MOOD DISORDER atau GANGGUAN MOOD Gangguan mood adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh

hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Pasien dengan mood yang meninggi (elevated), yaitu mania menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang meloncat-loncat (flight of ideas), penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri, dan gagasan kebesaran. Pasien dengan mood terdepresi, yaitu-depresi merasakan hilangnya energi-energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain dari gangguan mood adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan, dan fungsi vegetative (seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual, dan irama biologis lainnya). Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, sosial, dan pekerjaan. Mood mungkin normal, meninggi, atau terdepresi. Orang normal mengalami berbagai macam mood dan memiliki ekspresi afektif yang sama luasnya; mereka merasa mengendalikan, kurang lebih, mood dan afeknya. Etiologi I. Biological factors i. Biogenic amine a) Norepinephrine b) Serotonin c) Dopamine Aktivitas dopamine dapat meningkatkan mania.

menurunkan

depresi

dan

ii. Faktor neurochemical lainnya: GABA dan neuroactive peptide iii. Neuroendocrine regulation: Adrenal axis, thyroid axis, GH Hypothalamus merupakan pusat dari pengaturan neuroendocrine axes dan ia menerima input dengan menggunakan biogenic amine neurotransmitter. Fungsi abnormal biogenic amine-containing neurons menyebabkan regulasi abnormal axis neuroendocrine. Various neuroendocrine dysregulations terjadi pada pasien dengan mood disorders. iv. Neuroanatomical considerations

Mood disorders melibatkan adanya patologi pada basal ganglia dan limbic systems. Pasien dengan neurological disorder pada basal ganglia dan limbic system menunjukan gejala depresi. v. Abnormalitas dalam tidur vi. Circadian Rhythms vii. Kindling viii. Regulasi neuroimmune ix. Brain Imaging Genetic Factor i. Family Studies Jika salah satu orang tua memiliki Bipolar I disorder → anaknya berpeluang 25% memiliki mood disorders. Jika kedua orang tua memiliki Bipolar I disorder → anaknya berpeluang 50%-75% memiliki mood disorders ii. Adoption Studies iii. Twin Studies
iv. Linkage studies.

II.

III.

Psychosocial Factors i. Kejadian dalam hidup dan stress lingkungan Stress merupakan awal dari mood disorders. Stress ↓ Perubahan brain’s biology dalam waktu yang lama ↓ Merubah keadaan fungsional various neurotransmitter & intraneuronal signal systems ↓ Seseorang memiliki faktor resiko tinggi mengalami mood disorders Life events berperan utama dalam depresi dan kebanyakan berhubungan dengan perkembangan depresi, contohnya kehilangan orang tua pada umur 11 tahun.

Environmental Stress kebanyakan berhubungan dengan onset episode depresi, seperti kehilangan suami atau istri. Faktor resiko lain adalah pengangguran beresiko 3 kali mengalami depresi daripada mereka yang mempunyai pekerjaan. ii. Personality factors Orang dengan personality disorder seperti : Obsessive-compulsive : Ditandai dengan kompulsi untuk melakukan tingkah laku tertentu secara berulangulang atau menjalankan ritual tertentu. Histrionic : Prilaku yang dramatis, mencari perhatian dan sangat gembira. Borderline Memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami depresi daripada orang dengan antisocial atau paranoid personality disorders. iii. Psychodinamic factors in depression Teori Karl terhadap depresi : Gangguan hubungan ibu-bayi pada oral-phase (10-18 bulan pertama) Adanya kehilangan objek, baik yang nyata ataupun khayalan Defence mechanism yang dilakukan karena hilangnya objek Menyalahkan diri sendiri atas hilangnya objek iv. Psychodinamic factors in manic Manic episodes merupakan pertahanan melawan depresi. Karl Abraham percaya bahwa manic episodes merefleksikan ketidakmampuan untuk mentoleransikan developmental tragedy, seperti kehilangan orang tua. Klein juga melihat bahwa mania sebagai reaksi pertahanan (defensive reaction) terhadap depresi, dengan menggunakan manic defenses seperti omnipotence, dimana seseorang mengembangkan delusion kemegahan atau kebesaran.

Klasifikasi Pada DSM-IV, gangguan mood diklasifikasikan sebagai berikut:

Episode mood
 Episode depresif mayor

 Episode manik  Episode campuran  Episode hipomanik • Gangguan depresif
 Gangguan depresif mayor

 Gangguan distimik  Gangguan depresif yang tak tergolongkan • Gangguan bipolar  Gangguan bipolar I  Gangguan bipolar II  Gangguan siklotimik  Gangguan bipolar yang tak tergolongkan • Gangguan mood lainnya  Gangguan mood akibat kondisi medis umum  Gangguan mood akibat zat  Gangguan mood yang tak tergolongkan

EPISODE MOOD Episode Depresi Mayor Suatu mood depresi dan hilangnya minat atau kesenangan merupakan gejala utama dari depresi. Pasien mungkin mengatakan mereka merasa murung, putus asa, dalam kesedihan, atau tidak berguna. Bagi pasien mood terdepresi seringkali memiliki kualitas yang terpisah yang membedakannya dengan emosi normal kesedihan atau duka cita. Pasien seringkali menggambarkan gejala depresi sebagai suatu rasa nyeri emosional yang menderita sekali. Pasien terdepresi kadang-kadang

mengeluh tidak dapat menangis, suatu gejala yang menghilang saat mereka membaik. Kira-kira duapertiga dari semua pasien terdepresi merenungkan bunuh diri, dan 10 sampai 15 persennya melakukan bunuh diri. Tetapi pasien terdepresi kadang-kadang tampak tidak menyadari depresinya dan tidak mengeluh suatu gangguan mood, walaupun mereka menunjukkan penarikan diri dari keluarga, teman, dan aktivitas yang sebelumnya menarik diri mereka. Hampir semua pasien terdepresi (97 persen) mengeluh adanya penurunan energi yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas, sekolah dan pekerjaan, dan penurunan motivasi untuk mengambil proyek baru. Kira-kira 80 persen pasien mengeluh sulit tidur, khususnya terbangun pada dini hari (yaitu, insomnia terminal) dan sering terbangun pada malam hari, selama mana mereka mungkin merenungkan masalahnya. Banyak pasien mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Tetapi beberapa pasien mengalami peningkatan nafsu makan, penambahan berat badan, dan tidur yang bertambah. Pasien tersebut diklasifikasikan di dalam DSM-IV sebagai memiliki ciri atipikal dan juga dikenal sebagai memiliki disforia histeroid. Pada kenyataannya, kecemasan merupakan gejala yang sering pada depresi, yang mengenai sebanyak 90 persen pasien depresi. Gejala vegetatif lainnya adalah menstruasi yang tidak normal dan penutunan minat dan kinerja di dalam aktivitas seksual. Kecemasan (termasuk serangan panik), penyalahgunaan alkohol, dan keluhan somatik (seperti konstipasi dan nyeri kepala) seringkali mempersulit pengobatan depresi. Kira-kira 50 persen dari semua pasien menggambarkan suatu variasi diurnal dari gejalanya, dengan suatu peningkatan keparahan di pagi hari dan gejala meringan di malam hari. Gejala kognitif adalah laporan subjektif yang berupa ketidakmampuan berkonsentrasi (84 persen pasien di dalam satu penelitian) dan gangguan dalam berpikir (67 persen pasien pada penelitian yang lain). Pada anak-anak dan remaja dapat diperkirakan adanya depresi yang ditunjukkan dengan sikap fobia sekolah dan menggendong pada orang tua yang berlebihan. Begitu pula dengan prestasi akademik yang memburuk, penyalahgunanaan zat, perilaku antisosial, promiskuitas seksual, membolos, dan melarikan diri juga mungkin merupakan gejala depresi pada remaja. Kriteria Diagnostik untuk Episode Depresif Mayor A. Lima (atau lebih) gejala berikut ditemukan selama periode 2

minggu yang sama dan menunjukkan suatu perubahan dari fungsi sebelumnya; paling kurang satu gejala dari salah satu mood terdepresi atau dua kehilangan minat atau kesenangan. Catatan: jangan masukkan gejala yang jelas disebabkan oleh kondisi umum, atau waham atau halusinasi yang tidak sesuai mood. 1. Mood terdepresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukkan baik oleh laporan subyektif (misalnya, perasaan sedih atau kososng) maupun pengamatan yang dilakukan oleh orang lain (misalnya, tampak sedih). Catatan: pada anak-anak dan remaja, dapat berupa mood yang iritabel. 2. Kehilangan minat atau kesenangan yang nyata pada semua atau hampir semua, aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (seperti yang ditunjukkan baik oleh laporan subyektif maupun pengamatan yang dilakukan oleh orang lain). 3. Penurunan berat badan yang bermakna jika tidak melakukan diet atau penambahan berat badan (misalnya, perubahan berat badan lebih dari 5 persen sebulan), atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. Catatan: pada anak-anak, pertimbangkan kegagalan untuk mencapai peningkatan berat badan yang diharapkan. 4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari. 5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari 9dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subyektif tentang adanya kegelisahan atau mnenjadi lamban). 6. Kelelahan atau kehilangan tenaga hampir setiap hari 7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai (yang dapat berupa waham) hampir setiap hari (bukan hanya menyalahkan diri sendiri atau bersalah karena sakit) 8. Penurunan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi atau keragu-raguan, hampir setiap hari (baik oleh laporan subyektif maupun yang diamati orang lain) 9. Pikiran tentang kematian berulang (tidak hanya ketakutan akan

kematian), ide bunuh diri berulang tanpa suatu rencana yang spesifik, atau percobaan bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri. B. Gejala tidak memenuhi kriteria Episode Campuran C. Gejala menyebabkan penderitaan secara klinis yang bermakna atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi bidang penting lainnya. D. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum (misalnya hipotiroidisme). E. Gejala tidak lebih baik dijelaskan Berduka, yaitu setelah kehilangan seorang yang dicintai, gejala menetap lebih lama dari 2 bulan atau ditandai oleh gangguan fungsional yang nyata, preokupasi morbid dengan perasaan tidak berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor. Tabel. Kriteria diagnostik episode mayor menurut DSM-IV. Episode Manik Suatu mood yang meningkat, meluap-luap, atau lekas marah merupakan tanda episode manik. Walaupun orang yang tidak terlibat mungkin tidak mengetahui sifat mood pasien yang tidak biasanya, mereka yang mengetahui pasien mengenalinya sebagai abnormal. Selain itu mood mungkin mudah tersinggung, khususnya jika rencana pasien yang sangat ambisius terancam. Sering kali, seorang pasien menunjukkan suatu perubahan mood yang utama dari euforia awal pada perjalanan penyakit menjadi lekas marah di kemudian hari. Suatu kecendrungan menanggalkan pakaian di tempat ramai, berpakaian dan mengenakan perhiasan dengan warna-warna yang terang dan dengan kombinasi yang tidak sesuai, dan tidak memperhatikan perincianperincian yang kecil (seperti lupa meletakkan gagang telepon pada tempatnya) juga merupakan gejala gangguan. Sifat impulsif dari banyak tindakan pasien disertai dengan suatu pendirian keyakinan dan tujuan. Pasien sering kali terokupasi oleh gagasan agama, politik, finansial, seksual, atau penyiksaan yang dapat berkembang menjadi sistem waham yang kompleks. Kadang-kadang pasien manik menjadi teregresi dan bermain dengan urine dan fesesnya. Mania pada remaja sering kali salah didiagnosis sebagai gangguan kepribadian antisosial atau skizofrenia. Gejala mania pada remaja mungkin berupa psikosis, penyalahgunaan alkohol atau zat lain, usaha

bunuh diri, masalah akademik, pemikiran filosofis, gejala gangguan obsesif-kompulsif, keluhan somatik multipel, mudah tersinggung yang nyata yang menyebabkan perkelahian,dan perilaku antisosial lainnya. Kriteria Diagnostik untuk Episode Manik A. Suatu periode yang nyata dari mood yang meningkat, meluap-luap, atau iritabel yang secra abnormal dan menetap, paling kurang 1 minggu (atau durasi kapan saja jika membutuhkan perawatan di rumah sakit). B. Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut menetap (empat jika mood hanya iritabel) dan terjadi dalam derajat yang bermakna: 1. Harga diri yang melambung atau kebesaran 2. Penurunan kebutuhan tidur (misalnya, beristirahat setelah tidur hanya 3 jam) merasa telah

3. Berbicara lebih banyak dari yang biasanya atau tekanan untuk terus berbicara 4. Loncat gagasan atau pengalaman subyektif bahwa pikirannya berpacu 5. Distraktibilitas yaitu, prhatian sangat mudah dialihkan pada stimulus eksternal yang tidak penting atau tidak relevan) 6. Peningkatan aktivitas yang diarahkan oleh tujuan (baik secara sosial, pada pekerjaan atau sekolah, atau secara seksual atau agitasi psikomotor 7. Keterlibatan berlebihan pada aktivitas menyenangkan yang kemungkinan besar mempunyai akibat yang menyakitkan (misalnya, berbelanja yang tidak terkendali, melakukan hubungan seksual yang tidak bijaksana, atau investasi bisnis yang bodoh) C. Gejala tidak memenuhi kriteria episode campuran
D. Gangguan mood cukup parah untuk menyebabkan gangguan yang

nyata pada fungsi pekerjaan atau pada aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain seoerti yang biasanya, atau membutuhkan perawatan rumah sakit untuk mncegah bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain, atau terdapat ciri psikotik.

E. Gejala bukan efek fisiologis langsung dari zat atau suatu kondisi medis umum. Tabel. Kriteria Diagnostik untuk Episode Manik menurut DSM-IV Episode Campuran Episode campuran ditandai dengan adanya suatu periode waktu (paling sedikit 1 minggu) yang sesuai dengan kriteria episode manik dan episode depresi, yang tejadi hampir setiap hari (kriteria A). gangguan yang terjadi dapat menyebabkan gangguan bermakna pada fungsi sosial, pekerjaan, bahkan kadang perlu dirawat untuk mencegah supaya penderita tidak membahayakan dirinya maupun orang lain. Pada episode ini dapat jua ditemui adanya gambaran psikotik (kriteria B). gejala yang timbul tidak diakibatkan oleh efek langsung dari penggunaan zat atau akibat suatu kondisi medis umum (kriteria C). Episode campuran ini lebih sering ditemui pada usia muda dan usia di atas 60 tahun dengan gangguan bipoar dan lebih sering terdapat pada pria daripada wanita. Episode Hipomanik Episode hipomanik didefinisikan sebagai adanya periode yang terpisah dari mood yang abnormal dan secara menetap meningkat, meluap dan lekas marah yang berlangsung selama minimal 4 hari (kriteria A). Episode mood yang abnormal ini disertai oleh sedikitnya 3 gejala tambahan, yaitu harga diri yang meninggi atau kebesaran (bukan waham), penurunan kebutuhan tidur, tekanan pada pembicaraan, flight of ideas, distraktibilitas, peningkatan aktivitas, keterlibatan berlebiahan pada aktivitas yang berlebihan (kriteria B). episode dihubungkan dengan suatu perubahan yang jelas pada fungsi yang tidak karakteristik dari orang tersebut jika tidak ada gejala (kriteria C). gangguan mood dan perubahan fungsi dapat diamati oleh orang lain (kriteria D). episode tidak cukup parah untuk menyebabkan gangguan yang nyata pada fungsi sosial dan pekerjaan, atau membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak memiliki ciri psikotik.

GANGGUAN DEPRESIF GANGGUAN DEPRESIF MAYOR Secara klinis ditandai dengan satu atau lebih episode depresif mayor tanpa episode manik, episode campuran, atau episode hipomanik.

Apabila episode manik, hipomanik, atau campuran timbul pada gangguan depresif mayor, diagnosis berubah menjadi gangguan bipolar. Jika gejala manik atau hipomanik muncul sebagai akibat langsung dari penggunaan antidepresan, atau akibat penggunaan obat lannya, diagnosis gangguan depresif mayor tetap sesuai dengan ganguan mood akibat penggunaan zat sebagai diagnosis tambahan, dengan gejala manik. Begitupula apabila gejala manik atau hipomanik muncul akibat suatu kondisi medis umum, diagnosis gangaun depresif mayor tetap ditegakkan dengan menambahkan diagnosis gangguan mood akibat kondisi medis umum sebagai tambahan. Epidemiologi Gangguan depresif berat adalah suatu gangguan yang sering, dengan prevalensi seumur hidup adalah kira-kira 15 persen, kemungkinan setinggi 25 persen pada wanita. Insidensi gangguan depresif berat juga lebih tinggi daripada biasanya pada pasien perawatan primer, yang mendekati 10 persen, dan pada pasien medis rawat inap, yang mendekati 15 persen. Terdapat prevalensi gangguan depresif berat yang dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Alasan adanya perbedaan telah didalilkan sebagai melibatkan perbedaan hormon, efek kelahiran, perbedaan stressor psikososial bagi wanita dan bagi laki-laki, dan model perilaku tentang keputusasaan yang dipelajari. Rata-rata usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira-kira 40 tahun; 50 persen dari semua pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 50 tahun. Gangguan depresif berat juga mungkin memiliki onset selama masa anak-anak atau pada usia lanjut, walaupun hal tesebut jarang terjadi. Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang bercerai atau berpisah. Diagnosis Kriteria Diagnostik Gangguan Depresif Mayor, Episode Tunggal
A. Adanya episode depresif Mayor tunggal B. Episode depresif Mayor tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan

skizoaektif, dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan delusional atau gangguan psikotik YTT.
C. Tidak pernah terdapat episode manik, episode campuran, atau

episode hipomanik. Catatan: penyingkiran ini tidak berlaku jika semua episode mirip manik, mirip campuran, atau mirip hipomanik adalah diakibatkan oleh zat atau terapi dan karena efek fisiologis

langsung dari kondisi medis umum. Sebutkan (untuk episode sekarang atau paling akhir): Penentu keparahan/psikotik/remisi Kronik Dengan ciri katatonik Dengan ciri melankolik Dengan ciri atipikal Dengan onset pascapersalinan

Tabel. Kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat episode tunggal menurut DSM-IV. Pasien yang mengalami sekurang-kurangnya episode kedua depresi diklasifikasikan di dalam DSM-IV sebagai menderita gangguan depresif berat, rekuren. Masalah utama di dalam mendiagnosis episode rekuren gangguan depresif berat adalah memutuskan kriteria apa yang digunakan untuk menandakan resolusi masing-masing periode. Dua variabel adalah derajat resolusi gejala dan lamanya resolusi. Gangguan depresif mayor, rekuren memiliki kriteria diagnosis A. Terdapat dua atau lebih episode depresif mayor Catatan: dipertimbangkan sebagai episode yang terpisah, harus terdapat suatu interval paling kurang 2 bulan berturut-turut dimana kriteria episode depresif mayor tidak terpenuhi. B. Episode depresi mayor tidak lebih baik dijelaskan oleh ganguan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham, ata Gangguan Psikotik yang Tak Ditentukan C. Tidak pernah terdapat episode manik episode campuran, atau episode manik Catatan: penyingkiran ini tidak digunakan jika episode mirip manik, mirip camputan,atau mirip hipomanik yang diinduksi zat atau pengobatan atau karena efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum. Jika saat ini memenuhi kriteria suatu episode depresi mayor, sebutkan status dan/atau gambaran klinis saat ini: Ringan, sedang,

berat tanpa ciri psikotik/berat dengan ciri psikotik, kronik, dengan ciri katatonik, dengan ciri melankolik, dengan ciri atipikal, dengan onset post partum Jika saat ini tidak memenuhi kriteria suatu episode depresi mayor, sebutkan status klinis saat ini dari gangguan depresi mayor atau ciri pada episode paling akhir: dalam remisi parsial, dalam remisi penuh, kronik, dengan ciri katatonik, dengan ciri melankolik, dengan ciri atipikal, dengan onset post partum Tabel. Kriteria diagnostik gangguan depresif mayor, rekuren menurut DSM-IV DSM-IV mendefinisikan tiga ciri gejala tambahan yang dapat digunakan untuk menggambarkan pasien dengan berbagai gangguan mood. Dua ciri gejala “cross-sectional” (ciri melankolik dan ciri atipikal) adalah terbatas pada deskripsi episode depresif. Ciri gejala “crosssectional” ketiga (ciri katatonik) dapat diterapkan untuk mendeskripsikan episode depresif maupun manik. Kriteria Diagnostik untuk Penentu ciri Melankolik Sebutkan jika: dengan ciri melankolik (dapat digunakan untuk episode depresif berat yang terjadi dalam gangguan depresif berat , gangguan bipolar I atau gangguan bipolar II hanya jika ini merupakan tipe episode manik yang paling akhir) A. Salah satu berikut ini, terjadi selama periode yang paling parah dari episode sekarang (1) Hilangnya kesenangan dalam semua, atau hampir semua aktivitas (2) Hilangnya reaktivitas terhadap stimuli yang menyenangkan (tidak merasa jauh lebih baik, sementara, jika terjadi sesuatu yang baik) B. Tiga (atau lebih) berikut: (1) Kualitas mood terdepresi yang jelas (yaitu, mood terdepresi dirasakan sebagai jelas berbeda dari jenis perasaan yang dialami setelah kematian seseorang yang dicintai) (2) Depresi secara teratur memburuk di pagi hari (3) Terbangun dini hari (sekurangnya 2 jam sebelum waktu terbangun yang biasanya) biasanya walaupun

(4) Retardasi atau agitasi psikomotor yang jelas (5) Anoreksia atau penurunan berat badan yang bermakna (6) Rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai Tabel. Kriteria Diagnostik untuk Penentu Ciri melankolik menurut DSM-IV Kriteria untuk penentu Ciri Atipikal Sebutkan jika: dengan ciri atipikal (dapat digunakan jika ciri tersebut menonjol selama 2 minggu terakhir dari episode depresif berat dalam gangguan depresif berat atau dalam gangguan bipolar I atau dalam gangguan bipolar II jika episode depresif berat adalah tipe episode mood yang paling akhir, atau jika ciri tersebut menonjol selama 2 tahun terakhir gangguan distimik) A. Reaktivitas mood (yaitu, mood menjadi terang sebagai respon kejadian positif yang sesungguhnya atau kemungkinan terjadi ) B. Dua (atau lebih) ciri berikut, ditemukan pada sebagian besar waktu, selama sekurangnya 2 minggu: (1) Penambahan berat badan yang bermakna atau peningkatan nafsu makan (2) Hipersomnia (3) Paralisis timah (Leaden paralysis) (yaitu, perasaan berat seperti timah pada lengan atau tungkai) (4) Pola kepekaan penolakan interpersonal yang berlangsung lama (tidak terbatas pada episode gangguan mood) yang menyebabkan gangguan sosial atau pekerjaan yang bermakna. C. Kriteria tidak memenuhi ciri melankolik atau dengan ciri katatonik selama episode yang sama. Tabel. Kriteria diagnostik untuk penentu ciri atipikal menurut DSM-IV Kriteria untuk Penentu ciri Katatonik Sebutkan jika: dengan ciri katatonik (dapat digunakan untuk epidode depresif berat sekarang atau paling akhir, episode manik, atau episode campuran dalam gangguan depresif berat, gangguan bipolar I atau gangguan bipolar II)

Gambaran klinis didominasi oleh sekurangnya dua dari berikut: (1) Imobilitas motorik seperti yang ditunjukkan (termasuk fleksibilitas lilin) atau stupor oleh katalepsi

(2) Aktivitas motorik yang berlebihan (yang tampaknya tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal) (3) Negativisme yang ekstrim (suatu resistensi yang tampaknya tanpa motivasi terhadap semua instruksi atau mempertahankan suatu postur yang kaku yang menentang semua usaha untuk digerakkan) atau mutisme (4) Gerakan volunter yang aneh seperti yang ditunjukkan oleh posturing (secara volunter mengambil postur yang tidak sesuai atau aneh), gerakan stereotipik, mennerisme yang menonjol, atau seringai yang menonjol (5) Ekolalia atau ekopraksia Tabel. Kriteria diagnostik untuk penentu ciri katatonik menurut DSM-IV Diagnosis Banding Gangguan Mental yang Sering Memiliki ciri depresif Gangguan penyesuaian dengan mood terdepresi Gangguan penggunaan alkohol Gangguan kecemasan: Gangguan kecemasan umum Gangguan kecemasan-depresif campuran Gangguan panik Gangguan stres pascatraumatis Gangguan obesesif-kompulsif Gangguan makan: Anoreksia nervosa Bulimia nervosa Gangguan mood

Gangguan bipolar I Gangguan bipolar II Gangguan siklotimik Gangguan distimik Gangguan depresif berat Gangguan depresif ringan Gangguan karena kondisi medis umum Gangguan depresif singkat rekuren Gangguan mood akibat zat Skizofrenia Gangguan skizofreniform Gangguan somatoform (terutama gangguan somatisasi) Tabel. Berbagai macam gangguan mental yang sering memiliki ciri depresif Prognosis Gangguan depresif berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan ini cenderung merupakan gangguan kronis, dan pasien cenderung mengalami relaps. Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif berat memiliki kemungkinan 50 persen untuk pulih di dalam tahun pertama. Persentasi pasien yang sembuh setelah perawatan di rumah sakit menurun dengan berjalannya waktu, dan pada waktu lima tahun pasca perawatan di rumah sakit, 10 sampai 15 persen pasien tidak pulih. Banyak pasien yang tidak sembuh tetap menderita gangguan distimik. Rekurensi episode depresif berat juga sering. Kira-kira 25 persen pasien mengalami suatu rekurensi dalam enam bulan pertama setelah pulang dari rumah sakit, kira-kira 30 sampai 50 persen dalam dua tahun pertama, dan kira-kira 50 sampai 75 persen dalam lima tahun. Insidensi relaps adalah jauh lebih rendah daripada angka tersebut pada pasien yang meneruskan terapi psikofarmakologis profilaksis dan pada pasien yang hanya mengalami satu atau dua episode depresif. Pada umumnya, saat pasien mengalami lebih banyak episode depresif, waktu antara episode memendek, dan keparahan masingmasing episode meningkat(1,4).

Episode ringan, tidak adanya gejala psikotik, dan tinggal di rumah sakit dalam waktu yang singkat adalah indikator prognostik baik. Indikator psikososial perjalanan penyakit yang baik adalah riwayat persahabatan yang erat selama remaja, fungsi keluarga yang stabil, dan fungsi sosial yang biasanya kokoh selama lima tahun sebelum penyakit. Tanda prognostik baik tambahan adalah tidak adanya gangguan psikiatrik komorbid, tidak adanya gangguan kepribadian, tidak lebih dari satu kali perawatan di rumah sakit sebelumnya untuk gangguan depresif berat, dan usia onset yang lanjut. Kemungkinana prognosis buruk meningkat oleh adanya penyerta gangguan distimik, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, gejala gangguan kecemasan, dan riwayat lebih dari satu episode depresif sebelumnya. Laki-laki lebih mungkin mengalami perjalanan penyakit yang secara kronis mengganggu dibandingkan wanita. Episode depresif yang tidak diobati berlangsung 6 sampai 13 bulan; sebagian besar episode yang diobati berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan antidepresan sebelum 3 bulan hampir selalu menyebabkan kembalinya gejala. Saat perjalanan penyakit berkembang, pasien cenderung menderita episode depresif yang lebih sering dan berlangsung lama. Kira-kira 5 sampai 10 persen pasien dengan diagnosis awal gangguan depresif berat menderita suatu episode manik 6 sampai 10 tahun setelah episode depresif awal. Usia rata-rata untuk pergantian tersebut adalah 32 tahun, dan keadaan ini sering terjadi setelah dua sampai empat episode depresif. Terapi 1. Perawatan di rumah Sakit Indikasi jelas untuk perawatan di rumah sakit adalah perlunya prosedur diagnostik, resiko bunuh diri atau membunuh, dan penurunan jelas kemampuan pasien dalam mendapatkan makanan atau tempat berlindung. Riwayat gejala yang berkembang dengan cepat dan hancurnya sistem pendukung pasien juga merupakan indikasi untuk perawatan di rumah sakit. Depresi ringan atau hipomanik dapat secara aman diobati di tempat praktik jika dokter memeriksa pasien secara sering. Tanda klinis gangguan pertimbangan, penurunan berat badan, atau insomnia harus minimal. Sistem pendukung pasien harus kuat, tidak terlibat terlalu banyak maupun tidak menjauhi pasien. Pasien dengan gangguan mood sering kali tidak bisa ke rumah sakit secara sukarela, sedangkan pasien depresif berat sering kali tidak mampu mengambil keputusan karena

pikiran mereka yang melambat, pandangan kata yang negatif, dan putus asa. Pasien manik sering kali tidak memiliki sama sekali tilikan secara lengkap tentang gangguan mereka sehingga perawatan di rumah sakit tampaknya sangat menggelikan bagi mereka. 2. Terapi psikososial Secara spesifik, beberapa data menyatakan bahwa farmakoterapi maupun psikoterapi saja tidak efektif, sekurangnya pada pasien dengan episode depresif berat yang ringan, dan bahwa penggunaan teratur terapi kombinasi menambah biaya terapi dan memaparkan pasien dengan efek samping yang tidak diperlukan. Tiga jenis terapi psikososial jangka pendek –terapi kognitif, terapi interpersonal, dan terapi perilakutelah diteliti tentang manfaatnya di dalam pengobatan gangguan depresif berat. Terapi kognitif bertujuan menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif; mengembangkan cara berpikir alternatif, flekibel, dan positif; melatih kembali respon kognitif dan perilaku yang baru. Terapi interpersonal adalah efektif di dalam pengobatan gangguan depresif berat dan mungkin, tidak mengejutkan, secara spesifik membantu menjawab masalah interpersonal. Pada terapi perilaku, dengan memusatkan pada perilaku maladaptif di dalam terapi, pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapatkan dorongan positif. Sementara itu, terapi keluarga dapat dilakukan dengan indikasi jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga pasien atau jika gangguan mood adalah dikembangkan atau dipertahankan oleh situasi keluarga. 3. Farmakoterapi Pengobatan yang efektif dan spesifik (sebagai contoh, obat trisiklik) telah tersedia untuk pengobatan gangguan depresif berat selama 40 tahun.penggunaan farmakoterapi spesifik kira-kira menggandakan kemungkinan bahwa seorang pasien yang terdepresi akan pulih dalam satu bulan. Beberapa masalah ada di dalam pengobatan gangguan depresif berat; beberapa pasien tidak berespon terhadap pengobatan pertama; semua antidepresan yang tersedia sekarang ini memerlukan waktu tiga sampai empat minggu untuk menunjukkan efek terapeutik yang bermakna, walaupun mungkin dapat mulai menunjukkan efeknya lebih awal; dan, sampai belum lama ini, semua antidepresan yang tersedia adalah toksik pada overdosis dan memiliki efek merugikan. Tetapi sekarang, diperkenalkannya bupropion dan serotoninspecific reuptake inhibitors (SSRIs) –sebagai contoh, fluoxetine,

paroxetine (paxil), dan setraline (Zoloft)- memberikan klinisi obat yang jauh lebih baik ditoleransi daripada obat yang sebelumnya tetapi sama efektifnya. Indikasi utama untuk antidepresan adalah episode depresif berat. Gejala pertama yang membaik adalah pola tidur dan makan yang terganggu, walaupun mungkin hal tersebut mungkin kurang benar jika SSRIs digunakan dibandingkan digunakan obat trisiklik. Agitasi, kecemasan, episode depresif, dan keputusasaan adalah gejala selanjutnya yang membaik. Gejala sasaran lainnya adalah energi yang rendah, konsentrasi yang buruk, ketidakberdayaan, dan penurunan libido. Terapi elektrokonvulsif (ECT) biasanya digunakan jika (1) pasien tidak responsif terhadap farmakoterapi, (2) pasien tidak dapat menoleransi farmakoterapi, atau (3) situasi klinis adalah sangat parah sehingga diperlukan perbaikan cepat yang terlihat pada ECT. GANGGUAN DISTIMIK Gangguan distimik adalah suatu gangguan kronis yang ditandai oleh adanya mood yang terdepresi (atau mudah marah pada anak-anak dan remaja) yang berlangsung hampir sepanjang hari dan ditemukan pada sebagian besar hari. Istilah “distimia” yang berarti humor yang buruk diperkenalkan pada tahun 1980 dan diganti menjadi “gangguan distimik” di dalam DSM-IV. Epidemiologi Gangguan distimik merupakan gangguan yang sering ditemukan di antara populasi umum, yang mengenai 3 sampai 5 persen dari semua orang yang mengenai antara setengah dan sepertiga dari semua pasien klinik. Gangguan distimik adalah lebih sering pada wanita yang berusia kurang dari 64 tahun dibandingkan laki-laki setiap usia. Gangguan distimik juga lebih sering ditemukan di antara orang yang tidak menikah dan orang muda dan pada orang dengan penghasilan yang rendah. Etiologi Tema utama tentang penyebab gangguan distimik adalah apakah gangguan ini berhubungan dengan diagnosis psikiatrik lain, termasuk gangguan depresif berat dan gangguan kepribadian ambang. 1. Faktor Biologis Satu hipotesis yang diambil dari data ialah bahwa dasar biologis untuk gejala gangguan distimik, dan gangguan depresif berat

adalah serupa; tetapi, dasar biologis untuk patofisiologi dasar untuk kedua gangguan adalah berbeda. 2. Faktor Psikososial Teori psikodinamika tentang perkembangan gangguan distimik menyatakan bahwa gangguan disebabkan oleh kesalahan perkembangan kepribadian dan ego, yang memuncak dalam kesulitan dalam beradaptasi pada masa remaja dan dewasa muda. Teori kognitif tentang depresi juga berlaku pada gangguan distimik; teori ini menyatakan bahwa ketidaksesuaian antara situasi nyata dan situasi yang dikhayalkan menyebabkan menurunnya harga diri dan rasa putus asa. Diagnosis Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Distimik
A. Mood terdepresi untuk sebagian besar hari, lebih banyak hari

dibandingkan tidak, seperti yang ditunjukkan keterangan subjektif atau pengalaman orang lain, sekurangnya 2 tahun. Catatan: pada anak-anak dan remaja, mood dapat mudah tersinggung dan lama harus sekurangnya 1 tahun. B. Adanya saat terdepresi dua (atau lebih) berikut: (1) Nafsu makan yang buruk atau berlebihan (2) Insomnia atau hipersomnia (3) Energi lemah atau lelah (4) Harga diri yang rendah (5) Konsentrasi buruk atau sulit mengambil keputusan (6) Perasaan putus asa
C. Selama periode 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak atau remaja)

gangguan, orang tidak pernah tanpa gejala dalam kriteria A dan B selama lebih dari 2 bulan suatu waktu. D. Tidak pernah ada episode depresif berat selama 2 tahun pertama gangguan (1 tahun untuk anak-anak dan remaja), yaitu gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan depresif berat kronis, atau gangguan depresif berat, dalam remisi parsial. Catatan: mungkin terdapat episode depresif berat sebelumnya asalkan terdapat remisi lengkap (tidak ada tanda atau gejala

bermakna selama 2 bulan) sebelum perkembangan distimik. Di samping itu setelah 2 tahun awal dari gangguan distimik mungkin terdapat episode gangguan depresif berat yang menumpang pada kasus tersebut, kedua diagnosis dapat diberikan jika memnuhi kriteria untuk episode depresif berat. E. Tidak pernah terdapat episode manik, episode campuran, atau episode hipomanik, dan tidak pernah memenuhi kriteria untuk gangguan siklotimik. F. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan psikotik kronis, seperti skizofrenia atau gangguan delusional. G. Gejala tidak merupakan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. H. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Tabel. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Distimik menurut DSM-IV Gambaran Klinis Gangguan distimik merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai bukan saja oleh episode penyakit, tetapi, malahan oleh adanya gejala secara menetap. Gejalanya serupa dengan gejala gangguan depresif berat, dan adanya mood terdepresi-ditandai oleh adanya perasaan muram, murung, kesedihan, atau berkurangnya dan tidak ada minat pada aktivitas pasien biasanya- adalah pusat dari gangguan. Keparahan gejala depresif dalam gangguan distimik biasanya lebih kecil daripada gangguan depresif berat, tetapi tidak adanya episode yang terpisah adalah hal yang paling mengarahkan pada diagnosis gangguan distimik. Pasien dengan gangguan distimik kadang-kadang dapat sarkastik, nihilistik, memikirkan hal yang sedih, membutuhkan, dan mengeluh. Mereka dapat juga tegang dan kaku dan menolak intervensi terapeutik, kendatipun mereka datang secara teratur pada perjanjian. Menurut definisinya, pasien gangguan distimik tidak memiliki adanya gejala psikotik. Gejala penyerta adalah perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energi, retardasi psikomotor, penurunan dorongan seksual, dan preokupasi obsesif dengan masalah

kesehatan. Pesimisme, keputusasaan, dan ketidakberdayaan dapat menyebabkan pasien gangguan distimik terlihat sebagai masokistik. Tetapi, jika pesimisme diarahkan keluar, pasien dapat bersikap kasar terhadap dunia dan mengeluh bahwa mereka telah diperlakukan buruk oleh sanak saudaranya, anak-anak, orang tua, teman sejawat, dan oleh sistem.Gangguan di dalam fungsi sosial kadang-kadang merupakan alasan mengapa pasien dengan gangguan distimik mencari pengobatan. Pasien dengan gangguan distimik kemungkinan menggunakan alkohol, stimulan atau marijuana, pemilihan kemungkinan tergantung terutama pada konteks sosial pasien. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Data yang tersedia menyatakan bahwa hanya 10 sampai 15 persen pasien gangguan distimik yang berada dalam remisi satu tahun setelah diagnosis awal. Kira-kira 25 persen dari semua pasien gangguan distimik tidak pernah mencapai pemulihan yang lengkap. Terapi Kombinasi farmakoterapi dan terapi kognitif maupun perilaku mungkin merupakan pengobatan yang paling efektif untuk gangguan. Data menyatakan bahwa inhibitor monoamin oksidase (MAOIs) mungkin lebih bermanfaat dibanding obat trisiklik. Relatif baru diperkenalkannya inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRIs) yang ditoleransi dengan baik telah menyebabkan obat sering digunakan oleh pasien dengan gangguan distimik; laporan pendahuluan menyatakan bahwa SSRI mungkin merupakan obat terpilih untuk gangguan. Demikian juga laporan awal menyatakan bahwa bupropion mungkin merupakan pengobatan yang efektif untuk pasien dengan gangguan distimik. Simpatomimetik, seperti amfetamin, juga telah digunakan pada pasien tertentu. Perawatan di rumah sakit biasanya tidak diindikasikan untuk gangguan distimik. Tetapi, adanya gejala yang parah, inkapasitas sosial atau profesional yang nyata, membutuhkan prosedur diagnostik yang luas, dan gagasan bunuh diri semuanya merupakan indikasi untuk perawatan di rumah sakit.

GANGGUAN BIPOLAR GANGGUAN BIPOLAR I Epidemiologi

Gangguan bipolar I merupakan gangguan yang lebih jarang dari gangguan depresif berat, dengan prevalensi seumur hidup adalah 2 persen, sama dengan angka untuk skizofrenia. Berbeda dengan gangguan depresif berat, gangguan bipolar I mempunyai prevalensi yang sama bagi laki-laki dan wanita. Pada umumnya, onset gangguan bipolar I adalah lebih awal daripada onset gangguan depresif berat. Usia onset untuk gangguan bipolar I terentang dari masa anak-anak (paling awal usia 5 atau 6 tahun) sampai 50 tahun atau bahkan lebih lanjut pada kasus yang jarang, dengan rata-rata usia 30 tahun. Gangguan bipolar I lebih sering pada orang yang bercerai dan hidup sendirian daripada orang yang menikah. Insidensi gangguan bipolar I yang lebih tinggi dari biasanya memang ditemukan pada sosioekonomi tinggi, kemungkinan karena adanya praktik diagnostik yang mengalami bias. Gangguan ini lebih sering pada orang yang tidak lulus dari perguruan tinggi daripada lulusan perguruan tinggi, kemungkinan mencerminkan usia onset yang relatif awal untuk gangguan tersebut. Diagnosis DSM IV telah membuat klasifikasi dan kriteria diagnosis untuk masing-masing klasifikasi. A. Gangguan Bipolar I, Episode Manik Tunggal Kriteria Diagnosis : A. Terdapat hanya satu Episode Manik dan tidak ada Episode Depresi Mayor sebelumnya. Catatan : Rekurensi didefinisikan sebagai suatu perubahan polaritas dari depresi atau suatu interval paling kurang 2 bulan tanpa gejala manik. B. Episode Manik tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofrenifrom, Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik yang tidak ditentukan. B. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Manik Kriteria Diagnosis : A. Saat ini (atau paling akhir) dalam Episode Manik B. Terdapat paling kurang satu Episode Depresi Mayor, Episode Manik, atau Episode Campuran sebelumnya. C. Episode Mood pada kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan tidak bertumpang tindih

dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan. C. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Campuran Kriteria Diagnosis : A. Saat ini (atau paling akhir) dalam Episode Campuran. B. Terdapat paling kurang satu Episode Depresi Mayor, Episode Manik, atau Episode Campuran sebelumnya. C. Episode Mood pada Kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan. D. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Depresi Kriteria Diagnosis : A. Saat ini (atau paling akhir) dalam Episode Depresi Mayor. B. Terdapat paling kurang satu Episode Manik, atau Episode Campuran sebelumnya. C. Episode Mood pada Kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan. E. Gangguan Bipolar I, Episode Paling Akhir Tidak Ditentukan Kriteria Diagnosis : A. Kecuali durasi, saat ini (atau paling akhir) memenuhi kriteria untuk suatu Episode Manik, Hipomanik, Campuran, atau Depresi Mayor. B. Terdapat paling kurang satu Episode Manik, atau Episode Campuran sebelumnya. C. Gejala mood menyebabkan penderitaan secara klinis yang bermakna atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi bidang penting lainnya. D. Gejala Mood pada Kriteria A dan B tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform, Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan. E. Gejala mood pada Kriteria A dan B bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya, penyalahgunaan zat, pengobatan, atau terapi lainnya) atau suatu kondisi medis umum (misalnya, hipertiroidisme). Perjalanan Penyakit

Gangguan bipolar I paling sering dimulai dengan depresi (75% pada wanita, 67% pada laki-laki) dan gangguan yang rekuren. Sebagian besar pasien menjalani episode depresif maupun manik walaupun 10-20 persen hanya mengalami episode manik. Episode manik biasanya memiliki onset yang cepat (beberapa jam atau beberapa hari), tetapi dapat berkembang lebih dari satu minggu. Beberapa pasien gangguan bipolar I mengalami episode yang berulang dengan cepat. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Gangguan bipolar I dapat mengenai anak yang sangat muda maupun lanjut usia, insidensi gangguan bipolar pada anak dan remaja adalah kira-kira satu persen dan onset awalnya pada usia delapan tahun. Gangguan bipolar I dengan onset awal tersebut disertai prognosis buruk. GANGGUAN BIPOLAR II Ciri khas yang penting pada gangguan bipolar II secara klinis adalah ditandai dengan munculnya satu atau lebih episode depresif berat (kriteria A), yang disertai dengan paling sedikit satu episode hipomanik (kriteria B). adanya episode manik atau episode campuran menyingkirkan diagnosis gangguan bipolar II (kriteria C). selain itu gejala mood pada kriteria A dan B tidak lebih baik untuk dimasukkan ke dalam gangguan skizoafektif, dan tidak tumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform,gangguan delusional, atau gangguan psikotik YTT (kriteria D). gejala menyebabkan gangguan yang nyata pda fungsi sosial, pekerjaan, dan bidang penting lainnya (kriteria E). Klinisi telah melaporkan bahwa beberapa pasien gejala utama tampaknya adalah episode depresif, tetapi perjalanan gangguan diselingi oleh episode gejala manik ringan (yaitu, episode hipomanik). Gangguan tersebut telah dinamakan gangguan bipolar II (oleh peneliti yang berpendapat bahwa gangguan berada di dalam spektrum gangguan bipolar) dan gangguan depresif berat dengan episode hipomanik (oleh peneliti yang berpendapat bahwa gangguan berada di dalam spektrum gangguan depresif). Epidemiologi gangguan bipolar II adalah tidak diketahui secara tepat pada saat ini karena relatif baru dikenalinya gangguan ini. Kriteria diagnostik untuk gangguan bipolar II menyebutkan keparahan, frekuensi, dan durasi tertentu untuk gejala hipomanik. Kriteria diagnostik untuk episode hipomanik dituliskan secara terpisah dari kriteria untuk gangguan bipolar II.

Gambaran klinis gangguan bipolar II adalah gangguan depresif berat dikombinasikan dengan gambaran episode hipomanik. Diagnosis bandingnya termasuk gangguan bipolar I, gangguan depresif berat, dan gangguan kepribadian ambang. Pengobatan gangguan bipolar II harus dilakukan secara berhatihati, karena pengobatan episode depresif dengan antidepresan sering kali dapat mencetuskan suatu episode manik. GANGGUAN SIKLOTIMIK Dalam DSM-IV, gangguan siklotimik dibedakan dari gangguan bipolar II, yang ditandai oleh adanya episode depresif berat dan episode hipomanik. Seperti gangguan distimik, kategorisasi gangguan siklotimik dengan gangguan mood menyatakan adanya hubungan, kemungkinan biologis, dengan gangguan bipolar I. Epidemiologi Pasien dengan gangguan siklotimik mungkin berjumlah 3 sampai 10 persen dari semua pasien psikiatrik rawat jalan. Diperkirakan 10 persen dari rawat jalan dan 20 persen dari rawat inap gangguan kepribadian ambang memiliki diagnosis gangguan siklotimik secara bersama-sama. Rasio wanita terhadap laki-laki dalam gangguan siklotimik adalah kira-kira 3 berbanding 2, dan 50 sampai 75 persen dari semua pasien memiliki onset antara usia 15 dan 25 tahun. Etiologi Etiologi gangguan siklotimik diperkirakan sama dengan gangguan distimik, yaitu faktor biologis dan faktor psikososial. Diagnosis Kriteria diagnostik untuk Gangguan Siklotimik A. Selama sekurangnya 2 tahun, adanya banyak episode dengan gejala hipomanik dan banyak periode dengan gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif berat.
B. Selama periode 2 tahun di atas, orang tidak pernah tanpa gejala

dalam kriteria A selama lebih dari 2 bulan. C. Tidak ada episode depresif berat, episode manik, atau episode campuran yang ditemukan selama 2 tahun pertama gangguan. Catatan: setelah 2 tahun pertama dari gangguan siklotimik, mungkin terdapat episode manik atau campuran yang menumpang

atau episode depresif berat. D. Gejala dalam kriteria A tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak menumpang pada skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan delusional, atau gangguan psikotik yang tidak ditentukan. E. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. F. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Tabel. Kriteria diagnostik untuk gangguan siklotimik menurut DSM-IV. Gambaran Klinis Gejala gangguan siklotimik adalah identik dengan gejala yang ditemukan pada pada gangguan bipolar I, kecuali biasanya kurang parah. Tetepi, kadang-kadang gejala mungkin sama dalam keparahannya tetapi dengan durasi yang lebih singkat daripada yang terlihat pada gangguan bipolar I. kira-kira setengah dari semua pasien gangguan siklotimik mengalami depresi sebagai gejala utamanya. Penyalahgunaan alkohol dan penyalahgunaan zat lain sering ditemukan pada pasien gangguan siklotimik, yang menggunakan zat untuk mengobati dirinya sendiri (dengan alkohol, benzodiazepin, dan marijuana) atau untuk mencapai stimulasi yang lebih tinggi saat mereka dalam keadaan manik. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Kira-kira sepertiga dari semua pasien gangguan siklotimik berkembang memiliki gangguan depresif berat, paling sering gangguan bipolar II. Karena sifat gangguan siklotimik yang jangka panjang, pasien seringkali memerlukan terapi seumur hidup. Terapi keluarga dan kelompok dapat berupa suportif, edukasional,dan terapeutik untuk pasien dan mereka yang terlibat di dalam kehidupan pasien. Terapi Terapi pada gangguan bipolar ini adalah secara farmakoterapi dan psikoterapi

1. Farmakoterapi Medikasi yang diberikan sesuai dengan keadaan episode bipolar (manik atau depresi). Maka itu, beberapa obat diindikasikan untuk episode akut manik, terutama antipsikotik, valproat, dan benzodiazepine(contoh: lorazepam, clonazepam). Pilihan dari obat tersebut tergantung dari gejala yang ada seperti gejala psikosis, agitasi, agresif, dan gangguan tidur. Antipsikotik atipikal digunakan untuk pengobatan mania akut dan untuk menstabilkan mood. Antidepresi spektrum luas dan ECT (Elecro Convulsive Therapy) digunakan untuk episode depresi akut (contoh: depresi mayor). a. Mood Stabilizing Medications (Medikasi Penstabil Mood) biasanya merupakan terapi lini pertama. Umumnya, pasien dengan gangguan bipolar melanjutkan terapi ini selama beberapa tahun. (1) Lithium sangat efektif mengontrol gejala mania dan mencegah rekuren episode mania dan depresi. (2) Asam valproat atau divalproex (Depakote®), juga sama efektifnya dengan lithium. Asam valproat dan antikonvulsan lainnya dapat meningkatkan risiko pikiran bunuh diri. Pasien yang mengkonsumsi obat antikonvulsan harus diawasi dan mereka tidak diperbolehkan mengganti dosis tanpa konsultasi dengan dokternya. b. Atipikal antipsikotik kadang-kadang diberikan juga. (1) Olanzapine, jika diberikan bersama dengan antidepresan dapat meringankan gejala mania yang parah atau psikosis. Namun beberapa studi menyebutkan bahwa medikasi olanzapine dapat meningkatkan berat badan dan meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. (2) Aripiprazole (3) Quetiapine (Seroquel®) (4) Risperidone (Risperdal®) c. Antidepresan juga kadang-kadang diberikan untuk mengatasi gejala depresi pada gangguan bipolar. Baru-baru ini, studi yang didanai oleh NIMH menunjukkan bahwa penambahan antidepresan dengan mood stabilizer tidak lebih efektif dibandingkan dengan hanya memberikan antidepresan. 2. Psikoterapi Penatalaksanaan pasien dengan gangguan bipolar termasuk edukasi pasien saat awal dan terus menerus. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasien, tetapi juga keluarga mereka. Tidak hanya untuk

mengatasi saat gejala muncul, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) Untuk menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif, mengembangkan cara berfikir alternatif, fleksibel dan positif, juga melatih kembali respon kognitif dan pikiran yang baru.
a.

b.

Terapi interpersonal Memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang sedang dialaminya sekarang. c. Terapi perilaku Dengan memusatkan pada perilaku mal adaptif di dalam terapi, pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapat dorongan positif dari lingkungan. d. Terapi berorientasi psikoanalitik Pendekatan psikoanalitik didasarkan pada depresi dan mania. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perubahan pada struktur atau karakter kepribadian pasien, bukan untuk hilangkan gejala. e. Terapi keluarga Diindikasikan jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga pasien. 3. Terapi Lain ECT (Electro Convulsive Therapy) dapat meringankan gangguan bipolar yang parah, yang tidak dapat diatasi dengan terapi lainnya. ECT sangat efektif untuk depresi yang parah, manik, atau episode campuran, tetapi bukan terapi lini pertama. b. Medikasi Tidur. Pasien dengan gangguan bipolar biasanya tidur lebih baik setelah mendapat terapi gangguan bipolar. Tetapi jika masalah tidur ini tetap ada, dokter dapat meresepkan sedatif atau obat tidur lainnya.
a.

GANGGUAN MOOD LAIN GANGGUAN MOOD AKIBAT KONDISI MEDIS UMUM Epidemiologi gangguan mood karena kondisi medis umum adalah tidak diketahui. Tetapi, gangguan kemungkinan sering ditemukan dan seringkali tidak terdiagnosis. Berbagai gangguan somatik telah dilibatkan

sebagai penyebab gejala gangguan mood, termasuk gangguan endokrin, khususnya sindrom Cushing, dan gangguan neurologis, seperti tumor otak, ensefalitis, dan epilepsi. Untuk membuat diagnosis, dokter harus menemukan kondisi medis umum yang mendahului onset gejala gangguan mood. Diagnosis banding harus termasuk gangguan mood akibat zat, gangguan mood primer, dan gangguan penyesuaian. Penatalaksanaan gangguan termasuk menentukan penyebab dan mengobati gangguan dasar. Terapi psikofarmakologis mungkin diindikasikan dan harus mengikuti pedoman yang berlaku untuk pengobatan depresi atau mania, dengan mengingat kondisi fisik yang menyertai. Psikoterapi mungkin berguna sebagai pelengkap terapi lain. GANGGUAN MOOD AKIBAT PENGGUNAAN ZAT Pada umumnya, klinisi harus mempertimbangkan tiga kemungkinan: pertama, pasien mungkin menggunakan obat untuk mengobati masalah medis non psikiatrik. Kedua, pasien mungkin secara tidak sengaja dan kemungkinan tidak diketahui terpapar dengan zat kimia neurotoksik. Ketiga, pasien mungkin menggunakan zat untuk tujuan rekreasional atau mungkin mengalami ketergantungan dengan zat tertentu. Epidemiologi gangguan mood akibat zat tidak diketahui. Tetapi, prevalensi kemungkinan adalah tinggi. Medikasi, khususnya anti hipertensi, kemungkinan merupakan penyebab yang paling sering dari gangguan mood akibat zat, walaupun berbagai macam obat dapat menyebabkan depresi dan mania. Obat seperti reserpin dan methyldopa, keduanya adalah obat anti hipertensi, dapat mencetuskan gangguan depresif, kemungkinan dengan menurunkan serotonin, seprti yang terjadi pada lebih dari 10 persen dari semua orang yang menggunakan obat. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan mood akibat zat memungkinkan penentuan (1) zat yang terlibat, (2) apakah onset selama intoksikasi atau selama putus zat, dan (3) sifat gejala. Ciri manik dan depresif akibat zat dapat identik dengan ciri gangguan bipolar 1 dan gangguan depresif berat. Tetapi gangguan mood akibat zat dapat menimbulkan gejala yang berat atau ringan dan suatu fluktuasi pada tingkat kesadaran pasien. Prognosis gangguan mood akibat zat pada umumnya segera setelah zat dihilangkan dari tubuh, mood kembali normal. Pengobatan utama untuk gangguan mood akibat zat adalah identifikasi zat yang terlibat sebagai penyebab. Biasanya menghentikan asupan zat adalah cukup untuk menghilangkan gejala

gangguan mood. Jika gejala tetap ada, pengobatan dengan obat psikiatrik yang sesuai mungkin diperlukan. GANGGUAN MOOD YANG TIDAK DITENTUKAN Jika pasien menunjukkan gejala depresif atau manik atau keduanya sebagai ciri utama dari gangguannya dan tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk tiap gangguan mood lain atau gangguan mental DSM-IV lain, termasuk gejala depresif yang tidak ditentukan (NOS) dan gangguan bipolar NOS, diagnosis yang paling tepat adalah gangguan mood yang tidak ditentukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful