You are on page 1of 3

Resume THI-2 Nada Ibnu Kautsar Pratama 107083002671 Bahan Bacaan: Moravcsik, Andrew.

Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics, Massachusetts: IO Foundation and the Massachusetts Institute of Technology, 1997.

Varian dari Teori Liberal Variasi dari Teori Liberal dibagi menjadi tiga, yaitu Ideational Liberalism, Commercial Liberalism dan Republican Liberalism. Ideational Liberalism cenderung lebih terfokus pada kesesuaian dari hal-hal lebih disukai di masyarakat terhadap aspek-aspek seperti persatuan nasional, institusi-institusi politik yang terlegitimasi dan regulasi-regulasi dalam kegiatan sosio-ekonomi. Sedangkan, Commercial Liberalism terfokus pada insentif-insentif yang tercipta sebagai akibat dari adanya kesempatan untuk transaksi ekonomi antar negara. Dan Republican Liberalism terfokus kepada sifat dari perwakilan domestik dan kemungkinankemungkinan yang dihasilkan dari perilaku mencari sewa. 1. Ideational Liberalism ini juga yang seperti digambarkan oleh John Stuart Mill, Giuseppe Mazzini, dan Woodrow Wilson (Katzenstein 1996), memandang bahwa konfigurasi antara nilai-nilai dan identitas dalam negeri adalah sebagai penentu dasar preferensi suatu negara, baik dalam hal kerjasama maupun ketika terjadi konflik antar negara. Identitas sosial didefinisikan sebagai himpunan keinginan bersama oleh individu-individu mengenai ruang lingkup dan penyediaan public goods (potensi publik) yang tepat yang pada gilirannya dapat menentukan sifat urutan domestik yang sah dengan menetapkan yang aktor sosial milik negara. Dan Liberal juga dipandang tidak membedakan asal usul identitas sosial, yang mungkin hasil dari pertumbuhan sejarah atau dibangun baik melalui tindakan kolektif ataupun dalam kondisi sadar. Tiga unsur penting dari tatanan publik dalam negeri yang sering dibentuk oleh identitas sosial adalah batas geografis, proses pengambilan keputusan politik, dan regulasi sosial ekonomi, dan untuk mencapai tingkat efektivitas dari kesemuanya biasanya perlu untuk disahkan secara universal di tingkat yurisdiksi (Fearon 1995). Bagi kaum Liberal, pertahanan, integritas teritorial, dan keamanan nasional bukanlah sebuah tujuan akhir, tetapi menjadi sebuah sarana untuk

mewujudkan tujuan akhir dari kepentingan nasional yang didasari dari tuntutan oleh kelompok masyarakat. Contoh, para tokoh masyarakat dapat memberi dukungan kepada pemerintah sehingga dapat memotivasi kebijakan luar negeri dalam aspek perbatasan yang sah, lembaga-lembaga politik dan regulasi sosial ekonomi. Dalam pandangan liberal, tujuan negara mengenai praktek sosial ekonomi yang sah adalah membentuk perilaku antarnegara yang pada saat realisasinya membebankan eksternalitas lintas batas yang signifikan. Sebagai contoh, dapat dilihat Masyarakat Eropa (European Community) yang menunjukkan untuk diperlukannya suatu pemusatan aspek-aspek sosial, imigrasi dan kebijakan luar negeri yang membutuhkan suatu badan dan birokrasi supranasional yang dapat mengatur kerjasama internasional, dan liberalisasi ekonomi para anggotanya. Badan peradilan, eksekutif dan parlemen juga harus saling mengakui legitimate differences dari kebijakan luar negeri masing-masing negara anggota badan supranasional tersebut. Kekhawatiran tentang keseimbangan antara koordinasi kebijakan dan regulasi domestik yang sah sehingga menimbulkan bentuk dari kerjasama yang lebih kompleks. Oleh karena itu masalah peraturan memainkan peran yang semakin penting dalam negosiasi ekonomi internasional seperti inisiatif Komisi Eropa tahun 1992, Uruguay Round dari GATT, NAFTA, dan U.S.–Japan Structural Impediments Initiative.

2. Dalam Commercial Liberalism: Aset Ekonomi dan Transaksi Lintas-Batas, lebih menekankan bahwa perubahan yang terjadi dalam struktur domestik dan ekonomi global dapat mempengaruhi cost and benefit dari aktivitas ekonomi lintas negara, sehingga dapat menekan suatu pemerintahan domestik untuk mem-fasilitasi ataupun memblokir kegiatan ekonomi tersebut (Keohane dan Milner 1996). Selain itu, commercial liberal theory tidak memprediksi bahwa insentif ekonomi dapat secara otomatis menghasilkan perdamaian dan perdagangan bebas secara universal, namun lebih berfokus pada hubungan timbal balik antara insentif yang terkumpul dan konsekuensi-konsekuensi distribusional. Sehingga, dalam liberalisasi perdagangan kontemporer menghasilkan pergeseran distribusi domestik yang menyebabkan keuntungan keseluruhan yang berlipat ganda (Rodrik 1992). Commercial Liberalism juga memiliki implikasi penting untuk urusan keamanan. Perdagangan umumnya merupakan cara lebih mudah untuk mengumpulkan keuntungan dibanding perang, sanksi, atau cara-cara yang bersifat koersif lainnya, paling tidak untuk meminimalisir resiko kerusakan yang dapat terjadi. Namun, pemerintah juga terkadang memiliki insentif untuk menggunakan cara koersif untuk menciptakan dan mengendalikan pasar internasional. Commercial Liberal berpendapat bahwa semakin

kompleks ikatan yang terjalin dalam perdagangan transnasional dan struktur produksi, maka dapat memungkinkan tindakan-tindakan koersif (pemaksaan) dilakukan untuk mengurangi biaya produksi agar seefektif mungkin.

3. Berbeda dari Ideational Liberalism dan Commercial Liberalism yang lebih menekankan pola yang mendasar adalah identitas sosial dan kepentingan ekonomi, Republican Liberalism lebih menitikberatkan kepada praktek dan cara-cara institusi domestik menghimpun tuntutan dari dua varian sebelumnya, dan mentransformasikannya menjadi kebijakan negara. Variabel kunci dalam Republican Liberalism ini adalah mode perwakilan dari politik domestik, yang dapat menentukan preferensi sosial mana yang memiliki keistimewaan secara institusional. Ketika representasi politik menjadi condong terhadap kelompok tertentu, mereka cenderung untuk mengkooptasi instansi pemerintah dan memanfaatkan instansi tersebut untuk kepentingan mereka sendiri, yang kemudian secara sistematis meneruskan biaya dan risiko kepada orang lain. Oleh karena itu, kebijakan yang tepat dari pemerintah bergantung pada kelompok-kelompok domestik yang diwakili. Sederhananya, apakah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah lebih condong kepada koalisi pemerintahan atau kelompok-kelompok domestik yang kuat. Terlepas dari kompleksitas yang potensial tersebut, Republican Liberalism tetap dapat menghasilkan prediksi di mana kebijakan konfliktual membebankan biaya sangat tinggi dan beresiko pada sebagian besar individu dalam masyarakat domestik. Sehubungan dengan kebijakan ekstrim tetapi secara historis dianggap lumrah seperti perang, kelaparan, dan autarki radikal, representasi yang adil cenderung mencegah konflik internasional. Dengan cara ini, Republican Liberalism telah membantu untuk menjelaskan fenomena yang beragam seperti perdamaian demokratis, anti imperialisme-modern, dan kerjasama perdagangan dan moneter internasional.