Laporan Kasus KATARAK MATUR ODS

Oleh : Vera Amalia Johan Christian Silaen Albert Juniawan Ika Erna Ully Zakiyah Meliya Nita Sari

Dosen Pembimbing dr. Hj. Ani, SpM

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRI RSMH PALEMBANG 2009

HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi Kasus Berjudul Disusun Oleh

: Katarak Matur ODS : Vera Amalia Johan Christian Silaen Albert Juniawan Ika Erna Ully Zakiyah Meliya Nita Sari

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Periode 3 Agustus sampai dengan 7 September 2009 dibagian SMF Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/ Rumah Sakit dr. Muhammad Hoesin Palembang.

Palembang, Agustus 2009 Pembimbing

dr. Hj. Ani, SpM

BAB I PENDAHULUAN Lensa mata merupakan struktur globuler yang transparan, terletak di belakang iris, di depan badan kaca. Lensa berbentuk bikonveks, avaskuler, dengan tebal 4 mm dan diameter 9 mm. Komponennya terdiri dari 65% air dan 30% protein. Lensa diliputi oleh kapsula lentis yang bekerja sebagai membran semi permeabel yang melarutkan air dan elektrolit untuk makanannya. Substansi lensa terdiri dari nukleus dan korteks yang terdiri dari lamel-lamel yang panjang dan konsentris. Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu kenyal dan lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung, dan kejernihannya diperlukan sebagai media penglihatan yang berfungsi memfokuskan berkas cahaya ke retina. Kelainan pada lensa dapat berupa kekeruhan pada lensa yang disebut katarak, yang dapat terjadi akibat hidrasi (penimbunan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya. Pada mata akan tampak kekeruhan pada lensa dalam bermacam-macam bentuk dan tingkat serta pada berbagai lokasi di lensa seperti di korteks dan nukleus. Akibat dari kekeruhan ini, cahaya yang masuk ke retina akan terhalang. Pasien dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan menurun secara progresif. Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita katarak. Sekitar 55% orang berusia 75-85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak. Walaupun sebenarnya dapat diobati, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.

BAB II LAPORAN KASUS
II.1. IDENTIFIKASI Nama Umur Alamat Pekerjaan Pendidikan Agama Bangsa II.2. ANAMNESIS Keluhan Utama Penglihatan kedua mata semakin kabur ± sejak 3 bulan yang lalu Riwayat Perjalanan Penyakit ± 2 tahun yang lalu penderita mengeluh pandangannya mulai kabur. Pandangan kabur dimulai pada mata sebelah kanan tetapi masih dapat bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari, pandangan seperti berasap (+), penglihatan terasa silau pada siang hari (+) tetapi tidak begitu silau, penglihatan lebih terang pada pagi atau malam hari daripada siang hari, mata merah (-), nyeri (-), mata seperti melihat pelangi (-), sakit kepala (-), mual muntah (-), penglihatan yang turun mendadak seperti tertutup tirai disangkal. Penderita pergi berobat ke dokter umum dan hanya diberi obat tetes tetapi lupa nama obatnya. Penderita merasa tidak ada perubahan. : Tn. A : 71 tahun : Talang Ratu Lorong Damar no 820 : Pensiunan PNS : SMU : Islam : Indonesia

Jenis Kelamin : Laki-laki

+ Sejak 3 bulan yang lalu penderita mengeluh penglihatan kedua mata menjadi semakin kabur, sehingga menganggu aktivitas sehari-hari, pandangan penderita semakin berkabut, penglihatan lebih terang pada pagi atau malam hari daripada siang hari. Penderita juga mengeluh sulit melihat jauh dan lebih nyaman membaca tanpa kacamata. Mata merah (-), nyeri (-), sakit kepala (-), kelopak mata bengkak (-). Kemudian penderita pergi berobat ke poliklinik mata RSMH. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat memakai kacamata penglihatan jauh (+) Riwayat minum obat steroid jangka panjang disangkal Riwayat kencing manis disangkal Riwayat darah tinggi disangkal Riwayat trauma disangkal Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal Status Gizi Habitus Berat Badan RBW Status Ekonomi Cukup : Athleticus : 50 kg : 92,6% (normoweight)

Tinggi Badan : 160 cm

II.3.

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Sens Nadi Respiratory rate Suhu : baik : Compos mentis : 84 x/menit : 20 x/menit : 36,80C

Tekanan darah : 130/80 mmHg

Status Oftalmologikus OD OS

Segmen Anterior Visus TIO KBM GBM Palpebra Superior Tenang Tenang 2/60 PH (+) 5/60 15,6 mmHg orthoforia 1/60 PH (+) 2/60 13,1 mmHg

Palpebra inferior Konjungtiva tarsal superior Konjungtiva tarsal inferior Konjungtiva bulbi Kornea COA Iris Pupil Lensa Segmen Posterior Refleks fundus Papil Makula Retina

Tenang Tenang Tenang Tenang Jernih, Sedang, jernih Gambaran baik Bulat, Sentral, RC (+), Ø 3 mm Keruh, Shadow test (-)

Tenang Tenang Tenang Tenang Jernih, Sedang, jernih Gambaran baik Bulat, Sentral, RC (+), Ø 3 mm Keruh, Shadow test (-)

(+) Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai

(+) Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai

II.4.

DIAGNOSIS Katarak matur ODS

II.5.

PENATALAKSANAAN - MRS -Informed consent -Rencana Extraksi Cataract Extra Capsular (ECCE) + Intra Ocular Lens (IOL) oculi sinistra -Cek lab darah rutin dan kimia darah -Rontgen thorax PA -Konsul penyakit dalam -Pro keratometri -Pro biometri -Pro USG B-Scan

II.6.

PROGNOSIS Quo ad vitam : bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA III.1 Pengertian Katarak Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina.

Gambar 1. Lensa yang mengalami katarak

Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa atau juga suatu keadaan patologik lensa di mana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa.

III.2

Etiologi Katarak

Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita katarak. Sekitar 55% orang berusia 75-85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak. Walaupun sebenarnya dapat diobati, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia. Katarak disebabkan hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa, proses penuaan (degeneratif). Meskipun tidak jarang ditemui pada orang muda, bahkan pada bayi yang baru lahir sebagai cacat bawaan, infeksi virus (rubela) di masa pertumbuhan janin, genetik, gangguan pertumbuhan, penyakit mata, cedera pada lensa mata, peregangan pada retina mata dan pemaparan berlebihan dari sinar ultraviolet. Kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, diabetes mellitus, rokok, alkohol, dan obat-obatan steroid, serta glaukoma (tekanan bola mata yang tinggi), dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak. Pada awal serangan, penderita katarak merasa gatal-gatal pada mata, air matanya mudah keluar, pada malam hari penglihatan terganggu, dan tidak bisa menahan silau sinar matahari atau sinar lampu. Selanjutnya penderita akan melihat selaput seperti awan di depan penglihatannya. Awan yang menutupi lensa mata tersebut akhirnya semakin merapat dan menutup seluruh bagian mata. Bila sudah sampai tahap ini, penderita akan kehilangan penglihatannya.

III.3

Klasifikasi Katarak

Berdasarkan penyebabnya katarak dapat dibagi menjadi :

1.

Katarak akibat penuaan (Aging related cataract) Ada 3 tipe utama katarak yang berhubungan dengan usia adalah nuclear, kortikal dan katarak subcapsular posterior. Pada banyak pasien, bisa timbul lebih dari satu tipe. • Katarak Nuklear Katarak nuclear adalah sclerosis dan penguningan yang berlebihan pada lensa. Dimana sebenarnya secara fisiologis lensa memang mengalami sclerosis dan penguningan sesuai dengan pertambahan umur. Namun hal ini tidak berpengaruh banyak pada fungsi visual. Apabila sclerosis dan penguningan lensa ini sudah berlebihan maka ia disebut katarak nuclear. Cara mengevaluasi katarak nuclear adalah dengan menggunakan slit-lamp biomicroscope dan dengan memeriksa refleks warna merah dengan dilatasi pupil.

Gambar 2. Katarak Nuklearis

Ciri-ciri katarak nuclear:    Perkembangannya lambat Biasanya bilateral dan mungkin asimetris Menyebabkan penurunan penglihatan jauh dibandingkan penglihatan dekat.

Pada stadium awal, karena proses pengerasan dari nucleus lensa, seringkali terjadi peningkatan indeks refraksi lensa yang berakibat terjadi myopic shift pada refraksi (myopia lentikuler). Pada beberapa kasus, myopc shift dapat membuat orang-orang dengan presbiopi dapat membaca dengan kacamata, kondisi ini disebut juga sebagai second sight (penglihatan sekunder). Adakalanya, perubahan yang kasar pada indeks refraksi antara sklerotik nucleus (atau opasiti lensa yang lain) dan lensa korteks dapat menyebabkan monocular diplopia. Gangguan penglihatan warna, khususnya warna biru. Penurunan fungsi photopic retinal. Pada kasus lanjut, nucleus lensa akan menjadi semakin opaque dan coklat yang disebut dengan brunescent katarak nuclear.

 

Katarak Kortikal Perubahan komposisi ionic dari korteks lensa dan perubahan subsekuen pada hidrasi dari serat lensa akan mengakibatkan opasifikasi kortikal.

Gambar 3. Katarak Kortikalis

Ciri-ciri katarak kortikal :   Biasanya bilateral, namun paling sering asimetris. Efeknya pada fungsi visual sangat bervariasi tergantung lokasi opasifikasi relative pada axis visual.  Gejala umum dari katarak kortikal adalah silau terhadap sumber cahaya fokal, missal lampu mobil.   Diplopia mononuclear. Progresivitas katarak kortikal sangat bervariasi. Dapat sangat lambat atau malah begitu cepat.  Pemeriksaan katarak kortikal adalah dengan slit-lamp. Dimana awalnya terdapat gambaran vakuola dan celah air pada korteks anterior dan posterior.  Katarak hipermartur terjadi ketika material degeneratif kortikal bocor melewati kapsul lensa, dan meninggalkan kapsul menjadi mengerut.  Katarak morgagni terjadi ketika likuefaksi lanjut dari korteks menyebabkan pergerakan bebas dari nucleus di dalam kantong kapsular. • Katarak Subkapsularis Posterior Katarak subcapsular posterior sering terjadi pada pasien dengan usia yang lebih muda dari katarak kortikal dan nuclear. Lokasinya di lapisan kortikal posterior dan biasanya axial. Pasien sering mengeluh silau dan penglihatan yang jelek pada kondisi cahaya tertutup. Tajam penglihatan dekat menurun lebih banyak dibandingkan tajam penglihatan jauh. Monocular diplopia. Pemeriksaan terbaik katarak subkapsular posterior adalah dengan menggunakan slit-lamp dalam kondisi pupil dilatasi.

Gambar 4. Katarak Subkapsularis Posterior

2. Katarak Traumatika • • • • Dapat mengenai sebagian atau seluruh lensa, rosette katarak dapat mengenai seluruh lensa, rosette katarak dapat mengenai seluruh lensa. Bentukan opasifikasi stellata atau rosete. Lokasi biasanya di axial dan melibatkan bagian posterior lensa. Kadang, trauma tumpul dapat menyebabkan dislokasi dan pembentukan katarak. 3. Katarak Metabolik Merupakan katarak yang terjadi karena kelainan metabolik seperti : o Diabetes Mellitus Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kekeruhan lensa, indeks

refraktifnya, dan amplitudo akomodasinya.

Saat tingkat gula darah

meningkat, kandungan glukosa di cairan aqueous juga meningkat. Karena glukosa dari aqueous memasuki lensa dengan difusi, kandungan glukosa pada lensa akan meningkat juga. Sebagian glukosa diubah oleh enzim

aldosereductase menjadi sorbitol, yang tidak dimetabolism tetapi tetap dalam lensa. Secara subsekuen, tekanan osmotik menyebabkan peningkatan air ke dalam lensa yang mengarah ke pembengkakan dari fiber lensa. Keadaan hidrasi lenticular dapat mempengaruhi kekuatan refraksi lensa. Pasien dengan diabetes dapat menunjukkan perubahan refraksi transient yang diakibatkan perubahan gula darah. Pergeseran myopic akut dapat mengindikasikan diabetes belum terdiagnosa atau yang tidak terkontrol. Orang dengan diabetes memiliki penurunan amplitude akomodasi dibandingkan dengan control orang yang seumur, dan presbiopi dapat muncul pada usia yang lebih muda pada pasien diabetes daripada yang tidak menderita diabetes. Katarak adalah penyebab umum dari kelainan visual pada pasien dengan diabetes. Meskipun 2 tipe dari katarak secara klasik ditemukan pada pasien ini, pola lain juga dapat ditemukan. 1. True diabetic cataract atau snowflake cataract : terjadi bilateral, perubahan lensa subkapsular yang luas, dan progresifitas yang akut, dan biasa terjadi pada orang usia muda dengan DM tidak terkontrol. Opasitas subkapsular superficial korteks lensa anterior dan posterior. Vakuola muncul di kapsul lensa dan terbentuklah celah yang mendasari korteks di bawahnya. Intumesensi dan maturitas dari katarak kortikal mengikuti secara cepat sesudahnya. Peneliti percaya bahwa perubahan metabolic dihubungkan dengan true cataract diabetic pada manusia dipadukan pada penelitian katarak sorbitol pada hewan percobaan. Meskipun true diabetic cataract jarang ditemukan pada praktek seharihari, setiap katarak kortikal bilateral yang matang secara cepat pada anak-anak atau dewasa muda harus mengingatkan klinisi pada kemungkinan DM. 2. Senescent cataract adalah tipe kedua yang sering ditemukan pada pasien diabetes. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pada pasien ini

mempunyai peningkatan resiko dari perubahan lensa yang berhubungan dengan perubahan usia yang tidak dapat dibedakan dari katarak nondiabetic yang berhubungan dengan usia, dan bahwa perubahan lensa mengarah pada usia lebih muda daripada pasien yang tidak menderita DM. Resiko tinggi dari katarak yang berhubungan dengan usia pada pasien dengan diabetes mungkin merupakan hasil dari akumulasi sorbitol pada lensa, perubahan hidrasi subsekuen, glikosilasi protein pada lensa diabetik. Galaktosemia Galaktosemia adalah ketidakmampuan merubah galaktose menjadi glukosa yang diturunkan secara autosomal resesif. Sebagai konsekuensi dari ketidakmampuan ini , akumulasi galaktose berlebihan di jaringan tubuh, dengan konversi metabolic yang lebih lanjut dari galaktose menjadi galaktitol (ducitol), gula alcohol dari galaktose. Galaktosemia dapat merupakan hasil dari kelainan pada satu dari tiga enzim yang berperan pada metabolisme dari galaktose : Galaktose-1 phospat uridyl transferase, galactokinase, atau UDP-galactoce-4-epimerase. Bentuk yang paling umum dan paling parah diketahui sebagai galaktosemia klasik, disebabkan dari kelainan enzim transferase. Pada galaktosemia klasik, symptom dari malnutrisi, hepatomegali, kuning dan defisiensi mental timbul pada beberapa minggu pertama kehidupan. Penyakit ini fatal atau berbahaya jika tidak terdiagnosa atau tidak diobati. Diagnosis dari galaktosemia klasik dapat dikonfirmasi dengan adanya substansi non glukosa reducing galaktosa di urin. Pada pasien dengan galaktosemia klasik, 75 % akan menjadi katarak, biasanya pada beberapa minggu setelah lahir. Akumulasi dari galaktose dan galaksitol pada sel lensa mengarah ke peningkatan tekanan osmotic dan peningkatan

o

intaselular dan peningkatan cairan ke dalam lensa. Secara tipikal, nucleus dan korteks terdalam menjadi bertambah opak, menyebabkan penampakan “oil droplet” pada retroiluminasi.Jika penyakit dibiarkan tidak diobati, katarak meningkat menjadi opasitas menyeluruh dari lensa. Pengobatan galaktosemia termasuk menghilangkan susu dan produk susu dari diet. Pada beberapa kasus, bentukan katarak awal dapat dicegah dengan diagnosis yang cepat dan intervensi diet. Defisiensi dari dua enzim lain, galaktokinase dan epimerase, dapat juga menyebabkan galaktosemia. Defisiensi ini jarang, bagaimanapun dapat menyebabkan kelainan yang tidak parah. Katarak yang disebabkan defisiensi enzim dapat terlihat, tetapi mengarah ke kehidupan yang lebih lanjut daripada yang terlihat pada galaktosemia klasik.

o

Hipokalsemia (Katarak Tetanic) Katarak dapat muncul diasosiasikan dengan kondisi apapun yang berakibat hipokalsemia. Hypokalsemia dapat idiopatik, atau dapat muncul sebagai hasil dari destruksi yang tidak diharapkan dari kelenjar parathyroid selama pembedahan tyroid, biasanya bilateral, katarak hipokalsemi mempunyai opasitas punctat yang berwarna-warni pada korteks anterior dan posterior yang berada antara kapsul lensa dan biasanya terpisah dari itu oleh daerah lensa yang jelas. Opasitas yang terpisah ini dapat stabil atau matang menjadi katarak kortikal komplit.

o

Wilson Disease (Degenerasi Hepatolenticular)

Wilson Disease merupakan kelainan metabolisme tembaga yang diturunkan secara autosomal resesif. Karakteristik manifestasi okuler dari Wilson Disease adalah Kayser-Fleischer Ring, perubahan warna coklat emas dari membrane descement sekitar pinggir kornea. Sebagai tambahan dapat juga muncul katarak Sunflower. Pigmen coklat kemerahan disimpan pada kapsul lensa anterior dan korteks subkapsular pada bentukan stellata yang menyerupai bunga matahari. Pada kebanyakan kasus katarak sunflower tidak menyebabkan kelainan visual yang serius. Distrofi Miotonik Dystrofi miotonik adalah kondisi yang diturunkan autosomal dominant dengan ciri-ciri: penundaan relaksasi otot yang berkontraksi, ptosis, kelemahan otot wajah, defek konduksi jantung, dan pada pasien pria dapat terjadi kebotakan di bagian frontal yang prominen. Pasien dengan gangguan ini secara khas berkembang suatu kristal iridesensi polikromatik pada korteks lensanya dengan secara sekuen adanya katarak subkapsular posterior untuk menyempurnakan opasifikasi kortikal. Secara struktur ultra, kristal ini melingkar membentuk ulir dari plasmalemma dari serta lensa. Secara subsekuen, ada bentuk katarak subkapsulat posterior dan opasifikasi dari korteks lensa.

o

4. Katarak akibat defisiensi nutrisi Walaupun defisiensi nutrisi telah terbukti menyebabkan katarak pada percobaan binatang, etiologi ini sulit dibuktikan pada manusia. Epidemiologi melaporkan lebih dari dekade yang lalu memiliki konflik informasi pada subjek ini. Beberapa penelitian menyarankan bahwa multivitamin, vitamin A,vitamin C,

vitamin E, miasin, tiamin, riboflavin, beta karotene, dan banyak protein mungkin memiliki efek protektif, pada perkembangan katarak. Penelitian lain telah menemukan bahwa Vitamin C dan E memiliki efek yang sangat sedikit atau tidak sama sekali pada perkembangan katarak. Baru-baru ini Age-Related Eye Disease Study (AREDS) menunjukkan bahwa lebih dari 7 tahun,intake yang tinggi dari vitamin C dan E, dan beta karotene tidak mengurangi perkembangan atau progresivitas dari katarak. Bagaimanapun juga, Perokok yang penggunaan vitamin dosis tinggi membawa resiko.

menggunakan dosis tinggi vitamin A dan beta karotene memperlihatkan peningkatan dari resioko kanker paru, kematian dari kanker paru dan kematian dari penyakit kardiovaskular. Lutein dan zeaxanthin merupakan karotenoid yang ditemukan pada lensa manusia dan penelitian baru-baru ini menunjukkan penurunan pada resiko katarak dengan peningkatan frekuensi intake makanan kaya lutein (bayam,sayur hijau,brokoli). Makan bayam yang dimasak, lebih dari dua kali seminggu dapat menurunkan resiko katarak. Penurunan resiko ini tidak berhubungan dengan gaya hidup sehat. Sebaliknya, pada efek-efek seperti diet suplemen, diare yang berat, dihubungkan dengan dehidrasi yang berat dapat mengarah pada peningkatan resiko katarak. Suatu studi prospektif pada laki-laki dan resiko perempuan menunjukkan bahwa merokok dapat meningkatkan

terjadinya katarak subkapsular posterior dan sclerosis nuklear pada keduanya. 5. Katarak Komplikata Merupakan katarak yang terjadi akibat komplikasi dari penyakit yang ada di dalam mata tersebut seperti uveitis. Perubahan lensa sering timbul menjadi uveitis kronik dan/ atau berhubungan dengan terapi kortikosteroid. Biasanya katarak subkapsular posterior muncul, perubahan lensa anterior juga muncul. Susunan dari synechiae posterior sering terjadi pada uveitis, sering dengan

robeknya lensa anterior, dimana mungkin berkaitan dengan mungkin berkembang menjadi katarak matur.

membrane

popullary fibrous. Perubahan lensa pada katarak sekunder menjadi uveitis Deposit Kalsium mungkin didapatkan di kapsul anterior atau di dalam substansi lensa. Susunan katarak kortikal terjadi lebih dari 70% kasus dari Fuchs Heterochromic uveitis karena posterior synechiae jarang timbul pada sindrom ini, susunan dari membrane pupil tidak sama dan terapi kortikosteroid kroniktidak ada indikasi. Ekstraksi katarak pada pasien dengan Fuchs Heterochromic uveitis pada umumnya memiliki prognosis lebih baik. intraoperative telah dilaporkan 25% kasus. 6. Katarak Diinduksi Obat Kortikosteroid Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menyebabkan katarak subcapsular posterior. Angka kejadiannya bergantung apada dosis dan lama pemakaian dan penerimaan individu terhadap paparan kortikosteroid. Katarak terjadi pada pemberian kortikosteroid secara: sistemik, topical, subkonjungtiva, dan inhalasi. Sebagai contoh, pada pengobatan dermatitis di kelopak mata secara topical dalam jangka waktu yang lama. Dalam suatu penelitian terhadap pasien yang diobati dengan prednisolon oral dan diobservasi selama 1-4 tahun, 11% diobati dengan 10 mg/hari terjadi katark, seperti sebelumnya 30% menerima 10-15 mg/hari dan 80 % mendapat 15 mg/hari . pada penelitian lain, setengah dari pasien menerima topical kortikosteroid diikuti keratoplasty menyebabkan katarak setelah menerima kirakira 2,4 tetes per hari 0,1 % dexamethason dalam periode 10,5 bulan. Phenothiazines Phenothiazine, merupakan grup utama dari pengobatan psycothropic, dapat menyebabkan deposit pigmentasi di epitel lensa anterior pada suatu konfigurasi Perdarahan bilik mata depan

axial. (Gambar5.9) Deposit ini muncul tergantung pada dosis dan lama pemakaian. Miotic Antikolinesterase dapat menyebabkan katarak. Insiden kataak meningkat 20% setelah penggunaan 55 bulan pilokarpine dan 60% pada pasien yang menggunakan fosfolipin iodine. Biasanya katarak muncul dalam bentuk vakuola kecil di bagian dalam posterior sampai anterior kapsul dan epitel lensa. Vakuola ini dapat dilihat dengan retroilluminasi. Katarak ini dapat berkembang ke kortikal posterior dan inti lensa dan berubah. Katarak ini terjadi pada pasien yang menggunakan antikolinesterase jangka panjang dan dosis yang lebih sering. Biasanya terjadi pada pasien usia lanjut dan pada anak-anak belum dilaporkan. Perubahan visual dihubungkan dengan penggunaan phenothiazineumumnya tidak significan.

Amiodarone Amiodaron suatu oat antiaritmia, dilaporkan dapat menyebabkan deposisi pigmen axial anterior stelata. Amiodaron juga dideposit di epitel kornea dan jarang menyebabkan neuropati optic. Statin Percobaan pada anjing dengan menggunakan 3-hidroksil-3metilglutaril coenzim A (HMG CoA) reduktase inhibitor dikaitkan dengan timbulnya katarak dengan menggunakan dosis berlebihan. Namun penggunaan statin pada manusia tidak menunjukkan peningkatan resiko katarak. Namun demikian, pnggunaan serempak simvastatin dan eritromisin dapat dikaitkan dengan peningkatan 2-3 kali lipat resiko katarak

7. Katarak Kongenital Berkembang dari genetik, trauma atau infeksi prenatal dimana kelainan utama terjadi di nukleus lensa. Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir dan umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa Kongenital

Gambar 5. Katarak Kongenital

Berdasarkan densitasnya, katarak dibagi menjadi : 1) Katarak imatur Katarak imatur merupakan stadium dimana kekeruhan pada lensa belum mengenai seluruh bagian lensa. Pada katarak imatur tampak lensa yang mencembung karena mengalami hidrasi. 2) Katarak matur Pada katarak matur terjadi kekeruhan diseluruh bagian lensa, terjadi perubahan bentuk lensa kembali seperti semula.

Gambar 6. Katarak Matur

3) Katarak hipermatur Pada katarak hipermatur, terjadi pengerutan lensa karena korteks lensa telah mencair sehingga air keluar dari lensa dan membuat bentuk lensa menjadi keriput.

Berdasarkan umur katarak dapat dibagi menjadi : 1. Katarak Juvenilis ( kurang dari 20 tahun) 2. Katarak Presenilis (20 - 50 tahun) 3. Katarak Senilis (diatas 50 tahun) III.4 Manifestasi klinis

Gejala umum gangguan katarak meliputi :

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.

• • • •

Peka terhadap sinar atau cahaya. Dapat melihat dobel pada satu mata. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.

III.5

Pemeriksaan Katarak terjadi secara perlahan-perlahan sehingga penglihatan penderita

terganggu secara berangsur. karena umumnya katarak tumbuh sangat lambat dan tidak mempengaruhi daya penglihatan sejak awal. Daya penglihatan baru terpengaruh setelah katarak berkembang sekitar 3—5 tahun. Karena itu, pasien katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan mata meliputi segmen anterior mata yang berupa palpebra, konjungtiva, kornea bilik mata depan, iris, pupil, dan lensa. Pemeriksaan lensa pada katarak yaitu shadow test (tes bayangan iris). Tes bayangan iris ini dilakukan untuk mengetahui derajat kekeruhan pada lensa. Jika lensa belum keruh sepenuhnya pada katarak immatur akan didapat pantulan bayangan iris pada lensa karena cahaya yang mengenai iris dipantulkan oleh bagian lensa yang keruh. Sedangkan pada katarak matur dimana kekeruhan telah mengenai seluruh lensa maka tidak ada bayangan yang dibentuk karena semua cahaya langsung dipantulkan dianggap tes bayangannya negatif. Sebelum operasi juga dilakukan beberapa pemeriksaan yaitu : • Tes anel : untuk menilai fungsi ekskresi saluran air mata apakah ada yang menyumbat atau tidak. Tes ini perlu dilakukan untuk menghindari kebuntuan aliran air mata yang akan mempermudah berkembangbiaknya kuman yang dapat mengakibatkan infeksi paska operasi sehingga hasil operasi tidak optimal.

• • •

Penilaian segmen posterior mata dengan USG dan funduskopi, untuk menilai prognosis setelah operasi. Keratometri, merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kelengkungan kornea sehingga bisa memperkirakan kekuatan lensa intra okular yang akan dipasang. Biometri, untuk mengetahui panjang aksis visual dan berapa kekuatan lensa yang diperlukan untuk ditanam.

III.6

Operasi Pada Katarak

Indikasi operasi katarak : 1. Mengganggu pekerjaan/ aktivitas 2. Rehabilitasi visus (terapetik) 3. Diagnostik segmen posterior 4. Mencegah komplikasi 5. Kosmetik

Macam-macam operasi katarak antara lain :

Intracapsular Cataract Extraction (ICCE) ICCE merupakan tehnik operasi pada katarak yang mengangkat lensa dengan kapsul-kapsulnya. Indikasinya : pada peralatan yang terbatas, pada katarak yang tidak stabil, intumesen, hipermatur, dan luksasi. Kontraindikasi absolut : katarak pada anak-anak dan dewasa muda, kasus-kasus ruptur kapsul karena trauma.

Kontraindikasi relatif : high myopia, sindrom Marfan, katarak Morgagnian, dan keluarnya vitreus ke dalam bilik mata depan. Keuntungan : tidak terjadi katarak sekunder, tidak memerlukan peralatan yang canggih. Kerugian : penyembuhan luka yang lebih lambat karena luka insisi yang lebar, rehabilitasi visus yang tertunda, resiko astigmatisme yang besar karena tarikan akibat jahitan lebih banyak, resiko inkarserasi iris lebih besar, dan resiko terjadinya prolaps vitreus.  Extracapsular Cataract Extraction (ECCE) ECCE merupakan tehnik operasi pada katarak yang mengangkat lensa dengan meninggalkan kapsul posterior sebagai cangkang untuk pemasangan IOL ( Lensa Intra Okular). Kontraindikasi : bila zonula zinni tidak memungkinkan untuk mendukung dilakukannya ECCE dan pemasangan IOL Keuntungan : resiko prolaps iris lebih kecil, penyembuhan luka yang lebih cepat dibanding ICCE, resiko prolaps vitreus lebih kecil. Kerugian : membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih mahal dari ICCE  Small Incision Cataract Surgery (SICS) Operasi katarak yang merupakan pengembangan dari ECCE dengan melakukan insisi 2 mm dari limbus sehingga tidak mengenai kornea. Keuntungan : resiko astigmatisme lebih kecil dibandingkan ECCE, resiko prolaps iris lebih kecil, penyembuhan luka yang lebih cepat. Kerugian : butuh pengalaman yang cukup untuk melakukan operasi.  Fakoemulsifikasi Operasi katarak terbaru yang menggunakan getaran suara untuk mengemulsi isi lensa sehingga lebih mudah dikeluarkan dan tidak memerlukan insisi yang luas. Keuntungan : lebih cepat dan tidak menimbulkan luka operasi yang lebar sehingga penyembuhan operasi sangat cepat.

Kerugian : alat yang mahal dan diperlukan tenaga profesional untuk melaksanakan operasi ini.

Lensa Intraokular

Terbuat dari bahan polimetilmetakrilat Mempunyai optik Mempunyai kaki (haptik) agar lensa tetap pada tempatnya

• •

Gambar 7. IOL

Indikasi penanaman lensa intraokular : 1. Katarak monokular 2. Usia muda (produktif) Kontraindikasi : 1. Katarak kongenital 2. Uveitis berulang 3. Glaukoma berat 4. Distrofi endotel kornea
5.

Afakia pada fellow eye

II.7

Pencegahan Pencegahan utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan dengan

katarak dan menghindari faktor-faktor yang mempercepat terbentuknya katarak : • • • • Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari bisa Mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata. Berhenti merokok bisa mengurangi resiko terjadinya katarak. Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus. Makanan-makanan sumber riboflavin di antaranya susu, daging, sayur, telur sayuran hijau seperti kol, brokoli, asparagus serta biji-bijian (cereals).

BAB IV ANALISA KASUS

Penderita adalah seorang laki-laki berusia 71 tahun, datang dengan keluhan utama penglihatan kedua mata terasa kabur. Dari anamnesis didapatkan bahwa tajam penglihatan menurun perlahan tanpa disertai keluhan mata merah dan nyeri. Dari keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit ini dapat dipikirkan beberapa dignosis banding penyakit mata yang ditandai dengan penurunan visus perlahan mata tenang, diantaranya yaitu katarak, kelainan refraksi, glaukoma kronis, ambliopia, retinoblastoma dan retinopati. Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menyingkirkan diagnosis banding berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Kemungkinan ambliopia dan retinoblastoma dapat disingkirkan dari identifikasi dimana penderita berusia sudah berusia 71 tahun. Ambliopia adalah berkurangnya tajam penglihatan yang terjadi karena tidak normalnya perkembangan visus yang dialami sejak usia dini, yaitu sejak lahir hingga usia 10 tahun. Pada penderita ini penurunan visus mulai terjadi sejak dua tahun terakhir sedangkan sebelumnya penglihatan normal. Retinoblastoma merupakan kelainan kongenital yang biasanya baru terlihat pada anak berumur 1-2 tahun. Pada pasien retinoblastoma, penurunan visus secara perlahan biasanya disertai dengan perubahan gerak bola mata menjadi strabismus, pelebaran pupil dengan refleks warna kuning mengkilat (amourotic cat’s eye), dan meningkatnya tekanan intraokuler. Kemungkinan glaukoma kronis dapat disingkirkan dari anamnesis dimana penderita tidak mengeluhkan gambaran pelangi di sekitar lampu (halo) maupun merasakan sakit kepala yang hilang timbul. Dari pemerikan tonometri dengan tonometri Schiotz tidak terdapat peningkatan tekanan intraokuler (TIOD = 15,6 mmHg, TIOS = 13,1 mmHg).

Kemungkinan retinopati tidak dapat ditegakkan, karena pemeriksaan opthalmologis pada segmen posterior mata kanan untuk menilai ada tidaknya degenerasi atau kelainan dari retina sulit dilakukan karena adanya kekeruhan lensa, pada funduskopi hanya didapatkan refeleks fundus yang samar-samar. Retinopati biasanya berhubungan dengan penyakit sistemik, misalnya penyakit kardiovaskuler, penyakit darah, gangguan metabolisme dan endokrin. Dari anamnesis pada penderita ini tidak terdapat riwayat penyakit yang dapat menyebabkan retinopati misalnya penyakit darah, hipertensi ataupun penyakit diabetes mellitus. Dari hasil pemeriksaan tajam penglihatan terhadap penderita, didapatkan visus mata kanan 2/60 dan visus mata kiri 1/60. Pada pemeriksaan segmen anterior mata kanan ditemukan kekeruhan pada lensa disertai shadow test (-) yang menunjukkan tanda katarak matur. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksan fisik diatas, penderita ini didiagnosis dengan katarak matur subkapsularis posterior ODS. Pada pasien ini telah direncanakan ekstraksi katarak ekstrakapsuler (ECCE) dan penanaman intra okuler lensa (IOL). Pertimbangan pemilihan ECCE adalah karena ukuran insisi yang diperlukan lebih kecil sehingga timbulnya trauma pada pada endotel kornea lebih sedikit. Kapsul posterior yang intak dapat menempatkan IOL pada posisi anatomis yang lebih baik, mengurangi mobilitas iris dan vitreus, serta mengurangi insiden cystoid macular edema, ablasi retina dan edema kornea, Kapsul posterior yang intak juga mencegah masuknya bakteri dan mikroorganisme, yang mungkin terdapat pada bilik mata depan saat operasi, ke dalam badan vitreus dan menyebabkan endopthalmitis. Pemasangan IOL dilakukan karena dianggap lebih praktis jika dibandingkan dengan lensa kontak atau kacamata afakia yang suatu saat harus diangkat, dibersihkan atau dipasang kembali oleh pasien. Selain itu, pemasangan IOL tidak ada kontraindikasi kecuali orang yang menderita uveitis. Prognosis pasien katarak umumnya baik karena katarak tidak mengancam kehidupan, sehingga quo ad vitam bonam. Fungsi mata penderita dapat kembali normal

tergantung pembedahan dan penatalaksanaan yang tepat, sehingga pada penderita ini prognosis quo ad functionam dubia ad bonam.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ilyas, Sidharta. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, hlm : 128-136 Vaughan DG. Oftalmologi Umum. Widya Medika. 1995 Ilyas, Sidharta. 2006. Dasar – Tehnik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi kedua. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. James, Bruce, et al. 2006 . Lecture Notes Oftalmologi, 9th eds. Jakarta : Erlangga. Hlm : 76-79. http://www.erfins.multiply.com.journalitem43 - 19k. Sumber : American Academy of Ophthalmology. http://www.tedmontgomery.com/the_eye/index.html Young RW. Age-Related Cataract. New York : Oxford University Press; 1991.

2. 3.

4.

5.

6. 7.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.