You are on page 1of 9

Edisi: Maret 2012

Ford Foundation

jakaselimut.blogspot.com

KETERANGAN FOTO BELUM ADA

"Tolak Kenaikan BBM, Demonstran Kurung Jakarta" (Vivanews.com, 26/3/12). Begitulah salah satu judul berita yang mewarnai jagat media pers kala pemerintah Indonesia mengumumkan rencana menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) per 1 April 2012. Nyaris pada Maret, setidaknya mulai pertengahan hingga akhir bulan, media massa, baik cetak maupun elektronika, hanya berisi isu soal rencana kenaikan harga BBM itu. Respon warga masyarakat, politisi anggota DPR yang pro dan kontra terhadap keputusan itu, para pakar minyak bumi dan gas, akademisi dan akar rumput, berseliweran mewarnai pemberitaan media pers Indonesia, suratkabar, televisi maupun media online. Nyaris seluruh pemberitaan berisi penolakan warga masyarakat atas rencana pemerintah itu. Ada yang mengatakan membebani hidup rakyat kecil, ada pula yang mengatakan subsidi selama ini tidak tepat arah, ada juga yang mengusulkan penggunaan energi terbarukan. Silang sengkarut persoalan rencana kenaikan BBM, pada akhirnya memang lebih banyak menghabiskan energi pada tingkat pembahasan, atau wacana belaka. Dan ujungujungnya, keputusan yang diambil boleh dikatakan lebih

cenderung bermotif politis, ketimbang mengedepankan penjelasan mengapa harga BBM harus naik dengan segala argument nalarnya. Penolakan demi penolakan itu, yang sangat menonjol mengisi ruang pemberitaan hampir setiap hari, adalah adanya aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang dilakukan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. Tak jarang aksi unjuk rasa itu memicu kerusuhan yang menimbulkan kerusakan dan jatuhnya korban manusia. Lantas, melihat fenomena pada peristiwa tersebut, terbetik pertanyaan mengenai apa sesungguhnya arti kata demonstrasi atau unjuk rasa? Dalam Wikipedia.org unjuk rasa atau demontrasi adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. Beragam unjuk rasa dilakukan bagi mereka yang tidak puas akan keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Misalnya saja kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah atau menuntut rektorat agar melakukan suatu langkah demi kepentingan mahasiswa. Atau dapat juga para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya. Bahkan buruh dapat juga melakukan unjuk rasa untuk meminta pemerintah mengubah kebijakan yang tidak berpihak kepadanya. Melihat adanya latarbelakang keinginan setiap kelompok melakukan unjuk rasa, tentunya mereka punya perbedaan tujuan dalam melakukan kegiatan itu. Berdasar peristiwa-peristiwa yang disajikan oleh media selama ini, unjuk rasa seringkali berakhir ricuh atau diwarnai dengan sejumlah aksi kekerasan. Bahkan sudah sampai pada tingkat mengakibatkan hilangnya rasa nyaman dan tertib lalu lintas di jalan. Namun masih ada banyak aksi unjuk rasa atau demonstrasi damai yang dilakukan masyarakat Indonesia.
..................... bersambung ke hal 15

Cara mendapatkan NEWSLETTER PMP AIDS: Kirimkan identitas serta nama media Anda, akan kami kirimkan secara gratis. Informasi yang kami muat di NEWSLETTER dapat dikutip atau disiarkan tanpa ijin asal menyebut sumber. Apabila anda memiliki informasi tentang HIV/AIDS yang layak untuk disebarkan kepada masyarakat luas, silakan kirim dan akan kami muat. Anda dapat menghubungi kami ke alamat: LP3Y Jl.Kaliurang Km 13,7 Ngemplak, Sleman, Yogyakarta 55584 atau via telepon dan faksimili No. (0274)896016, email: lp3y@idola.net.id dan situs http://www.lp3y.org
Penanggung Jawab : Ashadi Siregar Pimpro/Pemimpin Redaksi : Slamet Riyadi Sabrawi Staf Redaksi : Agoes Widhartono, Dedi H Purwadi, Ismay Prihastuti, Rondang Pasaribu Sekretaris Redaksi : W. Nurcahyo

Edisi: Maret 2012

1

Dapur Info

Dapur Info

Workhsop Pengembangan Program Humas UGM

Foto: KETERANGAN BELUM ADA

KETERANGAN FOTO BELUM ADA

Demi meningkatkan kinerja Unit Kerja Komunikasi dan Humas UGM (Hubunga masyarakat Universitas Gadjah Mada), bersama dengan LP3Y, salah satu unit kerja di UGM, itu menggelar workshop pengembangan program komunikasi. Acara berlangsung selama dua hari, 10-11 Maret 2012 di kampus LP3Y. Hari pertama dan kedua diselenggarakan mulai pukul 08.30 hingga 16.45 WIB. Adapun peserta workshop pengembangan program komunikasi kelembagaan ini adalah para staf inti dan staf pelaksana hubungan masyarakarat Universitas Gadjah Mada yang secara keseluruhan berjumlah 17 orang. Sesungguhnya, workshop ini mempertajam hasil roundtable yang sudah diadakan pada bulan Februari 2012 lalu, yang dilakukan bersama dengan para staf inti. Selain itu workshop ini mempunyai tujuan akhiri yang diarahkan untuk menghasilkan rumusan rencana strategis (renstra) komunikasi unit kerja humas UGM. Beragam topik didiskusikan secara intensif selama dua hari itu. Mulai dari identifikasi visi misi dan tupoksi, identifikasi faktor komunikasi humas dan badan UGM, identifikasi pengorganissaian dan job deskripsi unit kerja komunikasi dan Humas UGM serta renstra komunikasi Unit Kerja dan Humas UGM. Diskusi mendalam Mencermati apa yang dikatakan Ashadi Siregar dalam pembahasan mengenai sistem acuan kerja bagian hubungan masyarakat (Humas) UGM, Humas merupakan

pintu gerbang informasi yang ada di seluruh badan-badan lembaga UGM. Badan lembaga UGM yang dimaksud adalah fakultas, lembaga pengabdian masyarakat dan program-program studi di luar fakultas. Kewajiban Humas, lanjut Ashadi meliputi informasi semua badan-badan publik tersebut dan sistem yang terpadu untuk diketahui masing-masing badan-badan publik . Selain itu juga humas dituntut untuk memberikan akses on line. Oleh karena itu perlu dipikirkan orang yang bertugas mengerjakan itu. Selain itu dalam tujuan menjaga hubungan dengan pihak luar, humas perlu memperhatikan badan yang mempunyai kepentingan terhadap UGM. Selain itu hubungan dengan stake holder, para pemangku kepentingan, juga perlu dijaga. Dalam diskusi kelompok mengenai identifikasi faktor komunikasi humas dan badan UGM, eksplorasi lebih diarahkan tentang keberadaan UGM saat ini. Apa saja yang telah dijalankan dalam faktor komunikasi, seperti misalnya kegiatan riil dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian. Selanjutnya perlu ada pertanyaan kritis, betulkah kegiatan tersebut memenuhi unsur kerakyatan seperti yang tertera dalam tujuan UGM? Adapun tujuan UGM seperti yang tertuang dalam bagian visi-misi dan tujuan yakni menjadi universitas riset kelas dunia yang beridentitas kerakyatan dan berakar pada sosio-budaya Indonesia. Kedua, menjadi universitas mandiri dan bertata kelola baik (good university governance).

Banyak kendala Dalam kesempatan memberikan gambaran luas tentang pengorganisasian, job description unit kerja komunikasi, Wijayanti, selaku narasumber dan sekaligus menjabat Kepala Bidang Humas UGM mengatakan bahwa masih banyak kendala untuk mewujudkan suatu lembaga humas yang ideal. Kendala tersebut diantaranya jumlah Sumber daya manusia yang terlibat sangat terbatas. Di samping belum berjalan dengan maksimal di unit Humas UGM juga belum seluruhnya badan-badan komunikasi UGM yang memiliki fungsi kehumasan sebagai bagian atau perwakilan badan atau fakultasnya. Badan atau unit kerja yang tampak cukup rendah komunikasinya, terlihat dari 18 fakultas yang ada di UGM hanya beberapa saja yang aktif dalam kegiatan komunikasi kehumasan. Fakultas yang menjalankan fungsi kehumasan adalah Fakultas Kedokteran dengan selalu meng-update situs web, punya unit humas, juga punya majalah yang terbit secara rutin. Sedangkan Fakultas Geografi punya badan humasnya tapi tidak berjalan. Fakultas Teknik tidak memiliki humas tetapi situs web selalu di update, punya penerbitan majalah, tapi tidak rutin. Melihat keadaan demikian humas di masing-masing badan atau unit kerja memang belum berjalan dengan semestinya, sehingga fungsi humas ditangani seluruhnya oleh humas pusat (pada level rektorat) UGM. Idealnya, dari kondisi yang ada saat ini fungsi Humas pusat mendorong dan mengkoordinir di semua badan atau unit kerja agar berjalan. Sehingga Humas pusat UGM tidak terlalu terbebani yang sesungguhnya hal itu bisa diwakilkan oleh badan atau unit-unit kerja yang ada di UGM.

Tidak hanya badan yang berupa fakultas, namun kondisi pusat studi juga demikian. Dari 28 pusat studi yang ada, hanya beberapa saja yang aktif dalam menjalankan fungsi kehumasan, seperti ditandainya dengan kepemilikan situs web. Dengan adanya kendala di atas, peserta diajak oleh para fasilitator dari LP3Y yang terdiri Agoes Widhartono, Ismay Prihastuti, Dedi H Purwadi dan Slamet Riyadi, dalam diskusi kelompok, guna membahas bagaimana para staf Humas rektorat memberikan pelatihan agar humas badan-badan atau unit kerja lainnya berjalan dengan semestinya. Sehingga pada hari terakhir, para peserta diajak untuk menyusun rencana strategis (renstra) jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Renstra dibuat dengan senyata mungkin sesuai dengan kemampuan Humas pusat menjalankannya. Seperti misalnya langkah pada tahun pertama, dimungkinkan Humas pusat menginventarisir tentang kegiatan humas di badan atau unit kerja. Karena mungkin saja ketidaktahuan fungsi humas badan atau unit kerja UGM. Solusi dari kendala itu misalnya dapat dilakukan sosialisasi pada humas badan atau unit kerja. Langkah selanjutnya, humas rektorat dapat melakukan atau mengkoordinir pertemuan rutin masing-masing perwakilan humas badan/unit kerja untuk membahas rencana-rencana selanjutnya. Demi terwujudnya tujuan kehumasan yang ideal tentunya diperlukan dukungan kebijakan organisasi di tingkat pusat. (may)

Foto: KETERANGAN BELUM ADA

2

Edisi: Maret 2012

Edisi: Maret 2012

3

Dapur Info

Analisis Info

Supermarket Kekerasan dalam Sebuah Novel * Air Mata Terakhir Mukhotib MD
Novel Air Mata Terakhir banyak memberi gambaran tentang kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih banyak terjadi dan perempuanlah sebagai korban. Pada salah satu bagian paparannya, Siti Ruhaini mengatakan, novel karya Mukhotib itu menjadi semacam refleksi inklusivitas di Indonesia. Sebab, menurut Siti Ruhaini, adalah tidak mungkin terjadi di negara-negara Islam novel yang menggambarkan kondisi perempuan yang termarjinalkan itu bisa diterbitkan. Novel itu, kata Siti, merupakan kontestasi penulisnya, yang seorang aktivis, tentang cita-cita ideologisnya. Sedangkan Fadmi Sustiwi mengatakan, saat ini, jarang lahir novel seperti Air Mata Terakhir. Di tengah membanjirnya karya fiksi tentang pembangunan jiwa dan motivasi, maka Mukhotib meluncurkan novel tentang pergulatan ideologis. Novel tersebut, kata Fadmi, ibarat supermarket kekerasan, karena isinya banyak memotret berbagai sisi kekerasan yang dialami perempuan. Novel Air Mata Terakhir diterbitkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, berkisah tentang seorang perempuan bernama Yati yang dipaksa menikah dengan orang yang memerkosanya, bernama Syumanjaya. Selain itu, dalam jalinan ceritanya, novel itu juga mengisahkan tentang sosok transgender yang bernama Shinta yang memiliki dua anak asuh. Dalam kehidupannya, Shinta dimusuhi oleh seorang ustad yang melakukan segala tindakannya dengan landasan untuk mendapatkan surga. Acara yang diselenggarakan mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB itu, dihadiri oleh sekitar 100 orang. Suasana hidup terjadi ketika interaksi berupa tanya jawab jawab antara tamu undangan dengan penulis buku. Selain Air Mata Terakhir, novel Mukhotib yang lain adalah Kliwon: sebuah perjalanan seorang saya, yang sudah diluncurkan pada Oktober 2010 lalu di Yogyakarta.(awd)

Kontroversi Rok Mini di DPR

Foto: KETERANGAN BELUM ADA

KETERANGAN FOTO BELUM ADA

Sebagai seorang aktivis sosial, Mukhotib MD (44) dikenal terus bergerak. Tidak hanya mencermati beragam realitas sosial dan perubahan yang terjadi, tapi juga menggagas bagaimana memberdayakan masyarakat yang tertindas, terpinggirkan dan mereka yang berhak menerima keadilan. Kegelisahan itu pula yang menjadi motivasi dan pendorong dirinya untuk menghasilkan karya tulis, bukan saja artikel opini atau berita, namun sebuah karya cerita fiksi, novel. Bertitik tolak dari serangkaian pengalamannya selama bertahun-tahun aktif di bidang kemasyarakatan, maka lahirlah karya mutakhirnya, sebuah novel berjudul Air Mata Terakhir - Sebuah Novel Pergulatan Ideologis. Novel itu diluncurkan sekaligus dibedah pada sebuah acara yang digelar pada Rabu 28 Maret 2012 lalu di pendapa Karta Pustaka, Jalan Bintaran Tengah Yogya. Pembicara yang tampil pada peluncuran buku itu, adalah Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin, dosen di UIN yang juga komisioner HAM negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI, serta Fadmi Sustiwi, wartawan suratkabar Kedaulatan Rakyat, dan tentu saja sang penulis buku, Mukhotib MD.

http://www.suaranews.com

Beberapa suratkabar memberitakan rencana larangan pemakaian rok mini di kawasan DPR. Disebutkan, larangan itu ditujukan kepada staf ahli dan sekretaris pribadi anggota DPR (Kedaulatan Rakyat, 6/3/12; Harian Jogja, 7/3/12, ). Rencana tersebut memancing kontroversi, paling tidak di kalangan DPR sendiri. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak (Media Indonesia, 7/3/12; Koran Tempo, 8/3/12). Jika dicermati bagaimana beberapa suratkabar memberitakan rencana larangan rok mini itu, tampaknya bisa diasumsikan suratkabar tidak berselera mengangkat isu itu sebagai wacana publik. Suratkabar seolah mengambil sikap biarlah isu rok mini itu diberitakan agar publik tetap mengetahui apa yang diribut-ributkan DPR, namun publik tidak perlu diseret-seret memusingkannya. Maka tidak heran apabila kemudian kelanjutan mengenai rencana tersebut tidak lagi muncul dalam pemberitaan. Jadi, sama sekali tidak jelas apakah rencana itu tetap dilaksanakan atau tidak. Andaikata asumsi yang dikemukakan di atas benar, menarik untuk dibahas mengapa suratkabar enggan mengangkat (mem-blow up) kontroversi larangan rokmini itu menjadi berita yang bisa dijual berlama-lama?

Kontroversi Dicari Isu kontroversial berpotensi menjadi berita menarik. Adanya hal yang menimbulkan kontroversi dalam suatu isu, merupakan salah satu unsur layak berita yang dicari oleh jurnalis dalam suatu peristiwa. Kontroversi tentang suatu isu terjadi karena belum ada kesepakatan bersama tentang apa yang dianggap benar terkait isu tersebut. Sebab itu, setiap kali suatu isu kontroversial dilontarkan pihak tertentu, selalu muncul reaksi berupa pendapat berbeda dari pihak lain. Pendapat berbeda: bisa merupakan pendapat yang sama sekali menentang atau sekadar pandangan alternatif. Tentu saja tidak setiap isu kontroversial serta merta layak diberitakan. Jurnalis yang bekerja untuk suratkabar yang termasuk quality newspaper, telah dilatih serta mempunyai jam terbang untuk mengembangkan sikap kritis dan skeptis terhadap setiap hal yang ditemukan dalam realitas yang berpotensi untuk diberitakan, sudah tentu tidak begitu saja menerkam suatu isu kontroversial dan lantas memberitakannya. Sesuai kriteria baku dalam jurnalisme, selalu dicermati terlebih dulu apakah isu itu menyangkut kepentingan publik atau tidak. Isu yang menyangkut kepentingan publik, terlebih yang menimbulkan kontroversi, jelas berpotensi untuk diberitakan.
Edisi: Maret 2012 5

4

Edisi: Maret 2012

Analisis Info

Analisis Info

Hal berikutnya yang dipertimbangkan adalah siapa pihak yang melontarkan isu kontroversial tersebut, siapa saja pihak yang mendukung atau menolak, serta apa argumen setiap pihak. Ketokohan pihak yang berbeda pendapat jelas akan meningkatkan nilai layak berita. Demikian pula argumen yang berbobot. Semakin banyak dan semakin beragam pihak yang melontarkan beragam pendapat berbeda sebagai reaksi atas isu yang dilontarkan, kontroversi atas isu itu semakin menjadi-jadi. Menghadapi perkembangan seperti itu, jurnalis bagaikan mendapat durian runtuh. Jurnalis tidak perlu bersusah-payah mencari bahan berita. Dan ketika semakin beragam kalangan sebagai bagian dari publik ikut serta menyampaikan pendapat masing-masing, ketika itulah isu tersebut berkembang menjadi wacana publik. Isolasi Kontroversi Cara jurnalis dalam mempertimbangkan apakah suatu isu kontroversial layak diberitakan sebagaimana dikemukakan di atas, kiranya dapat digunakan sebagai acuan untuk mengamati bagaimana sejumlah suratkabar memberitakan rencana larangan rok mini di kawasan DPR. Hasil pengamatan itu bisa menjadi titik tolak untuk mengetahui apakah asumsi sebagaimana dikemukakan di atas, yaitu bahwa suratkabar enggan mengangkat kontroversi larangan rok mini itu menjadi wacana publik, bisa diterima atau harus ditolak. Adapun berita yang diamati dimuat pada empat suratkabar, masing-masing Media Indonesia, Koran Tempo, Harian Kedaulatan Rakyat, dan Harian Jogja Media Indonesia memberitakan rencana larangan rok mini di DPR dua kali. Pertama pada hari Selasa (6/3/12), dengan judul Rok Mini Dilarang Masuk DPR. Kedua pada hari Rabu (7/3/12), dengan judul Gara-Gara Rok Mini, Marzuki Alie Dikritik. Koran Tempo memberitakan dengan judul Marzuki Alie Bantah Sebut Rok Mini Dilarang (Kamis, 8/3/12). Kedaulatan Rakyat memunculkan judul Anggota DPR Dilarang Berpakaian Seksi (Rabu, 7/3/12). Sedang Harian Jogja memuat berita berjudul Senayan Larang Rok Mini (Selasa, 6/3/12). Berdasarkan pengamatan, dalam berita yang dimuat setiap suratkabar tersebut, seluruh narasumber yang diwawancarai oleh jurnalis masing-masing suratkabar sebagai sumber informasi berasal dari lingkungan DPR. Para narasumber dimaksud adalah: Ketua DPR (Marzuki Alie), Wakil Ketua DPR (Pramono Anung), Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, Anggota Badan Kehormatan DPR Fahri Hamzah, Wakil Ketua BURT DPR (Refrizal),

Anggota Komisi III DPR (Bambang Soesatyo), Anggota DPR (Okky Asokawaty dari F-PPP, Nurul Arifin dari F-PG, Ruhut Sitompul dari F-PD, Eva Kusuma dari F-PDIP), staf ahli Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (Aria Gana), Asisten Pribadi Anggota Komisi IX DPR Rizky Sadiq (Devi Lesatari). Selain mereka, masih ada Risa, Kiki, dan Ruri, tiga perempuan yang bekerja sebagai staf ahli untuk Fraksi Partai Gerindra. Hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa setiap jurnalis yang menulis berita pada suratkabar yang disebutkan memang tidak berupaya meminta pihak di luar kalangan DPR untuk menyampaikan pendapat mengenai rencana larangan rok mini di kawasan DPR tersebut. Rencana larangan rok mini di kawasan DPR memang tetap diberitakan, namun dengan menonjolkan bahwa rencana itu hanya menjadi isu kontroversial di kalangan DPR. Dengan kata lain, sekalipun memberitakan isu tersebut, namun jurnalis melakukan isolasi kontroversi, tidak perlu melibatkan pihak luar. Pihak luar hanya perlu tahu bahwa kalangan DPR ribut-ribut soal rok mini. Dengan demikian bisa dikatakan, asumsi bahwa keempat suratkabar yang disebut di atas tidak berniat mengangkat kontroversi rencana larangan rok mini itu menjadi wacana publik, bisa diterima. Baloon Proof Sebenarnya rencana larangan rok mini di DPR itu bisa saja diangkat media massa menjadi wacana publik, misalnya dengan mempertanyakan apakah DPR perlu atau tidak, melarang pemakaian rok mini di kawasan DPR. Di balik pertanyaan semacam itu, terdapat pertanyaan kritis: Apakah tidak ada hal lain yang lebih penting yang seyogyanya menjadi perhatian DPR? Selanjutnya, menyangkut rencana larangan rok mini, kontroversi bisa diperluas dengan mengajukan pertanyaan: Sejauhmana sebetulnya pemahaman kalangan DPR mengenai perspektif gender dikaitkan dengan popularitas rok mini sebagai produk industri mode harus dilihat sebagai hasil rekayasa kekuatan kapital yang menjadikan perempuan sebagai obyek? Bukankah pemakaian rok mini oleh perempuan, sejak dipopulerkan oleh Mary Quant tahun 1960-an, bisa dilihat dari dua hal yang sering diperdebatkan: Di satu sisi dianggap sebagai basis pembebasan bagi kaum perempuan, di sisi lain tetap menempatkan perempuan selain menjadi konsumen terbesar industri mode namun sekaligus obyek karena dengan memakai rok mini dianggap membuka peluang terhadap pelecehan seksual melalui apa yang disebut

sebagai 'unwanted attention from men.' (Mansour Fakih, Perkosaan dan Kekerasan Perspektif Gender, dalam Eko Prasetyo dan Suparman Marzuki, ed., Perempuan dalam Wacana Perkosaan, PKBI Yogyakarta, 1997). Namun, terlepas dari itu semua, keengganan media massa mengangkat kontroversi rencana larangan rok mini di kawasan DPR itu bisa pula ditafsirkan sebagai sikap yang mencerminkan kehati-hatian. Suatu sikap yang mencoba mengambil jarak yang dilandasi suatu kecurigaan siapa tahu isu kontroversial larangan rok mini itu memang sengaja dilontarkan sebagai baloon proof. Dalam percaturan politik, para politisi seringkali melempar suatu isu yang kontroversial dengan menggunakan taktik baloon proof. Taktik baloon proof secara harfiah berarti menerbangkan balon ke udara untuk melihat apakah ada pihak lain yang menembak balon itu. Jika ada, pihak lain yang menembak balon itu bisa dianggap sebagai lawan. Memang ada kerugian karena balon meletus ditembaki, namun dari mana arah datangnya tembakan menunjukkan di mana posisi lawan. Taktik ini bisa saja dimulai di tempat terbatas. Jika berhasil, dilanjutkan ke wilayah yang lebih luas.

Dengan kata lain, suatu isu kontroversial bisa saja sengaja diluncurkan untuk mengetahui apa reaksi pihak lain terhadap isu tersebut, sehingga dapat diketahui pihak mana saja yang menolak atau menyetujui isu dimaksud, termasuk seberapa keras penolakan atau dukungan yang disampaikan. Jika penolakan dianggap cukup keras dan oleh karena itu mungkin akan merugikan bila diteruskan, maka upaya menjadikan isu yang kontroversial itu sebagai wacana tidak akan dilanjutkan. Isu itu akan didiamkan begitu saja, dibiarkan mati angin. Apakah rencana larangan rok mini di kawasan DPR itu bisa digolongkan sebagai baloon proof yang mengawali rekayasa pemaksaan nilai-nilai? Jawaban atas pertanyaan itu jelas sudah berada di luar wilayah pembahasan ini. Namun, terhadap taktik semacam itu, para peserta pelatihan kelas jurnalisme selalu diingatkan agar tidak begitu saja terjebak untuk memberitakan suatu isu kontroversial yang memang sengaja dilontarkan sebagai baloon proof. Jika itu terjadi, jurnalis yang memberitakan hal tersebut akan dicurigai sebagai corong sang pelempar isu. (ron)*

http://flp-aceh.net

6

Edisi: Maret 2012

Edisi: Maret 2012

7

Special Info

Special Info

Soal Isu Kenaikan Harga BBM _________________________upper

BBM Naik Isu rencana pemerintah yang hendak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per tanggal 1 April 2012, telah menjadi topik pemberitaan media pers cetak maupun elektronika, selama bulan Maret. Puncaknya adalah edisi 31 Maret 2012, ketika parlemen akhirnya menyudahi hiruk-pikuk soal itu dengan mengambil keputusan harga BBM tak (jadi) naik 1 April. Apa yang bisa dilihat masyarakat –melalui media pers-- sepanjang perdebatan soal kenaikan itu? Mereka yang berdebat adalah parlemen yang mewakili rakyat di satu pihak, dan pemerintah sebagai eksekutif yang mengelola jalannya pemerintahan di pihak lain. Pihak parlemen bersikukuh agar tidak terjadi kenaikan harga BBM karena akan memberatkan kehidupan rakyat. Sedangkan pemerintah berargumen, tidak selamanya memberi subsidi pada orang yang tidak tepat, apalagi harga minyak dunia akan berkecenderungan terus naik di masa depan. Hal ini akan memberatkan perekonomian negara. Politisi yang duduk di parlemen didukung para pengunjuk rasa di seantero negeri, sebagai representasi rakyat yang tak ingin harga BBM naik. Akibat tarik menarik itu, yang terjadi di lapangan adalah aneka keresahan ditingkahi kekerasan. Artinya, protes akan rencana kenaikan itu telah berubah menjadi bentrok penuh kekerasan. Aparat negara merepresentasikan perilakunya sebagai pihak yang berwewenang, sedangkan rakyat (dalam hal ini pelaku unjuk rasa, kebanyakan adalah mahasiswa) bersikukuh hendak menyuarakan aspirasi rakyat banyak. Perkembangan selanjutnya adalah ekses negatif, yakni munculnya anarkisme di berbagai tempat, di berbagai daerah. Judul berita utama suratkabar Kompas, di halaman I misalnya, secara berturut-turut mencerminkan realitas penuh kekerasan itu. Edisi 28 Maret 2012 dengan judul Bentrok di Beberapa Tempat – Polisi Dituduh Melanggar HAM dalam Menghadapi Unjuk Rasa; edisi 29 Maret: Unjuk Rasa Masih Berlangsung –Polisi Periksa 32 Pengunjuk Rasa; edisi 30 Maret Bentrok Keras Terjadi Lagi; 31 Maret: Bentrok Terjadi Hingga Malam Hari. Sebelumnya, pada edisi 27 Maret, Kompas sudah memberitakan preview tentang akan terjadinya unjuk rasa besar-besaran itu, termuat pada berita utama berjudul: Hari Ini Ada Unjuk Rasa Besar- Bandara Polonia Kacau akibat Dikepung Massa.

Masih Dunia Sensasi Adalah kenyataan bahwa roh media pers adalah fakta. Realitas sosial yang hadir dalam setiap fakta, direkonstruksi kembali dan disajikan dalam aneka format dan kemasan informasi. Dan itu pula yang terjadi pada hiruk-pikuk seputar rencana kenaikan harga BBM. Namun, ada yang menggelitik pula dalam sajian beragam berita itu. Salah satu adalah, mengapa pers terjebak pada arus sensasionalitas belaka, misalnya bentrok di DPR, ricuh di berbagai daerah dan sebagainya. Meski semuanya memang adalah fakta, itu merupakan keniscayaan. Namun, di manakan sejatinya keberadaan rasionalitas dan kecerdasan warga hendak digiring, menyikapi rencana kenaikan harga BBM itu? Hanya sedikit media yang memberi informasi bahwa memang sudah selayaknyalah negeri sebesar Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa ini, menaikkan harga BBM karena beban subsidi yang terus membengkak dan cadangan minyak bumi yang makin menyusut. Adalah kenyataan bahwa ruang publik mempersyaratkan semua aktor yang berada di dalamnya boleh berkompetisi secara bebas, namun fair. Tidak saling mendominasi maupun memonopoli nilai. Kebijakan publik nantinya mesti hadir melalui proses public debate yang didasari nilai-nilai yang menghargai rasionalitas, kecerdasan, netralitas dan kebebasan. Sedangkan pada kenyataannya adalah bahwa rencana kenaikan harga BBM itu batal, lebih didominasi hasil kompromi politik yang muncul dari para politisi di parlemen. Itu artinya, masih banyak hal yang sejatinya tersembunyi, atau sengaja disembunyikan namun tidak tergali oleh pers. Pemahaman masyarakat tentang bagaimana kondisi perminyakan di negeri ini, masih sangat sedikit diwartakan oleh media pers, terkait dengan rencana kenaikan harga BBM itu tadi. Yang banyak diterima khalayak adalah hirukpikuk reaksi para politisi maupun pihak pemerintah. Rasionalisasi mengapa harga BBM mesti naik, atau harus dinaikkan, tidak muncul. Melalui politisi parlemen, terbersit penilaian semacam ada rasa ingin membela rakyat kecil, rakyat banyak semata dengan satu tujuan: yakni jangan sampai pemerintah menaikkan harga BBM. Dengan demikian, sebenarnya jika newspeg kenaikan BBM itu ditambah dengan soal pemahaman masyarakat tentang seluk beluk pengelolaan minyak bumi, harga pasaran dunia dan cadangan yang dimiliki, maka

Pers Lebih Tonjolkan Sensasi daripada Investigasi

http://www.merdeka.com

Hampir tidak pernah ada hari tanpa pertanyaan bagi keberadaan media pers di negeri ini, sekarang. Bagi sebagian besar orang, tentu saja akan tidak menghiraukan hal itu, alih-alih melihat bagaimana sebenarnya posisi ideal pers. Sebab sebagian besar khalayak adalah penikmat informasi yang dipaksa menikmati sajian informasi sesuai kehendak media pers sebagai produsen informasi. Jadi, bukan informasi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh khalayak yang semestinya diberikan. Jika di televisi, tayangan siaran yang terasa tidak “berpijak di bumi”, bahkan lebih menawarkan mimpi, justru yang disukai dan terus diproduksi. Dalam hal ini, titik tolak pandangan adalah dari dalam diri pers itu sendiri, dan bukan apa serta bagaimana sebenarnya yang dimaui oleh mereka yang berada “di luar“ atau khalayak luas. Namun, yang mesti disadari, adalah keniscayaan bahwa tantangan pers tentu makin tidak mudah. Perubahan sikap khalayak terhadap media pers, termasuk perubahan perilaku dan kondisi sosial, akan menentukan bagaimana pers harus bersikap memastikan langkah. Jelaslah bahwa pers masih tetap diharapkan kehadirannya, diapresiasi keberadaannya dan masih tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat. Jika akhir-akhir ini sering muncul sinisme terhadap kinerja beberapa lembaga negara, toh pers tetap menjadi tumpuan harapan. Pertanyaannya, apakah pers telah menjalankan fungsinya

dengan memberi informasi sesuai harapan khalayak? Atau sebaliknya, apakah pers selama ini senantiasa bergelimang dalam kubangan keasyikan mereka dengan memproduksi informasi yang masuk dalam kategori “layak jual“ belaka, tapi tanpa makna? Tayangan kekerasan di televisi yang ditemui hampir setiap hari, merupakan salah satu contoh sajian yang masuk dalam kategori dibuat dari kemauan dalam diri pers itu. Mengapa? Pertanyaan pun berkelebat. Apa yang diperoleh pemirsa dari berita dua kelompok mahasiswa di dalam satu kampus yang terlibat bentrok? Atau pelajar tawuran di jalanan mengganggu lalu lintas? Dua kelompok pemuda di satu kelurahan juga tawuran? Ada pula berita tentang penertiban pedagang berakhir ricuh, aparat negara bentrok dengan pedagang? Jika diperhatikan, lead atau teras berita semacam itu, nyaris sama. Apakah fakta yang diberitakan ada di ibukota negara, di berbagai kota atau berada di pulau Jawa, maupun di desa luar pulau Jawa, isinya sama. Ending juga sama. Tidak ada sesuatu yang hendak disampaikan, kecuali sekadar memberi informasi. Jika demikian, informasi semacam itu bermakna apa? Tidak ada pemerkayaan dan pada akhirnya pemirsa tidak mendapatkan apa-apa. Hanya gambar selintas –bahkan sering diulang-ulang—yang ditampilkan dan nyaris tidak bernilai apa-apa, kecuali sekadar “narasi“ dalam bentuk visual.

8

Edisi: Maret 2012

Edisi: Maret 2012

9

Special Info

Info Kolaborasi

khalayak bisa mendapat informasi komprehensif, tidak hanya satu pihak, satu angle dan satu kepentingan. Laporan Kompas edisi 27 Maret, dengan judul Ancaman Krisis Minyak misalnya, dengan gamblang menyajikan bahwa ketahanan energi di Tanah Air telah berada di titik kritis. Produksi minyak nasional terus menurun seiring bertambahnya usia sumur-sumur minyak yang ada. Di lain pihak, kebutuhan bahan bakar minyak di kalangan masyarakat kian tinggi sebagai dampak pesatnya pertumbuhan ekonomi. Indonesia kini telah menjadi negara importir minyak. Produksi minyak mentah 900.000 barrel minyak per hari, padahal kebutuhan nasional 1,3 juta barrel minyak per hari. Itulah yang menyebabkan ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak sangat besar. Itu pula yang tidak atau belum banyak dimengerti khalayak. Soal cadangan minyak juga demikian. Jika Indonesia hanya memiliki cadangan 4 miliar barrel minyak dan memproduksikan minyak rata-rata 1 juta barrel perhari, berarti rasio cadangan terhadap produksi hanya 4. Bandingkan dengan Arab Saudi yang mempunyai cadangan minyak 265 miliar barrel, namun hanya memproduksi rata-rata 8 juta barrel per hari atau tingkat rasio cadangan terhadap produksi minyak Arab Saudi mencapai 35. Sungguh merupakan disparitas yang sangat jauh, jika membandingkan kondisi Indonesia dan Arab Saudi, dilihat dari berbagai aspek. Kondisi macam ini merupakan suatu hal yang tentu saja masih sangat asing bagi masyarakat awam. Ketika televisi menayangkan berita yang hanya sesaat (berita sekilas dan sekelebat gambar itu) karena memang dibatasi waktu, khalayak masih bisa mencari di suratkabar atau majalah untuk mendapat kelengkapannya. Media, sebagai produk jurnalisme, masih menjadi salah satu acuan masyarakat untuk membantu mereka memaknai realitas. Jika sekadar sensasi, realitas seperti apa yang bakal terjanji?

Memang, aktualitas kini menjadi kata yang tak lagi layak diperdebatkan. Betapa tidak. Dengan teknologi internet, aktualitas bisa muncul dalam keserentakan di seluruh belahan dunia melalui media alternatif. Keistimewaan suratkabar yang masih bisa dikedepankan, tentu adalah tidak memberitakan hal serupa keesokan hari seperti hari ini telah diwartakan televisi. Media cetak membutuhkan jeda bagi pembacanya untuk mengetahui suatu peristiwa. Selain itu, media cetak juga memberikan waktu dan ruang kepada pembacanya untuk berpikir dan merenung. Di sanalah sebenarnya kekuatan media pers cetak. Dengan kekuatan itu, media cetak mestinya mampu bersaing dengan televisi maupun internet. Untuk itu media cetak mestinya tidak sampai terbawa arus kecepatan yang mengakibatkan hasil laporannya tidak akurat, hanya mengupas kulit luar peristiwa, atau menyajikan sensasi sesaat, yang menghasilkan informasi tanpa makna. Salah satu kekuatan media cetak yang kini jarang muncul, untuk tidak menyebut sama sekali tidak ada, adalah melakukan investigasi. Suratkabar atau majalah, memiliki waktu yang memenuhi syarat untuk melakukan investigasi. Perenungan melalui riset mendalam, menggali dan memilih data dan fakta di lapangan adalah salah satu keniscayaan yang hanya dimiliki media pers cetak. Dari sajian televisi dengan keserentakan informasi, telah membentuk mindset publik atas apa yang disebut informasi akurat. Khalayak hanya mendapat informasi yang sifatnya sesaat. Melalui investigasi, bisa lebih lengkap, mendalam, dan tentu saja bermakna. Tujuan kegiatan jurnalisme investigatif adalah memberitahu kepada masyarakat adanya pihak-pihak yang telah berbohong dan menutupnutupi kebenaran. (Santana 2003) . Kekuatan media pers cetak adalah dalam memberikan alternatif, termasuk di dalamnya memberikan jarak, memberikan waktu untuk berpikir jernih, sehingga membangun daya kritis pembacanya.(agoes widhartono)

Menggagas Penghapusan Perda Transparansi Kabupaten Bantul

Transparansi merupakan salah satu isu yang diusung dalam mewujudkan kehidupan yang demokratis. Namun, Peraturan Daerah tentang Transparansi di Kabupaten Bantul (selengkapnya: Perda Nomor 07/2005 tentang Transparansi dan Partisipasi Publik dalam Penyelenggaraan Pemerintah di Kabupaten Bantul) justru dinilai oleh sekelompok elemen warga sebagai produk hukum yang harus dihapus. Penghapusan tersebut terutama pada substansi transparansi. Adapun substansi partisipasi dipertimbangkan untuk diperkuat agar pelibatan publik makin lebih baik. Mengapa Perda Transparansi harus dihapus? Tidakkah ini justru bertentangan dengan isu transparasi yang justru terus dikedepankan oleh berbagai kalangan? Penilaian perlunya penghapusan Perda Transparansi Kabupaten Bantul tersebut mengemuka pada forum Diskusi Kelompok Terarah Prospek Pemajuan Hak Atas Informasi di Kabupaten Bantul: Antara Perda Kabupaten Bantul No 7/2005 dan UU No 14 Tahun 2008. Diskusi ini berlangsung secara serial sejak September 2011, Januari (27 Januari) 2012 dan Maret (16, 20 dan 26 Maret ) 2012 di Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul dan di Goebog Resto, Banguntapan, Bantul. Adapun penyelenggara diskusi yaitu IDEA Jogja dalam program kolaborasi dengan ASPPUK dan LP3Y.

Di sisi lain, forum diskusi menyepakati perlunya merekomendasikan Peraturan Bupati (perbup) tentang tata kelola informasi publik yang menjadikan aksesibilitas dan transparansi sebagai prinsip dasar. Bahkan, peserta pada diskusi 26 Maret 2012 menyepakati untuk menindaklanjuti gagasan ini dengan mengadakan workshop menyusun legal drafting tentang Perbup Tata Kelola Informasi. Bagi forum tersebut, tata kelola informasi publik dibutuhkan agar aturan-aturan dalam UU KIP bisa lebih operasional di Bantul. Hal ini terutama mengenai ketentuan spesifik untuk memperkuat/memperjelas UU KIP. Misalnya tentang penjabaran aksebilitas yang dalam UU KIP disebutkan “mudah-cepat-murah”, dalam aturan Perda atau Perbup Tata Kelola Informasi dirinci tentang cara-cara atau mekanisme yang bisa mewujudkan aksebilitas yang “mudah-cepat-murah” tersebut. Termasuk juga mengenai pilihan media, pilihan bahasa, ketentuan tentang biaya, dan semacamnya. Kembali ke alasan gagasan menghapus substansi transparansi pada Perda Transparansi Bantul. Sebagai produk hukum yang muncul jauh lebih dulu daripada UU KIP – Perda Transparansi Bantul tahun 2005, UU KIP tahun 2008 – Perda Transparansi Bantul memang tak selengkap KIP. Ketaklengkapan itu tak hanya pada asas, namun juga pada sejumlah pasal lain.

8 10

Edisi: Maret 2012

Edisi: Maret 2012

11

Info Kolaborasi

Sumber Info

Merevisi Perda tersebut agar sesuai dengan UU KIP tentulah hanya tindakan pemborosan anggaran. Sebab, untuk merevisi bukan pekerjaan sehari jadi. Ia juga merupakan pekerjaan yang melibatkan dua institusi, eksekutif dan legislatif, yang melibatkan banyak orang dan yang pasti …menuntut anggaran. Padahal, pekerjaan tersebut hanya sebuah kesia-siaan. Untuk apa membuat Perda yang serupa isinya dengan undang-undang jika undang-undang itu ada, apalagi secara hirarkis kedudukan undang-undang jauh lebih tinggi di atas perda. Kini, untuk transparansi terkait informasi publik sudah ada UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Maka, tak diperlukan lagi sebuah perda yang isinya “lebih miskin” dari undang-undang. Peserta forum diskusi pun menilai bahwa UU KIP sudah sangat jelas dan implementatif. Contoh “lebih miskin” atau sangat terbatasnya, isi Perda No 7/2005 Bantul daripada UU KIP antara lain tentang ketentuan umum atau definisi badan publik. Perda No 7/2005 Bantul membatasi badan publik hanya empat, yaitu DPRD, Pemerintah Daerah, Badan Perwakilan Desa dan Pemerintah Desa. Adapun UU KIP menyebutkan bahwa Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi non pemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya berusmber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapat dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri (Pasal 1 butir 3). Bahkan, dalam hal sanksi terdapat perbedaan sangat signifikan. Di Perda, pejabat yang tidak menjalankan ketentuan terkait transparansi hanya dikenai sanksi administratif (Pasal 13) sedangkan di UU KIP diancam hukuman pidana kurungan dan/atau denda (Pasal 53). Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah, peserta forum diskusi bersepakat untuk Perda Bantul No 7/2005 tidak dilakukan revisi untuk penyesuaian atau memperlengkapi. Yang akan direkomendasikan adalah menghapus, terutama substansi transparansi (terkait informasi publik). Adapun substansi partisipasi bisa dibuat perda tersendiri dengan acuan dasar hukum tersendiri pula. Sebab, antara transparansi dan partisipasi merupakan dua hal berbeda. (ded).

Mendamba Jurnalisme Online yang Bermutu di Indonesia
Seiring maraknya penggunaan teknologi komunikasi di Indonesia, keberadaan berbagai portal/situs berita kini menjadi sumber utama masyarakat Indonesia dalam dalam mengakses informasi selain televisi. Inilah yang diklaim sebagai era jurnalisme online. Sayangnya, dalam menjawab kebutuahan aktualitas informasi ini, para pekerja media online lebih banyak memenuhi tuntutan pola kerja yang cepat dan selalu mengejar aktualitas daripada mematuhi prinsip-prinsip jurnalistik. Nilai berita yang mendasar seperti significance, prominance, dan magnitude, serta kaidah-kaidah jurnalisme seperti akurasi, keseimbangan, proporsionalitas, dan netralitas cenderung dinomorduakan. Berita online kerap hadir terpotong-potong, disusun tanpa proses matang dalam mekanisme rapat redaksi. Karena jurnalisme kuning menonjolkan kecepatan daripada berita (fakta) itu sendiri, maka beritanya menjadi tidak penting atau kadang menyesatkan atau setidaknya membentuk opini tertentu yang pada akhirnya menjadikan masyakat semakin kehilangan makna informasi meski jumlahnya melimpah. Dari kacamata akademis, kehadiran jurnalisme online ternyata menimbulkan kontroversi. Ada yang dapat menerima secara penuh dan memberikan penguatan, ada yang menerima dengan catatan, ada pula yang mengkritik dan bersikap skeptis. Pihak yang kontra bahkan mempersoalkan keabsahan penggunaan istilah “jurnalisme” karena secara metodologis rasanya tidak tepat jika kegiatan yang hanya sekadar menulis berita demi mengejar kecepatan disebut sebagai jurnalisme. Sebagai contoh perhatikan berita di detik.com pada Sabtu, 12/03/2011 14:52 WIB yang ditulis Gagah Wijoseno (inisial gah/lh) berikut ini. “Jakarta – Bintang porno asal Jepang yang populer di Indonesia, Miyabi alias Maria Ozawa, sudah diketahui keaadannya. Lewat akun twitternya, dia menyampaikan pesan bahwa keadaannya baik-baik saja.” Jika dianalisis dengan kacamata jurnalistik, tentu tidak ditemukan unsur pokok kelengkapan berita (5w+1H) dari berita yang sangat pendek namun tidak jelas tersebut, selain tentunya hanya menampilkan “nilai berita” kepopuleran (prominence) Miyabi. Ironisnya “berita” yang belum layak disebut sebagai berita tersebut justru mengundang banyak komentar pembaca yang otomatis memenuhi tujuan sang penulis berita untuk menaikkan traffic berita. Iwan Awaluddin Yusuf*) *) Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA), Yogyakarta. Sumber : //bincangmedia.wordpress.com

12

Edisi: Maret 2012

Edisi: Maret 2012

13

Info Buku

Info Buku

Panduan Terampil Jadi Broadcaster
Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Tebal : : : : : Barkarier di Dunia Broadcast Televisi dan Radio Indah Rahmawati & Dodoy Rusnandi Laskar Aksara Indepolis + Friedrich Ebert Stiftung 2012 iv + 186

buku ini. Termasuk di dalamnya adalah menjelaskan tentang rincian tugas masing-masing sekaligus tanggung jawab mereka. Pada bagian paparan tentang radio Bab III (hal 109) juga lebih banyak ditulis tentang tugas dan fungsi personal yang menggawangi setiap pekerjaan di dalam penyiaran. Meski disinggung sedikit tentang bisnis radio, namun tidak disampaikan bagaimana cara mengelola radio dari setiap kategori: ada radio publik, radio komunitas maupun radio komersial (hal 138-144). Dengan demikian, agaknya memang demikianlah yang dikehendaki penulis, yang

bertumpu dari pengalaman mereka sebagai broadcaster radio, maka panduan ini setidaknya telah membantu siapa pun yang ingin berkecimpung, di dunia penyiaran. Di tengah arus persaingan buku sejenis yang telah ada selama ini, buku ini memberi sapaan sedikit berbeda, justru dengan kesederhanaannya itu. Artinya, memang tidak ada teori muluk-muluk, sebab yang ingin dicapai, barangkali, adalah bagaimana memberi pemahaman tentang keterampilan di dunia penyiaran. (awd)

..................... Sambungan dari hal 1

Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, kehadiran buku yang masuk kategori “how to” atau sebagai panduan untuk mengerjakan sesuatu, tentu tidak lagi asing. Termasuk buku ini. Bagi para pegiat komunikasi, khususnya bagi para broadcaster atau setidaknya mereka yang berminat di dunia penyiaran, buku ini layak dijadikan sebagai acuan. Sebab, memang ditujukan bagi mereka yang berminat dan berniat jadi seorang broadcaster. Setidaknya, sudah punya bekal setelah membaca buku ini. Dalam kata pengantar, buku ini mencatat bahwa perkembangan industri media yang didukung kemajuan teknologi, menempatkan media massa elektronika pada posisi yang sangat strategis untuk berbagai tujuan. Selain menjadi sumber informasi, industri penyiaran juga menawarkan beragam sajian hibura, Bahkan, industri penyiaran kini telah dijadikan kiblat trend dan menjadi bagian dari gaya hidup, atau lifestyle. Maka, terbetiklah tiga bab utama buku ini, yaitu bab I mengenai pengenalan broadcast, yang dibagi dalam dua bagian yakni televisi dan radio. Bab II membahas khusus broadcast televisi dengan rincian dua bagian A dan B dan. Bab III Broadcast Radio dirinci menjadi empat bagian, meliputi manajemen, bisnis, teknik siaran dan berkesan saat siaran. Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, topik demi topik meluncur dengan jelas. Meski tidak njelimet bagai buku ilmiah, namun sebagai panduan, tulisan dalam buku ini sudah merupakan “pintu” bagi orang awam sekali pun, setidaknya untuk mengetahui apa dan bagaimana sejatinya dunia penyiaran.

Dibuka dengan pengenalan broadcast, mulai dari halaman 1 sampai dengan halaman 9, sekilas pembaca digiring untuk memahami penyiaran radio dari tingkat paling awam, sederhana. Kemudian melangkah lebih jauh, tentang apa yang disebut sebagai komunika melalui topik bahasan segmentasi radio. Memang, seolah hal ini meloncat, karena disinggung banyak hal, menyangkut konsep-konsep tentang segmentasi radio. Misalnya tentang faktor geografis, geologis, demografis, psikografis. Pun mengenai karakter pendengar seperti apa yang hendak dibidik, disajikan di halaman 12 dan 13. Sesuai karakter, tentu menyangkut bagaimana isi siaran. Selangkah kemudian adalah pengenalan di dunia penyiaran televisi. Meski sejak awal sudah dimulai dengan kalimat pernyataan “berkarier di dunia televisi akhir-akhir ini tampaknya sedang naik daun” (hal 17), bab II ini memang seolah mengajak pembaca untuk memantapkan diri dengan membuka mata dan hati, jika memang sudah mantap berkarier di televisi. Secara garis besar, memang sajian teknikalitis penyiaran sangat dominan dalam buku ini. Artinya, memang kesengajaan penulis untuk membekali pembaca dengan pengetahuan mengenai teknik-teknik di balik penyiaran. Sama sekali tidak dicantumkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan etik. Dengan demikian, memang hanya dari segi keterampilanlah tulisan buku ini bertitik tolak. Berbagai bagian misalnya floor director, unit production, unit administration, unit legal , director –untuk menyebut contoh orang-orang di balik layar penyiaran televisi—adalah bagian yang dijelaskan dengan baik dalam

Seperti halnya yang diberitakan suratkabar Harian Analisa edisi 31/3 dalam www.analisadaily.com yang diberi judul "Tiga Kelompok Massa Gelar Aksi Demonstrasi Damai". Dalam berita tersebut digambarkan para demonstran yang menggelar aksinya dalam suasana damai, padahal atau unjukrasa tersebut pun sama-sama menentang rencana kenaikan harga BBM. Dengan demikian, persoalan mengenai demonstrasi menyusul rencana kenaikan harga BBM di atas, menjadi salah satu bagian analisis Newsletter edisi Maret ini kali.

Dalam rubrik Spesial Info, artikel tentang hal itu berjudul Pers lebih Tonjolkan Sensasi daripada Investigasi. Selain itu masih ada artikel lain dalam rubrik Analisis Info yang berjudul Kontroversi Rok Mini di DPR". Tentunya Masih banyak lagi artikel dan tulisan lain yang dapat disimak Anda sekalian, pembaca Newsletter yang terhormat. Selamat membaca.*

..................... Sambungan dari hal 16

Usia Dini) yang dikelola para perempuan di desanya. Belum lagi dengan adanya kelompok-kelompok tani atau koperasi perempuan. Semua itu disadari Nur berkat adanya campur tangan dari pihak luar untuk kemajuan perempuan desa. Selain itu perempuan-perempuan di desanya juga mulai dapat diajak berdiskusi tentang politik dan kepemimpinan. Sehingga jika dulu perempuan hanya manut-manut, saat ini tidak berlaku lagi karena peran perempuan dalam keluarga juga mulai disosialiasikan dalam keluarga di desa. Pengalaman yang paling dekat yakni ketika pengambil keputusan tentang usaha ekonomi yang dijalakankan oleh orang tuanya dipegang oleh ibunya.

Mutholi'ah seorang pengusaha kacang sangan yang seringkali mengambil keputusan dalam penentuan market atau pasar untuk penjualan dagangannya. Ayahnya, hanya menuruti apa yang dikatakan istri dan ia sebagai pelaksana lapangan. Namun di sisi lain peran ayah dalam pengambilan keputusan hal lainnya juga dimiliki ayahnya. "Bagi saya fleksibel saja, tergantung situasinya. Ibu sebagai pengambil keputusan karena usaha itu sudah ditekuni ibu selama bertahun-tahun sehingga ayah lebih percaya kepada ibu dalam urusan ekonomi tersebut. Begitulah sosok perempuan muda yang mengidolakan Presiden Pertama RI, karena menurut Nur Arofah, Soekarno mampu membangkitkan semangat nasionalisme. *

14

Edisi: Maret 2012

Edisi: Maret 2012

15

profil

Beramal dengan Tularkan Ilmu
emula. Cita-cita perempuan yang masih aktif menulis di Koran Warga Krida ini, adalah menjadi seorang guru. Namun entah mengapa, akhirnya ia justru menjadi pustakawan. Meski demikian, ia saat sangat menikmati profesinya itu. "Dibilang terjerumus, ya, tidak juga. Karena saat ini saya menikmati pekerjaan saya menjadi Pustakawan di SMPN 5", kata Nur Arofah, perempuan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta itu. Kini, selain menjadi pustakawan, ia juga ingin sekali menjadi guru taman kanak-kanak. Oleh karenanya, hasrat itu ia wujudkan dengan mengajar di Taman Pendidikan Anak (TPA) atau Madrasah Diniyah Takmilyah yang berada di desanya, seminggu dua kali pertemuan. Keinginan mengajar memang punya alasan. Sebab, perempuan kelahiran 1 Oktober 1987 ini memang pernah tinggal di Pondok Pesantren Al Fitroh, Wonokromo, Pleret, Bantul sewaktu masih bersekolah di SMA 2 Banguntapan Bantul. Sehingga, ilmu yang ia miliki selama mondok dan kuliah di UIN, itulah yang ingin ia tularkan kepada orang lain agar bermanfaat. Begitu pula dengan aktivitasnya menulis di Krida. Awalnya pengalaman menulis Nur, panggilan akrabnya, menulis hanya dengan asal-asalan karena belum ada dorongan dan pengetahuan yang dimiliki. Pelatihan menulis di LP3Y, sebelum Krida terbit, membuat anak ketiga pasangan Zuhdy Syakuri dan Mutholi'ah ini mulai mempraktekkan apa yang didapat selama dua kali ikut pelatihan. Minimnya mengikuti peltihan menulis di LP3Y memacu ia untuk belajar secara secara mandiri agar tidak ketinggalan dari teman-temannya yang lain. Menurut Nur, pengalaman menulisnya kali pertama adalah ketika ia duduk di bangku SMA. Waktu itu ia menulis cerita fiksi berjudul 'kembar yang tak sama'. Hal itulah yang selalu ia ingat. Dengan bergabung menjadi anggota redaksi Krida, ia pun mangakui bahwa wawasan

S

menulisnya bertambah dan saat ini dia merasakan semakin mudah menulis. Keberadaan Krida sebagai koran warga desa, menurut perempuan yang mengidolakan Bung Karno, ini sangat dibutuhkan. Meski ia tidak rutin membaca Krida versi cetak, karena lebih sering yang edisi online, Krida tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat desa. Krida yang terbit di lima desa (Jambidan, Gilangharjo, Wonolelo, Mulyodadi dan Srihardono) dapat bermafaat karena informasinya dapat memberikan inspirasi dan pengetahuan warga desa lain tentang perkembangan informasi desa yang ditulis. Seperti misalnya ketika warga Wonolelo membuat Video komunitas (Vidkom) tentang pembuatan telur asin dan kegiatan tersebut ditulis di Krida, fakta-fakta itu tentu dibaca di desa lain. "Bagi saya, hal itu dapat memberi inspirasi bagi warga lain di desa, untuk juga membuat vidkom di desanya," kata Nur Arofah. Namun sayang, diakui Nur, Krida memang belum merata diberikan kepada warga desa. Hanya perempuan desa yang tergabung dalam kegiatan tertentu, seperti Lembaga Keuangan Perempuan atau Koperasi wanita saja yang mendapatkannya. Tetapi menurut Nur itu pun sudah baik karena semua itu untuk kemajuan para perempuan di desanya. Ketika ditanya tentang keberadaan perempuan di desanya, menurut perempuan yang aktif di Karang Taruna Gemilang, ini kegiatan perempuan saat ini sudah jauh lebih bak. Dahulu para perempuan di desanya hanya pergi dari rumah jika ada kegiatan pengajian. Namun saat ini kegiatan dan organisasi perempuan sudah mulai banyak terbentuk. Seperti misalnya pembangunan PAUD (Pendidikan Anak
..................... bersambung ke hal 15

16

Edisi: Maret 2012

Foto: Keterangan belum ada

Nur Arofah