You are on page 1of 10

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. Virus ini merupakan golongan retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia terutama sel CD4+, sel T dan makrofag. Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981, sedangkan di Indonesia kasus pertama kali dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Penularan HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun

heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkoba, transfusi komponen darah dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya. Oleh karena itu pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya merupakan kelompo resiko tinggi terhadap HIV/AIDS. Sejak 1985 sampai 1996 kasus HIV/AIDS di Indonesia masih sangat jarang, namun pada Tahun 2002 Departemen Kesehatan RI pada tahun 2002 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi HIV adalah antara 90.000 sampai 130.000 orang. Pengguna narkotika suntik mempunyai resiko tinggi untuk tertular oleh virus HIV atau bibit-bibit penyakit lain karena penggunaan jarum suntik yang bersamaan. Bahkan suatu survey di sebuah kelurahan di Jakarta Pusat yang dilakukan oleh Yayasan Pelita Ilmu menunjukkan 93% pengguna narkotika terinfeksi HIV. Oleh karena itu penyebaran dari infeksi HIV harus kita tekan agar tidak semakin cepat dan untuk pada penderita HIV/AIDS harus dilakukan perbaikan kualitas hidup.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi HIV (Human Immunodeficieny Virus) merupakan golongan retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh terutama CD4+ dan sel T serta makrofag. Akibatnya terjadi pengurangan yang signifikan dari sistem kekebalan tubuh yang akhirnya semakin lama akan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV.

2.2. Etiologi Penyebab AIDS adalah virus HIV yang tergolong retrovirus. Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Perancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenophaty Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada 1984 mengisolasi (HIV)III. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 diubah menjadi HIV. Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang, atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel lymphosite T, karena memiliki reseptor untuk virus HIV yaitu CD4. Di dalam sel ini, virus dapat berkembang biak dan seperti retrovirus yang lain dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.

2.3. Cara Penularan HIV/AIDS Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan HIV/AIDS, namun hingga kini cara penularan yang diketahui adalah:

1. Transmisi seksual Penularan melalui hubungan seksual baik homoseksual maupun heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan cairan semen dan vagina. Infeksi HIV dapat ditularkan penderita kepada setiap pasangan seksnya. Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah pasangan seks, dan jenis hubungan seks.

2. Transmisi non seksual a. Transmisi Parenteral Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya yang telah terkontaminasi, misalnya penyalahgunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik tercemar secara bersama-sama. b. Produk darah Transmisi melalui transfusi darah sangat sering terjadi di negara-negara barat sebelum 1985, namun setelah 1985 sudah jarang terjadi karena darah selalu diperiksa sebelum ditransfusi. Resiko penularan infeksi HIV melalui darah adalah 99%.

3. Transmisi transplasental. Penularan dari ibu yang mengidap HIV positif kepada anaknya memiliki resiko 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil,

melahirkan dan waktu menyusui. Penularan infeksi HIV dengan cara ini termasuk kedalam kategori resiko rendah.

2.4. Patofisiologi Sel CD4+ mencakup monosit, makrofag, dan limfosit T4 helper. Limfosit T4 helper itu merupakan sel yang paling banyak. Sesudah terikat dengan membrane sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper, dengan menggunakan enzim yang dikenal dengan reverse transcriptase HIV akan melakukan

pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double stranded DNA . DNA ini akan disatukan ke dalam nucleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian infeksi yang permanen.

Gambar.1 Patogenesis HIV/AIDS.

2.5. Stadium Klinis Penderita HIV.

Derajat 1: Asimtomatik

Tanpa gejala Limfadenopati generalisata yang persisten

Persisten hepatosplenomegali tanpa sebab yang jelas Erupsi pruritus papular Infeksi jamur pada kuku Angular cheilitis Eritema pada garis gingiva Infeksi wart virus yang luas molluscum contagiosum ulkus pada rongga mulut yang tidak sembuh pembesaran kelenjar parotis tanpa ada sebab yang jelas Herpes zoster Infeksi saluran nafas atas yang kronis (otitis media, otorrhoea, sinusitis, tonsillitis)

Derajat 2: Ringan


Derajat 3: Lanjut

Moderate malnutrisi diarrhoea kronis (14 days or more) demam lama (lebih dari 37.5 C intermittent atau menetap, selama lebih dari 1 bulan) kandidiasis oral persisten (setelah umur 68 minggu) Oral hairy leukoplakia Acute necrotizing ulcerative Gingivitis/ periodontitis Limfadenitis TB TB paru Pneumonia bakterial yang kambuhan Gejala intersisial pneumonitis limfoid Bronchiectasis dan infeksi oportunistik paru lain anemia (<8 g/dl), neutropenia (<0.5 x 109/L3) atau

thrombositopenia kronis (<50 x 109/L3)

Derajat 4: Berat

malnutrisi yang tidak membaik dengan terapi standart Pneumocystis pneumonia Infeksi bakteri (e.g. empyema, pyomyositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis) herpes simplex kronis (orolabial, kulit dan visceral selama lebih dari 1 bulan) kandidiasis esophageal/trakea/bronkus/paru TB ekstra paru Kaposi sarcoma Cytomegalovirus: retinitis atau CMV yang lebih dari 1 bulan toxoplasmosis (setelah umur 1 bulan) cryptococcosis ekstra paru (termasuk meningitis) encephalopati HIV endemic mycosis (extrapulmonary histoplasmosis,

coccidioidomycosis) infeksi mycobacterium non TB cryptosporidiosis kronis (dengan diarrhoea) isosporiasis kronis non-Hodgkin lymphoma sel B atau serebral leukoencephalopathy progresif HIV-associated nefropati atau HIV-associated cardiomyopati

2.6. Diagnosis HIV/AIDS Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang sangatlah penting, karena pada infeksi HIV gejala klinisnya dapat beru terlihat setelah bertahun-tahun. Terdapat beberapa jenis pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis infeksi HIV. Secara garis bsar dapat dibagi menjadi pemeriksaat serologic untuk mendeteksi keberadaan virus HIV. Deteksi adanya virus

HIV dalam tubuh dapat dilakukan dengan isolasi dan biakan virus, deteksi antigen, dan deteksi materi genetic dalam darah pasien. Pemeriksaan yang lebih mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan terhadap antibody HIV. Sebagai penyaring biasanya digunakan teknik ELISA (enzyme-linkedimmunosorbent assay), aglutinasi atau dot-blot immunobinding assay. Metode yang biasanya digunakan di Indonesia adalah ELISA. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibody HIV ini adalah masa jendela. Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulainya timbul antibody yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai terbentuk 4-8 minggu setelah infeksi. Jadi jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil yang negative. Untuk itu jika ada kecurigaan akan adanya resiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan 3 bulan kemudian. Kriteria Diagnosis Seseorang dinyatakan terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan antibody atau pemeriksaan untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila terdapat infeksi oportunistik atau limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm. 2.7. Pengobatan HIV/AIDS HIV/AIDS sampai saat ini memang belum dapat disembuhkan total. Namun dengan pengobatan kombinasi beberapa obat anti HIV (antiretroviral) bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV. Orang dengan AIDS menjadi lebih sehatm dapat bekerja normal dan produktif. Secara umum penatalaksanaan odha (orang dengan HIV/AIDS) terdiri atas beberapa jenis, yaitu: pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV), pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV, dan pengobatan suportif, yaitu makanan dengan nilai gizi yang lebih baaik dan pengobatan yang mendukung seperti psikososial dan dukungan agama serta menjaga kebersihan. Tabel 1. Obat Antiretroviral yang beredar di Indonesia.

Nama Dagang Stavir, Zerit

Nama Generik

Golongan

Sediaan

Dosis per hari

Stavudin (d4T)

NsRTI

Kapsul: 30mg, 40mg

>60kg: 40mg <60kg: 30mg 2x150mg <50kg: 2mg/kgBB,2x/hari

Hiviral

Lamivudin(3TC)

NsRTI

Tablet 150 mg Larutan. Oral 10mg/ml

Viramune, Neviral

Nevirapin (NVP)

NNRTI

Tablet 200mg

1x200mg selama 14hari dilanjutkan 2x200 mg

Retrovir, Adovi Videx

Zidovudin (ZDV, AZT) Didanosin (ddI)

NsRTI

Kapsul 100mg

2x300mg

NsRTI

Tablet Kunyah 100 mg

>60kg: 2x 200 mg <60kg: 2x125 mg

Stocrin

Efavirenz (EFZ)

NNRTI

Kapsul 200mg

1x600 mg, malam

Nelvex, Viracept

Nelfinavir (NFV)

PI

Tablet 250mg

2x1250mg

Waktu memulai terapi ARV harus dipertimbangkan dengan seksama karena obat ARV akan diberikan dalam jangka panjang. Evaluasi Pengobatan Pemantauan jumlah sel CD4 didalam darah merupakan indikator yang dapat dipercaya untuk memantau beratnya kerusakan kekebalan tubuh akibat HIV, dan memudahkan kita untuk mengambil keputusan memberikan pengobatan ARV. Jika tidak terdapat saran pemeriksaan CD4, maka jumlah CD4 dapat diperkirakan dari jumlah limfosit total yang sudah dapat dikerjakan di banyak laboratorium pada umumnya.

BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan HIV/AIDS merupakan penyakit infeksi yang belum dapat disembuhkan yang bekerja merusak sistem kekebalan tubuh sehingga dapat terjadi infeksi oportunistik yang sulit untuk disembuhkan. Penyakit ini dapat dicegah dengan cara menjauhi faktor resiko yaitu hubungan seks yang berganti-ganti pasangan, pemakaian jarum suntik bersamaan dan pemakaian narkotika. Angka mortalitas dini pada pasien-pasien dengan HIV/AIDS dapat ditekan dengan pemberian obat ARV sehingga odha dapat hidup secara normal dan produktif, tetapi juga harus disertai dukungan moral dari orang-orang disekitar.

3.2. Saran HIV/AIDS dapat ditekan angka kematian dengan pemberian ARV oleh karena itu para penderita HIV/AIDS sebaiknya dikonsultasikan ke Posyansus (Pos Pelayanan Khusus) untuk odha. Masyarakat sekitar juga harus memberikan dukungan kepada odha dan bukan mengucilkan odha, karena terapi psikis juga merupakan salah satu terapi suportif bagi odha.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Djoerban Zubairi, Djauzi Samsuridjal. HIV/AIDS di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; 2006: 1803-1808, Jakarta.

2. http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=448 3. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26765/3/Chapter%20II .pdf 4. http://csm.jmu.edu/biology/virology/aids%20lecture/hiv.htm