1.

POLA PEMUKIMAN NIAS UTARA

Secara umum, Nias bisa dibagi menjadi tiga area budaya, Nias Utara, Tengah dan Selatan. Kultur daerah yang Tengah mencampur ke dalam Nias bagianUtara. Rumah ada Nias berbentuk oval sementara Nias Selatan kotak. Yang sama dari keduanya, selain berbentuk rumah panggung adalah rumah tersebut biasanya dibangun bersebelahan. Berjejer, nyaris dempet. Yang membatasi itu hanyalah sebuah tangga. Gaya Rumah berbeda dengan jelas antara utara dan yang selatan. Rumah-rumah tradisional di Nias Utara dengan ibukota Gunung Sitoli mempunyai bentuk denah oval, rumah panggung satu lantai dengan jendela terbuka yang mengelilingi salah satu sisi bangunan. Dinding terbuat dari kayu dengan atap daun nipah. Pada atap bangunan terdapat jendela (attic) yang dapat dibuka dari dalam dan ada tangga untuk naik. Satu rumah biasanya untuk satu keluarga dan ditandai oleh sebuah batu megalith dengan bentuk yang beragam antara satu rumah dengan rumah lainnya. Pola permukimannya berbentuk linier dengan jarak yang agak berjauhan antar rumah, dengan ukuran rumah yang hampir sama. Untuk yang berstatus sosial lebih tinggi, rumahnya lebih besar dan lebih banyak memakai ornamen. 2.ELEMEN BANGUNAN NIAS Kenyamanan ruang cukup terjaga karena elemen rumah dirancang secara cerdik menggunakan prinsip arsitektur tropis. Bilah dinding papan bisa diganti jerajak untuk menciptakan bukaan. Dinding miring memungkinkan privasi. Bukaan dengan posisi miring mampu mengatasi tempias air hujan. Ukurannya cukup lebar sehingga udara dan cahaya alam bebas menerobos masuk ke dalam rumah. Salah satu bagian atap dapat berfungsi sebagai sky light, cukup dengan cara mendorongnya ke arah luar lalu menopangnya dengan tongkat dari dalam. 3. TEKNIK TATA KAWASAN

Segalanya di desa, tataruang, gaya, dan pengaturan

rumah, semua dengan jelas menunjukkan perbedaan strata sosial. Rumah kepala desa diletakkan mendominasi pusat persimpangan, dan jalan pertama dibangun agar dapat menyediakan pandangan luas sampai padanya. . Pusat desa juga lebih tinggi, dan di sini jalan lebih luas, rumah para bangsawan lebih besar skalanya. . Lebih rendah dari jalan lebih kecil serta lebih sedikit adalah rumah rakyat biasa yang juga mengesankan. TEKTONIKA ARSITEKTUR NIAS Rangka rumah Nias terdiri dari kolom (enomo) dan balok (ndriwa). Di bagian kaki bangunan rumah adat Nias, kolom-kolom terbagi menjadi dua jenis, yaitu kolom struktur utama yang berdiri dalam posisi tegak dan kolom penguat yang terletak dalam posisi silang-menyilang membentuk huruf X miring. Balok kayu ataupun batu besar sengaja diletakkan di sela- sela kolom penguat sebagai pemberat untuk menahan bangunan dari terpaan angin. Sedangkan ujung atas kolom tegak dihubungkan dengan balok penyangga melalui sambungan sistem pasak yang kemudian ditumpangi balok-balok lantai di atasnya.
Rumah adat di Nias pada umumnya disebut dengan Omo Niha. Rumah adat masyarakat Nias mempunyai bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan kegunaan dan tingkat kedudukannya dalam adat. Rumah Adat Nias dapat dibedakan ke dalam empat kelompok, seperti Omo Aro Gosali, Omo Hada, Omo Nifolasara, Omo Niha Sigoloto. Omo Aro Gosali, berupa balai pertemuan atau tempat musyawarah seluruh warga kampung, termasuk pemimpin adat, yang digunakan dalam rangka menyelesaikan permasalahan dan mendengarkan kemajuan dari kegiatan desa, baik adat, hukum, sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Omo Hada, berupa rumah adat tempat tinggal pimpinan masyarakat atau disebut Si'ulu atau penghulu di Nias bagian Selatan dan Balugu/Salawa di Nias bagian Utara. Pada bangunan Omo Hada terdapat ukiran-ukiran yang unik, yang melambangkan kekuasaan dan kekayaan. Omo Nifolasara, berupa rumah adat yang tiangnya berukiran dengan motif Nifolasara (lasara = naga). Biasanya rumah ini ditempati oleh kaum bangsawan atau tokoh adat. Omo Niha Sigoloto, merupakan rumah adat biasa dengan bentuk sama dengan rumah adat, namun pada setiap tiangnya tidak memiliki ukiran. Bangunan rumah adat menegaskan pentingnya tanah sebagai tempat untuk melaksanakan berbagai kegiatan, seperti pesta adat perkawinan, kegiatan musyawarah, pengembangan desa dan lain sebagainya. Luas tanah dan pekarangan rumah terkadang juga menandakan kekuasaan dari si pemilik tanah untuk memperoleh penghargaan pada acara-acara adat yang dilaksanakan di desanya. Desa Bawomataluo, Sumatera Utara, merupakan desa adat yang cukup terkenal di Kabupaten Nias Selatan. Desa wisata ini banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Bawomataluo memiliki arti bukit matahari. Dari posisinya saja desa ini sudah mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Sesuai dengan namanya desa ini terletak di daerah perbukitan denan

hawa yang sejuk. Uniknya permukaan di Desa Bawomataluo tersusun oleh bebatuan, berbeda dengan derah lainnya yang tertutup tanah. Konon, desa ini sudah ada sejak 300 tahun lalu, atau lebih tepatnya zaman megalitikum atau batu besar. Sebagai bukti di desa ini masih terdapat sisa-sisa bangunan di zaman itu. Contohnya, Rumah Adat Raja Nias yang sekarang menjadi tempat tinggal untuk keturunan keempat dari Raja Nias. Selain itu ada juga balai musyawarah yang tempat duduknya terbuat dari bebatuan. Di tempat ini wisatawan juga akan menjumpai kompleks rumah adat Nias yang paling besar. Selain itu, kehidupan di Desa Bawomataluo masih sangat asli, lengkap dengan tradisi-tradisinya, seperti rumah adat, tradisi lompat batu, tarian perang, dan budaya peninggalan megalitikum. Jadi, wajar saja jika berkunjung ke desa ini, wisatawan akan merasakan suasana yang sangat berbeda. Keunikan desa ini sudah bisa terlihat saat wisatawan menaiki tangga pintu masuk desa. Meskipun sudah berusia ratusan tahun bangunan tua yang ada di sini masih terjaga sangat baik. Selain bangunan-bangunannya, yang unik dari desa ini ialah adanya sebuah meriam Belanda yang tidak pernah berpindah tempat. Dan, di dekat meriam itu terdapat batu-batu berwarna hitam dan panjangnya mencapai 10 meter. Menurut masyarakat Nias, batu panjang itu adalah tempat duduk raja Nias jika sedang menyampaikan sesuatu untuk rakyatnya. Wisatawan yang ingin mengunjungi desa wisata ini bisa memulai dari Bandara Polonia Medan, kemudian dilanjutkan menggunakan penerbangan lokal menuju Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias. Penerbangan ini memerlukan waktu tempuh lebih kurang 1 jam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan berbukit dan berkelok sejauh 15 kilometer. Dengan kondisi jalan yang sydah beraspal, wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Kebanyakan dari wisatawan yang berkunjung ke Desa Bawomataluo penasaran dengan tradisi lompat batu Nias yang sangat terkenal. Selain itu, mereka juga ingin melihat kebudayaan Nias lainnya secara langsung. Karena suasana tradisionalnya yang masih kenal, banyak yang mengatakan Desa Bawomataluo merupakan satu-satunya desa adat yang masih memegang teguh dan melestarikan tradisinya.
Desa Bawomataluo adalah sebuah desa yang cukup terkenal di Nias Selatan. Dari Teluk Dalam, kita dapat mencapai Desa Bawomataluo dengan perjalanan sepanjang 15 kilometer menggunakan kendaraan umum. Desa Bawomataluo terletak di sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Dibandingkan dengan desa-desa lain di Nias Selatan, Desa Bawomataluo adalah desa yang paling mudah dicapai. Untuk mencapai desa ini, kita harus menaiki 88 anak tangga batu. Dalam bahasa Nias, Bawomataluo mempunyai arti Bukit Matahari, Bawo artinya bukit dan Mataluo artinya matahari. Dan dari namanya, Desa Bawomataluo mempunyai daya tarik tersendiri. Posisinya yang terletak di daerah perbukitan membuat Desa Bawomataluo mempunyai hawa yang sejuk. Uniknya, seluruh permukaan daerah Desa Bawomataluo tersusun oleh bebatuan, tidak seperti daerah lainnya yang tertutup tanah.

Konon, Desa Bawomataluo sudah ada sejak jaman Megalitikum atau jaman batu besar. Buktinya adalah sebuah bangunan kuno berupa rumah adat raja Nias yang sekarang menjadi tempat tinggal dari keturunan ke-empat dari raja Nias. Selain itu ada juga balai musyawarah yang seluruh tempat duduknya terbuat dari bebatuan. Semua rumah penduduk Desa Bawomataluo mempunyai keseragaman, semuanya mempunyai bentuk yang sama, pondasinya terbuat dari kayu, dan atap rumahnya terbuat dari rumbia. Dahulu semua penduduk Desa Bawomataluo menganut ajaran animisme, dimana orang-orang menyembah patung-patung. Buktinya masih ada patung-patung sesembahan yang berupa harimau dan patung seperti manusia yang dipercayai sebagai dewa. Seluruh peninggalan patung tersebut sekarang disimpan di Museum Nias. Ketika ajaran agama Protestan memasuki wilayah Nias pada abad ke-19, perlahan-lahan penduduk Desa Bawomataluo memeluk agama Protestan. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan gereja tua yang didirikan pada awal abad ke-19 di Desa Bawomataluo. Keunikan lain Desa Bawomataluo adalah bahwa gambaran desa ini terlihat seperti sebuah lahan luas yang rata dengan batu dan dipenuhi deretan rumah-rumah penduduk yang saling berhadapan. Dari tangga masuk desa, kita bisa melihat deretan rumah penduduk dan rumah raja Nias di sebelah kiri dan deretan rumah adat penduduk dan sebuah balai desa di sebelah kanan. Walau telah berusia ratusan tahun, bangunan-bangunan itu masih utuh dan terjaga dengan baik. Bangunan-bangunan itu tidak pernah direnovasi kecuali atap rumah yang diganti dengan seng agar lebih awet. Selain bangunan-bangunan kuno, Desa Bawomataluo juga mempunyai sebuah meriam Belanda yang posisinya tidak pernah berpindah tempat, yaitu di depan balai musyawarah. Di dekat meriam Belanda itu, terdapat beberapa batu yang panjangnya sekitar 10 meter. Batu-batu itu permukaannya rata dan berwarna hitam sehingga terlihat unik. Konon, batu panjang itu adalah tempat duduk raja Nias ketika menyampaikan sesuatu kepada rakyatnya. Namun setelah agama Protestan masuk Desa Bawomataluo, batu panjang itu bisa diduduki siapa saja. Di Desa Bawomataluo juga terdapat batu istimewa yang berukuran panjang 90 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 2 meter. Batu itu digunakan sebagai alat untuk menguji kekuatan fisik lelaki Nias sebelum ia dianggap dewasa dan diperbolehkan menjadi prajurit raja Nias. Bagi penduduk Desa Bawomataluo, melompati batu tersebut adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan. Keluarga anak lelaki yang bisa melompati batu tersebut sering melakukan acara-acara besar seperti memotong ayam atau kambing. Sekarang tradisi lompat batu yang disebut Hombo Batu ini diadakan setiap hari Sabtu. (Foto dari Nias Bangkit)

Matahari belum lagi datang ke Bawomataluo ketika saya terbangun dari tidur yang lelap di rumah keluarga Ama Gersom, salah satu tokoh adat di desa yg memiliki ketinggian 364 meter di atas permukaan laut itu. Bergegas saya turun ke rumah Kepala Desa Ariston Manao untuk mandi dan urusan lainnya. Ya ya, romantisme suasana yang saya dapatkan di desa ini memang harus saya bayar dengan perjuangan turun dan naik tangga sebanyak 85 buah. Soal jumlah anak tangga ini bermacammacam persepsi orang, ada yg bilang 85, 87, 88.

Di Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, kini sedang musim panas. Matahari tambah menyengat di bukit ini. Karena panasnya itulah, nenek moyang warga di sini menyebutnya Bawomataluo: Bukit Matahari. Sinar surya terasa bertambah panasnya di desa ini, selain atap-atap seng yang menyilaukan dan menyimpan panas, halaman warga juga ditutupi semen dan batu. Tapi kehidupan di sini berlangsung dengan menyenangkan. Orang-orang bercakap dengan volume suara yang tinggi, dan ketika malam tiba, anak-anak muda bernyanyi riang dalam bahasa Nias selatan, sementara sebagian lainnya ngobrol hangat di warung-warung kopi hingga menjelang pagi. Jika ada yang tidak menyenangkan, adalah karena kemarau juga mengisap air tanah tanpa ampun. Maka jadilah, sepanjang waktu penduduk yang mendiami 264 rumah antre untuk mendapatkan air untuk mandi, cuci, dan urusan kakus. Ketika surya mulai meninggi, mendadak terdengar teriakan, "Furaà nawu, faigi nalito!" Seorang petugas keamanan mengingatkan penduduk agar warga mematikan api di dapur sebelum mereka pergi. Dia adalah salah satu petugas keamanan yang secara bergiliran sepanjang 24 jam hilir mudik membawa balatu sala (golok). O ya, jenis dan fungsi golok di sini ada beberapa: balatu sala, untuk keamanan, belewa gari untuk berkebun, dan tologu untuk perang dan upacara adat. Bawomataluo dan Tradisi Perang Menyaksikan Bawomataluo dari dekat, maka akan terasa pada kita betapa warga di sini memiliki tradisi kemiliteran yang luar biasa. Lihatlah dengan lokasi desa ini yang dibangun di pucuk bukit dengan luas 5 Ha. Untuk sampai ke wilayah ini, kita harus berjuang menaklukan tanjakan dengan kemiringan sekira 60 derajat. Pada empat penjuru terdapat undakan yang beragam ketinggian dan jumlahnya. Paling tinggi dan curam adalah undakan yang terdapat pada gerbang utara dan barat. Gerbang barat memiliki undakan berjumlah 85, sedangkan di utara lebih dari seratus undakan. Jelas, lokasi semacam ini adalah prototipe dari benteng pertahanan. Konon, dahulu Bawomataluo memang dikelilingi tembok sebagai perlindungan. Belum lagi tradisi yang kini masih dijalankan oleh warga desa tersebut. Mulai dari pengamanan 24 jam oleh petugas yang ditunjuk berjaga, hingga tradisi lompat batu yang masih lestari hingga kini, serta tarian perang (Maluaya ) yang melibatkan puluhan lelaki. Tradisi lompat batu atau dalam bahasa setempat disebut hombo batu, yang kini menjadi ikon wisata Nias, adalah olahraga yang bermula dari tradisi latihan perang warga setempat. Para lelaki di desa ini sejak usia muda telah dilatih lompat tinggi, sebelum akhirnya mampu melompat dengan ketinggian 2,1 meter. Menurut Hikayat, dengan keahlian lompat batu ini, para kstaria Bawomataluo mampu memenangi peperangan demi peperangan. Maka tak heran, wilayah kekuasaan Bawomataluo dulu mencapai sekitar 16 desa di sekitarnya. Tarian Maluaya, adalah gambaran dari para kstaria Bawomataluo ketika berada dimedan perang. Dengan tameng dan senjata berupa tombak dan golok, mereka dengan gesit dan berani menerabas pasukan musuh. Menuju Bukit Matahari

Ketika telah berada di bawomataluo, saya pun lantas ingat perjalanan seharian dariJakarta. Untuk mencapai lokasi desa ini perlu perjuangan yang cukup berat. Dari Bandara Soekarno Hatta misalnya, saya harus menempuh penerbangan sekitar 1 jam 55 menit menuju Medan. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan penerbangan lokal menuju Bandar Udara Binaka, Gunungsitoli, Nias dengan jarak tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Desa Bawomataluo dibangun sejak jaman Megalitikum atau batu besar, sekitar 300 tahun lalu. Bukti sejarah yang membuktikan desa ini telah berusia hampir 3 abad dapat dilihat dari sebuah bangunan kuno rumah adat raja Nias yang kini menjadi tempat tinggal dari keturunan ke-4 serta balai musyawarah yang semua tempat duduknya masih terbuat dari batu. Menurut catatan, dulu, semua penduduk di desa ini menganut animisme, aliran kepercayaan yang menyembah patung. Dengan adanya bukti berbagai koleksi patung yang mereka sembah, seperti harimau dan perwujudan manusia yang dipercaya sebagai dewa. Semua peninggalan patung tersebut kini tertata rapi dan masih terawat di Museum Nias. Namun, setelah ajaran agama Protestan mulai masuk ke daerah Nias sekitar abad ke-19, sekitar 90 persen penduduk desa Bawomataluo telah memeluk agama Protestan. Dengan adanya bukti sebuah bangunan gereja tua yang telah didirikan sekitar tahun 1900-an di desa ini. Bukan hanya bangunan rumah penduduk yang terlihat kuno, di desa ini juga terdapat sebuah meriam yang dibuat pada jaman Belanda sekitar 300 tahun lalu. Uniknya, posisi meriam tersebut dari dulu hingga kini tidak pernah berpindah tempat, di depan balai musyawarah warga desa Bawomataluo. Di sebelah meriam tersebut juga terdapat beberapa batu yang panjangnya mencapai kurang lebih 10 meter. Permukaan batu itu tampak rata dan berwarna hitam karena usia. Menurut cerita dari penduduk setempat, batu panjang tersebut dulu digunakan sebagai tempat duduk raja ketika Ia menyampaikan informasi atau berita kepada warganya. Namun, sejak agama Protestan masuk ke daerah Nias, batu ini telah berubah fungsi, menjadi tempat duduk dan bersantai bagi semua warga desa tanpa ada perbedaan status. __________

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful