ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN INFORMASI SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN TERHADAP KEUNGGULAN BERSAING MELALUI KINERJA BISNIS

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang
ABSTRACT OSMAD MUTHAHER

This study examines the impact of intensity of market competition and contextuals variables (strategy and perceived environmental uncertainty) on manager’s use information by management accounting system (MAS) and unit business performance. Managers’ use of the information provided by management accounting systems (MAS) can help organizations to adopt and implement plans in response to their competitive environment. In this research MAS is viewed as a system which provides benchmarking and monitoring information in addition to internal and historical information traditionally generated by management accounting system. The responses of 175 marketing managers, drawn from Icentral of Java manufacturing companies. Data analyzed by using partial least square (PLS). The results indicate that manager’s use information by management accounting system (SAM) acts as a mediator in the relationship between intensity of market competition and business performance. On the other hand, the relationship between strategy, information technology and business performance through SAM are not significant.
Keywords: intensity of market competition, information technology, strategy, management

accounting system (MAS), business performance, and sustainable competitive advantage customern service, dan profitability. Bromwich
(1990) menyarankan bahwa seorang manager yang menggunakan benchmarking dalam memantau informasi dengan SAM dapat membantu organisasi dalam menghadapi tantangan yang dihasilkan dari persaingan pasar dan membantu usaha yang bernilai tambah menjadi relatif bagi competitors. Walaupun para peneliti mengatakan bahwa penggunaan informasi SAM banyak dalam lingkungan kompetitif (Kaplan, 1983; Shank dan Govindarajan, 1989; Bromwich, 1990), riset empiris mengenai hal tersebut telah berkurang (Foster dan Gupta, 1994). Faktafakta yang bersifat anekdot menyarankan bahwa dengan adanya intensitas persaingan pasar, banyak organisasi yang bekerja dengan lebih baik (Mia dan Clarke, 1999). Lebih lanjut Khandwalla (1972) melaporkan adanya hubungan negatif diantara harga, produk dan pemasaran (distribusi), jaringan kompetisi dan kinerja organisasi. Rolfe (1992) menambahkan bahwa kompetisi di pasar benar-benar menciptakan ancaman dan tantangan. Dalam rangka memperoleh dan mempertahankan keunggulan kompetitif, organisasi perlu untuk beradaptasi dengan

PENDAHULUAN Persaingan pasar telah menciptakan pergolakan, tekanan, resiko dan ketidakpastian organisasi. Puncak tuntutan organisasi yaitu menjawab segala ancaman dan kesempatan dalam lingkungan bersaing, dan mereka mendesain serta menggunakan sistem pengendalian yang tepat untuk mencapai tujuan. Ada sejumlah bukti empiris pada industri manufaktur yang mendukung hubungan positif antara peran manajer terhadap penggunaan sistem akuntansi manajemen (SAM) maupun kinerja (Biema dan Greenwald, 1997; Mia dan Clarke; 1999). Manager yang menggunakan informasi telah mempersiapkan sistem akuntansi manajemen untuk dapat membantu organisasi memakai dan mengimplementasikan rencana dalam menanggapi lingkungan bersaingnya. Penelitian ini terkonsentrasi pada penggunaan manager terhadap benchmarking dan monitoring sistem informasi yang tersedia. Keterlibatan benchmarking dalam membandingkan suatu perusahaan dengan pesaing merupakan faktor yang relevan, termasuk didalamnya costs dan structure costs, produktivitas, kualitas, harga,

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

217

cepat pada lingkungan pasarnya (DeGeus, 1988; Senge, 1990; Day, 1991). Maka dengan itu, jika suatu perusahaan menghadapi peningkatan kompetisi pada pasarnya, namun gagal mengadopsi dan mengimplementasikan strategi yang tepat untuk menghadapi persaingan tersebut, maka kinerjanya cenderung memburuk. Barangkali ini merupakan alasan kenapa Khandwalla (1972) melaporkan adanya hubungan negatif antara profitabilitas perusahaan dan tingkat harga produk, serta jaringan persaingan pasar. Hal ini mewakili suatu penyimpangan (anomaly) antara bukti empiris terhadap isu dan realita, dan kami menyarankan bahwa manager yang menggunakan informasi SAM menawarkan suatu penjelasan tentang adanya penyimpangan. Teori kontijensi dapat digunakan untuk menganalisis desain dan sistem akuntansi manajemen untuk memberikan informasi yang dapat digunakan perusahaan untuk berbagai macam tujuan (Otley, 1980) dan untuk menghadapi persaingan (Mia dan Clarke,1999). Teori kontijensi didasarkan pada premis bahwa tidak ada sistem akuntansi manajemen yang secara universal dapat digunakan organisasi dalam berbagai lingkungan (Otley, 1980; Muslichah,2003). Dalam penelitian ini pendekatan kontijensi digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor lingkungan (intensitas persaingan, strategi dan ketidakpastian lingkungan) yang diduga dapat menyebabkan sistem akuntansi manajemen menjadi lebih efektif. Beberapa penelitian sebelumnya yang menggunakan pendekatan kontijensi untuk menguji hubungan antara variabel-variabel kontekstual (teknologi informasi, strategi dan ketidakpastian lingkungan) terhadap sistem akuntansi manajemen dan kinerja seperti Gordon dan Miller (1976), Abernethy dan Guthrie (1996), Chong dan Chong (1997), Chenhall dan Morris (1996) serta Abernethy dan Bouwens (2000) menyatakan bahwa organisasi perlu mempertimbangkan variabelvariabel kontekstual tersebut agar informasi dari sistem akuntansi manajemen yang dihasilkan menjadi lebih efektif. Secara tradisional informasi akuntansi manajemen didominasi oleh informasi finansial, tetapi dalam perkembangannya juga menyediakan informasi non finansial. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi keterbatasan penelitian sebelumnya dengan menambah jumlah sampel yang lebih besar dan menambahkan

variabel penelitian yang belum diteliti oleh peneliti sebelumnya di Indonesia baik dilakukan oleh Faisal (2006), Arfan (2005), dan Faisal (2005) dan peneliti dari luar seperti Mia dan Clarke (1999), sehingga penelitian ini akan memberikan temuan empiris yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini juga mengembangkan penelitian sebelumnya dengan menambahkan variable teknologi informasi sebagai variable independent dan keunggulan bersaing. Alasan penambahan variable ini disebabkan dampak krisis ekonomi dan kenaikan harga BBM mengakibatkan para manajer harus unggul dalam setiap persaingan (competitive advantage). Argumen ini didukung oleh Jiang Wei dan Khaleel Malik (2005) yang menyatakan bahwa menghadapi tekanan persaingan dan perubahan lingkungan bisnis akan meningkatkan kemampuan teknologi perusahaan, peningkatan kemampuan teknologi sebagai sumber bagi keunggulan bersaing berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan bukti empiris yang berhubungan dengan upaya-upaya untuk mencapai keunggulan bersaing berkelanjutan melalui penggunaan informasi sistem akuntansi manajemen. Telaah Teori dan Pengembangan Hipotesis a. Hubungan Intensitas Persaingan Pasar dan Kinerja Bisnis Persaingan suatu organisasi tidak hanya menjadi pemicu harga, produk dan jaringan persaingan pasar, tetapi juga dikarenakan beberapa faktor, seperti adanya sejumlah pesaing di pasar, perubahan teknologi dan industri, perubahan regulasi dan kebijakan pemerintah, dan kesepakatan kepada customers dari yang ditawarkan

competitors.

Organisasi perusahaan pada umumnya mampu memperoleh keunggulan bersaing jika posisi yang dimiliki oleh perusahaan mampu memberi kekuatan yang menonjol diatas kekuatan pesaing, dan kemampuan untuk membangun image produk perusahaan terhadap pelanggan (product positioning). Oleh karenanya, faktor-faktor ini menambah simultan dan kombinasi terhadap pengaruh persaingan. Porter (1979) contohnya, mendukung bahwa intensitas atau tingkat persaingan dalam suatu industri tergantung pada collective-nya kekuatan terhadap perbedaan faktor-faktor dalam JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230

218

tingkatan industri. Bukti anecdote mendukung sifat persaingan yang diajukan Porter. Mia dan Clarke (1999) dalam pilot study penelitiannya terhadap seorang manager pemasaran menjelaskan bahwa: “akan tidak realistis untuk mempertimbangkan persaingan pasar dipengaruhi oleh aspek tertentu, seperti pengenalan produk baru secara independen. Suatu organisasi seharusnya mengambil langkah-langkah secara simultan untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasarnya. Lebih lanjut Mia dan Clarke (1999) menjelaskan bahwa menurut manajer umum perusahaan industri makanan, persaingan pada proses industri makanan cukup kuat, dan semakin kuat. Dalam menjelaskan pandangannya, manajer tersebut mengatakan: Banyak produk baru pada pasar ditambah barang-barang impor dari luar negeri merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. Kohli dan Jaworski (1990) mangatakan bahwa besarnya persaingan suatu perusahaan harusnya berorientasi pada pasar dalam pengertian seharusnya menemukan keinginan customers dan menciptakan nilai superior customer untuk kepuasan mereka. Mereka juga mengatakan bahwa suatu organisasi seharusnya carefully mengukur keuntungan dan biaya yang diharapkan serta mengejar keuntungan terhadap peningkatan orientasi strategi pasar, peningkatan orientasi pasar mungkin akan menghalangi kinerja. H1: Ada pengaruh signifikan positif intensitas persaingan terhadap kinerja bisnis b. Pengaruh Intensitas Persaingan Pasar Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen DeGeus (1988) dan Senge (1990) menyatakan bahwa untuk mempertahankan keunggulan kompetitif, perusahaan perlu beradaptasi secara cepat terhadap lingkungan mereka, konsekuensinya apabila perusahaan menghadapi peningkatan persaingan dan mereka tidak mampu mengadopsi serta mengimplementasikan strategi yang tepat maka kinerja perusahaan akan dianggap buruk. Hal ini kemungkinan yang menjadi alasan mengapa dalam penelitian Khandawalla (1972) disimpulkan adanya hubungan negatif antara profitabilitas perusahaan dengan harga, produk dan saluran pemasaran. Menurut Porter (1980) faktor-faktor jumlah pesaing,

perubahan teknologi, deregulasi dan kebijakan pemerintah serta permintaan kustomer merupakan faktor-faktor yang secara simultan dan berkombinasi mempengaruhi persaingan. Intensitas atau derajat persaingan dalam sebuah industri bergantung pada kekuatan faktor-faktor tersebut melakukan action dalam sebuah industri. Menurut Kohli dan Jaworski (1990) semakin besar derajat persaingan maka orientasi manajer unit bisnis untuk mengadopsi dan mengejar berbagai strategi yang dapat meningkatkan kinerja mereka akan semakin tinggi pula. SAM sebagai suatu sistem yang menghasilkan informasi dapat memberikan benchmarking dan monitoring serta membantu perusahaan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengimplementasikan strategi-strategi yang tepat serta memperbaiki kinerja perusahaan. Dengan kata lain informasi SAM merupakan mediator hubungan antara persaingan dengan kinerja perusahaan (Mia dan Clarke, 1999). Menurut Rolfe (1992) intensitas persaingan pasar akan meningkatkan product range, menurunkan product life cycles dan menambah saluran distribusi yang baru. Hal tersebut berdampak pada perubahan rantai penawaran kustomer, peningkatan sensitivitas pasar dan product target menjadi terbagi kedalam segmensegmen yang lebih kecil. Lynn (1994) menyatakan bahwa untuk menghadapi ancaman dan tantangan, perusahaan akan beradaptasi dengan mengadopsi strategi diferensiasi produk, jasa dan harga. Informasi benchmarking dan monitoring yang dihasilkan SAM dapat membantu perusahaan untuk mengimplementasikan strategi diferensiasi dan pricing (Bromwich,1990) sehingga manajer dapat menggunakan informasi tersebut untuk membandingkan kondisi internal mereka dengan kondisi pesaing. Informasi benchmarking dan monitoring dapat memberikan feedback pada berbagai aspek penilaian kinerja, seperti kos, struktur kos, tingkat persediaan, pangsa pasar, volume penjualan, profitabilitas dan produktivitas (Kaplan, 1983) sekaligus memperbaiki kinerja perusahaan. Salah satu contoh informasi feedback yang disediakan informasi SAM adalah laporan perbandingan kinerja perusahaan pada kondisi terkini (current years) atas kos, pangsa pasar, tingkat persediaan dan volume penjualan dengan kinerja perusahaan tahun-tahun sebelumnya pada industri yang sama. Menurut Mock (1973) dan Kenis (1979) peran feedback dari

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

219

informasi akuntansi adalah dapat memperbaiki sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan. H2 : Ada pengaruh signifikan positif intensitas persaingan terhadap penggunaan Informasi SAM c. Pengaruh Strategi Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Miles dan Snow (1978) mengklasifikasikan strategi kedalam 4 tipe : prospectors, analyzers, defender dan reactors. Perusahaan defender membatasi jenis produksinya atau melakukan pembatasan pasar. Kinerja perusahaan dinilai berdasarkan keuangan, produksi dan perekayasaan teknis dengan menekan pengeluaran untuk pemasaran dan riset dan pengembangan (R & D). Perusahaan prospector secara kontinyu mengawasi peluang pasar dan melakukan kreasi terhadap perubahan dan ketidakpastian untuk merespon pesaing. Fungsi pemasaran dan R & D menjadi lebih dominan. Kinerja tidak hanya berdasarkan laba dan efisiensi tetapi yang lebih penting adalah menjadi leader dalam inovasi produk. Perusahaan analyzer merupakan kombinasi kekuatan antara prospector dengan defender. Palmer (1992) menyatakan bahwa perusahaan yang menerapkan strategi cost leadership (defender) harus menekankan pentingnya biaya standar dan realisasi tujuan anggaran. Kedua informasi tersebut dapat diperoleh dari informasi yang dihasilkan sistem akuntansi manajemen. Menurut Porter (1985) ada dua jenis strategi, yaitu strategi korporat dan kompetitif (unit bisnis). Strategi korporat memfokuskan pada bisnis apa yang dan bagaimana mengelola unit bisnis. Sedangkan strategi kompetitif fokus pada penciptaan keunggulan kompetitif pada masing-masing unit bisnis. Konsep-konsep strategi kompetitif dapat dibedakan menjadi defender, prospector dan analyzer, reactors (Miles dan Snow,1978); konservatif (adaptive), enterpreneurial (Miller dan Friesen, 1982) ; cost leadership, differentiation, focus (Porter, 1985). Porter (1980) mengelompokkan strategi menjadi cost leadership, differentiation dan focus. Ketiga strategi tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk mempertahankan keunggulan kompetitif. Penelitian Sim, Teoh dan Thong (1993) menyatakan bahwa perusahaan yang menerapkan strategi defender (cost leadership) beroperasi dengan menekankan pada efisiensi kos yang

membutuhkan sistem informasi akuntansi yang sophisticated dengan memonitor informasi atau tren pasar. Untuk mempertahankan stabilitas pasarnya, perusahaan harus memiliki historical information. Untuk memonitor informasi dan mempertahankan stabilitas pangsa pasarnya dibutuhkan informasi yang timeliness. Dengan demikian infromasi timeliness yang dihasilkan SAM sangat tepat untuk perusahaan dengan strategi defender (Abernethy dan Guthrie,1994). Perusahaan yang menerapkan strategi prospector (differentiation), secara konstan mengembangkan peluang-peluang pasar baru sehingga membutuhkan struktur yang fleksibel dan inovatif. Konsekuensinya informasi eksternal, non finansial dan informasi yang berorientasi kedepan sangat dibutuhkan manajer untuk pembuatan keputusan. H3 : Ada pengaruh signifikan positif strategi yang diterapkan terhadap penggunaan informasi SAM d. Pengaruh Teknologi Informasi Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Teknologi komputer merupakan salah satu TI yang banyak berpengaruh terhadap sistem informasi organisasi karena dengan sistem informasi berbasis computer informasi dapat disajikan tepat waktu dan akurat. Seperti dinyatakan oleh Hansen dan Mowen (1997) dengan penggunaan komputer sejumlah besar informasi yang berguna dapat dikumpulkan dan dilaporkan kepada manajer dengan segera. Apa yang terjadi di berbagai bagian dapat diketahui dalam sekejap. Ini memungkinkan manajemen dapat mengambil keputusan secara lebih cepat. TI juga dapat digunakan untuk integrasi kerja baik itu integrasi vertikal maupun horizontal (Martin et al. 1994), TI dapat membantu perusahaan dalam memperoleh informasi yang kompetitif (Mc Leod, 1995). TI dapat menyajikan informasi dalam bentuk yang berguna serta dapat digunakan untuk mengirim informasi ke orang lain atau ke lokasi lain (Haag dan Cummings,1998). TI mengintegrasikan data dari berbagai bagian, mengurangi pekerjaan klerikal, dan mempercepat penyajian data yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Christiansen dan Mouritsen (1995) menyatakan bahwa TI merupakan tantangan bagi akuntan manajemen. Pertama TI JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230

220

digunakan untuk mekanisasi tugas – tugas departemen akuntansi, seperti pelaporan, pengumpulan data. TI dalam bentuk yang berbeda diintegrasikan ke dalam peralatan produksi, dimana data yang dihasilkan akan disimpan secara otomatis, ini tentu saja kan mempercepat laporan – laporan yang berkaitan dengan produksi. Kedua, TI saat ini memungkinkan untuk menyediakan database yang lebih kompleks, sehingga informasi non keuangan dapat tersedia, misalnya informasi yang berkaitan dengan produk, konsumen, proses produksi. Informasi ini memudahkan para manajer dalam memonitor dan menganalisa operasi mereka. Ketiga, TI memungkinkan dibuatnya rencana yang disuaikan dengan situasi. Simulasi dan skenario bagaimana jika (what if) yang dapat disajikan oleh TI dapat menyediakan berbagai alternatif dari konsekwensi suatu keputusan. Perangkat lunak saat ini memungkinkan para manajer membuat model mereka sendiri secara cepat, dan dapat secara mudah dimodifikasi, tanpa harus berkonsultasi dengan spesialis komputer. Muthaher (2007) menyatakan bahwa TI bahwa pengaruh tidak langsung TI terhadap kinerja bisnis melalui karakteristik SAM scope berpengaruh signifikan.. Penelitian ini didukung oleh Karimi et al. (2001) dan Boynton et al. (1994). Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa semakin tinggi aplikasi TI akan semakin meningkatkan kemampuan suatu system untuk menyajikan informasi sesuai dengan kebutuhan manajer dalam pengambilan keputusan. TI, yang merupakan perpaduan antara teknologi komputer dengan teknologi jaringan memungkinkan manajer untuk memperoleh tidak hanya informasi internal, tetapi juga informasi eksternal, non keuangan, dan berorientasi yang akan datang. Dengan demikian, semakin meningkatnya penerapan TI, semakin meningkat pula ketersediaan informasi SAM lingkup luas. Ini akan memberikan semakin banyak alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan oleh manajer dalam pengambilan keputusan sehingga kinerja bisnis dapat ditingkatkan. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa TI dapat mempengaruhi Informasi SAM. Jadi penggunaan TI, yang merupakan penggabungan antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi, membantu SAM dalam menyajikan informasi lingkup luas. Ini dimungkinkan karena dengan menggunakan jaringan, informasi yang berhubungan dengan lingkungan eksternal

(misal: pemerintah, pesaing) dan internal (dari berbagai departemen) dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. H4: Ada pengaruh signifikan positif Teknologi Informasi terhadap ketersediaan informasi SAM e. Pengaruh SAM Terhadap Kinerja Bisnis Penggunaan informasi benchmarking dan monitoring yang disediakan oleh SAM membantu manajer untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan dua cara. Pertama, penggunaan informasi tersebut membantu manajer dalam memposisikan organisasinya pada persaingan pasar. Posisi organisasi yang sesuai di persaingan pasar merupakan hal yang krusial bagi kemampuan perusahaan untuk menopang paket atribut produk yang ditawarkan kepada konsumennya. Perolehan keunggulan biaya terhadap pesaingnya merupakan dasar atas pemposisian tersebut (Simmonds, 1981). Porter (1985) berpendapat bahwa suatu organisasi, untuk bertahan dan sukses dalam persaingan pasar, harus mengamati dan memonitor lingkungannya dalam hubungannya dengan ancaman dari pesaing potensial, ancaman dari produk dan jasa substitusi, sifat dan intensitas dari persaingan pada industri, dan kekuatan menawar dari supplier dan konsumen. Untuk secara sukses menghadapi ketiga faktor ancaman tersebut, suatu organisasi dapat menggunakan informasi SAM untuk mengamati lingkungannya dan mengidentifikasi segala perubahan pada industri dan strategi pesaing. Misalnya, besarnya ancaman dari produk dan jasa substitusi tergantung dari atribut dan biaya dari produk dan jasa tersebut. Informasi SAM dapat membantu menilai atribut, harga, dan biaya barang/jasa substitusi dalam pasar. Kekuatan menawar dari supplier tergantung dari ketersedianya alternatif konsumen dalam pasar dan harga yang diajukan oleh konsumen tersebut. Demikian juga, kekuatan menawar konsumen (atau kesempatan mereka untuk memilih) tergantung dari atribut atau barang alternatif dan harga produk tersebut yang ditawarkan oleh suplier dalam pasar. Informasi benchmarking dan monitoring dapat menfasilitasi penilaian tingkat kekuatan menawar konsumen (bargaining power of customer). Dan juga informasi sistem akuntansi manajemen dapat membantu manajemen dalam mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan nilai konsumen, sehingga

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

221

mempertahankan konsumen yang ada dan meningkatkan pangsa pasar. Beberapa perusahaan menetapkan kunci tujuan dalam bentuk total penjualan atau pangsa pasar karena hal ini merupakan dasar baik untuk profitabilitas jangka panjang. (Pogue, 1990). Kedua, penggunaan informasi SAM dapat juga mempromosikan kinerja organisasi dengan memberikan umpan balik pada implementasi perencanaan dan penyelesaian pekerjaan. Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan kepada penerima berkenaan dengan perilaku penerima tersebut (Ashford and Cummings, 1983). Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa umpan balik membantu manajer meningkatkan kinerjanya karena memungkinkan mereka mengidentifikasi dan mengoreksi kesalahan dan mengurangi ketidakpastian tugas dengan memberikan informasi yang relevan (Vroom, 1964; Bourne, 1966). Umpan balik menfasilitasi kinerja organisasi dengan mengarahkan usaha-usaha manajer terhadap tujuan dan perilaku yang dinilai oleh organisasi (Ashford and Cummings; 1983) Informasi benchmarking dan monitoring dapat memberikan umpan balik pada aspek-aspek yang berbeda saham, volume penjualan, profitabilitas, dan produktivitas (Kaplan, 1983), sehingga meningkatkan kinerja organisasi. Laporan yang membandingkan kinerja organisasi tahun sekarang pada biaya, pangsa pasar, tingkat persediaan atau volume penjualan dengan tahun-tahun sebelumnya atau dengan organisasi lain pada industri yang sama merupakan contoh dari umpan balik. Kenis (1979) dan Mock (1973) mendukung peran umpan balik informasi yang telah memperbaiki pengambilan keputusan para manajer. Dengan tidak sengaja, jika informasi tidaklah tepat waktu tersedia, para manajer tidak bisa menggunakannya, sekalipun mereka menginginkan itu. Pada sisi lain, jika para manajer tidaklah cukup dengan informasi yang tersedia bagi mereka, mereka tidak akan menggunakan informasi. Maka, kepuasan para manajer dengan system akuntansi manajemen adalah penting. H5 : Ada pengaruh signifikan positif SAM terhadap kinerja bisnis f. Pengaruh Teknologi Informasi Terhadap Kinerja Manajer dan Keunggulan Bersaing Berkelanjutan

Teknologi informasi merupakan sumber daya berwujud yang dimiliki oleh perusahaan (Hitt, Ireland, Hoskisson, 2001 dalam Tanriverdi, 2006) dan merupakan sumber daya organisasi strategik (Wade dan Hulland, 2004 dalam Tanriverdi, 2006). Selain itu juga, Suprianto (2005), menjelaskan bahwa teknologi informasi adalah teknologi yang memanfaatkan komputer sebagai perangkat utama untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat. Oleh karena itu, perusahaan yang mengoperasikan unit bisnis dalam industri memiliki peluang untuk memanfaatkan sinergi teknologi informasi lintas unit dengan menggunakan sumber daya dan proses manajemen teknologi informasi antar unit bisnis yang bersangkutan (Tanriverdi, 2005). Teknologi informasi diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian dan ketidakjelasan dari perubahan lingkungan, sehingga penguasaan terhadap teknologi informasi merupakan hal yang sangat penting dan dibutuhkan bagi suatu organisasi (Amrul, 2004). Perusahaan dapat secara dinamis mengalokasikan kelebihan kapasitas dari suatu infrastruktur teknologi informasi unit bisnis untuk unit bisnis lain. Sehingga dengan menggunakan infrastruktur teknologi informasi yang umum dapat secara potensial mengeksploitasi sinergi teknologi informasi lintas unit (Tanriverdi, 2005). Tanriverdi (2006) melakukan penelitian mengenai sumber daya teknologi informasi lintas unit dan kondisi dimana sinergi dari sumber daya teknologi informasi tersebut memperbaiki kinerja perusahaan yang memiliki unit-unit bisnis terintegrasi berdasarkan resource based view (RBV). Dalam pada itu penelitian yang dilakukan oleh Jiang Wei dan Khleel Malik (2005) mengemukakan bahwa mengahadapi tekanan persaingan dan perubahan lingkungan bisnis, maka penekakan pada peningkatan kemampuan teknologi informasi merupakan sumber bagi keunggulan bersaing berkelanjutan. Perusahaan akan dapat lebih meningkatkan dengan memilih jalan terbaik yaitu dengan memanage sumber daya teknologi mereka dalam jangka panjang melalui peningkatan kapabilitas teknoloi yang dipunyai. Peningkatan kapabilitas teknologi akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan kinerja. Dan Apabila kinerja meningkat melalui peningkatan kapabilitas teknologi akan merupakan sumber yang penting bagi keunggulan bersaing. JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230

222

H6: Ada pengaruh signifikan positif teknologi informasi terhadap meningkatkan kinerja bisnis H7: Ada pengaruh signifikan positif teknologi informasi terhadap keungulan bersaing berkelanjutan g. Hubungan SAM, Kinerja Bisnis dan Keunggulan bersaing Strategi merupakan rencana terpadu tentang uraian produk, kegiatan, fungsi dan pasar yang saat ini dijalankan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan utama perusahaan. Strategi disusun berdasarkan keunggulan perusahaan dalam menghadapi lingkungan. Strategi bersaing dimaksud melakukan sesuatu yang berbeda dengan para pesaing dalam industri yang sama (Porter, 1985). Setiap perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan strategi mana yang akan dipergunakan dalam bersaing. Panduan dasarnya adalah kesesuaian antara pilihan lingkungan pasar yang dihadapi agar dapat memaksimumkan nilai perusahaan.. Penelitian yang dilakukan oleh Sanchec dan David (2005) menemukan adanya hubungan kinerja dengan keunggulan bersaing berkelanjutan. Dikemukakan bahwa manajer pemebelian dengan Total Quality Management (TQM) dapat menolong organisasi untuk memeperoleh keunggulan bersaing berkelanjutan melalui peningkatan kualitas produk dan pelayanan ketika terjadai pengurangan biaya. Dalam penelitiannya ditemukan bukti empiris bahwa implementasi praktek manajemen yang berkualitas dalam pembelian berdampak langsung secara sugnifikan pada kinerja pembelian dan berpengaruh secara tidak langsung pada kinerja pemasaran. Dan peningktan kinerja pembelian akan berdampak pada keunggulan bersaing berkelanjutan. Penelitian yang dilakukan Douglas dan Morgan (2005) mengemukakan salah satu mekanisme pembelajaran yaitu Bencmarking telah digunakan secar luas dalam kegiatan manajemen dalam meningkatkan kemampuan atau nilai pasar. Penggunaan Bencmarking untuk meningkatkan nilai pasar akan berpengaruh pada tingkat keuntungan potensial kinerja bisnis dan pada akhirnya akan mengarah pada keunggulan bersaing berkelamjutan. H8: Ada pengaruh signifikan positif kinerja bisnis terhadap

keunggulan bersaing berkelanjutan H9: Terdapat hubungan tidak langsung antara SAM dan keunggulan bersaing melalui kinerja bisnis. Desain dan Metode Penelitian a. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan menggunakan penelitian kausalitas yaitu digunakan untuk mengembangkan model penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Dari model penelitian yang telah dikembangkan ini (insert Gambar 1), diharapkan akan menjelaskan hubungan antar variabel sekaligus membuat suatu implikasi yang dapat digunakan untuk peramalan atau prediksi. b. Populasi dan Sampel Untuk penelitain ini populasi yang digunakan adalah manajer pemasaran dari perusahaan besar dan menengah yang tersebar di propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data BPPS Jawa Tengah tahun 2005 sebanyak 3537 perusahaan. Alasan dipilhnya responden adalah karena mereka merupakan manajer pemasaran melakukan aktivitas rutin dan kinerjanya diukur dengan pencapaian target dan bertanggung jawab penuh atas aktivitas yang berkaitan dengan keunggulan bersaing perusahaan Teknik pengambilan sample yang digunakan Purposive sampling, dipilih satu jenis dari enam organisasi jenis yang ada yaitu perusahaan manufactur karena tingkat intenitas perasingan cukup tinggi. Jumlah sampel diambil sebesar 10% dari populasi Definisi dan Pengukuran Variabel 1. Variabel Intensitas Persaingan Pasar, didefinisikan sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat persaingan yang diukur dari jumlah pesaing utama dalam industri yang sama, frekuensi tingkat perubahan teknologi dalam industri yang sama, frekuensi pengenalan produk baru, seberapa luas akses terhadap saluran distribusi, frekuensi perubahan regulasi dan kebijakan pemerintah (Khandawalla, 1972). Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen yang yang dikembangkan oleh Mia dan Clarke (1999) yang diacu dari penelitian Khandawalla (1972). Instrumen ini berisi tujuh pertanyaan menyangkut intensitas persaingan dengan

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

223

menggunakan 7 point skala Likert. Angka 1 merepresentasikan kondisi persaingan yang sangat rendah dan angka 7 kondisi persaingan yang sangat tinggi. 2. Variabel Penggunaan Informasi SAM (Benchmarking dan Monitoring), menurut Mia dan Clarke (1999) variabel ini merepresentasikan seberapa sering manajer menggunakan informasi SAM dalam pembuatan keputusan. Variabel ini berisi yang menyangkut penggunaan informasi benchmarking yaitu informasi yang membandingkan kondisi internal unit bisnis dengan kondisi pesaing dalam industri yang sama, seperti informasi perbandingan pencapaian target penjualan, volume produksi, biaya produksi, delivery time, delivery costs, pendapatan, pangsa pasar, pelayanan customer, laba dan menyangkut penggunaan informasi monitoring, yaitu informasi yang membandingkan kondisi internal perusahaan terkini dengan kondisi perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya, seperti seberapa sering perusahaan menggunakan informasi trend (fluktuasi) untuk menilai kinerja mereka. Variabel ini diukur dengan instrumen yang dikembangan oleh Mia dan Clarke (1999) yang diacu dari penelitian Simons (1990). Instrumen ini terdiri dari tiga item pertanyaan dengan menggunakan 7 point skala Likert. Angka 1 merepresentasikan rendahnya frekuensi penggunaan informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan dan angka 7 menunjukkan tingginya frekuensi penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatann keputusan. 3. Variabel Strategi, Menurut Govindarajan dan Fisher (1988) strategi didefinisikan sebagai cara yang digunakan perusahaan untuk bersaing dalam industrinya.Variabel ini diukur dengan instrumen yang dikembangkan Govindarajan dan Fisher (1988). Instrumen ini berisi 6 item yang menyangkut enam aspek; harga jual produk, prosentase hasil penjualan yang digunakan untuk R & D, kualitas produk, brand image, features yang disediakan produk, dan kemampuan inovasi perusahaan. Dengan menggunakan 7 point skala Likert, responden ditanyai tentang posisi perusahaan dibandingkan perusahaan lain dari enam aspek tersebut. 4. Teknologi informasi, Teknologi informasi dicerminkan dalam formalisasi perencanaan, pengendalian, organisasi, dan integrasi

aktivitas-aktivitas teknologi informasi. Penelitian ini menggunakan instrumen kematangan teknologi informasi yang digunakan oleh Karimi et al (1996). Untuk mengukur kematangan teknologi informasi digunakan empat kriteria yaitu bentuk perencanaannya, pengendaliannya, organisasinya, dan integrasinya.Untuk menilai keempat indikator teknologi informasi diukur dengan menggunakan 8 item pertanyaan dengkan menggunakan skala likert 1-7. Responden diminta untuk menjawab 8 pertanyaan dengan memilih satu nilai dalam skala 1 (informasi tidak penting) sampai skala 7 (informasi sangat penting). 5. Variabel Kinerja Bisnis, didefinisikan oleh Mia dan Clarke (1999) sebagai seberapa tinggi tingkat pencapaian target yang telah direncanakan, misalnya pencapaian produksi, kos, kualitas, delivery schedule, volume penjualan, pangsa pasar dan tingkat laba. Variabel ini diukur dengan instrumen yang dikembangkan oleh Mia dan Clarke (1999) dengan 7 point skala Likert. Instrumen ini berisi 7 item pertanyaan yang menyangkut kinerja manajer unit bisnis 6. Keunggulan bersaing Berkelanjutan didefinisikan oleh Ferdinand (1999) sebagai suatu proses unik yang dikembangkan suatu organisasi sebagai upaya untuk mengalahkan pesaing. Variabel ini diukur dengan instrument yang dikembangkan oleh Ferdinand (1999) dengan 7 point skala likert. Instrumen ini berisi 3 item pertanyaan yang menyangkut keunggulan bersaing berkelanjutan. Pengolahan Data dan Analisis data Dalam penelitian ini analisis data menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS). PLS adalah model persamaan struktural (SEM) yang berbasis komponen atau varian (variance). Menurut Ghozali (2006) PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis covariance menjadi berbasis varian. SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji kausalitas/teori sedangkan PLS lebih bersifat predictive model. PLS merupakan metode analisis yang powerfull (Wold,1985 dalam Ghozali,2006) karena tidak didasarkan pada banyak asumsi. Misalnya, data harus terdistribusi normal, sample tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230

224

variabel laten. PLS dapat sekaligus menganalisis konstruk yang dibentuk dengan indicator refleksif dan formatif. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh SEM yang berbasis kovarian karena akan menjadi unidentified

model.

Dalam analisis dengan PLS ada 2 hal yang dilakukan. Pertama, menilai outer model atau measurement model adalah penilaian terhadap reliabilitas dan validitas variabel penelitian. Ada tiga kriteria untuk menilai outer model yaitu: convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Kedua, menilai inner model atau structural model. Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R-square dari model.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Outer Model (Measurement Model ) Hasil pengujian menggunakan factor loading tampak bahwa ada beberapa indicator yang menghasil factor loading dibawah 0,50 yaitu indicator untuk konstruk Keunggulan bersaing sebanyak dua indicator yaitu KBB 1 dan 2, indicator untuk konstruk teknologi informasi sebanyak 5 , indicator untuk konstruk Strategi bisnis sebanyak 3, indikator untuk intensitas persaingan sebanyak 3. Indikator yang hanya memiliki factor loading diatas 0,50 selanjutnya akan diolah sehingga akan menghasilkan convergent validity yang terbaik.

Tabel 1 : Factor Loading, Residual dan Weight Construct Keunggulan Bersaing Teknologi Informasi Strategi Bisnis Indicator KBB3 TI4 TI5 TI6 ST3 ST4 ST5 SAM1 SAM2 SAM3 SAM4 SAM5 SAM6 IP3 IP5 Mean 4.188571 5.268571 5.028571 5.297143 5.125714 4.868571 4.76 4.245714 3.88 4.154286 4.188571 3.931429 3.925714 2.834286 2.851429 4.531429 4.485714 4.474286 4.548571 4.291429 4.48 4.725714 Stdev 1.058021 1.023789 1.106037 1.073582 0.980366 1.149655 1.268359 1.242065 1.378155 1.229041 1.058021 1.257568 1.277647 0.81718 0.751004 1.038282 1.027536 1.071132 0.862158 1.18452 0.843092 1.002395 Loading 1 0.8348 0.6915 0.8805 0.6014 0.5325 0.9786 0.9266 0.8064 0.8465 0.8809 0.8972 0.8732 0.8426 0.544 0.8261 0.8216 0.8459 0.743 0.8892 0.8032 0.5231 Residual 0 0.3031 0.5218 0.2247 0.6384 0.7165 0.0424 0.1415 0.3498 0.2834 0.224 0.195 0.2375 0.29 0.7041 0.3175 0.325 0.2845 0.448 0.2093 0.3549 0.7263 Weight 1 0.4097 0.2358 0.5621 0.2383 -0.1144 0.9377 0.1864 0.1849 0.1852 0.2333 0.1748 0.1822 0.8391 0.5385 0.2499 0.215 0.1687 0.0916 0.222 0.19 0.1075

SAM

Intensitas Persaingan Kinerja Binis

KB1 KB2 KB3 KB4 KB5 KB6 KB7 Pengujian Outer Model

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

225

Outer Model atau Measurement Model adalah penilaian terhadap reliabilitas dan validitas variabel penelitian. Ada tiga kriteria untuk menilai outer model yaitu: convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Tabel 2 berikut menunjukkan hasil pengujian reliabilitas dan validitas untuk masing-masing variabel. Dari table tersebut dapat disimpulkan bahwa semua konstruk

memenuhi reliabilitas dimana nilai composite reliability dan AVE diatas criteria yang direkomendasikan yaitu nilai reliability diatas 0.80 dan AVE diatas 0.50 kecuali untuk konstruk Intensitas Persaingan dimana nilai composite dibawah 0.80. Discriminant validity dari pengukuran model dengan indikator refleksif dapat dilihat dari korelasi antar skor indikator dengan skor konstruknya.

Tabel 2: Hasil Pengujian Reliabilitas dan Validitas Variabel Keu.Bers TI Strategi SAM Int.Pers Kin.Bisnis Composite Reliability 1 0.846601 0.761551 0.950293 0.659177 0.917708 1 0.650127 0.534264 0.761469 0.502953 0.619214 AVE Cronbach Alpha 0 0.745331 0.744517 0.934996 0.012821 0.894277 Keu.Bers-TI Keu.Bers-Strategi Keu.Bers-SAM Keu.Bers-Int.Per Keu.Bers - Kin.Bisnis TI - Strategi TI - SAM TI - Int.Pers TI - Kin.Bisnis Strategi - SAM Strategi - Int.Pers Strategi - Kin.Bisnis SAM - Int.Pers SAM - Kin.Bisnis Int.Pers - Kin.Bisnis
Cara lain untuk menilai discriminat dilakukan dengan cara membandingkan square root of average variance extracted (AVE) untuk setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Model mempunyai discriminant validity yang tinggi jika akar AVE untuk setiap konstruk lebih besar dari korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya (Ghozali,2006). Tabel 3 menunjukkan korelasi dari latent variables dan nilai akar AVE. Hasil korelasi antar konstruk dan nilai akar AVE menunjukkan bahwa nilai akar AVE untuk variabel teknologi informasi, strategi bisnis, SAM dan kinerja bisnis dan keunggulan bersaing lebih besar dari nilai korelasi antar

Skor Korelasi 0.388 0.229 0.857 0.440 0.468 0.338 0.486 0.212 0.328 0.318 0.190 0.467 0.359 0.347 0.520

validity

konstruknya kecuali untuk variabel intensitas persaingan. Secara umum hasil ini menunjukkan bahwa discriminant validity yang tinggi. Pengujian discriminant validity juga dapat ditunjukkan dengan nilai composite reliabilitynya. Tabel 2 menunjukkan nilai composite reliability variabel penelitian semuanya diatas 0.70. Dengan demikian dapat disimpulkan semua konstruk mempunyai reliabilitas dan validitas yang tinggi. Pengujian Hipotesis/ Pengujian Inner Model (Model Struktural) Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dari model JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230

226

penelitian. Tabel 3 menunjukkan hasil pengujian inner model. Berdasarkan Tabel 3 dapat simpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Intensitas persaingan terhadap kinerja hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien 0.015 dan nilai t = 0.252 dan signifikansi pada level 0.05 . dapat dismpulkna hipotesis1 terbukti. Pengaruh intensitas persaingan terhadap SAM menunjukkan nilai koefisien 0.366 dan nilai t = - 4.219 dengan signifikansi 0.05 . Hasil ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 tidak terbukti. Sementara pengaruh strategi terhadap penggunaan informasi SAM memberikan hasil nilai koefisien 0.33 dan nilai t = 3.839 dengan signifikansi 0.05. Hasil memberikan bukti bahwa hipotesis 3 dapat diterima. Hipotesis 4 yang menyatakan bahwa ada pengaruh teknologi informasi terhadap penggunaan SAM terbukti, hasil ini dapat dilihat dari nilai koefisien 0.456 dan nilai t = 10.647 dengan signifikansi 0.05. Hipotesis 5, yang menyatakan bahwa SAM berpengaruh terhadap kinerja bisnis dapat diterima, hasil ini diperoleh dari nilai koefisien 0.558, nilai t = 4.153 dan signifikan pada level 0.05. Hipotesis 6 yang menyatakan bahwa teknologi informasi berpengaruh signifikan positif dengan Kinerja bisnis tidak terbukti, hasil ini dapat dilihat dari nilai koefisien -0.209, nilai t = - 2.956 dan signifikan pada 0.05. Sementara Hipotesis 7 yang menyatakan bahwa teknologi informasi berpengaruh terhadap keunggulan bersaing bisa diterima, hal ini dapat dibuktikan dengan nilai koefisien 0.07 dan nilai t = 1.594 dan signifikan pada 0.05. Pada Hipotesis 8 yang menyatakan bahwa ada pengaruh signifikan positif kinerja bisnis terhadap keunggulan bersaing berkelanjutan terbukti, hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien 0.757 dan nilai t = 7.01 dan signifikan pada 0.05. Hipotesis 9 yang menyatakan terdapat hubungan tidak langsung antara SAM dan keunggulan bersaing melalui kinerja bisnis dapat diterima. Hasil dapat dilihat dari nilai koefisien hubungan SAM terhadap kinerja bisnis sebesar 0.558 dan nilai t = 4.153 dan nilai koefisien hubungan kinerja bisnis dan keunggulan bersaing sebesar 0.757 dan nilai t = 7.01 dengan signifikansi 0.05. Namun hasil ini tidak lebih baik dibandingkan hubungan yang langsung SAM terhadap keunggulan bersaing yang menunujukkan nilai koefisien 0.916 dengan nilai t = 19.995 dan nilai R 2 yang cukup tinggi sebesar 78%.

Pembahasan Hasil pengujian hipotesis 1, 2 dan 5 konsisten dengan temuan Faisal (2006) dan Mia dan Clarke (1999). Sedangkan hipotesis 3 tidak berhasil / gagal mendukung Hasil penelitian Faisal dan Abernethy dan Guthrie (1994). Gagalnya penelitian ini mendukung hipotesis 3 kemungkinan disebabkan beberapa hal; Pertama, manajer dalam melakukan analisis tidak mempertimbangkan strategi yang diterapkan oleh perusahaan. Hal ini disebabkan karena manajer tidak terlibat langsung dalam memformulasikan strategi perusahaan. Bukti empiris menunjukkan bahwa keterlibatan manajer dalam memformulasikan strategi akan meningkatkan pemahaman mereka terhadap strategi yang digunakan perusahaan dan dapat membuat strategi tersebut lebih mudah untuk diterima (Erez dan Earley,1987; Wooldridge dan Flyod,1990; Muslichah,2003). Kedua, kemungkinan disebabkan oleh strategi yang diformulasikan tidak sama dengan strategi yang dilakukan. Hal ini didukung oleh penelitian Mitzberd (1995) dalam Muslichah (2003) yang menyatakan bahwa strategi tidak berjalan seperti yang direncanakan. Sementara itu hasil pengujian hipotesis 6 tidak dapat mendukung penelitian Tanriverdi, (2006) Gagalnya penelitian ini mendukung hipotesis 6 kemungkinan disebabkan bahwa penerapan teknologi informasi akan mempengaruhi suatu system untuk menyajikan informasi sesuai dengan kebutuhan manajer dalam pengambilan. Dengan demikian, semakin meningkatnya penerapan TI, semakin meningkat pula ketersediaan informasi SAM lingkup luas. Ini akan memberikan semakin banyak alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan oleh manajer dalam pengambilan keputusan sehingga kinerja bisnis dapat ditingkatkan, hal ini sesuai dengan penelitian Arsono dan Muslichah (2002). Hasil pengujian hipotesis 8 dan 9 konsisten dengan temuan Sanchec dan David (2005) serta Douglas dan Morgan (2005), bahwa SAM mempengaruhi kinerja bisnis dan keunggulan bersaing berkelanjutan . KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris yang berhubungan dengan upaya-upaya untuk mencapai keunggulan bersaing berkelanjutan melalui penggunaan informasi sistem akuntansi

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

227

manajemen Untuk menguji hipotesis yang diajukan, dalam penelitian ini digunakan partial least square untuk menguji data yang dikumpulkan dari1 75 orang manajer pemasaran dari perusahaan-perusahaan manufaktur di Jaaw Tengah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh tidak langsung tidak langsung antara SAM dan keunggulan bersaing melalui kinerja bisnis Hasil penelitian ini sepenuhnya mendukung hipotesis yang diajukan. Namun hubungan langsung antara SAM dan keunggulan bersaing lebih baik. Dari 9 hipotesis yang diajukan hanya ada 2 hipotesis tidak berhasil didukung, yaitu hipotesis 2 dan 6.. Sedangkan hipotesis 1,3,4,5,7,8,dan 9 berhasil didukung. Beberapa keterbatasan penelitian ini seperti tingkat pengembalian kuesioner yang rendah sehingga jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini hanya 175

orang dari 400 responden yang disebar dengan demikian hasil ini belum dapat digeneralisasi. Kedua, kelemahan dalam metode survei. Kemungkinan adanya bias antara responden yang dikirimi kuesioner dengan responden yang mengisi/mengembalikan kuesioner. Saran Saran untuk penelitian berikutnya adalah : 1. Melakukan teknik pengumpulan data tambahan seperti wawancara, contact person dengan pihak perusahaan dengan tujuan memperbanyak jumlah responden, melakukan pilot study untuk menjamin bahwa item-item pertanyaan dalam kuesioner dapat dipahami dengan baik oleh responden 2. Menambah variabel-variabel kontekstual lain yang diduga mempunyai korelasi dengan penggunaan informasi sistem akuntansi manajemen (SAM).

DAFTAR PUSTAKA Arfan, dan Rusdianto , 2005, Pengaruh Intervening Penggunaan Sistem AKuntansi Manajemen dalam Hubungan AntaraIntensitas Persaingan Pasar Terhadap Kinerja Unit Perusahaan, Procedding Simposim Nasinal Akuntansi VIII, Solo hal. 708-720 Ashford, S.J, Cummings, L.L, 1983, “Feedback as an Individual Resources: Personal strategies of Creating Information”. Organizational Behaviour and Human Performance 32, 370-398. Barney, J.B. dan E. J. Zajac, 1994., “Competitive Organizational Behavior: Toward an Organizationally-Based Theory of Competitive Advantage”. Strategic Management Journal, Winter Special Issue, 15, hal, 5-9. Bourne, L. E. Jr., 1966, Comments on Professor I.M. Bilodeau’s Paper, in bilodeau E. A. (ed). Acquisition of Skill, N.Y. academic Press. Bromwich, M., 1990, “The Case for Strategic Management Accounting Sistem : The Role of Accounting Information for Strategy in Competitive Markets”, Accounting, Organization and Society, 15, 27-46. Chenhall, R., Morris, D, 1986, “The Impact of Structure, Environment and Interdependece on The Perceived Usefulness of Management Accounting Sistem”. The Accounting Review LXI (1), 16-35. David Otley, 1980., “The contigency theory of management accounting: Achievement and Prognosis”, Accounting Orgaizations and Society, vol. 5, pp. 413-428. Day, G. S., 1991. “Learning About Markets”. Report No. 91-117. Cambridge, Marketing Science Institute. and Wensley, R., 1988., “Assesing Advantage: a Framework Diagnosing Competitive Superiority”, Journal of Marketing, 1-20. DeGeus, A. P., 1970., “Planning as Learning”, Harvard Business Review, 70-74. Dharmmesta, B.S, 1999, “Riset Konsumen dalam Pengembangan Teori Perilaku Konsumen dan Masa Depan”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, vol. VI. No.1. Drucker, P. F. 1996, “The Executive in Action”: Managing for Results. Innovation and Enterpreneurship, The Effective. New York.

228

JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230

Faisal , 2006, “Analisis Pengaruh Intensitas Persaingan dan Variebel Kotekstual Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen dan Kinerja Unit Bisnis Dengan Pendekatan Partial Least Square. Proceeding Simposium Nasional Akuntansi IX Padang. Hal 1-25 Ferdinand A, 1999, Strategy Pathways Toward Sustainable Competitive Advantage, March Fiol, C.M, 1991, “Managing Culture as Acompetitive Resource”. Journal of management, 17, hal. 191211. Foster, G. and Gupta, M, 1994., “Marketing, cost management and management accounting”, Journal of Management Accounting Research, 43–77. Hair Jr, Joseph F, Rolp E.Anderson, Ronald E, Tatham dan William C.Black, 1995, Multivariate Data analysis with Readings .Forth Edition, Prentice Hall International Edition Hansen, Don R. and Maryanne M. Mowen (2000). Managemen Accounting. 5th edition. CincinnatiOhio: South-Western College Publishing. Kaplan, R.S, 1983. Measuring Manufacturing Performance: A New Challenge for Managerial Accounting Research. The Accounting Review. 686-705. Khandawalla, P, 1972, The Effect of Diffrent Types of Competition om the Use of Management Control, Journal of Accounting Research. 275-285 Kohli, A dan Jarwosky B.J, 1990, Market Orientation: The Construct, Research Propotitions and Managerial Implications, Journal of Marketing. 1-18 Mia ,L and Clarke, 1999, “Market Competition, Use of Information Management Accunting Sistem, Performance Unit Business”. Management Accounting Research, P. 137-158 Muthaher, Osmad (2007), Pengaruh Intensitas Persaingan Pasar dan Teknologi Informasi dengan Kinerja Manajer melalui Informasi Sistem Akuntansi Manajemen (SAM), Jurnal Akuntnasi Indonesia, FE Unissula, Semarang, Pogue, G.A., 1990, “Strategic Management Accounting and Marketing Strategy”, Management Accounting, 68, 52-54. Porter, M. E, 1979, “How Competitive Forces Shape Strategy”, Harvard Business Review, March/April, 137-145. , 1985, “Competitive Strategy”. Free Press, New York. Purnama, N., 2000, Membangun Keunggulan BErsaing melalui Integrasi Perencanaan Strategik dan Perencanaan SDM”, Usahawan, No.07, Tahun XXIX, Lembaga Managemen FE UI, Jakarta. Rolfe, A. J., 1992, “Profitability Exporting Techniques Bridge Information Gap”, The Journal Of Business Strategy, 32-37. Senge, P.M., 1990, “The Leader’s New York : Building Learning Organizations”, Sloan Management Review, 7-23. Sancchec,R.W, & Hemswort, David (2005), A Structural Analysis of the Impact of Quality Management Practice in Purchasing on Purchasing and Business Performance, Total Quality Management & Business Excellent, Vol 16, Maret, p 215 Sekaran, Uma., 2000, “Research Methods for Business”, John Wisley, p. 295-296. Simmonds, K., 1981. “Strategic Management Accounting”, Management Acounting, UK, 26-29. Simons, R. 1987. “Accounting Control Sistem And Business Strategy”: An Empirical Analysis: Accounting Oganization And Society, 12(4), Hal. 357-374., Spicer, B.H., 1992, “The Resurgence of Cost and Management Accounting : A Review of Some Recent Developments in Practice, Theories and Case Research Methods”, Management Accounting Research, 1-37. Stephen, N. dan Kevin, P.G, 1998, “Why don’t Some People Complain A Cognitive – Emotion Process Model of Consumer Complaint Behavior”, Journal of Academy of Marketing Science, vol 26. no,3.

Analisis Pengaruh ………. (Osmad Muthaher)

229

Tanriverdi, H.. and Venkatraman, N.. 2006., Performance Effects Of Information Technology Synergies In Multibusiness Firms”. MIS Quarterly, Forthcoming Tyndall, G.R, 1988, “Obtaining Better Information to Control Freight Costs : Some guidelines”, Journal of Cost Management, 55-59. Ward, K., 1993, “Accounting For a Sustainable Competitive Advantage”, Management Accounting, 71, 36. Ward, K., Hewson, W. And Srikanthan, S, 1992. “Accounting For The Competition”, Management Accounting, 70, 19-20. Waterhouse and Tiessen, 1978, “A Contigency Framework For Management Accounting Sistems Research”, Management Accounting Sistems Research, 65-76.

230

JAI Vol.5, No.2, Juli 2009 : 217-230