SATUAN ACARA PENYULUHAN HUBUNGAN SEKSUAL DINI

A. IDENTITAS 1. Topik 2. Sasaran 3. Tempat 4. Hari 5. Tanggal 6. Waktu 7. Petugas 8. Metode 9. Media : Hubungan Seks Dini : Siswa SMA : Aula SMA : Rabu : 7 Desember 2011 : 1 x 30 menit : Mahasiswa DIII Kebidanan : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi : laptop, LCD, brosur, microfon, speaker

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL 1. Umum Setelah mendapatkan penyuluhan tentang remaja dan seks pra nikah pada remaja selama 30 menit, diharapkan remaja di SMA dapat mengetahui dan memahami tentang bahaya seks pra nikah. 2. Khusus Setelah dilakukan penyuluhan tentang hubungan seks dini di harapkan audiens dapat memahami a. Peserta dapat menjelaskan pengertian remaja dan hubungan seksual dini b. Peserta dapat menjelaskan ciri-ciri remaja c. Peserta dapat menjelaskan faktor-faktor yang mendorong hubungan seksual dini d. Peserta dapat menjelaskan cara mengendalikan dorongan hubungan seksual dini e. Peserta dapat menjelaskan akibat hubungan seksual dini f. Peserta dapat menjelaskan macam macam penyakit menular seks yang merupakan dampak negative dari hubungan seksual dini

C. KEGIATAN PENYULUHAN

Tahap/ Waktu Pendahuluan (5 menit)

Kegiatan Pengajar

Kegiatan Peserta

Media & Alat LCD, laptop, dan brosur

Metode

Memberi salam pembuka dan memperkenalkan diri

Menjawab salam & memperhatikan

Ceramah

Menginformasikan materi Memperhatikan yang akan disampaikan Menjelaskan tujuan yang hendak di capai pada akhir penyuluhan Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki peserta Memperhatikan & menjawab pertanyaan

Ceramah

Ceramah Memperhatikan

Ceramah

Penyajian Materi (15 menit)

Menjelaskan pengertian remaja dan hubungnan seksual dini Menjelaskan ciri-ciri remaja Menjelaskan faktorfaktor yang mendorong hubungan seksual dini

Mendengarkan dan memperhatikan

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Ceramah Menjelaskan cara mengendalikan dorongan

hubungan seksual dini Menjelaskan akibat hubungan seksual dini Menjelaskan macam macam penyakit menular seks yang merupakan dampak negative dari hubungan seksual dini Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya seputar materi yang disampaikan Memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab pertanyaan Menjelaskan dan menjawab pertanyaan Mendengarkan dan memperhatikan Ceramah Menjawab pertanyaan Tanya jawab Bertanya Ceramah Ceramah

Ceramah

Evaluasi (5 menit)

Memberikan pertanyaan kepada peserta seputar materi yang telah diberikan

Menjawab pertanyaan

Lisan

Tanya Jawab

Penutup

Menyimpulkan Materi

Mendengarkan

Lisan

Ceramah

(5 menit) Menutup pertemuan & mengucapkan salam penutup Mendengarkan dan salam menjawab Ceramah

D. URAIAN MATERI 1. Pengertian Remaja dan Hubungan Seksual Dini Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun.Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Remaja, yang bahasa aslinya disebut adolescene, berasal dari bahasa latin adolescere, yang artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Bangsa primitif dan orang orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan, anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali dan Asrori, 2009). Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja yakni antara usia 10-19 tahun yang merupakan suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah masa periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa. (Widyastuti dkk,2009)

Hubungan seksual dini adalah hubungan seksual yang di lakukan di usia dini untuk menyalurkan dorongan seksual.

Oleh karena itu, remaja perlu mendapatkan pendidikan seks. Pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

2. Ciri-ciri remaja Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangan nya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap (Widyastuti dkk, 2009). 1) Masa Remaja Awal (10-12 tahun) a) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya. b) Tampak dan merasa ingin bebas. c) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang khayal (abstrak). 2) Masa Remaja Tengah (13-15 tahun) a) Tampak dan ingin mencari identitas diri. b) Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis. c) Timbul perasaan cinta yang mendalam. 3) Masa Remaja Akhir (16-19 tahun) a) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri. b) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif. c) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya. d) Dapat mewujudkan perasaan cinta. e) Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak. (Widyastuti dkk, 2009).  Perubahan Fisik Pada Masa Remaja 1) Tanda-Tanda Seks Primer Yang dimaksud dengan tanda-tanda seks primer adalah organ seks pada laki-laki gonad atau testis. Organ tersebut terletak didalam skrotum. Pada usia 14 tahun

baru sekitar 10% dari ukuran matang. Setelah itu terjadilah pertumbuhan yang pesat selama satu atau dua tahun, kemudian pertumbuhan menurun. Testis berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Sebagai tanda bahwa fungsi organorgan reproduksi pria matang lazimnya terjadi mimpi basah, artinya ia bermimpi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual, sehingga

mengeluarkan sperma. Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa puber. Namun tingkat ketepatan antara organ satu dengan lainnya berbeda. Berat uterus pada anak usia 11 atau 12 tahun kira-kira 5,3 gram, pada usia 16 tahun rata-rata beratnya 43 gram. Sebagai tanda kematangan organ reproduksi pada perempuan adalah datangnya haid. Ini adalah permulaan dari seragkaian pengeluaran darah, lendir dan jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala, yang akan terjadi kirakira setiap 28 hari. Hal ini berlangsung terus sampai menjelang masa menopause. Menopause bisa terjadi pada usia sekitar 5 bulan (Widyastuti dkk, 2009). 2) Tanda-Tanda Seks Sekunder a) Pada Laki-Laki Rambut yang mencolok tumbuh pada masa remaja adalah rambut kemaluan, terjadi sekitar satu tahun setelah testis dan penis mulai membesar. Ketika rambut kemaluan hampir selesai tumbuh, maka menyusul rambut ketiak dan rambut di wajah, seperti halnya kumis dan cambang. Kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, pori-pori membesar. Kelenjar lemak dibawah kulit menjadi lebih aktif. Seringkali menyebabkan jerawat karena produksi minyak yang meningkat. Aktivitas kelenjar keringat juga bertambah, terutama bagian ketiak. Otot-otot pada tubuh remaja makin bertambah besar dan kuat. Lebih-lebih bila dilakukan latihan otot, maka akan tampak memberi bentuk pada lengan, bahu dan tungkai kaki. Seirama dengan tumbuhnya rambut pada kemaluan, maka terjadi perubahan suara. Mulamula agak serak, kemudian volumenya juga meningkat. Pada usia remaja sekitar 12-14 tahun muncul benjolan kecil-kecil di sekitar kelenjar susu. Setelah beberapa minggu besar dan jumlahnya menurun.

b) Pada Wanita Rambut kemaluan pada wanita juga tumbuh seperti halnya remaja laki-laki. Tumbuhnya rambut kemaluan ini terjadi setelah pinggul dan payudara mulai berkembang. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah mulai tampak setelah haid. Semua rambut kecuali rambut wajah, mula-mula lurus dan terang warnanya, kemudian menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting. Pinggul pun menjadi berkembang, membesar dan membulat. Hal ini sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak dibawah kulit. Seiring pinggul membesar, maka payudara juga membesar dan puting susu menonjol. Hal ini terjadi karena harmonis sesuai pula dengan berkembang dan makin besarnya kelenjar susu sehingga payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat. Seperti halnya laki-laki juga menjadi lebih besar, lebih tebal, pori-pori membesar. Akan tetapi berbeda dengan laki-laki, kulit pada wanita tetap lebih lembut. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa haid. Menjelang akhir masa puber, otot semakin membesar dan semakin kuat. Akibatnya akan membentuk bahu, lengan dan tungkai kaki. Suara berubah semakin merdu. Suara serak jarang terjadi pada wanita. (Widyastuti dkk, 2009).

3. Faktor-faktor yang mendorong hubungan seksual dini Kolodny, Master dan Johnson (1979) menyatakan bahwa keinginan seksual beragam diantaranya individu, sebagian orang menginginkan dan menikmati seks setiap hari. Sementara yang lainnya menginginkan seks hanya sekali satu bulan dan yang lainnya lagi tidak memiliki keinginan seks sama sekali dan cukup merasa nyaman dengan fakta tersebut. Keinginan seksual menjadi masalah jika klien semata-mata menginginkan untuk melakukannya pada beberapa norma kultur atau jika perbedaan dalam keinginan seksual dari pasangan menyebabkan konflik.

a. Faktor Fisik Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik. Aktivitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan sudah menurunkan keinginan seks. Penyakit minor dan keletihan adalah alasan seseorang untuk tidak merasakan seksual. Citra tubuh yang buruk, terutama jika diperburuk oleh perasaan penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien kehilangan perasaannya secara seksual. b. Faktor Hubungan Masalah dalam berhubungan dengan mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks. Setelah kemesraan hubungan telah mundur, pasangan mungkin mendapati bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan yang sangat besar dalam nilai atau gaya hidup mereka. Keterampilan seperti ini memainkan peran yang sangat penting ketika menghadapi keinginan seksual dalam berhubungan. Penurunan minat dalam aktifitas seksual dapat mengakibatkan ansietas hanya karena harus mengatakan kepada pasangan perilaku seksual apa-apa yang diterima atau menyenangkan. c. Faktor Gaya Hidup Faktor gaya hidup, seperti penggunaan atau penyalahgunaan alcohol dapat mempengaruhi keinginan seksual. Namun demikian, banyak bukti sekarang ini menunjukkan bahwa efek negatif alkohol terhadap seksual jauh melebihi euforia (perasaan yang berlebihan) yang mungkin dihasilnya. Pada awalanya menemukan waktu yang tepat untuk aktivitas seksual adalah faktor gaya hidup. Klien seperti ini sering mengungkapkan bahwa mereka perlu waktu untuk menyendiri, berfikir dan istirahat sebagai hal yang lebih penting dari seks. d. Faktor Harga Diri Tingkat harga diri juga dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seksualitas. Jika harga diri seksual tidak pernah diperlihatkan dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual diri dan dengan mempelajari keterampilan seksual, seksual mungkin menyebabkan perasaan negatif atau menyebabkan

tekanan perasaan seksual. Harga diri seksual dapat menurun didalam banyak cara, yaitu perkosaan, inses dan penganiayaan fisik atau emosi meninggalkan luka yang dalam (Herdiana, 2007).

4. Cara mengendalikan dorongan hubungan seksual dini a) Taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa b) Remaja memahamu tugasnya, misalnya belajar/ bekerja c) Mengisi waktu dengan bakat, minat, dan kemampuan misalnya: olahraga, kesenian, dan berorganisasi. d) Pengawasan dari orang tua Terdapat perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya

meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (1991) adalah sebagai berikut: 1) Mampu menerima keadaan fisiknya. 2) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa. 3) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis. 4) Mencapai kemandirian emosional. 5) Mencapai kemandirian ekonomi. 6) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat. 7) Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua. 8) Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa. 9) Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan. 10) Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan, diperlukan

kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak diwarnai oleh perkembangan kognitifnya (Ali dan Asrori, 2009).

5. Akibat hubungan seksual dini

Berhubungan sex di usia remaja ( di bawah 18 tahun ) lebih rentan terkena berbagai macam penyakit fisik maupun psikologis. Secara fisik sel-sel di antara vagina dan cervix belum “matur” atau matang sehingga akan mudah terjadi “perlukaan” bila terkena trauma yang biasa terjadi pada saat coitus ( berhubungan badan ). Perlukaan tersebut akan menjadikannya tempat yang akan memudahkan masuknya virus HPV yang merupakan virus penyebab cancer cervix dan virus HIV penyebab AIDS. Dengan kata lain semakin muda usia pada saat kamu berhubungan sexsual, maka resiko terkena cancer cervix dan AIDS juga akan lebih tinggi. Cancer cervix dan AIDS adalah jenis penyakit yang sulit dideteksi gejalanya. Gejala klinis baru akan muncul setelah bertahun tahun virus HPV menginfeksi, itupun biasanya cancer sudah berada pada stadium lanjut. Karenanya penting bagi setiap perempuan yang sudah melakukan hubungan sex berapapun usianya, untuk secara rutin melakukan pap smear test, yaitu suatu test yang dilakukan untuk mengetahui perubahan sel-sel antara vagina dengan cervix. Begitu pula dengan infeksi HIV, setelah pertahun –tahun virus tersebut menginfeksi, barulah gejala klinis AIDS akan muncul. Virus HIV ini hanya bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan HIV di dalam darah. Infeksi virus HIV akan menurunkan tingkat imunitas seseorang, sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan cancer lebih cepat Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab maka keberadaanya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. Lebih dari 200 wanita

mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion). Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas. Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat. 6. Macam-macam penyakit menular seks yang merupakan dampak negative dari hubungan seksual dini Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah infeksi apapun yang terutama didapat melalui kontak seksual. Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan istilah umum dan organisme penyebabnya, yang tinggal dalam darah atau cairan tubuh, meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan parasit-parasit kecil. Sebagian organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran genital (reproduksi) saja tetapi yang lainnya juga ditemukan dalam organ tubuh lain. Sering kali Penyakit Menular Seksual (PMS) timbul secara bersama-sama dan jika salah satu ditemukan, adanya Penyakit Menular Seksual (PMS) harus dicurigai. Terdapat rentang keintiman kontak tubuh yang dapat menularkan Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk berciuman, hubungan seksual, hubungan seksual melalui anus, kunilingus, anilingus, felasio dan kontak mulut atau genital dengan payudara (Benson, 2009).

1. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Organisme dan Bakteri a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Human Immunideficiency Virus (HIV) pertama kali dilaporkan menyebabkan penyakit pada tahun 1981. Di Amerika Serikat AIDS merupakan penyebab utama kematian nomor lima pada wanita usia subur. Salah satu kesulitan mengenali infeksi Human Immunideficiency Virus (HIV) adalah masa laten tanpa gejala yang lama, antara 2 bulan hingga 5 tahun. Umur rata-rata saat diagnosis infeksi Human Immunideficiency Virus (HIV) ditegakkan adalah 35 tahun (Benson, 2008). b. Gonorrhea Neisseria gonorrhoeae adalah diplokokus gram negatif yang biasanya berdiam dalam uretra, serviks, faring atau saluran anus wanita. Infeksi terutama mengenai epitel kolumner atau transisionel saluran kemih dan kelamin. Organisme ini sangat sulit untuk dikultur dan peka terhadap suasana kering, cahaya matahari, pemanasan dan sebagian besar desinfektan. Diperlukan media khusus untuk mencapai hasil yang optimal. Biakan saluran genital bawah biasanya didapat dengan memutar lidi kapas selama 15-20 detik jauh didalam saluran endoserviks. Jika dibuat usapan rektum, insiden keberhasilan meningkat dari 85% menjadi > 90% (Benson, 2009). c. Siffilis Siffilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi basah yang infeksius. Organisme ini dapat menembus membrane mukosa yang intake atau kulit yang terkelupas atau didapat melalui transplasenta. Satu kali kontak seksual dengan mitra seksual yang terinfeksi memberikan kemungkinan 10% menderita siffilis (Benson, 2009). d. Vaginitis Vaginitis adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan adanya infeksi atau peradangan vagina. Vaginitis biasanya ditandai dengan adanya cairan berbau kurang enak yang keluar dari vagina. Gejala lain adalah gatal atau iritasi di daerah kemaluan dan perih sewaktu kencing. Beberapa kasus vaginitis disebabkan oleh reaksi alergi atau kepekaan terhadap bahan kimia. Umumnya disebabkan oleh kuman yang ditularkan secara seksual atau yang tadinya menetap di vagina dan menjadi ganas karena gangguan keseimbangan di dalam vagina (Hutapea, 2003).

e. Candidiasis Candidialis juga dikenal dengan nama moniliasis, thrush atau infeksi yeast yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Candidialis biasanya menimbulkan gejala peradangan, gatal dan perih di daerah kemaluan. Juga terdapat keluarnya cairan vagina yang menyerupai bubur. Walaupun fungus selalu terdapat sampai taraf tertentu, biasanya tidak menimbulkan gejala selama lingkungan vagina terjaga normal. Candidialis dapat ditularkan secara seksual seperti bola pingpong antar pasangan seks, sehingga dua pasangan harus diobati secara simultan. Candidialis pada pria biasanya berbentuk Non Gonococcal Urethritis (NGU), penis memerah, atau lecet dikemaluan yang rasanya membakar dan nyeri sewaktu kencing. Candidialis juga dapat menular secara non seksual, bila wanita memakai handuk atau lap yang sama. Penularan juga terjadi melalui seks oral atau anal (Hutapea, 2003).

f. Infeksi Panggul Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital atas yaitu endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterina (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum dan serosa uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis (peritonitis). Organisme dapat menyebar ke dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima cara, diantaranya:    Intralumen Limfatik Hematogen

2. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Virus a. Herpes Virus herpes simpleks menimbulkan berbagai jenis herpes. Yang paling sering, virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) mengakibatkan herpes mulut, berupa lecet dan bentolan disertai salesma dan demam di daerah mulut dan bibir. HSV-1 juga dapat ditularkan ke daerah kemaluan dengan sentuhan atau seks oral. Herpes genitalis disebabkan oleh herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) yang mengakibatkan

lepuh yang nyeri dan luka di daerah kemaluan. Herpes ini juga dapat berpindah ke mulut melalui seks oral. Herpes dapat ditularkan melalui seks per vagina, anal atau oral, atau dengan menyentuh luka herpes. (Hutapea, 2003). b. Genital Warts Genital Warts atau disebut juga venerel warts disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Penyakit ini menyerang pria dan wanita berusia 20 hingga 24 tahun. Lesi kelihatan didaerah kemaluan dan anus beberapa bulan setelah infeksi. Wanita lebih rentan daripada pria karena ada suatu bagian pada leher rahim di mana selselnya melakukan pembuahan diri lebih cepat dibanding yang lainnya, dan Human Papiloma Virus (HPV) membonceng pada sel-sel tersebut untuk berkembang biak.

E. REFERENSI

Willis, S. S. 2005. Remaja Dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta. Widiyastuti, Y. Dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya. http://www.scribd.com/doc/14322262/Makalah-Dampak-Sex-Bebas http://lorenatazo.blogspot.com/2009/12/satuan-acara-penyuluhan-sap-kespro.html http://fannyvoice.blogspot.com/2010/06/satuan-acara-penyuluhan-seks-bebas.html