You are on page 1of 10

Abstrak Tumor Hidung dan Sinus Paranasal (Sinonasal) merupakan tumor yang berada di rongga yang dibatasi oleh

tulang-tulang wajah yang merupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit diketahui secara dini. Hidung tersumbat, epistaksis dan rinore merupakan gejala utama yang sering dikeluhkan pasien. Gejala dan tanda klinis serta beragamnya gambaran histologis keganasan ini, memerlukan pemeriksaan histopatologik melalui biopsi untuk menentukan jenisnya. Pemeriksaan ragiologik tomografi komputer (CT-scan) atau MRI mempunyai peranan penting untuk menentukan asal dan perluasan tumor serta pengobatan yang akan dilakukan. Pada pasien ini didapatkan keluhan utama terdapat benjolan pada pipi kiri Keluhan tambahan mimisan, hidung terumbat, penciuman berkurang, merasa mencium bau busuk,pendengaran berkurang dan berdenging. Dari pemeriksaan fisik didapatkan massa di rongga hidung kiri, permukaan mengkilat, hiperemi, dan mudah berdarah, serta benjolan di palatum molle sebelah kiri. Dari X foto water’s dengan hasil: menyokong gambaran massa kavum nasi yang meluas ke sinus maxilaris dengan osteodetruksi. Kata Kunci : Tumor, hidung, sinus paranasal, Kasus Seorang laki-laki berumur 49 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan ada benjolan di hidung sebelah kiri sejak 5 bulan yang lalu, sedangkan mimisan dirasakan sejak 2 tahun yang lalu, mimisan sering kambuhan, dan untuk menghentikannya pasien hanya menyumbatnya dengan kain. Selain itu pasien juga mengeluh hidung sebelah kiri seperti tersumbat, penciuman berkurang, seperti mencium bau busuk, pendengaran berkurang, dan sering berdenging, begitu juga penglihatan pada mata sebelah kiri kabur dan sering keluar air mata. Pasien mencoba berobat ke berbagai tempat seperti dokter dan pengobatan tradisional tetapi keluhan tidak membaik. Pasien memiliki riwayat batuk pilek berulang sejak remaja, Riwayat kencing manis, hipertensi, dan sakit jantung disangkal. Tidak ada riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu. Tidak ada riwayat trauma, operasi, maupun perawatan di rumah sakit. Keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, nadi 80 x/menit, Tekanan darah 120/70 mm Hg, Pernafasan 20 x/menit, Suhu : 36,7oC. Kepala-leher: tidak terdapat kelainan. Telinga tidak terdapat tanda peradangan, serumen ataupun sekret, membran timpani utuh. Hidung : kedua rongga sempit, mukosa oedem, passage tidak lancar, Hiperemi, mudah berdarah, dan permukaan mengkilat, rongga hidung kiri terdapat massa. Tenggorokan: Tonsil T1/T1, permukaan rata, tidak hiperemis, palatum molle bengkak, menonjol, hiperemi pada dinding sebelah kiri. Thorak, abdomen, dan ekstremitas dalam batas normal. Dilakukan pemeriksaan darah rutin, urin rutin dan kimia klinik hasil dalam batas normal. Selain itu dilakukan X foto waters dengan kesan: menyokong gambaran massa kavum nasi yang meluas ke sinus maxilaris dengan osteodetruksi. Diagnosis Tumor cavum nasi sinistra meluas ke sinus maksilaris sinistra (Tumor Sinonasal) Terapi Setelah didiagnosis pasien akan dilakukan pembedahan Rhinotomi lateral, dan mendapatkan terapi berupa infus RL 28 tpm, kortikosteroid berupa kalmethasone 2 x 1 ampul, antibiotik berupa metronidazol 3 x 500 mg, analgetik ketorolak 2 x 30 mg, dan diberikan asam traneksamat 500 mg 3 kali sehari. Terapi diberikan selama 5 hari.

Diskusi Keganasan di sinus paranasal hanya merupakan 1% dari seluruh keganasan di seluruh tubuh, atau 3% dari keganasan di kepala dan leher. Insidens tertinggi ditemukan di jepang. Berbagai faktor diajukan sebagai etiologi keganasan di hidung dan sinus paranasal. Setelah terpapar bahan-bahan karsinogen diperlukan waktu laten kurang lebih 20-30 tahun untuk dapat berkembang menjadi keganasan. Lebih dari 44% keganasan di hidung dan sinus paranasal menunjukkan adanya paparan karsinogen industri maupun rumah tangga, seperti nikel, kromium, larutan isopropil, gas hidrokarbon, dan debu serat organik. Bahanbahan kimia ini banyak terdapat pada industi kayu, kulit dan tekstil. Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Gejala timbul setelah tumor besar, mendorong atau timbul setelah tumor besar, mendorong atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi atau orbita. gejala dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Gejala nasal. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rinore. Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan nekrotik. 2. Gejala orbital. Perluasan tumor ke arah orbita menimbulkan gejala diplopia, proptosis atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia, gangguan visus dan epifora. 3. Gejala oral. Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum atau di prosesus alveolaris. Pasien mengeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geligi goyah. Sering kali pasien datang ke dokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut. 4. Gejala fasial. Perluasan tumor ke depan akan menyebabkan penonjolan pipi. Disertai nyeri, anestesia atau parestesia muka jika mengenai nervus trigeminus. 5. Gejala intracranial. Perluasan tumor ke intrakranial akan menyebabkan sakit kepala hebat, oftalmoplegia, dan gangguan visus. Dapat disertai likuorea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampe ke fossa kranii media maka saraf-saraf kranial lainnya juga terkena. Jika tumor meluas ke belakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesia dan parestesi daerah yang dipersarafi nervus maksillaris dan mandibularis. Pada pasien ini terdapat gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral, mimisan, ingus bau busuk dan benjolan massa di rongga hidung, gejala oral berupa penonjolan di palatum, dan gejala fasial berupa penonjolan pada pipi, gejala orbital berupa penurunan visus. Dari gejala-gejala yang ada pada pasien dapat menunjukan kemungkinan letak tumor dan arah perluasannya dimana pada pasien ini kemungkinan letak tumor berada pada hidung, sinus maksilaris, dan rongga mulut. Akan tetapi untuk menentukan letak pastinya harus dilakukan pemeriksaan radiologi, pada pasien ini dilakukan pemeriksan X foto Waters, didapatkan hasil menyokong gambaran massa kavum nasi yang meluas ke sinus maxilaris dengan osteodetruksi. Hal ini menunjukkan gejala yang ada sesuai dengan hasil pemeriksaan radiologi. Diagnosis tumor hidung dan sinus paranasal dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis secara lengkap dan menyeluruh, Pemeriksaan fisik THT harus seteliti mungkin dengan penerangan yang cukup, baik dengan alat-alat konvensional maupun dengan endoskopi. Adanya asimetri wajah atau proptosis dapat disebabkan oleh pertumbuhan atau desakan tumor di hidung dan sinus paranasal. Adanya massa di rongga hidung, harus dideskripsikan dengan lengkap baik warna, permukaan, konsistensi, rapuh/tidak, mudah berdarah serta perluasannya. Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medial berarti tumor berada di sinus maksila. Pemeriksaan rongga mulut harus dilakukan apakah ada massa tumor di palatum atau sulkus gingivobukalis, bila perlu digunakan sarung tangan untuk meraba apakah

terdapat destruksi tulang palatum, penonjolan atau gigi yang goyah. Pemeriksaan nasofaring dilakukan untuk mengetahui adanya massa tumor yang berasal dari sinus sfenoid atau perluasan tumor hidung ke posterior. Pemeriksaan lain yang harus dilakukan adalah, pemeriksaan telinga, adakah otitis media atau tuli konduktif akibat masa tumor yang menutup tuba Eustakius, pemeriksaan visus dan gerakan bolamata, pemeriksaan saraf perifer dan pemeriksaan kelenjar getah bening leher walaupun keganasan di hidung dan sinus paranasal jarang bermetastasis ke kelenjar getah bening regional. Pemeriksaan radiologi dapat berupa foto polos sinus (posisi Waters atau lateral), tomografi komputer (CT Scan) atau MRI. Pada lebih dari 60% kasus, adanya destruksi tulang dapat terlihat pada foto polos, tetapi adanya invasi tumor ke jaringan lunak kurang jelas terlihat. CT Scan dan MRI dapat mengisi kekurangan pada foto polos, karena dengan jelas dapat terlihat adanya destruksi tulang, besar dan perluasan tumor primer ke jaringan lunak, sehingga derajat invasi tumor tergambarkan. Setiap keganasan hidung dan sinus paranasal harus dilakukan biopsi untuk menegakkan diagnosis yang definitif dan merencanakan pengobatan. Pada umumnya pasien datang sudah dalam stadium lanjut dan tumor sudah terdapat di rongga hidung bahkan sudah menginfiltrasi kulit. Pembedahan pada keganasan hidung dan sinus paranasal merupakan modalitas utama dan lebih sering bertujuan untuk pengobatan yang bersifat kuratif. Selain itu dapat juga dilakukan radioterapi dan kemoterapi. prognosis bertahan hidup selama 5 tahun mempunyai variasi luas antara 19 – 86%. Kesimpulan Gambaran klinis pada pasien ini sesuai dengan gambaran klinis tumor hidung dan sinus paranasal, untuk mengetahui letak dan arah perluasan tumor telah dilakukan X foto Water’s. akan tetapi belum menentukan yang dimaksud tumor primer / perluasannya atau jenis tumor karena tidak dilakukan biopsi. Untuk membantu menegakkan diagnosis tumor hidung dan sinus paranasal bisa dilakukan nasofaringoskop,foto rongsen posisi Water’s atau lateral, CT Scan, maupun MRI. Diagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan histopatologi. Terapi utama tumor hidung dan sinus paranasal adalah pembedahan. Pada umumnya pasien datang sudah dalam stadium lanjut sehingga menyebabkan prognosis penyakit sampai saat ini masih buruk.

Referensi 1. Roezin A, Armiyanto. Tumor hidung dan sinonasal. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2001; h.178-181. 2. Dufour, X. Adenocarcinoma of the Ethmoid Sinus. 2005 Jul. [2009 Sept 12]. Available online : http://www.rforl.com/PDF/UK0508806.pdf 3. Queen, Francis B. Neoplasms of the nose and paranasal sinuses. 2000 Jun 7.[2009 Sept 12]. Availabe online : http://www.utmb.edu/otoref/grnds/Nose-sinus-0006/Nose-sinus-0006.htm 4. Shao W, Vasanth A. Malignant tumor of the nasal cavity. 2007 Nov 16. [2009 Sept 12]. Available online : http://www.emedicine.com. 5. Calzada, G. Adult Sinonasal Tumor. 2006 Aug 24. [2009 Sept 13]. Available online: http://www.bcm.edu/oto/grand/08_24_06.html

6. Rassekh CH. Nose and paranasal sinus. In : Close LG, Larson DL, Shsh JP. Essentials of head and neck oncology. New York : Thieme, 1998. 7. Cancerbackup. Paranasal Sinus Cancer. 2009 Jun 08. [2009 Sept 13]. Available online: http://www.cancerbackup.org.uk/cancertype/headneck/typesofheadneckcancers/paranasalsinuscancer Penulis : Budiman Syaeful Anwar, bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan RSUD Temanggung,

PENDAHULUAN Angiofibroma nasofaring (angiofibroma nasopharynx/ nasopharyngeal angiofibroma) adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak namun secara klinis bersifat ganas karena mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya, seperti ke sinus paranasalis, pipi, mata dan tengkorak, serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan. Jinak tetapi merupakan tumor pembuluh darah lokal yang agresif dari anak atau remaja lakilaki, pernah juga dilaporkan pada perempuan tetapi sangat jarang. Itulah sebabnya tumor ini disebut juga angiofibroma nasofaring belia (“Juvenile nasopharyngealangiofibroma”). Tetapi istilah juvenile ini kurang tepat karena neoplasma ini terdapat juga pada pasien yang lebih tua. ANATOMI Ruang nasofaring yang relatif kecil terdiri dari atau mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur yang secara klinis mempunyai arti penting. 1. Pada dinding posterior meluas ke arah kubah adalah jaringan adenoid. 2. Terdapat jaringan limfoid pada dinding faring lateral dan pada resessus faringeus, yang dikenal sebagai fossa Rosenmuller. 3. Torus tubarius, refleksi mukosa faring di atas bagian kartilago saluran tuba eustachii yang berbentuk bulat dan menjulang tampak sebagai tonjolan seperti ibu jari ke dinding lateral nasofaring tepat diatas perlekatan palatum mole. 4. Koana pada posterior rongga hidung. 5. Foramina kranial, yang terletak berdekatan dan dapat terkena akibat perluasan dari penyakit nasofaring, termasuk foramen jugularis yang dilalui oleh saraf kranial glossofaringeus, vagus, dan spinal assesori. 6. Struktur pembuluh darah yang penting yang letaknya berdekatan termasuk sinus petrosus inferior, vena jugularis interna, cabang-cabang meningeal dari oksiput dan arteri faringea asendens, dan foramen hipoglossus yang dilalui saraf hipoglossus. 7. Tulang temporalis bagian petrosa dan foramen laserum yang terletak dekat bagian lateral atap nasofaring. 8. Ostium dari sinus-sinus sfenoid. INSIDENS

Insiden dari angiofibroma tinggi dibeberapa bagian dari belahan dunia, seperti pada Timur Tengah dan Amerika. Martin, Ehrlich dan Abels (1948) melaporkan rata-rata setiap tahunnya dari satu atau dua pasien untuk 2000 pasien yang diobati pada Head and Neck Service of The Memorial Hospital, New York. Di London, Harrison (1976) mencatat status dari satu per 15000 pasien pada Royal National Throat, Nose and Ear Hospital dimana satu kesimpulan bahwa lebih sedikit angiofibroma di London dibanding di New York. Walapun angiofibroma merupakan tumor jinak yang paling sering pada nasofaring, tetapi jumlahnya kurang dari 0,05% dari tumor kepala dan leher. Sekarang ada kesepakatan bersama bahwa ini semata-mata penyakit dari laki-laki dan umur rata-rata yang terkena sekitar 14 tahun (Harrison, 1976). Jaraknya, bagaimanapun bervariasi antara umur 7 dan 19 tahun (Martin, Ehrlich dan Abela, 1948). Angiofibroma Nasofaring jarang pada pasien lebih dari 25 tahun. ETIOLOGI Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai macam teori banyak dikemukakan. Salah satu diantaranya adalah teori jaringan asal, yaitu pendapat bahwa tempat perlekatan spesifik angiofibroma adalah di dinding posterolateral atap rongga hidung. Faktor hormonaldikemukakan sebagai penyebabnya. Banyak bukti memperlihatkan secara langsung adanya reseptor seks-hormon, seperti reseptor androgen (RA), reseptor estrogen (RE), dan reseptor progesteron (RP), pada tumor ini. Bukti ini secara langsung memperlihatkan bahwa reseptor seks-hormon muncul pada angiofibroma dengan menggunakan teknik sensitive immunocytochemical dan mencatat populasi sel yang mana memperlihatkan reseptor tersebut. 24 angiofibroma nasofaring diperoleh dari jaringan penyimpanan, dan studi imunositokimia menunjukkan dengan antibodi pada RA, RP, dan RE. Stromal positif dan nukleus endotelial immunostaining, menunjukkan adanya RA pada 75% dari 24 kasus, 8,3% positif andibodi RP dan negatif dengan antibodi dengan RE. Hasil menetapkan bukti langsung pertama adanya antibodi dari reseptor androgen pada angiofibroma. Penelitian lain menunjukkan adanya faktor pertumbuhan yang memediasi proliferasi agresif sel stromal dan angiogenesis. Transforming Growth Factor-1 (TGF-1) atau faktor pertumbuhan pengubah-1 adalah polipeptida yang disekresikan dalam bentuk inaktif, dipecah untuk menghasilkan bentuk aktif, dan kemudian tidak diaktifkan dalam jaringan. TGF-1 mengaktifkan proliferasi fibroblas dan dikenal sebagai induksi angiogenesis. TGF-1 aktif diidentifikasi pada sel nukleus stromal dan sitoplasma dan pada endotelium kapiler pada semua spesimen angiofibroma nasofaring juvenile. LOKASI Lokasi dari tumor masih menjadi perdebatan. Awalnya dikira muncul dari akar nasofaring atau dinding anterior dari tulang sfenoid tetapi sekarang dipercaya muncul dari bagian posterior dari kavum nasi dekat dengan tepi dari foramen sphenopalatina. Dari sini tumor bertumbuh

masuk kedalam kavum nasi, nasofaring dan kedalam fossa pterygopalatina, berjalan dibelakang PATOLOGI Secara makroskopik, angiofibroma nampak sebagai keras, berlobulasi membengkak agak lembut, menyesuaikan dengan peningkatan umur. Warnanya bervariasi dari merah muda sampai putih. Bagian yang terlihat di nasofaring dan karena itu dibungkus oleh membran mukous tetap berwarna merah muda, sedangkan bagian yang keluar ke daerah yang berdekatan ekstrafaringeal sering berwarna putih atau abu-abu. Secara histologik, angiofibroma kebanyakan terdiri dari jaringan fibrosa padat menyisipkan dengan pembuluh darah dari ukuran bervariasi dan konfigurasi. Pembuluh darah biasanya mudah pecah dan dilapisi oleh lapisan tunggal dari endotelium. Karena dindingnya hanya dari lapisan elastik dan lapisan otot halus, pembuluh darah ini tidak dapat mengalami vasokonstriksi ketika terjadi trauma, menyebabkan perdarahan yang berlimpah. Tumor yang berlangsung lama, cenderung kearah penekanan perlahan dari sinusoid, jadi batas endotelial sel terdorong saling berlawanan arah seperti kabel, sementara lainnya terjadi trombosis intravaskular. Komponen fibrosa biasanya padat dan seluler. Sel stromal, yang melambangkan fibroblas dan atau miofibroblas, mengelilingi pada nukleus stellata dan kadang-kadang, nekleolus prominent. Mitosis tidak ada. Mikroskop elektron memperlihatkan karakteristik dari granula kromatin padat terdistribusi dalam nukleus dari fibroblas. PENYEBARAN Angiofibroma nasofaring adalah tumor jinak tetapi invasif lokal dan merusak struktur sekitarnya. Dapat meluas kedalam : a. Cavum nasi menyebabkan obstruksi nasi, epistaksis dan pengeluaran cairan hidung. b. Sinus-sinus paranasalis. Sinus maksillaris, sfenoidales dan ethmoidales semua dapat diserang. c. Fossa pterygomaksillaris, fossa infratemporalis dan pipi. d. Orbita memberikan gejala prodtosis dan deformitas ”face-frog”. Masuk melalui fissura orbitalis inferior dan juga merusak apeks dari orbita. Dapat juga masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior. e. Cavum kranial. Fossa kranialis media yang paling sering. Ada 2 jalan masuknya : i. Dengan pengrusakan lantai fossa kranialis media anterior ke foramen lacerum. Tumor berada dilateral dari arteri karotis dan sinus kavernosus. ii. Melalui sinus sfenoid, kedalam sella. Tumor berada dimedial dari arteri karotikus. GEJALA KLINIK Gejala : dinding posterior dari sinus maksillaris dimana menekan kedepan dari pertumbuhan tumor.

1. Paling sering mengenai anak dan remaja laki-laki. 2. Umumnya pada dekade ke-2, antara 7-19 tahun. Jarang pada pasien dengan umur lebih dari dua puluh lima tahun. 3. Obstruksi nasal. Gejala yang paling sering, terutama pada tadium awal. 4. Epistaksis. Kebanyakan unilateral dan rekuren; biasanya epistaksis berat memerlukan perhatian medis; diagnosis dari angiofibroma pada laki-laki remaja dipertimbangkan. 5. Sakit kepala. Terutama jika sinus-sinus paranasalis tersumbat. 6. Muka bengkak. 7. Gejala lainnya termasuk rinore unilateral, anosmia, hiposmia, rinolalia, otalgia, pembengkakan dari palatum, dan deformitas pipi. Tanda-tanda : 1. Massa di cavum nasi. 2. Massa di Orbita. 3. Proptosis. 4. Tanda lainnya mungkin termasuk otitis serosa pada blokade tuba eustakhius. Pembengkakan zigomatikus dan trismus menandakan penyebaran dari tumor ke fossa infratemporal. Penuruan penglihatan mengenai nervus optik jarang dilaporkan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Anemia yang kronis merupakan keadaan yang sering ditemukan pada keadaan ini. Biopsi Kebanyakan kasus dari angiofibroma nasofaring juvenile tidak dianjurkan untuk biopsi sebelum reseksi defenitif. Walaupun didapatkan gambaran radiologis yang klasik, bagaimanapun, tidak ada tanda absolut dari angiofibroma. Jika tumor atipikal atau jika gambaran klinik tidak biasa, seharusnya dipertimbangkan untuk biopsi sebelum tumor direseksi. Bila diperlukan, biopsi dari kasus yang dicurigai angiofibroma dapat dilakukan di ruang operasi. Pemeriksaan Radiologis FOTO SINAR-X Pada foto sinar-X tumor nampak sebagai massa jaringan lunak dalam nasofaring. Holman dan Miller menggambarkan karakteristik dari tumor ini pada foto lateral, yang tergantung pada lokasi tipikal dalam alur pterygomaksillaris. Ini dikenal sebagai “tanda antral” dan terdiri dari tulang anterior dari dinding posterior dari antrum maksillaris. Tanda ini sering sulit untuk dikenali. CT SCAN Memperlihatkan perluasan ke sinus sfenoid, erosi dari sayap sfenoid yang besar, atau invasif dari pterygomaksillaris dan fossa infratemporal biasanya terlihat.

MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) Diindikasikan untuk menggambarkan dan menjelaskan batas dari tumor, terutama pada kasus-kasus dari keterlibatan intrakranial. ANGIOGRAFI Dengan angiografi terlihat gambaran vaskuler yang banyak (ramai). Pada Angiografi ini terlihat lesi vaskuler yang terutama disuplai oleh cabang dari arteri maxillaris interna. Angiografi STADIUM Sebagai neoplasma dari nasofaring, stadium tumor berdasarkan pada daerah yang terlibat adalah penting untuk evaluasi individu dan pengobatannya. Different Staging System mengeluarkan oleh AJC : untuk angiofibroma nasofaring, Chandler dan kawan-kawan merekomendasikan berdasarkan sistem stadium pada usulan sistem untuk kanker nasofaring terutama dilakukan pada kasus dengan kecurigaan adanya penyebaran intrakranial atau pada pasien dimana pada penanganan sebelumnya gagal.

• Stadium I : Tumor di nasofaring. • Stadium II : Tumor meluas ke rongga hidung dan atau sinus sfenoid. • Stadium III : Tumor meluas kedalam antrum, sinus ethmoid, fossa pterygomaksillaris,
fossa infratemporalis. Orbita dan atau pipi.

• Stadium IV : Tumor meluas ke rongga intrakranial.
Sistem stadium lain yang diusulkan oleh Fisch :

• Stadium I : Tumor terbatas pada rongga hidung, nasofaring tanpa destruksi tulang. • Stadium II : Tumor meluas ke fossa pterygomaksillaris, sinus-sinus paranasalis dengan
destruksi tulang.

• Stadium III : Tumor meluas ke fossa infratemporalis, orbita dan atau regio parasellar
menyisakan lateral ke sinus kavernosus.

• Stadium IV : Tumor meluas ke sinus kavernosus, regio khiasma optik dan atau fossa
pituitary. Klasifikasi menurut Sessions : - Stadium IA : Tumor terbatas pada nares posterior dan atau nasofaring. - Stadium IB : Tumor terbatas pada nares posterior dan atau nasofaring dengan melibatkan sedikitnya satu sinus paranasalis. - Stadium IIA : Tumor meluas minimal lateral ke fossa pterygomaksillaris. - Stadium IIB : Tumor meluas penuh pada fossa pterygomaksillaris dengan atau tanpa erosi superior dari tulang orbita. - Stadium IIIA : Erosi dari dasar tengkorak (fossa cranii media/dasar pterygoid); perluasan

minimal intrakranial. - Stadium IIIB : Tumor meluas kedalam intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke sinus kavernosus. PENGOBATAN EMBOLISASI Embolisasi pada pembuluh darah tumor mengakibatkan tumor menjadi jaringan parut dan menghentikan perdarahan. Embolisasi dilakukan dengan memasukkan suatu zat dalam pembuluh darah untuk membendung aliran darah. Dengan embolisasi saja cukup untuk menghentikan perdarahan hidung, atau dapat diikuti dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. OPERASI Digunakan untuk tumor yang kecil (Fisch stadium I atau II). -Pendekatan fossa infratemporal digunakan bila tumor meluas ke lateral. -Pendekatan midfacial degloving, dengan atau tanpa LeFort osteotomy, memanfaatkan jalan masuk posterior ke tumor. -Pendekatan facial translocation dikombinasikan dengan Weber-Ferguson incision dan perluasan koronal untuk frontotemporal craniotomy dengan midface osteotomies untuk jalan masuk. -Operasi intranasal endoscopic disiapkan untuk tumor yang terbatas pada cavum nasi dan sinus-sinus paranasali. RADIOTERAPI Beberapa pusat melaporkan rata-rata menyembuhkan 80% dengan terapi radiasi. Bagaimanapun, menganggap hubungan efek potensial dari radiasi membuat terapi radiasi modalitas yang tidak berguna dalam banyak kasus. Radioterapi stereotaktik (seperti sinar Gamma) mengirim sedikit dosis dari radiasi ke jaringan sekitarnya. Bagaimanapun, kebanyakan penulis menyiapkan radioterapi untuk penyakit intrakranial atau kasus rekuren. HORMONAL Penghambat reseptor testosteron flutamide dilaporkan mengurangi tumor stadium I dan II sampai 44%. Walaupun mereduksi tumor dengan hormon, jalan ini tidak digunakan secara rutin. Contoh Suatu Kasus dan Tahapan Operasi Rhinotomy Lateral: Anak laki-laki dengan riwayat sumbatan hidung sebelah kiri yang telah lama dan riwayat tiga bulan epistaksis bilateral berulang. Pemeriksaan memperlihatkan massa pada hidung kiri. Suatu angiofibroma nasofaring juvenile setelah pemeriksaan CT Scan. Operasi pengangkatan dilakukan setelah pre-operatif angiografi dengan embolisasi dari tumor. Operasi berjalan tanpa komplikasi atau membutuhkan transfusi darah perioperatif. Tujuh tahun setelah

pengangkatan tumor dengan tidak bukti rekuren. 1. Lateral rhinotomy sinistra dan membelah bibir. Membuat osteotomies maksillaris medial. 2. Segmen maksillaris anterior dan lekukan hidung dibuka untuk melihat tumor yang terletak dibawah. 3. Maksillotomy anterior diperluas kelateral untuk jalan masuk ke bagian lateral dari tumor. Sphenoethmoidectomy dan dinding posterior sinus maksillaris dibuka untuk penglihatan yang luas agar aman mengangkat tumor dari dasar tengkorak dan fossa pterygomaksillaris atau infra temporal. 4. Tumor besar berbentuk “dumbell” diangkat. 5. Membuat dacrocystorhinostomy dan medial canthopexy. Cavum diisi dengan pasta bismuth-iodoform-paraffin kawat impregnated. Segmen maksillaris media dikembalikan dan difiksasi dengan kawat interosseous. Kartilago nasal bagian atas samping disambungkan ke tulang untuk mencegah kolaps dari valvula nasal. 6. Insisi eksternal dan intraoral ditutup lapis demi lapis. DIFFERENSIAL DIAGNOSIS

1. Penyebab lain dari obstruksi nasal, (seperti polip nasal, polip antrokoanal, teratoma,
encephalocele, dermoids, inverting papilloma, rhabdomyosarcoma, karsinoma sel skumous).

2. Penyebab lain dari epistaksis, sistemik atau lokal. 3. Penyebab lain dari proptosis atau pembengkakan orbita.
PROGNOSIS Meskipun tidak bersifat seperti kanker, angiofibroma dapat terus menyebar. Dapat hilang sendiri. Terdapat angka rekurensi yang cukup tinggi setelah operasi, sekitar 6-24 %.