Peduli Rakyat? Pikirkan Air Minum dan Sanitasi!

Hak Air

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
Diterbitkan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Penanggung Jawab Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Direktur Pengembangan Air Minum Kementerian Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Kementerian Dalam Negeri Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Kementerian Dalam Negeri Pemimpin Redaksi Oswar Mungkasa Dewan Redaksi Maraita Listyasari Nugroho Tri Utomo Redaktur Pelaksana Eko Budi Harsono Desain dan Produksi Agus Sumarno Sofyar Sirkulasi/Sekretariat Agus Syuhada Nur Aini Alamat Redaksi Jl. RP Soeroso 50, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 Situs Web: http//www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan.

Daftar

Isi

Dari Redaksi ............................................................................................................. 3 Suara Anda................................................................................................................ 4 Laporan Utama Majelis Umum PBB Sahkan Resolusi Hak Asasi Atas Air............................... 5 Hak Atas Air Sebagai Hak Asasi Manusia....................................................10 Sekilas HAK ASASI MANUSIA (HAM)...........................................................13 Regulasi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia........ 14 Agenda Hari Anti Kemiskinan Internasional, Sulitnya Akses Air Minum dan Sanitasi Bagian dari Kemiskinan.................16 Wacana Persoalan Hak atas Air dan Rumah (tulisan pertama)................................ 18 Negara Harus Menjamin Hak Rakyat Atas Air.............................................24 Peduli Rakyat? Pikirkan Air Minum dan Sanitasi!...................................... 28 Wawancara Nugroho Tri Utomo, Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas.......31 Hamong Santono........................................................................................34 A Patra M Zen, Direktur YLBHI....................................................................36 Inovasi Teknologi Oksidasi untuk Air Bersih .......................................................... 38 Tanah Liat Media Efektif Menjernihkan Keruhnya Air Gambut.................. 41 Sisi Lain Syariat Islam sebagai Solusi........................................................................ 45 Reportase Dialog Publik Waspadai Konflik Air Konflik Air Minum Perlu Diantisipasi Pemerintah Daerah......................... 46 30 % Kematian Balita Akibat Sanitasi Buruk...............................................48 Workshop HCTPS Bagi Guru SD DKI Jakarta Baru Tiga Persen Masyarakat Cuci Tangan Pakai Sabun.............................49 “Politik Air” Harus Jadi Perhatian Pemerintah Daerah...............................50 Sinergi Program Jejaring AMPL dengan GBCI.............................................53 Panduan Sejumlah Teknologi Mendapatkan Air Bersih ........................................... 54 Info CD..................................................................................................................... 55 Info Buku................................................................................................................. 56 Info Situs ................................................................................................................. 57 Pustaka AMPL......................................................................................................... 58 Fakta Perlu Investasi 150 Milliar US$ Cegah Krisis Air Dunia.............................. 59

Dari Redaksi

Edisi III, 2010

T

idak terasa kita telah melewati hari raya Idul Fitri 1431 Hijriah. Bagi para pembaca yang merayakannya kami menyampaikan Selamat Idul Fitri. Dari hati yang paling dalam kami memohonkan Maaf Lahir Bathin. Semoga kita semua menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi. Pada awal September, tiba-tiba saja kita semua mendengar berita tentang dikeluarkannya Resolusi Majelis Umum PBB terkait penetapan Hak Atas Air sebagai Hak Asasi Manusia. Sebagian kalangan mungkin terkejut tetapi banyak juga yang menerimanya biasa-biasa saja dengan berbagai alasan. Bisa saja karena sebenarnya hak asasi manusia telah menjadi pembicaraan yang hangat di Indonesia sejak satu dekade terakhir. Hal ini juga ditunjang oleh lahirnya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Walaupun sebenarnya ide tentang hak asasi manusia sendiri telah termaktub dalam UUD 1945. Sementara pengakuan Hak Atas Air sebagai Hak Asasi Manusia sendiri di Indonesia secara implisit telah teradopsi dalam regulasi yang ada. Dimulai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Sistem Penyediaan Air Minum.

Resolusi ini merupakan kemajuan luar biasa bagi pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan tidak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia. Menjadi suatu obsesi berkepanjangan bagi pemangku kepentingan bahwa hak atas air sebagai hak asasi manusia menjadi arus utama pembangunan di Indonesia. Dengan demikian, kita berharap masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan akses air minum dapat berkurang secara signifikan. Tentu saja, caranya tidak sederhana. Terutama mempertimbangkan masih banyaknya pemerintah daerah yang bahkan belum menyadari sepenuhnya bahwa penyediaan air minum merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Tentu saja jalan masih panjang. Dalam kaitan itu, kemudian kami ingin menjadikan momen keluarnya resolusi tersebut untuk kembali membangkitkan semangat kita semua akan besarnya tanggungjawab yang masih tersisa. Masih 100 juta lagi saudara kita yang belum tersentuh akses air minum. Menyerahkan sepenuhnya tanggungjawab penyediaan air minum kepada pemerintah daerah juga bukan pilihan yang bijak. Kita semua seyogyanya bersama-sama bahu membahu dengan pemerintah daerah menuntaskan pekerjaan rumah ini. Sebagaimana salah satu prinsip hak asasi manusia yaitu saling membantu dan bersinergi mencapai tujuan bersama. Mari. Tunggu apa lagi (OM).
POKJA

3

Suara Anda
Kuliah Kerja di Majalah Percik
Perkenalkan nama saya Muhammad Chaidir, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo Beragama Jakarta. Saya membaca majalah Percik yang berada di Perpustakaan Kampus beberapa waktu lalu. Melihat isi serta sejumlah isu yang secara khusus membahas tentang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang disaji kan begitu lugas, cerdas dan bernas membuat saya tertarik untuk membuat Tugas Akhir Terkait dengan fungsi media yang bapak kelola terkait dengan pembangunan AMPL di Indonesia. Saya sangat berharap pengelola Majalah Percik bersedia memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian untuk tugas akhir saya tentang Fungsi Media Internal Dalam Program Pemerintah Percepatan Pembangunan AMPL. Jika bapak bersedia saya akan kirimkan surat pengantar dari Kampus serta Proposal Tugas Akhir Saya. Terimakasih. Salam Percik Muhammad Chaidir Universitas Moestopo Jakarta Terimakasih atas perhatian dan kepercayaan anda terhadap Majalah Percik. Silahkan saja kirimkan secara resmi permohonan anda untuk melakukan penelitian. Dengan senang hati kami akan membantu. Salam Percik

gaimana kalau air sudah tidak kita dapati lagi? Bencana kekeringan yang menimpa, selain bencana banjir yang begitu dahsyat terjadi karena kesalahan mahluk di dunia ini yang begitu serakah dan tidak peduli dengan kondisi alamnya. Begitu besar kekuatan air dalam kehidupan ini, karena itulah sayangilah air dengan menggunakannya sebaik-baiknya. Selain itu, kekuatan air akan semakin bertambah dan berpengaruh positif pada diri kita bila saat hendak menggunakan air, misalnya mau minum, kita berdoa terlebih dahulu. Hal tersebut dibuktikan oleh profesor dari Jepang dengan penelitiannya tentang air yang akan berubah tekstur dan kristalnya sesuai kondisi pemakainya. Karena itu gunakanlah kekuatan postif air dengan menggunakannya dengan penuh kasih sayang. Rini Utami Azis Solo, Jawa Tengah.

Banyaknya bunuh diri yang sekarang sedang merajalela karena merasa tekanan hidup yang tinggi, yang sulit untuk dijalani. Masihkan pemerintah tidak memperhatikan hak-hak dasar seperti air, pendidikan dan kesehatan? Bukankah rakyat tidak pernah menuntut sesuatu yang berlebihan? Mereka hanya membutuhkan terpenuhinya hak-hak mereka. Untuk menangis meratapi nasib pun kita akan berpikir karena kita akan mengeluarkan “air mata”. Sekali lagi, kita perlu berhati-hati dengan masalah air, sekali salah langkah, bukan nyawa saja yang tergadaikan, tetapi juga masa depan anak cucu. Maftuhah Menteng, Jakarta.

Jangan Gunakan Botol Plastik Berulang

Liberalisasi Air Semakin Memprihatinkan

Mari Kita Hormati Air

Siapakah yang bisa hidup tanpa air? Begitu besar keguanaan air dalam kehidupan di dunia ini. Saat kita gerah dan kotor setelah beraktifitas sehari-hari, kita menyiramkan badan kita dengan air untuk mandi. Kemudian kita meneguk air kalau dahaga, dan begitu banyak sekali aktifitas kehidupan kita yang sangat bergantung pada air. Begitu lekatnya air dalam kehidupan kita, sehingga bisa saja ada yang tidak menyadari manfaatnya. Manfaat itu baru terasa bila kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Ketika saluran air mengalami gangguan, dan keluarnya air menjadi mampat dan kotor, itu sudah sangat meresahkan kita. Ba-

Gelombang liberalisasi tampaknya sudah tak terbendung lagi. Semua aspek hidup kita terpaksa harus tunduk pada kesepakatan-kesepakatan internasional yang hanya mem perhatikan pemilik modal besar. Telah tampak adanya diskriminasi karena privatisasi air. Kebijakan yang tidak pro dengan rakyat ketika air adalah bisnis, maka ia kemudian tak sekedar bergerak mencari keuntungan, tetapi juga bagaimana dapat mengikat dan lalu memperdaya orang sehingga mau tunduk terhadapnya, terhadap kekuasaan yang menguasainya. Pengelolaan air tidak lagi mempertimbangkan bagaimana melakukan pengelolaan air dalam suatu sistem yang sanggup memberi pelayanan air kepada masyarakat secara adil, merata dan terjangkau. Air adalah kebutuhan dasar manusia, sebab itu air tak boleh dikomersialisakan sebagai kebutuhan dasar masyarakat, telah dijamin dalam konstitusi negara pada pasal 33 UUD 1945. Contohnya di Batam, daerah pemukiman elit menjadi prioritas utama, sementara daerah-daerah perkampungan dan kumuh tidak tersentuh, seperti Teluk Lenggung, Pungur yang masih mengkonsumsi air sumur sampai saat ini, padahal menurut hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan air di wilayah tersebut tidak layak konsumsi karena mengandung bakteriologi positif tinggi dan pH di bawah batas syarat. Sementara beberapa meter dari pemukiman warga berdiri instalasi pengelolaan air (IPA).

Botol dan gelas air minum dalam kemasan (AMDK) sering kembali digunakan. Bahkan, botol atau gelas itu dipakai berulang-ulang. Padahal sebenarnya, kemasan tersebut hanya untuk sekali pakai. Ada standar kesehatan yang harus dipenuhi produsen AMDK. Standar ini bertujuan meminimalkan bakteri yang ada di dalam kemasan. Kalau segelnya sudah dibuka, hendaknya botol tidak dipakai lagi. Sebab, AMDK dibuat dari bahan polyethylene terephthalate atau PET yang mengandung karsinogen (penyebab kanker). Zat itu membahayakan kesehatan tubuh bila terminum. Melalui serangkaian standar sterilisasi botol, saat masih tersegel, zat tersebut bersifat tidak aktif. Jumlah bakteri yang ada dalam AMDK pun dipastikan tak melampaui ambang batas toleransi. Namun jangan salah botol air minum bukan hanya bisa dibuat dengan PET, tapi juga dengan PVC (Poly Vinyl Chloride), dah ini jauh lebih berbahaya karena bisa menimbulkan hujan asam bila dibakar. Bahkan PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Perubahan penggunaan PVC ke PET sebenarnya sudah dimulai tahun 1988. Semoga saja sekarang tidak ada lagi perusahaan yang menggunakan PVC. Penggunaan botol atau gelas AMDK berulang membuat karsinogen tersebut larut dalam air yang kita minum. Terutama bila dilakukan dalam jangka panjang. Jika memang terpaksa menggunakan lagi botol atau gelas minuman kemasan perlu dicuci dengan sabun yang mengandung disninfektan atau antikuman. Sabun cuci untuk perabot rumah tangga sudah memenuhi standar ini. Wahyu, Surabaya

4

Laporan Utama

Edisi III, 2010

A

Hak Azasi Atas Air
Dalam resolusi tersebut Majelis Umum PBB mendesak seluruh masyarakat internasional dan Negara yang menandatangani resolusi untuk meningkatkan usaha menyediakan air dan sanitasi yang aman, bersih, dan mudah untuk dijangkau bagi seluruh manusia.” “Keterbatasan akses ke air minum membunuh lebih banyak anak-anak dibandingkan jumlah anak yang meninggal dunia akibat AIDS, malaria, dan campak,” kata Ketua Dewan HAM PBB dari Bolivia, Pablo Solon dalam situs resmi PBB. Data Program Lingkungan Hidup PBB memperkirakan 884 juta penduduk dunia tidak memiliki akses untuk mendapatkan air minum yang aman dan 2,6 milyar orang memiliki akses terbatas untuk fasilitas sanitasi yang layak. Kesulitan akses tersebut menyebabkan antara lain 1,5 juta balita meninggal dunia akibat penyakit yang terkait dengan air minum dan sanitasi yang layak. Resolusi Hak Atas Air minum tersebut disahkan melalui voting yang diikuti 163 negara anggota PBB. Tidak ada negara yang menolak resolusi ini. Terdapat 122 negara termasuk China, Rusia, Jerman, Prancis, Spanyol, dan Brazil mendukung resolusi tersebut. Sementara 41 negara, seperti Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Botswana menyatakan abstain. Sebagian negara yang abstain menyatakan, resolusi tersebut tidak menjelaskan cakupan hak atas air minum dan kewajiban yang

Majelis Umum PBB Sahkan Resolusi

wal bulan September lalu, masyarakat dunia, khususnya praktisi, pegiat lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat serta aktivis dibidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan dibuat terkejut dengan terbitnya Resolusi Majelis Umum PBB yang menegaskan bahwa akses memperoleh air minum dan sanitasi yang layak merupakan bagian dari hak asasi manusia. Jelasnya, resolusi Majelis Umum PBB tersebut bertajuk: “Hak untuk mendapatkan air minum dan sanitasi yang bersih dan aman merupakan bagian dari hak asasi manusia, dan merupakan elemen penting untuk menikmati hak atas hidup secara menyeluruh.”

5

Laporan Utama
ISTIMEWA

harus dilakukan untuk memenuhi hak tersebut. Menyikapi resolusi tersebut, pakar AMPL, Hening Darpito mengatakan pada awalnya ada kekhawatiran bahwa resolusi hak atas air dan sanitasi ini prematur, ternyata sebaliknya dalam voting, resolusi ini malah memperoleh tanggapan positif oleh hampir semua peserta sidang. Jalan Panjang Diawali pada tahun 1948 ketika Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) diumumkan dan dilanjutkan pada tahun 1966 ketika International Covenants on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) dan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), air tidak disebut eksplisit sebagai hak asasi tetapi disebutkan sebagai bagian tidak terpisahkan dari hak asasi yang telah disepakati yaitu hak untuk hidup, hak untuk kehidupan yang layak, hak un-

tuk kesehatan, hak untuk perumahan dan hak untuk makanan. Setelah itu barulah disebutkan secara lebih eksplisit walaupun masih sebagai bagian dari suatu konvensi dengan tema lain seperti misalnya yang tertuang dalam pasal 14 ayat (2) huruf h The Convention on the Elimination all of Forms Discrimination Against Women-(CEDAW 1979), bahwa negara pihak harus mengambil langkah-langkah yang terukur untuk menghapuskan berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan, khususnya menjamin hak-hak perempuan untuk menikmati standar kehidupan yang layak atas sanitasi dan air minum yang sehat. Demikian juga dalam pasal 24 The Convention on The Right of The Child-CRC 1989 yang menyatakan bahwa dalam upaya mencegah malnutrisi dan penyebaran penyakit maka setiap anak memiliki hak atas air minum yang bersih. Kemudian dilanjutkan dengan

P

Water Right dan Right to Water

emahaman atas pengertian Water Right dan Right to Water sering kabur, kedua istilah itu sering diartikan sama dalam Bahasa Indonesia yaitu Hak atas Air. Padahal kedua istilah tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda. Kekuasaan untuk mengambil air dari alam sering disebut sebagai Water Right yang mengandung pengertian sebagai berikut : l Mengambil atau mengalihkan dan menggunakan sejumlah air dari sebuah sumber alamiah l Mengumpulkan sejumlah air dari sebuah sumber air ke dalam suatu tempat seperti bendungan atau struktur lainnya atau l Menggunakan air di sumber alaminya. Water Right merupakan suatu alat yang dikeluarkan oleh negara sebagai institusi yang menguasai air kepada perseorangan atau badan usaha yang secara hukum disebut sebagai ‘licences’, ‘permissions’, ‘authorisations’, ‘consents’ and ‘concessions’ untuk memanfaatkan air. Water right dalam terminologi ekonomi dipakai sebagai alat untuk menarik restribusi atas air yang dimanfaatkan. Pengertian tersebut jelas sangat berbeda dengan Right to Water seperti yang dipahami dalam kajian Hak Asasi Manusia. Hukum yang mengatur Water Right memiliki asumsi bahwa air adalah komoditi yang membutuhkan perlindungan hukum bagi pihak-pihak yang menguasainya. Water Right dapat lebih diartikan sebagai Hak Memiliki Air. Perbedaannya adalah air sebagai sebuah kebutuhan (untuk dimiliki) dan air sebagai sebuah hak. The Right to Water (air sebagai sebuah hak) lebih ditekankan pada air sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia yang bermartabat, oleh karena itu Hak Atas Air adalah sesuatu yang mutlak dan telah memunculkan kewajiban bagi Negara untuk mengakuinya.

pernyataan dan himbauan melalui Deklarasi Millenium yang mencetuskan proyek MDGs (Millenium Development Goals), yang merupakan komitmen para kepala negara/ pemerintahan anggota PBB untuk memerangi kemiskinan global antara 2000-2015 menyerukan kepada pemerintah agar “menyediakan akses air bersih dan sanitasi yang memadai bagi masyarakat yang saat ini belum bisa menikmatinya”. Tetapi pernyataan yang eksplisit dan secara khusus menyebut air baru terjadi pada tahun 2002, ketika Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya PBB dalam komentar umum Nomor 15 memberikan penafsiran yang lebih tegas terhadap pasal 11 dan 12 Konvensi Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang menyatakan hak atas air tidak bisa dipisahkan dari hak-hak asasi manusia lainnya, yaitu air tidak hanya sebagai komoditas ekonomi dan akses terhadap air (right to water) adalah hak asasi manusia. ” The human

6

Edisi III, 2010

right to water entitles everyone to sufficient, affordable, physically accessible, safe and acceptable water for personal and domestic uses.” Hak atas air juga termasuk kebebasan untuk mengelola akses atas air. Elemen hak atas air harus mencukupi untuk martabat manusia, kehidupan dan kesehatan. Kecukupan hak atas air tidak bisa diterjemahkan dengan sempit, hanya sebatas pada kuantitas volume dan teknologi. Air harus diperlakukan sebagai barang social dan budaya, tidak semata-mata sebagai barang ekonomi. Dalam Komentar Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Comments) pada Komite untuk Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (Committee on Economic, Social, and Cultural Rights) Nomor 15, hak asasi manusia atas air terdiri dan dua komponen penting, yaitu kebebasan (freedom) dan pengakuan (entitlements). Kebebasan dimaksudkan tidak adanya intervensi yang bisa menyebabkan ter-

cerabutnya hak asasi manusia atas air, misalnya terkontaminasinya air yang dikonsumsi. Pengakuan adalah hak atas sistem dan manajemen air yang memungkinkan setiap orang mempunyai kesempatan dan akses yang sama atas air. Upaya Pemerintah Sebagaimana hak asasi manusia lainnya posisi negara dalam hubungannya dengan kewajibannya yang ditimbulkan oleh hak asasi manusia, negara harus menghormati (to respect) yaitu mengharuskan negara mencegah terganggunya langsung/tidak langsung pemenuhan hak atas air, melindungi (to protect) yaitu mengharuskan negara mencegah keterlibatan pihak ketiga (perusahaan) dalam pemenuhan hak atas air, dan memenuhinya (to fulfill) yaitu mengharuskan negara mengambil langkah untuk mencapai pemenuhan hak atas air sepenuhnya. Dalam konteks menghormati, pemerintah Indonesia telah meratifikasi

kovenan internasional tentang hak ekonomi, sosial, budaya melalui UU Nomor 11 Tahun 2005 sehingga negara harus memenuhi hak masyarakat termasuk kebutuhan akan air minum. Upaya pemerintah pun terlihat serius dengan keluarnya UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang dalam pasal 5 menyatakan bahwa negera menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih dan produktif. Lebih lanjut penjabaran hak atas air yang tertuang dalam UU menyebutkan bahwa masyarakat memiliki hak untuk (i) memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air; (ii) memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan pengelolaan sumber daya air; (iii) memperoleh manfaat atas pengelo-

7

Laporan Utama
laan sumber daya air; (iv) menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan sumberdaya air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat; (v) mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolaan sumberdaya air; dan/ atau (vi) mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah sumberdaya air yang merugikan kehidupannya. Sementara hak masyarakat diatur lebih jauh dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum sebagai turunan UU Nomor 7 Tahun 2004, yang dalam hal ini adalah pelanggan adalah (i) memperoleh pelayanan air minum yang memenuhi syarat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sesuai dengan standar yang ditetapkan; (ii) mendapatkan informasi tentang struktur dan besaran tarif serta tagihan; (iii) mengajukan gugatan atas pelayanan yang merugikan dirinya ke pengadilan; (iv) mendapatkan ganti rugi yang layak sebagai akibat kelalaian pelayanan; dan (v) memperoleh pelayanan pemPOKJA

buangan air limbah atau penyedotan lumpur tinja. Bahkan secara teknis kualitas air minum telah diatur tersendiri dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk memastikan kepentingan masyarakat terlindungi. Walaupun demikian, pemerintah dianggap telah gagal memenuhi hak masyarakat tersebut. “Upaya pemerintah Indonesia untuk melindungi dan menghormati hak atas air minum masih terlalu jauh dari harapan masyarakat,” kata Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (Kruha) Hamong Santono. “Laporan yang disusun oleh UNESCAP, ADB, dan UNDP, juga secara tegas menyatakan bahwa Indonesia berada di jalur yang lambat dalam pemenuhan target air minum dan sanitasi dalam MDGs,” tuturnya. Salah satu pemicu rendahnya akses masyarakat terhadap air minum itu adalah kecilnya anggaran yang dialokasikan pemerintah. Tahun 2005 lalu, anggaran yang dikeluarkan hanya Rp.500 miliar dan tahun 2010 Rp.3 triliun. Padahal, kebutuhan anggaran untuk pembangunan air minum dan sanitasi berkisar 2 sampai 3 kalinya. “Perlu komitmen dan agenda politik yang lebih jelas soal hak atas air masyarakat. Kita jangan asal ikut menandatangani resolusi namun tidak tahu setelah itu akan kemana persoalan air minum dan sanitasi dasar masyarakat bergerak,” ujar Hamong, Namun kembali kepada salah satu prinsip pemenuhan hak asasi manusia, bahwa prosesnya harus memperhatikan kemampuan dari masingmasing pemerintah. Terpenting dari semuanya adalah adanya keinginan yang kuat dari pemerintah mencapai target pemenuhan hak atas air. Hal ini sudah terlihat jelas jika memban-

8

Edisi III, 2010
dingkan kenaikan alokasi anggaran air minum dan penyehatan lingkunngan naik hampir enam kali lipat pada kurun waktu lima tahun mendatang (2010-2014) dibanding kurun waktu lima tahun sebelumnya (2005-2009). Pemerintah Daerah sebagai Ujung Tombak Seringkali aktor utama dari pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan terlupakan. Berdasarkan regulasi yang ada, pemerintah daerah lah yang saat ini menjadi pihak yang bertanggungjawab menyediakan air minum. Menjadi pertanyaan penting, sejauh mana konsep hak atas air sebagai hak asasi manusia telah dipahami oleh pengambil keputusan di daerah. Jika itu saja belum terlaksana, jangan berharap banyak bahwa resolusi PBB tersebut akan berdampak bagi peningkatan akses air minum di Indonesia. Kalapun telah dipahami, menjadi langkah berikutnya untuk mengetahui sejauhmana pemahaman tersebut telah terinternalisasi dalam dokumen perencanaan pemerintah daerah, semisal rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerh (RPJMD). Demikian selanjutnya sampai teralokasikan dana yang terfokus pada kelompok marjinal. Menjadi tugas pemerintah pusat dan pemerintah propinsi menjadikan pemahaman hak atas air sebagai hak asasi manusia menjadi bagian dariarus utama pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan di daerah. Dibutuhkan upaya advokasi baik ke pihak eksekutif maupun legislatif, dilanjutkan dengan internalisasi melalui peninjauan kembali dokumen RPJMD, sehingga terlihat jelas peningkatan dramatis dari alokasi anggaran AMPL khususnya bagi mereka yang termarjinalkan. Sepertinya dibutuhkan waktu yang cukup lama dengan mempertimbangkan terdapat

Dalam Lokakarya Hak Atas Air yang diselenggarakan oleh Pokja AMPL di Bogor beberapa waktu lalu, Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia, Harkristuti Harkrisnowo dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Direktur Kerjasama HAM, Dimas Samudera Rum menegaskan,air merupakan benda yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan mahluk hidup. Tanpa air mahluk hidup tidak akan mampu mempertahankan kehidupannya. Namun dalam kenyataannya dunia mengalami permasalahan dengan air yang disebabkan berbagai faktor, antara lain laju pertumbuhan penduduk dunia yang cepat, serta pengelolaan air yang tidak berkelanjutan yang saat ini dilaksanakan. Disampaikan pula bahwa dalam sambutan tersebut sejumlah kebijakan internasional terkait hak atas air seperti CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women), CRC (Convention on the Rights of the Child) dan ICESCR (International Covenant on Civil and Political Rights dan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights). Termasuk juga ECOSOC DECLARATION (Deklarasi Ekonomi, Sosial, dan Budaya) PBB pada bulan November 2002. Sementara Indonesia sendiri mencantumkan pengakuan atas hak dasar tersebut sejak awal di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang menyatakan “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Dengan demikian, negara bertanggung jawab menjamin penyediaan air yang bagi setiap individu warga negara.

ISTIMEWA

Sejumlah Masalah di Sektor Air Jadi Perhatian Pemerintah

Dirjen HAM, Harkristuti Harkrisnowo:

sekitar 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tugas Bersama Jadi dibutuhkan tentunya sedikit kesabaran bagi kita semua untuk dapat melihat hasil dari upaya pemerintah. Tentunya kerjasama dari semua pihak, dan ini juga merupakan salah satu prinsip pemenuhan hak asasi yaitu saling ketergantungan, men-

jadi suatu keniscayaan. Pemenuhan hak atas air sebagai hak asasi manusia tidak akan tercapai jika pemerintah dibiarkan berjuang sendiri. Mari kita bekerjasama. Masih sekitar 100 juta saudara kita belum memperoleh akses terhadap air minum. Sebagian terbesar dari mereka berasal dari kelompok yang termarjinalkan (OM)

9

Laporan Utama

A

sebagai Hak Asasi Manusia
berkurang; (iv) masyarakat dan warga yang termarjinalkan akan diberdayakan untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan; (v) negara menjadi lebih fokus pada pemenuhan kewajibannya karena dipantau secara internasional. Siapa Paling Terdampak Berbicara tentang hak atas air sebagai hak asasi manusia, terdapat beberapa kelompok yang sangat terdampak oleh perubahan yang akan terjadi. Mereka terdampak terutama karena selama ini terabaikan haknya dan menjadi kelompok yang dengan berbagai alasan normatif dan legal tidak menjadi target penyedia layanan air minum. Kaum miskin. Daintara kelompok yang terdampak, kaum miskin lah yang paling menderita. Hal ini terlihat dari data yang menunjukkan 80 persen dari yang tidak mempunyai akses air minum adalah kaum miskin, terutama miskin perdesaan. Perempuan. Perempuan di banyak komunitas mendapat status yang lebih rendah dibanding pria. Mereka mendapat tugas mengumpulkan atau mencari air untuk kebutuhan rumah tangga. Data menunjukkan 70 persen dari 1,3 miliar penduduk yang sangat miskin adalah wanita (WHO, 2001).

Hak Atas Air

POKJA

ir dalam sejarah kehidupan manusia memiliki posisi sentral dan merupakan jaminan keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Air berhubungan dengan hak hidup sesesorang sehingga air tidak bisa dilepaskan dalam kerangka hak asasi manusia. Pengakuan air sebagai hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa air merupakan kebutuhan yang demikian penting bagi hidup manusia, di pihak lain perlunya perlindungan kepada setiap orang atas akses untuk mendapatkan air. Demi perlindungan tersebut perlu dipositifkan hak atas air menjadi hak yang tertinggi dalam bidang hukum yaitu hak asasi manusia. Pentingnya Hak Atas Air sebagai Hak Asasi Tanpa disadari sebenarnya banyak manfaat dari ditetapkannya hak atas air sebagai hak asasi. Seperti misalnya (i) air menjadi hak yang legal, lebih dari pada sekedar layanan yang diberikan berdasar belas kasihan; (ii) pencapaian akses dasar harus dipercepat; (iii) mereka yang terabaikan menjadi lebih diperhatikan sehingga kesenjangan dapat

Riset menunjukkan bahwa rata-rata rumah tangga di Afrika menghabiskan 26 persen waktunya untuk mengumpulkan air, dan umumnya wanita lah yang menjalankan tugas ini (DFID, 2001). Kondisi ini menghalangi wanita bekerja, bahkan bersekolah. Anak-Anak. Kondisi air yang tidak memadai meningkatkan peluang anak-anak menderita penyakit. Sistem kekebalan mereka belum sepenuhnya terbangun. Anak-anak juga seringkali berbagi tugas dengan kaum perempuan sebagai pengumpul air. Akibatnya, di banyak negara anak-anak banyak yang tidak bersekolah. Masyarakat Asli. Sebenarnya masyarakat asli inilah yang memanfaatkan sumber air tradisional. Namun dengan berkembangnya suatu daerah, sumber air tersebut kemudian banyak yang tercemar atau dimanfaatkan melebihi kapasitasnya. Kondisi ini kemudian menjadikan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan air. Prinsip Utama Prinsip utama hak asasi manusia terkait pembangunan air minum dan sanitasi diantaranya adalah (i) kesetaraan dan tanpa diskriminasi. Kedua prinsip ini merupakan paling utama

10

Edisi III, 2010
diantara prinsip dasar kerangka hak asasi manusia. Menyatukan prinsip ini kedalam kebijakan pembangunan AMPL memerlukan upaya khusus untuk mengidentifikasi individu dan kelompok yang paling marjinal dan rawan terkait ketersediaan akses air minum dan sanitasi. Selain juga memerlukan tindakan proaktif untuk memastikan individu dan kelompok marjinal termasuk dalam sasaran dan menjadi fokus intervensi. Kelompok ini diantaranya wanita, anak-anak, penduduk pedesaan, permukiman kumuh, miskin, penduduk yang sering berpindah, pengungsi, orang tua, masyarakat terasing, orang cacad, dan penduduk daerah rawan air. Mengembangkan data terpadu terkait kelompok ini menjadi suatu keniscayaan. Isu utama yang sering dibicarakan adalah keterjangkauan (affordability) tanpa membedakan penyedianya oleh swasta atau pemerintah. Pemerintah bertanggungjawab memastikan bahwa air terjangkau oleh seluruh kalangan bahkan mereka yang tidak mampu membayar. Bentuk upaya tersebut diantaranya berupa penyediaan sejumlah tertentu air secara gratis, sistem blok tarif, mekanisme susidi silang dan subsidi langsung. (ii) aman dan dapat diterima. Air harus aman untuk penggunaan domestik, dan jumlah minimum harus tersedia untuk air minum; (iii) layanan terjangkau. Apa yang disebut terjangkau itu?. Pembayaran dianggap tak terjangkau ketika mengurangi kemampuan seseorang membeli barang kebutuhan dasar lainnya seperti makanan, rumah, kesehatan dan pendidikan. Tidak dianjurkan bagi rumah tangga mengeluarkan dana untuk air minum lebih besar dari 3% pendapatannya; (iv) layanan dapat di akses. Kapan layanan dianggap dapat di akses?. Pemerintah harus memastikan akses terhadap air tersedia di dalam atau dekat rumah, sekolah atau tempat kerja. Jika tidak memungkinkan, maka kondisi yang dapat ditolerir adalah waktu yang dibutuhkan ke sumber air maksimal 30 menit. Keamanan ketika mengambil air juga dipertimbangkan; (v) air yang memadai. Berapa banyak kebutuhan air per orang dianggap sebagai kebutuhan minimum?. PBB mengindikasikan bahwa air harus memadai untuk kebutuhan minum, sanitasi, cuci pakaian, dan masak. Dibutuhkan setidaknya 20 liter per orang per hari. Jika sumber air memadai maka jumlah minimum sebaiknya menjadi 100 liter; (vi) informasi yang mudah di akses. Hak atas air sebagai hak asasi memungkinkan tersedianya akses terhadap informasi tentang strategi dan kebijakan pemerintah, dan memungkinkan masyarakat berpartisipasi. Hak Atas Air sebagai Prasyarat Hak Asasi Lainnya Hak atas air menjadi prasyarat pemenuhan hak asasi lainnya. Sebagai ilustrasi (i) Hak atas makanan. Konsumsi air tidak aman menghambat upaya pemenuhan nutrisi dasar dan selanjutnya hak aatas makanan; (ii) hak atas kehidupan dan hak atas kesehatan. Kekurangan air yang amanmenjadi penyebab utama kematian bayi di seluruh dunia; (iii) hak atas pendidikan. Mengambil air di banyak negara merupakan tugas anak perempuan dan wanita. Padahal waktu dan jarak tempuh kadang-kadang membutuhkan lebih dari 2 jam perjalanan sehingga menghalangi mereka untuk hadir di sekolah. Termasuk ketidakhadiran karena sakit akibat diare; (iv) hak atas perumahan. Ketersediaan air minum menjadi persyaratan sebuah rumah yang layak huni. Kewajiban Negara Isu yang timbul kemudian adalah bagaimana posisi negara dalam hubungannya dengan air sebagai benda publik atau benda sosial yang bahkan telah diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia. Berdasar komentar umum Nomor 15 dari Komite PBB tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya bahwa hak atas air sebagaimana hak asasi lainnya menghasilkan tiga tipe kewajiban bagi negara yaitu kewajiban menghargai (to respect), kewajiban melindungi (to protect), dan kewajiban memenuhi (to fulfil). Kewajiban menghormati: memelihara akses yang ada. Kewajiban ini mengharuskan negara tidak mengganggu baik langsung maupun tidak langsung keberadaan hak atas air. Kewajiban termasuk misalnya tidak membatasi akses kepada siapapun. Kewajiban melindungi: mengatur pihak ketiga. Kewajiban ini mengharuskan negara untuk menghalangi campur angan pihak ketiga dengan cara apapun keberadaan hak atas air. Pihak ketiga termasuk individu, kelompok, perusahaan dan institusi yang dibawah kendali pemerintah. Kewajiban termasuk mengadopsi regulasi yang efektif. Kewajiban memenuhi: fasilitasi, promosi dan penyediaan. Kewajiban ini mengharuskan pemerintah mengambil langkah untuk memenuhi hak atas air. Bagaimana dengan pemerintah daerah? Sebenarnya penentu utama tercapainya hak atas air sebagai hak asasi manusia berada ditangan pemerintah daerah. Komentar Umum PBB Nomor 15 menegaskan bahwa pemerintah pusat harus memastikan bahwa pemerintah daerah mempunyai kapasitas baik sumber daya keuangan maupun sumber daya manusia untuk menyedia-

Kesalahpahaman terhadap Hak Atas Air
Air sebagai Hak Asasi tidak berarti.... l..bahwa air disediakan secara gratis kepada semua. l..bahwa setiap rumah harus dilayani melalui sambungan langsung bahkan jika tidak layak secara finansial l..bahwa pemerintah sendiri yang harus menyediakan layanan dan tidak boleh mendelegasikan ke pihak non pemerintah.

11

Laporan Utama
kan layanan air minum. Ditambahkan juga bahwa layanan tersebut harus memenuhi prinsip hak asasi manusia. Indikator Pemenuhan Hak Atas Air Kecukupan air sebagai prasyarat pemenuhan hak atas air, dalam setiap keadaan apa pun harus memenuhi faktor berikut (i) ketersediaan. Suplai air untuk setiap orang harus mencukupi dan berkelanjutan untuk kebutuhan individu dan rumah tangganya; (ii) kualitas. Air untuk setiap orang atau rumah tangga harus aman, bebas dari organisme mikro, unsur kimia dan radiologi yang berbahaya yang mengancam kesehatan manusia; (iii) mudah diakses. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus dapat diakses oleh setiap orang tanpa diskriminasi. Kemudahan akses ditandai oleh (a) mudah diakses secara fisik. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus dapat dijangkau secara fisik bagi seluruh golongan yang ada di dalam suatu populasi; (b) terjangkau secara ekonomi. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus terjangkau untuk semuanya. Biaya yang timbul, baik secara langsung maupun tidak langsung dan biaya lain yang berhubungan dengan air harus terjangkau; (c) non-diskriminasi. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus dapat diakses oleh semua, termasuk kelompok rentan atau marjinal, dalam hukum maupun keadaan nyata lapangan tanpa diskriminasi; (d) akses informasi. Akses atas air juga termasuk hak untuk mencari, menerima dan bagian dari informasi sehubungan dengan air. Mewujudkan Air sebagai Hak Asasi Pada kenyataannya, sejumlah faktor dibutuhkan untuk memastikan air sebagai hak asasi. Pertama, pemerintah harus memiliki regulasi dan intitusi yang efektif, termasuk otoritas publik yang mempunyai mandat jelas yang dibekali sumber dana dan sumber daya manusia memadai. Kedua, informasi dan pendidikan. Ini dibutuhkan untuk memastikan pengelolaan air yang transparan dan bertanggungjawab. Masyarakat harus mengetahui dan memahami hak mereka. Tentunya sebaliknya juga

Belgia. Dana sosial diperkenalkan dan dibiayai melalui sumber iuran air. Pendapatan dari dana sosial digunakan oleh lembaga sosial untuk menutup biaya layanan bagi masyarakat termiskin. Selain itu diterapkan konsumsi air gratis maksimal 15 m3 per keluarga. Porto Alegre, Brazil. Perusahaan publik penyedia air minum menerapkan proses perencanaan anggaran partisipatif. Dalam pertemuan publik, setiap warga bebas berbicara tentang prioritas anggaran. Model ini menghasilkan pertambahan dramatis dalam akses air minum bagi komunitas miskin. Afrika Selatan. Setiaop institusi layanan air minum harus mempunyai unit layanan konsumen yang akan menerima setiap keluhan. Kementerian Urusan Air dipersyaratkan mempunyai sistem informasi nasional yang dapat di akses oleh masyarakat.

Praktek Unggulan

Pertanyaan yang Sering Mengemuka

• Apakah 20 liter per kapita per hari sudah memadai sebagai pemenuhan hak asasi?. TIDAK. 20 liter per kapita per hari kebutuhan paling minimum tetapi masih belum dapat mencukupi kebutuhan terkait aspek kesehatan. Untuk itu, kebutuhan minimum yang sebaiknya dipenuhi berkisar antara 50 sampai 100 liter per kapita per hari. •Apakah biaya untuk mencapai terpenuhinya kebutuhan air menjadi penghalang.?. TIDAK. Memang betul bahwa biaya yang dibutuhkan besar. Namun, terbukti bahwa biaya yang dikeluarkan sebagai akibat tidak terpenuhinya kebutuhan air minum bahkan jauh lebih besar, dalam bentuk menurunnya kualitas kesehatan masyarakat, kehilangan waktu produktif dan ketidakhadiran di sekolah. Selain itu, kebutuhan tersebut tidak harus dipenuhi dalam waktu sekejap, tetapi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pemerintah. • Apakah setiap orang bahkan yang tinggal di daerah terpencil dipersyaratkan mendapat akses air minum melalui sistem perpipaan? TIDAK. Pemerintah hanya harus memastikan setiap orang mempunyai akses yang memenuhi standar (ketersediaan, akses, terjangkau, kualitas), namun tentunya setiap daerah memerlukan bentuk layanan yang berbeda disesuaikan kebutuhan masing-masing. • Apakah pemerintah harus menyediakan layanan air minum secara gratis? TIDAK.. Hak asasi manusia hanya menjamin bahwa air minum harus terjangkau dan tidak menghambat tercapainya hak asasi lainnya seperti makanan, rumah dan kkesehatan. • Apakah hak asasi melarang keterlibatan swasta dalam penyediaan layanan air minum? TIDAK. Hak asasi tidak menyebutkan bentuk tertentu layanan air minum. Namun, pemerintah harus memastikan, melalui regulasi, pemantauan, prosedur pelaporan, bahwa semua penyedia (publik dan swasta) tidak melanggar hak asasi manusia. • Apakah pengakuan air sebagai hak asasi mendorong pemenuhan kebutuhan air minum? YA. Diantara banyak faktor lainnya, hak asasi memantapkan kerangka hukum, yang menggambarkan hak dan kewajiban, dan mendorong perhatian lebih pada yang miskin, dan layanan yang tidak diskriminatif. Hak asasi ini mendorong masyarakat menjadi aktif terlibat. Penyediaan air minum bukan lagi sekedar belas kasihan tetapi telah merambah aspek hukum.

mereka harus tahu kewajibannya. Di lain pihak, otoritas publik juga harus mengetahui kewajibannya. Ketiga, dialog multi pihak. Dialog ini melibatkan berbagai pihak mulai dari swasta, LSM, masyarakat miskin, yang dapat berkontribusi dalam proses perencanaan, pembangunan dan pengelolaan layanan air minum. Hal ini dapat menjadikan otoritas publik lebih bertanggungjawab dan transparan. Keempat, mekanisme solidaritas berbagi biaya. Sebagai contoh, sistem tarif dapat menggunakan sistem subsidi silang, yang kaya membayar lebih besar. Sementara itu, hak atas air tidak hanya berlaku bagi perusahaan publik tetapi juga swasta. Sebagai ilustrasi, the International Federation of Private Water Operators AquaFed, yang mewakili berbagai perusahaan layanan air minum dari yang kecil sampai perusahaan internasional, telah memasukkan isu hak asasi air dalam aturan perusahaan. Terdapat tiga elemen dibutuhkan agar operator melaksanakan konsep hak atas air yaitu (i) kontrak yang jelas yang mencakup peran dan tanggungjawab operator; (ii) keberadaan subsidi atau tarif rendah bagi masyarakat miskin; (iii) keberadaan mekanisme sosial berkelanjutan terhadap layanan bagi kelompok yang terpinggirkan (miskin, tuna wisma, dan lainnya).

12

Edisi III, 2010

Sekilas HAK ASASI MANUSIA (HAM)
Pengertian dan Ciri Pokok Hakikat HAM HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya, yang diberikan langsung oleh Tuhan. Jika hak tersebut terabaikan maka manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Sementara secara resmi dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia” Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu (i) HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis; (ii) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa; (iii) HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003). Pada hakikatnya Hak Asasi Manusia terdiri atas dua hak dasar yang paling fundamental, ialah hak persamaan dan hak kebebasan. Dari kedua hak dasar inilah lahir hak-hak asasi lainnya atau tanpa kedua hak dasar ini, hak asasi manusia lainnya sulit akan ditegakkan. hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggung jawabannya dimuka hukum (Mansyur Effendi,1994). Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh perkembangan yang lebih konkret, dengan lahirnya Bill of Rights di Inggris pada tahun 1689. Pada masa itu mulai timbuladagium yang intinya adalah bahwa manusia sama di muka hukum (equality before the law). Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham ISTIMEWA Rousseau dan Montesquuieu. Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia harus dibelenggu. Selanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Perancis), dimana ketentuan tentang hak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak boleh ada penangkapan tanpa alasan yang sah. Dalam kaitan itu berlaku prinsip presumption of innocent, artinya orang-orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. Dalam French Declaration sudah tercakup semua hak, meliputi hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hukum yang asas-asasnya sudah dicanangkan sebelumnya. Selain itu juga dikenal Perlu juga diketahui The Four Freedoms dari Presiden Roosevelt yang dicanangkan pada tanggal 6 Januari 1941. Semua hak-hak ini setelah Perang Dunia II (sesudah Hitler memusnahkan berjuta-juta manusia) dijadikan Perkembangan Pemikiran HAM dasar pemikiran untuk melahirkan rumusan HAM yang Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari bersifat universal, yang kemudian dikenal dengan Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris, yang antara The Universal Declaration of Human Rights yang lain memuat pandangan bahwa raja yang tadinya diciptakan oleh PBB pada tahun 1948. memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan

13

Regulasi
membedakan yang baik dan yang buruk yang akan membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupannya. Dengan akal budi dan nuraninya itu, maka manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perilaku atau perbuatannya. Di samping itu, untuk mengimbangi kebebasan tersebut manusia memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab atas semua tindakan yang dilakukannya. Kebebasan dasar dan hak-hak dasar itulah yang disebut hak asasi manusia yang melekat pada manusia secara kodrati sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hakhak ini tidak dapat diingkari. Pengingkaran terhadap hak tersebut berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Oleh karena itu, negara, pemerintah, atau organisasi apapun mengemban kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa kecuali. Ini berarti bahwa hak asasi manusia harus selalu menjadi titik tolak, dan tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sejalan dengan pandangan di atas, Pancasila sebagai dasar negara mengandung pemikiran bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan menyandang dua aspek yakni, aspek individualitas (pribadi) dan aspek sosialitas (bermasyarakat). Oleh karena itu, kebebasan setiap orang dibatasi oleh hak asasi orang lain. Ini berarti bahwa setiap orang mengemban kewajiban mengakui dan menghormati hak asasi orang lain. Kewajiban ini juga berlaku bagi setiap organisasi pada tataran manapun, terutama negara dan pemerintah. Dengan demikian, negara dan pemerintah bertanggung jawab untuk menghormati, melindungi, membela, dan menjamin hak asasi manusia setiap warganegara dan penduduknya tanpa diskriminasi. Kewajiban menghormati hak asasi manusia tersebut, tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjiwai keseluruhan pasal dalam batang tubuhnya, terutama berkaitan dengan persamaan kedudukan warga negara dalam hukum dan pemerintahan, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, hak untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, kebebasan memeluk agama dan untuk beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu, hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran. Dasar pemikiran pembentukan Undang-undang ini adalah sebagai berikut : a. Tuhan Yang Maha Esa adalah pencipta alam semesta dengan segala isinya; b. pada dasarnya, manusia dianugerahi jiwa, bentuk, struk-

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

S

ampai sejauh ini hak asasi manusia sudah menjadi pembicaraan yang lazim di kalangan awam. Walaupun demikian tentunya tidak banyak yang tahu secara pasti yang dimaksud. Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun. Sementara itu untuk menunjukkan penghargaan bangsa Indonesia sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengemban tanggung jawab moral dan hukum untuk menjunjung tinggi dan melaksanakan Dek1arasi Universal tentang Hak Asasi Manusia yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta berbagai instrumen internasional lainnya mengenai hak asasi manusia, maka bangsa Indonesia secara sadar bahkan telah mengeluarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/I998 tentang Hak Asasi Manusia. Di samping itu, pengaturan mengenai hak asasi manusia pada dasarnya sudah tercantum dalam berbagai peraturan perundang-undangan, termasuk undang-undang yang mengesahkan berbagai konvensi internasional mengenai hak asasi manusia. Namun untuk memayungi seluruh peraturan perundangundangan yang sudah ada, perlu dibentuk Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam undang-undang ini secara gamblang hak asasi manusia didefinisikan sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Bahwa manusia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akal budi dan nurani yang memberikan kepadanya kemampuan untuk

14

Edisi III, 2010
tur, kemampuan, kemauan serta berbagai kemudahan oleh Penciptanya, untuk menjamin kelanjutan hidupnya; c. untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan martabat manusia, diperlukan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia, karena tanpa hal tersebut manusia akan kehilangan sifat dan martabatnya, sehingga dapat mendorong manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus); d. karena manusia merupakan makhluk sosial, maka hak asasi manusia yang satu dibatasi oleh hak asasi manusia yang lain, sehingga kebebasan atau hak asasi manusia bukanlah tanpa batas; e. hak asasi manusia tidak boleh dilenyapkan oleh siapapun dan dalam keadaan apapun; f. setiap hak asasi manusia mengandung kewajiban untuk menghormati hak asasi manusia orang lain, sehingga di dalam hak asasi manusia terdapat kewajiban dasar; g. hak asasi manusia harus benar-benar dihormati, dilindungi, dan ditegakkan, dan untukitu pemerintah, aparatur negara, dan pejabat publik lainnya mempunyai kewajiban dan tanggungjawab menjamin terselenggaranya penghormatan, perlindungan, dan penegakan hak asasi manusia. Dalam Undang-undang ini, pengaturan mengenai hak asasi manusia ditentukan dengan berpedoman pada Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, Konvensi Perserikatan Bangsa- Bangsa tentang Hak-hak Anak, dan berbagai Instrumen internasional lain yang mengatur mengenai hak asasi manusia. Undang-undang ini secara rinci mengatur mengenai hak untuk hidup dan hak untuk tidak dihilangkan paksa dan/atau tidak dihilangkan nyawa, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan pribadi, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak wanita, hak anak, dan hak atas kebebasan beragama. Selain mengatur hak asasi manusia, diatur pula mengenai kewajiban dasar, serta tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam penegakan hak asasi manusia. Dalam Undang-undang ini, diatur pula tentang partisipasi masyarakat berupa pengaduan dan/atau gugatan atas pelanggaran hak asasi manusia, pengajaran usulan mengenai perumusan kebijakan yang berkaitan dengan hak asasi manusia kepada Komnas HAM, penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia. Undang-undang tentang Hak Asasi Manusia ini adalah merupakan payung dari seluruh peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia. Oleh karena itu, pelanggaran baik langsung maupun tidak langsung atas hak asasi manusia dikenakan sanksi pidana, perdata, dan atau administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Undang-undang ini terdiri dari 11 bab dan 106 pasal. Namun pasal yang terkait langsung dengan pemenuhan kebutuhan rumah, air dan penyehatan lingkungan tercantum pada a. Pasal 9 yang menyatakan (1) Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya; (2) Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin; (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. b. Pasal ll yang menyatakan setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. c. Pasal 40 yang menyatakan setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Internasional Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak ekonomi, Sosial dan Budaya) Kovenan ini mengukuhkan dan menjabarkan pokokpokok HAM di bidang ekonomi, sosial dan budaya dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) dalam ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum. Kovenan terdiri dari pembukaan dan pasal pasal yang mencakup 31 pasal. Pembukaan Kovenan ini mengingatkan negara-negara akan kewajibannya menurut Piagam PBB untuk memajukan dan melindungi HAM, mengingatkan individu akan tanggung jawabnya untuk bekerja keras bagi pemajuan dan penaatan HAM yang diatur dalam Kovenan ini dalam kaitannya dengan individu lain dan masyarakatnya, dan mengakui bahwa, sesuai dengan DUHAM, cita-cita umat manusia untuk menikmati kebebasan sipil dan politik serta kebebasan dari rasa takut dan kekurangan hanya dapat tercapai apabila telah tercipta kondisi bagi setiap orang untuk dapat menikmati hak-hak ekonomi, sosial dan budaya serta hak-hak sipil dan politiknya. Dari 31 pasal yang terdapat dalam undang-undang ini, pasal mengatur ketersediaan air minum dan penyehatan lingkungan mengacu pada pasal 11 yaitu hak atas standar kehidupan yang memadai. (OM)

15

Agenda

POKJA

Hari Anti Kemiskinan Internasional

Sulitnya Akses Air Minum dan Sanitasi Idikator Kemiskinan

T

anggal 17 Oktober setiap tahun masyarakat dunia memperingati Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia (The International Day for the Eradication of Poverty). Kemiskinan bagi negara berkembang seperti Indonesia misalnya menjadi catatan tersendiri. Sulitnya penduduk dunia memperoleh layanan dasar sanitasi dan memperoleh air minum secara layak, jelas merupakan indikator dari kemiskinan. Badan Kesehatan Dunia WHO menyebut terbatasnya 95 persen akses penduduk miskin akan air bersih membuat belenggu kemiskinan menjerat 1,2 milliar penduduk dunia. Seperti diketahui , pada tanggal 17 Oktober tahun 1987, lebih dari seratus ribu orang berdemonstrasi di Trocadéro di Kota Paris, Perancis, tepat di tempat penandatanganan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948, untuk mengajak seluruh warga dunia merenungkan kembali nasib para korban kemiskinan ekstrim, kekerasan, kelaparan, sulitnya memperoleh air minum dan buruknya sanitasi dihampir seluruh pelosok dunia. Kemudian, demi menghormati momen bersejarah tersebut, PBB

berinisiatif untuk mengeluarkan resolusi Nomor 47/196 tertanggal 22 Desember 1992, yang menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Anti Kemiskinan Sedunia (International Day of Eradication for Poverty)- yang diperingati oleh warga dunia hingga saat ini. Pada tahun 2010 ini kampanye global yang dimobilisasi aliansi dunia bernama Global Call Against to Poverty (GCAP) terus dilakukan. Pada September tahun 2000, perwakilan dari 189 negara di dunia telah berkumpul di New York dalam acara KTT Millenium yang digagas PBB. Hasilnya adalah ditandatanganinya sebuah deklarasi (Millenium Declaration) yang berisi 8 poin proyek bersama sasaran pembangunan yang harus dicapai negara-negara peserta sebelum tahun 2015. Ke delapan proyek itu meliputi penghapusan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim (dengan standar penghasilan di bawah 1,25 USD/hari), pemerataan pendidikan dasar, persamaan gender dan pemberdayaan perempuan, perlawanan terhadap penyakit khususnya HIV AIDS dan malaria, penurunan angka kematian anak, peningkatan kesehatan ibu, penjaminan daya dukung lingkungan dan membangun kemitraan

16

Edisi III, 2010
global untuk pembangunan. Jika dicermati, semua proyek itu bermuara pada satu target, yakni eliminasi problem besar bernama “kemiskinan”. Berbicara tentang cara pemberantasan kemiskinan versi PBB, tentu tak bisa lepas juga dari pelaksanaan Tujuan Pembangunan Millenium/Millenium Development Goal’s disingkat MDG’s – yang juga merupakan produk PBB pada tahun 2000 demi menciptakan dunia tanpa kemiskinan pada tahun 2015. Sebagai bagian dari PBB, Indonesia sendiri ikut menerapkan program MDG’s sejak tahun 2004. Di dalam MDG’s sendiri, kita tahu, ada sekitar delapan program yang muluk-muluk di bidang kemiskinan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, kesetaraan gender. “Namun,terus terang, kami sangat meragukan keberhasilan program MDG’s di Indonesia. Karena praktis, kemiskinan -dan proses pemiskinan- tidak berkurang sama sekali. Kita masih mendengar terjadinya wabah kelaparan di berbagai tempat di tanah air, yang artinya masih terdapat kemiskinan ekstrim. Kesehatan rakyat juga semakin buruk saja. Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih cukup tinggi, sejumlah besar masyarakat masih sulit memperoleh layanan air minum dan sanitasi mereka masih sangat buruk,” ujar Ketua Yayasan Perlundungan Konsumen Kesehatan, dr Marius Wijayarta kepada Percik. Pendidikan, kesehatan, sulitnya memperoleh air minum dan rendahnya sanitasi dasar jelas bagian dari kemiskinan. Belum lagi masalah kesetaraan gender pun seperti masih mimpi, karena praktik penjualan anak dan perempuan masih marak di mana-mana. Target di bidang lingkungan hidup pun tidak terlihat karena setiap harinya kita terus disuguhkan fakta tentang dampak kerusakan lingkungan di sekitar kita, seperti banjir dan tanah longsor. Dan masih banyak lagi fakta yang membuat kita ragu akan bukti keberhasilan MDG’s. Para aktivis kemanusian, pegiat lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan dan kesehatan masyarakat menyatakan bahwa kemiskinan merupakan kekerasan terhadap hak asasi manusia, sehingga mereka menuntut agar masyarakat di seluruh dunia menghormati hak tersebut. Setelah itu, Majelis Umum PBB mendeklarasikan 17 Oktober sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, serta masyarakat dunia merayakan ‘Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia’ dengan berbagai acara. Di Indonesia Aksi memperingati Hari anti-pemiskinan juga terjadi di beberapa kota di Indonesia, seperti Lampung, Mataram, Garut, Cianjur, Tasikmalaya, dan Purwekerto. Di Bandar lampung, sekitar 50-an massa SRMI berjalan dari tugu adipura menuju kantor Pemerintah Kota setempat. Mereka mendesak agar walikota yang baru terpilih untuk merealisasikan janji-janji politiknya semasa kampanye, terutama dalam pemberantasan kemiskinan. Atas desakan tersebut, walikota Bandar Lampung Herman HN bersedia menerima dan berdialog dengan perwakilan aktivis SRMI. Pihak Walikota menjanjikan akan menuntaskan sejumlah persoalan yang dituntut SRMI, diantaranya, persoalan pendidikan, kesehatan, dan dokumen warga (KTP/KK/akta kelahiran), akan diwujudkan pada tahun 2011. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, puluhan aktivis SRMI menggelar aksinya di kantor ISTIMEWA pemerintah kabupaten, dan menuntut pengesahan Ranperda mengenai perlindungan Pedagang Kaki Lima (PKL). Massa juga mempersoalkan minimnya anggaran kesehatan, yang sebagian besarnya merupakan bantuan Pemprov Jabar. Aksi juga dilakukan di kabupaten Garut, Jawa Barat, dimana puluhan demonstran menolak pembangunan Alfamart yang dianggap akan menyingkirkan ekonomi rakyat, khususnya pedagang kecil. Di Cianjur, Jawa Barat, massa yang berjumlah 300 orang anggota SRMI mendatangi kantor DPRD setempat. Massa mempersoalkan minimnya anggaran untuk pendidikan dan kesehatan, sementara biaya untuk kendaraan dinas Pemda terus membengkak. Disamping itu, ratusan massa itu juga mendesak agar Pemkab Cianjur segera menaikkan jumlah anggaran untuk pendidikan dan kesehatan serta perlindungan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. (Eko/Infid.org)

17

Wacana

ISTIMEWA

(Tulisan Pertama)
Dr Cekli Setya Pratiwi, SH.,LL.M.

T

he International Covenant on Economical and Social Rights (untuk selanjutnya disingkat CESCR) telah disusun dan disepakati sebagai bagian dari Hukum HAM Internasional (The International Bill of Rights) dengan maksud tidak lain adalah untuk melindungi hak-hak asasi manusia sehingga manusia dapat hidup sebagai manusia seutuhnya, bebas, aman, terlindungi dan hidup sehat. Hak untuk hidup sebagai hak yang paling kodrati tidak akan dapat pernah tercapai kecuali semua hak-hak dasar yang dibutuhkan ketika manusia hidup seperti “hak untuk bekerja, makan, rumah, kesehatan, pendidikan, dan budaya” dapat tercukupi (adequately)

dan tersedia (available) bagi setiap orang. Selaras dengan tujuan fundamental inilah, maka dibentuklah instrumen HAM Internasional untuk memberikan perlindungan baik kepada individu atau kelompok tentang hak ekonomi, sosial, dan budaya yang tertuang dalam CESCR 1966. CESCR secara garis besar memberikan pengakuan terhadap hak untuk bekerja, hak untuk mendapat pendidikan, hak untuk kehidupan yang layak, hak atas lingkungan yang sehat, hak atas pengembangan budaya, dan seterusnya. Hak atas penghidupan yang layak yang akan ditelaah dalam tulisan ini akan difokuskan pada hak atas rumah dan air minum. Dibandingkan dengan hak sipil dan politik termuat dalam CCPR, seringkali hak ekonomi, sosial dan budaya dipandang sebagai hak generasi kedua dimana pemenuhannya tidak dapat dipaksakan (unforceable),

18

Edisi II, Edisi III, 2010
tidak dapat dituntut di muka pengadilan (non-justiciable), akan kehidupan. Lebih jauh bahkan ditegaskan bahwa dan hanya dapat dipenuhi oleh negara secara bertahap komite tersebut memberikan kewajiban bagi negara (to be fulfilled progresively). Namun demikian, seiring untuk menjamin adanya hak atas air bagi setiap warga dengan diakuinya sistem Hukum HAM secara global negaranya. yang ditandai dengan penerimaan DUHAM 1948, maka Dengan demikian, jelas bahwa baik hak sipil-politik negara-negara di dunia secara berulang-ulang menegaskan maupun hak ekonomi, sosial, budaya tidak dapat melalui Konferensi Dunia tentang HAM Tahun 1993 dipisahkan satu sama lain karena memiliki sifat saling dengan menyatakan bahwa kedua bidang HAM yaitu ketergantungan dan keduanya memerlukan perhatian CCPR dan CESCR tersebut memiliki kedudukan yang yang sama dari negara baik dalam hal penerapannya, sama penting. Resolusi Majelis Umum PBB Nomor sosialisasinya maupun perlindungannya. Hal ini 32/130 pada Desember 1977 menyatakan bahwa: mengingat bahwa pemenuhan hak sipil dan politik “(a) All human rights and fundamental freedoms are saja tanpa pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya invisilbe and interdependent; equal attention and urgent seseorang sangatlah tidak mungkin. Oleh karena itu, consideration should be given to the implementation, untuk mewujudkan terpenuhinya hak ekonomi, sosial promotion, and protection of both civil dan budaya dibutuhkan dukungan baik dari kebijakan and political, and economical, social and nasional atau internasional. cultural rights; (b) The full realization Dengan demikian, segala bentuk penyangkalan of civil and political rights without the terhadap hak ekonomi, sosial dan budaya enjoyment of economic, social and cultural yang didukung oleh pendapat yang masih rights is impossible; the achievement of menempatkan hak ekonomi, sosial dan ......bahwa lasting progress in the implementation of budaya sebagai hak yang tidak nyata, hak hak atas air human rights is dependent upon sound and yang tidak membutuhkan keterlibatan effective national and international policies adalah sesuatu negara, atau hak yang dapat dipenuhi secara of economic and social development, as yang tidak dapat bertahap, hanyalah sebagai pandangan recognized by the Proclamation of Teheran yang tidak relevan lagi. Terlebih ketika dipisahkan dari CESCR telah diadopsi oleh Majelis Umum of 1968”. Pada Tahun 2002 Komite Hakhak-hak asasi PBB melalui Resolusi 2200 A (XXI) pada hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (the manusia lainnya. Desember 1966 dan telah dilaksanakan Committee on Economic, Social and sejak 3 Januari 1976. Bahkan saat ini karena Cultural Rights) dalam Pandangan Umum jumlah penerimaan CESCR oleh negara(General Comment) Nomor 15, secara negara sudah sangat besar yaitu 143 negara tegas memberikan penafsiran tentang pasal 11 dan meratifikasi, maka CESCR sudah mengalami pasal 12 dari Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, perubahan karakter yang semula hanya Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic, merupakan perjanjian multirateral berubah menjadi Social and Cultural Rights), bahwa hak atas air adalah hukum kebiasaan internasional (international customary sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari hak-hak asasi law), artinya ia mengikat setiap negara dengan atau tanpa manusia lainnya. Dalam argumentasinya, Komite ini ratifikasi. menunjukkan bahwa banyak hak asasi manusia lainnya tidak dapat didapatkan oleh manusia jika sebelumnya II. Menilai Jaminan Hak Atas Rumah dan Air tidak dikenal adanya hak atas air. Hak Hidup (the right Dalam Hukum Positif to life), hak untuk mendapatkan makanan (the right to Dalam membahas persoalan tentang jaminan hukum food), hak untuk mempertahankan kesehatan (the right to hak rakyat atas rumah dan air perlu kiranya melihat maintain health level) adalah hak-hak yang dalam upaya sejauh mana hukum di Indonesia memberikan jaminan untuk memenuhinya membutuhkan hak atas air (the right yang cukup atas hak tersebut. Dalam melihat aspek to water) – sebagai prasyaratnya. jaminan hukum, tentunya tidak sebatas pada bagaimana Disebutkan bahwa air tidak saja dibutuhkan untuk kualitas substansi hukum yang mengatur persoalan minum tetapi juga bagian yang tak terpisahkan dari ini dalam setiap Hukum Nasional, namun juga proses pengolahan makanan, atau penciptaan kondisi harus memperhatikan sejuah mana ketaatan perumahan yang sehat dan kebutuhan manusia lainnya Indonesia sebagai bagian dari

19

Wacana
masyarakat Internasional yang secara sadar menerima dan mengakui ketentuan-ketentuan Hukum Internasional khususnya yang sudah menjadi bagian dari hukum positif negara kita. Hal ini perlu ditegaskan mengingat masih banyak pandangan dan praktek yang mengatakan bahwa Hukum Nasional dan Hukum Internasional terpisah satu sama lainnya. Sehingga pembuat UU, penegak hukum atau bahkan pembuat kebijakan sering kali menanggalkan sifat mengikat dari Hukum Internasional yang dimaksud dan tindakan ini sering berimplikasi pada terampasnya hak-hak rakyat yang telah diakui oleh masyarakat internasional sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dikurang-kurangi oleh siapapun tak terkecuali oleh negara kecuali dalam hal-hal tertentu yang itupun harus diatur secara jelas dan tegas melalui UU. Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Dengan demikian, sejak tahun 2005 ada kewajiban hukum yang diemban oleh negara Indonesia untuk segera menyesuaikan diri terhadap setiap produk perUUan yang terkait dengan isi kovenan tersebut. Hal ini tentunya dengan maksud dan tujuan agar jaminan pemenuhan hak rakyat atas hak ekonomi, sosial dan budaya semakin kuat. Lalu dalam konteks jaminan hak rakyat atas penghidupan yang layak khususnya rumah dan air, bagaimana CESCR membebani negara peserta untuk segera mengambil langkah-langkah tindakan penting guna mengakui hak tersebut? Dalam hal ini Pasal 11 Ayat (1) CESCR menyatakan bahwa: The States Parties of the present Covenant recognize the right of everyone to an adaquate standard of living for himlself and his family, including adequate food, clothing and housing, and to the continous improvement of living conditions. The State Parties will take appropiate steps to ensure the realization of this right, recognizing to this effect essential importannce of international co-operation based on free consent. Artinya: negara-negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak untuk dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk kecukupan pangan, pakaian, perumahan yang layak dan atas perbaikan kondisi penghidupan yang bersifat terus menerus. Negara-negara Pihak akan mengambil langkah-langkah yang layak untuk memastikan perwjuduan hak ini, dengan ISTIMEWA mengakui, untuk maksud ini, sangat pentingnya arti kerjasama internasional yang didasarkan pada perbaikan yang sukarela. Implikasi dari ketentuan Pasal 11 Ayat (1) CESCR di atas adalah bahwa bagi setiap negara yang menjadi peserta atau meratifikasi kovenant ini (termasuk Indonesia), memiliki kewajiban untuk mengakui hak setiap warga negara atas standar hidup yang layak yaitu meliputi kecukupan atas makanan, pakaian dan perumahan serta senantiasa meningkatkan perbaikan kondisi penghidupan secara terus-menerus. Bahwa kata “recognize” atau mengakui atas hak setiap warga negara untuk mendapatkan standar hidup yang layak baik kecukupan makanan, pakaian, dan perumahan tersebut memiliki makna membebani kewajiban kepada negara yaitu “the obligation to respect” (kewajiban negara untuk menghormati), “the obligation to protect” (kewajiban untuk melindungi), “the obligation to promote (kewajiban

Terkait dengan obyek pembahasan dalam tulisan ini yaitu tentang jaminan hak rakyat atas kehidupan yang layak khususnya rumah dan air minum, maka implikasi yuridis dari penerimaan Indonesia terhadap suatu Perjanjian Internasional adalah sesegera mungkin melakukan pembentukan UU baru jika belum punya, singkronisasi/perubahan jika terjadi pertentangan atau bahkan pencabutan apabila memang peraturan tersebut dinilai tidak sesuai atau bertentangan dengan hak-hak rakyat. Dalam kaitannya dengan hak rakyat atas penghidupan yang layak, dimana hal ini masuk dalam ruang lingkup hak ekonomi, sosial dan budaya, maka Indonesia secara resmi menjadi peserta dari The Internasional International Convenant on Economical, Social and Cultural Rights (CESCR) 1966 melalui sebuah ratifikasi yaitu UU Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan

20

Edisi III, 2010
untuk mensosialisasikan), “the obligation to fullfill” (kewajiban untuk memenuhi) hak-hak yang terkandung dalam kovenant CESCR melalui langkah-langkah yang nyata sesuai dengan prinsip-prinsip Limburg 1986 dan Prinsip-prinsip Maastricht 1997, termasuk tindakantindakan legislatif untuk menyesuaikan atau merubah segala peraturan PerUUan di Indonesia baik di tingkat pusat sampai daerah yang dinilai bertentangan dengan isi kovenan. 1. Peluang Regulasi Pelaksana Yang Mengabaikan Rakyat Atas Rumah Pertama, tidak dapat dipungkiri bahwa keberanian ISTIMEWA Indonesia meratifikasi CESCR adalah salah satu bentuk Indonesia memberikan pengakuan hak atas ekonomi, Terkiat dengan hak atas rumah, UUD 1945 sosial dan budaya warga negaranya yang di dalamnya khususnya Pasal 28H Ayat (1) dikatakan bahwa :”Setiap terdapat hak atas rumah dan air minum. Namun orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat demikian, dengan ratifikasi saja tidaklah cukup. Untuk tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik melihat sejuah mana Indonesia sebagai negara peserta dan sehat, berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. CESCR telah memenuhi kewajibannya untuk menjamin Bahwa penggunaan istilah “pengakuan hak atas pemenuhan hak ekonomi, sosial dan penghidupan yang layak” pada Pasal 11 Ayat (1) CESCR budaya khususnya yang menyangkut mengandung makna kehidupan yang layak meliputi hak atas rumah dan air minum setiap kecukupan makanan, pakaian dan rumah, sedangkan warga negaranya adalah dengan melihat dalam Pasal 28H Ayat (1) sedikit berbeda dengan yang segala bentuk PerUUan baik dalam dipakai dalam Pasal 28H yang memilih Tidak dapat dipungkuri hirarki tertinggi (UUD 1945) sampai menggunakan istilah lain yaitu ”hak bahwa keberanian herarki terendah atau PerUUan di hidup sejahtera lahir dan batin”. Indonesia meratifikasi tingkat pusat dan daerahsubstansinya Dalam kalimat berikutnya yang CESCR adalah salah telah diselaraskan atau disesuaikan dimaksud dengan hidup sejahtera satu upaya Indonesia dengan substansi CESCR atau secara memberikan pengakuan lahir dan batin hanya meliputi lebih ekstrim dilakukan langkahhak atas ekonomi, sosial ”hak bertempat tinggal” dan ”hak langkah kongkrit dimana ketentuan mendapatkan lingkungan hidup yang dan budaya warga perUUan yang sudah tidak sesuai atau layak dan sehat”. Dalam hemat Penulis, negaranya.. isinya bertentang dengan substansi “hak bertempat tinggal” berkonotasi CESCR segera dinyatakan tidak berlaku lebih luas dibanding “hak atas atau dicabut. perumahan”, dimana seseorang dapat Jika kita menelaah substansi UUD 1945 sebagai saja memiliki tempat tinggal meskipun peraturan tertinggi atau sumber dari segala sumber dia tidak memiliki rumah. Sedangkan seseorang yang hukum di Indonesia, setelah mengalami empat kali memiliki rumah secara otomatis memiliki tempat tinggal. perubahan, khususnya pada Perubahan Kedua yang Dalam kondisi sosial masyarakat yang komunal seperti di ditetapkan pada tanggal 18 Agustus tahun 2000, terdapat Indonesia, dapat dikatakan bahwa hampir setiap orang beberapa Pasal terkait HAM yang mengalami perubahan memiliki tempat tinggal meskipun tidak setiap orang dan penambahan. UUD 1945 dinilai lebih rinci dalam yang memiliki tempat tinggal memiliki rumah, sebab mengatur dan menjamin perlindungan HAM dibanding mereka dapat tinggal bersama dengan keluarga, anak atau Pasal 28 sebelum perubahan. Tentunya hal ini patut orang tua. diapresiasi. Namun sudahkah ketentuan Pasal 28 yang Sedangkan hak lain sebagai wujud kehidupan dinilai lebih rinci tersebut telah selaras dengan isi CESCR sejahtera adalah hak untuk mendapatkan yang baru diratifikasi Indonesia tahun 2005, tentunya lingkungan yang sehat. Di dalam UUD 1945, perlu ditelaah lebih lanjut. hak untuk mendapatkan

21

Wacana
lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak secara langsung memiliki makna pada hak untuk mendapatkan kecukupan makanan. Tentunya hal ini sangat berbeda dengan apa yang dikehendaki dalam CESCR yang secara tegas memberikan pengakuan dan membebani setiap negara peserta untuk menjamin hak setiap warga negaranya untuk mendapatkan kecukupan makanan. Dengan demikian, Indonesia sebagai negaranya yang meratifikasi CESCR belum berhasil menjamin dalam konstitusinya hak setiap warga negara untuk mendapatkan penghidupan yang layak yang didalamnya meliputi hak untuk mendapatkan pakaian yang cukup, makanan yang cukup (termasuk air minum) dan rumah yang memadai. Konsep yang ada dalam UUD 1945 Pasal 28H tersebut di atas hanya mengulang ketentuan yang ada dalam Pasal 9 UU Nomor 39 Tahun 1999 yang memang lebih dulu dibuat (satu tahun sebelum amandemen Pasal 28 dilakukan). Dalam Undang-Undang Nomo 39 Tahun 1999 tentang HAM, khususnya Bagian Kesatu Hak Untuk Hidup Pasal 9 Ayat (1), (2), dan (3) dinyatakan bahwa: (1) Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya; (2) Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia sejahtera, lahir dan batin (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jika yang dimaksud sebagai ”hak untuk meningkatkan taraf hidup” dimaknai sama dengan ”hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak” sebagaimana ketentuan Pasal 11 Ayat (1) CESCR, maka POKJA hak untuk meningkatkan taraf hidup ini harus diterjemahkan sebagai hak untuk mendapatkan makanan yang cukup, pakaian, dan perumahan. Namun demikian, setelah ditelusuri pada Bagian Penjelasan dari UU ini, tidak ada satupun penjelasan yang memberikan definisi lebih lanjut yang dimaksud sebagai ”hak untuk meningkatkan taraf hidup”. Dengan demikian, dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 sebagai UU HAM di Indonesia yang diharapkan menjadi peraturan pelaksana dari Pasal 28 UUD 1945 justru memberikan pengaturan yang sangat lemah atas hak setiap orang untuk mendapatkan penghidupan yang layak, atau tidak ada jaminan yang secara eksplisit atas pengakuan terhadap ”hak untuk mendapatkan kecukupan makanan, pakaian dan perumahan”. Sesungguhnya Pasal 9 Ayat (1), (2), dan (3) UU HAM lebih diarahkan pada pengakuan ”hak hidup” sebagai bagian dari hak sipil dan politik dan bukan pada konteks pengakuan hak ekonomi sosial dan budaya. Dengan kata lain, penghormatan negara terhadap hak setiap orang atas penghidupan yang layak yang didalamnya mencakup hak atas rumah, baik UUD 1945 maupun UU HAM masih belum selaras dengan ketentuan Pasal 11 Ayat (1) CESCR. Sementara keberadaan peraturan pelaksana di bawahnya semakin berpotensi lahirnya ketentuan yang melanggar hak atas rumah namun tidak pernah dicabut atau masih terus berlaku hingga sekarang. 2. Upaya Negara Melepaskan Tanggungjawab Pemenuhan Hak Atas Air Terkait dengan hak atas air, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (2) menyatakan bahwa “cabangcabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” yang berdasarkan pada konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan ”bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”, termasuk pula pengertian kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumbersumber kekayaan dimaksud. Rakyat secara kolektif memberikan mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan dan tindakan pengurusan, pengaturan,

22

Edisi III, 2010
pengelolaan, dan pengawasan untuk (privatisasi), maka penguasaan negara . . . penyediaan air bagi tujuan sebesar-besar kemakmuran rakyat. terhadap air untuk sebesar-besar masyarakat harus Lebih lanjut penguasaan negara atas menjadi tanggung jawab kemakmuran rakyat akan hilang. air sebagai bagian dari kebutuhan yang Secara teoritis, ada banyak definisi negara sehingga harus paling mendasar dan hak asasi manusia tentang privatisasi. dikuasai oleh negara, semakin dipertegas dalam UndangDefinisi privatisasi menurut sesuai dengan pasal 33 UUD 1945. Undang Dasar 1945 pasal di pasal Pasal Undang-Undang No 19 Tahun 2003 28A: “Setiap orang berhak untuk hidup tentang Badan Usaha Milik Negara, serta berhak mempertahankan hidup dan pasal 1 angka 12 adalah penjualan kehidupannya”, Pasal 28D Ayat (1) Setiap orang berhak saham persero, baik sebagian mau pun atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian seluruhnya, kepada pihak lain dalam hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, hukum dan pasal 28I ayat (4) yang menyatakan bahwa memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta ”perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan memperluas pemilikan saham oleh masyarakat. Definisi hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara menurut peraturan perundangan ini hanya merupakan terutama pemerintah. Permasalahannya tidak dijelaskan salah satu bentuk privatisasi menurut banyak ahli. secara lebih lanjut tentang apa yang dimaksud sebagai Sebagai contohnya Diana Carney dan John Farrington kemakmuran rakyat, sehingga dimensi inilah yang (1998) menyatakan bahwa privatisasi bisa diartikan secara didalam prkatek sering diterjemahkan terlalu luas atau luas sebagai proses perubahan yang melibatkan sektor terlalu sempit oleh pembuat kebijakan, sehingga rentan privat untuk ikut bertanggung jawab terhadap kegiatan menimbulkan konflik. yang semula dikontrol secara eksklusif oleh sektor publik. Hal lain yang sangat mendasar adalah masalah Privatisasi termasuk di dalamnya pengalihan kepemilikan penyelenggaraan penyediaan kebutuhan air bagi aset produktif dari sektor publik ke swasta atau hanya masyarakat oleh swasta yang secara tegas dinyatakan sekedar memberikan ruang kepada sektor privat untuk dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang ikut terlibat dalam kegiatan operasional seperti contracting Sumberdaya Air. Sebagai sebuah layanan publik yang out dan internal markets). Dengan definisi seperti ini sangat mendasar penyediaan air bagi masyarakat harus memang yang dimaksud dengan privatisasi tidak sematamenjadi tanggung jawab negara sehingga harus dikuasai mata diartikan sebagai penjualan saham. Privatisasi juga oleh negara, sesuai dengan pasal 33 UUD 1945. Jika mencakup model dimana kepemilikan tetap di tangan penyediaan sumberdaya air diserahkan kepada swasta pemerintah/negara tetapi pengelolaan, pemeliharaan dan investasi dilakukan oleh pihak swasta (dengan model (BOT, management contract, konsesi dan sebagainya). Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, penyelenggaraan oleh swasta dapat dilakukan jika pada daerah tersebut belum ada BUMN/BUMD yang menyelenggarakan layanan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakatnya. Dengan aturan tersebut jelas bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 membuka kesempatan bagi keterlibatan sektor swasta (privatisasi) dalam penyediaan air bagi masyarakatnya. (bersambung...) Penulis: Direktur Pusat Studi HAM (satuHAM) Fak. Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. email: c.s.pratiwi@gmail.com

23

Wacana

T

Negara Harus Menjamin Hak Rakyat Atas Air
24

idak ada yang meragukan ataupun membantah bahwa air merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Begitu pentingnya air bagi manusia, sehingga hak atas air merupakan hak asasi manusia yang fundamental. Pengakuan air sebagai hak asasi manusia secara tegas tertuang dalam pasal 14 The Convention on the Elimination all of Forms Discrimination Against Women-CEDAW 1979), yang menyatakan bahwa perlunya perlakuan yang tidak diskriminatif terhadap penyediaan air sebagai hak perempuan, demikian juga dalam pasal 24 The Convention on The Right of The Child-CRC 1989 yang menyatakan bahwa dalam upaya mencegah malnutrisi dan penyebaran penyakit maka setiap anak memiliki hak atas air minum yang bersih. Pada tahun 2002, Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya PBB dalam komentar umum No.15 memberikan penafsiran yang lebih tegas terhadap pasal 11 dan 12 Konvensi Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dimana hak atas air tidak bisa dipisahkan dari hak-hak asasi manusia lainnya. Dengan air sebagai hak asasi manusia, menjadikan penyediaan layanan air dikategorikan sebagai essential services. Essential services merupakan pusat dari kontrak sosial antara pemerintah dan masyarakat. Dengan kata lain jaminan terhadap hak atas air bagi masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab pemerintah terhadap pemenuhan hak atas air secara tegas dinyatakan dalam pasal 5 UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air dimana negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih dan produktif. Pada sisi yang lain, seiring dengan meningkatnya konsumsi air, variasi musim, kerusakan lingkungan dan pencemaran menyebabkan air menjadi langka baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Ketersediaan air di Indonesia mencapai 15.000 meter kubik per tahun per kapita. Namun ketersediaan tersebut tidak merata di setiap pulau. Sebagai contoh pulau Jawa ketersediaan air per kapita per tahun hanya 1750 m3, masih di bawah standar kecukupan yang sebesar 2000 m3 per kapita per tahun dan kondisi ini diperkirakan akan semakin parah di tahun 2020 dimana ketersediaan hanya 1200 per kapita per tahun2.

Edisi III, 2010
Kondisi ini juga semakin diperparah dengan rusaknya daerah aliran sungai (DAS), yang dari meningkat dari tahun ke tahun. Kelangkaan air ini kemudian diperparah dengan ketersediaan infrastruktur air yang buruk. Selama lebih dari 30 tahun pembangunan infrastruktur sumberdaya air yang berfokus pada pembangunan jaringan irigasi, tidak serta merta menjadikan kondisi jaringan irigasi lebih baik. Sampai dengan tahun 2002 jaringan irigasi yang sebagian besar berada di Jawa (48,32%) dan Sumatra (27,13%), 22,4% diantaranya mengalami kerusakan. Dengan alokasi anggaran yang terfokus pada pembangunan irigasi, pada akhirnya juga memperkecil anggaran untuk infrastruktur air lainnya termasuk air bersih dan sanitasi. Hal tersebut bisa dilihat dari nilai total asset infrastruktur air yang sampai akhir tahun 2002 adalah sebesar Rp 346,49 triliun yang terdiri Rp 273,46 triliun (78,92%) untuk irigasi, Rp 63,48 triliun (18,32%) untuk bendungan, bendung karet, dan embung, Rp 9,21 triliun (2,66%) untuk pengendalian banjir dan pengamanan pantai dan Rp 0,34 triliun (0,1%) untuk air baku. Privatisasi sebagai solusi sampai awal dekade 90-an terus menjadi perdebatan. Model perencanaan yang sentralistik dan kepemilikan badan usaha sebagai bagian dari upaya akumulasi modal dan mendorong investasi masih mendominasi kebijakan ekonomi di negara-negara berkembang. Kepercayaan terhadap intervensi negara dalam pembangunan ekonomi mulai menurun pada akhir 70-an akibat ekonomi negara-negara berkembang menderita akibat kejutan-kejutan eksternal antara lain melonjaknya harga minyak, menurunnya harga komoditas ekspor sedangkan harga barang impor meningkat. Dampaknya adalah krisis utang vatisasi yang dimulai di Inggris dan luar negeri di berbagai negara berkem- AS kemudian diterapkan di banyak bang dan terjadinya defisit anggaran. negara dan didukung oleh lembagaKarena negara mendominasi aktifitas lembaga keuangan internasional, terekonomi di negara-negara berkem- masuk Bank Dunia melalui Structural bang tersebut, perhatian pun tertuju Adjustment Program (SAP). kepada kinerja dari berbagai sektor Upaya untuk melakukan privatisapublik (khususnya badan usaha mi- si juga dilakukan di sektor sumberdalik negara) dalam rangka mengatasi ya air. Dalam konferensi air dan lingkemerosotan ekonomi. Krisis juga kungan internasional yang diselenggamengakibatkan negara-negara terse- rakan tahun 1992 di Dublin Irlandia, but menjadi sangat melahirkan The Dublin Statement on bergantung pada duWater and Sustainable Development kungan keuangan dari (yang lebih dikenal dengan Dublin donor dan kreditor Principles). Dublin Principles berisi internasional yang keempat prinsip yang hamudian juga meningrus dikedepankan dalam water has an kat pengaruhnya daeconomic value kebijakan dan pembalam penyusunan kebingunan di sektor sumin all its jakan (Bayliss 2006). competing uses berdaya air. Salah satu and should be Berbagai hal tersebut dari prinsip tersebut recognized kemudian menjadi adalah “water has an as an economic economic value in all its dasar untuk mempergood tanyakan dominasi competing uses and should negara dalam aktifitas be recognized as an economic good”. Lahirnya the Dublin Principles, menyebabkan banyak lembaga-lembaga internasional mereposisi kebijakan mereka di sektor sumberdaya termasuk Bank Dunia. Bahkan Bank Dunia kemudian mengambil peran sentral dalam mengembangkan dan memISTIMEWA promosikan pendekatan-pendekatan ekonomi dan juga mempertanyakan baru yang konsisten dengan Dublin kepemilikan pemerintah. Principles terutama memberlakukan Padahal sejumlah badan usaha, air sebagai barang ekonomi. Dalam sektor publik dikelola dengan bu- prakteknya lembaga keuangan inruk, beroperasi tidak efisien sehing- ternasional menempatkan reformasi ga mengakibatkan defisit anggaran sumberdaya air yang memberlakukan (budget deficits), dimana pelayanan air sebagai barang ekonomi dalam yang diberikan tidak handal (unreli- satu paket kebijakan neo liberal yang able) dan menyebabkan orang miskin lebih luas dan kebanyakan melalui tersisihkan (Kessler 2004). Dalam structural adjustment program. konteks inilah kemudian privatisasi Selain itu agen pembangundipandang sebagai jalan keluar atas an bilateral (seperti DFID dan permasalahan yang dihadapi negara- USAID) juga mendorong negara berkembang. Kebijakan pri- private sec-

25

Wacana
tor participation kepada dalam kebijakan peTahun 2005 hanya 21 nyediaan air bersih negara-negara penerima PDAM yang berada bantuan mereka. Dasaat ini. Paling tidak dalam kondisi sehat, ada dua alasan dengan lam konteks Indonesia, 68 PDAM kurang tekanan global untuk sehat, 117 PDAM tidak pelibatan sektor swasta melakukan privatisasi sehat, dan 11 PDAM dalam penyediaan air termasuk di sektor sum- dalam kondisi kritis. bersih, pertama adaberdaya air, semakin lah peningkatan kuamendapat legitimasi litas layanan dan yang dengan kondisi penyediaan layanan kedua adanya investasi air di Indonesia. Dari 41% total penuntuk menutupi keduduk Indonesia yang tinggal di daerterbatasan anggaran ah perkotaan, hanya 51,7% atau 20 yang dimiliki oleh pemerintah. Di% dari total populasi yang memiliki lihat dari sejarahnya pelibatan sektor akses terhadap layanan PDAM, dan swasta dalam penyediaan air minum hanya 8 % masyarakat yang tinggal di bisa dibedakan atas dua model yaitu daerah pedesaan memiliki akses ter- model privatisasi Inggris dan model hadap air perpipaan yang disediakan privatisasi Perancis. oleh Unit Pengelola Sarana (UPS). Model Inggris merupakan model Bahkan sampai dengan tahun dimana sektor privat menguasai penuh 2005 hanya 21 PDAM yang bera- penyediaan air bersih dan sanitasi. Seda dalam kondisi sehat, 68 PDAM dangkan model Perancis merupakan kurang sehat, 117 PDAM tidak sehat, model dimana kepemilikan aset tetap dan 11 PDAM dalam kondisi kritis. berada pada publik sedangkan tanPada tahun 1993 World Bank mengeluarkan kebijakan di sektor POKJA sumberdaya air (Water Resources Management Policy), dan menurut World Bank kebijakan ini merefleksikan Rio Earth Summit 1992 dan Dublin Principles. Pada tahun 1998 Bank Dunia melakukan evaluasi terhadap kebijakan mereka di sektor sumberdaya air yang dituangkan dalam dokumen yang berjudul “Bridging Troubled Water: Assessing the World Bank’s Water Resources Strategy” yang dipulikasika tahun 2002. Sebagai respon dari laporan evaluasi tersebut pada tahun 2003 Bank Dunia membuat strategi baru di sektor sumberdaya air (Water Resources Sector Strategy: Strategic Directions for World Bank Engagement). Buruknya kualitas layanan, dan keterbatasan anggaran untuk mencapai target MDGs menjadikan pelibatan sektor swasta (privatisasi) sebagai bagian yang tidak terpisahkan gung jawab penyediaan layanan berada di tangan swasta. Model Perancis inilah kemudian yang diusulkan oleh Lembaga Keuangan Internasional seperti Bank Dunia dan ADB dan banyak diterapkan di banyak negara termasuk Indonesia dengan istilah Private Sector Participation (PSP). Beberapa bentuk partisipasi sektor swasta dalam penyediaan air bersih dan sanitasi antara lain adalah service contract, management contract, concession dan sebagainya. Kebijakan Pemerintah Dalam Penyediaan Layanan Air Bersih Dengan berbagai persoalan yang dihadapi dalam penyediaan layanan air, kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia saat ini memang diarahkan untuk melibatkan sektor swasta ataupun mendorong masuknya sektor swasta dalam penyediaan layanan air. Beberapa kebijakan tersebut

26

Edisi III, 2010
antara lain adalah private sector parti- kelola layanan. cipation (PSP), korporatisasi PDAM, Upaya ini harus diawali dengan regionalisasi PDAM. Private Sector perubahan cara pandang dimana peParticipation (PSP) Seperti diuraikan nyediaan air bersih harus dipahami sedi atas, menjadi bagian yang tidak ter- bagai bagian dari kontrak sosial antara pisahkan dalam kebijakan penyediaan pemerintah dengan masyarakat. Seair bersih saat ini. Kebijakan ini secara hingga ada kewajiban hukum pemetegas tertuang dalam UU No.7 Tahun rintah untuk menyediakan dan me2004 tentang Sumberdaya Air, PP menuhi kebutuhan air masyarakat. No.16 Tahun 2005 tentang Sistem Hal ini penting untuk dilakukan kaPenyediaan Air Minum (SPAM), rena asumsi-asumsi yang digunakan dan Peraturan Menteri PU No.294/ oleh pemerintah untuk melibatkan PRT/M2005 tentang Badan Pendu- POKJA kung Sistem Penyediaan Air Minum. Kebijakan PSP juga tertuang dalam Urban Water Supply Policy Framework yang disusun oleh Bank Dunia bekerjasama dengan BAPPENAS tahun 1997. Salah satu alasan yang mendasari munculnya kebijakan PSP ini adalah kebutuhan investasi yang besar dalam upaya meningkatkan pelayanan PDAM. Kebutuhan investasi yang besar tersebut juga tidak terlepas dari buruknya kinerja keuangan PDAM yang disinyalir akibat tarif rata-rata yang dibawah biaya produksi. Berdasarkan kondisi yang ada, kebutuhan atas sumber-sumber pembiayaan alternatif sangat diperlukan. sektor swasta dalam Korporatisasi juga Beberapa hal yang penyediaan layanan air harus diimbangi bisa dilakukan sebagai tidak semuanya benar. dengan partisipasi Bahwa sebagian besar sumber pembiayaan masyarakat. tersebut adalah (1) tarif PDAM berada di Penghapusan hutang bawah biaya produksi PDAM, hutang PDAM dan kenyataan bahwa sampai dengan tahun 2009 masih kebanyakan PDAM triliunan rupiah. (2) Enterprise fund, beroperasi dengan jumdalam konteks penyediaan air bersih, lah koneksi di bawah skala ekonomi. ada dua sumber pembiayaan utama Namun dengan kondisi tersebut yaitu dari pemerintah dan user fee. bukan berarti bahwa semua PDAM Enterprise fund merupakan dana yang beroperasi secara tidak sehat. Meskiberasal dari user fee. Dengan demikian pun sangat sedikit sekali PDAM yang dana yang berasal dari user fee harus beroperasi dengan sehat, akan tetapi digunakan sepenuhnya untuk ke- hal tersebut merupakan salah satu pentingan PDAM. Upaya lain yang bukti bahwa pada dasarnya sektor perlu dilakukan adalah perbaikan tata publik mampu menyediakan air bagi masyarakat. Dengan demikian yang dibutuhkan bukan hanya upaya untuk meningkatkan kualitas dan perluasan layanan dengan mengedepankan partisipasi sektor swasta, tetapi juga upaya-upaya peningkatan kualitas dan perluasan layanan yang didasarkan atas peningkatan kemampuan dan kapasitas dari penyedia layanan itu sendiri. Dengan perubahan cara pandang tersebut diharapkan ada perubahan terhadap bagaimana utilitas

layanan air harus dikelola. Banyak model terhadap pengelolaan penyediaan layanan air, salah satunya adalah memisahkan antara kepemilikan dengan manajemen (korporatisasi). Namun sekali lagi, tanpa ada perubahan cara pandang terhadap penyediaan air bersih maka korporatisasi juga tidak akan berjalan dengan baik. Korporatisasi juga harus diimbangi dengan partisipasi masyarakat. Penyediaan air di Brazil merupakan salah satu contoh dari korporatisasi yang juga diimbangi dengan partisipasi masyarakat. (Hamong Santono)

27

Wacana

POKJA

Air Minum dan Sanitasi!
Oleh Nugroho Tri Utomo

Peduli Rakyat? Pikirkan

S

anitasi di Indonesia belum bisa dibanggakan. Untuk cakupan layanan air limbah domestik sebesar 51,9 persen penduduk pada 2010, di kawasan Asia Indonesia cuma lebih baik dari Laos dan Timor Leste. Kondisi pengelolaan persampahan juga masih buram. Dari lebih 400 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang ada, kurang dari 10 yang sudah ramah lingkungan umumnya menggunakan sanitary landfill. Sisanya masih menggunakan pembuangan terbuka (open dumping). Padahal UU18/2008 tentang Pengelolaan Sampah memandatkan batas waktu 2013 untuk tidak lagi menggunakan sistem pembuangan terbuka ini. Untuk meningkatkan sistem drainase lingkungan juga masih perlu kerja keras. Masih 22.500 hektare kawasan strategis di 100 perkotaan yang sering tergenang bila hujan yang harus ditangani sampai 2014. Kondisi di atas tidak lepas dari sejarah panjang rendahnya kesadaran kolektif akan pentingnya pembangunan sanitasi di negeri ini. Anggapan bahwa sanitasi adalah masalah pribadi - sehingga masyarakat pasti akan

mencari jalan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya - telah membuat perhatian pemerintah terhadap pembangunan sanitasi tidak sehebat sektor lainnya. Selama 1970-1999, total investasi pemerintah pusat dan daerah untuk sanitasi hanya mencapai Rp. 200 per kapita per tahun. Angka ini memang meningkat selama 2000-2004 menjadi Rp. 2.000. Kita bersyukur lima tahun terakhir investasi per kapita sanitasi ini terus ditingkatkan menjadi Rp. 5000 per tahun. Namun ini masih cukup jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai Rp. 47.000 per kapita per tahun (studi Bappenas, 2008). Angka investasi di atas memang baru yang berasal dari pemerintah, terutama pemerintah pusat. Padahal sanitasi seharusnya bukan hanya urusan pemerintah saja. Sanitasi urusan sehari-hari. Tidak seorang pun yang tidak melakukan aktifitas sanitasi setiap harinya, mulai dari membuang limbah manusia, menghasilkan dan membuang sampah, serta melengkapi rumah atau huniannya dengan saluran air hujan atau drainase betapapun sederhananya. Faktanya, setiap harinya masih ada 70 juta orang di Indonesia yang melakukan praktik buang air besar sembarangan (Riskesdas 2009). Akibatnya sekitar 14.000 ton tinja (lebih berat dari 4.500 gajah Sumatera) dan

28

Edisi III, 2010
176.000 meter kubik air seni (setara dengan 70 kolam renang ukuran olimpiade) setiap harinya mencemari saluran air, sungai, pantai, danau, tanah kosong, dan lain-lain. Tidak heran seluruh sungai di Jawa dan 70 persen di Indonesia kualitas airnya tidak lagi memenuhi syarat yang ditetapkan Kementerian Kesehatan untuk digunakan sebagai sumber air minum. Akibatnya PDAM di Indonesia harus mengeluarkan biaya ekstra sampai 25 persen untuk mengolahnya menjadi air yang layak minum. Tidak heran pula kalau berbagai penelitian telah menemukan bakteri e-coli pada sekitar 75 persen air sumur dangkal di kota-kota besar di Indonesia. Artinya sudah tercemar oleh air tinja manusia. Bisa karena rembesan tangki septik, baik karena letaknya terlalu dekat ke sumur atau karena memang bocor. Tidak heran jika kasus diare saat ini masih mencapai 411 per 1.000 penduduk (Survei Morbiditas Diare Kemkes, 2010). Daftar sebab akibat di atas bisa lebih panjang lagi. Rendahnya pelayanan sampah dan buruknya PHBS (perilaku Hidup Bersih dan Sehat) menyebabkan tumpukan sampah yang dipenuhi lalat, yang bukan hanya buruk secara estetik tapi juga menambah resiko penyebaran penyakit. Belum lagi kalau menyumbat saluran drainase. Banjir dan genangan akan lebih sering terjadi dan pastinya kerugian ekonomi cukup tinggi. Ringkasnya, untuk urusan sanitasi setiap orang berbuat, terlibat, dan terkena akibat. Jadi perlu bersepakat. Kita perlu bersepakat bahwa Sanitasi adalah urusan bersama. Kebutuhan pembangunan sanitasi 5 tahun kedepan mencapai Rp. 56 triliun. Alokasi pemerintah pusat baru mencapai Rp. 14,6 triliun. Masih jauh dari mencukupi. Untuk pemerintah daerah, sekalipun sudah menjadi salah satu urusan wajibnya, umumnya baru mengalokasikan kurang dari 1 persen APBD-nya untuk pembangunan sanitasi. Kelompok masyarakat, dunia usaha, bahkan rumah tangga sendiri juga perlu untuk dimobilisasi perannya dalam pembagunan sanitasi. Semua pihak perlu diajak untuk meningkatkan investasi sanitasinya. Mengapa? Karena investasi sanitasi itu penting dan sangat menguntungkan. Berikut beberapa alasan: Pertama: Menghindari pertumbuhan ekonomi semu. Studi yang dilakukan WSP bersama Bappenas (2008) menyimpulkan bahwa akibat sanitasi buruk, kerugian ekonomi negeri ini mencapai Rp58 triliun setiap tahunnya. Ini setara dengan 2,1 persen Produk Domestik Regional Bruto saat itu yang kalau mau dihitung betul harusnya akan mengurangi laju pertumbuhan ekonomi. Ironis memang kalau kita harus kehilangan Rp58 triliun per tahun karena kita memilih untuk tidak mengalokasikan Rp11,2 triliun per tahun. Kedua: Efek luar biasa peningkatan sanitasi pada kesehatan, pendidikan dan produktifitas. WHO memperkirakan bahwa kondisi dan perilaku sanitasi yang baik dan perbaikan kualitas air minum dapat menurunkan kasus diare sampai 94 persen. Artinya jumlah hari tidak masuk sekolah bisa berkurang 8 hari pertahun yang tentunya akan bermanfaat bagi perkembangan pengajaran dan pendidikan. Jumlah hari produktif dapat meningkat sampai dengan 17 persen yang berarti tambahan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan juga.

POKJA

Ketiga: Membantu menurunkan kemiskinan. Akibat buruknya sanitasi, rata-rata keluarga di Indonesia harus menanggung Rp1,25 juta setiap tahunnya. Suatu jumlah yang akan sangat berarti bagi keluarga miskin. Biayabiaya tersebut mencakup biaya berobat, biaya perawatan rumah sakit, hilangnya opportunity cost ataupun pendapatan harian akibat menderita sakit atau harus menunggui dan merawat anggota keluarga yang sakit. Semakin sehat dan produktif seseorang, semakin besar kemungkinan untuk terbebas dari kemiskinan. Keempat: Manfaat yang berlipat. Beberapa penelitian empiris di Indonesia menunjukkan bahwa leverage factor untuk investasi sanitasi mencapai 8 sampai 11. Artinya setiap Rp. 1 investasi sanitasi akan mendatangkan manfaat sebesar Rp. 8 sampai Rp. 11. Pengalaman pembangunan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di

29

Wacana
Jawa Timur selama 2008-2010 bahkan menunjukkan bahwa setiap Rp. 1 yang dikeluarkan untuk memicu dan memampukan masyarakat telah berhasil menggerakkan investasi sanitasi dari masyarakat sendiri sampai sebesar Rp. 35. Makin jelas bahwa pembangunan sanitasi itu investasi, bukannya membebani. Kelima: Mencegah selalu lebih murah dari mengobati. Bank Pembangunan Asia (2009) menyatakan bahwa kalau kita gagal menginvestasikan US$ 1 untuk menangani sanitasi sehingga sungai kita tercemar, untuk memulihkannya akan dibutuhkan biaya sebesar US$36. Sanitasi adalah upaya pencegahan masalahan kesehatan dan kerugian ekonomi yang sangat efektif. Beberapa Kota/Kab. di Indonesia juga telah membuktikan bahwa investasi sanitasi diwilayahnya ternyata bisa menghasilkan penghematan pengeluaran dana pengobatan masyarakat dan asuransi kesehatan keluarga miskin yang lebih besar lagi. Keenam: Percepatan pembangunan sanitasi sedang menjadi tren. Pemerintah telah mencanangkan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 2010-2014. Hingga saat ini 63 Kota/Kab. telah mengikuti program tersebut. Yang menarik, para Walikota dan Bupati yang terlibat telah membentuk suatu Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) dan secara aktif mempromosikan kepada masyarakat dan kepala daerah lain akan pentingnya pembangunan sanitasi. Investasi sanitasi Kota/Kab. yang telah terlibat dalam PPSP juga telah meningkat 2,5 - 10 kali lipat seperti tercantum pada anggaran sanitasi di APBD mereka. Minat untuk bergabung dengan PPSP juga terus meningkat. Hingga 2014, diharapkan paling tidak 330 Kota/Kab. akan bergabung. Ketujuh: Peduli sanitasi, dicintai masyarakat. Di era politik seperti sekarang, dimana setiap pemilih punya satu suara, jangan dikira perhatian terhadap sanitasi tidak punya nilai politis. Sanitasi adalah urusan keseharian masyarakat. Memperhatikan sanitasi berarti memperhatikan hajat hidup masyarakat, Tanyakan saja pada Walikota Payakumbuh atau mantan Walikota Blitar yang pernah dengan bangga bercerita:” Saya ini terpilih untuk untuk kedua kalinya karena sanitasi!” Penulis adalah Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas. Artikel ini merupakan opini pribadi dan telah dimuat di Harian Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.
POKJA

30

Wawancara
Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo

Edisi III, 2010

“Air Minum Sebagai Kebutuhan Dasar
Jadi
FOTO-FOTO WAJAH: POKJA

Tanggungjawab Pemerintah”

A

ir minum sangat berhubungan dengan hak hidup manusia. Sehingga masalah memperoleh air tentunya tidak bisa dilepaskan dalam kerangka hak dasar atau asasi manusia. Pengakuan air sebagai hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa air merupakan kebutuhan yang demikian penting bagi hidup manusia, di pihak lain perlunya perlindungan kepada setiap orang atas akses untuk mendapatkan air. Demi perlindungan tersebut perlu dipositifkan hak atas air menjadi hak yang tertinggi dalam bidang hukum yaitu hak asasi manusia. Majelis Umum PBB telah mengeluarkan sebuah resolusi tentang Hak Atas Air. Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo memberikan kesempatan wawancara wartawan Percik, Eko B Harsono P: Sebelumnya atas nama majalah Percik kami mengucapkan selamat kepada bapak atas amanah tugas yang

baru, semoga diberikan kemudahan dalam melaksanakan tugas. Seperti kita ketahui Majelis Umum PBB beberapa waktu lalu telah mengeluarkan Resolusi bahwa Air dan Sanitasi merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Menurut bapak apa yang bisa dimaknai dari terbitnya resolusi tersebut oleh pemerintah Indonesia? Apakah konsep ini merupakan hal yang baru bagi kita? J: Kita tentunya menyambut baik terbitnya Resolusi tersebut yang merupakan pengakuan para pemimpin dunia bahwa air dan sanitasi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam diri manusia sehingga menjadi hak asasi manusia. Kita sangat menyadari air dan sanitasi menjadi kebutuhan paling dasar manusia. Kita menyebut sebagai hak atas air tetapi lebih kepada air sebagai kebutuhan dasar air minum yaitu menjadi tanggung jawab pemerintah. Hal ini sebelumnya tertuang dalam PP No 16 sebagai turunan dari UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Jadi sesungguhnya kita sedang merecognize bahwa air sebagai kebutuhan dasar tentunya harus dipenuhi oleh Negara. Memaknainya tentunya sama, satu pihak menyebut hal itu sebagai Hak Atas Air sedangkan kami menyebut sebagai Kebutuhan Dasar Air Minum jadi tanggung jawab pemerintah. P: Dapat bapak jelaskan bagaimana UU No 7 Tahun 2004 telah menjadi payung hukum bahwa persoalan air minum yang merupakan kebutuhan paling dasar manusia menjadi tanggungjawab pemerintah atau negara? Jika sudah

31

Wawancara
diadopsi sebenarnya sejauh mana pemerintah Indonesia telah menerapkan konsep ini dalam konteks pembangunan AMPL? J: Dalam UU No 7 Tahun 2004 jelas tercantum bahwa pemanfaatan air prioritas utama ditujukan untuk air minum yang merupakan kebutuhan paling dasar masyarakat Indonesia. Jika kemudian terjadi perselisihan akibat sumber daya air atau sebagainya, maka pertama-tama yang menjadi fokus atau prioritas pemerintah adalah air minum yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat yang wajib dipenuhi oleh Negara. Selain air sebagai kebutuhan dasar, ada yang sifatnya air menjadi kebutuhan sekunder atau menjadi penunjang kegiatan perekonomian, atau air yang kemudian digunakan untuk kebutuhan rekreasional, gaya hidup atau stylelistik itu tidak bisa lagi dikategorikan air sebagai hak. Pemerintah secara tegas bersikap bahwa karakteristik kebutuhan air seperti itu harus diperoleh sesuai dengan nilai ekonomis airnya. P: Air sebagai anugerah Tuhan untuk manusia. Apakah dengan membuat karakteristik yang berbeda akan kebutuhan air tersebut tidak menjadi persoalan akan hak atas air? J: Kita sadar dan sangat setuju bahwa air minum itu merupakan anugerah berharga yang diberikan Tuhan kepada manusia secara gratis. Namun hendaknya dimengerti bahwa untuk mengalirkan atau servicenya tersebut tidak dapat gratis. Bahkan didalam undangundang Sumber Daya Air secara tegas disebutkan sumber daya air itu pada prinsipnya, bisa atau boleh didapat secara gratis selama pertama dia tidak merubah peruntukan dan membahayakan peruntukan bagi masyarakat dengan prioritas air minum. Dan kedua tidak digunakan untuk komersial. Jadi untuk kebutuhan sendiri jelas Undang Undang menyebutkan semua orang Indonesia berhak mendapat sumber daya air dari manapun dengan gratis. Akan tetapi begitu sumber daya air disalurkan melalui pipa PDAM dan sebagainya itu yang dibayar adalah service atau pelayan. Dan pengejewantahan air sebagai kebutuhan dasar ditanggung pemerintah dalam pengertian hak atas air itu diwujudkan dengan yang namanya tarif dasar. Dimana tarif dasar itu disebutkan misalnya sampai 5 meter kubik perbulan untuk setiap rumah tangga itu oleh pemerintah diterapkan tarif yang sangat murah. Jadi tetap juga tidak bisa gratis karena ada unsur pelayanan disitu. Kecuali datang sendiri kemata air tidak menjadi masalah. P: Saat ini mengemuka upaya privatisasi sebagai salah satu pilihan pemenuhan akses air bagi penduduk. Dilain pihak banyak yang menganggap, khususnya LSM yang menilai privatisasi bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Bagaimana pemerintah melihat persoalan ini? J: Dalam Undang Undang N0 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air jelas disebutkan bahwa siapa pun untuk dapat menggunakan sumber daya air dia harus memiliki Surat Izin Pemanfataan Air (SIPA) yang turunan pemerintahnya diatur lagi baik pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Surat izin ini berpayung hukum UU SDA tadi itu. Untuk kepentingan lingkup provinsi maka yang menerbitkan adalah provinsi, untuk lingkup pemerintah tingkat II Kabupeten atau Kota tentunya Walikota atau Bupati yang menerbitkan. Sedangkan untuk kepentingan nasional yang menerbitkan adalah Kementerian Pekerjaan Umum. Dalam menerbitkan SIPA ini tentunya pemerintah baik pusat dan daerah menyadari bahwa di dalamnya diatur tegas bagaimana air minum sebegai kebutuhan dasar masyarakat harus dipenuhi dan dijamin. Yang saya coba mengerti teman-teman LSM itu melihat beberapa kasus terkesan air minum dikuasai oleh swasta sehingga sebagai air minum tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Ini merupakan kasuistis. Namun kita harus melihat persoalan secara jernih juga. Kalau sebuah perusahaan memiliki sumber daya air di wilayahnya, sesungguhnya saat dia ingin memanfaatkan sendiri dia harus memiliki SIPA. Dan pada saat mengeluarkan SIPA teorinya pemerintah daerah harus melihat apakah sumber daya air yang ada

32

Edisi III, 2010

ISTIMEWA

diwilayah swasta itu dapat dimanfaat terlebih dahulu untuk air minum atau tidak. Bahkan dalam SIPA tersebut dikatakan apabila dikemudian hari air yang ada dalam wilayah perusahaan tersebut dibutuhkan untuk kebetuhan yang lebih prioritas yaitu air minum maka secara otomatis dapat diambil oleh pemerintah. SIPA ini merupakan surat izin pemanfaatan air bagi siapa pun. Misalnya saya sudah punya izin untuk memanfaatkan air untuk air botol, namun suatu saat pemerintah daerah tempat usaha itu beroperasi melihat ada sebuah kebutuhan air minum yang harus dipenuhi dan menjadi prioritas, dan satu-satunya sumber daya air yang dapat digunakan adalah sumber air di tempat saya. Maka secara otomatis pemerintah daerah dapat meninjau kembali izin yang telah diberikan kepada saya, dan lebih memprioritaskan kebutuhan dasar masyarakat akan air minum. Dan sisanya kemudian bisa dimanfaatkan oleh perusahaan saya itu. Jadi jika dilihat peraturannya jelas terlihat kita sudah sangat merecognize apa yang diistilahkan PBB tersebut sebagai Hak Atas Air. Namun jika kemudian disana-sini masih terdapat sejumlah kekurangan, harus diakui kita masih sangat membutuhkan teman-teman LSM untuk membantu memberikan feedback atau informasi. P: Apakah konsep hak asasi manusia ini juga telah mewarnai RPJMN 2010-2014? Dan terakhir mungkin bapak memiliki pesan khusus kepada pemerintah daerah untuk merespon soal air minum yang kemungkinan

besar akan lebih rumit, apa yang harus dicermati terkait air sebagai sebuah hak dan kebutuhan dasar warganya? J: Dalam RPJMN 2014 jelas kita sudah mengadopsi air sebagai sebuah kebutuhan dasar manusia Indonesia yang harus dipenuhi oleh Negara. RPJM kita jelas bahwa air merupakan kebutuhan dasar dan pengertiannya seperti sudah saya jelaskan diatas tadi tentunya. Yang harus dicermati pemerintah daerah dimanapun pertama harus punya gambaran yang sangat jelas tentang kebutuhan air untuk masyarakatnya. Sesuai dengan bahasa MDGS, pemerintah daerah harus paham akases sumber air berkualitas untuk masyarakatnya (improve water). Meski masyarakat punya sumber air alternatif pemerintah daerah harus tahu apakah itu sudah menjadi sumber air minum yang layak. Yang menjadi masalah adalah yang tahu mengenai kualitas air seperti apa adalah pemerintah daerah, sedangkan masyarakat biasanya tenang-tenang saja apakah sumber airnya itu layak atau tidak untuk dikonsumsi. Masyarakat sering tidak tahu bahwa sejumlah penyakit banyak bersumber dari air yang mereka minum. Inilah pentingnya pemerintah daerah untuk mengedukasi warganya. Dengan semakin sulitnya kondisi sumber daya air ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu mempertahankan apa yang sudah kita punya dan kedua mencari sumber air alternatif. Dan yang kedua ini lebih mahal tentunya. Yang kedua ini tentunya tidak terhindarkan karena pertambahan penduduk . Dan untuk menjaga sumber daya air tentunya sanitasi harus diperhatikan dan dijaga secara baik.

33

Wawancara

Hamong Santono:

B

eberapa waktu lalu, Majelis Umum PBB menerbitkan sebuah resolusi yang menyatakan akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan hak asasi manusia. Dengan suara 122 mendukung dan tidak satu pun negera menentang. Pada kesempatan itu para tokoh dunia menegaskan hak atas air minum yang aman dan sanitasi yang layak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dipenuhi negara. Dengan mendukung resolusi PBB, penandatangan berkomitmen untuk memainkan peran lebih besar dalam memenuhi kebutuhan untuk akses yang memadai, aman dan terjangkau untuk air. Indonesia memilih mendukung dengan beberapa catatan. Salah satu dasar terbitnya resolusi tersebut, PBB menyatakan “keprihatinan mendalam” bahwa sekitar 884.000.000 orang tanpa akses ke air minum yang aman dan lebih dari 2,6 miliar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar.

Ketika menerbitkan resolusi tersebut Majelis Umum PBB mengungkapkan sejumlah fakta bahwa 1,5 juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahun akibat penyakit air dan sanitasi yang buruk. “Saya melihat resolusi yang ditanda-tangani pemerintah Indonesia itu dapat berubah menjadi buah simalakama. Tidak dilaksanakan melanggar komitmen, namun disisi lain sejumlah persoalan menyangkut air mengemuka dengan kuat ditengah masyarakat,” ujar Koordinator Hak Atas Air, Hamong Santono kepada Percik di Jakarta. Menurut Hamong, meskipun secara luas diakui bahwa air akan menjadi sumber utama konflik di masa mendatang, Indonesia belum memasukkan isu-isu sumber daya air di antara prioritas utama pembangunan. Hal ini dapat digambarkan oleh banyak sungai yang telah mengalami kerusakan yang luas dari polusi di negara kita. Pada 1970-an, ada 22 sungai rusak parah. Menjelang akhir 1990-an, angka itu meningkat menjadi 62. Tahun lalu, angka itu berdiri di 64. Tragisnya, selama tiga dekade terakhir, belum ada usaha serius untuk mengembalikan sungai tersebut. Masalah ini diperburuk oleh fakta bahwa laju deforestasi (penggundulan hutan, red.) tahunan masih terus berkembang. Dari tahun 2000 hingga 2005, deforestasi di seluruh negeri mencapai rata-rata 1.089.560 hektar per tahun. Walaupun Indonesia masih memiliki surplus air, deforestasi pasti akan mempengaruhi ketersediaan air di beberapa provinsi, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan Sulawesi. Ditegaskan oleh Hamong, ancaman ini diperburuk oleh kondisi infrastruktur sumber daya air di negeri ini, yang tidak lagi mampu menyediakan air bersih untuk masyarakat baik melalui operator swasta atau air pasokan Perusahaan Daerah Air Minum. Pada 2009, PDAM hanya mencakup 24 persen dari rumah tangga nasional dan banyak kantor cabang yang kekurangan uang tunai.

34

Edisi III, 2010
bisa membuka jalan bagi inisiatif Negara-negara ini kebijakan utama pada sumber daya air telah menunjukkan bersih. Hal ini tidak hanya merupakan bahwa air, sebagai cara untuk mengembangkan infrastruktur komoditas publik, sumber daya air, tetapi juga menjawab pertanyaan tentang masyarakat yang harus dikelola dengan baik dan paling membutuhkan bantuan. Beberapa negara telah mengambil dilindungi, dan masalah sumber langkah-langkah untuk memenuhi daya air yang kebutuhan air rakyatnya. Afrika Selatan, selalu harus misalnya, melakukan survei mengenai ditangani secara harapan rakyatnya untuk pemerintah demokratis. baru segera setelah berakhirnya apartheid. Hasil survei menunjukkan bahwa orangorang ingin negara yang menyediakan lapangan kerja, membangun perumahan Sejumlah Langkah yang layak dan segera menyediakan air Hamong menegaskan, sebagai langkah pertama, bersih dan sanitasi. pemerintah harus memiliki kemauan politik untuk Berdasarkan survei, pemerintah Afrika Selatan memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih dan menyiapkan rencana induk untuk mencapai target sanitasi. Ini harus mengadakan diskusi publik dan debat tersebut. Akibatnya, akses publik terhadap air bersih mengenai aspek teknis dari masalah sumber daya air dan mencapai 100 persen di daerah perkotaan dan 80 dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. persen di daerah pedesaan, menurut laporan Organisasi Perdebatan tentang masa depan sumber daya Kesehatan Dunia 2008. FOTO-FOTO: DOK PRI. Di Uruguay, pemerintah bahkan mengubah Konstitusi pada tahun 2004, memberikan prioritas kepada pertimbangan sosial dalam mengeluarkan kebijakan terhadap air dan sanitasi. Dalam contoh lain, kota Porto Alegre Brasil memperkenalkan sistem anggaran partisipatif yang termasuk dalam pengembangan pasokan air bersih. Negara-negara ini telah menunjukkan bahwa air, sebagai komoditas publik, harus dikelola dengan baik dan dilindungi, dan masalah sumber daya air yang selalu harus ditangani secara demokratis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki peran penting dalam mengatasi masalah air di Indonesia. Kita semua menonton dan menunggu. Selama sisa masa jabatan yang kedua dan terakhir di air kita harus melibatkan semua sektor masyarakat kantor, Yudhoyono tidak memiliki pilihan selain untuk karena merupakan masalah keadilan, terutama bagi memasukkan air dan masalah sanitasi di antara masyarakat miskin dan di daerah terpencil yang sangat prioritas pembangunan bangsa. Masa depan kita membutuhkan akses terhadap air bersih yang terjangkau. tergantung padanya. Debat sehat ditambah dengan komitmen pemerintah Alokasi anggaran negara untuk air bersih dan sanitasi, senilai sekitar Rp. 3 triliun menjadi Rp. 4 triliun ($ 340 juta menjadi $ 450 juta) per tahun, yang lebih rendah dibandingkan dengan alokasi pemerintah untuk subsidi listrik, yang bernilai sekitar Rp. 40 triliun per tahun Mengamankan hak rakyat untuk memperoleh air minum membutuhkan peran negara untuk memainkan peran yang lebih besar. Kesediaan Indonesia untuk mematuhi resolusi PBB yang baru, tentu saja berdampak positif pada pengembangan sumber daya air di seluruh negeri.

35

Wawancara

D

Hak Asasi Atas Air Jangan Sekedar Jargon Manis di bibir
merah dalam penegakan hukum dan HAM. “Karena itu, saya sangat berharap pemerintah Indonesia yang telah ikut menandatangani resolusi tersebut secara konsistem melaksanakannya. Jangan menjadikan hak asasi atas air sebuah jargon yang manis di bibir pejabat,” ujar Patra. Menurut Patra, Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya (ekosob) PBB dalam komentar umum Nomor 15 memberikan penafsiran yang lebih tegas terhadap pasal 11 dan 12 Kovenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dimana hak atas air tidak bisa dipisahkan dari hak-hak asasi manusia lainnya. Hak atas air juga termasuk kebebasan untuk mengelola akses atas air. Elemen hak atas air harus mencukupi untuk martabat manusia, kehidupan dan kesehatan. Kecukupan hak atas air tidak bisa diterjemahkan dengan sempit, hanya sebatas pada kuantitas volume dan teknologi. Air harus diperlakukan sebagai barang sosial dan budaya, tidak

A Patra M Zen, Direktur YLBHI:

itegakkannya Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi amanat reformasi yang digulirkan pada 1998. Tetapi sepanjang rentang 1998 sampai sekarang ada banyak catatan yang menilai perjuangan menegakkan HAM, hukum dan pemberantasan korupsi masih berjalan di tempat. Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) A. Patra M. Zen, nama yang cukup dikenal praktisi hukum mencoba menjawab sejumlah persoalan menyangkut Hak Azasi Manusia (HAM) terkait dengan terbitnya resolusi PBB tentang Hak Atas Air beberapa waktu lalu. Patra M Zen secara tegas menyebutkan penegakan hukum di Indonesia masih terbatas manis di bibir, sehingga yang terjadi surplus janji, defisit bukti. Artinya, lebih banyak janji-janji penegakan hukum daripada bukti. Karena itu banyak menteri yang mendapat nilai

36

ISTIMEWA

Edisi III, 2010
semata-mata sebagai barang ekonomi. Kecukupan air memegang dan duduk dalam posisi kunci dan strategis sebagai prasyarat pemenuhan hak atas air, dalam setiap dalam lembaga-lembaga negara, dalam menjalankan keadaan apa pun harus sesuai dengan faktor-faktor obligasi untuk mempromosikan, melindungi, memajukan berikut : dan memenuhi hak-hak ekosob di Indonesia. 1. Ketersediaan. Artinya, pasokan air untuk setiap Menurut Patra pula, YLBHI sejak awal telah orang harus mencukupi dan berkelanjutan untuk merekomendasikan sejumlah program aksi yang secara kebutuhan individu dan rumah tangganya. Kuantitas substantif dan signifikan akan membawa perubahan besar ketersediaan air untuk setiap orang harus mengacu pada dalam kehidupan hukum dan HAM, utamanya bagi pedoman yang ada di WHO. masyarakat miskin, marjinal dan para keluarga korban 2. Kualitas. Maksudnya, air minum untuk setiap pelanggaran HAM. “Program 100 hari seperti apa yang orang atau rumah tangga harus aman, bebas dari diharapkan masyarakat dengan ukuran tersebut di atas, organisme mikro, unsur kimia dan radiologi yang dapatlah kami contohkan. Pertama, di bidang perluasan berbahaya yang mengancam kesehatan manusia. dan peningkatan akses keadilan bagi masyarakat miskin 3. Mudah diakses. Yaitu air minum dan fasilitas air dan marjinal. Program pemberian bantuan hukum dan pelayanannya harus dapat diakses oleh setiap orang dan pembangunan sistem bantuan hukum nasional tanpa diskriminasi. semestinya menjadi program prioritas kementerian ini,” Dikatakan Patra, untuk memantau hak tersebut, saat paparnya. ini diperlukan pemaksimalan sumberdaya Kedua, di bidang hak asasi manusia, (antara lain) advokat, PBH dan sukarelawan seperti mengalokasikan anggaran bantuan hukum untuk YLBHI – LBH untuk memperjuangkan masyarakat miskin, menerbitkan regulasi penyelesaian pemenuhan hak-hak ekosob di negeri problem yang dialami korban lumpur paini. Setidaknya, ada tiga hal yang perlu nas Lapindo, penyelesaian kekerasan buruh Kecukupan air migran, termasuk meratifikasi konvensi terus dikembangkan. Pertama, promosi sebagai prasyarat perlindungan buruh migran dan pemberian tentang prinsip-prinsip, features dan pemenuhan hak bantuan hukum bagi buruh migran di luar batas lingkup, termasuk definisi hakatas air, dalam negeri, kemudian meratifikasi Statuta Roma hak ekosob. Hal ini diperlukan, dalam setiap keadaan tentang Pengadilan Pidana Internasional, praktik, untuk memberikan kerangka apa pun . . . kebijakan dan praktik pemenuhan hakserta menyusun dan menerbitkan Keppres hak ekosob rakyat; Pengadilan HAM ad hoc kasus Orang HiKedua, di lingkup kompetensi lang. utama YLBHI – LBH, perlu dikembangkan terus Beberapa rekomendasi lainnya peluang-peluang menggunakan sistem peradilan – yang disebutkan Patra, termasuk juga disamping mekanisme administrasi dan politik – dalam menerbitkan Perpres Komite Nasional Pembaruan rangka pemenuhan hak-hak ekosob. Dengan kata lain, Agraria (KNPA), merekomendasikan pencabutan sebaiknya terus mendorong hak-hak ekosob sebagai hak izin HPH dan HTI, pertambangan dan migas, serta konstitusional menjadi hak hukum masyarakat, terutama perkebunan besar yang telah menyebabkan konflik sosial berkaitan justisiabilitas hak-hak ini. dan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan hidup, Ketiga, secara terus menerus sebaiknya kita hingga penerbitan regulasi pelembagaan permanen menghidupi sebuah tradisi yang positif: memproduksi Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender di bidang gagasan dan ide-ide maju tentang sistem negara pendidikan hingga tingkat kabupaten/kota. Pemerintah demokrasi, penegakan hukum, hak asasi manusia menurut Patra pula, juga bisa memperkuat regulasi dan secara umum gagasan tentang masyarakat dan dan kebijakan pemberantasan korupsi, (membuat) kemanusiaan. Aktivitas ini bertujuan untuk menopang moratorium penggusuran paksa perumahan kaum miskin keseluruhan aktivitas advokasi dimana YLBHI – LBH perkotaan, mengupayakan pengembalian lahan-lahan selain menjadi lembaga advokasi, juga menjadi prominent yang dikuasai BUMN kepada masyarakat yang diperoleh critical and criticism centre. dengan cara melawan hukum di masa lalu, serta Sasaran advokasi ini, tentu saja tidak hanya dapat penerbitan regulasi yang menjamin pemenuhan didorong oleh advokat, PBH atau sukarelawan LBH, hak dan hajat hidup orang banyak (air, melainkan juga para alumni LBH yang saat ini pendidikan dan kesehatan).

37

Inovasi

B

Teknologi untuk Air Bersih

Oksidasi
Limbah cair Dalam proses produksi sebuah industri pada umumnya dipergunakan berbagai bahan material dari berbagai jenis dan bentuk. Namun, dalam pelaksanaan sistem pengolahan limbah cair pada umumnya dilakukan secara bersamaan tanpa adanya pembagian atau pemisahan jenis dan bentuk bahan material berdasarkan proses yang dilalui. Akibat dari penerapan sistem pengolahan limbah seperti ini, kita akan membutuhkan suatu teknologi tinggi, sehingga akan membutuhkan dana serta energi yang sangat besar. Selain itu, sistem pengolahan limbah cair yang ada sekarang umumnya mempergunakan cara kombinasi

ELAKANGAN ini ramai orang membicarakan akan krisis air bersih, namun pembicaraan orang selalu terkisar antara hukum, kebijakan dan manajemennya saja. Bagaimana dengan teknologi untuk mengatasi krisis ini? Seorang pakar dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Anto Tri Sugiato memperkenalkan teknologi oksidasi beserta penggunaannya sebagai solusi alternatif mengatasi krisis air minum. Teknologi ini bukanlah teknologi baru, namun perkembangannya akhir-akhir ini sangat pesat. Belakangan ini teknologi oksidasi mulai dikenal dengan nama teknologi Advanced Oxidation Processes. Teknologi ini sendiri mulai banyak dikembangkan serta diterapkan di berbagai negara maju. Krisis air bersih Di Indonesia dewasa ini, salah satu masalah lingkungan yang cukup meresahkan adalah krisis air bersih. Krisis air boleh dikatakan masalah paling utama selain masalah lingkungan lain seperti polusi udara, kerusakan dan juga kebakaran hutan. Permasalahan air bersih sebenarnya ada pada pembuangan limbah cair yang dilakukan secara sembarangan dari hasil kegiatan industri serta limbah domestik perkotaan. Ditambah lagi dengan kurangnya usaha untuk mengolah limbah cair secara benar. Selain akibat masalah limbah cair, krisis air bersih di Indonesia juga diakibatkan karena eksploitasi langsung air tanah sebagai sumber air untuk berbagai bidang industri termasuk di antaranya industri air minum dalam kemasan tadi.

ISTIMEWA

38

Edisi III, 2010
antara pemakaian chlorine serta sistem kondensasi, sedimentasi, dan filtrasi. Sedangkan pengolahan limbah organiknya banyak mempergunakan mikrobiologi, karbon aktif serta membrane filtration. Sedangkan akhirakhir ini limbah organik yang dibuang semakin banyak mengandung senyawa organik yang sulit untuk diuraikan hanya dengan mikrobiologi serta membrane filtration, serta sangat membahayakan keselamatan makhluk hidup. Dari keterangan singkat di atas, dapat kita simpulkan bahwa sistem pengolahan limbah cair yang ada sekarang sangatlah tidak efektif. Untuk itu kita perlu memilih serta memilah teknologi pengolahan limbah cair yang ada agar kita dapat menerapkan suatu teknologi secara tepat dan benar sesuai dengan kadar kebutuhannya. Untuk itu kita perlu mengetahui hal-hal sebagai berikut, (1) unsur-unsur yang terkandung dari limbah cair tersebut, (2) akibat dari unsur-unsur tersebut ketika air limbah tersebar ke lingkungan, (3) perubahan serta kekuatan/ketahanan dari unsur tersebut dalam proses pengolahan (treatment), (4) metode/teknologi yang dapat membersihkan atau memodifikasi unsur yang terdapat pada limbah cair tersebut, (5) metode/ teknologi yang tepat guna serta dapat membersihkan/ memodifikasi zat padat hasil dari proses pengolahan, (6) demikian pula halnya karakteristik dari teknologi pengolahan limbah cair yang ada seperti, jenis material apa yang dapat diuraikan, kualitas air bagaimana yang diharapkan, bagaimana biaya pemeliharaannya, bagaimana biaya pembangunan dan lain-lain. Teknologi Oksidasi Saat ini penggunaan teknologi oksidasi atau yang sekarang kita kenal dengan Advanced Oxidation Processes (AOPs) mendapat perhatian cukup besar. Karena, teknologi ini dapat menguraikan serta membersihkan senyawa-senyawa organik yang selama ini sulit atau tidak dapat diuraikan dengan metode mikrobiologi atau membrane filtration. Selain itu, teknologi ini dapat diaplikasikan tidak hanya untuk mengolah limbah cair hasil industri, namun dapat juga dipergunakan untuk mengolah air minum atau air bersih. Teknologi AOPs adalah satu atau kombinasi dari

beberapa proses seperti ozone, hydrogen peroxide, ultraviolet light, titanium oxide, photo catalyst, sonolysis, electron beam, electrical discharges (plasma) serta beberapa proses lainnya untuk menghasilkan hydroxyl radical (OH). OH adalah spesies aktif yang dikenal memiliki oksidasi potensial tinggi 2.8 V melebihi ozone yang memiliki oksidasi potensial hanya 2.07 V. Hal ini membuat OH sangat mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain yang ada di sekitarnya. Saat ini, metode kombinasi dari ozone, hydrogen peroxide, dan ultraviolet light merupakan metode yang paling banyak diteliti serta dicoba untuk mengolah berbagai jenis limbah cair. Diikuti selanjutnya dengan metode titanium oxide dan fenton reaction. Sedangkan metode lain seperti sonolysis, electron beam juga electrical discharges, kebanyakan masih dalam tahap proses penelitian. Karakteristik dari OH, OH sesuai dengan namanya adalah spesies aktif yang memiliki sifat radikal, di mana mudah bereaksi dengan senyawa apa saja tanpa terkecuali. Di dalam air OH bereaksi dengan senyawa yang ada di sekitarnya. Reaksi OH dengan OH, seperti penjelasan di atas, OH sangat mudah bereaksi dengan apa saja, termasuk dengan OH itu sendiri, dari reaksi ini didapatkan hydrogen peroxide. Jangka waktu dari OH tergantung kepada konsentrasinya. Sebagai contoh, untuk OH berkonsentrasi 1µM, jangka waktunya adalah sekitar 200 µs. Aplikasi dari AOPs Berikut beberapa contoh pemakaian teknologi AOPs. Di mana selain penjelasan di atas masih banyak lagi penelitian

39

Inovasi

ISTIMEWA

yang membahas tentang metode AOPs ini. Di Jepang, sejak diterapkannya perundangan tentang dioxin dan sejenisnya (Januari 2001), pengolahan limbah cair terpusat pada limbah cair dari tempat pembakaran sampah (domestik dan industri). Di mana dioxin banyak dihasilkan dari akibat pembakaran sampah (terutama sampah jenis plastik) yang tidak sempurna. Perlu kita ketahui bahwa hampir dari 70 persen sampah di Jepang diproses dengan cara dibakar (Kementerian Lingkungan Hidup, 1996). Untuk menguraikan dioxin ini metode AOPs banyak dipergunakan, di antaranya O3/UV dan O3/H2O2. Dengan mempergunakan O3/UV, kandungan dioxin dapat diuraikan hingga 90 persen di mana sebagai sumber ultraviolet light-nya dipergunakan lampu dari merkuri rendah voltase yang didapati lebih efektif dibandingkan dengan lampu merkuri voltase tinggi (Daito, 2000). Dari hasil penelitian diketahui bahwa perbandingan penggunaan dari O3/UV dan O3/H2O2 adalah, O3/UV lebih efektif untuk menguraikan jenis senyawa dioxin yang mengandung unsur Cl lebih banyak. Sedangkan O3/H2O2 efektif untuk jenis senyawa dioxin yang mengandung unsur Cl lebih sedikit. Contoh lain adalah limbah cair dari berbagai industri tekstil yang banyak mengandung dye (zat pewarna), di sini banyak dipergunakan UV/H2O2, Metoda Fenton, O3/UV, serta TiO2/ UV (Sugimoto, 2000). UV/

H2O2 didapatkan paling efektif untuk menguraikan/ menghilangkan zat pewarna ini. Sedangkan untuk limbah cair industri lainnya selain zat pewarna dipergunakan metode UV/H2O2, Metode Fenton dan O3/H2O2. Untuk menguraikan p-hydroxyphenilacetic acid yang banyak didapatkan dari limbah industri agrokultur, kombinasi dari Metode Fenton dan ultraviolet adalah paling efektif (Sarria, 2001). Untuk limbah cair dari penggunaan obat-obatan di bidang pertanian, metode AOPs didapati sangat efektif, di antaranya untuk penguraian senyawa atrazine dipergunakan O3/H2O2, O3/UV dan UV/H2O2. Di sini O3/H2O2 didapati lebih efektif dibandingkan dengan yang metode lainnya (Acero, 2001). Untuk penguraian senyawa 2-4 dichlorophenoxyacetic acid dipergunakan UV/H2O2 (Alfano, 2001) Simazine (Kruithof, 2000), dan Tricholoethylene (Shiotani, 2001) dapat diuraikan mendekati 100 persen dengan mempergunakan O3/ H2O2 atau UV/H2O2. Sedangkan untuk menguraikan mono dan trichloroacetic acid dalam air minum dipergunakan kombinasi dari serat TiO2 dan sinar matahari (Sun, 2000). Untuk limbah cair ini baru metode kombinasi dari ozone dan hydrogen peroxide saja yang dipergunakan (Fuchigami, 2000). Metode ini didapati efektif dipergunakan untuk menguraikan humic acid, endocrine-disrupting chemicals serta senyawa organik lainnya, yang didapati tidak dapat diuraikan dengan proses activated sludge.( Eko/LIPI.org)

40

Edisi III, 2010

Tanah Liat Media Efektif Menjernihkan Keruhnya Air Gambut
DOK. PRI.

Yuliansa Effendy,

Peneliti Program Pascasarjana Teknik Universitas Gajah Mada

D

alam aktivitas sehari-hari manusia sangat membutuhkan air baik untuk konsumsi maupun aktivitas lainnya yang memerlukan air seperti mandi, cuci, pertanian, industri dan lain sebagainya. Dalam buku Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) tahun 2008, berdasarkan data dari Statistik Indonesia tahun 2007 secara nasional kebutuhan air di Indonesia mencapai 9,03 milyar M³, adapun sumber-sumber air yang dimanfaatkan masyarakat antara lain air ledeng (PAM) sebesar 16,19%, air tanah (dengan pompa) sebesar 57,97 %, air kemasan 7,18%, mata air 12,64%, air sungai 3,04%, air hujan 2,58% dan lainnya 0,40%. Usaha-usaha pemerintah melalui Perusahaan Air Minum (PDAM) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih di Indonesia ternyata belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yang terletak jauh dari instalasi pelayanan pengelolaan air bersih. Sehingga masyarakat memenuhi kebutuhan air dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada di lingkungan sekitarnya seperti memanfaatkan air sungai, air sumur, air danau, air hujan serta mata air. Namun mutu air yang digunakan belum tentu memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan sebagai air bersih (Permenkes RI No. 416/Menkes/SK/ IX/1990), mutu air dapat dipengaruhi oleh pencemaran, baik pencemar alami maupun pencemar akibat aktivitas manusia atau makhluk hidup lainnya. Salah satu sumber air yang memiliki mutu yang kurang baik sebagai air bersih adalah air gambut, padahal bila ditinjau dari segi kuantitas air gambut merupakan potensial yang berlimpah khususnya terdapat pada wilayah yang mempunyai karakteristik sebagai lahan gambut. Kecamatan Gambut merupakan salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Banjar dengan luas 129,30 hektar mempunyai luas potensial lahan gambut, dimana penduduk yang berada dipelosok hanya memanfaatkan air hujan dan air permukaan. Hasil uji di kecamatan Gambut, kabupaten Banjar propinsi Kalimantan Selatan menunjukkan karakteristik air gambut mempunyai kadar yang melebihi ambang

41

Inovasi

batas air bersih yang diperbolehkan, yaitu dengan pH 3,9, warna 570 PtCo, kekeruhan 13 NTU mg/lt, SO₄ 60 mg/lt, Fe 2,37 mg/lt, Mn 0,07 mg/lt, Zn 0,31 mg/lt, zat organik 280 mg/lt KMnO₄, kesadahan 21 mg/ lt CaCO₃ dan Cl 11 mg/lt. Dan bila dibandingkan dengan standar baku mutu air bersih (Permenkes RI No. 416/Menkes/SK/IX/1990) dengan parameter yang sama air bersih harus mempunyai pH 6.5 – 9.0, warna 50 TCU, kekeruhan 25 NTU, SO₄ 400 mg/lt, Na 10 mg/lt, Fe 1.0 mg/lt, Mn 0.5 mg/lt, Zn 15 mg/lt, zat organik 10 mg/ lt KMnO₄, kesadahan 500 mg/lt CaCO₃, Cl 600 mg/lt. Dengan perbandingan tersebut, tentu air gambut belum dapat dipakai sebagai air bersih. Untuk dapat memanfaatkan air gambut, maka diperlukan adanya upaya pengolahan air gambut untuk memperbaiki kualitas sifat-sifat fisik dan kimia air sehingga memenuhi syarat air bersih. Teknologi yang murah, aplikatif dan pemanfaatan bahan lokal sangat diharapkan dalam pengolahan air bersih ini. Dengan metode koagulasi-flokulasi-filtrasi dengan bahan koagulan lokal seperti tanah liat podsolik dan diharapkan merupakan teknologi sederhana yang efektif dapat diadopsi oleh masyarakat setempat. Secara keseluruhan pemberian tanah liat podsolik dapat memperbaiki kualitas

air gambut. Walaupun pemberian tanah liat podsolik sebagai koagulan memperlihatkan korelasi atau hubungan yang tidak linier. Pada proses koagulasi pemberian tanah liat podsolik dengan dosis 7,5 g/l memperlihatkan hasil yang paling baik. Tahapan Proses Penelitian dilakukan di kota Banjarmasin antara bulan Desember 2009 sampai bulan Januari 2010. Analisis air di Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Kalimantan Selatan di Banjarbaru dan di Laboratorium Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap pelaksanaan yaitu: Analisis laboratorium pendahuluan terhadap air gambut sebelum diolah dengan alat pengolah air bersih, sebagai data dasar air gambut sebelum diolah dianalisis meliputi parameter Warna, Kekeruhan, Zat Organik, Fe, Mn dan pH. Perancangan dan pembuatan alat pengolah air gambut skala individu. Tanah liat podsolik diambil pada kedalaman 1- 2 meter atau pada solum B-C di kelurahan Sei Ulin Kota Banjarbaru Propinsi Kalimantan Selatan. Tanah liat dianginkan agar kering udara dan disaring dengan ukuran 0.002 – 0,2 mm.

42

Edisi III, 2010
Pengolahan Air Gambut dengan Menggunakan Alat Pengolah Air Bersih. Lantas seperti apa proses pengolahan air gambut dengan pemberian tanah liat podsolik terjadi proses koagulasi-flokulasi yang membuat destabilisasi dan adsorpsi pada koloid organik sehingga terjadi perubahan pada penurunan nilai warna, kenaikan kekeruhan, penurunan kandungan zat organik, penurunan kandungan Fe dan Mn serta meningkatkan pH. Posisi Ca2+ dan Al3+ sebagai pengikat. Hal ini dapat dilihat melalui proses yang terjadi sebagai berikut. Warna air gambut sebelum perlakuan mempunyai nilai sebesar 1460 TCU, setelah diberi tanah liat pada berbagai dosis, parameter warna ini terjadi penurunan menjadi 410 TCU, 212 TCU, 108 TCU, 133 TCU dan 216 TCU. Penurunan warna air gambut ini disebabkan adanya muatan positif Al3+ yang lepas dari jerapan permukaan liat dan bebas, bereaksi dengan mengikat koloid asam humat sebagai penyebab warna pada air gambut, kemudian gabungan partikel ini akan mengendap karena masanya bertambah berat bersamasama partikel liat, sehingga pada tahap pengolahan ini warna air sudah tereduksi. Pada tahapan lanjutan berupa filtrasi penurunan warna cukup baik, ini terlihat pada perbandingan nilai kekeruhan sebelum filtrasi dan setelah filtrasi. Setelah filtrasi kekeruhan masing-masing ditunjukkan dengan nilai 247 TCU, 169 TCU, 21 TCU, 22TCU dan 137 TCU. Media saring dengan kerikil dan pasir serta arang aktif dapat mengendapkan dan menjerap (adsorpsi) partikelpartikel yang masih melayang. Dari seluruh tahap proses pengolahan air gambut dengan koagulan tanah liat podsolik, yang dapat memenuhi standar warna air bersih pada pemberian 2,5 g/l tanah liat podsolik pada tahap filtrasi yaitu 43 TCU sedangkan standar warna air bersih 50 TCU. Kekeruhan awal air gambut sebesar 8,02 NTU, masih termasuk dalam syarat air bersih, perlakuan pemberian tanah liat podsolik dengan dosis 0 g/l, 2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l dan 10 g/l ke dalam air gambut justru menambah pengotor, ini terlihatnya peningkatan kekeruhan menjadi 9,42 NTU, 11,65 NTU, 16,07 NTU, 24,37 NTU dan 46,57 NTU. Semakin banyak tanah liat diberikan maka semakin banyak pula partikel-partikel liat yang masih melayang dalam air dan belum terendapkan. Pada proses filtrasi partikel-partikel yang masih melayang dalam air ini akan memasuki pori-pori yang kecil, sehingga partikel yang lebih besar dari pori akan tertahan sedangkan bila partikel lebih kecil akan terus sampai pada air keluar penyaringan. Ini terlihat pada nilai kekeruhan air gambut yang sudah pada tahap filtrasi pada masing-masing dosis 0 g/l, 2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l dan 10 g/l yaitu 2,36 NTU, 0,9 NTU, 1,28 NTU, 1,79 NTU dan 2,96 NTU. Untuk kekeruhan pada proses pengolahan air gambut dengan koagulan tanah liat podsolik, yang dapat memenuhi standar kekeruhan air bersih pada pemberian 2,5 g/l tanah liat podsolik pada tahap filtrasi yaitu 0,9 NTU sedangkan standar kekeruhan air bersih 25 TCU. Zat Organik yang terdapat dalam air gambut sebelum perlakuan sebesar 338,1 mg/l KMnO4 dan setelah pemberian tanah liat terjadi penurunan kandungan zat organik masing-masing sebesar 145,4 mg/l untuk dosis 0 gr/l tanah liat podsolik , 26,5 mg/l

untuk dosis 2,5 gr/l tanah liat podsolik, 13,3 mg/l untuk dosis 5 gr/l tanah liat podsolik, 9,2 mg/l untuk dosis 7,5 gr/l tanah liat podsolik dan 4,1 mg/l untuk dosis 10 gr/l tanah liat podsolik. Zat organik yang ada dalam air gambut tersebut melayang dalam air berupa koloid organik, dengan adanya pemberian kapur dan tanah liat maka terjadi pengikatan oleh Al3+ dan Ca2+ dengan butiran-butiran liat yang juga bersifat koloid, penggabungan tersebut akan menghasilkan massa yang lebih besar dan berat, kemudian akan terendapkan akibat pengaruh gravitasi bumi. Melewati media saring zat

43

Inovasi
organik ini lebih tertahan untuk memasuki pori-pori yang lebih kecil serta akan terjerap pada arang aktif sehingga pada proses ini terlihat kandungan zat organik sebesar 27,2 mg/l untuk dosis 0 gr/l tanah liat podsolik, 76,0 mg/l untuk dosis 2,5 gr/l tanah liat podsolik, 15,5 mg/l untuk dosis 5 gr/l tanah liat podsolik, 24,3 mg/l untuk dosis 7,5 gr/l tanah liat podsolik dan 23,7mg/l untuk dosis 10 gr/l tanah liat podsolik. Dari seluruh tahap proses pengolahan air gambut dengan koagulan tanah liat podsolik, yang dapat memenuhi standar kandungan zat organik air bersih pada pemberian 2,5 g/l tanah liat podsolik pada tahap filtrasi yaitu 7,6 mg/l KMnO4 sedangkan standar zat organik air bersih 10 mg/l KMnO4. Parameter pH merupakan faktor penentu dalam menentukan terhadap parameter-parameter lain, pH air gambut sangat rendah pada penelitian ini pH awal air gambut sebagai air gambut adalah 3,62. Pemberian kapur sebagai variabel tetap sebesar 250 mg/l dan ditambahkan pula pemberian tanah liat podsolik 0 g/l, 2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l dan 10 g/l dapat meningkatkan pH air gambut menjadi 8,93, 7,68, 7,1, 6,99 dan 7,2. Selain kapur (CaO) yang diberikan bersifat basa juga adanya kandungan Al3+ pada tanah liat podsolik akan membantu menetralkan air gambut dari pengaruh asam humat dan fulvat. Pada proses filtrasi sesuai dengan dosis pemberian tanah liat podsolik 0 g/l, 2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l dan 10 g/l menjadi 8,62, 7,26, 7,85, 8,67 dan 7,29. Nilai pH hasil akhir pengolahan air gambut semua, masuk dalam standar pH air bersih yang mempunyai rentang 6,5 – 9.

DESKRIPSI ALAT
Deskripsi alat pengolah air gambut skala rumah tangga sebagai berikut : A. Nama alat: Alat Pengolah Air Gambut Skala Rumah tangga B. Fungsi alat: Menjernihkan air gambut dengan metode koagulasi - filtrasi skala kecil (rumah tangga). C.Bahan: 1. Bak air plastik kapasitas 50 liter dengan keran penguras endapan. 2. Motor listrik (sewing machine) kapasitas 50/60 Hz, 100 watt sebagai pengaduk. 3. Pompa air kecil (skala aquarium) daya tarik 3 meter. 4. Botol galon air isi ulang kapasitas 19 liter. 5. Pipa ukuran Ø 4 inci panjang 100 cm untuk saringan (dari dasar pipa kerikil 30 cm, spons 2,5 cm, pasir 60 cm dan spons filter 2,5 cm). Dilengkapi dengan clean out Ø 2 inci terletak di bagian atas dan bawah serta plug pembuangan kotoran Ø ½ inci. 6. Pipa ukuran Ø 3 inci panjang 80 cm yang berisi arang aktif setinggi 70 cm dan spons filter di bagian atas. Dilengkapi dengan clean out Ø 2 inci terletak di bagian atas dan bawah. 7. Asesoris lainnya keran 1 buah, dop Ø 4 inci dan Ø 3 inci, stop keran 1 buah, drat luar dan drat dalam, pipa ½ inci sebagai penghubung aliran air. 8. Rangka baja siku penopang alat setinggi 173 cm. D. Cara Kerja : Pengolahan air gambut dengan menggunakan alat pengolah air bersih. Tutup semua keran (keran 1 dan 2) dan plug pembuangan clean out (CO) (1, 2, 3, 4, dan 5). Masukkan air gambut sebanyak 50 liter ke dalam bak koagulasi kemudian dicampurkan kapur dengan dosis 250 mg/liter kemudian ditambahkan liat masing-masing perlakuan dengan dosis 0 g/l, 2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l dan 10 g/l. Dilanjutkan dengan pengadukan dengan baling-baling yang digerakkan oleh motor listrik pada bak koagulasi selama 10 menit setelah itu larutan dibiarkan selama 45 menit untuk mengendapkan flok-flok yang terbentuk. Buka plug pembuangan 1 (CO1) untuk membuang endapan dan tutup kembali, pompakan air ke botol galon setelah penuh buka stop keran yang menghubungkan antara gallon dengan pipa penyaring (filtering), tunggu dalam 10 menit keran 2 dapat dibuka dan air bersih dihasilkan. Ulangi kerja tersebut untuk menambah volume. Untuk tiap kali pergantian perlakuan air gambut maka keran 1 dapat dibuka untuk mengeluarkan endapan pada pipa filtrasi (pipa 1).

44

Sisi Lain

Edisi III, 2010
sebagai jawaban atas krisis air tersebut. Untuk pertama kalinya, konsorsium itu meluncurkan dana investasi penyediaan air bersih yang menerapkan prinsip syariat Islam. Proyek itu diluncurkan di tengah tingginya kebutuhan air bersih di dunia. ‘’Bergabung dengan Gatehouse Bank-bank Islam yang berbasis di Inggris--kami menjadi mitra yang kompeten dan telah dikenal untuk meluncurkan Islamic Finance Water Strategy,” tutur Sander van Eijkern, CEO Sustainable Assets Management (SAM)). Dana investasi itu menawarkan pinjaman jangka panjang bagi investor yang bergerak di bidang industri air. Yang menarik, dana pinjaman tak menggunakan sistem bunga, namun lewat bagi hasil. Islam memang mengharamkan riba. Karena itu, tak memberlakukan sistem bunga dalam pemberian pinjaman. Selain itu, sistem keuangan dan perbankan syariah juga tak akan memberikan pinjaman untuk investasi di industri yang diharamkan agama Islam, seperti alkohol, perjudian, pornografi, serta hal yang berkaitan dengan babi. “Dana investasi syariah merupakan strategi untuk menarik minat investor di bidang indutri air bersih yang berorientasi jangka panjang dengan menerapkan prinsip ekonomi syariah,’’ papar Eijkern seperti dikutip Islamonline.net. Lembaga ini akan membidik investor dari lembaga-lembaga Islam. Menurut dia, SAM yang telah mengelola 1,5 miliar dana investasi air akan menjadi pengelola aset. Sedangkan, Gatehouse akan menjadi perusahaan pelapis yang menjamin kesepakatan investasi dikelola dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Kolaborasi Islamic Finance Water Strategy itu mendorong perusahaanperusahaan untuk bergerak dalam bidang penyediaan air bersih melalui teknologi, produk, dan pelayanan bagi penyediaan air bersih yang sesuai dengan syariat. Dana investasi ini bertujuan untuk membantu menyelesaikan krisis air yang dialami negara-negara di dunia. Berdasarkan data badan kesehatan dunia, saat ini sekitar 1,1 miliar penduduk dunia hidup tanpa dukungan air bersih. Dana investasi air yang sesuai syariat merupakan gabungan dari manajemen keuangan dengan ekonomi syariat. (eko)

Syariat Islam sebagai Solusi

T

idak dapat dipungkiri saat ini, krisis air bersih tengah mengancam peradaban manusia. Perubahan iklim akibat pemanasan global telah membuat ketersediaan air di seantero dunia kian menyusut. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan, sekitar 1,9 miliar warga Asia dan Afrika dalam beberapa dekade mendatang bakal mengalami krisis air. Itu berarti kehidupan umat manusia berada dalam ancaman. Krisis air merupakan puncak dari semua krisis sosial dan alam. Betapa tidak, air adalah hal yang paling utama bagi kehidupan manusia di planet bumi. “Ketersediaan air telah menurun secara drastis pada tingkat tidak berkesinambungan,” ujar Dirjen UNESCO, Koichiro Matsuura, dalam sebuah kesempatan, akhir April lalu. Dua dekade mendatang, ketersediaan air akan menurun hingga sepertiga dari saat ini. Kerusakan lingkungan yang kian meluas membuat semua negara di dunia berada dalam ancaman. Tak akan ada bagian dari bumi ini yang terbebas dari krisis air. Ketahanan pangan dunia pun terancam. Di tengah ancaman krisis air dunia itu, berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat dunia. Syariat Islam ternyata mampu menjadi salah satu solusi penting bagi penyediaan air bersih. Adalah sebuah perusahaan konsorsium berbendera Inggris dan Swiss yang mencoba menjadikan syariat Islam

45

Reportase

Dialog Publik Waspadai Konflik Air

Konflik Air Minum Perlu Diantisipasi Pemerintah Daerah

S

ebuah dialog publik bertajuk Waspadai Konflik Air Minum digelar di Fakultas Tehnik Lingkungan Institut Teknologi Bandung, akhir September lalu. Sejumlah pakar yang hadir pada dialog digelar di Ruang Serba Guna Masjid Salman ITB tersebut menilai pemerintah daerah perlu mengantisipasi terjadinya konflik yang disebabkan oleh air minum karena krisis air akan terjadi semakin luas dalam beberapa tahun kedepan di Indonesia. Pembicara dalam acara itu, Indrayanto Susilo dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menegaskan persoalan air minum dimasa depan perlu mendapat perhatian serius karena dapat menimbulkan konflik vertikal dan horisontal. Pembangunan berbasis hak merupakan kerangka kerja konseptual untuk pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di daerah yang berdasar pada standar internasional hak asasi manusia dan dalam pelaksanaannya mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia. Menurut Indrayanto, pemerintah daerah perlu lebih

melihat pendekatan berbasis hak atas air minum sebagai sebuah hak asasi manusia yang terintegrasi dengan norma, standar dan prinsip yang ada dalam sistem hukum nasional dan internasional hak asasi manusia kedalam perencanaan, kebijakan dan proses pembangunan di daerah. Pembangunan berbasis hak juga meliputi persamaan dan keadilan, akuntabilitas, pemberdayaan dan partisipasi. Kondisi Indonesia Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 telah meratifikasi kovenan internasional tentang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya sehingga Indonesia sudah mempunyai kewajiban secara formal untuk menerapkan kovenan tersebut berserta seluruh dokumen pendukungnya. Berkaitan dengan hak atas air, sesuai dengan komentar umum PBB Nomor 15, Indonesia berkewajiban untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak atas air. Sedangkan kebijakan yang khusus mengatur tentang sumberdaya air adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun ISTIMEWA 2004 tentang Sumberdaya Air. Pasal 5 UU Nomor 7 tentang Sumberdaya Air menyatakan bahwa negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih dan produktif. Ketentuan ini dimaksudkan bahwa negara wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jaminan tersebut menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah, termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Kewajiban negara untuk menjamin hak atas air ternyata dibatasi

46

Edisi III, 2010
hanya terbatas pada kebutuhan dang-Undang Nomor 7 Tahun pokok minimal sehari-hari 2004 tentang Sumberdaya Air akan air. Pembatasan jaminan beserta seluruh peraturan pelakpemenuhan hak tersebut bersananya merupakan penjabaran tentangan dengan komentar lebih lanjut atas konsepsi hak atas umum PBB Nomor 15 yang air di tingkat nasional. Walaupun menyatakan bahwa kecukupan pada tataran normatif sudah cuhak atas air tidak bisa diterjekup lengkap tetapi konflik-konflik mahkan dengan sempit, hanya atas sumberdaya air di masyarakat sebatas pada kuantitas volume masih merupakan realitas yang dan teknologi. tidak dapat dipungkiri. Selanjutnya pada pasal Air dalam sejarah kehidupan 6 dinyatakan sumberdaya manusia memiliki posisi sentral air dikuasai oleh negara dan dan merupakan jaminan keberdipergunakan sebesar-besarnya langsungan kehidupan manusia untuk kemakmuran rakyat. di muka bumi. Air yang keISTIMEWA Penjabaran lebih lanjut sehuberadaannya merupakan amanat bungan dengan hak atas air dalam UU Nomor 7 Tahun dan karunia sang Pencipta untuk dimanfaatkan juga se2004 menyebutkan bahwa masyarakat berhak memperharusnya dijaga kelestariannya demi kelangsungan hidup oleh informasi yang berkaitan dengan pengelolaan summanusia itu sendiri. Maka pengelolaan dan penguasaan ber daya air. dan pemilikan atas sumber-sumber air seharusnya juga Selain itu, masyarakat juga berhak memperoleh diusahakan bersama. Melihat pentingnya fungsi air bagi penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya kehidupan dan keberlangsungan manusia dan kesadaran sebagai akibat pelaksanaan pengelolaan bahwa selamanya air akan menjadi barang publik karena sumber daya air, memperoleh manfaat atas harus dikuasai bersama. pengelolaan sumber daya air; dan berani Air berhubungan dengan hak hidup sesesorang semenyatakan keberatan terhadap rencana hingga air tidak bisa dilepaskan dalam kerangpengelolaan sumber daya air yang sudah ka hak asasi manusia. Pengakuan air sebagai diumumkan dalam jangka waktu tertentu Air berhubungan hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; sesuai dengan kondisi setempat. dengan hak hidup di satu pihak adalah pengakuan terhadap “Disamping itu, masyarakat dapat kenyataan bahwa air merupakan kebutuhan sesesorang mengajukan laporan dan pengaduan kesehingga air tidak yang demikian penting bagi hidup manusia, pada pihak yang berwenang atas kerugian bisa dilepaskan di pihak lain perlunya perlindungan kepada yang menimpa dirinya yang berkaitan dalam kerangka setiap orang atas akses untuk mendapatkan air. hak asasi dengan penyelenggaraan pengelolaan Demi perlindungan tersebut perlu dimanusia. sumber daya air. Mengajukan gugatan positifkan hak atas air menjadi hak yang kepada pengadilan terhadap berbagai tertinggi dalam bidang hukum yaitu hak masalah sumber daya air yang merugikan asasi manusia. Permasalahan yang timbul kehidupannya ,”tukas Indrayanto. kemudian adalah bagaimana posisi negara Sedangkan pembicara lain dalam dialog tersebut, dalam hubungannya dengan air sebagai benda Imran Hasibuan mengatakan air berhubungan dengan publik atau benda sosial yang bahkan telah diakui sebagai hak hidup sesesorang sehingga air tidak bisa dilepaskan bagian dari hak asasi manusia. dalam kerangka hak asasi manusia. Pengakuan air sebagai “Sebagaimana hak-hak asasi manusia lainnya posisi hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak negara dalam hubungannya dengan kewajibannya yang adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa air meruditimbulkan oleh hak asasi manusia, negara harus mengpakan kebutuhan yang demikian penting bagi hidup mahormati (to respect ), melindungi (to protect ), dan nusia, di pihak lain perlunya perlindungan kepada setiap memenuhinya (to fulfill),” ujar Imran Hasudungan orang atas akses untuk mendapatkan air. dari Green Peace Indonesia. (eko) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 dan Un-

47

Reportase

Lokakarya Konsolidasi dan Sinergi Pembangunan AMPL Provinsi Jawa Tengah
ISTIMEWA

D

alam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah secara tersirat mengamanatkan bahwa sektor pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) merupakan salah satu urusan wajib daerah (Pasal 14 ayat (1)). Selanjutnya Pemerintah Indonesia menetapkan sasaran Pembangunan Nasional Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan sebagaimana tertuang dalam RPJMN tahun 2004-2009 yang dalam kenyataannya belum bisa tercapai dan tetap ditargetkan dalam RPJMN tahun 2010-2014, diantaranya yaitu tersedianya akses air minum bagi 70 persen penduduk pada akhir tahun 2014 (perpipaan 32% dan non-perpipaan 38%), terciptanya kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) tahun 2014, tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80 persen rumah tangga, menurunnya luas genangan sebesar 22.500 Ha di 100 kawasan strategis perkotaan. Dalam rangka mendukung upaya pencapaian target tersebut, berikut ini beberapa program AMPL yang telah dan sedang dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah diantaranya PAMSIMAS, Sanimas, DAK Air Minum dan DAK Sanitasi, Program Percepatan Sanitasi Permukiman (PPSP), STBM (Plan Indonesia) serta program-program yang dibiayai APBD Provinsi dan Kabupaten. Oleh karena itu, diperlukan upaya konsolidasi dan sinergi untuk memastikan seluruh program tersebut berada dalam satu arah dan berkontribusi terhadap kinerja pembangunan AMPL dalam rangka pencapaian target nasional. Pokja AMPL Provinsi Jawa Tengah sebagai lembaga koordinasi pembangunan AMPL diharapkan dapat mengambil peran dalam upaya sinergi antar program AMPL.

Pada tanggal 19 – 21 Oktober 2010 bertempat di Gumaya Tower Hotel Semarang telah diselenggarakan Lokakarya Konsolidasi dan Sinergi Pembangunan AMPL Provinsi Jawa Tengah. Acara ini diikuti oleh 85 peserta yang terdiri dari unsur Pokja AMPL Provinsi, Pokja AMPL Kab/Kota, proyek terkait AMPL (PAMSIMAS, PPSP, PNPM), LSM (Plan Indonesia) dan unsur legislatif provinsi yang relevan. Dalam sambutannya, Maraita Listyasari mewakili Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas menjelaskan bahwa lokakarya seperti ini sangat penting juga bagi Pemerintah Pusat seiring dengan pencapaian dari tujuan MDG’s. Sudah banyak hal yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah maupun Pusat terkait dengan AMPL. Beberapa upaya yang dilakukan, baik fisik maupun non-fisik diharapkan dapat bersinergi sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya terkait Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL). Berbicara mengenai AMPL masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan akses air minum dan sanitasi dasar guna memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini mencerminkan adanya ketimpangan sehingga hal tersebut jangan sampai menimbulkan kecemburuan sosial. Fakta lain menunjukkan masih ada masyarakat yang menderita penyakit yang disebabkan oleh buruknya akses sanitasi, seperti diare, malaria. Kondisi ini sangat mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penyakit diare sebenarnya dapat ditekan sedemikian rupa, salah satu caranya dengan pelayanan air minum dan sanitasi dasar. Data yang ada sekarang menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang membuang hajat di sungai, atau sumber-sumber drainase yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat. Masih dijumpai pula sarana air minum dan sanitasi yang belum difungsikan seoptimal mungkin. Kurangnya akses air minum dan sanitasi akan mempengaruhi aspek lainnya. Begitu pula terkait dengan peran gender akan semakin memperberat tugas dari perempuan. Demikian besar dampak negatif yang ditimbulkan oleh air minum dan sanitasi dasar yang terkait juga dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Jawa Tengah bersama-sama berupaya untuk mengatasi masalah tersebut.

48

Edisi III, 2010

Masyarakat Cuci Tangan Pakai Sabun

Baru Tiga Persen

Workshop HCTPS Bagi Guru SD DKI Jakarta

M

encuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir merupakan salah satu butir dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. Upaya mudah dan murah ini akan menghindarkan manusia dari sejumlah penyakit menular yang dapat secara langsung terpapar pada tubuh manusia seperti kolera, tifus, hingga flu burung.

dan Madrasah di DKI Jakarta. Dalam paparannya, dr Lily S Sulistyowati menyebutkan berdasarkan hasil penelitian global menunjukkan, cuci tangan pakai sabun dapat menurunkan angka kejadian diare hingga 47 persen. Ini penting karena setiap tahun masih ada kejadian luar biasa diare atau muntaber yang menelan korban jiwa. Unicef melaporkan, setiap detik satu anak meninggal karena diare. Survei Health Service Program (2006) menunjukPOKJA kan, sabun telah ada di hampir setiap rumah tangga Indonesia. Namun, baru tiga persen yang menggunakan sabun untuk mencuci tangan. Dari semua responden, hanya 12 persen yang mencuci tangan setelah buang air besar, 9 persen setelah membersihkan kotoran bayi, 14 persen sebelum makan, 7 persen sebelum memberi makan bayi, dan 6 persen sebelum memasak. Upaya untuk mengampanyekan pentingnya cuci tangan dengan sabun terus digalakkan. Tahun ini, dipastikan pada 15 Oktober 2010, lebih dari 70 negara mengadakan peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia. Peringatan ini berawal dari seruan yang disampaikan PBB untuk meningkatkan praktik higienitas dan sanitasi kepada semua penduduk di seantero dunia. Sedangkan psikolog Anak, Seto Mulyadi pada kesempatan tersebut menegaskan bahwa membiasakan diri untuk mencuci tangan memakai sabun berarti “Sayangnya baru tiga persen penduduk Indonesia mengajarkan anak-anak dan seluruh keluarga hidup sehat menyadari hal ini dan membiasakan diri mencuci tangan sejak dini. Pola hidup bersih dan sehat akan tertanam meggunakan sabun,” ujar Direktur Pemberantasan Penya- kuat dalam diri pribadi anak-anak dan anggota keluarga kit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Dr HM lainnya. Subuh, MPPM ketika membuka seminar dan workshop Mengingat kegiatan ini merupakan upaya pemberdalam rangka memperingati Hari Cuci Tangan Pakai dayaan masyarakat untuk hidup sehat, sudah sepatutnya Sabun Sedunia ke 3. mendapat perhatian dan dukungan. Karena itu, diBerbicara dalam seminar tersebut Kepala Pusat Proharapkan partisipasi aktif masyarakat untuk menerapkan mosi Kesehatan, dr Lily S Sulistyowati, Direktur Penyelangkah kecil mempraktikkan PHBS agar anak Indonesia hatan Lingkungan, drh Wilfried Hasiholan Purba dan dapat hidup lebih sehat. Ketua Komnas Perlindungan Anak dan psikolog, Dr Seto Sementara itu, Penelitian Cochrane Library JourMulyadi. Acara dipandu dr Lula Kamal yang juga senal 2007 menyebutkan, cuci tangan dengan orang artis. Seminar diikuti oleh 100 guru Sekolah Dasar sabun merupakan cara seder-

49

Reportase
hana dan murah untuk menahan virus ISPA dan pandemi flu. Kajian terhadap 51 riset di Inggris yang dipublikasikan dalam British Medical Journal 2007 menguatkan hal tersebut. Disebutkan bahwa cuci tangan lebih efektif dibanding obat dan vaksin untuk menghentikan flu. Meski mencuci tangan dengan sabun telah dilakukan banyak orang, namun baru sedikit yang melakukan aktivitas tersebut pada saat-saat penting, seperti setelah menggunakan toilet, setelah membersihkan kotoran anak, dan sebelum menangani makanan. “Mencuci tangan dengan air dan sabun terutama pada saat-saat penting, yaitu setelah buang air dan sebelum memegang makanan membantu mengurangi risiko terkena diare lebih dari 40 persen dan infeksi saluran pernapasan hampir 25 persen,” ujar Kepala Perwakilan Unicef di Indonesia, Angela Kearney. Menurut laporan Situasi Anak-anak Dunia tahun 2009 yang dikeluarkan Unicef, hanya separuh penduduk Indonesia memiliki akses kepada sanitasi yang memadai di pedesaan. Bahkan hanya sekitar sepertiganya – sehingga mereka rentan terhadap diare dan penyakit yang ditularkan melalui air. Berbagai survei juga menemukan bahwa kebiasaan cuci tangan pakai sabun masyarakat Indonesia masih rendah. Indonesia merupakan salah satu dari 85 negara di dunia yang melakukan cuci tangan pakai sabun secara serentak hari ini. Dengan tema “Tangan Bersih Selamatkan Kehidupan”. Menurut rencana akan digelar berbagai acara kampanye peringatan HCTPS dengan memobilisasi ribuan anak di seluruh Indonesia. Anak-anak dinilai sebagai agen perubahan yang sangat penting di Indonesia. Selain lebih terbuka pada ide-ide baru, anak-anak juga dapat menjadi pembawa pesan yang efektif kepada keluarga serta lingkungan di sekitarnya. EK0

Harus Jadi Perhatian Pemerintah Daerah

“Politik Air”

K

risis air minum, kini sedang terjadi. Di sebagian diprediksi sekitar 2,7 miliar orang atau sekitar sepertiga daerah, masyarakat mengalami kesulitan untuk populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam mendapatkan air minum. Sebagai gantinya, tingkat yang parah. menggunakan air yang tak layak konsumsi menjadi Air minum merupakan salah satu kebutuhan pilihan terakhir. Diperkirakan masalah seperti ini terpenting bagi kelangsungan kehidupan manusia. akan terus terjadi jika tidak ada upaya serius untuk Karena itu, masalah ini sudah sewajarnya mendapatkan mengatasinya. Pertanyaannya, akankah suatu proteksi yang harus memadai bagi kepentingan masalah ini semakin parah seiring pemenuhan kebutuhan mendasar masyarakat. Dunia dengan perjalanan waktu? harus serius dalam mengatasinya. Peringatan akan bahaya krisis “Indonesia tidak terlepas dari masalah air minum bukanlah sesuatu yang yang sama. Bahkan diperkirakan sebagian . . . manajemen mengada-ada. Sebelumnya, para provinsi akan mengalami krisis air minum pengelolaan ahli sudah memperkirakan bahwa yang sangat hebat pada tahun 2015. air minum oleh dunia saat ini sudah masuk pada Penyebabnya adalah sumber air minum pemerintah daerah semakin berkurang. Kemudian kualitas tahap genting dalam hal pemenuhan harus matang kebutuhan air minum. Dunia yang semakin menurun. Masalah tersebut membangun mengalami krisis air minum. Bahkan akan semakin berat jika tidak ditangani “politik air” yang sedini mungkin,” ujar Hamong Santono diperkirakan satu dari empat orang di dunia kekurangan air minum dan satu sehat di Indonesia. dari Koalisi Masyarakat Hak Atas Air yang dari tiga orang tidak mendapat sarana diselenggarakan oleh Harian Sinar Harapan sanitasi yang layak. di Jakarta, awal Oktober lalu. Sepanjang tahun 2010 ini Sekali lagi masalah yang berhubungan

50

Edisi III, 2010

ISTIMEWA

dengan hajat hidup orang banyak hendaknya menjadi perhatian serius pemerintah dalam setiap kebijakannya. Air merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Artinya, air menjadi komponen utama untuk memenuhi hajat hidup manusia. Oleh karena itu, pemenuhan akan kebutuhan air merupakan bagian dari pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM). Selanjutnya, kecukupan dan keterjangkauan air minum mencakup pemerataan distribusi dan mutu yang terjamin. Dalam konteks itulah, lanjut Hamong masyarakat menaruh harapan pada pemerintah dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di daerah ini agar dengan jeli mengurusi penyediaan air minum bagi masyarakat. Namun, tentunya tugas ini tidak hanya menjadi beban dan tanggung jawab pemerintah berikut instansi terkaitnya. Kita semua turut berperan didalamnya. Pemerintah perlu menata regulasi yang membuat manajemen pengelolaan air minum bisa tertata dengan rapi. Disaat yang sama juga harus ada proteksi terhadap sumber-sumber air minum. Jalur distribusi harus dijaga dan ditata dengan baik. Untuk itulah manajemen pengelolaan air minum oleh pemerintah daerah harus matang membangun “politik air” yang sehat di Indonesia. Selanjutnya, bagaimana politik air tersebut bisa diimplementasikan dalam berbagai peraturan daerah di Indonesia. Misalnya soal penebangan hutan yang berakibat pada berkurangnya volume sumber mata air. Demikian juga dengan kampanye penghematan pemakaian air minum yang

mesti digalakkan lagi. Berkaitan dengan itu, kebijakan makro dan kebijakan operasional pengelolaan kebutuhan air minum dipadukan dengan pengembangan sistem produksi dan distribusi air minum, menjadi hal yang mutlak dikerjakan. Kemampuan untuk memproduksi air minum terutama melalui peningkatan kualitas produk yang didukung oleh teknologi canggih dan kelembagaan yang bermutu, yang kesemuanya harus diperhatikan dengan seksama. Peningkatan dalam jumlah dan jenis air minum yang dibutuhkan, baik karena pengaruh pertambahan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, peningkatan kesadaran kesehatan, dan pengaruh globalisasi akan menjadi mata rantai yang tak pernah putus dalam kehidupan manusia. Pada saat yang sama kompetisi penggunaan lahan sumber air dan prinsip keunggulan komparatif semakin terbatas dan terpusat. “Hal ini menjadikan penyelesaian masalah ketersediaan air minum tidak dapat lagi ditunda. Kita harus bangkit. Gerakan cepat harus dilakukan guna menyelamatkan hantaman krisis air minum tersebut,” kata Hamong. MDGs dan Akses Air minum Sementara itu, dosen senior lingkungan ITB, Dr TP Damanhuri menegaskan sesuai agenda utama MDGs, penandatanganan Deklarasi Milenium merupakan bentuk penegasan dan komitmen pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi kemiskinan masalah air minum termasuk persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dari

51

Reportase
delapan tujuan Deklarasi Milenium, yang terkait erat pengentasan kemiskinan yang menjadi agenda utama dengan tema HAD tahun ini adalah tujuan ketujuh, yaitu MDGs sering kali tidak dikaitkan dengan keberadaan menjamin adanya daya dukung lingkungan hidup. infrastruktur. Padahal, keduanya sangat terkait erat. Jika Terdapat tiga target utama dari tujuan ketujuh. pembangunan infrastruktur lambat, pencapaian agenda Pertama, mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan MDGs, juga menjadi lambat. Banyak orang tentu tidak yang berkelanjutan dan mengurangi hilangnya sumber bisa ke puskesmas jika jalannya rusak. Upaya mengurangi daya lingkungan. Kedua, mengurangi setengah dari tingkat kematian ibu dan anak juga akan sulit tercapai jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang bila tidak didukung oleh sanitasi yang baik dan akses sehat pada 2015. Ketiga, mencapai pengembangan yang terhadap air minum. signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh pada 2020. Masalah Harmonisasi kewenangan pengurangan emisi juga menjadi agenda yang harus Air merupakan sumber kehidupan di dunia ini. Kualidiatasi dalam tujuan ketujuh ini. tas kehidupan manusia sangat tergantung dari kualitas “Masalahnya, apakah target yang menyangkut air. Kualitas air yang baik dapat mendukung ekosistem penyediaan akses terhadap air minum yang sehat yang sehat dan akhirnya mengarah pada peningkatan dapat dicapai? Tentu bukan hal yang mudah untuk kesehatan manusia. Sebaliknya, kualitas air yang buruk menjawabnya. Walaupun telah juga akan sangat memengaruhi lingkungan hidup dan keberkomitmen terhadap tujuan MDGs, sehatan manusia. Karena itulah, seiring dengan semakin pencapaian untuk mengurangi terancamnya kualitas air, sejak tahun 1992 PBB menesetengah dari jumlah orang yang tapkan peringatan Hari Air Dunia (HAD) tidak mempunyai akses terhadap air setiap tanggal 22 Maret. Penetapan HAD minum yang layak dan sanitasi pada 1,1 miliar orang tentu bertujuan untuk mendorong dan me2015 tampaknya masih sulit untuk ningkatkan kesadaran serta kepedulian akan di seluruh diwujudkan” tukasnya. Meskipun ada perlunya upaya bersama dari seluruh komdunia masih kemajuan dalam pencapaian target, tidak memiliki ponen bangsa, bahkan dunia untuk bersamasebagian besar dari populasi manusia akses terhadap sama memanfaatkan dan melestarikan sumber yang ada masih belum terjangkau persediaan air. daya air (SDA) secara berkelanjutan. dengan air minum. Sebanyak 1,1 miliar Bagi Kementerian Pekerjaan Umum, orang di seluruh dunia masih tidak peringatan HAD tentu harus dijadikan momemiliki akses terhadap persediaan air yang terlindungi mentum yang tepat untuk meningkatkan dan lebih dari 2,6 miliar tidak memiliki akses terhadap penyediaan akses air minum bagi masyarakat. sanitasi yang layak. Untuk hal tersebut, belakangan ini apa yang Untuk Indonesia, kondisinya juga setali tiga uang. dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum telah menunjukPasalnya, yang terjadi selama ini, perusakan lingkungan kan arah perbaikan. Contohnya, soal pengelolaan sungai jauh lebih cepat dan lebih sering terjadi dibandingkan yang tidak lagi dilakukan sepotong-sepotong, tapi sudah upaya rehabilitasinya. Kita membutuhkan waktu 10-15 lebih integral dan komprehensif. Kini, Kementerian Pekertahun untuk penanaman kembali hutan-hutan yang jaan Umum tidak hanya mengurus badan sungai, tapi gundul, sementara hampir setiap jam terjadi pembalakan juga sudah fokus pada bantaran aliran sungai yang didiami dan penebangan hutan. masyarakat. Bahkan, Ditjen Cipta Karya juga telah intensif Pencemaran air sungai akibat limbah rumah tangga memfasilitasi usaha-usaha masyarakat yang ingin berpartidan limbah industri juga lebih sering terjadi. Setiap sipasi dalam penyediaan akses terhadap air minum. harinya, dua juta ton sampah dan limbah lainnya Namun, hal itu saja tentu belum cukup. Kementerian mengalir ke perairan dunia. Belum lagi, intensitas Pekerjaan Umum harus menjadi kementerian terdeurbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan kotapan dalam hal mengembangkan kebijakan manajemen kota menampung para pendatang. Akibatnya, muncul air yang berkelanjutan. Untuk hal tersebut, salah satu daerah-daerah kumuh yang tidak bisa segera diatasi. langkah mendesak yang harus dilakukan adalah upaya Akses terhadap air minum sering juga terhambat oleh harmonisasi kewenangan beberapa instansi pemerintah, kondisi infrastruktur jalan yang kurang seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dabaik. Kita sering lupa, upaya lam Negeri, Kementerian Kesehatan, dan Bappenas.(Eko)

52

Edisi III, 2010

P

AMPL dengan GBCI
mengenai Prinsip Dasar dan Teknis Rapergub (Rancangan Peraturan Gubernur) Bangunan Ramah Lingkungan yang dibawakan oleh perwakilan dari Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan - DKI Jakarta. Pada dasarnya tidak ada aturan baku yang mengatur mengenai “Kriteria dan Sertifikasi Bangunan Ramah Lingkungan”. Namun demikian, terdapat beberapa kriteria yang diadopsi dalam Rapergud ini baik itu untuk bangunan eksisting ataupun bangunan baru (rencana). Kriteria tersebut antara lain: pengelolaan bangunan masa konstruksi, penggunaan lahan, pemanfaatan energi listrik, pemanfaatan dan konservasi air, serta kualitas udara dan kenyamanan ruangan bagi bangunan baru. Sementara untuk bangunan eksisting, kriteria yang dipilih antara lain: pengelolaan

Sinergi Program Jejaring

ada hari Senin 4 Oktober 2010 dilaksanakan Pertemuan Dialog antara Green Building Council Indonesia (GBCI) dengan Jejaring AMPL di Ruang SS-1 Bappenas dengan tema Diskusi Sinergi Program Jejaring AMPL dengan GBCI. Pada kesempatan ini diskusi dibuka oleh Syarif Puradimadja , perwakilan dari Jejaring AMPL dan Ibu Nani perwakilan dari GBCI. Kegiatan ini dilakukan melalui presentasi dari beberapa narasumber sebagai stakeholder di bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Kesempatan pertama untuk presentasi diberikan kepada Ir.Ignesjz Kemalawarta MBA selaku Direktur PT Bumi Serpong Damai/Ketua Badan Pendidikan – Pelatihan DPP REI dengan topik “Green Property Development Mengacu Pada Greenship Rating GBCI dan Kaitan dengan Air Bersih dan Sanitasi”. Beliau menjelaskan bahwa penerapan konsep “green building” dalam pengembangan properti melalui tahapan merancang, membangun dan mengoperasikan bangunan/lingkungan akan ikut berperan dalam mengurangi pemanasan global/ mengurangi kerusakan bumi. Beberapa perhatian POKJA yang perlu dicatat dari sektor properti antara lain: * Kontribusi emisi CO2 di sektor bangunan terbesar dibanding industri dan transportasi. * Konsumsi energi dalam bangunan 30-40%. * Harus ada effort di sektor bangunan/ properti untuk mengurangi pemanasan global dan menghindari kerusakan bumi dimasa datang. Oleh karena itu diperlukan perubahan paradigma di dalam pengembangan properti dari yang lama yaitu Quality – Time – Cost (Pola Tiga) menjadi pola baru yaitu Quality – Time – Cost - Healthy And Save - Environment/ Sustainable (Pola Lima). Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menerapkan 8 (delapan) “greenship rating” sebagai acuan pengembangan dengan konsep green building yaitu: pemilihan dan design site; desain bangunan; spesifikasi bangunan; design mekanikalelektrikal; spesifikasi mekanikal elektrikal; rencana kerja dan syarat kontraktor; property/estate management; serta additional effort (new building-existing building-gedung terhuni-kawasan perumahan). Topik berikutnya yang menarik untuk dibahas yaitu

bangunan masa operasional, pemanfaatan energi listrik, pemanfaatan dan konservasi air, serta kualitas udara dan kenyamanan ruangan. Beliau menjelaskan bahwa hubungan antara perizinan di pemerintah dengan sertifikat green building yaitu peraturan gubernur ini kelak menjadi mandatory yang harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang diaturnya, sementara sertifikat green building bersifat voluntary. Sasaran untuk pemberlakuan Pergub tersebut akan disesuaikan dengan kriteria berupa luas lantai dan jumlah bangunan yang akan menjadi objek pemberlakuan Pergub. Hingga saat ini, masih dilakukan pembahasan untuk mematangkan Rapergub tersebut. Pembahasan selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah dari perwakilan PT.Surya Toto Indonesia sebagai wakil dari dunia usaha. Inovasi terus dilakukan dari tahun ketahun oleh dunia usaha agar konsumsi air untuk toilet flush menggunakan sedikit air. Hal ini juga dilakukan untuk produk-produk lain seperti faucets (kran), shower (pancuran), dan shower spray. (Adhit)

53

Panduan

A

Sejumlah Teknologi Mendapatkan Air Bersih

ir merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air umur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai. Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Saran saya, sebelum anda membeli alat/mesin penjernih air yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah, anda mencoba terlebih dahulu beberapa alternatif cara sederhana dan mudah guna mendapatkan air bersih dengan cara mempergunakan filter air/penyaringan air: 1. Saringan Kain Katun. Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana/mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

2. Saringan Kapas Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan. 3. Aerasi Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi. 4. Saringan Pasir Lambat (SPL) Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada artikel Saringan Pasir Lambat (SPL). 5. Saringan Pasir Cepat (SPC) Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada artikel Saringan Pasir Cepat (SPC). 6. Gravity-Fed Filtering System Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat (SPC) dan Saringan Pasir Lambat (SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat (SPC). Air hasil penyaringan tersebut kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa/multi Saringan Pasir Lambat.

54

Info CD
Kebutuhan Air Bersih: Solusi Pendanaan Melalui Mikro Kredit VCD ini dibuat oleh Imaji Bumi Productio, tahun 2010 yang diterbitkan oleh ESP UsAid. DVD film dokumenter kredit mikro ini terdiri dari 3 versi. Pertama, versi toolkit KMSA, berdurasi 20 menit, ditujukan untuk promosi KMSA dan sekaligus menginspirasi mereka termasuk pada kelompok stakeholder pembuat kebijakan seperti PDAM, Perusahaan Swasta Pengelola Air Minum, Bank, Lembaga Pembiayaan, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan jajaran Pemerintah Daerah seperti Walikota, Bupati, DPRD. Kedua, bersi masyarakat KMSA, berdurasi 20 menit, ditujukan untuk promosi dan menginspirasi para masyarakat pengguna air terutama golongan masyarakat berpenghasilan rendah yang mendapat pelayanan air PDAM. Dan ketiga versi triller, durasi 5 menit adalah kumpulan cuplikan dari kedua versi tersebut diatas. DVD film dokumenter mikro kredit ini juga dapat didownload melalui website ESP: www.esp. or.id.

Edisi III, 2010
di kelurahan Cibangkong, Bandung dan pengelolaan sampah terpadu di SMAN 13 Jakarta serta beberapa lainnya. VCD ini merupakan bentuk softcopy dari buku Kisah Sukses Pengelolaan Persampahan Di Berbagai Wilayah Indonesia: Best Practices of Solid Waste Management in Indonesia. Dibuat oleh Ditjen Cipta Karya tahun 2010.

Video Promosi Strategi Sanitasi Kota. DVD ini berisi mengenai Strategi Sanitasi Kota di kota Denpasar, Yogyakarta, Blitar, Payakumbuh, Medan, dan Bali. Dibuat tahun 2010 oleh TTPS (Tim Teknis Pembangunan Sanitasi), berdurasi 37 menit. Dalam dvd ini diceritakan kota yang bersih dan sehat adalah dambaan setiap orang, namun belum semua kota mampu mewujudkannya. Sebagian memilih membuang sampah sembarangan, buang air besar ditempat terbuka atau di jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan, sehingga pencemaran tersebar kemana-mana.

Kisah Sukses Pengelolaan Persampahan di Berbagai Wilayah Indonesia. Dalam rangka pelaksanaan Regional Initiative on Environment and Health di Indonesia adalah mengidentifikasi beberapa kegiatan best practices. Kegiatan best practices yang dimaksud khususnya yang berkaitan dengan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk skala rumah tangga, lingkungan maupun kota. Beberapa kegiatan yang berhasil tersebut antara lain: pengolahan sampah di desa Sukunan, kabupaten Sleman, pemilahan sampah di kabupaten Sragen, pengomposan sampah

VCD, kelestarian alam, lagu, penyuluhan lingkungan, album tembang lingkungan berisi 12 lagu bertema air. Air sumber penghidupan, hijaukan hutan dan jangan dicemari adalah sejumlah lagu yang dikemas dengan aransemen popular dan sangat enak didengar. Pesan dari penyuluhan adalah hargai air yang telah diberikan Tuhan yang merupakan salah satu bait dalam lagu di Album Tembang Lingkungan Vol.2 terbitan Perum Jasa Tirta I Malang. VCD ini sekaligus sebagai program penyuluhan lingkungan dan diedarkan untuk kalangan sendiri.

55

Info Buku
Buku Saku Monitoring dan Evaluasi PAMRT (Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga) Penerbit USAID, Jakarta, Tahun 2010. Tebal 25 halaman

Best Practices NUSSP Mendorong Keberdayaan Mengatasi Kumuh Perkotaan: Menuju Kota Tanpa Kekumuhan. Penulis Hendarko Rudi Susanto, Penerbit NMC (National Management Consultant) NUSSP, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta Tahun 2009 Tebal 81 halaman Mengemban amanah yang besar dari para pemangku kepentingan, NUSSP telah menerapkan sejumlah program sebagai upaya nyata menjawab berbagai permasalahan yang ada. Sedikitnya ada tiga komponen kegiatan yang menjadi landasan utama gerak langkah NUSSP. Kesemuanya berujung pada pemberdayaan dan perubahan paradigma masyarakat guna mencapai kondisi kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera. Buku ini adalah sepenggal “kisah sukses” program NUSSP di pelbagai daerah. Beberapa diantaranya berkisah tentang kesuksesan pemberdayaan wanita dalam “kantung” kesetaraan gender yang masih tebal. Sementara kisah lainnya menceritakan perbaikan-perbaikan infrastruktur yang berdampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat sekitar serta kampanye publik untuk perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan perumahan layak huni. Etika Lingkungan Hidup Penulis : A Sonny Keraf, Penerbit: Kompas Gramedia, Jakarta, Tahun 2010. Tebal 425 halaman LINGKUNGAN HIDUP merupakan tanggung jawab semua penduduk di bumi ini. Tetapi mengapa masih banyak pihak-pihak tertentu yang mengabaikan bahkan merusak alam ini? Berbagai kasus pencemaran dan kerusakan laut, hutan, atmosfer, air, tanah, terus bertambah. Ini merupakan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Manusia adalah penyebab utama kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Pada dasarnya lingkungan hidup bukan semata soal teknis, tetapi praktiknya perlu didasari etika dan moralitas untuk mengatasinya. Untuk itulah perlunya etika lingkungan hidup yang membentengi moral manusia. Buku ini membeberkan persoalan etika lingkungan hidup, termasuk membahas konsep antroposentrisme, biosentrisme, ekosentrisme, hak asasi alam, termasuk kaitannya dengan kearifan tradisional dalam mengelola lingkungan hidup. Hidup Sehat dan Sejahtera dengan Air Minum dan Sanitasi Berkualitas – Pamsimas Pengarang : S. Bellafolijani Adimihardja Tahun Terbit : Th. 2009 Penerbit : Jakarta, Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, 2009, 60 ha Pamsimas adalah kegiatan di bidang air minum dan sanitasi yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di perdesaan dan pinggiran perkotaan (peri-urban) dan dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat. Implementasi Program Pamsimas telah dimulai pada pertengahan tahun 2008. Saat ini pelaksanaan program Pamsimas telah memasuki tahun kedua. Hasil kegiatan Pamsimas berupa tambahan akses terhadap air minum telah dapat dinikmati oleh sebagian anggota masyarakat di desa/ kelurahan yang menjadi sasaran program. Seiring dengan hasil yang telah dicapai melalui program Pamsimas, maka dirasa perlu untuk melakukan pendokumentasian hasilhasil kegiatan Pamsimas. Penerbitan buku ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk mendokumentasikan dan merekam hasil-hasil kegiatan Pamsimas. Buku ini menyajikan informasi umum berupa latar belakang dan gambaran umum Program Pamsimas. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi berupa gambar atau fotofoto yang merupakan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama ini, sehingga tampil lebih menarik. Buku ini bisa dijadikan sebagai media kits, diharapkan dapat menjadi panduan informasi umum bagi para pihak yang ingin mengetahui kegiatan Pamsimas.

Monitoring dan evaluasi merupakan bagian krusial dalam sebuah program untuk memberi masukan mengenai perubahan yang terjadi, seperti ketidaksesuaian rencana program dengan keadaan lapangan atau bila terjadi beberapa perubahan di lapangan. Memang rencana program adalah pedoman pelaksanaan di lapangan, tetapi bukan berarti tidak bisa disesuaikan di kemudian hari bila diperlukan. Monitoring dan evaluasi adalah cara untuk mendeteksi apakah rencana program perlu dimodifikasi. Monitoring dan evaluasi (monev) bukan solusi masalah program, melainkan alat yang bisa dimanfaatkan untuk mencari solusi. Monitoring adalah pengumpulan dan analisis data secara berkala selama program berjalan, untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan sebuah program, berdasarkan target dan aktifitas yang direncanakan, sedangkan evaluasi merupakan pembandingan antara pencapaian program dengan rencana. Kegiatan monev diawali dengan penjabaran tujuan program – untuk apa program dirancang dan apa yang akan dicapai – menjadi pencapaian program. Buku saku ini berisi hal-hal penting terkait monitoring dan evaluasi PAM RT, meliputi latar belakang, pengertian, konsep, prosedur, alat, matriks hingga contoh lembar monitoring dan evaluasi untuk perilaku pengelolaan air minum dalam rumah tangga.

56

Info Situs
Woman Human Right Net (WHRNet) www.whrnet.org/docs/issue-water.html Di dalam situs ini pengunjung dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan Perempuan dan Privatisasi air. Secara jelas tertulis latar belakang dari dibuatnya tulisan mengenai hal tersebut, hubungannya dengan hak azasi manusia dan tambahan berbagai alamat-alamat website lain yang dapat mendukung informasi berkaitan dengan tulisan tersebut. Situs ini milik WHRnet yaitu suatu proyek yang dikelola oleh Association for Women’s Rights in Development (AWID). The Water Quality Information Center (WQIC) www.nal.usda.gov/wqic Di dalam situs ini terdapat electronic publications database yang berisikan 1.800 online dokumen seputar masalah air dan pertanian. Disini tersedia CEAP Bibliographies, yaitu bibliografi yang terdiri atas empat edisi berisikan sekitar 2.400 kutipan. CEAP Bibliografi merupakan program untuk mendukung Conservation Effects Assesment Project satu proyek yang mempelajari efek dari konservasi lingkungan dalam berbagai program konservasi yang dilakukan oleh The United State Department of Agriculture’s (USDA). Resource guide mengenai wetland juga dapat ditemukan dalam situs ini. The Water Quality Information Center (WQIC yang didirikan pada tahun 1990 dibuat untuk mendukung rencana-rencana The United State Department of Agriculture’s (USDA) dalam memperhatikan masalah kualitas air. WQIC yang memiliki fungsi penting bagi pihak USDA bertugas untuk mengumpulkan, mengorganisasikan dan mengkomunikasikan penemuan ilmiah, metodologi pendidikan dan kebijakan publik seputar sumber daya air dan pertanian.

Edisi III, 2010
N- Secretary General’s Advisory Board on Water and Sanitation www.unsgab.org

Di dalam situs ini pengunjung dapat memperoleh berbagai macam publikasi dalam jumlah yang cukup banyak yang berkaitan dengan air dan sanitasi dalam bentuk PDF, Words. Situs ini merupakan milik UNSG Advisory Board yaitu merupakan suatu badan independen yang berfungsi untuk: •Memberikan saran pada sekretaris jenderal PBB •Memberikan masukan dalam proses dialog global •Meningkatkan kesadaran global melaui media massa •Mempengaruhi dan bekerja di tingkat global, regional, institusi nasional di tingkat tertinggi •Membuat langkah-langkah dalam rangka MDGs. UN-Water www.un.org/waterforlifedecade

Situs ini dibuat untuk menjadi penanda telah berlangsungnya program pengadaan air bagi masyarakat dunia oleh PBB selama satu dekade. Di sini pengunjung dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan air dan sanitasi. Selain itu terdapat pula situs bagi para pelajar mengenai water management dalam link Education and Youth. UN-Water merupakan suatu lintas organisasi yang mempromosikan koherensi, dan koordinasi dari PBB yang bertujuan dalam mengimplementasikan agenda dari Millenium Declaration dan The World Summit on Sustainable Development yang memiliki hubungan dengan lingkup kerja UN-Water.

57

Pustaka AMPL
Laporan
Laporan Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004-2009: Bersama Menata Perubahan. Diterbitkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2010 tebal 607 halaman.

Majalah

Panduan

Buku Panduan Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Dana Alokasi Khusus Tahun 2010 Tingkat Regional Kalimantan

Majalah Air Minum Agustus 2010 Diperlukan Cara Pandang Cerdas Hadapi Defisit Air

Gaung RW Siaga Plus+ Edisi 1/ Juni 2010 ”Selamat Datang Di RW Siaga Plus+!“/ Welcome to RW Siaga Plus+!

Percik Edisi I, 2010 Membidani PIN AMPL

Leaflet

Bina Ekonomi Sosial Terpadu (BEST/ Institute for Integrated Economic and Social Development) Tahun 2010 Buku Pegangan 2010 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (Penguatan Ekonomi Daerah: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Studi

Studi Kasus: Sanitasi Berbasis Masyarakat di Kota Batu, Jawa Timur, Tahun 2010.

Buletin Dewan Sumber Daya Air Edisi Maret - Mei 2010 6 Cara Mudah untuk Mendapatkan Air Minum Sehat untuk Keluarga. Dibuat tahun 2010 oleh UsAid dan Kementrian Kesehatan.

News Letter
Cerita Tentang Sabun dan Kisah Toilet (Soap Stories and Toilet Tales) Tahun 2010

Petunjuk

Rencana Strategis AMPLBM Tahun 2010 - 2015 Kabupaten Bangka

Newsletter AMPL (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan) Edisi JuLi 2010

Poster

Hemat Air + Hemat Energi = Hidup Lebih Baik

58

Fakta

Edisi III, 2010
duduk yang tinggi memberikan tekanan yang sangat besar pada sumber-sumber air, khususnya di negaranegara berkembang. Penduduk dunia bertambah hampir 80 juta orang setiap tahun, dan 90 persen diataranya (sekitar 72 juta) berada di negara-negara berkembang. Kebutuhan air dunia bertumbuh sebanyak 64 milyar juta meter kubik pertahun. Jumlah ini setara dengan kebutuhan seluruh negara Mesir selama setahun. Selama 50 tahun terakhir, pemanfaatan air dari sungai, danau dan air tanah sudah naik 3 kali lipat, untuk memenuhi kebutuhan pertambahan penduduk. Secara rata-rata, 70 persen air tersebut dimanfaatkan untuk pertanian. Di negaranegara berkembang kebutuhan air untuk pertanian bahkan bisa mencapai 90 persen. Kerusakan lingkungan yang timbul akibat pertumbuhan penduduk yang sangat besar mencapai milyaran dolar Amerika. Kerusakan lingkungan di Afrika Utara dan Timur Tengah, sebagai kawasan yang paling parah

Perlu Investasi 150 Milliar US$ Cegah Krisis Air Dunia

U

ntuk mencegah, atau setidaknya mengurangi, kemungkinan terjadinya bencana air dunia, diperkirakan diperlukan investasi yang luar biasa besar untuk perbaikan pengelolaan air, pengelolaan sanitasi dan untuk irigasi. Setiap tahun dibutuhkan kurang lebih 100 – 150 milliar US dollar investasi untuk mencegah krisis air yang parah di 2050. Jumlah ini bisa semakin besar bila upaya nyata untuk mengatasi krisis terlambat dilakukan. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB. Negara-negara miskin digambarkan akan menghadapi masalah yang sangat mengkhawatirkan. Berbagai krisis yang saat ini melanda, menambah beban negara-negara berkembang menjadi semakin sengsara. Krisis air sangat erat kaitannya dengan krisis perubahan iklim, krisis enerji, krisis pangan, pertumbuhan penduduk, dan krisis finansial global, demikian laporan PBB itu. Bila masyarakat dunia tidak melakukan tindakan signifikan, maka krisis itu semakin multi dimensi sampai kepada krisis politik. Bukan tidak mungkin pula, bahwa krisis itu bisa menjadi krisis teritorial antarnegara. Sengketa perebutan air, adalah suatu ancaman yang bisa timbul, terutama bagi negara-negara yang memiliki badan air yang digunakan secara bersama, seperti di Afrika, Asia, Eropa, atau Amerika Latin. Pertumbuhan penduduk, adalah salah satu faktor yang sangat mengkhawatirkan. Pada tahun 2000, jumlah penduduk dunia mencapai 6 miliyar jiwa. Jumlah itu sudah menjadi 6,5 milyar jiwa pada saat ini. Pada tahun 2050, jumlah penduduk dunia diperkirakan menjadi 9 milyar jiwa. Populasi penduduk dan pertumbuhan paling besar justru berada di negara-negara miskin. Berdasarkan laporan PBB itu, pertumbuhan pen-

ISTIMEWA

dalam kerusakan lingkungan, nilainya sudah mencapai 9 milliar dolar per tahun. Jumlah ini hampir mencapai 2,1 - 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan itu. Angka ini adalah suatu angka yang luar biasa besar. Krisis air semakin diperparah oleh perubahan iklim. Kecenderungan kerusakan yang demikian besar, maka kemungkinan terjadinya konflik air bisa terjadi secara luas. Ancaman konflik regional dan internasional karena krisis air bukanlah sekedar wacana, tapi hal itu benar-benar ancaman yang semakin nyata. Akibat perubahan iklim, akan terjadi suatu “gegar hidrologis” (hydrogical shock) yang akan bisa terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama (eko/ kruga.org)

59

cuci tangan pakai sabun
... biasakan anak sejak dini karena aktivitas itu merupakan cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful