1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Untuk mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsepkonsep mata pelajaran yang akan disampaikan. Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pelajaran matematika, misalnya membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa berkembang sesuai
1

2

dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Pemahaman ini memerlukan minat dan motivasi. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan yang diberikan siswa dapat keluar dari kesulitan belajar. Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar. Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep matematika. Meskipun telah diupayakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa, namun pendidikan di sekolah saat ini masih dihadapkan pada permasalahan siswa yang berprestasi rendah, khususnya pada mata pelajaran matematika. Hal ini menuntut pentingnya guru memilih metode, strategi dan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai guna

meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sudah diterapkan dalam proses pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Air Hangat Timur adalah model pembelajaran urutan buku teks (BT). Dalam proses belajar matematika model pembelajaran urutan buku teks (BT) ini bertujuan untuk

3

mengoptimalkan kegiatan belajar dalam rangka mencapai hasil belajar matematika secara optimal. Namun pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika walaupun model pembelajaran urutan buku teks (BT) telah diterapkan, sehingga menyebabkan hasil belajar matematika tetap rendah. Hal ini terlihat dari hasil ujian mid semester genap Tahun Pelajaran 2009/2010, seperti terlihat pada tabel 1 dibawah ini. Tabel 1: Rata-rata nilai hasil ujian mid semester siswa pada mata pelajaran matematika kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pembelajaran 2009/2010 No 1 2 3 Kelas XA XB XC Jumlah Siswa 28 26 26 Rata- rata Nilai Ujian Semester II 56,25 57,76 51,03

(Sumber : Arsip data nilai guru matematika SMA Negeri 1 Air Hangat Timur) Berdasarkan tabel 1 diatas, terlihat bahwa rata-rata nilai hasil ujian mid semester matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur masih berada dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah

ditetapkan yaitu 60,00. Jika masalah yang dikemukakan diatas tidak diatasi maka tujuan peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran matematika sulit dicapai. Untuk mengatasi masalah diatas diharapkan guru dapat menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran siswa aktif yang diantaranya adalah penerapan model pembelajaran elaborasi.

4

Model

pembelajaran

elaborasi yang

merupakan membantu

salah siswa

satu dalam

strategi proses

pengorganisasian

pembelajaran

pengembangan makna informasi baru dengan penambahan rincian dan penemuan hubungan-hubungan. Pengorganisasian urutan isi ajaran berdasarkan teori elaborasi, dimulai dengan disajikannya gambaran tentang hal yang paling umum, paling penting, dan paling sederhana dari isi pengetahuan yang akan disampaikan. Kesuaian urutan elaborasi dengan proses urutan pembentukan ingatan tidak saja meningkatkan ingatan, tetapi juga menjadikan belajar lebih efektif dan efisien. Menurut Hamzah B. Uno (2009:150) bahwa ”Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi keefektifan pembelajaran model elaborasi. Sebagai suatu model yang berusaha mengintegrasikan strategi-strategi yang telah teruji sahih, model elaborasi memerlukan bukti empiris untuk memperkuat landasan teoritisnya.” Dari beberapa kajian yang dilakukan, ditemukan berbagai dukungan fakta secara empiris yang memverifikasi kesahihan teori elborasi. Dari pendapat diatas, cenderung dapat disimpulkan bahwa model elaborasi efektif digunakan untuk mengorganisasikan isi pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Namun strategi pengorganisasian pembelajaran model elaborasi ini belum pernah diterapkan di SMA Negeri 1 Air Hangat Timur khususnya pada mata pelajaran matematika, sehingga belum terlihat bagaimana perbedaan hasil belajar siswa pada mata

5

pelajaran matematika yang menerapkan strategi pembelajaran model elaborasi dengan strategi pembelajaran model urutan buku teks (BT). Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka mendorong penulis untuk mengadakan penelitian lebih lanjut yang berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Penerapan Model Pembelajaran Elaborasi dengan Model Pembelajaran Urutan Buku Teks (BT) Di Kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pelajaran 2009/2010”.

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Air Hangat Timur sebagai berikut :
1. Pembelajaran matematika masih bersifat konvensional yang menempatkan

guru sebagai pusat belajar (teacher centered). 2. Minat siswa dalam pembelajaran matematika yang masih rendah. 3. Hasil belajar matematika siswa masih rendah.

1.3 Batasan Masalah

6

Agar penelitian ini lebih terarah dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka perlu adanya pembatasan masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah memecahkan masalah

berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dan kuadrat. 2. Hasil belajar yang dibahas hanya dalam aspek kognitif.

1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa antara penerapan model pembelajaran elaborasi dengan model pembelajaran urutan buku teks (BT) di kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pelajaran 2009/2010.”

1.5 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan model pembelajaran elaborasi dengan model urutan buku teks (BT) di kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pelajaran 2009/2010.

1.6 Manfaat Penelitian

7

1. Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti dalam mengajarkan mata pelajaran matematika dimasa yang akan datang. 2. Masukan bagi guru matematika sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah. 3. Meningkatkan kinerja dan kemampuan guru dalam menentukan metode dan model pembelajaran yang paling tepat. 4. Bagi siswa, untuk dapat belajar lebih aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. 5. Sebagai sumbangan pikiran bagi dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran matematika pada umumnya dan bahan masukan bagi peneliti pada khususnya.

1.7 Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika antara penerapan model pembelajaran elaborasi dengan pendekatan model urutan buku teks (BT) di kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pelajaran 2009/2010, dimana : Ho = Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan model pembelajaran elaborasi dengan model pembelajaran urutan buku teks (BT) di kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pelajaran 2009/2010.

8

Hi = Terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan model pembelajaran elaborasi dengan model pembelajaran urutan buku teks (BT) di kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Tahun Pelajaran 2009/2010.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

9

2.1

Pengertian Belajar Mengajar Pembelajaran meliputi dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Belajar

mengacu pada kegiatan siswa sedangkan mengajar mengacu pada kegiatan guru. Belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Pengertian belajar ini para ahli psikologi dan pendidikan

mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Selanjutnya beberapa defenisi belajar dapat dilihat pada uraian berikut, Djamarah (2008:13) : 1. James O Whittaker merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
2. Cronbach berpendapat bahwa belajar sebagai suatu aktifitas yang

ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. 3. Howard I. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. 4. Slameto merumuskan pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Walaupun terdapat perbedaan rumusan pengertian belajar, namun pada hakekatnya pendapat diatas mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu
8

10

belajar merupakan perubahan tingkah laku siswa setelah adanya interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tersebut dapat berupa pengetahuan, kemampuan, kebiasaan, keterampilan maupun sikap melalui hubungan timbal balik antara siswa dengan lingkungannya. Menurut Ahmadi (2005:39) “Mengajar menurut pengertian modern berarti aktifitas guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan

mendekatkannya kepada siswa atau anak didik sehingga terjadi proses belajar.” Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi belajar siswa. Pengertian diatas juga berlaku dalam proses belajar dan mengajar matematika, dimana penekanan pembelajaran matematika lebih diutamakan pada proses dengan tidak melupakan pencapaian tujuan. Proses ini lebih ditekankan pada proses belajar matematika seseorang. Tujuan yang paling utama dalam pembelajaran matematika adalah mengatur jalan pikiran untuk memecahkan masalah bukan hanya menguasai konsep dan perhitungan walaupun sebagian besar belajar matematika adalah belajar konsep, struktur, keterampilan menghitung dan menghubungkan konsep-konsep tersebut. 2.2 Strategi Pembelajaran Pembelajaran dalam rangka mencapai sejumlah kompetensi pada Sekolah Menengah Atas mensyaratkan penggunaan cara-cara belajar yang dapat mengkondisikan siswa aktif. Belajar tidak hanya mengembangkan

11

kemampuan-kemampuan yang bersifat teknis saja, namun juga kemampuankemampuan yang bersifat intelektual, personal, sosial dan sebagainya. Pada berbagai situasi proses pembelajaran seringkali digunakan berbagai istilah yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan cara, tahapan atau pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Istilah strategi, metode, atau teknik sering digunakan secara bergantian, walaupun pada dasarnya istilah-istilah tersebut memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Menurut Hamzah B. Uno (2009:3) “Strategi pembelajaran adalah caracara yang digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran.” Sedangkan menurut Depdiknas (2008:3) “Strategi (strategy) adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi pembelajaran adalah metoda, prosedur, teknik, langkah-langkah yang dipergunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan.” Strategi menunjukkan langkah-langkah kegiatan (sintaks) atau prosedur yang digunakan dalam menyajikan bahan ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Suatu strategi dipilih untuk melaksanakan metode-metode pembelajaran terpilih sehingga kondisi pembelajaran dapat kondusif dan menyenangkan. Dengan metode yang tepat, siswa akan merasa mudah dalam mengikuti pembelajaran. Strategi berfungsi mewujudkan keterlaksanaan

12

berbagai metoda terpilih untuk menyajikan bahan ajar dengan menggunakan media yang relevan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan pada diri siswa. Selanjutnya Depdiknas (2008:3) menjelaskan:
“Secara umum strategi pembelajaran meliputi tiga besaran

langkah kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. Kegiatan pendahuluan mencakup sub kegiatan informasi singkat tentang isi materi ajar yang akan diajarkan, informasi tentang relevansi isi materi ajar dengan pengalaman siswa, dan informasi tentang kompetensi yang ingin dicapai. Kegiatan inti mencakup sub kegiatan: uraian secara rinci tentang isi materi ajar dengan menggunakan metode dan media yang telah dipilih, memberikan contoh-contoh dari isi materi ajar, dan memberikan latihan. Kegiatan penutup mencakup sub kegiatan: pemberian tes (post test), pemberian umpan balik, dan tintak lanjut (penugasan untuk mendalami materi ajar yang telah disampaikan).”

Ciri-ciri strategi yang berpeluang bagi siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, antara lain: a. Setiap tahapan kegiatan memungkinkan penggunaan berbagai macam sumber belajar, metode dan media pembelajaran. b. Selama proses pembelajaran mencerminkan kegiatan belajar yang beragam, baik secara individu maupun kelompok.
c. Dalam kegiatan pembelajaran memungkinkan siswa belajar bekerjasama

dan saling tukar-menukar pengalaman.
d. Setiap tahapan kegiatan pembelajaran memberikan pengalaman belajar

(learning experiences) yang bermakna bagi siswa dalam bersikap. Utamanya kemauan dan keberanian untuk menjadi pembicara sekaligus

13

pendengar yang baik
e. Setiap tahapan kegiatan pembelajaran memungkinkan bagi siswa untuk

menumbuh-kembangkan kemampuannya dalam berpikir secara kritis, kreatif, inovatif, dan produktif
f. Setiap tahapan kegiatan pembelajaran dapat memotivasi siswa untuk

mengkaji lebih-jauh bahan-bahan yang telah dan sedang dipelajari
g. Dalam proses pembelajaran siswa memperoleh berbagai macam fasititas

belajar untuk melakukan kegiatan praktek atau latihan. h. Dalam proses pembelajaran siswa memperoleh kesempatan untuk berdialog dengan dirinya sendiri dan lingkungan sekitar (fisik dan sosial) secara bebas. Strategi pembelajaran biasa dikenal dengan metode pembelajaran. Menurut Charles M. Reigeluth dalam Hamzah B. Uno (2009:141) menyatakan bahwa ”Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu (1) strategi pengorganisasian (organizitional strategy), (2) strategi penyampaian (delivery strategy), (3) strategi pengelolaan (management strategy).” Strategi pengorganisasian adalah metode untuk mengorganisasikan isi bidang studi yang telah dipilih untuk pengajaran. Strategi penyampaian adalah metode untuk menyampaikan pengajaran kepada siswa atau untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari siswa. Sedangkan strategi pengelolaan adalah metode untuk menata interaksi antara siswa dan variabel

14

metode pengajaran lainnya, yakni variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pengajaran. 2.3 Model Pembelajaran Elaborasi Salah satu dari strategi pengorganisasian pembelajaran adalah strategi pembelajaran model elaborasi. Model Pembelajaran elaborasi adalah suatu pembelajaran yang membantu siswa dalam proses pengembangan makna informasi baru dengan penambahan rincian dan penemuan hubungan-hubungan. (Puspitasari,2003). Menurut Hamzah B. Uno (2009:142) bahwa : ”Ciri pengorganisasian pembelajaran model elaborasi adalah memulai pembelajaran dari penyajian isi pada tingkat umum bergerak ke tingkat rinci (urutan elaborasi).” Pengorganisasian urutan isi ajaran berdasarkan teori elaborasi, dimulai dengan disajikannya gambaran tentang hal yang paling umum, paling penting, dan paling sederhana dari isi pengetahuan yang akan disampaikan. Sajian pertama tersebut disebut epitome ( sari). Epitome ini berbeda dengan rangkuman, ia hanya mencakup sebagian kecil isi pelajaran yang paling umum dan paling penting. Pada epitome isi ajaran disajikan pada tingkat aplikasi, konkret, dan bermakna, sedangkan rangkuman umumnya menyajikan secara abstrak. Setelah penyajian epitome, isi ajaran disajikan lapis demi lapis yang dimulai dari lapis umum menuju lapis yang lebih rinci. Menata isi ajaran dalam lapisan-lapisan disebut mengelaborasi isi ajaran.

15

Selanjutnya Hamzah B.Uno (2009:143) bahwa ”Sedikitnya tujuh prinsip yang dikembangkan elaborasi, yaitu : dalam

terdapat

strategi pembelajaran model

1) Penyajian kerangka isi, yakni menunjukan bagian-bagian utama bidang

studi dan hubungan utama diantara bagian-bagian tersebut, 2) Elaborasi secara bertahap, yakni bagian-bagian yang tercakup dalam kerangka isi akan dielaborasi secara bertahap, 3) Bagian terpenting disajikan pertama kali, yaitu pada suatu tahap elaborasi apapun pertimbangan yang dipakai, bagian terpenting akan dielaborasi pertama kali, 4) Cakupan optimal elaborasi, maksudnya kedalaman dan keluasan tiap-tiap elaborasi akan dilakukan secara optimal, 5) Penyajian pensintesis secara bertahap, maksudnya pensintesis akan diberikan setelah setiap kali melakukan elaborasi, 6) Penyajian jenis pensintesis, artinya jenis pensintesis akan disesuaikan dengan tipe isi bidang studi, 7) Tahapan pemberian rangkuman, artinya rangkuman akan diberikan sebelum setiap kali menyajikan pensintesis. Reigeluth dalam Hamzah B. Uno (2009:144) menyarankan ” Dalam mengorganisasikan pengajaran elaborasi sebaiknya dilakukan dengan

16

memperhatikan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut ; (1) penyajian epitome, (2) elaborasi tahap pertama, (3) pemberian rangkuman dan sintesis antar bagian, (4) elaborasi tahap kedua, dan (5) rangkuman dan sintesis akhir.” Dalam praktik kegiatan pembelajaran matematika di SMA, pemberian epitome ditandai dengan penyajian secara umum yang merupakan informasi keseluruhan dari materi matematika yang menjadi materi pokok yang dipelajari pada semester satu siswa kelas X SMA. Dipaparkan pula prasyarat untuk mempelajari materi tersebut. Selain itu dikemukakan struktur isi materi dan struktur pendukung. Setelah penyajian epitome, barulah dilanjutkan dengan elaborasi tahap satu, kemudian dilanjutkan dengan elaborasi tahap kedua dan seterusnya. Selanjutnya Reigeluth (1983) dalam Hamzah B.Uno (2009:145) mengambarkan langkah-langkah pembelajaran berdasarkan model elaborasi seperti bagan berikut ini.
Epitome

Gambar 1. Prosedur Model Elaborasi

Menyajikan epitome - Strategi motivasional - Analogi - Prasyarat belajar - Struktur isi - Struktur pendukung

Elaborasi Tahap Pertama
Menyajikan elaborasi salah satu bagian dalam epitome Menyajikan rangkuman dan sintesis Menyajikan elaborasi bagian yang lain dalam epitome

Elaborasi Tahap Kedua

17

Menyajikan elaborasi bagian yang ada dalam elaborasi tahap pertama

Menyajikan rangkuman dan sintesis

Dan seterusnya

2.4 Model Pembelajaran Urutan Buku Teks (BT) Salah satu starategi pembelajaran yang sering dilakukan guru dalam menyampaikan pelajaran adalah model urutan buku teks (BT). Menurut Hamzah B. Uno (2009:147) bahwa:”Buku teks merupakan penerapan dan pengembangan dari instructional design yang lebih menekankan pada prinsipprinsip yang diadopsi dari teori dan temuan penelitian tentang belajar.” Orientasi buku teks adalah untuk mengoptimalkan kegiatan belajar dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu buku teks harus dapat menyajikan bahan pembelajaran yang bermakna bagi siswa sebagai subjek yang belajar. Dalam kaitan ini Association of Educational

Communications andf Technology (AECT) dalam defenisi teknologi pendidikan mempertegas bahwa pemahaman terhadap suatu informasi dapat terjadi apabila bahan yang dipelajari bermakna bagi pembacanya. (Hamzah B. Uno, 2009:147).

18

Selanjutnya Plomp dan Ely dalam Hamzah B. Uno (2009:148) menjelaskan bahwa: ”Untuk membuat isi pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa diperlukan upaya untuk mengorganisasi isi pembelajaran sedekat mungkin dengan cara atau strategi pemrosesan informasi yang dilakukan siswa. Hal ini dimaksudkan agar terjadinya proses asimilasi pada struktur kognitif siswa yang hanya membutuhkan mental translation sekecil mungkin.”

Mengacu pada uraian diatas, buku teks matematika yang digunakan di SMA selama ini terdiri dari dua sumber, yaitu (1) buku teks yang secara resmi dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan (2) buku teks yang dikeluarkan penerbit. Kedua sumber pengadaan buku tersebut memiliki perbedaan dilihat dari segi isi dan penataannya. Mengingat terdapatnya perbedaan kedua sumber buku teks tersebut, maka yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah buku teks yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional karena asumsinya bahwa buku teks tersebut secara umum dimiliki oleh sekolah dalam hal ini di SMA. Dalam upaya menghasilkan sajian buku teks yang efektif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran, hal yang tidak boleh diabaikan adalah menjadikan buku teks tersebut menjadi prasyarat bagi siswa untuk belajar berikutnya atau menjadi pengetahuan yang baru bagi siswa. Dengan memperhatikan penataan buku teks matematika SMA yang dirancang sesuai dengan karakteristik diatas, dapat berpengaruh pada hasil belajar siswa. Untuk melihat perbedaan strategi pengorganisasian pembelajaran berdasarkan model

19

elaborasi dengan urutan buku teks (BT) dan pengaruhnya terhadap hasil belajar dalam mata pelajaran matematika di SMA dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Perbedaan Strategi Pembelajaran model Elaborasi dan Model Urutan Buku teks (BT)

Strategi Pembelajaran Model Elaborasi (EL) 1. Penyajian kerangka isi (epitome) 2. Penetapan prasyarat belajar 3. elaborasi materi tahap pertama 4. Pemberian rangkuman 5. Elaborasi materi ajar tahap kedua 6. Memberikan rangkuman
7. Pemberian

Strategi Pembelajaran Model Urutan Buku Teks (BT) 1. Penyajian topik ajaran
2. Pemilahan

materi dalam sub topik

ajar

3. Uraian materi ajar 4. Penyajian catatan penting dari materi ajar pada setiap subtopik 5. Penyajian soal
6. Pemberian

pensintesis secara keseluruhan dalam topik bahasan

contoh-contoh

soal latihan berdasarkan topik bahasan

(Sumber: Model Pembelajaran. Hamzah B. Uno. 2009:150)
2.5 Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan suatu hal yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang digunkan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi pelajaran. Menurut Nana Sudjana (1995:22 ) mengemukakan bahwa : “Hasil belajar adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia memperoleh pengalaman belajarnya.” Sementara itu Gagne dan Briggs dalam Yunita (2008:14) mengemukakan bahwa:

20

“Hasil belajar yang berkaitan dengan lima kategori tersebut adalah : (1) ketrampilan intelektual adalah kecakapan yang berkenaan dengan pengetahuan prosedural yang terdiri atas deskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi kaidah serta prinsip, (2) strategi kognitif adalah kemampuan untuk memecahkan masalah–masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing – masing individu dalam memperlihatkan, mengingat dan berfikir, (3) informasi verbal adalah kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi –informasi yang relevan, (4) ketrampilan motorik adalah kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan–gerakan yang berhubungan dengan otot, (5) sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan untuk menerima atau menolak berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.” Sedangkan Bloom (1976:201-207) dalam Yunita (2008:14) menyatakan bahwa: ”Hasil belajar dibagi menjadi tiga kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.” Kawasan kognitif berkenaan dengan ingatan atau pengetahuan dan kemampuan intelektual serta ketrampilan- ketrampilan. Kawasan afektif menggambarkan sikap-sikap, minat dan nilai serta pengembangan pengertian atau pengetahuan dan penyesuaian diri yang memadai. Kawasan psikomotor adalah kemampuan–kemampuan menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak. Kawasan kognitif dibagi atas enam macam kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang disusun secara hirarkis dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks, yaitu (1) pengetahuan adalah kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari, (2) pemahaman adalah kemampuan menangkap makna atau arti suatu hal, (3) penerapan adalah kemampuan mempergunakan hal – hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi–situasi baru dan nyata, (4) analisis adalah kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian–bagian sehingga struktur organisasinya dapat

21

dipahami, (5) sintesis adalah kemampuan untuk memadukan bagian–bagian menjadi satu keseluruhan yang berarti, (6) penilaian adalah kemampuan memberi harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau kriteria ekstern atapun yang ditetapkan lebih dahulu. Berdasarkan pandangan-pandangan dari para ahli tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah hasil dari seorang siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika yang diukur dari kemampuan siswa tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika. 2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan kegiatan berpikir yang menjadi dasar bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan pembelajaran Matematika adalah agar siswa berlatih berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif. Dengan demikian proses pembelajaran matematika harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartismatematikasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup untuk melakukan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Secara grafis pemikiran yang dilakukan oleh peneliti dapat digambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut :

Kelompok Eksperimen I

Penerapan Model Pembelajaran Elaborasi

Hasil Belajar

22

Siswa

Analisis Statistik Penerapan Model Pembelajaran Urutan Buku Teks

Kesimpulan

Kelompok Eksperimen II

Hasil Belajar

Diagram 1: Diagram kerangka berfikir Berdasarkan diagram diatas, maka rancangan penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II. Pada kelas eksperimen I diterapkan model pembelajaran Elaborasi dan pada kelas

eksperimen II diterapkan pendekatan model urutan buku teks (BT). Pada akhir tindakan sama-sama dilakukan tes untuk melihat perbedaan hasil belajarnya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Sesuai dengan masalah penelitian, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimen. Suharsimi Arikunto (2008:26) menyatakan bahwa “Penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang akibat dari adanya suatu treatment atau perlakuan.” Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis yang dilandasi asumsi yang kuat akan adanya hubungan sebab akibat antara dua variable.

23

Rancangan penelitian eksperimen ini menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II yang kedua kelas diterapkan perlakukan yang berbeda. Pada kelas eksperimen I diterapkan model pembelajaran elaborasi, dan pada kelas eksperimen II diterapkan model pembelajaran urutan buku teks (BT). Tabel 3 : Rancangan Penelitian Group Eksperimen I Eksperimen II Pretest Treatment X1 X2 Post test T1 T2

X1 = Kelas dengan model pembelajaran elaborasi X2 = Kelas dengan model pembelajaran urutan buku teks (BT) T1 = Tes akhir pada kelas eksperimen I T2 = Tes akhir pada kelas eksperimen II
21

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang merupakan sumber data dan memiliki karakteristik tertentu di dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Air Hangat Timur yang terdiri dari tiga kelas yang terdaftar pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Lebih

24

lengkapnya distribusi siswa setiap kelas dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini. Tabel 4: Jumlah siswa kelas X SMA Negeri 2 Air Hangat Tahun Pelajaran 2009/2010.

Kelas XA XB XC

Jumlah Siswa 28 26 26

Jumlah 80 (Sumber : Tata Usaha SMA Negeri 1 Air Hangat Timur) 3.2.2 Sampel Sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan nilai hasil ujian matematika mid semester

siswa kelas X, kemudian nilai tersebut dikelompokan menurut kelas masing-masing, setelah itu dihitung nilai rata-rata dan standar deviasinya. 2. Melakukan uji homogenitas varians. Uji Homogenitas varians ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi mempunyai varians

25

yang homogen. Uji statistik yang digunakan adalah uji Bartlett. Harga-harga yang digunakan untuk uji Bartlett adalah : Tabel 5: Harga-harga untuk uji Bartlett Sampel dk ke 1 n1 – 1 1 K Jumlah n1 – 1 nk - 1 ∑ (n11) 1/dk 1/(n1 – 1) 1/(n1 – 1) 1/(nk – 1) ∑ (n1-1) S12 S12 S12 Sk2 Log S12 Log S12 Log S12 Log Sk2 (dk)Log S12 (n1 – 1)Log S12 (n1 – 1)Log S12 (n1 – 1)Log Sk2 ∑(n1 – 1)Log Sk2

Dari daftar ini dihitung harga-harga yang diperlukan, yakni : a. Varians gabungan dari semua sampel : S2 = (1/n1 – 1) S12/∑(nk – 1) b. Harga satuan B dengan rumus : B = (log S22) ∑(n1 – 1) c. Untuk uji Bartlett digunakan statistic Chi-Kuadrat :

χ 2 = (In 10)(B-∑(n1-1) log S12).
Dengan In 10 = 2,3026 disebut logaritma asli dengan bilangan 10. Dengan taraf α = 0,05 ditolak hipotesis jika χ 2 > χ 2(1-α) (k-1), dimana χ 2(1-α)(k-1) didapat dari daftar distribusi chikuadrat dengan peluang (1-α) dan dk = (k-1). (Sujana , 1992).

26

3. Setelah dilakukan pengujian homogenitas, dilakukan pemilihan sampel secara acak terhadap populasi dengan menggunakan undian.

3.3 Variabel Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto (2002:96) “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi pokok perhatian pada suatu penelitian.” Pada penelitian ini diambil variable sebagai berikut :
a. b.

Variabel bebas : Perlakuan yang diberikan kepada siswa kelas eksperimen Variabel terikat : Hasil belajar matematika siswa yang diperoleh melalui hasil tes akhir.

3.4 Jenis dan Sumber data Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh peneliti untuk tujuan khusus. Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang luar peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu adalah data yang asli. Dalam penelitian ini data yang dibutuhkan adalah tes akhir hasil belajar, sedangkan sumber data adalah siswa-siswa yang menjadi sampel.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

27

3.5.1 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil tes kepada kedua sampel. Instrumen penelitian pada aspek kognitif berupa tes materi pelajaran yang diberikan selama perlakukan berlangsung. Untuk mendapatkan tes yang benar-benar valid, reabilitas serta memperhatikan taraf kesukaran dan daya beda soal maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. Membuat kisi-kisi soal tes
b. Menyusun soal tes sesuai dengan kisi-kisi soal tes.

c. Melakukan uji coba soal tes yang bertujuan untuk merevisi soal tes. Soal diujicobakan kepada siswa kelas X karena kelas ini rata-rata nilai ulangan hariannya berdistribusi normal dengan kelas sampel. Hasil ujicoba soal dianalisis mempergunakan prosedur statistik. 3.5.2 Validitas Soal Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Untuk mendapatkan tes yang valid maka penyusunan soal tes berdasarkan pada materi yang telah ditetapkan kurikulum.

28

3.5.3

Reliabilitas Soal Reliabilitas soal merupakan ketetapan suatu tes apabila tes dicobakan pada objek yang sama. Untuk menentukan reliabilitas suatu tes dipakai rumus Kuder Richerdson (K-R. 21) yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2009:103), yaitu: r11 = Dengan:
M=

1-

∑x N

dan

S2 =

N∑x2 – (x2) N (n – 1)

r11 n M N S2

: Reliabilitas tes secara keseluruhan : Jumlah butir soal : rata-rata skor tes : Jumlah pengikut tes : Varians total

Kriteria reliabilitas tes dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 5. Tabel 6: Klasifikasi indeks reliabelitas soal No 1 2 3 4 5 Indeks Reliabelitas 0,00 < r11 ≤0,20 0,20 < r11 ≤0,40 0,40 < r11 ≤0,60 0,60 < r11 ≤0,80 0,80 < r11 ≤1,00 Klasifikasi Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

29

3.5.4

Daya Pembeda Daya Beda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Rumus yang digunakan untuk

menghitung indeks daya beda adalah sebagai berikut: B A BB − = PA − PB JA JB

D=

( Suharsimi Arikunto, 2009: 213)

D : Daya beda BA : Jumlah kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Jumlah kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kelompok atas JB : Jumlah peserta kelompok bawah PA = BA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar. JA BB = Proporsi peserta kelompok bawah menjawab benar. JB

PB =

Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal: Tabel 7: Klasifikasi daya beda soal No 1 2 3 Daya beda soal 0,000 < D ≤0,200 0,200 < D ≤0,400 0,400 < D ≤0,700 Kriteria Jelek Cukup Baik

30

4

0,700 < D ≤1,000

Baik sekali

3.5.5

Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran, adalah: B Js

P=

(Suharsimi Arikunto, 2009: 208)

Dengan: P B Js : Indeks kesukaran : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar : Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut: Tabel 8: Klasifikasi Indeks kesukaran No 1 2 3 Indeks Kesukaran 0,00 ≤ p ≤ 0,30 0,30 ≤ p ≤ 0,70 0,70 ≤ p ≤ 1,00 Kriteria Sukar Sedang Mudah

3.6 Teknik Analisa data

31

Untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik. Untuk melakukan uji statistik maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi kedua kelompok.

3.6.1 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal. Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan uji Lillieford dengan langkah sebagai berikut :
1.

Data X1, X2, X3, ... Xn yang diperoleh dari data yang terkecil

hingga data yang terbesar.
2.

Data X1, X2, X3, … Xn dijadikan bilangan Z1, Z2, Z3 ... Xn

dengan rumus : Zi = Xi – X S Keterangan : Xi = Skor yang diperoleh siswa ke-i X = Skor rata-rata S = Simpangan baku

32

3. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (z < Zi)
4. Dengan menggunakan propersi Z1, Z2, Z3 ... Xn yang lebih kecil atau

sama dengan Zi, jika propersi ini dinyatakan dengan S (Zi) : banyak Z1, Z2, Z3 yang ≤ Zi n 5. 6. Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian harga mutlaknya. Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut yang disebut Lo.
7.

S (Zi) =

Membandingkan Lo dengan nilai kritis A yang terdapat pada taraf nyata α = 0,10 kriteria terima yaitu hipotesis tersebut normal jika Lo < Lt, lain dari itu ditolak. (Sujana , 1992 : 467).

3.6.2 Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F. Uji ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mencari varians masing-masing data kemudian dihitung harga F dengan rumus : F = Varians terbesar

33

Varians terkecil Keterangan : F = Varians kelompok data S12 = Varians hasil belajar kelas eksperimen I S22 = Varians hasil belajar kelas eksperimen II 2. Jika harga sudah didapat maka dibandingkan dengan F tersebut dengan harga F yang terdapat dalam daftar distribusi F dengan taraf signifikan 90% dan dk pembilang = n1–1 dan dk penyebut = n2–1. Bila F yang didapat dari perhitungan lebih kecil dari harga F pada tabel maka kedua kelompok data mempunyai varians yang homogen dan sebaliknya. (Sujana, 1992). 3.6.3 Uji Hipotesis Untuk melihat apakah terdapat atau tidaknya perbedaan hasil belajar matematika antara penerapan model pembelajaran elaborasi dengan model pembelajaran urutan buku teks (BT), maka dilakukan pengujian hipotesis. Untuk uji hipotesis ini digunakan uji-t dengan rumus: (Sujana. 1992:239) X1 – X2 S +

Dengan : S2=

34

( (n1 – 1) S12 + (n2 – 1) S22 n 1 + n2 - 2

Keterangan : X1 X2 S n1 dk n2 S2 = Nilai rata- rata kelas eksperimen I = Nilai rata- rata kelas eksperimen II = Standar deviasi gabungan = Jumlah siswa kelas eksperimen I = Derajat kebebasan = Jumlah siswa kelas eksperimen II = Varians gabungan Harga t hitung dibanding dengan ttabel, yang terdapat dalam tabel distrbusi t. Kriteria pengujian hipotesis adalah terima Ho jika t’ ≥ t (1-α) dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan peluang (1 – α). Untuk harga-harga lainnya Ho ditolak.

3.7 Prosedur Penelitian Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian.

35

3.7.1

Tahap Persiapan a. Menentukan tempat penelitian b. Menentukan populasi dan sampel c. Memilih dua kelas sampel secara acak d. Menetapkan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II

3.7.2 Tahap Pelaksanaan a. Persiapan pembelajaran 1) Menentukan materi pelajaran 2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 3) Membuat bahan ajar berupa ringkasan materi pelajaran 4) Menyusun Lembar Kerja Siswa dan tugas latihan 5) Mempersiapkan tes akhir b. Kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen I menggunakan strategi pembelajaran model elaborasi dan kelas eksperimen II menggunakan starategi pembelajaran model urutan buku teks (BT).

3.7.3 Tahap Penyelesaian

36

a. Mengolah data dari kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen I maupun kelas eksperimen II. b. Menarik kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai teknik analisa data.

3.8 Langkah-langkah Pembelajaran Model Elaborasi dan Urutan Buku Teks 3.8.1 Langkah-Langkah Pembelajaran Model Elaborasi a. Penyajian Epitome (kerangka isi pelajaran) Guru menyajikan struktur isi pelajaran berupa gambaran umum yang paling pokok, paling penting dan paling dapat dimengerti tentang isi pelajaran yang akan disampaikan. Pemberian epitome ini ditandai dengan penyajian secara umum yang merupakan informasi keseluruhan dari materi matematika yang menjadi materi pokok yang akan dipelajari pada semester genap bagi siswa kelas X SMA. Dipaparkan pula prasyarat untuk mempelajari materi tersebut. Guru juga mengemukakan struktur isi materi dan struktur pendukung. b. Elaborasi Tahap Pertama Disajikan uraian-uraian tiap bagian yang tersaji pada epitome (kerangka isi pelajaran). Dimulai dari bagian yang terpenting menuju bagian lain secara berurutan dan lebih rinci. Menata materi ajar dalam lapisanlapisan disebut mengelaborasi isi ajaran. Pada lapisan pertama guru menguraikan bagian materi ajar yang tersebut pada epitome. Juga

37

disajikan pula uraian dari sub bagian materi tanpa rincian yang mendalam. Demikian seterusnya sampai materi ajaran bergerak kelapisan berikut, yaitu menguraikan secara rinci sub-sub bagian materi ajar. c. Pemberian rangkuman dan sintesis antar bagian Setelah elaborasi tahap pertama selesai, selanjutnya diberikan rangkuman dari seluruh bagian yang dielaborasikan, kemudian pemberian sintesis yang menunjukan hubungan antarbagian yang telah dielaborasikan dan antarbagian dengan epitome. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman disamping berfungsi memberikan gambaran konstektual antara satu bagian dengan bagian yang lain. d. Elaborasi tahap kedua Selanjutnya elaborasi tahap kedua, elaborasi ini lebih merinci sub-sub bagian pada elaborasi tahap pertama sesuai kedalaman yang ditentukan oleh tujuan pengajaran. Pada akhir elaborasi tahap kedua juga diikuti dengan pemberian rangkuman dan sintesis. e. Rangkuman dan sintesis akhir langkah terakhir adalah rangkuman dan sisntesis akhir. Pada tahap ini disajikan sintesis dan rangkuman keseluruhan isi dalam struktur pelajaran yang diberikan. 3.8.2 Langkah-langkah pembelajaran model urutan buku teks (BT)

38

a. Penyajian Topik ajaran Langkah pertama guru menyajikan topik pelajaran yang akan dipelajari siswa. b. Pemilahan materi ajar dalam subtopik Selanjutnya materi ajar dipilah dalam subtopik dan dijelaskan isi materi dalam subtopik tersebut. c. Uraian materi ajar Guru menguraikan materi ajar sesuai subtopik yang sedang dipelajari dan siswa memperhatikan uraian materi yang disampaikan guru.
d. Penyajian catatan penting dari materi ajar pada setiap subtopik

Guru menyampaikan catatan penting dari materi ajar pada setiap topik. e. Penyajian contoh-contoh soal Setelah materi ajar diuraikan dan dipahami siswa maka guru menyajikan beberapa contoh soal. Pada langkah ini guru membuat contoh soal dan menunjukan cara menyelesaikan soal tersebut. Pada contoh soal kedua, cara penyelesaian soal bersama-sama dengan siswa. Dan contoh soal ketiga guru menunjuk seorang siswa untuk menyelesaikan soal di depan kelas.
f. Pemberian soal latihan berdasarkan topik bahasan.

39

Pada akhir langkah pembelajaran ini guru memberikan soal latihan berdasarkan topik bahasan untuk dikerjakan oleh siswa. Hasil pekerjaan siswa dikoreksi bersama-sama dan diberi penilaian.

3.9 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Air Hangat Timur Kabupaten Kerinci. Waktu Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei sampai dengan Juni 2010, pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010. DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Depdiknas. 2008. Pengembangan dan Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Depdiknas Hamzah B. Uno. 2009. Model Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Puspitasari. 2003. Strategi-Strategi Belajar. Jakarta : Dirjendikdasmen Depdiknas

Suharsimi Arikunto,. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Bumi Aksara

________________,. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Rajawali

40

Syaiful Bahri Djamarah. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Yunita Dwi. 2008. Efektifitas Pembelajaran Matematika Menggunakan Media Gambar dengan Bantuan Power Point Ditinjau dari Aktifitas Belajar Siswa. Surakarta : UMS

S. Nasution. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Sudjana. 1996. Metode Statistik. Bandung : Tarsito

36

41

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times