KOMENTAR KRITIS ATAS TERPENUHINYA SYARAT TINDAK PIDANA KORPORASI DAN APAKAH SAMA TINDAK PIDANA KORPORASI DENGAN

PENYERTAAN 1. Komentar Kritis Mengenai Terpenuhinya Syarat Tindak Pidana Korporasi Menurut Black’s Law Dictionary, kejahatan korporasi atau corporate crime adalah any criminal offense commited by and hence chargeable to a corporation because of activities of its officers or employes, e.g. price fixing, toxic waste dumping, and often referred to as “white collar crime1” Yang pengertiannya dalam bahasa Indonesia adalah pelanggaran kriminal apapun yang dilakukan dan bisa dibebankan kepada korporasi karena perbuatan dari pegawainya, semisal penetapan harga, pembuangan limbah beracun dan sering disebut “kejahatan kerah putih.” Di Indonesia sendiri, Kitab Undang- Undang Hukum Pidana yang ada, hanya mengatur tentang kejahatan konvensional seperti mencuri, membunuh dan sebagainya. Lebih dari itu, subjek pelaku pidana hanyalah orang sebagai naturalijjke person, sehingga korporasi atau badan hukum dianggap tidak bisa melakukan tindakan pidana. Akan tetapi, hal tersebut mau tidak mau harus berubah. Roda ekonomi yang sangat cepat berputar membuat semakin banyak korporasi berdiri dan bersaing satu sama lain. Dari persaingan tersebut, tidak jarang muncul permasalahan- permasalahan salah satunya tindak pidana. Menurut Sally S. Simpson, ada beberapa pilar yang dapat dijadikan parameter terjadinya suatu tindak pidana korporasi. (1) tindakan ilegal dari korporasi dan agennya yang berbeda dengan perilaku kriminal biasa. Tindakan ilegal ini meliputi ranah hukum pidana, hukum perdata, dan hukum administrasi. (2) korporasi dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku kejahatan. (3) motif dilakukan kejahatan untuk keuntungan organisasional2. Bahwa tindak pidana korporasi memiliki beberapa hal yang berbeda dengan tindakan kriminal biasa. Selain bentuk tindakannya yang berbeda yakni tindak pidana korporasi yang lebih khusus, juga berbeda dalam intensi melakukan kejahatan. Intensi atau motif yang dimaksud akan membawa keuntungan operasional bagi perusahaan, semisal dalam kasus
1

Henry Campbell Black; Black’s Law Dictionary; West Publishing Co.; St. Paul Minnessota; 1990; ed. 6 hal. 339. 2 Sally S. Simpson; Strategy, Structure and Corporate Crime; 4 Advances in Criminological Theory 171; 1993

1

pencemaran lingkungan. Keuntungannya adalah tidak usah mengeluarkan biaya tambahan untuk restorasi lingkungan. Orang biasa memang bisa melakukan tindakan yang sama, berbeda dengan korporasi, bahwa intensi tersebut harus datang dari direksi dan pelaksana roda perusahaan lain. Bahwa direksi dapat bertindak atas nama perusahaan, dan direksi tidak memiliki atasan lagi yang memerintahkan tindakan tersebut. Terkait dengan kasus pidana lingkungan pencemaran Waduk Saguling, akan dipaparkan terlebih dahulu pasal 46 dalam UU No. 23/ 1997. Pasal 46 jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap keduaduanya. Bahwa dalam pasal ini diintroduksi bentuk tindak pidana korporasi dalam pencemaran lingkungan hidup, yang diperjelas melalui kata- kata badan hukum. Hal ini diperlihatkan dalam pertimbangan hakim: “menimbang bahwa dengan menghubungkan jo pasal 46 UU 23 tahun 1997, maka yang dimaksud “barang siapa” dalam perkara ini adalah atas nama badan hukum, mereka yang memberi perintah atau pimpinan dalam perbuatan tersebut. Sehingga dalam implementasi kasus pencemaran Waduk Saguling ini, tidak diputus terhadap korporasi tetapi lebih kepada direktur utama PT. SSM dan kabag maintenance PT. SSM. Dapat disimpulkan bahwa dari pertimbangan ini, majelis hakim seakan- akan setuju dengan korporasi PT. SSM yang melakukan kesalahan, tapi sanksinya ditujukan kepada pemberi perintah atau pimpinan dalam hal ini Terdakwa I dan Terdakwa II. Dalam pertimbangan lain ditunjukan: “menimbang bahwa karena kedua orang terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana lingkungan maka mereka harus dihukum sesuai dengan kesalahannya tersebut.”

2

Sehingga dalam putusannya pun, hanya terdakwa I dan terdakwa II yang terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Padahal menurut kami, PT. Senayan Sandang Makmur pun harus ikut turut dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana. Sehingga dapat disimpulkan, majelis hakim tampak kebingungan dalam membuat amar putusan terhadap kasus ini. Sementara itu, menurut kami, dalam tindak pidana pencemaran Waduk Saguling ini, PT. Senayan Sandang Makmur terbukti melakukan tindak pidana korporasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya perbuatan yang memang melanggar pasal 43, yakni sengaja melakukan perbuatan dalam pasal 43 yaitu melepaskan atau membuang zat yang berbahaya atau beracun masuk ke dalam air permukaan, padahal mengetahui bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Kami setuju dengan pertimbangan hakim terhadap pemenuhan unsur tindak pidana dalam pasal ini yakni: (1) tidak segera menutup saluran yang menyebabkan adanya aliran limbah yang langsung menuju selokan desa Pasirpaku. (2) tidak segera membuat saluran tersendiri air limbah rumah tangga yang melalui lokasi PT. SSM sehingga bercampur dengan air limbah PT. SSM. (3) tidak segera memperbaiki IPAL yang ada sehingga dapat menampung dan memproses seluruh limbah yang ada mengalir ke PT. SSM artinya kapasitas yang harus diperbesar. Akan tetapi, kami kurang setuju dengan pertimbangan hakim mengenai pasal 46 UU no 23 tahun 1997. Hakim langsung memutuskan bahwa yang dimaksud badan hukum adalah terdakwa I dan terdakwa II secara bersama- sama. Menurut kami, memang sudah benar bahwa intensi untuk melakukan tindak pidana adalah tidak ada karena kealpaan, akan tetapi PT. SSM seharusnya dikenai suatu pertanggungjawaban pidana karena kegiatannya ini. Bukan terdakwa I dan terdakwa II saja. Tetapi hal ini dapat dipahami, sebab dalam hukum Indonesia terdapat anomali yang menyebabkan kebingungan teori pemidanaan untuk korporasi ini, karena yang dipidana sebenarnya adalah badan hukumnya, tetapi yang dapat menjalaninya ialah organ-organnya, sehingga wajar jika kita saja yang mengkritisi ini menemui kebingungan mengenai keanomalian UU Pengelolaan Lingkungan Hidup tersebut, apalagilah hakim yang memang umumnya hanya mengandalkan pemahaman normatif saja tanpa aktif menggali pengertian baru atau penemuan hukum.
3

Sehingga dalam putusannya, menurut kami yang ideal adalah (1) menyatakan terdakwa I dan terdakwa II dan PT. Senayan Sandang Makmur (SSM) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. (2) menghukum terdakwa I dan terdakwa II dengan pidana penjara selama empat bulan. (3) menghukum PT. Senayan Sandang Makmur agar membayar denda sebesar sepuluh juta rupiah. (4) menghukum PT. Senayan Sandang Makmur membayar biaya perkara sebesar tiga puluh ribu rupiah. Terdakwa I dan Terdakwa II ikut dipidana menurut kami mengacu kepada teori pemidanaan “Direct Liability (doctrine of identification)”. Dimana kedua orang tersebut sebagai pribadi hukum kodrati (individu) dipidana karena dianggap sebagai otak perusahaan, dimana tindakannya merepresentasikan keinginan dan pemikiran perusahaan menurut doktrin yang berkembang dari kasus Tesco Supermarket Ltd v Nattrass yang dikemukakan oleh Lord Reid. Sedangkan PT. SSM dipidana karena memang yang melakukannya ialah badan hukum tersebut. Pengenaan sanksi badan kepada terdakwa I dan II memang cukup masuk akal sebab korporasi yang tidak memiliki badan fisik tidak bisa menjalani hukuman tersebut, sehingga organnya yang menjalani hukumannya . Namun menjadi ideal dan tepat bila hukuman denda dikenakan kepada korporasi, dengan jumlah yang perlu diperbesar juga, agar dapat menimbulkan efek jera hasil kerugian operasional yang didapatkan. 2. Apakah Sama Tindak Pidana Korporasi Dengan Penyertaan Setelah kita mengetahui secara jelas pengertian dan penjelasan tindak pidana korporasi yang telah dipaparkan pada poin pertama, saatnya kita mengetahui secara rinci juga mengenai penjelasan dari penyertaan itu sendiri. Penyertaan adalah terlibatnya lebih 1 orang dalam 1 tindak pidana (sebelum atau saat suatu tindak pidana terjadi). Dasar terbentuknya penyertaan secara garis besar ada 2 yakni:

Dasar memperluas dapat dipidananya seseorang adalah penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggungjawaban pidana dan penyertaan bukan merupakan suatu delik karena bentuknya tidak sempurna.3

3

Pendapat dari ahli hukum pidana yakni Simons, Van Hattum, dan Hazewinkel-Suringa

4

Dasar memperluas dapat dipidananya suatu perbuatan adalah penyertaan dianggap suatu bentuk khusus dari tindak pidana dan penyertaan merupakan suatu bentuk delik yang istimewa.4 Macam-macam golongan penyertaan menurut KUHP di Indonesia adalah: a. Pembuat/dader (pasal 55), dipidana sebagai pelaku: 1. Yang melakukan/pelaku (pleger) 2. Yang menyuruh lakukan (doen pleger) 3. Yang turut serta (medepleger) 4. Yang mengganjurkan/ penggerak/ (uitlokker) b. Pembantu/medeplichtige (pasal 56 dan 57): 1. Pembantu pada saat kejahatan dilakukan 2. Pembantu sebelum kejahatan dilakukan. Bentuk-bentuk penyertaan itu sendiri terdiri atas:
1. Menyuruh melakukan (doen plegen).

pembujuk/pemancing

seseorang hendak melakukan tindak pidana, tp tidak mau melakukannya sendiri, melainkan menyuruh orang lain untuk melakukannya; Yang menyuruh diancam pidana sebagai pelaku; Yang disuruh/pelaku langsung (pelaku materil), tidak diancam pidana karena hilangnya unsur kesalahan (adanya dasar penghapus pidana berupa dasar pemaaf); Yang disuruh hanya menjadi alat belaka dan melakukan tindakan itu krn ketidaktahuan/kekeliruan/adanya paksaan.
2. Turut melakukan (medeplegen).

• •

Kemungkinan :

Beberapa org bersama-sama melakukan tindak pidana ; Semua dr mereka yang terlibat memenuhi semua unsur; Ada yang memenuhi semua unsur, ada yang sebagian unsur, bahkan ada yg tidak memenuhi unsur sama sekali; Semua hanya memenuhi sebagian unsur saja; Syarat :


4

Pendapat dari ahli hukum pidana yakni Pompe, Moeljatno, dan Roeslan Saleh

5

1. Kerjasama secara sadar, tdk perlu ada kesepakatan tapi harus ada kesengajaan

untuk bekerja sama dan mencapai tujuan yang sama berupa terjadinya suatu tindak pidana dan permufakatan jahat. Kerjasama secara fisik, ada pelaksanaan bersama, perbuatan pelaksanaan à perbuatan yg langsung menyebabkan selesainya suatu delik.
3. Menggerakkan (uitlokken, uitlokking).

Syarat :
• •

Ada kesengajaan untuk menggerakkan orang lain melakukan tindak pidana; Dengan upaya-upaya yang diatur secara limitatif dalam ps. 55 ayat (1) butir 2 KUHP : pemberian, perjanjian, salah memakai kekuasaan, pengaruh, kekerasan, ancaman kekerasan atau tipu daya atau dgn memberi kesempatan, daya upaya atau keterangan.

• • •

Ada yang tergerak utk melakukan tindak pidana dgn upaya2 di atas; Yang digerakkan dpt dipertanggungjawabkan mnrt Hukum Pidana; Yang menggerakkan bertanggung jawab terhadap akibat yang timbul.
4. Membantu melakukan (medeplichtigheid).

Dasar hukumnya pasal 56 dan 57 KUHP Indonesia. Syaratnya: • • Harus dilakukan dengan sengaja Menurut Pasal 56, ada 2 jenis: 1. Membantu sebelum TP dilakukan sarananya: kesempatan, daya upaya (alat), keterangan 2. Membantu pada saat TP dilakukan sarananya: boleh apa saja • • Yang dipidana hanya membantu melakukan kejahatan (lihat Pasal 56 dan Pasal 60 KUHP) Ancaman pidana maksimal bagi seorang pembantu: pidana bagi pelaku kejahatan dikurangi 1/3-nya Keterlibatan seseorang dalam suatu tindak pidana dapat dikategorikan sebagai: 1. Yang melakukan; 2. Yang menyuruh melakukan; 3. Yang turut melakukan; 4. Yang menggerakkan/menganjurkan untuk melakukan; dan 5. Yang membantu melakukan.

6

Poin nomor 1 s.d. 4 dikatagorikan sebagai “pelaku” (pembuat) (Pasal 55 KUHP): •

Pelaku: memenuhi semua unsur delik Dianggap sebagai sebagai pelaku:
 memenuhi sebagian unsur delik;  sama sekali tidak memenuhi unsur delik; dan  Pidananya sama dengan pelaku.

Poin nomor 5 : pembantu (Pasal 56, 57 KUHP). Setelah kita mengetahui secara jelas mengenai tindak pidana korporasi dan penyertaan seperti apa, kita harus melihat apakah pertimbangan hakim didalam perkara Waduk Saguling tersebut cocok menggunakan tindak pidana korporasi atau penyertaan. Jika dilihat dari unsurunsur yang dibuktikan didalam persidangan, maka terlihat bahwa sangatlah berbeda diantara keduanya. Mulai dari syarat, unsur, dan pengenaan pasal penjeratnya. Sangatlah tepat hakim mengenakan tindak pidana korporasi pasal 46 UU No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, didasarkan dari analisis teori “Direct Liability (doctrine of identification)”. KOMENTAR KRITIS ATAS PERTIMBANGAN HAKIM MENGENAI PEMBUKTIAN UNSUR-UNSUR PIDANA Asas dalam hukum pidana disebutkan bahwa tidak ada tindak pidana jika tidak ada kesalahan. Hal ini merupakan asas pertanggungjawaban pidana, oleh sebab itu dalam hal dipidananya seseorang yang melakukan perbuatan sebagaimana yang telah diancamkan, ini tergantung dari persoalan apakah dalam melakukan perbuatan tersebut pelaku mempunyai kesalahan atau tidak. Unsur kesalahan tersebut ada yang disebut dengan mens rea yang mempunyai definisi sebagai unsur kesalahan (fault element) atau unsur mental (mental element) (Jones dan Card).Kesalahan dan unsur-unsurnya Kesalahan adalah merupakan terjemahan dari perkataan (bahasa) Belanda yaitu “Schuld” yang mempunyai arti menurut pengertian dalam hukum pidana berbentuk kesengajaan (dolus) (opzet) dan kealpaan (culpa). Selain itu, kesalahan juga telah diartikan oleh para pakar, yaitu diantaranya;
1. Simons, menyatakan bahwa sebagai dasar pertanggung jawaban pidana adalah

kesalahan yang terdapat pada jiwa pelaku dalam hubungannya dengan kelakuannya yang dapat dipidana dan berdasarkan kejiwaannya karena kelakuannya. Sehubungan

7

dengan uraian tersebut beliau mengatakan bahwa untuk adanya kesalahan pada pelaku harus dicapai dan ditentukan terlebih dahulu beberapa hal yang menyangkut pelaku, y yaitu;a. Kemampuan bertanggung jawab (toerekeningsvatbaarheid)b. Hubungan a k kejiwaan (psychologische betrekking) antara pelaku dan akibat yang ditimbulkanc. Dolus atau Culpa
2. Utrecht, menyatakan bahwa pertanggung jawaban pidana atau kesalahan menurut

h hukum pidana (schuld in ruimte zin) terdiri atas tiga anasir yaitu:a. Kemampuan b bertanggung jawab (toerekeningsvatbaarheid) dari pembuatb. Suatu sikap psykhis p pembuat berhubung dengan kelakuannya, yakni:i. Kelakuan disengaja (anasir sengaja), d danii. Kelakuan adalah suatu sikap kurang berhati-hati atau lalai (anasir kealpaan) atau c culpa (schuld in enge zin).c. Tidak ada alasan-alasan yang menghapuskan pertanggung jawaban pidana pembuat (anasir toerekeningsvatbaarheid). Untuk dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya itu memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam undang- undang. Jika dilihat dari sudut terjadinya tindakan yang dilarang, seseorang akan dipertanggungjawabkan atas tindakan-tindakan tersebut, apabila tindakan tersebut melawan hukum serta tidak ada alasan pembenar atau peniadaan sifat melawan hukum untuk pidana yang dilakukannya. Jika dilihat dari sudut kemampuan bertanggung jawab maka hanya seseorang yang mampu bertanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Dipakainya ketentuan pidana dalam sebuah undang-undang sesungguhnya merupakan sebuah hal terakhir yang dapat ditempuh untuk melakukan penegakan lingkungan hidup. Seringkali dikatakan sebagai ultimum remedium. Dalam kasus lingkungan hidup, yang harus dipatuhi paling utama ialah ketentuan mengenai lingkungan hidup itu sendiri, jika tidak dipatuhi maka bekerjalah hukum pidana tersebut sebagai jalan terakhir atau ultimum remedium. Menurut Moeljatno perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Perbuatan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam berbagai macam delik yang membedabedakan perbuatan tersebut, misalnya delik materil. Delik formil ialah Tekanan perumusan delik ini ialah sikap tindak atau perikelakuan yang dilarang tanpa merumuskan akibatnya,

8

sedangkan delik materil ialah ditekankan pada akibat dari suatu sikap tindak atau perikelakuan5. Moeljatno menyebutkan bahwa mengenai unsur atau elemen yang harus ada dalam suatu perbuatan pidana adalah sebagai berikut: a. Kelakuan dan akibat (perbuatan); b. Hal atau keadaan yang menyertai perbuatan; c. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana; d. Unsur melawan hukum yang objektif; e. Unsur melawan hukum yang subjektif. Untuk dapat dijatuhi pidana dalam hukum pidana dikenal 2 (dua) ajaran atau aliran yaitu ajaran (aliran) monisme dan ajaran (aliran) dualisme. Ajaran monisme: Pandangan monisme memiliki akar historis yang berasal dari ajaran finale handlungslehre yang dipopulerkan oleh Hans Welzel pada tahun 1931. Inti ajaran finale handlungslehre menyatakan bahwa kesengajaan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari perbuatan. Eksistensi kesengajaan yang termasuk dalam perbuatan disebabkan argumentasi utama finale handlungslehre, bahwa setiap perbuatan pidana harus didasari intensionalitas untuk mencapai tujuan tertentu sehingga perbuatan tersebut dianggap sebagai perbuatan final (final-subyektif). Dalam konteks ini, setiap bentuk perbuatan naturalistis yang ditentukan berdasarkan hubungan kausal tidak termasuk dalam perbuatan pidana.Karenanya, perbuatan pidana hanya ditujukan kepada perbuatan dan akibat yang ditimbulkan berdasarkan penetapan kesengajaan pelaku. Tujuan utama finale handlungslehre adalah menyatukan perbuatan pidana dan kesalahan, serta melepaskan perbuatan pidana dari konteks kausalitas. Dengan kata lain, ”perbuatan adalah kelakuan yang dikendalikan secara sadar oleh kehendak yang diarahkan kepada akibat-akibat tertentu. Jadi kesadaran atas tujuan, kehendak yang mengandalikan kejadian-kejadian yang bersifat kausal itu adalah suatu ”rugggeraat” dari suatu perbuatan final. Ajaran dualisme: Berbeda dengan monisme yang menjadikan kesalahan (kesengajaan) sebagai unsur subyektif dari perbuatan pidana, pandangan dualistis tentang delik bersikeras memisahkan perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana. Menurut pandangan ini, unsur obyektif hanya dapat dikandung dalam perbuatan pidana. Atas dasar itu, perbuatan pidana
5

Mengenal Hukum Pidana, http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/1918101-mengenal-hukum-pidana/ diakses pada Minggu, 6 Mei 2012 pukul 12.47 WIB

9

hanya dapat dilarang karena tidak mungkin suatu perbuatan dijatuhi pidana. Sedangkan unsur subyektif hanya dapat dikandung dalam pertanggungjawaban pidana yang ditujukan kepada pembuat melalui celaan yang diobyektifkan. Karenanya, pemidanaan hanya diterapkan kepada pembuat setelah terbukti melakukan perbuatan pidana dan dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan yang dilakukan. Dalam konteks ini, ajaran dualistis menolak adagium actus non facit reum nisi mens sit rea (an act does not make a person guilty unless his mind is guilty) dengan alasan bahwa asas ini menyatukan actus reus dan mens rea sebagaimana dipahami ajaran monistis yang banyak dianut di negara-negara common law system seperti Inggris dan Amerika. Dalam pemahaman dualistis, dimungkinkan terjadinya perbuatan pidana meskipun tidak ada seorang pun yang dapat dipersalahkan atas perbuatan tersebut sehingga pembuat harus dilepas dari tuntutan hukum. Namun, apabila terdapat seseorang yang dapat dipersalahkan atas perbuatan tersebut, maka pembuat dapat dipidana. Karena itu, actus reus hanya menyangkut perbuatan yang meliputi unsur-unsur obyektif. Sementara itu, mens rea berkaitan dengan pertanggungjawaban (dapat dipidananya pembuat).6 Dalam sebuah tindak pidana, dapat kita kelompokkan apakah merupakan tindak pidana umum atau khusus dari ketentuan hukum yang dipakai atau dasar hukum yang dipakai. Tindak pidana umum ialaha tindak pidana yang sudah diintrodusir sejak dahulu yaitu dicerminkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP, dimana tindak pidana yang terangkum di dalamnya merupakan tindak pidana maupun pelanggaran yang merupakan hal umum. Sedangkan tindak pidana yang perumusan pidananya terdapat di luar ketentuan KUHP dewasa ini dikelompokkan menjadi tindak pidana khusus, dimana ketentuan yang dipakai ialah khusus di luar ketentuan KUHP yang secara klasik mengintrodusir macammacam tindak pidana.

6

. DUALISME TENTANG DELIK: SEBUAH KECENDERUNGAN BARU DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA (draft), http://hukumpidana.blogspot.com/2007/04/dualisme-tentang-delik-sebuah.html diakses pada Minggu 6 Mei 2012 pukul 14.25 WIB

10

Dalam kasus Waduk Saguling ini, yang dipakai ialah ketentuan pidana dalam undangundang mengenai lingkungan hidup saat itu, yaitu UU No. 23 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ketentuan pidana dicakup dalam Bab IX Pasal 41 – 48 undang-undang ini. Ketentuan pidana yang diperkenalkan dalam undang-undang ini juga mengenal pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap tindak pidana lingkungan berdasarkan UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997, yaitu: (a) telah secara jelas mengatur korporasi sebagai subjek tindak pidana; (b) korporasi dapat dikatakan melakukan tindak pidana lingkungan ketika tindak pidana itu dilakukan oleh orang-orang, baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain, yang bertindak dalam lingkungan badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain; (c) yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana adalah: pertama, korporasi yang meliputi: badan hukum; perseroan; perserikatan; yayasan; atau organisasi lain; kedua, Yang melakukan perintah untuk melakukan tindak pidana (yang bertindak sebagai pemimpin); ketiga, keduaduanya. Kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 dibandingkan dengan kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi dalam peraturan perundang-undangan yang lain, terlihat lebih lengkap, karena: Pertama, dalam Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup sudah jelas perumusan tentang subjek tindak pidana korporasi. Kedua, sudah ada perumusan tentang kapan tindak pidana korporasi terjadi. Ketiga, sudah ada rumusan tentang siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana lingkungan.7 Pasal-pasal yang didakwakan jaksa kepada Terdakwa I dan Terdakwa II ialah: Primer: Pasal 41 ayat (1) jo. Pasal 46 UU No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Subsidair: Pasal 43 ayat (1) jo. Pasal 46 UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Lebih Subsidair: Pasal 44 ayat (1) jo. Pasal 46 UU No. 23 Tahun 1997 jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP

7

Dwikora, Buyung, PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM UNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP. Abstrak Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro http://eprints.undip.ac.id/16888/ diakses pada Minggu, 6 Mei 2012 pukul 17.18 WIB

11

Lebih subsidair lagi : Pasal 42 ayat (1) jo. Pasal 46 UU No. 23 Tahun 1997 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Untuk membuktikan apakah terjadi tindak pidana, maka kita harus membuktikan adanya kesalahan terlebih dahulu. Dari keterangan saksi dan juga alat bukti surat berupa hasil pemeriksaan sampel air, memang didapati kesalahan dari pihak terdakwa baik Terdakwa I maupun Terdakwa II, hal ini dikarenakan Terdakwa I selaku direktur utama tidak mengarahkan bawahannya yaitu Terdakwa II untuk memperbaiki adanya kerusakan pada saluran yang menuju saluran pembuangan yang melalui IPAL, dan malah ditemukan saluran by pass atau saluran yang mengalirkan langsung pembuangan ke got yang mengalir ke Waduk Saguling. Hal ini dibenarkan oleh saksi Mangara Sagala, bahwa pimpinan perusahaan tidak keberatan dengan adanya saluran by pass tersebut, dan ditambah lagi dengan kesaksian Saksi Habinsaran Justien Sagala yang menyebutkan bahwa ada saluran di bawah beton yang tidak mengalirkan limbah menuju saluran untuk proses IPAL, hanya saja menurut Habinsaran saluran tersebut baru beroperasi setelah dua saluran utama yang mengalirkan ke saluran menuju IPAL rusak. Hal ini menunjukkan dua hal, yaitu adanya pembiaran pimpinan perusahaan untuk menggerakkan bawahan yang terkait dengan urusan memperbaiki saluran limbah menuju saluran IPAL tersebut. Namun, sekaligus hal itu menunjukkan bahwa ada unsur kesengajaan dimana adanya satu saluran yang tidak menuju saluran berproses IPAL memang dibuat dan hal itu diketahui oleh pimpinan perusahaan yaitu Terdakwa I. Maka pembuktian kesalahan seharusnya memperhatikan adanya pembuatan saluran tanpa proses IPAL satu ini, dimana saluran tersebut tidak mungkin dengan demikian saja terbentuk melainkan dibentuk dengan perbuatan tangan manusia, sehingga kelalaian memperbaiki dua saluran limbah berproses IPAL bisa dikesampingkan mengingat adanya perbuatan membuat saluran tanpa proses IPAL atau dengan kata lain ada kesengajaan di dalamnya. Akibat dari limbah juga sudah diketahui dengan pasti oleh perusahaan dalam hal ini pimpinan perusahaan, hal ini dapat dilihat dari kesaksian Daeng Wani Giyanti, dimana Terdakwa II lah yang memberi anjuran untuk membeli obat-obatan pengolahan limbah, dengan kata lain Terdakwa II mengerti mengenai bahaya dari limbah tersebut jika masuk ke dalam air
12

yang dipakai oleh manusia, dalam hal ini, Terdakwa I juga dianggap secara logis mengetahui bahwa limbah berbahan kimia yang dihasilkan perusahaannya pasti berbahaya bagi manusia jika bercampur dengan air yang dikonsumsi oleh manusia. Mengingat kesengajaan dan diketahuinya akibat jika perbuatan sengaja tersebut dilakukan, maka seharusnya menurut hemat penulis, terpenuhilah Pasal 41 UU No. 23 tahun 1997, hanya saja memang tepat jika Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP seharusnya tidak usah dicantumkan juga, karena hubungan pekerjaannya ialah fungsional dan tidak digerakkan di sini, melainkan Terdakwa II yang berurusan dengan saluran tersebut memperbuat saluran tanpa proses IPAL tersebut dan Terdakwa I malah diam saja tidak menegurnya. Terlepas dari kesalahan jaksa yang mencantumkan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP yang tidak dapat dibuktikkan unsurnya tersebut, seharusnya memang Pasal 41 ayat (1) tersebut terpenuhi. Pasal ini ialah berdelik materil, ditekankan akibatnya yaitu pencemaran atau pengrusakan lingkungan hidup yang terpenuhi dengan terlampauinya baku mutu yang diperkenankan, terlepas dari apakah terlampauinya itu sedikit atau banyak, yang penting terlampaui, artinya lingkungan sudah tercemar. Terlepas pula dari adanya data penyelidikan adanya limbah rumah tangga yang mengalir ke lokasi perusahaan dan bercampur dengan limbahnya, belum lagi adanya perusahaan lain di sekitar lokasi perusahaan tersebut, kesalahan ditekankan adanya pembuatan saluran tanpa IPAL yang jelas-jelas disengaja, tidak mungkin saluran dengan sendirinya terbentuk, sehingga ada kesalahan yaitu kesengajaan membuat di luar dari yang seharusnya dibuat, sehingga seharusnya Pasal 41 ayat (1) tersebut terpenuhi. Pembuktian yang menjadi dasar pertimbangan hakim tidak disimak dengan cermat oleh hakim, seharusnya ada pertimbangan tersirat yang dapat diambil dari bukti-bukti yang diajukan. Dakwaan Primair, Pasal 41 ayat (1) jo Pasal 46 UU No.23/Th.1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup jo Pasal 55 ayat(1) Kuhp Dalam pertimbangannya Majelis hakim menguraikan unsur Pasal 41 ayat (1) UU No.23/Th.1997, sbb: Unsur Pasal 41
13

(1) Barang siapa (2) secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup Unsur barang siapa dalam kasus kali ini hakim hubungkan dengan Pasal 46 UU 23 Tahun 1997, sehingga yang dimaksud dengan “Barang Siapa” dalam perkara ini adalah atas nama badan hukum, mereka yang memberi perintah atau pimpinan dalam perbuatan tersebut. Dalam dakwaan dan berkas perkara ini, Terdakwa 1.RINO TURINO CHERNAWAN Bin CHERNAWAN dalam kedudukannya sebagai Direktur Utama PT. Senayan Sandang Makmur dan Terdakwa 2 DJUWITO Bin MARGONO selaku Kepala Bagian Maintenance dan juga sebagai Pejabat Kepala Pelaksana Pengolahan IPAL pada PT. SSM dergan demikian kedua orang Terdakwa berkedudukan atas nama Badan Hukum yaitu perusahaan tekstil PT Senayan Sandang Makmur yang berlokasi di Jl. Pasirpaku Rt. 01 Rw. 01 Desa Pasirpaku, Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung. Beberapa alasan mengapa seharusnya hakim tidak hanya menghukum individu yang yang berada dalam perusahaan tersebut tapi juga turut serta menghukum PT . SSM selaku perusahaan atau badan hukum yang terlibat dalam kasus ini : Telah diatur pada pasal 46 UU NO 23 tahun 1997 bahwa Apabila sebuah perbuatan pencemaran lingkungan dilakukan atas nama badan hukum, maka tuntutan diberikan Terhadap Organisasi Maupun yang bertindak sebagai pemberi perintah atau pemimpin Dari hal tersebut dapat disimpulkan beberapa hal lagi sebagai berikut : Dalam Undang-Undang tersebut telah jelas disebutkan bahwa yang harus dituntut apabila atas nama badan hukum adalah organisasinya dan pemberi perintah atau pemimpin, terdapat kata maupun yang itu berarti kedua-keduanya baik organisasi maupun individu yang terlibat harus dihukum bukan salah satu pihak saja. Kedua bahwa keterlibatan perusahaan tersebut telah jelas terbukti. Bahwa terhadap kasus ini yang diuntungkan secara langsung ialah perusahaan tersebut itu sendiri bukan hanya individu yang terlibat, dan hal ini tidak akan terjadi apabila bukan karena demi keuntungan perusahaan tersebut Secara yuridis apa yang terkandung dalam pasal 46 tersebut telah menyebutkan bagaimana penyertaan pihak-pihak terkait perusahaan tersebut dengan jelas. Dan pasal UU terkait pasal 46 tersebut merupakan lex specialis dimana hakim seharusnya dapat menyampingkan KUHP karena UU NO 23 1997 telah membahas

14

secara detail mengenai tindak pidana pencemaran lingkungan terutama pencemaran oleh korporasi dan bagaimana menuntut individu yang turut serta terhadap terlaksananya pencemaran tersebut. Penggunaan Pasal 46 UU 23 Tahun 1997, kami nilai tepat karena Direktur Utama PT. SSM, yaitu Terdakwa I RINO TURINOCHERNAWAN bin CHERNAWAN adalah pimpinan yang bertanggung jawab pada operasional perusahan, Terdakwa 1 sebagai pemberi perintah atau pimpinan, Terdakwa 1 berhak dan berwenang menentukan kebijakan perusahaan dalam proses pengolahan limbah Sementara Terdakwa 2 DJUWITO sebagai Kepala Pelaksana IPAL, mengawasi pengolahan dan pembuangan limbah serta menerima laporan hasil pengolahan limbah cair dari operator IPAL. Kedua Terdakwa adalah pelaku fungsional artinya meskipun secara fisik mereka tidak melalaikan tindak pidana lingkungan, akan, tetapi mereka sebagai pimpinan / pemberi perintah dapat dimintakan pertanggungjawaban hukum pidana, tindak pidana tersebut dilakukan dalam kerangka kerja fungsi kedua Terdakwa guna mencapai tujuan,misalnya dalam hal iniuntuk mengurangi biaya produksi sehingga meningkatkan keuntungan perusahaan. Selain itu hakim dalam pertimbangannya menyatakan bahwa penambahan pasal 55 (1) ke 1 KUHP oleh JPU menurut majelis hakim merupakan sesuatu yang berlebihan, dengan demikian untuk selanjutnya pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tidak akan dipertimbangkan lagi oleh karena kedua orang Terdakwa, dalam proses pelaksanaan IPAL di PT. SSM sangat erat hubungannya satu dengan lain dan keduanya berperan sebagai pemimpin agar air limbah yang dihasilkan sesuai dengan aturan baku mutu limbah. Menurut kami, tindakan yang dilakukan oleh majelis hakim juga tepat selain karena doktrin tindak pidana korporasi tidak akan sesuai jika dipadu dengan Pasal 55 ayat (1) KUHP, juga karena tindak pidana dalam UU No.23/Th.1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup tergolong ke dalam Tindak Pidana Khusus bila kita hubungkan dengan sifatnya. Hukum pidana sendiri berdasarkan pada sifatnya terdiri atas : 1. Hukum pidana umum Hukum pidana ini berlaku untuk semua orang, seperti yang didalam KUHP yang berlaku umum. 2. Hukum pidana khusus Hukum pidana yang mana ditujukan pada orang-orang tertentu. Berbicara mengenai pidana khusus artinya menyangkut tentang pidana materiel dan formil.

15

Hukum pidana khusus menurut Pompe8, hukum pidana khusus dapat berupa pelakunya yang khusus, atau perbuatannya. Selanjutnya Pompe berpendapat ketentuan diluar KUHP, maka merupakan hukum pidana khusus. Hal ini sesuai dengan adagium lex specialis derogat lex generali (ketentuan khusus mengeyampingkan ketentuan yang umum). Tindak Pidana Khusus adalah Undang-Undang pidana yang berada diluar hukum pidana umum yang mempunyai penyimpangan dari hukum pidana umum baik dari segi hukum pidana materil maupun formal. Kriteria tindak pidana khusus 9: 1. Mengatur perbuatan tertentu atau berlaku terhadap orang tertentu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain selain orang tertentu. 2. Dilihat dari substansi dan berlaku bagi siapapun. 3. Penyimpangan ketentuan hukum pidana 4. Undang-Undang tersendiri Jika melihat dari kriteria di atas maka tindak pidana yang terdapat dalam UU No.23/Th.1997 merupakan indak pidana khusus, karena: 1. Tindak pidana yang terdapat dalam UU No.23/Th.1997, mengatur perbuatan tertentu dalam arti khusus tindak pidana di bidang lingkungan hidup 2. Aturan – aturan yang terdapat dalam UU No.23/Th.1997 berlaku bagi siapapun di wilayah teritorial NKRI 3. Dalam UU No.23/Th.1997, terdapat subyek tindak pidana baru yaitu badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain sementara itu subyek hukum ini tidak diatur dalam KUHP. 4. UU No 23/ Th. 1997 merupakan Undang- undang tersendiri yang terpisah dari KUHP Dalam perkara ini, Tindak pidana yang dilakukan oleh para terdakwa semuanya berasal dari UU No.23/Th.1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Tindak pidana mengenai lingkungan hidup ini tidak diatur di dalam KUHP. Oleh karena itu asas Lex specialis derogat
8 9

Andi Hamzah, PERKEMBANGAN PIDANA KHUSUS, (Jakarta:PT.Rineka Cipta, 1991), hlm. 2. http://lielylaw.multiply.com/journal/item/77/Pengertian_Tindak_Pidana_Khusus_Dikaitkan_d engan_Pasal_63_ayat_2_KUHP_dan_Pasal_103_KUHP?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal %2Fitem dibuat pada tanggal 25 Agu ’11 1:04 AM, diakses pada tanggal 05 Mei ’12 14:57 PM.

16

legi generali berlaku dan dengan sendirinya dipakailah ketentuan yang ada pada UU No.23/Th.1997. Akan sangat aneh jika kemudian pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP mengenai penyertaan di kaitkan dengan perkara ini karena di dalam KUHP tidak diatur mengenai tindak pidana yang dilakukan atas nama badan hukum seperti yang ada dalam perkara ini. Selain itu dalam pasal 46 UU 23 Tahun 1997 UU No.23/Th.1997 telah terdapat aturan khusus mengenai tindak pidana lingkungan hidup yang dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain sehingga penggunaan pasal 55 (1) ke 1 KUHP tidak diperlukan. Kemudian pada unsur “secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup”. Hakim berpendapat bahwa unsur ini tidak terpenuhi karena perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup dalam perkara ini bukan hanya di sebabkan oleh PT SSM sendiri, tetapi banyak perusahaan tekstil lain dan juga limbah rumah tangga dari masyarakat sekitar yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup sehingga tidak ada hubungan langsung kausalitas dari perbuatan PT SSM dengan tercemarnya lingkungan hidup di sekitar Desa Pasirpaku. Kami pun sependapat dengan pembuktian dan pendapat hakim. Dakwaan Subsidair, Pasal 43 ayat (1) jo Pasal 46 UU No.23/Th.1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup jo Pasal 55 ayat(1) Kuhp Dalam pertimbangannya Majelis hakim menguraikan unsur Pasal 43 ayat (1) UU No.23/Th.1997, sbb: Dengan Melanggar ketentuan yang berlaku Sengaja melepaskan atau membuang zat, energi,dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atasatau ke dalam tanah, ke dalam udara atau ke dalam air permukaan padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwaperbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atauperusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umumatau nyawa orang lain. Dalam Dakwaan ini, Majelis hakim mengatakan bahwa unsur dengan sengaja dalam dakwaan ini tidak terpenuhi. Menurut Majelis hakim unsur dengan sengaja tidak terpenuhi karena pencemaran yang terjadi di selokan Desa Pasirpaku dan mengalir ke Waduk Saguling

17

bukan hanya terjadi akibat adanya pembuangan limbah tanpa melalui IPAL yang dilakukan oleh PT SSM tetapi juga karena adanya air limbah rumah tangga yang turut mencemarinya. Kami tidak setuju akan pendapat Majelis Hakim kali ini. Menurut kami Majelis hakim tidak bisa membedakan antara delik formil dan delik materil dalam hukum pidana. Majelis hakim berpendapat bahwa unsur dengan sengaja yang terdapat pada Pasal 43 ayat (1) UU No.23/Th.1997merupakan unsur yang membuktikan hubungan kausalitas antara penyebab terjadinya pencemaran dan pencemaran yang terjadi(akibat). Padahal menurut kami Pasal 43 ayat (1) UU No.23/Th.1997 merupakan suatu delik formil. Selain itu, Alasan mengapa dakwaan subsidair tersebut tidak terbukti yang disebutkan majelis hakim ialah antara lain karena limbah rumah tangga bercampur dengan limbah PT SSM. Limbah rumah tangga lebih berbahaya. Limbah yang dibuang PT SSM hanya sedikit diatas ambang batas normal.

Alasan tersebutlah yang membuat hakim menyimpulkan bahwa tidak ada unsur kesengajaan oleh PT SSM untuk Melepaskan zat berbahaya ke dalam saluran pembuangan tersebut. Menurut kami faktor-faktor yang disebutkan diatas tidaklah mengaburkan unsur kesengajaan melepaskan zat. Faktor-faktor yang disebut diatas hanyalah mengenai efek yang terjadi akibat pembuangan zat berbahaya bukan unsur kesengajaan pembuangan unsur zat berbahaya. Karena pada pasal 43 tersebut hanya disebutkan kesengajaan pelepasan zat berbahaya hanya pelepasan saja, bukan kesengajaan untuk memberikan efek pembuangan zat berbahaya tersebut apakah setelah dibuang nanntinya memberikan efek atau tidak. Berarti dengan membuang zat berbahaya saja seharusnya telah cukup membuktikan unsur sengaja dari perbuatan tersebut, satu hal lagi bahwa dikatakan zat yang dibuang hanya sedikit melewati ambang batas, hal tersebut menurut kami tidak menghilangkan unsur zat berbahaya yang dibuang, karena berarti dibuatnya ketentuan ambang batas berbahaya tersebut apabila telah melewati sedkitpun batas maka ia telah dapat disebut berbahaya. Apabila ada toleransi sedikti melewati batas dianggap mengurangi kesalahan maka akan menimbulkan preseden buruk bagi perlindungan lingkungan nantinnya. Bila kita menghubungkan dengan adanya Yaitu berdasarkan dari SK. Gubernur Jawa Barat No. 6 tahun 1999 tentang batas maksimum air limbah tekstil yaitu BOD : BOD – standarnya 60 ppm COD – standarnya 150 ppm TSS – standarnya 50 ppm

18

PH – standarnya 50 ppm PH – standarnya 6,0 – 9,0 ppm Bila kita membandigkan dengan hasil pemeriksaan pada saluran inlet dan outlet yaitu Pada saluran inlet : BOD – hasilnya 65 ppm COD – hasilnya 170 ppm TSS – hasilnya 48 ppm PH – 8,2 Pada saluran outlet : BOD – hasilnya 61 ppm COD – hasilnya 162 ppm TSS – 98 ppm PH – 8,2 Dalam hal ini terlihat bahwa PT SSM hanya sedikit melampaui baku mutu yang dipersyaratkan pada SK. Gubernur Jawa Barat No. 6 tahun 1999 tersebut. Hal ini pula ditambah bahwa berdasarkan pemantauan di lapangan bahwa di lokasi pembuangan limbah tersebut ternyata terdapat juga limbah Rumah Tangga yang dapat saja mempengaruhi kadar limbah yang dibuang oleh limbah PT SSM. Selain itu, dilokasi dimana PT SSM mempunyai pabrik terdapat pula usaha – usaha pabrik lain yang berdiri. Oleh sebab itu, hal inilah yang menjadi pertimbangan bahwa berdasrkan hasil pmeriksaan yang mengatakan bahwa hasil dari limbah PT. SSM dianggap sebagai hal yang tidak sengaja. Hal ini disebabkan bahwa hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap PT SSM yang hanya sedikit melewai ambang batas dapat disebutkan sebagai sebuah hasil yang diakibatkan terdapat banyaknya perusahaan yang berdiri dan membuang limbah ditempat yang sama dengan PT SSM serta adanya juga limbah rumah tangga. Namun seperti yang sudah kami sampaikan diatas bahwa hal ini seharusya tidak menjadi suatu alasan yang membuat disebut sebagai hal yang tidak sengaja karena pada dasarnya PT SSM telah melakukan kesalahan dengan membuang limbah yang melewati batas BOD. Lagipula, logikanya, jika unsur primer saja sudah terpenuhi maka pastilah subsider juga terpenuhi. Bila kita hubungkan dengan Jenis-jenis delik menurut ilmu pengetahuan yaitu10 : 1.
10

Delik formil

Satochid Kartanegara, HUKUM PIDANA:KUMPULAN KULIAH PORF. SATOCHID KARTANEGARA DAN PENDAPAT2 PARA AHLI HUKUM TERKEMUKA, (Jakarta:Balai Lektur Mahasiswa, 1999), hlm. 135.

19

Delik yang dianggap telah sepenuhnya terlaksana dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang. Delik formil dalam kasus ini adalah Pasal 43 (1) UU. No. 23/Th.1997 yang dijadikan dakwaan subsidier, dimana merumuskan sebagai berikut : “(1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sengaja melepaskan atau membuang zat, dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah, ke dalam udara atau ke dalam air permukaan, melakukan impor, ekspor, memperdagangkan,mengangkut, menyimpan bahan tersebut, menjalankan instalasi yang berbahaya, padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain, diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). “ Pada delik formil pembuktiannya adalah pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pelaku dalalm hal yang dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup dimana membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. Pembuktian pada delik formil, khususnya mengenai pasal ini adalah pada tindakan melepaskan atau membuang zat yang berbahaya dan beracun ke dalam air permukaan yang melanggar aturan undang-undang. Dengan demikian cukup dibuktikan bahwa usaha dan/atau kegiatan tersebut limbahnya melampaui ambang batas yang ditetapkan oleh baku mutu efluen, yang pengukurannya dapat dilakukan di tempat penggelontoran limbah. Pertimbangan hakim dalam pembuktian unsur sengaja melepaskan atau membuang zat, dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah, ke dalam udara atau ke dalam air permukaan, merupakan unsur dalam delik formil yang harus dibuktikan bahwa adanya tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan pencemaran. Dalam hal ini, berdasarkan hasil laboratorium dan saksi ahli yang diajukan ke persidangan dengan alat uji pada sampel melalui inlet dan outlet dari sampel air waduk membuktikan bahwa hanya sedikit yang terbukti diambang batas normal, bahwa limbah rumah tangga turut bercampur dengan limbah PT. SSM dan menurut saksi ahli Prof Dr, Enri Darmanhuri bahwa limbah rumah tangga justru lebih berbahaya kadarnya dari pada limbah PT. SSM sehingga menurut pertimbangan hakim untuk delik tersebut tidak dapat dikualifikasikan sebagai sebuah
20

tindakan yang disengaja membuang zat berbahaya ke saluran desa pasir paku. Namun dengan membuktikan dakwaan lebih subsidair pada pasal 44 ayat 1 UU. Pdengan unsur : melanggar peraturan undang-undang yang berlaku kareana kealfaanya melakukan perbuatan pada pasal 43. Kealfaan menurut hukum pidana adalah sikap tidak hati-hati, tidak melakukan perbuatan pencegahan yang seyogyannya dilakukan dilakukan atau ceroboh. Faktannya terungkap PT SSM tidak segera menutup saluran yang menyebabkan adanya limbah menuju selokan desa Pasirpaku, serta tidak serta merta membuat saluran sendiri serta tidak segera memperbaiki IPAL yang ada, dengan tidak melakukan perbuatan tersebut maka delik formil yang dilakukan telah sempurna dilakukan sehingga unsur kealpaan telah tepat dibuktikan oleh hakim sehingga pasal 44 ayat 1 telah terpenuhi. 2. Delik materiil Delik yang baru dianggap terlaksana penuh dengan timbulnya akibat yang dilarang. Dalam delik lingkungan yaitu pasal 41 UU No.23/Th.1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut UUPLH) merupakan delik materil, dimana adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pencemar dengan akibat pencermarannya. Di dalam kasus pidana Pencemaran Waduk Saguling tersebut, delik formil digunakan sebagai dakwaan primair yaitu Pasal 41 ayat (1) yang merumuskan sebagai berikut : “(1) barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).” Pembuktian dalam pasal tersebut adalah suatu usaha dan/atau kegiatan mengakibatkan pencemaran akibat baku mutu ambien sungai telah terlampaui ambang batasnya. Terdakwa I dan II didakwa dengan dakwaan primer dengan pasal 41(1) yang merupakan delik materiil. Dalam pertimbangan hakim tentang unsur sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dan/atau perusakan lingkungan hidup tidak terbukti. Dalam membuktikan unsur tersebut, maka perlu melihat pada apakah terjadi tindakan yang mengakibatkan pencemaran yang dalam hal ini pencemaran air atau tidak. Sependapat dengan pertimbangan hakim, bahwa dikarenakan tidak
21

dihadirkannya alat bukti yang menunjukkan adanya pencemaran air akibat tindakan PT SSM dalam pembuangan limbah yang melewati ambang batas maka unsur tersebut tidak dapat dibuktikan. Terkait dengan pertimbangan hukum atas unsur mengakibatkan pencemaran di atas merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam delik materiil, bahwa usaha dan/atau kegiatan baru dapat dikatakan sebagai delik apabika menimbulkan sebuah akibat. Oleh karena itu, karena sampel yang digunakan dalam pengujian kadar limbah bukan pada media lingkungan air sungai namun sampel yang pakai adalah inlet dan outlet pada IPAL. Sehingga tidak dapat diketahui pencemaran air yang terjadi di waduk Siguling, dan tepat kiranya unsur ini tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Beberapa alasan mengapa seharusnya hakim tidak hanya menghukum individu yang yang berada dalam perusahaan tersebut tapi juga turut serta menghukum PT . SSM selaku perusahaan atau badan hukum yang terlibat dalam kasus ini :
-

Telah diatur pada pasal 46 UU NO 23 tahun 1997 bahwa Apabila sebuah perbuatan pencemaran lingkungan dilakukan atas nama badan hukum, maka tuntutan diberikan Terhadap Organisasi Maupun yang bertindak sebagai pemberi perintah atau pemimpin Dari hal tersebut dapat disimpulkan beberapa hal lagi sebagai berikut :

-

Dalam Undang-Undang tersebut telah jelas disebutkan bahwa yang harus dituntut apabila atas nama badan hukum adalah organisasinya dan pemberi perintah atau pemimpin, terdapat kata maupun yang itu berarti kedua-keduanya baik organisasi maupun individu yang terlibat harus dihukum bukan salah satu pihak saja.

-

Kedua bahwa keterlibatan perusahaan tersebut telah jelas terbukti. Bahwa terhadap kasus ini yang diuntungkan secara langsung ialah perusahaan tersebut itu sendiri bukan hanya individu yang terlibat, dan hal ini tidak akan terjadi apabila bukan karena demi keuntungan perusahaan tersebut

-

Secara yuridis apa yang terkandung dalam pasal 46 tersebut telah menyebutkan bagaimana penyertaan pihak-pihak terkait perusahaan tersebut dengan jelas.

22

-

Dan pasal UU terkait pasal 46 tersebut merupakan lex specialis

dimana hakim

seharusnya dapat menyampingkan KUHP karena UU NO 23 1997 telah membahas secara detail mengenai tindak pidana pencemaran lingkungan terutama pencemaran oleh korporasi dan bagaimana menuntut individu yang turut serta terhadap terlaksananya pencemaran tersebut. Seharusnya Dakwaan subsidair terbukti. Alasan mengapa dakwaan subsidair tersebut tidak terbukti yang disebutkan majelis hakim ialah antara lain karena limbah rumah tangga bercampur dengan limbah PT SSM. Limbah rumah tangga lebih berbahaya. Limbah yang dibuang PT SSM hanya sedikit diatas ambang batas normal.

Alasan tersebutlah yang membuat hakim menyimpulkan bahwa tidak ada unsur kesengajaan oleh PT SSM untuk Melepaskan zat berbahaya ke dalam saluran pembuangan tersebut. Menurut kami faktor-faktor yang disebutkan diatas tidaklah mengaburkan unsur kesengajaan melepaskan zat. Faktor-faktor yang disebut diatas hanyalah mengenai efek yang terjadi akibat pembuangan zat berbahaya bukan unsur kesengajaan pembuangan unsur zat berbahaya. Karena pada pasal 43 tersebut hanya disebutkan kesengajaan pelepasan zat berbahaya hanya pelepasan saja, bukan kesengajaan untuk memberikan efek pembuangan zat berbahaya tersebut apakah setelah dibuang nanntinya memberikan efek atau tidak. Berarti dengan membuang zat berbahaya saja seharusnya telah cukup membuktikan unsur sengaja dari perbuatan tersebut, satu hal lagi bahwa dikatakan zat yang dibuang hanya sedikit melewati ambang batas, hal tersebut menurut kami tidak menghilangkan unsur zat berbahaya yang dibuang, karena berarti dibuatnya ketentuan ambang batas berbahaya tersebut apabila telah melewati sedkitpun batas maka ia telah dapat disebut berbahaya. Apabila ada toleransi sedikti melewati batas dianggap mengurangi kesalahan maka akan menimbulkan preseden buruk bagi perlindungan lingkungan nantinnya. Lagipula, logikanya, jika unsur primer saja sudah terpenuhi maka pastilah subsider juga terpenuhi. KOMENTAR KRITIS ATAS PERTIMBANGAN HAKIM MENGENAI PEMBUKTIAN KAUSALITAS DAN KESENGAJAAN
23

Dalam putusan Nomor 50/Pid.B/2004/PN.BB. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bale Bandung menjatuhkan putusan bersalah kepada kedua terdakwa, yaitu Rino Turino Chernawan selaku Direktur Utama PT. Senayan Sandang Makmur, dan Djuwito Bin Margono selaku Kepala Bagian Maintenance PT yang sama. Keduanya dinyatakan bersalah sesuai pasal 42 ayat (1) jo pasal 46 UU No.23/1997 jo. Pasal 55(1) ke 1 e KUHP. Teori dalam hukum pidana yang menyangkut kausalitas merupakan ajaran yang mencari sebab dari timbulnya suatu akibat dari delik yang dilakukan pelaku. Beberapa teori kausalitas yang dikenal yaitu :

Teori Von Buri : faktor penyebab adalah semua faktor yang tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang lain (Conditio Sine Qua Non) atau kondisi yang harus ada. Setiap faktor tidak dapat dikesampingkan (teori ekuivalensi).

Teori Von Kries : semua syarat yang ada dicari yang sepadan dan selayaknya (teori adequaat). Hal yang dapat timbul dari peristiwa pidana sudah dapat diperkirakan atau diketahui sebelumnya oleh pelaku.

Teori Rumelin : yang dimaksud penghitungan yang layak bukan hanya apa yang diketahui pelaku, tetapi juga apa yang diketahui hakim walaupun tidak diketahui pelaku (teori keseimbangan objektif). Menurut Prof. Moeljatno hubungan sebab-akibat antara suatu perbuatan seseorang

dengan akibat, yang dalam hal ini dalam pencemaran lingkungan harus merujuk pada ketentuan sebagai berikut : 1. Di dalam menentukan ada tidaknya suatu hubungan kausal harus dipertimbangkan semua hal ihwal dan keadaan, bukan saja di sekitar perbuatan dan alat yang dipakai untuk melakukan perbuatan pada saat sebelum terjadinya akibat, tetapi juga segala hal ihwal dan keadaan disekitar korban yang bersangkutan yang (baru) diketahui setelah terjadinya akibat. 2. Dalam hal mempertimbangkan ada tidaknya hubungan kausal dengan mengingat semua hal ihwal dan keadaan yang (baru) dapat diketahui setelah terjadinya akibat, yang menentukkan bukanlah akan atau logika manusia pada umumnya dan bukan juga akan atau logika hakim yang memeriksa perkara, tetapi akal atau logika yang dicapai melalui ilmu pengetahuan yang objektif, yaitu para ahli di bidang ilmu pengetahuan yang memiliki kompetensi keahlian dalam hal menilai hubungan kausal suatu hal yang menjadi keahliannya.

24

3. Untuk hukum pidana tidak semua faktor atau syarat harus diperhitungkan untuk menjadi sebab dari suatu akibat, melainkan hanya hal-hal penting saja yang memberikan pengaruh terhadap perubahan dalam proses keadaan alam yang menuju pada arah mendekati akibat. 4. Faktor perubahan yang menjadi sebab tidak selalu berupa satu perbuatan (atau tidak berbuat) atau kejadian, tetapi ada kalanya dapat juga terdiri dari dua perbuatan atau lebih. Dalam kasus waduk Saguling, kedua terdakwa dinyatakan bersalah dan memenuhi unsur dalam dakwaan lebih subsidair lagi dari penuntut umum, yaitu pasal 44 ayat (1) jo pasal 46 UU No.23/1997 jo. Pasal 55(1) ke 1 e KUHP. Pasal 44 ayat (1) berbunyi : Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43, dancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Unsur kausalitas sebagaimana telah disebutkan diatas, digunakan untuk mencari tahu sebab dari sebuah akibat. Penekanannya ada pada akibat suatu perbuatan dimana delik materiil terdapat dalam pasal 41 dan 42 UU No.23/1997. Kedua pasal ini menekankan pada terjadinya pencemaran / perusakan lingkungan hidup tanpa memperhatikan tindakan apa yang dilakukan untuk mencapai akibat tersebut. Pasal 41 diletakkan pada dakwaan primer sedangkan pasal 42 digunakan penuntut umum dalam dakwaan lebih-lebih subsider. IPAL (Instalasai Pengolahan Air Limbah) sangat dibutuhkan PT Senayan Sandang Makmur mengingat sebagai usaha yang bergerak di bidang indusrti tekstil pastinya menggunakan zat kimia dan mengeluarkan limbah cair yang oleh PT ke selokan pasir paku yang arahnya menuju Waduk Saguling. Berdasarkan sampel yang telah diambil oleh pihak berwenang di beberapa titik sekitar maupun dalam PT dan ditambah keterangan saksi ahli Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri Bin H. Madani dan Ir Ari Sudijanto, MSE, ditemukan pelanggaran jumlah batas maksimum zat tertentu, diantaranya kadar BOD dan COD serta TSS PT Senayan Sandang Makmur telah melampaui batas maksimum untuk air limbah tekstil. Begitu juga hasil temuan pada keadaan sungai yang menjadi ujung pembuangan PT ini dimana melampaui kadar maksimum yang diperbolehkan sesuai SK Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000. Salah satu penyebab dilampauinya kadar yang diperbolehkan yaitu karena limbah tidak dikelola melalui IPAL. Jika disambungkan dengan teori Prof. Moeljatno maka dapat dikatakan sebagai berikut : pencemaran memang terjadi di Waduk Saguling, salah satunya adalah karena
25

pembuangan limbah cair PT Senayan Sandang Makmur yang tidak melalui IPAL, melainkan langsung dialirkan. Perlu diingat, selain limbah yang dihasilkan PT SSM, limbah rumah tangga dan perusahaan lain juga dibuang ke saluran Pasirpaku. Menurut saksi ahli Drs. Ir. Enri, limbah keluarga justru dapat meghasilkan limbah yang lebih tinggi kadarnya dari yang dihasilkan PT SSM. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencemaran yang terjadi di Waduk Saguling bukanlah sebab dari limbah cair buangan PT SSM semata sehingga terdakwa tidak bisa dijerat dengan pasal 41 atau 42 UU No.23/1997. Kesengajaan dalam hukum pidana disebut dengan dolus menurut Memorie van Toelichting (MvT) yaitu willens and wetens (menghendaki dan mengetahui), yang artinya seseorang yang melakukan perbuatan sudah menghendaki atas timbulnya suatu akibat yang merupakan tujuan dan ia mengetahui jika perbuatan yang ia lakukan dapat berdampak sebagaimana yang ia inginkan. Bentuk kesengajaan menurut doktrin ada tiga yaitu kesengajaan sebagai tujuan, kesengajaan dengan keinsyafan kepastian dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan. Jenis kesalahan selain kesengajaan yaitu kelalaian (culpa). Culpa yaitu suatu kondisi dimana pelaku seharusnya tahu akan tetapi ia tidak tahu atau mengetahui tetapi tidak cukup tahu. Culpa dapat dibedakan menjadi culpa yang disadari dan yang tidak disadari. Dihubungkan dengan kasus Waduk Saguling, terdakwa 1 selaku Direktur Utama PT Senayan Sandang Makmur dan terdakwa 2 yang berkedudukan sebagai Kepala Bagian Maintenance yang bertindak sebagai kepala Pelaksanaan Pengolahan IPAL. Penulis berpendapat keterangan yang diberi kedua terdakwa ini terkesan saling melemparkan tanggung jawab. Secara logika, kedua orang ini adalah mereka yang memegang peranan penting di perusahaan dan itu mencakup mengenai IPAL dan limbah pabrik. Terdakwa 1 mengaku tidak mengetahui ada saluran air limbah By Pass sedangkan terdakwa 2 tidak mengetahui adanya kebocoran. Kedua hal tersebut merupakan hal yang vital yang berhubungan dengan limbah perusahaan dan apabila dilanggar maka hasilnya adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku. Penulis berpendapat kedua terdakwa kurang tepat dikenakan pasal 44 ayat (1) UU 23/1997. Tindakan terdakwa termasuk dalam culpa yang disadari dimana terdakwa sadar akan akibat dari perbuatannya yaitu dapat mencemari lingkungan tetapi ia kurang hati-hati dan tidak menghendaki pencemaran lingkungan (pencemaran bukanlah tujuan utama PT SSM). Berdasarkan pengertian dari Mens Rhea terlihat bahwa kedua terdakwa mengetahui bahwa bila limbah tidak melewati IPAL terlebih dahulu dapat terjadi pencemaran. Oleh sebab itu, telah terjadi mens rhea. Hal ini dibuktikan dengan pasal yang terjerat yaitu pasal 44 UU 23/1997 yang terdapat unsur culpa yang menurut Utrecht menjadi salah satu unsur dari Mens Rhea.
26

Perlu diingat bahwa culpa yang disadari sangat mirip dengan kesengajaan, sehingga sebenarnya kalau dianalisis maka Pasal 41 atau 43 pun sebenarnya sudah menjerat pelaku. Beda Pasal 41 dan 43 adalah Pasal 41 adalah delik materil, ditekankan pada akibat, sedangkan Pasal 43 adalah delik formil. Pasal 41 terpenuhi karena sengaja dan menimbulkan akibat, sedangkan Pasal 43 juga pasti terpenuhi karena selain jika primer terbukti maka subsider juga terbukti, juga perlu ditelaah di sini dalam hal ada beberapa perusahaan atau rumah-rumah yang membuang limbah, maka secara formil PT. SSM yang “melakukan” pembuangan tanpa melalui IPAL tersebut menjadi subjek yang paling tertuduh karena secara sengaja melakukan pembuangan. Beberapa alasan mengapa seharusnya hakim tidak hanya menghukum individu yang yang berada dalam perusahaan tersebut tapi juga turut serta menghukum PT . SSM selaku perusahaan atau badan hukum yang terlibat dalam kasus ini : Telah diatur pada pasal 46 UU NO 23 tahun 1997 bahwa Apabila sebuah perbuatan pencemaran lingkungan dilakukan atas nama badan hukum, maka tuntutan diberikan Terhadap Organisasi Maupun yang bertindak sebagai pemberi perintah atau pemimpin Dari hal tersebut dapat disimpulkan beberapa hal lagi sebagai berikut : Dalam Undang-Undang tersebut telah jelas disebutkan bahwa yang harus dituntut apabila atas nama badan hukum adalah organisasinya dan pemberi perintah atau pemimpin, terdapat kata maupun yang itu berarti kedua-keduanya baik organisasi maupun individu yang terlibat harus dihukum bukan salah satu pihak saja. Kedua bahwa keterlibatan perusahaan tersebut telah jelas terbukti. Bahwa terhadap kasus ini yang diuntungkan secara langsung ialah perusahaan tersebut itu sendiri bukan hanya individu yang terlibat, dan hal ini tidak akan terjadi apabila bukan karena demi keuntungan perusahaan tersebut -

Secara yuridis apa yang terkandung dalam pasal 46 tersebut telah menyebutkan bagaimana penyertaan pihak-pihak terkait perusahaan tersebut dengan jelas. Dan pasal UU terkait pasal 46 tersebut merupakan lex specialis dimana hakim seharusnya dapat menyampingkan KUHP karena UU NO 23 Tahun 1997 telah membahas secara detail mengenai tindak pidana pencemaran lingkungan terutama pencemaran oleh korporasi dan bagaimana menuntut individu yang turut serta terhadap terlaksananya pencemaran tersebut.

27

Daftar Pustaka DUALISME TENTANG DELIK: SEBUAH KECENDERUNGAN BARU DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA (draft), http://hukumpidana.blogspot.com/2007/04/dualismetentang-delik-sebuah.html diakses pada Minggu 6 Mei 2012 pukul 14.25 WIB

28

Dwikora, Buyung, PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM UNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP. Abstrak Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro http://eprints.undip.ac.id/16888/ diakses pada Minggu, 6 Mei 2012 pukul 17.18 WIB Mengenal Hukum Pidana, http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/1918101-

mengenal-hukum-pidana/ diakses pada Minggu, 6 Mei 2012 pukul 12.47 WIB Moeljatno., Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1983 -------------- Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 1993. Henry Campbell Black; Black’s Law Dictionary; West Publishing Co.; St. Paul Minnessota; 1990; ed. 6. Sally S. Simpson; Strategy, Structure and Corporate Crime; 4 Advances in Criminological Theory 171; 1993 Satochid Kartanegara, HUKUM PIDANA:KUMPULAN KULIAH PORF. SATOCHID KARTANEGARA DAN PENDAPAT2 PARA AHLI HUKUM TERKEMUKA, (Jakarta:Balai Lektur Mahasiswa, 1999) Andi Hamzah, PERKEMBANGAN PIDANA KHUSUS, (Jakarta:PT.Rineka Cipta, 1991) http://lielylaw.multiply.com/journal/item/77/Pengertian_Tindak_Pidana_Khusus_Dikait kan_dengan_Pasal_63_ayat_2_KUHP_dan_Pasal_103_KUHP?&show_interstitial=1&u= %2Fjournal%2Fitem diakses pada tanggal 05 Mei ’12 14:57 PM.

29

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful