You are on page 1of 6

CATATAN: MI’RAJ – LANGIT KE-DUA DAN KE-TIGA Guru: Achmad Chodjim Tanggal: 27 April 2007 dan 4 Mei 2007

[eva: Dua catatan ini saya satukan lebih karena rasanya kalau dipisah kok sedikit secara kuantitas. Salah saya juga sih. Pada tanggal 27 Apr, banyak diskusi sampingan yang tidak saya catat di sini. Sedangkan pada tanggal 4 Mei saya terlambat sekitar satu jam..] Anyway, setelah dua minggu membahas lapisan Adam, yang mencerminkan tingkat upaya kita untuk melepaskan diri dari kemelekatan pada dunia, kita memasuki lapisan ke-dua. Saat mi’raj, pada lapisan langit ke-dua Muhammad bertemu dengan Isa dan Yahya. Yahya dalam bahasa Arab berarti hidup, sementara Isa diriwayatkan dapat menghidupkan orang mati. Pada lapisan ke-dua kita mempelajari bagaimana—mencoba menjadi—manusia yang dapat memaknai hidup, dan bahkan memberikan ‘kehidupan’ kepada orang lain. Adam, kalau kita lihat catatan lalu, melambangkan kesadaran material. Orang baru akan dapat memahami makna kehidupan apabila sudah memiliki kesadaran material, bahwa badan kita ini adalah sekedar kendaraan, bukan hakekat. Seperti halnya kendaraan yang kita gunakan ketika melakukan perjalanan. Apa yang dapat dipelajari dalam lapisan kedua ini? Untuk memaknai hidup? Pertama: Berserah diri. Ketahui bahwa kita sebenarnya tidak memiliki pilihan kecuali berjalan di jalan Tuhan. QS Luqman (31):21 – Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikulah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “tapi kami mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikut bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala? Pada saat ini, ego kita, hawa nafsu kita sudah tidak memegang kendali lagi. Kedua: Tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Yang berarti, senantiasa berdiri pada hukum Tuhan, berani menjadi saksi untuk hal yang benar. QS An nisaa’: perempuan (4):65 – Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim pada perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan pada hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. QS Al maaidah – hidangan – (5):50 – Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? [eva: Menurut saya, ini agak tricky. Banyak pihak yang menganggap mereka tengah menjalankan ‘hukum Tuhan’ padahal mereka hanya mengikuti ego mereka.]

Zaman dulu, lebih ‘mudah’, karena Al Quran yang haq jelas dipegang rasul. Pada saat Al Quran berada di tangan individu yang begitu arif seperti Rasul, maka Al Qur’an akan benar-benar menjadi petunjtuk pada hukum Allah. Jadi patokannya adalah keberadaan pribadi yang tidak memihak, seperti halnya Rasulullah. QS Al an’aam – Binatang ternak (6):57 – Katakanlah: “Sesungguhnya aku di atas hujjah yang nyata dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. Begitu orang sudah berpijak pada hukum, maka hukum itu tidak boleh dipermainkan sesuai dengan kepentingan golongan tertentu. QS Al an’aam – Binatang ternak (6):62 – Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah. Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum kepunyaanNya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat. Segala hukum adalah kepunyaan Allah, berarti segala kesepakatan bersama yang telah diterima semua orang, disebut hukum Allah. Namun, ada prasyarat prinsip keadilan dan perlindungan terhadap semua pihak. Hal ini tidak akan kita sepakati kalau kita masih di lapisan Adam. Ketiga: Sanggup menghadapi cobaan. QS Al baqarah – Sapi (2):155 – Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Cobaan ini merupakan latihan buat kita. Kalau tidak bisa, kita akan mundur ke tahap sebelumnya. QS Ali ‘imran – Keluarga imran (3):154 – Kemudian setelah kamu berduka cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yagn tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah maha Mengetahui isi hati. Ayat di atas menceritakan cobaan ketika mendapat ancaman mati. Keempat: semua itu adalah milik-Nya. Mudah untuk diucapkan dan saya yakin kita semua pernah mengatakannya. Tapi berapa orang yang benar-benar meresapi itu. Kita itu tidak punya apa-apa. Yang ada kebalikannya, merasa semua itu milik saya, posesif dan selalu takut kehilangan.

QS Al baqarah – Sapi (2):107 - Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. QS Al baqarah – Sapi (2):255 – Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. QS Ali ‘imran – keluarga imran (3):189 – Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kelima: bebas dari keterikatan materi. QS Asy syu’araa – para penyair (26): 87-89 – dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. On to the next stage: LANGIT KE-3: YUSUF [telat satu jam ] Latar belakang kecerdasan Yusuf (yang menunjukkan betapa tingginya kesadaran beliau) ada tujuh. 1. Kemampuan untuk bisa melihat keindahan di balik keindahan. Yusuf adalah simbol keindahan di balik yang indah, melihat ke dalam keindahan. Tidak silau lagi terhadap keindahan dunia; keindahan-keindahan seperti yang disebut oleh ayat di bawah ini. QS Ali imran – keluarga imran (3):14 – Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Melihat dengan kesadaran. 2. Lebih baik di penjara daripada mempermalukan orang. QS Yusuf (12):33 – Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu

daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” QS Yusuf (12):35 – Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. 3. Menyelamatkan orang banyak daripada diri sendiri. QS Yusuf (12):46 – “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” [eva:Ini cerita ketika Yusuf dipenjara dan mendengar tentang mimpi raja. Tapi dia kasih tau ke teman sepenjaranya, supaya orang itu bisa keluar dan menceritakan mimpi tersebut, yang kemudian meyelamatkan negara tersebut.] QS Ali ‘imran – keluarga imran (3):200 – Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. Untuk itu, diperlukan kesabaran. Karena sesabar-sabarnya sabar adalah drive/dorongan/semangat hati yang tidak kunjung padam. [eva: sabar dalam berusaha, misalnya]. Kesabaran seperti ini diperlukan untuk menyelamatkan lebih banyak orang. Tapi sayangnya, kebanyakan dari kita berpikir relatif egois, berpikir “ah tidak mungkin hal itu berdampak ke kita. Tidak mungkin hal itu terjadi pada keluarga kita.” Sehingga kita tidak peduli dan tidak mempedulikan orang lain. 4. Tidak dendam dan memaafkan. Sikap tidak mendendam dan memaafkan dapat mendorong hidup yang lebih harmonis. [bener banget]. Yusuf benar-benar prototipe orang yang tidak mendendam dan memaafkan. Kalau dilihat dari sejarah hidupnya, beliau pernah dikhianati keluarga, dicoba dibunuh oleh kakak-kakaknya, dituduh melakukan hal yang tidak ia lakukan, tapi dia tetap tidak mendendam. QS Yusuf (12):51 – Raja berkata: “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?: Mereka berkata: Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya. Berkata istri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” QS Yusuf (12):90 – Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

Meniadakan demam dan memaafkan juga harus diterapkan pada kehidupan keluarga. QS Al baqarah – Sapi (2):237 – Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istriistrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamj. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan. Dendam dapat memiliki beragam cakupan. Ada dendam pribadi, dendam keluarga, dendam suku, hingga dendam bangsa. Friksi dan benturan adalah dinamika kehidupan. Apabila friksi, benturan atau friksi ini dibiarkan menimbun, lama-lama akan menumpuk menjadi dendam. Karenanya, sebaiknya cepat selesaikan kalau ada konflik, termasuk dalam keluarga. 5. Hanya menerima tugas yang benar-benar dikuasai. Ketika Yusuf ditawarkan posisi menteri, dia mengatakan kepada sang perdana menteri bahwa keahliannya hanya dalam bidang keuangan. Karena itu Yusuf hanya mau dijadikan bendahara dan tidak menerima posisi kementerian lainnya. Yusuf bisa mengukur potensi yang ada di dirinya. Beliau juga bisa mengatasi godaan, imingiming untuk menduduki posisi ‘basah’. 6. Senantiasa menjaga tutur kata yang baik. [ - merasa tersindir] QS Al ahzab – golongan yang bersekutu (33):70 – Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Sebaiknya dilatih dari kecil, sehingga terbiasa untuk tidak berkata yang buruk. 7. Beragama yang bersih. Sehingga tidak ada motivasi di luar keagamaan itu sendiri. QS Az zumar – rombongan-rombongan (39):3 – Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah: “Kami tidak menyembah merkea melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” QS Az zumar – rombongan-rombongan (39):14 – Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agamaku”.

QS Al bayyinah – bukti (98):5 – Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. QS Al kahfi – Gua (18):110 – Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” Semua ini proses. Pak Chodjim bilang, “Gak bisa sa’ det, sa’ nyet”.  Tapi harus dimulai. Dan mulai dari diri sendiri, kalau bukan kita yang mau mulai, siapa lagi. Saya bertanya ke Pak Chodjim: kenapa tahap-tahap langit 1, 2 dan 3 seperti ini? Kenapa lapisan Adam, Yahya dan Isa, kemudian Yusuf? Pak Chodjim bilang, agak sulit untuk menjawabnya kenapa tahap seperti itu. Tetapi hanya orang yang sudah dapat memaknai hidup dan memberikan kehidupan bagi yang lain (melewati lapisan Yahya dan Isa) yang bisa melihat keindahan di balik keindahan (lapisan Yusuf); dan hanya orang yang sudah bisa melebihi kehidupan material (lapisan Adam), yang bisa memberikan kehidupan bagi yang lain. I think that’s a good enough answer. Don’t you? I have a long way to go. -oOo-