumen.1 Hak-hak konsumen Sebagai pemakai barang/jasa. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi.5. 2. Meningkatkan kualitas barang/jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan jasa. serta akses untuk mendapatkan informasi. Pengetahuan tentang hak-hak konsumen sangat penting agar orang bisa bertindak sebagai konsumen yang kritis dan mandiri. ia secara spontan menyadari akan hal itu. kenyamanan.• • • • • • Meningkatkan kesadaran.haknya sebagai konsumen. 9 . • Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskrimainatif. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha. ia tidak hanya tinggal diam saja ketika menyadari bahwa hak-haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha. keamanan.

Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. jika barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. ganti rugi. sehingga kewajiban pelaku usaha merupakan hak konsumen. 2. • Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya. kelalaian produsen yang berakibat 10 . 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. juga dalam pasal 382 bis KUHP.5. yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. Dengan demikian jelaslah bahwa konsumen dilindungi oleh hukum. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. Sifat subjektifitas muncul pada kategori bahwa seseorang yang bersikap hati-hati mencegah timbulnya kerugian pada konsumen. hal ini terbukti telah diaturnya hak-hak konsumen yang merupakan kewajiban pelaku usaha dalam UU No.2 Kewajiban konsumen Kewajiban konsumen sesuai Perlindungan Konsumen. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati. Di Indonesia persaingan curang ini diatur dalam UU No. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. 2. bagaimana konsumen memperjuangkan hak-haknya (bab IX. Berdasarkan teori tersebut. demi keamanan dan keselamatan. Selain hak-hak yang disebutkan tersebut.6. ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang.• Hak untuk mendapatkan kompensasi. atau penggantian. misalnya siapa yang melindungi konsumen (bab VII).Prinsip-Prinsip Perlindungan Konsumen 2. Hal ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan oleh pengusaha sering dilakukan secara tidak jujur yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang”. Disamping hak-hak dalam pasal 4 juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal 7.6. X. yaitu suatu tanggung jawab yang ditentukan oleh perilaku produsen.1 Prinsip tanggung jawab berdasarkan kelalaian Tanggung jawab berdasarkan kelalaian adalah suatu prinsip tanggung jawab yang bersifat subjektif. yakni : • • • • dengan Pasal 5 Undang-undang Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa. termasuk didalamnya juga diatur tentang segala sesuatu yang berkaitan apabila hak konsumen. dan XI).

Teori tanggung jawab produk berdasarkan kelalaian tidak memberikan perlindungan yang maksimal kepada konsumen. yaitu. Produsen tidak melaksanakan kewajiban untuk menjamin kualitas produknya sesuai dengan standar yang aman untuk di konsumsi atau digunakan. Teori ini sangat merugikan konsumen karena gugatan baru dapat diajukan jika telah memenuhi dua syarat.pada munculnya kerugian konsumen merupakan faktor penentu adanya hak konsumen untuk mengajukan tuntutan kerugian kepada produsen. bahwa persyaratan hubungan kontrak merupakan salah satu hambatan konsumen untuk mengajukan ganti kerugian kepada produsen. yaitu: a. yaitu : • Pihak tergugat merupakan produsen yang benar-benar mempunyai kewajiban untuk melakukan tindakan yang dapat menghindari terjadinya kerugian konsumen. Kelalaian dengan Hubungan Kontrak Beberapa Pengecualian Terhadap Persyaratan Perkembangan tahap kedua teori tanggung jawab berdasarkan kelalaian adalah prinsip tanggung jawab yang tetap berdasarkan kelalaian. namun untuk beberapa kasus terdapat pengecualian terhadap persyaratan hubungan kontrak. Kedua. pertama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. • • Kelalaian produsen merupakan faktor yang mengakibatkan adanya kerugian pada konsumen (hubungan sebab akibat antara kelalaian dan kerugian konsumen) Dalam prinsip tanggung jawab berdasarkan kelalaian juga mengalami perkembangan dengan tingkat responsibilitas yang berbeda terhadap kepentingan konsumen. Konsumen penderita kerugian. Prinsip ini tidak 11 . b. tuntutan adanya hubungan kontrak antara konsumen sebagai penggugat dengan produsen sebagai tergugat. karena konsumen dihadapkan pada dua kesulitan dalam mengajukan gugatan kepada produsen. yaitu adanya unsur kesalahan atu kelalaian dan hubungan kontrak antara produsen dan konsumen. Tanggung Jawab atas Kelalaian dengan Persyaratan Hubungan Kontrak Teori murni prinsip tanggung jawab berdasarkan kelalaian adalah suatu tanggung jawab yang didasarkan pada adanya unsur kesalahan dan hubungan kontrak. tuntutan ganti kerugian berdasarkan kelalaian produsen diajukan dengan bukti-bukti. argumentasi produsen bahwa kerugian konsumen diakibatkan oleh kerusakan barang yang tidak diketahui. Di samping faktor kesalahan dan kelalaian produsen.

yaitu : 12 . Tanggung jawab produsen yang dikenal dengan wanprestasi adalah tanggung jawab berdasarkan kontrak. 2. Ketika suatu produk rusak dan mengakibatkan kerugian. ajaran hukum juga memperkenalkan konsumen untuk mengajukan gugatan atas wanprestasi. d. Kelalaian Tanpa Persyaratan Hubungan Kontrak Setelah prisip tanggung jawab atas dasar kelalaian dengan beberapa pengecualian terhadap hubungan kontrak sebagai tahap kedua dalam perkembangan substansi hukum tanggung jawab produk. tetapi sudah tidak mensyaratkan adanya hubungan kontrak. Keuntungan bagi konsumen dalam gugatan berdasarkan teori ini adalah penerapan kewajiban yang sifatnya mutlak. dalam prinsip tanggung jawab berdasarkan wanprestasi terdapat beberapa kelemahan yang dapat mengurangi bentuk perlindungan hukum terdapat kepentingan konsumen. c. Modifikasi ini bermakna : adanya keringanan-keringanan bagi konsumen dalam penerapan tanggung jawab berdasarkan kelalaian.memihak kepada kepentingan konsumen. Akan tetapi. baik tertulis maupun lisan.6. Modifikasi ini merupakan masa transisi menuju pembentukan tanggung jawab mutlak. maka produsen tetap dibebani tanggung jawab untuk mengganti kerugian. maka tahap berikutnya adalah tahap ketiga yaitu sistem tanggung jawab yang tetap berdasarkan kelalaian. yaitu suatu kewajiban yang tidak didasarkan pada upaya yang telah dilakukan penjual untuk memenuhi janjinya. konsumen biasanya melihat isi kontrak atau perjanjian atau jaminan yang merupakan bagian dari kontrak.2 Prinsip tanggung jawab berdasarkan wanprestasi Selain mengajukan gugatan terhadap kelalaian produsen. namun prinsip tanggung jawab ini masih berdasarkan kesalahan. karena pada kenyataannya konsumen yang sering mengalami kerugian atas pemakaian suatu produk adalah konsumen yang tidak memiliki kepentingan hukum dengan produsen. Itu berati apabila produsen telah berupaya memenuhi janjinya tetapi konsumen tetap menderita kerugian. Prinsip Praduga Lalai dan Prinsip Bertanggung Jawab dengan Pembuktian Terbaik Tahap pekembangan terakhir dalam prinsip tanggung jawab berdasarkan kelalaian adalah dalam bentuk modifikasi terhadap prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan.

maka setiap konsumen yang merasa dirugikan akibat produk barang yang cacat atau tidak aman dapat menuntut kompensasi tanpa harus mempermasalahkan ada atau tidanya unsur kesalahan di pihak produsen.• • • • Pembatasan waktu gugatan. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang beredar dipasaran. 2. bilamana terbukti tidak demikian dia harus bertanggung jawab. Alasan-alasan mengapa prinsip tanggung jawab mutlak diterapkan dalam hukum tentang product liability adalah : • Diantara korban / konsumen di satu pihak ada produsen di lain pihak. 13 .PENUTUP 3. Persyaratan pemberitahuan. Kemungkinan adanya bantahan.3 Prinsip tanggung jawab mutlak Asas tanggung jawab ini dikenal dengan nama product liability. Menurut prinsip ini. Penggugat (konsumen) hanya perlu membuktikan adanya hubungan klausalitas antara perbuatan produsen dan kerugian yang dideritanya. berarti produsen menjamin bahwa barang-barang tersebut aman dan pantas untuk digunakan. ketentuan ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang melanggar hukum pada umumnya. Dengan diterapkannya prinsip tanggung jawab ini. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar ganti kerugian.6. Persyaratan hubungan kontrak. Tanggung jawab mutlak strict liability. Dengan menempatkan / mengedarkan barang-barang dipasaran. beban kerugian seharusnya ditanggung oleh pihak yang memproduksi.kewajiban serta perlindungan hukum atas mereka harus diberdayakan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang layak atas mereka. mengingat faktor utama perlakuan yang semena-mena oleh produsen kepada konsumen adalah kurangnya kesadaran serta pengetahuan konsumen akan hak-hak serta kewajiban mereka. baik hubungaan kontrak secara horizontal maupun vertikal. • lll.1 Kesimpulan Kesadaran konsumen bahwa mereka memiliki hak.

2009. (Online) http://www. Wibowo.pelaksana serta pengawas atas jalannya hukum dan UU tentang perlindungan konsumen harus benar-benar memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi pada kegiatan produksi dan konsumsi dewasa ini agar tujuan para produsen untuk mencari laba berjalan dengan lancar tanpa ada pihak yang dirugikan. demikian juga dengan konsumen yang memiliki tujuan untuk memaksimalkan kepuasan jangan sampai mereka dirugikan karena kesalahan yang diakibatkan dari proses produksi yang tidak sesuai dengan setandar berproduksi yang sudah tertera dalam hukum dan UU yang telah dibuat oleh pemerintah.com/asas-dan-tujuan-hukumperlindungan-konsumen/ (diakses 14 April 2012) 14 . Asas dan Tujuan Hukum Perlindungan Konsumen. (Online) http://id. 2012.wikipedia.tunardy. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Perlindungan Konsumen.org/wiki/Perlindungan_konsumen (diakses 13 April 2012) Tunardy. Kesadaran produsen akan hak-hak konsumen juga sangat dibutuhkan agar tercipta harmonisasi tujuan antara produsen yang ingin memperoleh laba tanpa membahayakan konsumen yang ingin mendapatkan kepuasan maksimum.Pemerintah sebagai perancang.

15 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful