VIII. REKLAMASI LAHAN RAWA DAN PASANG SURUT 8.1.

Karakteristik Daerah Rawa
Luas total daerah rawa dan pasang surut diperkirakan 39.424.500 hektar (17 % dari luas daratan Indonesia) dan tersebar di empat pulau besar, terdiri dari : (1) Rawa Pedalaman (Lebak) kira-kira 32.424.500 hektar, dan (2) Rawa Pantai (Pasang Surut) kira-kira 7.000.000 hektar. Seluas 27 juta hektar (11,5 % daratan Indonesia) merupakan tanah gambut (Organosol, Histosols). Distribusi di empat pulau besar tersebut tertera pada Tabel 22. Tabel 22. Distribusi Rawa Lebak dan Pasang Surut di empat pulau besar. No. 1 2 3 4 Pulau Rawa Lebak Pasang Surut (X 1000 ha) 2.345 2.268 84 2.303 7.000 Jumlah (X 1000 ha) 13.211 12.764 469 12.980,5 39.424,5 (X 1000 ha) Sumatera 10.866 Kalimantan 10.496 Sulawesi 385 Irian Jaya 10.677,5 Jumlah 32.424,5 Sumber : Direktorat Rawa, Nopember 1981.

Rawa pedalaman (middle reaches) merupakan daerah non pasang surut atau lebak; merupakan daerah rendah berbentuk cekungan, di mana dalam musim hujan hampir seluruhnya digenangi air hujan dan dalam musim kemarau berangsur-angsur menjadi kering, kadang-kadang mengalami kering sama sekali dalam waktu 1 - 3 bulan. Pembagian atau zonasi rawa lebak adalah sebagai berikut: 1. Pematang sungai (lebak pematang atau levee); elevasinya cukup tinggi, waktu genangan air relatif pendek atau sebentar atau kadang-kadang tidak tergenang. 2. Lebak tengah (balik pematang atau back swamp); elevasinya agak rendah waktu genangan air agak lama. 3. Lebak dalam (deep swamp); elevasinya rendah, mikroreliefnya cekungan, waktu genangan air lama, kadang-kadang tanpa mengalami kekeringan. Sebagai gambaran mengenai zonasi rawa lebak dapat dilihat pada Gambar 9. Pengaruh pasang surut terhadap rawa lebak terletak pada letak wilayah tersebut dari pengaruh pasang surut air laut. Rawa pasang surut adalah dataran aluvial yang dipengaruhi oleh gerakan pasang-surutnya air laut dan gerakan turbulensi pada kuala sungai, sehingga terjadi

Pengelolaan Tanah dan Air

156

semacam bendungan (air terempang) di mana empangan itu menyebabkan air sungai mengalir dan meluapi lahan di sekitarnya (Lihat Gambar 10). Sungai Pematang Lebak tengah Lebak dalam

a -------------------------------------------------------------------------------------------------b ------------------------------------------------------------------------------------------------c -------------------------------------------------------------------------------------------------d ------------------------------------------------------------------------------------------------e -------------------------------------------------------------------------------------------------Gambar 9. Zonasi Rawa Berdasarkan Perilaku Gerakan Air. Keterangan: a = Permukaan air banjir tertinggi b-e = Permukaan air berangsur surut sampai muka terendah Genangan luapan air di daerah pasang surut itu bisa disebabkan terbendungnya air drainase di kedua tepi sungai atau karena gerakan aliran air pasang yang meluapi daerah-daerah tersebut. ------------<//////////////////------------------------------------------pasang ------------<//////////////////------------------------------------------pasang ----permukaan air sungai rerata ---------/////- ----<<--permukaan laut rerata -aliran bawah sungai ---------------------/////----- pergerakan air laut lemah dasar sungai laut surut

------------------------dasar laut pantai Gambar 10. Gerakan Aliran Air di Kuala Sungai Sebagai gambaran fluktuasi air di daerah kuala sungai dapat dilihat pada Gambar 11.

-----------------------------p a s a n g --------------------------------------------permukaan air rata-rata------------------------surut -------------Pengelolaan Tanah dan Air 157

dasar sungai Gambar 11. Penampang Fluktuasi Permukaan Air Pasang Surut Berdasarkan bentukan alami, rawa pasang surut (tidal swamp area) dapat dibagi ke dalam empat kategori: I = Lahan selalu terluapi air pasang atau permukaan air rata-rata secara periodik II = Lahan yang kadang-kadang terluapi air pasang secara intermittent III = Lahan tidak terluapi air pasang tertinggi, dan permukaan air pasang dangkal (< 50 cm di bawah permukaan tanah) IV = Lahan tidak terluapi air pasang tertinggi, dan permukaan air pasang > 50 cm dari permukaan tanah. Sebagai gambaran karaktersitik masing-masing zonasi rawa pasang surut di atas dapat dilihat pada Gambar 12. --------------------------- maptt --------------------------- mar --------------------------- mastr I ------------------------- muka tanah ------------------------- maptt ------------------------- mar ------------------------- mastr III Keterangan : maptt = Permukaan air pasang tertinggi mar = Permukaan air rata-rata mastr = Permukaan air surut terendah Dengan adanya gambaran ini maka reklamasi lahan rawa dititikberatkan pada dua kegiatan utama yaitu: (1) pembukaan lahan terpilih sesuai dengan potensi kesesuaiannya, dan (2) pembuatan saluran drainase dalam rangka pengaturan tata air tanah di daerah tersebut. Bentukan dataran gambut di daerah rawa membentuk sekuen seperti terlihat pada Gambar 13. Dome (Cembungan) > 200 cm dataran gambut Pengelolaan Tanah dan Air 158 >50 cm -------------------------- maptt -------------------------- mar -------------------------- mastr IV --------------------------- maptt --------------------------- mar --------------------------- mastr II -------------------------- muka tanah

Gambar 12. Karakteristik Pasang Surut di Empat Zonasi Rawa Pasang Surut

> 50 cm

balik pematang < 50 cm

pematang

maptt sungai 2 m mar __ 2-3 m matr

Gambar 13. Sekuen Dataran Gambut di Daerah Rawa dan Pasang Surut Karakteristik tanah rawa dan pasang surut yang sangat menunjang bagi reklamasi tanah terlebih dahulu harus diketahui dengan seksama, antara lain: ketebalan gambut, tingkat pelapukannya, potensi sulfat masam (kandungan pirit dan letak kedalamannya pada penampang tanah), keadaan drainase (internal dan eksternal), pengaruh salinitas, pengaruh pasang surut (melalui rampas = ramalan pasang surut), pengaruh banjir (kedalamannya, lamanya dan periodisitasnya). Selain itu karakteristik flora dan fauna yang membentuk ekosistem rawa yang bersangkutan.

8.2. Reklamasi Tanah Rawa Dan Pasang Surut
Reklamasi rawa sangat erat kaitannya dengan pematangan tanah secara fisik, kimia dan biologi. Pematangan secara kimia dan biologi tidak dapat diikuti dengan cepat dan faktual. Oleh karena itu rekalamasi bagi tujuan budidaya pertanian lebih dititikberatkan pada pematangan fisik. Pada proses pematangan fisik yang dilakukan pada wilayah yang cukup luas akan berakibat langsung pada proses-proses pematangan kimia dan biologi secara simultan. Proses pematangan secara fisik dapat ditetapkan dengan mudah dan akurat. Demikian pula proses pematangan fisik pada tanah gambut, tanah bergambut maupun berliat mudah dilihat dengan metode pengukuran yang cepat. Aspek praktis dari rekalamsi tanah di daerah rawa dan pasang surut adalah perbaikan drainase sejalan karakteristik permukaan air tanah di daerah tersebut. Akibat dari perbaikan drainase tersebut akan berdampak luas pada proses dehidrasi daerah rawa dan pasang surut dengan berbagai ikutannya, seperti: penurunan permukaan tanah (soil subsidence), permeabilitas tanah, pelapukan (dekomposisi) yang dipercepat pada tanah-tanah organik, dan perubahan aktivitas mikroorganisme karena perubahan lingkungan dari anaerobik menjadi aerobik. Kendala utama reklamasi daerah rawa antara lain: gambut ombrogenik, tingkat kesuburan yang rendah, bereaksi masam, fisiografi datar dengan drainase buruk, mempunyai sifat tak balik, potensi sulfat masam yang tinggi. Pengelolaan Tanah dan Air 159

Bahan organik penyusun tanah gambut di Indonesia mempunyai sifat yang hampir seragam, antara lain: bersifat masam, kejenuhan basa rendah (bersifat distrik), pelapukannya sangat dipengaruhi oleh keadaan air (hidrik), dan merupakan tipe bahan organik hutan hujan tropik. Berdasarkan tingkat pelapukannya dapat dibagi ke dalam tiga fase; 1. fibrik = bahan organik yang baru mengalami pelapukan dan kurang dari 33 % bahan asalnya. 2. hemik = bahan organik yang pelapukannya mencapai 33 - 66 % dari bahan asalnya. 3. safrik = bahan organik yang telah mengalami pelapukan lanjut, labih dari 66 % dari bahan asalnya. Reklamasi tanah rawa dan pasang surut dengan pembukaan lahan kemudian diikuti dengan kanalisasi telah dimulai sejak tahun 1949 di Kalimantan Selatan dan Tengah, kemudian di Kalimantan Barat. Pendirian Kota Palangkaraya sebagai Ibukota Kalimantan Tengah telah mempercepat kanalisasi yang telah dirintis oleh Sophyus dan M. Idak Tahun 1948, dengan dibuatnya Anjir Kelampan dan Serapat yang menghubungkan sungai Barito, Kapuas Murung dan Kahayan. Kemudian reklamasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Rawa, Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum dalam rangka Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S) dimulai secara besar-besaran sejak 1969 sampai 1984. Pada tahun 1996 sampai sekarang sedang dilakukan pembukaan sejuta lahan aluvial dan gambut di Kabupaten Kuala Kapuas dengan sistem pencucian asam dari lahan oleh air sungai dalam teknik pengairan tertutup, agar tidak terjadi over drained. Disebabkan kendala dan faktor pembatas yang umum terdapat di daerah rawa, dari sejuta hektar tersebut yang memungkinkan untuk persawahan atau pertanian tanaman umum hanya akan mencapai 200.000 sampai 210.000 hektar. Beberapa kriteria pengembangan sumberdaya alam rawa, antara lain: 1. Daerah rawa terletak di wilayah tengah middle reaches) dan wilayah pantai (coastal zones) dari suatu sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). 2. Sungai-sungai besar merupakan urat nadi dan prasarana alami pembentukan rawa dan pengaturan tata airnya. 3. Wilayah pantai yang dipengaruhi gerakan pasang surut air laut merupakan daerah pasang surut (tidal swamp area). 4. Sistem DAS wilayah rawa merupakan urat nadi perhubungan air yang berperan penting dalam sistem pengembangan wilayah tersebut. Pengelolaan Tanah dan Air 160

5. Pengembangan sumberdaya alam rawa sampai sekarang sasarannya dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras, hutan pertanian, hutan industri, perkebunan kelapa/kelapa sawit; menunjang program transmigrasi serta pertahanan keamanan wilayah pantai (safety belt). 6. Pengembangan bagi budidaya pertanian dalam arti luas dipengaruhi oleh pematangan tanah (soil ripening) fisik, kimia dan biologi secara simultan. Usaha percepatan pematangan tanah (artificial ripening) sumberdaya alam rawa adalah reklamasi, yaitu melalui artificial drainage yang dapat dikendalikan. Prinsip utama dari pematangan pada tingkat awal adalah dehidrasi, dekomposisi bahan organik, oksidasi-reduksi, pembukaan permukaan tanah dari vegetasi tinggi sehingga terjadi radiasi langsung terhadap permukaan tanah. Akibat proses yang berlangsung secara simultan dalam waktu tertentu akan terjadi penyusutan volume (bulk shrinkage) yang bersifat irreversibel (tak balik) dan menyebabkan penurunan tanah/lahan (soil/land subsidence). 7. Upaya pengendalian agar tidak terjadi penurunan yang drastis pada tanah gambut (Histosols) atau over-drained maka perencanaan dan pembuatan saluran hendaknya berpedoman pada pengaturan permukaan air tanah yang mempertahankan kelembaban tanah sepanjang tahun.

Pengelolaan Tanah dan Air

161

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful