EDISI 2 TAHUN 2010

LIPUTAN UTAMA

Konperensi Tingkat Menteri Asia Pasifik
tentang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan

Kota Pekalongan

Menuju Kota Bebas Rumah Kumuh

Reformasi Pembiayaan Perumahan melalui

Fasilitas Likuiditas

Pelindung : Menteri Negara Perumahan Rakyat Penasehat Redaksi: Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat Penanggungjawab: Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat Redaksi : Eko Suhendratma, S.Si., MA Udi Indriyonoto Penyunting dan Penyelaras Naskah : Jeffry, S Kom Tri Pudji Astuti, M.Si. Reporter : Ristyan Mega Putra, S.Sos. Desain dan Produksi : Akbar Pandu Pratamalistya, S.Sos. Bagian Administrasi : Fenty Meilisya Syafril Nurul Prihatin Devi Ismiyanti Bagian Distribusi : Ruby Marchelinus Pustika Chandra Kasih, S.Sos. Sri Rahmi Purnamasari, S.Sos. Alamat Redaksi Inforum: Bagian Humas dan Protokol Kementerian Perumahan Rakyat Jln. Raden Patah I No. 1 Lantai 3 Wing 3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp/Fax : (021) 724687 Email : inforum@gmail.com Website : www.kemenpera.go.id Redaksi menerima artikel, berita, karikatur yang terkait bidang perumahan rakyat dari pembaca. Lampirkan gambar/ foto dan identitas penulis ke alamat email redaksi. Naskah ditulis maksimal 5 halaman A4, Arial 12. Redaksi juga menerima saran maupun tanggapan terkait bidang perumahan rakyat ke email inforum@gmail.com atau saran dan pengaduan di www.kemenpera.go.id
Foto cover depan: istimewa/as

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan kita berjumpa lagi. Banyak perkembangan yang terjadi, dan salah satu di­ antaranya adalah peluncuran program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau disingkat FLPP. Sebagai ba­ gian dari upaya sosialisasi, pada edisi ini kami mengusung tema yang sama. Jika edisi sebelumnya bercerita tentang era baru pemba­ ngunan perumahan rakyat, yang mengetengahkan rencana strategis Kementerian Perumahan Rakyat berikut hasil Kongres Perumahan II. Menjadi relevan kemudian ketika kita menyosialisasikan FLPP sebagai salah satu tonggak era baru pembangunan perumahan. Mengapa demikian?. Ka­ rena FLPP merupakan suatu terobosan baru dalam bidang pembiayaan perumahan yang pada intinya mencoba me­ ningkatkan ketersediaan rumah melalui penyediaan sum­ ber dana berbunga rendah, baik untuk investasi maupun konsumsi. Hal lain yang menarik bahwa pemerintah akan lebih berhemat karena alokasi dana pemerintah tidak habis tetapi akan kembali sesuai jadwal pengembalian kredit. Pada edisi kali ini juga kami mengetengahkan artikel ten­ tang hari Perumahan Nasional (Hapernas) yang jatuh pada tanggal 25 Agustus, agar pemangku kepentingan tidak hanya sekedar tahu tapi juga paham akan sejarah, filosofi dan maksud dibalik peringatan Hari Perumahan terse­ but. Bagaimana kemudian pada tanggal 25 Agustus 1950 dalam acara Kongres Perumahan I Wakil Presiden Mo­ hammad Hatta menyampaikan sambutannya terkait ma­ salah perumahan, yang kutipannya antara lain: “ ... tjita­tjita oentoek terselenggaranja keboetoehan peroemahan rak­ jat boekan moestahil apabila kita soenggoeh­soenggoeh maoe dengan penoeh kepertjajaan, semoea pasti bisa ...”. Perlu diketahui bahwa Hapernas baru ditetapkan pada ta­ hun 2008. Jadi kita baru merayakannya sebanyak 3 kali. Kami menyadari masih banyak kekurangan dari media kita bersama ini, terutama bahwa materi yang ada ma­ sih sebagian besar berasal dari Kementerian Perumahan Rakyat. Kedepannya, kami berharap bahwa pemangku kepentingan lainnya dapat berkontribusi terhadap isi me­ dia kita ini. Dengan demikian, kami baru bisa berbangga diri menyatakan bahwa Inforum adalah media komunikasi komunitas perumahan, sebagaimana terpampang di hala­ man depan. Akhir kata, selamat membaca. Selamat Hari Perumahan Nasional. Tetap semangat.

2

Edisi 2 Tahun 2010

Materi Lebih Berimbang
Saya menyambut gembira terbitnya kembali majalah Inforum. Mudah­mudahan terbit secara rutin. Namun demikian saya mempunyai sedikit kritik terhadap isi Inforum. Bukan kualitas materinya tapi komposisi mate­ rinya. Majalah Inforum lebih banyak mengulas mengenai usaha pemenuhan dan pembangunan perumahan yang dilakukan oleh pemerintah. Jarang terdapat tulisan yang menunjukkan usaha pembangunan perumahan secara swadaya yang dilakukan oleh masyarakat. Padahal, seb­ agaimana kita ketahui bersama, pembangunan peruma­ han di Indonesia sebagian besar dilakukan oleh masyara­ kat. Semoga ke depannya, Inforum dapat lebih seimbang dalam memberikan pemberitaan. Dian Nurmalitasari ­ Semarang Yth. Saudari Dian Nurmalitasari, Terima kasih banyak atas kritik dan masukannya. Memang, be­ berapa praktek terbaik tentang pembangunan perumahan di Indo­ nesia justru dilakukan oleh masyarakat secara swadaya. Semoga dalam waktu dekat tulisan terkait dapat muncul di Inforum.

Distribusi Majalah
Merupakan usaha yang baik dari pemerintah untuk me­ nyosialisasikan aneka kebijakan dan praktek perumahan seperti yang telah dilakukan oleh Majalah Inforum. Ada­ nya sosialisasi dalam bentuk majalah ini lebih memper­ mudah khalayak luas dalam memahami isu perumahan. Sayangnya, majalah Inforum ini agak sulit diperoleh. Saya menemukan keberadaan majalah ini karena kebetulan sedang berkunjung ke Kementerian Perumahan Rakyat. Apakah tidak sebaiknya distribusi majalah ini lebih luas lagi jangkauannya. Apakah juga didistribusikan ke per­ pustakaan daerah, perguruan tinggi, bahkan dikirim ke masing­masing instansi terkait di daerah. Bagaimana kira­ kira masyarakat luas dapat mengakses majalah Inforum? Erika Siburian – Medan Yth. Sdri Erika, Terima kasih banyak atas apresiasi yang diberikan kepada Info­ rum. Untuk distribusi majalah Inforum, dalam waktu dekat kita akan mulai mendistribusikan ke instansi terkait sebagaaimana yang anda usulkan. Untuk memudahkan, Inforum juga bisa diak­ ses melalui situs yang beralamat di http://www.kemenpera.go.id

Hak Asasi Manusia
Pada penerbitan sebelumnya, saya membaca tentang perumahan adalah hak asasi manusia. Hal ini disebutkan secara eksplisit dalam UUD 1945. Selain itu hak atas rumah juga muncul di berbagai deklarasi internasional seperti Deklarasi HAM PB, Agenda 21, maupun Agenda Habitat. Meski demikian, amanat ini sepertinya belum benar­benar dipenuhi di Indonesia. Kita masih melihat bahwa banyak masyarakat tidak bisa memiliki rumah, dan terpaksa tinggal di hunian yang tidak layak. Di perkotaan, mereka menghuni daerah kumuh dan kerap menghadapi ancaman penggusuran de­ ngan dalih ketertiban dan keindahan. Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka berperan penting membentuk kota yang dinamis baik secara ekonomi maupun budaya dan tidak semestinya diabaikan oleh pemerintah. Semoga Kementerian Perumahan Rakyat dapat mem­ berikan perhatian lebih pada isu ini dan menjalankan kebijakan yang pro people, pro poor. Andi – Jakarta Timur

Kebanyakan Istilah
Sebagai masyarakat kebanyakan, saya seringkali bingung dengan berbagai istilah yang digunakan pemerintah terkait perumahan. Contohnya adalah istilah RSS atau rumah sederhana sehat yang semakin ke sini sepertinya sering berganti istilah. Kalau tidak salah kini ada istilah RSH dan rumah sehat tapak. Ditambah juga, kini juga ada istilah rusunawa dan rusunami. Saya harap, Kementerian Perumahan Rakyat sebagai kementerian terkait dapat lebih konsisten dalam penggu­ naan istilah agar tidak membingungkan masyarakat dan memberikan sosialisasi seluas­luasnya kepada masyarakat. Ada baiknya Inforum ikut menyosialisasikannya. Irfan – Bogor Yth. Sdr. Irfan Terima kasih sarannya. Segera kami akan upayakan agar istilah perumahan tersebut dapat kami sosialisasikan.

3

Wawancara Khusus Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE. ME.

Tahun 2014, Pembangunan Perumahan akan Lebih Mudah
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumah­ an (FLPP) adalah program penyediaan sumber pendanaan perumahan di Indonesia yang menjadi salah satu terobosan Kementerian Perumahan Rakyat. Kehadirannya mengundang banyaak tanggapan baik bersifat pro maupun kontra. Ditengah kesibukannya, Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE. ME. – Staf Ahli Menteri Negara Perumahan Rakyat Bidang Ekonomi dan Keuangan, meluangkan waktunya kepada Inforum untuk menjelaskan FLPP.

13

Dari Redaksi Surat Pembaca Daftar Isi Laporan Utama Wawancara Khusus Wacana Liputan Utama Liputan Intermezzo

02 03 04 06 13 16 18 24 35 36 42 43 46 47

6

15

Pengelolaan Pengetahuan Fakta

Laporan Utama Reformasi Pembiayaan Perumahan melalui Fasilitas Likuiditas
Fasilitas Likuditas merupakan terobosan dalam pengembangan pembiayaan perumahan jangka panjang. Fasilitas Likuditas Pembiayaan Perumahan diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat terhadap rumah tinggal baik untuk Rumah Sejahtera Tapak maupun Rumah Sejahtera Susun. Pengelolaan Pengetahuan:

Praktek Unggulan Galeri Foto Upaya Meningkatkan Kinerja melalui Pemanfaatan Data dan Informasi
Proses pengolahan sebuah data menjadi sebuah informasi sangatlah menentukan keberhasilan dari sebuah tujuan, sedangkan pengelolaan pengetahuan yang tepat dapat membantu individu maupun kelompok untuk meningkatkan efektifitas waktu dan pekerjaan melalui berbagi wawasan dan pengalaman.

Agenda

25

Konperensi Tingkat Menteri Asia Pasifik tentang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan ke 3

Liputan

18

Konperensi Tingkat Menteri Asia Pasifik tentang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan ke 3 dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat untuk Mendukung Urbanisasi Berkelanjutan” (Empowering Communities for Sustainable Urbanization) di Solo, Jawa Tengah.

Kemenpera Raih Opini WTP BPK
Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan tahun anggaran 2009.

4

Edisi 2 Tahun 2010

Intermezzo

Rumah Ramah Lingkungan

35

47

Isu tentang lingkungan tidak hanya marak di kalangan aktivis lingkungan saja, bahkan kini isu lingkungan telah juga masuk ke dunia properti dan konstruksi. Lantas bagaimanakah memba­ ngun rumah ramah lingkungan?

Agenda
Hari Perumahan Nasional

Menuju Perumahan yang Mapan dan Berkelanjutan

36

40

Info Situs Info Buku
Housing Finance Network (HOFINET) adalah sebuah situs yang dibuat berdasarkan jejaring yang ada dan juga pengalaman­pengalaman praktek unggulan di beberapa negara. Hofinet didirikan pada 18 Agustus 2009 dan dikelola oleh Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia. Hofinet sendiri memiliki sistem jejaring yang sudah sangat luas di berbagai belahan dunia.

Hari Perumahan Nasional (Hapernas) merupakan saat untuk meningkatkan kesadaran nasional bahwa perumahan adalah kebutuhan dasar manusia yang menjadi tanggung jawab bersama. Hapernas yang diperingati oleh pemangku kepentingan bidang perumahan dan permukiman se­ tiap 25 Agustus ini juga bertujuan untuk mendorong pemenuhan pencapaian kebutuhan peru­ mahan dan permukiman.

Istilah Condominium mulai dikenal secara luas sejak berlakunya Undang Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (“UURS”). Materi UURS tersebut mengandung unsur-unsur hukum publik dan hukum perdata yang termasuk di dalamnya aspek hukum ekonomi.

49

Agenda

Fakta

42

43

Praktek Unggulan Pekalongan Menuju Kota Bebas Rumah Kumuh
3 buah fakta yang disajikan Inforum kali ini masing­masing memiliki keunikan tersendiri, pertama pembahasan mengenai arah rumah di Jawa, kedua mengenai perbandingan harga properti di negara­negara ASEAN dan ketiga rumah yang konon menjadi termahal di dunia. Pekalongan memulai sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan untuk kehidupan masyarakat Kota Pekalongan yang baik serta meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin Kota Pekalongan bernama Pekalongan Bebas Rumah Kumuh dengan target pencapaian pada tahun 2010.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Hari Lingkungan Hidup Dunia (World Environment Day/WED) selalu diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Cikal bakal peringatan ini berawal dari konferensi tentang lingkungan hidup di Stockholm, Swedia (Stockholm Conference on the Human Environment) yang diselenggarakan oleh PBB pada tanggal 5-16 Juni 1972.

5

Laporan Utama

P

Fasilitas Likuiditas
yang dihadapi oleh masyarakat pada saat mereka mengakses sumber­sum­ ber pembiayaan perumahan melalui lembaga perbankan untuk menda­ patkan kredit pemilikan rumah (KPR). Rezim tingkat suku bunga tinggi disebabkan karena adanya keti­ daksesuaian (mismatch) antara masa tenor (jatuh tampo red.) pinjaman den­ gan tenor pendanaan Bank. nasabah sementara pembiayaan KPR pengembalian dalam jangka pan­ jang. Kondisi tersebut tentunya akan memberatkan debitur, karena selama jangka waktu yang panjang akan di­ bebani oleh kewajiban untuk mem­ bayar angsuran KPR yang besar. Hal tersebut diperberat oleh jenis suku bunga mengambang (floating) yang secara langsung berpengaruh kepada tingkat suku bunga KPR yang terus bergerak sepanjang masa pinjaman dan tentunya memberikan ketidak­ pastian kepada debitur atas besaran angsuran KPR yang harus dibayar setiap bulannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah, melalui Ke­ menterian Perumahan Rakyat, pada tahun 2010 ini telah melakukan re­ formasi kebijakan bantuan pembiay­ aan perumahan yaitu dari pemberian subsidi perumahan menjadi pembe­ rian Fasilitas Likuiditas (FL). Fasili­ tas Likuiditas merupakan terobosan dalam pengembangan pembiayaan

Reformasi Pembiayaan Perumahan melalui

ermasalahan mendasar bagi masyarakat khusus­ nya masyarakat berpeng­ hasilan rendah untuk memiliki atau membeli rumah adalah masalah keterjang­ kauan. Kemampuan atau daya beli sebagian besar masyarakat Indone­ sia masih sangat terbatas. Sedangkan harga lahan dan harga bahan bangun­ an semakin lama semakin meningkat. Disamping itu, keterbatasan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk pembiayaan perumahan belum seimbang dengan besarnya kebutuh­ an. Di sisi lain, kebijakan bantuan pembiayaan (subsidi) perumahan yang selama ini diterapkan sifatnya tidak bergulir. Oleh karena itu, kede­ pannya diperlukan upaya dan inisiatif lain agar dana APBN yang terbatas dapat lebih dioptimalkan untuk ke­ perluan pembiayaan perumahan. Masih tingginya tingkat suku bunga kredit menjadi salah satu kendala

Masih tingginya tingkat suku bunga kredit menjadi salah satu kendala.
Sumber dana bank berasal dari sumber jangka pendek dengan tingkat bunga tinggi sementara pem­ biayaan perumahan bersifat jangka panjang. Sederhananya, sumber dana bank setiap saat dapat ditarik oleh

6

Edisi 2 Tahun 2010

an dan dipertahankan 1 (satu) digit sepanjang masa tenor pinjaman. Sesuai dengan pengelolaan keuangan negara, alokasi dana FL masuk dalam pos pembiayaan. Dana tersebut akan dapat dimanfaatkan kembali untuk penerbitan KPR Sejahtera pada tahap selanjutnya. Hal ini sangat berbeda dengan pola lama yang dana ban­ tuan pembiayaan perumahan masuk dalam pos belanja subsidi, sehingga dana subsidi tersebut tidak dapat di­ manfaatkan kembali setelah dilakukan pembayaran subsidi atas KPR yang diterbitkan. Ke depan sumber dana FL diharapkan tidak hanya berasal dari APBN semata tetapi juga dapat memanfaatkan sumber­sumber dana jangka panjang lainnya seperti Ba­ pertarum, dana YKPP, ASABRI, Jam­ sostek, Hibah/Bantuan luar negeri atau dana­dana lain yang sah.

Penerima Manfaat Masyarakat penerima manfaat FL adalah Masyarakat Berpenghasilan Menengah Bawah dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBM dan MBR) yaitu mereka yang mempunyai penghasilan maksimum Rp.4,5 juta/ bulan untuk MBM dan penghasilan maksimum Rp.2,5 juta/bulan untuk MBR. Masyarakat penerima manfaat juga diwajibkan memiliki Nomor Po­ kok Wajib Pajak (NPWP) dan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi se­ suai dengan undang­undang perpa­ jakan yang berlaku. Maksimum KPR Kebijakan FL tidak mengatur harga rumah, namun mengatur maksimum KPR. Menurut hasil simulasi yang te­ lah dilakukan oleh Kementerian Peru­ mahan Rakyat, bantuan pembiayaan melalui FL dapat memfasilitasi MBR untuk mengangsur KPR Sejahtera Tapak (landed house) sampai dengan maksimum KPR sebesar Rp.80 juta. Sedangkan untuk kepemilikan rumah susun (sarusun) dimungkinkan untuk memfasilitasi MBM sampai dengan maksimum KPR Sejahtera Susun se­ besar Rp.135 juta. Dalam upaya menciptakan keadilan bagi penerima manfaat, Pemerintah telah mengatur hal tersebut mela­ lui penetapan tingkat suku bunga KPR Sejahtera. Semakin tinggi ke­ mampuan KPR yang dapat diakses oleh masyarakat, maka pengenaan tingkat suku bunga akan semakin besar. Sebagai ilustrasi apabila se­ seorang (MBR) akan membeli Ru­ mah Sejahtera Tapak dengan KPR sebesar Rp.50 juta, maka dia akan dikenakan bunga sebesar 8,15%. Se­ dangkan apabila orang lain yang juga MBR akan membeli Rumah Sejahte­ ra Tapak dengan KPR sebesar Rp.80 juta, maka dia akan dikenakan bunga sebesar 8,5%.

Sumber foto: Istimewa

perumahan jangka panjang. Untuk mendukung kebijakan baru tersebut pemerintah akan menyediakan dana murah yang bersumber dari APBN yang pengelolaannya akan dilakukan oleh Special Purpose Vehicle (SPV), yai­ tu suatu unit yang diberi tugas khusus menangani Fasilitas Likuiditas. Dana dari APBN tersebut akan digabung dengan dana yang bersumber dari perbankan atau sumber lainnya den­ gan menggunakan metode Blended Financing. Dana pemerintah yang berbunga rendah digabung dengan dana bank pelaksana yang berbunga relatif lebih tinggi. Dengan metode tersebut, tingkat suku bunga KPR Sejahtera diharapkan dapat diturunk­

Ke depan sumber dana FL diharapkan tidak hanya berasal dari APBN.

Sumber foto: Istimewa

7

Laporan Utama
Perbandingan Fasilitas Likuiditas dengan Skim Lama (Subsidi) Tujuan pemberian FL adalah mem­ berikan bunga kredit yang terjangkau dan tetap sepanjang masa pinjaman (single digit dan fixed rate mortgage) bagi MBM dan MBR. Sedangkan sub­ sidi yang selama ini diberikan oleh Pemerintah umumnya berupa sub­ sidi selisih bunga, artinya Pemerintah hanya menanggung sebagian ang­ suran bunga KPR dengan masa sub­ sidi untuk beberapa tahun dan tidak sepanjang masa pinjaman. Sebagai contoh debitur KPR Bersubsidi yang penghasilannya masuk dalam katago­ ri I yaitu debitur dengan penghasil­ an antara Rp.1,7 juta sampai Rp.2,5 juta/bulan, hanya menikmati ang­ suran yang disubsidi selama 6 tahun pertama sedangkan angsuran setelah masa subsidi selesai akan mengi­ kuti atau berfluktuasi sesuai dengan tingkat suku bunga yang berlaku pada Bank tersebut. Perbandingan antara fasilitas likuidi­ tas dengan skim subsidi dapat dilihat pada tabel di samping ini yang ber­ dasarkan antara lain besaran ang­ suran, suku bunga, dan manfaat yang diterima oleh masyarakat. Tabel 1: Perbandingan antara Skim Subsidi Pola Lama dengan Skim Fasilitas Likuiditas Lembaga Pengelola Fasilitas Likuiditas Operasionalisasi fasilitas likuiditas memerlukan lembaga khusus (special purpose vehicle/SPV), dengan pertim­ bangan karakteristik dana dan kegiat­ an yang dikelola. Untuk keperluan tersebut, Kementerian Perumahan Rakyat mengusulkan kepada Kemen­ terian Keuangan agar Pusat Pembi­ ayaan Perumahan dapat menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Melalui Keputusan Menteri Keuangan No­ mor 290/KMK.05/2010 tanggal 15 Juli 2010, Pusat Pembiayaan Peru­
Tabel 1
SKIM SUBSIDI Masa Subsidi Suku Bunga Terbatas, jangka waktu tertentu Bunga bersubsidi dalam jangka waktu tertentu dan dilanjutkan bunga ko­ mersial (bank yang bersangkutan) Angsuran selama masa subsidi < 1/3 penghasilan, dan selanjutnya cen­ derung > 1/3 penghasilan tergantung bunga komersial Belanja Subsidi merupakan dana habis (tidak kembali) Terus menerus SKIM FASILITAS LIKUIDITAS Sepanjang masa pinjaman Bunga yang ditetapkan satu digit sepanjang masa pinjaman (fixed rate) Angsuran selama masa pinjaman = 1/3 penghasilan

mahan ditetapkan sebagai Satuan Kerja Instansi Pemerintah yang me­ nerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum secara penuh. Pemindahan dana APBN dari reke­ ning Kas negara untuk dikelola oleh BLU Pusat Pembiayaan Perumah­ an diatur melalui Peraturan Men­ teri Keuangan (PMK) Nomor 130/ PMK.05/2010 tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan, dan Pertang­ gungjawaban Dana Fasilitas Likuidi­ tas Pembiayaan Perumahan. Prinsip­ prinsip good governance akan menjadi dasar dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemanfaatan dana FL.

Angsuran

Dana APBN Alokasi APBN

Belanja FL dalam pos pembiayaan investasi sehingga bukan dana habis dan merupakan revolving fund Setelah beberapa periode tertentu semakin berkurang dan terus mengecil sampai akhirnya tidak perlu ada alokasi atau ketika Tabungan Perumahan Nasional sudah melembaga APBN+sumber dana lain Untuk sisi permintaan (KPR) dengan tingkat suku bunga terjangkau (satu digit) dengan tenor sampai 15 tahun Untuk sisi pasokan (Kredit Kontruksi) dengan tingkat bunga terjangkau (satu digit) dengan tenor sampai dengan 24 bulan

Suber Dana Penggunaan

APBN Hanya untuk sisi permintaan (KPR Bersubsidi)

KPR dengan Skim Subsidi

KPR dengan Skim FLPP

8

Edisi 2 Tahun 2010

Mekanisme Pengelolaan Fasilitas Likuiditas.
DANA JANGKA PANJANG
INVESTOR INSTITUSIONAL -JAMSOSTEK -DANA PENSIUN -PERUSAHAAN ASURANSI TABUNGAN: -TAPERUM-PNS -TWP-TNI/POLRI -YKPP -SWASTA

Pelan Tapi Pasti Fasilitas likuiditas merupakan kebijakan Peme­ rintah yang mengintervensi pokok pinjaman KPR Sejahtera dengan tujuan untuk memberikan suku bunga KPR yang terjangkau bagi MBM dan MBR. Suku bunga terjangkau ini diperoleh karena sum­ ber dana FL berasal dari dana APBN yang ma­ suk dalam pos pembiayaan dan bersifat jangka panjang. Berbeda dengan pola subsidi sebelum­ nya, intervensi pemerintah dilakukan atas bunga pinjaman KPR dan dalam masa subsidi tertentu. Dengan dana APBN yang sama dan dalam satu tahun anggaran, kebijakan Fasilitas Likuiditas akan memfasilitasi unit KPR yang lebih sedikit diban­ dingkan dengan skim subsidi sebelumnya meng­ ingat perbedaan intervensi Pemerintah yang di­ lakukan. Namun demikian, dalam jangka panjang, kebijakan Fasilitas Likuiditas memberikan manfaat pengembalian atas KPR dapat dimanfaatkan un­ tuk penerbitan KPR­KPR bagi MBR lainnya.

REPAYMENT PENGEMBALIAN DANA PIHAK KETIGA

SISI PASOKAN KREDIT KONSTRUKSI

APBN – FL [POS PEMBIAYAAN]

PK-BLU PPP

BANK PELAKSANA

SISI PERMINTAAN KPR

PENGEMBALIAN REPAYMENT

PENGEMBALIAN REPAYMENT

Tahapan Proses Terobosan Kebijakan Pembiayaan Perumahan bagi MBM/MBR

9

Laporan Utama

Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)
ehadiran FLPP menarik perhatian berbagai pihak, sehingga mengundang banyak pertanyaan terkait hal-hal yang dasar dan utama. Untuk itu, tulisan berikut ini yang disajikan dalam bentuk tanya jawab (frequently asked question)/FAQ) akan mencoba menjawab pertanyaan yang sering muncul secara sistematis (redaksi). 1. Apakah program FLPP itu? Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) merupakan dukungan pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Menengah Bawah (MBM) dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang pengelolaannya dilaksanakan oleh Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan Kementerian Perumahan Rakyat (BLU-Kemenpera) melalui lembaga perbankan. FLPP merupakan terobosan baru bantuan pembiayaan perumahan yang dikembangkan oleh pemerintah pada tahun 2010. FLPP merupakan pengganti bantuan pembiayaan perumahan yang semula dikenal oleh masyarakat yaitu subsidi perumahan. Dana FLPP bersumber dari APBN yang masuk dalam pos pembiayaan sehingga dana FLPP ini bersifat bergulir (tidak habis pakai), sementara pada skim subsidi dananya berasal dari pos belanja yang sifatnya habis pakai. Pembiayaan perumahan menggunakan sebagian dana FLPP dan sebagian dana perbankan akan menurunkan tingkat bunga/marjin KPR Sejahtera. 2. Siapakah yang boleh mendapat FLPP? Masyarakat yang dapat dibantu dengan program FLPP adalah masyarakat yang termasuk dalam kelompok sasaran sesuai Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat. Kelompok sasaran yang dimaksud adalah masyarakat baik yang berpenghasilan tetap maupun tidak tetap yang belum pernah memiliki rumah, belum pernah menerima subsidi perumahan, dan termasuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah bawah (MBM). MBR
Sumber foto: Istimewa

Lebih Jauh tentang

K

adalah masyarakat yang mempunyai penghasilan paling banyak Rp.2.500.000,- per bulan, sedangkan MBM adalah masyarakat yang mempunyai penghasilan paling banyak Rp.4.500.000,- per bulan. Sedangkan yang dimaksud dengan penghasilan adalah pendapatan pemohon KPR Sejahtera yang didasarkan atas gaji pokok atau pendapatan pokok per bulan. 3. Apa saja persyaratan untuk mendapatkan FLPP? Persyaratan calon debitur/nasabah Program FLPP adalah sebagai berikut : a. Untuk calon debitur/nasabah rumah sejahtera tapak yaitu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan penghasilan atas dasar gaji pokok paling banyak Rp.2.500.000,- per bulan. b. Untuk calon debitur/nasabah rumah sejahtera susun yaitu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah (MBM) dengan penghasilan atas dasar gaji pokok paling banyak Rp.4.500.000,- per bulan. c. Belum pernah memiliki rumah d. Belum pernah menerima subsidi perumahan e. Mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan SPT 4. Bagaimana caranya agar dapat mengikuti program FLPP? Apabila ingin memperoleh bantuan Program FLPP dapat dilakukan dengan cara: a. Menghubungi bank pelaksana untuk mengetahui informasi mengenai FLPP

10

Edisi 2 Tahun 2010

b. Melengkapi persyaratan sesuai dengan ketentuan dari bank pelaksana c. Memilih rumah yang sesuai baik tapak maupun susun yang dibangun oleh pengembang d. Mengajukan kredit/pembiayaan ke bank pelaksana e. Setelah disetujui, debitur/nasabah dapat menempati Rumah Sejahtera 5. Bank mana saja yang dapat dihubungi untuk mendapatkan program FLPP? Hingga saat ini Bank Pelaksana yang telah melakukan MoU/PKO dengan Kemenpera yaitu Bank BTN, Bank BTN Syariah dan Bank BNI. 6. Apakah harus memiliki NPWP dan SPT? Bagaimana jika NPWP baru dan SPT belum ada? Persyaratan NPWP dan SPT merupakan persyaratan pokok yang harus dipenuhi oleh debitur/nasabah. Apabila NPWP yang dimiliki termasuk baru/NPWP kurang dari 1 tahun, diwajibkan menyerahkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi pada tahun berikutnya. 7. Rumah apa saja yang bisa diajukan untuk mendapatkan FLPP? Untuk saat ini Program FLPP diberikan untuk rumah sejahtera tapak dan satuan rumah susun baru (belum termasuk rumah second) yang dibangun dan dibeli melalui pengembang yang KPRnya dilakukan melalui bank pelaksana yang telah melakukan MoU/ PKO dengan Kemenpera. 8. Berapa batasan harga rumah untuk bisa mendapatkan FLPP? Saat ini tidak dibatasi harga rumah maupun tipe rumah namun terdapat ketentuan terkait nilai kredit/pembiayaan, bunga/marjin, uang muka rumah sejahtera adalah sebagai berikut:

c. KPR Sejahtera Susun Nilai KPR Paling Banyak (Rp) 90.000.000 100.000.000 110.000.000 120.000.000 130.000.000 135.000.000 Suku Bunga Paling Tinggi % per tahun 9,25 9,35 9,50 9,65 9,80 9,95 Uang Muka Paling Sedikit % 12,5 12,5 12,5 12,5 12,5 12,5

d. KPR Sejahtera Syariah Susun Nilai Pembiayaan Paling Banyak (Rp) 90.000.000 100.000.000 110.000.000 120.000.000 130.000.000 135.000.000 Marjin Paling Tinggi Setara % anuitas per tahun 9,25 9,35 9,50 9,65 9,80 9,95 Uang Muka Paling Sedikit % 12,5 12,5 12,5 12,5 12,5 12,5

9. Apakah penghasilan yang dipersyaratkan tersebut mempengaruhi maksimal kredit yang akan diambil? Penghasilan tersebut dipersyaratkan untuk ketentuan yang terkait dengan persyaratan kelompok sasaran. Namun berapa banyaknya maksimal kredit yang dapat diambil ditentukan berdasarkan perhitungan bank pelaksana terkait dengan kemampuan angsuran debitur/nasabah. 10. Apakah terdapat maksimal jangka waktu pinjaman?

a. KPR Sejahtera Tapak Nilai KPR Paling Banyak (Rp) 50.000.000 60.000.000 70.000.000 80.000.000 Suku Bunga Paling Tinggi % per tahun 8,15 8,25 8,35 8,50 Uang Muka Paling Sedikit % 10 10 10 10

Tidak ada ketentuan mengenai jangka waktu pinjaman, tetapi perhitungan lamanya jangka waktu pinjaman sangat berkaitan dengan kemampuan debitur/nasabah dalam mengangsur yang dinilai langsung oleh pihak bank pelaksana. 11. Apakah tidak ada bantuan untuk uang muka? Tujuan FLPP adalah menurunkan tingkat suku bunga dibawah 10%. Hal tersebut bertujuan supaya dapat mengurangi beban angsuran per bulan masyarakat dalam mengangsur Rumah Sejahtera. Sampai saat ini FLPP memang dikhususkan untuk mengurangi tingkat suku bunga, sedangkan untuk bantuan uang muka diharapkan dapat dikoordinasikan dengan menggunakan dana Bapertarum, Jamsostek, atau YKPP. Saat ini Kementerian Perumahan Rakyat sedang melakukan kajian mengenai Tabungan Perumahan dimana untuk jangka panjang dapat menjadi solusi bagi masyarakat untuk masalah penyediaan uang muka. 12. Apakah FLPP dapat digunakan bersama-sama dengan program bantuan lain, misalnya Jamsostek atau Bapertarum? Program FLPP dapat disinergikan dengan program bantuan lain, misalnya Jamsostek atau Bapertarum.

b. KPR Sejahtera Syariah Tapak Nilai Pembiayaan Paling Banyak (Rp) 50.000.000 60.000.000 70.000.000 80.000.000 Marjin Paling Tinggi Setara % anuitas per tahun 8,15 8,25 8,35 8,50 Uang Muka Paling Sedikit % 10 10 10 10

11

Sumber foto: Istimewa

P

Pembiayaan Perumahan di Manca Negara
setelah berhenti bekerja. Karena dari tahun ke tahun dana itu terus berkembang, maka dana CPF juga digunakan untuk pembangunan perumahan termasuk juga dapat disalurkan kepada bank untuk menekan bunga kredit pemilikan rumah. Model tabungan wajib ini juga diterapkan oleh pemerintah Cina yang memiliki program Housing Provident Fund (HPF). Tabungan Perumahan juga menjadi salah satu model pembiayaan perumahan yang rencananya akan diterapkan di Indonesia, sebagai pelengkap dari Di Cina, Fasilitas Likuiditas Pembangunan berupa subsidi Perumahan (FLPP)

embiayaan perumahan di berbagai negara memiliki perkembangan yang berbeda­beda. Negara­negara seperti Cina, Korea Selatan dan Jepang memiliki pasar hipotek keuangan yang relatif berkembang dengan baik. Cina memiliki pasar hipotek keuangan terbesar, disusul oleh Jepang. Sementara itu, beberapa negara seperti Mongolia baru saja memulai pengembangan KPR keuangan.

Terdapat beberapa contoh model pembiayaan perumahan dari negara lain. Di Singapura misalnya, pemerintah Singapura mengeluarkan Selain melalui KPR dan tabungan KPR untuk rumah umum (public langsung yang perumahan, beberapa negara homebuyers) bagi mereka yang masuk dalam juga memiliki program subsidi memenuhi syarat. Mereka yang sistem gaji. perumahan. Di Cina, subsidi memenuhi syarat tersebut akan berupa subsidi langsung yang menerima subsidi KPR yang masa masuk dalam sistem gaji. Di pengembaliannya cukup panjang Iran, subsidi yang berlaku berupa yaitu selama 20 tahun. Untuk negara subsidi suku bunga. Di India, subsidi lain, sebagai contoh di Thailand dan Korea Selatan, kedua ditargetkan khusus untuk kelompok berpenghasilan negara juga menawarkan KPR dari pemerintah. Di kedua sangat rendah. Subsidi bentuk lainnya adalah subsidi yang negara tersebut, institusi perumahan dari pemerintah lebih mendukung pembangunan contohnya melalui subsidi banyak mengeluarkan KPR dibandingkan dengan KPR dari penyediaan lahan perumahan yang diterapkan di negara­ sektor swasta. negara seperti Cina, Hongkong, Malaysia, dan juga Terkait pendanaan, Singapura menghimpun dana melalui termasuk Indonesia. Central Provident Program (CPF). CPF merupakan semacam Sumber: UN Habitat – Background Paper for APMCHUD tabungan wajib (forced saving) yang diambil dari gaji pegawai Working Group 4: Financing Sustainable Housing and Urban untuk pembangunan perumahan. Awalnya, CPF ini Development digunakan sebagai dana pensiun masyarakat Singapura

12

Wawancara Khusus

Edisi 2 Tahun 2010

Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE. ME. Staf Ahli Menteri Negara Perumahan Rakyat Bidang Ekonomi dan Keuangan

asilitas Likuiditas Pembiayaan Pe­ rumahan (FLPP) adalah program penyediaan sumber pendanaan perumahan di Indonesia yang menjadi salah satu terobosan Kementerian Perumahan Rakyat. Kehadirannya mengundang banyak tanggapan baik bersifat pro maupun kon­ tra. Di tengah kesibukannya, Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE. ME. – Staf Ahli Menteri Negara Perumahan Rakyat Bidang Ekonomi dan Keuangan, meluang­ kan waktunya kepada Inforum untuk menjelaskan FLPP. Berikut petikan wawancaranya. Saat ini sedang ramai dibicarakan tentang program fasilitas likuiditas. Sebenarnya apa yang mendasari diluncurkannya program ini? Jadi sampai dengan sekarang ini upaya pemerintah untuk membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan rendah dalam kepemilikan rumah masih mengha­ dapi berbagai kendala, baik di sisi permintaan maupun sisi pasokan atau sisi supply­nya. Dari sisi permintaan, fasilitas subsidi bunga hanya 4 sampai 8 tahun, setelah itu KPR­nya akan mengikuti suku bunga yang ada di pasar. Misalnya suku bunga subsidi sekarang 8,5%, nanti setelah 4 atau 8 tahun akan mengikuti suku bunga pasar. Jadi misalnya suku bunga pasarnya pas ketemunya 12%, ya jadinya 12%, atau misal­ nya jadi 13% atau 14% ya ikut segitu. Ini akan memberatkan kelompok masyarakat yang di maksud atau MBR tersebut dalam mencicil KPR­nya. Di samping itu, anggaran subsidi selama ini sifatnya dalam struktur APBN merupakan anggaran belanja yang langsung habis. Di samping itu, juga ada keterbatasan perbankan dalam menyediakan pokok kredit atau pembiayaan kepemi­ likan rumah. Jadi misalnya pemerintah mempunyai target 1 tahun sekitar 210.000 unit rumah, maka seluruh pokok kreditnya itu disediakan oleh bank. Sedangkan pemerintah hanya menyediakan subsidinya saja. Di sini kita menghadapi namanya landing capacity yang terbatas dari kalangan per­ bankan. Sehingga kalau bank tidak mau menyediakan pokok kreditnya, pembiayaan akan terganggu. Apalagi pembiayaan untuk KPR rumah sejahtera ini tidak banyak bank yang ter­ tarik untuk berpartisipasi. Hanya didominasi oleh BTN saja. Hal ini karena memang kesiapan infrastruktur penyaluran KPR untuk MBR ini, BTN paling siap. Itu beberapa hal yang menyebabkan FLPP ini ditelurkan. FLPP ini merupakan dana yang bergulir, jadi suatu saat uang ini akan kembali lagi. Karena ini sifatnya disalurkan kepada masyarakat kemudian masyarakat akan mencicil, nah

F

Tahun 2014, Pembangunan Perumahan akan Lebih Mudah
Sumber foto: BPA

akumulasi dari cicilan yang sudah dikembalikan dari masyarakat ini akan terkumpul lagi dan akan disalurkan lagi menjadi KPR baru. Hal ini dapat dilakukan karena dana FLPP ini dalam struk­ tur APBN menggunakan pos pembiayaan atau investasi.

Kalau tahun 2010 dialokasikan sekitar 2,6 trilyun diharapkan dana FLPP yang direncanakan setiap tahunnya akan bertambah terus, pada akhir 2014 akan terkumpul sekitar 21 trilyun dan dana ini bisa dipakai untuk membiayai kredit pemilikan rumah atau pembiayaan pemilikan rumah bagi MBR. Jadi ini akan terakumulasi menjadi dana murah jangka panjang. Pemerintah hanya mengenakan tarif administrasi untuk pengelolaan dana FLPP ini, yang dikelola oleh BLU Pusat Pembiayaan Perumahan. Nanti mekanisme KPR­nya, dana FLPP ini kira­kira sekitar 60% dioplos dengan dana perbankan 40% sehingga menjadikan suku bunga KPR menjadi single digit istilahnya. Itu tetap selama masa pinjaman KPR atau masa tenor. Jadi masyarakat nanti akan diuntungkan dengan cicilan yang lebih murah karena suku bunga jauh di bawah suku bunga pasar dan tetap selama masa pinjaman. Apa perbedaan mendasar dengan program yang akan digantikan (program subsidi uang muka dan subsidi selisih bunga)? Jadi perbedaan mendasarnya adalah dulu subsidi uang muka itu adalah belanja habis, kalau sekarang ini adalah biaya bergulir atau revolving fund. Jadi kalau dengan pola subsidi biasa uang akan langsung habis saja dan kemampuan APBN kan sangat terbatas, sehingga penyediaan subsidi uang muka di tahun­tahun berikutnya bisa saja terganggu, tergantung kemampuan keuangan pemerintah. Nah kalau dengan pola baru ini atau blended financing ini kira­kira akan menghasilkan suku bunga yang murah. Apakah program seperti ini hanya ada di Indonesia? Kalau tidak, apakah sudah ada contoh keberhasilannya di negara lain? Sudah ada di negara lain, misalnya di Jordania, Malaysia, Perancis, America Serikat sendiri itu sudah pernah dilakukan semua dan semuanya berhasil. Intinya adalah dana FLPP ini akan mampu menurunkan suku bunga. Kalau di Jordania misalnya semula 14­15% itu bisa turun sampai 9­10%. Di Amerika sendiri juga Fasilitas Likuditas ini diawali dengan pendirian Federal Home Loan Bank atau FHLB pada tahun 1932 yang pada umumnya untuk memfasilitasi pasar KPR yang tidak dapat dibiayai oleh lembaga pembiayaan seperti Freddie Mac, Ginnie Mae, dan sebagainya. Jadi memang ini khusus untuk kelompok masyarakat yang mendapat intervensi dari pemerintah.

13

Wawancara Khusus
Faktor apa yang menjadi persyaratan keberhasilan program Fasilitas Likuiditas? Pertama, harus ada komitmen pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun daerah untuk memastikan dukungan untuk Fasilitas Likuiditas ini. Jadi dukungan dana FLPP ini harus bisa datang pada saat dibutuhkan. Kedua, komitmen dan kemampuan perbankan untuk berpartisipasi dalam penerbit­ an KPR FLPP ini. Sebab kalau perbankan tidak mendukung penyaluran KPR, FLPP ini juga akan terganggu. Oleh karena itu kita juga selalu menyosialisasikan kepada perbankan un­ tuk bisa berpartisipasi dalam penyaluran KPR FLPP ini. Memang salah satu persyaratan yang harus dipersiapkan bank adalah harus mampu menyediakan dana sebagian pokok pinjaman dengan bunga tetap selama pokok pinjam­ an, sesuai dengan porsinya tadi. Itu juga tidak mudah karena untuk menyediakan dana jangka panjang sendiri bank harus menerbitkan obligasi yang nilai suku bunganya tetap selama masa tenor pinjaman. Apakah telah terbayang kendala yang dapat menghambat pelaksa­ naan program ini? Kendala yang paling berat sebetulnya kemampuan perbankan untuk menyediakan dana jangka panjang. Kalau bank bisa mengatasi hal itu semua tidak ada masalah paling hanya terkait dengan masalah­masalah persyaratan saja. Kendala­kendala yang lain adalah masalah adaptasi terhadap persyaratan KPR FLPP. Jadi misalnya bagi perbankan adalah memiliki tang­ gung jawab terhadap ketepatan sasaran, melakukan verifikasi keabsahan persyaratan­persyaratan. Kalau di sistem lama yang bertanggung jawab ketepatan sasaran adalah pemerintah. Kemudian adalah kendala uang muka yang harus disediakan sendiri oleh debitur. Besarnya uang muka ini kalau Rumah Sejahtera Tapak adalah 10%, kalau Rumah Susun sekitar 12,5%. Langkah­langkah apa saja yang disiapkan dalam menunjang terlak­ sananya program ini nantinya? Untuk uang muka misalnya kita mendorong lembaga­lembaga pengelola dana jangka panjang seperti BAPERTARUM, JAMSOSTEK, YKPP untuk memfasilitasi anggotanya dengan bantuan uang muka. Uang muka PNS atau TNI/POLRI atau pekerja lainnya, mereka membayar uang tabungan setiap bulan yang dipotong dari gajinya. Tentunya lembaga­lembaga seperti tadi bisa membantu anggotanya untuk membantu membayar uang muka. Atau kita juga akan mendorong perbankan untuk menciptakan produk­produk tabungan uang muka. Jadi de­ ngan begitu calon konsumen tadi bisa menabung untuk uang muka 1 tahun sebelumnya sehingga setelah itu bisa langsung mengajukan permohonan KPR. Bagaimana dengan kesiapan pemerintah daerah dan bank pelaksana? Kalau untuk keikut­sertaan bank dalam rangka penyaluran KPR FLPP ini terus kita lakukan kepada kalangan perbank­ an. Karena sebetulan KPR FLPP ini akan menguntungkan semua pihak. Pihak pemerintah akan memiliki akumulasi dana murah jangka panjang sehingga dana pembiayaan perumahan bagi MBR sudah terjamin keberadaannya. Bagi perbankan dia dapat mengatasi keterbatasan landing capacity. Jadi hanya dengan porsi 40% dia bisa menyalurkan KPR. Jadi bank bisa menerbitkan banyak KPR dengan dana yang hanya 40% tadi. Ini akan terus kita sosialisasikan kepada pihak perbankan bahwa sebenarnya pihak perbankan bisa menda­ patkan banyak manfaat. Kalau sosialisasi ke Pemerintah Daerah untuk meyakinkan bahwa dengan adanya KPR FLPP ini akan meningkatkan keterjangkauan masyarakat di daerah terhadap rumah layak huni. Untuk itu, kita minta kepada pemda untuk mendukung kemudahan di sisi supply, sebab sisi supply atau pembangunan rumah itu kan ada di daerah. Bagaimana pun sebuah program pasti selalu mendapat kritikan. Seperti misalnya dikatakan bahwa program Fasilistas Likuiditas akan memberatkan konsumen karena berdampak pada besarnya uang muka yang harus dibayar. Selain itu, apa saja saja kritikan yang ditujukan kepada FLPP. Bagaimana Kemenpera kemudian menang­ gapinya? Kritikan utama umumnya masalah persyaratan. Kalau dari sisi manfaat KPR FLPP ini dipuji oleh banyak kalangan. Ka­ lau dari sisi persyaratan ini yang memang banyak mendapat­ kan kritikan misalnya persyaratan untuk memiliki NPWP dan SPT. Ini semata­mata hanya untuk memastikan bahwa KPR yang difasilitasi dengan dana FLPP dari pemerintah ini tepat pada sasarannya, supaya jangan salah sasaran. Kemu­ dian terkait dengan uang muka, memang kita harus mendidik masyarakat bahwa untuk memiliki rumah ini memang perlu persiapan dan memang salah satu karakteristik dari rumah itu adalah harganya mahal dibandingkan dengan penghasilan bulanannya – teori dari textbook­nya begitu. Oleh karena itu, cara untuk memiliki rumah yang paling umum adalah dengan kredit, melalui KPR. Persyaratan KPR adalah dengan adanya uang muka. Bagi kalangan perbankan, uang muka adalah untuk mengukur tingkat kredibilitas dari calon debitur. Oleh karena itu, FLPP ini diharapkan bisa mengedukasi masyarakat bahwa untuk memiliki rumah memerlukan persiapan. Diantaranya per­ siapan menyisihkan sebagian dari penghasilannya, ditabung untuk uang muka KPR. Jika program ini berhasil, apa dampak signifikan terhadap pemba­ ngunan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah? Yang pasti akan terjadi akumulasi dana murah jangka pan­ jang, sebab pembangunan perumahan bagi MBR itu hanya bisa sukses kalau didukung oleh tersedianya dana murah jangka panjang. Dengan dana FLPP ini kan dananya akan bergulir terus dan akan terakumulasi terus dan ini akan men­ jadi sebuah sistem seperti bola salju terus menerus sehingga nantinya pada 2014 pembangunan perumahan akan lebih mudah. Jadi pada tahun 2014, kita dapat katakan pemba­ ngunan perumahan akan lebih mudah.

14

Wacana
Pengelolaan Pengetahuan:

Edisi 2 Tahun 2010

Upaya Meningkatkan Kinerja melalui
aat ini telah sering kita dengar tentang istilah knowledge manage­ ment atau pengelolaan penge­ tahuan. Sebenarnya konsep ini telah dikenal sudah cukup lama, namun baru beberapa tahun terakhir kemudi­ an menjadi demikian populer. Men­ jadi menarik untuk mengetahui lebih dalam tentang konsep ini. Syukur kalau bisa kita terapkan paling tidak di unit masing­masing. Tulisan berikut menyajikan secara ringkas beberapa hal penting terkait dengan manajemen pengetahuan (red.) Apa Itu Pengetahuan? Pengetahuan dalam konteks ini diarti­ kan sebagai sumber daya artifisial yang berbeda dari tenaga kerja, sumber daya alam dan modal. Pengetahuan adalah gabungan dari nilai, konteks, dan pengalaman dari sebuah infor­ masi yang kemudian oleh seseorang berdasarkan kapasitas, kapabilitas dan pengalamannya diolah menjadi suatu sumber daya baru bagi upaya pengambilan keputusan. Jadi sebena­ rnya pengetahuan merupakan ujung dari sebuah proses yang dimulai dari data, lalu informasi dan pada akhirnya menjadi pengetahuan. Lalu apa perbedaan antara data, infor­ masi dan kemudian akhirnya menjadi pengetahuan? Data adalah ukuran atau hasil observasi dalam bentuk teks, numerik, grafik, kartografik, nara­ tif atau audiovisual. Ada juga yang menyatakannya sebagai simbol yang dihasilkan dari angka, fakta dan kuan­ titas. Sementara informasi merupakan data mentah yang telah diverifikasi supaya akurat dan memiliki kepastian waktu, terorganisir, dan memiliki tujuan. Informasi merupakan hasil proses dari data. Data telah diberi makna khusus. Informasi disajikan

Pemanfaatan Data dan Informasi
The basic economic resource is no longer capital, nor natural resources, not labor. It is and will be knowledge.... (Peter Drucker)

S

dalam bentuk konteks kalimat yang memiliki makna, relevan dan menin­ gkatkan pemahaman dalam suatu hal. Dalam konsep pengelolaan pengeta­ huan, pengetahuan dipahami seb­ agai wawasan dan pengalaman yang dimiliki sesorang (tacit knowledge) atau diketahui umum (explicit knowledge) yang memberikan kemampuan untuk merubah data dan informasi menjadi pijakan pengambilan keputusan. Di lain pihak, dapat juga disimpulkan bahwa (i) informasi berhubungan dengan penggambaran, definisi, atau perspektif (apa, siapa, kapan, dimana); (ii) pengetahuan terdiri dari strategi, latihan, metode, atau pendekatan (bagaimana); (iii) kebijakan merupakan prinsip, moral (mengapa). Sebagai ilustrasi. Angka 24 tidak mem­ punyai makna selain sekedar angka. Ini yang disebut data. Tetapi 24% ini mempunyai makna 24 terhadap 100. Ini disebut informasi. Sementara ber­ dasarkan pemahaman dan pengalaman maka seseorang dapat mengatakan 24% tersebut sebagai cukup memadai, kurang atau lebih. Pengetahuan dapat dibedakan ber­ dasar prosesnya, yaitu pengetahuan implisit (tacit knowledge) yang bersum­ ber dari pengalaman sendiri dan bu­ kan sumber tertulis. Pengetahuan jenis ini susah dijabarkan dengan kata­kata. Istilah gampangnya, apa yang ada di otak manusia susah untuk diucapkan di mulut. Menurut Michael Polanyi, “Knowing more than saying”, kita men­ getahui lebih banyak dari pada yang diucapkan. Sementara pengetahuan implisit dapat berasal dari hasil diskusi, pertemuan rutin, atau pengamatan sekeliling dan berbentuk know­how, pengalaman, keterampilan, pemaham­ an, maupun rules of thumb. Pengeta­

huan eksplisit (explicit knowledge) yang diperoleh dari melihat, mendengar dan membaca literatur atau sumber tertulis lainnya. Sumber pengetahuan eksplisit diantaranya buku, standar operasional pekerjaan, situs, bahan publikasi dan lainnya. Pengertian Manajemen Pengetahuan Manajemen pengetahuan diartikan sebagai suatu upaya/kegiatan terkait perencanaan, pengorganisasian, peng­ giatan dan pengendalian untuk meng­ identifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan agar diketahui, dipelajari, dimengerti sehing­ ga dapat dimanfaatkan untuk menyu­ sun kebijakan, rencana atau program. Manajemen pengetahuan dapat berarti pula sebagai mengelola kompetensi yang berada di dalam suatu organisasi dan mendorongnya untuk berkembang. Penting dicatat, terjadi kesalahkaprah­ an selama ini bahwa definisi manaje­ men pengetahuan sama sekali tidak berbicara tentang teknologi walaupun seringkali difasilitasi oleh teknologi komputer. Jadi teknologi itu sendiri bukan manajemen pengetahuan. Hakekat dan Pentingnya Manajemen Pengetahuan Hakekat manajemen pengetahuan adalah memahami bahwa modal intelektual adalah sumber daya yang tidak dapat habis, bahkan dapat dikembangkan tanpa batas. Dapat juga berarti upaya menghargai kekayaan yang tidak kasat mata lebih dari pada yang nampak. Dengan demikian manajemen pengetahuan dapat mem­ bantu individu/kelompok dalam suatu organisasi untuk meningkatkan efek­ tifitas waktu dan beban kerja melalui langkah berbagi wawasan dan pen­

15

Wacana
galaman. Selain itu, dapat membantu suatu organisasi untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. mengelola pengetahuan mereka sen­ diri, karena yang paling berkepenting­ an mendapatkan manfaat dari penge­ lolaan pengetahuan itu adalah individu. Spiral Pengetahuan Pengelolaan penge­ tahuan tidak terlepas dari sebuah nama yaitu Ikujiro Nonaka dengan bukunya The Knowledge­ Creating Company. Iku­ jiro Nonaka membuat formulasi yang terke­ nal dengan sebutan SECI atau Knowledge Spiral. Konsepnya bahwa dalam siklus perjalanan kehidupan kita, pengetahuan itu mengalami proses yang kalau digambarkan ber­ bentuk spiral. Proses itu disebut dengan Socialization – Externalization – Combination – Internalization (SECI). Proses eksternalisasi (externalization), yaitu mengubah tacit know­ ledge yang kita miliki menjadi explicit knowledge. Bisa dengan menuliskan know­how dan pengalaman yang kita dapatkan dalam bentuk tu­ lisan artikel atau bahkan buku apabila perlu. Dan tulisan­tulisan tersebut akan sangat bermanfaat bagi orang lain yang sedang memerlukannya. Se­ mentara proses kombinasi (combination) adalah memanfaatkan explicit knowledge yang ada untuk kita implementasikan menjadi explicit knowledge lain. Proses ini sangat berguna untuk meningkat­ kan keterampilan dan produktifitas diri sendiri. Kita bisa menghubungkan dan mengkombinasikan explicit know­ ledge yang ada menjadi explicit knowledge baru yang lebih bermanfaat. Selanjutnya proses internalisasi (inter­ nalization) berupa upaya mengubah explicit knowledge sebagai inspirasi datangnya tacit knowledge. Dari keempat proses yang ada, mungkin hanya inilah yang telah kita lakukan. Bahasa lainnya adalah learning by doing. Dengan refe­ rensi dari manual dan buku yang ada, kita menemukan pengalaman baru, pemahaman baru dan know­how baru yang mungkin tidak didapatkan dari buku tersebut. Sebagai proses terakhir sosialisasi (socialization), yakni meng­ ubah tacit knowledge ke tacit knowledge lain. Ini adalah hal yang juga terkadang sering kita lupakan. Kita tidak man­ faatkan keberadaan kita pada suatu pekerjaan untuk belajar dari orang lain, yang mungkin lebih berpenga­ laman. Proses ini membuat penge­ tahuan kita terasah dan juga penting untuk peningkatan diri sendiri. Yang tentu saja ini nanti akan berputar pada proses pertama yaitu eksternalisasi. Semakin sukses kita menjalani proses perolehan tacit knowledge baru, semakin banyak explicit knowledge yang berhasil kita produksi pada proses ekster­ nalisasi (Wahono, 2005). Tahapan Pengembangan Amrit Tiwana mengusulkan empat tahap dengan 10 lang­ kah dalam membangun sebuah manajemen pengetahuan secara organisasional. Tahap pertama berupa pemetaan kondisi saat ini. Diikuti dengan tahap kedua yaitu menganali­ sis, mendesain dan mengem­

Sumber: Tjuk Kuswartojo dkk

Bagi sebuah organisasi, mengelola pengetahuan menjadi suatu keniscay­ aan untuk (i) mengetahui kekuatan (dan penempatan) seluruh SDM, (ii) memanfaatkan kembali pengetahuan yang sudah ada (ditemukan) alias tidak perlu mengulang proses kegaga­ lan, (iii) mempercepat proses penciptaan pengetahuan baru dari pengetahuan yang ada, dan (iv) menjaga pergerakan organisasi tetap stabil meski­ pun terjadi arus keluar­masuk SDM Walaupun selalu didengung­ kan bahwa pengelolaan penge­ tahuan penting bagi setiap organisasi, tetapi sebenarnya setiap orang lah yang harus

16

Edisi 2 Tahun 2010

bangkan sistem. Langkah pertama, melakukan analisis infrastruktur yang ada, kemudian menentukan langkah kongkrit untuk membangun sistem manajemen pengetahuan. Tahapan berikutnya adalah penyebaran pen­ getahuan. Ditutup dengan evaluasi kinerja. Tahapan Pengembangan Manajemen Pengetahuan. Tahap 1: Evaluasi Kondisi Langkah 1: Analisis kondisi saat ini Langkah 2: Menyelaraskan manajemen pengetahuan dan strategi bisnis Tahap 2: Analisis, Desain dan Pengem­ bangan Sistem Manajemen Pengetahuan Langkah 3: Mendesain bentuk manaje­ men pengetahuan dan memadukan kedalam sistem yang ada Langkah 4: Memetakan dan meng­ analisis pengetahuan yang ada Langkah 5: Mendesain kelompok manajemen pengetahuan Langkah 6: Menyusun cetak biru manajemen pengetahuan Langkah 7: Mengembangkan sistem manajemen pengetahuan Tahap 3: Penyebaran Langkah 8: Penyebaran menggunakan metodologi tertentu Langkah 9: Merubah manajemen, bu­ daya, desain struktur penghargaan, dan memilih penanggungjawab Tahap 4: Evaluasi Kinerja Langkah 10: Mengukur hasil manaje­ men pengetahuan, merancang alat ROI dan mengevaluasi kinerja sistem Keberhasilan Manajemen Pengetahuan Birkinsaw menggarisbawahi tiga kenyataan yang sangat mempengaruhi berhasil­tidaknya manajemen penge­ tahuan. Pertama, penerapannya tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru tetapi juga mendaur­ulang pengeta­ huan yang sudah ada. Kedua, teknologi informasi belum sepenuhnya bisa menggantikan fungsi fungsi jaringan sosial antaranggota organisasi. Ketiga, sebagian besar organisasi tidak pernah

tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui, banyak pengetahuan penting yang harus ditemukan lewat upaya­ upaya khusus, padahal pengetahuan itu sudah dimiliki sebuah organisasi sejak lama. Hasil riset menunjukkan sejumlah faktor yang mendorong keberhasilan penerapan manajemen pengetahuan yaitu (i) tersedianya kampiun, yaitu seseorang yang mempunyai komit­ men, antusias dalam mendorong

Tantangan terbesar bagi penerapan manajemen pengetahuan adalah beru­ pa perubahan budaya dari “pengeta­ huan adalah kekuatan” menjadi “ber­ bagi pengetahuan adalah kekuatan”. Tentu saja masih banyak tantangan lainnya seperti ketakutan berhubung­ an dengan pihak luar, mengharapkan hasil segera sementara manajemen pengetahuan bersifat jangka panjang, keengganan bekerjasama, organisasi kurang mengenali dan menghargai kontribusi pengetahuan.

Cara Belajar yang Berbeda

terciptanya manajemen pengetahuan; (ii) dukungan dari pengambil kepu­ tusan; (iii) keterkaitan yang jelas antara keberadaan manajemen pengetahuan dengan manfaatnya terhadap institusi; (iv) tersedianya budaya yang men­ dukung inovasi, dan berbagi penge­ tahuan. Biasanya berbentuk sistem penghargaan (insentif); (v) tersedianya mekanisme berbagi pengetahuan; (vi) tersedianya teknologi yang mendu­ kung mulai dari yang paling sederhana seperti intranet sampai yang canggih. Termasuk sistem data dan infor­ masi yang memadai; (vii) tersedianya perpustakaan atau pusat pengetahuan yang memadai.

Praktek Unggulan Telah banyak bukti yang menunjukkan manfaat yang signifikan bagi peru­ sahaan/institusi melalui penerapan manajemen pengetahuan. Beberapa diantaranya (i) British Petroleum (BP), dengan memanfaatkan kemitraan virtual menggunakan konferensi video yang telah membantu menyelesaikan masalah operasional penting; (ii) Texas Instruments, dengan berbagi praktek unggulan diantara cabang; (iii) Hewlett­Packard, dengan berbagi pengalaman dan keahlian diantara anggota tim.

17

Liputan Utama

Suasana Diskusi Kelompok Kerja III (Air dan Sanitasi)

Sumber foto: Kemenpera

Konperensi Tingkat Menteri Asia Pasifik tentang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan ke 3
APMCHUD (Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development) 3
ada 22 Juni hingga 24 Juni 2010 telah dilaksanakan The Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD) ke­3 atau Konperensi Tingkat Menteri Asia Pasifik tentang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan ke 3 dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat untuk Mendukung Urbanisasi Berkelanjutan” (Empowering Communities for Sustainable Urbanization) di Solo,

P

Pemberdayaan Masyarakat untuk Mendukung Urbanisasi Berkelanjutan Solo, 22-24 Juni 2010
Jawa Tengah. Konferensi tingkat Asia Pasifik yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali ini diikuti oleh 99 delegasi dari 27 negara anggota. The Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD) bertujuan untuk menjawab tantangan urbanisasi, perumahan dan pengelolaan permukiman, Millenium Development Goals (MDGs), kemiskinan perkotaan dan lingkungan kumuh, serta mengembangkan strategi

dan kebijakan bagi pengembangan permukiman, dengan lahan dan rumah menjadi komponen penting. APMCHUD juga bertujuan untuk menjadi wadah berbagi pengalaman dan informasi tentang lahan dan perumahan serta strategi nasional dan lokal untuk pengurangan kemiskinan yang memungkinkan negara­negara di kawasan Asia Pasifik berbicara dalam satu suara pada lingkup regional dan internasional.

18

Edisi 2 Tahun 2010

APMCHUD yang pertama diselenggarakan di New Delhi, India pada tahun 2006 dan menghasilkan Deklarasi New Delhi dan Kerangka Kerja tentang Implementasi Urbanisasi Berkelanjutan di Asia Pasifik. Sementara itu, APMCHUD yang kedua diselenggarakan di Iran dan menghasilkan Deklarasi Teheran dan Rencana Aksi untuk Kerjasama Regional tentang Promosi Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan di Asia Pasifik. Pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi APMCHUD 3 di Solo diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM/Senior Official Meeting) pada 22 Juni 2010. Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, dengan rangkaian sambutan antara lain oleh Sunil Singh selaku Koordinator Sekretariat APMCHUD, Daniel Biau dari UN Habitat, dan Menteri Perumahan Iran Ali Nikzad selaku ketua Biro APMCHUD yang kedua, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Dalam sambutannya, Menteri Pekerjaan Umum menyampaikan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan pilar dari kebijakan di Indonesia. Menteri PU juga menyampaikan harapannya agar APMCHUD yang ketiga ini dapat mendorong kerjasama regional dan tata pemerintahan yang baik untuk dapat mencapai target MDG. APMCHUD dilanjutkan dengan sesi diskusi paralel yang terdiri dari 5 kelompok kerja yaitu (1) Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan dan Tata Kelola Pemerintahan, (2) Peningkatan Kualitas Kawasan Kumuh Perkotaan Secara Partisipatif, (3) Pelaksanaan MDGs untuk Air Minum dan Sanitasi, (4) Pembiayaan Perumahan

dan Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan, dan (5) Peran Masyarakat dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Diskusi kelompok kerja ini dibuka oleh Budi Yuwono, Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum. Setiap diskusi kelompok kerja kemudian dipimpin oleh pejabat tinggi dari negara anggota APMCHUD dengan menghadirkan pembicara baik dari pemerintah, organisasi non pemerintah, UN Habitat maupun akademisi dari berbagai negara di Asia Pasifik. Para pembicara ini berbagi pengalaman dari negara masing­masing yang konteksnya sesuai dengan isu yang

dialami oleh negara di kawasan Asia Pasifik. Secara khusus, dalam setiap kelompok kerja, Indonesia juga menyampaikan Country Profile/Profil Negara yang telah disiapkan sebelum penyelenggaraan APMCHUD. Pada hari kedua dari APMCHUD, diselenggarakan sidang yang membahas tentang aspek organisasi APMCHUD ke depannya. Selain itu juga diadakan pembahasan rancangan kesepakatan APMCHUD yang menghasilkan Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo. Rumusan dari setiap diskusi kelompok kerja yang telah dilaksanakan sebelumnya ikut menjadi masukan untuk pembahasan calon kesepakatan tersebut. Pertemuan Tingkat Menteri Pertemuan tingkat menteri untuk APMCHUD 3 dilaksanakan pada 24 Juni 2010. Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Budi Yuwono, mewakili panitia penyelenggara mengawali rangkaian pembukaan acara dengan memberikan laporan perkembangan pelaksanaan APMCHUD yang
Sumber foto: Kemenpera

Pemberdayaan masyarakat merupakan pilar dari kebijakan di Indonesia.

Menteri Negara Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa, menyampaikan pidato pada Pembukaan AMPCHUD.

19

Liputan Utama
sudah berlangsung selama dua hari. Budi Yuwono antara lain menyampaikan tentang hasil diskusi kelompok kerja sebagai masukan untuk Rencana Aksi Implementasi Solo (Solo Implementation Plan). Acara pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Anna Tibaijuka selaku Direktur Eksekutif dari UN­Habitat. Dalam sambutannya, Anna Tibaijuka menyampaikan bahwa konsistensi partisipasi dari negara­negara dalam konferensi seperti APMCHUD ini menunjukkan komitmen dari tiap negara terhadap tantangan untuk mengatasi permasalahan perkotaan di kawasan Asia Pasifik. Menteri Iran Ali Nikzad yang memberikan sambutan berikutnya kemudian menyampaikan terima kasih kepada Indonesia atas penyelenggaraan APMCHUD dan mengharapkan agar negara­negara berkomitmen untuk bekerja sama dalam mencapai urbanisasi yang berkelanjutan. Pertemuan tingkat menteri ini kemudian secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono. Setelah secara resmi dibuka, delegasi
Sumber foto: Kemenpera

Indonesia ditunjuk menjadi Ketua Biro APMCHUD ke-3 (2010-2012)
dari tiap­tiap negara kemudian mengikuti sidang pembahasan rancangan Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo dengan dipimpin oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Suharso Monoarfa. Pembahasan rancangan dari Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo sebelumnya telah diadakan pada 23 Juni 2010. Sidang berjalan dengan lancar terlihat dari tidak banyak interupsi terkait pasal­ pasal dalam Deklarasi. Anggota sidang kemudian menyepakati dan mengadopsi Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo. Deklarasi Solo dan Rencana

Implementasi Solo (Solo Declaration and Implementation Plan) menjadi hasil akhir dari pertemuan APMCHUD. Rencana Implementasi Solo ini secara detail menyerukan kepada setiap negara tentang rencana aksi terkait lima kelompok kerja dalam APMCHUD . Dalam kedua kesepakatan tersebut, Indonesia juga ditunjuk untuk menjadi Ketua Biro APMCHUD ke-3 periode tahun 2010−2012 dengan negara­negara anggotanya adalah Republik Indonesia, Republik Islam Iran, Republik India, Republik Kepulauan Fiji, Republik Korea Selatan, Pakistan, Republik Islam Irak, dan Kerajaan Hasemit Yordania. Untuk tuan rumah dari pertemuan APMCHUD berikutnya disepakati untuk diselenggarakan di Yordania. Dengan disepakatinya Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo, APMCHUD 3 kemudian ditutup secara resmi oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa selaku tuan rumah sekaligus Ketua Biro APMCHUD yang ketiga. Dengan peran tersebut, Indonesia memiliki posisi yang krusial dalam mengawal kerjasama regional dalam pembangunan perkotaan di kawasan Asia Pasifik yang menjadi salah satu butir rekomendasi dari APMCHUD 3 (LNP)

Pembukaan Pameran

Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, Menteri Negara Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Perumahan Iran Ali Nikzad secara bersama­sama membuka ajang Pameran Perumahan dan Perkotaan.

20

Edisi 2 Tahun 2010

K

The Third Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD)
cepat dan rekonstruksi bersama intervensi kemanusiaan, termasuk upaya bersama untuk kelancaran arus bahan bangunan sesuai dengan pedoman yang disepakati oleh semua pihak, Mengakui peran penting pemangku kepentingan lokal, termasuk kelompok miskin dan rentan dengan memperhatikan kebutuhan perempuan dan anak­ anak dalam mencapai urbanisasi yang berkelanjutan, termasuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan krisis ekonomi; dan kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan untuk mendukung proses urbanisasi yang berkelanjutan, Menyadari tantangan kota­kota dan pemukiman manusia dalam pembangunan berkelanjutan dan meningkatnya kebutuhan pembangunan perkotaan yang dipimpin, yang mencakup strategi yang komprehensif untuk hubungan pedesaan­perkotaan dan fokus pada potensi lokal dan aspirasi masyarakat, serta mempromosikan pengembangan energi efisien melalui diversifikasi sumber daya energi, termasuk penggunaan energi nuklir damai terhadap pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, Mencatat pentingnya untuk memperkuat kerjasama antara negara­negara anggota dalam mengembangkan mekanisme pencegahan bencana serta darurat, rekonstruksi dan pemulihan kawasan yang rusak oleh peristiwa terkait bencana dan perubahan iklim, Mengenali bahwa kota di seluruh wilayah Asia­Pasifik mengandalkan pada pengetahuan warga negara mereka, institusi, lembaga dan perusahaan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan telah banyak pengalaman pengembangan dan pengetahuan, yang perlu diambil, dibagi, dan disebarluaskan lebih efektif untuk kepentingan mitra pembangunan. Menyadari akan tantangan terkini dan peluang di wilayah ini: 1. Mengakui kebutuhan untuk mengembangkan kebi­ jakan dan strategi untuk memberdayakan masyarakat

Deklarasi Solo

ami, Menteri­Menteri Asia Pasifik yang bertanggung jawab untuk Perumahan dan Pembangunan Perkotaan, bertemu di Solo, Indonesia, pada tanggal 22 – 24 Juni 2010, untuk membahas tantangan perumahan dan urbanisasi di Asia Pasifik:

Mengungkapkan rasa syukur dan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia yang telah mengadakan Third Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD) dan penghargaan kepada masyarakat Indonesia atas keramahan mereka, Mengumumkan pembentukan Sekretariat Tetap Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD) di New Delhi dan menyatakan penghargaan atas upaya yang dicapai dalam mengimplementasikan Deklarasi Delhi dan Deklarasi Teheran, dan kepada UN­HABITAT atas dukungan kepada Konferensi dan kerjanya di wilayah ini, Menyatakan penghargaan kita kepada Republik Islam Iran yang telah menjadi tuan rumah APMCHUD kedua, dan untuk kepemimpinan yang serius di Biro APMCHUD, Mengakui pentingnya Deklarasi Delhi dan Deklarasi Teheran, Juga mengakui pentingnya Pacific Urban Agenda yang telah diadopsi di South Pacific Forum Countries pada tahun 2007, Mengungkapkan perhatian mengenai dampak krisis ekonomi dan perubahan iklim terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), dengan kemungkinan merugikan komitmen indikator MDGs di beberapa negara, dan kebutuhan untuk upaya­upaya tambahan, Mengungkapkan perhatian mengenai situasi kemanusiaan di Jalur Gaza, yang menimbulkan tantangan luar biasa yang berkaitan dengan rehabilitasi perumahan yang hancur, properti dan infrastruktur, disamping kerusakan lanjutan di permukiman dan kondisi perumahan di wilayah Palestina yang diduduki, dan kebutuhan untuk pemulihan yang

21

Liputan Utama
untuk urbanisasi berkelanjutan; 2. Setuju untuk mengembangkan basis data sistem informasi, pengetahuan, inovasi dan jaringan pembelajaran antara kota­kota dan negara­negara untuk menyediakan dan melayani kebutuhan lokal untuk mendukung urbanisasi berkelanjutan; 3. Setuju untuk mempromosikan pemanfaatan kapasitas Pusat Regional untuk Pengetahuan dan Jejaring Pembelajaran untuk Pemberdayaan Masyarakat di Perumahan dan Pembangunan Perkotaan di pusat­pusat yang ada di Indonesia dan mendorong negara­negara lain untuk mengambil inisiatif serupa untuk memperkuat peran APMCHUD sebagai hub (penghubung) pengetahuan dalam urbanisasi berkelanjutan; 4. Setuju untuk meningkatkan dan mempercepat kapasitas pemangku kepentingan untuk terintegrasi, perencanaan partisipatif dan inklusif dengan mengembangkan kerjasama pada perangkat perencanaan dan pemerintahan untuk mencapai urbanisasi berkelanjutan; 5. Setuju untuk memperkuat program pengentasan kemiskinan dalam sistem perkotaan, terutama memfasilitasi akses masyarakat miskin dengan penyediaan infrastruktur dasar, sumber daya sosial dan ekonomi, melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan keamanan penguasaan; 6. Mengundang Pemerintah untuk mempromosikan indikator pembangunan berkelanjutan untuk penyediaan air dan sanitasi, perumahan, pelayanan perkotaan, sesuai dengan kondisi setempat, dan mendesak pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung melalui kebijakan dan tindakan untuk mencapai urbanisasi berkelanjutan; 7. Mendesak Masyarakat Asia Pasifik untuk mengurangi perang dan konflik di kawasan itu dan membuat kota­kota tempat yang tenang dan ditinggali untuk generasi mendatang; 8. Merekomendasikan untuk mema­ sukkan dampak perubahan iklim dalam perencanaan tata ruang di tingkat makro dan mikro; 9. Mencatat hasil World Urban Forum ke 5 dan mengharapkan Forum Urban Dunia berikutnya
Sumber foto: Istimewa

untuk mempromosikan urbanisasi berkelanjutan dan harmonis, dengan penekanan untuk mengatasi dampak negatif dari krisis ekonomi dan perubahan iklim; 10. Menyetujui untuk menganalisis berbagai kebijakan yang diterapkan oleh perencana untuk menghadapi tantangan perumahan dan urbanisasi yang dapat memungkinkan adanya mekanisme kerjasama regional; 11. Mengadopsi Rencana Implementasi Solo (Solo Implementation Plan) dari lima Kelompok Kerja sebagaimana terlampir; 12. Menyetujui kelanjutan kegiatan dari lima Kelompok Kerja (Pokja), di mana Sekretariatnya akan dikelola oleh negara anggota sukarelawan. Kelima kelompok kerja terdiri atas:
l Pokja l Pokja

1 Perencanaan dan Manajemen Kota dan Pedesaan 2 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh dan Informal

l Pokja 3 Pelaksanaan MDGs untuk Air dan Sanitasi l Pokja 4 Pembiayaan Perumahan Berkelanjutan l Pokja 5 Pembangunan Perkotaan dengan fokus pada

Bencana Alam

13. Mendukung komposisi Biro APMCHUD ke­3 dengan anggota Menteri yang mewakili negara: a. Republik Indonesia, b. Republik Islam Iran, c. Republik Kepulauan Fiji, d. Republik India, e. Republik Irak, f. Republik Korea, g. Kerajaan Hasyimiyah Jordania, h. Republik Islam Pakistan 14. Meminta ketua Biro APMCHUD untuk menjamin pelaksanaan deklarasi ini bekerja sama dengan anggota Biro lainnya, Sekretariat APMCHUD, dan Sekretariat UN­ Habitat serta mengharapkan untuk menerima pemutak­ hiran berita secara reguler. 15. Menyambut baik tawaran dari Pemerintah Kerajaan Hasyimiyah Jordania untuk menjadi tuan rumah APMCHUD ke 4 pada tahun 2012. Diadopsi di Solo pada tanggal 24 Juni 2010.

22

Edisi 2 Tahun 2010
Sumber foto: Humas Kemenpera

APMCHUD ke-3 diharapkan dapat menghasilkan Deklarasi Solo yang berisi mengenai kerangka regional pemberdayaan masyarakat untuk urbanisasi yang berkelanjutan.
Suharso Monoarfa

Persiapan APMCHUD
egiatan semegah Konferensi Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan se­ Asia Pasifik atau Asia Pacific Ministers Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD) tentunya membutuhkan beragam upaya untuk memastikan keberhasilannya. Dimulai dengan upaya pengenalan kegiatan ini ke berbagai pihak dan dalam beragam forum. Dimulai dengan membuka stan pameran tentang APMCHUD dalam kegiatan WUF (World Urban Forum) 5 pada 22­26 Maret 2010 di Rio De Janeiro, Brazil. Pameran ini menjadi ajang yang penting karena World Urban Forum dihadiri oleh para pemangku kepentingan perkotaan dan perumahan dunia. Dilanjutkan dengan pengenalan APMCHUD melalui Embassy Briefing yang bertujuan untuk meningkatkan perhatian dan minat para delegasi untuk berpartisipasi dalam APMCHUD. Embassy Briefing dilaksanakan pada 21 Mei 2010 di Ruang Prambanan Kementerian Perumahan Rakyat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 23 kedutaan besar Negara Asia Pasifik, termasuk dua duta besar dari Afghanistan dan Lebanon. Sementara pengenalan AMPCHUD kepada media massa dilaksanakan dalam dua kesempatan. Kesempatan pertama pada Konferensi Pers tanggal 4 Mei 2010 di Kementerian Perumahan Rakyat, diikuti kesempatan berikutnya melalui kegiatan bertajuk Chief Editor Luncheon pada 1 Juni 2010 di Hotel Ambhara. Dalam Konferensi Pers tersebut, Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa didampingi Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat, Iskandar Saleh, dan Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Budi Yuwono PS. Menpera yang juga menjadi ketua Tim Pelaksana APMCHUD ke­3 menjelaskan, APMCHUD

K

merupakan forum pertemuan Menteri se-Asia Pasifik di bidang pembangunan perumahan dan pengembangan perkotaan yang diprakarsai oleh UN Habitat. Adapun tema yang diambil dalam kegiatan APMCHUD ke­3 ini adalah Pemberdayaan Komunitas Untuk Urbanisasi Berkelanjutan (Empowering Communities for Sustainable Urbanization). “APMCHUD ke­3 diharapkan dapat menghasilkan Deklarasi Solo yang berisi mengenai kerangka regional pemberdayaan masyarakat untuk urbanisasi yang berkelanjutan,” terangnya. APMCHUD, lanjut Menpera, didirikan pada Desember 2006 sebagai wahana untuk meningkatkan operasionalisasi forum konsultasi tingkat Menteri di bidang perumahan dan pengembangan perkotaan se­Asia Pasifik dalam menghadapi dinamika ekonomi secara global dan tantangan perubahan iklim. Dalam hal ini, Indonesia juga harus menghadapi berbagai tantangan urbanisasi seperti semakin banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan. Pada kesempatan berikutnya pada acara Chief Editor Luncheon, yang mengundang para pimpinan redaksi, Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat, Iskandar Saleh, yang juga merupakan Wakil Ketua I Panitia Nasional Pelaksana APMCHUD menyampaikan harapannya terhadap dukungan media massa dalam menyukseskan penyelenggaraan APMCHUD. Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono yang juga Wakil Ketua Panitia Nasional Pelaksana APMCHUD menambahkan bahwa konferensi ini merupakan wujud kebersamaan negara­ negara Asia Pasifik dalam menangani permasalahan yang diakibatkan pesatnya urbanisasi.

23

Liputan

Tasyakuran Hari Perumahan Nasional Tahun 2010

Kemenpera dan Pemangku Kepentingan Perumahan Peringati Hapernas

Sumber foto: Humas Kemenpera

K

Kemenpera Gantikan Istilah RSh Menjadi Rumah Sejahtera
ementerian Perumahan Rakyat (Ke­ menpera) ke depan akan mengganti istilah Rumah Sederhana Sehat (RSh) menjadi Rumah Sejahtera. Adanya Rumah Sejahtera diharapkan dapat mewakili nilai­ nilai kesejahteraan masyarakat yang diawali dari rumah masing­masing. “Rumah Sejahtera akan menggantikan istilah Rumah Sederhana Sehat. Kami akan terus menyosialisasikan hal ini kepada masyarakat,” ujar Menteri Negara Perumah­ an Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa pada kegiatan Tasyakuran Hari Perumahan Nasional Tahun 2010 bertemakan Wujud­ kan Rumah Sejahtera Melalui Sinergitas Pusat–Daerah di Ruang Prambanan, Kantor Kemenpera, Jakarta (24/8) sore. Hadir dalam kegiatan itu para pejabat Eselon I, II, III dan IV di lingkungan Ke­ menpera serta para mitra kerja Kemenpera seperti Perum Perumnas, Bank BTN, Real Estat Indonesia, MP3I, Apersi serta mantan Menpera KIB I Mohammad Yusuf Asy’ari. Sedangkan narasumber dalam kegiatan tasyakuran tersebut adalah Sejarawan Anhar Gonggong. Menpera menjelaskan, rumah pada dasarnya merupakan hak dasar yang melekat pada setiap manusia. Selain itu, rumah juga men­ jadi identitas serta merepresentasikan aset seseorang. Oleh karena itu, lanjut Menpera, dengan adanya istilah Rumah Sejahtera ini pihaknya ingin mengajak seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan untuk meningkatkan semangat untuk memenuhi penyediaan rumah bagi masyarakat Indone­ sia. Lebih lanjut, Menpera menuturkan, untuk membantu masyarakat dalam menjangkau harga rumah yang dijual oleh para pengem­

K

bang, pihaknya juga telah mengubah me­ kanisme pola subsidi langsung pada harga rumah menjadi subsidi pada kemampuan daya beli seseorang. Dalam hal ini peme­ rintah mengubah pola subsidi pada harga rumah ke pola fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan yang telah diluncurkan pada bulan Juli lalu. “Jadi perubahan istilah atau atribut menjadi Rumah Sejahtera ini akan diikuti dengan perubahan pola bantuan subsidi pemerintah. Sebab rumah pada dasarnya merupakan objek pajak, sedangkan yang dibantu oleh pemerintah adalah orang yang menjadi sub­ yek pajak,” tandasnya. Sebelumnya, Sejarawan Anhar Gonggong mengungkapkan, kebutuhan rumah bagi masyarakat Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, pada za­ man kemerdekaan saat ini sudah selayaknya setiap Warga Negara Indonesia mempunyai hak konstitusional terkait penyediaan tempat tinggal dari pemerintah. “Rumah merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat akan memiliki ketenangan hidup apabila mereka sudah memiliki rumah,” ujarnya. Terkait dengan peringatan Hari Perumahan Nasional Tahun 2010, Anhar menilai hal itu sangat penting karena dapat mengingatkan akan pentingnya kebutuhan rumah dalam kehidupan manusia dan peradaban sebuah bangsa. “Dari rumah, manusia akan membangun ke­ hidupannya di masa yang akan datang serta membina keluarga. Untuk itu, perubahan paradigma terkait rumah sangatlah penting karena manusia membutuhkan rumah dalam kehidupannya,” katanya.

ementerian Perumahan Rak­ yat (Kemenpera) bersama dengan seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan, Rabu (25/8) pagi, melakukan upacara peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) tahun 2010 di Kantor Kemenpera, Jakarta. Hadir dalam kegiatan peringatan Hapernas itu beberapa mitra kerja Kemenpera seperti dari Perum Perumnas, Apersi, Real Estat Indonesia (REI), MP3I, Bapertarum PNS, Bank BTN, PT. SMF. Sedangkan yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa. Menpera Suharso Monoarfa dalam pidatonya mengungkapkan “Sejalan dengan upaya yang akan kita capai dalam pembangunan perumahan ke depan, maka kami tetapkan tema Hapernas 2010 ini adalah Wujudkan Rumah Sejahtera Melalui Sinergitas Pusat–Daerah”. Menurut Menpera, rumah merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Rumah merupakan pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, penyiapan generasi muda, serta menjadi roda penggerak pembangunan ekonomi nasional. Oleh karenanya, kualitas bangsa Indonesia di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan kualitas perumahan. Perumahan juga merupakan indikator kesejahteraan umat manusia seperti yang diungkapkan dalam Undang­Undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat 1 “Kualitas bangsa Indonesia di masa depan, akan sangat ditentukan oleh kondisi dan kualitas perumahan sekarang. Untuk itu, kita perlu me­ ningkatkan harkat, martabat serta mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan rumah yang layak,” tandasnya.

24

Edisi 2 Tahun 2010

Sumber foto: Humas Kemenpera

Kemenpera Raih Opini WTP BPK

K

ementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) kembali mem­ peroleh opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan tahun anggaran 2009. Kemenpera sebelumnya pernah memperoleh opini WTP berdasarkan hasil audit BPK atas laporan keuangan Kementerian/Lembaga pada tahun 2006, 2007, 2008 lalu. Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa me­ nyatakan, dirinya sangat bersyukur atas opini WTP dari BPK terse­ but. “Saya sangat bersyukur atas opini WTP dari BPK atas hasil audit laporan keuangan Kemenpera,” ujar Menpera kepada wartawan seusai me­ nerima hasil audit BPK atas laporan keuangan untuk kementerian/lembaga di lingkungan Kementerian Koordina­ tor Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta, Senin (28/6). Menurut Menpera, keberhasilan Ke­ menpera mempertahankan opini WTP selama empat tahun berturut­turut sejak 2006 lalu harus bisa memacu semangat para karyawan di lingkungan Kemenpera. Untuk itu, Kemenpera harus senantiasa berbenah diri serta berusaha mengurangi kekurangan yang ada.

Lebih lanjut, Menpera menuturkan, salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana ke depan Kemenpera bisa meningkat­ kan transparansi atas pengelolaan keuangan serta pelayanan terhadap

Zalil menerangkan “Opini atas laporan keuangan dibuat berdasar­ kan kesesuaian laporan keuangan, Standar Akuntansi Pemerintah, serta kepatuhan atas undang­undang yang berlaku. Opini ini tidak bisa menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasi atau dirapatkan,” tandasnya. Menko Kesra, Agung Laksono dalam sambutannya mengungkapkan, pada tahun 2006 dan 2007, hanya satu Kementerian/Lembaga yang mendapatkan opini WTP dari 14 Ke­ menterian/Lembaga yang dievaluasi yaitu Kementerian Perumahan Rakyat. Sedangkan pada tahun 2008, yang memperoleh WTP selain Kemenpera adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Rendahnya jumlah Kementerian/ Lembaga lingkup koordinasi bidang Kesra yang memperoleh opini WTP dari BPK, ungkap Menko Kesra, hendaknya menjadi perhatian serius. Untuk itu, pemerintah sangat serius untuk meningkatkan kualitas laporan hasil keuangannya. “Saya harap penyerahan hasil audit BPK ini dapat lebih memacu kita untuk meningkatkan kinerja Kemen­ terian/lembaga masing­masing,” harapnya.

....bagaimana ke depan Kemenpera bisa meningkatkan transparansi....

masyarakat. Pasalnya, berdasarkan hasil survei integritas dari KPK tahun lalu, peringkat Kemenpera termasuk kurang memuaskan. “Saya kira masih banyak hal yang mesti dibenahi di Kemenpera. Selain itu, LAKIP dan tranparansi menurut KPK juga masih kurang. Hal ini tentu tidak sinkron dengan opini WTP BPK dan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Kemenpera,” katanya. Sebelumnya, Pimpinan BPK Rizal

25

Liputan

Rumah Pekerja
ementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) siap melanjutkan program pembangunan rumah pekerja. Untuk itu, Kemenpera akan meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta instansi terkait sehingga para pekerja bisa memiliki rumah dengan harga yang terjangkau. “Penyediaan rumah bagi para pekerja atau buruh juga menjadi salah satu perhatian pemerintah. Untuk itu, pemerintah juga terus berupaya dengan membuat berbagai kebijakan agar para pekerja atau buruh bisa mendapatkan rumah yang layak dengan harga yang terjangkau,” ujar Menpera Suharso Monoarfa saat menghadiri rapat dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar di Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, Jum’at (7/5).

Kemenpera Siap Lanjutkan Program Pembangunan

K

PU tentang Pengadaan Perumahan dan Pengembangan Permukiman Pekerja/Buruh, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Transmigran. Pelaksanaan kesepakatan bersama itu juga telah ditindaklanjuti dengan ditandatanganinya kesepakatan bersama antara Kemenpera dengan Depnakertrans dan REI pada 2007 lalu.

selama ini masih banyak pekerja/ buruh yang berpenghasilan di bawah Rp.4,5 juta. Tentunya hal itu membuat pekerja/buruh sulit mendapatkan rumah. Untuk itu, Kemenpera menawarkan program fasilitas likuiditas. Buruh dengan dibantu pemerintah dapat memperoleh rumah dengan harga yang terjangkau serta suku bunga KPR yang rendah. Menpera menambahkan, ke depan pihaknya juga menginginkan adanya kebijakan satu pintu sehingga Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bisa memberikan data mengenai berapa kebutuhan rumah bagi para pekerja. Dengan demikian, pemerintah juga dapat melakukan pemetaan di daerah mana saja diperlukan pembangunan perumahan bagi pekerja/buruh.

Sumber foto: Humas Kemenpera

Dalam pertemuan itu, Menpera didampingi oleh Sekretaris Kemenpera, Iskandar Saleh dan Kepala Biro Hukum, Kepegawaian dan Humas Agus Sumargiarto. Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang tindak lanjut Program Tim Percepatan Pembangunan Perumahan Pekerja/Buruh untuk Peningkatan Kesejahteraan Pekerja/Buruh (P5KP). Menurut Menpera, sesuai program Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah (GNPSR), pada tahun 2006 telah ditandatangani Kesepakatan Bersama antara Menpera dengan Menakertrans dan Menteri

Menpera Suharso Monoarfa didampingi Sesmenpera Iskandar Saleh dan kepala Biro Hukum, Kepegawaian dan Humas Agus Sumargiarto memberikan penjelasan mengenai Program Pembangunan Rumah Pekerja kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar di Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, Jum’at (7/5). Kemenpera akan meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta instansi terkait sehingga para pekerja bisa memiliki rumah dengan harga yang terjangkau.

Pada 2008 juga dibentuk Tim P5KP yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antara Sesmenpera dengan Sekjen Depnakertrans. “Kami berharap program ini bisa terus dilanjutkan karena sangat penting dalam hal penyediaan rumah bagi para pekerja atau buruh,” ujar Menpera. Lebih lanjut, Menpera menyatakan,

“Sudah ada beberapa perusahaan yang ikut bekerjasama dalam program ini, seperti PT Sango Ceramics di Semarang, PT. Industri Karet Deli di Medan, serta beberapa perusahaan di Purwakarta, Banten, Jabar dan Jatim. Kami juga telah membangun sejumlah Rusunawa di kawasan industri di Batam,” terangnya. Sementara itu, Menakertrans Muhaimin Iskandar mengatakan, pihaknya juga mendukung program P5KP itu. Untuk itu, pihaknya akan menindaklanjuti kerjasama antarinstansi ini. “Kami mendukung program P5KP karena sangat penting dalam hal pemenuhan rumah bagi pekerja/buruh,” katanya.

26

Edisi 2 Tahun 2010

Pembangunan Rumah Dinas TNI Terus Ditingkatkan

K

ementerian Perumah­ an Rakyat (Kemen­ pera) ke depan akan terus berupaya meningkatkan pembangunan rumah dinas bagi TNI. Untuk itu, program pembangunan Rusunawa untuk para anggota TNI akan dilaksanakan dengan melaku­ kan konsolidasi antarinstansi terkait.

Sumber foto: Humas Kemenpera

“Tahun 2009 lalu Kemen­ pera telah membangun 11 twin blok (TB) Rusunawa untuk TNI dan Polri. Sedangkan pada tahun 2010 kami telah meningkatkan rencana pembangunan Rusunawa untuk TNI dan Polri sebanyak 28,5 TB,” ujar Staf Ahli Menpera Bidang Hukum dan Pertanahan Jamil Ansari saat mewakili Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat Iskandar Saleh dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Panja Aset tanah dan Rumah Dinas Komisi I DPR RI di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Senayan, Ja­ karta, Kamis (6/5). RDP yang dihadiri oleh sejumlah pejabat Kemenpera dan Dirjen Cipta Karya Kementerian Pe­ kerjaan Umum itu tersebut membahas tentang permasalahan aset tanah dan rumah dinas di lingkungan Kement­ erian Pertahanan dan TNI. Menurut Jamil, dari 11 Rusunawa yang dibangun Kemenpera, sebanyak enam TB telah dihuni oleh para prajurit TNI. Sedangkan dua TB juga telah digunakan oleh anggota Polri. Jamil menambahkan, tiga TB yang belum dihuni antara lain Rusunawa Kodam Jaya di Kelurahan Jatiwarna, Bekasi, Rusunawa TNI AL di Sunter, Jakarta utara dan Mabes TNI AU di Kelu­ rahan Jatiasih, Bekasi.

Staf Ahli Menpera Bidang Hukum dan Pertanahan Jamil Ansari (kiri) saat mewakili Kementerian Perumahan Rakyat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Panja Aset tanah dan Rumah Dinas Komisi I DPR RI di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (6/5).

“Masih ada beberapa pekerjaan fisik seperti prasarana, sarana dan utilitas (PSU), jalan akses, serta daya listrik dan penyambungan PDAM di Rusu­ nawa itu. Akan tetapi kami optimis tahun ini sudah bisa dihuni,” katanya.

Rusunawa untuk TNI di beberapa wilayah seperti Bogor, Bekasi, Medan, Bandung, Aceh, Maluku, Pontianak, Yogyakarta, Semarang, Magelang dan kota lainnya. Untuk itu, saya berharap TNI juga bisa menyediakan lahan untuk pembangunan Rusunawa bagi para prajuritnya,” harapnya. Sementara itu, Enggartiasto Lukita menyatakan, kebutuhan rumah bagi para anggota TNI dan Polri memang terus meningkat. Dalam hal ini, di­ perlukan koordinasi antarkementerian untuk mengatasi hal tersebut. Ke depan, kata Enggartiasto Lukita, Komisi I DPR RI akan meminta Ke­ menpera dan Kementerian PU untuk dapat menyampaikan data mengenai Rusunawa yang masih belum siap huni atau diserahterimakan yang dapat dimanfaatkan penggunaannya oleh prajurit TNI. “Kami juga mengusulkan Kemenpera, Kementerian PU dan Kementerian Keuangan untuk bersama­sama de­ ngan Kementerian Pertahanan untuk melakukan “konsolidasi tanah” atau relokasi hunian kumuh TNI yang dihuni secara liar dengan membangun lebih banyak Rusunawa,” katanya.

...sebanyak 6 TB telah dihuni oleh prajurit TNI.
Lebih lanjut, Jamil menerangkan, Kemenpera juga berupaya untuk menggunakan sejumlah Rusunawa yang belum dihuni seperti di Marunda untuk digunakan bagi prajurit TNI. Oleh karena itu, pihaknya akan ber­ koordinasi dengan Pemda DKI Jakarta untuk penggunaan Rusunawa tersebut. “Pada tahun 2010 ini, Kemenpera berencana membangun sejumlah

27

Liputan

Menpera Resmikan 3.385 Rumah
Anggota Apersi Riau

M

enteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa meres­ mikan 3.385 unit RS dan RSH di Propinsi Riau, Rabu (28/7). Peresmian 3.385 unit rumah sejahtera yang dibangun oleh anggota Apersi Riau tersebut dilakukan di Perumahan Pesona Asri di Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. Dalam peres­ mian tersebut Menpera didampingi Wakil Gubernur Riau Raja Mambang Mit. Dalam kesempatan kunjungan kerjanya ke Propinsi Riau, Menpera Suharso Monoarfa juga berkesempatan mem­ buka Rakerda Apersi se­Propinsi

Riau. Menpera mengatakan program perumahan diharapkan dapat menjadi prioritas dalam perencanaan pemba­ ngunan pemerintah daerah. Oleh karena itu dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan swasta. Sementara itu Ketua DPD Apersi Riau Herwanto mengatakan dalam kurun waktu 2009­2010 Apersi Riau menargetkan membangun 6.000 unit rumah sederhana (RS) dan rumah sederahana huni (RSH). Sejauh ini sudah 3.385 unit RS dan RSH yang berhasil dibangun sekitar 160 anggota Apersi Riau.

Dalam kesempatan itu Herwanto menyambut baik rencana Menpera mengajukan perubahan mekanisme subsidi perumahan. Jika selama ini pola subsidi diberikan untuk cicil­ an selama 5 tahun, maka ke depan, setelah perubahan, konsumen peru­ mahan RSH akan mendapatkan fasili­ tas suku bunga rendah selama waktu masa cicilan. Dalam kesempatan tersebut Menpera Suharso Monoarfa bersama Wakil Gu­ bernur Riau Raja Mambang Mit juga berkesempatan meninjau Rusunawa Universitas Lancang Kuning Pekan Baru

Fasilitas Likuiditas Perumahan Berlaku Efektif Mulai 1 Juli

M

enteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menyatakan, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan mulai member­ lakukan pola mekanisme pembiayaan perumahan dengan fasilitas likuidi­ tas pada 1 Juli mendatang. Adanya fasilitas likuiditas perumahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat terhadap perumahan yang dibangun oleh pengembang.

segera menggunakan fasilitas likuiditas untuk memperoleh rumah dengan harga murah. Lebih lanjut, Menpera menjelaskan, suku bunga KPR dalam fasilitas likuiditas lebih kecil jika dibandingkan dengan suku bunga KPR yang berlaku saat ini. Menpera mencontohkan, saat ini masyarakat yang mengambil KPR dikenakan suku bunga 9,5 persen dengan angsuran yang harus dibayar sekitar Rp 420.000. Sedangkan dalam fasilitas likuiditas, suku bunga yang berlaku sekitar 6 persen hingga 6,5 persen dengan angsuran Rp 300.000. “Mungkin suku bunga fasilitas likuiditas yang nantinya berlaku sama dengan suku bunga SBI yakni sekitar 6,5 persen,” terangnya. Ketika disinggung mengenai per­ gantian posisi Menteri Keuangan, Menpera menyatakan hal itu tidak menjadi masalah. Menpera bahkan menjelaskan program fasilitas likuidi­ tas perumahan juga telah disampaikan ke Menkeu yang baru dan mendapat tanggapan yang positif. Kemenpera, imbuh Menpera, saat ini

juga telah membuat draft Permenpera yang akan mengatur tentang fasilitas likuiditas. Namun demikian, penyu­ sunan draft final Permenpera tersebut juga harus menunggu adanya peru­ bahan Permenkeu. “Kami akan menyerahkan mekanisme perubahan atas transisi mekanisme subsidi yang lama menjadi fasilitas li­ kuiditas kepada pihak bank. Tentunya ada proses perhitungan tersendiri,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie men­ gatakan, masalah perumahan di Indo­ nesia memang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Untuk itu, anggota dewan dari Partai Golkar senantiasa memberikan dukungan kepada pemerintah agar masalah perumahan dan permukiman dapat teratasi dengan baik. “Kami akan terus memberikan dukungan kepada pemerintah agar masalah perumahan dan permukiman bisa teratasi sehingga setiap orang di Indonesia bisa memiliki rumah yang layak huni,” ujarnya.

“Kami akan memberlakukan fasili­ tas likuiditas perumahan pada 1 Juli mendatang. Namun hingga kini kami masih menunggu adanya perubahan atas Permenkeu Nomor 73,” ujar Menpera kepada wartawan di sela­sela kegiatan Seminar Sehari bertemakan Rumah Su­ sun untuk Rakyat yang diselenggarakan oleh Korbid Infrastruktur dan Trans­ portasi DPP Partai Golkar di Aula DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (1/6). Menpera menerangkan, untuk me­ nyukseskan pelaksanaan program fasilitas likuiditas itu, Kemenpera telah melaksanakan sosialisasi secara inten­ sif kepada pihak perbankan. Dengan demikian, masyarakat diharapkan bisa

28

Edisi 2 Tahun 2010

DWP Kemenpera
Sumber foto: Humas Kemenpera

Gelar Bazar Hapernas 2010
harma Wanita Persatuan Ke­ menterian Perumahan Rakyat (DWP Kemenpera) mengada­ kan kegiatan Bazar Hapernas 2010 di lapangan parkir Kantor Kementerian Perumahan Rakyat, Jakarta, Selasa (31/8). Penasihat DWP Kemenpera, Carolina Suharso Monoarfa dalam sambutan­ nya saat membuka kegiatan Bazar hapernas 2010 mengungkapkan, ke­ giatan ini merupakan hasil kolaborasi antara pengurus DWP Kemenpera dengan Panitia Peringatan Hari Pe­ rumahan Nasional Tahun 2010. “Acara Bazar Hapernas 2010 ini meru­ pakan acara yang sangat istimewa bagi kami baik DWP Kemenpera maupun Panitia Peringatan Hapernas. Selain itu, bazar ini merupakan wadah untuk memperkenalkan, menjual dan mempromosikan produk hasil usaha keluarga besar DWP kemenpera,” ujarnya. Menurut Carolina yang juga Isteri Menteri Negara Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa, kegiatan ini juga

D

menjadi wadah untuk menjalin tali silaturahmi antara pengurus DWP Kemenpera dengan para pihak yang selalu mendukung kegiatan­kegiatan dharma wanita. “Kami berharap ke depan kegiatan ini bisa terus dilak­ sanakan dan kami tidak menutup diri untuk bekerjasama dan berkolaborasi dengan para pihak dalam program­ program DWP Kemenpera,” harap­ nya. Sementara itu, Ketua Panitia Bazar Hapernas 2010, Nuri Tito Murbain­ toro menjelaskan, sebanyak 50 stan baik dari anggota DWP Kemenpera maupun mitra kerja Kemenpera turut memeriahkan kegiatan Bazar Haper­ nas yang digelar untuk kali ketiga ini. Bazar Hapernas ini diselenggarakan sebagai salah satu rangkaian acara untuk memperingati Hapernas yang jatuh pada tanggal 25 Agustus 2010 lalu serta Peringatan HUT RI ke­65 serta menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H. “Bazar ini juga dimaksud­ kan sebagai salah satu usaha DWP Kemenpera dalam meningkatkan ke­ sejahteraan anggotanya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan, 50 stan yang ikut serta dalam kegiatan ini terdiri dari stan makanan, minuman, alat rumah tangga, buku/CD, fashion, souvenir, dan tas. Sedangkan DWP Kemenpera ikut berpartisipasi dengan mengisi dua stan yang menjual barang­ barang layak pakai seperti pakaian, tas, kerudung, sepatu dan mainan anak. “Sedangkan untuk memperlancar transaksi jual beli, panitia meng­ gunakan sistem kupon dengan nilai nominal Rp. 5.000, Rp. 10.000, dan Rp. 50.000,” terangnya. Sebelumnya, DWP Kemenpera juga menyalurkan zakat, infak dan sho­ daqoh dalam bentuk bingkisan lebaran kepada karyawan/karyawati PNS golongan I dan II, Satpam, penge­ mudi, petugas kebersihan dan pramu­ bakti. Pemberian bingkisan dilakukan secara simbolis oleh Ketua DWP Kemenpera, Tuti Iskandar Saleh serta Ketua Panitia Penyaluran Zakat, Infak dan Shodaqoh DWP Kemenpera, Naniek Yusuf Yuniarto kepada para perwakilan penerima bingkisan.

29

Liputan
Peringati Hari Buruh Sedunia 1 Mei 2010

Menpera Ajak Pekerja Kontruksi Tingkatkan Semangat Kerja
Sumber foto: Humas Kemenpera

Menpera Suharso Monoarfa di dampingi Ketua Umum DPP REI Teguh Satria dan Ketua DPD REI DKI Jakarta Setyo Maharso berbincang­ bincang dengan salah seorang buruh di Rusunami East Park Apartement, Jakarta Timur, Sabtu (1/5).

Rusunami tersebut. Dialog antara Menpera dan para buruh berlang­ sung cair sehingga para pekerja dapat menyampaikan pendapatnya tentang kondisi buruh saat ini. Menpera menjelaskan, keberadaan para pekerja dalam program pemba­ ngunan perumahan dangatlah penting. Tanpa para pekerja tentunya pemba­ ngunan Rusunami tidak akan pernah terlaksana.

uaca terik di siang hari yang cukup menyengat siang itu tak menghalangi para pekerja Ru­ sunami East Park Apartement, Jakarta Timur bekerja pada hari Sabtu (1/5). Para pekerja yang sebagian besar merupakan buruh bangunan tersebut tetap melaksanakan tugasnya masing­ masing tanpa mengenal lelah. Ya...pada hari peringatan Hari Buruh Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Mei itu para buruh di Rusunami tersebut tetap bekerja. Meskipun di beberapa daerah banyak pekerja yang meminta untuk libur bekerja. Bahkan di bebe­ rapa lokasi banyak timbul kerusuhan akibat demonstrasi para buruh yang meminta peningkatan kesejahteraan. Namun demikian, kehadiran Menpera sepertinya turut mempengaruhi sua­ sana di Rusunami East Park Aparte­ ment itu. Dengan mengenakan kemeja batik hijau, Menpera mengajak para buruh untuk berbincang­bincang untuk men­ getahui apa saja yang menjadi keingi­ nan mereka selama ini. Dalam kesem­ patan ini, Menpera Suharso Monoarfa juga mengajak para pekerja yang bekerja di bidang kontruksi, khusus­ nya kontruksi perumahan, untuk me­ ningkatkan semangat kerja sehingga

C

mampu meningkatkan produktifitas serta pembangunan bangsa. Selain itu, Menpera juga berharap kepada para pengusaha ke depan agar tetap memperhatikan tingkat kesejahteraan para pekerjanya.

“Tanpa adanya pekerja pembangunan rumah akan tersendat dan tidak akan pernah bisa di huni. Pabrik­pabrik tidak akan berproduksi dan toko­toko akan tutup. Jadi bisa dikatakan bahwa para pekerja berperan penting dalam menggerakkan roda ekonomi bangsa,” tandasnya. Lebih lanjut, Menpera mengatakan, perayaan Hari Buruh tanggal 1 Mei harus dilaksanakan secara suka cita tanpa harus ada konfrontasi. Selain itu, para buruh juga harus bersyukur karena lapangan kerja masih terbuka cukup luas sehingga mereka masih memiliki kesempatan untuk bekerja. Pemerintah, kata Menpera, juga akan terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja dari waktu ke waktu. Adanya hubungan yang har­ monis antara pemerintah, pengusaha dan para pekerja juga harus diting­ katkan. Para pengusaha juga diminta untuk memberikan gaji sesuai UMR yang berlaku. “Kalau ada permasalahan tentunya para pekerja dan pengusaha harus bisa menyelesaikan dengan berem­ bug. Jangan sampai permasalahan itu dijadikan komoditas politik untuk sa­ ling menekan. Dengan demikian akan diperoleh hasil yang terbaik untuk ke dua belah pihak,” tandasnya.

Para pekerja atau buruh pada dasarnya turut berperan dalam pembangunan bangsa. Saya harap para buruh dapat terus bekerja sehingga pembangunan bangsa dapat lebih ditingkatkan.
Menpera Suharso Monoarfa

“Para pekerja atau buruh pada dasarnya turut berperan dalam pembangunan bangsa. Saya harap para buruh dapat terus bekerja sehingga pembangunan bangsa dapat lebih ditingkatkan,” ujar Menpera saat mengunjungi para pekerja konstruksi di Rusunami East Park Apartement, Jakarta Timur, Sabtu (1/5). Dalam kunjungannya tersebut Men­ pera juga sempat mengadakan dialog dan makan siang bersama para buruh yang bekerja dalam pembangunan

30

Edisi 2 Tahun 2010

Rekonstruksi Pasca
Jadi Bahan Kajian Kemenpera
anyaknya bencana alam yang dialami bangsa Indonesia tentunya membawa duka bagi seluruh masyarakat yang menjadi korban. Apalagi selain merusak kawasan perumahan dan permukiman, terkadang bencana alam juga menim­ bulkan korban jiwa yang cukup banyak. Gempa yang terjadi dan membawa dampak cukup besar di Aceh dan Nias juga menjadi salah satu bencana yang membawa duka bagi Indonesia. Bencana tersebut bahkan telah meluluhlantakkan kota Aceh sehingga terjadi kerusakan kawasan perumahan dan permukiman yang ada. Pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kesejahtera­ an masyarakat tentunya tidak akan tinggal diam begitu saja. Sebagai misal, Kementerian Perumahan Rakyat terus melakukan kajian­kajian terkait penanganan korban bencana alam, khususnya pasca bencana. Termasuk program rekonstruksi di Aceh dan Nias. Rekonstruksi Pasca Bencana Aceh­ Nias bisa menjadi bahan kajian Kemenpera untuk program perumah­ an dan permukiman mendatang. Hal tersebut diungkapkan Deputi Menteri Perumahan Rakyat Bidang Perumahan Swadaya, Kriya Arsjah acara diskusi pagi dengan tema “Encapsulating the Experience, Sharing with the World” yang membahas mengenai rekonstruksi perumahan dan relokasi paska bencana di Hotel Le Meridien Jakarta beberapa waktu lalu. “Buku ini sangat bermanfaat dan membantu Kementerian Perumah­ an Rakyat sebagai bahan kajian dan masukan untuk program pemerintah

Bencana Aceh-Nias
B
...buku ini bisa memberikan inspirasi masyarakat dalam mengembangkan perumahan swadaya...
Sumber foto: Humas Kemenpera

tentang kajian komparatif mengenai pengalaman­pengalaman rekonstruksi perumahan di Yogyakarta, Sri Lanka dan Pakistan. Kajian UN­Habitat ini memperlihatkan bahwa keberhasilan program rekonstruksi perumahan skala besar memiliki tiga prinsip panduan yang sama, yaitu: kebijakan yang menjamin pengembalian ke tempat asal secara maksimal; komitmen beserta aturan pemerintah yang jelas, sederhana dan adil

Deputi Menteri Perumahan Rakyat Bidang Perumahan Swadaya, Kriya Arsjah (kiri) saat menerima buku “Post Tsunami Aceh-Nias Settlement and Housing Recovery Review” secara simbolis dari perwakilan UN­ Habitat Indonesia Bruno Dercon (kanan).

dalam bidang perumahan dan permukiman selanjutnya. Mengingat masyarakat Indonesia yang memba­ ngun rumahnya secara swadaya sekitar 80%, sedangkan yang 20% dibangun oleh pengembang. Untuk itu, buku ini bisa memberikan inspirasi masyarakat dalam mengembangkan perumahan swadaya, terutama pasca bencana” ungkap Kriya dalam sambutannya. UN­Habitat telah melakukan kajian komprehensif mengenai pengalam­ an­pengalaman di Aceh dan Nias serta pengelolaan kepranataan yang mendukung terlaksananya keberhasilan rekonstruksi perumahan. Selain itu, buku tersebut juga berisi

berhubungan dengan tingkat bantuan serta standar proses implementasinya; dan pembagian tugas antara pemrintah dan lembaga non­pemerintah berdasarkan kompetensi. Diskusi tersebut dipelopori oleh Badan Rekonstruksi dan Relokasi Institute (BRR Institute) menunjukkan keterbukaan untuk tetap berbagi informasi dan pengalaman. Diskusi ini juga dihadiri oleh Duta Besar Norwegia untuk RI. “Institusi dengan mandat bantuan perumahan dan permukiman pasca bencana wajib menyerap pembelajaran dan rekomendasi yang penting,” kata Dr. Kuntoro, Kepala BRR Institute.

31

Liputan

Kemenpera – BTN Teken MoU Penyaluran KPR
Daftar Tunggu KPR Dapat Segera Diproses
Sumber foto: Humas Kemenpera

Diperkirakan jumlah subsidi yang akan dibayarkan oleh Kemenpera keseluruhannya mencapai 416 milyar rupiah untuk 82.000 unit.

enyaluran subsidi daftar tunggu KPR tahun 2009, subsidi selisih bunga yang jatuh tempo pada tahun 2010 sudah dapat mulai di proses setelah Kementerian Perumahan Rakyat melakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara dengan Bank Tabungan Negara (BTN) tentang Penyaluran Bantuan Pembiayaan Perumahan dalam bentuk Fasilitas Subsidi Perumahan melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah di Kantor Kementerian Perumahan Rakyat, tanggal 25 Agustus 2010. Penandatanganan ini dilakukan oleh Iskandar Saleh, Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat dengan Iqbal Latanro, Direktur Utama Bank BTN. Hal ini juga merupakan tindak lanjut dari telah diterbitkannya Permenpera Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Bantuan Pembiayaan Perumahan dalam Bentuk Fasilitas Subsidi Perumahan melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah, dan Permenpera Nomor 13 Tahun

P

2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan KPR Bersubsidi dan KPR Syariah Bersubsidi serta KPR Sarusuna Bersubsidi dan KPR Sarusuna Syariah Bersubsidi Menpera Suharso Monoarfa dalam sambutannya mengatakan dengan terbitnya Permenpera Nomor 11 dan 13 ini berarti mengalihkan tugas verifikasi yang sebelumnya di Kementerian Perumahan Rakyat kepada pihak Bank. Selain itu pada tahun 2010 masyarakat diharapkan dapat memenuhi persyaratan dengan lebih ringan dengan menunjukkan SPT dan NPWP. Dengan demikian, sasaran program itu tepat sasaran dan dapat digunakan oleh orang banyak. Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan Penandatanganan Kerjasama Operasional (PKO) antara Kepala Pusat Pembiayaan Perumahan dan Direktur III BTN mengenai Penyaluran Bantuan Pembiayaan Perumahan dalam bentuk Fasilitas Subsidi Perumahan melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah Melalui Penandatanganan Kesepakatan dan PKO ini maka

bantuan pembiayaan perumahan sudah dapat mulai diajukan pencairannya, untuk membayar subsidi daftar tunggu tahun 2009, membayar kewajiban subsidi selisih bunga yang jatuh tempo pada tahun 2010 dan penerbitan tahun 2010. Pembayaran tersebut disasarkan atas ketentuan­ketentuan yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 124 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan, dan Pertanggungjawaban Dana Subsidi Perumahan dengan melalui Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat dan Permenpera Nomor 11 dan 13 Tahun 2010. Diperkirakan jumlah subsidi yang akan dibayarkan oleh Kemenpera keseluruhannya mencapai 416 milyar rupiah untuk 82.000 unit. Menpera Suharso Monoarfa juga berharap kedepan laju pertumbuhan kebutuhan rumah akan berjalan beriring dengan laju penyediaan rumah. Menpera juga berharap kedepan keterjangkauan daya beli masyarakat akan rumah dapat meningkat.

32

Edisi 2 Tahun 2010

Pemerintah Tidak Begitu Saja Tetapkan

T

Tanah Terlantar

Sumber foto: Istimewa

erkait adanya polemik seputar PP Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pemberdayaan Tanah Telantar, Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera), Suharso Monoarfa, meminta para pengembang agar tidak terlalu khawatir karena pemerintah ti­ dak akan dengan mudah mengategori­ kan tanah telantar. Hal ini diungkap Suharso saat memberikan sambutan pada Property and Bank Award ke­5 di Gedung Bidakara Jakarta, pada tang­ gal 29 Juli 2010. ”Pemerintah tidak akan begitu saja memberikan penilaian tertentu pada tanah yang menjadi inventory properti. Jangan salah tafsir, tanah­tanah yang jadi bagian aset properti, tidak serta merta dapat dikategorikan sebagai tanah terlantar,” jelas Menpera. Selain itu, Suharso juga meminta kepada se­ luruh pihak untuk tidak menyalahkan maksud PP ini karena kategori tanah telantar sudah dibuat pemerintah. Menpera menuturkan ketika hak­hak atas penggunaan atas lahan telah diter­ bitkan tapi kemudian tidak diusahakan dalam tiga tahun itu bisa diklasifika­ sikan sebagai tanah terlantar. Padahal tanah telantar itu juga nantinya akan dimanfaatkan untuk perumahan, infrastruktur, kegiatan strategis dan pertahanan.

Keberadaan PP Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendaya­ gunaan Tanah Telantar merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengembalikan tanah tidak dipakai untuk kepentingan rakyat. Namun, menurut beberapa pihak di dalam pasal di dalamnya masih banyak kekurangan sehingga justru meng­ ancam keberadaan tanah milik para pengembang yang belum dimanfaat­ kan. Aturan ini mulai berlaku sejak ditetapkan pada tanggal 22 Januari 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. PP tersebut juga sebagai pengganti PP Nomor 36 Tahun 1998 yang dianggap sudah tidak akomoda­ tif. Selain itu, Suharso juga menyambut baik adanya Badan Layanan Umum (BLU) sebagai pengelola dana fasilitas likuiditas yang merupakan pola baru pembiayaan perumahan. Peluncuran BLU ini baru saja dilakukan bersama Menteri Keuangan, Agus Mar­ towardojo di Kantor Kementerian Keuangan, pagi harinya. ”Mudah­mudahan dengan adanya fasilitas likuiditas ini, dapat meng­ gairahkan properti di Indonesia, terutama bagi pemenuhan kebutuhan perumahan masyarakat berpeng­ hasilan menengah ke bawah. Pola

...upaya pemerintah untuk mengembalikan tanah tidak dipakai untuk kepentingan rakyat...
fasilitas llikuiditas merupakan bentuk intervensi pemerintah dari segi pembiayaan perumahan pada saat ini dan tahun depan akan disempurnakan dari segi produksi dengan adanya Dana Alokasi Khusus (DAK) bagi daerah yang memenuhi syarat. Semoga kepastian available housing dapat segera tercapai dengan harga terjangkau dan kualitas yang memadai,” tegas Men­ pera. Terkait adanya Property and Bank Award ke­5 , Menpera sangat mendukung ad­ anya ajang seperti ini. Karena memang bisnis properti dan perbankan harus saling bekerja sama dan sulit dipisah­ kan. Ajang ini merupakan bentuk apr­ esiasi pada para pelaku bisnis properti dan perbankan. “Semoga dengan adanya Property and Bank Award ke­5 ini, para peraih award dapat memberikan dorongan dan motivasi lebih baik dalam mengem­ bangkan usahanya di bidang properti dan perbankan,” harap Suharso.

33

Liputan

Sumber foto­foto: Istimewa

Pemerintah dan DPR Siap Bahas
emerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) siap membahas Ran­ cangan Undang­Undang Perumahan dan Permukiman (RUU Perkim) dalam waktu dekat. Pembahasan RUU Perkim ini diharapkan bisa cepat selesai sehingga dapat meningkatkan program pembangunan perumahan bagi masyarakat. Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa me­ nyatakan, pemerintah telah mem­ persiapkan tim terkait pembahasan RUU Perkim tersebut. “Pemerintah siap untuk membahas rancangan undang­undang ini (RUU Perkim­red) dan akan mengikut tata tertib DPR RI dalam rangka pembahasan RUU Perkim,” ujar Suharso Monoarfa saat Rapat Konsultasi dengan Komisi V DPR membahas tentang RUU tentang Perkim di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (21/7). Hadir dalam rapat konsultasi itu sejumlah pimpinan Komisi V DPR RI seperti Yoseph Umarhadi, Muhidin Mohamad Said, Mulyadi, Sekretaris Kemenpera Iskandar Saleh serta para pejabat Eselon I, II, dan Tim RUU

P

RUU Perkim

Perumahan dan Permukiman serta sejumlah anggota Komisi V lainnya. Menpera menambahkan, atas nama pemerintah pihaknya mengucapkan terima kasih dengan adanya rapat konsultasi dalam rangka menyele­ saikan RUU Perkim yang merupakan inisiatif DPR RI. Oleh karena itu, dalam pembahasan dengan DPR yang akan datang, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan mengun­ dang seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan dan permukiman baik kalangan pengembang, perbank­ an, ahli bahasa dan ahli hukum. “Kami akan mengundang seluruh stakeholder bidang perumahan dan per­ mukiman baik ahli bahasa, ahli hukum serta pakar perumahan dan permu­ kiman dalam menyelesaikan UU ini,” terangnya. Lebih lanjut, Menpera menuturkan, pihaknya juga berterimakasih ter­ kait dengan dukungan dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terhadap pembahasan RUU Perkim. Menurut Menpera, DPD dapat dimintakan pendapatnya mengenai masalah perimbangan keuangan, otonomi dae­

rah, serta hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah “Seyogyanya DPD diberitahukan ad­ anya pembahasan RUU ini. Meskipun tidak memiliki hak suara tapi anggota DPD memiliki kewenangan untuk menyampaikan pendapatnya terhadap RUU Perumahan dan Permukiman,” katanya. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Yoseph Umarhadi mengung­ kapkan, DPR RI telah memberi keper­ cayaan kepada Komisi V sebagai inisiator rancangan undang­undang. Komisi V juga melihat adanya keseriusan dari pemerintah yang merespons sangat cepat terkait pembahasan RUU itu. Yoseph Umarhadi mengatakan, keluarnya surat dari Presiden kepada DPR yang menunjuk Kementerian Perumahan Rakyat dan Kementerian Hukum dan HAM sebagai wakil Pres­ iden dalam pembahasan menunjukkan respons yang cepat dalam pemba­ hasan RUU ini. “Hal ini menunjukkan bahwa urgensi perumahan mendapat­ kan perhatian dari pemerintah sebagai salah satu kebutuhan pokok dari rakyat banyak,” tandasnya

34

Intermezzo

Edisi 2 Tahun 2010

Rumah Ramah Lingkungan
Desain Rumah Carilah desain rumah yang ra­ mah lingkungan misalnya mem­ buat taman hijau yang lebih besar ketimbang kamar tidur ataupun ru­ angan di dalam rumah Anda, mem­ buat sirkulasi pembuangan udara yang tepat, buatlah tempat pem­ buangan sampah baik itu organik maupun anorganik dan sebagainya.
Sumber foto: Istimewa

Kaca Kaca sangatlah berpengaruh dengan panas yang di timbulkan oleh sinar matahari karena semakin banyak kaca yang ada di dalam rumah kemungkinan semakin panas pula rumah kita. Jadi sebaiknya hindari penggunaan kaca yang berlebihan. Taman Rumah Ciptakan taman rumah pada rumah impian Anda misalnya seperti per­ banyak tumbuhan hijau di rumah atau di setiap ruangan di dalam rumah Anda. Di taman tersebut tanamilah tumbuhan–tumbuhan yang memberikan kesejukan dan keteduhan misalnya pohon–pohon besar seperti pohon rambutan, pohon nangka, pohon durian dan sebagainya. Selamat membangun rumah impian yang ramah lingkungan.

embangunan rumah di Indo­ nesia khususnya di kota besar sangatlah tidak mudah dan gampang karena kita harus mem­ perhatikan kondisi lingkungan yang semakin lama semakin mempriha­ tinkan. Selain memperhatikan hal tersebut, kita juga harus memperha­ tikan bahan bangunan yang sesuai dengan iklim Indonesia. Diharapkan tercipta rumah ramah lingkungan. Lalu membangun rumah yang bagaimana yang pas dengan iklim kota dan ramah dengan lingkung­ an sekitarnya. Berikut kiat dan tips membangun rumah yang ramah dengan lingkungan. Bahan Bangunan Carilah bahan bangunan ramah ling­ kungan seperti penggunaan kertas dinding daur ulang, karpet, lantai rumah dan sebagainya. Memilih jenis bahan bangunan yang ramah lingkungan jika Anda masih bingung sebaiknya mintalah bantuan kepada konsultan arsitek rumah untuk membantu Anda dalam memilih bahan bangunan tersebut.

P

Hindari atau Kurangi Penggunaan Elektronik Sebaiknya jika ingin membangun rumah idaman yang ramah ling­ kungan, Anda juga harus bersiap mengurangi atau menghindari penggunaan barang elektronik yang berlebihan seperti penggunaan pendingin ruangan (AC), lampu yang berlebihan dan sebagainya.

Panel Surya Pohon Selasar Beranda

Ventilasi

Beranda

Resapan

35

Pengelolaan Pengetahuan

Info Buku
Rumah Rakyat, Membangun Rumah Semipermanen, Rencana dan Bahan-Bahan yang Dipakai Penulis : Zainal A.Z., Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1996 Cetakan : Kelima, Tebal : 121 Halaman

M

enurut catatan resmi, sejak tahun 1980 dan selanjutnya kebutuhan rumah masyara­ kat Indonesia mencapai angka sekitar delapan ratusan ribu unit setiap tahun. Kekurangan ini semakin membengkak akibat tingginya laju pertambahan penduduk yang mencapai 4% seta­ hun. Berdasarkan kemampuan yang ada, setiap tahun masih tersisa sekitar tiga ratus ribuan rumah tangga yang tidak mendapat akses terhadap rumah yang layak. Belum lagi diperhitungkan banyaknya rumah lama yang rusak dan lapuk, ditaksir sebanyak 700.000 buah setiap tahun. Data diatas sedikit banyak memberi­ kan gambaran yang tidak seimbang antara pertambahan penduduk dan pembangunan rumah tinggal. Pem­ bangunan rumah bagaimanapun pesatnya tidak dapat mengejar lajunya pertumbuhan penduduk. Gambaran tersebut merupakan gambaran suram dari situasi perumahan kebanyakan orang di Indonesia, yang tercekam

dalam proses kemiskinan struktural. Kehadiran buku ini menjadi relevan dengan masih banyaknya rumah tangga yang belum menempati rumah yang layak. Sementara masih banyak rumah tangga yang punya keingin­ an membangun sendiri tapi kurang memahami cara­caranya. Sehingga buku ini dapat menjadi pegangan bagi masyarakat dalam upayanya memba­ ngun rumah secara swadaya.

Terutama karena bentuk panduannya yang sangat membumi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Buku ini diterbitkan dalam dua jilid. Jilid pertama mengkhususkan per­ hatian pada seluk beluk membangun rumah setengah batu atau rumah semi permanen. Sedangkan jilid kedua memberi perhatian pada rumah pang­ gung. Rumah rakyat banyak berurusan dengan papan, yang penggunaannya diperhitungkan secara terperinci dalam buku ini (Ridho).

I
Condominium dan Permasalahannya Penulis: Prof. Ny. Arie S. Hutagalung, SH, Mli dkk Penerbit: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Depok 2003 Cetakan: Ketiga Tebal: 345 halaman

stilah Condominium mulai dikenal secara luas sejak berlaku­ nya Undang Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (“UURS”). Materi UURS tersebut mengandung unsur­unsur hukum publik dan hukum perdata yang termasuk di dalamnya aspek hukum ekonomi.

Dari segi ekonomi kaitan materi mengenai Condominium dapat dili­ hat pada adanya yang perkembangan yang pesat pembangunan bangunan bertingkat yang menerapkan sistem condominium di berbagai wilayah di perkotaan dengan berbagai macam penggunaannya baik untuk perkan­ toran, pusat­pusat bisnis, maupun yang dipergunakan untuk tempat tinggal, baik yang sederhana maupun yang modern. Oleh karena itu, terdapat pembangun­ an rumah susun yang sengaja digu­ nakan bukan untuk hunian melainkan fungsinya memberikan lapangan kehidupan masyarakat, misalnya untuk

tempat usaha, pertokoan, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Hal ini diatur dalam Pasal 24 UURS yang menegaskan bahwa ketentuan­ ketentuan dalam UURS berlaku dengan penyesuaian menurut kepen­ tingannya terhadap rumah susun yang dipergunakan untuk keperluan lain, mengingat bahwa dalam kenyataan­ nya terdapat kebutuhan akan rumah susun yang bukan untuk hunian tetapi mendukung fungsi pemukiman dalam rangka menunjang kehidupan ma­ syarakat. Buku dengan tebal 345 halaman ini berisi penjelasan mengenai latar belakang adanya bangunan berting­ kat dengan sistem condominium di Indonesia, konsep dasar kepemilikan rumah susun serta aspek hukum dalam pembangunan dan kepemilikan rumah susun. Diharapkan dengan adanya buku ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai perma­ salahan hukum terkait rumah susun di Indonesia (Ridho)

36

Info CD

Edisi 2 Tahun 2010

Himpunan Perundang-undangan RI Bidang Perumahan dan Permukiman
Kementerian Perumahan Rakyat, 2010
alam rangka memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dalam mengetahui dan memahami kebijakan dalam pembangunan perumahan dan permukiman, Kementerian Perumahan Rakyat telah melakukan inventarisasi dan menghimpun berbagai regulasi terkait perumahan dan permukiman yang telah ada sampai dengan saat ini. Hasil inventarisasi tersebut disajikan dalam bentuk CD Interaktif Himpunan Perundang­undangan Bidang Perumahan dan Permukiman. CD Interaktif ini tidak hanya menghimpun regulasi yang dihasilkan/diinisiasi oleh Kementerian Perumahan Rakyat saja, tetapi juga berbagai kementerian/lembaga terkait lainnya. Secara umum, regulasi yang ada mencakup

D

aspek perencanaan dan penganggaran, pertanahan, pemerintahan daerah, pembiayaan, dan lain­lain CD Interaktif ini berisi Peraturan Perundang­ Undangan terkait Bidang perumahan dan Permukiman yang meliputi Undang­ Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang­Undang, Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, Peraturan dan Keputusan Menteri Perumahan Rakyat, Instruksi Presiden, Peraturan dan Keputusan Menteri Dalam Negeri, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, Peraturan Menteri Keuangan dan Peraturan Dirjen Kementerian Keuangan dan peraturan lainnya. CD ini akan diperbaharui setiap 3 bulan. Isi CD juga dapat diakses di situs Kemenpera(www. kemenpera.go.id) (Ridho)

Bimbingan Teknis Pedoman Evaluasi dan Pelaporan Implementasi Hak Asasi Manusia
Kementerian Hukun dan HAM RI, 2010

K

onstitusi Indonesia telah memasukkan Hak Asasi Manusia dalam bab tersendiri yang memuat 10 Pasal, yaitu Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J. Dalam Pasal 28I ayat (4) disebutkan bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggungjawab negara, terutama pemerintah. Ketentuan yang sama juga di jumpai dalam Pasal 8 Undang­Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggungjawab pemerintah. Sesuai dengan yang diamanatkan dalam pasal­pasal yang tersebut di atas, terkandung pengertian bahwa Pemerintah Indonesia harus mengimplementasikan amanat yang tertuang di dalam Undang­Undang HAM

tersebut dalam setiap kebijakan yang dibuat. Sebagai wujud pertanggungjawaban pemerintah kepada publik, pemerintah harus memberikan informasi kepada publik dalam bentuk laporan pelaksanaan kegiatan HAM. Perihal penyebaran informasi kepada publik telah diamanatkan Undang­ Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keter­ bukaan Informasi Publik (KIP). Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah melalui program RANHAM (Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia), melakukan pemantauan, evaluasi dan pelaporan HAM. CD ini berisi kumpulan materi bimbingan teknis pedoman evaluasi dan pelaporan implementasi HAM beserta aplikasi berbasis microsoft excel. CD isi sangat bermanfaat bagi instansi Kementerian/Lembaga dan pemerintah daerah dalam pengumpulan data dan informasi HAM secara nasional (Ridho)

37

Pengelolaan Pengetahuan

Info Regulasi

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat

Nomor 14 Tahun 2010

Tentang: Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan
eraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat ini mengatur hal­hal yang berkaitan dengan penyediaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau yang disebut dengan FLPP. Peraturan yang ditetapkan pada 3 September 2010 dan diundangkan pada 27 Oktober 2010 ini terdiri dari 14 bab dan 15 pasal. Permen ini antara lain mengatur tentang kriteria kredit dan kelompok sasaran. Kelompok sasaran dari FLPP adalah Masyarakat Berpenghasilan Menengah Bawah (MBM) dengan penghasilan maksimum per bulan Rp.4.500.000,­ dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan penghasilan maksimum per bulan Rp.2.500.000,­ . Untuk kategori KPR yang dapat menggunakan FLPP terdapat 4 jenis yaitu KPR Sejahtera Tapak, KPR Sejahtera Susun, KPR Sejahtera Syariah Tapak dan KPR Sejahtera Syariah Susun. Dalam permen ini dimuat ketentuan untuk setiap kategori yang dijabarkan per bab. KPR Sejahtera Tapak dan KPR Sejahtera Syariah Tapak ditujukan untuk MBR sedangkan KPR Sejahtera Susun dan KPR Sejahtera Syariah Susun ditujukan untuk MBM dan MBR. Selain itu, Permen ini mengatur tingkat suku bunga yang berlaku berdasarkan nilai besarnya nilai KPR. Untuk KPR Sejahtera Tapak terdapat 4 kategori tingkat suku bunga yaitu (i) Nilai KPR hingga Rp.50.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 8,15% per tahun, (ii) Nilai KPR hingga Rp. 60.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 8,25% per tahun, (iii) Nilai KPR hingga Rp.70.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 8,35% per tahun dan (iv) Nilai KPR hingga Rp.80.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 8,50% per tahun. Pada KPR Sejahtera Syariah Tapak, yang diatur adalah besaran marjin paling tinggi. Terkait KPR Sejahtera Susun terdapat 6 kategori tingkat suku bunga yaitu (i) Nilai KPR hingga Rp.90.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 9,25% per tahun, (ii) Nilai KPR hingga Rp. 100.000.000,­ suku bunga tertingginya

P

adalah 9,35% per tahun, (iii) Nilai KPR hingga Rp. 110.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 9,50% per tahun, (iv) Nilai KPR hingga Rp. 120.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 9,65% per tahun, (v) Nilai KPR hingga Rp. 130.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 9,80% per tahun, (vi) Nilai KPR hingga Rp. 135.000.000,­ suku bunga tertingginya adalah 9,95% per tahun. Sementara itu, pada KPR Sejahtera Syariah Susun, seperti juga KPR Sejahtera Syariah Tapak, yang diatur adalah besaran marjin paling tinggi. Terkait pelaksanaan, Permen ini perlu didukung dengan Permen lain yang mengatur secara khusus mengenai petunjuk pelaksanaan yaitu nantinya melalui Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. Untuk pengawasan dan pengendalian, Permen ini mengatur bahwa Program FLPP dan KPR Sejahtera diawasi dan dikendalikan melalui kegiatan monitoring, evaluasi, audit hingga ke tindak turun tangan. Kegiatan monitoring dilakukan oleh Pusat Pembiayaan Perumahan dan Bank Pelaksana sementara untuk evaluasi dilakukan oleh Deputi BidangPembiayaan, Pusat Pembiayaan Perumahan dan Bank Pelaksana. Terkait audit, dilaksanakan oleh Inspektorat Kemenpera, BPKP dan BPK secara berlapis untuk menghidari kebocoran. Permen ini juga menyebutkan bahwa konversi ke FLPP dari pola pembiayaan lama akan diatur dalam Permen tersendiri. Sebagai penutup, dalam Bab XIV tentang ketentuan penutup, disebutkan mengenai Peraturan­ Peraturan Menteri yang mengatur tentang subsidi selisih bunga dan subsidi uang muka yang masih tetap berlaku untuk penerbitan sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 dan pembayaran subsidi sampai dengan tanggal 31 Desember 2011 (LNP)

38

Edisi 2 Tahun 2010

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat

Nomor 15 Tahun 2010

F

Tentang: Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan
ngelolaan dana FLPP yang dilakukan oleh BLU­KEMEN­ PERA bersama dengan Bank Pelaksana. Dalam juklak ini disebutkan mengenai syarat­syarat Bank Pelaksana untuk FLPP. Juklak ini juga mengatur mengenai Perjanjian Kerjasa­ ma Operasional Penyaluran Dana FLPP yaitu antara Bank Pelaksana dengan BLU­KEMENPERA di mana kesepakat­ annya ditandatangani oleh Direktur Bank Pelaksana dan Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera. Terkait penyaluran dana, dalam juklak ini diatur tentang proses mengajukan pencairan dana dari Bank Pelaksana untuk kemudian BLU­KEMENPERA nantinya akan memiliki tugas untuk memeriksa dan mencairkan dana. Selain itu, dalam juklak ini diatur juga tentang Pengem­ balian Pokok Dana FLPP, Pembayaran Bunga/Bonus/ Fee Dana FLPP, dan Pelunasan Dipercepat. Terkait aspek pengawasan dan pengendalian, disebutkan bahwa yang bertanggung jawab untuk audit adalah Kemenpera, BPKP dan BPK. Juklak ini juga mengatur bahwa Bank Pelaksana harus melalukan pelaporan secara berkala kepada Menteri setiap bulannya. (b) Petunjuk Pelaksanaan KPR Sejahtera dengan Dukungan FLPP Juklak yang kedua dalam Permen ini mengatur tentang KPR Sejahtera dengan Dukungan FLPP. Dalam juklak ini disebut­ kan ada 4 kategori KPR yang dapat menggunakan FLPP yaitu KPR Sejahtera Tapak, KPR Sejahtera Susun, KPR Sejahtera Syariah Tapak, dan KPR Sejahtera Syariah Susun. Kriteria pemanfaat, proses pengajuan, dan aturan verifikasi diatur dalam juklak ini. Kriteria yang disebutkan untuk penerima manfaat antara lain adalah belum pernah memiliki rumah atau hunian, belum pernah menerima subsidi perumahan, sudah memiliki NPWP, serta aturan lain yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2010. Juklak ini juga menyebutkan mengenai proses verifikasi oleh Bank Pelaksana terhadap permohonan KPR oleh Kelompok Sasaran. Terkait pelaporan, bank pelaksana harus menyam­ paikan rekapitulasi laporan realisasi pencairan dan penggu­ naan dana FLPP. Dengan adanya petunjuk pelaksanaan ini, pembiayaan perumahan yang lebih terjangkau kepada ke­ lompok sasaran diharapkan dapat dilaksanakan dengan tepat (LNP).

asilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) memiliki tujuan untuk meningkatkan realisasi pe­ rumahan untuk warga kurang mampu. FLPP meru­ pakan pengembangan pembiayaan perumahan dalam jangka panjang. Pola ini menggantikan pola subsidi uang muka menjadi subsidi bunga sehingga lebih membantu masyarakat untuk kurun waktu yang lebih panjang. Dana pembiayaan berasal dari pemerintah dan dikelola bersama oleh BLU­ KEMENPERA bersama dengan Lembaga Perbankan/Bank Pelaksana. Penerapan dari FLPP ini perlu didukung dengan peraturan­ peraturan teknis agar FLPP yang memiliki tujuan baik ini dapat direalisasikan. Untuk itu, telah diterbitkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Me­ lalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera den­ gan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 27 Oktober 2010. Peraturan ini melengkapi peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemi­ likan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 15 Ta­ hun 2010 mengatur mengenai pelaksanaan pencairan dan penyaluran serta pemanfaatan dana FLPP untuk KPR Se­ jahtera oleh BLU­KEMENPERA (Badan Layanan Umum Kementerian Perumahan Rakyat) dalam hal ini adalah Pusat Pembiayaan Perumahan Kementerian Perumahan Rakyat. Permen yang memuat 4 pasal ini juga bertujuan agar pelaksanaan pencairan dan penyaluran dana FLPP untuk KPR Sejahtera oleh BLU­KEMENPERA dilaku­ kan secara efisien, efektif, transparan dan akuntabel serta memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat teru­ tama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah bawah (MBM). Se­ cara detail, Permen ini memuat 2 lampiran yaitu lampiran tentang (a) Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Dana FLPP dan (b) Petunjuk Pelaksanaan KPR Sejahtera dengan Du­ kungan FLPP. (a) Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Dana FLPP Petunjuk pelaksanaan (juklak) ini mengatur mengenai pe­

39

Pengelolaan Pengetahuan
Housing Finance Information Network/HOFINET
http://www.hofinet.org/
pengalaman praktek unggulan di beberapa negara. Hofinet didirikan pada 18 Agustus 2009 dan dikelola oleh Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia. Hofinet sendiri memiliki sistem jejaring yang sudah sangat luas di berbagai belahan dunia. Dari situs ini kita dapat melihat negara­negara yang telah memiliki pengalaman dalam mengelola pembia­ yaan perumahan. Hal ini bisa dijadikan sebagai referensi untuk kalangan swasta dan pemerintah.

Info Situs
International Union of Housing Finance/IUHF
http://www.housingfinance.org/
Situs ini dikelola oleh International Union of Housing Finance (IUHF). IUHF sendiri telah berdiri sejak tahun 1914 yang telah memiliki anggota sebanyak 84 organisasi di 40 negara. Situs ini menyediakan berbagai macam dokumen untuk diunduh berdasar­ kan pertukaran pengalaman yang pernah dilakukan di masing­masing negara anggota. Selain itu terdapat jurnal yang berfokus kepada praktek unggulan pada bidang pembiayaan perumahan. Situs ini dapat menjadi refensi bagi semua kalangan yang tertarik dengan bidang pembiayaan perumahan.

Situs ini dibuat dalam rangka mengikuti kemajuan yang sangat pesat dalam bidang pembiayaan perumahan tapi minim akan informasi. Housing Finance Network (HOFINET) adalah sebuah situs yang dibuat berdasarkan jejaring yang ada dan juga pengalaman­

http://www.fhfa.gov/

Federal Housing Finance Agency

Ohio Housing Finance Agency
http://www.ohiohome.org/
Badan Keuangan Perumahan Ohio atau Ohio Housing Finance Agency (OHFA) membuat peluang tersedianya perumahan yang terjang­ kau untuk warga Ohio berpendapatan rendah hingga menengah, termasuk pembeli rumah pertama kali, penyewa, warga senior, dan warga lainnya dengan kebutuh­ an khusus. OHFA adalah sebuah lembaga independen yang diben­ tuk berdasarkan amandemen pada pasal 431 menge­ nai pembiayaan perumahan pada tanggal 1 Juli 2005 dari sebuah divisi pada Departemen Pembangunan Ohio (Ohio Department of Develop­ ment). Situs ini menge­ lola 3 hal penting dalam penyebaran informasinya; penyediaan kredit murah kepada pemilik rumah dan KPR untuk pembeli rumah, penawaran insentif keuangan bagi pengembang untuk meningkatkan penye­ diaan perumahan sewa yang terjangkau, dan membantu pengembang properti untuk memperhatikan keaamanan, kelayak­ an, lingkungan yang baik khususnya perumahan murah (DVD)

Federal Housing Finance Agency ini didirikan pada 30 Juli 2008 bersamaan dengan ditanda tangani­ nya Undang Undang Tahun 2008 tetang Pemulihan Ekonomi dan Perumahan (the Housing and Economic Recovery Act of 2008) di Amerika Serikat. Undang Undang ini sekaligus juga menggabungkan 3 lembaga terkait yaitu Office of Federal Housing Enter­ prise Oversight (OFHEO), the Federal Housing Finance Board (FHFB), dan Department of Housing and Urban Development (HUD) menjadi Federal Housing Finance Agency. FHFA

bertujuan memberikan pengawasan yang efektif, program­program yang terkait dengan peruma­ han dan pengaturan pembiayaannya, membi­ ayai perumahan yang terjangkau, dan mendu­ kung pasar hipotek agar stabil. Pada situs ini juga terdapat indeks harga perumahan di beberapa kota di Amerika dan juga adanya sebuah aplikasi untuk menghitung harga rumah yang akan dibeli.

40

Pustaka Perumahan
Majalah

Edisi 2 Tahun 2010

Majalah Hak Asasi Manusia, “Mediasi”,
Mengangkat Harkat dan Martabat Insani, edisi 9, volume 2, Juni 2010

Buku

Hunian Infrastruktur, Kota dan Lingkungan, Volume 37 Tahun X/ Mei-Juni 2010

Majalah Kiprah,

15 Tahun Bapertarum-PNS (1993-2008) Penerbit: Humas Bapertarum-PNS Desember 2008

Rumahku Impianku,

Basic of MortgageBacked Securities,
second edition Published by Frank J. Fabozzi associates

Leaflet

Peraturan

ASDEP Bidang Keserasian Kawasan,

• Pengendalian dan pengawasan fungsi kawasan • Ruang terbuka hijau (rth) pada kawasan perumahan dan permukiman • Keserasian kawasan perumahan dan permukiman

Info Perpustakaan Kementerian Pekerjaan Umum,
http://pustaka.pu.go.id

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat,
Nomor: 14 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilik Rumah Sejahtera Dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan dan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor: 15 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilik Rumah Sejahtera Dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Penerbit : Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat, 2010

Tentang: Petunjuk Pelaksanaan Perhitungan Tarif Sewa Rumah Susun Sederhana yang Dibiayai APBN dan APBD

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor: 18/PERMEN/M/2007,

Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perumahan Rakyat Nomor : 648-384 tahun 1992, 739/ KPTS/1992, 09/KPTS/1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian

Surat Keputusan Bersama,

41

Fakta

Pada jaman dahulu dalam masyarakat Jawa hampir tidak dijumpai rumah menghadap ke barat dan demikian pula halnya yang menghadap ke arah timur. Rumah orang biasa (masyarakat umum, bukan bangsawan, red) pada umumnya menghadap ke arah utara atau ke selatan. Sedangkan arah menghadap ke timur khusus dipergunakan untuk keraton. Setiap arah mata angin dipercayai ditunggu oleh dewa, dan oleh karena itu ada makna simbolis tertentu untuk penentuan arah menghadap rumah yang berdasarkan pada empat mata angin. Keempat arah mata angin yang dijaga oleh dewa tersebut adalah; 1. Timur ditunggui oleh Sumber foto: Istimewa Maha Dewa, 2. Barat ditunggui oleh Batara Yamadipati, 3. Utara ditunggui oleh Batara Wisnu, 4. Selatan ditunggui Batara Brahma Sumber: www.forum.inilah.com

Arah Rumah

Sumber foto: Pokja AMPL

Harga Properti

Harga properti di Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura ternyata paling murah. Rata­rata per meter persegi harga properti di Indonesia adalah US$ 1.287 sedangkan harga di Malaysia US$ 1.424 dan Singapura US$ 11.324. Jika properti tersebut disewakan maka pemilik properti nantinya akan memperoleh keuntungan hingga 4­5% per tahun. Jika melihat kenaikan properti yang terjadi sebetulnya angka kenaikan paling tinggi terjadi pada properti di Indonesia atau lebih tepatnya Jakarta dimana kenaikannya bisa mencapai 7­10% Sumber: www.vibiznews.com

di dunia ternyata terdapat di India yang pemiliknya bernama Mukesh Ambanii, ia membuat gedung pencakar langit sebagai rumahnya yang baru. Rumah yang berlokasi di Mumbai, India, itu bernilai 630 juta poundsterling (Rp. 9 triliun). Rumah memiliki 27 lantai, yang jika digabungkan luas keseluruhannya mencapai 37.000 meter persegi. Dengan demikian, dipastikan lebih luas ketimbang Istana Versailles, bangunan bersejarah kebanggaan Prancis. Dari puncak rumah setinggi 173 meter itu akan tampak pemandangan Kota Mumbai dan Laut Arab. Rumah baru Mukesh Ambani dipastikan tercatat sebagai tempat ting­ gal termahal di dunia. Antilia lebih mahal dibanding One Hyde Park Penthouse. Sumber: www.inimu.com

Rumah Termahal

42

Praktek Unggulan

Edisi 2 Tahun 2010

Pekalongan Kumuh Menuju Kota Bebas Rumah

K

ota Pekalongan memang dikenal sebagai kota batik dan kawasan utama industri perikan­ an yang menjanjikan, akan tetapi walaupun memiliki potensi tinggi dalam pembangunan ekonomi, masih terdapat 31.461 rumah tangga miskin (48,4% dari total penduduk Kota Pekalongan) yang hidup di bawah tingkat kemiskinan dan menghuni rumah/permukiman yang tidak me­ madai dengan kondisi infrastruktur yang buruk sehingga menyebabkan buruknya tingkat kesehatan. Pada Juli 2006 Pemerintah Kota Pekalongan memulai sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan untuk kehidupan masyarakat Kota Pekalongan yang baik serta meningkatkan kesejahte­ raan penduduk miskin Kota Pe­ kalongan bernama Pekalongan Bebas Rumah Kumuh dengan target pencapaian pada tahun 2010.

Pemerintah Kota Pekalongan sadar jika program ini dilaksanakan dengan hanya menggunakan sumber daya milik Pemerintah Kota Pekalongan saja, maka program ini diperkirakan akan berlangsung selama 21 tahun dimana target pencapaian untuk mengatasi kemiskinan dan keku­ muhan di tahun 2010 tidak dapat tercapai. Keadaan demikian membuat Walikota Pekalongan dr. Basyir Ah­ mad menyusun sebuah strategi yang kemudian dikenal sebagai “Strategi Sapu Lidi”. Lidi adalah tulang rusuk panjang dari daun kelapa. Ketika sekelompok lidi

Peran perempuan diharapkan lebih menonjol
Sumber foto: Pemkot Pekalongan

yang diikat bersama­sama, ia men­ ciptakan alat yang kuat dan berguna (tergantung pada ukuran dari tulang rusuk) seperti sapu atau pemukul tempat tidur. Anggaran sektoral/ program dapat dianggap sebagai ‘lidi’. Ketika dikombinasikan dengan program lain, itu menjadi kuat seperti sapu lidi ­ itu menjadi alat yang kuat untuk mengatasi kemiskinan dan daerah kumuh. Strategi ini secara kongkrit memadukan dan menyi­ nergikan sumber daya dari berbagai lembaga seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Sektor Swasta hingga Masyarakat untuk kemudian digunakan untuk menangani pembe­ rantasan kemiskinan dan peningkatan kualitas kawasan kumuh. Untuk memastikan adanya distribusi sumber daya yang efisien untuk pem­ bangunan sosial, ekonomi dan ling­ kungan, program ini dirancang agar setiap setiap instansi yang terlibat me­ miliki pembagian tugas yang sangat spesifik dan melakukan koordinasi institusional yang tersistem. Pem­ berdayaan ekonomi dilakukan oleh Dinas Koperasi dan Pengemban­ gan Usaha Kecil melalui pelatihan, bantuan teknis dan dana untuk usaha kecil. Pemberdayaan sosial dilaku­ kan melalui Program Kesejahtera­ an Keluarga yang berfokus pada peningkatan pengetahuan perem­ puan dalam kesehatan, keterampilan rumah tangga, ekonomi rumah, dan lain­lain. Pendanaan untuk perbaikan rumah/konstruksi rumah disediakan melalui kredit mikro (melalui bank) dan dana bergulir (melalui koperasi). Masyarakat harus mengorganisasi diri

Diskusi antara fasilitator dengan warga.

43

Praktek Unggulan
fisik dibandingkan dengan pratek sebelumnya dimana unsur ekonomi dan sosial hanya dianggap sebagai pelengkap dari pembangunan fisik atau hanya dipandang sebagai efek domino setelah pembangunan fisik perumahan. Sebelum tahun 2005, se­ bagian besar proyek difokuskan pada pembangunan infrastruktur dengan pintu masuk utama melalui Dinas Pekerjaan Umum. Sebenarnya pro­ gram pembangunan sosial­ekonomi telah dilakukan, tetapi bukan sebagai titik fokus pembangunan. Sejak tahun 2005, pola pembangunan Kota Pekalongan mengalami perubahan antara masyarakat, setiap kegiatan harus memenuhi kesetaraan gender, kesetaraan dan inklusi sosial untuk membangkitkan mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat yang opti­ mal. Peran perempuan diharapkan lebih menonjol khususnya dalam pengelolaan dana bergulir, karena secara umum harus diakui bahwa perempuan adalah manajer yang baik ketika berurusan dengan kredit dan dana bergulir. Sebagian besar kelom­ pok masyarakat yang memiliki kinerja yang baik kebanyakan dipimpin oleh perempuan. Oleh karena itu, peran perempuan sangat dianjurkan dalam program ini. Di lain sisi proses pembangun­ an ekonomi, pada program ini menggunakan metode (a) peng­

Proses pembangunan sosial dilakukan melalui beberapa kegiatan masyarakat seperti kegiatan keagamaan...
dalam kelompok­kelompok sebelum mengakses kredit mikro atau dana bergulir sedangkan Badan Pem­ berdayaan Masyarakat (Bapermas) Pekalongan memonitor dan meng­ evaluasi program.

Sumber foto­foto: Pemkot Pekalongan

Program ini memanfaat­ kan kegiatan berbasis ma­ syarakat dengan cakupan luas kota sebagai bagian dari pendekatan manusia. Sejak tahun 2004, Baper­ mas sudah difasilitasi perencanaan partisipatif di tingkat akar rumput melalui Forum Rembug Warga (Forum Diskusi Komunitas). Forum ini melayani diskusi tentang pemanfaatan dana kota yang dikenal sebagai Dana Bantuan Prakarsa Ma­ syarakat (Pendanaan Inisiatif untuk Komunitas) ke setiap Kelurahan, dimana masyarakat dapat mendiskusi­ kan bagaimana dana ini akan diper­ gunakan di tingkat masyarakat (CAP ­ Community Action Plan). Pengalaman ini telah membuat masyarakat sudah akrab dengan konsep partisipasi sehingga pada saat bersamaan hal tersebut menguntungkan upaya pemerintah kota dalam memobilisasi masyarakat. Dampak dari pendekatan ini kom­ ponen sosial dan ekonomi dihulukan sebelum perbaikan rumah secara

Rumah setelah program berjalan.

besar dengan penekanan pada pem­ berdayaan masyarakat dan sinergi sumber daya, khususnya ditargetkan pada masyarakat miskin perkotaan. Proses pembangunan sosial dilakukan melalui beberapa kegiatan masyarakat seperti kegiatan keagamaan misalnya pengajian lokal dan peningkatan lingkungan permukiman sesuai de­ ngan tradisi lokal, pemberian fasilitas kepada nelayan untuk meningkatan hasil ‘produksi’ perikanan, mening­ katkan kulitas rumah yang digunakan sebagai tempat industri rumahan seperti batik atau cinderamata/ kerajinan tangan lainnya. Konstruksi rumah juga di dasarkan kepada kea­ rifan lokal yang ada. Untuk menjamin keberlanjutan sosial dan ekonomi

Presentasi hasil pemetaan partisipatif.

gunaan dan pemanfaatan sumber daya, termasuk pemulihan biaya, yang menunjukkan besar pinjaman ­ jika ada, dibayar kembali sesuai dengan syarat dan kondisi yang berlaku; (b) sumber daya keuangan termasuk hibah dari Kementerian Negara Perumahan Raykat digunakan sebagai stimulan untuk memperkuat kope­ rasi lokal, serta dana pemerintah pusat, dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari sektor swasta dan dana masyarakat setempat disalur­ kan melalui badan­badan lokal; (c) dana bergulir untuk pembangunan

44

Edisi 2 Tahun 2010

perumahan yang disalurkan melalui koperasi lokal dengan biaya ad­ ministrasi minimal atau sekitar 2% dibayar kembali dalam jangka waktu 1­2 tahun. Organisasi rumah tangga menjadi kelompok­kelompok kecil yang menciptakan tekanan untuk mengembalikan pinjaman dan men­ ciptakan proses yang lebih akuntabel. Ada 6 kegiatan utama dari program ini (i) membuat basis data rumah tangga miskin (kondisi rumah, status kepemilikan, kesehatan dan pendapa­ tan) oleh Pemerintah Kota bekerja sama dengan Biro Pusat Statistik, Jawa Tengah; (ii) membentuk Ke­ lompok Kerja Perumahan (Pokja Perumahan) yang terdiri dari pejabat

tangga yang layak; (vi) melakukan monitoring dan evaluasi program oleh Kelompok Kerja Kemiskinan/ Perumahan. Dampak dari program Pertama, perbaikan kondisi kehidup­ an masyarakat, jumlah rumah tangga miskin mengalami penurunan secara signifikan, tingkat kemiski­ nan berkurang dari 31.461 rumah tangga pada tahun 2005 menjadi 22.683 rumah tangga atau 27,9% pada akhir tahun 2007 (berdasarkan

dukung program Kota Tanpa Kumuh dan program Penanggulangan Ke­ miskinan menjadi lebih efisien. Perte­ muan­pertemuan antara para pejabat telah membantu untuk meningkat­ kan kesadaran, mengubah persepsi mengenai pendekatan untuk pengen­ tasan kemiskinan, dan mengoordi­ nasikan program dengan lebih baik yang ditargetkan untuk kaum miskin kota. Pertemuan ini juga membantu proses pelembagaan Kelompok Kerja Kemiskinan dan Perumahan untuk mendukung pengentasan kemiski­ nan dan program pembangunan perumahan di Pekalongan lebih mudah. Ketiga, kota telah mendapatkan manfaat dari memiliki mitra dapat menjadi fasilitator dalam membuat per­ encanaan partisipatif. Pertemuan rutin juga mengakibatkan penguatan institusi lokal seperti; Kelompok Kerja Pekalongan Kemiskinan/Perumahan, Koperasi Lokal dan Kelompok Swa­ daya Masyarakat (KSM) dan masyara­ kat dengan melakukan dialog untuk transfer pengetahuan dan pengalaman manajerial pada upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan pe­ rumahan. Saat ini masyarakat mampu mengidentifikasi kebutuhan mereka sendiri dan melakukan rencana mer­ eka sendiri dengan lebih baik, semen­ tara pemerintah mengambil posisi memfasilitasi proses. Sebagai hasilnya, kota sekarang memiliki lebih banyak pasangan mampu mengidentifikasi pendekatan untuk mengatasi kemiski­ nan dan kumuh pada skala kota secara menyeluruh dan memobilisasi sumber daya yang tersedia. (DVD)

WC Umum setelah program.

WC Umum sebelum program.

lokal, perwakilan LSM lokal dan in­ dividu yang peduli untuk meningkat­ kan koordinasi antara sektor terkait dengan pembangunan perumahan. Di Pekalongan Kelompok Kerja Perumahan sama dengan Kelompok Kerja Kemiskinan; (iii) mengklasifi­ kasikan permukiman berdasarkan kondisi perumahan dan infrastruktur, untuk menentukan lokasi prioritas; (iv) mengorganisasi masyarakat dan koperasi setempat melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat setem­ pat. Masyarakat harus mengajukan proposal untuk perbaikan rumah/ konstruksi rumah kepada sebuah tim yang akan mengevaluasi proposal dan menentukan kelompok rumah tangga yang memenuhi syarat; (v) men­ cairkan dana bagi kelompok rumah

Saat ini masyarakat mampu mengidentifikasi kebutuhan mereka sendiri...
data dari Badan Statistik Pekalongan), peningkatan kualitas rumah meningkat menjadi 3.830 unit (60% dari target), serta meningkatnya penghijauan di 105 lokasi, serta ter­ bentuknya Kelompok Usaha Kecil di 92 kelompok rumah tangga miskin. Kedua, mengubah cara pengentasan kemiskinan. Pertemuan mingguan se­ cara rutin tidak hanya telah membuat koordinasi antara lembaga (pemerin­ tah dan non­pemerintah) yang men­

45

Galeri Foto

Menteri Negara Perumahan Rakyat sedang berbincang­bincang akrab dengan Delegasi Afganistan sesaat sebelum kirab Solo Batik Karnival.

sumber foto: humas kemenpera

sumb

umu adi k menj . mpir di Jakarta ng hausun s na ya Suasaah rumah sebu

agia h di b

n bela

er foto

kang

P.U. kom : Pus

Seorang ibu menimba air bersih di rumah susun di kawasan penjaringan. sumber foto: istimewa

Rumah kumuh di salah satu sudut bantaran kali Ciliwung.

sumber foto: istimewa

m royong Gotong

gun p emban

u enamp

ngan s

i. ngungs para pe untuk ara ement
sumbe

r foto:

m P.U. Pusko

Seskemenpera melakukan tendangan pertama sebagai tanda pembukaan pertandingan futsal Piala Properti.

sumber foto: humas kemenpera sumber foto: Puskom P.U.

46

Pemandangan warna­warni Kali Code yang kontras dengan adanya Logo Restoran Cepat Saji.

Agenda

Edisi 2 Tahun 2010

Menuju Perumahan yang Mapan dan Berkelanjutan
“memang tjita­tjita itoe (perumahan rakyat red.) tidak akan tertjapai dalam setahoen doea tahoen, tidak akan terselenggara semoeanya dalam 10 atau 20 tahoen. Tetapi dalam 40 tahoen ataoe setengah abad pasti dapat ditjapai, apabila kita bersoenggoeh­soenggoeh maoe dan beroesaha dengan penoeh kepertjajaan. Djangan hendaknya ada orang jang berkata “moestahil” terpengaroeh oleh keadaan jang dihadapinja sekarang. Lima belas tahoen dahoeloe djoega rata­rata orang mengira dalam hatinja, moestahil kita akan merdeka. Tetapi sekarang! Sekarang kita telah merdeka dan berdaoelat. Apa jang kiranja moestahil dahoeloe itoe, sekarang soedah mendjadi kenjataan. Sebab itoe, tidak ada moestahil, apabila kita maoe mengamalkan dan mengerdjakan soenggoeh­soenggoeh”. rakyat (Volk Huisvedting) dan bangunan gedung/rumah negara/Pemerintah (Landsgebouwen) serta Pest Bestrijd­ ing untuk menangani wabah penyakit perkotaan. Setelah masa penjajahan Belanda, pada masa Jepang, masalah pe­ rumahan ditangani oleh Doboku yang merupakan lembaga pengganti Departement Van Verkeer en Waterstaat. Memasuki masa kemerdekaan, pada tahun 1947 dibentuk Kementerian Pekerjaan Umum yang antara lain mena­ ngani perumahan rakyat pada tingkat “Balai Perumahan”. Pada masa tersebut, sebagian unsur Kementerian pe­ nanganannya pada tingkat Balai dan Jawatan. Sementara itu, untuk kelembagaan di daerah mengikuti struktur pada jaman penjajahan Jepang yang sebagian besar mengikuti struktur organisasi jaman kolonial Belanda dengan mem­ bentuk dinas­dinas dan jawatan­jawatan. Tahun 1950 kemudian menjadi tonggak sejarah bagi pe­ rumahan nasional. Pada tahun tersebut, diselenggarakan kongres perumahan yang pertama. Kongres yang dike­ nal dengan Kongres Perumahan Rakyat Sehat tersebut diadakan pada 25 – 30 Agustus 1950 di Bandung. Kon­ gres tersebut dihadiri oleh peserta dari 63 Kabupaten dan Kotapradja, 4 Propinsi, wakil dari Jawatan Pekerjaan Umum, utusan Organ­ isasi Pemuda, Barisan Tani, Pengurus Parin­ dra, dan tokoh­tokoh perseorangan yang memaparkan masalah: Pembangunan Cepat; Bahan untuk Pemba­ ngunan Rumah Rakyat;

Hari Perumahan Nasional

H

(Wapres R.I. I Moh. Hatta – Kongres Perumahan Rakyat Sehat 25­30 Agustus 1950)

ari Perumahan Nasional (Hapernas) merupa­ kan saat untuk meningkatkan kesadaran nasi­ onal bahwa perumahan adalah kebutuhan dasar manusia yang menjadi tanggung jawab bersa­ ma. Hapernas yang diperingati oleh pemangku kepentingan bidang perumahan dan permukiman setiap 25 Agustus ini juga bertujuan untuk mendorong pemenu­ han pencapaian kebutuhan perumahan dan permukiman.

Kebijakan perumahan nasional sebenarnya telah diterap­ kan di Indonesia sejak masa pra kemerdekaan. Pada wak­ tu itu, kebijakan tentang Perumahan masih terbatas yaitu hanya untuk pegawai negeri, rumah sewa, dan perbaikan lingkungan dalam rangka kesehatan. Pada masa penjajah­ an Belanda tersebut, terdapat Departement Van Verkeer en Waterstaat (Dept. V en W) yang menangani perumahan
Sumber foto­foto: Istimewa

47

Agenda
Sumber foto­foto: Istimewa

Bentuk Perumahan Rakyat; Kepentingan Kesehatan dalam Membangun Rumah Rakyat; Pembiayaan Peruma­ han; serta Peninjauan Peraturan­peraturan Mendirikan Rumah Dinas di Kotapradja dan Kabupaten dan Soal Persediaan Tanah Perumahan. Dalam kongres tersebut, Bung Hatta memberikan sam­ butan pada pembukaan kongres yaitu pada tanggal 25 Agustus 1950. Dalam sambutannya, Bung Hatta men­ dengungkan cita­cita untuk membangun rumah layak bagi setiap keluarga di Indonesia. Bung Hatta saat itu juga memberikan dorongan yang besar dan terukur kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memenuhi kebu­ tuhan rumah. Dalam kongres, terdapat juga beberapa pembicara yang memberikan paparan dari berbagai aspek antara lain adalah: (i) Ir. Dipokoesoemo dengan paparan Pembangunan Cepat; (ii) Ir. C.A.A. Van Der Woude de­ ngan paparan Bahan Untuk Pemban­ gunan Rumah­rumah Rakyat; (iii) Ir. Suwandi Notokusumo dengan paparan Bentuk Perumahan Rakyat; (iv) Dr. Soekandar dengan paparan Kepentingan Kesehatan dalam Membangun Rumah Rakyat; (v) Drs. Sumitro Djojohadiku­ sumo dengan paparan Pembiayaan Pe­ rumahan; dan (vi) Soendjoto dengan paparan Pininjauan Peraturan­peraturan Mendirikan Rumah Dinas di Kotapraja dan Kabupaten dan Soal Persediaan Tanah Perumahan. Kongres Peruma­ han Rakyat Sehat tersebut kemudian menghasilkan po­ kok­pokok keputusan yaitu: (a) mengusulkan didirikannya perusahaan pembangunan perumahan di daerah­daerah; (b) mengusulkan penetapan syarat­syarat minimal bagi pemban­ gunan perumahan rakyat; dan (c) mengusulkan pembentu­ kan badan/lembaga yang menangani perumahan. Pelaksanaan Kebijakan perumahan dan permukiman sete­ lah awal kemerdekaan hingga masa sekarang seperti yang diwariskan oleh para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk meneruskan pembangunan peru­ mahan secara konstitusional seperti diamanatkan dalam Undang­Undang Dasar Negara Republik Indonesia Ta­ hun 1945. Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan

untuk mensejahterakan rakyat adalah melalui penyediaan sandang, pangan dan papan. Rumah (papan) merupakan salah satu hak dasar seperti yang tercantum dalam Un­ dang­Undang Dasar 1945 pasal 28H ayat 1 yaitu: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Dalam perjalanan waktu selanjutnya yaitu pada tanggal 18 Agustus tahun 2000, masalah papan telah dipertegas kem­ bali dalam Amandemen Ke­dua Undang­Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Amanah ter­ sebut diharapkan dapat diteruskan secara berkelanjutan oleh generasi saat ini maupun generasi yang akan datang, melalui suatu kelembagaan bidang perumahan yang ma­ pan dan berkelanjutan. Berdasarkan lintasan sejarah tersebut, pada 10 Juli 2008 para pemangku ke­ pentingan bidang perumahan telah men­ deklarasikan Penetapan Hari Perumahan Nasional, yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor: 46/KPTS/M/2008 ten­ tang Hari Perumahan Nasional. Keputu­ san Menteri yang ditetapkan pada tang­ gal 6 Agustus 2008 tersebut menyatakan bahwa tanggal 25 Agustus yang meru­ pakan tanggal diadakannya Kongres Perumahan Rakyat tahun 1950 sebagai Hari Perumahan Nasional. Untuk peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) ke­60 yang jatuh pada tanggal 25 Agustus 2010 ini, tema yang diangkat adalah “Wujudkan Rumah Sejahtera Me­ lalui Sinergi Pusat­Daerah”. Tema ini mengajak kita kem­ bali mengingat bahwa urusan rumah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat semata tetapi juga tang­ gung jawab pemerintah daerah. Sinergi pusat dan daerah ini menjadi sangat penting terutama di era otonomi dae­ rah sekarang sehingga pembangunan perumahan diharap­ kan tidak lagi menjadi terpusat di satu daerah tetapi bisa dapat merata ke semua daerah. Selamat Hari Perumahan Nasional 2010…!

48

Edisi 2 Tahun 2010

Meningkatkan Kesadaran Lingkungan di Seluruh Dunia

Hari Lingkungan

Hidup Sedunia

H

ari Lingkungan Hidup Dunia (World Environment Day/WED) selalu diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Cikal bakal peringatan ini berawal dari konferensi tentang lingkung­ an hidup di Stockholm, Swedia (Stockholm Conference on the Human Environment) yang diselenggarakan oleh PBB pada tanggal 5­16 Juni 1972. Konferensi tersebut merupakan konferensi pertama dari PBB yang membahas isu lingkungan dan menjadi awal mula munculnya kesadaran politik dan kesadaran masyarakat akan isu lingkungan secara global. Tanggal pembukaan konferensi tersebut kemudian illustrasi: Istimewa ditetapkan oleh Sidang Umum PBB sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia mulai diperingati setiap tahunnya sejak tahun 1973. Hari Lingkungan Hidup ini menjadi salah satu momen yang digunakan oleh PBB untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di seluruh dunia dan mendorong

perhatian dan tindakan politik. Melalui Hari Lingkungan Hidup, isu lingkungan dikenalkan kepada masyarakat kebanyakan sehingga orang­orang menyadari bahwa lingkungan bukan hanya tanggung jawab mereka, tetapi bahwa juga mereka memiliki kekuatan untuk menjadi agen perubahan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan. Hari Lingkungan Hidup ini juga diklaim sebagai salah satu peringatan terbesar skala dunia dalam hal gerakan politis yang positif untuk lingkungan. Tema­tema Hari Lingkungan Hidup selalu berbeda setiap tahunnya. Biasanya, tema dari Hari Lingkungan Hidup mengangkat secara spesifik mengenai tema tertentu. Hari Lingkungan Hidup pernah juga mengangkat tema yang terkait perumahan yaitu pada tahun 1976 dan tahun 1987. Pada tahun 1976 tema yang diangkat adalah Human Settlements/Permukiman dan pada tahun 1987 tema yang diangkat adalah Environment and Shelter: More Than A Roof/Lingkungan dan Hunian: Bukan Sekedar Atap.

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia (10 tahun terakhir)
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2006 2007 2008 2009 2010 Tema Lokasi Peringatan The Environment Millennium - Time to Act (Milenia Lingkungan Adelaide, Australia – Waktunya Bertindak) Connect with the World Wide Web of Life (Terhubung dengan Torino, Italia and Havana, Jejaring Kehidupan) Kuba Give Earth a Chance (Beri Bumi Kesempatan) Shezhen, RRC Water – Two Billion People are Dying for It! (Air – Dua Milyar Beirut, Lebanon Penduduk Membutuhkannya!) Wanted! Seas and Oceans – Dead or Alive? (Dicari! Laut dan Barcelona, Spanyol Samudra – Hidup atau Mati?) Deserts and Desertification - Don’t Desert Drylands! (Gurun dan Algiers, Algiers Kekeringan – Jangan Biarkan Kekeringan Terjadi) Melting Ice – a Hot Topic? (Es Mencair – Topik Panas?) Tromsø, Norwegia Kick The Habit - Towards A Low Carbon Economy (Mulailah – Wellington, Selandia Baru Menuju Ekonomi Rendah Karbon) Your Planet Needs You - UNite to Combat Climate Change (Planet Mexico City, Meksiko ini Membutuhkanmu – Bersatu Menghadapi Perubahan Iklim) Many Species. One Planet. One Future (Beragam Spesies, Satu Kigali, Rwanda Planet, Satu Masa Depan)

Sumber foto: Istimewa

49

Agenda
Hari Lingkungan Hidup 2010 dan Keanekaragaman Hayati Saat ini, beragam spesies di muka bumi mengalami beragam bahaya. Banyak diantaranya yang terancam punah atau bahkan sudah punah. Hutan­hutan pun berkurang, jumlah ikan berkurang, banyak daerah mengalami kekeringan, serta meningkatnya gas rumah kaca yang menyebabkan bumi semakin hangat (perubahan iklim) adalah masalah­masalah yang dihadapi kita saat ini. Hal ini semakin parah karena adanya beragam pendekatan pembangunan yang tidak ramah lingkungan Dengan kebiasaan modern yang dilakukan manusia saat ini, degradasi alam pun semakin cepat terjadi. Sebagai hasilnya, keanekaragaman hayati yang menjadi dasar manusia untuk “bertahan” menjadi terancam. Keanekaragaman hayati merupakan sumber kita memperoleh makanan, pakaian, energi, dan banyak hal yang bermanfaat bagi manusia. Spesies kecil seperti kumbang yang sepertinya tidak penting pun sebenarnya terhubung ke kehidupan kita. Jadi, bahkan jika hanya satu spesies saja yang punah, dampaknya bisa sangat berbahaya (katastropik). berjuta spesies tinggal di planet yang sama, masa depan yang lebih aman dan sejahtera berarti juga hanya bisa diperjuangkan jika semua bersama­sama berusaha menjaga. Tahun 2010 ini pun juga ditetapkan oleh PBB sebagai International Year of Biodiversity (Tahun Keanekaragaman Hayati), yang juga senada dengan tema Hari Lingkungan Hidup untuk tahun ini. Perayaan global Hari Lingkungan Hidup tahun ini diselenggarakan di Kigali, Rwanda. Peringatan di Rwanda antara lain dilakukan dengan kegiatan pertemuan kaum muda, penanaman pohon, pemilihan duta, festival budaya, dan beberapa kegiatan lainnya. Rwanda dipilih karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya namun menghadapi tantangan degradasi lingkungan yang besar. Meski demikian, Rwanda menunjukkan komitmen positif untuk menghadapi tantang tersebut dengan telah menyiapkan strategi pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan yang visioner di bawah pimpinan Presiden Paul Kagame.

Keanekaragaman hayati, masa depan bumi kita

Dengan latar belakang tersebut, tahun 2010 ini kita pun lalu diingatkan pada sebuah tema Hari Lingkungan Hidup yang cukup memiliki makna dalam yaitu “Many Species, One Planet, One Future” – atau jika dialih bahasakan menjadi “Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi Kita”. Tema tersebut menggaungkan seruan untuk menjaga keanekaragaman kehidupan yang ada di planet ini. Tanpa keanekaragaman hayati, bumi akan mengalami masa depan yang suram. Dengan berjuta orang dan

Sementara itu, di Indonesia, tema peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini sangatlah relevan degan kondisi Indonesia. Indonesia dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, yaitu 90 tipe ekosistem, 40.000 spesies tumbuhan dan 300.000 spesies hewan. Dengan keanekaragaman hayati yang melimpah, Indonesia memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati tersebut juga tentunya perlu berpegang pada prinsip keberlanjutan. Di Indonesia, berbagai lapisan bangsa, baik pemerintah, LSM, dunia usaha dan masyarakat dari berbagai penjuru tanah air telah berupaya melakukan pelestarian nilai dan fungsi lingkungan hidup untuk mendukung prinsip keberlanjutan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha pelestarian tersebut, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2010 ini, pemerintah memberikan penghargaan atas peran serta warga maupun kelompok masyarakat antara lain melalui penghargaan Kalpataru, Adipura, dan Adiwiyata. Pemerintah juga menerbitkan Prangko Sampul Hari Pertama Seri Peduli Lingkungan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2010 dengan tema “Many Species. One Planet. One Future” dan “Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi Kita” untuk lebih mengenalkan tentang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2010 kepada masyarakat luas. (LNP)

Sumber foto: Istimewa

50

Hari Perumahan Nasional
‘Mewujudkan Rumah Sejahtera Melalui Sinergi Pusat-Daerah’

25 Agustus 2010

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (UUD 1945 khususnya Pasal 28H Ayat 1)

Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. (Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, Pasal 40)

Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/ atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur. (Undang Undang Nomor 4 Tahun 1992, pasal 5 ayat 1)

52

Sumber foto­foto: Istimewa/pokja AMPL

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful