1

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemaran udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun dan sebagainya. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia (Depkes, 2009). Di banyak kota, terutama di negara-negara berkembang yang urbanisasinya tumbuh pesat, pencemaran udara telah merusak sistem pernafasan, khususnya bagi orang yang lebih tua, lebih muda, para perokok dan mereka yang menderita penyakit kronis saluran pernafasan (Baum, 2005). Salah satu dampak dari pencemaran udara adalah rhinitis akibat kerja. Rhinitis adalah peradangan pada mukosa hidung. Hal ini menyebabkan gejala seperti bersin, rinorea, dan hidung tersumbat (Dong-Uk Park, 2008). Rhinitis akibat kerja adalah penyakit yang penting tetapi kurang terdiagnosis dengan baik secara medis. Definisi rhinitis akibat kerja/RAK menurut EAACI Task Force on occupational rhinitis 2009 adalah inflamasi hidung baik bersifat persisten atau sementara yang ditandai dengan kongesti hidung, bersin-bersin,

2

rinore, gatal dan atau gangguan aliran udara hidung dan atau hipersekresi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja (Moscato G et al., 2009). Sebanyak 15% pekerja di dunia diperkirakan menderita rhinitis akibat kerja. Pekerja industri merupakan pekerja terbanyak yang bisa menderita rhinitis akibat kerja (48%), disusul oleh pekerja administrasi (29%) dan pekerja pengolah bahan jadi (13%). Peningkatan konsentrasi substansi dan lamanya waktu pajanan, dikatakan semakin meningkatkan risiko menderita rhinitis akibat kerja (Arandelovic M, 2004). Agen-agen di tempat kerja yang diduga menjadi penyebab terjadinya rhinitis akibat kerja adalah polusi udara, asap rokok, lateks, psylium, asam anhidrida, platina, toluena diisosianat, amonia, deterjen dan hewan peliharaan (Rebecca et al., 2009 ; Arandelovic M, 2004). Pencemaran udara di daerah pedesaan terjadi karena eksploitasi sumber daya alam, baik secara tradisional maupun modern. Industri batu kapur merupakan salah satu kegiatan di pedesaan yang kontribusinya terhadap pencemaran udara cukup besar. Mineral murni batu kapur mengandung CaCO3 sebagai kalsit (calcite). Kebanyakan batu kapur komersial mengandung oksida besi, alumina, magnesia, silika dan belerang, dengan CaO (22 – 56 %) dan MgO (sekitar 21 %) sebagai komponen utamanya. Di masa dahulu batu kapur dipakai sebagai pengeras tembok, namun dalam industri modern dipakai sebagai bahan pembuat semen. Kapur dipakai dalam sektor pertanian dan perkebunan untuk mengurangi keasaman tanah (menaikkan pH). Agar dapat digunakan sebagai campuran pupuk, batu kapur harus dibakar sehingga dihasilkan kapur tohor (CaO). Secara teoritis, pada proses ini diemisikan gas-gas hasil pembakaran

3

seperti NO2, SO2 dan CO yang menambah pencemaran udara. Partikel-partikel kapur bersifat iritan namun tidak tergolong karsinogen. Industri batu kapur telah mencemari udara dengan debu dan gas-gas hasil pembakaran batu kapur menjadi kapur tohor. Debu dan gas-gas yang disebabkan oleh proses pengolahan batu kapur akan berada di lingkungan kerja, hal ini akan berakibat tenaga kerja terpapar debu kapur dan gas-gas pada konsentrasi maupun ukuran yang berbeda-beda (Yulaekah, 2007). Salah satu sentra industri batu kapur di Kabupaten Banyumas, adalah kawasan industri penambangan kapur yang terletak di desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Industri batu kapur ini merupakan usaha kegiatan turun temurun dari orang tua. Jumlah industri yang aktif 27 buah dengan kapasitas produksi sekitar 5.640 ton/tahun. Industri kapur menyerap tenaga kerja sekitar 650 orang. Pekerja tambang tersebut berasal dari daerah setempat dan sebagian kecil dari tetangga desa dan dari luar daerah. Sebagian besar (90 %) pekerja adalah laki-laki berusia antara 20-50 tahun. Dari pengamatan pendahuluan, sebagian besar mereka bekerja tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, sepatu boot dan kaca mata (Budi, 2005). Hasil dari studi prevalensi pengukuran kapasitas vital paru pada tanggal 23 Agustus – 7 September 2004 terhadap 283 pekerja tambang kapur di Desa Darmakradenan, didapatkan data kapasitas paru pekerja normal 68 orang (24,03%) dan kapasitas paru tidak normal sebanyak 215 orang (75,97%), yang

4

terdiri dari restriksi 81 orang (28,62%); obstruksi 46 orang (15,25%) dan kombinasi (obstruksi dan restriksi) 88 orang (31,10%). Hasil pengukuran kualitas debu total menggunakan alat dustfall collector (alat pengukur debu jatuhan) oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas rata-rata sebesar 430,50 mg/m3 udara. Kadar debu terendap ini sudah melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan sebesar 350 mg/m3 udara. Data kesehatan haji banyumas tahun 2003 juga memperlihatkan hasil foto rontgen paru pada peserta jemaah haji yang berasal dari daerah penambangan kapur, 70% juga menunjukkan adanya kelainan paru (DKKS kab. Banyumas, 2003). Di Desa Darmakradenan yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Ajibarang I, penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) menduduki urutan pertama dalam urutan 10 besar penyakit yang terjadi di Desa Darmakradenan. Urutan kedua dan ketiganya masing-masing adalah dermatitis dan konjungtivitis. Di Indonesia, belum ada data resmi mengenai angka kejadian rhinitis akibat kerja akibat pajanan batu kapur atau gamping. Di Jakarta, pernah dilakukan penelitian mengenai faktor risiko rhinitis akibat kerja antara lain pada pekerja yang terpajan debu tepung gandum. Hasil penelitian menunjukkan adanya gejala yang berhubungan dengan tempat kerja pada 6-30% pekerja yang memiliki pajanan tinggi terhadap debu tepung gandum mengalami rhinitis akibat kerja (Pujiwati R, 2006). Selain itu, pernah dilakukan penelitian terhadap prevalensi rhinitis akibat kerja pada pekerja yang terpajan bahan kimia surfaktan. Hasil dari penelitian menunjukkan sebanyak 20% dari pekerja tersebut mengalami rhinitis akibat kerja (Anggraini D, 2008).

5

Di Makassar, pernah dilakukan penelitian mengenai analisis faktor risiko rhinitis akibat kerja pada pekerja yang terpajan debu terigu dan didapatkan angka kejadian rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik terigu adalah sebesar 50,7% (Quadarusman E, 2010). Belum adanya data mengenai prevalensi rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, kecamatan Ajibarang, Jawa Tengah, mendorong penulis untuk melakukan penelitian berjudul: Prevalensi rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: ” Bagaimana prevalensi rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas ”. C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Tujuan Khusus:

6

a. Untuk mengetahui angka kejadian rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas b. Untuk mengetahui karakteristik (usia dan jenis kelamin laki-laki) penderita rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas c. Untuk mengetahui lama kerja berkaitan dengan rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas 2. 1. a. Manfaat Penelitian Manfaat teoritis Memberikan informasi mengenai prevalensi

rhintis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas 2. a. Manfaat praktis Sebagai sumber informasi yang dapat

digunakan untuk penelitian selanjutnya. b. Menambah pengetahuan masyarakat

khususnya masyarakat setempat tentang rhintis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas

3.

Manfaat bagi institusi

7

a.

Sebagai bahan pustaka di jurusan kedokteran Fakultas

Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan UNSOED khususnya bidang kesehatan kerja.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

8

A. Anatomi Hidung Hidung merupakan orang penting yang menjadi salah satu organ pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Hidung terdiri atas nasus eksternus (hidung luar) dan cavum nasi. Hidung luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas, struktur hidung luar dapat dibedakan atas tiga bagian yaitu: paling atas kubah tulang yang tak dapat digerakkan, di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan (Levine, 2005). 1. Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah yakni pangkal hidung (bridge), dorsum nasi, puncak hidung (apeks), alas nasi, kolumela dan lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang hidung terdiri dari sepasang os nasalis (tulang hidung), prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os frontalis. sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan terletak di bagian bawah hidung yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis superior dan sepasang kartilago nasalis lateral inferior (kartilago alar mayor).

9

Hidung juga memiliki otot—otot yang berguna untuk melebarkan dan menyempitkan lubang hidung yang terdiri dari dua kelompok yaitu: 1. Kelompok dilator yang terdiri dari m. dilator nares (anterior dan posterior), m. prosesus dan kaput angular m. kuadratus labil superior. 2. Kelompok konstriktor terdiri dari m. nasalis dan m. depressor septi. 2. Hidung Dalam Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya. Kavum nasi bagian anterior disebut nares anterior dan bagian posterior disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.

Gambar 2.1. Pembagian anatomi hidung (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008). 1. Vestibulum

10

Terletak tepat dibelakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrissae (Damayanti S, 1997). 2. Septum nasi

Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan dimana bagian tulang terdiri dari : a. b. c. d. lamina perpendikularis os etmoid vomer krista nasalis os maksila krista nasalis os palatine

Bagian tulang rawan terdiri dari : a. b. 3. a. kartilago septum ( lamina kuadrangularis ) kolumela Kavum nasi Dasar hidung, dibentuk oleh prosesus palatine os maksilaris

dan prosesus horizontal os palatum b. Atap hidung, terdiri dari kartilago lateralis superior dan

inferior, os nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid dan korpus os sfenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui filamen-filamen n. olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior (Damayanti S, 1997 ; Ballenger JJ, 1994).

11

c.

Dinding lateral, dinding lateral dibentuk oleh permukaan

dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior, konka media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum dan lamina pterigoideus medial (Ballenger JJ, 1994). d. Konka, pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka.

Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media dan konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid (Damayanti S, 1997) e. Meatus nasi, diantara konka-konka dan dinding lateral

hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. Meatus media terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Disini terdapat muara sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.

12

f.

Dinding medial, dinding medial hidung adalah septum nasi

(Damayanti S, 1997). 3. Pendarahan Hidung Pendarahan untuk hidung bagian dalam berasal dari 3 sumber utama: a. a. etmoidalis anterior, yang mendarahi septum bagian

superior anterior dan dinding lateral hidung. b. a. etmoidalis posterior ( cabang dari a. oftalmika ),

mendarahi septum bagian superior posterior. c. a. sfenopalatina, terbagi menjadi a. nasales posterolateral

yang menuju ke dinding lateral hidung dan a. septi posterior yang menyebar pada septum nasi. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari

cabang a. maksilaris interna, diantaranya ialah ujung a. palatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabangcabang a. fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabangcabang a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior dan a. palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach ( Little’s area ) yang letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis. (Damayanti S, 1997)

13

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke vena oftalmika superior yang berhubungan dengan sinus kavernosus (Damayanti S, 1997 ; Ballenger JJ, 1994). B. Persarafan Hidung 1. Saraf motorik oleh cabang n. fasialis yang mensarafi otot-otot hidung bagian luar 2. Saraf sensoris. Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior, merupakan cabang dari n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmika ( N.V-1 ). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatina. 3. Saraf otonom.

Terdapat 2 macam saraf otonom yaitu : a. Saraf post ganglion saraf simpatis (Adrenergik). Saraf simpatis meninggalkan korda spinalis setinggi T1 – 3, berjalan ke atas dan mengadakan sinapsis pada ganglion servikalis superior. Serabut post sinapsis berjalan sepanjang pleksus karotikus dan kemudian sebagai n. petrosus profundus bergabung dengan serabut saraf parasimpatis yaitu n. petrosus superfisialis mayor membentuk n. vidianus yang berjalan didalam kanalis pterigoideus. Saraf ini tidak mengadakan sinapsis didalam

14

ganglion sfenopalatina, dan kemudian diteruskan oleh cabang palatina mayor ke pembuluh darah pada mukosa hidung. Saraf simpatis secara dominan mempunyai peranan penting terhadap sistem vaskuler hidung dan sangat sedikit mempengaruhi kelenjar. b. Serabut saraf preganglion parasimpatis (kolinergik). Berasal dari ganglion genikulatum dan pusatnya adalah di nukleus salivatorius superior di medula oblongata. Sebagai n. pterosus superfisialis mayor berjalan menuju ganglion sfenopalatina dan mengadakan sinapsis didalam ganglion tersebut. Serabut-serabut post ganglion menyebar menuju mukosa hidung. Peranan saraf parasimpatis ini terutama terhadap jaringan kelenjar yang menyebabkan sekresi hidung yang encer dan vasodilatasi jaringan erektil. Pemotongan n. vidianus akan menghilangkan impuls sekretomotorik atau parasimpatis pada mukosa hidung, sehingga rinore akan berkurang sedangkan sensasi hidung tidak akan terganggu (Snell, 2006). 4. Olfaktorius (penghidu)

Nervus olfaktorius turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius didaerah sepertiga atas hidung (Damayanti S, 1997) C. Rhinitis Akibat Kerja (Occupational Rhinitis)

15

1. Definisi Rhinitis akibat kerja didefinisikan sebagai rhinitis yang muncul sebagai respon dari agen udara yang terdapat pada tempat kerja dan mungkin terjadi karena reaksi alergi atau bagian dari respon iritasi (Bousquet J, 2008). Menurut panduan BSACI, rhinitis akibat kerja adalah rhinitis yang diinduksi oleh paparan tempat kerja ke saluran pernapasan karena sensitisasi oleh agen (Scadding GK et al., 2008). Definisi rhinitis akibat kerja menurut EAACI Task Force on Occupational Rhinitis 2009 adalah inflamasi hidung baik bersifat persisten atau sementara yang ditandai dengan kongesti hidung, bersinbersin, rinore, gatal dan atau gangguan aliran udara hidung dan atau hipersekresi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja (Moscato G et al., 2009). Rhinitis akibat kerja dimungkinkan terjadi dari dua faktor utama yakni rhinitis yang di sebabkan langsung oleh agen-agen lingkungan Rhinitis Akibat Kerja kerja atau rhinitis yang diperburuk akibat dari agen-agen di lingkungan kerja. Rhinitis akibat kerja juga merupakan penyakit nomor dua setelah Rhinitis akibat kerja Rhinitis diperburuk oleh (RAK) kerja asma akibat dari lingkungan kerja (Moscato G et al., 2009).

Rhinitis alergi akibat kerja (occupational rhinitis allergic) Termediasi IgE Tanpa mediasi IgE . Rhinitis non-alergi akibat kerja (occopational rhinitis non-alergic) Paparan tunggal : Reactive upper Airways Dysfunction Syndrome (RUDS) Paparan ganda : Irritant Induced OR Corrosive rhinitis

16

Gambar 2.2. Bagan Kategori Rhinitis Akibat Kerja (Moscato G et al., 2009) Rhinitis alergi akibat kerja dapat dikategorikan menjadi 2 mekanisme yakni : a. Termediasi IgE (IgE mediated) : diakibatkan paparan alergen bermolekul berat / high molecular weigth (HMW) misalkan glikoprotein dari tanaman atau binatang. selain itu juga dapat disebabkan oleh alergen bermolekul ringan / low molecular weight agents (LMW) misalkan garam platinum, pewarna reaktif dan asam andhidrida. b. Tanpa mediasi IgE (non-IgE-mediated) : diakibatkan oleh LMW agents misalkan isosianat, garam persulfat dan debu kayu yang

17

menjadi agen pencetus rhinitis yang belum diketahui pasti mekanismenya (Moscato G et al., 2009; Hoffman CD et al., 2004). Rhinitis non-alergi akibat kerja merupakan rhinitis yang disebabkan murni dari lingkungan kerja dengan mekanisme iritasi pada rongga hidung, tanpa melibatkan sistem imunologi dan dapat disebabkan oleh agen dengan paparan yang terus menerus (Moscato G et al., 2009; Bernstein IL, 2006; Castano R, 2007) 2. Epidemiologi Rhinitis merupakan penyebab yang signifikan morbiditas di seluruh dunia dimana terkadang gangguan ini dipandang sepele oleh seorang praktisi. Gejala rhinitis yang signifikan mempengaruhi kualitas hidup seorang penderita akibat dari gejala sistemik meliputi kelelahan, sakit kepala dan gangguan kognitif. Data di Amerika Serikat menunjukan 20-40 juta orang mengalami rhinitis setiap tahunnya dimana 30% penderita dewasa dan 40% adalah anak-anak. The European Respiratory health Survey (ECRHS) melaporkan bahwa 25% dari rhinis non-alergi yang diambil dari 1.412 subyek (Heinrich J et al., 2002). Di Indonesia angka kejadian rhinitis akibat kerja belum diketahui secara pasti karena saat ini belum pernah dilakukan penelitian multisenter. Prevalensi rhinitis di Jakarta besarnya sekitar 20%, sedangkan menurut Sumarman dan Haryanto tahun 1999, di daerah padat penduduk kota Bandung menunjukan 6,98%, dimana prevalensi pada

18

usia 12-39 tahun. Berdasarkan survei dari ISAAC (International Study of Asthma and Allergies in Childhood), pada siswa SMP umur 13-14 tahun di Semarang tahun 2001-2002 rhinitis sebesar 18% (ISAAC Steering Committee, 2002). Penelitian sebelumnya oleh Russel tahun 2001 di Amerika menyebutkan bahwa 3 faktor penting yang berkaitan dengan rhinitis akibat kerja adalah usia, jenis kelamin dan musim. hasil dari penelitian tersebut 70% pasien dengan rhinitis non-alergi adalah dewasa (usia > 20 tahun) sedangkan 70% rhinitis alergi adalah anak-anak (usia < 20 tahun). Jenis kelamin juga memberikan hasil yang berbeda pada penelitian ini. Pada penelitian ini 74% pasien adalah perempuan. Faktor berikutnya adalah musim dimana faktor tersebut kemungkinan besar berbeda dengan kondisi di Indonesia yang memiliki 2 musim saja (Russel, 2001). 3. Patofisiologi Rhinitis Akibat Kerja Rhinitis sendiri merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung 2448 jam.

19

Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th0). kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL13. IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan

20

dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC). Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi

pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1). Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di

21

jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosiniphilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP), dan Eosinophilic Peroxidase

(EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008). Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad) dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung. Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus-menerus (persisten) sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak

22

mukosa hidung menebal. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari: a. Respon primer Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respon sekunder. b. Respon sekunder Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada, atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik, maka reaksi berlanjut menjadi respon tersier. c. Respon tersier Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1, atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau reaksi sitotoksik, tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberculin (delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis kerusakan

23

jaringan yang banyak dijumpai di bidang THT adalah tipe 1, yaitu rinitis alergi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008). Untuk rhinitis akibat kerja mekanisme terjadinya adalah mekanisme imunologi IgE mediated yang mendasari terjadinya rhinitis akibat kerja dapat dijelaskan dengan baik, sedangkan tentang mekanisme non IgE mediated dan iritasi non imunologi kurang dapat dijelaskan. Rhinitis akibat kerja ditandai dengan adanya aktivasi sel T yang disebabkan oleh Specific Inhalation Challenge (SIC) didalam darah dan sputum dari pasien dengan rhinitis akibat kerja yang dibandingkan sukarelawan yang sehat. SIC ini diinduksi oleh sebuah peningkatan dari proporsi IL-13 yang memproduksi sel T, baik didalam darah dan sputum dari pasien rhinitis akibat kerja. Pada temuan terbaru juga menunjukkan bahwa hidung yang tiba-tiba bereaksi disebabkan zat perisulfat pada penata rambut karena akibat aktivasi dari sel Th1. Pada penelitian yang lain ditemukan bahwa paparan debu di lingkungan kerja berhubungan dengan peradangan eosinofilik di hidung yang eksudatif dan

menginduksi peningkatan yang signifikan dari a2 macroglobulin setelah peningkatan histamin pada hidung (Moscato G et al., 2009).

4.

Gejala Klinik Rhinitis Akibat Kerja Gejala rhinitis akibat kerja yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu atau zat lain

24

yang terdapat di tempat kerja. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan, sebagai akibat dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin patologis (Soepardi, Iskandar, 2004). Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Tanda-tanda yang lain juga terlihat di hidung, mata, telinga, faring atau laring. Tanda hidung termasuk lipatan hidung melintang – garis hitam melintang pada tengah punggung hidung akibat sering menggosok hidung ke atas menirukan pemberian hormat (allergic salute), pucat dan edema mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan. Lubang hidung bengkak. Disertai dengan sekret mukoid atau cair. Tanda di mata termasuk edema kelopak mata, kongesti konjungtiva, lingkar hitam dibawah mata (allergic shiner). Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii. Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara (Bousquet, Cauwenberge, Khaltaev, ARIA Workshop Group. WHO, 2001). Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit kepala, masalah penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah, post

25

nasal drip. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan sulit tidur. Hampir semua tanda yang didapatkan diinduksi oleh pajanan debu/ zat yang dapat mengiritasi di tempat kerja (Harmadji, 1993).

5.

Penegakan diagnosis rhinitis akibat kerja

26

Gambar 2.3. Bagan Alur Penegakan Diagnosis Rhinitis Akibat Kerja (Moscato G et al., 2009) Penyelidikan dan penilaian tentang riwayat dari rhinitis akibat kerja merupakan hal yang sangat berkaitan. Penggunaan metode yang

27

obyektif seperti tes patensi hidung dan penggunaan parameter inflamasi pada sekret hidung akan meminimalkan kesalahan dalam mendiagnosa pasien yang mengalami rhinitis akibat kerja. Diagnosis perlu adanya konfirmasi dengan metode yang obyektif lainnya yaitu riwayat klinis dari pasien, pemeriksaan hidung, tes imunologi (untuk pasien dengan rhinitis akibat kerja karena alergi), dan Nasal Provocation Test (NPT)/ tes provokasi hidung. Selain itu, kemungkinan keterlibatan dari organ saluran udara yang letaknya lebih bawah harus dievaluasi secara cermat dengan menggunakan kuesioner, spirometri dam pengukuran dari respon non spesifik saluran nafas (Scadding GK et al., 2008). Riwayat medis dan pekerjaan dari pasien merupakan kunci dalam penyelidikan dan diagnosis rhinitis akibat kerja. Menggali riwayat kerja dari pasien bertujuan untuk mengumpulkan gambaran secara menyeluruh tentang pekerjaan pasien saat ini, proses saat ditempat kerja, perubahan dalam proses kerja atau bahan-bahan yang digunakan, kondisi dan kebersihan dari tempat kerja (Moscato G et al., 2009). Salah satu tujuan dari evaluasi riwayat medis pasien adalah untuk menetapkan waktu dari dimulainya gejala rhinitis akibat kerja sehubungan dengan paparan pajanan. Pengambilan riwayat medis dari pasien harus meliputi durasi kerja di pekerjaan yang ada sebelum terjadinya gejala (periode laten), agen, tugas atau proses yang terkait dengan onset, dan hari kerja dari pasien (Moscato G et al., 2009).

28

Pada pemeriksaan hidung/ nasal, dapat dilakukan pemeriksaan makroskopis dari mukosa hidung yaitu dengan metode rhinoskopi anterior dan endoskopi hidung. Dengan menggunakan tehnik ini, dapat dikesampingkan adanya patologi lain dari hidung yang mempunyai gejala mirip rhinitis atau adanya penyakit yang berkontribusi dalam perburukan obsturksi hidung (misalnya deviasi septum, polip hidung). Pada pemeriksaan nasal patensi digunakan untuk menilai patensi dari hidung selama masa penyidikan (hal ini termasuk rinomanometri, akustik rhinometry, dan Peak Nasal Inspiratory Flow (PNIF)). Rhinomanometri anterior mengukur secara terpisah dari jalan nafas dari lubang hidungnya masing-masing, tehnik ini membutuhkan sedikit instruksi kepada pasien, tetapi pengukurannya dapat menjadi sulit ketika lobang hidung pasien tersumbat. Rhinomanometri posterior digunakan untuk menilai total resistensi dari saluran hidung melalui kateter oral di faring, tetapi tehnik ini memerlukan kerjasama dari pasien. Pengukuran aliran puncak inspirasi hidung/ PNIF dilakukan untuk menilai apakah adanya obstuksi aliran udara akibat pajanan di tempat kerja. PNIF merupakan pemeriksaan yang sederhana, murah dan mudah, tetapi PNIF kurang sensitif dalam mendeteksi bila terdapat perubahan patensi dari hidung (Scadding GK et al., 2008). Rhinometri akustik adalah tehnik yang baru untuk menilai patensi hidung dengan menentukan penampang dan volume rongga hidung dengan menggunakan pantulan gelombang suara. Tehnik ini non invasif

29

dan membutuhkan sedikit kerjasama dari pasien. Rhinometri akustik berguna untuk menunjukkan perubahan patensi hidung dalam industri/ tempat kerja. Pada tes imunologi dapat dilakukan dengan cara uji tusuk kulit dan/ atau penilaian serum alergen spesifik antibodi IgE. Hasil positif dari tes imunologi dapat terjadi pada individu tanpa gejala rhinitis akibat kerja, sehingga spesitivitas tes imunologi lebih rendah dari

sensitivitasnya (Moscato G et al., 2009). Tes provokasi nasal masih dianggap gold standard untuk mengkonfirmasi diagnosis dari rhinitis akibat kerja. Alasan utama test provokasi nasal masih menjadi standar baku emas karena pemeriksaan ini langsung mengesplorasi melalui pendekatan observasional, dan

dilakukan hubungan sebab-akibat antara paparan spesifik dari agen di tempat kerja dan ciri karekteristik dari rhinitis akibat kerja (Scadding GK et al., 2008). Alur diagnosis dari rhinitis akibat kerja meliputi penggalian riwayat klinis dan kesehatan secara menyeluruh dan pemeriksaan hidung. Jika penderita mengalami rhinitis akibat kerja karena pajanan di tempat kerjanya, harus dikonfirmasi dengan metode yang obyektif. Langkah kedua meliputi evaluasi tehadap agen-agen yang dicurigai di tempat kerja melalui tes tusuk kulit. Riwayat klinis yang positif ditambah tes imunologi mungkin dapat menegakkan diagnosis rhinitis akibat kerja. Selanjutnya dapat menggunakan evaluasi obyektif dari hubungan sebab-

30

akibat antara rhinitis dan lingkungan kerja melalui tes provokasi nasal di laboratorium. Jika tes provokasi nasal positif, maka diagnosis rhinitis akibat kerja dapat dipastikan atau ditegakkan. Jika tes provokasi nasal negatif maka dianjurkan melakukan evaluasi riwayat kerja terkait dengan perubahan gejala hidung, patensi hidung dan peradangan hidung di tempat kerja atau setelah pulang kerja. Penilaian di tempat kerja merupakan hal pertama yang dipertimbangkan ketika tes provokasi nasal di laboratorium tidak dapat dilakukan (Moscato G et al., 2009). D. Pencemaran Udara 1. Pengertian dan terjadinya pencemaran udara Peraturan Pemerintah no. 14 tahun 1999, menyebutkan

pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukannya zat atau meningkatnya kandungan zat energi atau komponen lain ke dalam udara ambient oleh kegiatan manusia atau alam, sehingga mutu udara ambient tidak sesuai dengan fungsinya. Penurunan kualitas udara dapat dikategorikan sebagai pencemaran udara apabila memenuhi dua ketentuan. Rerata penurunan kualitas udara terjadi sebagai akibat kegiatan manusia, bukan oleh peristiwa alam. Kedua penurunan kualitas udara sampai ke tingkat yang membahayakan atau yang menimbulkan gangguan bagi kehidupan. 2. Sumber pencemaran udara Sumber pencemaran udara menurut jenisnya dikelompokan menjadi dua jenis yaitu :

31

a. Sumber bergerak, termasuk dalam kelompok ini semua jenis kendaraan bermotor. b. Sumber tidak bergerak, adalah sumber emisi yang tetap pada suatu tempat seperti kegiatan industri (PP no 41, tahun 1999) Sumber pencemaran menurut sifatnya, dibagi menjadi tiga yaitu : a. Sumber titik (point sources), yaitu sumber pencemaran yang berasal dari sumber stasioner tunggal dan dapat diidentifikasikan

keberadaanya, misalkan emisi gas dari cerobong asap pabrik. b. sumber kawasan (area sources), yaitu sumber pencemaran yang berasal dari beberapa sumber titik yang berdekatan atau berasal dari sumber yang bergerak (mobile sources) pada daerah tertentu, misalnya pencemaran udara pada kawasan tambang gamping di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, atau pencemaran oleh kepadatan lalu lintas. c. Sumber segaris, yaitu sumber pencemaran yang berasal dari emisi yang berbentuk garis. misalnya pencemaran udara dan kebisingan pesawat terbang pada bandar udara pada saat landing dan take off (Harsanto, 2001). 3. Baku mutu ambient Baku mutu ambient adalah ukuran batas atau kadar zat energi dan atau komponen yang ada atau seharusnya ada, dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam udara ambient. Penentuan baku mutu udara ambient, dilakukan dengan mempertimbangkan semua

32

faktor yang berpengaruh terhadap dampak yang diakibatkan oleh adanya zat dalam udara. Beberapa faktor tersebut adalah faktor lingkungan dan manusia. Oleh karena keberadaan lingkungan dimasing-masing negara tidak sama. namun demikian belum semua negara mempunyai baku mutu udara ambient yang digunakan saat ini adalah baku mutu yang ditetapkan PP No. 41 tahun 1999 setelah lima tahun (Harsanto, 2001; World Bank, 1994). 4. Debu Debu adalah partikel-partikel yang disebabkan oleh kekuatan alami atau faktor mekanis, seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan yang cepat peledakan dan sebagainya, yang berasal dari bahan-bahan organik dan anorganik. a. Macam-macam debu 1) Debu organik, adalah debu dari bahan organik seperti debu kapas dan debu daun-daunan. 2) Debu mineral, merupakan debu yang berasal dari senyawa komplek seperti debu arang, debu silica, debu batubara dan debu kapur. 3) Debu metal, merupakan debu dengan berat jenis besar seperti debu timah hitam, debu arsen dan debu cadmium. b. Sifat-sifat debu Sifat-sifat debu dapat dikelompokan menjadi beberapa golongan:

33

1) Setting rate, yaitu sifat debu yang cenderung selalu mengendap karena gaya gravitasi bumi, namun karena relatif kecilnya debu ini maka cenderung selalu berada di lingkungan. 2) Wetting, yaitu debu yang mempunyai sifat permukaan yang cenderung selalu basah yang selalu dilapisi lapisan air yang sangat tipis. 3) Floculation, yaitu debu yang cenderung sering basah sehingga dapat saling menempel dan menggumpal. 4) Electrical, yaitu yang mempunyai sifat listrik yang tetap, yang dapat saling tarik-menarik antar partikel yang bermuatan listrik yang berlawanan. Sifat ini dapat mempercepat proses

penggumpalan debu. 5) Optical properties, yaitu sifat debu yang dapat memancarkan sinar dapat kamar gelap (Damayanti A, 2006).

5. Batu kapur a. Komposisi batu kapur Komponen utama pembentuk batu kapur atau batu gamping adalah mineral kalsit (CaCO3), mineral dolomite (CaMg(CO3)2) dan aragonite (CaCO3). Gabungan dari tiga unsur ini membentuk warna

34

putih dan bertekstur lembut. Bila ditemukan batu kapur berwarna kelabu menunjukan batu kapur sudah tidak murni. Ketidakmurnian ini karena tercampur dengan unsur pasir, tanah liat, besi oksida, hidroksida dan material organik lainnya (Bonyton, Robert S, 1980). Proses terbentuknya batu gamping terjadi selama berjuta-juta tahun yang lalu. Batu gamping terbentuk dari unsur karbonat zat kapur yang berasal dari organisme laut seperti kerang-kerangan dan tiram. karbonat ini merupakan penyusun utama kulit kerang dan tiram. Pada saat organisme ini mati, kulit kerang dan tulang yang tertinggal akan didegradasikan menjadi unsur yang lebih kecil lagi oleh mikroorganisme mikroskopik seperti foraminifera. Hasil degradasi ini akan membentuk pasir karbonat atau lumpur karbonat. Karena pengendapan ini terjadi terus-menerus dalam waktu yang lama dan adanya proses alam, maka endapan pasir dan lumpur karbonat akan mengeras, sehingga jadilah pegunungan batu kapur. Sehingga hampir sebagian besar pegunungan batu kapur berada dekat dengan laut (Damayanti A, 2006). b. Proses penambangan batu kapur Proses penambangan batu kapur dimulai dengan proses stripping, yaitu pengupasan lahan tambang, yang meliputi proses pembukaan lahan serta pemindahan tanah penutup. Kegiatan ini dikerjakan dengan cara manual dengan menggunakan cangkul, linggis dan sekop. Setelah terlihat batuan kapur proses selanjutnya

35

adalah pengambilan batu kapur, pengumpulan batu kapur disekitar lokasi penambangan, kegiatan pengangkutan batu kapur dengan cara dipikul atau dengan alat pengangkut truk ke tempat tungku atau tobong pembakaran. Proses pembakaran pada tambang gamping menggunakan bahan bakar kayu selama 48 jam. Proses produksi tradisional penambangan batu kapur, memaksa pekerja berada dalam jarak radius yang sangat dekat dengan sumber pencemaran berupa debu kapur

E. Kerangka Teori Usia

Lama Kerja Rhinitis Akibat Kerja Faktor resiko lain: Tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) Merokok

36

Gambar 2.3. Bagan Kerangka Teori Penelitian

Keterangan :

: variabel yang tidak diteliti : variabel yang diteliti

F. Kerangka Konsep

Variabel Bebas 1. 2. Usia Lama kerja

Variabel Tergantung

Rhinitis akibat kerja

Gambar 2.4. Bagan Kerangka Teori Penelitian

37

III. A. Rancangan Penelitian

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan studi crosssectional untuk mengetahui prevalensi rhinitis akibat kerja pada pekerja pabrik gamping di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Penelitian deskriptif adalah peneliti hanya akan menggambarkan atau mendiskripsikan variabel tertentu dalam suatu penelitian tanpa mencari hubungan antara variabel (Saryono, 2010). B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek yang mempunyai

karakteristik tertentu yang sesuai dengan penelitian. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pekerja pabrik gamping di Desa

Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. 2. Sampel Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan metode consecutive sampling dimana subyek yang dijadikan sample penelitian adalah subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebagai berikut: a. Kriteria inklusi : 1) 2) Pekerja yang bekerja di pabrik gamping di desa Darmakradenan Bersedia menjadi responden penelitian

38

b. Kriteria eksklusi : 1) Pekerja yang menderita rhinitis alergika sebelumnya.

C. Definisi Operasional 1. Usia Usia adalah lamanya hidup dalam hitungan waktu yang dihitung dari sejak lahir hingga saat penelitian ini dilakukan dalam satuan tahun, terbagi atas : a. b. c. < 20 tahun 20 – 40 tahun > 40 tahun 2. Lama kerja Lama kerja adalah rentang waktu sejak responden pertama kali bekerja hingga saat penelitian dilakukan dan dinyatakan dalam satuan tahun, terbagi atas : a. b. c. 3. < 5 tahun 5 – 10 tahun > 10 tahun

Rhinitis akibat kerja Rhinitis akibat kerja adalah inflamasi hidung baik bersifat persisten atau sementara yang ditandai dengan kongesti hidung, bersin-bersin, rinore, gatal dan atau gangguan aliran udara hidung dan atau hipersekresi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja. Penegakan diagnosis rhinitis akibat kerja dapat dilihat dari anamnesis dari riwayat klinis pasien, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti tes patensi hidung

39

dan penggunaan parameter inflamasi pada sekret hidung, pemeriksaan hidung, tes imunologi (untuk pasien dengan rhinitis akibat kerja karena alergi), dan Nasal Provocation Test (NPT)/ tes provokasi hidung. D. Tata Urutan Kerja Tahap Persiapan Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan meliputi : a. Penyusunan proposal

Penyusunan proposal dilakukan setelah usulan judul penelitian disetujui oleh komisi KTI. Penyusunan proposal Bab I, Bab III, dan Bab III ditulis berdasarkan referensi yang ada dan dengan bimbingan dari pembimbing 1 dan pembimbing 2. b. Seminar proposal

Seminar proposal dilaksanakan setelah isi proposal mendapatkan perbaikan dan sudah mendapat persetujuan dari pembimbing 1 dan pembimbing 2 untuk melaksanakan seminar proposal. Tahap pelaksanaan Tahap pelaksanaan, meliputi pengumpulan data penelitian dengan mengambil data dari keseluruhan sampel Dalam pengambilan data dari responden untuk penelitian ini, langkahlangkah yang dilakukan adalah:

a. Pendataan responden penelitian

40

Pendataan disini meliputi nama responden dan jumlah dari keseluruhan reponden yang akan berpartisipasi dalam penelitian ini. b. Penjelasan penelitian Responden akan dijelaskan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini dengan memberikan lembar penjelasan penelitian yang meliputi judul penelitian dan langkah-langkah dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti. c. Informed concent Informed concent atau surat persetujuan tindakan medik diajukan kepada responden sebagai bukti bahwa responden telah menyetujui segala tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini. d. Kuesioner Kuesioner berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan rhinitis akibat kerja, kemudian akan diisi oleh responden e. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik akan dilakukan oleh dokter spesialis THT untuk menegakkan diagnosis rhinitis akibat kerja. f. Obeservasi Untuk menguji validitas jawaban dari responden setelah pengisian kuesioner.
E. Metode Pengumpulan Data

41

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini diambil dengan kuesioner serta pemeriksaan fisik. Kuesioner yang digunakan, bertujuan untuk membantu penegakan diagnosis dari rhinitis akibat kerja. Pertanyaan yang diajukan sebanyak 22 pertanyaan dengan 2 pilihan jawaban. Untuk nomor 2-9 bertujuan untuk membantu penegakan diagnosis rhinitis akibat kerja selain dari pemeriksaan fisiknya. Penilaian untuk nomor 10-16 yang dinilai adalah pola gejala (hilang timbul, menetap) dan faktor predisposisi termasuk riwayat keluarga. Nomor 17 dan 18 untuk melihat ada atau tidaknya faktor pencetus rhinitis akibat kerja yang didapatkan dari responden. Dan untuk nomor 19-22 digunakan untuk menilai apakah ada sarana perlindungan kesehatan di tempat kerja responden. Selain itu, penegakan diagnosis rhinitis akibat kerja juga dilakukan dengan pemeriksaan fisik meliputi tanda dan gejala rhinitis akibat kerja serta penegakan diagnosis dengan rhinoskopi anterior dan lain sebagainya.
F. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Pengolahan Data

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses pengolahan data diantaranya: a. Editing Editing merupakan upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul (Hidayat, 2007). b. Coding

42

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis menggunakan komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel (Hidayat 2007). c. Tabulating Setelah editing dan coding selesai dilakukan langkah selanjutnya yang ditempuh ialah mengelompokkan data tersebut ke dalam suatu tabel tertentu menurut sifat-sifat yang dimilikinya, sesuai dengan tujuan penelitian (Hidayat, 2007). 2. Analisis Data Sejalan dengan jenis penelitian maka jenis analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan dapat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analis univariat yang digunakan adalah prevalensi rate, mean, dan standar deviasi. Proporsi adalah suatu perbandingan antara suatu jumlah kejadian sebagai pembilang dengan seluruh kejadian dimana pembilang menjadi sebagian dari penyebut, biasa disebut juga persentase. Analisis proporsi menunjukkan gambaran umum karakteristik suatu fenomena.

G. Etika Penelitian

43

Menurut Hidayat (2007), masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian kesehatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika penelitian yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: Informed Consent Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Anonimity (tanpa nama) Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan. Confidentiality (Kerahasiaan) Masalah ini merupakan etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalaah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada riset.

44

H. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai April 2012. Penelitian ini dilakukan di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. I. Jadwal Penelitian Tabel 3.1 Tabel Jadwal Penelitian

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Rencana Kegiatan Persiapan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penelitian Pelaksanaan Penelitian Pengolahan dan Analisis Hasil Penelitian Penyusunan Laporan Akhir Penelitian Seminar Hasil Penelitian

1 √

Waktu (Bulan Ke-) 2 3 √ √ √ √ √

4

√ √ √ √