EDISI III TAHUN 2011

Pelindung Menteri Perumahan Rakyat Penasehat Redaksi Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat Deputi Bidang Pembiayaan Perumahan Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Deputi Bidang Perumahan Swadaya Deputi Bidang Perumahan Formal Pemimpin Redaksi Oswar M. Mungkasa Dewan Redaksi Rifaid M. Nur Hardi Simamora Eko D. Heripoerwanto Lukman Hakim Redaksi Pelaksana Moch. Yusuf Hariagung Eko Suhendratma David Agus Sagita Penyunting dan Penyelaras Naskah Hotman Sahat Gayus Leonardus P. Harryadhi Reporter Akbar Pandu Pratamalistya Ristyan Mega Putra Desain dan Produksi Aris Karnadhi Ruby Marchelinus Agus Sumarno Distribusi Saiful Anwar Nurul Prihatin Fenty Meilisya S. Jadima Lumban R. Riesa Anandya Promosi dan Pameran Arief Karyawan Jafry Tri Pujiastuti Sri Rahmi Purnamasari Pustika Chandra Kasih Rossi Dwi A. Kontributor Lusia Nini Purwajati Ridho Fauzy Koresponden R. Budiono Subambang Toni Rusmarsidik B. Ekoputro Cut Lisa Bambang Sucipto Yuwono Pergudangan dan Logistik Ahmad Sudibyo Alamat Redaksi Inforum: Bagian Humas dan Protokol Kementerian Perumahan Rakyat Jln. Raden Patah I No. 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp./Fax. : (021) 7264786/72800145 Email : majalah.inforum@kemenpera.go.id Website : www.kemenpera.go.id Redaksi menerima artikel, berita, karikatur yang terkait bidang perumahan rakyat dari pembaca. Lampirkan gambar/foto dan identitas penulis ke alamat email redaksi. Naskah ditulis maksimal 2.000 kata. Redaksi juga menerima saran maupun tanggapan terkait bidang perumahan rakyat ke email: majalah.inforum@kemenpera.go.id atau saran dan pengaduan di www.kemenpera.go.id
Desain cover: Agus Sumarno Foto cover depan: Inforum/Ristyan Mega Putra

idak terasa tahun 2012 telah menjelang, dan Inforum kali ini merupakan edisi terakhir pada tahun 2011. Tentu saja banyak hal yang telah berhasil dicapai oleh Inforum. Diantaranya semakin luasnya jangkauan Inforum, yang terlihat dari beragamnya surat masuk ke Redaksi. Mulai dari Duta Besar, pemerhati, mahasiswa, bahkan masyarakat umum. Hal ini tidak terlepas dari upaya pengelola Inforum membenahi sistem distribusi yang selama ini kurang mendapat perhatian. Selain itu, peningkatan kualitas materi Inforum pun tetap mendapat perhatian dengan melibatkan tenaga berpengalaman dalam susunan dewan redaksi, walaupun seluruhnya masih berasal dari internal Kemenpera. Keseluruhan langkah ini diharapkan dapat semakin mendekatkan kami pada tujuan keberadaan Inforum sebagai pembawa pesan dari dan untuk pemangku kepentingan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman. Dalam beberapa bulan terakhir, di antara gegap gempita pembangunan perumahan, menyeruak isu tabungan perumahan. Hal ini tidak terlepas dari sedang berlangsungnya upaya penyusunan Undang-Undang Tabungan Perumahan sebagai amanat UndangUndang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Inforum ingin memanfaatkan momentum ini dengan baik. Sebagai bagian dari keluarga besar pemangku kepentingan pembangunan perumahan, Inforum turut berupaya memberi sumbangsih dengan memanfaatkan keberadaannya untuk menjadi saluran penyampaian aspirasi terkait penyusunan undang-undang tersebut. Disadari betul bahwa pemikiran dan pandangan yang berseliweran di sekitar kita perlu diwadahi agar dapat tersalurkan kepada pemerintah dan legislatif yang berkutat menyelesaikan undang-undang ini. Adapun pemikiran dan pandangan dari berbagai pihak tersebut, kami kemas dalam beberapa bentuk rubrik diantaranya laporan utama, opini, wawancara, termasuk juga manajemen pengetahuan dengan menampilkan sumber-sumber informasi terkait berupa situs internet. Upaya ini setidaknya kami harapkan dapat membantu meningkatkan kualitas dan penerimaan masyarakat terhadap isi Undang-Undang Tabungan Perumahan kelak. Akhir kata, kami mewakili pengelola dan dewan redaksi Inforum menyampaikan selamat tahun baru 2012. Semoga di tahun mendatang pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dapat lebih baik dari tahun sebelumnya. Amin.

T

2

Edisi 3 Tahun 2011

TERIMA KASIH Yth. Pemimpin Redaksi INFORUM Bersama ini kami sampaikan bahwa kami telah menerima Majalah Inforum Edisi 2 Tahun 2011. Kami ucapkan terima kasih banyak semoga majalah tersebut dapat bermanfaat dan kami simpan sebagai bahan referensi di kemudian hari. Yousif Rashid Alsharhan, Duta Besar Uni Emirat Arab

Yth. Pem-Red INFORUM Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kiriman majalah-majalah Inforum. Majalah-majalah tersebut akan banyak manfaatnya bagi pekerjaan saya sebagai dosen di bagian Arsitektur, Universitas Pelita Harapan. Karawaci, 24/11/11 Bianpoen

bulan sekali. Untuk edisi digital majalah Inforum dapat diunduh melalui situs www.kemenpera.go.id atau www. bpa.kemenpera.go.id. Kami sangat senang jika anda ingin berkontribusi sebagai penulis artikel. Tulisan dapat dikirimkan melalui email majalah.inforum@kemenpera. go.id dengan syarat tulisan dapat berbentuk tulisan sendiri atau terjemahan dengan maksimal kata sebanyak 1.000 kata. Jika tulisan merupakan terjemahan harap disertakan sumber tulisannya. Jika tulisan akan diberikan ilustrasi maka ilustrasi harap dikirimkan secara terpisah tidak dalam file word dengan resolusi minimal 300 dpi. Terima Kasih dan kami tunggu tulisannya. Redaksi Pelaksana Inforum LANGGANAN INFORUM Yth. Pimpinan Majalah Inforum Saya tertarik untuk berlangganan majalah Inforum, dimana saya bisa mendapatkan dan bagaimana? Oya, untuk bukubuku di bawah ini, dimana juga saya bisa dapatkan: (a) Pembangunan dan Permukiman di Indonesia Penerbit Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas, 2010, (b) CD Undang-Undang R.I. No. 1 Tahun 2011, (c) Mengusik Tata Penyelenggaraan Lingkungan Hidup dan Permukiman Demikian, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Ernawati

Yth. Pemimpin Redaksi Majalah INFORUM Sehubungan dengan penyampaian Majalah Inforum Edisi 2 Tahun 2011, kami mengucapkan terima kasih atas pengiriman majalahnya. Bersama ini pula kami menyampaikan 2 (dua) eksemplar majalah Kawasan Industri Edisi ke-1 untuk melengkapi bacaan/koleksi Perpustakaan Kementerian Perumahan Rakyat. Demikian, atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih. Budhi Setyanto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian R.I. KONTRIBUTOR INFORUM Salam, Apakah sampai sekarang majalah Inforum masih eksis? Bila masih, terbitnya berapa bulan sekali? Bolehkah saya berpartisipasi sebagai kontributor artikel? Mohon Informasi. Yudianto – Kudus Yth. Sdr. Yudianto di Kudus Majalah Inforum sampai saat ini masih terbit setiap 4

Yth. Ibu Ernawati Terima kasih atas ketertarikannya kepada Majalah Inforum. Saat ini Majalah Inforum hadir dalam 2 versi cetak dan digital. Edisi cetak akan kami kirimkan. Versi digital Majalah Inforum dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011, dapat diunduh melalui situs www.kemenpera.go.id atau www.bpa. kemenpera.go.id. Terkait Buku Pembangunan Perumahan dan Permukiman silahkan menghubungi ke Direktorat Perumahan dan Permukiman BAPPENAS di telepon (021) 31934819. Untuk buku Mengusik Tata Penyelenggaraan Lingkungan Hidup dan Permukiman, silahkan kontak melalui email kuswartojo@yahoo.com. Terima Kasih. Redaksi Pelaksana Inforum

3

Daftar Isi
Wawancara Khusus
Dari Redaksi Surat Pembaca Daftar Isi Laporan Utama
Pelaksanaan konsep Lingkungan Hunian Berimbang (LHB) berjalan tanpa adanya payung yang jelas sehingga kemudian hari konsep tersebut sepertinya sangat sulit untuk diimplementasikan. Inforum berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Dr. Hazaddin T. S. Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Kementerian Perumahan Rakyat , tentang keberlanjutan dari konsep LHB pasca lahirnya UU Nomor 1 Tahun 2011.

02 03 04 06 20 22 37 45 46 47 48 55 56 57 58

M. Yasin Kara:
“Bapertarum Sekarang Lebih Gampang Prosesnya”

Wawancara Khusus Wacana Liputan Tips Tanya Jawab Intermezzo

20
Laporan Utama
Tabungan Perumahan: Bukan Tabungan Biasa
Apabila lontaran pemikiran tentang tabungan perumahan memang sungguh-sungguh, berarti tabungan perumahan ini luar biasa peranannya, karena telah disetarakan dengan investasi pertumbuhan ekonomi. Mendongkrak kemampuan masyarakat, badan usaha dan pemerintah sekaligus.

6

Pengelolaan Pengetahuan Fakta Praktek Unggulan Galeri Foto Agenda

Wacana
22

Intermezzo Liputan
39 47

Djan Faridz: “Saya siap lanjutkan program Kemenpera”
Menurut Djan Faridz, masalah perumahan rakyat tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Kemenpera. Namun demikian, dibutuhkan konsep yang jelas serta program yang ada harus terintegrasi dengan program yang ada di kementerian atau instansi lainnya.

KIP sebagai Investasi Prasarana Dasar Permukiman
Perbaikan kampung merupakan bentuk partisipasi oleh pemerintah kepada upaya besar yang sebelumnya telah dilakukan warga setempat. Never in human history has so many done so much with so little…. sebagai gambaran sebuah kampung.

Kampung Kemasan Gresik
Gresik yang berjarak kurang lebih 18 sebelah utara kota Surabaya atau 30 menit berkendara dengan kendaraan pribadi, merupakan sebuah kota pelabuhan yang sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Sebagai sebuah kota, Gresik sangat menarik untuk dijadikan daerah tujuan berlibur dari rutinitas sehari-hari.

4

Edisi 3 Tahun 2011

48 Resensi Buku
Buku Kata Fakta Jakarta merupakan kumpulan catatan lintas masa mengenai Jakarta sejak tahun 1998 hingga tahun 2011. Buku ini terdiri dari kumpulan data dan fakta serta kumpulan berbagai tulisan dari berbagai aspek.

50 Info Pustaka

56 Praktek Unggulan

Bank Gakin
54 Info Situs 49 Info CD
CD Himpunan Perundang-Undangan bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dalam rangka memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dalam mengetahui dan memahami kebijakan dalam pembangunan perumahan dan permukiman, Kementerian Permahan Rakyat telah melakukan inventarisasi dan menghimpun berbagai regulasi terkait perumahan dan permukiman yang telah ada sampai saat ini. Hasil inventarisasi tersebut disajikan dalam bentuk CD Interaktif Himpunan Perundangundangan Bidang Perumahan dan Permukiman.

“Grameen Bank”
di Indonesia
Bank ini secara khusus memang dirancang untuk melayani orang miskin sehingga disebut ‘banking for the poor’. Sebagaimana halnya Grameen Bank, Bank Gakin di Jember juga menggunakan prinsip tanggung renteng di antara para anggotanya.

www.smf-indonesia.co.id

58 Agenda
Dari situs ini kita dapat mengakses beberapa layanan dan produk PT. SMF seperti sekuritisasi, pinjaman, standarisasi dokumen KPR, surat utang dan beberapa informasi mengenai pelatihan-pelatihan yang diberikan.

“Ubah Dunia Kita” Hari Pemuda Internasional 2011
Soekarno pernah berkata seribu orang tua hanya dapat bermimpi tapi satu orang pemuda dapat mengubah dunia. Peran pemuda menjadi semakin krusial dalam pembangunan bangsa, tidak dapat ditunda lagi bahwa pemuda harus menjadi bagian dari solusi dan tidak lagi dilihat sebagai bagian dari masalah.

Fakta Kota-Kota Unik di Dunia

55
Kota sebagai sebuah medan garap ilmu pengetahuan tidak akan pernah habis untuk dibahas. Definisi tentang kota pun amat beragam tergantung pada cabang ilmu pengetahuan apa kota akan ditempatkan sebagai obyek pembahasan.

5

Laporan Utama

Bukan Tabungan Biasa

Tabungan Perumahan:

Tjuk Kuswartojo Konon tabungan perumahan ditujukan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar memiliki simpanan guna membeli rumah. Selanjutnya tabungan perumahan diharapkan akan menggairahkan investasi di sektor properti dan juga akan mengurangi beban APBN. Artinya tabungan perumahan akan membantu masyarakat lapisan bawah, juga mendorong bisnis properti dan membantu mengurangi beban pemerintah bukan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah. Tambahan tujuannya adalah membangkitkan kesadaran menabung untuk dapat “memiliki” rumah. Apabila lontaran pemikiran tentang tabungan perumahan memang sungguh-sungguh, berarti tabungan perumahan ini luar biasa peranannya, karena telah disetarakan dengan investasi pertumbuhan ekonomi. Mendongkrak kemampuan masyarakat, badan usaha dan pemerintah sekaligus, walaupun hanya dalam sektor perumahan. Sesungguhnya pemerintah telah mempunyai pengalaman menyelenggarakan tabungan perumahan. Sejak tahun 1993 telah diselenggarakan tabungan (wajib) perumahan pegawai negeri sipil. Upaya ini dapat dianggap sebagai jawaban atas salah satu dari tiga permasalahan pokok

T

abungan perumahan bakal diatur dengan undang-undang tersendiri. Begitulah amanat pasal 124, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Apakah amanat UU yang diprakarsai oleh DPR ini memang telah dilandasi oleh telaah yang mendalam dan konsep yang kuat, belum banyak diketahui. Konsep tabungan perumahan belum merupakan pengetahuan yang eksplisit, tetapi masih tersimpan di dalam benak perorangan. Walaupun demikian ada bocoran gagasan tabungan perumahan tersebut yang muncul di ruang publik dan memang masih perlu diklarifikasikan.

6

Edisi 3 Tahun 2011

pembangunan perumahan yaitu: kelembagaan, pembiayaan dan pertanahan. Mungkin kebijakan tersebut hadir memang dalam rangka menanggapi Lokakarya Nasional 1992 atau mungkin saja kebetulan mempunyai pikiran dan perasaan yang sama. Tahun 1993 setelah lokakarya nasional, Presiden Suharto menerbitkan keputusan tentang tabungan perumahan pegawai negeri sipil sebagai upaya mengatasi permasalahan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan rumah yang khusus ditujukan untuk pegawai negeri sipil. Apabila kita simak Keputusan Presiden tentang Tabungan Perumahan bagi PNS tersebut, pertimbangannya antara lain adalah bahwa pegawai negeri sipil mempunyai kendala untuk memiliki rumah yang layak karena terbatasnya kemampuan membayar uang muka pembelian rumah dengan fasilitas kredit pemilikan rumah. Keputusan ini tampaknya memang serius, tercermin dari adanya Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BapertarumPNS) yang diketuai Presiden sendiri. Walaupun demikian apabila dipelajari pertimbangan yang menjadi dasar kewajiban menabung tersebut sederhana saja. Agar pegawai negeri mampu membayar uang muka kredit pemilikan rumah. Sampai saat ini realitanya Bapertarum-PNS masih ada, dengan Menteri Perumahan Rakyat selaku ketua harian. Menurut laporan keuangan tahun 2009 Bapertarum-PNS mempunyai aktiva bersih sebesar Rp. 5,5 triliun. Iuran tabungan perumahan (taperum) yang diterima dan disimpan telah mecapai Rp. 4,7 triliun. Selama enam belas tahun keberadaannya memang telah terjadi penumpukan iuran taperum dengan penggunaan yang relatif rendah. Menurut laporan 2008-2009, realisasi pinjaman uang muka tidak lebih dari Rp. 80 milyar

dengan pendapatan PNS. Biaya izin membangun sering dikemukakan sebagai biang kerok harga rumah, tetapi sesungguhnya dibandingkan dengan kenaikan harga tanah, harga bahan bangunan, harga pembangunan prasarana mungkin biaya perizinan tidak seberapa. Realitanya tabungan perumahan pegawai negeri tidak dapat menolong atau membantu mengatasi kebutuhan tempat tinggal si pegawai negeri tersebut. Tabungan para petinggi yaitu para bapak dirjen atau direktur, tetap tidak dapat membantu pesuruh atau sopir memperoleh tempat tinggalnya. Bahkan nyanyian bang-bing-bung, yang katanya jangan dihitung tahu-tahu dapat untung, ternyata tidak cocok untuk tabungan Belajar dari Taperum PNS Tabungan perumahan PNS ada- perumahan PNS. Tabungan perumahan seperti yang lah contoh kebijakan pemupukan dana dengan sasaran pembiayaan telah dimiliki oleh pegawai negeri yang kurang jelas. Benarkah bahwa sipil tidak terasa manfaatnya bagi si yang paling dibutuhkan PNS ada- penabung. Si penabung yang setengah lah memiliki rumah dan uang muka terpaksa menabung selama puluhuntuk membeli rumah? Bukankah an tahun tersebut tetap tidak dapat tempat tinggal yang dekat tempat mencapai jumlah yang dibutuhkan kerja, tersedianya fasilitas yang me- untuk mendapatkan tempat tinggal yang pantas. Akumumadai, nyaman dan lasi tabungan tidak daaman lebih dibutuhkan pat mengejar inflasi dan daripada memiliki? Butabungan harga rumah. Karena itu kankah pemilikan rumah akan sulit ditemukanyang lokasinya jauh dari perumahan tempat kerja malah men- akan membantu mungkin memang tidak ada- pegawai negeri sipil jadi beban pengeluaran? masyarakat yang berhasil mendapatKeadaan semacam ini belapisan bawah, kan tempat tinggal dari nar nyata dan terbukti. Banyak sekali (puluh- juga mendorong tabungan perumahanan ribu) PNS yang telah bisnis properti nya Dari pengalaman termemiliki rumah melalui sebut jelas bahwa tabukoperasi atau lain-lain ngan perumahan PNS ternyata tidak ditempati dan bahkan dibiarkan puso. Karena bukan panacea yang dapat mengobati rumah miliknya terletak 30 km dari segala macam penyakit. Jangankan tempat kerja tanpa dukungan pe- menggairahkan usaha properti dan layanan kota yang memadai. Penge- mengurangi beban APBN, untuk luaran pegawai ini menjadi besar membantu para penabungnya pun dan setiap hari mesti berjuang mela- ternyata juga tidak bisa. Karena itu, wan kemacetan. Selain itu, kenaikan upaya memperluas dan mengembangharga rumah makin tidak sebanding kan tabungan perumahan sehingga padahal dari bunga deposito, obligasi dan sebagainya yang diterima lebih dari Rp. 100 milyar. Justru penggunaan untuk keadaan darurat seperti pinjaman lunak untuk bencana alam yang lebih besar. PNS yang diwajibkan menabung justru tidak memperoleh manfaat dari tabungannya seperti yang diperkirakan. Para penabung nampaknya juga cuek saja, apalah artinya potongan Rp. 10.000 sebulan. Pelajaran yang bisa ditarik dari tabungan perumahan pegawai negeri ini adalah bahwa mengumpulkan uang kecil sehingga menjadi besar lebih mudah daripada menggunakannya.

7

Laporan Utama
menjadi taperum umum, perlu dikaji benar. Berapa kemampuan menabung serta bagaimana komposisinya agar tabungan itu dapat digunakan untuk mendapatkan rumah perlu ditelaah dengan seksama. Sistem Pembiayaan dan Tanggungjawab Pemerintah Pengembangan sistem pembiayaan penyelenggaraan perumahan memang menjadi salah satu tanggungjawab pemerintah. Walaupun demikian sering timbul pertanyaan, apakah pembangunan, pemanfaatan dan pemeliharaan rumah memang merupakan tanggungjawab pemerintah. Bukankah rumah digunakan pribadi, mengapa pemerintah mesti repotrepot mengatur pembiayaannya. Kesadaran bahwa rumah adalah tanggungjawab pribadi secara diam-diam telah menyelinap juga dalam benak kalangan yang berada dalam pemerintahan. Ujungnya adalah perhatian setengah hati. Secara konstitusional tanggungjawab pemerintah dalam penyelenggaraan perumahan diamanatkan oleh pasal 28 H (ayat 1) dan 28 I (ayat 4) UUD 45 yang telah diamandemen. Pasal 28 H ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sedang Pasal 28 I ayat 4 menyatakan perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggungjawab negara terutama pemerintah. Tanggung jawab pemerintah tersebut tentu saja tidak sebatas melaksanakan pasal 28 l tersebut, karena pemerintahan memang dibentuk untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Penyelenggaraan perumahan dan kawasan perumahan tidak bisa tidak berkaitan dengan tanggungjawab tersebut. Pemerintah tidak boleh membiarkan upaya pemenuhan kebutuhan rumah secara pribadi ternyata menghalangi kesempatan orang lain untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Juga apa yang dimaksud dengan kesejahteraan umum, harus dipahami sebagai kesejahteraan bersama bukan oasis di tengah kesengsaraan pihak lain. Realita dan praktek yang telah berlangsung selama ratusan tahun memang menunjukkan bahwa pembangunan rumah dilakukan secara pribadi atau paling jauh oleh komunitas. Karena itu bisa dimengerti apabila pejabat pemerintah kurang perhatian terhadap pembangunan rumah. Pembangunan perumahan menjadi menarik perhatian ketika rumah menjadi barang dagangan yang memberi manfaat juga bagi para pejabat pemerintahan. Oleh karena itulah keluhan para pembuat rumah sebagai barang dagangan lebih sering mendapatkan perhatian. UU Nomor 1/2011 yang merupakan pelaksanaan konstitusi menegaskan apa tanggungjawab pemerintah. Untuk itu telah dipilah adanya rumah komersial, rumah umum, rumah swadaya, rumah khusus dan rumah negara. Untuk rumah komersial pemerintah bertanggung jawab melindungi konsumen dan menjaga ketertiban pembangunan. Sedangkan untuk jenis rumah lain pemerintah membantu dan memfasilitasi, bahkan menangani secara langsung. Terutama jenis rumah yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sistem pembiayaan secara jelas dan tegas memang ditujukan hanya untuk memfasilitasi dan mendukung rumah umum dan swadaya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Mempelajari apa yang dilakukan negara-negara Eropa (terutama Inggris) sejak seabad yang lalu, kebijakan perumahan umumnya memang pada awalnya mengutamakan perumahan publik. Perumahan publik disiapkan dalam rangka menanggapi urbanisasi oleh industrialisasi. Sampai tahun 80an sekitar 60% persediaan rumah adalah perumahan publik yang dibangun pemerintah dan disewakan kepada rakyat dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat. Ini semacam rusunawa di Indonesia. Pemerintah Inggris secara besar-besaran dan terus menerus selama sekitar 100 tahun memang membangun perumahan publik. Perumahan publik ini berbeda dengan rumah umum seperti yang tercantum dalam UU. Program pemilikan rumah dan privatisasi dilakukan justru ketika masyarakat mulai mencapai tingkat kemakmuran tertentu dan pemerintah merasa telah tiba waktunya untuk melepaskan beban tanggungjawabnya atas perumahan publik. Meskipun begitu pemerintah tidak pernah lepas kendali. Asosiasi pemilikan rumah dan kendali harga rumah dengan pemeringkatan rumah terus dikembangkan. Sejak awal pemerintah Indonesia ikut campur dalam pembangunan perumahan, kerangka pemikirannya adalah semacam program pemilikan rumah. Bagaimana agar masyarakat yang melarat sekalipun juga bisa memiliki rumah. Pernyataan politik yang dilontarkan oleh para pejabat pemerintah dan politisi pada umumnya berupa kerisauan oleh banyaknya rumah tangga yang tidak memiliki rumah. Padahal ada kecenderungan bahwa di kota besar pemilikan rumah makin mengecil, karena yang dibutuhkan memang tempat tinggal bukan kepemilikan rumah. Realita juga menunjukkan bahwa sebagian besar, sekitar 70% sampai 80% persediaan rumah (housing stock) yang ada di Indonesia, adalah hasil masyarakat secara swadaya. Persoalan-

8

Edisi 3 Tahun 2011

nya adalah banyak rumah hasil swadaya yang terwujud karena ketidakberdayaan masyarakat dan ketidak berdayaan pemerintah untuk mendampingi dan memfasilitasi. Berkembanglah kemudian permukiman tidak layak yang disebut permukiman kumuh. Boleh dibilang bahwa permukiman kumuh adalah hasil ketidak mampuan pemerintah untuk menata, mengatur dan memfasilitasi pembangunan perumahan swadaya. Apakah sistem pembiayaan juga mesti ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan mencegah munculnya permukimanpermukiman kumuh? Jawabnya tentu ya, tetapi apakah ini bisa didukung oleh tabungan perumahan, tentu membutuhkan telaah dan pengajian yang mendalam. Apa yang perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh adalah upaya untuk mengerahkan dan memupuk dana melalui tabungan, jangan digunakan hanya sebatas pembangunan baru. Kebutuhan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas justru membutuhkan upaya yang jauh lebih besar. Apalagi pembangunan baru yang telah banyak dilakukan, bukannya mengatasi masalah tetapi malah menimbulkan masalah. Pengerahan dan Pemupukan Dana UU Nomor 1/2011 mengamanatkan agar pemerintah dan atau pemerintah daerah mengupayakan sistem pembiayaan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman. Sistem pembiayaan antara lain meliput pengerahan dan pemupukan dana yang bersumber dari masyarakat. Amanat ini menunjukkan adanya kesadaran atas keterbatasan dana pemerintah untuk memfasilitasi dan memberi kemudahan meski hanya untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Tampaknya ada antisipasi

atau pelajaran dari negara lain bahwa dana pemerintah yang bersumber dari sumber konvensional seperti pajak, cukai, iuran, pungutan, hasil usaha negara dan sebagainya tidak akan cukup untuk memberi kemudahan dan memfasilitasi perumahan dan kawasan permukiman. Atau memang dianggap bukan proritas yang patut mendapat alokasi dari anggaran belanja negara tersebut. Karena itu mesti dikerahkan dana masyarakat melalui cara inkonvensional antara lain berupa tabungan perumahan dan mungkin sistem pengerahan dana yang lain. Dalam mengerahkan atau memobilisasi dana masyarakat tersebut ada asas yang perlu dipegang teguh. Asas itu adalah bahwa pengerahan dana tersebut bisa berasal dari penabung kecil atapun penabung besar, tetapi peruntukannya harus untuk masyarakat lapisan bawah. Harus dihindarkan benar, agar pengumpulan uang receh yang ternyata setelah terkumpul justru dinikmati atau paling tidak yang memanfaatkan adalah para pemilik dana besar. Walaupun itu dengan alasan membantu memupuk agar tabungan kecil bisa menjadi besar. Ini perlu selalu diingatkan, karena atas nama bisnis yang bisa memberi kontribusi besar pada negara lewat pajak, banyak praktek pemodal besar menyedot uang receh masyarakat kecil. Memang ada sedikit yang dicecerkan berupa hiburan, olah raga atau taman kecil, tetapi sesungguhnya lebih ditujukan untuk menjaga citra dan nama dagangannya disebut dengan terminologi yang gaya yaitu: corporate social tersponsibility (CSR). Sekiranya memang ada niat tulus para pemegang dana besar untuk membantu masyarakat kecil, cara yang ditempuh pebisnis Filipina bisa dipertimbangkan untuk dicontek. Tahun 70an, sejumlah pebisnis Filipina mendirikan Phillipnes Business for Social Progress (PBSP) dan sam-

pai kini masih ada dan beraktivitas. Artinya PBSP sudah berusia 40 tahun lebih tua dari REI di Indonesia. Mereka mendirikan yayasan tanpa nama perusahaan anggotanya yang misinya adalah mereduksi kemiskinan Filipina dengan arah yang jelas yaitu membantu menangani pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan lingkungan. Memang tidak dikaitkan dengan perumahan, tetapi bantuan tanpa nama perusahaan memungkinkan dapat dibedakan apakah yang mereka lalukan merupakan kegiatan sosial atau advertensi dengan nama sosial. Di Amerika Serikat memang ada bank yang secara khusus mengurus tabungan dan pinjaman perumahan (Home Savings and Loan Bank). Bank ini memberi pinjaman untuk pembelian rumah kepada penabung yang tabungannya telah mencapai jumlah tertentu. Penabung ini tentu saja bukan penabung uang receh, tetapi penabung yang memang telah mempunyai kemampuan membeli rumah asal tidak harus membayar kontan. Home Savings Bank ini juga memberikan pinjaman hipotek hingga USD 50.000 dengan bunga 3% sampai 4% per tahun serta jangka waktu pinjaman hingga 30 tahun. Pada umumnya dana tersebut berasal dari tabungan jangka panjang seperti dana pensiun dan asuransi jangka panjang. Inflasi yang rendah dan tabungan berjangka panjang tersebut memungkinkan dana yang tersimpan dapat digunakan untuk kredit pembelian rumah dalam jangka panjang dan bunga rendah. Dengan demikian lebih banyak masyarakat yang dapat memanfaatkannya. Karena itu dapat dimengerti apabila di negara yang mempunyai iklim dan sistem semacam itu, seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris dan lain-lainnya besarnya kredit pemilikan rumah dapat mencapai 40% sampai 60% PDB-nya. Jauh dari kondisi Indonesia dan negara berkem-

9

Laporan Utama
bang lainnya yang hanya mencapai 2% PDB-nya. Di India mobilisasi dana perumahan masyarakat lapisan bawah dikembangkan melalui keuangan mikro (microfinance). Keuangan mikro ini memberi pinjaman yang relatif kecil, dengan pengembalian cepat dan bunga tinggi. Pinjaman ini ditujukan untuk usaha kecil, tetapi ternyata 25% diantaranya digunakan untuk rumah (baca Global Urban Development Magazine 2006). Kredit sebesar antara USD 500 s/d USD 5.000 dengan bunga antara 2% sampai 3% per bulan dengan masa pengembalian maksimum selama 36 bulan dapat diakses dengan mudah, karena berada di lingkungan komunitas. Dana itu ternyata juga digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas rumah, bahkan membeli tanah dan membangun rumah yang dilakukan secara sepotong-sepotong. Kredit mikro ini tidak untuk membeli rumah jadi, tetapi untuk membangun rumah secara swadaya serta bertahap tanpa jadwal yang jelas. Kredit mikro inilah yang kemudian dihubungkan dengan tabungan kecil yang bisa untuk rumah. Subsidi dan bantuan pemerintah serta fasilitasi organisasi non pemerintah digabung dengan tabungan dan kredit mikro ini sehingga bisa untuk memperbaiki atau membangun sebagian rumahnya. Cara membangun secara inkremental ini tentu tidak bisa dibangun di kota besar yang dikenai aturan pengendalian yang ketat. Tabungan Perumahan Bukan Tabungan Biasa. Menurut amanat UU Nomor 1/2011, tabungan perumahan akan diatur dengan Undang-Undang. Artinya tabungan perumahan memang dianggap bukan tabungan biasa karena itu diupayakan agar mempunyai kedudukan legal yang khusus. Apa kekhususan tabungan perumahan itu sehingga harus dengan susah payah dibuat undang-undangnya? Apakah benar tabungan perumahan memang ada keistimewaannya? Ataukah undang-undang tabungan perumahan itu sesungguhnya hanya ambisi lembaga penyelenggara perumahan atau upaya badan usaha perumahan yang mau numpang kemudahan? Pertanyaan ini tentu belum bisa dijawab, karena rancangan undang-undang itu belum ada. Mungkin harus disiapkan naskah akademik yang jitu yang menunjukkan bahwa tabungan perumahan pantas diatur dengan undangundang. Apabila ditelisik praktek yang telah dilakukan di berbagai negara dan juga di Indonesia memang ada kekhususan tabungan perumahan yang membutuhkan pengaturan, antara lain sebagai berikut: a. Tabungan perumahan untuk menjamin tempat tinggal yang sesuai dengan dinamika penabungnya. Misalnya karena pekerjaannya sipenabung harus tinggal di Medan, setelah dua tahun pindah ke Surabaya dan satu tahun kemudian pindah ke Bandung. Berdasarkan besaran tabungannya di setiap kota dimana penabung ini berada akan selalu bisa mendapatkan pinjaman untuk mengontrak tempat tinggal. Di negara maju, dilakukan pendataan rumah kosong (vacant house) dan pemerintah akan memberi dorongan pembangunan rumah apabila jumlah rumah kosong terlampau kecil (kurang dari 3%). Dinamika ini tidak hanya dalam artian lokasi, bisa juga dikaitkan dengan perkembangan keluarga. Rumah awalnya adalah rumah bujangan kemudian harus mencari tempat tinggal yang lain ketika berkeluarga dan pindah lagi ketika punya beberapa anak. Bisa juga dinamika itu adalah peningkatan status sosialnya. b. Tabungan perumahan dikaitkan dengan kredit dan subsidi. Intinya adalah subsidi pemerintah, tetapi untuk meniadakan efek negatif subsidi tersebut dikaitkanlah dengan sistem simpan pinjam. Seperti yang banyak terjadi subsidi pemerintah bisa menyebabkan inisiatif masyarakat padam, menimbulkan ketergantungan yang tinggi pada pemerintah, tanggungjawabnya kurang dan juga sering disusupi upaya manipulasi untuk dapat subsidi lebih besar. Sistem tabungan dan kredit paling tidak bisa dijadikan alat untuk mengendalikan subsidi. c. Tabungan perumahan untuk memperoleh kredit pemilikan rumah. Ini adalah tabungan anggota masyarakat yang secara sungguhsungguh ingin dan perlu memiliki rumah dan yang benar-benar rumah tersebut akan ditempati. Setelah tabungannya mencapai jumlah tertentu (bisa diatur misalnya 20% dari harga rumah) penabung dapat memperoleh kredit kepemilikan rumah. Dengan demikan jelas bahwa tabungan perumahan bukan tabungan biasa, tetapi suatu jenis tabungan yang dikaitkan dengan masalah pemenuhan kebutuhan tempat tinggal. Tabungan perumahan adalah pengerahan dana yang khusus diperuntukkan mengatasi masalah kebutuhan tempat tinggal masyarakat lapisan menegah ke bawah. Pengerahan dana ini tidak untuk investasi atau usaha lain, tetapi untuk menjamin agar subsidi pemerintah tepat sasaran. Pengaturannya tidak hanya mengenai pengerahan dan penyimpanannya seperti tabungan biasa, tetapi yang lebih penting lagi adalah mengatur penggunaannya. * Pemerhati masalah permukiman, perkotaan dan lingkungan hidup.

10

Edisi 3 Tahun 2011

Tabungan Perumahan
Sri Hartoyo

Penyelenggaraan
tabungan dan deposito, sementara pembiayaan perumahan merupakan jenis pembiayaan jangka panjang; dan (iv) terbatasnya kapasitas pembiayaan perbankan dalam penyediaan dana pokok pembiayaan (landing capacity) dalam pemilikan maupun pembangunan rumah layak dan terjangkau khususnya bagi MBR. Upaya pengerahan dana murah jangka panjang yang sudah dilakukan pada saat ini melalui pembentukan PT (Persero) SMF (Sarana Multigriya Finansial) masih banyak menghadapi kendala, seperti: (i) suku bunga yang diminta investor di pasar modal atas produk sekuritisasi KPR yang dilakukan PT. SMF masih relatif cukup tinggi yang pada umumnya sekitar 200 basis point diatas imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN); (ii) imbal hasil dari SUN sangat dipengaruhi oleh peringkat utang Indonesia (Ba1). Sebagai gambaran pada saat ini imbal hasil atas SUN jangka waktu 19 tahun adalah sebesar 8,17%; dan (iii) Belum signifikannya kebijakan insentif bagi lembaga keuangan khususnya bank untuk melakukan sekuritisasi atas portofolio KPR yang telah diterbitkannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pada saat ini pemerintah telah melakukan terobosan penyediaan kebutuhan dana murah jangka panjang melalui kebijakan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan. Pada sisi demand, sejak bulan Oktober 2010 pemerintah telah meluncurkan kebijakan bantuan pembiayaan rumah sejahtera yang didukung oleh fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang bersumber dari Pos Pembiayaan APBN. Dana ini selanjutnya dicampur dengan dana

P

ada saat ini kebutuhan nasional terhadap penyediaan rumah layak dan terjangkau adalah sangat besar. Berdasarkan data Sensus Penduduk Tahun 2010, jumlah rumah tangga di Indonesia yang belum memiliki rumah adalah sebanyak 13,6 juta Rumah Tangga. Sementara itu, pertumbuhan keluarga baru sekitar 800 ribu setiap tahunnya memerlukan tambahan rumah baru. Dengan demikian, kebutuhan perumahan di Indonesia pada saat ini sesungguhnya sangat besar sekali. Pemenuhan kebutuhan atas rumah tersebut pada dasarnya dapat diselenggarakan dengan berbagai cara, yaitu melalui rumah umum, rumah khusus, rumah negara, dan/atau rumah khusus; yang penghuniannya dapat dengan cara sewa maupun milik sesuai segmentasi kebutuhan yang ada. Untuk penghunian dengan cara milik, upaya pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, diantaranya adalah: (i) rendahnya pendapatan masyarakat yang berdampak kepada terbatasnya daya beli sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR); (ii) Belum terbentuknya praktek penyediaan dana murah jangka panjang bagi pembiayaan perumahan, baik pada sisi permintaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR), maupun pada sisi pasokan untuk kredit konstruksi/modal kerja; (iii) terjadinya maturity mismatch pembiayaan perumahan mengingat pembiayaan perumahan dari perbankan/lembaga pembiayaan pada umumnya berasal dari dana dana jangka pendek seperti

Bank Pelaksana Penerbit KPR melalui mekanisme blended-financing akan menghasilkan KPR dengan suku bunga di bawah dua digit dan tetap (fixed) selama masa pinjaman (tenor). Pada sisi supply, pola blended-financing untuk pembiayaan KPR juga dikembangkan untuk Kredit Konstruksi (KK) pembangunan rumah sejahtera yang spesifikasi teknisnya ditetapkan dengan Peraturan Menteri Perumahan Rakyat. Selanjutnya angsuran KPR yang didukung oleh dana FLPP tersebut akan menjadi dana bergulir untuk mendukung pembiayaan perumahan. Namun mengingat masih sangat besarnya kebutuhan pembiayaan seiring dengan meningkatnya kebutuhan penyediaan rumah yang layak dan terjangkau, maka kebutuhan dana FLPP yang berasal dari Pos Pembiayaan APBN tersebut pada dasarnya masih cukup besar, sementara kapasitas APBN yang terbatas tidak bisa selamanya dijadikan satu-satunya sumber pendanaan murah jangka panjang. Untuk itu, perlu dicari sumber pendanaan pengganti APBN. Urgensi Tabungan Perumahan Berangkat dari latar belakang tersebut, maka keberadaan dana murah jangka panjang merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang merupakan bagian terbesar (80%) dari masyarakat Indonesia. Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang telah beroperasi sejak bulan Oktober 2010 tidak dapat selamanya bergantung dari sumber dana APBN. Solusi sumber dana pengganti APBN dapat terjawab

11

Laporan Utama
apabila kita bisa melembagakan mobilisasi atau pengerahan dana murah jangka panjang melalui penyelenggaraan tabungan perumahan. Pelembagaan tabungan perumahan secara nasional merupakan amanat Pasal 124 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Disamping itu, pengembangan tabungan perumahan secara nasional guna meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau juga merupakan amanat dari Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. Hasil rapat Pembahasan Tahunan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Rancangan Undang Undang Prioritas Tahun 2012 yang telah diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM RI pada tanggal 8-9 November 2012 di Hotel Sahira Bogor menyatakan bahwa RUU Tabungan Perumahan sudah diagendakan dalam Daftar Rekapitulasi Hasil Inventarisasi Usulan Prolegnas RUU Prioritas 2012 di Lingkungan Pemerintah. Konsep Tabungan Perumahan Penyediaan dana jangka panjang untuk pembiayaan perumahan pada dasarnya dapat dilakukan melalui skema tabungan dan/atau pasar modal. Dua model skema tabungan yang banyak digunakan di berbagai negara, adalah tabungan kontraktual (Contractual Savings for Housing-CSH) dan tabungan wajib (Housing Provident Fund - HPF). Sebenarnya HPF pun merupakan suatu bentuk tabungan kontraktual, biasanya contractual savings mengacu pada skema tabungan yang bersifat sukarela, sementara HPF bersifat wajib. Tabungan kontraktual adalah perjanjian antara peserta dan lembaga keuangan, yang nasabah menyatakan komitmennya untuk menyetorkan sejumlah dana tertentu selama suatu periode tertentu yang disebut periode menabung. Setelah akhir periode menabung, dan setelah melalui masa tunggu (waiting period), peserta berhak untuk memperoleh pinjaman dengan jumlah tertentu, yang besarnya disesuaikan dengan besar/ kecilnya tabungan tersebut. Adapun sistem HPF muncul sebagai upaya untuk mengatasi masalah yang timbul dalam perekonomian yang memiliki tingkat inflasi tinggi dan belum memiliki pasar modal yang berkembang. Situasi ini menyebabkan minat masyarakat untuk menabung rendah sehingga menghambat kegiatanIstimewa kegiatan yang memerlukan pendanaan jangka panjang. Dalam hal ini, pemerintah perlu turun tangan untuk meningkatkan kinerja tabungan perumahan dengan menerapkan asas gotong royong, keterjangkauan, keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. HPF merupakan institusi keuangan khusus yang mengumpulkan iuran wajib yang dikumpulkan dari pekerja sektor swasta maupun publik. Iuran yang dikumpulkan merupakan persentase tertentu dari gaji para pekerja, dan biasanya pemberi kerja turut memberikan kontribusi iuran yang besarnya proporsional terhadap iuran pekerja. HPF kemudian mengelola iuran tersebut dan melakukan pemupukan dana melalui berbagai instrumen investasi. HPF biasanya terintegrasi dengan sistem jaminan hari tua, di mana peserta dapat menarik simpanan dan hasil pengembangannya setelah mereka pensiun. Penyiapan Draft Naskah Akademis dan RUU Tabungan Perumahan Pada saat ini telah disiapkan Draft Naskah Akademis dan RUU tentang Tabungan Perumahan dengan tujuan untuk: (i) memberikan landasan penyelenggaraan tabungan perumahan sebagai salah satu sumber pembiayaan murah jangka panjang bagi pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau; (ii) menjadikan tabungan perumahan sebagai acuan bagi kepastian hukum mengenai pemenuhan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam pemenuhan kebutuhan perumahannya; (iii) mewujudkan tanggungjawab negara dalam penyediaan akses pembiayaan perumahan bagi setiap warga negara; dan (iv) menetapkan peran stakeholder dalam membangun skema tabungan perumahan dalam skala nasional. Subtansi Pokok RUU Tabungan Perumahan setidaknya akan meliputi: (i) pengerahan dana tabungan perumahan; (ii) pemupukan dana tabungan perumahan; (iii) pemanfaatan dana tabungan perumahan; dan (iv) kelembagaan tabungan perumahan. Keberadaan Undang-Undang tentang Tabungan Perumahan ini mempunyai posisi yang sangat stratejik untuk melengkapi keberadaan dua Undang-Undang yang terkait sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, dan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. Melalui penyelenggaraan tabungan perumahan ini diharapkan dapat diwujudkan dana murah jangka panjang untuk pembiayaan perumahan yang berbasis kepada kemandirian masyarakat peserta tabungan yang diselenggarakan dan dikelola secara kredibel dan akuntabel yang pada gilirannya dapat mempercepat upaya pemenuhan kebutuhan perumahan secara nasional.
* Deputi Bidang Pembiayaan, Kementerian Perumahan Rakyat

12

Edisi 3 Tahun 2011

Tabungan Perumahan
Istimewa

Menggagas

Rahmat Hidayat umah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dari rumahlah bermula aktivitas manusia. Dalam perspektif Islam dikenal konsep “baity jannaty, “rumahku surgaku”. Dari konsepsi tersebut, rumah mempunyai peran penting dan strategis bagi kehidupan seseorang dan keluarganya. Rumah selain menjadi simbol status sosial ekonomi seseorang, ia juga berperan membentuk watak, akhlak serta kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif. Oleh karena itu, konstitusi dan peraturan perundang-undangan mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, aman, serasi dan teratur. Harus diakui bahwa pembangunan perumahan belum mencapai kondisi ideal seperti diharapkan. Masih banyak rumah tangga yang menempati rumah tidak layak huni dengan dukungan prasarana, sarana lingkungan dan utilitas umum (PSU) yang terbatas dan kurang memadai. Demikian pula jumlah kekurangan rumah

R

(backlog) terus meningkat akibat daya dukung penyediaan rumah baru tidak sebanding dengan pertambahan jumlah rumah tangga baru. Salah satu permasalahan pokok yang dihadapi dalam pembangunan perumahan adalah masalah pembiayaan, yaitu kondisi keuangan negara belum mampu sepenuhnya membiayai pembangunan perumahan. Demikian pula daya beli (affordability) masyarakat masih rendah dan belum mampu menyesuaikan dengan harga pasar perumahan, sehingga mereka tidak dapat memenuhi hak dasar mereka akan rumah layak huni. Disamping itu, perkembangan tingkat suku bunga dan inflasi yang cenderung fluktuatif berpengaruh terhadap sistem pembiayaan perumahan yang pada gilirannya akan memberatkan masyarakat sebagai end-user. Demikian pula, belum terintegrasinya sistem pembiayaan perumahan menyebabkan terjadinya ketidak sesuaian (mismach) pembiayaan, ketika sumber pembiyaan perumahan berjangka pendek digunakan untuk membiayai kredit/pembiayaan perumahan berjangka panjang. Oleh karena itu, perlu digali sumber daya alternatif, antara lain melalui penyelenggaraan tabungan perumahan (TP).

Urgensi dan Potensi TP Dalam pasal 119 UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, dikatakan bahwa sumber dana untuk pemenuhan kebutuhan rumah, perumahan, permukiman, serta lingkungan hunian perkotaan dan perdesaan berasal dari APBN, APBD; dan/atau sumber dana lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam pasal 121 ayat (1) UU tersebut dijelaskan, pemerintah dan/atau pemerintah daerah harus melakukan upaya pengembangan sistem pembiayaan untuk penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman. Dalam pasal 121 ayat (2) dijelaskan, pengembangan sistem pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: lembaga pembiayaan; pengerahan dan pemupukan dana; pemanfaatan sumber biaya; dan kemudahan atau bantuan pembiayaan. Kemudian dalam pasal 123 ayat (1) UU tersebut dikatakan, pengerahan dan pemupukan dana sebagaimana dimaksud dalam pasal 121 ayat (2) meliputi: dana masyarakat; dana

13

Laporan Utama
tabungan perumahan termasuk hasil investasi atas kelebihan likuiditas; dan/atau dana lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kendala dalam pelaksanaan pembangunan perumahan adalah keterbatasan anggaran, masih rendahnya daya beli masyarakat terutama MBR, serta terjadinya ketidak sesuaian dalam pembiayaan perumahan. Sementara UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman mengamanatkan pentingnya pengembangan sistem pembiayaan antara lain melalui pengerahan dan pemupukan dana TP. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka rencana penyelenggaraan TP merupakan keniscayaan serta menemukan relevansi dan urgensinya. Ada beberapa negara telah menyelenggarakan semacam sistem TP. Misalnya Perancis dengan nama Compte D’epargne Logement (CEL) yang diperkenalkan pada tahun 1965 serta Plan D’epargne Logement (PEL) yang diperkenalkan pada tahun 1970 dan sekaligus merupakan bentuk penyempurnaan dari program CEL; Jerman dengan nama “Bauspar”; Singapura dengan model Central Provident Fund (CPF), Malaysia yang dikenal dengan Kumpulan Wang Simpanan Pekerja (KWSP) atau Employees Provident Fund (EPF), RRC dan India dengan nama Housing Provident Fund (HPF); dan Amerika Serika dengan nama Settlement Housing Fund (SHF). Ada beberapa cara dalam menghitung potensi peserta TP ini. Pertama, berdasarkan angka backlog. Sebagai gambaran jumlah penduduk yang tidak punya rumah sebanyak 13,6 juta orang. Kalau kita asumsikan, diantara mereka masuk kriteria miskin (13,2% sementara ditanggung oleh negara), maka peserta potensial dari program TP ini adalah sebanyak 11.832.000 orang (untuk 2010). Jika setiap peserta setiap bulannya menabung Rp. 100.000,-, maka setiap bulan akan terkumpul dana TP sebesar Rp. 1,26 triliun dan setiap tahunnya mencapai Rp. 14,2 triliun. Jika setiap peserta setiap bulannya menabung Rp. 500.000,-, maka setiap bulan akan terkumpul dana TP sebesar Rp. 5,9 triliun dan setiap tahunnya mencapai Rp. 70,1 triliun. Perhitungan lebih rinci dapat dilihat di tabel-1 di bawah ini.
Keterangan Jumlah Nilai Jumlah Dana TP Per Bulan Per Tahun 1 Tahun

ja di sektor formal yang jumlahnya diperkirakan 40 juta dan mereka yang bekerja di sektor informal yang jumlahnya diperkirakan berkisar 100 juta. Kemudian dari kedua kelompok ini dikurangi dengan jumlah pekerja yang penghasilannya dibawah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Berdasarkan asumsi kedua ini, maka potensi peserta program TP juga sangat besar.

Tabel-1: Potensi Tabungan Perumahan
Jumlah TP Tiap Peserta 5 Tahun 10 Tahun 15 Tahun

11.832.000 100.000 1.183.200.000.000 14.198.400.000.000 1.200.000 11.832.000 150.000 1.774.800.000.000 21.297.600.000.000 1.800.000

6.000.000 12.000.000 18.000.000 9.000.000 18.000.000 27.000.000

11.832.000 200.000 2.366.400.000.000 28.396.800.000.000 2.400.000 12.000.000 24.000.000 36.000.000 11.832.000 250.000 2.958.000.000.000 35.496.000.000.000 3.000.000 15.000.000 30.000.000 45.000.000 11.832.000 300.000 3.549.600.000.000 42.595.200.000.000 3.600.000 18.000.000 36.000.000 54.000.000 11.832.000 400.000 4.732.800.000.000 56.793.600.000.000 4.800.000 24.000.000 48.000.000 72.000.000 11.832.000 500.000 5.916.000.000.000 70.992.000.000.000 6.000.000 30.000.000 60.000.000 90.000.000

Berdasarkan hasil exercise sebagaimana tabel-1, maka dapat dilihat: (a) potensi TP sangat besar; (b) pada tahun ke-5 peserta dengan jumlah cicilan tertentu layak mendapatkan fasilitas pinjaman KPR karena nilai tunainya rata-rata sudah lebih dari 30% (tergantung dari harga rumah), dan jumlah nilai tunai setara (equivalen) 30%, maka dapat dijadikan uang muka (down payment) pinjaman KPR. Nilai tunai tersebut masih merupakan “nilai tunai murni” dan akan banyak jika mereka mendapatkan bagian keuntungan dari investasi (pemupukan) dana TP tersebut. Berdasarkan exercise ini pula dapat didesain berapa sebenarnya jumlah iuran tabungan yang wajar yang akan dibebankan kepada peserta agar mereka dapat segera mendapatkan fasilitas pembiayaan KPR. Kedua, menghitung jumlah peker-

Mekanisme Operasional TP Hal penting yang perlu diperhatikan dalam rencana penyelenggaraan TP adalah bagaimana mekanisme operasional dari TP tersebut. Dalam mendisain mekanisme operasionalnya penyelenggaraan dan pengelolaan dana TP, penulis menjadikan penyelenggaraan dan pengelolaan dana haji baik di Indonesia maupun Malaysia sebagai “bench mark”. Hal ini disebabkan karena ada kemiripan dan unsur-unsur yang terlibat di dalamnya secara relatif sama. Sebagai contoh, dalam penyelenggaraan dan pengelolaan dana haji, ada unsur masyarakat (publik), Bank Pelaksana (BP), pemerintah, lembaga pengelola dan objek (program)-yakni haji atau rumah, serta ada unsur investasi untuk pemupukan (pengembangan) dana peserta. Disamping itu, sesuai dengan pasal 121 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan

14

Edisi 3 Tahun 2011

Kawasan Permukiman, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam mendisain mekanisme operasional dari TP tersebut. Pertama, aspek kelembagaan. Bagaimana bentuk kelembagaan yang akan menyelenggarakan program TP ini, apakah akan menggunakan kelembagaan yang ada (existing), atau membuat kelembagaan baru, dan bagaimana hubungan antara lembaga terkait dan apa peran masing-masing lembaga, serta siapa yang akan berperan sebagai regulator, pelaksana dan evaluator. Hubungan kelembagaan dan mekanisme operasional penyelenggaraan TP dapat dilihat pada gambar-1. Kedua, aspek pengerahan dana. Apakah tabungan perumahan ini bersifat sukarela (voluntary) atau wajib (mandatory), terbuka (open) atau tertutup (closed), serta bagaimana mekanisme pengerahan dananya. Ada dua

model tabungan perumahan yang banyak diadopsi di berbagai negara, yaitu tabungan kontraktual (contractual savings) dan Housing Provident Fund (HPF). Tabungan kontraktual adalah suatu bentuk perjanjian antara nasabah dengan sebuah lembaga keuangan, yang nasabah menyatakan komitmennya untuk menyetorkan dana sejumlah tertentu dalam suatu periode tertentu (periode menabung). Setelah melalui masa tunggu (waiting period), nasabah tersebut berhak untuk memperoleh pinjaman dengan jumlah tertentu, yang besarnya disesuaikan dengan besar/kecilnya tabungan nasabah tersebut. Model ini sebenarnya merupakan pengembangan dari sistem mutual building society yang dikembangkan di Inggris pada abad ke-19, ketika sekelompok individu yang ingin memiliki rumah bergabung dan secara rutin menyimpan

sejumlah uang hingga terkumpul cukup uang untuk membangun sebuah rumah yang akan dialokasikan untuk salah satu anggotanya melalui undian. Seluruh anggota kelompok tersebut akan terus menyetorkan uang hingga seluruh anggotanya telah memperoleh rumah. Sistem inilah yang kemudian dikembangkan menjadi tabungan kontraktual yang dijalankan di berbagai negara, antara lain Prancis dan Jerman, dan juga telah banyak diadopsi di kawasan Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika Utara dan beberapa wilayah di Amerika Latin. Terdapat dua sistem tabungan kontraktual, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah sistem tabungan kontraktual yang pesertanya memiliki hak untuk segera mengajukan kredit/pembiayaan setelah masa menabungnya selesai, dan pihak pengelola dapat menggunakan

= Aliran Dana Asal = Aliran Pengembalian Dana (Repayment)

Secondary Mortgage Facilities

Pengadaan Tanah dan Pengelolaan Kawasan

Mengembangkan/ membangun perumahan

Kasiba/Lisiba BS

Rumah Jadi/ Kavling Tanah Matang Pembelian rumah melalui KPR FLPP

Rumah Susun

Rumah Sejahtera Tapak

Rumah Swadaya
Pembangunan perbaikan rumah swadaya melalui KPRS FLPP

Iuran Tabungan Perumahan Pinjaman lunak

PASOKAN
Gambar-1 : Sistem Pembiayaan Perumahan dan Mekanisme Operasional TP

KEBUTUHAN

15

Laporan Utama
sumber-sumber dana di luar simpanan peserta untuk memenuhi kebutuhan dana untuk dipinjamkan kepada peserta. Sedangkan dalam sistem tertutup pengajuan kredit/pembiayaan oleh peserta ditentukan oleh pengelola tabungan berdasarkan urutan dan sumber dana yang digunakan untuk pemberian pinjaman sepenuhnya berasal dari dana tabungan peserta. HPF muncul sebagai respon atas masalah yang timbul dalam perekonomian yang memiliki tingkat inflasi tinggi dan belum memiliki pasar modal yang berkembang. Hal ini telah menyebabkan minat masyarakat untuk menabung rendah, sehingga pada akhirnya menghambat kegiatan-kegiatan yang memerlukan pendanaan jangka panjang. Sistem atau model ini digunakan di Singapura, Malaysia, RRC dan India. Di Indonesia, bagi PNS dan pekerja di sektor formal sebaiknya diterapkan kepesertaan wajib baik bagi mereka yang belum punya rumah maupun yang sudah punya rumah dengan cara memotong gaji/ penghasilan dengan persentase tertentu. Sedangkan bagi mereka yang bekerja di sektor informal sebaiknya diterapkan kepesertaan suka rela baik bagi yang belum punya rumah maupun bagi mereka yang sudah punya rumah. Bagi yang belum punya rumah tentu mereka mendapatkan hak untuk mendapatkan fasilitas pinjaman KPR, sedangkan bagi mereka yang sudah punya rumah, mereka akan mendapatkan dana pengembalian ditambah dengan imbal hasil (keuntungan) dari pemupukan dana TP. Ketiga, aspek pemupukan dana. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam memupuk/mengembangkan dana TP antara lain, yaitu: (1) Dana yang terkumpul diakumulasikan dan digabungkan (blended) dengan dana FLPP dan BP serta digunakan sebagai sumber dana murah untuk pinjaman KPR atau kredit/pembiayaan kontruksi; (2) Kelebihan dana (yang belum digunakan untuk KPR dan pembiayaan kontruksi) dimanfaatkan untuk membiayai produk/ proyek investasi perumahan seperti regulated mortgage loan dan mortgage bond market; (3) Diinvestasikan di sektor lain yang halal dan punya nilai ekonomi tinggi dan menguntungkan (profitable). Keempat, aspek pemanfaatan/ penyaluran dana. Aspek ini harus direncanakan dan didesain secara baik. Misalnya bagaimana penentuan kelompok sasaran, syarat-syarat yang harus dipenuhi, skemanya seperti apa, mekanisme penyaluran (delivery system-nya) dan mekanisme pengendalian seperti apa, serta obyek yang dapat dibiayai oleh dana TP ini berupa pembelian/pembangunan/perbaikan unit rumah pertama? Akad-akad yang Dapat Digunakan dalam TP Penyelenggaraan dan operasionalisasi TP dapat dilaksanakan secara konvensional atau syariah. Terkait dengan penyelenggaraan dan operasionalisasi TP secara syariah, maka perlu diperhatikan akad-akad yang akan dipergunakan. Berdasarkan gambar-1, akadakad yang kemungkinan muncul/ terjadi sekaligus dapat dipergunakan dalam penyelenggaraan dan operasionalisasi dana TP dapat dikelompokkan sebagai berikut: (1) pada saat peserta membuka rekening TP di Bank Pelaksana (BP), maka akad yang dapat dipergunakan adalah akad Wadi’ah atau Mudharabah; (2) kemudian dana TP masyarakat tersebut dipercayakan kepada Pelaksana/Penyelenggara untuk dikelola, maka akad yang dapat digunakan adalah akad Wakalah Bil Ujrah; (3) selanjutnya dana TP tersebut dipupuk (dikembangkan) dalam bentuk blended dengan dana FLPP dan BP untuk selanjutnya disalurkan dalam bentuk: (a) pembiayaan KPR, dapat menggunakan akad Murabahah, Istis’na’, Ijarah AlMuntahiya Bi-Attamlik (IMBT) atau Musyarakah Mutanaqishah (MMQ); (b) pembiayaan konstruksi dengan menggunakan akad Murabahah atau Istisna’; atau (4) diinvestasikan ke sektor/bisnis yang halal (tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan) terutama untuk bidang-sektor yang terkait dengan perumahan atau bidang lain sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan seperti sukuk, obligasi syariah, reksadana syariah, medium term note (MTN). Untuk investasi ini dapat menggunakan akad: Mudharabah, Murabahah, Istis’na’, dan Ijarah. Selanjutnya hasil dari pemupukan(pengembangan) sebagian masuk ke fulling fund dan sebagiannya masuk ke rekening peserta. Dengan demikian, maka dana TP baik yang dalam bentuk fulling fund maupun di masing-masing peserta akan berkembang. Dengan demikian, dana TP ini akan terus berkembang dan peserta akan untung serta akan dapat mendapatkan fasilitas pinjaman untuk perumahan sebagaimana yang diharapkan. Dari berbagai pemikian di atas, TP ini potensinya sangat besar dan dapat dikelola secara konvensional maupun syariah. Dengan demikian, maka penting untuk dilaksanakan. Keberadaan TP ini nantinya diharapkan dapat menjadi sumber alternatif pembiayaan pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia, serta dapat memberikan manfaat dan keuntungan masyarakat khususnya peserta, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasarnya akan rumah yang layak, nyaman dan terjangkau.
* Kepala Bidang Inovasi Pembiayaan Syariah, Asisten Deputi Fasilitasi dan Inovasi Pembiayaan, Kementerian Perumahan Rakyat

16

Edisi 3 Tahun 2011

Peran Tabungan Wajib Perumahan Sebagai Sumber Dana Alternatif Dalam Mengatasi Kekurangan Perumahan di Indonesia
* Margustienny Oemar Ali

B

erdasarkan data BPS di tahun 2010, kekurangan (backlog) perumahan di Indonesia mencapai 13,6 juta unit (perhitungan lain hanya 8 juta – red.) atau setara dengan 22% dari total rumah tangga dengan rincian sebesar 10,32% rumah tangga tinggal di rumah sewa dan 11,68% rumah tangga tinggal di rumah orang tua, rumah dinas dan lainnya.
Rumah Tangga Indonesia berdasar Kepemilikan Rumah (2010)
10.32% Sewa 11.68%

Lainnya:

Pendanaan dan Pembiayaan Pemerintah dan pemerintah daerah mendorong pemberdayaan pendanaan dan sistem pembiayaan yang dimaksudkan untuk memastikan ketersediaan dana dan dana murah jangka panjang yang berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan rumah (Pasal 118 UU 1/2011). Sesuai dengan amanat UU 1/2011 Pasal 119 bahwa sumber dana untuk pemenuhan kebutuhan rumah dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber dana lainnya sesuai ketentuan perundang-undangan.
Mengatasi backlog perumahan dilakukan dengan mengefisienkan rantai pasokan perumahan secara sistemik.

- Tinggal dengan orangtua - Rumah dinas - Lainnya

78.00% Memiliki Rumah
sumber: Badan Pusat Statistik

Kekurangan (backlog) perumahan akan semakin membesar apabila tidak ada upaya yang nyata untuk mengatasi dan pada tahun 2014 diperkirakan akan mencapai 17,9 juta unit. Oleh sebab itu, diperlukan intervensi pemerintah dalam mengatasi kekurangan (backlog) perumahan ini yaitu melalui efisiensi seluruh komponen rantai pasokan perumahan yang salah satunya adalah melalui penyediaan dana murah jangka panjang dengan memberikan stimulan di sepanjang rantai pasokan perumahan terutama perumahan sejahtera. Stimulan yang diberikan dapat berupa pemotongan biaya dana (cost of fund) pembiayaan yang suku bunga dasar kredit (base lending rate) yang diterima oleh masyarakat menjadi lebih rendah daripada suku bunga komersial yang menyebabkan mekanisme pasar dapat bergerak lebih cepat. Stimulan yang diberikan dikemas dalam bentuk produk-produk pembiayaan melalui pembiayaan bersama dengan Lembaga Keuangan terutama Perbankan.

sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

Standar pelayanan untuk setiap pemangku kepentingan

sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

17

Laporan Utama
Pasal 120 UU 1/2011 menyatakan, dana sebagaimana dimaksud Pasal 119 dimanfaatkan untuk mendukung: a. Penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman; dan/atau b. Kemudahan dan/atau bantuan pembangunan dan perolehan rumah bagi MBR sesuai dengan standar pelayanan minimal.

sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

Sumber : UU Nomor 1 Tahun 2011

sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah harus melakukan upaya pengembangan sistem pembiayaan yang meliputi Lembaga Pembiayaan, Pengerahan dan Pemupukan dana, Pemanfaatan sumber biaya dan Kemudahan atau bantuan pembiayaan (Pasal 121). Pemanfaatan sumber biaya digunakan untuk pembiayaan konstruksi, perolehan rumah, pembangunan rumah, rumah umum, atau perbaikan rumah swadaya, pemeliharan dan perbaikan rumah, peningkatan kualitas perumahan dan kepentingan lain di bidang perumahan dan kawasan permukiman (Pasal 125). Kebutuhan Dana Kebutuhan dana untuk membiayai 1,4 juta unit dalam periode 2010 – 2014 dengan asumsi alokasi dana murah sebesar Rp. 34.000.000,00/unit akan membutuhkan dana sebesar Rp. 44.828.784.000.000,00.

Oleh sebab itu, diperlukan pengerahan dan pemupukan dana yang berasal dari sumber lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang–undangan.

Sumber : UU Nomor 1 Tahun 2011

sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

Sedangkan alokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya sebesar Rp. 20.699.494.000.000,00 sehingga terdapat kekurangan dana sebesar Rp. 24.129.290.000.000,00 selama 5 tahun (periode 2010 – 2014), atau sebesar Rp. 4,8 Trilliun per tahun.

Pasal 123 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman mengatur bahwa pengerahan dan pemupukan dana untuk mengembangkan sistem pembiayaan untuk menyelenggarakan perumahan meliputi dana masyarakat, dana tabungan perumahan dan dana lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sehingga dimungkinkan untuk mencari sumber dana lainnya yang berasal dari dana masyarakat, dana tabungan perumahan bahkan dana lainnya seperti dana sosial dari pihak luar baik berupa organisasi skala nasional maupun skala internasional.

18

Edisi 3 Tahun 2011

Tabungan Wajib Perumahan Merupakan tabungan wajib bagi setiap penduduk Indonesia. Sumber dana deposit dapat berasal dari pekerja dan pemberi kerja dengan porsi tertentu dari penghasilan pekerja. Mekanisme penyetorannya dapat menggunakan mekanisme yang dilakukan oleh Jamsostek dalam melakukan pungutan jaminan sosial atau menggunakan mekanisme penyetoran pajak melalui lembaga perbankan menggunakan MPN (Modul Penerimaan Negara). Pengelola Dana Bergulir Perumahan yang dalam hal ini adalah BLU – Pusat Pembiayaan Perumahan Kemenpera akan melakukan investasi terhadap dana ke pasar modal atau surat berharga yang hasil investasinya akan dikembalikan ke peserta dalam bentuk: 1. Tabungan Wajib Perumahan Pertumbuhan dana peserta yang lebih besar daripada tabungan konvensional dan dapat digunakan sebagai Uang Muka atau dicairkan pada saat pensiun. 2. KPR Sejahtera Kekurangan dari mekanisme ini adalah belum mampu untuk melakukan pungutan bagi pekerja informal di Indonesia.

Sedangkan untuk pemberi kerja mendapatkan manfaat kepastian hunian buat pekerjanya, sehingga menjamin kesejahteraan dari para pekerjanya. Potensi Berdasarkan asumsi yang terdapat pada berikut, potensi pendanaan tabungan wajib perumahan minimal (1%) sebesar Rp. 8 Triliun pada tahun 2010 dan maksimal (3%) Rp. 48 Triliun pada tahun 2014.

Sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

Dengan asumsi terdapat kekurangan dana sebesar Rp. 24 Trilliun pada tahun 2014 dan rasio pungutan terhadap potensi sebesar 30%, maka dengan 1% total pendanaan sebesar Rp. 17 Trilliun masih mengalami kekurangan sebesar Rp. 6.3 Trilliun.

sumber: BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

Manfaat Manfaat dari tabungan perumahan dapat dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan industri perumahan sejahtera dengan adanya dana likuiditas pembiayaan perumahan (dana murah jangka panjang) yang berkelanjutan sehingga adanya kepastian stimulan pembiayaan. Manfaat yang dirasakan oleh pekerja adalah adanya fasilitas tabungan yang mendapatkan return (imbal hasil) yang lebih tinggi dari pada produk tabungan yang tersedia, memastikan adanya uang muka untuk pembelian rumah, dan dapat dicairkan pada saat pensiun.

Kekurangan ini dapat diatasi dengan memperbesar porsi (2% - 3%) dari penghasilan namun akan memberatkan pekerja atau dengan cara mencari sumber lain seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yaitu dana masyarakat dan dana lainnya sesuai ketentuan perundangundangan.

*Pemimpin Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pembiayaan Perumahan, Kementerian Perumahan Rakyat

19

Wawancara Khusus

M. Yasin Kara:

“Bapertarum Sekarang Lebih Gampang Prosesnya”
Inforum/Ristyan Mega Putra

Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Bapertarum-PNS) didirikan pada tahun 1993 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil. Selama 18 tahun perjalanannya, Bapertarum-PNS telah membuat beberapa kebijakan dalam upayanya meningkatkan pelayanan kepada para Pegawai Negeri Sipil. Inforum berkempatan untuk mewawancarai M. Yasin Kara Kepala Pelaksana Sekretariat Tetap Bapertarum-PNS disela-sela kesibukannya. Bapertarum-PNS masih memiliki tantangan yang luar biasa karena backlog perumahan untuk PNS masih tinggi. Menurut catatan kami, masih ada kurang lebih 1.3 juta PNS belum memiliki rumah, walaupun tidak Tujuan dari Bapertarum-PNS itu adalah menanggulangi persis sama orang yang tidak memiliki rumah dengan hal yang paling krusial bagi PNS dalam kepemilikan orang yang ingin membeli rumah, antara backlog dengan rumah yaitu down payment (uang muka). Fungsi uang demand itu selalu tidak persis sama, namun jika diambil muka bagi perbankan sangat vital baik secara subtansial 60% diantaranya ingin punya rumah dikalikan dengan 1.3 juta maka akan ada sekitar 780.000 pengelolaan kredit perbankan maupun PNS yang ingin memiliki rumah tetapi terkait peraturan Bank Indonesia. Karena belum dapat memiliki rumah. Seperti PNS itu masuk ke dalam golongan orangyang saya sampaikan sebelumnya, dilihat orang yang berpendapatan tetap atau fix Puncak peran dari signifikansinya, Bapertarum-PNS income rate group cenderung kesulitan Bapertarumsangat signifikan dalam memberikan untuk mengumpulkan dana untuk bantuan. Persoalannya setelah krisis pembayaran uang muka. Sementara itu, PNS bisa dilihat moneter kemarin peran Bapertarum-PNS sebelum krisis uang muka itu dipersyaratkan, dalam benar-benar menurun. Puncak peran kondisi demikianlah Bapertarum- moneter tahun Bapertarum-PNS bisa dilihat sebelum PNS dibutuhkan. Berdasarkan hal itu, 1997 krisis moneter tahun 1997. Itu yang ingin kemudian pemerintah membentuk Badan kita kejar saat ini, tapi masalah lainnya Pertimbangan Tabungan Perumahan-PNS adalah walaupun ada 700-800 ribu PNS berdasarkan pada Keppres Nomor 14 yang ingin memiliki rumah tapi animo Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil. Dalam pelaksanaannya hingga akhir untuk memanfaatkan bantuan Bapertarum-PNS itu kecil. tahun 2011 Bapertarum-PNS telah menyalurkan bantuan Kenapa? Karena pada waktu itu nilai bantuannya juga uang muka kepada 986.059 PNS dan telah melakukan kecil. Oleh karena itu, melalui Permenpera Nomor 12 kewajiban pengembalian tabungan perumahan kepada Tahun 2011 nilai bantuannya dinaikkan menjadi Rp. 15 juta. 1.128.050 PNS di seluruh Indonesia. Alhamdulillah animonya sudah muncul kembali. Berdasar evaluasi yang dilaksanakan terhadap keberadaan Sebenarnya ini tidak bisa didefinisikan sebagai pasar karena Bapertarum-PNS, apakah dianggap keberadaannya sudah ini merupakan program kesejahteraan. Program ini harus cukup membantu para PNS yang berminat memiliki rumah? disosialisasikan kepada PNS, bahwa bantuan tidak lagi hanya satu koma sekian tetapi sudah mampu menutupi Apa saja kendala yang dihadapi? Keberadaan Bapertarum-PNS dimaksudkan untuk memfasilitasi PNS memiliki rumah. Seberapa jauh peran ini berhasil dilaksanakan oleh Bapertarum-PNS?

20

Edisi 3 Tahun 2011

uang muka yang dibutuhkan oleh PNS untuk membeli rumah seharga Rp. 70 juta, Rp. 80 juta bahkan mungkin bisa membeli rumah seharga Rp. 150 juta. Misalnya harga rumah Rp. 150 juta dengan 10% kewajiban maka sama dengan Rp. 15 juta, tapi tergantung dengan kemampuan PNS mencicil. Kendala lainnya misalnya peraturan presidennya belum diubah dan juga pengaturan likuditas yang harus diatur aliran keuangannya sehingga maksimal yang bisa dilayani untuk saat ini hanya 25 hingga 30 ribu PNS per tahun. Tapi kalau iurannya ini sudah berubah menjadi 2.5% dari gaji pokok maka Bapertarum-PNS akan mampu memberikan bantuan untuk sekitar 125 ribu PNS per tahun. Jika demikian saya berharap 8 sampai 10 tahun ke depan masalah perumahan untuk PNS bisa teratasi. Jika dalam pelaksanaan tabungan perumahan ini pemotongan dana yang akan digunakan sangat mudah, bagaimana dalam hal penggunaannya, apakah juga sangat mudah dan memudahkan? Ha...ha...ha...betul itu merupakan pertanyaan yang sangat krusial. Saya ingin jawab jujur. Dia (PNS-red.) harus membuktikan diri sebagai PNS atau membuktikan diri sudah pensiun bahkan dia harus bersungguh-sunguh membuktikan diri sebagai pemilik kartu PNS yang ada kepada channeling Bapertarum-PNS. Kebetulan channeling kita untuk pengembalian adalah Bank Rakyat Indonesia. Memang harus diakui bahwa sistem Bapertarum-PNS sekitar 3 sampai 4 bulan yang lalu sangat parah. Kenapa? Salah satunya karena basis data Bapertarum-PNS belum terbangun dan sebagainya. Cuma sekarang ini Insya Allah mudah-mudahan lebih baik paling tidak sudah lebih gampang-lah. Jadi jika datang ke Bapertarum-PNS tinggal menunjukan...ini KTP saya...ini berkas pendukungnya... kemudian kita samakan dengan data yang kami miliki. Setelah itu, akan kita beritahukan posisi tabungannya di Bapertarum-PNS, kemudian jika setuju dengan posisi tersebut bisa langsung dicairkan, jika tidak baru mengajukan complain. Sekarang juga situs kita sudah bisa melakukan perhitungan posisi iuran PNS. Terkait dengan akan disusunnya Undang Undang Tabungan Perumahan, isu apa saja yang perlu menjadi perhatian atau fokus dalam undang-undang tersebut? Bagi Bapertarum-PNS, isu utama yang seharusnya menjadi perhatian atau fokus dalam Rancangan UndangUndang tentang Tabungan Perumahan Nasional adalah Lembaga Pelaksana Tabungan Perumahan. Secara de jure dan de facto Bapertarum-PNS merupakan satu-satunya

lembaga yang memiliki tugas dan fungsi sepenuhnya dalam menyelenggarakan tabungan perumahan di Indonesia, sehingga diharapkan Bapertarum-PNS dapat ditunjuk dan ditingkatkan statusnya sebagai suatu badan hukum pelaksana dan pengelola Tabungan Perumahan secara nasional. Harapan ini sejalan dengan wacana kebijakan dilakukannya moratorium pembentukan lembaga negara baru yang selama ini telah disampaikan oleh Komisi II DPR-RI. Dan dalam penyiapannya Bapertarum-PNS terlibat bersama-sama dengan Kementerian Perumahan Rakyat dalam memberikan masukan. Bagaimana nantinya sebaiknya keberadaan dan peran Bapertarum-PNS setelah terbitnya undang-undang tersebut? Sesuai dengan jawaban di atas, maka idealnya Bapertarum-PNS dikelola dengan serius, diperlukan supervisori yang sangat ketat dari pemerintah, kehadiran Presiden dan Menteri dalam strukturnya sangat penting. Menteri bisa memberikan masukan-masukan dalam pelaksanaannya. Nah, pada jajaran eksekutifnya harus benarbenar profesional, karena ini mengelola keuangan. Di dalamnya harus ada tertib administrasi, akuntabilitasnya jelas – audit kontrolnya baik, sistem organisasinya jelas, itu sangat penting. Nantinya jajaran eksekutifnya harus mampu mengoptimalkan dana yang ada, harus tahu bagaimana berinvestasi walaupun peran utamanya bukan investasi tetapi melayani para pembayar iuran untuk memperoleh rumah. Boardnya tetap pemerintah, eksekutifnya profesional. (DVD/RMP)
Inforum/Ristyan Mega Putra

21

Wacana

KIP
W

sebagai Investasi Prasarana Dasar Permukiman
Johan Silas dan Rita Ernawati
KIP sebelum perang dilaksanakan (dengan keengganan berat) akibat desakan kalangan oposisi di parlemen sejalan dengan politik etis yang saat itu berlaku. Elemen KIP hanya aspek sanitasi yang menggunakan penutup saluran pematusan sebagai jalan setapak. Di beberapa kampung Surabaya, hasil KIP pada waktu itu masih dapat dilihat. KIP pada awal Orde Baru dilakukan karena hendak membawa pembangunan kota secara nyata sampai di depan pintu masuk rumah warga di kampung yang merupakan bagian paling tertinggal di sebuah kota. Jakarta walau tidak ikut melaksanakan KIP sebelum perang menguasai sumber dana cukup besar hingga dapat melaksanakan KIP secara komprehensif. Sedangkan Surabaya menghadapi kesulitan dalam menyediakan dana
Alokasi Dana KIP-K Bergulir (70%) - Pinjaman Bergulir Hibah (30%) - Peningkatan SDM - Perbaikan Lingkungan

alau upaya perbaikan kampung telah dilakukan sejak zaman pemerintahan kolonial (Surabaya-Semarang mengawali tahun 1924), tetapi dalam perjalanannya tersendat karena keterbatasan dana pemerintah. Namun kota Surabaya melanjutkan dengan keikut-sertaan warga setempat. Ketika Jakarta dan Surabaya melakukan perbaikan kampung (Kampung Improvement Programme = KIP) akhir dasawarsa enam-puluhan, terdapat prinsip yang sangat beda dengan yang dilakukan zaman kolonial yaitu perubahan dari pendekatan humanis ke pembangunan. Masih ada satu kesalahpahaman yang terus bergulir yaitu kampung tidak dilihat sebagai upaya pengadaan rumah melalui proses inkrimental yang mandiri. Perbaikan kampung merupakan bentuk partisipasi oleh pemerintah kepada upaya besar yang sebelumnya telah dilakukan warga setempat. Never in human history has so many done so much with so little…. sebagai gambaran sebuah kampung.
dok. Lab. Perumahan dan Permukiman, Arsitektur ITS

untuk KIP sehingga pelaksanaan harus melibatkan warga setempat untuk mengkonstruksi bahan yang disediakan pemerintah kota. Hal ini secara nyata menguatkan keterlibatan warga dalam meningkatkan mutu prasarana dasar permukiman di kampungnya. KIP Menuju Keberlanjutan Ketika Bank Dunia mengikutkan Surabaya (1976) bersama Jakarta (1974) untuk melanjutkan KIP, terdapat perbedaan yang nyata antara apa yang dilakukan di Jakarta dengan Surabaya. Perencanaan KIP di Surabaya sepenuhnya memakai pendekatan community based. Mulai penentuan prioritas kampung yang akan diperbaiki sampai bagian kampung yang akan ditangani diputuskan bukan oleh pemerintah kota. Warga dengan didampingi kalangan perguruan tinggi (ITS) melakukan proses perencanaan bersama pemerintah kota. Sedangkan di Jakarta pendekatan yang dilakukan lebih pada target oriented sesuai standar yang ditetapkan, kurang melibatkan masyarakat.

22

Perbaikan Jalan Kampung yang Dilakukan dengan Program KIP Wilayah Kebalen.

i (BUM omor n Mandir Usaha adan hukum i 2002 b i Bina operas berdasarkan tanggal 15 Me ntasi K 2 n me didirika 02.4.13/V/200 dari imple ya taa 4 n 31/BH/ an bentuka sif Kota Surab a saat k g en merupa KIP Kompreh bertahan hing telah n M kegiata 2 yang masih , koperasi BU kuali0 0 hun 20 ga tahun 201 at baik secara saat ta g es ini. Hin ang cukup p Jumlah anggo adaya b w . berkem pun kuantitas (Kelompok S g dilan u tas ma apai 64 KSW 29 orang ya ncapai i menc engan total 4 igulirkan me dana in d ri gd Warga), lah dana yan hun 2010 da tahun i. Jum ada ta .000; pada ;p yan 79.000 .929 i adalah Rp. 40.4 esar Rp. 24 yang dilayan k pertu eb an awal s ntuk pinjam usaha dan un perasi 002. Be untuk modal inventaris ko a ba2 up ini an aik ber s konpinjam umah. Saat r n juta b ta baikan ncapai ratusa peralatan. A perasi e o n telah m kantor maupu an prestasi K ebagai s d ngunan pelaksanaan penghargaan restasi tensi erima operasi Berp n sis K lah me BUM te (KSU) Lomba I ya. Juara Suraba Kota Tingkat

Kisah S

ukse

i BUM operas ) yang s KIP - K

Edisi 3 Tahun 2011

la KIP, mulai berkembang menjadi KIP Komprehensif yang melibatkan masyarakat melalui pemberdayaan yang terorganisir. Pola pembiayaan berubah dengan adanya dana bergulir yang dikelola oleh koperasi, yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui stimulan pinjaman modal usaha. Koperasi memberikan pinjaman secara berkelompok yang disebut Kelompok Swadaya Warga (KSW)

secara fisik mampu menunjukkan hasil namun tidak dapat bertahan lama. Ego setiap program untuk menonjolkan hasil masing-masing, dan banyaknya lembaga yang dibentuk serta tidak adanya koordinasi dengan program yang telah ada membuat program tersebut tidak berlanjut secara efektif. Yang sering dilupakan dari esensi program KIP adalah pendekatan kemanusiaan (humanis) yang tidak bertumpu pada standar kaku (target oriented) dan kepemilikan proyek yang tidak jelas. KIP dan Investasi Perumahan Apakah KIP dari sisi pemerintah merupakan investasi Perumahan? KIP sebenarnya menjadikan rumah yang belum layak menjadi rumah yang layak. KIP di Surabaya, tidak memberi ganti rugi atas bagian kampung yang harus dibebaskan agar implementasi fisik terlaksana (menggusur sebagian lahan warga), membuat investasi sebesar $ 1 dapat mencapai hasil antara $ 5 sampai $ 7 dalam bentuk prasarana yang baik dan layak untuk dinikmati masyarakat luas. Bila yang dihitung rumah layak yang dihasilkan nilainya cukup besar, dan tanpa menyulitkan pemerintah. Kondisi paradoksal justru muncul karena dana untuk KIP sangat kecil dibandingkan dengan dana yang disediakan untuk membantu pembangunan rumah baru. KIP di Surabaya bertransformasi menjadi program kampung unggulan (generasi ketiga) menekankan pada pembentukan masyarakat yang mandiri secara mantap dan berkelanjutan, tentu dengan lingkungan kampung yang baik. Program perbaikan kampung sudah tidak dapat lepas dari pembangunan kota secara umum umum. Di kota Surabaya, pembangunan penghijauan yang dilakukan secara intensif dan program kompetisi di bidang lingkungan, telah memicu perbaikan kampung secara swadaya

Eksistensi Koperasi BUM sangat membantu masyarakat berpenghasilan rendah Kelurahan Kupang Krajan

dok. Lab. Perumahan dan Permukiman, Arsitektur ITS

Dari segi pembiayaan, kegiatan KIP di Jakarta mengelola dana yang lebih besar hampir dua kali dana alokasi untuk Surabaya. Dua per tiga dari alokasi dana KIP Surabaya digunakan untuk perbaikan jalan setapak. Sedangkan yang terjadi di Jakarta adalah sebaliknya, termasuk 70% dana digunakan untuk membangun jalan mobil beraspal. Hal ini kemudian membuka peluang rumah kampung di Jakarta dikuasai oleh pemodal sehingga kampung berangsung-angsur menghilang hingga nyaris tidak tersisa. Seiring dengan perkembangan po-

dengan sistem “tanggung renteng”, dimana sistem ini akan meminimalisir tunggakan karena tunggakan anggota KSW akan menjadi tanggungan seluruh anggota kelompok. Secara umum, sistem ini cukup berhasil dengan indikasi berkembangnya koperasi hasil bentukan KIP Komprehensif hingga saat ini. Konsep KIP Komprehensif secara nasional dilakukan dengan pola yang sama melalui beragam kemasan dan nama seperti P2KP, NUSSP, Peningkatan Kualitas Kampung, Bedah Kampung. Program-program tersebut

23

Wacana
oleh masyarakat. Kesadaran masyarakat tidak serta merta muncul, tanpa adanya pembinaan yang dilakukan melalui program KIP. Integrasi antara pembangunan kota dan kebutuhan masyarakat untuk berkembang dilakukan melalui penyediaan fasilitas sesuai karakteristik kehidupan kampung. Penyediaan taman kota yang dapat diakses secara luas masyarakat, mampu mengakomodasi kebutuhan sarana hiburan yang murah bagi warga kampung. Pemberdayaan pasar tradisional yang melayani warga kampung (baik sebagai pembeli maupun pedagang) dilakukan agar dapat berdampingan secara setara dengan mini-market. KIP yang Meng-Global Program KIP di Surabaya telah mendapat pengakuan dari dunia internasional. Tercatat tiga penghargaan telah diperoleh dari upaya perbaikan kampung yaitu The Aga Khan Awardfor Architecture (1986), The UNEP Award (1990), dan The Habitat Award (1991). Dengan keberhasilan tersebut, program KIP Komprehensif mulai ditiru untuk diimplementasikan di wilayah lain (Solo, Pekalongan). Thailand dengan program Baan Mankong yang dikelola oleh CODI (Community Organization Development Institute) juga belajar dari KIP Indonesia, bahkan berhasil lebih baik karena besarnya dukungan pemerintah. Keberhasilan Program KIP harus dilihat secara integral terhadap pembangunan kota. Kampung yang merupakan bagian urat nadi kehidupan kota harus diberdayakan agar dapat menopang perkembangan pembangunan yang semakin pesat. Masyarakat (manusia) merupakan obyek utama pembangunan yang menentukan berhasil tidaknya pembangunan kota secara jangka panjang. Pendekatan pembangunan kampung yang bertumpu pada masyarakat terbukti mampu secara luas memberikan

Kondisi Kampung Perkotaan di Surabaya; Kampung Maspati (atas) Kampung Gundih (bawah)

dok. Lab. Perumahan dan Permukiman, Arsitektur ITS

dok. Lab. Perumahan dan Permukiman, Arsitektur ITS

dampak yang besar terhadap stabilitas kehidupan kota, sehingga masyarakat memiliki sarana aktualisasi untuk membentuk manusia yang cerdas dan beradab.

Johan Silas, Pakar Perumahan Permukiman-ITS Surabaya Rita Ernawati, Peneliti Laboratorium Perumahan PermukimanITS Surabaya

yang Kebe Meng r -Glob Kraja hasilan KIP n te Komp al r menj adi ru utama Ko rehensif di Kup negar jukan peras pemb a lain un bagi daer i BUM t ang elah ah lai tuk m erday bang unan aan masy enerapka n bahkan . Hal nya k araka n sis t i peme unjungan ni terbuktit dalam p em studi rintah dari b emdalam band dae any rus ko dan luar rah dan a ing beber akneger apa kadem peras untuk i. i bertu juga men Selain itu isi baik rapa dapa kar pen p Habit eristiwa i pengalam t kesempa guan pa ntern at D tan ay d Kamb i Ban asional di da bebeoja. antar gkok Thaila anya nd d an

KIP

24

Edisi 3 Tahun 2011

Penerapan Mortgage
alah satu kesulitan utama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam membeli rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah kemampuannya yang rendah dalam menyediakan uang muka 15-30% dari harga jual rumah. Dari kacamata perbankan, semakin besar uang muka yang dapat disediakan calon debitur, maka semakin nyaman perbankan memberikan KPR. Hal ini disebabkan dua hal. Pertama, semakin besar uang muka yang dapat disediakan calon debitur, semakin besar pula kemauan debitur untuk melunasinya, sehingga kemungkinan kredit macet akan semakin kecil. Kedua, semakin besar uang muka yang dapat disediakan oleh calon debitur, semakin rendah pula perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR), sehingga semakin kecil pula modal yang harus disediakan bank untuk memenuhi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio, CAR). Tetapi dari sudut pandang MBR, masalah penyediaan uang muka tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Ironisnya, ketika uang muka tersebut terkumpul, katakanlah dengan cara menabung selama 5 tahun, ternyata harga rumah sudah naik 100%. Saat ini, setidaknya ada tiga macam pendekatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterjangkauan uang muka ini (affordable down payment). Pertama, melalui mekanisme subsidi. Kelemahan dari kebijakan ini adalah adanya keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah dalam menyediakan dana subsidi. Kedua, melalui mekanisme tabungan uang muka. Kelemahan dari kebijakan ini adalah tingginya tingkat inflasi dan laju kenaikan harga rumah di In-

S

Mewujudkan Keterjangkauan Perumahan
Kreshnariza Harahap
donesia. Kedua hal tersebut dapat menggerus nilai dari tabungan yang terkumpul. Ketiga, melalui penerapan Mortgage Insurance (MI). Melalui MI ini diharapkan bank akan masih merasa nyaman memberikan KPR dengan uang muka yang cukup rendah, katakanlah sebesar 5%, karena sebagian risiko (maksimum 25%) sudah dipindahkan (risk transfer) kepada pihak perusahaan asuransi/penjamin. Akibatnya eksposur risiko yang dihadapi bank hanyalah sebesar 70%, sesuai dengan ambang batas dalam prinsip kehati-hatian bank (prudential banking). Definisi Secara umum terdapat empat kelompok asuransi yang sudah berkembang di dunia dalam hal pembiayaan perumahan, yakni mortgage protection insurance, property (hazard) insurance, mortgage insurance, dan title insurance (Merril, 2003). Untuk dua jenis asuransi yang terakhir saat ini belum ada di Indonesia. Perbedaan mendasar antara mortgage protection insurance dan mortgage insurance adalah asuransi perlindungan hipotik (mortgage protection insurance) ini memberikan perlindungan bagi debitur terhadap nilai KPR apabila ia tidak dapat melaksanakan kewajiban pembayaran angsuran akibat kematian, cacat, kehilangan pekerjaan akibat terkena pemutusan kerja, atau menderita penyakit yang kritis. Sedangkan asuransi hipotik (mortgage insurance) adalah jenis asuransi yang memberikan perlindungan kreditur dari risiko kemacetan kredit

Insurance Sebagai Alternatif
(default) dari debitur atas pembelian rumah dengan uang muka yang relatif rendah. Memandang hubungan para pihak dalam mekanisme mortgage insurance ini yang terdiri dari tiga pihak (kreditur, debitur, dan lembaga penjamin/asuransi), maka dapat dikatakan bahwa definisi yang tepat untuk mortgage insurance sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia adalah Penjaminan KPR (mortgage guarantee). Untuk membedakannya dengan penjaminan kredit seperti Penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di mana lingkup penjaminannya (coverage) sekitar 70%, maka istilah mortgage insurance dapat disebut sebagai Penjaminan Uang Muka KPR (PUM KPR), untuk lebih membedakan dan memudahkan pemahamannya. Skim dan Mekanisme Pada prinsipnya PUM KPR ini ditujukan agar perbankan masih merasa tetap nyaman untuk memberikan KPR dengan uang muka yang lebih rendah, sehingga realisasi akad kredit dari debitur yang berasal dari MBR dapat lebih cepat untuk mengurangi risiko kenaikan harga. Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1, walaupun perbankan memberikan kredit senilai 95% dari harga rumah, tetapi potensi risiko kredit macet yang di-

25

Wacana
hadapi oleh perbankan hanya sebesar 70% dari nilai rumah karena sisanya sudah ditanggung oleh debitur sebesar 5% dan oleh Perusahaan Asuransi/ Penjaminan sebesar 25%. Tentu pihak Perusahaan Asuransi/Penjamin akan meminta premi tertentu sebagai imbal jasa penjaminan yang telah diberikan. Masa pertanggungan dari perusahaan asuransi/penjamin atas PUM KPR ini adalah sejak ditandatanganinya akad KPR oleh debitur hingga rasio perbandingan antara nilai KPR dan nilai rumah, atau dikenal rasio LTV (loan to value), turun kurang dari 70%. Adapun nilai pertanggungan maksimum dari perusahaan asuransi/penjamin adalah 25% dari nilai rumah, yaitu selisih antara uang muka KPR yang ideal (30%) dan kemampuan debitur MBR menyediakan uang muka KPR (5%). Untuk sementara ini perhitungan Imbal Jasa Penjaminan (IJP) dalam PUM KPR diperkirakan sekitar 1-1,5% dari nilai rumah dan dibayar sekaligus oleh debitur di depan (single bullet payment). Rendahnya perkiraan IJP dalam PUM KPR ini dibandingkan Program Penjaminan KUR disebabkan nilai pertanggungan yang lebih rendah, masa pertanggungan yang lebih pendek, dan adanya rumah sebagai jaminan (collateral). Sehingga MBR cukup menyediakan uang 6-6,5% dari harga jual rumah untuk bisa menandatangani akad KPR. Peluang dan Tantangan Peluang pasar dari produk PUM KPR ini justru ada pada MBR dengan penghasilan maksimum Rp 2,5 juta. Namun, belajar dari krisis subprime mortgage yang telah menggoncangkan perekonomian Amerika Serikat dan dunia, maka penerapan PUM KPR ini perlu dilakukan secara hatihati. Beberapa rekomendasi dalam penerapannya. Pertama, untuk tahap awal mortgage insurance ini dapat diterapkan secara terbatas kepada MBR yang berasal dari PNS dan TNI/Polri. Hasil penelitian atas kinerja KPR Bersubsidi yang lalu menunjukkan tingkat non performing loan (NPL) dari kedua jenis debitur tersebut cukup rendah dibandingkan jenis debitur lainnya. Mungkin 10-15 tahun lagi, setelah diperoleh past historical data atas kinerja mortgage insurance ini terbentuk, maka MI ini dapat diperluas keikutsertaannya kepada MBR berpenghasilan tidak tetap. Kedua, untuk tahap awal PUM KPR ini dapat diterapkan untuk menjamin KPR Sejahtera dalam Program FLPP. Pengalaman krisis subprime mortgage di Amerika Serikat membuktikan bahwa debitur KPR suku bunga tetap (fixed rate mortgage, FRM) mengalami kemacetan kredit relatif lebih rendah, walaupun dari sisi bank jenis FRM ini berpotensi untuk mengurangi tingkat keuntungannya saat terjadi kenaikan suku bunga pasar. Potensi penyalahgunaan PUM KPR untuk aksi spekulasi memborong properti juga dapat terhindari karena syarat calon debitur FLPP adalah MBR yang belum memiliki rumah. Yang terakhir, pasar KPR Sejahtera yang sudah terjamin ini juga dapat menarik minat perusahaan asuransi untuk memasuki bisnis penjaminan ini. Ketiga, penyertaan dana dari debitur masih diperlukan minimum sebesar 5-10% untuk uang muka KPR di samping adanya penjaminan uang muka ini. Peniadaan sama sekali uang muka akan menimbulkan moral hazard dari debitur karena kurangnya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap rumah tersebut. Akibatnya potensi terjadinya kredit macet akan semakin tinggi. Ditinjau dari sisi regulasi asuransi, potensi penerapan PUM KPR ini tidak akan menemui masalah karena sudah dipayungi dalam PMK Nomor 124/PMK 010/2008. Penerapan PUM KPR ini hanyalah masalah diversifikasi dan inovasi produk asuransi kredit. Kendala yang dihadapi dalam penerapan PUM KPR justru ada pada sisi perbankan, baik regulasi maupun pelakunya. Saat ini belum ada insentif perhitungan ATMR bagi bank dalam menggunakan PUM KPR ini. Pihak bank juga masih ragu menerapkan PUM KPR ini karena pasar utamanya adalah MBR yang dipersepsikan masih kurang layak KPR. Padahal adanya PUM KPR ini memungkinkan bank melakukan diversifikasi produk karena sisa kelebihan uang muka debitur dapat dialihkan untuk produk bank lainnya. Untuk itu kombinasi pemberian insentif perhitungan ATMR dari Bank Indonesia dan penerapan terbatas PUM KPR pada PNS dan TNI/ Polri diharapkan menumbuhkan minat bank menerapkannya. Penjaminan Uang Muka KPR (mortgage insurance) dapat dijadikan sebagai alternatif dan dapat mendukung kebijakan tabungan perumahan karena cocok dengan karakter ekonomi Indonesia yang memiliki tingkat inflasi yang cukup tinggi dan fluktuatif. Melalui penerapan Penjaminan Uang Muka ini realisasi akad KPR oleh MBR dapat dipercepat untuk mengunci harga rumah dari kemungkinan kenaikannya. Namun penerapan Penjaminan Uang Muka ini perlu dilakukan secara hati-hati, yaitu dengan tetap mempersyaratkan uang muka paling sedikit 5-10%. Penerapan PUM KPR saat ini belum dapat diterapkan bagi MBR dengan penghasilan tidak tetap karena belum terbentuknya past historical data yang mendukungnya. Memang tidak ada satu jenis obat yang dapat menyembuhkan semua jenis penyakit; wallahualam…!
* Kepala Bidang Pembiayaan Sekunder Perumahan, Asisten Deputi Pendayagunaan Sumber Pembiayaan, Kementerian Perumahan Rakyat

26

Edisi 3 Tahun 2011

Kajian Tabungan Perumahan dalam

Rangka Pembentukan Undang-undang Tabungan Perumahan

R

umah sebagai kebutuhan dasar tahun dan beberapa negara seperti Hungaria, Ita Kurniasih setiap manusia, merupakan porsi negara-negara Baltik serta Kazakhstan juga pengeluaran terbesar dari setiap rumah tangga. telah berkembang lebih dari 20% per tahun. Sebagai contoh di USA, biaya untuk sewa rumah dan Namun kondisi pasar kredit perumahan di Indonesia biaya sarana utilitas sebesar 20-30 persen dari pengeluarlebih mengenaskan dibandingkan dengan negara berkeman personalnya. Kemudian setiap tahunnya biaya tersebut bang lainnya, kontribusi kredit pemilikan rumah (KPR) akan terus meningkat dan jumlah permintaan juga akan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, masih terus meningkat sejalan dengan tingkat pertumbuhan sangat rendah - hanya sekitar 2% karena segmen pasarnya penduduk setiap negara. masih sangat kecil dibandingkan dengan sektor lainnya. Pembiayaan perumahan akan mempengaruhi perkemBeberapa alasan mengapa tingkat kredit rumah di bangan ekonomi karena rumah berkaitan dengan penegara-negara berkembang lebih kecil daripada di negara ngeluaran konsumsi (consumption expenditure). Pembimaju antara lain tidak stabilnya kondisi makro ekonomi ayaan perumahan juga merupakan bagian dari pasar yang mengakibatkan tingginya tingkat inflasi dan keuangan baik domestik maupun global. Tingkat volatilitas serta tingkat suku bunga. Disamping kredit atas rumah dari waktu ke waktu terus kondisi makro ekonomi, penyebab lainnya adameningkat khususnya pada negara-negara lah lemahnya sistem hukum yang tidak dapat maju yang kredit pemilikan rumahnya sebesar melindungi kepentingan peminjam dan lebih 1/3 dari Produk Domestik Bruto (PDB). luas lagi tidak dikembangkannya infrastruktur Sebagai contoh di USA, pada tahun 1984, atas perumahan dan pembiayaan perumahan kredit rumah sebesar 1/3 dari PDB USA, rasio serta kurangnya pengaturan pembiayaan peruini meningkat sebesar 74% pada tahun 2005. mahan di bidang perbankan dan pasar modal. Kemudian Australia, Belanda, Irlandia dan Spanyol Oleh karena itu, rumah berperan dalam siklus mengalami peningkatan tingkat kredit atas rumah setiap bisnis karena rumah sebagai aset dan bersifat sensitif tahunnya sebesar 20% sejalan dengan perkembangan yang berarti jika ada perubahan dalam hal tingkat suku ekonomi dan tingkat suku bunga pasar yang semakin bunga atas rumah maka akan berpengaruh besar pada rendah. tingkat pasokan dan permintaan atas rumah tersebut. Sebaliknya, kondisi di negara berkembang, tingkat Sebagai contoh di USA, penurunan tingkat suku bunga pasar kredit atas rumah masih rendah, berada di bawah dihasilkan dari kombinasi kebijakan antara Central Bank 10% dari PDB. Sebagai contoh pasar kredit rumah di Chi- Amerika dan tingkat permintaan dana yang rendah dari na, yang dimulai pada awal tahun 1990an, telah berkemkalangan bisnis (lower demand for fund by businesses) yang bang setiap tahunnya lebih dari 40%, mencapai 11% dari menyebabkan permintaan rumah meningkat. Sebaliknya, PDB nya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Sama hal nya jika penurunan disebabkan dari sisi keuangan, seperti dengan China, di India telah berkembang sebesar 30% per hilangnya kepercayaan dalam sektor keuangan atau di-

dok. Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

27

Wacana
sebut liquidity crunch, menyebabkan tingkat suku bunga tinggi dan/atau ketersediaan dana rendah kemudian sektor perumahan akan semakin buruk. Hal ini disebabkan karena karakter dari investasi di bidang perumahan merupakan investasi jangka panjang dan membutuhkan modal besar. Disamping itu, pembangunan perumahan juga akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan karena memiliki efek ganda terhadap pertumbuhan ekonomi dan wilayah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah, serta penciptaan lapangan kerja. Penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman di Indonesia masih dihadapkan pada tiga permasalahan pokok yaitu keterbatasan penyediaan rumah, meningkatnya jumlah rumah tangga yang menempati rumah yang tidak layak huni dan tidak didukung oleh prasarana, sarana lingkungan dan utilitas umum yang memadai, serta permukiman kumuh yang semakin meluas. Salah satu faktor permasalahan tersebut disebabkan belum tersedianya dana murah jangka panjang perumahan dan masih rendahnya akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat khususnya masyarakat berpenghasilan menengah-bawah. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Terbitnya UU 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman membawa harapan baru, termasuk bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sekurangnya terdapat tiga butir penting dari undang-undang ini. Pertama, adanya pernyataan tegas mengenai hak setiap warga negara atas perumahan sebagaimana diatur dalam Pasal 19. Terdapat pasal yang mengatur tentang kewajiban pemerintah provinsi untuk mencadangkan dan menyediakan tanah bagi perumahan MBR antara lain diatur dalam Pasal 17 dan Pasal 126. Kedua, terdapat pengakuan bahwa penyelenggaraan perumahan adalah tanggung jawab negara yang pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Hal ini menekankan bahwa pembangunan perumahan dan permukiman tidak terlepas dari pembangunan di daerah, perkotaan ataupun pedesaan. Pembagian tugas dan wewenang pemerintah dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman tersebut tetap mengacu kepada kewenangan otonomi daerah. Ketiga, sistem pembiayaan menjadi bagian penting dari pembangunan perumahan dan kawasan permukiman. Dalam undang-undang perumahan tersebut terdapat pasal yang secara eksplisit menyatakan bahwa ketentuan mengenai tabungan perumahan diatur tersendiri dengan undang-undang. Penekanan aspek pembiayaan perumahan dalam UU 1/2011 merupakan suatu kemajuan dan bertujuan untuk menciptakan pasar perumahan yang lebih efisien, yang ditandai dengan tersedianya dana perumahan jangka panjang dalam jumlah cukup dan harga yang terjangkau. Salah satu jawaban untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan membangun tabungan perumahan berskala nasional. Melalui pengerahan dana dalam jumlah besar, skema tabungan perumahan dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat dan mendekatkan akses masyarakat yang berpenghasilan menengah dan rendah ke sistem pembiayaan perumahan. Di berbagai negara, tabungan perumahan menjadi pilar utama pembiayaan perumahan dan bahkan mewarnai mobilitas dana di dalam sistem keuangan dan perbankan di negara tersebut. Tabungan Kontraktual (Contractual Saving) Tabungan kontraktual merupakan pengembangan dari sistem mutual building society yang dikembangkan di Inggris pada abad ke-19, ketika sekelompok individu yang ingin memiliki rumah bergabung kemudian secara rutin dan sukarela menyimpan sejumlah uang hingga terkumpul cukup uang untuk membangun sebuah rumah yang akan dialokasikan untuk salah satu anggotanya melalui undian. Seluruh anggota kelompok tersebut akan terus menyetorkan uang hingga seluruh anggotanya telah memperoleh rumah. Sistem inilah yang kemudian dikembangkan menjadi tabungan kontraktual yang dijalankan di berbagai negara, antara lain Perancis dan Jerman, dan juga telah banyak diadopsi di kawasan Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika Utara dan beberapa wilayah di Amerika Latin. Menurut Lea dan Renaud, tabungan kontraktual adalah suatu bentuk perjanjian antara nasabah dan sebuah lembaga keuangan, yang nasabahnya menyatakan komitmennya untuk menyetorkan dana sejumlah tertentu selama suatu periode tertentu (periode ini disebut periode menabung). Setelah akhir periode menabung, dan setelah melalui masa tunggu (waiting period), nasabah tersebut berhak untuk memperoleh pinjaman dengan jumlah tertentu, yang besarnya disesuaikan dengan besar/kecilnya tabungan nasabah tersebut. Menurut Dubel, pada dasarnya sistem tabungan kontraktual merupakan dua produk keuangan yang terdiri dari produk tabungan dan opsi kredit. Dengan demikian, pada prinsipnya tabungan kontraktual sama dengan tabungan biasa yang dapat diambil setiap saat, namun hak untuk memperoleh pinjaman dan premi bunga biasanya dikaitkan dengan batas minimum periode menabung. Selain itu, pihak pengelola tabungan kontraktual juga dapat menolak pencairan tabungan, jika dana cadangan tidak mencukupi. Hal ini membuat produk

28

Edisi 3 Tahun 2011

tabungan kontraktual yang secara de jure adalah dana jangka pendek berubah menjadi dana tabungan jangka panjang secara de facto. Terdapat dua sistem tabungan kontraktual yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah sistem tabungan kontraktual ketika peserta memiliki hak untuk segera mengajukan kredit setelah masa menabungnya selesai, dan pihak pengelola dapat menggunakan sumber dana di luar simpanan peserta untuk memenuhi kebutuhan dana untuk dipinjamkan kepada peserta. Sedangkan dalam sistem tertutup pengajuan kredit oleh peserta ditentukan oleh pengelola tabungan berdasarkan urutan, dan sumber dana yang digunakan untuk pemberian pinjaman sepenuhnya berasal dari dana tabungan peserta.

Housing Provident Fund Sistem HPF muncul sebagai tanggapan atas masalah yang timbul dalam perekonomian yang memiliki tingkat inflasi tinggi dan belum memiliki pasar modal yang berkembang. Situasi ini menyebabkan rendahnya animo masyarakat untuk menabung sehingga pada akhirnya akan menghambat kegiatan-kegiatan yang memerlukan pendanaan jangka panjang. Sistem ini digunakan di Singapura, Malaysia, Republik Rakyat Cina (RRC), dan India. HPF merupakan institusi keuangan khusus yang mengumpulkan iuran wajib yang dikumpulkan dari pekerja sektor swasta maupun publik. Iuran yang dikumpulkan merupakan proporsi tertentu dari gaji para pekerja, dan pemberi kerja turut memberikan kontribusi iuran yang besarnya proporsional dengan iuran pekerja. HPF kemudian mengelola iuran tersebut dan melakukan pemupukan dana melalui berbagai instrumen investasi. HPF biasanya terintegrasi dengan sistem jaminan hari tua, ketika peserta dapat menarik simpanan dan hasil pengembangannya setelah Provident Fund: mereka pensiun. Namun HPF Contractual Saving juga memberikan beberapa manfaat yang biasanya dapat Bersifat iuran sukarela dinikmati peserta sebelum Berlaku untuk seluruh masyarakat masa pensiun, misalnya: Dibayarkan secara rutin oleh masyarakat setiap • Menarik sebagian dana bulan untuk membayar uang Tidak ada kontribusi/iuran rutin dari pihak lain muka rumah (biasanya selain masyarakat/nasabah penabung dibatasi hanya untuk Sebagai produk lembaga keuangan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan rumah. rumah pertama) atau Hubungan hukum bersumber dari perjanjian antara merenovasi rumah, atau nasabah dengan lembaga keuangan • Menerima pinjaman Gabungan antara produk tabungan dan produk kredit sehingga terjadi perubahan sifat dana kepemilikan rumah tabungan dari dana yang bersifat jangka pendek jangka panjang dengan berubah menjadi dana tabungan bersifat jangka bunga rendah, baik dari panjang (locked up)

lembaga pengelola HPF maupun dari lembaga peminjam lainnya. Dalam rangka pengembangan tabungan perumahan, saat ini yang telah dilaksanakan adalah skema bantuan perumahan bagi pekerja – seperti halnya Housing Provident Fund sedangkan tabungan kontraktual untuk perumahan belum ada di Indonesia. Skema bantuan perumahan bagi pekerja yang telah terinternalisasi cukup lama adalah skema bantuan perumahan bagi PNS yang dilaksanakan oleh Bapertarum PNS berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1994. Pembentukan tabungan perumahan untuk pegawai negeri sipil tersebut dilatarbelakangi dengan terbatasnya kemampuan pegawai negeri sipil untuk membayar uang muka pembelian rumah dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah atau KPR. Institusi ini berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil untuk memiliki rumah yang layak. Pengumpulan dana dilakukan melalui pemotongan gaji PNS namun tidak ada kontribusi dari negara sebagai pemberi kerja. Pemotongan gaji tersebut sudah dilakukan sejak tahun 1993 sampai dengan yang bersangkutan berhenti bekerja, yang disebabkan pensiun, meninggal dunia, atau sebab-sebab lain. Dana yang dihimpun akan digunakan sebagai dana pengembangan dan dana digulirkan. Dana pengembangan akan diinvestasikan dan digulirkan serta disalurkan untuk realisasi bantuan dana dari Bapertarum. Dana pengembangan dikelola sebesar 60% oleh Departemen Keuangan dan dana digulirkan dikelola sebesar 40% oleh Bapertarum. Bapertarum memberikan beberapa manfaat kepada PNS yaitu berupa bantuan uang muka KPR atau bantuan pembangunan rumah bagi PNS yang memiliki tanah
Housing Provident Fund
Bersifat iuran wajib Berlaku bagi pekerja di sektor swasta maupun publik Dibayarkan melalui pemotongan secara otomatis dari gaji pekerja setiap bulan Adanya kontribusi dari pemberi kerja setiap bulan selain iuran bulanan dari pekerja Sebagai bentuk perlindungan kesejahteraan bagi pekerja untuk mendapatkan rumah. Hubungan hukum bersumber dari hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerja Terintegrasi dengan sistem jaminan hari tua

29

Wacana
berdasarkan golongan PNS, yaitu golongan I sebesar Rp. pelaksanaan tabungan perumahan di Indonesia hingga 1,2 juta, golongan II sebesar Rp. 1,5 juta dan golongan saat ini masih memiliki kendala baik dari sisi legal basisIII sebesar Rp. 1,8 juta. Selain itu, mendapat manfaat nya yang hanya didasarkan pada keputusan presiden. Di tambahan bantuan dana uang muka dengan tingkat suku sisi lain sistem pengelolaan dana tabungan perumahan bunga 6% per tahun yang disesuaikan dengan jangka tersebut belum tersalurkan secara optimal karena sistem waktu yaitu untuk golongan I sebesar Rp. 13.800.000,-, administrasinya tidak terintegrasi secara utuh. Kendala golongan II sebesar Rp. 13.500.000,- dan golongan III lainnya besarannya iuran tabungan perumahan bagi pesebesar Rp. 13.200.000,-. Sehingga total bantuan yang gawai negeri sipil dari tahun 1993 hingga saat ini sangat diterima PNS adalah Rp. 15.000.000,- (Lima Belas Juta kecil dimana untuk golongan I sebesar Rp. 3000/bulan, Rupiah). Selain bantuan tersebut, manfaat dana Bagolongan II sebesar Rp. 5000/bulan dan golongan III pertarum tersebut akan dikembalikan kepada PNS yang sebesar Rp. 7.000,- serta golongan I sebesar Rp. 10.000,-/ bersangkutan – yang berhenti bekerja karena pensiun, bulan. Padahal harga rumah dari tahun ke tahun selalu meninggal dunia atau sebab lainnya dengan syarat selama meningkat, saat ini harga rumah sejahtera tapak bersubPNS tersebut aktif belum pernah memansidi telah naik 1.000 persen menjadi Rp faatkan bantuan perumahan. 70 juta per unit. Sementara besaran uang Selain Bapertarum, di kalangan pekerja Pengaturan tabungan muka rumah sederhana sehat rata-rata perumahan melalui sebesar 20% dari harga jual rumah. Kenswasta telah ada pelaksanaan bantuan peundang-undang rumahan dari program Jamsostek. Program dala lainnya adalah tabungan perumahan akan menjadi Jamsostek memberikan perlindungan berupa yang berlaku hanya difokuskan kepada payung hukum yang kalangan PNS baik di tingkat pusat mauempat program, yang mencakup Program komprehensif dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan pun daerah. integratif Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Pengaturan tabungan perumahan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) melalui undang-undang akan menjadi bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya. Pengadaan payung hukum yang komprehensif dan integratif mengperumahan tidak merupakan bagian dari tugas pokok atur semua upaya pengerahan, pemupukan dan pemanJamsostek sesuai dengan peraturan perundang-undangan. faatan dana tabungan masyarakat untuk kepentingan Namun demikian, PT Jamsostek (Persero) memiliki perumahan. Skema tabungan perumahan akan menjadi program untuk membantu pekerja dalam pengadaan bagian integral dari sistem pembiayaan perumahan yang rumah, dengan memanfaatkan sebagian dari keuntungan bertujuan untuk menyediakan dana jangka panjang daperusahaan. Pemanfaatan keuntungan perusahaan terselam jumlah cukup dan harga terjangkau, khususnya bagi but digunakan melalui pemberian Pinjaman Uang Muka masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Perumahan (PUMP) untuk peningkatan Kesejahteraan Kunci utama yang harus ditentukan terlebih dahulu peserta dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan dalam pengaturan undang-undang tabungan perumahan melalui fasilitas KPR dari perbankan. PUMP ini akan adalah menentukan jenis tabungan perumahan apa yang diberikan kepada Tenaga Kerja yang telah memenuhi akan diterapkan di Indonesia apakah Housing Provident persyaratan dengan jumlah maksimal yaitu sebesar Rp. Fund atau Contractual Saving Housing. Karena tidak ada 20.000.000,- untuk penyaluran lewat perbankan dan di satu negara pun yang menggabungkan kedua jenis Rp. 15.000.000,- untuk penyaluran biasa. Tingkat suku tabungan tersebut dengan mengingat karakternya berbeda bunga yang dikenakan oleh PUMP sangat ringan, yaitu atas kedua jenis tabungan tersebut. Dengan mengingat sebesar 3% per tahun dan berlaku secara flat. Jangka bahwa tabungan perumahan yang telah dilaksanakan waktu PUMP maksimal 5 tahun dan tipe rumah yang di Indonesia lebih kepada skema housing provident fund mendapat dukungan PUMP-Jamsostek maksimal sampai bagi para pekerja publik maka disarankan pengaturan dengan rumah sederhana. rancangan undang-undang tentang tabungan perumahan mengarah kepada konsep Housing Provident Fund. SeTantangan dangkan bagi contractual saving karena karakternya yang Berdasarkan praktek yang telah terjadi dan dengan bersifat suka rela bagi masyarakat yang ingin menabung melihat kecilnya bantuan perumahan yang diperoleh dimasukkan sebagai ekstensifikasi produk perbankan dePNS melalui Bapertarum tersebut serta skema bantuan ngan membuat program tabungan khusus perumahan. perumahan bagi pekerja swasta yang telah dilakukan * Staf Biro Hukum dan Kepegawaian, melalui Jamsostek hanya sekedar program pemanfaatan Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat hasil keuntungan PT. Jamsostek – maka dapat dikatakan

30

Edisi 3 Tahun 2011

Perumahan yang Layak Sebagai Hak Asasi Manusia
Susi Dwi Harijanti sidering all of the relevant circumstances. No legislation may permit arbitrary evictions. Dalam skala internasional hak atas perumahan yang layak terdapat dalam Pasal 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang menjelaskan ‘Everyone has the right to a standard of living adequate for the health and well-being of himself and his family, including .... housing’. Selanjutnya, Pasal 11 Kovenan Internasional Hakhak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) menyatakan ‘…the right of everyone to an adequate standard of living for himself and his family, including adequate food, clothing and housing...’. Pengakuan hak atas perumahan yang layak juga terdapat dalam berbagai instrumen hukum internasional, misalnya, Konvensi Hak-hak Anak, Konvensi Penghilangan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, dan Konvensi Penghilangan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Hak atas perumahan yang layak dalam DUHAM dan KIHESB harus dipahami dalam kaitan dengan hak atas standar kehidupan yang layak untuk kesehatan dan kesejahteraan (the right to a standard of living adequate for health and well-being). Bahkan dikatakan bahwa hak atas standar kehidupan yang layak ini merupakan inti dari hak-hak sosial (social rights). Guna memenuhi hak atas standar kehidupan yang layak dibutuhkan hak-hak lanjutannya, yakni hak atas makanan dan nutrisi yang layak, hak atas sandang, hak atas perumahan yang layak serta hak atas perlindungan. Aspek-aspek Kunci Komisi Hak Asasi Manusia PBB (United Nations High Commissioner for Human Rights) – sekarang telah berubah menjadi Dewan Hak Asasi Manusia PBB (Human Rights Council) – melalui Fact Sheet Nomor 21/Rev 1 menjelaskan beberapa aspek kunci hak atas perumahan yang layak, yaitu:

Sketsa oleh Wiryadi Sabdatama

S

ecara nasional dan internasonal, hak atas perumahan yang layak (the right to adequate housing) telah diatur dalam berbagai instrumen hukum. Di Indonesia, misalnya, hak atas perumahan diatur dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa ‘setiap orang berhak…bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat…’. Pasal 40 UU Nomor 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia juga menegaskan bahwa ‘setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak’. Di negara lain, misalnya, Afrika Selatan, hak tersebut diatur secara lebih tegas dalam Pasal 26 Konstitusi 1996 dengan mengatakan: Everyone has the right to have access to adequate housing. The state must take reasonable legislative and other measures, within its available resources, to achieve the progressive realization of this right. No one may be evicted from their home, or have their home demolished, without an order of court made after con-

31

Wacana
1. Hak atas perumahan yang layak mengandung kebebasan, yang meliputi: a. Perlindungan terhadap pengusiran secara paksa dan penghancuran rumah secara sewenang-wenang; b. Hak untuk bebas dari gangguan sewenang-wenang terhadap rumah seseorang, privasi dan keluarga; c. Hak untuk memilih tempat tinggal, menentukan dimana akan tinggal serta kebebasan bergerak. 2. Hak atas rumah yang layak mengandung hak-hak, yang meliputi: a. Jaminan waktu menempati; b. Penggantian rumah, tanah dan milik lainnya; c. Persamaan dan non-diskriminasi untuk memperoleh akses terhadap rumah yang layak; d. Ikut serta dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perumahan dalam tingkat masyarakat dan skala nasional. 3. Perumahan yang layak harus terdiri atas lebih dari empat dinding dan atap. Agar dapat dikategorikan sebagai perumahan yang layak, harus dipenuhi beberapa kriteria, yaitu: a. Jaminan waktu menempati. Disebut tidak layak apabila penyewa tidak mendapatkan perlindungan hukum terhadap pengusiran sewenang-wenang, ancaman, dan lain-lain. b. Ketersediaan pelayanan, fasilitas dan infrastruktur. Disebut tidak layak jika tidak tersedia fasilitas air minum, sanitasi yang baik, energi untuk memasak, listrik, penyimpanan makanan, dan lain-lain. c. Kemampuan. Tidak layak jika harganya tidak dapat dijangkau secara wajar. d. Lingkungan yang baik dalam arti perumahan berada dalam lingkungan yang melindungi dari dingin, panas, hujan dan ancaman lain yang berbahaya bagi kesehatan. e. Keterjangkauan. Perumahan yang layak harus mampu dijangkau oleh kelompok berkebutuhan khusus atau kelompok yang termarginalisasi. f. Lokasi yang berarti perumahan yang layak tidak boleh mematikan kesempatan bekerja, jauh dari fasilitas kesehatan, sekolah dan pusat-pusat pelayanan sosial lainnya atau berlokasi di area yang memiliki polusi tinggi atau area yang berbahaya. g. ’Ramah’ budaya. Tidak layak apabila perumahan tidak menghormati identitas budaya. 4. Perlindungan terhadap pengusiran paksa atau sewenang-wenang Secara umum, ketentuan-ketentuan hukum internasional menganjurkan agar pemerintah mencari berbagai alternatif yang memungkinkan sebelum akhirnya melakukan tindakan pengusiran. Dengan demikian, penggunaan kekerasan dapat dihindarkan atau diminimalkan. Jika pengusiran harus dilakukan, maka kepada mereka yang terkena akibatnya harus disediakan jaminan prosedur atau mekanisme, yang meliputi: a. Kesempatan melakukan konsultasi; b. Pemberitahuan yang layak dan wajar; c. Ketersediaan informasi mengenai rencana pengusiran dalam waktu yang wajar; d. Kehadiran aparat pemerintah atau wakilnya selama proses pengusiran berlangsung; e. Petugas yang melakukan pengusiran harus memiliki identitas yang jelas; f. Pengusiran dilarang dilakukan di waktu malam hari atau pada cuaca yang buruk; g. Ketersediaan ganti rugi yang memadai; h. Ketersediaan bantuan hukum bagi mereka yang akan menuntut secara hukum. Dalam praktek, menurut Komisi hak Asasi Manusia PBB terdapat beberapa kesalahan konsepsi dalam memahami hak atas perumahan yang layak ini. Kesalahankesalahan tersebut berupa: 1. Bahwa hak atas perumahan yang layak tidak membutuhkan negara atau pemerintah membangun rumah untuk keseluruhan lapisan masyarakat. Kesalahan umum berkaitan dengan hak ini adalah negara membangun rumah-rumah untuk masyarakat dan mereka yang tidak punya rumah secara otomatis dapat meminta rumah pada negara atau pemerintah. Meskipun negara dalam hal-hal tertentu membangun perumahan, namun hal ini tidak berarti negara harus menyediakan rumah untuk seluruh masyarakat. Negara umumnya berperan sebagai fasilitator dan regulator, terutama, bagi kelompok rentan, larangan pengusiran paksa, pencegahan terjadi ‘homelessness’, dan menjamin bahwa perumahan yang ada layak ditinggali. Kesemuanya ini dilakukan melalui peraturan, kebijakan ataupun penetapan prioritas. 2. Hak atas perumahan yang layak tidak hanya berupa tujuan program-program yang dicapai dalam jangka panjang. Kesalahpahaman yang lain atas hak ini yakni bahwa negara tidak dibebani kewajiban langsung. Sebaliknya, hak atas perumahan yang layak mengharuskan negara melakukan segala usaha secara maksimal melalui sumber daya yang dimiliki untuk merealisasikan hak atas perumahan yang layak dan melakukan tindakan-tindakan bertahap tanpa melakukan penundaan. 3. Hak atas perumahan yang layak tidak melarang pem-

32

Edisi 3 Tahun 2011

bangunan yang dapat memindahkan masyarakat. Jika pemindahan harus dilakukan untuk pembangunan, maka pemindahan tersebut harus didahului melalui konsultasi dengan mereka yang terkena dampak. 4. Hak atas perumahan yang layak tidak sama dengan hak milik. Kadang-kadang terjadi kekhawatiran bahwa hak atas perumahan yang layak dapat ’mengenyampingkan’ hak milik. Hak atas perumahan yang layak lebih luas dari hak milik karena hak ini tidak berkaitan dengan kepemilikan. Hak ini merujuk pada hak tiap orang atas lingkungan yang aman untuk tinggal, termasuk untuk mereka yang tidak mempunyai hak milik. 5. Hak atas perumahan yang layak tidak sama dengan hak milik atas tanah. Akses terhadap tanah merupakan suatu hal yang fundamental dalam rangka pemenuhan hak atas perumahan yang layak. 6. Hak atas perumahan yang layak termasuk jaminan akses terhadap pelayanan yang memadai. Hak atas perumahan yang layak tidak hanya berarti struktur rumahnya sendiri harus layak, melainkan juga meliputi berbagai macam akses yang layak dalam kaitan dengan fasilitas kesehatan, keamanan, air minum, fasilitas mencuci, drainase, dan lain-lain. Kebijakan Nasional Perumahan dan Permukiman Kebijakan nasional perumahan dan permukiman pada dasarnya dilandasi oleh tiga dasar kewajiban negara yang meliputi: 1. Kewajiban menghormati (obligation to respect) Kewajiban ini membutuhkan negara menahan diri baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kaitan dengan ‘penikmatan’ hak ini. Misalnya, negara harus menahan diri untuk tidak melakukan pengusiran paksa, membatasi akses terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya untuk menikmati hak ini, dan lain-lain. 2. Kewajiban melindungi (obligation to protect) Kewajiban ini mengharuskan negara melakukan pencegahan terhadap pihak ketiga yang mungkin menghalangi pemenuhan hak atas perumahan yang layak. Negara harus membentuk peraturan perundang-undangan, melakukan tindakan ataupun langkah-langkah lain yang menjamin bahwa sektor swasta harus tunduk pada standar-standar HAM yang berkaitan dengan hak atas perumahan yang layak. Negara, misalnya, menyediakan aturan-aturan untuk pemajuan dan perlindungan hak atas perumahan yang layak, jaminan bahwa bank dan lembaga-lembaga keuangan lainnya tidak melakukan diskriminasi dalam pembiayaan perumahan, menjamin bahwa pihak

ketiga menyediakan sarana-sarana dasar yang penting bagi perumahan yang layak, menjamin bahwa pihak ketiga tidak dengan sangat mudah mencabut pelayanan-pelayanan dasar yang berkaitan dengan perumahan yang layak, serta menjamin bahwa sektor swasta tidak melakukan pengusiran paksa. Di Afrika Selatan, kewajiban perlindungan ini kemudian diwujudkan dalam pembentukan undangundang yang melindungi jaminan menempati rumah tinggal bagi kelompok yang rentan terhadap pengusiran. Dalam undang-undang tersebut ditentukan kriteria dan prosedur yang harus dilaksanakan saat pengusiran dilakukan. 3. Kewajiban memenuhi (obligation to fulfil) Kewajiban pemenuhan ini mengharuskan negara membuat undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya, anggaran, penegakan hukum dan tindakantindakan lain dalam rangka pemenuhan. Negara, misalnya, harus membuat kebijakan perumahan nasional atau perencanaan perumahan secara nasional, menentukan maksud dan tujuan pembangunan sektor perumahan dengan menitikberatkan pada kelompokkelompok yang termaginalkan dan kelompok rentan lainnya, mengidentifikasi sumber-sumber yang tersedia yang penting bagi pencapaian tujuan, dan menyediakan subsidi perumahan bagi kelompok-kelompok yang tidak mampu. Kapan dan Bagaimana Pemenuhan Hak? Muncul beberapa pertanyaan berkenaan dengan hak atas perumahan yang layak ini. Pertama; kapan pemenuhan terhadap hak atas perumahan yang layak dapat ditegakkan? Atau dalam kalimat Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan sebagai ‘when the right can be positively enforced’. Kedua; apakah hak atas perumahan yang layak merupakan hak yang justiciable, artinya apakah pemenuhan hak ini dapat dilakukan dengan cara memerkarakan melalui pengadilan? Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan pada putusan yang dikeluarkan tahun 2000 telah menjawab kedua pertanyaan tersebut di atas dalam perkara yang sangat terkenal, yaitu Government of the Republic of South Africa and others v Grootboom and others (2001 (4) SA 46 (CC). Secara ringkas, fakta-fakta perkara ini berkaitan dengan adanya 900 orang (anak dan dewasa) yang hidup dalam lingkungan yang sangat menjijikkan. Mereka kemudian pindah ke sebuah gedung kosong milik perorangan yang berada diseberang jalan tempat semula mereka tinggal. Suatu hari, pemilik gedung hendak meruntuhkan bangunan. Dengan dukungan dewan kota, pemilik gedung mendapatkan surat perintah pengadilan

33

Wacana
untuk meruntuhkan gedung. Mereka tidak mungkin kembali ke lokasi lama karena di lokasi tersebut telah ditempati orang lain. Salah satu penghuni gedung, yaitu Irene Grootboom membawa perkara ini ke Pengadilan karena adanya jaminan perumahan yang layak dalam Konstitusi. Pada sidang awal, pengacara Pemerintah memberikan beberapa tawaran, yaitu akses tanah, bahanbahan bangunan serta akses beberapa kebutuhan atau pelayanan dasar. Penghuni menerima tawaran tersebut, namun ternyata Pemerintah tidak memenuhi janjinya. Oleh karena itu, penghuni mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi untuk mengeluarkan ’perintah’ yang memaksa Pemerintah memenuhi janjinya. Dalam putusan akhir, Mahkamah Konstitusi mengeluarkan dua ’declaratory order’ yang menyatakan: Pertama; ‘a specific order addressing the breach by the government of its agreement with the Wallacedene community that required its reinstatement.’ Kedua; ‘a general order declaring (1) that section 26(2) requires the state to devise and implement a program to progressively implement the right to access to housing, (2) that the program must include measures that provide for people in crisis situations, and (3) that the program currently in place falls short of constitutional requirements.’ Pelajaran paling berharga dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut adalah bahwa pemenuhan hak atas perumahan yang layak dapat dilakukan dalam situasi dimana sumber daya terbatas serta pemenuhan dalam situasi krisis (in crisis). Bagaimana di Indonesia? Sebagaimana telah disebutkan di atas, hak atas perumahan yang layak telah dijamin dalam UUD 1945 dan dengan demikian menjadi hak konstitusional (constitutional rights) dan UU Nomor 39 Tahun 1999. Sebagai salah satu pemenuhan melalui undang-undang, pada tahun 2011, DPR bersama-sama Pemerintah telah menyetujui RUU Perumahan dan Kawasan Permukiman menjadi UU Nomor 1 Tahun 2011 dan mulai berlaku pada tanggal 12 Januari 2011. UU ini menggantikan UU Nomor 4 Tahun 1992 yang dipandang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, pembentukan UU ini sejalan dengan komitmen Indonesia sebagai bagian masyarakat internasional yang telah menyepakati Agenda 21 dan Deklarasi Habitat II. Lebih esensil, Penjelasan Umum UU ini menyatakan bahwa salah satu kekhususan yang diatur adalah keberpihakan negara kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Pertanyaan terpenting setelah adanya berbagai jaminan Konstitusi dan UU tersebut adalah kapan dan bagaimana pemenuhan hak atas perumahan yang layak? Pengalaman Afrika Selatan seharusnya memberi pelajaran yang berharga bagi Indonesia. Pengakuan hak atas perumahan yang layak sebagai hak konstitusional membawa konsekuensi kemungkinan terjadinya gugatan pemenuhan hak tersebut. Salah satu pasal yang potensil digugat yakni Pasal 41 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2011 yang menyatakan: ‘Pembangunan rumah negara diselenggarakan berdasarkan pada tipe dan kelas bangunan serta pangkat dan golongan pegawai negeri di atas tanah yang sudah jelas status haknya’. Pertanyaan yang jelas adalah apakah pembedaan tipe dan kelas bangunan yang didasarkan pangkat dan golongan tidak bersifat diskriminatif? Seharusnya ukuran yang digunakan adalah rumah yang layak bagi kemanusiaan, tanpa didasarkan pada pangkat dan golongan tertentu, melainkan pada dasar ‘human dignity’ atau martabat kemanusiaan. Selanjutnya, apakah pembedaan tersebut tidak bertentangan dengan asas keadilan dan pemerataan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU 1/2011? Ketentuan Pasal 129 yang mengatur hak perorangan dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan juga dapat dikaitkan dengan Pasal 41 ayat (1) di atas. Secara ringkas, terdapat persoalan ketika mengkaitkan ketentuan Pasal 129, Pasal 41 ayat (1) dan Pasal 2. Saat ini, telah ada pemahaman bersama bahwa hak asasi manusia bersifat indivisible dan interdependent. Praktek di beberapa negara menunjukkan bahwa pemenuhan hak-hak asasi manusia dapat dilakukan melalui pengadilan yang mengambil berbagai bentuk dan cara, sebagaimana ditunjukkan oleh kasus Grootboom, dengan menyatakan: ‘The question is therefore not whether socio-economic rights are justiciable underour Constitution, but how to enforce them in a given case. This is a very difficult issue which must be carefully explored on a case-by-case basis’. Pemenuhan hak atas rumah yang layak akan menghadapi berbagai kesulitan. Indonesia harus belajar dari pengalaman negara-negara lain saat mereka melakukan kewajiban-kewajiban dasar negara dalam upaya pemenuhan. Kesulitan-kesulitan seharusnya tidak membuat para pemangku kepentingan menjadi tersandera. Budlender, mengutip pendapat Professor Charles Black, meneguhkan: ‘When we are faced with the difficulties of “how much”, it is often helpful to step back and ask not “What is the whole extent of what we are bound to do?” but rather, “What is the clearest thing we ought to do first?’
* Staf Pengajar Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran

34

Edisi 3 Tahun 2011

Istimewa

Pembiayaan Perumahan Kawasan Kumuh di Perkotaan di Indonesia
yang Terjangkau bagi Masyarakat

P

ningkatan. Pada akhir tahun 2004, ermasalahan perumahan di Natalia Pertiwi Ginting kawasan kumuh seluas 54.000 Ha perkotaan yang semakin komyang dihuni oleh sebanyak 17,2 juta pleks akibat laju urbanisasi yang meningkat dari tahun ke tahun menjadi salah satu rumah tangga meningkat menjadi 57.800 Ha pada tahun faktor penyebab sulitnya penanganan kawasan kumuh di 2009, dan diperkirakan luasan kumuh semakin bertambah perkotaan. Terkonsentrasinya penduduk di area perkotaan di tahun-tahun berikutnya (Rencana Strategis Kementemenambah beban perkotaan dalam penyediaan rumah. rian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014). Dalam upaya mendukung pencapaian target rencana Harga lahan di perkotaan yang melaju pesat pada akhirnya berimplikasi pada peningkatan harga rumah yang semakin pembangunan nasional jangka panjang tahun 2005-2025 tidak terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang antara lain adalah memenuhi kebutuhan masyarakat (MBR). Akibatnya, semakin banyak masyarakat yang tidak terhadap rumah layak huni dan mewujudkan kota tandapat menghuni rumah yang layak di perkotaan tinggal di pa kawasan kumuh (cities without slums), maka penting bagi pemerintah untuk meningkatkan akses masyarakat kawasan kumuh (slum area). Pemerintah telah mengembangkan berbagai kebijakan kawasan kumuh terhadap dukungan dan bantuan pemuntuk mengatasi masalah penyediaan rumah layak huni biayaan perumahan. Peningkatan akses tersebut dapat bagi masyarakat kawasan kumuh (slum dwellers), seperti diwujudkan melalui pengembangan kebijakan terkait pemyang terkait dengan peremajaan/penataan kawasan ku- biayaan perumahan secara lebih efektif. Dengan demikian, muh, pembangunan rusunawa, bantuan pembiayaan pe- rumah layak huni dan terjangkau yang disediakan pemerumahan baik untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), rintah diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh renovasi, atau pembangunan rumah baru secara swadaya. masyarakat yang masih tinggal di kawasan kumuh. Akan tetapi, kebijakan perumahan yang telah dikembangPenyediaan dan Pembiayaan Rumah Layak Huni kan saat ini masih belum efektif dalam meningkatkan bagi Masyarakat kawasan Kumuh akses masyarakat kawasan kumuh terhadap rumah layak Upaya penanganan kawasan kumuh yang efektif mehuni. Sebagian besar dukungan dan bantuan pembiayaan perumahan yang disediakan pemerintah belum dimanfaat- merlukan pemahaman terhadap karakteristik masyarakat kawasan kumuh. Kemiskinan dan urbanisasi pada dasarnya kan secara optimal oleh masyarakat kawasan kumuh. Pertumbuhan kawasan kumuh kian mengalami pe- merupakan faktor utama pemicu keberadaan masyarakat

35

Wacana
kawasan kumuh di perkotaan di Indonesia. Masyarakat ka- masyarakat kawasan kumuh, misalnya dalam pembangunwasan kumuh tinggal di rumah tidak layak huni yang pada an dan pengelolaan rusunawa, penataan dan peremajaan umumnya bertempat di lokasi yang berbahaya, tidak memi- kawasan kumuh. liki prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) yang memadai, Pemikiran ke Depan namun dekat dengan pusat kegiatan ekonomi. Pada umumHingga saat ini pemerintah telah menyusun kebijakan nya, mereka bekerja di sektor informal yang tidak memerlukan tingkat keahlian dan pendidikan yang tinggi untuk pembiayaan perumahan, khususnya dukungan dan banbisa bertahan hidup di perkotaan. Mengingat karakteristik tuan pembiayaan perumahan bagi MBR. Terkait dengan pendapatan mereka yang rendah, tidak tetap, dan harian, upaya mewujudkan cities without slums di tahun 2025 semereka memiliki akses yang sangat terbatas terhadap pem- suai dengan arahan RPJPN, maka sebaiknya pemerintah biayaan perumahan formal. Padahal, sebenarnya terdapat mulai fokus mengembangkan kebijakan pembiayaan perumasyarakat kawasan kumuh yang memiliki jumlah peng- mahan yang diarahkan pada peningkatan akses masyarakat kawasan kumuh terhadap dukungan dan bantuan pembihasilan yang cukup untuk mengangsur rumah sejahtera. Secara garis besar, terdapat dua kategori masyarakat ayaan perumahan bagi MBR. Beberapa kebijakan perlu kawasan kumuh di perkotaan. Kita dapat menemui dimodifikasi agar lebih responsif terhadap dinamika sosial masyarakat kawasan kumuh yang merupakan penduduk dan ekonomi masyarakat kawasan kumuh. Fasilitas penjaminan dan asuransi KPR asli (tinggal di suatu kota lebih dari 20 tahun) perlu dikembangkan kembali khusus bagi namun mereka tidak memiliki sertifikat tanah masyarakat kawasan kumuh. Mekanisme peyang jelas karena lahan yang mereka miliki merupakan lahan warisan yang dibagi-bagi. Pertumbuhan nyaluran dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) perlu mengakomodasi keSelain itu, terdapat masyarakat kawasan kukawasan akses masyarakat kawasan kumuh muh yang merupakan imigran dan menyewa kumuh kian mudahan KPR. Tabungan perumahan perlu terhadap rumah yang dibangun pihak lain secara swadaya. Kategori masyarakat kawasan kumuh yang mengalami segera dilembagakan dan dioperasionalisasimemiliki karakteristik berbeda antara yang peningkatan. kan dengan mempertimbangkan karakteristik sosial dan ekonomi masyarakat kawasan kusatu dengan yang lain tentu memerlukan dumuh. kungan atau bantuan pembiayaan perumahan Di samping itu, terdapat beberapa hal lain yang berbeda pula yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan kebijakan pembiayaan peru- yang perlu dipikirkan ke depan dalam pengembangan pembiayaan perumahan bagi masyarakat kawasan kumuh. mahan. Pengembangan pembiayaan perumahan juga seharus- Penyaluran dukungan dan bantuan pembiayaan perumahnya didukung dengan implementasi proyek pembangun- an melalui dana stimulan bagi pembangunan perumahan an perumahan layak huni bagi masyarakat kawasan ku- swadaya, program penataan/peremajaan kawasan kumuh muh yang efektif. Fenomena yang sering terjadi adalah (slum upgrading), bantuan rehabilitasi sosial daerah kumuh masyarakat kawasan kumuh tidak merasa betah tinggal di harus lebih efektif dalam meningkatkan akses masyarakat rusunawa yang disediakan pemerintah dan mereka kemba- kawasan kumuh terhadap rumah layak huni. Pembiayaan li ke kawasan kumuh. Efektivitas penyediaan rumah layak perumahan yang dapat menghubungkan lembaga keuangan huni dan terjangkau bagi masyarakat kawasan kumuh formal dan informal (linkage program) perlu segera dikemdipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yaitu faktor bangkan dan diintegrasikan dengan aspek fisik, sosial, dan budaya atau konteks lokal, lokasi penyediaan rumah, dan ekonomi yang terkait penanganan kawasan kumuh. Hal ini tentunya juga harus diikuti dengan penguatan kapasitas aspek kelembagaan. Dalam upaya mewujudkan keberlanjutan efektivi- kelembagaan perumahan serta pengembangan kemitraan tas penyediaan perumahan bagi masyarakat kawasan ku- antarstakeholder perumahan, antara lain pemerintah (pusat muh, pemberdayaan masyarakat seharusnya diterapkan dan daerah), lembaga swadaya masyarakat, pengembang, pada keseluruhan proses dalam penyediaan rumah bagi dan lembaga keuangan. masyarakat kawasan kumuh. Aspirasi masyarakat kawasan *Staf Asisten Deputi Perencanaan Pembiayaan Perumahan, kumuh terkait desain dan lokasi rumah yang disediakan Kementerian Perumahan Rakyat memperoleh gelar master dari Uniharus dapat diakomodasi. Mekanisme monitoring dan versity of Gronigen pada program Environmental and Infrastructure Planning dengan judul tesis “Housing Finance for Slum Dwellers in pengendalian yang handal dan akuntabel harus diinteUrban Areas in Indonesia”. grasikan dalam proyek penyediaan rumah layak huni bagi

36

Liputan

Edisi 3 Tahun 2011

Menpera: Iuran Bapertarum PNS Idealnya 2,5 % dari Gaji Pokok

M

enteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa mengungkapkan, besarnya iuran tabungan perumahan para pegawai negeri sipil (PNS) saat ini seyogyanya sekitar 2,5 persen dari gaji pokok yang diterima. Pasalnya, iuran tabungan perumahan PNS yang dikelola oleh Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BapertarumPNS) belum mengalami kenaikan sedangkan harga rumah terus meningkat setiap tahun. “Iuran tabungan perumahan para PNS memang perlu dinaikkan dan idealnya sekitar 2,5 persen dari gaji pokoknya,” ujar Menpera Suharso Monoarfa kepada sejumlah wartawan usai membuka Rapat Koordinasi Nasional Bapertarum PNS di Jakarta beberapa waktu lalu. Suharso Monoarfa yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Bapertarum PNS menerangkan, ke depan Bapertarum PNS terus berupaya agar bisa memberikan layanan terbaik kepada para PNS. Hal itu dilakukan dengan memberikan bantuan uang muka dan tambahan bantuan sebagian biaya membangun sebesar Rp 15 juta. Dengan demikian, keberadaan Bapertarum PNS bisa dirasakan manfaat keberadaannya oleh para abdi negara mengingat bantuan uang muka yang diberikan untuk membantu pembiayaan perumahan bisa semakin besar. Adanya kenaikan iuran tabungan perumahan tersebut, imbuh Suharso Monoarfa, bukanlah tanpa alasan. Sebab, saat ini harga rumah sudah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan sehingga diperlukan penyesuaian iuran. Kalau harga rumah dulu hanya sekitar Rp 5 juta, saat ini kenaikan bahkan sudah mencapai lebih dari 80 persen jika dibandingkan harga tahun 1980-an Selain itu, mengutip pernyataan direktif Presiden pada tahun 2005 lalu, Presiden juga menjelaskan bahwa iuran perumahan seyogyanya sekitar 2,5 persen dari gaji pokok. Namun demikian, meskipun Kemenpera terus mengupayakan adanya kenaikan iuran tersebut, hingga saat ini belum ditemui kesepakatan dari Kementerian lain sehingga sulit untuk dilaksanakan. “Tahun 2005 lalu dalam direktifnya Presiden secara jelas menyatakan bahwa iuran Bapertarum PNS seyogyanya 2,5 persen dari gaji pokok. Tapi sampai saat ini belum ada kesepakatan dari Kementerian lain terkait usulan kenaikan iuran ini,” ungkapnya. Kenaikan iuran tabungan perumahan itu, imbuhnya,

tentunya juga berdampak pada kenaikan bantuan yang diberikan oleh Bapertarum PNS kepada para abdi negara baik di pusat maupun di daerah. Kemenpera pun terus berupaya memberikan bantuan yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat luas seperti kebijakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) maupun rumah murah. Lebih lanjut, Menpera mencontohkan, jika penghasilan atau gaji pegawai minimal Rp 800.000, maka iuran yang harus dibayarkan ke Bapertarum PNS hanya Rp 20.000. Apabila masa kerja PNS yang bersangkutan cukup lama, tentunya jumlah tabungan perumahannya akan semakin besar. Persyaratan bantuan Senada dengan Menpera, Kepala Pelaksana Sekretariat Tetap Bapertarum PNS Mohammad Yasin Kara menjelaskan, penyaluran bantuan uang muka dan tambahan bantuan sebagian biaya membangun yang dilakukan oleh Bapertarum PNS telah diuji oleh BPK dan KPK sehingga tidak melanggar peraturan yang berlaku saat ini. Untuk mempermudah pelayanan, imbuh Yasin Kara, para PNS bisa mengakses informasi layanan bantuan ini melalui situs Bapertarum PNS yakni www.bapertarumpns.co.id. Dalam laman tersebut tersedia aplikasi permohonan uang muka dan tambahan bantuan sebagian biaya membangun sehingga mempersingkat waktu proses pencairan dana. Bapertarum PNS juga telah bekerjasama dengan beberapa bank swasta untuk penyaluran bantuan ini yakni Bank BTN dan Bukopin. Yasin Kara menambahkan, PNS yang mengajukan tambahan bantuan uang muka dan bantuan sebagian biaya membangun harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain membayar iuran Taperum PNS, PNS golongan I, II, dan III, masa kerja paling singkat 5 tahun, belum pernah menerima dan memanfaatkan layanan Taperum PNS, belum memiliki rumah. Khusus permohonan bantuan sebagian biaya membangun, harus memiliki tanah yang dibuktikan dengan bukti kepemilikan hak atas tanah yang sah, mengisi serta mengajukan formulir permohonan dan memenuhi persyaratan lain yang berlaku di bank pelaksana. “Kami berharap tahun depan bisa membantu lebih banyak PNS melalui program layanan Bapertarum PNS”, tegasnya. (RMP)

37

Liputan

UU Rumah Susun Akhirnya Disahkan

dok. Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

“Pembahas UU Rusun ini yakni DPR dan pemerinancangan Undang-Undang tentang Rumah Susun (RUU Rusun) akhirnya disahkan menjadi tah sama-sama sepakat bahwa UU ini harus membuat UU Rusun oleh DPR dalam Sidang Paripurna ide-ide inovatif agar mampu menjawab permasalahan dan yang digelar di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Selasa tantangan yang ada saat ini yakni jumlah kebutuhan (back(18/10). UU Rusun yang terdiri dari 19 Bab dan 120 Pasal log) perumahan yang begitu tinggi yakni 8,4 juta unit pada ini diharapkan bisa mendorong pembangunan Rusun di tahun 2009. Rusun dalam hal ini bisa berfungsi sebagai Indonesia yang berpihak pada masyarakat berpenghasilan tempat tinggal dan solusi mendekatkan MBR ke tempat kerja sehingga membantu persoalan transportasi di kota rendah (MBR). Sidang paripurna yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR besar”, tandasnya. Sementara itu, Wakil Ketua DPR Pramono Anung Pramono Anung ini berjalan lancar dan singkat meskipun mendapat interupsi dari beberapa anggota DPR. Namun menyatakan, DPR juga mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada Menpera dan Menteri demikian, pembacaan pendapat akhir PresiHukum dan HAM selaku wakil pemerintah den terhadap RUU tentang Rusun yang beserta jajarannya atas kerja kerasnya selama rencananya dilakukan oleh Menteri NeUU ini harus pembahasan RUU ini. “Kami mengucapkan gara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso mendorong ide- terima kasih pada Menpera Suharso Monoarfa Monoarfa atau Menteri Hukum dan HAM akhirnya dibacakan oleh Menteri Pekerjaan ide inovatif agar dan Pak Patrilis Akbar atas kerja kerasnya sebaUmum (PU) Djoko Kirmanto. mampu menjawab gai motor pemerintah untuk mewujudkan UU Wakil Ketua Komisi V DPR RI Mulya- permasalahan dan Rusun ini. DPR sangat berterima kasih dan memberikan penghargaan sedalam-dalamnya di menyatakan, RUU Rusun merupakan tantangan untuk mereka berdua”, tutur Pramono yang rancangan undang-undang usulan inisiatif disambut tepuk tangan peserta sidang. DPR yang dibahas di Komisi V. Dalam proses pembahasan RUU Rusun selain deAmanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 ngan pemerintah Komisi V juga telah melakukan diskusi Menteri PU Djoko Kirmanto yang mewakili pemedengan seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan seperti para pakar dari perguruan tinggi, perbankan, rintah dalam sidang paripurna menyatakan, UU Rusun BUMN, LSM, asosiasi profesi serta penjaringan aspirasi ke ini merupakan amanat dari Pasal 46 UU Nomor 1 Tahun beberapa daerah dengan mengadakan focus group discussion 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. “Selesainya pembahasan RUU Rusun ini merupakan manifes(FGD). “Pembahasan dilakukan terhadap 711 DIM dengan tasi dari kesungguhan dan kebulatan tekad DPR sebagai memakan waktu yang cukup panjang selama 3 kali masa pembentuk UU. Untuk itu, pemerintah juga menyampersidangan. UU ini terdiri dari 19 Bab dan 120 Pasal di- paikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas laporan mana sebelumnya pada UU Nomor 16 Tahun 1985 ter- Panitia Kerja RUU Rusun dan kami menyatakan sependadiri dari 12 Bab dan 26 Pasal”, ujarnya saat membacakan pat dengan pendapat fraksi atas pengaturan-pengaturan Laporan Komisi V DPR dalam sidang paripurna tersebut. dalam UU ini”, ujarnya. “UU tentang Rumah Susun ini juga mengamanatkan Mulyadi menambahkan, pesatnya pembangunan Rusun komersial yang lebih dikenal dengan Apartemen penyusunan peraturan perundang-undangan yang meliputi dan Kondominium di dalam kawasan perkotaan tanpa 15 Peraturan Pemerintah, 6 Peraturan Menteri yang terdiri mempedulikan hunian berimbang menyebabkan MBR dari 5 Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan semakin terpinggirkan. Untuk itu, diperlukan pengaturan pemerintahan di bidang perumahan dan kawasan permuyang lebih baik dan komprehensif terhadap pembangunan kiman, dan satu peraturan Menteri yang membidangi bangunan gedung dan satu Perda”, tuturnya. (RMP) Rusun.

R

38

Edisi 3 Tahun 2011

Djan Faridz: Saya Siap Lanjutkan Program Kemenpera

M

dok. Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

enteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz yang baru saja dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Suharso Monoarfa menyatakan dirinya siap melanjutkan program-program serta kebijakan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yang ada saat ini. Namun demikian, dirinya merasa masih perlu lebih bekerja keras dan banyak belajar dari para pemangku kepentingan bidang perumahan lainnya. “Saya siap melanjutkan program Kemenpera dan menggantikan Pak Harso (Suharso Monoarfa-red) sebagai Menpera. Namun saya masih harus lebih bekerja keras dan lebih banyak belajar lagi tentang prumahan rakyat dari para pemangku kepentingan bidang perumahan lainnya”, ujar Djan Faridz kepada sejumlah wartawan usai Serah Terima Jabatan (Sertijab) Menpera di Ruang Prambanan, Kantor Kemenpera, Jakarta, Rabu (19/10) siang. Kegiatan Sertijab ini dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan sejumlah pejabat Eselon I, II, III dan IV di lingkungan Kemenpera serta para pemangku kepentingan bidang perumahan seperti asosiasi pengembang, kalangan perbankan serta sejumlah mitra kerja lainnya. Djan Faridz dilantik sebagai Menpera Kabinet Indonesia Bersatu II oleh Presiden menggantikan Suharso Monoarfa yang mengundurkan diri karena alasan pribadi. Djan Faridz diharapkan bisa membuat program serta kebijakan Kemenpera yang lebih pro rakyat serta mendorong program pembangunan perumahan dan kawasan permukiman sehingga mampu mengurangi jumlah kekurangan (backlog) ketersediaan perumahan di Indonesia. Menurut Djan Faridz, masalah perumahan rakyat tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Kemenpera. Namun demikian, dibutuhkan konsep yang jelas serta program yang ada harus terintegrasi dengan program yang ada di kementerian atau instansi lainnya. Oleh karena itu, dirinya dalam waktu dekat siap mengunjungi sejumlah kementerian dan instansi seperti Kementerian PU, Perumnas, serta menggandeng kalangan pengembang serta perbankan yang ada. “Mudah-mudahan saya bisa melaksanakan tugas

yang diamanatkan Presiden kepada saya. Hal ini merupakan bagian dari tugas negara yang harus dilaksanakan. Meskipun saya memiliki latar belakang di sektor swasta dan baru belajar di bidang pemerintahan yang terpenting adalah bagaimana kita semua bekerja untuk kesejahteraan umat dan masyarakat”, ujarnya. Dalam kesempatan lain yakni pada acara lepas sambut Menteri Perumahan Rakyat di Assembly Hall Plaza Bapindo Jakarta, Jumat (25/11), Menpera Djan Faridz juga menegaskan akan memperhatikan biaya perijinan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Menurutnya biaya perijinan tersebut mestinya dibebaskan agar mempercepat pengadaan rumah layak huni serta membantu MBR dalam membangun rumah impiannya. “Saya juga membuka kesempatan serta mengajak seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan untuk duduk bersama dalam mengatasi permasalahan perumahan dan kawasan permukiman yang ada,” ungkapnya. Selain itu, Djan Faridz juga menambahkan pemerintah akan mengevaluasi harga satuan rumah susun sejahtera milik agar pasar rumah susun sejahtera milik kembali bergairah. Harga Rusunami senilai Rp 144 juta per unit akan dievaluasi agar program rumah susun dapat berjalan kembali. Pada acara lepas sambut Menpera tersebut, Djan Faridz juga mengucapkan terima kasih kepada Suharso Monoarfa karena selama ini telah membangun perumahan rakyat dengan baik. “Terimakasih kepada Pak Harso yang telah mencalonkan saya sebagai Menpera”, tandasnya. Sementara itu, Suharso Monoarfa menyatakan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Djan Faridz sebagai Menpera yang baru. Namun demikian, dirinya merasa senang bisa bekerja sebagai Menpera serta menyelesaikan salah satu hal penting dalam penyediaan perumahan dari sektor pembiayaan perumahan melalui Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Program tersebut diharapkan bisa membantu masyarakat karena mereka diharapkan bisa memiliki rumah dengan harga yang terjangkau dengan cicilan murah dan suku bunga rendah. (RMP)

39

Liputan

Rapat ke-3 Biro APMCHUD III, Seoul, Korea Selatan

M

enteri Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Djan Faridz, dalam kapasitas sebagai Ketua Biro APMCHUD III periode 2010-2012, pada tanggal 28 Oktober 2011 memimpin Rapat ke-3 Biro APMCHUD III. Rapat dihadiri oleh Menteri Transportasi dan Pengembangan Perkotaan Republik Islam Iran, Menteri Muda Pengembangan Perkotaan Republik Islam Iran, Menteri Negara Pengembangan Perkotaan Republik India, Wakil Menteri Pertanahan, Transportasi dan Urusan Maritim (Ministry of Land, Transportation and Maritim Affairs/MLTM) Korea, delegasi dari negara Fiji, Jordan, Irak dan perwakilan UN-Habitat, dengan didampingi oleh Chief Coordinator Sekretariat APMCHUD dari India, Mrs. Aruna Sundararajan. Delegasi Republik Indonesia terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Luar Negeri. Rapat ke-3 Biro APMCHUD III membahas 7 agenda yaitu: 1) Pengesahan notulensi

Rapat ke-2 Biro APMCHUD ke-3 di Nairobi, Kenya; 2) Tindak lanjut Rapat ke-2 Biro APMCHUD; 3) Tindak lanjut Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo yang terdiri dari: Laporan Sekretariat dan Laporan negara anggota terkait koordinasi Kelompok Kerja dan kegiatan yang diusulkan dalam Deklarasi Solo; 4) Proposal untuk kolaborasi dengan berbagai institusi dalam rangka menindaklanjuti agenda APMCHUD; 5) Panduan penyelenggaraan konferensi APMCHUD bagi negara tuan rumah; 6) Persiapan konferensi APMCHUD ke-4 di Jordania; 7) Agenda lain dengan persetujuan Ketua Biro. Dalam pertemuan kali ini, pihak Jordania menawarkan rapat ke-4 biro APMCHUD di Amman pada minggu ke-2 April 2012 dan konferensi APMCHUD ke-4 diundur dari bulan Mei ke bulan Desember 2012. Tema konferensi belum ditetapkan, namun pihak UN-Habitat mengusulkan tema terkait peran pemuda (youth) dalam mewujudkan pengembangan perkotaan yang berkelanjutan. Usulan ini akan dipertimbangkan tuan rumah Jordania. (LW)

Kemenpera Susun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender

K

ementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) saat ini sedang menyusun sebuah panduan terkait Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG). Oleh karena itu, diperlukan kesepakatan bersama terhadap isu gender terkait dengan program/ kegiatan Kemenpera. Staf Ahli Menteri bidang Peran Serta Masyarakat dan Pemberdayaan, Mirna Amin, mengungkapkan Kemenpera saat ini melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk mengidentifikasi isu-isu gender yang ada di Kemenpera. Hal itu dilakukan untuk memperlancar penyusunan panduan tersebut. “Saya harap dengan adanya panduan PPRG ini setiap kegiatan yang diusulkan oleh Kemenpera tahun 2012 dapat memberikan manfaat yang seimbang kepada masyarakat secara gender baik laki-laki maupun perempuan,” ujar Mirna Amin di sela-sela kegiatan FGD tentang Penyiapan Penyusunan Panduan PPRG di Hotel Mercure, Jakarta, beberapa waktu lalu. “Salah satu bagian dari rangkaian kegiatan tersebut adalah pelaksanaan FGD untuk menyepakati isu,

program/kegiatan lingkup Kementerian Perumahan Rakyat sebagai bahan masukan dalam penyusunan Panduan PPRG bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Penyepakatan isu, program/kegiatan lingkup Kementerian Perumahan Rakyat yang telah dikelompokkan berdasarkan indikator Akses, Kontrol, Partisipasi, Manfaat (AKPM),” tandasnya. Adapun ruang lingkup pembahasan dalam FGD mencakup materi-materi antara lain, pertama isu dan permasalahan gender dalam program/kegiatan yang dikelompokkan berdasarkan indikator Akses, Kontrol, Partisipasi, Manfaat (AKPM). Kedua, ide dan pendekatan yang dianggap bersifat responsif gender untuk diimplementasikan dalam program/kegiatan Kemenpera. Ketiga, substansi yang akan dicantumkan dalam panduan PPRG bidang perumahan dan kawasan permukiman. Penerima manfaat dari kegiatan ini adalah para perencana program dan penganggaran dan unit organisasi yang mempunyai tugas dan fungsi penyusunan rencana dan anggaran di seluruh jajaran Eselon I di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat. (RMP)

40

Edisi 3 Tahun 2011

Kemenpera Ajak Masyarakat

Revitalisasi Permukiman di Kali Ciliwung
yang dimiliki pas-pasan. Dan kami juga harus tahu berapa jumlah KK yang harus di relokasi,” terangnya. Lebih lanjut, Djan Faridz menambahkan, berdasarkan data yang dimiliki Kemenpera saat ini jumlah KK yang harus direlokasi dari bantaran Kali Ciliwung berjumlah sekitar 30.000 KK. Sedangkan di daerah Tamansari Bandung jumlahnya masih terus dihitung. Menurut Djan Faridz, sukses tidaknya pelaksanaan program perumahan juga tergantung pada peran serta aktif masyarakat sendiri. Kemenpera dalam hal ini juga berupaya memberikan ganti untung kepada masyarakat yang mendukung terlaksananya program revitalisasi kawasan kumuh tersebut. “Kemenpera ingin memberi ganti untung bukan ganti rugi kepada masyarakat yang membantu terlaksananya program ini. Namun, hal itu juga tergantung pada masyarakat apakah mereka mau dipindah apa tidak,” katanya. Konsep ganti untung tersebut, imbuh Djan Faridz, dilakukan oleh Kemenpera dengan cara membangun terlebih dulu rumah layak huni bagi masyarakat yang ingin pindah dari bantaran kali. Adapun lokasi hunian sementara bagi masyarakat tersebut diupayakan berdekatan atau tidak jauh dari tempat mereka bekerja atau sekolah dimana anak-anaknya menuntut ilmu. “Kami telah memiliki gambaran mengenai lokasilokasi hunian bagi masyarakat yang di relokasi. Kami mengupayakan agar hunian tersebut tidak terlalu jauh dari tempat mereka beraktifitas sehari-hari,” ujarnya. (APP)

K

ementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengajak peran serta aktif masyarakat untuk melakukan revitalisasi kawasan kumuh di sekitar Kali Ciliwung serta daerah Tamansari, Bandung. Untuk itu, Kemenpera akan berusaha agar pelaksanaan program tersebut tidak merugikan masyarakat sehingga dapat terwujud lingkungan perumahan yang nyaman dan layak untuk di huni. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengungkapkan, program revitalisasi kawasan kumuh di sepanjang bantaran Kali Ciliwung serta daerah Tamansari, Bandung sudah masuk dalam rencana program kerja Kemenpera. Untuk itu, pihaknya berharap masyarakat bisa bekerjasama dengan baik dalam pelaksanaan program kegiatan ini. “Kami memiliki program revitalisasi kawasan kumuh di bantaran Kali Ciliwung dan Tamansari Bandung. Tapi tentunya kami perlu kerjasama dari masyarakat agar program ini bisa terlaksana dengan baik,” ujar Menpera, Djan Faridz kepada sejumlah wartawan usai menghadiri Peluncuran Surat Kabar Inilah Koran di Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (10/11). Djan Faridz menyatakan, Kemenpera akan berupaya agar pelaksanaan program di dua daerah ini bisa berjalan bersamaan. Oleh karena itu, saat ini Kemenpera terus melakukan inventarisasi terkait jumlah kepala keluarga (KK) yang akan di relokasi. “Insya Allah program ini bisa dilaksanakan bersamaan. Tapi kami tentu akan membuat prioritas karena anggaran
Inforum/Akbar Pandu P.

41

Liputan
dok. Bagian Humas dan Protokol Kemenpera

Ulang Tahun ke-12 DWP
Kementerian Perumahan Rakyat

D

harma Wanita Persatuan Kementerian Perumahan Rakyat (DWP Kemenpera) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-12 Tahun 2011 di Ruang Rapat Prambanan, Kantor Kemenpera, Jumat (9/12). Ketua DWP Kemenpera, Tuti Iskandar Saleh yang hadir dalam kesempatan tersebut membacakan pidato sambutan dari Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan, Nila F. Moeloek yang juga disaksikan oleh Penasihat DWP Kemenpera, Nini Widjaya. Isi sambutan tersebut antara lain mengatakan bahwa DWP telah berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa. “DWP saat ini telah berpartisipasi aktif dalam upaya membangun bangsa melalui kaum perempuan, istri pegawai negeri sipil yang semuanya ditunjukkan melalui kinerja nyata serta meningkatkan wawasan dan pengetahuan anggotanya”, ujar Tuti Iskandar Saleh. Lebih jauh lagi, Tuti Iskandar Saleh dalam Pidato sambutannya mengatakan bahwa harapan Dharma Wanita Persatuan adalah bisa berperan aktif dalam mempersatukan istri-istri PNS seluruh Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas Sumber Daya anggotanya sesuai kebutuhan nyata sebagai pendamping Pegawai Negeri Sipil yang berada di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. Tuti Iskandar Saleh juga menyampaikan berbagai upaya yang dilakukan Ibu Negara Republik Indonesia sebagai motivasi agar para anggota DWP bisa memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa khususnya dalam membangun masyarakat Indonesia

yang sejahtera. “Ibu Negara Republik Indonesia mendorong DWP berperan dalam mendukung terwujudnya Indonesia sejahtera melalui Indonesia pintar, Indonesia Hijau, Indonesia Sehat, Indonesia Kreatif dan Indonesia Peduli”, ujar Tuti Iskandar Saleh. DWP sebagai organisasi kemasyarakatan yang bernaung di bawah pemerintah mengajak para anggotanya untuk menyukseskan program kemasyarakatan bersama-sama dengan TP-PKK dan juga pihak lain seperti perusahaan melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Sementara tema yang diangkat dalam peringatan HUT ke 12 Dharma Wanita Persatuan Tahun 2011 adalah “Pengembangan Aliansi Strategis DWP dengan Mitra Kerja Pemerintah dan Swasta untuk Suksesnya Pembangunan Berkelanjutan”. Tema tersebut diharapkan dapat membantu dalam pencapaian target kuantitatif tujuan pembangunan milenium dan menjadikan bangsa Indonesia berkualitas. “Agar tujuan yang dimaksud dalam tema tersebut dapat tercapai, maka seluruh pemangku kepentingan dituntut untuk berpartisipasi aktif, berkolaborasi, dan bersinergi dengan berbagai pihak secara harmonis, baik program pemerintah ataupun swasta”, ujar Tuti Iskandar Saleh. Peringatan Hari Ulang Tahun ke 12 Dharma Wanita Persatuan ini dihadiri oleh anggota DWP Kemenpera dan juga karyawan di Lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat dan juga tamu undangan yang merupakan mitra kerja sama dari Kementerian Perumahan Rakyat. (SRP)

42

Edisi 3 Tahun 2011

Rapat Koordinasi Dekonsentrasi

K

Kemenpera 2011

ementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengadakan Rapat Koordinasi Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rapat pada Rabu (16/11) di Hotel Putri Duyung Jakarta. Rapat koordinasi ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan dekonsentrasi tahun 2011 serta mematangkan konsep kegiatan dekonsentrasi tahun 2012. Oleh karena itu, Kemenpera berharap berbagai persoalan yang mencakup masalah SKPD dan Kelompok Kerja (Pokja) Perumahan dan Kawasan Permukiman di tiap-tiap provinsi segera diselesaikan sehingga tidak mempengaruhi penilaian atau audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan kementerian. “Saya berharap seluruh laporan kegiatan Dekonsentrasi Tahun 2011 yang terkait dengan Audit BPK dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, evaluasi mengenai pelaksanaan dekonsentrasi tahun 2011 harus dilakukan dengan baik antara Kemenpera dengan Pokja PKP di masing-masing provinsi”, ujar Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera Pangihutan Marpaung. Lebih lanjut, Iskandar Saleh mengharapkan agar Pokja PKP bisa memberikan masukan-masukan mengenai hambatan yang menyebabkan terlambatnya

menyampaikan laporan baik laporan manajerial, laporan akuntabilitas maupun laporan teknis Dekonsentrasi 2011. “Saat ini baru 3 SKPD yang telah melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan tepat waktu. Saya mengharapkan agar Pokja PKP di provinsi lainnya segera menyelesaikan rangkaian kegiatan yang tersisa mengingat waktu yang sangat terbatas”, terangnya. Adanya rapat koordinasi ini, diharapkan dapat terjadi tukar menukar informasi agar terjadi dialog berbagai kesulitan beberapa SKPD dalam menyelesaikan laporan atau menyelesaikan permasalahan dengan kondisi daerah masing masing. Dalam kegiatan ini juga dibahas mengenai pelaksanaan kegiatan lintas Deputi Kemenpera di daerah, data pendukung dalam penyusunan RP3KP, pengawasan dan pengendalian, konsep Pemantauan dan Evaluasi Dekonstrasi tahun 2011. Hal senada juga disampaikan Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Oswar M. Mungkasa, agar semua permasalahan yang dibicarakan dalam rapat koordinasi dekonsentrasi ini dapat menjadi pegangan para peserta dan bahan koordinasi di daerah masing masing serta segera menyelesaikan kewajibannya dalam menyelesaikan laporan dan semoga laporannya dapat selesai tepat pada waktunya. “Saya berharap pelaksanaan dekonsentasi bidang perumahan rakyat di daerah ke depan dapat berjalan dengan lebih baik”, terangnya.

Dekonsentrasi

si Edi an p De

Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Redaksi menerima artikel, berita, karikatur yang terkait bidang perumahan rakyat dari pembaca. Lampirkan gambar/foto dan identitas penulis ke alamat email redaksi. Naskah ditulis maksimal 5 halaman A4, Arial 12, spasi 1,5. Redaksi juga menerima saran maupun tanggapan terkait bidang perumahan rakyat ke email majalah.inforum@ kemenpera.go.id atau saran dan pengaduan di www.kemenpera.go.id

Inforum/Ristyan Mega Putra

43

Liputan

Sosialisasi Penanggulangan Resiko Bencana
osialisasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Penanggulangan Bencana (PB) dilaksanakan pada hari Kamis, 10 November 2011 di Ruang Rapat Prambanan Gedung Kementerian Perumahan Rakyat. Dalam sambutannya Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat, Dr. Iskandar Saleh berpesan bahwa dalam rangka menyongsong transformasi Kementerian Perumahan Rakyat menjadi Kementerian Klaster II, Kementerian Perumahan Rakyat harus mulai memikirkan persoalan PRB dan juga PB. Pernyataan tersebut seyogyanya dapat memberikan harapan untuk kekhawatiran yang diungkapkan oleh Sekretaris Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, Ir. Susmono, bahwa dalam kondisi tanggap darurat tidak ada yang menangani Sektor Perumahan dan Kawasan Permukiman. Sementara itu, Direktur Pengurangan Risiko Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa saat ini BNPB telah menyusun Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (RENASPB) tahun 2010-2014. RENAS-PB nantinya akan

S

merupakan salah satu buku pegangan dalam pelaksanaan penanggulangan bencana yang memuat peran dan fungsi dari semua lembaga yang ada di pusat dan bagaimana cara untuk melakukan pemantauan dan evaluasinya. Isu lain yang mengemuka dalam Sosialisasi PRB dan PB adalah belum sinergisnya kegiatan-kegiatan terkait bencana yang dilaksanakan Kementerian Perumahan Rakyat dengan dokumen Rencana Aksi Nasional-Pengurangan Risiko Bencana (RAN – PRB) yang sedang dalam proses penyusunan Bappenas. Hal tersebut dikarenakan sebagai Kementerian Klaster III, Kementerian Perumahan Rakyat masih belum memiliki kegiatan yang dikhususkan bagi bencana. Sosialisasi PRB dan PB ini merupakan langkah awal bagi Kementerian Perumahan Rakyat untuk lebih memperhatikan PRB sebagai Prioritas Nasional, selanjutnya akan dilakukan penyusunan Roadmap Pengurangan Risiko Bencana yang akan memperlihatkan peran aktif Kementerian Perumahan Rakyat dalam Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang lebih ramah terhadap bencana. (Zhein)

Lokakarya Penyusunan Proposal Kegiatan PHLN Tahun 2011 Kementerian Perumahan Rakyat
engan telah diadakannya Workshop Reviu Usulan Kegiatan Kementerian Perumahan Rakyat DRPHLN-JM (Blue Book) Tahun Anggaran 2010-2014, Biro Perencanaan dan Anggaran menindaklanjuti hasil reviu tersebut dengan menyelenggarakan Lokakarya Penyusunan Proposal Kegiatan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) Tahun 2011. Lokakarya ini berlangsung pada tanggal 8-9 November 2011 di Hotel Grand Kemang dan dibuka oleh Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Dr. Oswar M. Mungkasa yang dalam hal ini mewakili Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang cara penyusunan proposal kegiatan PHLN yang telah masuk ke dalam DRPHLN-JM 2010-2014 untuk masuk ke dalam Dokumen Revisi DRPLN 2010-2014 di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat. Terkait dengan usulan kegiatan, terdapat dua usulan kegiatan yang telah mendapatkan perhatian dari lembaga donor Islamic Development Bank (IDB), yaitu: 1) Infrastructure Development for Large Scale Housing; dan 2) In-

D

frastructure Development for Slum Area Upgrading/PLP2KBK. Untuk usulan kegiatan Infrastructure Development for Large Scale Housing Kementerian Perumahan Rakyat akan melakukan kajian lebih lanjut secara mendalam khususnya terkait penyempurnaan dokumen Kerangka Acuan Kerja. Selain dua usulan kegiatan tersebut, terdapat beberapa usulan kegiatan lainnya yang dikaji secara intensif dalam lokakarya, yakni: 1) Program Peningkatan Kapasitas SDM Bidang Perumahan Rakyat; 2) Pengembangan Survei Perumahan Indonesia; 3) Penguatan Pembiayaan Perumahan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR); 4) Integrated Finance Housing System; dan 5) Perkuatan Peran Perempuan dalam Pembangunan Perumahan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat. Lokakarya Penyusunan Proposal Kegiatan PHLN menghasilkan penyempurnaan dokumen kelengkapan PHLN Kemenpera Tahun 2011 dan rencana tindak lanjut dari masing-masing usulan kegiatan. Dokumen kelengkapan yang dimaksud meliputi Kerangka Acuan Kerja, Project Digest, DIPK, dan Pre-FS. (Nauval)

44

Tips Membuat Rumah Sehat

Edisi 3 Tahun 2011

Bebas Nyamuk

S

3.

etiap rumah dengan bentuk desain apapun, entah desain rumah minimalis, desain rumah mediterrania, desain rumah klasik dan sebagainya akan tetap memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai hunian/tempat tinggal. Rumah adalah tempat berlindung/shelter sehari-hari dari panas matahari, hujan, perbedaan suhu, gangguan binatang buas dan sebagainya. Ada satu jenis binatang yang sekalipun bukan termasuk binatang buas, akan tetapi merupakan ‘musuh’ manusia yang merepotkan, bahkan beberapa jenis diantaranya merupakan bisa berbahaya. Binatang tersebut adalah nyamuk. Beberapa jenis nyamuk yang selalu ‘setia’ mengunjungi rumah kita dan perlu kita waspadai adalah jenis nyamuk Aedes Aegypti karena gigitannya bisa menyebarkan virus penyakit demam berdarah yang berbahaya. Selain itu di beberapa daerah terutama di kawasan pedalaman juga masih dijumpai jenis nyamuk Anopheles yang bisa menyebabkan penyakit malaria. Menghilangkan nyamuk dari lingkungan rumah memang tidak mungkin, namun kita perlu tahu bahwa nyamuk tidak bisa terbang jauh hingga berkilo-kilo meter ke rumah kita untuk mencari mangsa setiap hari. Meminimalisir sarang berkembang biak dan tempat-tempat yang disukai nyamuk di sekitar rumah kita adalah strategi terbaik untuk memgendalikan gangguan nyamuk pada keluarga. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk mengurangi gangguan nyamuk di rumah: 1. Beri pencahayaan alami yang cukup pada rumah. Nyamuk sangat menyukai lingkungan yang lembab, dingin dan gelap untuk bersarang. Upayakan agar desain rumah memiliki pencahayaan alami yang dibuat cukup besar sehingga mampu memberi akses sinar matahari ke dalam ruangan. 2. Hilangkan genangan air yang bisa jadi tempat berkembang biak. Buanglah sampah dan barang-barang bekas seperti kaleng, tong, pot, baskom, ember yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Ingatlah bahwa nyamuk betina akan bertelur di dalam air yang tergenang. Telurtelur ini akan berkembang menjadi larva dan kemudian berubah menjadi bentuk dewasa dalam 10 hari. Kuras bak mandi minimal seminggu sekali untuk mencegah telur nyamuk menetas menjadi larva. Berilah beberapa ekor ikan di kolam taman sebagai predator

4.

5.

7.

8.

alami larva nyamuk. Jika Anda memang tidak bisa menghilangkan genangan air tersebut, maka masukkan bubuk abate sesuai petunjuk untk mencegah larva berkembang menjadi nyamuk dewasa. Ubah kebiasaan menggantung baju dalam jangka waktu lama. Jangan dibiasakan untuk menggantung baju-baju di gantungan (terutama di belakang pintu) dalam waktu lama. Selain menimbulkan kesan kurang rapi, juga bisa menjadi tempat hunian yang nyaman bagi nyamuk. Gantunglah baju didalam lemari gantung dan berilah pengharum semacam kapur barus dsb. Pasang tirai/kasa nyamuk. Untuk mencegah nyamuk memasuki nyamuk, Anda sebaiknya memasang tirai nyamuk pada lubang-lubang ventilasi, jendela atau pintu. Pada saat ini sudah banyak produk tirai nyamuk modern dari berbagai merk, yang bisa dipasang secara praktis dan pemasangannya akan menjadi menjadi bagian dari interior penghias ruangan yang menarik. Pangkas tanaman yang terlalu rimbun. Tanaman-tanaman yang berdaun rimbun di sekitar rumah memang akan memberi suasana teduh, segar dan alami. Akan tetapi sebaliknya lokasi tersebut juga akan menjadi hunian yang disukai nyamuk. Pangkaslah daun-daun yang terlalu rimbun secara berkala untuk mencegah menjadi tempat hunian nyamuk. 6. Tanamlah tanaman yang tidak disukai nyamuk. Ternyata tidak semua tanaman disukai oleh nyamuk. Beberapa jenis tanaman justru memiliki aroma yang sangat dibenci nyamuk, misalnya tanaman Lavender, Akar Wangi, Geranium, Zodia dan Selasih. Boleh dicoba untuk menanam tanaman tersebut di sekitar rumah Anda, siapa tahu ternyata bisa jadi cara ampuh mengusir nyamuk. Pasang perangkap nyamuk. Ada baiknya Anda memasang perangkap nyamuk, yang bisa berfungsi untuk menarik perhatian nyamuk, menangkap dan membunuhnya. Gunakan obat anti nyamuk yang aman. Nah, jika cara-cara di atas ternyata belum maksimal, gunakan obat anti nyamuk di rumah Anda. Ada berbagai jenis dan merk, mulai dari jenis obat nyamuk bakar, obat nyamuk semprot, elektrik hingga berupa cream/lotion. Pilihah obat anti nyamuk yang aman bagi kesehatan Anda sekeluarga, dan bacalah petunjuk pemakaian secara seksama sebelum menggunakannya.

45

Tanya Jawab Perumahan
Istimewa

Tanya:

Program FLPP Dengan Hormat, Saya adalah karyawan swasta berpenghasilan di bawah 2 juta Rupiah per bulan, bisakah saya mengajukan KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan)? Lalu saya berniat membeli rumah baru dengan pilihan tempat sendiri tanpa melalui developer, kira kira bagaimana? Dan apa saja yang menjadi persyaratan? Mengingat ini program pemerintah apakah persyaratannya mudah atau sulit? Terima kasih mohon balasan dan informasi selengkapnya. Andri Ansyah (andry4nk@yahoo.com)

Jawab:

Yth. Saudara Andri. Untuk saat ini, salah satu persyaratan mengikuti program FLPP yaitu membeli rumah yang

dibangun oleh pengembang. Persyaratan lainnya yaitu berpenghasilan paling banyak Rp 2.500.000,-/bulan untuk pengajuan KPR rumah sejahtera tapak atau paling banyak Rp 4.500.000,-/bulan untuk pengajuan KPR satuan rumah sejahtera susun, belum pernah memiliki rumah, belum pernah menerima subsidi perumahan, mempunyai NPWP dan SPT. Adapun cara mengikuti program FLPP yaitu menghubungi bank pelaksana untuk mengetahui informasi lebih detail mengenai prosedur pengajuan KPR dengan dukungan FLPP dan informasi mengenai pengembang yang mengikuti program FLPP, melengkapi persyaratan sesuai dengan ketentuan dari bank pelaksana, memilih rumah tapak atau susun baru yang dibangun oleh pengembang pelaksana. Selanjutnya, setelah disetujui, pemohon dapat menempati rumah sejahtera.

Tanya:

Program FLPP Saya membutuhkan informasi mengenai pengajuan kredit rumah kedua. Kebetulan saya berniat mengajukan kredit di daerah Serpong, dengan adanya FLPP ini apakah persyaratannya sama dengan kredit sebelumnya terutama mengenai besar plafond kredit, bunga dan masa jatuh temponya. Ade Hikmatullah (ade.hunianku@yahoo.com)

Jawab:

Yth. Saudara Ade. Untuk saat ini, persyaratan pengajuan FLPP antara lain belum pernah memiliki rumah dan ditujukan untuk pemilikan rumah baru yang dibangun oleh pengembang. Oleh sebab itu, program FLPP tidak dapat digunakan untuk pengajuan

kredit rumah kedua. Program FLPP dapat diberikan untuk pengajuan kredit rumah sejahtera tapak dan satuan rumah susun baru yang dibangun dan dibeli melalui pengembang. Pengajuan KPR dilakukan melalui Bank Pelaksana yang telah melakukan Perjanjian Kerjasama dan Operasional (PKO) dengan Kemenpera. Untuk saat ini, Bank Pelaksana yang telah melakukan PKO yaitu BTN, BTN Syariah, BNI, Bank Bukopin, BRI Syariah, BPD Kaltim, BPD NTT, BPD Papua, BPD Riau Kepri, BPD Riau Kepri Syariah, BPD Sumsel Babel, BPD Sumut, BPD Sumut Syariah, BPD Jabar Banten, BPD Yogyakarta, dan BPD Jateng. Sebagai informasi tambahan, bank pelaksana tersebut harus memperbaharui PKO untuk pelaksanaan program FLPP tahun 2012 karena PKO sebelumnya hanya berlaku sampai dengan tahun 2011.

46

Intermezzo

Edisi 3 Tahun 2011

Kampung

Kemasan Gresik
Dari segi arsitektur, facade bangunan yang ada di kawasan kampung Kemasan bergaya eklektik, percampuran antara adaptasi cina dan eropa, dalam bahasa arsitektur bangunan dengan corak demikian biasa disebut dengan arsitektur peranakan. Tata ruang dalam dari bangunan yang ada sangat kental dengan tata ruang bangunan cina yang telah dipengaruhi dengan gaya arsitektur eropa. Usaha Menjaga Sejarah Jika dulu kampung Kemasan sudah dikenal sebuah daerah yang memicu roda perekonomian Gresik, saat ini kampung Kemasan juga dikenal banyak orang sebagai tempat belajar sejarah dan budaya tentang Gresik. Bertempat di salah satu rumah yang dimiliki oleh keluarga Oemar Zainuddin, para pemerhati sejarah, budayawan, seniman, akademisi yang tertarik dengan Gresik berkumpul dan mengadakan diskusi rutin setiap Rabu malam. Hasil dari pertemuan yang biasa disebut sebagai forum reboan ini melahirkan komunitas Masyarakat Pecinta Sejarah Gresik atau biasa dikenal dengan MATASEGER. Komunitas ini selain mengadakan pertemuan rutin juga melakukan upaya-upaya lain dalam misinya untuk menjaga peninggalan sejarah Gresik seperti mengadakan jelajah budaya untuk wisatawan yang tertarik datang ke Gresik sampai mengadakan pembekalan untuk para duta budaya Gresik. “Kami bermimpi suatu saat Gresik bisa memperoleh pengakuan sebagai salah satu warisan dunia dari UNSECO seperti kota Melaka di Malaysia. Untuk itu kami yang tua-tua ini berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga apa yang kami punya dan mewariskannya ke generasi muda”, ujar Oemar Zanuddin saat berdiskusi dengan Inforum. (Sri/DVD)

ejarah yang merupakan awal mula atau titik balik dari keberlangsungan suatu cerita, suatu budaya, bahkan eksistensi suatu peradaban dapat dipelajari melalui sejarah. Kampung Kemasan yang terletak di kawasan kota tua Gresik merupakan tempat yang banyak menyimpan sejarah dan karya arsitektur yang hampir terlupakan. Awal Mula Kampung Kemasan Konon nama Kemasan berasal dari seorang Tionghoa Bak Liong yang tinggal dan menetap di daerah ini. Bak Liong adalah seorang pengrajin emas (tukang emas) yang cukup terkenal waktu itu, sehingga orang-orang banyak menyebut daerah tempat Bak Liong tinggal sebagai daerah Keemasan. Keberadaan kampung Kemasan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kondisi Gresik pada masa lalu. Pada zaman kerajaan Majapahit Gresik sebenarnya merupakan pelabuhan utama kerajaan setelah Tuban. Hal ini bisa dilihat dari bukti peninggalan sejarah adanya makan Nyi Ageng Pinatih seorang syahbandar zaman Majapahit di kawasan kota lama Gresik. Sebagai kota pelabuhan Gresik menarik banyak pedagang untuk datang dan kemudian bermukim. Pedagang ini datang dari China maupun Timur Tengah. Asimilasi budaya yang terjadi dengan para pendatang ini juga berpengaruh dengan langgam arsitektur yang ada di Gresik khususnya kawasan Kampung Kemasan. Menurut Oemar Zainuddin salah satu tokoh masyarakat dan budayawan Gresik kampung Kemasan erat hubungannya dengan roda ekonomi Gresik sejak zaman Majapahit hingga masa kolonial. “Jika dulu kampung Kemasan ini terkenal karena pandai emas, kampung Kemasan juga sempat dikenal sebagai pusat penyamakan kulit”, ujarnya. Cikal bakal industri kulit di Gresik sangat identik dengan seorang saudagar bernama H. Oemar Akhmad. Ketenaran industri kulit Gresik tidak hanya di daerah Jawa Timur akan tetapi terkenal sampai ke Batavia. Hal ini dibuktikan dengan arsip-arsip surat niaga yang datang dari berbagai kota di Indonesia. “Waktu itu Gresik sudah maju tingkat ekonominya, wis akeh sing pesen kulit teko kene” (banyak yang sudah memesan kulit dari sinired.), ungkap Oemar yang juga merupakan keturunan generasi keempat dari H. Oemar Akhmad.

Inforum/Sri Rahmi P.

47

Pengelolaan Pengetahuan

Resensi

uku Kata Fakta Jakarta mengenai perpindahan penduduk merupakan kumpulan dan daftar pengembang. Dalam catatan lintas masa tulisan tersebut dituturkan dilema mengenai Jakarta sejak tahun beberapa warga suburban dalam 1998 hingga tahun 2011. Buku ini terdiri dari kumpulan data menghadapi kegiatan komuter setiap harinya. Padahal, dan fakta serta kumpulan berbagai tulisan dari berbagai adanya kota baru di pinggiran tadinya dimaksudkan untuk aspek. Diawali dengan gambar dan tulisan mengenai fakta memberikan tempat bekerja baru dan untuk menarik minat singkat Jakarta kemudian mengalir dengan keragamannya, berbagai perusahaan untuk membuka kantor di kota baru. ia membahas mulai dari aspek kependudukan, pergolakan Buku ini memang cenderung lebih banyak mengangkat tahun 1998, kesenian, transportasi, banjir, rusunami, ruang sisi negatif kota Jakarta. Misalnya ketika membahas Transterbuka hijau hingga kemacetan dan tema-tema lainnya. jakarta, meski juga mencantumkan testimoni positif dari Buku ini disajikan secara tematis dan warga pengguna Transjakarta, namun lebih Judul: kronologis dengan mengambil satu atau banyak mengulas aspek permasalahannya Kata Fakta Jakarta beberapa titik peristiwa seperti pergolakan dibandingkan bahwa Transjakarta adalah Penerbit: Rujak Center for Urban Studies satu terobosan solusi permasalahan trans1998 atau kemacetan di tanggal 25 Tahun: 2011 Oktober 2010 di setiap topiknya. Setiap portasi di Jakarta. Banyaknya “keluhan” akan topik disajikan juga bersama dengan Jakarta dalam buku ini tentunya memaninfografik yang cantik dan menarik cing pertanyaan, jika Jakarta memang mengenai data dan fakta, potongan sedemikan menyedihkan, mengapa berita terkait, serta esai atau tulisan kota ini terus saja hidup dan menarik pendek dari berbagai kontributor di pendatang setiap tahunnya. Hadir bidangnya. dengan tebal 384 halaman buku Terkait perumahan dan ini cukup menarik untuk dimiliki permukiman, buku ini mencoba walaupun, ada beberapa gambar mengangkat fenomena dan tulisan yang tampil tersuburbanisasi dengan didukung lalu kecil sehingga menjadikan tulisan pendek bertajuk “Mimpi beberapa informasi agak sulit Suburban Sebuah Utopia” yang terbaca. (LNP) dilengkapi dengan infografik sumber foto: http://pandasurya.wordpress.com

B

Kata Fakta Jakarta

uku ini berusaha menjelaskan tentang kebijakan publik jumlah mereka yang tinggal di perkampungan dengan kondisi meyang sempat tenar pada tahun 1970-1980 yaitu Proyek ngenaskan. Dengan mengacu ke kampoeng verbeetering jaman pePerbaikan Kampung/Kampung Improvement Program (KIP). merintahan Hindia Belanda pada dekade kedua abad 20, perbaikan Proyek Muhammad Husni Thamrin (Proyek MHT) yang diperkenalkampung diperkenalkan. Gagasan kampoeng verbeetering sendiri kan tahun 1969 mendapat bantuan Bank Dunia, sempat terkenal dilatarbelakangi kondisi sanitasi kampung-kampung warga pribumi sebagai model pendekatan perbaikan permukimyang buruk dan tak tertata pada abad 19. BerJudul: an kumuh miskin kota dengan biaya rendah. beda tujuan dengan kampoeng verbeetering yang Proyek MHT – Berhasil Meningkatkan Kualitas Habitat dilaksanakan Belanda dulu, Proyek MHT memiliki Proyek ini digagas oleh Gubernur Ali Sadikin dan Orang Miskin di Jakarta sempat mencengangkan dunia kebijakan publik, tujuan memperbaiki kualitas hidup warga agar tak Penulis: khususnya panataan ruang kota, lebih khusus lagi menjadi beban kota karena kampung merupakan Darrundono Tahun: 2011 di bidang kebijakan perumahan dan permukiman. salah satu sub sistem kota. Karena nuansa keberKelompok sasaran adalah masyarakat berpengpihakan terhadap orang miskin kota, kebijakan itu hasilan rendah, yang pada saat akhir tahun 60-an itu, cepat dikenal dan diterima oleh masyarakat, kaum poliberjumlah sekitar 3 juta jiwa. Tidak atau belum ada tisi, dan media masa. Dalam perjalanannya selama lebih acuan dalam dunia ilmu pengetahuan menghadapi dari 40 tahun model kebijakan ini mengalami pasang mayoritas warga kota yang miskin itu, sedang dana surut, dan terkesan terlupakan. Masalah yang dihadapi yang ada sangat terbatas. akhir tahun 60-an, yaitu pertambahan penduduk yang Tahun 1969, jumlah penduduk Jakarta sudah sekidisebabkan oleh urbanisasi masih terjadi sampai saat tar 4,8 juta jiwa. Yang memperihatinkan sekitar 60% ini. Bahkan lebih pelik dan lebih berat. (DVD)

B

48

Info CD

Edisi 3 Tahun 2011

CD Himpunan Perundang-Undangan Bidang Perumahan dan Permukiman
Dalam rangka memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dalam mengetahui dan memahami kebijakan dalam pembangunan perumahan dan permukiman, Kementerian Permahan Rakyat telah melakukan inventarisasi dan menghimpun berbagai regulasi terkait perumahan dan permukiman yang telah ada sampai saat ini. Hasil inventarisasi tersebut disajikan dalam bentuk CD Interaktif Himpunan Perundang-undangan Bidang Perumahan dan Permukiman. CD Interaktif (update) ini tidak hanya menghimpun regulasi yang dihasilkan/diinisiasi oleh Kementerian Perumahan Rakyat saja, tetapi juga berbagai kementerian/lembaga terkait lainnya. Secara umum, regulasi yang ada mencakup aspek perencanaan dan penganggaran, pertanahan, pemerintahan daerah, pembiayaan, dan lain-lain. CD Interaktif (update) ini berisi Peraturan Perundangundangan terkait Bidang Perumahan dan Permukiman yang meliputi Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintah Penggant Undang-Undang, Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, Peraturan dan Keputusan Menteri Perumahan Rakyat, Instruksi Presiden, Peraturan dan Keputusan Menteri Dalam Negeri, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, Peraturan Menteri Keuangan dan peraturan lainnya. Materi penting yang sudah ada dalam CD ini adalah UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman serta UU Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. CD ini diperbaharui setiap 3 bulan. Isi CD juga dapat diakses di situs Kementerian Perumahan Rakyat (www.kemenpera.go.id). (AK)

CD Persyaratan Pokok Rumah Yang Lebih Aman
Zonasi gempa di wilayah Indonesia yang berpotensi gempa sangat tinggi meliputi 70% dari wilayah Indonesia. Korban terbesar yang mendapat kerugian adalah masyarakat yang tinggal di rumah sederhana. Mengapa demikian, penyebab utamanya adalah disebabkan masyarakat Indonesia tidak mengikuti kaidah-kaidah teknis, seperti: kualitas bahan bangunan yang tidak baik; keberadaan dan dimensi struktur yang tidak sesuai; elemen struktur utama tidak tersambung dengan baik; dan mutu pengerjaan yang kurang baik. Untuk memiliki rumah sederhana yang lebih aman perlu mengikuti persyaratan pokok, yaitu: kualitas material kontruksi yang baik; keberadaan dan dimensi struktur yang sesuai; seluruh elemen struktur utama tersambung dengan bain; dan mutu pengerjaan yang baik. CD Interaktif ini memberikan informasi secara detail tentang konsep membangun struktur rumah sederhana yang lebih aman terhadap gempa dengan biaya yang tidak terlalu besar tetapi memberikan kontribusi secara signifikan terhadap keamanan. CD ini merupakan produk bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan JICA. (AK)

49

Pengelolaan Pengetahuan

Info Pustaka Brosur
Brosur FLPP untuk Anggota dan Pensiunan TNI/POLRI Brosur FLPP untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) Brosur FLPP untuk Pekerja Swasta Penerbit: Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pembiayaan Perumahan

Buku
Cakrawala Baru Permukiman Indonesia Penerbit: NUSSP Kementerian Pekerjaan Umum (2010)

Buletin

Regulasi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

Politik Pembangunan Perumahan Rakyat di Era Reformasi – Siapa Mendapat Apa? Penulis: Zulfi Syarif Koto Penerbit: the HUD Institute (2011)

Buletin Kedeputian Bidang Perumahan Formal Edisi 1 dan 2 Tahun 2011

Kebijakan dan Strategi Perkotaan Nasional (KSPN) - Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional BAPPENAS (2011)

Leflet

Majalah/Jurnal
Majalah Media Tren Konstruksi Edisi Oktober - November 2011

Leflet Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Bukan Jaringan Perpipaan Penerbit: Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum

Majalah Konstruksi No. 399 Tahun XXXV Maret 2011

50

Regulasi

Edisi 3 Tahun 2011

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

Telaah

R

Anggoro Widiastika

umah dan rumah susun sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia idealnya dapat dimiliki oleh setiap keluarga dengan kondisi yang layak. Namun hal ini sulit diwujudkan, terlebih bagi Indonesia yang jumlah penduduknya merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Pemenuhan kebutuhan akan rumah susun bagi masyarakat tidaklah mudah, terutama mereka yang tinggal di daerah padat penduduk di perkotaan. Upaya pengadaan perumahan tidak harus diwujudkan dalam pemilikan rumah, akan tetapi sekurang-kurangnya dapat diwujudkan dalam mendapatkan kesempatan menghuni rumah antara lain dengan cara sewa, atau dengan cara lain yang ditetapkan pemerintah untuk kelompok masyarakat yang sangat miskin. Pengadaan perumahan khususnya di daerah padat penduduk perlu memperhatikan keterbatasan lahan sehingga prasarana pembangunan rumah susun dapat menjadi salah satu alternatif. Dalam menjawab tantangan keterbatasan lahan dan kebutuhan akan rumah, Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun yang merupakan amanah dari pasal 46 UndangUndang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang mengamanatkan bahwa pengaturan mengenai rumah susun diatur tersendiri dengan undang-undang. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun yang baru saja disahkan memberikan arahan dalam rangka penyelenggaraan rumah susun yang berasaskan pada kesejahteraan, keadilan dan pemerataan, kenasionalan, keterjangkauan dan kemudahan, keefisienan dan kemanfaatan, kemandirian dan kebersamaan, kemitraan, keserasian dan keseimbangan, keterpaduan, kesehatan, kelestarian dan berkelanjutan, keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan, dan keamanan, ketertiban, dan keteraturan. Pada dasarnya undang-undang ini bertujuan untuk: a. menjamin terwujudnya rumah susun yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan serta menciptakan permukiman yang terpadu guna membangun ketahanan ekonomi, sosial, dan budaya; b. meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang dan tanah, serta menyediakan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dalam menciptakan kawasan permukiman yang lengkap serta serasi dan seimbang dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; c. mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan dan

permukiman kumuh; d. mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan yang serasi, seimbang, efisien, dan produktif; e. memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang menunjang kehidupan penghuni dan masyarakat dengan tetap mengutamakan tujuan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak, terutama bagi MBR; f. memberdayakan para pemangku kepentingan di bidang pembangunan rumah susun; g. menjamin terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak dan terjangkau, terutama bagi MBR dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan dalam suatu sistem tata kelola perumahan dan permukiman yang terpadu; dan h. memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian, pengelolaan, dan kepemilikan rumah susun. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun ini pada dasarnya mengatur, antara lain, mengenai jaminan kepastian hukum kepemilikan dan kepenghunian atas sarusun bagi MBR; adanya badan yang menjamin penyediaan rumah susun umum dan rumah susun khusus; pemanfaatan barang milik negara/daerah yang berupa tanah dan pendayagunaan tanah wakaf; kewajiban pelaku pembangunan rumah susun komersial untuk menyediakan rumah susun umum; pemberian insentif kepada pelaku pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus; bantuan dan kemudahan bagi MBR; serta perlindungan konsumen. Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah berupa Tanah dan Pendayagunaan Tanah Wakaf Pendayagunaan tanah wakaf dan pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah yang khusus ditujukan untuk pembangunan rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pendayagunaan tanah wakaf akan diatur Peraturan Pemerintah, sedangkan pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah dapat dilakukan dengan cara sewa selama 60 (enam puluh) tahun. Tanda Bukti Kepemilikan Satuan Rumah Susun Tanda bukti kepemilikan atas sarusun berupa SHM sarusun bagi pemilik sarusun komersial yang dapat dijadikan jaminan hutang dengan hak tanggungan, serta Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKBG) Sarusun bagi pemilik sarusun yang dibangun di atas barang milik negara/daerah berupa tanah atau tanah wakaf yang dapat dijadikan jaminan hutang dengan fiducia.

51

Pengelolaan Pengetahuan
Kelembagaan Bab mengenai Kelembagaan merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk mempercepat penyediaan rumah susun umum dan rumah susun khusus, terutama di perkotaan, menjamin bahwa rumah susun umum hanya dimiliki dan dihuni oleh MBR, menjamin tercapainya asas manfaat rumah susun, dan melaksanakan berbagai kebijakan di bidang rumah susun umum dan rumah susun khusus. Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah kemudian menugasi badan yang sudah terbentuk atau membentuk badan baru sebagai badan pelaksana rumah susun, khusus untuk rumah susun umum dan rumah susun khusus. Pendanaan dan Sistem Pembiayaan Pendanaan dan sistem pembiayaan dimaksudkan untuk memastikan ketersediaan dana dan dana murah jangka panjang yang berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan rumah susun. Pendanaan di dalam undang-undang ini dititik beratkan untuk pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara yang berasal dari APBN/D, dan sumber dana lainnya, yang terutama ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan untuk mengurangi backlog perumahan. Sedangkan sistem pembiayaan diamanatkan untuk dikembangkan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah, yang meliputi lembaga pembiayaan, pengerahan dan pemupukan dana, pemanfaatan sumber biaya, dan kemudahan atau bantuan pembiayaan. Bantuan dan Kemudahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun ini mengamanatkan Pemerintah untuk memberikan bantuan dan kemudahan dalam rangka pembangunan, penghunian, penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan rumah susun bagi MBR. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan insentif kepada pelaku pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus serta memberikan bantuan dan kemudahan bagi MBR. Insentif yang diberikan kepada pelaku pembangunan berupa fasilitasi dalam pengadaan tanah, fasilitasi dalam proses sertifikasi tanah, fasilitasi dalam proses perizinan, fasilitas kredit konstruksi dengan suku bunga rendah, insentif perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/atau bantuan penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum. Bantuan dan kemudahan yang diberikan kepada MBR berupa kredit kepemilikan sarusun dengan suku bunga rendah, keringanan biaya sewa sarusun, asuransi dan penjaminan kredit pemilikan rumah susun, insentif perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dan/atau sertifikasi sarusun. Peran Pemerintah Daerah, dan Masyarakat Undang-Undang tentang rumah susun ini telah membuka kesempatan kepada Pemerintah Daerah sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk berperan serta dalam penyelenggaraan rumah susun, yang menjadi urusan wajib pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten kota sebagaimana diamanatkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Mengenai keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman, dalam Bab XIV Undang-Undang ini telah dirumuskan secara khusus bahwa masyarakat dapat terlibat dalam penyusunan rencana, pelaksanaan pembangunan rumah susun dan lingkungannya, pemanfaatan rumah susun dan lingkungannya, pemeliharaan dan perbaikan rumah susun dan lingkungannya; dan/atau pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan rumah susun dan lingkungannya. Masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam kegiatan penyelenggaran perumahan dan kawasan permukiman, yang dapat dilakukan dengan membentuk forum pengembangan rumah susun. Penyelesaian Sengketa Penyelesaian sengketa di bidang rumah susun terlebih dahulu diupayakan berdasarkan musyawarah untuk mufakat. Dalam hal penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, pihak yang dirugikan dapat menggugat melalui pengadilan yang berada di lingkungan pengadilan umum atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan yang disepakati para pihak yang bersengketa melalui alternatif penyelesaian sengketa seperti arbitrase, konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan/atau penilaian ahli sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peningkatan Kualitas Pengaturan mengenai peningkatan kualitas terhadap rumah susun dalam BAB VIII merupakan kewajiban pemilik sarusun terhadap rumah susun yang tidak laik fungsi/tidak dapat diperbaiki, dan rumah susun yang dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan rumah susun dan/atau lingkungan rumah susun. Dalam peningkatan kualitas rumah susun, yang dilakukan adalah pembangunan kembali melalui pembongkaran, penataan, dan pembangunan dengan tetap melindungi hak kepemilikan, termasuk kepentingan pemilik atau penghuni dengan memperhatikan faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang berkeadilan. Prakarsa peningkatan kualitas rumah susun dilakukan oleh pemilik sarusun untuk rumah susun umum milik dan rumah susun komersial melalui Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Sarusun (PPPSRS), Pemerintah, pemerintah daerah, atau pemilik untuk rumah susun umum sewa dan rumah susun khusus, atau Pemerintah atau pemerintah daerah untuk rumah susun Negara, dan harus disetujui paling sedikit 60 % (enam puluh persen) anggota PPPSRS. Dalam pelaksanaan peningkatan kualitas rumah susun PPPSRS dapat bekerja sama dengan pelaku pembangunan rumah susun.
* Staf Biro Hukum dan Kepegawaian, Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat

Istimewa

52

Edisi 3 Tahun 2011

P

Permenpera Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tambahan Uang Muka dan Bantuan Sebagian Biaya Membangun Bagi Pegawai Negeri Sipil
BM, untuk PNS Golongan I, sebesar Rp. 13.800.000,-; PNS Golongan II, sebesar Rp. 13.500.000,-; PNS Golongan III, sebesar Rp. 13.300.000,-. Khusus untuk permohonan BM harus dibangun di tanah sendiri yang dibuktikan dengan bukti kepemilikan hak atas tanah yang sah. Bagi PNS yang menfaatkan BUM atau BM akan dikenakan bunga dengan tingkat suku bunga paling tinggi sebesar 6% (fixed rated)secara annuitas. Dalam penyaluran BUM atau BM akan dilaksanakan dengan lembaga perbankan yang telah mengadakan perjanjian kerjasama dengan BAPERTARUM-PNS. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 12 Tahun 2011 ini juga menegaskan Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BAPERTARUM PNS) untuk mengelola dana TAPERUM-PNS. Dana Taperum PNS merupakan tabungan melalui iuran yang dipotong dari gaji pokok masing-masing PNS. (SRP/DVD)

eraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Permenpera) Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tambahan Uang Muka dan Bantuan Sebagian Biaya Membangun Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditetapkan pada tanggal 11 Juli 2011. Permenpera ini mengatur tentang dua jenis bantuan, pertama Bantuan Uang Muka (BUM) dan kedua Bantuan Sebagian Biaya Membangun (BM), kedua bantuan tersebut merupakan dana Tabungan Perumahan (TAPERUM) PNS yang diberikan kepada PNS yang memenuhi syarat dan ketentuan untuk digunakan sebagai tambahan bantuan uang muka pembelian rumah atau digunakan untuk memenuhi sebagian biaya membangun rumah di atas tanah milik sendiri. Baik BUM maupun BM sama-sama menggunakan fasilitas Kredit/Pembiayaan Pemillikan Rumah melalui Bank Pelaksana. Permenpera ini juga mengatur besar tambahan dana yang dapat dimanfaatkan melalui BUM atau

P

Permenpera Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
harus memiliki 5 orang anggota dan paling paling banyak 11 orang (KSM beranggotakan MBR penerima bantuan stimulan perumahan swadaya). Penyampaian usulan dari KSM/UPK/BKM ini harus dilengkapi dengan beberapa persyaratan yang diatur secara jelas melalui kriteria dan persyaratan seperti kriteri penerima bantuan, kriteria obyek bantuan, kriteria kabupaten/kota penerima bantuan. Untuk PB dan PK besar dana bantuan paling sedikit 50% dari besar dana membangun rumah swadaya/meningkatkan kualitas rumah swadaya yang ditetapkan oleh Menteri Perumahan Rakyat. Khusus untuk PK besar dana bantuan ditentukan menurut tingkat kerusakan ringan dan sedang. Dalam pelaksanaan penggunaan dana bantuan PB atau PK, KSM diwajibkan untuk membuat laporan pelaksanaan kegiatan pembangunan perumahan swadaya yang kemudian dikirimkan ke UPK/BKM. Sedangkan UPK/BKM membuat laporan penyaluran dana bantuan stimulan yang terdiri dari laporan tahap pertama, laporan tahap kedua dan laporan akhir. (DVD)

ermenpera Nomor 14 Tahun 2011 adalah peraturan yang berfungsi sebagai pedoman dalam memberikan bantuan stimulan perumahan swadaya bagi masyarakat. Dalam permenpera ini perumahan swadaya didefinisikan sebagai rumah atau perumahan yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat, baik secara sendiri atau berkelompok, yang meliputi perbaikan, pemugaran/perluasan atau pembangunan rumah baru beserta lingkungan. Permenpera ini bertujuan untuk memberdayakan MBR agar mampu membangun atau meningkatkan kualitas rumah secara swadaya sehingga dapat menghuni rumah yang layak. Lingkup dari permenpera ini mencakup; pembangunan baru (PB), peningkatan kualitas (PK) dan pembangunan prasarana, sarana dan utilitas (PSU). Penyaluran bantuan stimulan perumahan swadaya kepada MBR dilakukan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang dibentuk oleh Unit Pengelolaa Kegiatan (UPK)/Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). KSM yang telah dibentuk sekurang-kurangnya

53

Pengelolaan Pengetahuan
BLU Pusat Pembiayaan Perumahan http://bluppp.com/ Situs Deputi Bidang Pembiayaan http://pembiayaan.kemenpera.go.id/
Situs ini dikelola oleh Kedeputian Bidang Pembiayaan, Kementerian Perumahan Rakyat. Dalam situs ini kita dapat memperoleh berbagai informasi yang berhubungan dengan pembiayaan perumahan di Indonesia. Pada situs ini kita dapat mengakses berbagai informasi mengenai program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) seperti konsep mengenai FLPP pada tautan ‘Apa Itu FLPP?’, ‘Apa Persyaratan dan Bagaimana Cara Mengikuti Program FLPP?’ hingga ‘Daftar Bank Pelaksana FLPP’. Selain itu situs ini juga memiliki tautan Simulasi FLPP yang dapat mempermudah kita untuk menghitung kredit FLPP.

Info Situs

Situs ini dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pembiayaan Perumahan. Isi dari situs ini berfokus pada penyebarluasan informasi tentang program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sampai pada penyebaran FLPP di Indonesia. Melalui situs ini kita juga dapat mengunduh beberapa regulasi yang terkait dengan FLPP KPR Sejahtera Tapak dan KPR Sejahtera Susun, Brosur FLPP untuk TNI, PNS dan Karyawan Swasta.

Situs Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS http://www.bapertarum-pns.co.id/
Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Bapertarum-PNS) adalah badan yang didirikan sejak tahun 1993 dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Situs BAPERTARUM-PNS selain memberikan informasi juga melayani bantuan uang muka, bantuan biaya membangun dan pengembalian tabungan yang dapat diakses via situs selain dengan cara manual. Situs ini delengkapi beberapa fitur menarik seperti, kalkulator tabungan yang berfungsi untuk mengetahui berapa besar dana yang telah dikumpulkan dari awal pengangkatan hingga masa pensiun.

Pembiayaan Skunder Perumahan

http://www.smf-indonesia.co.id/

Majalah Pembiayaan Rumah Murah http://www.housingfinance.com/
Sejak tahun 2008 PT. Sarana Multigriya Finansial (persero) didirikan sebagai bagian dari bentuk komitmen pemerintah dalam lembaga pembiayaan sekunder perumahan. Dari situs ini kita dapat mengakses beberapa layanan dan produk PT. SMF seperti sekuritisasi, pinjaman, standarisasi dokumen KPR, surat utang dan beberapa informasi mengenai pelatihan-pelatihan yang diberikan. Selain itu situs dilengkapi oleh beberapa referensi yang berguna. Situs ini dikelola oleh sebuah perusahaan penerbitan yang memiliki fokus kepada penerbitan majalah dan buku bertema Affordable Housing Finance (Pembiayaan Perumahan Terjangkau). Majalah ini terbit berkala setiap bulan dalam 2 bentuk cetak dan digital. Selain majalah, Affordable Housing Finance, pada situs ini juga memiliki tautan AHF Live yang merupakan sebuah kegiatan rutin pertemuan para pengembang yang bergerak di bidang pengadaan rumah murah layak huni. (DVD)

54

Fakta
ota sebagai sebuah medan garap ilmu pengetahuan tidak akan pernah habis untuk dibahas. Definisi tentang kota pun amat beragam tergantung pada cabang ilmu pengetahuan apa kota akan ditempatkan sebagai obyek pembahasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kota sebagai daerah permukiman yang terdiri atas bangunan rumah yang merupakan kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat, sedangkan Amos Rapporport mendefinisikan kota sebagai suatu permukiman yang relatif besar, padat dan permanen, terdiri dari kelompok individuindividu yang heterogen dari segi sosial. Inforum kali ini mengulas beberapa fakta tentang kota-kota di dunia yang mungkin sangat menarik untuk dibaca.
(DVD dari berbagai sumber)

Edisi 3 Tahun 2011

K

Mount Isa, Queensland, Australia (Kota Terluas di Dunia) Kota Mount Isa adalah sebuah kota pertambangan yang terletak 800 km sebelah timur kota Townsville, Queensland, Australia. Luasnya mencapai hampir 41.000 kilometer persegi dengan memiliki jalan raya kota sepanjang 189 km yang merupakan jalan raya kota terpanjang di dunia. Tokyo, Jepang (Kota Berpenduduk Terbanyak di Dunia) Tokyo merupakan ibukota negara Jepang yang sekaligus merupakan daerah terpadat di Jepang, serta daerah metropolitan terbesar di dunia. Memiliki penduduk sekitar 33.750.000 jiwa, Tokyo adalah pusat politik, ekonomi, budaya dan akademis di Jepang serta tempat tinggal kaisar Jepang dan kursi pemerintahan negara, dan sekaligus merupakan pusat bisnis dan finansial utama untuk seluruh Asia Timur.

Hum, Istra, Kroasia (Kota Terkecil di Dunia) Kota Hum atau dalam bahasa Jerman disebut dengan Cholm adalah sebuah kota tua yang didirikan pada tahun 1102. Kota kecil ini sebenarnya berbentuk sebuah benteng kecil yang sampai saat ini masih mempertahankan semua elemen arsitektur dan tata organisasi perkotaan sejak abad pertengahan. Selain dari luas kotanya yang memang tidak begitu luas kota Hum berdasarkan sensus tahun 2005 hanya memiliki penduduk sebanyak 23 jiwa.

Kota Jericho (Kota Tertua dan Terendah di Dunia) Kota Jericho dalam bahasa Arab disebut Ariha terletak sekitar 1 jam dari Laut Mati (The Dead Sea), dengan ketinggian 300 meter dpl. Kota Jericho terkenal juga dengan sebutan ‘kota terendah di dunia’. Usia kota ini diperkirakan sekitar 10.000 tahun. Kota ini juga ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia yang harus dilindungi.

Kota Potosi, Bolivia (Kota Tertinggi di Dunia) Kota Potosi terletak di negara Bolivia merupakan kota tertinggi yang berada di 4.100 meter di atas permukaan laut. Kota yang terletak di pegunungan Cerro de Potosi atau Cerro Rico yang berarti gunung yang kaya adalah sebuah daerah yang memiki kandungan perak sangat besar. Kota yang didirikan pada tahun 1546 sebagai kota tambang ini telah di tetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia yang harus dilindungi.

55

Praktik Unggulan

Bank Gakin

di Indonesia

“Grameen Bank”
endekatan kredit mikro merupakan salah satu cara yang banyak di tempuh oleh negara berkembang untuk mengatasi kemiskinan. Salah satunya adalah Grameen Bank yang menyeruak dari Banglades bersama penggagasnya Prof. Muhamad Yunus. Kalau di Indonesia mungkin bisa disamakan dengan bank desa karena Grameen dalam bahasa Bengali berarti pedesaan. Bank ini secara khusus memang dirancang untuk melayani orang miskin sehingga disebut ‘banking for the poor’. Sebagaimana halnya Grameen Bank, Bank Gakin di Jember juga menggunakan prinsip tanggung renteng di antara para anggotanya. Bank dikelola sendiri warga miskin, 90 persennya perempuan. Muhammad Yunus bersama Grameen Bank membuktikan gerakan mendayagunakan ekonomi masyarakat bawah dapat berjalan. Sekaligus membuktikan kaum perempuan yang menjadi nasabah utama (98 persen) ternyata mampu melakukan perubahan revolusioner, berhasil melawan kemiskinan. Sejak tahun 2005 di Kabupaten Jember dikembangkan sebuah inovasi bernama kegiatan Pemberdayaan Usaha Mikro Rumah Tangga Miskin (PUM-RTM) yang dipelopori Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Jember. Inovasi PUM-RTM dirancang secara khusus dalam rangka peningkatan pendapatan keluarga dengan mengembangkan usaha mikro sebagai alternatif usaha sampingan, berbasis pada penguatan institusi, berorientasi pada keberlanjutan usaha serta menyentuh langsung wajah keluarga miskin. Kegiatan PUM-RTM terdiri dari 3 tahap yaitu tahap penguatan institusi, tahap penguatan modal usaha dan tahap peningkatan keterampilan. Ketiga aktivitas tersebut merupakan

Jembe r Award meraih pen gh (IGA) T ahun 2 argaan Inno va 010 da ri Kem tive Govern endag ment ri.

P

Istimewa

suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Aktivitas penguatan modal usaha dilaksanakan setelah penguatan institusi dilakukan secara benar. Kegiatan PUM-RTM akan bermuara pada terbentuknya 2 institusi yaitu institusi ekonomi yang bernama LKMM dan institusi sosial yang bernama pokmas (kelompok masyarakat). LKMM dikenal dengan istilah Bank Gakin oleh para anggotanya. Istilah ini dipopulerkan pengurus dan anggota LKMM sebagai antitesis terhadap bank formal yang selama ini tidak pernah mau peduli dengan ekonomi keluarga miskin. Awalnya program ini dicoba untuk diimplementasikan di desa, namun karena wilayah desa dianggap masih terlalu luas, wilayah kerja leuangan mikro masyarakat dipersempit menjadi tingkat dusun. Semakin sempit wilayah kerja diprediksi akan semakin efektif. Setelah melakukan penelitian maka dipilihlah dusun Semenggu dan Mojan, kelurahan Bintoro, kecamatan Patrang sebagai pionir karena masyarakat di kedua lokasi tersebut telah diblack list lembaga perbankan. Dengan modal dana hibah dari Dinas Koperasi dan UMKM sebesar Rp. 25 juta dan simpanan sukarela anggota, kedua Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat tersebut telah mampu melayani sekitar 30 kelompok yang beranggotakan lebih dari 150 kepala keluarga. Sebagaimana halnya Grameen Bank, Bank Gakin di Jember juga menggunakan prinsip tanggung renteng di antara para anggotanya. Kelompok usaha yang terdiri atas 5 sampai 10 orang dapat mengajukan kredit usaha tanpa agunan Rp. 50.000 hingga Rp. 1 juta. Masyarakat yang mengajukan kredit tidak perlu menyerahkan proposal usaha, apalagi melalui survei yang berbelit. Proposal bisa diajukan secara lisan. Dana kredit langsung cair setelah diadakan survei sekilas terhadap usaha yang dijalankan. Sejak tahun 2005 sampai dengan Desember 2008, secara keseluruhan “Bank Gakin” di kabupaten Jember telah berkembang sebanyak 37 unit yang melayani pengusaha mikro gakin perempuan sebanyak 4.834 orang dengan omset pinjaman sebesar Rp. 14,4 M . Jumlah anggota dan nilai pemberian pinjamannya akan terus berkembang karena berbasis pada pemberdayaan yang hakiki dengan penanaman nilai-nilai kejujuran dan tanggungjawab. Sampai saat ini, di Jember telah berdiri 217 Bank Gakin di 217 dusun. Jumlah anggota aktif lebih dari 15 ribu warga miskin. Mayoritas perempuan yang memiliki usaha mikro, seperti pedagang keliling. (DVD dari berbagai sumber)

56

Galeri Foto
Inforum/Ristyan Mega Putra
Inforum/Ristyan Mega Putra

Edisi 3 Tahun 2011

Jabat erat
Sertijab
Sertijab Menpera dari Suharso Monoarfa kepada Djan Faridz di Kantor Kemenpera, Jakarta, Senin (19/10). Djan Faridz yang baru saja dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Suharso Monoarfa menyatakan dirinya siap melanjutkan program-program serta kebijakan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yang ada saat ini.

erikan selamat rsi Eddy Ganefo memb Ketua Umum DPP Apedilantik menjadi Menpera menggantikan i kepada Djan Faridz usa Suharso Monoarfa.

Inforum/Ristyan Mega Putra
n Inforum/Ristya Mega Putra

ahan PPP Kemenpera biayaan Perum Talkshow BLU Layanan Umum Pusat Pemmar Ali (kiri) saat n

Kunjungan JICA

Pemimpin Badamenpera Margustienny Oe (14/11). Kemenpera n (BLU PPP) Ke how di i Radio, Jakarta, Seniasyarakat luas melalui melakukan talks sosialisasi FLPP kepada m rumah dengan cicilan terus melakukanagar mereka bisa memiliki berbagai mediasuku bunga rendah. murah dengan

Menpera Djan Faridz bersama Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh menerima kunjungan perwakilan JICA di Ruang Rapat Menpera di Jakarta untuk membahas investasi perumahan di kota Maja beberapa waktu lalu.

Inforum/Ristyan Mega Putra

Inforum/Akbar Pandu P.

Tinjau lokasi
Refleksi dan Evaluasi Kinerja Akhir Tahun 2011 Kemenpera di Ruang Prambanan, Kantor Kemenpera, Jakarta, beber optimis bisa merealisasikan penyerapan angga apa waktu lalu. Kemenpera ran 90,49 persen hingga akhir tahun 2011 ini.

Paparan Kinerja Kemenpera 2011

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono dan Menteri Perumahan Rakyat (menpera) Djan Faridz meninjau program perumahan swadaya di kabupaten Karangasem, Bali.

57

Agenda

“Ubah Dunia Kita”
anggal 12 Agustus ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai International Youth Day atau Hari Pemuda Internasional yang diperingati setiap tahunnya. Hari Pemuda Internasional digagas pertama kali oleh para perwakilan pemuda yang berkumpul pada acara World Youth Forum (WYF) di Wina, Austria pada tahun 1991. Salah satu hasil rekomendasi WYF adalah pendeklarasian Hari Pemuda Internasional. Tahun 1998 saat konferensi tingkat menteri yang bertanggungjawab untuk urusan kepemudaan tanggal 8-12 Agustus di Libon, Portugal, gagasan Hari Pemuda Internasional kembali dibahas dan merekomendasikan tanggal 12 Agustus sebagai Hari Pemuda Internasional. Hasil kesepakatan dari konferensi di Lisbon ini kemudian dibawa dan diadopsi dalam Sidang Umum PBB tahun 1999 (Resolution A/ RES/54/120 of 17 December 1999 entitled Policies and Programmes Involving Youth). Istimewa Hari Pemuda Internasional ini bertujuan mempromosikan serta meningkatkan kesadaran antarpemuda akan Program Aksi Pemuda Sedunia Tahun 2000 dan Masa Depan. Ada 10 isu prioritas dalam program ini; pendidikan, ketenagakerjaan, kelaparan dan kemiskinan, kesehatan, lingkungan, penyalahgunaan obat-obatan, kenakalan

Hari Pemuda Internasional

T

the arrogance of age must submit to be taught by youth (Edmund Burke)
remaja, kegiatan waktu senggang, gadis dan perempuan muda serta keterlibatan pemuda dalam kehidupan sosial dan pengambilan keputusan. Tahun 2010-2011 juga ditetapkan sebagai Tahun Internasional Pemuda (International Year of Youth) yang dimulai pada tanggal 12 Agustus 2010 hingga 12 Agustus 2011 dengan tema ‘Tahun Kita, Suara Kita’ (Our Year Our Voice). Pesan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada penyelenggaraan Hari Pemuda Internasional pertama pada tahun 2000 mengajak pemerintahan di seluruh dunia lebih responsif terhadap aspirasi pemuda untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, serta peka terhadap tututan pemuda untuk terlibat sebagai sebuah solusi ketimbang sebagai masalah. Setelah 10 tahun, pesan ini diadopsi dengan menjadikannya tema perayaan Tahun Pemuda Internasional yang diadopsi dalam Sidang Umum PBB tahun 2009 (Resolution 64/134 proclaiming the International Year of Youth from 12 August 2010 to 11 August 2011). Peringatan Tahun Pemuda Internasional ini bertujuan untuk menjangkau seluruh generasi, budaya, agama dan peradaban dan mempromosikan cita-cita perdamaian, menghormati hak asasi manusia dan solidaritas. (DVD dari berbagai sumber)

Tema Hari Pemuda Internasional
2011 – 2010 – 2009 – 2008 – 2007 – 2006 – 2005 – 2004 – 2003 – 2002 – 2001 – Change Our World (Ubah Dunia Kita) Dialogue and Mutual Understanding (Dialog dan Saling Pengertian) Sustainability: Our Challenge. Our Future. (Keberlanjutan: Tantangan Kita, Masa Depan Kita) Youth and Climate Change: Time for Action (Pemuda dan Perubahan Iklim: Waktu untuk Bertindak) Be seen, Be heard: Youth Participation for Development (Dilihat, Didengar: Partisipasi Pemuda dalam Pembangunan) Tackling Poverty Together (Menangani Kemiskinan Bersama) WPAY+10: Making Commitments Matter (WPAY+10: Pentingnya Membuat Komitmen) Youth in an Intergenerational Society (Pemuda dalam Masyarakat Antargenerasi) Finding Decent and Productive Work for Young People Everywhere (Mencari Pekerjaan yang Layak dan Produktif Bagi Kaum Muda di Seluruh Dunia) Now and for the Future: Youth Action for Sustainable Development (Sekarang dan Masa Depan: Aksi Pemuda untuk Pembangunan Berkelanjutan) Addressing Health and Unemployment (Mengatasi Pengangguran dan Kesehatan) First Observance of International Youth Day 2000 (Peringatan Pertama Hari Pemuda Internasional Tahun 2000)

58

PNS

BAPERTARUM - PNS

PROSEDUR DAN PERSYARATAN PENGAJUAN BUM/BM Rp. 15 JUTA
A. PERSYARATAN UMUM
1. PNS Aktif golongan I, II dan III 2. Memiliki masa kerja paling singkat 5 tahun 3. Belum pernah menerima dan memanfaatkan layanan TAPERUM-PNS 4. Belum memiliki rumah 5. Khusus untuk permohonan BM, harus memiliki tanah yang dibuktikan dengan bukti kepemilikan hak atas tanah yang sah (sesuai Peraturan Bank Pelaksana) Golongan I Golongan II Golongan III : Rp. 13.800.000,: Rp. 13.500.000,: Rp. 13.200.000,-

Untuk bantuan yang dikembalikan, dikenakan bunga dengan sistem annuitas sebesar 6% per tahun dengan masa pengembalian disesuaikan dengan jangka waktu KPR/KMR Atau lebih jelasnya dapat digambarkan dalam tabel di bawah ini:
NO 1 JENIS BANTUAN BUM/BM GOL. I GOL. II GOL. III KET

B. PERSYARATAN PENGAJUAN BUM ATAU BM
1. Mengisi formulir Permohonan Tambahan BUM atau BM yang direkomendasikan oleh atasan langsung (dapat diperoleh melalui situs www.bapertarum-pns.co.id atau Bank Pelaksana) 2. Fotokopi KARPEG dan SK Kepangkatan terakhir 3. Surat Pernyataan Belum Memiliki Rumah 4. Berkas dokumen pengajuan kredit lainnya yang dipersyaratkan oleh Bank Pelaksana

1.200.000 1.500.000

1.800.000 BANTUAN

2 TAMBAHAN 13.800.000 13.500.000 13.200.000 PINJAMAN

C. MEKANISME PENGAJUAN BUM ATAU BM
1. Seluruh Proses Pengajuan BUM atau BM dilakukan melaui Bank Pelaksana yang telah bekerja sama dengan BAPERTARUM-PNS 2. Berkas dokumen pengajuan BUM atau BM yang telah dilengkapi oleh PNS diajukan bersamaan dengan proses pengajuan KPR/KMR ke Bank Pelaksana 3. Bank Pelaksana akan mencairkan dana BUM atau BM, setelah menyetujui permohonan KPR/KMR dan Tambahan BUM/BM yang diajukan oleh PNS

TOTAL

15.000.000 15.000.000 15.000.000

E. SIMULASI TAMBAHAN BUM/BM
NO JENIS BANTUAN TAMBAHAN BUM/BM BUNGA ANNUITAS GOL. I GOL. II GOL. III

1

13.800.000

13.500.000 13.200.000

D. BESARAN BUM/BM
Besaran BUM/BM adalah sebesar Rp. 15.000.000,- dengan perincian sebagai berikut: 1. Bantuan yang tidak dikembalikan (BUM/BM) Adalah bantuan yang diberikan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakayat selaku Ketua Harian BAPERTARUM-PNS Nomor 01/KPTS/1995 tentang Perubahan Bantuan Pemilikan Rumah bagi Pegawai Negeri Sipil yang besarannya sesuai dengan Golongan ruang masing-masing PNS, yaitu: Golongan I : Rp. 1.200.000,Golongan I : Rp. 1.500.000,Golongan III : Rp. 1.800.000,2. Bantuan yang dikembalikan (Tambahan BUM/BM) Adalah bantuan yang diberikan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tambahan Bantuan Uang Muka dan Bantuan Sebagian Biaya Membangun Bagi Pegawai Negeri Sipil yang besarannya adalah:

2

6%

6%

6%

3

CICILAN/BULAN

118.407

115.833

113.259

Keterangan: asumsi jangka waktu 15 tahun

F. BANK PELAKSANA
Bank Pelaksana yang telah bekerjasama dengan BAPERTARUM-PNS saat ini adalah: 1. PT. Bank Tabungan Negara 2. PT. Bank BUKOPIN 3. PT. BPD Sumatera Utara 4. PT. BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Untuk informasi, hubungi :

Wisma Iskandarsyah Blok B2 & B3 Jl. Iskandarsyah Raya Kav. 12-14 Kebayoran Baru, Jakarta 12160 Telp. 021-7278 7085,7279 7087,7279 7089, Fax. 021-7279 7086 Situs: www.bapertarum-pns.co.id

BAPERTARUM - PNS

Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)
Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) KPR Sejahtera Tapak dan KPR Sejahtera Rusun merupakan penyaluran pembiayaan dari Pemerintah Pusat melalui Bank Pelaksana kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam kepemilikan rumah yang dibeli dari pengembang. Program ini dilaksanakan oleh BLU PPP Kementerian Perumahan Rakyat.

Spesifikasi Program KPR Sejahtera Tapak
- Bebas PPN untuk harga rumah s/d Rp. 70 juta - Bunga 8.15% s/d 8.50% per tahun - Nilai KPR Rp. 50 juta s/d Rp. 80 juta

Uang muka paling sedikit 10% dari harga rumah

Spesifikasi Program KPR Sejahtera Rusun
- Bunga 9.25% s/d 9.95% per tahun - Nilai KPR Rp. 90 juta s/d Rp. 135 juta

Uang muka paling sedikit 12,5% dari harga unit

LU) mum (B yanan U erumahan a Badan L biayaan P 30 at em an Raky arta 101 Pusat P erumah oran Baru, Jak erian P Kement s No. 75 Kebay 72801507 1 nu Jl. Patiu 220050 Fax. 02 7 1 com Telp. 02 .bluppp. us: www Sit

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful