You are on page 1of 13

Penindasan Orang Palestina di Dunia Arab : Mengapa Muslim Diam Saja ?

Oleh: Khaled Abu Toameh


20 Juli, 2010

ernahkah Dewan Keamanan PBB mengadakan rapat untuk mengecam sebuah pemerintah Arab karena menindas warga Palestina?

Mengapa berbagai organisasi dan orang di seluruh dunia yang menyebut diri mereka pro-Palestina DIAM SAJA ketika Yordania mencabut kewarganegaraan ribuan orang Palestina? [Lihat artikel dibawah : Human Rights Watch mengatakan bahwa 2.700 orang Yordania asal 'Palestina' tiba2 dicabut kewarganegaraan Yordania mereka dan kini terkatung2 karena tidak lagi berhak memiliki tanah, rumah, bantuan kesehatan, sekolah atau apapun.]

CONTOH LAIN LAGI : nasib keluarga generasi ke-empat pengungsi Palestina di Lebanon (foto atas) yang hidup diantara reruntuhan kamp pengungsi Shatila di pinggir Beirut, yang sama sekali tidak dipedulikan oleh pemerintah Lebanon http://www.time.com/time/nation/article ... 51,00.html Sementara itu sesama saudara Arab mereka tinggal di gedung2 mewah di Shomron, Yerusalem Utara! Lihat foto2 dibawah ini!!

http://shilohmusings.blogspot.com/2007/ ... art-1.html [Jangankan orang Indonesia yang tertimpa musibah tsunami, bahkan antar sesama Arab saja enggan saling menolong.] Nasib orang Palestina yang hidup di negara Arab pada umumnya, dan Lebanon pada khususnya, tampak jelas tidak dipedulikan oleh media. Mengapa media membutakan mata pada fakta bahwa Mesir, Syria, Lebanon, Yordania, dan banyak negara Arab lainnya terus-menerus menerapkan larangan bepergian secara ketat terhadap warga Palestina? Dan mana yaahhh ... organisasi dan orang pro-Palestina tatkala Lebanon tidak juga memberikan hak azasi, termasuk lapangan kerja, keamanan sosial, perawatan medis, pada warga Palestina?

Apakah mereka pura tidak tahu akan masalah ini? Mungkin saja karena kasus ini tidak pernah dibahas di media dan pengamat utama Timur Tengah. Berita tentang warga Palestina yang tidak ada hubungannya dengan Israel sama sekali tidak menarik perhatian massa, sehingga tidak pernah tercantum di halaman depan koran. Penghancuran gedung liar milik warga Arab di Yerusalem tentunya lebih menarik bagi media daripada membahas berita tentang naasnya nasib ratusan ribu warga Palestina di Lebanon atau Yordania. Warga Palestina di Lebanon tidak hanya tak punya hak untuk memiliki kekayaan mereka sendiri, tapi juga dianggap tidak layak untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Selain itu, mereka juga dilarang bekerja di berbagai lapangan pekerjaan. Bayangkan bagaimana reaksi dunia internasional jika Israel besok mengeluarkan Undang-Undang yang melarang warga Arab bekerja sebagai supir taxi, jurnalis, dokter, koki, pelayan restoran, insinyur, dan pengacara di Israel? Atau bayangkan andaikata Menteri Pendidikan Israel mengeluarkan peraturan yang melarang warga Arab belajar di perguruan tinggi dan sekolah Israel. Tapi siapa bilang Pemerintah Lebanon tidak melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan? Malah sebenarnya, warga Palestina harus bersyukur pada Pemerintah Lebanon. Hal ini karena sejak tahun 2005, hukum Lebanon melarang warga Palestina bekerja di 72 jenis profesi dan sekarang daftar larangan hanya bagi 50 profesi saja. Meskipun begitu, warga Palestina tetap saja tidak boleh bekerja sebagai dokter, wartawan, farmasis, atau pengacara di Lebanon. Ironisnya, lebih mudah bagi seorang Palestina untuk mendapatkan kewarganegaraan AS dan Kanada daripada mendapatkan passport dari sebuah negara Arab. Di waktu lampau, warga Palestina yang hidup di Tepi Barat dan Jalur Gaza bisa otomatis mendapatkan kewarganegaraan Israel jika mereka menikah dengan warga Israel, atau jika mereka dipersatukan kembali dengan keluarga mereka yg hidup dan menjadi warga negara Israel.

Para politisi Lebanon sekarang lagi berdebat tentang UU baru tentang apakah akan memberikan hak dasar sipil bagi warga Palestina, untuk pertama kalinya dalam 62 tahun. UU baru termasuk hak untuk memiliki kekayaan, pembayaran keamanan sosial dan juga perawatan medis. Banyak masyarakat Lebanon yang menentang usulan UU ini karena takut hal ini akan membuka jalan untuk integrasi masyarakat Palestina ke dalam masyarakat Lebanon dan ini akhirnya akan jadi beban ekonomi. Perdebatan sengit terjadi di Parlemen Lebanon untuk menunda pemungutan suara sampai bulan depan. Nadim Khoury, direktur Human Rights Watch di Beirut, berkata, Lebanon telah membuat miskin para pengungsi Palestina terlalu lama. Parlemen seharusnya menggunakan kesempatan ini untuk mengakhiri diskriminasi terhadap warga Palestina. Rami Khouri, wartawan terkemuka Lebanon, menulis di koran The Daily Start bahwa semua negara Arab menindas jutaan pekerja asing Arab, Asia, dan Afrika, yang diperlakukan tak lebih daripada barang yang bisa dibuang kapan saja... Perlakuan semena-mena, kondisi kehidupan yang miskin, tiadanya pekerjaan keamanan sosial dan hak pemilikan yang memadai bagi warga Palestina di Lebanon merupakan penindasan moral yang berlangsung terus-menerus. Wartawan asing seringkali beralasan bahwa mereka tidak melaporkan penderitaan warga Palestina di dunia Arab karena khawatir akan keamanan mereka dan ini bisa membuat mereka sukar mendapatkan visa untuk masuk negara Arab. Tapi ini hanyalah alasan lemah dan tak dapat diterima karena faktanya kebanyakan wartawan Barat tetap bisa menulis berita apapun di rumah atau kantor mereka yang aman di New York, London, atau Paris. Bukankah mereka juga berada di tempat itu saat mereka menulis keadaan di Tepi Barat dan Jalur Gaza?

----------------------------------------------------------

http://errwhateverz.com/2010/03/26/pale ... -own-good/

ccording to Human Rights Watch over 2,700 Jordanians of Palestinian origin have had their Jordanian citizenship revoked. Imagine waking up one morning and suddenly you dont belong anywhere anymore. Sounds crazy, but thats how it went down. The report and ensuing stories have caused a stir and elicited official denials in Jordan. This is a touchy subject as relationships between Jordanians of Palestinian origin and the East Bank Jordanians (also called Trans-Jordanians i.e. the original inhabitants of what is now Jordan) hasnt really been the same since Black September, when a bunch of revolutionary Palestinian upstarts (ie the PLO under Yasser Arafat) attempted to overthrow the Jordanian monarchy in 1970. Ahhh, the 70s

http://scottthong.wordpress.com/2010/06 ... palestine/ Anyway, according to Jordans nationality law, all Palestinians residing in the West Bank in 1949 or thereafter were to receive Jordanian citizenship. This has meant that all Palestinians fleeing the 1948 war were given Jordanian passports with the exception of those from Gaza (estimated at 120,000) that arrived later, in 1967. The influx of Palestinians into Jordan lead to great demographic changes, with the percentage of Jordanians of Palestinian origin estimated anywhere between 50 to 70 percent today. In everyday life people are able to distinguish themselves by their last names or accents , and so questioning and re-questioning the national identity issues in every social interaction. Since Jordan rescinded control over the West Bank in 1988 to the PLO, there have been reports of random revoking of citizenship from Jordanians of Palestinian origin.

This has been based on a vague interpretation of the severance agreement and unwritten conditions that state that Jordanians of Palestinian origin must first renew their West Bank residence permit (issued and renewed by Israel) so as to maintain their Jordanian nationality. This apparently also applies to Jordanians of Palestinian origin that have never been to the West Bank nor had a residence permit there to renew in the first place! To the average person or family this means, among other things: 1. Denied access to free primary education (unless it is provided by UNRWA) 2. Higher non-national university fees. 3. More expensive health care services. 4. Denial to work in an organised profession such as law, pharmacy and engineering (as you must be a Jordanian to belong to an association so that you can practice) 5. Restricted ability to drive as renewing a drivers license is at a higher cost and shorter duration. 6. Prohibited or restricted travel. ------------------------------

Stateless Again : Palestinian-Origin Jordanians Deprived of their Nationality February 1, 2010; This 60-page report details the arbitrary manner, with no clear basis in law, in which Jordan deprives its citizens who were originally from the West Bank of their nationality, thereby denying them basic citizenship rights such as access to education and health care. http://www.hrw.org/en/reports/2010/02/0 ... ss-again-0

Sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/penindasan-orang-palestina-didunia-arab-t39613/ Diterjemahkan dari: http://www.hudson-ny.org/1422/palestinians-in-arab-world

SURAT UNTUK GAZA


Yang membuat saya berbeda adalah bahwa saya tidak hanya mengasihi orang Arab, tetapi saya juga mengasihi orang Yahudi. Oleh *Nonie Darwish

aru-baru ini saya menerima sebuah surat elektronik (email) yang isinya menuduh saya membenci orang Arab dan ayah saya. Surat ini adalah tuduhan yang lazim dilakukan oleh media Arab terhadap pandangan-pandangan saya berkenaan dengan konflik Arab-Israel. Oleh karena pada umumnya orang Arab tidak mempunyai kesempatan untuk membaca buku saya, Now They Call Me Infidel, Why I Renounced Jihad for America, Israel and the War on Terror, yang menjelaskan posisi saya secara terperinci, maka saya akan menjawab surat elektronik tersebut melalui artikel ini. Pertama-tama, di bawah ini adalah terjemahan dari surat elektronik dalam bahasa Arab tanpa real ID dari si pengirim, yang saya terima. Salam bagimu, Dengan segala rasa hormat kami kepada ayah anda, kami berdoa agar Allah memberkatinya dengan kemudahan masuk surga yang merupakan harapan semua orang setelah menjalani hidup yang singkat, tidak bermakna dan angkuh ini. Saya ingin bertanya pada anda, apakah ayah anda telah menjadi musuh anda setelah ia wafat? Kami di kota Gaza bangga terhadap ayah anda dan saya tinggal di jalan yang dinamai Shahid Moustafa Hafez yang juga ,menjadi nama sebuah sekolah. Kami tidak pernah melupakan pengorbanannya, jadi bagaimana anda dapat menjadi musuh dari orang-orang Palestina yang teraniaya, dan yang masih menderita di tangan para Zionis Arab? Saya mohon kepada Allah agar anda diberi kesehatan dan kekuatan. Saya menantikan jawaban anda dan terima-kasih sebelumnya. Inilah jawaban saya: Penduduk Gaza yang terkasih, Surat elektronik (email) anda sangat menyentuh saya walaupun tuduhan anda itu salah. Saya bukanlah musuh orang Arab dan saya yakinkan anda bahwa saya mengasihi budaya asal dan bangsa saya (Arab). Yang membedakan saya adalah saya tidak hanya mengasihi orang Arab (bangsa saya sendiri), tapi saya juga mengasihi orang Yahudi. Saya mengatakan isi hati nurani saya. Saya menghormati hak mereka untuk hidup dalam damai di negeri mereka yang sangat kecil, Israel. Saya mengerti

bagaimana mengasihi baik orang Yahudi maupun orang Arab dapat membingungkan dan tidak dapat dipercaya oleh banyak orang Arab. Indoktrinasi yang tidak alamiah Kita orang Arab telah menderita oleh karena indoktrinasi yang terus-menerus dan tidak alamiah mengenai supremasi Islam dan kebencian terhadap Yahudi selama lebih dari 1400 tahun. Maka hal itu telah terpatri dalam pikiran orang Arab, bahwa orang Arab tidak mungkin untuk mengasihi orang Arab dan sekaligus juga mengasihi orang Yahudi pada saat yang sama serta berharap agar kedua bangsa itu mengalami hal yang baik. Kebudayaan kita selama berabad-abad telah menghilangkan dari kita rasa kasih terhadap semua kemanusiaan dan memandang semua manusia setara, melalui indoktrinasi religius yang intens yang menghasilkan pengasingan diri sendiri dan nonintegrasi dengan budaya-budaya lain. Isolasi dan jihad ini terhadap orang nonMuslim telah menjadi semakin sulit untuk dihadapi. Orang Muslim di berbagai tempat berusaha dengan keras untuk menyelamatkan muka mereka, mereformasi citra Islam dan menyangkali yang tidak dapat disangkali. Tapi mereka juga ingin mendapatkan potongan kue itu. Sementara mereka mengatakan pada dunia bahwa Islam adalah agama damai, mereka masih ingin meneruskan jihad terhadap negara-negara non-Muslim. Sementara seorang pemimpin Islam mengatakan, mari kita membunuh semua orang Yahudi dan mengambil-alih Roma, yang lainnya mengatakan kepada media Barat bahwa Islam adalah agama damai dan kami sangat terhina oleh retorika anti Islam. Untuk memainkan permainan yang memuakkan ini, kebudayaan Muslim harus menjalani kehidupan ganda yang disfungsionil dimana semua orang tertipu, termasuk orang Muslim sendiri. Penindas yang sebenarnya Maka untuk melakukan jihad seperti yang dilakukan oleh Bin Laden, Ahmadinejad, Hamas, Persaudaraan Muslim, Assad, Nasser, para jihadis Saudi dan lain-lain, dan yang diperintahkan oleh Syariah, maka orang Muslim mendapatkan kesulitan untuk bersikap jujur. Jadi, orang Muslim harus mengklaim diri sebagai korban agar dapat membenarkan jihad. Seluruh dunia Muslim sedang memanfaatkan bangsa anda, orang Arab di Tepi Barat dan Gaza, untuk membenarkan jihad mereka, bukan hanya terhadap Israel, tapi juga semua negara non-Muslim. Itu meliputi Iran, yang mendukung Hamas dan Hezbollah. Bangsa anda di Gaza mestinya telah menyadari permainan ini sejak dahulu, tetapi anda menolak untuk melihatnya dan bersikap terbuka soal siapa yang menjadi penindas anda yang sebenarnya. Media Arab dan Muslim memanfaatkan dan melecehkan bangsa anda untuk membenarkan jihad Islam mereka di seluruh dunia. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak pernah ingin menyelesaikan masalah anda dan ingin agar anda menderita dan terus hidup dalam teror yang konstan terhadap Israel. Di bawah hukum Islam, negara-negara non-Muslim tidak pernah setara dengan negara-negara Muslim dan sebenarnya kedaulatan mereka sebagai sebuah bangsa non-Muslim harus selalu ditantang oleh jihad Islam. Hukum Islam menyebutkan jihad sebagai sebuah perang permanen terhadap non-Muslim untuk menegakkan agama

Islam. Maka orang Muslim menggunakan Taqiyya, dusta, untuk melegitimasi agresi mereka terhadap Israel dan Barat. Itulah sebabnya mengapa negara-negara Muslim tidak pernah dapat meninggalkan propaganda kebencian, dusta dan kesalahan informasi mengenai Israel dan Barat. Jika hal itu berakhir, maka jihad mereka juga berakhir. Tuduhan-tuduhan tidak masuk akal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pastilah terus-menerus dibombardir dengan keluhan-keluhan dari negara-negara Arab mengenai Israel. Jalanan di Arab terusmenerus dipenuhi dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal dan konspirasikonspirasi Zionis. Belum lama ini di TV Syria, seorang intelektual Syria menuduh Israel mencuri organ-organ tubuh manusia di Haiti ketika mereka sedang memberi bantuan setelah terjadi gempa bumi disana. Ini bukanlah sesuatu yang baru; ini telah dimulai pada abad ke-7, ketika Muhammad menuduh orang Yahudi sebagai pengkhianat untuk membenarkan tindakannya membunuhi dan mengusir mereka dari kampung halaman mereka dan merampas harta milik mereka. Untuk menjelaskan hal ini, ia menyatakan bahwa orang Yahudi pantas menerima perlakuan seperti ini oleh karena mereka adalah keturunan monyet dan babi dan musuhmusuh Allah. Orang Muslim masih menggunakan dinamika yang sama dan dunia setiap kali masih tertipu karenanya. Pikiran orang Arab telah dilatih untuk tidak pernah mengembara keluar dari kotak superioritas Islam, dan itu menghalangi kita untuk memperlakukan semua manusia dengan setara. Adalah hal yang asing bagi para penceramah Muslim dewasa ini untuk mengajarkan tentang kasih kepada semua umat manusia dan menghendaki agar non-Muslim mendapatkan hak azasi yang sama dengan orang Muslim. Saya tidak pernah mendengar hal itu dari seorang penceramah Muslim. Hanya setelah tragedi 9/11 dan dewasa ini di dunia Barat, kita dapat melihat beberapa penceramah Muslim berusaha untuk mengkhotbahkan beberapa nilai Barat dan terlibat dalam dialog antar agama, untuk merehabilitasi citra Islam di Barat dan menarik lebih banyak orang untuk memeluk Islam. Dilema Islam Saya sering mendapat surat dari orang Muslim sekuler yang bertanya pada saya: Saya dapat mengerti mengapa anda memilih untuk meninggalkan Islam, tapi mengapa anda mendukung orang Yahudi?. Saya mendapat surat seperti ini karena, dalam alam pikir Muslim, mengasihi, menerima dan mempunyai perasaan yang baik terhadap orang Yahudi dan orang Kristen dan memandang mereka dengan setara, adalah hal yang tidak terbayangkan dan merupakan tindakan pengkhianatan terhadap Islam itu sendiri dan bahkan lebih buruk lagi. Seakan-akan keseluruhan agama Islam telah didedikasikan untuk membenci dan membunuh orang Yahudi. Setelah berabad-abad mendapatkan pendidikan seperti ini, dunia Muslim menghasilkan sebuah masyarakat yang disfungsional, tidak mampu untuk berelasi dengan penduduk dunia lainnya. Sementara mereka ingin meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama damai, tidak perlu takut terhadap Islam, tetapi pada saat yang sama mereka tetap berkeras menaklukkan dunia bagi Islam. Itulah dilema (standar ganda) yang dialami Islam dewasa ini.

Apa yang saya dan beberapa orang lainnya coba lakukan adalah membawa kebenaran, baik kepada orang Muslim dan juga non-Muslim supaya pada akhirnya mereka mau menghadapi dan mengakhiri permainan yang memuakkan ini. Kami ingin mendorong orang Arab untuk memandang orang Yahudi dan bangsa lainnya sebagai sesama umat manusia dan bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Tuhan seperti apa yang memerintahkan para pengikut-Nya untuk membunuh lebih dari separoh umat manusia jika mereka tidak mau tunduk kepada Islam? Dunia Muslim dewasa ini adalah sebuah musibah yang siap untuk melanda. Ahmadinejad, yang bukanlah seorang Arab, ingin meneruskan jihad Islam terhadap orang Yahudi dengan menghancurkan Israel. Saya mempunyai berita terutama untuk Eropa dan Amerika: jihad Islam tidak akan berhenti dengan Israel; kalian akan menjadi sasaran berikutnya. Kepada orang yang mengirimi saya surat elektronik: dalam surat anda kepada saya, saya perhatikan bahwa cara anda memandang hidup adalah menggambarkannya dengan pesimis sebagai sesuatu yang singkat dan kebanggaannya tidak berarti. Pandangan-pandangan anda lazim dalam budaya Muslim dan saya telah mendengarnya ribuan kali ketika saya masih tinggal di Timur Tengah. Saya ingat bahkan ketika kami tertawa cekikikan seperti yang biasa dilakukan gadis-gadis muda, kami langsung dibungkam dan dikatai tidak pantas dan bahwa Allah tidak suka jika kami tertawa tanpa alasan yang jelas atau di depan umum. Bahkan bagi seorang Muslim, tawa tidak akan mendatangkan teman, tetapi kritik. Pesan anda kepada saya dan kepada orang-orang Muslim adalah bahwa hidup di dunia tidak akan membawa kebahagiaan bagi kita dan satu-satunya jalan keluar dari penderitaan ini adalah kesenangan besar dalam surga milik Allah setelah mati karena menunaikan jihad. Tapi mengapa membawa-bawa orang Yahudi dengan kita? Mereka ingin hidup dan menikmati hidup ini dan menjadikan dunia ini, di sini dan sekarang ini, sebuah tempat yang lebih baik. Budaya kematian Penolakan kita terhadap kematian bukanlah sebuah kebetulan: oleh karena jihad tidak menghargai kehidupan, maka jihad mestilah menghargai kematian. Korban pertama dari prinsip jihad adalah kedamaian (peace) dan itulah sebabnya mengapa saya tidak pernah belajar mengenai damai sebagai sebuah nilai di Gaza. Saya belum pernah mendengar sebuah lagu yang mengandung nilai perdamaian dalam bahasa Arab. Memikirkan damai dengan orang Yahudi adalah sama dengan pengkhianatan kepada Islam. Penolakan terhadap damai mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang merusak terhadap berfungsinya kepribadian, keluarga, masyarakat dan keseluruhan jazirah Arab secara sehat. Bukanlah sebuah kebetulan jika orang Saudi berdasarkan hukum menolak perayaan Hari Valentine, mengajarkan perdamaian dan belas kasihan terhadap orang lain dan kepada anak-anak mereka. Lihat saja buku-buku hukum Islam kita dan perhatikan hukuman-hukuman yang paling kejam dan tidak lazim yang pernah diciptakan dalam budaya apapun di dunia kita ini. Hanya budaya

yang menuntut adanya perang dan teror yang dapat menganjurkan kekejaman seperti itu. Ayah saya adalah korban budaya kematian yang haus darah di sekitarnya. Sedangkan untuk pertanyaan anda mengenai membenci ayah saya, sekali lagi saya ingin meyakinkan anda bahwa saya mengagumi dan menghormati ayah saya lebih dari semua orang di Gaza. Sesungguhnya saya mengasihinya dan mengharapkan surga baginya bukan karena ia telah membunuh orang-orang Yahudi, tapi karena ia adalah orang yang baik yang dihormati banyak orang termasuk tentara Israel yang membunuhnya. Ia dikenal bahkan oleh orang Israel sebagai orang yang melampaui siapapun dan mempunyai integritas dan kehormatan. Ayah saya adalah korban dari budaya kematian yang haus darah di sekitarnya. Ia adalah satu dari ribuan bahkan jutaan korban ideologi jihad, yang dipraktekkan selama 1400 tahun terakhir ini. Krisis yang menyakiti diri sendiri Penduduk Gaza yang kekasih, benar, saya tidak dapat menyalahkan orang Yahudi, atau pemerintah Israel, untuk apa yang anda sebut sebagai penderitaan bangsa Palestina. Saya hanya dapat menyalahkan orang Arab dan budaya Islam yang memanfaatkan dan melecehkan anda dan itu terjadi karena anda mengijinkannya. Saya percaya bahwa ini adalah krisis yang dibuat sendiri oleh Arab yang tidak ada hubungannya dengan Israel. Pendidikan Arab tidak pernah mengajarkan pada kita kebenaran mengenai orang Israel dan kisah mereka dan apa arti Yerusalem bagi mereka. Kita diberitahu bahwa Yerusalem adalah kota Muslim hanya karena Muhammad bermimpi suatu malam ia pergi ke mesjid yang terjauh tapi ia tidak pernah menyebutkan Yerusalem. Quran tidak pernah menyebut Yerusalem, yang ratusan kali disebutkan di dalam Alkitab sebagai jantung hati orang Yahudi. Kita sebagai orang Muslim tidak pernah menghormati tempat-tempat suci agama-agama lain dan selalu mengklaimnya untuk Islam; bahkan Spanyol dan India diklaim sebagai tanah Muslim. Sudah menjadi tradisi para penakluk Muslim untuk mengubah gereja-gereja dan kuil-kuil menjadi mesjid-mesjid dan itulah yang terjadi dengan Bait Suci orang Yahudi (Temple Mount) ketika 100 tahun setelah Muhammad meninggal dunia, para penakluk Muslim mendirikan mesjid tepat di atasnya. Coba bayangkan jika orang Yahudi atau orang Kristen membangun tempat ibadah mereka diatas Kabah di Mekkah. Beginilah cara Islam memperlakukan orang Yahudi. Sudah waktunya orang Muslim mengupayakan penebusan dan mencari pengampunan dan mengadakan rekonsiliasi dan perdamaian dengan orang Yahudi.

*Nonie Darwish Ny. Darwish, yang besar di Kota Gaza dan Kairo, adalah seorang penulis, yang barubaru ini menerbitkan buku Cruel and Usual Punishment, (Thomas Nelson). (Sumber: Surat ini pertama-tama dimuat dalam Frontpagemag.com)

Sumber: http://www.buktisaksi.com/files/Resources/articles/A%20Letter%20To%20Gaza %20-%20Oleh%20Nonie%20Darwis.pdf

Diselaraskan oleh Admin

islamexpose.blogspot.com