Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah cara super murah dan efektif untuk mengurangi risiko

penularan berbagai penyakit, termasuk diare, flu burung, ISPA, Hepatitis A dan cacingan

Percik edisi khusus PPSP 2010-2014 ini didukung oleh

Foto: dok. Forkami

DARI REDAKSI

DARI REDAKSI
Untuk kesekian kalinya PERCIK diterbitkan dalam edisi khusus. Kali ini, kami mencoba mengupas tuntas tentang program pembangunan sanitasi yang tengah dilaksanakan Pemerintah di sejumlah daerah di Indonesia. Program tersebut adalan Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman atau lebih sering disingkat sebagai PPSP. Seperti halnya edisi khusus lainnya, PERCIK menampilkan berbagai sisi dari topik utamanya. Baik dari sisi perencanaan, latar belakang, target, sasaran, cerita lapangan, hingga pendapat para pemangku kepentingan. Penerbitan edisi khusus ini dibantu oleh DHV B.V, MLD dan Haskoning. Wacana tentang percepatan pembangunan sanitasi pertama kali bergulir secara resmi saat pembukaan Konferensi Sanitasi Nasional oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 Desember 2009. Kemudian, wacana ini diterjemahkan dan disepakati sebagai program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) oleh Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi. Rancangan PPSP sendiri dirumuskan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi dan selanjutnya disepakati untuk dilaksanakan oleh 4 Kementerian: Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri. Satu hal yang membedakan PPSP dari program sanitasi sebelumnya adalah menjadikan perencanaan pembangunan yang lebih mendalam sebagai pilar yang amat penting. Sejumlah 330 Pemerintah Kabupaten dan Kota didorong untuk menyusun suatu perencanaan strategis dalam pembangunan sanitasinya. Perencanaan strategis yang dikenal sebagai Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK) ini harus disusun sendiri oleh pemerintahnya dengan prinsip-prinsip:bersifat multisektor; komprehensif dan mencakup seluruh kota; berdasarkan data yang valid melalui pemetaan kondisi sanitasi; serta merupakan penggabungan antara pendekatan top-down dan bottom-up. Namun demikian, PPSP bukan hanya tentang perencanaan yang strategis dalam pembangunan sanitasi. Setelah pemerintah daerah memiliki rencana strategis, Pemerintah pusat akan memfasilitasi penterjemahan dari rencana strategis menjadi berupa Memorandum Program agar dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan prioritas yang disepakati oleh pemerintah setempat. Mendorong sejumlah ratusan kabupaten/kota untuk menyusun SSK tentulah bukan pekerjaan mudah. Salah satu strategi yang digunakan adalah dengan mengadopsi pembelajaran di masa lalu yang mendorong pemerintah daerah untuk membentuk forum koordinasi yang terdiri dari seluruh pemangku kepentingan terkait. Forum koordinasi ini lebih dikenal sebagai Kelompok Kerja (Pokja) AMPL dan di sebagian daerah dikenal pula sebagai Pokja Sanitasi. Berbagai fakta, wawancara, dan pembelajaran yang kami coba tampilkan dalam PERCIK edisi khusus ini diharapkan dapat melengkapi informasi PPSP di atas. Bagaimana kebijakan yang disepakati di tingkat pusat, bagaimana pemerintah daerah dan provinsi menyikapi pengarus utamaan pembangunan sanitasi, serta tak ketinggalan seluk beluk peran para fasilitator yang bertugas mengawal pelaksanaan PPSP di lapangan. Akhir kata, semoga pembaca memperoleh informasi yang lengkap dan lugas tentang PPSP melalui PERCIK edisi kali ini. Lebih dari itu, kami berharap agar berbagai informasi yang kami tampilkan dapat memperkuat komitmen kita bersama untuk membangun sanitasi yang lebih baik bagi masyarakat. (redaksi/Oswar Mungkasa)

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Diterbitkan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) bekerja sama dengan TTPS, DHV B.V, MLD, Haskoning Penanggung Jawab Nugroho Tri Utomo Pemimpin Redaksi Oswar Mungkasa Tim Penyusun Edisi khusus kali ini Andre Kuncoroyekti Alwis Rustam Bachtaruddin Gunawan Dhanang Tri W. Eko Budi H. Fanny Putri Hony Irawan Iman Utomo Mujiyanto, Nissa Cita Nur Aisyah Yudi Wahyudi Design/ilustrator: PT Qipra Galang Kualita
Alamat Redaksi: Jl RP Soeroso No.50 Menteng, Jakarta Pusat 10350 Telp./Fax 021-3190 4113 Sumber foto Dok. TTPS, Dok ISSDP, Dok Qipra

04 Sanitasi Indonesia

Terobosan Pembangunan

Pembangunan sanitasi dengan paradigma baru diharapkan mampu mengejar ketertinggalan sektor ini dibanding sektor lainnya.

28 14
Sanitasi Baik, Anggaran Kesehatan Turun

Sanitasi Harus Terus Dibicarakan dan Konkret

Kementerian Pekerjaan Umum sebagai salah satu instansi yang berperan dalam menyediakan infrastruktur bagi masyarakat tak ingin mengulang kesalahan masa lalu yang hanya memikirkan target fisiknya saja tanpa memperhitungkan faktor lainnya.

Payakumbuh adalah satu dari sedikit kota di Indonesia yang serius menangani isu-isu sanitasi. Belum genap tiga tahun, Pemkot Payakumbuh berhasil melaksanakan sejumlah program sanitasi dan memberi dampak positif pada masyarakat.

30 17
Penguatan Kelembagaan Sanitasi
Cerita sukses dari Blitar dimana Pemkot tidak menemui kesulitan ketika memfasilitasi dan mereplikasi terbentuknya Pokja hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan.

Tantangan Kita, Menjaga Komitmen Bersama

Kementerian Kesehatan merupakan salah satu institusi yang memiliki peranan penting dalam hal upaya advokasi, edukasi dan pemberdayaan bagi aspek komunikasi kebijakan penyehatan lingkungan, termasuk sektor sanitasi.

32

Pembangunan Sanitasi Harus Dipercepat

Setiap hari diperkirakan sebanyak 14.000 ton tinja dan 176.000m3 urine terbuang ke badan air, tanah, danau dan pantai yang menyebabkan 75 persen sungai tercemar berat dan 70 persen air tanah di perkotaan tercemar bakteri tinja.

20

Mengintegrasikan Sanitasi ke Program Eksekutif

>>
40 Pembangunan Sanitasi Harus Komprehensif 42 Mereka Bicara Sanitasi 46 Usaha DaerahIsu Mengangkat
Sanitasi

‘Kepiawaian’ Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kota Tegal, Jawa Tengah, bisa menjadi contoh betapa sanitasi bisa menembus eksekutif dan legislatif.

48 Ketika Angka Berbicara Banyak

Laporan Utama

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP)

SANITASI NASIONAL
Pembangunan sanitasi dengan paradigma baru diharapkan mampu mengejar ketertinggalan sektor ini dibanding sektor lainnya.

TEROBOSAN PEMBANGUNAN

Buruknya kondisi sanitasi (baca Ketika Angka Bicara Banyak) bukan saja disebabkan terbatasnya akses penduduk dan kualitas fasilitas sanitasi, tetapi juga masih rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang isu-isu sanitasi dan kesehatan. Tentu kondisi tersebut tak bisa dibiarkan. Perlu ada lompatan pembangunan sanitasi. Caranya, sanitasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan. Hal itu membutuhkan komitmen dan dukungan semua pihak di semua level terutama para penentu kebijakan. Nah, Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) menjadi jembatan untuk mewujudkan impian pembangunan sanitasi yang lebih baik ke depan.

Duduk Bersama: Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S. Alisjahbana, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam Konferensi Sanitasi Nasional II yang bertema “Mempercepat Pembangunan Sanitasi untuk Memenuhi Pelayanan Dasar Rakyat” di Jakarta, Desember 2009.
Foto: Dok. TTPS

november 2010

majalah percik

5

Laporan Utama

Pembangunan Tangki Septik Komunal

K

ebijakan pembangunan sanitasi era sebelumnya tak layak lagi dipertahankan. Potret buram harus segera dihilangkan. Kegagalan demi kegagalan menjadi bahan pembelajaran. Pembangunan sanitasi butuh terobosan dan lompatan. Semua itu hanya bisa terwujud bila sanitasi telah menjadi prioritas pembangunan dan urusan bersama: pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, negara donor, dan masyarakat. Berdasarkan pembelajaran sebelumnya, pembangunan sanitasi sukses bila ada perencanaan dan strategi yang tepat. Bukan sekadar persoalan anggaran. Perencanaan dan strategi tersebut mencakup seluruh aspek sanitasi ditambah koordinasi dan sinergi antarpihak-pihak yang berkepentingan. Komitmen, strategi, koordinasi, dan sinergi menjadi penggerak lahirnya lompatan pembangunan sanitasi. Inilah paradigma baru pembangunan sanitasi.

TERUJI
Paradigma baru pembangunan sanitasi ini telah teruji. Ini dibuktikan dengan keberhasilan enam kota percontohan yang mengikuti program pembangunan sanitasi melalui Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) pada tahun 2006 hingga 2008. Denpasar, Blitar, Surakarta, Banjarmasin, Payakumbuh, dan Jambi menjadi laboratorium pertama penyusunan strategi sanitasi kota. Perencanaan pembangunan sanitasi kota jangka menengah ini kemudian disebut sebagai Strategi Sanitasi Kota (SSK). SSK menjadi acuan pembangunan sanitasi kabupaten/kota selama lima
majalah percik november 2010

6

Foto: Dok. TTPS

Rombongan Petinggi: Wakil Presiden RI Boediono membuka KSN II di Istana Wakil Presiden, Desember 2009.

lebih sederhana dan mudah dipahami. Banyak pihak mulai melihat keberhasilan terobosan ini. Sejumlah kota mereplikasikan pendekatan baru tersebut. Kota-kota itu difasilitasi oleh mitra pemerintah di antaranya Enviromental Service Program (ESP).

tahun ke depan bagi pemerintah kabupaten/kota. SSK mengikat para pemangku kepentingan untuk melaksanakannya. Dalam paradigma baru ini posisi pemerintah pusat tidak lagi berada di depan. Pemerintah pusat hanya berfungsi memfasilitasi. Seluruh perencanaan sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota. Sukses dengan laboratorium pertama, model pembangunan sanitasi dilanjutkan dengan ISSDP tahap II 2007-2009. Enam kota baru menjadi peserta yakni Tegal, Pekalongan, Batu, Malang, Bukittinggi, dan Kediri. Berbagai kekurangan sebelumnya dievaluasi dan dimatangkan pada tahap ini. Pemerintah provinsi dilibatkan lebih aktif. Dokumen SSK disusun

PPSP pada dasarnya adalah sebuah roadmap pembangunan sanitasi di Indonesia. Roadmap ini akan diterapkan secara bertahap di 330 kabupaten/kota di seluruh Indonesia mulai 2010 hingga 2014. Daerah tersebut dinilai rawan masalah sanitasi. Di samping untuk mengejar ketertinggalan dari sektorsektor lain, roadmap sanitasi juga dimaksudkan untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia memenuhi tujuantujuan Millennium Development Goals (MDGs). Khususnya yang terkait dengan Butir 7 Target ke-10 MDG, yakni “mengurangi hingga setengahnya jumlah penduduk yang tidak punya akses berkelanjutan pada air yang aman diminum dan sanitasi yang layak pada tahun 2015.” Target ini bisa dipenuhi secara kuantitif, tetapi secara kualitatif layanan yang tersedia masih belum memadai. PPSP atau roadmap sanitasi

PPSP
Keberhasilan kota-kota ISSDP menyusun SSK menjadi landasan bagi pengembangan sanitasi di seluruh Indonesia. Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) kemudian mempromosikan SSK ini sebagai cetak biru pembangunan sanitasi komprehensif di kawasan perkotaan. Sebagai implementasinya, pemerintah kemudian meluncurkan Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) pada saat Konferensi Sanitasi Nasional ke-2 di Jakarta awal Desember 2009.

november 2010

majalah percik

7

Laporan Utama

STRATEGI SANITASI KOTA SSK
Strategi Sanitasi Kota (SSK) merupakan rencana pembangunan sanitasi jangka menengah kabupaten/kota yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Di dalamnya terkandung visi, misi, tujuan, dan sasaran pembangunan sanitasi, zona dan sistem layanan sanitasi, isu-isu strategis dalam pengelolaan sanitasi, strategi pembangunan sanitasi, serta program dan kegiatan jangka menengah dan tahunan. SSK berguna sebagai acuan pembagian peran antarpelaku pembangunan sanitasi sekaligus sebagai kendali bagi realisasi pembangunan sanitasi yang berbasis kinerja. Keberadaan SSK menjadi gambaran kebutuhan pendanaan sanitasi tahunan dan jangka menengah. Penyusunan SSK menggunakan prinsip kerja skala kota dan multisektor; dari, oleh dan untuk Pokja; sinkronisasi perencanaan top-down dan bottom-up; dan berdasarkan data empiris. Sebelum SSK tersusun, kabupaten/kota harus terlebih dahulu memiliki gambaran karakteristik dan kondisi sanitasi, serta prioritas/arah pengembangan kabupaten/ kota dan masyarakat. Gambaran nyata kondisi sanitasi ini dituangkan dalam Buku Putih Sanitasi.

merupakan muara berbagai aktivitas terkait pembangunan sektor sanitasi yang berlangsung beberapa tahun terakhir. Dimulai dengan Konferensi Sanitasi Nasional, November 2007, yang merintis kesepakatan langkahlangkah penting pembangunan sanitasi seiring pencapaian MDGs, penyelenggaraan International Year of Sanitation, 2008, yang mampu meningkatkan kesadaran dan komitmen pemerintah pusat dan daerah, dan Konvensi Strategi Sanitasi Perkotaan, April 2009, yang berhasil mengidentifikasi isu-isu terkait sektor sanitasi dan memperkenalkan pendekatan strategi sanitasi kota yang lebih praktis. PPSP diarahkan pada upaya memenuhi tiga sasaran, yakni:  Menghentikan perilaku buang air besar sembarangan (BABS) pada tahun 2014 di perkotaan dan perdesaan.  Pengurangan timbunan sampah dari sumbernya dan penanganan sampah yang ramah lingkungan  Pengurangan genangan di 100 kabupaten/kota seluas 22.500 hektar. Berikut adalah ringkasan roadmap PPSP (Tabel 1)

EHRA
EHRA adalah sebuah survei partisipatif di tingkat kota yang bertujuan untuk mengetahui kondisi sarana dan prasarana sanitasi, kesehatan/higienitas, serta perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi dan advokasi di tingkat kota hingga kelurahan. Studi EHRA di antaranya untuk mengetahui: 1. Sumber air (minum, cuci, mandi, kelangkaan air) 2. Perilaku cuci tangan pakai sabun 3. Pembuangan sampah (cara utama, frekuensi pengangkutan, pemilahan) 4. Jamban dan perilaku buang air besar (BAB); Pembuangan kotoran anak 5. Kondisi jalan dan drainase serta pengalaman banjir Metode EHRA mencakup kegiatan seperti: pengumpulan data, sampling, dan analisis. Data dikumpulkan dengan wawancara dan pengamatan/observasi. Sedangkan respondennya adalah ibu (perempuan menikah atau janda) berusia antara 18 – 60 tahun. Pemilihan ibu berdasarkan urutan/ tabel prioritas sebagai berikut: (1) kepala rumah tangga (orang tua tunggal/janda); (2) istri kepala rumah tangga, (3) anak rumah tangga, dan (4) adik/kakak kepala rumah tangga. Di tingkat kabupaten/kota, data primer yang dikumpulkan riset EHRA dimanfaatkan sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota. Selain untuk merencanakan program pengembangan sanitasi di kota, data EHRA pun dimanfaatkan sebagai tolak ukur keberhasilan program sanitasi di tingkat kota.

8

majalah percik

november 2010

Tabel 1: Tahapan PPSP 2010 - 2014

Tahapan Kampanye, Edukasi, Advokasi dan Pendampingan Pengembangan Kelembagaan dan Peraturan Penyusunan Rencana Strategis (SSK) Penyusunan Memorandum Program Implementasi (akumulasi dan dalam proses) Pemantauan, Pembimbingan, Evaluasi dan Pembinaan

Jumlah Kabupaten/Kota Sasaran 2009 41 41 24 3 24 2010 49 49 41 21 3 41 2011 62 62 49 35 24 49 2012 72 72 62 45 59 62 2013 82 82 72 56 104 72 2014 (100) (100) 82 65 160 82

Peran dan Tanggungjawab Pusat, Provonsi dan Donor Pusat, Provinsi Kabupaten/Kota Pusat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota Pusat, Provinsi

(100) dalam tanda kurung menunjukan 100 kota sasaran berikutnya diluar 330 kota target PPSP.

PROGRAM KERJA
PPSP diiplementasikan dengan mendorong pemerintah daerah menyusun SSK kabupaten/kota mereka masing-masing. Hanya dengan SSK yang komprehensif, berskala kota, menggabungkan pendekatan top-down dan bottomup, berdasarkan data aktual, pembangunan sektor sanitasi yang berkelanjutan bisa dijamin. SSK diharapkan menjadi cetak biru perencanaan pembangunan sektor sanitasi di kabupaten/kota.
PPSP merupakan program yang melibatkan semua jenjang pemerintahan. Jalinan kerja sama antarjenjang pemerintah menjadi kunci keberhasilan program ini. Secara implementasi, program ini berlangsung di tingkat kabupaten/kota. Namun pemerintah provinsi pun memiliki peran yang tak kalah penting. Pemerintah provinsi mengemban tanggung jawab sebagai berikut: 1. Mengawal pelaksanaan PPSP di kotakota pada tahun 2010 dalam: - Memastikan tersusunnya SSK secara tepat waktu dan sesuai standar; memastikan prosesnya berjalan lancar; dan mengevaluasi prosesnya. - Mengemban tanggung jawab menyelesaikan kelengkapan pokja (di provinsi dan kabupaten/kota); dan mengadvokasi kabupaten/ kota untuk segera melengkapi/ menyiapkan kelengkapan pokja jika masih ada yang belum lengkap. - Mengawal penyelesaian Draft Buku Putih hingga waktu yang disepakati.

PERAN PROVINSI
- Mengawal penyusunan Draft SSK yang harus diselesaikan pada waktu yang ditentukan. 2. Menyiapkan kabupaten/kota yang akan diikutsertakan dalam program PPSP tahun berikutnya. - Provinsi memastikan kabupaten/ kota yang akan bergabung dalam PPSP yakni kabupaten/kota yang menunjukkan komitmennya dengan jelas melalui diterbitkannya SK Walikota, terbentuknya kelembagaan Pokja, tersedianya rencana kerja, dan anggaran. 3. Khusus bagi provinsi yang sebelumnya sudah terlibat dalam mendampingi kabupaten/kota dalam menyusun SSK, provinsi bertanggung jawab memberikan bimbingan pada kabupaten/kota dalam penyusunan Memorandum Program. Selain tanggung jawab di atas, sebagaimana pemerintah pusat, pemerintah provinsi memiliki tanggung jawab menyusun roadmap PPSP di tingkat provinsi. Roadmap ini menjadi acuan bagi pembangunan sanitasi di tingkat provinsi.

Hanya dengan SSK yang komprehensif, berskala kota, menggabungkan pendekatan topdown dan bottomup, berdasarkan data aktual, pembangunan sektor sanitasi yang berkelanjutan bisa dijamin
Perencanaan program PPSP berlangsung sejak September 2009. Ini diawali dengan membangun aspek

november 2010

majalah percik

9

Laporan Utama

MEMORANDUM PROGRAM
Memorandum Program merupakan sebuah dokumen pemrograman dan perencanaan berkala dan bisa diterima secara hukum. Memorandum Program ini penting guna mempertajam Rencana Program dan Investsi Jangka Menengah (RPIJM) khususnya sektor sanitasi. Di dalamnya tertuang berbagai informasi antara lain desain dan spesifikasi infrastruktur, manajemen dan operasi fasilitas, isu terkait masyarakat, pembiayaan dan komitmen pendanaan. Memorandum Program ini menjadi dasar alokasi dana dan patokan untuk memulai konstruksi dan tindakan non teknis terkait. Prioritas investasi dalam Memorandum Program didasarkan pada Strategi Sanitasi Kota (SSK) dengan tetap mengacu pada RPIJM yang sudah ada. Memorandum Program akan menjadi landasan kuat untuk mengajukan anggaran kepada DPR, DPRD Provinsi dan kabupaten/kota. Sebelum ada Memorandum Program harus ada komitmen pendanaan yang kuat untuk pelaksanaan studi dan/atau desain teknis rinci tambahan yang diperlukan; serta komitmen pendanaan yang kuat dan persetujuan resmi untuk pelaksanaan intervensi struktural dan non struktural. Saat ini pemerintah pusat sedang menyusun apa saja yang harus dicantumkan dalam Memorandum program, bagaimana cara penyusunannya, status hukum dan operasionalnya serta beberapa hal yang perlu mendapat kesepakatan.

menyusun SSK. Bersamaan dengan itu pemerintah menyiapkan 49 kabupaten/kota lainnya yang akan mengikuti program ini pada 2011. Tahun berikutnya, pemerintah menyiapkan kota lainnya. Demikian seterusnya. Pada 2014 nanti diharapkan ada 330 kabupaten/kota yang melaksanakan program ini.

IMPLEMENTASI
Implementasi PPSP berlangsung dalam satu siklus penuh yang terbagi dalam enam tahap, yakni:  Kampanye, Edukasi, Advokasi dan Pendampingan;  Pengembangan Kelembagaan dan Peraturan;  Penyusunan Rencana Strategis (SSK);  Penyiapan Memorandum Program;

politis, karena program ini merupakan satu kesatuan dalam rumusan kebijakan dan strategi pembangunan sanitasi sebagaimana tercantum dalam RPJMN; aspek administratif yakni bagaimana PPSP menjadi prioritas daerah; dan aspek pendanaan yaitu bagaimana PPSP mendapatkan dukungan dana pemerintah pusat, daerah, dan sumbersumber lain. Tahap berikutnya, 2010 – 2014, berupa pelaksanaan program PPSP seperti penyusunan SSK, pemantauan, bimbingan, dan evaluasi, penyusunan memorandum program, dan implementasi. Sebelum itu TTPS menjaring kabupaten/kota yang memenuhi persyaratan dan menunjukkan komitmennya untuk membangun sanitasinya. Hingga 2014, sasaran PPSP adalah 330 kota/perkotaan rawan kondisi sanitasi. Sebanyak 24 kota di antaranya sudah memiliki SSK. Berikut adalah komposisi kota dengan kondisi rawan sanitasi: Tahun 2010 41 kabupaten/kota yang

Air Limbah Persampahan

63 19

87 57

80 16

8

Drainase
Kota-kota dengan Permasalahan Sanitasi

10

majalah percik

november 2010

 Pelaksanaan/implementasi;  Pemantauan, Pembimbingan, Evaluasi, dan Pembinaan. Pada tahap pertama, pemerintah pusat dan provinsi menggelar kampanye, edukasi, dan advokasi kepada pemerintah kabupaten/ kota. Tahap selanjutnya, pemerintah pusat dan provinsi menyiapkan pengembangan kelembagaan dan peraturan. Ini penting, tanpa payung hukum dan kelembagaan yang tepat, program ini akan gagal. Di tahap ketiga, kelompok kerja sanitasi yang dibentuk di kabupaten/kota menyusun rencana Strategi Sanitasi Kota (SSK). Proses penyusunan SSK ini sepenuhnya ada di tangan Pokja dan tidak boleh dialihkan ke pihak ketiga. Untuk proses ini, pemerintah pusat menyediakan fasilitator yang senantiasa berada di daerah. Pada tahap keempat, pemerintah kabupaten/kota melalui pokja sanitasi menyusun Memorandum Program. Pemerintah pusat memfasilitasi proses ini sekaligus memberikan bantuan teknis menyangkut kegiatan pembangunan yang memerlukan dokumen pelengkap. Pada tahap kelima, semua pemangku kepentingan di pusat, provinsi, dan kabupaten/kota serta donor secara bersama-sama melaksanakan rencana yang tertuang dalam Memorandum Program. Dan pada tahap terakhir, pemerintah pusat dan provinsi melaksanakan pemantauan, pembimbingan, evaluasi, dan pembinaan secara terus menerus.

Lokakarya: Pemangku kepentingan berdiskusi membicarakan persoalan sanitasi guna menyusun strategi pembangunan sanitasi.

TTPS, PMU, DAN USDP
Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) adalah wadah adhoc inter-Kementerian yang bertugas mengoordinasikan kegiatan-kegiatan pembangunan sanitasi serta merumuskan arah kebijakan strategi pembangunan sanitasi nasional . TTPS beranggotakan perwakilan dari Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementrian Lingkungan Hidup. Dalam Program PPSP, TTPS bertugas mengoordinasikan Program Management Unit (PMU) PPSP. PMU itu sendiri merupakan unit pengelola program yang terdiri dari beberapa sektor dan instansi. PMU bertugas melakukan sinkronisasi dan koordinasi pembangunan sanitasi, baik dalam perencanaan, pemrograman maupun koordinasi. Rincian tugas PMU PPSP yakni: a. merencanakan, mengendalikan dan mengoordinasikan pelaksanaan program; b. mengupayakan solusi dari isu strategis/ permasalahan yang dihadapi; c. mengelola data dan informasi terkait dengan PPSP; d. mengembangkan sistem informasi PPSP; e. berkoordinasi dengan donor pada tingkat implementasi pelaksanaan program PPSP; f. berkomunikasi lintas departemen; g. memfasilitasi pengembangan Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI); h. melaporkan secara berkala perkembangan hasil pelaksanaan tugas dan pencapaian hasil kepada Tim Pengarah; i. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Tim Pengarah; Guna mendukung pelaksanaan PPSP baik di pusat maupun di daerah, Urban Sanitation Development Program (USDP)/Program Pembangunan Sanitasi Perkotaan memberikan bantuan teknis. Program ini dibentuk atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda. USDP melakukan dua pendekatan yakni: 1) panduan umum dan dukungan untuk PMU, PIU dan para konsultan, dengan fokus pada pembangunan kapasitas dan pelatihan serta alih pengetahuan, keterampilan, keahlian, dan pengalaman dari program ISSDP sebelumnya; 2) panduan khusus dan dukungan bagi pemerintah daerah serta para konsultan mereka terhadap enam tahapan PPSP. Para konsultan USDP memfokuskan tugasnya pada pemberian panduan dan dukungan, pembangunan kapasitas dan pelatihan, serta penyusunan dan pendokumentasian metodologi, sistem dan prosedur baru, sebagai pendukung implementasi PPSP.

ORGANISASI
Program yang besar dan berkesinambungan itu butuh pengorganisasian yang mantap. Di bawah supervisi Tim Pengarah, TTPS membentuk Project Management Unit/PMU dan tiga Project

november 2010

majalah percik

11

Laporan Utama
Implementation Unit/PIU. Sebagai PMU, TTPS bertanggung jawab mengoordinasikan pengelolaan, perencanaan, dan pemrograman PPSP. PIU Advokasi—berkedudukan di Kementerian Kesehatan— bertanggung jawab mengoordinasikan kegiatan peningkatan kepedulian, kesadaran, dan penyiapan masyarakat. PIU Teknis—berkedudukan di Kementerian Pekerjaan Umum—bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan teknis dalam penyiapan rencana strategis, penyiapan memorandum proyek, dan pelaksanaan pembangunan. Sedangkan PIU Kelembagaan— berkedudukan di Kementerian Dalam Negeri—bertanggung jawab menangani kegiatan pemberdayaan pemerintah daerah dan kesiapan fasilitasi. Struktur organisasi program PPSP tertera dalam bagan berikut:

MAU GABUNG PPSP?
Tidak sulit bergabung dengan Program PPSP. Asalkan kabupaten/kota memenuhi lima kriteria berikut. 1. Adanya komitmen kuat dari eksekutif, yaitu pimpinan daerah untuk menyusun SSK, membentuk dan mendukung pendanaan Pokja. 2. Cakupan sanitasi yang masih rendah (% jumlah penduduk) 3. Angka kesakitan akibat sanitasi buruk (kasus/10.000 penduduk) 4. Kepadatan penduduk (penduduk/ km2) 5. Persentasi penduduk miskin (terhadap penduduk perkotaan yang diusulkan) Selain itu kabupaten/kota harus memenuhi empat kriteria tambahan yakni: 1. Kesiapan kabupaten/kota untuk membentuk Pokja 2. Kemampuan keuangan daerah yang rendah (% PAD terhadap APBD) 3. Fungsi strategis perkotaan yang diusulkan (PKN, PKW) 4. Diutamakan kabupaten/kota yang menghadiri lokakarya penjaringan minat pada 1-3 September 2009. Bila kabupaten/kota memenuhi persyaratan tersebut, pemerintah kabupaten/kota bisa mengikuti proses penjaringan di pusat. Namun sebelumnya provinsilah yang menyeleksi kabupaten/ kota mana yang berpeluang mengikuti penjaringan itu.

TTPS Pokja Bidang Advokasi & PIU ADVOKASI Kesehatan Drainase D nase Drain TTPS Pokja Bidang Peningkatan Pemberdayaan kesadaran Keterlibatan dan Kerjasama masyarakat Masyarakat

Peran:

Perencanaan Pemograman Koordinasi

Peran:

PIU TEKNIK PMU TTPS
Peyusunan SSK Penyusunan Rencana Investasi Pelaksanaan dan monev

TTPS

TTPS Pokja Bidang Teknis TTPS Pokja Bidang Monitoring dan evaluasi Monev

memo

project

Peran:

PIU KELEMBAGAAN
Pembentukan Pokja Peningkatan kapasitas Pelatihan Pengkaderan fasilitator

TTPS Pokja Bidang Kelembagaan TTPS Pokja Bidang Pendanaan

12

majalah percik

november 2010

Kisah Sukses

KOTA PAYAKUMBUH

0 1

Sanitasi Baik, Anggaran Kesehatan Turun

Banyak para pengambil kebijakan di daerah menganggap sanitasi sebagai isu tidak penting. Ini dibuktikan dengan alokasi anggaran yang jumlahnya minim. Sebagai dampaknya, sanitasi tertinggal dibandingkan dengan sektor lainnya.

S

anitasi adalah kebutuhan dasar g masyarakat. Kondisi sanitasi yang ya buruk berdampak pada rendahnya dera kesehatan masyarakat sehingga a derajat mun berbagai penyakit yang berbasis sis muncul sani sanitasi. Sebaliknya sanitasi yang baik akan meningkatkan sanita derajat kesehatan masyarakat. Lebih jauh lagi, kesejahteraan masyarakat akan ikut meningkat. Jumlah penderita penyakit akan turun. Pemerintah ng kabupaten/kota bisa menghemat anggaran di bidang kesehatan. Kota Payakumbuh, Sumatera Barat membuktikan hal itu. Kota Payakumbuh termasuk sedikit kota di n. Indonesia yang serius menangani sanitasi perkotaan. Sanitasi telah menjadi landasan pembangunan kota.. Tak sampai tiga tahun, sejumlah program sanitasi ng menunjukkan keberhasilan dan berdampak langsung kepada masyarakat. Peningkatan investasi di sektor sanitasi berkorelasi positif dengan penghematan anggaran kesehatan.
Bicara Sanitasi: Walikota Payakumbuh Josrizal Zain memaparkan pembangunan sanitasi di daerahnya kepada wartawan.

14

majalah percik

november 2010

Data anggaran Kota Payakumbuh menunjukkan, ada peningkatan penghematan anggaran kesehatan dari tahun ke tahun setelah program sanitasi berjalan (Tabel 1). “Dengan investasi sanitasi, masyarakat jadi lebih sehat. Anggaran bisa digunakan untuk kegiatan yang lain,” kata Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh dr Merry Yuliesday MARS. Mulai 2006, perhatian Pemkot Payakumbuh terhadap sanitasi tergolong cukup besar. Alokasi anggaran sanitasi meningkat setiap tahunnya (Tabel 2). Kenaikan anggaran itu secara signifikan menurunkan jumlah penyakit yang berbasis sanitasi. (Tabel 3) Pemerintah Kota Payakumbuh secara serius membenahi WC/jamban, air bersih, dan sampah. Tak tanggung tanggung-

TABEL 1. ANGGARAN JAMINAN KESEHATAN KOTA (JAMKESKO)

TAHUN 2006 2007 2008 2009 TOTAL

PESERTA (orang) 67.434 67.434 66.681 67.381

KUNJUNGAN (kali) 49.340 57.667 63.670 36.148

ALOKASI (rupiah) 3.500.000.000 1.368.400.000 1.511.768.000 1.761.038.404 8.141.206.404

REALISASI (rupiah) 622.773.121 810.634.476 1.492.497.650 1.162.804.050 4.088.709.297

tanggung investasi sanitasi mencapai Rp 274 ribu per jiwa per tahun. Ini jauh dibandingkan dengan anggaran rata-rata secara nasional yang masih Rp 400 per jiwa per tahun.

Sebagai kota yang tergabung dalam program ISSP tahap I, kata Jos, Payakumbuh sangat terbantu dengan program tersebut. Pembangunan sanitasi menjadi lebih terarah dan terukur penanganannya. Kota Payakumbuh berhasil menyusun SSK (Strategi Sanitasi Kota). Menurutnya, SSK sangat komprehensif, terpadu, memiliki indikator yang jelas, dan pemetaannya jelas untuk menangani masalah sanitasi. “SSK jauh ke depan, sudah bisa memotret Payakumbuh ini, inilah apa adanya, tidak ditutuptutupi. Mungkin daerah-daerah lain ada yang malu menyampaikan kondisinya, tapi kita sampaikan apa adanya,” katanya. Berdasarkan SSK itu, program sanitasi dimulai dari enam kelurahan. Tiga kelurahan di pusat kota dan tiga kelurahan di pinggir kota. Masyarakat

BERAWAL DARI KOMITMEN
Keberhasilan Kota Payakumbuh tidak datang begitu saja. Semua bermula dari kesadaran pimpinan kota yang didukung penuh para pejabat, legislatif, dan masyarakat. W Walikota Payakumbuh Capt J Josrizal Zain menyebutkan, sanitasi m merupakan kebutuhan pokok dan p pelayanan dasar pemerintah kepada m masyarakat. “Mestinya ini diutamakan, b bukan diabaikan seperti selama in ini,” katanya. Fakta di lapangan m menunjukkan, kebutuhan masyarakat b berkisar mengenai air bersih, p penanganan jamban, drainase, dan s sampah.

Ta Tabel 2. Dukungan Dana Sanitasi (Rupiah)

TAHUN 2006 2007 2008 2009

APBD 179.815.993.000 266.368.938.398 311.883.378.842 350.956.000.000

SANITASI 3.414.000.000 7.893.000.000 11.881.572.900 18.659.000.000

Ta Tabel 3. Penyakit Berbasis Sanitasi

JENIS PENYAKIT ISPA Inf. Peny. Cerna Infeksi Kulit Diare Total

2004 (%) 36,8 8,3 9,5 4,8 59,4

2005 (%) 39,5 7,3 8,1 3,4 58,3

2006 (%) 30,8 8,2 7,2 3,2 49,4

2007 (%) 30,2 1,8 8,2 3,1 43,3

november 2010

majalah percik

15

Kisah Sukses
difasilitasi untuk pembuatan WC secara komunal, penanganan sampah, dan penyediaan air bersih. Sementara itu, pemkot mendorong masyarakat yang biasa menggunakan ‘tabek’ atau kolam ikan, sungai dan parak (ladang) sebagai tempat buang air besar agar membuat WC sendiri. Bermodal cetakan yang dipinjamkan Dinas Kesehatan, warga bergotong-royong mencetak kloset leher angsa. Program jambanisasi ini menjadikan tiga kelurahan di kecamatan Payakumbuh Selatan sudah dicanangkan bebas buang air sembarangan. Jumlah kelurahan ini terus bertambah tahun ini. Selain itu, pemkot mengeluarkan kebijakan untuk menambah jumlah WC di sekolah. Rasio WC sekolah dan murid yang biasanya 1: 500, kini di SD sudah 1: 30. Sedangkan di SLTP 1: 40-50 dan SLTA 1: 50. Payakumbuh bertekad akan terus meningkatkan jumlah WC sekolah hingga semuanya 1: 30. Memang belum semua masalah sanitasi tertangani. Pemkot Payakumbuh masih harus berjuang keras membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Tahun ini TPA yang dikelola secara bersama dengan beberapa pemerintah daerah di sekitarnya aka akan segera beroperasi. Di atas tanah sel seluas 17,5 hektar itu, TPA ini akan me memproses sampah dengan sistem ya yang benar. Na Namun bukan berarti masalah sam sampah dibiarkan sebelum TPA be beroperasi. Sejak tiga tahun yang lalu pe pengolahan sampah organik berjalan. Sa Sampah-sampah organik dari pasar dio diolah menjadi pupuk organik. Ha Hasilnya digunakan sebagai pupuk tam taman kota. Sampah per kelurahan jug juga diolah di masing-masing ke kelurahan. “Se “Sekarang Payakumbuh bahkan ke kekurangan sampah untuk diolah. Ke depan, kami berencana akan me menjadikan sampah sebagai pe pendapatan asli daerah (PAD) kota de dengan mengolahnya menjadi pu pupuk, jadi kami menciptakan an ancaman menjadi peluang (op (oppurtunity),” ujar Josrizal. Ya pasti, program sanitasi Yang san sangat bermanfaat bagi kehidupan ma masyarakat dan pemerintah da daerah. “Sanitasi bisa meningkatkan ke kesejahteraan rakyat,” katanya.

Peran Ibu-ibu: Kaum ibu terlibat langsung dalam penyusunan strategi sanitasi kota.

16

majalah percik

november 2010

Kumpul Lurah: Sebelum terbentuk pokjasan kelurahan, Pokjasan Kota Blitar menggandeng aparat kecamatan dan kelurahan untuk membahas strategi sanitasi kota.

Penguatan Kelembagaan Sanitasi di Kecamatan dan Kelurahan

02
KOTA BLITAR

Partisipasi masyarakat Kota Blitar dalam pembangunan sektor sanitasi cukup tinggi. Terbukti, Kota Blitar mampu menjadi salah satu daerah yang terdepan dalam menghasilkan kebijakan sanitasi berbasis partisipasi masyarakat. Kini telah muncul kesadaran pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Kota ini menjadi sasaran studi banding pemerintah kabupaten/kota lain dalam penguatan kelembagaan. Masuknya Kota Blitar dalam Program Pengembangan Sektor Sanitasi Indonesia (ISSDP) tahap I menjadikan kapasitas kelembagaan sanitasi kian kuat. Pokja sanitasi kota berhasil meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat miskin melalui pembangunan sanitasi perkotaan. Dalam rangka itu pokja kota membuat kebijakan dasar yakni:  Mengarusutamakan pembangunan sanitasi dalam pelaksanaan pembangunan daerah.  Melembagakan pembangunan sanitasi dalam manajemen pembangunan daerah.  Menyinergikan pelaksanaannya dengan penerapan Gerakan Perang Melawan Kemiskinan (GPMK) Kota Blitar.  Memperluas cakupan program, pelaku, sasaran dan wilayah pembangunan sanitasi
november 2010 majalah percik

17

Kisah Sukses

Partisipasi Warga: Pelibatan masyarakat dalam menyusun strategi sanitasi di desanya.

terstruktur dari tingkat daerah hingga kelurahan. Hal ini dimaksudkan untuk melembagakan partisipasi masyarakat melalui komunitaskomunitas masyarakat, serta membuat pembangunan sektor sanitasi menjadi sistematis, terencana, terpadu, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dibentuklah pokja sanitasi kecamatan dan kelurahan. Pada 3 November 2009 lalu, Walikota Blitar Djarot Saiful Hidayat melantik pokja-pokja tersebut. Tahun 2008, pokja telah melaksanakan implementasi Renstra Sanitasi pada keluarga miskin di sembilan kelurahan terutama dua kelurahan yang merupakan daerah merah (risiko tinggi) dengan melibatkan 20 KSM. Wujudnya pembangunan jamban keluarga dengan pola individual 178 unit, dengan pola komunal atau Sanimas 1 unit ; pengadaan air minum melalui pembangunan sumur pompa/gali 71 unit; pembangunan drainase lingkungan 5 unit dengan panjang keseluruhan mencapai 947 meter; dan pengelolaan sampah dengan pola komposter 112 unit. Pada tahun berikutnya, implementasinya berupa pembangunan jamban keluarga 90 unit, IPAL komunal 1 unit dan drainase lingkungan empat unit, serta kegiatan Pemetaan Sanitasi di tingkat kelurahan. Keberadaan pokja sanitasi kota dinilai mampu mendorong keberpihakan pemerintah kota terhadap penanganan program sanitasi, tidak saja sebatas penambahan alokasi anggaran tetapi juga telah melembaga dalam bentuk sistem pengelolaan sanitasi kota. Ada peningkatan kesadaran bahwa sanitasi menjadi tanggung jawab bersama sehingga masyarakat aktif melibatkan diri dalam penanganan program sejak dari tahap perencanaan hingga monitoring dan evaluasi. Selain itu, peran dan wewenang pokja sanitasi dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program sanitasi kota terus menguat sehingga memungkinkan terjadinya integrasi dan koordinasi program sanitasi di tingkat kota, kecamatan dan kelurahan sesuai dengan arahan Renstra Sanitasi. Pokja sanitasi kecamatan merupakan wadah koordinasi yang bersifat non struktural bagi pembangunan dan pengelolaan sanitasi di wilayah kecamatan. Pokja bertanggung jawab kepada Ketua Pokjasan Kota. Pokjasan kecamatan diketuai oleh camat. Dalam melaksanakan tugasnya ia dibantu Seksi Pembangunan (Sekretaris Pokjasan Kecamatan), Bidang Perencanaan, Bidang Sosialisasi dan Advokasi, dan Bidang Monitoring dan Evaluasi dengan komposisi masing-masing bidang satu orang koordinator dan satu orang anggota yang diambil dari masyarakat. Pokjasan kecamatan berfungsi antara lain: (1). Mengoordinasikan perencanaan pembangunan sanitasi di wilayah kecamatan; (2). Mengoordinasikan proses penumbuhkembangan kesadaran dan kemampuan masyarakat, organisasi masyarakat di tingkat kecamatan, dan

REPLIKASI
Melihat keberhasilan pokja dan partisipasi masyarakat, kelembagaan sanitasi ini pun direplikasi. Pemkot Blitar memfasilitasi terbentuknya kelompok kerja sanitasi yang

18

majalah percik

november 2010

aparat pemerintah di wilayah kecamatan untuk terlibat dan mengarustamakan pembangunan sanitasi; (3). Mengoordinasikan kegiatan penyiapan dan pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi sanitasi di wilayah kecamatan; (4). Mengoordinasikan, membina

Pokjasan kelurahan diketuai oleh Lurah. Ia dibantu Seksi Pembangunan (Sekretaris Pokjasan Kelurahan), Bidang Perencanaan, Bidang Sosialisasi dan Advokasi, dan Bidang Monitoring dan Evaluasi dengan komposisi masing-masing bidang satu orang koordinator dan satu orang anggota yang diambil dari

memfasilitasi pelaksanaan kegiatan dalam perwujudan pengelolaan sanitasi di tingkat kelurahan. Pembentukan kelembagaan ini diserahkan sepenuhnya ke tingkat kecamatan dan kelurahan. Pokja kota hanya memberikan batasan-batasan. Anggota pokjasan yang mewakili

Sehat Pangkal Hemat!

dan memfasilitasi pokja sanitasi kelurahan se-kecamatan untuk menjalankan tugas pengkoordinasian sanitasi. Tugas pokok pokjasan kecamatan adalah mengoordinasikan, dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan dalam perwujudan pengelolaan sanitasi di tingkat kecamatan. Di bawah pokjasan kecamatan ada pokjasan kelurahan. Pokja ini merupakan wadah koordinasi yang bersifat non struktural bagi pembangunan dan pengelolaan sanitasi di wilayah kelurahan. Pokjasan kelurahan bertanggung jawab kepada Ketua Pokjasan Kecamatan.

masyarakat. Fungsi pokjasan kelurahan adalah: (1). Merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan sanitasi di tingkat kelurahan; (2). Menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan sanitasi; (3). Melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi sanitasi di wilayah kelurahan; (4). Melaporkan hasilnya kepada pokja sanitasi kecamatan dengan tembusan Pokja Sanitasi Kota Blitar Tugas pokok pokjasan kelurahan adalah mengoordinasikan, dan

unsur masyarakat dipilih sendiri. Penetapan keanggotaan pokjasan kecamatan dilakukan oleh pokja kota dengan surat keputusan. Demikian pula halnya di tingkat kelurahan, penetapannya dilakukan oleh pokja di atasnya. Pokjasan kecamatan dan kelurahan tersebut bekerja berdasarkan acuan SSK. Namun mereka dapat mengusulkan program baru dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Dengan model pokja berjenjang ini perencanaan, monitoring dan evaluasi menjadi lebih baik.

november 2010

majalah percik

19

Kisah Sukses

03
KOTA TEGAL

Sanitasi belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Di antaranya komitmen para pengambil kebijakan dan kalangan legislatif. Bisa jadi hal itu muncul karena ketidakpahaman mereka terhadap masalah ini. Namun kondisi seperti itu semestinya tidak menghalangi para stakeholder sanitasi untuk membuat terobosan agar sanitasi memperoleh perhatian yang lebih. ‘Kepiawaian’ Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kota Tegal, Jawa Tengah, bisa menjadi contoh betapa sanitasi bisa menembus eksekutif dan legislatif. Kebetulan waktu itu Kota Tegal mengikuti Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP). Terbentuknya Pokja menjadi sarana menyinergikan seluruh kegiatan sanitasi di kota tersebut. Keterpaduan antar SKPD dan dinas dalam membangun sanitasi ini menjadi amunisi pembangunan sanitasi.

Mengintegrasikan Sanitasi ke Program Eksekutif
20
majalah percik november 2010

Turun Lapangan: Kepala daerah meninjau salah satu fasilitas pengomposan di Kota Tegal.

yang tak lain adalah para stakeholder sanitasi ini ikut menyosialisasikan program sanitasi dalam Musrenbang, rapat tata ruang, dan lainnya. “Kita pesan kepada teman-teman pokja yang ikut dalam tim sosialiasi program walikota ke masyarakat,” jelasnya. Proses ini menimbulkan sinergitas antara program walikota dan program yang telah ada sebelumnya dalam SSK. Di satu sisi, walikota mempunyai kebijakan, sementara di sisi lain para stakeholder sanitasi bekerja bersama masyarakat. “Jadi semuanya nyambung,” kata Eko. Ia menjelaskan, program sanitasi sebenarnya sudah ada dalam pembangunan di daerah. Hanya saja, keberadaannya tersebar di berbagai instansi. Kadang-kadang, program yang sama berada di banyak SKPD/ dinas. Karena itu, menurutnya, yang diperlukan adalah bagaimana menyinergikan program sanitasi ini. Sinergitas yang baik dan disertai implementasi yang tepat ternyata membawa dampak yang baik. Kalangan legislatif di Tegal begitu melihat banyak sarana dan

kesehatan ini diwujudkan dalam misi kedua Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009 - 2014. Program ini menekankan pada perubahan pola pikir masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hidup dalam lingkungan bersih dan sehat, mandiri dalam memecahkan masalah kesehatan di lingkungannya dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu secara adil dan merata. Program ini seiring dengan tujuan pembangunan sanitasi yang telah tertuang dalam Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kota Tegal yang telah disusun sebelumnya. “Memang tidak secara spesifik menyebut program sanitasi, tapi kami masuk program kesehatan,”

Saat itu walikota mencanangkan program Tegal Sehat 2010. Prioritas pembangunan bidang kesehatan ini diwujudkan dalam misi kedua Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009 - 2014
kata Eko Setiawan menjelaskan. Dari empat aspek program tersebut, dua di antaranya—yakni PHBS dan lingkungan hidup—adalah masalah sanitasi. Pokja tidak hanya memasukkannya dalam program besar, tapi terus mengawal program ini hingga terimplementasi. Dalam prosesnya, para anggota Pokja prasarana yang dibangun secara terencana dan tepat, mereka sangat mendukungnya. Bahkan banyak di antara mereka meminta program sejenis diimplementasikan di wilayah pemilihan mereka. Mereka berani mengusulkan anggaran sanitasi bagi konstituen mereka. Malah ada di satu daerah di Tegal, justru anggota Dewan
november 2010 majalah percik

Nah, begitu ada pergantian walikota, pokja tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Menurut Ketua Pokja Sanitasi Tegal Eko Setiawan, pokja memasukkan program sanitasi ini ke dalam program walikota Tegal yang baru. Saat itu walikota mencanangkan program Tegal Sehat 2010. Prioritas pembangunan bidang

21

Success Story

Pilah-pilih Sampah

yang menggerakkan masyarakat untuk mengumpulkan dana guna membebaskan lahan bagi pembangunan sarana sanitasi. “Justru masyarakat yang memberi, bukan hanya meminta,” tandas Eko. Pola pendekatan tidak langsung ini pun menjadikan program sanitasi mulai dilirik oleh kalangan dewan. Mereka tak lagi ‘alergi’ dengan sanitasi karena telah melihat hasilnya di lapangan. Program sanitasi dinilai menyentuh kehidupan rakyat secara langsung. Bersamaan dengan itu

an pokja terus memberikan advokasi kepada mereka tentang sanitasi. Kepahaman dan komitmen pengambil kebijakan dan kalangan legislatif, dibarengi dengan kerja keras pokja sanitasi akan meningkatkan kepedulian daerah terhadap pembangunan sanitasi. Bila ini telah muncul, pembangunan sanitasi akan berlangsung lebih cepat.

Ketua Pokja Sanitasi Kota Tegal Eko Setiawan

22

majalah percik

november 2010

DESA PEMECUTAN KAJA, KOTA DENPASAR

04

Harapan Baru Berkat Santimadu
Dibanding desa lainnya di kota Denpasar, Bali, desa Pemecutan Kaja tergolong tertinggal. Di tengah kemajuan kota, desa ini masih harus berurusan dengan masalah sanitasi. Ketika warga desa lainnya sudah tersambung dengan DSDP (Denpasar Sewerage Development Project), warga Pemecutan Kaja harus rela menjadi penonton. Topografi desa tak memungkinkan warganya tersambung dengan proyek pembuangan air limbah terpusat tersebut. Lokasinya lebih tinggi. Sedangkan DSDP menggunakan sistem gravitasi untuk mengalirkan limbah dari masyarakat ke sewerage. Padahal dari sisi prioritas, seharusnya desa yang berada di kecamatan Denpasar Utara ini mendapat prioritas utama. Betapa tidak, sebanyak 62 persen limbah domestik dari desa ini masih dibuang ke saluran drainase dan sungai. Limbah padatnya, berupa tinja, dibuang secara setempat dengan tangki septik. Namun sebagian besar tangki septik tersebut tidak memenuhi standar. Ada juga warga yang masih buang air besar di sungai. Di sisi lain, warga justru banyak menggunakan sumur dangkal untuk mencukupi kebutuhan air minumnya. Tak heran bila kemudian desa ini dipilih sebagai desa percontohan pengembangan sanitasi masyarakat terpadu (Santimadu). Melalui program ini masyarakat didorong untuk bisa membuang air besar/air limbah dengan sistem off site.
november 2010 majalah percik

23

Success Story

Pemetaan Partisipatif: Warga Pemecutan Kaja berpartisipasi memetakan kondisi sanitasi mereka.

2-5 hektar dengan ketinggian air 10 cm hingga 100 cm. Rukun tetangga di banjar ini juga tidak memiliki sampah sendiri. Warga di banjar ini hampir semuanya memiliki tangki septik untuk buang air besar. Namun tidak semuanya memenuhi syarat kesehatan. Sebagian kecil, sekitar lima persen BAB-nya di sungai. Dengan Santimadu, kondisi itu ingin diubah. Fasilitasi Pokja Kota Denpasar kepada masyarakat setempat yang dikenal cukup erat dalam membina kerja sama dalam banjar, lahirlah Pokja Sanitasi Desa Pemecutan Kaja. Mereka pun menyusun visi dan misi. Visinya yakni ”Mewujudkan desa Pemecutan Kaja sebagai desa berwawasan budaya yang bersih, sehat, nyaman, harmonis dalam keseimbangan secara berkelanjutan”. Misinya yakni 1) mewujudkan

Tidak itu saja, program ini meliputi sampah, drainase, air minum, perilaku hidup bersih (PHBS), dan bisnis sanitasi. Semua dilaksanakan secara terpadu dan melibatkan seluruh pihak-pihak terkait. Santimadu difokuskan kepada banjar-banjar yang paling kumuh dan paling siap masyarakatnya. Desa ini memiliki 13 banjar/dusun. Penduduknya tahun 2008 berjumlah

24

majalah percik

november 2010

Dengan santimadu, kondisi itu ingin diubah. Fasilitasi Pokja Kota Denpasar kepada masyarakat setempat yang dikenal cukup erat dalam membina kerja sama dalam banjar, lahirlah Pokja Sanitasi Desa Pemecutan Kaja.
32.000 jiwa, dengan pertumbuhan penduduk desa sebesar 3,3 persen per tahun. Berdasarkan catatan kelompok kerja (Pokja) Sanitasi Desa Pemecutan Kaja, ada empat banjar yang kondisinya terburuk yakni Banjar Semilajati, Mekar Manis, Tulang Ampiang, dan Merthayasa. Bagaimana tidak buruk, setiap tahun banjar ini mengalami banjir. Genangan air meliputi wilayah seluas penyediaan air minum yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara kualitas, secara kuantitas dan kontinyuitas sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 dan target MDGs; 2) Mewujudkan pengelolaan air limbah secara berkelanjutan dan terjangkau; 3) Mewujudkan pengelolaan persampahan yang mandiri dan berkelanjutan; 4) Mewujudkan pengelolaan drainase secara

ESTIMASI KEBUTUHAN SANITASI (2009- 2010) Sumber Dana (Rp Juta) NO PROGRAM BIAYA UNIT Vol (Rp jt) Kota Prov Pusat Swasta Masy

Berkat sosialisasi yang terus menerus, akhirnya masyarakat bisa menerima dan mau berpartisipasi di dalamnya. Warga di Banjar Mekar Manis misalnya, mereka sangat senang dengan adanya Santimadu ini. Mengapa? Karena di banjar yang padat penduduk ini tidak mungkin lagi membangun tangki septik di rumah. Permukimannya sangat padat. Kini sarana tangki septik komunal di Mekar Manis sudah mencapai 100 persen. Di Banjar Merthayasa, sistem komunal malah telah beroperasi. Sayangnya belum bisa beroperasi secara penuh karena terkendala listrik. Sedikit demi sedikit kesadaran warga Desa Pemecutan Kaja untuk hidup bersih dan sehat mulai tumbuh. Tingkat kesehatan masyarakat mulai membaik. Mereka tak perlu lagi tertinggal dari kawasan lainnya hanya karena masalah sanitasi. Persoalan sanitasi bisa diatasi bila semua ikut berpartisipasi. Santimadu bisa jadi bukti.

1 2 3 4

Sub Total Drainase Sub Total Persampahan Sub Total Air Limbah Sub Total Air Bersih

1,276 898 4,571 216

644 389 2,020 100

348 146 250 60

0 43 500 40

145 160 1,500 0

139 160 301 16

T o t a l

6,961 3,153 804

583 1,805 616

terintegrasi dan berkelanjutan. Pokja yang terdiri atas warga masyarakat ini menyusun porgram kerja seperti terlihat di tabel 1.
Tabel 1. Program Kerja POKJA No
1.

Namun berkat kesungguhan semua pihak mulai dari Pokja Sanitasi desa, kota, hingga ke provinsi, hambatan ini bisa diatasi. Program itu pun dikaitkan dengan proyek-proyek

TARGET
Air Buangan  Pembuatan IPAL sistem setempat  Pembuatan Sistem setempat Individu. Persampahan  Menyediakan pelayanan prasarana dan sarana persampahan dilakukan melalui proses pewadahan, pengumpulan, pemindahan, dan pengangkutan.  Membuat sistem TPST Air bersih  Pembuatan sumur air tanah dangkal  Optimalisasi kapasitas produksi  Distribusi:  Peningkatan dan perbaikan jaringan distribusi dan peningkatan kualitas dan kuantitas dan cakupan pelayanan dan adanya kerja sama dengan daerah lain (PDAM) Drainase  Pengerukan, Normalisasi, perbaikan saluran demensi dari hulu hingga ke hilir saluran

Tahun Tahun Tahun 2008 2009 2010
√ √ √

.2

3.

4.

Program itu kemudian dijabarkan lebih rinci termasuk jumlah investasinya serta darimana investasi itu berasal. Pokja Santimadu berhasil ’membagi’ beban investasi ini mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kota, swasta, hingga warga. Mulai 2009, Santimadu ini berjalan. Memang dana menjadi kendala.

yang ada seperti P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan). Sinergi ini membuat beban yang sebelumnya terasa berat menjadi lebih ringan. Awalnya memang tidak mudah menggerakkan seluruh masyarakat. Masih ada pola pikir yang belum sama dengan program Santimadu.
november 2010 majalah percik

25

Success Story

Merintis Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah

05
KOTA BATU

Kota Batu, Jawa Timur, tak lagi sejuk. Kualitas lingkungan kota menurun sedikit demi sedikit. Kabut yang biasa menyelimuti kota ini di pagi hari sangat jauh berkurang. Hutan lindung rusak, mata air pun banyak yang mati. Lahan-lahan basah berubah menjadi lahan kering. Sebagai kota wisata, kenyataan itu memprihatinkan banyak pihak. Dunia pendidikan di kota itu juga ikut berperan mencegah kerusakan lingkungan lebih parah, yakni dengan mendidik anakanak sekolah untuk lebih peduli lingkungan. Muncullah kesepakatan di kalangan para pendidik setempat untuk menyusun kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Awalnya kurikulum ini dicantolkan ke mata pelajaran. Setelah 2006 turun Permendiknas No.22 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mewajibkan ada kurikulum monolitik di daerah, PLH digarap serius sebagai kurikulum yang berdiri sendiri. Modulnya disesuaikan dengan potensi kekayaan alam dan budaya Kota Batu, dengan prinsip pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. PLH diajarkan mulai jenjang SD sampai SMA. Kurikulum PLH di SD bersifat basic. Isinya lebih banyak ditekankan pada penanaman

26

majalah percik

november 2010

Muncullah kesepakatan di kalangan para pendidik setempat untuk menyusun kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

JUDUL MODUL LINGKUNGAN HIDUP BAGI SD/MI
1. Pelahap Karbondioksida 2. Air 3. Merawat Diri 4. Cuci Tangan Pakai Sabun 5. Sampah Jadi Berkah 6. Anggrek Pesona Kota Batu 7. Toga di Sekitar Kita 8. Penyebaran Kuman 9. Diare 10. Zat Aditif 11. Reuse, Reduce, Recycle 12. Kembali ke Alam 13. Hemat Energi 14. daRlinG (Sadar Lingkungan) 15. Nyamuk Si Mediator 16. Composting 17. Back to Nature 18. Makanan Sehat 19. Makanan Bergizi 20. Drainase dan Sanitasi 21. Lingkungan Bersih

pemahaman (mental building), sedangkan di SMP lebih bersifat analitis lingkungan hidup. Pada SMA, selain analisis, juga diajarkan tindakan jika ada perusakan lingkungan hidup. Kurikulum ini menempatkan siswa sebagai agen pengubah masyarakat di sekitarnya. Kini, sudah 85 SD, 27 SMP, 11 SMA, dan 10 SMK yang menerapkannya. “Di TK dan SLB (sekolah luar biasa) pun diberikan materi PLH,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Mistin. Ditambahkan Mistin, kurikulum yang tergolong unik ini mampu menjawab kekinian, membumi, mudah dicerna, dan tidak terlalu ilmiah. Metode penyampaiannya dibuat mudah dan menarik, antara lain dengan mengajak siswa kunjungan lapangan, bermain, dan simulasi.
PENINGKATAN KAPASITAS GURU

Membiasakan Cuci Tangan Pakai Sabun Sejak Dini

dalam kelestarian lingkungan, serta pengembangan keprofesionalan guru PLH melalui Lesson Study di gugus Kelompok Kerja Guru (KKG). Sejauh ini, sekolah-sekolah sudah mulai merasakan keberadaan dan manfaat kurikulum PLH ini. SMP PGRI 2 Batu misalnya. Siswa berbagi tugas membersihkan sekolahnya. Ada yang menyapu lantai, menyiram tanaman, dan menyapu halaman. Sampah-

sampah yang terkumpul mereka pilah antara yang basah dan kering, lalu dibuang ke bak sampah yang berbeda pula. Untuk mengenal dampak negatif pembuangan air limbah ke sungai misalnya, siswa diajak ke sungai dan memperhatikan akibat limbah tersebut pada biota sungai dan pertanian/perkebunan.

Keberadaan kurikulum PLH ini belum didukung sumber daya guru yang memadai. Karenanya, diadakan workshop bagi para guru dari berbagai latar belakang. Mereka memperoleh pembekalan tentang kurikulum muatan lokal pendidikan lingkungan hidup Kota Batu, greenning school, sekolah adiwiyata, sekolah sebagai agen pembaharuan
november 2010 majalah percik

27

Obrolan

DR. IR. DEDY S. PRIATNA, MSC.
DEPUTI BIDANG SARANA DAN PRASARANA, BAPPENAS

Pembangunan Sanitasi

Harus Dipercepat
Percepatan pembangunan sanitasi mutlak dilakukan melihat kondisi sanitasi di Indonesia saat ini. Percepatan itu butuh sinergi semua stakeholder yang terlibat di dalamnya. Seperti apa wujud percepatan pembangunan sanitasi ini, kami mewawancarai Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Bappenas, Dr. Ir. Dedy S. Priatna, MSc. Berikut petikannya.

Mengapa kita perlu melakukan percepatan pembangunan sanitasi? Pertama, kesehatan masyarakat sudah sangat terganggu. Setiap hari diperkirakan sebanyak 14.000 ton tinja dan 176.000 m3 urine terbuang ke badan air, tanah, danau dan pantai yang menyebabkan 75 persen sungai tercemar berat dan 70 persen air tanah di perkotaan tercemar bakteri tinja. Akibatnya insiden diare tinggi, yaitu mencapai 411 per 1.000 penduduk (Survei Morbiditas Diare Kemkes, 2010) dan juga meningkatnya biaya pengolahan air sehingga masyarakat harus membayar rata-rata 25% lebih mahal untuk mendapatkan air minum perpipaan. Buruknya kondisi sanitasi turut berkontribusi pada rendahnya kualitas hidup yang ditunjukkan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, yaitu

hanya menempati urutan 111 dari 182 negara berkembang (Human Development Report, UNDP, 2009). Kedua, akses sanitasi penduduk Indonesia masih sangat rendah. Hingga tahun 2009, baru 51,2 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Sementara itu, 70 juta penduduk masih melakukan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Saat ini 98% Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) juga masih dioperasikan secara open dumping. Selain itu, terdapat 174 kab/kota (38%) yang memiliki risiko sangat tinggi terhadap banjir (Rencana Aksi Nasional, Pengurangan Risiko Bencana 2010-2012). Dampaknya adalah potensi kerugian ekonomi sebesar 58 triliun rupiah per tahun (Hasil Studi Bank Dunia,

2007). Dampak lainnya tentu saja kejadian luar biasa berbagai penyakit dan kematian balita yang tinggi. Dua penyebab utama kematian anak balita adalah penyakit yang menyebar melalui kotoran dan lewat perantaraan air seperti kolera, tifus, diare. Ini terkait penggunaan sumber air minum yang tidak layak, sanitasi yang buruk, dan rendahnya kesadaran masyarakat tentang PHBS. Ketiga, belum komprehensifnya program pembangunan sanitasi yang ada. Pembangunan sanitasi belum terintegrasi, masih berjalan sendiri-sendiri. Peningkatan anggaran pun tidak menjamin berhasilnya pembangunan yang berkelanjutan jika tidak ada koordinasi dan sinergi antar pelaku pembangunan. Inilah alasan kita untuk melakukan percepatan pembangunan sanitasi.

28

majalah percik

november 2010

Di manakah posisi Program PPSP dalam konteks kebijakan pembangunan sanitasi nasional? RPJMN 2010-2014 secara eksplisit telah mencantumkan target pencapaian pembangunan sanitasi secara terukur yang merupakan penuangan dari target PPSP. Kita berharap pada tahun 2014 nanti sudah tidak ada lagi yang buang air besar sembarangan (BABS), pengelolaan persampahan perkotaan meningkat, dan luas genangan drainase di kawasan strategis perkotaan menurun. Target-target tersebut berat diwujudkan jika tidak ada upaya yang sinergi dan komprehensif serta mengikat seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Untuk itu diperlukan program yang melibatkan para pemangku kepentingan dengan pandangan dan pemahaman yang sama serta langkah yang disepakati untuk dilaksanakan bersama. Nah untuk mencapai itu, semua pihak harus bersinergi. PPSP diharapkan menjadi payung besar untuk seluruh kegiatan pembangunan sanitasi di Indonesia sehingga kegiatan-kegiatan yang ada saling melengkapi dan tidak tumpang tindih. Apa yang menjadi kekhasan dalam Program PPSP ini dan bagaimana koordinasi dilakukan? Ada dua hal. Pertama, program PPSP memberikan dukungan kepada daerah (kabupaten/kota) untuk mempercepat peningkatan kualitas sanitasi yang dimulai dari upaya perbaikan kualitas perencanaan sanitasi. Oleh karena itu, PPSP mendorong pemerintah kabupaten/ kota untuk menyusun strategi pembangunan sektor sanitasi skala

kabupaten/kota yang komprehensif dan koordinatif yang disebut sebagai Strategi Santasi Kabupaten/kota (SSK). Lebih jauh, SSK merupakan portofolio pendanaan bagi pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan optimalisasi pendanaan dari APBD (tingkat I dan tingkat II) dan APBN serta akses terhadap

baik itu koordinasi antar lintas kementerian yang terlibat, maupun koordinasi antar pusat dengan daerah. Sebagai program yang dilakukan secara lintas sektoral dan terintegrasi, bagaimana kontribusi sumber daya dan pembiayaan setiap instansi? Masing-masing kementerian penanggung jawab PMU dan PIU bertanggung jawab untuk menyediakan sumber daya baik berupa dukungan dana maupun personel yang dialokasikan melalui anggaran masing-masing kementerian. Bagaimana rencana Program PPSP ke depan dalam mengejar target-target yang telah ditetapkan? Secara umum, target-target PPSP dicapai sesuai dengan peta jalan (roadmap) yang sudah ditetapkan. Ada enam tahapan yakni, pertama, Tahapan Kampanye, Edukasi, Advokasi dan Pendampingan; kedua, Tahapan Pengembangan Kelembagaan dan Peraturan; ketiga, Tahapan Penyusunan Rencana Strategis; keempat, Tahapan Penyusunan Memorandum program; kelima, Tahapan Implementasi; dan keenam, Tahapan Pemantauan, Pembimbingan, Evaluasi dan Pembinaan. Ke depan, untuk lebih memastikan pencapaian target PPSP dan perluasan daerah dampingan, saat ini sedang diupayakan peningkatan dukungan dari lembaga-lembaga donor, kalangan swasta, dan masyarakat. Hal ini terutama diarahkan untuk mendukung implementasi dari SSK yang telah disusun oleh pemerintah daerah.

“ KITA BERHARAP PADA TAHUN 2014 NANTI SUDAH TIDAK ADA LAGI YANG BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN (BABS), PENGELOLAAN PERSAMPAHAN PERKOTAAN MENINGKAT, DAN LUAS GENANGAN DRAINASE DI KAWASAN STRATEGIS PERKOTAAN MENURUN.“

sumber-sumber pendanaan nonpemerintah (donor, swasta, dan masyarakat). Kedua, PPSP merupakan program kolaboratif antara pemerintah daerah bersama dengan pemerintah pusat. Keseluruhan proses dan tahapan dalam PPSP bermuara pada peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam pembangunan sanitasi. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan PPSP di tingkat pusat dilakukan oleh Program Management Unit (PMU) yang berada dibawah koordinasi Bappenas dan 3 Program Implementation Unit (PIU), yaitu: Bidang Teknis di Kementerian Pekerjaan Umum, Bidang Advokasi di Kementerian Kesehatan, dan Bidang Kelembagaan di Kementerian Dalam Negeri. PMU dan PIU tersebutlah yang melakukan fungsi koordinasi

november 2010

majalah percik

29

Obrolan

Ir Ir. BUDI YUWONO, Dipl. SE
D DIRJEN CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

S Sanitasi Harus Terus

Dibicarakan dan Konkret
Pembangunan sanitasi tidak bisa hanya mengandalkan instansi teknis. Butuh sinergi dengan instansi lainnya. Sinergi yang baik akan menghasilkan output pembangunan yang baik. Kementerian Pekerjaan Umum sebagai salah satu instansi yang berperan dalam menyediakan infrastruktur bagi masyarakat tak ingin mengulang kesalahan masa lalu yang hanya memikirkan target fisiknya saja tanpa memperhitungkan faktor lainnya. Bagaimana peran Kementerian ini dalam program PPSP, berikut wawancara kami dengan Budi Yuwono, Dirjen Cipta Karya, yang memfasilitasi Unit Pelaksana Program (atau sering juga disebut PIU – Program Implementation Unit) Teknis program PPSP.

Sebenarnya bagaimana Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 2010-2014? Sanitasi itu kan ketinggalan. Bukan sarana fisiknya semata tapi persepsi pemda, persepsi masyarakat. Kehadiran PPSP ini untuk mengajak mereka menyusun SSK. Dengan begitu mereka diajak berpikir mengenai bagaimana grand design sanitasi kota ke depan. Karena sanitasi itu beragam, ada yang sangat sederhana, menengah dan sangat complicated sesuai dengan besaran kota. Dengan variasi itu, SSK membuat pemda

beserta masyarakatnya terlibat langsung sejak awal. Ini yang dulu tidak dilakukan. Mereka langsung disuruh bikin IPLT misalnya. Ternyata kebutuhan, transportasi, mungkin WC-nya malah belum ada. Jadi sekarang dengan SSK mereka bisa berpikir, apa yang mau saya bangun? Apa cubluk, apa septic tank. Kontrolnya melalui apa? Perlu komunal atau menghidupkan IPLT kembali. Makanya saya senang dengan PPSP, pendekatannya memang mengubah, mendorong mindset mengenai bagaimana suatu kota menjalankan sanitasi. Ini memang harus telaten. Pertemuan

dari forum ke forum, terus ada komunikasi. Itu semua supaya orang bicara tentang sanitasi. Dari di pinggir jadi ke tengah. Dalam CSS (City Sanitation Summit) Bukittinggi, sinergi lintas sektor sangat ditekankan. Pandangan Anda? Saya sangat setuju. Lintas sektor itu sangat bagus. Karena kita membangun fisik tanpa ukuranukurannya itu akan menjadi tidak jelas. PU membangun fisik, Kemkes nanti mengajari mengunakan, menyosialisasikannya bahkan mengukur tingkat pemanfaatannya

30

majalah percik

november 2010

atau outcome-nya. Itulah tugas bersama kita. Ini gunanya pertemuan-pertemuan lintas sektor, kita bisa saling belajar. Tapi khusus yang masalah lintas sektor tadi, itu bukan hanya problemnya daerah. Di pusat juga harus menyadari bahwa kita perlu ada sinergi arah kerja sama lintas sektor ini. Saya rasa PPSP menyatukan langkah kita bergerak bersama. Mudah-mudahan kalau pusat bergerak bersama begini terus, daerah juga bisa melihat itu. Kita punya pengalaman, ini juga menyangkut sanitasi yakni Pamsimas. Idenya sama, lintas sektor. Sebelum diadakan pemilihan lokasi sebelum dibangun, harus dilakukan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan. Yang dibangun di desa A, yang disuluh kesehatan desa B. Padahal tujuannya penyuluhan untuk mengerti, bagaimana pentingnya hidup sehat, baru dibangun. Itu pun juga nggak (jalan-red). Itu sampai World Bank pernah marah. Apa yang mesti dibenahi agar PPSP berhasil? PU biasanya ingin cepat, target oriented. Kami menyadari bahwa PPSP dengan berbagai pendekatan sangat bottom-up. Itu penting tapi harus ingat target kita. Kita harus ngomong banyak tapi cepat dan cepat bergeraknya. SSK jangan melangit. Strategi-strategi itu kalau tidak membumi, akhirnya nanti mengawang-awang. Kita harapkan teman-teman PU itu nantinya bisa mengisi warna ini. Harus ada program yang konkret. Saya ambil contoh Payakumbuh ya. Di sana saya lihat sendiri di desadesa dibagi toilet-toilet. Konkret itu. Terus, Solo itu kita membantu sistem terpusat, mestinya yang komunal juga jalan. Istilahnya serengan. Yang

seperti itu juga dikembangkan terus. Itu kan sudah bukan urusan kita lagi. Harusnya serengan-serengan itu dibentuk oleh walikota. Bagaimana PU mendorong itu jadi konkret.

“ SANITASI ITU KAN KETINGGALAN. BUKAN SARANA FISIKNYA SEMATA TAPI PERSEPSI PEMDA, PERSEPSI MASYARAKAT. KEHADIRAN PPSP INI UNTUK MENGAJAK MEREKA MENYUSUN SSK. ”
Tantangan ke depan PPSP menurut Anda apa? Sebetulnya namanya sudah pas ya, strategi - sanitasi - kota. Strategi itu pasti ada langkah, angka, dan biaya. Kita ngomong yang terstruktur dan rasional. Jangan di tingkat bupati aja. Strategi itu harus disetujui oleh DPR hingga DPRD. Dan rapatkanlah dengan mereka itu. Makanya kita selalu ngajak ketua DPRD ngomong dulu kan. Kita berharap ada perubahan mindset DPRD tentang sanitasi. Tadinya prioritasnya di bawah supaya dinaikkan. Bagaimana peran PU dalam hal mendorong komitmen pendanaan? PU telah mengusulkan peningkatan budget dan didukung Bappenas dan DPR pusat. Dengan itu peran kita menjadi lebih konkret. Kita mulai mendorong, ngomong, tapi juga punya peluru. Anggaran Rp 14 triliun selama 5 tahun untuk sanitasi, air limbah, sampah dan drainase adalah salah satu wujud komitmen pusat di bidang ini. Belum ditambah DAK. Itu semua APBN yang harus ditaruh di daerah. Sebagai PIU Teknis, apa harapan Anda supaya sinergi ini berhasil?

Harapan saya sebetulnya kita juga dibantu. Misalnya oleh dinas kesehatan. Bagaimana mengukur indeks kesehatan. Ada nggak korelasi positif yang bisa diwujudkan. Biar kita ngomong bareng. Misalnya Payakumbuh, dengan mengeluarkan duit sekian, indeks kesehatan naik. Itu sangat mudah dipahami oleh DPRD. Kalau bisa disusun oleh Bappeda. DPRD kalau memberikan biaya (pembangunan) jalan, terasa mulus tapi kalau memberikan kepada (pembangunan) sanitasi, apa yang bisa dirasakan? Itu lebih susah diukur. Nah, ini yang kelihatannya kurang. Harapan saya, dinas-dinas kesehatan bisa memberikan kontribusi. Air bagus, sanitasi bagus, itu mestinya angka kematian bayi turun, angka kematian ibu melahirkan turun. Jadi sudah harus melihat dampaknya secara kualitas? Saya rasa sudah harus dimulai. Kita nggak bisa terus menghitung persentase pelayanan. Tapi kalau jalan, dengan dibangunnya jalan Padaleunyi, akhirnya tercover sekian ribu orang. Sekian ribu orang terangkut setiap hari. Surabaya dengan dibangunnya airport baru, estimasinya dari 6 juta penumpang, naik jadi 15 juta. Fakta kan seperti itu. Dengan dibangunnya sanitasi, angka kematian bayi turun, ini turun. Kita menjadi lebih sehat. Tersedia dana Rp 14 Triliun untuk 2010- 2014, tantangannya apa? Tantangannya adalah penyusunan program yang baik. Saya minta teman-teman PU menyusun program yang baik. Karena mulainya bagaimana menyadarkan orang tentang perlunya sanitasi. Dana yang ada kita manfaatkan secara benar dan tepat.

november 2010

majalah percik

31

Obrolan

PROF. DR. TJANDRA YOGA ADITAMA,
DIRJEN P2PL, KEMENTERIAN KESEHATAN

Tantangan Kita,

Menjaga Komitmen Bersama
Upaya pembangunan dan penyediaan layanan sanitasi membutuhkan aspek advokasi dan upaya komunikasi. Penyadaran publik, misalnya, untuk perubahan perilaku hidup bersih dan sehat membutuhkan kampanye dan mobilisasi sosial yang strategis dan terencana. Kementerian Kesehatan merupakan salah satu institusi yang memiliki peranan penting dalam hal upaya advokasi, edukasi dan pemberdayaan bagi aspek komunikasi kebijakan penyehatan lingkungan, termasuk sektor sanitasi. Berikut ini wawancara kami dengan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, yang memfasilitasi Unit Pelaksana Program (atau sering juga disebut PIU – Program Implementation Unit) Advokasi dan Pemberdayaan program PPSP.

Pemerintah tengah melakukan terobosan dalam percepatan pembangunan sanitasi melalui Program PPSP, sejauh mana program ini mampu mengatasi persoalan kesehatan atau angka kesakitan yang terkait dengan rendahnya akses sanitasi? Pada Kabinet Indonesia Bersatu II, sesuai arahan Presiden, kini pemerintah diharapkan untuk concern dengan upaya promotif dan preventif demi optimalisasi pembangunan berkesinambungan. Terkait sanitasi, bukan hanya persoalan air limbah domestik (waste water), persampahan (solid

waste) dan drainase lingkungan (drainage system) saja. Persoalan ini berkaitan dengan upaya pembangunan manusia. Karena itu sangat berkontribusi pada pencapaian MDGs (Millennium Development Goals) dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Dengan kata lain, bila kita mampu mangatasi persoalan ini secara baik maka ini akan berdampak luas dan akan berdampak pada perbaikan kesehatan, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Bagaimana sebetulnya posisi Indonesia saat ini?

Kita sudah melakukan banyak hal, namun kita masih perlu percepatan pembangunan sanitasi yang terintegrasi. Contohnya persoalan limbah domestik (tinja), laporan Pembangunan Manusia 2006 terbitan Program Pembangunan PBB (UNDP) menyatakan hampir separuh penduduk di negara-negara berkembang termasuk Indonesia belum memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. Laporan Asian Development Bank menyebutkan pencemaran air di Indonesia berpotensi menimbulkan kerugian 45 triliun rupiah lebih per tahun atau 2,2 persen GDP negara. Sementara

32

majalah percik

november 2010

posisi Indonesia, persentase cakupan pelayanan sanitasinya berada di urutan keenam. Contohnya bila setiap orang tiap hari membuang tinja 125–250 gram di perkotaan Indonesia. Asumsikan penduduk perkotaan sekitar 100 juta orang, maka akan dihasilkan 25.000 ton tinja per hari. Jika tidak ditangani, masalah volume, mikroba, materi organik, nutrien, dan telur cacing (4 komponen dalam tinja) harus dihadapi. Tidak mengherankan, 70 persen air tanah di perkotaan telah tercemar bakteri tinja yang parah. Bagaimana dengan dampak ekonomi? Berdasarkan studi “Economic Impacts of Sanitation in Southeast Asia” tahun 2007 dari Water and Sanitation Program (WSP) Bank Dunia, Indonesia kehilangan lebih dari Rp. 58 triliun atau sebanding dengan Rp. 265.000 per orang setiap tahun akibat sanitasi buruk. Selain itu lebih dari 94 juta orang (43 persen dari jumlah penduduk) belum mempunyai jamban dan hanya 2 persen dari jaringan air limbah perkotaan yang diolah. Akibatnya diperkirakan ada sekitar 121.100 kasus diare yang memakan korban lebih dari 50.000 jiwa setiap tahun. Biaya kesehatan mencapai 131.000 rupiah per orang atau 31 triliun rupiah secara nasional setiap tahunnya. Selain itu, pembuangan tinja atau sampah yang masuk ke badan-badan air, menyebabkan kerugian sebesar 63.000 rupiah per orang atau 14 triliun rupiah secara nasional. Sejauh mana efektivitas kerja sama lintas sektor dalam Program PPSP ini dapat terlaksana? Secara nasional, program PPSP merupakan suatu terobosan. Di saat yang sama, otonomi daerah juga menekankan pentingnya pemerintah kabupaten/kota agar semakin peka

dan lebih strategis dalam melihat persoalan penyehatan lingkungan mereka. Program PPSP dapat efektif terlaksana bila ada keterpaduan lintas sektoral (kementerian/kedinasan) dalam perumusan hal-hal strategis bersama dalam perencanaan daerah. Sejalan dengan itu Program PPSP memungkinkan keserasian dan koordinasi lebih baik antara kabupaten/kota, provinsi dan pusat.

kesehatan. Bagaimana kesiapan dan komitmen untuk pembiayaan program ini? Kementerian Kesehatan mengalokasikan anggaran tahunan untuk pelaksanaan kegiatan UPP Advokasi dan Pemberdayaan program lintas sektoral ini. Selain berkontribusi pada pendanaan dan sumber daya manusia, kami juga memfasilitasi kantor khusus bagi koordinasi UPP Advokasi. Ini dimaksudkan untuk memperlancar koordinasi stakeholders, serta sinergi dengan berbagai pihak. Setiap tahun akan tinjau secara berkala. Apakah tantangan program yang akan berlangsung hingga 2014 ? Dari segi Kementerian Kesehatan, ada dua hal yang menjadi perhatian: pertama, berbagai antisipasi upaya (maupun dampak) di luar kendali sektor kesehatan, atau disebut ‘beyond health’; kedua, dampak ‘climate change’. Secara ringkas, kedua hal ini bisa menuntut penanganan di luar kesehatan. Tidak bisa lagi sektoral. Ini juga menjadi tantangan program PPSP. Tantangan untuk kesinambungan sinergi dan komitmen dalam mencapai tujuan bersama. Seperti kita tahu, kegiatan lintas sektoral tidak mudah. Upaya advokasi dan komunikasi kebijakan dan pembangunan program sanitasi harus terus ditingkatkan. Pada konteks PPSP, saat ini sedang diupayakan keluarnya aturan dan payung hukum yang lebih kuat (semacam Peraturan Presiden atau Instruksi Presiden), demi optimalisasi upaya bersama dalam mencapai tujuan program PPSP. Menjaga komitmen bersama adalah tantangan kita.

“ UPAYA ADVOKASI DAN KOMUNIKASI KEBIJAKAN DAN PEMBANGUNAN PROGRAM SANITASI HARUS TERUS DITINGKATKAN. MENJAGA KOMITMEN BERSAMA ADALAH TANTANGAN KITA.”

Sebagai UPP (Unit Pelaksana Program) atau kadang disebut PIU (Program Implementation Unit) Advokasi dan Pemberdayaan dari Program PPSP ini, apa saja peran Kementerian Kesehatan? Peran dan fungsi Kementerian Kesehatan ada dalam setiap tahapan program PPSP. 1) advokasi, komunikasi dan pemberdayaan; 2) pengembangan kelembagaan dan peraturan; 3) penyusunan rencana strategis terpadu; 4) penyusunan memorandum program; 5) implementasi optimalisasi ketersediaan prasarana dan sarana sesuai kebutuhan; dan 6) pemantauan, pembimbingan dan evaluasi. Kementerian Kesehatan lebih banyak memfasilitasi tahap pertama program PPSP, yakni kegiatan yang terkait dengan kampanye, edukasi, advokasi dan pendampingan. Direktorat Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan menjadi pusat informasi publik dan membidangi kegiatan promosi

november 2010

majalah percik

33

Obrolan
G WALUJO ANGGOTA POKJA AMPL PROVINSI JAWA TENGAH

DAERAH BUTUH ADVOKASI SANITASI
Pembangunan sanitasi di daerah tak bisa dilepaskan dari peran provinsi. Dalam PPSP, provinsi memiliki andil menyeleksi kabupaten/kota serta mengawal proses perjalanan penyusunan Buku Putih dan Strategi Sanitasi Kota (SSK). Lebih dari itu, provinsi berperan mendorong kabupaten/kota memiliki kepedulian terhadap sanitasi. Seperti apa yang sudah dilakukan? Berikut wawancara dengan salah satu anggota Pokja AMPL Jawa Tengah, G Walujo. Sejauh mana peran pokja provinsi dalam mendorong kepedulian kabupaten/kota terhadap sanitasi? Pokja AMPL Jawa Tengah terus berusaha memfasilitasi pembangunan AMPL sejak tahun 2004. Yang awalnya hanya Kebumen, terus berkembang ke 15 kabupaten/ kota dalam rangka peningkatan akses AMPL. Kami berusaha memberi arahan dalam berbagai kesempatan agar pembangunan sanitasi ini lebih baik, khususnya di kabupaten/kota yang ikut PPSP. Bagaimana kesiapan daerah mengalokasikan anggaran untuk membangun sanitasinya? Cukup siap, tapi perlu ada advokasi terlebih dahulu. Misalnya dana ini untuk apa, manfatnya apa, dampaknya bagi masyarakat dan sebagainya. Pemahaman kepada para pengambil keputusan menjadi sangat penting. Dana untuk sanitasi Rp 300 juta-Rp 400 juta sebenarnya bisa disisihkan dari sektor yang kurang prioritas. Selama ini advokasi pembangunan sanitasi ke kabupaten/kota seperti apa? Pemahaman baru terbatas pada kabupaten/kota calon peserta PPSP. Karenanya, belum semua kabupaten/kota menyadari pentingnya pembangunan sanitasi. Kita juga mengajak Kota Solo untuk berbagi pengalaman tentang keberhasilannya mengikuti ISSDP sehingga memiliki perencanaan yang komprehensif dalam pembangunan sanitasinya. Bagaimana membangun sanitasi khususnya di wilayah perdesaan? Di desa sampah belum jadi masalah. Tapi di sana ada masalah limbah atau buang air besar sembarangan. Nah ini sekarang sudah ditangani dengan adanya program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), Pamsimas, dan sebagainya. Kita melihat permasalahan di perdesaan, selain keterbatasan sarana dan prasarana, sebenarnya ada masalah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama pada penduduk yang tinggal di bantaran sungai. Program STBM misalnya, bisa mengubah perilaku masyarakat di wilayah Kabupaten Grobogan. Dua desa yang sebelumnya tak punya mban jamban, kini telah punya jamban ogram meski tanpa subsidi. Nah program berbasis masyarakat dalam skala kecil/rumah tangga seperti ini bisa tasi dilaksanakan untuk mengatasi okja permasalahan air limbah. Pokja bisa langsung andil di dalamnya dalam erlibat memicu masyarakat agar terlibat secara aktif. Bagaimana kebijakan pokja okja rah provinsi agar semua daerah bisa nitasi mengatasi persoalan sanitasi ini dengan segera? Kabupaten/kota sudah ada gradasinya. Yang rawan masalah sanitasi diprioritaskan, yakni daerah pantai utara juga pantai selatan. Makanya kabupaten/kota di wilayah tersebut ikut PPSP. Setelah itu daerah-daerah aliran sungai. Yang belum ikut PPSP akan kita pacu dengan melakukan sinkronisasi SKPD-SKPD. Sejauh mana provinsi mengalokasikan anggaran di sektor sanitasi ini? Perhatian terhadap sanitasi belum begitu menggembirakan. Alokaksi anggaran untuk sanitasi masih di bawah satu digit. Mudah-mudahan dengan adanya PPSP, pemahaman para pengambil kebijakan dan SKPD-SKPD, termasuk pokja dan Bappeda semakin meningkat. Dengan perencanaan yang baik dan komprehensif, kita bisa memetakan kondisi sanitasi sekaligus menyusun strategi penanganan sanitasi secara bertahap.

34

majalah percik

november 2010

ABDULLAH ARAFAD CF KABUPATEN LHOKSEUMAWE

MASUKI “RANAH MUSUH” DENGAN PENDEKATAN PERSONAL
Tak ada kata pantang menyerah dalam kamus Abdullah Arafad. Sang City Fasilitator (CF) ini berani menembus “ranah musuh” demi memuluskan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) di tempat ia dibesarkan, Kabupaten Lhokseumawe. Bukan hal yang mudah menawarkan isu sanitasi kepada para pemangku kepentingan di Kabupaten Lhokseumawe. Apalagi, sanitasi adalah wilayah baru bagi Abdullah. Antipati, penolakan, hingga pesimisme dari berbagai pihak mengenai program PPSP pun ia rasakan. Mari simak obrolan singkat Percik dengan Abdullah berikut ini: Apa kendala utama pada pekerjaan ini dan bagaimana mengatasinya? Utamanya adalah menembus birokrasi. Karena itu saya curi start. Sekitar sebulan sebelum PPSP masuk, saya mulai merintis penjajakan lewat pendekatan personal kepada koneksi saya di pemerintahan. Saya jual isu dengan memotret kondisi eksisting di Lhokseumawe, seperti sampah, kondisi drainase, atau angka penyebaran penyakitnya. Setelah mereka tertarik, baru saya tawarkan dokumen perencanaan yang bisa
ERNAWATI FASILITATOR PROVINSI JAWA TENGAH

meng-cover permasalahan yang ada, yaitu SSK. Cara seperti ini cukup efektif dan rasanya bisa diterapkan di kabupaten/kota lain. Apakah prosesnya mulus? Agak sulit juga, terutama dalam hal data-data sanitasi yang tidak lengkap. Belum lagi kalau ada “penumpang gelap”, pihak-pihak yang hanya mengincar kucuran dana tanpa mengindahkan tujuan utama program ini. Memang di situ tantangannya. Makanya kita harus menyelami “ranah musuh” supaya bisa nyambung.

Pendapat Anda tentang program PPSP sendiri? Banyak diakui oleh teman di Bappeda dan juga walikota, dokumen Buku Putih dan Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang merupakan produk PPSP mampu menjawab permasalahan sanitasi yang selama ini mendera Lhokseumawe. Selain proses pembuatannya yang melibatkan banyak pihak, metodologi penyusunannya yang ilmiah pun dinilai mampu dipertanggungjawabkan.

SEKILAS PROGRAM PPSP
Program Percepatan memang seringkali mirip makanan instan, semua serba cepat dengan sarana dan prasarana terbatas. Hampir mirip sedikit dengan PPSP. Setelah pelaksanaan program uji coba dengan nama ISSDP di 12 kota selama kurang lebih empat tahun, dilakukanlah perluasaan wilayah langsung ke 41 daerah kota dan kabupaten yang memiliki karakteristik beragam. Meski prosesnya cepat, pelaksanaan PPSP pada tahap pertama terbilang sukses dengan antusiasme tinggi dari pemerintah daerah untuk menerima dan melaksanakan program di daerah masing-masing. Daerah bersedia menyiapkan sarana dan prasarana pelaksanaan program, kesiapan lembaga lokal sebagai pengelola, serta gereget dan rasa memiliki pokja terhadap produk PPSP (Buku Putih) cukup tinggi. “Saat ini PPSP sebagai program yang hebat, dimana pemerintah daerah mau dan mampu menyusun sendiri dokumen Buku Putih sebagai landasan penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) secara lintas sektoral dan komprehensif,” kata Ernawati, Fasilitator Provinsi Jawa Tengah. Ke depannya, Ernawati mengharapkan beberapa perubahan, di antaranya dalam hal kejelasan petunjuk pelaksanaan. Pemahaman mengenai penyediaan anggaran, fasilitas sekretariat, serta hal-hal teknis lainnya ini amat penting agar program berjalan lebih lancar dan sesuai jadwal. Selain itu, hendaknya ada perbaikan alat bantu dan perangkat analisis yang sesuai dengan kondisi perdesaan atau perkotaan. Peran tenaga ahli juga dibutuhkan dalam mendukung program di lapangan.

november 2010

majalah percik

35

Obrolan

Harmonisasi Dokumen Sanitasi
Sejumlah dokumen perencanaan muncul di daerah. Renstra AMPL dan SSK mengambil porsi sebagai perencanaan strategis di bidang air minum dan sanitasi. Bagaimana kedua produk tersebut sesungguhnya saling bersinergi dengan sejumlah dokumen yang ada dan mendukung proses perencanaan pembangunan di daerah? Oswar Mungkasa, Mantan Pelaksana Harian Pokja AMPL dan Nugroho Tri Utomo, Koordinator PMU Sekretariat PPSP menjawab pertanyaan besar tersebut.

1
Oswar Mungkasa

KERANGKA TINDAK MENUJU KEBERLANJUTAN PEMBANGUNAN AMPL
Bisa dijelaskan secara sederhana apa dan bagaimana konsep Rentra AMPL, dan bagaimana kedudukannya dalam sebuah proses perencanaan pembangunan AMPL di deareh? Perencanaan strategis (Renstra AMPL) merupakan sebuah pedoman, arah dan panduan yang perlu dibuat sebuah Pokja AMPL di daerah. Dan dalam sebuah Renstra AMPL yang ada biasanya tercantum sejumlah rencana operasional kerja jangka pendek dan menengah secara taktis, terfokus, dapat diimplementasikan dan terukur. Saat ini memang sudah ada sejumlah pedoman perencanaan lainnya. Namun, sering kali konsep renstra yang dibuat pemerintah pusat dan pemerintah daerah tidak sama atau sejalan. Hal inilah yang kadang membuat target pembangunan AMPL yang dibuat pemerintah pusat tidak tercapai. Karena itu, Renstra AMPL dapat menjadi interface antara dokumen rencana strategis baik milik pemerintah pusat seperti kementerian dengan pemerintah daerah. Kaitannya dengan dokumen perencanaan lainnya apa saja keunggulan yang bisa di tawarkan dalam sebuah Renstra AMPL? Lahirnya sebuah Renstra AMPL biasanya disemangati oleh paradigma perencanaan pembangunan agar lebih harmonis dan selaras, baik antara pusat dengan daerah, daerah dengan daerah, dan juga antar instansi dan fungsi pemerintahan lainya. Ini yang bisanya merupakan landasan utamanya. Dalam dokumen sejumlah Renstra AMPL, saya melihat ada tiga hal positif yaitu pertama kualitas dokumen perencanaan pembangunan AMPL menjadi lebih baik di daerah, kedua mendorong kinerja pemerintah daerah lebih terukur, terarah dan sesuai dengan target pencapaianya. Dan ketiga mempererat jaringan kerja dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, instansi swasta dan peran masyarakat untuk bekerja lebih keras bagi kemajuan daerahnya di bidang AMPL. Apa saja tantangan Pokja AMPL untuk melahirkan sebuah dokumen perencanaan AMPL yang baik? Tidak bisa dipungkiri sejumlah tantangan terjadi dalam penyusunan sebuah Renstra AMPL seperti lemahnya koordinasi atau kerjasama, tidak adanya kesepahaman atau visi dalam penyusunan acuan, kualitas SDM yang masih kurang di sejumlah daerah dalam bidang AMPL dan kurangnya dokumen perencanaan yang ada. Sedangkan komitmen atau kepedulian pemerintah daerah pun sangat beragam dalam menyikapi perlunya pokja AMPL menyusun sebuah renstra. Karena itu, penting dilakukan proses internalisasi atau kesepahaman diantara sejumlah pihak dalam memaknai sebuah rencana strategis. Sebagus apapun rencana strategis yang dibuat oleh pokja AMPL dalam menyusun sebuah Renstra AMPL tentunya tidak akan bermanfaat jika tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Juga sebaliknya untuk menggerakan sebuah Pokja AMPL tentunya tidak mudah, bagaimana mengatasi persoalan ini? Dalam membuat sebuah dokumen perencanaan strategis AMPL tentunya diperlukan kerjasama dan koordinasi yang kuat seluruh anggota pokja. Saya melihat diperlukan sosok atau figur yang bersedia bekerja keras, memiliki komitmen kuat bekerja buat kepentingan masyarakat luas di bidang AMPL. Dengan Renstra AMPL yang baik maka tentunya pemerintah pusat dan daerah tentunya akan memiliki kerangka tindak menuju keberlanjutan pembangunan AMPL.
[Eko]

36

majalah percik

november 2010

2
Nugroho Tri Utomo

SSK, OWNERSHIP DAN KREDIBILITAS
Apa yang menjadi keutamaan SSK sehingga diyakni dapat membantu pembangunan di daerah, khususnya untuk sektor sanitasi? Yang paling penting dari SSK adalah ownership seluruh pihak berkepentingan kabupaten/kota terkait dokumen tersebut sehingga ada kredibilitas perencanaan itu sendiri. Ownership inilah yang selama ini belum kuat dalam dokumen perencanaan daerah karena tidak menggabungkan seluruh kepentingan. Di SSK, kalau usulanusulan program tidak dikoordinasi antar SKPD, akan gugur dengan sendirinya. Dari sisi kredibilitas, karena SSK disusun berdasarkan data empiris, data yang tercantum sesuai dengan kondisi eksisting. Gambaran senyata mungkin ini akan lebih powerful kedudukannya dalam mengadvokasi pimpinan daerah agar mau memprioritaskan sanitasi di daerahnya. Kalau pimpinan daerah sudah bilang sanitasi jadi prioritas, proses selanjutnya akan lebih mudah, termasuk soal pendanaan. Satu hal lagi, yang selama ini hilang adalah link antara rendahnya investasi sanitasi dan akibat yang ditimbulkannya. Nah, SSK bisa menjawab missing link itu. Bagaimana kedudukan SSK dengan dokumen-dokumen lainnya di daerah seperti Renstra AMPL? SSK sendiri tak pernah diharapkan menjadi dokumen formal, melainkan sebagai exercise antar SKPD dalam menjalankan tupoksi di bidang sanitasi. Bagaimana cara memadukan SSK dan RPJM? Bagi daerah yang sudah memiliki SSK namun belum ada RPJM, SSK itulah yang dijadikan RPJM Sanitasi. Sementara daerah yang belum punya SSK namun sudah ada RPJM, harus dipastikan program sanitasi yang ada dalam RPJM itu bisa memfasilitasi SSK. Nah, bagi daerah yang memiliki Renstra AMPL, SSK harus disusun mengacu pada Renstra AMPL. Mengingat bahwa sanitasi sangat terkait erat dengan air minum, bagaimana menyinergikannya? Mulai tahun ini kami berusaha menggabungkan pendekatan pembangunan untuk air minum dan sanitasi. Renstra AMPL pun ternyata mirip dengan Buku Putih yang jadi bagian dari proses penyusunan SSK. Kebijakan kami untuk tahun 2011, pokja AMPL yang sudah ada di daerah bisa difungsikan sebagai pokja sanitasi juga. Jadi daerah tak perlu buat pokja lagi. Dengan begitu pembangunan sanitasi dan air minum bisa berjalan bersama-sama. Melalui PPSP, minimal 330 kabupaten/kota diharakan telah menyusun SSK di tahun 2014. Bagaimana kebijakan Pemerintah Pusat agar SSK yang dihasilkan tersebut benar-benar masuk dalam siklus perencanaan pembangunan di daerah sehingga dapat diimplementasikan? Kami hanya bisa secara terusmenerus mengajak daerah untuk ikut program PPSP. Pusat tak bisa menginstruksikan atau memaksa daerah untuk membuat SSK karena kunci sukses SSK adalah komitmen daerah sendiri. Tapi kemudian, pusat menyinkronkan kebutuhankebutuhan agar bisa mendukung sanitasi. Kalau daerah mau maju, silakan buat SSK, nanti pusat akan bantu (mendampingi). Tapi kalau daerah belum mau ya tak apa-apa. Untuk mengamankan momentum bagi daerah-daerah yang ikut PPSP, pusat membantu mencarikan bantuan pendanaannya. Bagaimana penanganan sisa kabupaten/kota di luar 330 kabupaten/kota target PPSP? Bukankah target RPJMN 20102014 untuk sektor sanitasi bersifat nasional? Angka 330 kabupaten/kota itu sendiri didapat dari identifikasi kota-kota yang punya permasalahan drainase, air limbah, dan persampahan. Ini sudah ada hitung-hitungannya sendiri. Jadi 330 kabupaten/kota ini adalah prioritas sekaligus gambaran awal supaya bisa menghitung kebutuhan pembiayaan program ini. Meskipun kedengarannya ini merupakan target besar, namun sebagai gambaran untuk 2010 saja, dari target 57 kabupaten/kota yang ikut, ternyata ada 63 kabupaten/ kota yang menyatakan siap. Kalau ini terjadi secara konstan, bisa jadi di 2014 semua kabupaten/kota akhirnya ikut menerapkan program PPSP.

november 2010

majalah percik

37

Agenda
Evaluasi Kinerja PF/CF 2010 Peneyusunan Training Need Assessment untuk KonsultanManajemen Wilayah Fasilitasi 3 kota pilot Program Memorandum Penilaian Draft SSK Kota-kota 2010 Pengecekan Kesiapan Administratif kota-kota 2011
20 Oktober 2010

Seminar dan Diskusi Media: Peran Media untuk Kampanye Sanitasi
21-22 Oktober 2010

Pelatihan Web-based Monev untuk Pokja Kabupaten/Kota dan Provinsi

26-29 Oktober 2010

Pelatihan Metode Kampanye Sanitasi untuk Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi (Gelombang 1) Konsolidasi Sinergi ProgramProgram TTPS – AMPL

8-10 Desember 2010

City Sanitation Summit Kediri
AwalDesember 2010

Rapat Evaluasi Tahunan
AwalDesember 2010

2010

Oktober

2010
November
9-12 November 2010

Penilaian Akhir Mutu SSK

2010

Desember

2011
Januari
Rekruitmen CF/ PF 2011 Penyegaran PF/ CFuntuk Program Memorandum 2011-2012

2

Pelatihan Metode Kampanye Sanitasi untuk Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi (Gelombang 2)
Minggu ketiga November 2010

Pelatihan Keterampilan Komunikasi untuk Eselon 2 dan 3 Rakernas Provinsi Penjaringan Minat Kota 2012
Akhir November 2010

Penilaian mutu SSK

38

majalah percik

november 2010

AGENDA PPSP 2010–2011
Pelatihan Penyusunan Memorandum Program untuk Pokja Kabupaten/ Kota Pelatihan Fasilitasi Penyusunan Memorandum Program bagi Pokja Provinsi Workshop Memorandum Program bagi PMU-PIU Pelatihan Penyusunan Buku Putih dan SSK bagi Pokja Provinsi Pelatihan Fasilitator Baru PPSP Pelatihan Pengelolaan Aspek Komunikasi bagi Pokja Provinsi Pelatihan Penyegaran SSK bagi Fasilitator Pelatihan Identifikasi Sumber dan Pendanaan Sektor Sanitasi bagi Pokja Kabupaten/ Kota, Provinsi, Fasilitator, dan Tenaga Ahli KMW

2011

Februari

2011
Maret
AkhirMaret 2011

2011

April

2011
Mei
Pelatihan Metode Kampanye Sanitasi bagi Pokja Provinsi dan Kabupaten/ Kota

2011

Juni

Konferensi Sanitasi Nasional III Pelatihan Monev Berbasis Web bagi PMU-PIU Pelatihan EHRA bagi Pokja Provinsi dan Kabupaten/ Kota Pelatihan Studi Pendukung Buku Putih bagi Pokja Provinsi

november 2010

majalah percik

39

Kata Mereka

PEMBANGUNAN SANITASI HARUS KOMPREHENSIF

Irwansyah Andi Idrus Ketua RW 08 Kelurahan Petojo Utara Jakarta Pusat Penggiat sanitasi, peraih Kalpataru tahun 2009

RW 08 Petojo Utara Jakarta Pusat begitu populer dan kerap dikunjungi baik oleh tamu domestik maupun mancanegara. Tujuan mereka umumnya untuk melihat lebih dekat dan mencontoh keberhasilan kawasan yang terdiri dari 14 RT ini dalam hal pengelolaan sanitasi. Tahun 2009, Ketua RW-nya Irwansyah Andi Idrus, memperoleh penghargaan Kalpataru. Berikut petikan wawancara singkat dengan Irwansyah.

posyandu, kemudian mulai bergulir program-program kebersihan seperti pengomposan, daur ulang sampah plastik atau penghijauan. Kita juga menjalankan CTPS dan sejak Mei 2006 kita juga menyelenggarakan kerja bakti bersih-bersih Kali Krukut, setiap tiga bulan sekali. Dari situ berturut-turut ada bantuan membangun sarana publik toilet umum.

Pendapat Anda tentang Pembangunan Sanitasi Indonesia ?
Pembangunan sanitasi harus komprehensif, seluruhnya. Tidak hanya pekerjaan pemerintah tapi utamanya juga masyarakat. Dan yang lebih penting lagi adalah mengubah perilaku masyarakat. Ini yang sulit. Masyarakat harus disadarkan dulu dan tahu sanitasi itu apa.

Menurut Anda program pembangunan sanitasi yang pas untuk Indonesia seperti apa?
Yang paling tepat adalah kita harus memetakan dulu suatu wilayah, (berapa) masyarakat yang menggantungkan dirinya dengan MCK umum, nggak punya MCK atau punya MCK di rumahnya. Dari situ saja bisa kelihatan apa yang bisa dilakukan bersama. Yang utama memang sumber pendanaan itu harus ada di pemerintah, bagaimana penggunaannya, pelakunya semua kembali ke masyarakat. Harus ada keterlibatan keduanya, pemerintah dan masyarakatnya. (NC/HI)

Program-program apa saja yang ada di Petojo?
Sejak tahun 2006 dibantu USAID di RW kami menjalankan program sanitasi melalui MCK yang ramah lingkungan dengan teknologi modern, Dewats (Decentralized Wastewater Treatement System, di mana 90 persen air limbah dapat dimurnikah kembali --red). Awalnya sekali, kita (RW 08 Petojo) melakukan perbaikan nutrisi melalui

MCK ++ di RW 08 Kelurahan Petojo Utara Jakarta Pusat

40

majalah percik

november 2010

november 2010

majalah percik

41

Kata Mereka

Asep, (35 tahun)

MEREKA BICARA SANITASI
Tidak perlu kemampuan supranatural, hipnotis atau perangkat penyadapan yang super canggih untuk tahu isi benak warga Jakarta tentang sanitasi. Luangkan waktu lima menit untuk bertanya mengenai hantu-hantu kekhawatiran yang mengitari got, air limbah atau sampah lingkungan. Tokoh-tokoh dalam artikel ini sudah benar-benar mewakili pendapat kita sebagai warga kota. Tak perlu takut untuk berbagi opini, karena sanitasi memang untuk diurusi bersama. Betul betul betul...?

Penjual Buah Di kampung saya orang masih buang air di kali. Seumurumur semua orang buang air ke kali. Mestinya ada aja kampung-kampung yang dilewatin kali kaya kampung saya, di situ orang-orang pasti lebih demen buang air di kali. (Justru) di situ itu mestinya ada pembangunan WC-WC umum yang bener, bukan WC cemplung empat sampai lima kotak.

Bonek, (27 tahun)
Penjaga Toilet Umum Stasiun Toilet di sini rutin disedot. Tiap macet kita pasti sedot. Bisa tiga bulan sekali. Biar orang nyaman memakainya. Ya, meskipun yang pakai toilet umum bukan orang kaya, tapi tetep semua orang butuh buang air bukan? Penting toilet selalu dijaga kebersihan dan diperbaiki. Kalau toilet bersih kan enak juga.

Deni, (38 tahun)
Tukang Parkir Masyarakat di wilayah saya suka buang sampah di kali. Kenapa? Karena sebenarnya tidak ada tempat sampah bersama yang disediakan. Berapa sih sampah yang bisa diangkut tukang sampah RW? Sudah cuman sekantong, itu juga nggak rutin saban hari. Padahal kita sering banget nyampah. Mestinya ada tempat sampah bersama, tiap kelurahan atau RW.

Irland F, (24 tahun)
Pegawai Swasta Sebaiknya pemerintah menggalakkan 3R dan dimulai dari tingkat rumah tangga dengan mengedepankan peran ibu-ibu. Sebab ibu-ibu yang paling berperan dalam produksi sampah (di rumah tangga). Dan yang tidak kalah penting, harus ada master plan sanitasi dan dijalankan dengan baik, jangan penyelesaikan secara instan saja.

Ida, (39 tahun)
Guru TK Di depan (lokasi) TK kita ada got. Alhamdulillah lancar.. di TK kita WC-nya juga berfungsi dengan baik meskipun sangat sederhana dan belum dikeramik. Sebisa mungkin anak-anak tahu dan diajari dua hal: membuang sampah pada tempat nya dan cuci tangan sebelum makan. Ini penting. Kesehatan anak-anak terjaga dan mereka punya wawasan hidup sehat.

42

majalah percik

november 2010

Kasim, (68 tahun)
Pemulung Sampah Seneng sih kalau liat sampah kardus dan plastik banyak tapi kadang nggak sedap juga dipandang mata. Ya, sampah mestinya memang dibersihin pemerintah tapi disisain dong buat kita. (Sampah) yang kita kumpulkan ini nantinya kan dibawa ke pabrik dan (akhirnya) diolah juga.

Sugimin, (46 tahun)
Pemilik Rumah Makan Air cucian dari rumah makan ini kita buang di got. Nggak ada masalah, lancar. Tapi got memang harus ditangani. Resapan air juga harus diperhatikan, jangan sampai jadi gedung mewah. Waduk jangan sampai jadi apartemen atau mall. Jangan (mereka) yang kaya saja yang diutamain, mereka yang nggak punya rumah itu yang mesti dipikirin pemerintah.

Kanta, (56 tahun)
Supir Bajaj Deket bengkel tempat saya tinggal ada kebonan, banyak sampah daun-daun dari kebon, jadi banyak nyamuk. Sampah model apapun mesti diperhatikan kalau dekat dengan tempat tinggal harus diberantas karena bisa jadi sarang nyamuk. Sampahsampah daun ini mesti dikubur. Di Jakarta kan banyak pengolahan sampah kalau di desa jarang. Mestinya sampah-sampah itu dipikirin mau diapain. Biar semua orang sehat.

Ririn, (32 tahun)
Penjual Kopi Sampah di kali mestinya dibersihin secara rutin. Buang sampah juga harus gampang, harus ada tempatnya. Sampah juga mestinya diolah lagi nggak dibuang begitu aja, jadi barang lagi atau digimanain lagi. Sampah kan suka ada manfaatnya.

Sri Erni, (56 tahun)
Ibu Rumah Tangga Kita sering melihat perumahan yang tampak “baik-baik” saja, padahal gotnya mampet. Got seharusnya dibuat agak dalam, setengah meter misalnya, dan pakai tutup. Dan setiap gorong-gorong dibuat saringan. Jadi sampah bisa diangkut secara reguler. Kalau sampah numpuk, akhirnya (banyak sarang) nyamuk dan (masyarakat sekitar) jadi pada sakit bisa-bisa. Masyarakat kurang peduli masalah ini. Pemerintah sepertinya sudah mengelola sanitasi, tapi harus ada pembangunan got yang terencana agar tidak meluap (airnya).

november 2010

majalah percik

43

Kata Mereka

PPSP dan Tantangan

PEMBANGUNAN SANITASI DI MASA Oleh : Harum Sekartaji DEPAN Communications Coordinator Mercy Corps Indonesia

Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang dicanangkan oleh pemerintah pusat dengan prioritas di 330 kabupaten/kota merupakan program yang sangat baik sebagai upaya mengejar ketertinggalan pembangunan sanitasi di Indonesia. Berkaitan dengan target program PPSP untuk menghentikan kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan pada tahun 2014, penanganan sampah melalui pengurangan timbunan dari sumbernya dan penanganan sampah yang ramah lingkungan, serta pengurangan genangan air di kawasan perkotaan, Mercy Corps Indonesia menyambut baik karena ini berarti akan ada program sanitasi terfokus yang saling mendukung antara pemerintah pusat, masyarakat, dan lembaga nirlaba – bahkan mungkin pihak swasta. Namun, ada tantangan khas bagi isu sanitasi, air, dan lingkungan di wilayah kumuh perkotaan yaitu sempitnya lahan yang berakibat sulitnya masyarakat membangun fasilitas sanitasi – selain karena rendahnya tingkat pendapatan. Tantangan lainnya adalah cara mengubah perilaku hidup sehat dan bersih dalam masyarakat perkotaan. Peran PPSP sangat diharapkan terutama dalam penyediaan opsi-opsi teknologi yang disesuaikan dengan kondisi lahan serta terjangkau bagi pemerintah dan masyarakat. Bahkan jika mungkin ada pola pembiayaan yang tepat dari pemerintah. Dari sisi koordinasi, PPSP diharapkan bisa memetakan pelaku sanitasi dan spesifikasinya masing-masing. Dengan demikian integrasi antar pelaku bisa dimungkinkan untuk mempercepat pencapaian target sanitasi dan bahkan nantinya bisa direplikasi di wilayah lain.

“ DENGAN ADANYA PROGRAM PPSP INI, MAKA DIHARAPKAN MASYARAKAT TIDAK HANYA MENJADI TARGET PROGRAM NAMUN SECARA AKTIF DILIBATKAN KARENA SANITASI DAN KESEHATAN LINGKUNGAN MERUPAKAN ISU BERSAMA, BUKAN MERUPAKAN MASALAH MASYARAKAT.“

Mercy Corps sendiri telah menjalankan berbagai program peningkatan kapasitas masyarakat daerah perkotaaan terkait water sanitation (watsan) di daerah perkotaan. Misalnya melalui program Community Based Sanitation (CBS) kerjasama dengan ESP-USAID dengan pembangunan MCK komunal yang

44

majalah percik

november 2010

dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan dan Pademangan Barat, Jakarta Utara. Program ini telah berakhir Desember 2009. Melalui program HP3 (Healthy Places Prosperous People) di Penjaringan, Jakarta Utara, dengan penyediaan akses air bersih melalui sistem pengelolaan air bersih berbasis masyarakat, pembersihan got, dan pengomposan sampah rumah tangga. Lalu melalui PUSH (Program of Urban Sanitation and Health) di Kalideres, Jakarta Barat dengan pembangunan modular tangki septik yang dapat dipasang di rumah perkotaan kumuh dengan lahan

yang sangat sempit serta promosi kesehatan untuk menghentikan kebiasaan BAB di got dan mencuci tangan pada saat kritis. Juga melalui program RW Siaga Plus Plus yang didanai oleh USAID di kelurahan Duri Utara, Duri Kosambi dan Pekojan Jakarta Barat serta Margahayu, Bekasi yang berfokus pada pembangunan infrastuktur air bersih dan sanitasi seperti tangki septik komunal, jamban ramah anak, sanitasi sekolah, tempat cuci tangan pakai sabun, serta promosi perilaku hidup bersih dan sehat guna mengubah perilaku sehat dan meningkatkan gizi balita. Dengan pendekatan kepada

pembangunan kapasitas masyarakat dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, target akan lebih mudah tercapai. Mercy Corps akan terus mengambil peran dan berkontribusi meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum, sanitasi, dan kebersihan lingkungan serta upaya perubahan perilaku guna menurunkan angka kekurangan gizi pada balita.

Anak Kecil Pun Bisa Diajari Hidup Bersih dan Sehat

november 2010

majalah percik

45

Event
‘Ditodong’: Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Budi Hidayat bersama para jurnalis di CSS VIII Tegal, Juli 2010.

City Sanita on Summit (CSS)

USAHA DAERAH MENGANGKAT ISU SANITASI
Program Pengembangan Sektor Sanitasi Indonesia/ Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) mendorong lahirnya kota-kota yang peduli terhadap sanitasi. Sejak diluncurkan pada 2006, program ini berhasil membangun ‘laboratorium’ pengembangan sanitasi berskala kota.

Enam kota ikut dalam program ini yakni Blitar, Payakumbuh, Banjarmasin, Surakarta, Jambi, dan Denpasar. Dalam tahap awal perkembangannya, muncul berbagai pengalaman yang berbeda antarkota tersebut. Dari situlah muncul gagasan untuk berbagi pengalaman antar kelompok kerja (Pokja) Kota ISSDP melalui lokakarya. Pertemuan pertama berlangsung di Banjarmasin pada 2006 dalam sebuah pertemuan bertajuk “Lokakarya Sanitasi Enam Kota ISSDP” atau dikenal “City Sanitation Summit”. Pada pertemuan itu kota-kota menyepakati untuk mengadakan pertemuan setiap tiga bulan sebagai sarana pertukaran informasi antara pokja pusat dan pokja kota serta sesama pokja kota. Pada CSS ke-2 di Blitar, 27 Maret 2007 lahir ‘Deklarasi Blitar’. Ini adalah fenomenal. Walikota Blitar, Walikota Banjarmasin,

Sekda Jambi, Kepala Bappeda Surakarta, Asisten Daerah II Denpasar, Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh, Tim Pokja Sanitasi Pusat menyatakan dukungan mereka terhadap percepatan program pengembangan sanitasi di perkotaan yang berpihak pada masyarakat miskin. Setelah Deklarasi Blitar lahir, isu sanitasi mulai terangkat. Kota-kota itu terus menggenjot pembangunan sanitasi mereka sebagai wujud implementasi Deklarasi Blitar melalui rencana aksi yang memiliki target dan sasaran terukur secara spesifik. Selain itu, kota-kota pionir sanitasi ini pun menganjurkan bagi kota-kota lain untuk bergabung dalam menyusun kebijakan, program dan kegiatan pengarusutamaan pengembangan kualitas sanitasi di perkotaan yang lebih berpihak kepada kepentingan warga masyarakat khususnya warga miskin.

46

majalah percik

november 2010

CSS pun terus dilakukan di enam kota secara bergilir: di Denpasar, Payakumbuh, Solo dan Jambi. Pesertanya pun bertambah seiring dengan masuknya enam kota baru dalam ISSDP tahap 2, yakni Bukittinggi, Kediri, Batu, Pekalongan, Padang, dan Tegal. Pada CSS VI di Jambi 22 Oktober 2009 lahir Deklarasi Jambi. Dua belas walikota sepakat mendeklarasikan Aliansi Kota Peduli Sanitasi (AKOPSI). Ini baru pertama kali di Indonesia ada sebuah aliansi pemerintah daerah yang memiliki komitmen serta keinginan kuat untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui pembangunan sanitasi kawasan perkotaan.

Lahirnya aliansi kota peduli sanitasi diharapkan berperan untuk mendukung proses replikasi strategi sanitasi kota (SSK) di kota-kota yang memiliki komitmen untuk mempercepat pembangunan sanitasi karena komitmen semua stakeholders kota merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan sanitasi di Indonesia. Dalam CSS VII di Bukittinggi, Sumatera Barat, jumlah kota yang peduli sanitasi kian bertambah sejalan dengan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Perkotaan (PPSP). Bahkan kepedulian itu pun muncul dari pemerintah kabupaten. Menyadari hal tersebut, Aliansi Kota Peduli

Sanitasi (AKOPSI) membuka diri bagi keanggotaan pemerintah kabupaten. Dalam rangkaian diskusi pada CSS VII tersebut, anggota AKOPSI menyepakati untuk mengubah nomenklatur AKOPSI menjadi AKKOPSI (Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi). Dalam CSS ini, Kota Pontianak dan Kota Balikpapan resmi menjadi anggota AKKOPSI. Selama 2010, tiga CSS digelar. Setelah di Bukittinggi, CSS berlangsung di Kota Tegal pada Juli 2010 dan Kota Kediri pada Oktober 2010. Semua dalam rangka mengangkat isu sanitasi ke level yang lebih tinggi secara terus menerus.

Sanitasi Harus Jadi Inisiatif Daerah
dr H. Rd. Bambang Priyanto, Ketua Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI)
Sebagai organisasi yang baru berdiri, banyak orang belum mengetahui apa itu Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI). Padahal dari organisasi kecil ini muncul inisiatif untuk menjadikan kabupaten/kota di Indonesia memiliki kepedulian lebih dalam hal sanitasi. Seperti apa organisasi ini dan bagaimana langkah organisasi ini ke depan, kami mewawancarai Ketua AKKOPSI dr H Rd Bambang Priyanto. Berikut petikannya. Bisa dijelaskan latar belakang berdirinya AKKOPSI? AKKOPSI lahir dari wujud nyata komitmen pemerintah kabupaten kota untuk memberikan prioritas terhadap pembangunan dan pengembangan sanitasi. AKKOPSI dideklarasikan pada tanggal 22 Oktober 2009 yang selanjutnya dikenal dengan ”Deklarasi Jambi”. Ada 12 kota pertama yang bergabung. Mengapa AKKOPSI ini penting? AKKOPSI secara tegas akan memperjuangkan dukungan kebijakan konkret pemerintah terhadap pembangunan sanitasi di kabupaten/kota agar memberi dampak yang lebih besar, baik bagi anggota AKKOPSI dan segenap lapisan masyarakat Indonesia. Apa saja yang dilakukan AKKOPSI dalam pembangunan sanitasi selama ini? AKKOPSI merupakan salah satu pemangku kepentingan yang turut memegang peranan penting dalam pencapaian Program Nasional – Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman. Di tahap awal ini AKKOPSI fokus pada pertukaran informasi, transfer pengetahuan dan pertukaran pengalaman bagi sesama kabupaten kota yang peduli sanitasi dalam bentuk penyelenggaraan City Sanitation Summit (CSS,) yang berkerjasama dengan TTPS dan USDP. Ke depan, program apa yang menjadi prioritas AKKOPSI? Prioritas AKKOPSI ke depan ialah pendampingan teknik dan manajemen, pemagangan serta pendanaan bersama dan bentuk-bentuk kerjasama lain. Penguatan lembaga AKKOPSI juga tengah dilakukan. Penyiapan berbagai kelengkapan organisasi, rencana strategis dan rencana kerja. Harapannya semua produk organisasi ini secara operasional nantinya sejalan dengan langkah-langkah strategis pemerintah membangun sanitasi. Siapa yang boleh menjadi anggota AKKOPSI dan bagaimana caranya? Pemerintah kabupaten/kota yang memiliki atau sedang dalam proses penyusunan rencana strategis sanitasi (SSK). Badan Hukum, Lembaga dan Asosiasi yang bergerak di bidang sanitasi juga bisa masuk, termasuk mereka yang berjasa di bidang sanitasi. Dengan syarat-syarat tertentu. Bagaimana agar pembangunan sanitasi bisa bergerak lebih cepat? Proses pembangunan sanitasi mengarah pada inisiatif daerah untuk membangun dan meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, termasuk juga berkontribusi pada program pembangunan nasional sektor sanitasi. Agar bergerak lebih cepat, semua pihak harus memahami dan berkomitmen bahwa sanitasi adalah urusan bersama, yang harus segera ditindaklanjuti secara lebih terkoordinasi, komprehensif dan tanggap kebutuhan.

november 2010

majalah percik

47

Fakta

KETIKA ANGKA BICARA BANYAK
Seringkali kita tidak sadar bahwa kondisi sanitasi kita demikian buruk. Bukan karena kondisi itu tidak ada di sekitar kita, tetapi sebaliknya justru probem-problem itu begitu dekat dengan kita. Angka-angka berikut barangkali dapat membantu kita untuk menyadari bahwa persoalan yang membelit sektor sanitasi bukan persoalan kecil.

56 triliun rupiah
adalah jumlah uang terbuang sia-sia setiap tahun akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia. Angka ini jelas sangat besar: setara dengan 2,3% PDB; setara dengan biaya membangun 12-15 juta unit toilet dengan tanki septic yang layak; atau sekitar 25% anggaran pendidikan nasional per setahun. Celakanya, kerugian ekonomi dan finansial itu harus ditanggung pemerintah dan masyarakat. Menurut studi Bank Dunia, kerugian tersebut bisa dikurangi jika kondisi sanitasi diperbaiki.

47.000 rupiah
adalah investasi per kapita yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi sanitasi, melalui: pengurangan 6-19% biaya kesehatan dan peningkatan 34-79% jumlah waktu produktif. Dengan jumlah penduduk 220 juta, angka investasi akan mencapai 11 triliun rupiah per tahun. Tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk biaya telepon selular yang mencapai sedikitnya 35 triliun per tahun (180 juta pelanggan; 15 ribu per bulan per pelanggan).

47.000 rupiah
per tahun merupakan jumlah uang yang bisa dihemat oleh pemerintah dan masyarakat jika kondisi sanitasi diperbaiki. Sebaliknya, jika investasi tidak segera dilakukan, kerugian ekonomi yang harus ditanggung akan semakin naik seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang mencapai 2,8 juta per tahun.

24,8% penduduk
atau lebih dari 60 juta orang masih BAB sembarangan alias tidak menggunakan jamban atau toilet untuk menunaikan “hajat besar” mereka. Dahsyat sekali mengingat jumlah itu setara dengan seluruh penduduk Inggris, atau Prancis, atau Italia. Sulit membayangkan seluruh penduduk di negara-negara maju itu rame-rame BAB sembarangan. Bahkan, kalau memperhitungkan ada-tidaknya tangki septik dan kualitasnya, maka jumlah penduduk yang BAB sembarangan mencapai 51% atau lebih dari 110 juta orang.

48

majalah percik

november 2010

6,4 juta ton dan 64 juta meter kubik
adalah produksi tinja dan urin per tahun. Kalau 51% penduduk masih digolongkan BAB sembarangan, berarti 3,2 juta ton tinja dan 32 juta meter kubik urin per tahun dibuang sembarangan: mencemari sungai, sumber air, selokan, pelataran, dan sebagainya. Atau tiap hari kita mencemari lingkungan dengan tinja seberat 8.700 gajah dan urin sebanyak volume 21 Danau Toba.

98 juta kasus
adalah angka kejadian diare per tahun karena sanitasi buruk. Setidaknya 23.000 meninggal sia-sia dan kerugian finansial mencapai 507 milyar rupiah untuk biaya pengobatan dan perawatan. Ini juga pemborosan yang besar, sebab boleh jadi 23.000 jiwa tersebut akan terselamatkan jika kita sebelumnya menginvestasikan uang sebanyak itu pada pembangunan 125 ribu lebih toilet ber-tangki septik.

73 juta ton
merupakan perkiraan timbulan sampah per tahun. Angka ini diperoleh dengan memperhitungkan 200 juta penduduk dengan produksi 1kg sampah per hari. Sangat disayangkan, dari jumlah itu hanya 20%-nya yang berhasil diangkut dan dibuang ke TPA. Jika dihitung, dalam sehari seberat 160.000 ton sampah tidak terangkut, dibuang sembarangan. dan pasti mencemari lingkungan. Lebih buruk lagi: 50%-nya masih layak dikompos, 16% layak jual (daur ulang atau pakai ulang), dan hanya 34% betul-betul layak buang.

22,500 hektar
adalah luas genangan yang harus selesai diatasi pada tahun 2014. Ini merupakan salah satu sasaran program PPSP di di 100 kota/kabupaten.

2 MENIT
adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencuci tangan guna membasmi 90% dari ribuan koloni bakteri yang hidup di kedua tangan kita. Bakteri-bakteri penyebab gangguan perut dan pencernaan itu berasal dari barang-barang di sekitar kita yang kelihatannya bersih. Tercatat, 80 koloni bakteri menempel di gagang telepon, 130 koloni bakteri bersarang di tombol lift, terdapat 380 koloni bakteri pada gagang pintu bis kota, mouse komputer “menyumbang” 690 koloni bakteri, serta 1.100 koloni bakteri yang menghuni gagang troli belanjaan.

november 2010

majalah percik

49

Panduan

Menjaga Tangki Septik Berfungsi Baik
Septic Tank atau tangki septik adalah bangunan pengolah dan pengurai tinja manusia cara setempat (onsite) dengan menggunakan bakteri. Tangki ini kedap air sehingga air di dalamnya tidak meresap ke dalam tanah dan mengalir keluar melalui saluran yang disediakan. Tangki septik (dengan bidang resapan) merupakan salah satu bentuk pengolahan limbah setempat yang direkomendasikan sebagai pilihan teknologi yang relatif aman apabila memenuhi persyaratan tertentu. Kerja bakteri dalam melakukan pengolahan limbah yang memadai dalam tangki septik bergantung pada pengoperasian dan perawatan yang dilakukan oleh rumah tangga bersangkutan. Mengingat pentingnya peran bakteri tersebut maka perlu dihindari masuknya bahan-bahan yang berbahaya ke dalam tangki septik. Bahan-bahan itu antara lain pemutih pakaian, bahanbahan kimia, cat, maupun deterjen. Dalam perawatan tangki septik, salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui bahwa tangki septik memenuhi standar adalah dilakukan atau tidaknya pengurasan rutin terhadap lumpur tinja (indikator ini digunakan dalam studi Environmental Health Risk Assessment – Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan yang dilakukan Kabupaten/Kota dalam rangka penyusunan Buku Putih Sanitasi). tangki septik yang tidak pernah dikuras (ataupun memiliki periode pengurasan lumpur yang panjang) mengindikasikan bangunan tidak standar dan berpotensi mencemari air tanah setempat.

Pengurasan lumpur dari tangki septik secara teratur menjamin proses pengolahan air limbah berjalan optimal. Lumpur yang berlebih akan mengurangi lamanya air limbah tinggal di dalam septic tank sehingga mengurangi kinerja proses pengolahan. Waktu tinggal yang disyaratkan adalah 1,5 hari. Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 03-2398-2002 mengenai Perencanaan tangki septik dengan sistem resapan, memberikan pedoman mengenai ukuran (dimensi) tangki septik dengan periode pengurasan tiga tahun untuk digunakan bagi satu keluarga (terdiri atas 5 jiwa). Salah satu cara untuk mengetahui waktu pengurasan

bagi tangki septik yang tidak standar atau tidak diketahui dimensinya, adalah dengan melakukan pengecekan ketinggian lumpur, sekitar 6 bulan sekali. Langkahlangkahnya sebagai berikut:  Gunakan tongkat panjang yang dibungkus kain katun warna putih pada ujungnya  Selanjutnya ukur kedalaman lumpur  Apabila tinggi lumpur sudah mencapai setengah dari kedalaman tangki, maka tangki septik sudah perlu untuk dikuras. Pengurasan lumpur dapat dilakukan oleh mobil sedot tinja milik pemerintah maupun dari pihak swasta.

50

majalah percik

november 2010

Kunci Awal Pengelolaan Sampah Berwawasan Lingkungan
Salah satu sasaran utama dalam pengelolaan sampah di Indonesia adalah pengurangan timbulan sampah. Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) sebagai program nasional sanitasi Indonesia menargetkan pengurangan sebesar 20 persen atas timbulan sampah di akhir tahun 2014. Sasaran pengurangan itu terutama ditujukan di tingkat rumah tangga melalui penerapan upaya 3R (reduce, reuse, recycle). Pemilahan sampah merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap rumah tangga sebagai kunci awal kegiatan 3R. Pemilahan dapat dilakukan berdasarkan jenis sampahnya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik di antaranya adalah sampah sisa makanan, sayur mayur serta sampah yang mudah membusuk lainnya. Sedangkan sampah anorganik pada umumnya terdiri atas plastik, botol kaca, kaleng dan mnya. semacamnya. tu Salah satu gan keuntungan milahan dari pemilahan sampah plastik dak adalah tidak ya timbulnya lahan permasalahan dengan bau serta ndahnya relatif rendahnya potensi aran penyebaran penyakit apabila anggota keluarga dapat melakukan kegiatan pemilahan, mulai dari orang tua, anak sampai ke pembantu rumah tangga. Untuk memulai kegiatan pemilahan sampah plastik, setiap keluarga dapat menyiapkan wadah yang digunakan untuk menyimpan sampah plastik. Setiap sampah plastik yang dihasilkan oleh masing-masing anggota keluarga langsung dikumpulkan di wadah. Dalam periode tertentu sampah plastik yang telah terkumpul dapat dijual ke pengepul terdekat ataupun ke pemulung. Selanjutnya, untuk mengelola sampah plastik yang telah terkumpul di masing-masing rumah tangga dapat dibentuk “Bank Sampah” yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Bank sampah tersebut dapat mengelola sampah plastik yang diterima dari rumah tangga sekitarnya dengan

penyimpanan dilakukan di dalam rumah. Statistik Persampahan Domestik Indonesi tahun 2008 yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa sampah plastik menyumbang 14 persen (berat) terhadap total timbulan sampah domestik di Indonesia. Potensi pemanfaatan kembali sampah plastik perlu ditingkatkan melalui kegiatan pemilahan sampah plastik di rumah tangga. Kunci utama keberhasilan pemilahan sampah adalah kesadaran untuk melakukan pemilahan. Hampir semua

cara menjualnya langsung ke pengepul maupun dapat dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Terdapat beragam cerita keberhasilan kegiatan pemilahan sampah plastik di rumah tangga di Indonesia. Selanjutnya adalah kesadaran serta kemauan kita untuk sedikit meluangkan waktu dan tenaga melakukan pemilahan sampah di samping tentunya mengurangi sebanyak mungkin penggunaan sampah plastik sebagai bagian untuk menyelamatkan bumi dan berkontribusi dalam pengurangan timbulan sampah sebagaimana sasaran pengelolaan sampah nasional.
november 2010 majalah percik

51

Panduan

OBAT YANG SUDAH TIDAK TERPAKAI
diapakan ya?
Sebagian besar dari kita sudah membeli dan mengkonsumsi obat secara bijaksana, akan tetapi tetap saja masih ada obat-obatan yang akhirnya tidak terpakai.Lalu apakah obat tersebut boleh dibuang begitu saja? Mungkin kita belum menyadari bahwa membuang obat ke lingkungan begitu saja ternyata bersifat berbahaya seperti halnya membuang racun. Ada obat-obat tertentu yang akan terurai menjadi racun, yang berbahaya tidak hanya bagi flora dan fauna, namun juga bagi kita sendiri maupun orang lain di sekitar kita. Beberapa jenis obat seperti antibiotik, antiseptik, antivirus, antijamur, anticacing, dan lain-lain, jika sampai ke tanah akan menyebabkan ketidakseimbangan flora dan fauna mikro di dalam tanah, karena dapat membunuh mikroorganisme normal. Selain itu, khusus untuk antibiotik, dapat menyebabkan kekebalan mikroorganisme yang berbahaya terhadap antibiotik tersebut. Selain itu, obat-obatan bekas yang dibuang akan mencemari air tanah. Atau yang dibuang ke saluran air akhirnya mengalir ke laut, mencemari ikan dan mahluk laut lainnya yang pada akhirnya masuk ke dalam perut kita.

LALU, APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK OBAT-OBATAN YANG SUDAH TAK (BISA) DIKONSUMSI?

Yang terpenting adalah jangan membuang obat begitu saja ke tempat sampah, karena dapat dijual kembali oleh pihak tak bertanggung jawab dan tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan orang lain.

01

52

majalah percik

november 2010

04

APO

TIK

Kumpulkan obat-obatan yang sudah tak terpakai. Setelah agak banyak, titipkan ke apotik, rumah sakit, atau pabrik obat. Pihak-pihak tersebut biasanya melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kadaluarsa.

Kalau jumlah tablet/kapsul yang sudah kadaluarsa terdapat dalam jumlah sangat besar, dapat juga dititipkan di pabrik semen, untuk dijadikan campuran semen.

05 06

02

Jangan lupa untuk membuang terlebih dahulu kemasan obat. Misalnya stiker pada botol disobek, kotak kemasan digunting. Hal ini untuk mencegah pemalsuan obat, karena bisa saja botol berstiker obat diambil pemulung dan selanjutnya diisi obat palsu

Untuk vitamin dan mineral, dapat digunakan kembali sebagai pupuk. Caranya, bila berbentuk kapsul, isi kapsul dikeluarkan. Jika berbentuk tablet, dihancurkan terlebih dahulu. Kemudian taburkan bubuk obat tersebut ke tanaman.

03
Untuk vitamin dan mineral cair bisa langsung dituangkan ke tanaman.

Sisa obat yang tidak akan digunakan lagi tetapi belum kadaluarsa, dapat diserahkan pada yayasan amal yang mengadakan pengobatan gratis. Kondisi obat sebaiknya masih bagus. Artinya tablet/kapsul masih dalam wadahnya (strip, blister) yang belum dibuka, sementara untuk obat cair, tutup botol belum dibuka.

07

KEGIATAN AMAL

november 2010

majalah percik

53

Info Pustaka

MOBILISASI MASYARAKAT UNTUK KESEHATAN LINGKUNGAN
Judul: Panduan Masyarakat untuk Kesehatan Lingkungan Edisi terjemahan diterbitkan oleh Yayasan Tambuhak Sinta Judul Asli Berbahasa Inggris: A Community Guide to Environmental Health (2009) Penulis: Jeff Conant dan Pam Fadem dan diterbitkan oleh Yayasan Hesperian (2008)

Memobilisasi Masyarakat untuk Kesehatan Lingkungan Tidak banyak buku berbahasa Indonesia yang mengangkat isu kesehatan lingkungan sebagai topik utama. Jarang juga kita menemukan buku cerita atau pengalaman lapangan yang bisa dijadikan bahan pembelajaran atau panduan bagi masyarakat terkait kesehatan lingkungan. “Panduan Masyarakat untuk Kesehatan Lingkungan” yang diterjemahkan oleh Yayasan Tambuhak Sinta dari buku “A Community Guide to Environmental Health” yang ditulis Jeff Conant dan Pam Fadem dan diterbitkan oleh Yayasan Hesperian, adalah salah satu contoh buku kesehatan lingkungan yang mampu memotret isu-isu kesehatan lingkungan yang rumit dan kemudian menyajikannya dalam dokumentasi praktik-praktik baik dan terbaik sehingga menjadi sebuah pembelajaran yang lebih membumi. Buku ini tidak secara khusus membahas isu air dan sanitasi, tetapi hampir setengah dari 20 babnya bercerita tentang persoalan minum

dan penyehatan lingkungan. Buku ini lebih banyak memotret isu-isu diperdesaan dibanding perkotaan. Bukan juga cerita dari Indonesia, melainkan pengalaman yang direkam dari Ekuador, Meksiko, Brasil, negara Latin lain. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada pembelajaran yang bisa dipetik. Sebaliknya, banyak sekali praktik-praktik advokasi, komunikasi, mobilisasi masyarakat, peningkatan kapasitas, bahkan membangun sarana-sarana berbasis masyarakat untuk penyediaan air dan sanitasi yang bisa kita coba terapkan di Indonesia. Tujuh bab pertama, bab 18, dan bab 19 membahas beragam isu terkait air dan sanitasi. Empat bab pertama buku ini sangat kental dengan cerita-cerita tentang penyadartahuan (awareness raising) tentang makna kesehatan lingkungan dan isu-isu yang kerap muncul. Empat bab wal ini mampu menjelaskan dengan gamblang, tanpa teori-teori yang melangit, pengertian kesehatan lingkungan, pelibatan dan mobilisasi masyarakat, perlunya menjaga sumberdaya, dan sebagainya. Bukan dengan teori-teori, tetapi melalui praktik-praktik di lapangan.

Dalam waktu lima tahun, masyarakat kota Manglaralto, Ekuador berhasil membangun ratusan toilet, memasang saluran air berpipa, menyiapkan dua TPA, mengawali program daur-ulang, dan memulai membantu masyarakat menyiapkan kebun komunitas. Isu tentang persampahan atau limbah padat juga dibahas dalam bab 18 dan 19. Kedua bab ini juga dimanfaatkan sebagai panduan praktis terkait pengelolaan limbah padat seperti pemilahan, 3R, termasuk limbah rumah sakit. Praktik-praktik baik dan terbaik, yang didokumentasikan pada keseluruhan buku ini, layak dipertukarkan di seluruhpemangku kepentingan terkait kesehatan lingkungan. Kehadiran buku ini diharapkan mampu memicu munculnya bukubuku serupa. Dokumentasi praktikpraktik baik dan terbaik berdasarkan pengalaman lokal akan lebih membumi dan efektif mendukung kerja-kerja pembangunan sektor air bersih dan sanitasi.

54

majalah percik

november 2010

www.sanitasi.or.id

LAMAN SANI SANITASI INDONESIA
Manual C: P Penyusunan Dokumen Strategi Kot Sanitasi Kota; dan Manual D: Penyusunan Rencana Tin Tindak Sanitasi. File berbentuk pdf dan beruku berukuran cukup besar. D Di bagian Panduan dan Rujukan, TT TTPS menyediakan beberapa b buku panduan. Di antaranya, Pemberdayaan Masyarakat dengan Pelibatan Jender dan Kemiskinan dalam Pembangunan Sanitasi. Nah bagi Anda yang ingin mengetahui apa itu Buku Putih, SSK, EHRA, bagaimana mengumpulkan data, membentuk Pokja dan hal-hal terkait, Anda bisa masuk ke submenu Informasi Dasar. Anda juga dapat mengikuti berita-berita tentang PPSP dari berbagai media massa di menu berita. Sebagai laman yang tergolong baru, pengelolanya terus mengadakan pengembangan. Ini dalam rangka mewadahi semua informasi tentang sanitasi dan mendesiminasikannya kepada masyarakat agar semua orang kian peduli sanitasi.

Laman berbentuk portal dengan alamat www.sanitasi. or.id. mulai dipublikasikan pada 2008 lalu. Laman ini merupakan pengembangan dari laman www. issdp.or.id yang ada sejak 2007. Sebagai sebuah portal, laman ini memuat berbagai informasi seputar sanitasi. Di dalamnya ada regulasi, rujukan SSK, artikel dan kliping berita, publikasi, dan media room. Ada satu menu khusus yang terkait program yakni menu PPSP (Percepatan Pembangunan Sanitasi Perkotaan). Di menu publikasi ada newsletter, buku, lembar fakta, video, bank foto, laporan dan prosiding. Sebagian submenu ini sedang dalam proses konstruksi. Di submenu video, TTPS menyajikan beberapa tayangan gambar hidup tentang kampanye sanitasi. Di antaranya berjudul ‘Cuma monyet yang buang sampah sembarangan’, dan ‘Indikator tangki septik bocor’. Juga ada video yang berdurasi agak panjang yakni sekitar 4 menit tentang kondisi sanitasi Indonesia. Semua tayangan pendek berdurasi 39 detik tersebut bisa diunduh

(download).

PPSP
Di dalam menu PPSP berbagai informasi tentang PPSP tersedia cukup banyak. Mulai dari PPSP itu sendiri, rujukan SSK, laporan PPSP, Laporan Kota/Provinsi, dan agenda PPSP. Di menu ‘Tentang PPSP’ ada submenu sekilas PPSP, organisasi, program kerja, tahapan, dan ta daftar peserta PPSP. Menu laporan tidak dibuka untuk umum tapi khusus bagi kabupaten/ kota peserta PPSP. Di menu mbangan inilah perkembangan capaian kota kabupaten/kota bisa dimonitor asi. dan dievaluasi. Bagi daerah yang sedang uku menyusun Buku Putih dan Strategi Sanitasi Kota (SSK), menu ‘Rujukan SSK’ n menyediakan banyak tuk informasi untuk itu. Ada empat manual unduh yang bisa diunduh l yakni Manual A: Pengenalan Program ntukan dan Pembentukan Pokja Sanitasi Kota;; Manual B: Penilaian dan tuasi Pemetaan Situasi Sanitasi Kota;;
november 2010 majalah percik

55

Info Pustaka
Judul : Sanitasi Perkotaan: Potret, Harapan dan Peluang. Ini Bukan Lagi Urusan Pribadi! / Urban Sanitation: Potraits, Expectation, and Opprotunities. It’s Not A Private Matter Anymore! Penerbit : Bappenas dan WSP Tahun : III, September, 2007 Halaman : 31

Buku ini ditulis dalam dua versi, Indonesia dan Inggris. Isinya mengangkat persoalan sehari-hari yang dianggap remeh dan tidak menarik, namun disajikan secara ringan dan lolaan memikat. Yaitu pengelolaan sanitasi air limbah rumah alu ui tangga alias tinja. Melalui buku ini diharapkan ndala, pemahaman akan kendala, kekurangan n dan peluang perbaikan sistem sanitasi dapat ditingkatkan. Hasil akhirnya tentu kita semua tergerak untuk melakukan nya a perbaikan, salah satunya dengan membangun gai sewerage system sebagai Kelebihan alternatif septic tank. Kelebihan san n buku ini adalah kemasan yang n menarik. Bahasa ringan dan enak ak knya dibaca. Tak seperti layaknya buku engkapi panduan, buku ini dilengkapi banyak erk kualitas ilustrasi penunjang berkualitas serta tata aku u letaknya yang tidak kaku dan formal.

Judul : Bisnis Sanitasi 100 Juta Konsumen Menanti Anda / The Sanitation Business 100 Million Customers Menanti Anda Penerbit : Bappenas dan WSP Tahun : I, April 2008 Halaman : 27

Mari membuka mata kita bahwa bisnis sanitasi bisa memberikan kemungkinan untuk menambah pendapatan dan layak untuk digarap secara serius sebagai sebuah pangsa pasar. Diterbitkan dalam dua versi, bahasa Inggris dan Indonesia, buku ini menyajikan berbagai contoh bisnis di bidang sanitasi mulai dari pengolahan atau pembuangan limbah hingga pelayanan operasional, perawatan ataupun penjualan produk-produk sanitasi seperti alat penyerap lumpur atau urin sebagai pupuk atau kompos sebagai penyubur tanah. Dengan tata letak dan ilustrasi yang menarik buku Bisnis Sanitasi 100 Juta Konsumen Menanti Anda ini menggugah bagaimana sektor swasta perlu bekerja sama dengan pemerintah, LSM dan masyarakat untuk secara efektif meningkatkan kesadaran berbisnis sanitasi dan berusaha mencari solusi untuk masalah-masalah yang ada.

56

majalah percik

november 2010

Judul : Mereka Bilang Kita Masih Perlu Kerja Keras Penerbit : Bappenas, WSP-EAP, BankDunia Tahun : I, April, 2008 Halaman : 43 Halaman

Judul : Kiat Kerja Sanitasi Di Kawasan Kumuh – Petikan Hasil Studi Sanitasi Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Perkotaan Penerbit : BAPPENAS, WSP-EAP, Bank Dunia Tahun: I, Mei, 2007 Halaman : 33 Halaman

Banyak orang masih merasa belum puas dengan kondisi sanitasi di sekitarnya. Berbagai masalah masih mereka jumpai, baik itu masalah persampahan ataupun masalah air limbah domestik dan drainase. Sebagian malah ikut merasakan langsung dampak dari buruknya kondisi sanitasi itu. Buku ini berisi pendapat dan saransaran dari masyarakat dengan latar belakang yang beragam untuk pemerintah pusat demi perbaikan sanitasi di negeri kita. Pada awal bagian buku ini, masyarakat menyoroti kurangnya fasilitasi sanitasi untuk mereka. Bagian selanjutnya berisi keterlibatan berbagai pihak, masyarakat, pihak non pemerintah dan swasta dalam pembangunan sanitasi. Serta pada bagian akhir adalah saran-saran agar pemerintah dapat bekerja lebih efektif dalam melakukan percepatan pembangunan sanitasi.

Ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan oleh seseorang yang sedang merencanakan kegiatan perbaikan kondisi sanitasi dari suatu kawasan kumuh perkotaan. Buku ini meramu setidaknya tujuh pesan sebagai bahan pertimbangan tersebut berdasarkan fakta-fakta yang dijumpai pada Studi Sanitasi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Perkotaan; Gambaran Umum Nasional. Sebagian pesannya mengingatkan kembali hal yang sudah kita ketahui, namun sebagian faktanya juga menguak kenyataan yang menepis mitos lama atau stereotip umum tentang permasalahan sanitasi di kawasan kumuh.

Judul : Bersama Mencipta Kota SenSANITASIonal Penerbit : TTPS

Tahun : I, 2009 Halaman : 18 Halaman

Buku ini secara umum memperkenalkan Strategi Sanitasi Kota (SSK) kepada pejabat-pejabat kota yang tugas kesehariannya berkaitan dengan urusan pembangunan sektor sanitasi di kotanya. Pembaca mendapat gambaran SSK sebagai rencana strategi jangka menengah kota yang komprehensif dan solutif. Buku ini menyajikan SSK secara singkat, padat, dan informatif. Pada akhirnya buku ini bertujuan untuk mendukung implementasi SSK dalam rangka pelaksanaan program PPSP di 330 kabupaten/kota.

november 2010

majalah percik

57

Info Pustaka
Judul : Kalau Sulit Dilawan Jadikan Kawan Penerbit : Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Tahun : November, 2007 Judul : Saatnya Masyarakat Berkawan Penerbit : Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Tahun: Desember, 2008

Buku ini berisi informasi mendasar tentang sampah dan konsep pengelolaannya yang dirasakan tepat saat ini. Kehadiran pemulung, pengepul (lapak dan bandar), pihak pengompos, dan pabrikan bahan daur-ulang tidak lagi dilihat sebelah mata, namun menjadi tonggak keberhasilan mengelola sampah menjadi barang bermanfaat. Seperti apa hirarki pengelolaan sampah, jenis-jenis sampah, mana yang boleh dibakar, mana yang bisa dijual, ataupun peluang memanfaatkannya sebagai energi, dapat dijumpai uraiannya pada buku ini. Informasi yang disampaikan rasanya cukup untuk menumbuhkan pemahaman dasar tentang perlunya kita mengoptimalkan pemanfaatan sampah, sebagai bagian penting dari upaya pengurangan sampah. Lebih baik berkawan dengan sampah daripada terus menerus memeranginya.

Buku ini menjabarkan tentang sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM) berikut tahap-tahap pengembangannya. Buku ini ditujukan untuk para pemangku kepentingan (stakeholders) urusan persampahan kota. Termasuk di dalamnya adalah kelompok-kelompok masyarakat yang ingin mengembangkan PSBM dan pihak-pihak yang ingin membantu masyarakat. Ragam info seputar klasifikasi sampah, prinsip pengelolaan PSBM, tahap-tahap persiapan masyarakat sebelum penerapan pola PSBM, potensi kawasan permukiman yang harus diketahui, hingga proses penyusunan Rencana PSBM, disajikan dalam buku yang merupakan lanjutan dari buku “Kalau Sulit Dilawan Jadikan Kawan” ini.

Judul : dul Bergerak Bersama dengan Strategi Sanitasi rgerak gan Kota Penerbit : Bappenas dan ISSDP

Tahun : Halaman : 51 Halaman

“Ber “Bergerak Bersama dengan Strategi Sanitasi Kota Kota” diterbitkan dalam dua versi, Bahasa Indo Indonesia dan Inggris. Buku ini menekankan pad pada prinsip Layanan Sanitasi Menyeluruh, yakn yakni berfungsi dengan baiknya sarana sani sanitasi yang sudah terbangun atau terbeli, baik dalam bentuk layanan yang disediakan piha pihak lain ataupun swadaya masyarakat. Unt Untuk mencapai keadaan ideal tersebut, dipe diperlukan suatu rencana strategis jangka men menengah dalam membangun sektor sanitasi di su suatu kota yang dinamakan Strategi San Sanitasi Kota (SSK). Selanjutnya, lima tahap kerja penyusunan SSK dibahas tuntas dalam lima dari tujuh babnya, kemudian ditutup dengan rencana tindak lanjut oleh SKPD terkait setelah SSK disusun agar tidak menjadi dokumen perencanaan semata dan bisa dioptimalisasikan fungsinya.

58

majalah percik

november 2010

Diperkirakan tiap hari sampah di Indonesia mencapai 20 ribu ton! Ayo mulai pilah sampah dari rumah, manfaatkan lagi yang bisa diolah, pakai lagi yang bisa dipakai!

PPSP dalam Galeri
Oktober 2006
Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi Sebuah tim interdepartemen dibentuk pemerintah melalui SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional No.KEP.314/M.PPN/10/2006 tentang Pembentukan Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi. Tim ini selanjutnya membentuk Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) yang mengoordinasikan kegiatan-kegiatan pembangunan sanitasi serta merumuskan arah kebijakan dan strategi pembangunan sanitasi nasional.

19 - 21 November 2007
KSN Untuk meningkatkan profil sektor sanitasi dan awareness para pengambil keputusan tentang pentingnya penanganan sanitasi diselenggarakan Konferensi Sanitasi Nasional I.

April 2006 - Apr 2008
ISSDP fase 1 Program Pengembangan Sanitasi ISSDP (Indonesia Sanitation Sector Development Program) tahap 1 diluncurkan. Enam kota yang sasarannya adalah Denpasar, Surakarta, Banjarmasin,Blitar, Payakumbuh, dan Jambi.

1 Maret 2007
Blitar , CSS 2, Deklarasi Blitar CSS II di Blitar menghasilkan Deklarasi Blitar yang berisi komitmen Pengarusutamaan Program Pengembangan Sanitasi yang Berpihak pada Masyarakat Miskin dalam Pembangunan Perkotaan

Desember 2007
EASAN (East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene ) East-Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) Ii diselenggarakan di Jakarta. Tujuan EASAN yang utama untuk menggalang komitmen dalam percepatan pembangunan nasional anggotanya dalam mencapai target MDG di bidang sanitasi.

7-9 November 2007
CSS Denpasar 7-9 November 2007 berlangsung kembali pertemuan kota-kota ISSDP di Denpasar dalam forum CSS III

Desember 2006
Banjarmasin, Lokakarya Sanitasi 6 Kota ISSDP - CSS 1 Lokakarya pertama kota-kota yang tergabung dalam ISSDP Tahap 1 dilaksanakan. Lokakarya Sanitasi 6 Kota ISSDP selanjutnya lebih disebut dengan istilah City Summit atau City Sanitation Summit

22 Maret 2008
International Year of Sanitation Pertemuan International Year of Sanitation 2008 melahirkan kesepakatan untuk peningkatan komitmen di semua tingkat pemerintahan

60

majalah percik

november 2010

Jun 2008 - Jan 2010
ISSDP Fase 2 Fase kedua ISSDP diluncurkan sejak Juni 2008 - Januari 2010. Enam kota yang menjadi target pada fase kedua ini adalah Tegal, Pekalongan, Batu, Malang, Bukittinggi dan Kediri

7-9 Desember 2009
KSN Konferensi Sanitasi Nasional II dibuka oleh Wakil Presiden Boediono. Target Program PPSP dilaunching dalam KSN ini.

5-7 November 2008
CSS Payakumbuh CSS IV kembali diselenggarakan, Payakumbuh menjadi tuan rumahnya

21-22 Mei 2010
CSS Bukittinggi CSS VII diselenggarakan di Bukittinggi sebagai momen advokasi dan konsolidasi percepatan pembangunan sanitasi Indonesia dan forum penguatan kemitraan untuk mendukung pencapaian PPSP

April 2010
Kick Off PPSP Fasilitator kota dan provinsi siap diterjunkan untuk membidani PPSP di 41 wilayah kota kabupaten di Indonesia

28-30 April 2009
CSS 5 Solo Solo menjadi tuan rumah CSS V

September 2009
Lokakarya Penjaringan Minat PPSP Dilakukan lokakarya penjaringan minat untuk pelaksanaan PPSP tahun 2010. dari lokakarya ini terpilih 41 kota dan kabupaten yang akan memulai debut PPSP

21-23 Oktober 2009
CSS Jambi, Deklarasi Jambi, AKOPSI Lewat Deklarasi Jambi, 12 walikota mengikrarkan komitmen untuk memperjuangkan dukungan kebijakan kongkrit pemerintah terhadap pembangunan sanitasi kota. Deklarasi ini merupakan cikal terbentuknya AKOPSI (Aliansi Kota Peduli Sanitasi)

21-22 Juli 2010
CSS Tegal dalam CSS Tegal, Nomenklatur AKOPSI menjadi AKKOPSI (Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi) seiring dengan kabupatenkabupaten yang berminat untuk bergabung di dalam PPSP
november 2010 majalah percik

61

Kilas Peristiwa - Diskusi Bersama Media

AKKOPSI:

PERLU PIJAKAN HUKUM UNTUK PEMBANGUNAN SANITASI
Sejumlah walikota yang tergabung dalam Aliansi Kota Kabupaten Peduli Sanitasi (AKKOPSI) meminta pemerintah pusat untuk membuat pijakan hukum terkait pembangunan sanitasi demi memperbaiki kondisi sanitasi di Indonesia. Hal ini disampaikan Walikota Pekalongan Ahmad Basyir dalam diskusi ‘Potret Spirit dan Tantangan Pembangunan Sanitasi Indonesia’ yang diselenggarakan Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) di Jakarta, Rabu, 20 Oktober 2010 yang lalu. Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini Walikota Jambi Bambang Priyanto, Walikota Payakumbuh Josrizal Zain, Walikota Pekalongan Ahmad Basyir, Direktur Utama PD PAL Jaya DKI Jakarta Lilian Sari, dan Kasubdit Air Minum dan Air Limbah Bappenas Nugroho Tri Utomo. “Sudah ada kesadaran dari pemerintah daerah untuk tidak berpangku tangan membiarkan lingkungannya kotor, yaitu dengan mencanangkan program-program perbaikan sanitasi. Namun, seringkali prioritas pemerintah daerah dan DPRD tidak sejalan. Karena itu, kalau ada payung hukum mengenai pembangunan sanitasi, jalan kami untuk memperjuangkan anggaran sanitasi akan lebih mudah,” jelas Bambang Priyanto yang juga Ketua AKKOPSI. Ditambahkan Josrizal Zain, sanitasi adalah salah satu aspek dominan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menurutnya, suatu daerah yang memiliki manajemen pengolahan air limbah dan sampah yang baik akan berdampak pada penurunan angka kesakitan, naiknya tingkat produktivitas, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Kita harapkan AKKOPSI bisa mendorong political will pemerintah pusat, entah kabinet atau DPR, untuk betul-betul memberikan perhatian dan menjadikan pembangunan sanitasi sebagai prioritas. Dalam perencanaan strategi sanitasi ini memang harus ada komitmen dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, parlemen, swasta, media, LSM, masyarakat, dan semua stakeholder terkait. Intinya harus melibatkan semua orang,” tegas Josrizal. Tak hanya persoalan kemauan politik untuk membuat kebijakan pengarusutamaan pembangunan sanitasi, perubahan perilaku masyarakat tentang pentingnya sanitasi sangat dibutuhkan. Seperti yang terjadi di ibukota Jakarta, PD PAL Jaya mengaku mengalami hambatan dalam pengolahan air limbah justru dari masyarakat. “Iuran rumah tangga untuk pengolahan air limbah sebenarnya sangat murah, sekitar Rp 10 ribu per bulan. Namun, paling maksimal tagihan yang masuk hanya 50 persen. Mereka enggan membayar untuk sesuatu yang mereka buang. Padahal pengolahan air limbah ini demi kesehatan masyarakat sendiri, terutama untuk memperbaiki kondisi 84 persen air sungai dan sumur di Jakarta yang sudah tercemar berat,” tutup Lilian Sari.

62

majalah percik

november 2010

Demi menyongsong hari esok yang cerah, satukan langkah mendukung dan meneruskan pembangunan sanitasi

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.