You are on page 1of 8

Teknik Dasar Penyutradaraan Film Cerita

Film, ketika kita mendengar kata itu pasti langsung teringat dengan sebuah benda kamera. Ibarat seorang pelukis, filmmaker memang bisa dikatakan sebagai seorang seniman juga namun mereka mencoba melukis dengan sinar. Produksi film merupakan sebuah pekerjaan kolaboratif antar individu yang mengerahkan kemampuan di bidang masing-masing dengan taste yang berbeda pula. Mulai dari pekerjaan di dept. kamera, art, lighting, dll. Pekerjaan kolaborasi ini diharapkan menghasilkan hasil baru dengan rasa baru. Seperti makanan gadogado, kita mengumpulkan berbagai jenis sayur mayur dengan rasa yang berbeda kemudian disatukan oleh seorang koki menjadi masakan dengan rasa baru. Nah tugas meramu segala macam elemen dalam film yang berhubungan dengan eksekusi di lapangan adalah tugas seorang sutradara. Seorang sutradara mempunyai tugas cukup berat untuk meramu beberapa tugas menjadi hasil yang maksimal. Seorang chief dalam departemen pastilah sudah dibekali kemampuan teknis di bidang masing-masing. Dengan kemampuan teknis itulah diharapkan bisa menghasilkan sebuah film dengan taste dan citarasa tinggi. Intinya sutradara harus mampu mengkolaborasikan kemampuan teknis dan estetika dalam produksi. ART OF TECHNIQUE Pendekatan estetika dalam produksi film maupun video sangatlah penting. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan :

Interpretasi naskah

Proses paling menarik dalam pembuatan film adalah interpretasi. Naskah yang sama namun disutradarai oleh orang yang berbeda dapat dipastikan akan menghasilkan film yang berbeda pula.

Treatment

Treatment dalam produksi film adalah bagaimana kita memberikan kontribusi terhadap naskah melalui teknik dan proses produksi. Contoh : dalam produksi sebuah iklan kita sering melihat berbagai macam versi walaupun hanya untuk satu produk saja. Diharapkan dengan proses dan teknik yang berbeda kita bisa membawa penonton ke dalam cara pandang baru terhadap tema yang kita sodorkan.

Menetapkan tujuan

Ini juga merupakan hal yang penting; apa tujuan dibuatnya sebuah film, siapa yang menonton, dan apa yang diharapkan dari penonton.

Menggunakan imajinasi dan orisinalitas

Jangan batasi imajinasi kita dalam interpretasi naskah menjadi gambar, gunakan seluruh kemampuan kita baik secara teknik maupun estetik serta didukung oleh pengalaman hidup kita.

Mood film

Kombinasi ramuan teknik yang tepat dengan estetika yang cukup diharapkan akan menyeret penonton ke dalam memori yang tak terlupakan dari film kita. Berikut beberapa hal yang mempengaruhi mood film : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lokasi & setting Warna, tekstur dan design Teknik lighting Teknik pengambilan gambar Teknik editing Performance pemain dan directing

DRAMA TECHNIQUE Jangan berharap film akan berhasil tanpa unsur yang satu ini : drama. Banyak sekali elemen yang harus diperhatikan dalam membuat tangga dramatik yang sesuai di setiap scene,antara lain : 1. Karakterisasi tokoh dan interpretasi naskah oleh pemain 2. Memasukkan tokoh film ke dalam pemain agar menghasilkan inner acting (acting namun berasal dari hati, bukan hapalan) 3. Memainkan intonasi dan emosi pada porsinya 4. Memanfaatkan bloking dan pergerakan pemain untuk menghasilkan dimensi dan dramatik yang sesuai 5. Memanfaatkan gesture untuk membuat stressing emosi Tugas berat berikutnya dari seorang sutradara adalah bagaimana merangkai seluruh adegan yang diambil secara acak menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. TATA BAHASA DALAM FILM Seperti ketika kita berbicara untuk memberi informasi kepada orang lain menggunakan bahasa, tentunya kita harus menyusun kata per kata menjadi kalimat dan akhirnya menjadi sebuah paragraf dengan aturan yang jelas, dalam hal ini bahasa Indonesia menggunakan pakem EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Demikian juga ketika kita membuat film kita harus menggunakan tata bahasa gambar yang tepat agar apa yang ingin kita sampaikan kepada penonton dapat tertangkap dengan jelas. Shot, scene, sequence adalah analogi dari kata, kalimat dan paragraf. Sebelum kita membuat sebuah shot pertama-tama kita harus paham betul apa substansi dari sebuah scene, intisarinya harus tertangkap terlebih dahulu. Selain itu juga mood, emosi dan suasana yang diinginkan harus dapat kita terjemahkan ke dalam gambar yang tepat. VIDEOGRAFI DALAM PERSPEKTIF ESTETIKA Seperti telah kita ketahui setiap elemen dalam pembuatan film mempunyai dua unsur yang harus dipahami yaitu teknis dan estetis. Kali ini kita akan berbicara masalah videografi dengan pendekatan estetika, antara lain kita akan berbicara tentang Komposisi Gambar.

1. GERAKAN KAMERA DAN LENSA A. Panning Pan adalah gerakan mendatar dari kiri ke kanan. Pan kanan (kepala kamera bergerak ke kanan – obyek bergerak ke kiri) Pan kiri (kepala kamera bergerak ke kiri – obyek bergerak ke kanan) Gerakan pan akan membuat penonton merasa sedang menantikan sesuatu yang akan nampak di layar, sehingga sebelum melakukan pan seorang kameraman harus menentukan titik awal dan akhir dari sebuah shot. B. Tilting (tilt) Adalah gerakan kamera secara vertikal, mendongak dari bawah ke atas atau sebaliknya. Tilt up ( kepala kamera mendongak ke atas – obyek bergerak ke bawah) Tilt down ( kepala kamera menunduk ke bawah – obyek bergerak ke atas) Gerakan ini dilakukan antara lain untuk mengikuti gerak obyek, serta juga untuk mempertajam efek dramatis gambar. C. Zooming Adalah gerakan lensa mendekati / menjauhi obyek secara optis, yaitu dengan merubah lensa dari sudut pandang sempit (tele) ke sudut pandang lebar (wide) dan sebaliknya. Zoom in : mendekati obyek, dari long shot ke close up Zoom out : menjauhi obyek, dari close up ke long shot Gerakan ini biasanya untuk menekankan sesuatu, penonton diajak untuk melihat detil dari sebuah obyek, dan sebaliknya untuk memberi orientasi dimana obyek itu berada. D. Rack focus Adalah merubah fokus lensa dari obyek di latar belakang ke obyek di latar depan, atau sebaliknya, biasanya dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian penonton dari obyek yang satu ke yang lain. 2. FRAMING / BIDANG PANDANGAN Adalah lebar sempitnya bidang pandangan yang masuk ke dalam frame (bingkai kamera). Ada istilah yang harus dipahami oleh seorang kameraman ketika mendapat perintah dari sutradara ketika dia meminta sebuah framing (pembingkaian).

1. ELS (extreme long shot) Adalah shot yang sangat jauh dan menghasilkan bidang pandangan yang sangat luas. Obyek utama nampak sangat kecil. 2. LS (long shot) Adalah shot jauh dan menghasilkan pandangan yang lebih dekat dibanding ELS,tapi obyek masih didominasi latar belakang yang luas. 3. MLS (medium long shot) Shot yang menghasilkan bidang pandang yang lebih dekat dibanding long shot, obyek manusia biasanya diambil mulai dari lutut sampai atas kepala. Ruang yang harus disisakan di atas kepala biasanya disebut dengan head room. 4. MS (medium shot) Adalah shot yang menampilkan obyek lebih dominan, dan obyek manusia ditampakkan mulai dari pinggang sampai di atas kepala. 5. MCU (medium close up) Disini obyek diperlihatkan dari bagian dada sampai di atas kepala. 6. CU (close up) Obyek menjadi pusat perhatian dari gambar. Untuk obyek manusia biasanya ditampilkan mulai dari bahu sampai di atas kepala. 7. BCU (big close up) Adalah shot yang hanya menampilkan bagian tertentu dari obyek, dan gambar tersebut memenuhi frame pada kamera. 8. Two shot, three shot Adalah shot yang berisi gambar 2, 3 obyek / manusia. 9. OSS (over the shoulder shot) Adalah shot dimana obyek menghadap kamera, dengan bingkai bahu dan kepala sebagian dari obyek yang lain sebagai lawan bicara. 10. ES (establishing shot) Adalah pengambilan gambar dengan kamera yang tidak bergerak, biasanya dalam bentuk ELS atau LS yang menunjukkan keseluruhan pemandangan untuk memperkenalkan suatu tempat dimana suatu peristiwa terjadi.

3. CAMERA ANGLE Adalah sudut di mana kamera mengambil gambar suatu obyek. Dengan menempatkan kamera pada posisi yang tepat maka akan menghasilkan kesan tertentu dari sebuah gambar dan juga akan menghasilkan gambar yang baik. 1. Normal angle Pada posisi ini kamera ditempatkan setinggi mata obyek. Tidak ada kesan khusus pada posisi ini. Biasanya digunakan pada shot-shot yang bersifat formal, misalkan wawancara, diskusi, dsb. 2. High angle Posisi kamera lebih tinggi dari mata manusia atau obyek yang sedang diambil gambarnya. Posisi ini sangat berguna untuk menampakkan obyek-obyek di sebuah ruangan yang sempit. Selain itu obyek yang diambil gambarnya akan terkesan rendah, kecil, hina, dsb. 3. Low angle Posisi kamera berada di bawah ketinggian mata obyek, hingga kamera harus mendongak untuk menangkap obyek. Memberi kesan kuat, menguasai pada sebuah obyek. 4. Subjective angle Kamera diposisikan sebagai seorang tokoh yang tidak kelihatan dilayar, dan memberi kesan sudut pandang dari tokoh tersebut. Selain itu tentu saja masih banyak hal yang harus dipelajari dalam hukum komposisi. Apa yang kami uraikan di atas hanyalah dasar sinematografi. VIDEOGRAFI DALAM PERSPEKTIF TEKNIS Sekarang kita akan membicarakan videografi dalam perspektif teknis, yaitu kita akan mempelajari kamera video secara teknis. Yang pertama kali harus kita pahami bersama adalah fungsi kamera sebagai alat untuk mengabadikan moment yang kita inginkan ke dalam pita video. Kamera video terdiri dari perangkat elektronis yang harus kita sadarai mempunyai kekurangan utama yaitu akan sangat sulit sekali untuk menangkap gambar seindah warna aslinya. CCD adalah elemen elektronik yang berfungsi menangkap sinar yang masuk ke dalam lensa dan menerjemahkannya sebagai sinyal elektronik yang selanjutnya direkam ke dalam pita video.

1. BAGIAN-BAGIAN KAMERA a. Lensa Berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan obyek sehingga membentuk bayangan optis pada tabung kamera. Pada lensa terdapat elemen optis yang biasa disebut focus ring yaitu susunan elemen yang bisa diubah –ubah, berfungsi untuk memfokuskan obyek yang masuk ke kamera. Juga terdapat Iris yang berfungsi untuk mengatur jumlah sinar yang masuk ke kamera. Cara memfokuskan obyek adalah dengan melakukan zoom in, yaitu mengubah lensa untuk mendekat pada obyek tanpa memindahkan kamera, lalu putar / tekan focus ring hingga obyek menjadi tajam. Lensa itu sendiri mempunyai bagian lain selain focus ring, yaitu focal length, iris. Kombinasi tepat dari ketiga hal ini akan menghasilkan efek gambar yang berbeda. b. Viewfinder Berfungsi sebagai tempat untuk melihat obyek yang sedang direkam. c. Recorder Berfungsi merekam gambar yang masuk ke kamera di atas pita. Ada kamera yang tidak dilengkapi recorder dan biasanya di hubungkan dengan kabel dan masuk ke alat rekam tersendiri yang disebut portable recorder. Sedangkan kamera yang di dalamnya sudah terdapat recorder disebut camcorder. Kamera diciptakan untuk melihat seperti mata manusia, namun tidak bisa sempurna. Ketika melihat obyek, kamera tidak bisa langsung mendefinisikan warna dengan baik karena banyaknya perangkat elektronik yang ada di dalamnya. Untuk menghasilkan warna yang baik, kamera perlu diatur. Cara pengaturannya adalah dengan : a. Filter koreksi suhu warna Kamera membagi cahaya yang dilihat mata manusia menjadi 3 warna primer,yaitu merah, hijau dan biru. Apabila ketiga warna ini dipadukan dengan perbandingan yang tepat akan menghasilkan warna putih. Warna dari suatu obyek yang ditangkap kamera disebabkan pantulan sinar yang mengandung warna tertentu. Obyek berwarna putih akan kelihatan putih apabila dikenai sinar putih. Tapi cahaya putih jarang sekali ada, biasanya yang ada adalah kemerah-merahan atau kebirubiruan. Oleh karena itu kemudian diciptakan filter yang berbentuk elemen tipis. Cahaya yang didapat dari lampu bolam/tungsten adalah berwarna merah, sementara dari matahari berwarna biru. Satuan suhu warna mulai dari yang kemerah-merahan sampai kebirubiruan dinyatakan dengan satuan derajat Kelvin. Cahaya merah dari lampu bolam bersuhu warna 3200º Kelvin, sedangkan cahaya matahari 5600º Kelvin.

Pada saat kita mengambil gambar dengan menggunakan sumber cahaya bolam/lampu, maka kita pasang filter pada 3200º. Filter ini berwarna kebiru-biruan yang berfungsi untuk menyeimbangkan warna merah dari lampu, demikian juga sebaliknya dengan filter untuk cahaya matahari. b. White Balance Setelah kita memasang filter dengan benar, maka langkah selanjutnya kita melakukan white balance yaitu mencari keseimbangan warna putih. Kita memencet sebuah tombol dan kamera diarahkan ke bidang putih sampai memenuhi frame, seperti kertas, kaos, tembok, dll. Setelah ada tanda ok,maka kemudian kita cek di monitor apakah warna yang tertangkap kamera sudah mendekati warna obyek yang sebenarnya. Apabila kita pindah lokasi dan kondisi cahaya berubah maka perlu dilakukan white balance lagi. Tidak semua kamera mempunyai fasilitas tersebut diatas. Biasanya untuk kamera rumah tangga/amatir, filter dan white balance telah diset dari pabrik dan bersifat otomatis untuk memudahkan pengoperasian. 2. STAGE LINE Stage line adalah garis imajiner yang dipakai sebagai patokan saat mengambil adegan yang melibatkan lebih dari satu orang/obyek. Apabila kita melanggar garis tersebut maka akan terjadi yang disebut crossing the line yaitu tidak bertemunya arah pandang obyek. Selain untuk posisi stage line statis, screen direction juga sangat dibutuhkan pada saat stage line dinamis atau obyek bergerak, misalnya arah berjalan tokoh ke kiri atau ke kanan frame harus sama dengan shot berikutnya. KONTINITI Film yang baik adalah film dimana penonton tidak merasakan potongan gambar namun penonton merasakannya menjadi satu rangkaian kejadian, disinilah dibutuhkan kontiniti yaitu proses kesinambungan antar gambar. Apalagi sebuah shot dalam film tidak diambil secara berurutan. Elemen apa saja yang harus diperhatikan kontinitinya?

Kontiniti gerakan dan emosi pemain

Setiap pemain diharapkan sadar kontiniti, semakin profesional seorang pemain maka kemampuan dalam kontiniti gerakan dan emosinya diharapkan semakin baik.

Kontiniti lighting

Kondisi cahaya antar shot, terutama dalam satu scene diharapkan tidak berubah agar penonton tidak terganggu karena terjadi jump light.

Kontiniti suara

Suara juga sangat penting dijaga kontinitinya terutama dalam hal tone, equalisasi, noise, atmosfir, dsb.

Kontiniti art

Kontiniti yang perlu dijaga dalam art antara lain wardrobe, make up, property, setting.

1. FILMING TECHNIQUE Adalah tata cara pengambilan gambar. Dikenal 2 macam sistem yang sering dipakai :

Master scene

Adalah teknik pengambilan gambar dimana pertama kali kita mengambil satu master shot (biasanya Long Shot) utuh dengan seluruh adegan pada scene itu, setelah itu kemudian mengambil close up tokoh, 2 shotnya, over shouldernya dan shot-shot lain yang dibutuhkan saja.

Triple Take

Adalah teknik pengambilan gambar yang hanya mengambil shot-shot yang dibutuhkan saja sesuai dengan story board ataupun shot list. 1. PROGRESI DRAMATIK GAMBAR Adalah sebuah penekanan terhadap kejadian, emosi, gesture, mimik pemain melalui format gambar yang berbeda. Yang perlu menjadi bahan pertimbangan di sini adalah shot dengan ukuran seberapa yang kita butuhkan untuk sebuah adegan? Tidak ada aturan baku dalam hal ini, namun yang paling penting adalah gambar mampu menghasilkan vibrasi emosi dan sampai kepada penonton. Apa yang telah saya diuraikan di atas hanyalah basic. Namun diharapkan dengan bekal dasar ini kita akan mampu memanfaatkannya secara maksimal hingga menghasilkan kualitas tertinggi film kita.