Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan

Lingkungan (Pokja AMPL) Penasihat/Pelindung: Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Penanggung Jawab: Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, DEPKES Direktur Pengembangan Air Minum, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI Pemimpin Redaksi: Oswar Mungkasa Dewan Redaksi: Supriyanto, Johan Susmono, Indar Parawansa, Bambang Purwanto Redaktur Pelaksana: Maraita Listyasari, Rewang Budiyana, Rheidda Pramudhy, Joko Wartono, Essy Asiah, Mujiyanto Desain/Ilustrasi: Rudi Kosasih Produksi: Machrudin Sirkulasi/Distribusi: Agus Syuhada Alamat Redaksi: Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 http://www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke alamat di atas.

Dari Redaksi Suara Anda Laporan Utama Habis Kering, Datanglah Banjir 'Panen Hujan' ala Gunung Kidul Wawancara Dirjen Bangda: Anggarkan Air Bersih untuk Desa! Teropong Simalakama Bantar Gebang Review Master Plan Pengelolaan Sampah DKI Jakarta Wawasan Pembangunan Air Minum dan Kemiskinan Strategi Menciptakan Sistem Laporan PDAM Dari Plato ke Kebijakan AMPL-BM Kegagalan HIPAM di Desa Bleberan Kisah Pemulung Anak dari Bantar Gebang Reportase Pengomposan Komunal, Alternatif Penanganan Sampah Perumahan Inovasi Tempat Kencing Tanpa Air Penyiram Abstrak Dampak Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta Peraturan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Pojok ISSDP Choice Model Seputar PLAN INDONESIA Plan Indonesia dalam Program Air dan Sanitasi Lingkungan Info Buku Info Situs Info CD Seputar WASPOLA Seputar AMPL Pustaka AMPL Agenda Klinik IATPI

1 2 3 9 10 13 15 18 21 23 29 31 33 35

36 37 38 41 42 43 44 45 48 50 51 52

Majalah Percik dapat diakses di situs AMPL: http://www.ampl.or.id

D A R I R E DA K S I

KARIKATUR:RUDI KOZ

M E N G U C A P K A N

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H Mohon Maaf Lahir dan Bathin

W

aktu terus berlalu. Alhamdulillah kita masih bertemu dengan hari bahagia, Idul Fitri. Di hari kemenangan ini, awak Percik dan seluruh staf sekretariat Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) menyampaikan Selamat Idul Fitri 1427 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Minal Aidin wal Faizin. Semoga kita semua kembali menjadi orang yang bersih dari dosa dan menjaga kesucian itu pada hari-hari berikutnya. Pembaca, keprihatinan terus menerpa negeri ini. Kekeringan cukup lama kita rasakan terutama di Jawa dan Nusa Tenggara. Akses masyarakat terhadap air minum yang memang masih rendah makin menurun. Mereka mengonsumsi air untuk minum apa adanya. Ketersediaan menjadi persoalan. Mereka tak bisa mencari alternatif lain. Sementara pemerintah daerah sendiri tampak tak mampu memenuhi kebutuhan warganya. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang menjadi tulang punggung penyediaan air minum di daerah, menghadapi persoalan sendiri: kurang pasokan untuk pelanggannya. Makanya, boro-boro untuk membantu warga

gratis lagi, PDAM sibuk mempertahankan diri. Dalam waktu yang tak lama kita akan menghadapi musim hujan. Tentu ini berkah. Tapi bagi sebagian wilayah, misalnya, kota besar seperti Jakarta, hujan bisa menjadi petaka. Air hujan yang diharapkan kedatangannya, akan menggenangi kota. Lagi-lagi masyarakat tak bisa menghindar. Ungkapan yang sering muncul: 'Ini sudah biasa'. Akankah kita terus menganggap semuanya biasa? Sejatinya kekeringan, kebanjiran bisa dihindari kalau kita mau. Keduanya bukan merupakan fenomena alam yang datang tiba-tiba. Semuanya bisa diprediksikan. Pertanyaan kenapa itu terus terulang terjadi? Perhatian ke arah sana masih kurang. Mungkin program yang memihak ke penanggulangan keduanya kurang populer. Itulah Indonesia. Pembaca, selain membahas topik utama mengenai kekeringan dan kebanjiran, Percik mengadakan wawancara dengan Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri, untuk mengetahui bagaimana kondisi pembangunan di daerah dan kaitannya dengan penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan. Di

rubrik Teropong, kami mengetengahkan TPA Bantar Gebang yang pada awal September lalu gunungan sampahnya longsor sehingga menimbulkan korban jiwa. Dan masih terkait dengan kondisi di sana, di rubrik Kisah, kami muat tentang pemulung anak yang menggantungkan hidupnya di TPA terbesar di Indonesia tersebut. Tak ketinggalan, di rubrik Reportase, kami mengangkat kerja sama antara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan masyarakat pinggiran kota dalam mengelola sampah secara mandiri sehingga tidak membebani TPA. Model-model seperti ini bisa dilakukan di mana saja, tentu dengan ada keluwesan pemikiran di dalamnya. Pembaca, berbagai masalah AMPL tampaknya terus bergulir silih berganti. Setiap saat muncul isu baru. Dan kami merasakan permasalahan ini masih belum mendapatkan perhatian serius. Padahal dampak buruk AMPL berpengaruh langsung terhadap kondisi manusia-manusia Indonesia. Kita berharap, ada hal baru muncul di masamasa mendatang yang bisa menghasilkan perbaikan. Bersama kita bisa, menjadikan AMPL lebih diperhatikan. Wassalam.

Percik

Oktober 2006

1

S U A R A A N DA

Pompa Air Tanpa Motor
Saya berkeinginan untuk mendapatkan informasi mengenai pompa air tanpa motor (PATM) seperti di Gorontalo, yang saya lihat di situs AMPL. Mohon kiranya redaksi dapat membantu saya mengenai: 1. Apa saja langkah-langkah yang harus saya tempuh untuk mendapatkan pemasangan alat tersebut? 2. Apakah mungkin daerah saya bisa mendapatkan bantuan dana dari pemerintah dalam pemasangan alat PATM tersebut seperti di Gorontalo? Saya ingin jika mungkin alat tersebut dapat dipasang di daerah saya di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini karena saya melihat fungsi dan kegunaan alat ini mungkin dapat membantu daerah saya yang kesulitan air bersih.
Leonardo FoEnale Surabaya

Indonesia Terbelakang
Beberapa waktu lalu, Bank Pembangunan Asia (ADB) bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengeluarkan laporan mengenai program pengurangan jumlah kemiskinan di beberapa negara Asia Pasifik yang diumumkan di Manila. Laporan itu mengetengahkan kinerja beberapa negara dalam program tersebut. Negara yang tergolong paling maju memberantas kemiskinan, yakni China, Malaysia, Thailand, Palau, Vietnam, Armenia, Azerbaijan, dan Kirgistan. Selain itu, negara yang tergolong mengalami penurunan niat pada pengurangan kemiskinan adalah Fiji, Kazakstan, Samoa, dan Uzbekistan. Kelompok berikut tergolong harus berjuang lebih keras, yakni India, Afganistan, dan Nepal. Kelompok terakhir yaitu negara yang tergolong terbelakang dalam pengurangan kemiskinan. Negara itu adalah Banglades, Indonesia, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini, dan Filipina. Penilaian ADB itu tampaknya cocok dengan kondisi yang ada. Jumlah orang miskin terlihat tak berkurang justru bertambah. Pengemis dan gelandangan makin banyak. Busung lapar dan penyakit akibat kesulitan ekonomi tak berkurang. Pertanyaannya sekarang, mana janji-janji pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan itu? Pertanyaan yang sama patut pula disampaikan kepada partai-partai politik dan wakil rakyat. Mana janjijanjimu dulu mau menyejahterakan rakyat? Jangan hanya pejabat, birokrat, dan wakil rakyat saja yang sejahtera, sementara rakyat tambah melarat.
Meddy Chandra Ciputat, Tangerang

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai informasi tentang pompa air tanpa mesin, silakan Anda menghubungi PT. Tirta Anugerah Nusantara yang beralamat di Hotel Mahadria Lt. 4 Jl. Ki Mas Jong No. 12 Serang Banten. Telp. 0254-220270/220268 up. Ade Purnama (Dirut). Sedangkan soal bantuan dana, Anda bisa berhubungan dengan instansi terkait di pemerintah daerah setempat. (Redaksi)

b) Artikel masalah penyehatan lingkungan sudah cukup banyak c) Artikel tentang air minum dirasakan masih kurang padahal namanya Media Informasi Air Minum d) Buang ruang/rubrik suara lingkungan, limbah, dan air minum; berisi surat pembaca dan tanggapan redaksi/pakar e) Rubrik lingkungan, limbah, dan air minum di negara tetangga yang patut dicontoh. Demikian masukan dan saran kami, terima kasih atas perhatiannya.
Ir. Agus Sutyoso, MSi Direktur Utama PDAM Kota Semarang Jl. Kelud Raya Semarang

Masukan dan Saran
Menindaklanjuti surat dari Direktur Permukiman dan Perumahan No. 5411/Dt.6.3/09/2006 tanggal 04 September 2006 perihal Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, maka kami memberikan masukan dan saran sebagai berikut. a) Penampilan maupun penataan sudah lumayan bagus

Kami sangat berterima kasih atas saran dan masukan Anda. Semua masukan dan saran akan kami pertimbangkan. Semoga Percik ke depan bertambah baik dan sesuai dengan keinginan para pembacanya. Selain itu kami juga mengundang Anda untuk mengisi/ mengirimkan tulisan yang sesuai dengan kapasitas Anda. Kami berharap sumbangan pemikiran Anda dapat menjadi pelajaran bagi pembaca lainnya. (Redaksi)

2

Percik

Oktober 2006

L A P O R A N U TA M A

FOTO:MUJIYANTO

Sumber Daya Air di Jawa

Habis Kering, Datanglah Banjir
Kondisi lingkungan di Indonesia terdegradasi cukup parah. Suatu saat kekeringan datang, di saat lain banjir melanda. Padahal kejadian itu seharusnya bisa diprediksikan. Akankah ini terus terulang?

B

erita kekeringan hampir setiap hari menghiasi media massa cetak dan elektronik akhir-akhir ini. Begitu sulitnya masyarakat memenuhi kebutuhan air untuk kehidupan mereka sehari-hari, bahkan untuk minum sekalipun. Mereka rela berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mencari seteguk air buat minum dan memasak. Itupun belum tentu kualitasnya memenuhi syarat. Jumlahnya pun sangat terbatas karena harus berbagi dengan war-

ga lainnya. Jangan ditanya soal air untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus, mungkin tak ada. Kondisi ini hampir terjadi di seluruh wilayah Pulau Jawa. Sejauh mata memandang, wilayah di pinggiran jalur utama Pulau Jawa terlihat kering kerontang. Daun-daun dahan berguguran. Hutan jati bak tiang-tiang pancang. Rumput-rumput meranggas. Sebagian terlihat bekas terbakar. Tanah-tanah pertanian retak-retak. Lahan-lahan per-

Percik

Oktober 2006

3

L A P O R A N U TA M A

tanian tak bisa dimanfaatkan. Panen pun tak datang. Kekeringan tidak hanya melanda wilayah di luar kota. Di beberapa kota pun air sulit didapatkan. Bahkan di Jakarta, beberapa saat warga sempat mengeluh. Air bersih tak mengalir. Pasokan air ke dua perusahaan swasta di Jakarta kurang. Akibatnya, distribusi air ke pelanggan terganggu. Warga tak bisa berbuat banyak. Untungnya mereka masih bisa membeli air isi ulang/kemasan/air keliling untuk kebutuhan vitalnya kendati dengan harga yang lebih mahal. Tapi bagaimana nasib mereka yang miskin dan jauh dari jangkauan air bersih? Ibarat peribahasa 'sudah jatuh tertimpa tangga', kondisi kekeringan itu sebentar lagi akan disambut dengan datangnya musim hujan. Bagi sebagian orang, kedatangan berkah dari langit ini patut disambut gembira karena tanahtanah akan kembali terairi. Namun bagi sebagian yang lain, hujan adalah bencana. Banjir akan segera tiba. Derita kekurangan air akan berganti menjadi derita karena banjir. Ironisme ini pun hampir tiap tahun terjadi. Sayangnya, tindakan untuk mengantisipasinya tak terlihat. Belum ada upaya bersama yang signifikan dan melibatkan semua stakeholder. Walhasil, kekeringan dan kebanjiran seolah menjadi sebuah rutinitas yang harus diterima oleh rakyat jelata. Kekeringan Tahunan Kekeringan yang melanda wilayah Jawa sebenarnya bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba. Artinya, jauhjauh hari keadaan itu bisa diprediksi. Perhitungan analisa neraca air atau keseimbangan air yang membandingkan antara kebutuhan dan ketersediaan air yang dilakukan oleh Direktorat Pengairan dan Irigasi Bappenas pada 2005, menunjukkan bahwa berdasarkan data tahun 2003, sekitar 77 persen wilayah di luar Jabodetabek mengalami defisit air antara satu sampai delapan

Tabel 1. Kabupaten/Kota di Pulau Jawa yang mengalami Defisit Tinggi
No. I. 1 2 3 4 5 6 II. 1 Kabupaten / Kota J AWA B A R AT Kuningan Cirebon Majalengka Indramayu Kota Bandung Kota Cirebon JAWA TENGAH Magelang Wilayah Sungai 2003 Cimanuk Cintanduy Cimanuk Cimanuk Cintanduy Citarum Cimanuk Citarum Cimanuk Progo-Opak-Oyo Jratun Seluna Serayu Progo-Opak-Oyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Jratun Seluna Bengawan Solo Jratun Seluna Bengawan Solo Pemali-Comal Serayu Jratun Seluna Pemali-Comal Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo Progo-Opak-Oyo Bengawan Solo Progo-Opak-Oyo Bengawan Solo Progo-Opak-Oyo 87.3 % 12.7 % 100.0 % 93.6 % 6.4 % 37.9 % 62.1 % 100.0 % 100.0 % 96.9 % 0.4 % 2.6 % 2.0 % 98.0 % 100.0 % 100.0 % 25.9 % 74.1 % 44.7 % 55.3 % 99.8 % 0.2 % 100.0 % 100.0 % 41.0 % 100.0 % 86.9 % 13.1 % 98.3 % 1.7 % 100.0 % 2.7 % 97.3 % 100.0 % 12.6 % 87.4 % 100.0 % 0.1 % 99.9 % 0.9 % 99.1 % 100.0 % 2.4 % 97.6 % 100.0 % 100.0 % 100.0 % 100.0 % 100.0 % 2.9 % 0.2 % 9.4 % 87.4 % 100.0 % 64.5 % 35.5 % 90.2 % 9.8 % 100.0 % 6 6 7 7 6 5 7 Jumlah Bulan Defisit 2005 2010 2015 2020 6 6 7 7 6 5 7 6 7 7 7 7 5 7 6 7 7 7 10 5 7 6 7 6 7 11 5 7 2025 7 7 6 7 12 6 7 2003 -9.71 Defisit Maksimum (m³/det) 2005 2010 2015 2020 -9.81 -10.13 -10.52 2025

-10.96 -11.46 -31.94 -33.85 -12.18 -11.64 -42.80 -41.59 -4.09 -0.81 -4.86 -0.88

-26.75 -27.27 -28.68 -30.23 -14.47 -14.15 -13.42 -12.77 -48.99 -48.13 -46.11 -44.33 -1.94 -0.61 -2.16 -0.63 -2.76 -3.40 -0.69 -0.74

-25.72 -25.85 -26.20 -26.59

-27.05 -27.57

2 3 4 5 6 7 8 9 10 III. 1 2 3 4 IV. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 V. 1 2

Klaten Sukoharjo Karanganyar Sragen Blora Pekalongan Kota Semarang Kota Pekalongan Temanggung D I Y O G Y A K A R TA Bantul Gunung Kidul Sleman

8 6 7 7 6 6 6 6 5 7 6 7 6 6 6 8 7 7 6 6 7 8 6 7 5 N/A N/A

8 6 7 7 6 6 6 6 5 7 6 7 6 6 6 8 7 7 6 6 7 8 6 7 6 N/A N/A

8 6 7 7 6 6 6 6 5 7 6 7 6 6 6 8 7 7 6 6 7 8 6 7 7 N/A N/A

8 6 7 7 7 6 6 6 5 7 6 7 5 6 6 8 7 7 6 6 7 8 6 7 7 N/A N/A

8 6 7 7 7 6 6 6 5 7 6 7 5 6 6 8 7 7 6 6 7 8 6 7 7 N/A N/A

8 6 7 7 7 6 6 7 6 7 6 7 5 6 6 8 7 7 6 6 7 8 6 7 7 N/A N/A

-32.57 -32.58 -32.63 -32.71 -16.68 -16.66 -16.64 -16.67 -18.52 -18.44 -18.27 -18.14 -20.64 -20.77 -21.17 -21.66 -12.92 -12.94 -13.00 -13.07 -11.45 -11.48 -11.56 -11.67 -2.40 -2.58 -3.20 -4.05 -1.07 -1.10 -1.18 -1.27 -19.09 -19.13 -19.25 -19.37 -16.33 -16.37 -14.67 -16.63 -5.49 -5.48 -5.47 -5.45 -21.89 -21.95 -22.13 -22.34 -0.85 -0.83 -0.79 -0.75

-32.83 -32.99 -16.75 -16.91 -18.04 -17.97 -22.27 -23.03 -13.14 -13.22 -11.80 -11.94 -5.20 -6.76 -1.38 -1.51 -19.51 -19.66 -16.82 -17.07 -5.44 -5.42 -22.57 -22.84 -0.70 -0.66

3 4 5 6

Kota Yogyakarta JAWA TIMUR Ponorogo K. Brantas Bengawan Solo Sidoarjo K. Brantas Madiun & Kota Madiun K. Brantas Bengawan Solo Magetan Bengawan Solo Ngawi Jratun Seluna Bengawan Solo Bojonegoro K. Brantas Bengawan Solo Tuban Bengawan Solo Lamongan K. Brantas Bengawan Solo Bangkalan Madura Pamekasan Madura Sumenep Madura Sampang Madura J A B O D E TA B E K DKI Jakarta Ciliwung-Cisadane Bogor & Depok & Kota Bogor Ciujung-Climan Cisadea-Cikuningan Citarum Ciliwung-Cisadane Tangerang & Kota Tangerang Ciliwung-Cisadane Bekasi & Kota Bekasi Ciliwung-Cisadane Citarum Serang & Kota Cilegon Ciujung-Ciliman Ciliwung-Cisadane Karawang & Purwakarta Citarum

-28.93 -28.77 -28.41 -28.07 -15.53 -15.82 -16.78 -18.19 -28.34 -28.25 -28.02 -27.79 -32.62 -32.87 -33.52 -34.19 -42.28 -43.77 -47.73 -52.03 -25.46 -25.51 -25.68 -25.89 -26.87 -26.46 -25.47 -24.54 -56.23 -55.62 -54.20 -52.95 -12.08 -13.07 -16.52 -10.42 -0.2 -2.0 -12.11 -13.04 -16.35 -10.77 -1.5 -2.6 -12.23 -12.98 -15.95 -11.81 -4.9 -4.5 -12.38 -12.94 -15.57 -13.13 -8.7 -7.1

-27.76 -27.50 -20.16 -22.89 -27.57 -27.35 -34.87 -35.56 -56.69 -61.77 -26.16 -26.51 -23.65 -22.82 -51.90 -51.09 -12.58 -12.90 -15.21 -14.80 -13.1 -10.5 -12.81 -12.88 -14.88 -16.90 -18.0 -15.0

N/A N/A N/A N/A

N/A N/A N/A N/A

N/A N/A N/A N/A

N/A N/A N/A N/A

N/A N/A N/A N/A

N/A N/A N/A N/A

-3.9 -

-4.5 -

-6.6 -

-9.2 -0.9 -

-12.7 -4.0 -

-17.3 -3.2 -8.3 -2.2

N/A: data tidak tersedia

Sumber: Hasil Analisis Dit. Pengairan & Irigasi, Bappenas

4

Percik

Oktober 2006

L A P O R A N U TA M A

Gambar 1 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Jawa dan Madura

Sumber : Hasil Analisis

= Normal = Tidak Defisit

= Defisit Rendah = Defisit Sedang

bulan. Sedangkan di wilayah Jabodetabek hanya 50 persen yang defisit. Angka itu didapatkan dengan memperhitungkan faktor ketersediaan air dari daerah aliran sungai (yang merupakan ketersediaan air permukaan) dan kebutuhan air dari tiap daerah (meliputi kebutuhan air untuk domestik, perkotaan, industri, perikanan, peternakan dan irigasi). Data neraca air tahun 2003 menunjukkan total kebutuhan air di Pulau Jawa dan Bali sebesar 38,4 miliar meter kubik pada musim kemarau. Kebutuhan itu dapat dipenuhi sekitar 25,3 miliar kubik atau sekitar 66 persen. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 mengingat jumlah penduduk bertambah dan aktivitas perekonomian meningkat. Secara umum kondisi kekeringan ini disebabkan tiga faktor yakni perubahan iklim global seperti hujan dan kekeringan terjadi di luar bulan-bulan biasanya disertai perubahan iklim lainnya, faktor lingkungan, dan manajemen dan infrastruktur sumber daya air. Secara khusus, penyebab kekeringan di luar faktor iklim global antara lain: 1. Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air; 2. Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air; 3. Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah, land subsidence, dan intrusi air laut; 4. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi; Kondisi neraca air diklasifikasikan menjadi empat yaitu normal, defisit rendah, defisit sedang, dan defisit tinggi. Kondisi normal menunjukkan tidak terjadi defisit sepanjang tahun. Jika jumlah bulan defisit mencapai tiga bulan maka ini diklasifikasikan sebagai defisit rendah. Empat hingga enam bulan defisit diklasifikasikan menjadi defisit sedang. Dan lebih dari enam

Percik

Oktober 2006

5

L A P O R A N U TA M A

Tabel 2 Kabupaten/Kota di Pulau Jawa yang mengalami Defisit Air Minum
No. I. 1 2 3 4 5 6 II. 1 2 3 4 III. 1 2 3 IV. 1 2 3 4 V. 1 Kabupaten / Kota JAWA BARAT Kuningan Cirebon Majalengka Indramayu Kota Bandung Kota Cirebon JAWA TENGAH Magelang Klaten Sragen Kota Semarang DI YOGYAKARTA Bantul Sleman Kota Yogyakarta JAWA TIMUR Bangkalan Pamekasan Sumenep Sampang JABODETABEK Bogor & Depok & Kota Bogor Wilayah Sungai Cimanuk Cintanduy Cimanuk Cimanuk Cintanduy Citarum Cimanuk Citarum Cimanuk Progo-Opak-Oyo Jratun Seluna Serayu Progo-Opak-Oyo Bengawan Solo Jratun Seluna Bengawan Solo Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo Progo-Opak-Oyo Bengawan Solo Progo-Opak-Oyo Madura Madura Madura Madura Ciujung-Climan Cisadea-Cikuningan Citarum Ciliwung-Cisadane Ciliwung-Cisadane 87.3 % 12.7 % 100.0 % 93.6 % 6.4 % 37.9 % 62.1 % 100.0 % 100.0 % 96.9 % 0.4 % 2.6 % 2.0 % 98.0 % 25.9 % 74.1 % 100.0 % 100.0 % 98.3 % 1.7 % 100.0 % 100.0 % 100.0 % 100.0 % 100.0 % 2.9 % 0.2 % 9.4 % 87.4 % 100.0 % 2003 -0.51 -1.67 -0.47 -0.17 -0.38 -1.43 -0.08 -0.52 -0.54 -0.47 -0.69 -0.24 2005 -0.54 -1.75 -0.50 -0.23 -0.40 -1.42 -0.11 -0.51 -0.56 -0.50 -0.70 -0.28 Defisit Maksimum (m³/det) 2010 2015 2020 -0.64 -1.98 -0.55 -0.39 -0.44 -0.09 -1.39 -0.11 -0.18 -0.05 -0.47 -0.64 -0.56 -0.75 -0.38 -0.74 -2.22 -0.61 -0.57 -0.48 -0.35 -1.36 -0.55 -0.26 -0.19 -0.44 -0.72 -0.62 -0.81 -0.49 -0.85 -2.49 -0.67 -0.75 -0.27 -0.53 -0.63 -1.33 -0.30 -1.06 -0.34 -0.35 -0.41 -0.81 -0.69 -0.86 -0.61 2025 -0.96 -2.78 -0.73 -0.95 -0.78 -0.58 -0.94 -1.30 -0.83 -1.63 -0.43 -0.52 -0.38 -0.90 -0.77 -0.92 -0.75 -2.6

2

Tangerang & Kota Tangerang

-

-

-

-

-0.2

-3.5

Sumber: Hasil Analisis Dit. Pengairan & Irigasi, Bappenas

bulan defisit diklasifikasikan sebagai defisit tinggi. Tabel 1 menunjukkan daerah dengan defisit tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan, artinya tanpa ada intervensi infrastruktur, diperkirakan kondisi neraca air defisit ini akan meningkat. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar, antara lain Kabupaten Ngawi di wilayah sungai (WS) Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. Proyeksi kondisi neraca air di Jawa dan Madura ditunjukkan pada gambar 1. Kondisi neraca air yang defisit akan berpengaruh terhadap ketersediaan air. Yang paling terkena dampak kekeringan ini yaitu pertanian, industri, perkotaan, air minum, dan lainnya. Namun dari sektorsektor itu air minum mendapat prioritas penanganan karena menyangkut kebutuhan vital manusia. Tabel 2 menunjukkan daerah yang mengalami defisit air minum dan prediksi hingga tahun 2025. Kondisi Air Tanah Kendati mengalami kekeringan, Pulau

Jawa sebenarnya masih menyimpan potensi air tanah. Ini karena Pulau Jawa memiliki cekungan air tanah. Paling tidak ada 80 cekungan yang tersebar sepanjang Jawa dan Madura. Air tanah yang ada belum semuanya termanfaatkan. Kalau pun ada yang sudah dimanfaatkan seperti di kota-kota besar, cara pemanfaatannya pun tak terkendali. Akibatnya muncul masalah baru seperti penurunan muka air tanah (Bandung, Jakarta, dan Semarang), penurunan kualitas air tanah (Bandung dan Semarang), penyebaran air payau/ asin (Jakarta dan Semarang), dan penurunan muka tanah (Bandung, Jakarta, dan Semarang). Potensi air tanah yang ada cukup besar. Tabel 3 s/d 8 menunjukkan potensi air tanah berdasarkan wilayah administrasi. Banjir Mengancam Bulan-bulan ini hujan diperkirakan akan turun. Guyuran hujan akan menghidupkan kembali tanah-tanah yang kering. Roda ekonomi akan berputar kembali setelah berhenti beberapa saat, khususnya di sektor per-

tanian. Namun bagi beberapa daerah, hujan dikhawatirkan akan menyebabkan banjir. Kekhawatiran ini muncul terutama di daerah yang biasa mengalami banjir secara periodik alias langganan. Faktor penyebab terjadinya banjir berbeda-beda di setiap wilayah. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain pendangkalan/agradasi dasar sungai (sedimentasi), luapan air sungai melalui tanggul, saluran drainase kurang baik, efek backwater, dan pintu pengendali banjir tak berfungsi. Hampir semua aliran sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. Akibatnya muncul endapat di daerah muara. Sedimentasi tersebut menyebabkan kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. Di samping itu, penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai. Debit air yang besar akibatnya tak bisa ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara. Air kemudian mengalir ke samping melewati tanggul sehingga menggenangi lahan pertanian dan daerah-daerah yang relatif datar. Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu, tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. Kondisi itu bertambah buruk ketika saluran drainase tidak berfungsi dengan baik. Belum lagi ada efek backwater yang terjadi di bagian hulu karena perubahan arus air di bagian hilir. Arus air yang berbalik ini -- karena pertemuan antara anak sungai dan sungai utama, pembendungan, dan penyempitan -- akan menyebabkan banjir tak dapat dihindari. Banjir juga terjadi karena area tangkapan air (catchment area) lenyap. Penggundulan hutan dan pola tanam yang salah ikut andil di dalamnya. Akibat tidak ada catchment area, air

6

Percik

Oktober 2006

L A P O R A N U TA M A

Tabel 3. Potensi Air Tanah di Propinsi Banten No 1 2 3 4 5 6 Kabupaten Pandeglang Lebak Tangerang Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) 1.112,34 345,40 451,23 631,35 101,09 54,65 (m3/detik) 35,27 10,95 14,31 20,02 3,21 1,73 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

Tabel 6. Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) 131,75 242,94 160,41 302,72 124,18 58,21 220,69 560,79 245,06 227,35 163,76 348,72 282,55 224,62 342,69 38,67 105,64 329,50 144,86 326,67 380,72 242,80 407,06 288,19 337,67 352,16 301,48 197,20 250,40 5,14 29,44 12,64 146,23 32,95 6,68 (m3/detik) 4,18 7,70 5,09 9,60 3,94 1,85 7,00 17,78 7,77 7,21 5,19 11,06 8,96 7,12 10,87 1,23 3,35 10,45 4,59 10,36 12,07 7,70 12,91 9,14 10,71 11,17 9,56 6,25 7,94 0,16 0,93 0,40 4,64 1,04 0,21

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

Tabel 4. Potensi Air Tanah di Propinsi DKI Jakarta No 1 2 3 4 5 Kabupaten Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) 89,95 111,36 30,75 72,77 79,28 (m3/detik) 2,85 3,53 0,97 2,31 2,51

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

Tabel 5. Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Kabupaten Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) 1.122,29 1.034,35 849,96 1.514,95 1.528,81 771,38 907,64 391,62 342,94 781,67 883,07 731,53 707,25 253,83 638,68 482,66 87,72 32,82 80,76 10,48 119,63 124,70 (m3/detik) 35,59 32,80 26,95 48,04 48,48 24,46 28,78 12,42 10,87 24,79 28,00 23,20 22,43 8,05 20,25 15,31 2,78 1,04 2,56 0,33 3,79 3,95

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

Tabel 7. Potensi Air Tanah di Propinsi DIY No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Kota Yogyakarta Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) 59,75 167,08 297,79 311,88 19,41 (m3/detik) 1,89 5,30 9,44 9,89 0,62

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

Percik

Oktober 2006

7

L A P O R A N U TA M A

Tabel 8 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar Kediri Malang Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo Pasuruan Sidoarjo Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Kediri Kota Blitar Kota Malang Kota Probolinggo Kota Pasuruan Kota Mojokerto Kota Madiun Kota Surabaya Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) 65,71 421,73 10,70 315,34 460,27 595,20 1.178,00 1.088,80 1.695,89 1.642,60 1.034,75 1.170,37 833,08 615,85 264,09 360,32 380,47 454,63 441,68 288,28 441,29 254,97 320,71 319,06 233,58 191,21 154,55 115,55 193,59 26,44 14,20 28,52 23,87 16,43 6,80 12,23 114,39 (m3/detik) 2,08 13,37 0,34 10,00 14,60 18,87 37,35 34,53 53,78 52,09 32,81 37,11 26,42 19,53 8,37 11,43 12,06 14,42 14,01 9,14 13,99 8,09 10,17 10,12 7,41 6,06 4,90 3,66 6,14 0,84 0,45 0,90 0,76 0,52 0,22 0,39 3,63

Gambar 2.

Lokasi Rawan Banjir di Pulau Jawa

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

dengan mudah mengalir ke sungai. Kondisi ini makin diperparah dengan penebingan sungai dan karakter sungai yang curam sehingga air mengalir begitu deras menuju hilir. Padahal daya tampung hilir, seperti Jakarta, Semarang, dan kota-kota besar tak memadai. Banjir tak dapat ditolak. Berdasarkan data Departemen Pekerjaan Umum, banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai

utara dan pantai selatan, wilayah cekungan, serta kota-kota besar. Pada tahun 2002, terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81,9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91,1 ribu hektar. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama. Lihat saja ada North Java Flood Control Project dan South Java Flood Control Project di Jawa Tengah, Citarum Flood Control Project di Bandung Selatan, Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) di Jakarta, juga ada proyek pengembangan perkotaan seperti Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP). Namun, laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengantisipasi

magnitude (besaran) dan frekuensi banjir yang terjadi. 'Musim banjir' pun selalu datang. Tantangan ke Depan Kebutuhan air untuk rumah tangga, perkotaan, industri, dan pertanian semakin hari semakin meningkat seiring pertambahan penduduk dan peningkatan aktifitas perekonomian. Di sisi lain telah terjadi perubahan tata guna lahan yang menyebabkan perubahan perilaku hidrologis sehingga mempengaruhi pola ketersediaan air. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area. Bisa diduga, kekeringan dan kebanjiran akan silih berganti datang. Tidak itu saja, beberapa kabupaten/kota bahkan telah menyalakan lampu merah untuk memenuhi kebutuhan warganya. Mau tidak mau, penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait, harus mendapat prioritas. Selain itu, perlu penyesuaian kembali alokasi air antarjenis kebutuhan, khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa. Tentu ini bukan hal yang mudah. Perlu ada kajian mendalam. Lebih dari itu, penanganan sumber daya air di Jawa memerlukan sinergi dan integrasi. Direktorat Pengairan dan Irigasi Bappenas, mengusulkan program pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa berdasarkan prioritas penanganan

8

Percik

Oktober 2006

L A P O R A N U TA M A
segera (jangka pendek), jangka menengah, dan jangka panjang. Penanganan jangka pendek yang perlu segera dilakukan yaitu: 1. Rehabilitasi lahan dan konservasi sumber daya air, antara lain melalui: (a) reboisasi lahan kritis yang melibatkan masyarakat melalui penanaman tanaman produktif; (b) penurunan laju sedimentasi melalui rehabilitasi dan stabilisasi tebing sungai; (c) mengurangi periode genangan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi; dan (d) pengelolaan banjir (flood management) yang terintegrasi dengan rehabilitasi lahan. 2. Upaya penyadaran masyarakat tentang penanggulangan banjir dan kekeringan, antara lain melalui: (a) penyadaran masyarakat tentang penanggulangan banjir dan kekeringan; (b) peningkatan kesiagaan masyarakat menghadapi banjir dan kekeringan; (c) kampanye hemat air; (d) pengembangan sistem peringatan dini banjir; (e) Pengembangan institusi pengelola sumber daya air; (f) peningkatan sumber daya manusia dalam pengelolaan sumber daya air; (g) penanganan konflik pemanfaatan air melalui peningkatan manajemen sumber daya air; (h) pencegahan alih fungsi lahan melalui pemberian insentif dan sertifikasi; serta (i) peningkatan peran lembaga rehabilitasi lahan dan konservasi air. 3. Intervensi infrastruktur pada lokasi-lokasi mendesak dan prioritas, melalui: (a) Pembangunan waduk, embung, dan lumbung air pada daerah defisit air dan rawan banjir; dan (b) Penetapan daerah rawan banjir dan penyiapan fasilitasnya. Prioritas menengah diperlukan untuk menjaga kesinambungan program-program pada prioritas segera, antara lain: 1. Peningkatan efisiensi penggunaan air pada daerah yang berpotensi defisit air tinggi antara lain melalui rehabilitasi jaringan irigasi dan alokasi air yang efisien; 2. Pengendalian dan penataan penambangan Galian C di badan sungai; 3. Pengembangan industri hasil hutan dan pertanian di tingkat lokal; 4. Pengembangan rencana rehabilitasi lahan berbasis teknologi informasi; 5. Peningkatan fasilitasi desain infrastruktur sederhana tingkat lokal; dan 6. Penyusunan basis data dan informasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. Prioritas jangka panjang mencakup perencanaan penanganan banjir dan kekeringan secara berkelanjutan, antara lain: 1. Perumusan kebijakan dan strategi implementasi strategi makro secara terintegrasi yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah; 2. Penyusunan skenario pembiayaan dari berbagai sumber yang dalam jangka panjang menitikberatkan pada sumber-sumber dana langsung dari masyarakat; dan 3. Pengembangan operasi dan pemeliharaan infrastruktur berbasis masyarakat. Program itu akan berjalan dengan baik bila didukung komitmen yang kuat dari semua stakeholder. Kalau tidak, kondisi Indonesia akan bertambah buruk. Sekarang terserah kita. MJ

'Panen Hujan'
ala Gunung Kidul
esa Bunder, Kecamatan Patok, Kabupaten Gunung Kidul, DIY tergolong daerah kering. Lahan di daerah ini hampir sepanjang tahun hanya ditanami singkong. Namun sejak desa itu menjadi lokasi proyek percontohan pengembangan teknologi panen hujan dan aliran permukaan, lahan singkong itu telah menjadi lahan padi. Teknologi yang diterapkan cukup sederhana yakni menampung air hujan dan aliran permukaan (air yang mengalir di permukaan tanah) pada jaringan hidrologi di sebuah penampungan dengan ukuran panjang 20 meter, lebar 5 meter, dan kedalaman sekitar 3 meter. Waduk kecil ini mampu menampung aliran permukaan kurang lebih 300 meter kubik. Air ini dipergunakan untuk berbagai keperluan. Di desa ini, air itu terutama untuk mengairi sawah. Air ini tidak hanya tersedia pada musim hujan, tapi juga di musim kering

D

sehingga persoalan bercocok tanam berbagai jenis tanaman terselesaikan. Teknik penampungan air ini selain mengumpulkan air juga berfungsi menurunkan kecepatan aliran permukaan, mengurangi volume air yang mengalir, dan menyimpannya untuk keperluan musim kemarau. Teknologi penampung air hujan dan aliran permukaan seperti ini ideal diterapkan di kawasan Puncak misalnya, guna menahan laju aliran dan mengurangi volume air yang mengalir. Usaha lahan kering di berbagai daerah yang memiliki defisit air pun bisa dibantu dengan model ini. Lagi pula dananya tak sebesar membangun waduk/bendungan. Waduk kecil ini bisa dibuat ribuan di sepanjang Kali Ciliwung dan kalikali lainnya mulai dari hulu hingga hilir. Bila ini dilakukan, dampaknya akan luar biasa. Produksi pertanian akan naik. Kekeringan dan kebanjiran sekaligus teratasi. MJ

Percik

Oktober 2006

9

WAWA N C A R A

Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Depdagri, H Syamsul Arief Rivai:

Anggarkan Air Bersih untuk Desa!
FOTO:MUJIYANTO

Sejak era otonomi daerah, geliat pembangunan seolah berpindah ke daerah. Dengan sumber daya yang dimilikinya, daerah berlomba membangun daerahnya. Terkadang, begitu asyiknya mereka dengan daerahnya, pemerintah daerah lupa menyesuaikan visi dan misi pembangunannya dengan visi dan misi pembangunan nasional. Akibatnya, seolah-olah pembangunan di daerah berjalan maunya pemda sendiri. Dampak dari perilaku tersebut yakni pembangunan yang tidak terarah secara nasional. Sektor-sektor yang seharusnya menjadi prioritas bersama diabaikan hanya gara-gara itu tidak berdampak langsung bagi pendapatan daerah. Kondisi ini tidak menguntungkan masyarakat, sebaliknya hanya menjadi ambisi para kepala daerah. Sektor air minum dan penyehatan lingkungan pun jadi korban. Apresiasi pemerintah daerah terhadap bidang ini masih kurang. Bagaimana sebenarnya ini bisa terjadi? Untuk menjawabnya, Percik mewawancarai Dirjen Bina Pembangunan Daerah. Berikut petikannya.

B

agaimana kondisi pembangunan daerah secara umum? Visi pembangunan daerah sekarang itu merupakan bagian dari paradigma nasional. Paradigma pembangunan nasional ini adalah dengan lahirnya UU Pemerintahan Daerah No. 32, maka sebagian besar kewenangan pemerintah pusat sudah diberikan ke daerah. Maka daerah mendapatkan kesempatan berperan lebih besar terutama untuk melakukan pembangunan yang tujuannya menyejahterakan rakyat dan memberikan pelayanan yang terbaik. Karena itu inisiatif, kreasi memang harus tumbuh di daerah. Makanya istilah pembangunan daerah kita ubah paradigmanya menjadi daerah membangun. Daerah membangun lebih bersifat mereka sendirilah yang memikirkan apa yang akan direncanakan, dibutuhkan, dan dilaksanakan sampai dibangun oleh daerah sendiri dengan caranya sendiri dalam upaya menyejahterakan rakyatnya. Itu inti dari paradigma sekarang ini. Apakah daerah sudah meng-

ikuti paradigma ini? Seyogyanya ya. Sebagian besar daerah itu sudah bermain sesuai itu. Mereka sudah mengurus dirinya dengan sangat optimal. Semuanya sudah tahu. UU No. 32 ini kan baru tahun 2004. Tapi sebenarnya lebih awal UU No 22 tahun 1999 telah memberikan kewenangan itu. Sejak terjadi perubahan reformasi pemerintahan dari UU 574 ke UU 22 itu sebenarnya penyambungan saja. Jadi UU 22 itu sudah berlangsung tujuh tahun bahwa kewenangan seluruhnya diberikan kepada daerah kecuali kewenangan yang bersifat mutlak dari pemerintah pusat. Daerah sudah bermain itu sekarang. Masalahnya adalah pencapaian dari daerah ini perlu digiring satu visi dan misi yang membangun visi dan misi kabinet Indonesia Bersatu. Dia sebenarnya merupakan subsistem pembangunan nasional. Ini yang menurut hemat saya masih perlu didorong. Apa persoalannya sehingga daerah belum berjalan searah dengan pusat?

Itu ada hubungannya dengan kemampuan daerah membaca visi nasional dan visi propinsi. Mestinya visi nasional turun menjadi visi propinsi. Visi propinsi kemudian turun menjadi visi kabupaten/kota. Sehingga kalau seluruh visi ini mencapai sasarannya, maka kita berharap akan terbangun visi propinsi dan nasional. Nah, sebagian besar daerah belum bisa mengait-kaitkan antara propinsi dan nasional. Akibatnya, kadang-kadang sudah banyak yang dilakukan oleh daerah itu, tapi secara tidak langsung belum mendukung visi propinsi dan nasional. Karena alasan misalnya saya kan otonom. Ya. Kamu otonom dalam bingkai Negara kesatuan. Pencapaian tujuan daerah itu dalam rangka mencapai tujuan nasional. Sistem seperti itu yang harus ditumbuhkembangkan. Artinya daerah masih memiliki egositas tersendiri? Ya. Dengan alasan otonom dan sumber daya, perkembangan sosial politik kemasyarakatan, dan dengan alasan visi dan misi daerah sekarang ini amat ditentukan oleh visi dan misi bupati sesuai dengan hasil pilkada. Karena visi dan misi bupati itulah yang menjadi RPJMD. Tidak semua bupati yang terpilih bisa memahami secara utuh apa yang menjadi sumber daya kabupaten. Pendekatannya lebih banyak pada bagaimana you memilih saya. Tetapi pemahaman terhadap kabupaten/kota secara detil lemah karena mereka lebih banyak outsider, orang dari luar. Namun, itu pada saat awal, seperti ini bisa dipahami. Pada masa-masa yang akan datang, calon bupati itu harus tahu persis daerahnya sehingga bisa menumbuhkembangkan daerah. Bayangkan

10

Percik

Oktober 2006

WAWA N C A R A

sekarang orang Jakarta jadi bupati Tulungagung, apa yang dia tahu di sana kecuali dari dokumen, angka dan sebagainya. Itu tidak cukup kalau dia tidak tahu kondisi sosial kemasyarakatan. Lahirlah visinya. Rakyat memilih dan dia memenangkannya. Itulah yang kemudian menjadi RPJMD. Apakah itu cocok, belum tahu kita. Apakah dia juga meneliti visi propinsi sebelumnya? Belum tentu, sehingga tidak nyambung. Seharusnya visi dan misi daerah itu seperti apa agar memiliki kesinambungan? Pertama haruslah merupakan bagian dari visi dan misi nasional. Walaupun ada spesifikasi sesuai kondisi daerah masing-masing. Katakanlah kalau daerah itu pantai, maka visinya daerah pantai. Tapi kalau visi ini ditarik pasti mendukung visi nasional mengurangi kemiskinan. Kalau dulu ada yang namanya sistem perencanaan pembangunan nasional. Sebenarnya ini bisa dijadikan mekanisme. Kita kan ada rakorbang. Dimulai dari tingkat desa dulu, bottom up, kemudian ke kecamatan, terus ke kabupaten, propinsi. Mestinya membangun visi harus belajar dari mekanisme ini. Baru bisa nyambung. Bagaimana upaya Bangda membina daerah menuju ke arah yang diharapkan? Kita sekarang lagi mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah tentang perencanaan pembangunan daerah. Kita harapkan secara bottom up semua harus terkait. Mulai dari rencana pembangunan tingkat perdesaan, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, sampai ke tingkat nasional. Bolehlah tiap desa punya visi. Tapi ada kegiatan di desa yang merupakan bagian dari tujuan kecamatan dan seterusnya. Nah itu kita susun. Mendahului itu sudah kita membuat surat edaran menteri dalam negeri. Kebutuhan daerah akan perencanaan itu harus lahir, kalau

FOTO:DPR.GO.ID

DPR harus menyesuaikan visi daerah dengan visi nasional.

menunggu PP lama, maka kita mengeluarkan surat edaran Mendagri tentang penyusunan RPJMP daerah. Jadi visi dan misi bupati itu harus diikat dengan peraturan daerah supaya jangan dia janji-janji pada kampanye satu atau dua, tapi setelah jadi lupa janjinya. Ini agar rakyat bisa memiliki mekanisme kalau bupati melanggar janjinya. Rakyat bisa bilang 'bupati melanggar Perda'. Jadi selama ini belum ada ikatan yang bersifat hierarki? Belum. Di dalam peraturan pemerintah itulah kita harapkan. Dan itu maunya undang-undang No. 32. Apakah itu tidak membatasi ruang gerak dari daerah? Tidak. Karena begini, yang dipilih daerah berupa visi dan misi itu adalah dasar penyusunan kebijakan. Dia menyusun visi dan misi berdasarkan data, tidak berdasarkan khayalan. Harus hasil penelitian. Jadi tidak akan mungkin membatasi kalau memiliki data dan pengetahuan yang cukup mengenai daerahnya. Kita beralih ke sektor AMPL. Bagaimana pandangan Anda terhadap kepedulian daerah terha-

dap hal ini? Kesadaran rakyat di daerah terhadap air bersih itu yang perlu ditingkatkan. Kita punya program AMPL yang memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan air bersih. Bahkan tahun 2015, 80 persen penduduk di dunia harus mengonsumsi air bersih. Persoalannya sekarang, di daerah rakyat asal minum. Pokoknya air itu karena kelihatan jernih dianggap bersih. Padahal belum tentu sehat. Nah makanya perlu ditumbuhkan kesadaran akan pentingnya air yang bersih dan sehat. Yang kedua, yang di kota agak lumayan karena ada PDAM. Masalahnya, PDAM itu dikelola secara tidak profesional sehingga 80 persen PDAM itu merugi. Itu bagaimana? Tetapi air bersih itu merupakan suatu yang sangat vital karena di situlah sumber energi sekaligus bisa menjadi sumber penyakit kalau kita tidak jaga. Apalagi musim kering sekarang ini di mana-mana orang meneriakkan kebutuhan air. Bagaimana pemerintah daerah menyiapkan itu. Saya melihat di RAPBD, daerah terlalu percaya PDAM. Padahal PDAM kan hanya di ibukota kabupaten. Yang namanya kecamatan itu tidak terurus. Makanya kita di Bangda ini bekerja sama dengan Care dan WASPOLA untuk memenuhi

Percik

Oktober 2006

11

WAWA N C A R A

kebutuhan air bersih itu. Penduduk yang tinggal di luar ibukota kabupaten itu jauh lebih banyak. Mereka memperoleh air dari sungai atau sumur, yang mereka semua tidak memiliki pengetahuan. Misalnya asin-asin sedikit minum aja. Dia tidak tahu dalam jangka panjang berbahaya bagi kesehatan. Kalau kesadaran pemerintah daerahnya sendiri? Umumnya daerah itu sadar kalau air bersih itu perlu. Karena itu mereka gantungkan harapannya pada PDAM. Cuma jangkauan PDAM itu hanya di kota. Mestinya di APBD itu ada anggaran untuk air bersih di kecamatan, air bersih di desa, dan pusat-pusat konsentrasi penduduk. Inilah yang merupakan bagian dari bantuan asing yang masuk ke kita yang membantu masyarakat perdesaan. Tapi kebanyakan daerah hanya menganggarkan sangat kecil di bidang ini, berarti belum prioritas? Ya, bukan prioritas. Prioritas itu justru fisik, infrastruktur. Seolah-olah air dapat sendiri lah. Memang mereka minum, buktinya tidak ada yang mati kehausan, tapi apakah air yang diminum itu layak. Itu yang tidak diketahui. Adakah upaya pemerintah pusat agar daerah memberi prioritas untuk sektor ini? Usaha kita adalah menjaring kerja sama dengan negara-negara donor karena bicara soal air minum ini ongkosnya mahal, tetapi menyentuh banyak orang. Kita dengan Bappenas, PU, Kesehatan, ada program WASPOLA dan WSLIC bersama-sama mendorong menyediakan air bersih. Tapi ini terbatas sifat dan lokasinya. Kita berharap daerah lain yang melihat itu kemudian mengikuti pemikiran itu. Menurut saya, kesadaran akan kepentingan air bersih

itu oleh banyak pemda kurang diperhatikan. Usaha kita memberi contoh. WSLIC itu adalah proyek contoh bagaimana mengelola air bersih dan penyehatan lingkungan. Berarti daerah masih memiliki kendala keterbatasan dana? Iya. Bisakah daerah didorong untuk mandiri? Begini. Ini masalah persepsi. Bahwa air minum seolah-olah mudah diperoleh oleh rakyat. Tahu nggak. Daerah itu sudah pinter juga lho minum air kemasan. Bahkan ada bupati membuat air kemasan itu karena dia tahu air itu tidak cukup. Ada istri bupati yang ngurus ini, bikin pabrik. Tapi bukan itu solusinya. Karena rakyat itu daya belinya rendah, air minum dan air untuk keperluan rumah tangga itu jumlah yang dibutuhkan terus menerus dan banyak, sehingga solusinya bukan dengan air kemasan. Penyelesaiannya harus dengan menemukan sumber air dan sekaligus menjadikan air itu menjadi air yang layak pakai. Itu bisa masuk melalui program dan harus didukung oleh APBD.

Apakah kita perlu regulasi untuk menjaga lingkungan kita? Itu pasti. Karena air ada hubungannya lingkungan terutama hutan, maka sekarang ini kencang sekali rambu-rambunya. Bukan lagi perlu, sekarang sudah main. Terutama untuk pembabatan hutan, itu sudah kencang kita larang. Di lain pihak, kebutuhan akan kayu tinggi sekali. Dan kita tidak menyiapkan semacam alternatif, kalau bukan kayu apa? Sekarang saya di Bangda sedang memikirkan menyusun kebijakan bahwa jangan lagi pakai kayu. Solusinya adalah kalau untuk kepentingan pembangunan fisik maka dengan baja ringan. Saya gubernur di Sulawesi Barat, dan itu sudah mulai berlaku di sana. Tidak ada lagi bangunan yang menggunakan kayu. Harus pakai baja ringan. Padahal di sana banyak kayu. Kalau mau ambil tinggal potong, tapi itu mengganggu ringan. Harus ada kebijakan. Kalau tidak orang akan tetap butuh kayu meskipun dilarang, maka lahirlah illegal logging. Sementara kalau baja ringan belum banyak rakyat yang familiar dengan itu. Padahal itu sekaligus antigempa dan antirayap. Maka dalam rangka penyelamatan air, salah satu upayanya adalah perlindungan hutan. Hutan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam siklus hidrologi. MJ
FOTO:DPR.GO.ID

Penebangan hutan tak terkendali mengganggu kelestarian sumber air.

12

Percik

Oktober 2006

TEROPONG

Simalakama BANTAR GEBANG

T

ragedi sampah terus menggelayuti dunia persampahan Indonesia. Tahun lalu, puluhan orang meninggal akibat tertimbun sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuawigajah yang longsor. Tepat 8 September dinihari lalu, giliran tragedi itu menimpa para pemulung yang sedang mengais rezeki di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Lima orang meninggal dunia dan beberapa orang terluka. Kedua tragedi itu berbeda modusnya. Di Leuwigajah, hamparan sampah longsor dan menimpa permukiman penduduk yang lokasinya lebih rendah dari TPA itu (TPA berada di bukit). Sedangkan di Bantar Gebang, sampah mengubur para pemulung yang berada di gundukan sampah yang tingginya mencapai hampir 20 meter. Beberapa kalangan menuding pengelola TPA Bantar Gebang, PT Patriot Bangkit Bekasi (PBB). Perusahaan yang dikontrak oleh Pemda DKI itu dianggap tidak profesional dalam menangani sampah di areal seluas 108 hektar tersebut. Perusahaan itu dianggap mengabaikan Prosedur Standar Operasi (SOP) yang telah ditetapkan. Seharusnya sampah dikelola dengan sistem sanitary landfill, tapi fakta di lapangan menunjukkan perusahaan itu menggunakan sistem open dumping. Sedangkan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, justru menyalahkan para pemulung yang dianggap telah memasuki daerah berbahaya di zone pembuangan sampah itu. Kecam-mengencam pun terus berlangsung. Hingga saat ini belum ada solusi yang tepat untuk menanganinya. Lepas dari itu, TPA Bantar Gebang yang terbagi dalam lima zone ini me-

mang telah syarat beban. Berdasarkan perjanjian sebelumnya, TPA yang mulai beroperasi tahun 1992 itu seharusnya ditutup pada Desember 2003. Namun rencana itu tak terjadi. Penggunaan TPA itu diperpanjang atas kesimpulan dan rekomendasi konsultan independen. Evaluasi Pemantauan oleh konsultan independen-kerja sama Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup Universitas Indonesia dan Pusat Studi Pembangunan dan Lingkungan Universitas Islam "45" Bekasi-menyatakan, ''Dengan asumsi volume yang masuk di TPA Bantar Gebang sesuai dengan kondisi tahun 2003 (20.000 m3/hari) serta berkurang karena dibangunnya TPA di tempat lain serta mengacu pada data Dinas Kebersihan tahun 2003 (14.000 m3/hari); di mana pengurangan volume sampah di TPA ju-

ga terjadi karena proses penguraian sampah dan juga karena pemadatan (50 persen) serta direduksi oleh pemulung (10 persen). Berdasarkan ketinggian sampah pada tahun 2003 untuk variasi ketinggian perencanaan sebesar 12 dan 15 meter, maka TPA Bantar Gebang masih memiliki kapasitas penampungan untuk 417-1.015 hari." Di sisi lain, Dinas Kebersihan DKI Jakarta pun tak bisa melepas begitu saja TPA tersebut. Pasalnya DKI belum memiliki TPA alternatif. Rencana DKI membangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bojong, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Bogor yang menerapkan teknologi tinggi pun kandas karena penolakan oleh masyarakat. Mau tidak mau, TPA Bantar Gebang masih jadi tumpuan. DKI tentu tak ingin terjadi tragedi sampah seperti di Kota Bandung karena ketiadaan TPA.
FOTO:BAGONG S

Pemulung berebut sampah di sekitar alat berat.

Percik

Oktober 2006

13

TEROPONG

Sempat tersiar kabar, TPA itu akan diperluas. Ada tanah seluas 2,3 hektar di TPA tersebut yang bisa digunakan. Namun rencana itu terganjal. Banyak makelar yang bergentayangan sehingga harga tanah menjadi sangat mahal dan jauh dari harga NJOP (nilai jual objek pajak). Kalaupun TPA ini dimekarkan, kapasitasnya tetap tidak mencukupi untuk menampung sampah yang datang setiap hari 6.000 ton ke areal itu. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Lingkungan BPPT pernah melakukan penelitian mengenai kemungkinan rehabilitasi TPA Bantar Gebang tahun 2004. Berdasarkan kajian, TPA tersebut masih dapat direhabilitasi sehingga dapat digunakan menjadi TPA yang ramah lingkungan dan dapat digunakan secara berulang atau terus menerus. Sedangkan kandungan bahan organik yang ada di bawah tumpukan sampah di TPA dapat ditambang dan digunakan untuk reklamasi lahan kritis atau bekas pertambangan. Hingga saat ini belum ada tindakan yang konkret untuk menangani TPA Bantar Gebang. Semua berjalan seperti biasa saja, kendati korban jiwa telah jatuh. ''Ini semua terjadi karena TPA Bantar Gebang menjadi ajang untuk mencari uang. Semua saling berebut untuk mencari uang di sini,'' kata Bagong Suyoto, Ketua Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional. Ia menceritakan, ada bau politik di TPA terbesar ini. Partai-partai besar yang ikut menentukan keberlangsungannya. Belum lagi, premanisme pun tak kalah ganasnya. Bagong yang pernah menjadi Koordinator Pokja Penanganan TPA Bantar Gebang ini mengungkapkan praktek politik uang ini pulalah yang menjadikan pengelolaan TPA tidak beres. ''Manajemen fee yang kini besarnya 120 ribu rupiah per ton, diperas sana peras sini. Pokoknya semua minta jatah. Akibatnya, uang yang seharusnya digunakan untuk mengelola persampahan ini habis untuk kegiatan non teknis. Operasi TPA

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Lingkungan BPPT pernah melakukan penelitian mengenai kemungkinan rehabilitasi TPA Bantar Gebang tahun 2004. Berdasarkan kajian, TPA tersebut masih dapat direhabilitasi sehingga dapat digunakan menjadi TPA yang ramah lingkungan.
ini sangat sarat dengan premanisme dan KKN,'' jelasnya. Menurutnya, penunjukan PT PBB pun tak lepas dari unsur itu. Perusahaan ini seharusnya habis masa kontraknya Juli 2006. Eh ternyata diperpanjang lagi dua kali enam bulan. Padahal sejauh ini PT PBB kualifikasinya belum diketahui. Modalnya pun tak jelas, punya atau tidak. PBB juga tidak menggunakan teknologi tinggi apapun. Dan kalau bicara SDM-nya, tak ada yang tahu, apakah perusahaan itu memiliki para ahli di bidang persampahan. Bagong heran mengapa perusahaan seperti ini ditunjuk untuk mengelola TPA Bantar Gebang. ''Apakah DKI tidak memiliki partner yang lebih baik?'' katanya seraya menambahkan telah terjadi KKN dalam penunjukan tersebut. Selain itu, lanjutnya, sampai sekarang tidak ada perjanjian tripartit yang melibatkan Pemda DKI, Pemkot Bekasi, dan pihak swasta. Yang ada hanya perjanjian antara DKI dan Kota Bekasi saja. Mata rantai yang tidak jelas ini pulalah yang menyebabkan pengelolaan sampah di Bantar Gebang menjadi seperti sekarang. Bagong mengusulkan, sudah saatnya DKI meminta dukungan pemerintah pusat seperti BPPT, Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Bappenas untuk ikut membantu TPA Bantar Gebang. Menu-

rutnya, perlu ada minning (pengerukan) di TPA ini yang hasilnya bisa digunakan untuk pupuk tanaman keras misalnya. Untuk jangka panjang, ia menyarankan DKI harus menerapkan prinsip 3 R (reduce, reuse, dan recycle) sejak di sumber sampah. Selain itu pengomposan pun bisa dilakukan di sumbersumber sampah. Ini penting mengingat 44,63 persen sampah DKI merupakan sampah organik. ''Kalau ini berjalan, maka TPA hanya tinggal menerima sisanya. Dan itu tinggal sedikit,'' kata Bagong. Pada kesempatan lain Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Rama Budi menyatakan persoalan penanganan sampah tidak hanya masalah teknis belaka. Justru masalah non teknis yang lebih besar. Pihaknya sendiri telah mempertimbangkan umur teknis TPA Bantar Gebang yang hampir habis. Maka DKI telah mengkaji ulang Master Plan Pengelolaan Sampah Padat yang disusun oleh JICA tahun 1987. Dari hasil kajian yang selesai tahun 2005 itu diperoleh rencana aksi Pengelolaan Sampah DKI Jakarta 10 tahun ke depan (2005-2015). Action plan itu telah disesuaikan dengan berbagai aspek sesuai perkembangan permasalahan sampah yang berkembang baik aspek institusi, hukum, dan financial. Pendekatan dan strategi itu antara lain mengurangi dan memanfaatkan sampah sebanyak mungkin di sumber sebelum dibuang ke TPA; pemilahan; pembangunan fasilitas pengolah sampah di berbagai lokasi dan zonasi penanganan sampah; aplikasi teknologi tinggi; penanganan sampah B3 secara khusus; membuka peluang kerja sama regional dan swasta; dan perubahan paradigma masyarakat bahwa sampah bisa menjadi sumber daya yang ekonomis. Strategi ini memasukkan konsep desentralisasi dan penggunaan teknologi tinggi serta kerja sama regional. Kalau ini berjalan, beban TPA Bantar Gebang bisa berkurang. Pertanyaannya, kapan? MJ

14

Percik

Oktober 2006

TEROPONG

Review Master Plan Pengelolaan Sampah DKI Jakarta

T

ragedi sampah longsor tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang milik DKI Jakarta pada Jumat, 8 September 2006 menelan 5 jiwa dan 3 luka-luka merupakan indikasi buruknya pengelolaan sampah. Selama dua bulan terakhir terjadi empat kali sampah longsor di TPA itu. Namun pengelola tidak belajar dari sejarah hitam tersebut. Kebiasaan masa lalu terus berlangsung. Tidak mudah mengubah suatu sistem dan kultur yang telah berjalan puluhan tahun dalam pengelolaan sampah di DKI Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Pendekatan yang ditempuh DKI menekankan pada top-down policy, hanya pemerintah yang mengurusi sampah dengan manajemen tertutup. Pendekatan masa lalu tersebut menimbulkan berbagai masalah. Basis pengelolaan sampah di Jakarta adalah master plan 1987-2005 yang disusun JICA, yang meliputi (1) pengumpulan (colletion) seperti: pelayanan door to door, sistem LPS (gerobak sampah), penyapuan (street sweeper); (2) pengangkutan (SPA besar 2 buah, SPA kecil 13 buah); (3) Pengangkutan dengan kontainer dan kompaktor; (4) Pembuangan akhir (disposal site) di belahan timur di TPA Bantar Gebang dan belahan Barat di Ciangir, Tangerang. Sayangnya sampai sekarang calon TPA Ciangir tidak bisa dioperasikan karena penolakan warga. Sistem kumpul - angkut - buang merupakan sistem konvensional, yang hanya memindahkan masalah. Sampah Jakarta dibuang ke TPA Bantar Gebang dan terus menggunung. Dari 5 zona TPA Bantar Gebang, pada Juli 2006 semuanya sudah penuh, yang semestinya TPA ditutup pada akhir Desember 2003

Oleh: Bagong Suyoto*
lalu. Lebih dari 27.966 m³ atau 6.000 ton/hari sampah dibuang ke TPA Bantar Gebang, terdiri dari 55,37% sampah organik dan 44,63% non-organik. Sampah itu dihasilkan oleh lebih 10 juta penduduk Jakarta. Setelah Ciangir gagal, untuk mengatasi kejenuhan TPA Bantar Gebang, Pemda DKI Jakarta membangun TPST Bojong Kalapanunggal-Bogor, dirintis awal 2001. Namun, TPST Bojong ditolak warga sekitar. Berbagai alasan penolakan muncul mulai dari mulai kebohongan publik hingga penempatannya tidak sesuai dengan tata ruang (RTRW). Sementara itu pihak pengelola, menyatakan TPST tersebut menggunakan teknologi pengolah sampah (balla press) paling modern di Indonesia, yang dapat

menyerap 1.500 ton/hari sampah dari Jakarta. Sekarang ini TPA Bantar Gebang menjadi satu-satunya tumpuan DKI Jakarta, paling tidak untuk 2-3 tahun ke depan. Masalahnya, TPA Bantar Gebang dikelola tanpa memperhatikan standar baku (teknis), akibatnya menimbulkan pencemaran lingkungan (udara, tanah dan air). Seperti leachet yang tak tertampung oleh IPAS mengalir hingga 15 km melewati Kali Asem, Kali Pedurenan, Perumahan Regency, Dukuh Zamrud/Kota Legenda, Duta Harapan, dan seterusnya. Leachet itu telah mencemari sawah-sawah petani akibatnya produktivitas padi turun drastis setiap tahun. Pencemaran itu bertambah ketika TPA Sumur Batu mulai dioperasikan pada Juni 2003, dimana pengelolaannya lebih buruk lagi. Pencemaran air tersebut berpenga-

GRAFIK TIMBULAN Jakarta tahun 2005 Timbunan Sampah di DKISAMPAH DI DKI JAKARTA TAHUN 2005

(6.000 ton/hari)
Industri
538 (8.97%)

(6.000 ton/Hari)
1. Organik

Lain-lain
84 (1.4%)

KOMPOSISI SAMPAH
: 55,37 % : 44,63 % : 20,57 % : 13,25 % : : : : : 0,07 % 0,61 % 0,19 % 1,06 % 1,91 % 2. An Organik.

Pemukiman
3.178 (52.97%)

2.1. Kertas 2.2. Plastik 2.3. Kayu 2.4. Kain/Trkstil 2.5. Karet/Kulit Tiruan 2.6. Logam/Metal 2.7. Gelas/Kaca 2.8. Sampah Bongkaran 2.9. Sampah B3

Perkantoran
1.641 (27.35%)

: 0,81 % : 1,52 %

Pemukiman Pasar Sekolah Perkantoran Industri Lain-lain

2.10 Lain-lain (batu,pasir,dll) : 4,65 %

Pasar
240 (4%)

VOLUME SAMPAH :
Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jumlah : : : : : 5.280 m3 4.408 m3 6.000 m3 6.218 m3 6.060 m3

Sekolah
319 (5.32%)

Sumber : WJEMP 2005

: 27.966 m3

Percik

Oktober 2006

15

TEROPONG

ruh langsung pada kualitas air sumur penduduk, yang kini tidak layak minum. Penduduk hanya mengandalkan air mineral dan sumur artesis. Sayangnya operasi sumur artesis tidak menjangkau seluruh penduduk sekitar TPA, yaitu Cikiwul, Ciketing Udik, dan Sumur Batu, Kec. Bantar Gebang, dan Desa Taman Rahaya, Kec. Setu. Air sumur warga sudah tercemar tinja (e-coli) dan logam berat. Pada umumnya sampah yang dibuang ke TPA bercampur-baur antara organik, non-organik dan sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) skala rumah tangga. Yang lebih sengsara adalah pemulung, mereka menggunakan air minum dan keperluan sehari-hari dengan air seadanya dan tercemar. Persoalan lain tentu berdampak pada kesehatan masyarakat. Berbagai penyakit menyerang seperti ISPA, alergi kulit, radang paru-paru, asma, anemia, dan lain-lain. Gangguan kesehatan itu disebabkan oleh asap dari pembakaran sampah, tebaran debu sampah, bau busuk yang terbawa angin dan sebagainya. Masalah lainnya akibat pengelolaan TPA yang buruk adalah semakin besarnya konflik sosial (vertikal dan horizontal), praktek KKN, premanisme dan vandalisme. Berbagai kepentingan

muncul di sini mulai dari Pemda DKI, Pemkot Bakasi, DPRD, Parpol, Ormas, LSM, pelapak, pemulung, hingga warga yang tinggal di sekitar TPA. Hal ini semakin tampak dan panas ketika MoU pemanfaatan TPA Bantar Gebang akan berakhir tiap tahun. Sampah pada akhirnya terjerembab dalam aras politik, inilah yang dipahami sampah sebagai komoditas politik. Pengelolaan sampah yang buruk akan menjadi gudang pemerasan, apalagi TPA itu di tempat orang lain. Review Master Plan Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menyelimuti pengelolaan sampah Jakarta maka dilakukan review master plan 1987. Review 10 tahun ke depan (2005-2015) yang dimaksud adalah Solid Waste Management for Jakarta: Master Plan Review and Program Development, bagian dari Western Java Enviromental Management Project (WJEMP - IBRD Loan 4612-IND/IDA Credit 3519-IND). Bagian yang sangat penting dari WJEMP adalah Jabodetabek Waste Management Corporation (JWMC), yaitu pembentukan TPA Regional, direncanakan di Nambo, Bogor. Belajar dari pengalaman pengelolaan sampah selama ini
FOTO: BAGONG S

maka DKI perlu mengubah paradigmanya, menuju era baru pengelolaan sampah. Sebagai ibukota negara, metropolitan Jakarta dibebani oleh berbagai masalah seperti pertambahan penduduk dan urbanisasi, perkembangan aktivitas ekonomi dan pembangunan modern. Sementara perilaku masyarakat yang semakin konsumtif sulit ditekan, termasuk pemakaian kantong/pembukus dari plastik yang tidak ramah lingkungan. Semua berimplikasi pada timbulan dan komposisi sampah yang terus bertambah besar. Berpijak dari pengalaman masa lalu dan persoalan yang mengikutinya, maka pengelolaan sampah di Jakarta sudah waktunya mengandalkan teknologi canggih yang ramah lingkungan. Pendekatan dan strategi berdasarkan review master plan, yaitu tidak terpusat, ramah lingkungan, multi teknologi, tata regulator/operator, peran swasta dan masyarakat, pilah sampah/3 R (reduce, reuse, dan recycle), kerja sama regional, pay as you throw. Sasaran program untuk jangka pendek, menengah dan panjang adalah (1) pengelolaan sampah yang efektif, efesien, ramah lingkungan dengan menggunakan teknologi modern; (2) tercapainya sinergi Pemda, swasta dan masyarakat; (3) terwujudnya sampah sebagai sumber daya. Sumber dana APBD, kemitraan, APL-2 (World Bank), grant dan peluang CDM. Pemprop DKI akan membangun 4 TPST di wilayah indoor, yaitu Duri Kosambi-Jakbar, Marunda-Jakut, Pulogebang-Jaktim, dan Ragunan-Jaksel. Pada intinya sampah akan dikelola mulai dari sumber (pemilahan), diangkut ke SPA, dan disalurkan ke TPST. Sampah akan diolah menjadi kompos dan material yang berguna, daur ulang, dan juga akan diubah menjadi listrik (waste to energi). Pemprop DKI sudah melakukan penjajakan dan MoU dengan sejumlah perusahaan baik domestik maupun luar negeri. Dari luar negeri dapat disebut Kepple-Seghers, Singapura, dan

16

Percik

Oktober 2006

TEROPONG

perusahan Kanada. Dalam laporan Potential Project Porfolio for Clean Development Mechanism in India and Indonesia (Maret 2006) ada dua tempat yang mendapat dukungan dari Kanada, yaitu waste to energy melalui insinerasi (Dinas Kebersihan DKI) di Duri Kosambi, Jakarta Barat dan mechanical composting and manual sorting oleh Wira Gulfindo Sarana di Jakarta Utara--dua proyek pengelolaan sampah yang (akan) mendapat fasilitas CDM. Sedang di TPA Bantar Gebang, sebuah perusahaan dari Jepang (Kajima) akan mengolah sampah juga menjadi listrik. Belakangan kalangan GTZ German dan Bali Fokus sedang menyusun studi kemungkiman berapa besar proyek tersebut dapat difasilitasi CDM. Mereka telah melakukan kunjungan ke Bantar Gebang pada bulan April 2006 didampingi Kementerian Lingkungan Hidup, Bappenas, dan Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional. Kunci Utama Berdasarkan pengalaman, secanggih apa pun teknologi yang diterapkan untuk mengolah sampah, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan/partisipasi masyarakat. Masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pinggiran TPA/TPST, kaum perempuan, pemulung dan sekor informal selayak diajak menyusun desain pengelolaan sampah, implementasi, monitoring dan review (berkala). Master plan akan dapat dilaksanakan dengan sukses bila mengadopsi dan mengeloborasi Rekomendasi Semiloka Pembahasan Rencana Aksi Pengelolaan Sampah Jakarta 2005-2015 di Hotel Millenium Jakarta, 23 Nopember 2005. Semiloka tersebut merupakan kerja sama Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional dan Dinas Kebersihan DKI. Tiga butir rekomendasi adalah: (1) Melakukan Review Total terhadap pelibatan berbagai stakeholder dalam pengelolaan sampah di

Jakarta, juga pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah, (2) Melakukan kaji ulang terhadap pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir/ tempat pengolahan sampah terpadu (TPA/TPST) yang berdekatan dengan permukiman penduduk, dan (3) Menyediakan berbagai alternatif dan kaji ulang penggunaan teknologi pengolahan sampah di Jakarta. Hendaknya menekankan teknologi yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan pemborosan sumber alam dan sumber dana, melindungi kesehatan, dan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Upaya ini dibarengi adanya pemisahan antara regulator, operator, dan pengawas. Tentu semuanya itu harus tertuang dalam klausul-klausul UU Persampahan, selanjutnya diturunkan dalam PP dan Perda. Sejauh ini kita belum memiliki UU Persampahan, informasi yang diterima penulis, bahwa RUU Pengelolaan Sampah masih diharmonisasi di Departemen Hukum dan HAM. Saat ini RUU itu belum masuk program legislasi nasional (Prolegnas). Demi kepentingan bersa-

ma selayaknya pembahasan itu dipercepat dan segera dikeluarkan amanat presiden (Ampres) guna dimasukkan dalam Prolegnas dan segera diagenda di DPR RI. Banyak kalangan menunggu lahirnya RUU tersebut. Berbagai persoalan sampah seperti kasus TPA Bantar Gebang, TPST Bojong, TPA Leuwigajah, kasus Bandung lautan sampah telah menciptakan stigma buruk dan merupakan bagian sejarah hitam pengelolaan sampah di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup menduga, apa yang dialami Bandung akan terulang di kota-kota lain. Jika suatu hari TPA Bantar Gebang ditutup total, sementara Jakarta belum siap dengan implementasi master plan maka bahayanya akan lebih dahsyat beberapa kali lipat dibanding kasus sampah Bandung. Karena timbulan sampah Jakarta jauh lebih banyak dibanding Bandung. DKI harus mengambil langkah-langkah cepat, konkrit, terencana dan komprehensif untuk mengantisipasinya.
*) Ketua Koalisi LSM Untuk Persampahan Nasional, Ketua Dewan Daerah WALHI Jakarta
FOTO: BAGONG S

Percik

Oktober 2006

17

WAWA S A N

Pembangunan Air Minum dan Kemiskinan
bad ke-21 dimulai dengan sebuah kondisi pembangunan manusia yang mendasar yang belum tertanggulangi, yaitu akses kepada layanan air minum, khususnya bagi penduduk miskin di daerah kumuh perkotaan. Sementara akses ke air minum merupakan sumber daya atau modal dasar bagi keberlangsungan hidup. Akses ke air minum merupakan salah satu komponen dalam klasifikasi kemiskinan (Howard, 2004). Kegagalan dalam penyediaan air membawa dampak ke semua kelompok. Akan tetapi, yang paling besar dampaknya adalah terhadap penduduk miskin kota sehingga mereka semakin tidak mampu keluar dari siklus kemiskinan. Beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab minimnya akses air minum, khususnya bagi penduduk miskin, yaitu sebagai berikut. a. Lahan yang ditempati bukan merupakan miliknya yang sah. Pada daerah perkotaan, penyedia layanan air minum tidak melayani daerah permukiman liar, dengan pertimbangan akan memberi legitimasi dan alasan bagi penduduk untuk terus menempati lokasi tersebut. Walaupun kebijakan nasional menyatakan bahwa air minum diperuntukkan bagi semua orang, dalam prakteknya hal ini tidak akan terjadi pada penduduk di permukiman liar. b. Kemampuan penduduk miskin sangat terbatas untuk membayar biaya sambungan sekaligus di depan. Keterbatasan kemampuan untuk membayar biaya sambungan itu akan berakibat bahwa penduduk miskin tidak akan pernah memperoleh layanan air perpipaan. Harga satuan air perpipaan jauh lebih rendah dari air

A

Oleh: Oswar Mungkasa*
yang dijajakan keliling, tetapi biaya sambungan air perpipaan mahal (McIntosh, A. C, 2003). c. Ketika tanggung jawab penyediaan air minum dialihkan ke swasta, kepentingan penduduk miskin bukan menjadi perhatian. Perusahaan penyedia layanan air minum swasta tidak tertarik melayani penduduk miskin sebab penduduk miskin berkonsumsi rendah, mereka tidak mampu membayar biaya pemasangan sekaligus di depan. Di samping itu, mereka sering berlokasi di kawasan permukiman liar. d. Bagi sebagian besar pengambil keputusan, penduduk miskin dianggap tidak mampu dan/atau tidak mau membayar. Penduduk miskin dianggap tidak mampu untuk membayar. Walaupun

demikian, pada saat tertentu seperti menjelang pemilihan umum, penduduk miskin perkotaan memperoleh perhatian berupa janji perbaikan lingkungan dan penyediaan air gratis. e. Lokasi tempat tinggal jauh dari jaringan perpipaan. Ketika penduduk berlokasi di kawasan kumuh, atau berjarak jauh dari jaringan perpipaan, akses air minum menjadi berkurang. Kekurangan air dan sanitasi berdampak pada kemiskinan melalui empat dimensi, yaitu (i) kesehatan, (ii) pendidikan, (iii) jender, dan (iv) pendapatan dan konsumsi (Bosch, Hommann, Sadoff dan Travers, 2000). Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1. Ketika penduduk miskin tidak memperoleh akses air minum, penduduk miskin khususnya di perkotaan menanggung konsekuensinya, di antaranya

Gambar 1. PENGARUH KETERSEDIAAN AIR MINUM TERHADAP BERAGAM DIMENSI KEMISKINAN
Dimensi Kemiskinan Dampak Utama

Kesehatan Kekurangan Air Minum dan Sanitasi

- Penyakit terkait air dan sanitasi - Malnutrisi karena diare - Berkurangnya usia harapan hidup - Tingkat kehadiran berkurang karena sakit, atau antri air

Pendidikan

Pendapatan/ Konsumsi -

Tingginya proporsi pengeluaran untuk air Berkurangnya potensi pendapatan karena sakit, berkurangnya kesempatan kerja yang memerlukan ketersediaan air.

Sumber: Bosch dkk (2000)

18

Percik

Oktober 2006

WAWA S A N

berupa (Johnstone dan Wood, 1999) (i) meningkatnya biaya bagi yang tidak memperoleh akses, (ii) berkurangnya konsumsi air, dan (iii) bertambahnya beban kesehatan dan timbulnya biaya ekonomi karena hilangnya produktivitas. Satu persatu akan dijelaskan berikut ini.

waithe, 1998). Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Sebagai perbandingan, di negara maju, pengeluaran air berkisar pada 0,5 sampai 2 persen dari pendapatan rata-rata (1,3 persen di Jerman dan Belanda, 1,2 persen di Perancis). Air minum dianggap mahal jika pengeluaran melampaui

Tabel 1 PERBANDINGAN HARGA AIR MINUM PENJAJA KELILING DAN PERPIPAAN Rasio harga air penjaja keliling terhadap perpipaan 5:1 62:1 12:1 - 25:1 19:1 10:1 14:1 - 20:1 4:1 - 9:1 28:1 - 83:1 4:1 - 10:1 17:1 13:1 7:1 - 11:1 35 :1 - 300:1 7:1 - 100:1 20:1 - 60:1

Kota

Sumber Data

Abidjan Bandung Dhaka Ho Chi Minh, Vietnam Istanbul Jakarta Kampala Karachi Lagos Lima Manila Nairobi Onitsha, Nigeria Port-au-Prince, Haiti Surabaya

World Bank, 1998 ADB, 1993 World Bank, 1998 ADB, 1993 World Bank, 1998 Crane, 1994 World Bank, 1998 World Bank, 1998 World Bank, 1998 World Bank, 1998 David dan Ionesco, 1998 World Bank, 1998 Whittington dkk, 1991 World Bank, 1998 World Bank, 1998

miskin kemungkinan semakin jauh dari kebutuhan minimal. c. Bertambahnya beban kesehatan dan timbulnya biaya ekonomi karena hilangnya produktivitas. Kekurangan akses ke air minum berkaitan ke penyakit baik yang langsung maupun yang tidak langsung. Banyak penduduk miskin terjangkit penyakit disebabkan oleh kurang layaknya air yang dikonsumsi. Akibatnya, sebagian besar pendapatan habis untuk penanggulangan kesehatan sehingga tidak cukup tersedia dana untuk kegiatan produktif. Selain itu, penduduk yang menderita sakit diare atau yang merawat keluarga yang sakit tidak akan dapat bekerja, yang berarti hilangnya produktivitas. (Surjadi, 2003) Karakteristik pasar air minum di antara komunitas miskin menunjukkan hal-hal sebagai berikut. (i) Kinerja penyedia air minum yang rendah lebih menyengsarakan penduduk miskin dibandingkan yang kaya. Penduduk miskin biasanya tergantung pada gaji harian sehingga waktu yang terbuang untuk memperoleh air akan mengurangi kesempatan memperoleh penghasilan. (ii) Penduduk miskin membayar lebih be-

Sumber: Diolah dari World Bank, 1998 dan Satterwaithe, 1998

a. Meningkatnya biaya bagi yang tidak memperoleh akses. Ketika penduduk tidak memperoleh akses, mereka mencari alternatif lain yang lebih mahal. Masyarakat miskin membeli 5-30 liter air per kapita/hari melalui "perantara" seperti pemilik rumah, kios air, dan penjaja keliling dengan harga yang jauh lebih mahal. Penduduk menghabiskan dana sekitar 10-40 persen dari pendapatan untuk air minum dan mungkin membayar 10-100 kali tarif rata-rata (Black, 1996). Sementara itu, RT pelanggan air perpipaan umumnya hanya mengeluarkan kurang dari 2 persen (Satter-

Tabel 2. PROPORSI PENGELUARAN AIR MINUM RUMAH TANGGA MISKIN PERKOTAAN Lokasi Proporsi Pengeluaran/Pendapatan 18 persen 8,2 persen 9 persen 3,2 - 10,6 persen 16,5 - 55,6 persen Sumber

Onitsha, Nigeria Manila, Filipina Addis Abeba, Ethiopia Port-au-Prince, Haiti Khartoum, Sudan
Sumber: Satterwaithe, 1998

Whittington dkk, 1991 David dan Inocencio, 1998 Bahl dan Lihn, 1992 Fass, 1998 Cairneross dan Kinner, 1992

3 persen dari pendapatan rata-rata penduduk (Water Academy, 2004). b. Berkurangnya konsumsi air. Semakin besar biaya, waktu dan usaha yang dibutuhkan bagi konsumsi air, air yang dikonsumsi penduduk

sar untuk air minum. Meskipun terdapat persepsi bahwa penduduk miskin tidak mampu membayar, kenyataannya mereka membayar lebih besar daripada penduduk kaya, seperti membeli air dari penjaja keliling dengan harga yang

Percik

Oktober 2006

19

WAWASAN

lebih mahal. (iii) Penyedia alternatif merupakan jalan keluar bagi penduduk miskin untuk mendapatkan layanan. Tingginya kebutuhan air yang tidak terlayani oleh penyedia air perpipaan memungkinkan penyedia skala kecil mengembangkan inovasi, seperti kios air, penjaja keliling, jaringan independen, dan lain-lain. (iv) Ketersediaan dana tunai merupakan isu dalam mendapatkan layanan air minum. Penduduk miskin cenderung membayar tidak teratur dan dalam jumlah kecil sesuai dengan ketersediaan dana mereka. (v) Pemilikan lahan merupakan kendala mendapatkan layanan (Kariuki, 2000). Program pembangunan air minum dapat menanggulangi kemiskinan melalui 2 cara, yaitu (i) mengurangi biaya layanan dasar, dan (ii) mengurangi beberapa risiko penyebab menurunnya kondisi kesehatan masyarakat yang dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat (Cain, 1998). Namun, aspek pertama yang terkait langsung dengan kondisi ekonomi yang sering dikemukakan adalah berupa peningkatan pendapatan yang dapat digunakan untuk keperluan selain air minum. Kaitan ini dijelaskan secara nyata melalui ilustrasi berupa peningkatan penda-

Program pembangunan air minum dapat menanggulangi kemiskinan melalui 2 cara, yaitu (i) mengurangi biaya layanan dasar, dan (ii) mengurangi beberapa risiko penyebab menurunnya kondisi kesehatan masyarakat yang dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

patan penduduk miskin setelah penduduk miskin tersebut beralih dari mengonsumsi air yang dibeli dari penjual keliling ke air perpipaan. Ketika pemerintah maupun swasta berkeinginan memberikan layanan air minum pada penduduk miskin, faktor yang menjadi kepedulian penduduk miskin perlu mendapat perhatian. Terdapat tiga hal yang menjadi kepedulian utama dari penduduk miskin. Ketiga hal tersebut akan diuraikan berikut ini.
FOTO: MUJIYANTO

(i) Harga air. Rumah tangga miskin lebih tertarik pada harga air yang rendah dan penerapan skema subsidi silang. (ii) Ekspansi sistem distribusi. Rumah tangga miskin akan lebih memberi perhatian pada besarnya biaya sambungan dan cara pembayaran biaya sambungan (sekali bayar vs dicicil). (iii) Tingkat layanan (kualitas air, lama layanan, sistem penagihan dan lainnya). Rumah tangga miskin cenderung membayar tagihan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang lebih sering. Selain itu, penyedia air minum harus memperhatikan beberapa hal, yaitu (i) desain penyediaan air minum harus tetap mempertahankan sasaran meningkatkan taraf kehidupan penduduk miskin, (ii) menghindari asumsi bahwa melayani penduduk miskin berisiko tinggi dan tingkat pengembalian rendah, (iii) memberikan kebijakan dan pengaturan yang jelas, (iv) mempersiapkan beragam pilihan akses air minum bagi penduduk miskin, dengan catatan bahwa penyedia air minum alternatif mungkin lebih sesuai dengan penduduk miskin, dan (v) memberikan subsidi ke penduduk miskin melalui tarif yang sering tidak berhasil. Penduduk miskin sebagian memperoleh air dari tempat umum bahkan penyedia skala kecil, sementara subsidi silang lebih mengarah pada sambungan rumah. Akibatnya, subsidi terhadap harga menguntungkan penduduk kaya daripada penduduk miskin. Harga air yang murah tanpa didukung oleh akses air minum ke penduduk miskin hanya akan menguntungkan pedagang dan bukan penduduk miskin (McIntosch, 2003), (vi) perlu ditingkatkan keterlibatan penduduk miskin sehingga keinginan mereka dapat tersampaikan (Kariuki, 2000).
*Anggota Pokja AMPL Pusat

20

Percik

Oktober 2006

WAWA S A N

Strategi Menciptakan Sistem Laporan PDAM Berfokus Transparansi dan Akuntabilitas Kinerja

B

ahwa setiap organisasi baik berbentuk perusahaan, pemerintah maupun organisasi swadaya masyarakat (LSM) membutuhkan suatu laporan. Laporan merupakan media informasi bagi internal organisasi maupun stakeholder yang digunakan untuk mengetahui dan memahami semua aktivitas organisasi pada kurun waktu tertentu apakah dilaksanakan sesuai dengan rencana, target. Begitu juga halnya dengan PDAM sebagai badan usaha milik daerah, membutuhkan laporan yang digunakan untuk kepentingan analisa, pengendalian, pengambilan keputusan dan juga sebagai bentuk akuntabilitas. Pendahuluan Merujuk pada PP No 16 Tahun 2005 bahwa PDAM sebagai salah satu penyelenggara pelayanan air minum, dinyatakan pada pasal 6, ayat e bahwa dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab berkewajiban membuat laporan penyelenggaraan secara transparan, akuntabel dan bertanggung jawab sesuai dengan prinsip tata pengusahaan yang baik. Kalau kita pahami makna dari pasal tersebut, terkandung maksud bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan pelayanan air minum, PDAM berkewajiban memedomani prinsip tata pengusahaan yang baik atau sering dikenal dengan istilah Good Corporate Governance (GCG). Kita mengenal enam prinsip GCG, meliputi aspek Transparansi, Akuntabilitas, Keadilan, Integritas, Kemandirian dan Partisipasi. Dua prinsip yang pertama merupakan aspek yang berkaitan erat dan berkontribusi yang signifikan terhadap proses pembuatan laporan manajemen yang baik.

Oleh: Abdul Gani*
Dinamika yang sedang berkembang dalam pelayanan air minum menunjukkan masyarakat pengguna dan stakeholder makin kritis dan cerdas dalam merespon kinerja pelayanan PDAM. Hal ini didorong oleh lahirnya UndangUndang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) dan terbentuknya BPPSPAM (Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum) sesuai dengan KEPMENPU No.294 Tahun 2005. Adanya isu perubahan lingkungan dan merespon dinamika perubahan yang sedang berkembang pada sektor air minum, terutama menghadapi isu transparansi dan akuntabilitas penyampaian informasi pelayanan kepada masyarakat (publik), sudah saatnya manajemen PDAM memperhatikan tersedianya sistem pelaporan yang transparan, efisien, efektif dan akuntabel.

sajikan secara komparatif dengan periode yang lalu dan dengan angka proyeksi/ anggaran. Penjelasan dari informasi tambahan yang dipandang perlu harus disertakan untuk menghindari adanya penafsiran yang menyesatkan. b. Informatif Laporan harus menyajikan informasi yang mudah dipahami oleh pemakai. c. Relevan Laporan harus berisi informasi penting yang dengan tepat dapat memenuhi kebutuhan manajemen. d. Akurat Laporan harus menyajikan informasi yang diandalkan kecermatannya. e. Tepat waktu Laporan harus disiapkan/disajikan tepat pada waktu yang diperlukan atau segera setelah berakhirnya periode pelaporan. Jika dikaitkan peran dan fungsi laporan dengan unsur GCG, idealnya sebuah laporan minimal mengandung unsur Transparansi dan Akuntabilitas. Pengertian transparansi dalam penyelenggaraan PDAM adalah keterbukaan dalam menyampaikan materi informasi yang relevan dalam proses pengambilan keputusan manajemen kepada masyarakat, pemilik dan stakeholder. Laporan yang disampaikan PDAM memenuhi prinsip akuntabilitas, dengan pengertian adanya kejelasan fungsi pelaksanaan dan pertanggungjawaban unsur manajemen atas pengelolaan perusahaan agar dapat terlaksana secara efektif. Kewajiban untuk menyampaikan laporan bagi penyelenggara pelayanan

Laporan yang baik antara lain menyajikan data/ informasi yang memiliki format dan struktur laporan yang sistematis, mudah dipahami dan dianalisa sebagai dasar dalam pengambilan keputusan manajemen.
Peran dan Fungsi Laporan Sesuai dengan pedoman akuntansi PDAM - Menteri Negara Otonomi Daerah tahun 2000, sebuah laporan harus memenuhi kriteria sebagai berikut. a. Lengkap Laporan harus menyajikan informasi yang lengkap mengenai hasil kegiatan periode berjalan yang di-

Percik

Oktober 2006

21

WAWA S A N

air minum (PDAM) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI), yang biasanya tercantum pada Susunan Organisasi dan Tata Laksana. Penyampaian Laporan PDAM berfungsi sebagai pertanggungjawaban manajemen atas pengelolaan dan pencapaian kinerja perusahaan pada kurun waktu tertentu kepada pemilik dan sebagai informasi kinerja pelayanan kepada publik dan stakeholder. Agar laporan yang dibuat dapat dipahami dan berperan sebagai media komunikasi yang efektif, memerlukan tindakan strategis dari setiap jenjang manajemen Strategi Menciptakan Sistem Pelaporan Kondisi eksisting sistem pelaporan PDAM sebenarnya sudah diatur dan memedomani Sistem Akuntansi PDAM berdasarkan KEPMENOTDA Nomor 8 Tahun 2000. Namun demikian, pada dasarnya fungsi laporan tidak hanya digunakan sebagai unsur pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan perusahaan, tetapi digunakan juga sebagai alat manajemen untuk menilai, menganalisa dan mengevaluasi indikator kinerja keberhasilan. Permasalahan umum yang dihadapi oleh PDAM di Indonesia antara lain laporan yang ada tidak sistematis, tidak akurat dan tidak tepat waktu penyampaiannya, sehingga berpengaruh pada kecepatan manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Untuk menilai apakah kondisi eksisting laporan manajemen PDAM sudah efektif, di bawah ini disajikan rangkaian pertanyaan/kuesioner, antara lain ; Apakah sumber laporan dari tiap unit kerja/divisi saat ini sudah memiliki format baku/standar? Apakah laporan bulanan yang diterima direksi tepat waktu? Apakah materi laporan yang disajikan sudah akurat, sistematis dan mudah dianalisa oleh direksi untuk proses pengambilan keputusan ?

Laporan yang disampaikan dari tiap divisi memedomani TUPOKSI, Visi, Misi dan Tujuan Strategis Perusahaan ? Apakah setiap jenjang manajemen secara konsisten membuat laporan sesuai dengan wewenang dan uraian tugas masing-masing? Apakah dari materi laporan yang ada, direksi dapat menilai keberhasilan tiap divisi melalui indikator kinerja yang tersedia? Rangkaian pertanyaan di atas dapat membantu PDAM untuk menilai apakah sistem pelaporan yang ada saat ini memerlukan perbaikan/perubahan. Jika berdasarkan jawaban pertanyaan di atas, ternyata dinilai sistem pelaporan masih memerlukan perbaikan, maka tindakan strategis yang dilakukan antara lain melakukan studi identifikasi sistem pelaporan berbasis kinerja Untuk memudahkan gambaran umum pelaksanaan studi, di bawah ini disajikan Diagram Alir (Road Map) seperti berikut:

Kesimpulan Peran dan fungsi strategis laporan bagi PDAM antara lain untuk menginformasikan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kepada pemilik dan stakeholder secara transparan dan akuntabel Untuk menciptakan laporan yang akurat, sistematis dan tepat waktu dibutuhkan kerangka acuan dasar atau Sistem dan Prosedur (SOP). Sistem laporan yang terstruktur, sistematis, akurat dan mencerminkan akuntabilitas setiap tingkatan organisasi merupakan faktor pendukung dalam membantu manajemen dalam pengambilan keputusan. Proses pelaksanaan studi identifikasi untuk menciptakan standarisasi laporan PDAM mensyaratkan dibentuknya Tim Internal PDAM yang dibantu oleh tenaga ahli (fasilitator).
*) Tim BMS Pusat - PERPAMSI

ROAD MAP STUDI SISTEM LAPORAN PDAM
Management Assist/Fasilitator

Bentuk Tim Kerja

Tentukan Sasaran Strategis (Objective) Review & Analisa Kebutuhan Laporan Identifikasi & Analisis Masalah

Referensi/Dok : Struktur Org. SOP Laporan Divisi Laporan Mgt

S I S T E M SOP & Equipment

ORGANISASI Tupoksi, Visi & Misi Hasil Kajian & Solusi Kerangka Acuan Kerja

S D M Knowledge & Skill

F O R M AT K E R A N G K A A C U A N S I S T E M L A P O R A N Laporan Divisi / Bagian, Direktur Bidang & Laporan Manajemen

22

Percik

Oktober 2006

WAWA S A N

Dari Plato ke Kebijakan AMPL-BM

K

apankah manusia mulai menghadapi isu lingkungan, dan kapankah manusia di planet bumi ini mulai menyadari hadirnya isu yang penanggulangannya harus diselesaikan secara bersama? Dua pertanyaan ini memiliki keterkaitan linear, terutama yang berkenaan dengan tumbuhnya kesadaran global melalui proses belajar yang nyatanya memerlukan rentang waktu sangat panjang. Tulisan ini mencoba merentang benang merah tumbuhnya kesadaran global, action program yang dicanangkan bersama dan melihat posisi Indonesia dalam mewujudkan gagasan masa depan bersama? Kapan isu mulai terdokumentasi? Isu lingkungan dalam skala lokal sudah mulai terdokumentasi sejak jauh sebelum tahun masehi. Plato sudah menuliskan mengenai kerusakan lingkungan yang terjadi di Attica. Dalam tulisannya Plato mengungkapkan bah-

Oleh: Alma Arief dan Dormaringan Saragih*
wa tanah hanya tinggal kerangka yang sudah kehilangan kesuburannya, sudah tidak lagi bisa menyimpan air hujan yang langsung mengalir di atas tanah gundul menuju ke laut (Wall D., 1994). Degradasi lingkungan di Greece, Mesopotamia, Egypt, disebabkan berbagai hal yaitu: penebangan hutan untuk lahan pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan penduduk kota, untuk membangun piramid dan kuil, serta untuk membuat perlengkapan perang. Kepedulian terhadap masalah lingkungan di tingkat lokal, tampaknya juga terjadi di tempat lain, ribuan tahun sesudah era Plato. Polusi di kota London pada akhir abad 17 dan awal abad 18 sudah dituliskan oleh John Evelyn. Menanggapi polusi udara oleh asap industri yang mengandung sulfur, John
FOTO: KURNIA RATNA DEWI

Evelyn mengusulkan untuk membuat aturan yang membatasi para pencemar lingkungan dan menganjurkan penduduk untuk melakukan penghijauan. Engels menggambarkan mengenai kondisi permukiman kumuh yang didiami kelas pekerja di Salford dan kumuhnya permukiman para pekerja, sanitasi yang sangat buruk, kualitas bangunan yang tidak lebih dari kandang sapi dengan atap yang bocor, dan lain-lainnya. Selain degradasi lingkungan, kualitas permukiman dan polusi udara pada masa lalu juga para pendahulu sudah membahas perlindungan binatang. Sommerville, pada akhir abad 17 telah menuliskan mengenai ancaman musnahnya binatang tertentu karena dibantai untuk memenuhi kenikmatan hidup. Sedangkan Salt pada tahun 1880 mengemukakan ide mengenai gerakan membela hak-hak binatang. Bagaimanapun, kesadaran di tingkat lokal tersebut belum mengarah pada kajian yang bersifat sistemik dan holistik sebagaimana kajian masalah lingkungan pada saat ini, tetapi lepas satu dari lainnya. Kajian ilmu ekonomi mulai menampakkan kesalingterkaitan tersebut. Malthus, sebagai contoh, mengemukakan keterkaitan antara pertumbuhan penduduk dan tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Namun begitu, di kalangan ilmuwan ekonomi terjadi perbedaan pandangan yang tajam. Adam Smith dalam :"An inquiry into the Nature and Cause of the Wealth of Nations." mengemukakan bahwa pasar bebas akan mampu mengantar pada terwujudnya kesejahteraan umum dan keuntungan-keuntungan individu. Pa-

Percik

Oktober 2006

23

WAWA S A N

sar akan mengatur dirinya sendiri melalui mekanisme invisible hand, dan memiliki kekuatan untuk menciptakan efisiensi, masa depan yang aman, damai dan setara, atau dengan kata lain terwujudnya kesejahteraan untuk semua. Sementara Alfred Marshal, ilmuwan ekonomi Neoklasik, menyatakan bahwa lingkungan (daya dukungnya) tidak menjadi kepedulian ilmu ekonomi. Terlebih lagi, manusia mempunyai kemampuan menciptakan teknologi untuk menanggulangi kelangkaan sumber daya. Mekanisme pasar dan kemampuan menciptakan teknologi inilah yang akan mengatur kestabilan stok kebutuhan manusia, sehingga tak perlu berbagai pembatasan. Bila sumber daya langka harga akan naik, konsumsi akan menurun sehingga memberi kesempatan pemulihan, sedangkan bila menyangkut sumber daya tak terbaharui, diyakini manusia akan mampu menemukan alternatifnya. Namun asumsi-asumsi itu justru mengantarkan para ilmuwan di belakang hari mempertimbangkan aspek lingkungan dalam melaksanakan pembangunan. Pada masa lalu manusia sudah menerapkan prinsip keberlanjutan. Nelayan, pekebun, dan sebagainya, selalu memanen sesuai dengan tingkat kemampuan untuk pemulihan. Dalam rangka mempertahankan keseimbangan pertumbuhan sumber daya dengan hasil yang dipanen, nelayan selalu memberi kesempatan bagi ikan-ikan untuk tumbuh kembali sehingga sumber daya tidak akan punah, dan suplainya dapat berlangsung terus. Masalah lingkungan telah muncul ke permukaan karena eksploitasi berlebih, untuk konsumsi manusia, untuk kepuasan manusia yang tidak berbatas. Produksi barang dan jasa tidak semata-mata untuk kebutuhan hidup tetapi terlebih dari itu, untuk kenikmatan hidup yang terusmenerus bertambah dan beragam. Manusia kini sudah tidak bisa terpisahkan dari kosmetik, aksesori, furnitur, AC, transportasi mewah, dan sebagainya.

Menjadi Isu Global Sampai dengan awal abad 20, tulisan mengenai masalah lingkungan masih sangat lemah, tidak memiliki kekuatan politik. Sesudah perang dunia kedua, ilmuwan mulai menumbuhkan kesadaran akan bahaya masalah lingkungan yang mengancam keberlanjutan planet bumi dan mengangkat masalah tersebut pada tingkat global. Tidak bisa diingkari peran pemberitaan media sangat besar dalam mempromosikan hal itu. Koran, majalah, jurnal, pada tahun 1960-an mulai mengangkat isu sebagai berita, editorial, dan surat untuk editor. Beberapa ilmuwan mengaitkan tumbuhnya kesadaran dengan publikasi buku berjudul "Silent Spring" karya Rachel Carson pada 1962. Di dalam bukunya, Carson mengungkapkan bahwa eksistensi makhluk hidup termasuk manusia, sangat terancam karena penggunaan senyawa kimia pestisida seperti herbisida, insektisida , dan sebagainya yang oleh Carson disebut "biocide". Bukan suatu kebetulan bahwa diakhir tahun 1960-an berbagai lembaga nonpemerintah di negara maju berdiri dan mengibarkan bendera lingkungan, berhadapan dengan pemerintah yang akan mengeluarkan kebijakan yang antilingkungan. Kepedulian tersebut terus meningkat sejalan dengan masalah lingkungan global yang juga semakin nyata dan berpuncak pada dilaksanakan Konferensi Stockholm pada bulan Juni 1972, yang dihadiri 113 utusan negara termasuk Indonesia. Konferensi yang dilaksanakan oleh United Nations Conference on Human Environment telah menginisiasi kesadaran global mengenai masalah lingkungan. Dalam konferensi ini dihasilkan kesepakatan Stockholm (Stockholm Convention), di mana semua peserta berjanji menanggulangi masalah lingkungan dari perspektif global. Semua bangsa sampai pada pemahaman bahwa dunia saat ini sedang menghadapi masalah lingkungan yang hanya bisa dipecahkan dengan bekerja sama. Salah satu

hasil nyata dari konferensi ini adalah dibentuknya UNEP dan juga kementerian lingkungan hidup di negara-negara peserta. Belakangan hari tema "think globally, act locally" menjadi sangat popular, menginspirasi LSM lokal untuk menjadi sangat vokal dan dalam banyak hal berhadap-hadapan dengan pemerintah. Setelah Konferensi Stockholm berbagai pertemuan internasional dilaksanakan, meskipun satu dengan lainnya banyak yang tak terkait, namun diakui bahwa Konferensi Stockholm telah menumbuhkan kesadaran global dan berpengaruh sangat kuat pada setiap konferensi internasional. Debat Isu Global dan Pembangunan Berkelanjutan Tidak berselang lama setelah dilaksanakannya Konferensi Stockholm (2-6 Juni 1972 dan 5 Juni ditetapkan sebagai hari lingkungan hidup sedunia), dunia diguncang dengan diterbitkannya sebuah buku berjudul "The Limit To Growth". Buku yang ditulis oleh ilmuwan-ilmuwan terkemuka dunia yang menyebut dirinya the Club of Rome, mengemukakan prediksinya bahwa planet bumi ini akan kolaps, dan bencana besar ini akan terjadi karena pertumbuhan penduduk yang tak terkendali, ekspansi industri ke seluruh muka bumi, stok sumber daya alam yang sudah aus, perusakan lingkungan, dan menyusutnya cadangan pangan. Mereka yang tergabung dalam the Club of Rome oleh ilmuwan lain disebut "Neo Malthusian". Konflik kemudian muncul di tingkat global antara keinginan sebagian dari mereka di negara-negara Barat dan para teknokrat penyusun kebijakan pembangunan. Konflik tersebut menjadi isu sentral dalam forum pertemuan internasional. Kebutuhan untuk melaksanakan pembangunan di negara-negara miskin di dunia ketiga bukanlah prioritas apabila akan menjadikan bumi kolaps. Konflik ini tampak sangat jelas di

24

Percik

Oktober 2006

WAWA S A N

FOTO: SEMARANG.GO.ID

"World Population Conference in 1974" dan terus berlanjut menjadi pokok perdebatan pada tahun 1980-an. Pemecahan dari debat berkepanjangan ini adalah lahirnya gagasan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan diformalkan oleh World Commission on Environment and Development atau "Komisi Brundlantland" yang dibentuk oleh majelis umum PBB sebagai hasil resolusi yang dikeluarkan pada tahun 1983. Komisi yang diketuai Perdana Menteri Norwegia tersebut menghasilkan laporan berjudul Our Common Future atau Bruntland Report. Dari sinilah konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan kepada seluruh bangsa di dunia. Beberapa pesan dari pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di antaranya adalah: Mengurangi kemiskinan di dunia ketiga Mengurangi konsumsi sumber daya dan produksi limbah di negara maju Kerja sama global dalam menanggulangi masalah lingkungan Sebuah peristiwa monumental diselenggarakan empat tahun sesudah diterbitkannya buku Our Common Future pada tahun 1987, yaitu konferensi pun-

cak bumi yang dilaksanakan di Rio De Jainero pada bulan Juni 1992. Konferensi ini dihadiri 197 negara dan ribuan pejabat senior pemerintah, pejabat PBB, organisasi-organisasi internasional, dan NGO. Konferensi ini menghasilkan dokumen yang disebut Agenda 21 yang berisi rencana tindak mengenai pembangunan berkelanjutan. Gagasan sederhana dari pembangunan berkelanjutan adalah mengintegrasikan tujuan kegiatan ekonomi dengan lingkungan dalam rangka mengurangi kemiskinan dan pada saat yang sama memperbaiki kualitas lingkungan. Meskipun dukungan politik sangat kuat akan tetapi gagasan pembangunan berkelanjutan masih tetap mengandung kontroversi. Sementara ilmuwan lingkungan, gagasan pembangunan berkelanjutan dituduh sebagai upaya meredam isu dan tumbuhnya kesadaran lingkungan yang sudah mulai mengglobal. Beberapa ahli ekologi ada di pihak ini. Semakin kuatnya gerakan lingkungan dengan berbagai nama seperti: "Environmental movements", "conservationist Movements" atau "Green Movements" dicoba untuk diakomodasi oleh para teknokrat yang paling bertanggung jawab terhadap program/kebijakan pembangunan. Para ilmuwan itu me-

ngatakan bahwa gagasan pembangunan berkelanjutan hanyalah upaya mempertahankan kedudukan manusia untuk tetap mendominasi alam (Anthropocentric), dan memantapkan kedudukannya sebagai master atau manager bukan sebagai bagian integral dari alam raya ini. Dengan memegang filosofi seperti itu, manusia bisa mengeksploitasi alam dengan tanpa rasa bersalah. Tujuan akhirnya adalah mendapatkan keuntungan ekonomi yang sebesarnya dan peningkatan taraf hidup manusia, padahal dalam jangka panjang apabila eksploitasi terus dilakukan dan meningkat, bencana alam sudah pasti akan terjadi. Sebagai misal, perhitungan akan datangnya pemanasan global dan perubahan cuaca merupakan perkiraan dengan ketepatan yang tinggi, lebih mudah dari meramalkan akan datangnya hujan. Eksploitasi hutan secara sembrono, tanpa pemulihan, tanpa konservasi, akan mengakibatkan banjir dan longsor di mana-mana sementara pada musim kemarau akan terjadi kekeringan panjang. Dalam jangka panjang akan terjadi proses penggurunan. Pada kubu yang lain berdiri para ahli ekonomi yang berpandangan bahwa tidak ada alasan untuk secara khusus memperhitungkan aspek lingkungan dalam kegiatan ekonomi. Mereka beralasan bahwa posisi spesies manusia sebagai master itu merupakan kenyataan yang tak terbantah. Penganut mahzab pasar bebas tetap pada keyakinannya bahwa pasar bebas dengan mekanisme invisible hand-nya akan mampu dengan sendirinya menanggulangi kelangkaan atau punahnya sumber daya. Seiring dengan langkanya sumber daya, harga akan meningkat dan permintaan akan dengan sendirinya menurun, manusia akan berhemat dengan sendirinya. Dengan naiknya harga, maka manusia akan berupaya mencari alternatif sumber daya pengganti. Tidak terlalu sulit untuk melihat

Percik

Oktober 2006

25

WAWA S A N
FOTO: ISTIMEWA

bahwa pada akhirnya akan terjadi proses keseimbangan antara penganut konservasionis yang ekstreem di satu sisi dan penganut ekonomi pasar bebas pada pihak lainnya. Terinspirasi dari dua kubu ekstrim, belakangan muncul disiplin ilmu baru yaitu ilmu ekonomi lingkungan, yang mencoba memasukkan biaya eksternal yang dibebankan kepada lingkungan menjadi biaya internal. Perbedaan pendapat masih terus berlanjut, terutama ketika mereka berdiskusi mengenai konsep keberlanjutan yang menyangkut capital stock. Bagi para ahli ekonomi keberlanjutan berarti mempertahankan stok modal, paling tidak jumlahnya tetap atau bahkan meningkat. Di sini kapital diartikan sebagai human-made capital. Sedangkan bagi ahli ekologi yang disebut kapital itu, sumber daya alam. Bagi ahli ekologi keberlanjutan itu berarti sumber daya alam jumlahnya tetap, tidak berkurang, sedangkan bagi penganut ekonomi pasar bebas baik sumber daya terbaharui maupun tak terbaharui boleh digunakan untuk memenuhi dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Bagi beberapa penganut konservasionis ekstreme mewujudkan kesejahteraan dengan cara mengorbankan sumber daya alam tak dapat disebut sebagai kemajuan. Pendapatan yang didapat dari pembangunan ekonomi namun mengakibatkan kerusakan lingkungan tak bisa disebut pendapatan. Pembangunan ekonomi yang berakibat pada timbulnya degradasi lingkungan atau mengonsumsi modal sumber daya alam tanpa pemulihan tak bisa disebut pembangunan ekonomi berkelanjutan. Sebagaimana dimaklumi, sumber daya alam yang terbaharui pun juga mengalami keausan. Dalam rangka mencegah kerusakan, manusia mengembangkan jenis kapital baru yang disebut "cultivated natural capital", yaitu campuran antara man-made capital dan natural capital. Jenis kapital ini sangat strategis untuk meningkatkan

kesejahteraan manusia. Beberapa contoh adalah: penanaman tanaman hutan (penghutanan), budidaya perikanan, budidaya binatang ternak, dan rekayasa genetika, yang secara dramatis bisa meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini bisa mengurangi tekanan kerusakan terhadap lingkungan. Debat panas tersebut mengungkapkan bahwa pembangunan ekonomi harus sejalan dengan pembangunan yang keberlanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan jangka panjang yang berlangsung terus menerus yang dilaksanakan dengan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pelaksanaannya juga tidak diperkenankan menimbulkan kerusakan pada stok sumberdaya alam sehingga generasi mendatang bisa memenuhi kebutuhannya. Pembangunan akan memerlukan stok kapital dan juga kapital sumber daya alam atau lingkungan. Kapital buatan seperti bangunan, jalan, mesin dan lainnya, dan social capital seperti institusi, organisasi, budaya, dan sebagainya. Debat antara dua kubu ekstrim tetap belum berhenti juga. Kaum konsevasionis ekstrim menekankan bahwa per-

tumbuhan ekonomi harus dihentikan, dan tak ada lagi usaha untuk mengubah kondisi kegiatan ekonomi subsisten. Kapital buatan manusia tak akan bisa menggantikan kapital alam yang sangat esensial bagi sistem keberlangsungan kehidupan. Action Program di Bidang Permukiman Think Globally Act Locally merupakan motto yang lahir kemudian yang menautkan antara isu global di bidang lingkungan dan upaya konkrit di tingkat lokal untuk menanggulanginya. Rencana untuk melakukan tindakan konkrit di tingkat lokal tersebut telah menjadi komitmen semua bangsa di dunia dan mulai mencuat pada konferensi puncak bumi yang salah satunya menghasilkan dokumen rencana tindak yang disebut "Agenda 21". Di dalam Agenda 21 disebutkan mengenai: upaya mengurangi kemiskinan, mengubah pola konsumsi, melindungi dan mempromosikan kesehatan manusia, melawan deforestrasi, melawan proses penggurunan dan kekeringan, pembangunan pertanian dan perdesaan yang berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan dan pengelolaan air tawar, pengelolaan limbah beracun berbahaya,

26

Percik

Oktober 2006

WAWA S A N

pengelolaan sampah padat, pembangunan permukiman manusia yang berkelanjutan. Khusus yang berkenaan dengan pembangunan permukiman, disebutkan di dalam Agenda 21 sebagai berikut: 1. Memfasilitasi air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah 2. Perbaikan permukiman kumuh perkotaan dan permukiman informal 3. Mempromosikan transpor publik dan menyediakan pedestrian dan jalan bagi sepeda 4. Mendukung pengembangan ekonomi sektor informal dalam rangka mengurangi kemiskinan 5. Meningkatkan kondisi kehidupan di pedesaan dalam rangka mengurangi migrasi ke kota 6. dll Pembangunan berkelanjutan secara nyata mencakup semua aspek kehidupan manusia termasuk permukimannya. Bagi negara berkembang, pembangunan permukiman yang berkelanjutan berarti suatu upaya untuk meningkatkan kualitas hidup kelompok masyarakat miskin, yang sebagian besar masih tinggal di permukiman yang tidak layak.

Di Caracas, Venezuela, 1/3 penduduk kotanya masih hidup di permukiman kumuh "Ranchos", di Ankara ½ dari penduduknya tinggal di permukiman kumuh "Gecekondu", di Lusaka dan di Manila 1/3 penduduknya tinggal di permukiman kumuh. Di Indonesia, permasalahannya lebih rumit. Selain tingginya persentase penduduk perkotaan yang tinggal di permukiman kumuh, masalah yang sangat serius adalah lebih dari 100 juta penduduk, utamanya penduduk miskin di perdesaan, masih belum memiliki akses terhadap air bersih dan penyehatan lingkungan. Keberpihakan kepada masyarakat miskin, termasuk dalam melaksanakan pembangunan AMPL, telah secara nyata menjadi kepedulian pemerintah, dan hal ini paralel dengan kesepakatan internasional baik yang tertuang dalam dokumen Agenda 21 maupun MDGs. Di dalam millennium development goals ada 8 butir isu yang menjadi kepedulian semua bangsa dalam melaksanakan pembangunan, yang salah satunya adalah penurunan tingkat kemiskinan. Isu kemiskinan yang sesungguhnya sudah mulai menjadi perhatian sejak konferensi Stockholm, di mana negara
FOTO: SEMARANG.GO.ID

berkembang dengan di pelopori Indonesia (waktu itu Emil Salim) mengemukakan bahwa masalah lingkungan di negara berkembang berakar pada kemiskinan, karena itu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan merupakan prioritas utama pembangunan. Lebih tepat apabila dikatakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan pemerintah sejalan dengan agenda pembangunan bangsa-bangsa yang dimotori PBB, sebab sudah sejak awalnya memang berorientasi untuk memecahkan masalah kemiskinan dan peduli terhadap kelestarian lingkungan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apabila pembangunan ekonomi, tak dapat di ingkari, telah mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat yang bisa diketahui dari "human development index" dari waktu ke waktu, bagaimana halnya dengan pemerataan hasil pembangunan, pembangunan infrastruktur untuk kelompok masyarakat miskin, pengembangan dan jaminan pendidikan untuk kelompok masyarakat miskin, stabilitas stok sumberdaya alam, dan sebagainya? Dari itu semua, yang perlu dicermati adalah bidang lingkungan, dalam satu dekade belakangan ini tampaknya justru mengalami kemunduran dibandingkan beberapa dekade lalu. Justru karena itu dalam peringatan hari lingkungan hidup tahun 2006, ada keinginan yang sangat kuat untuk memainstreamkan kembali isu lingkungan. Kemauan untuk merevitalisasi AMDAL menjadi salah satu fokus peringatan, selain pendidikan lingkungan. Bangkit kembalinya kepedulian terhadap lingkungan hidup tentunya terpicu oleh amburadulnya urusan lingkungan (kita ambil saja femomena banjir bandang dan longsor di musim hujan dan kekeringan panjang di musim kemarau yang terjadi akhir-akhir ini di seluruh penjuru negeri, dan juga ketegangan masyarakat di sekitar lokasi industri dipicu pengelolaan limbah yang tidak memadai). Hal itu bisa jadi karena lemahnya penegakan hukum, dan bisa pula karena

Percik

Oktober 2006

27

WAWA S A N

melemahnya kepedulian kalangan media massa karena semuanya sedang terfokus pada euforia politik, sehingga aspek lain yang tidak terkait, namun tidak kurang penting, justru terabaikan. Media massa sekarang ini jarang yang secara kontinyu memuat artikel mengenai lingkungan atau menjadikannya sebagai head line, editorial, surat pembaca dan sebagainya. Bila ada, itu sifatnya hanya merespon peristiwa bencana lingkungan yang sedang terjadi, bukan sebagai kepedulian yang terus menerus dan memberikan porsi kolom secara khusus. Amburadulnya lingkungan hidup, karena penebangan hutan secara liar, pembalakan (illegal logging), homogenisasi hutan (hutan heterogen diganti tanaman industri), yang telah mengakibatkan kerusakan ekosistem wilayah tangkapan air, dalam jangka panjang juga akan berpengaruh pada stok air, baik air permukaan maupun air tanah, yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Masalahnya menjadi lebih rumit, sebab sumber daya air baik permukaan maupun tanah dangkal-utamanya setelah sampai diperkotaan-telah tercemar limbah industri dan rumah tangga sehingga penggunaan untuk kebutuhan hidup memerlukan biaya tinggi karena harus melalui pengolahan. Sedangkan air permukaan yang tercemar, utamanya sungai, setelah sampai ke laut ikut ikutan mencemari air laut, sehingga biota yang ada di permukaan, di dalam, dan di dasar laut -- Phyto plankton, zoo plankton dan bentos -- yang merupakan salah satu komponen utama penyusun food chain, menjadi pembawa cemaran yang ikut dikonsumsi predator di atasnya. Konsekuensinya, ikan-ikan yang dikonsumsi manusia mengandung cemaran. Apabila ikan-ikan yang telah mengandung polutan dikonsumsi manusia maka akan menjadi sebab kejangkitan berbagai penyakit, tergantung jenis cemarannya. Bila jenis cemarannya mengandung merkuri dalam kadar tertentu maka akan kejangkitan penyakit minamata yang sangat mengerikan

Amburadulnya lingkungan hidup, karena penebangan hutan secara liar, pembalakan (illegal logging), homogenisasi hutan, yang telah mengakibatkan kerusakan ekosistem wilayah tangkapan air, dalam jangka panjang juga akan berpengaruh pada stok air, baik air permukaan maupun air tanah, yang merupakan kebutuhan pokok manusia.
karena menyerang susunan syaraf pusat. Sedangkan bila jenis cemarannya logam berat Cadmium (Cd) maka penyakit yang ditimbulkannya adalah penyakit Itai-itai, jenis penyakit yang menyebabkan tulang sangat rapuh. Tak Mudah Urus Air Plato pernah berbicara mengenai air dan mengaitkan dengan penggundulan hutan di Attica. Di Indonesia, kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan air sesuai yang diamanatkan dalam berbagai peraturan pemerintah, Agenda 21, dan MDGs, kian menguat. Bagaimanapun, air tidak bisa dipandang secara lepas tanpa melihat keterkaitannya de-

ngan keutuhan ekosistem secara keseluruhan. Upaya memenuhi kebutuhan 100 juta penduduk yang kini belum memiliki akses terhadapnya memang merupakan suatu pekerjaan yang bukan main rumit dan berat. Akan tetapi upaya tersebut akan menjadi jauh lebih berat, dan bahkan bisa menjadi sia-sia apabila tidak mengaitkan dengan keutuhan ekosistem yang mempengaruhi keberlanjutan stok air. Bukan hanya menyangkut konservasi daerah tangkapan air, penghutanan kembali daerah-daerah yang sudah telanjur gundul, tetapi juga penanggulangan pencemaran air permukaan dan air tanah yang tercemar oleh limbah rumah tangga dan limbah industri Semuanya bisa terlaksana dan tertanggulangi apabila pendekatan dilakukan secara sistemik, holistik dan integratif. Pelibatan semua pihak yang terkait dan peduli, merupakan keharusan. Kalangan media massa sebagai media kampanye dan kekuatan penekan, kalangan pendidik dan iulmuwan, penegak hukum, LSM, politisi, dan sebagainya. Dan, yang tidak kurang penting adalah penggalian sumber dana untuk melakukan semua kegiatan holistik tersebut dan pengembangan jaringan kerja sama global.
*Konsultan WASPOLA
FOTO: MUJIYANTO

28

Percik

Oktober 2006

WAWA S A N

Kegagalan HIPAM
di Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto
i awal era Orde Baru, sekitar tahun 1975, Desa Bleberan memperoleh proyek air bersih. Proyek tersebut masuk berdasarkan penunjukan langsung dari pemerintah propinsi (Dinas PU). Sebelumnya masyarakat memperoleh air dari sumur dan sungai. Air diambil dari mata air yang berada di Dusun Cakar Ayam salah satu dusun dari delapan dusun yang ada di Bleberan selain Losari, Bangon, Tegalsari, Legundi, Bleber, Sempu dan Kanigoro. Sumber air tersebut berupa mata air yang cukup potensial, karena kualitas airnya cukup bersih dan debit airnya besar, yaitu 40 liter/detik. Sumber mata air ini ditutup dengan beton agar terjaga kebersihannya. Dulunya mata air ini digunakan untuk mengaliri sawah seluas 4,5 hektar-3,4 hektar di antaranya tanah bengkok. Pada awalnya semua tahap pembangunan/pemasangan pipa berasal dari pemerintah sedangkan warga tidak ikut dalam pemasangan pipa. Jaringan perpipaan yang dipasang pada tahun 1975 berupa pipa besi untuk pipa induknya (d = 6 dim), sementara untuk pipa yang mengalir ke rumah-rumah menggunakan pipa PVC. Selain itu ada pembangunan pemandian umum sebanyak tiga buah, letaknya di Dusun Bangon yang diperuntukkan bagi warga yang tidak mampu membiayai penyambungan pipa ke rumahnya. Cakupan Layanan Dusun yang terlayani oleh proyek ini

D

Oleh: Agnes Tuti Rumiati, MSc Dr.Ir. Eddy Soedjono, MSc *
adalah Cakar Ayam, Bangon, Losari, dan Sumber Agung (termasuk desa lain). Sedangkan Dusun Legundi, Kanigoro, dan Tegalsari tidak mendapatkan pasokan air karena letaknya di atas mata air, padahal air itu dialirkan secara gravitasi. Pengaliran air berawal dari Dusun Cakar Ayam, turun ke Bangon, kemudian ke Losari dan ke Sumber Agung. Dusun Cakar Ayam bisa terlayani 90 persen, sedangkan di Dusun Bangon warga yang dapat dilayani hanya pada satu sisi jalan karena di sisi jalan yang lainnya

layanan air bersih makin lama makin berkurang. Ini akibat terjadinya banjir yang mengakibatkan pipa yang menuju ke Dusun Sumber Agung putus. Akhirnya jumlah warga yang mendapatkan fasilitas air bersih dari HIPAM (Himpunan Pemakai Air Minum) tinggal 13 persen atau 144 KK (44 KK di Losari, 40 KK di Bangon, dan 40 KK di Cakar Ayam). Itu pun dengan kondisi aliran yang tidak lancar.

Pengelolaan HIPAM Pengelolaan air bersih di desa ini dilaksanakan oleh pengurus yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, bagian teknis dan bagian penarikan. Pembentukan pengurus dilakukan FOTO: AGUS TR secara musyawarah yang pesertanya meliputi kepala dusun, RT, aparat kelurahan, dan tokoh masyarakat. Kepengurusan terakhir periode 2000-sekarang diketuai oleh sekretaris desa. Karena ada konflik dengan kepala desa, kepengurusan ini tak berfungsi. Konflik itu pula yang menyebabkan pengelolaan keuangan yang sebelumnya ada di tangan bendahara (20002003), berpindah ke tangan keSarana air bersih tak terawat pala desa. Pada periode 20002003, jumlah uang yang disetorkan dari warga banyak yang memakai sumur. tiga dusun Rp. 90.000/bulan. Saat ini Untuk Dusun Losari, warga yang terlajumlahnya meningkat. Dari Cakar Ayam yani hanya yang berada di dekat pipa indan Bangon saja bisa menyetorkan uang duk saja. Dusun Sumber Agung tidak sebesar Rp. 110 .000 per bulan. Uang dapat terlayani secara penuh tetapi haitu digunakan untuk membayar petugas nya pada awal proyek saja karena keterpenagihan sebesar Rp. 30.000, yang batasan debit air. Layanan ini berlangawalnya hanya Rp. 5.000. sung di awal proyek. Pada awalnya konsumen HIPAM tiDengan berjalannya waktu, pe-

Percik

Oktober 2006

29

WAWA S A N

dak dikenakan iuran tiap bulan, namun karena terjadi kerusakan pemandian umum dan beberapa pipa maka sekitar tahun 1980-an dilakukan penarikan iuran setiap bulannya. Pada tahun 1997 mulai dipasang meter air dan ditetapkan harga air adalah sebesar Rp.50/m3. Mulai tahun 2003 Dusun Cakar Ayam juga diwajibkan membayar iuran tiap bulannya. Besarnya iuran yang dibayar bervariasi jumlahnya, Rp. 1.000-Rp. 3.000 tergantung jumlah keluarga, penggunaan pompa air, serta besarnya debit pemakaian tiap-tiap konsumen. Uang iuran juga digunakan untuk pemeliharaan pipa yang dilakukan oleh bagian teknis. Petugas ini mengontrol pipa setiap tiga hari untuk mengetahui adanya kebocoran atau tersumbatnya pipa serta mengatur debit air. Keterbatasan dana membuat pemeliharaan pipa tidak maksimal dan seadanya (misalnya penyambungan pipa bocor dengan ban bekas). Kondisi pipa sudah kurang memenuhi syarat. Banyak pipa yang bocor dan putus. Pipa di hulu sering tersumbat. Padahal tidak ada air valve sehingga untuk mengeluarkan udara dan mengurangi tekanan, pipa dilubangi atau digergaji di tempattempat tertentu. Pengembangan program pertama kali dilakukan pada tahun 1990 dengan memasang meter air di setiap rumah konsumen HIPAM. Program ini diulang lagi tahun 1997. Ini dimaksudkan agar pemakaian air terkontrol. Sayangnya banyak warga yang tak mau dan tak mampu memasang meter air. Akibatnya iuran pun tak jalan. Mereka ini memilih menggali sumur. Meter air hanya berjalan 1-3 tahun. Gagal Mengapa warga enggan berpartisipasi dalam HIPAM ini? Menurut penuturan warga, daerah pelayanannya tidak merata ke seluruh warga, semakin hari debit yang keluar semakin kecil, bahkan kadang mati, banyak pipa yang rusak

dan tidak diperbaiki dan kepengurusan yang tidak terorganisasi dengan baik termasuk dalam transparansi pengelolaan dana. Kenyataan itu bisa terjadi karena organisasi HIPAM itu sendiri tidak dipersiapkan dengan baik sejak awal dan tidak ada aturan main yang jelas terhadap pengelolaannya. Kepengurusan tidak memiliki kemampuan teknis dan manajemen yang dibutuhkan. Ini bisa dirasakan setelah organisasi itu berjalan cukup lama. Bahkan pengelola ini pun tidak mampu menghitung debit air dan merencanakan pola distribusinya secara tepat termasuk bagaimana pemeliharaan sarana dan prasarananya. Faktor lain yang menyebabkan kegagalan yakni manajemen keuangan. Jumlah iuran dan biaya pasang baru tidak sesuai dengan besarnya biaya operasional termasuk honorarium petugas. Hal ini menyebabkan petugas kurang profesional pada saat menangani persoalan teknis. Terkadang petugas harus merogoh kocek sendiri untuk perbaikan pipa bocor. Sedangkan biaya perawatan tidak ada. Kondisi ini semakin amburadul ketika manajemen keuangan diambil alih oleh kepala desa. Penyebab lain yang tak bisa diabaikan yakni pengurangan debit air yang kemungkinan disebabkan oleh penggundulan hutan. Dari tahun ke tahun debit air yang mengalir semakin mengecil. Ini ditengarai akibat penebangan liar di sekitar sumber air. Di samping itu, ada warga yang menggunakan pompa air untuk menyedot air langsung dari pipa dan ada kebocoran di pipa akibat ulah warga. Rekomendasi Kondisi sistem penyediaan air di Bleberan masih mungkin dipertahankan. Hanya saja perlu ada perbaikan manajemen. Debit air 40 liter/detik yang ada saat ini diperkirakan mampu melayani 10 ribu KK atau 40.000 jiwa. Ini jauh lebih besar dari jumlah KK di

Bleberan yang hanya 980 KK atau 3.460 jiwa. Beberapa pembenahan yang harus dilakukan diantaranya: 1. Evaluasi sistem perpipaan yang ada. Selanjutnya perlu dikaji kemungkinan pengembangan agar dapat memperluas cakupan layanan. 2. Penetapan aturan main pemakaian air seperti misalnya semua pelanggan harus memasang meter air, tidak boleh memotong saluran dan menyedot air langsung dari pipa menggunakan pompa listrik. Aturan main juga meliputi hak dan kewajiban pengguna air (termasuk iuran bulanan untuk biaya penggunaan air) 3. Peningkatan kualitas SDM pengelola, seperti misalnya peningkatan kemampuan teknis pemeliharaan, penyambungan pipa, distribusi air dan sebagainya. 4. Penyempurnaan manajemen keuangan. Jumlah iuran untuk pasang baru dan bulanan perlu ditinjau kembali, apakah sudah sesuai dengan biaya operasional yang dibutuhkan. Secara sederhana dapat dihitung cost and benefit-nya sehingga tidak sampai rugi dan bahkan dapat digunakan untuk pengembangan. Pengelolaan keuangan di dalam manajemen HIPAM sendiri perlu dilakukan pembenahan. Alokasi dana untuk gaji pengelola, perawatan infrastruktur dan alokasi untuk pengembangan perlu dipikirkan dengan cermat. 5. Perlu sosialisasi kepada warga tentang pengelolaan air karena kesadaran warga adalah kunci utama agar pengelolaan air dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Toleransi antarwarga sangat penting karena air sangat dibutuhkan semua warga.
*) Dosen Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) tergabung dalam Unit Pengkajian Pengembangan Potensi Daerah (UP3D-LPPM-ITS)

30

Percik

Oktober 2006

KISAH

PEMULUNG ANAK
dari Bantar Gebang

M

atahari baru keluar dari peraduannya. Otong, murid kelas 2 madrasah ini sudah siap dengan peralatannya. Sebuah keranjang bambu yang di sampingnya diikatkan tali siap menemaninya. Hamparan sampah di Bantar Gebang telah menanti. Ia sempat bercanda dulu dengan adiknya, Oman yang berumur enam tahun. Sekitar pukul 07.00, ia berangkat. Ia tidak sendiri tapi dengan kakaknya Embi (14 tahun) dan juga Oman. Otong dan Embi ditugaskan oleh orang tuanya untuk mengasuh Oman. Jadilah mereka bertiga bekerja sambil bermain. Sebelumnya Otong bukanlah pengais sampah Bantar Gebang. Hanya kondisilah yang memaksanya menjadi pemulung. Suatu ketika ibunya harus melahirkan adiknya dengan operasi cesar. Itu butuh biaya besar yaitu Rp. 7 juta. Keluarga dengan enam anak ini tak memiliki uang sebanyak itu. Satu-satunya jalan adalah menjual hartanya yakni sebuah sepeda motor. Kendaraan roda dua ini laku dijual sebesar Rp. 8 juta. Biaya operasi pun tertutupi. Uang sisa Rp. 1 juta kemudian dijadikan uang muka untuk mengambil kredit motor baru. Yang jadi persoalan kemudian, mereka harus mencicil uang kredit bulanan sebesar Rp. 460 ribu. Maka jadilah seluruh keluarga harus membanting tulang untuk mengejar uang setoran itu. Kakak Otong tertua bekerja di toko material di Bekasi. Tapi gajinya paspasan. Kakak perempuan lainnya membantu ibunya berjualan sayur-sayuran di pasar. Hasil mereka tak bisa memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga. Imbasnya, Otong pun harus rela menjadi pemulung, pekerjaan yang tidak per-

lu keahlian dan kebetulan rumah dekat dengan Bantar Gebang. Di TPA Bantar Gebang, Otong mengais sampah plastik dan lainnya yang laku dijual. Ia pun berpacu dengan para pemulung lain yang kebanyakan remaja dan dewasa. Setelah keranjang penuh, Otong membawa sampah tersebut ke pinggir TPA. Di sana 'bahan' uang itu dionggokkan. Ia pun kembali mengais sampah lagi hingga waktunya tiba. Sampah plastik itu nantinya dimasukkan ke dalam karung dan kemudian dibawa pulang. Kalau hari sekolah, Otong pulang pukul 12.00. Sesampai di rumah, ia segera mandi dan makan siang. Setelah itu ia menuju ke sekolahnya di Blok Kaum, Kelurahan Sumur Batu. Di sekolah semiformal inilah Otong belajar layaknya anak-anak seusianya. Hanya saja sekolah ini tidak mengeluarkan ijazah atau sertifikat sehingga lulusannya tidak bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Bila hari libur, Otong bersama adik dan kakaknya berangkat ke TPA pukul 07.00 WIB pagi dan pulang pukul 15.00 WIB atau 16.00 WIB. Mereka tak perlu pulang tengah hari karena biasanya ibu mereka mengirimkan makan siang ke TPA. Namun seringkali anak-anak ini tidak makan siang sebab tidak dikirimi nasi. Mereka hanya bisa minum yang mereka bawa dari rumah. Otong menceritakan, pernah suatu saat ia bersama kakak dan adiknya menunggu kiriman nasi ibunya. Tapi nasi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Padahal perut sudah keroncongan dan tak dapat ditahan. Akhirnya Otong memutuskan pulang ke rumah, sekitar pukul 14.00 WIB. Sampai di rumah Otong bertanya pada ibunya, ''Kenapa tidak dikirim nasi.'' Ibunya dengan enteng menjawab, ''Kenapa kamu pulang sebelum pukul tiga sore.'' Otong hanya bisa terheran-heran. Kerasnya kehidupan di Bantar Gebang memberi pelajaran bagi anak-anak
FOTO: BAGONG S

Otong sedang mengais sampah di Bantar Gebang

Percik

Oktober 2006

31

KISAH

ini untuk mencari akal agar bisa tetap makan. Mereka biasanya selain mencari plastik juga mencari benda-benda yang bisa langsung ditukar dengan uang secara gampang. Barang yang mudah ditukar itu antara lain sendok dan kran yang terbuat dari kuningan. ''Satu sendok dapat ditukar dengan es di Pak Bule,'' kata Otong menyebut penjual es di pinggir TPA. Tiga buah sendok bisa dijual Rp 2.000, kran kuningan Rp 500/buah. Suatu hari Otong sangat senang karena mendapat uang Rp 10.000 yang tercecer di antara tumpukan sampah. Saat itu ia sedang mengorek sampah. Tampak uang kertas Rp 10.000 menyembul dari barang-barang kotor itu. Hatinya sangat girang. Setiap minggu Otong memperoleh 25-30 kg sampah campuran. Harga sampah gabrugan-istilah sampah campuran-rata-rata Rp 500-700/kg. Setidaknya Otong mengantongi uang Rp 17.500-Rp. 21.000 per minggu. Tapi sampah ini tidak dijual mingguan tapi setiap bulan sekali. Sampah tersebut dijual ke Bos Harun. Uang hasil penjualan langsung dipegang ibunya. Masingmasing dari mereka bertiga dijatah Rp 10.000 untuk jajan dan biaya pendidikan di madrasah. Tahun ajaran baru 2006 lalu, Otong yang sudah berumur 12 tahun masuk ke SDN Sumur Batu II. Karena usianya yang dianggap terlalu tua, ia sering diolok-olok teman-temannya. Namun ia tak berkecil hati, yang penting dapat bersekolah. Nasib Otong bisa bersekolah lebih baik dibandingkan Jumbo yang kini berumur 13 tahun. Sudah beberapa tahun ini ia drop out dari pendidikan dasar. Ibunya seorang janda miskin yang setiap hari berjualan nasi di pinggir TPA. Belum lama ini warung yang bermodal hanya dua ratus ribu rupiah itu bangkrut karena modalnya digunakan ibunya untuk berobat ke rumah sakit. Setelah itu ibunya terjerat rentenirbank keliling-untuk melanjutkan usaha-

nya. Pinjam Rp. 200 ribu, ia harus mengembalikan Rp. 12.000 tiap hari selama sebulan. Kondisi ini mendorong Jumbo menceburkan dirinya mengorek sampah di TPA. Ia menjalankan pekerja ini layaknya orang tua. Setiap hari, berangkat pagi, pulang tengah hari dan berangkat lagi ke bulok-sebutan untuk TPA -- pulang sore hari dengan menjinjing keranjang sampah. Setelah sampah menumpuk 2-3 kwintal disortir, dipilah-pilah kemudian dimasukan ke dalam karungkarung yang telah disediakan. Biasanya sampah dipilah menjadi plastik mainan, LD, ember, beling, kaleng, atau logam. Kadang-kadang jika malas, Jumbo membiarkan sampah itu campur aduk apa adanya. Setiap minggu Jumbo

menimbang atau menjual barangnya pada bos/lapak terdekat. Ia rata-rata mendapatkan uang Rp 50.000-Rp 60.000 per minggu. Sebagian besar uang ini diserahkan kepada ibunya. Banyak anak sebaya Otong, Embi, Jumbo bekerja membantu mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ratusan pemulung cilik mengais sampah di TPA Bantar Gebang dan Sumur Batu. Hingga kini belum ada studi mendalam, data yang valid, berapa jumlah pemulung anak di sini dan apa alasannya? Peluang pemulung anak untuk berkembang menjadi terganggu, karena hidupnya berada dalam tekanan keluarga yang miskin. Mereka harus bekerja sedemikian rupa. Uangnya untuk keluarga. MJ/BS

Kiprah Relawan Peduli Pendidikan

T

idak banyak lembaga yang peduli pada kondisi anak-anak yang terpinggirkan ini. Satu yang terjun di tengah bau tak sedap ini adalah Tim Relawan TPA Bantar Gebang dengan pendidikan Tunas Muslim-nya. Tim ini menampung anak-anak yang tidak tersentuh pendidikan formal umum maupun agama. Lebih dari 60 anak ditampung di pendidikan Tunas Muslim III, belum termasuk Tunas Muslim I yang berada di Ciketing Udik dan II di Blok Abah Bewok Kelurahan Sumur Batu. Relawan ini kebanyakan orangorang setempat. Lihatlah Andi Alim (37 th) dan Rudi Samanhudi (35 th) pengasuh TM III yang penduduk asli Sumur Batu. Dengan

keterbatasan yang ada mereka menjalankan visi dan misinya. Makanya saat ini pendidikan TM membutuhkan berbagai dukungan mulai dari pendanaan hingga bukubuku pengajian seperti Tajwid, Fiqih, Juz Amah, Kamus Bahasa Arab, dan bacaan-bacaan Islami lainnya. "Bila dibiarkan nasib anak-anak itu akan sangat menyedihkan. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap pendidik anakanak pemulung dan yang miskin itu?" ujar Andi. Mereka berharap dapat mengangkat harkat dan martabat anak-anak tersebut, termasuk kalau bisa keluarganya.
MJ/BS

FOTO: BAGONG S

32

Percik

Oktober 2006

R E P O R TA S E

Pengomposan Komunal
Alternatif Penanganan Sampah Perumahan
ertambahan penduduk di perkotaan memunculkan permasalahan baru. Lahan yang tersedia tidak memiliki daya dukung yang memadai bagi peningkatan jumlah penduduk. Di sisi lain setiap kepala keluarga memproduksi sampah. Barang ini tentu harus dibuang di tempat yang layak, yang tidak mengganggu kesehatan, keindahan, dan kenyamanan. Maka, mau tidak mau masalah ini perlu penanganan yang segera. Kondisi seperti itu dihadapi oleh warga Perumahan Mustika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang dihuni 1.687 kepala keluarga. Mereka berada di delapan RW dan 45 RT. Awalnya pengembang menyediakan tempat pembuangan sampah sementara di salah satu sudut perumahan. Sedikit demi sedikit sampah menumpuk. Sekali waktu dibakar. Tak ada persoalan yang berarti. Namun seiring pertumbuhan rumah baru dan pertambahan warga, tumpukan sampah itu mulai menjadi persoalan. Sampah makin menggunung. Belum lagi, warga mulai tak disiplin membuang sampah. Sampah asal dilempar begitu saja. Tidak dibuang tepat di areal yang disediakan. Walhasil sampah berserakan. Bau tak sedap pun muncul. Padahal tak jauh dari tempat pembuangan sampah itu ada fasilitas ibadah, berupa masjid. Bisa dibayangkan bagaimana kondisinya. Para pengurus RW dan RT memang pernah berinisiatif bekerja sama dengan Dinas Kebersihan setempat. Mereka meminta Dinas Kebersihan mengangkut sampah tersebut. Kompensasinya, warga membayar Rp. 150 ribu untuk sekali angkut. Sayangnya kedatangan truk pengangkut itu tidak periodik seperti yang diharapkan. Akhirnya sampah tetap menjadi masalah.

P

Awalnya pengembang menyediakan tempat pembuangan sampah sementara di salah satu sudut perumahan. Sedikit demi sedikit sampah menumpuk. Sekali waktu dibakar. Tak ada persoalan yang berarti. Namun seiring pertumbuhan rumah baru dan pertambahan warga, tumpukan sampah itu mulai menjadi persoalan.

Kerja Sama dengan LSM Kenyataan itu mau tidak mau mengharuskan para pengurus RW setempat mencari jalan keluar. Imam Sutopo, salah satu ketua RW yang mengkoordinasikan RW-RW lain saat itu, menjelaskan pihaknya mencoba menghubungi Bina Ekonomi Sumberdaya Terpadu (BEST) Tangerang yang kantornya tidak terlalu jauh dari perumahan itu. Dia berharap LSM itu bisa membantu memecahkan problem sampahnya. Gayung pun bersambut karena LSM ini memang memiliki pengalaman dan fokus di bidang persampahan dan sanitasi. BEST kemudian mengadakan survei kondisi kawasan. Setelah itu LSM ini mengadakan presentasi mengenai pengelolaan sampah yang memungkinkan di perumahan itu di hadapan para ketua RW dan RT serta tokoh-tokoh masyarakat. ''Ini adalah upaya penjajakan sekaligus untuk melihat respon masyarakat terhadap proposal yang kami tawarkan,'' kata Lubis, aktivis BEST. BEST menawarkan fasilitas dan sistem pengelolaan sampah. BEST siap

mengelola sampah setiap keluarga dengan cara mengambilnya ke rumah setiap hari. Sebagai kompensasi setiap KK dikenai biaya pengelolaan sebesar Rp 10 ribu/KK/bulan. Dari sisi model pengelolaan, masyarakat memberikan respon positif. Tapi masyarakat masih keberatan dengan angka nominal yang ditawarkan BEST. ''Angka itu terlalu tinggi, karena masyarakat memiliki beban iuran yang lain,'' kata Imam yang kini tak lagi menjadi RW. Pembicaraan tak berhenti. Negosiasi berlanjut. Selama proses berlangsung, ada yang sempat menawar setengah dari angka tersebut dengan kompensasi pengambilan sampah dua minggu sekali. Ada yang menawar dengan angka lainnya dengan kompensasi yang lain pula. Akhirnya, BEST mengajukan penawaran Rp 4 ribu per KK dengan kompensasi penyediaan lokasi, sanksi, jatah waktu angkut, dan peraturan lainnya. Setelah digodok, disepakati iuran warga sebesar Rp 3.700 per KK. Semua RT sepakat dengan kerja sama itu kecuali satu RT yang menolak yakni RT 3/RW 7. Alasannya, mereka akan membangun sistem pengelolaan sampah sendiri yakni dengan insinerator. Kendati dalam pelaksanaannya asap dari insineratornya mencemari RT 1 dan 2 dari RW itu, pengurus RT tak peduli. Kerja sama itu masih berlangsung hingga kini. Sistem Pengelolaan Pengelolaan ini menggunakan sistem jemput langsung ke rumah. BEST menggunakan armada berupa motor roda tiga-motor yang belakangnya dilengkapi bak. Motor ini berkeliling ke rumah-rumah warga seminggu dua kali untuk mengambil sampah. Warga tinggal meletakkan sampahnya di depan

Percik

Oktober 2006

33

R E P O R TA S E

pintu gerbang rumahnya. Sampah ini kemudian dikumpulkan di satu lokasi yang telah disepakati. Sesuai kesepakatan, petugas BEST hanya akan mengambil sampah dapur. Mereka tidak berkewajiban mengangkut sampah berupa puing atau dahan sisa tebangan pohon. Namun mereka bisa diminta untuk mengurusi sampah itu dengan negosiasi harga terlebih dahulu di lapangan. Awalnya sampah warga yang terkumpul kemudian diangkut truk ke TPS. Namun sistem ini menghadapi kendala alam. Seringkali truk sampah kejeblos karena kondisi tanah di wilayah itu yang belum stabil. Akhirnya sistem tersebut dikembangkan menjadi pengelolaan sampah di tempat dengan menggunakan fasilitas yang diberi nama Material Row Fasilities (MRF). Tentang MRF MRF berbentuk bangunan dengan luas 18 x 27 meter persegi. Bangunan itu menggunakan kerangka baja dan atap seng. Sekelilingnya dibangun tembok

setinggi dua meter dan dilengkapi dengan pintu gerbang. Bangunan yang didanai oleh BORDA itu berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah warga, pemilahan sampah antara yang organik dan non organik, pengolahan sampah organik menjadi kompos, penyimpanan kompos,dan penyimpanan bahan non organik yang akan dijual. Fasilitas ini dilengkapi dengan rumah jaga bagi karyawan. Operasionalisasi fasilitas tersebut berasal dari iuran bulanan warga. MRF dioperasikan oleh lima orang pekerja yang bekerja antara pukul 8.0016.00 tiap hari. Mereka terdiri atas koordinator dan empat karyawan. Mereka digaji oleh BEST. Karyawan ini bertugas sebagian berkeliling mengambil sampah, sisanya mengolah sampah yang sudah terkumpul. Sampah yang baru datang dimasukkan ke dalam keranjang-keranjang bambu. Sampah kemudian dipilah. Sampah plastik dan non organik lainnya seperti botol, kaleng, dan sebagainya dipisahkan. Sampah ini nantinya diberFOTO: BORDA

sihkan dan dikumpulkan. Setiap bulan ada pembeli yang datang untuk membelinya. Hasilnya untuk tambahan gaji karyawan. Sedangkan sampah organik dibuat kompos. Pengomposan dilakukan dengan cara memasukkan sampah ke dalam cetakan berupa wadah yang terbuat dari kayu dengan ukuran 1 x 1 x 1 m3. Tidak ada perlakukan khusus terhadap timbunan sampah ini kecuali dibolak-balik saja. Kompos ini siap 'dipanen' dalam waktu 40 hari. Sebelum dijual kompos ini diayak dan dikemas. Semua sampah yang masuk ke MRF bernilai ekonomis dan tidak ada yang terbuang. Selain itu dengan fasilitas ini, sampah tidak terlihat sebagai benda yang jorok dan bau, tapi terkelola dengan baik untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang bisa dimanfaatkan. Tanggapan Warga Secara umum warga menyatakan sangat terbantu dengan sistem pengelolaan sampah yang baru tersebut. ''Ini sangat meringankan. Kita nggak usah lagi repot-repot buang sampah ke lapangan (fasum),'' kata Nuryati, salah satu warga. Mereka juga mengaku dengan sistem ini kebersihan lebih terjamin karena tidak ada lagi tumpukan sampah yang menggunung yang menimbulkan bau tak sedap dan banyak lalat. ''Kebersihan jadi bagus,'' kata Ibu Eni warga lainnya. Kedua warga ini mengaku besarnya kontribusi yang diberikan tidak terlalu mahal. ''Ya, itu termasuk sedang,'' kata Ibu Eni. Kontribusi ini lebih besar dibandingkan iuran RT yang besarnya Rp. 3 ribu, dan lebih kecil dibandingkan iuran mushala yang Rp. 10 ribu. Kontribusi warga cukup besar, mencapai 90 persen. Kini warga yang rumahnya dekat dengan fasilitas MRF pun tak lagi menggantungkan sampahnya diambil petugas. Mereka datang sendiri membawa sampahnya. Walhasil sampah di perumahan itu tertangani sekaligus jadi uang. MJ

34

Percik

Oktober 2006

I N O VA S I

Tempat Buang Air Kecil Tanpa Air Penyiram

S

udah menjadi kebiasaan kita, kalau buang air kecil alias kencing memerlukan air untuk menyiramnya. Jika tidak disiram, ruangan akan berbau tidak sedap. Di sini air berfungsi untuk menetralisasi bau amoniak yang dikeluarkan oleh air kencing. Jika ruangan masih tetap bau, untuk menghilangkannya kita biasanya memberikan pengharum ruangan. Bayangkan berapa air dan pengharum ruangan yang dibutuhkan per hari hanya untuk menyiram dan menghilangkan bau tak sedap dari air kencing. Kenyataan ini memacu sebuah perusahaan Amerika Serikat, Falcon Water Technologies mencari terobosan baru untuk mengatasi hal itu. Melalui serangkaian percobaan, perusahaan itu mengenalkan sebuah teknologi yang disebut Waterless Urinal yakni tempat buang air kecil tanpa harus menyiramnya dengan air. Konsep tempat buang air kecil tanpa air ini sangat sederhana. Menurut Klaus Reichardt, penemu teknologi ini, alat ini berbentuk huruf S. Ketika orang kencing, urin akan masuk ke cartridge (penyaring urin). Cartridge inilah yang berfungsi menggantikan air penyiram. Urin kemudian akan turun ke bagian cartridge, melalui tikungan, kemudian menumpahkan ke pusat cartridge hingga turun ke pipa akhir. Cartridge terbuat dari bahan cairan semacam alko-

hol dan minyak sehingga harus diganti dalam beberapa pemakaian. Teknologi ini menggunakan prinsip berat jenis. Ketika urin -- yang berat jenisnya lebih berat dari minyak -- masuk ke dalam cartridge, otomatis urin akan tenggelam di bawah minyak. Minyak inilah yang melindungi agar urin tidak mengambang dan langsung turun ke pipa tanpa mengeluarkan bau. Sayangnya perusahaan tersebut tidak menjelaskan minyak jenis apa yang digunakan sebagai filter air kencing ini.

Menurut pihak perusahaan, waterless urinal bisa menggantikan tempat buang air kecil konvensional yang sekarang ada. Negara yang sudah mencoba menggunakannya adalah India, yakni kamar mandi Taj Mahal. Hal yang sama dicoba di sebuah sekolah dasar di kota California. Teknologi ini, oleh penemunya diya-

kini mampu menghemat energi dan air. Bahkan, kecanggihan waterless urinal telah memenangkan penghargaan tingkat dunia the 2006 Award for Design Excellence Platinum Award. Alasannya, produk ini diklaim telah menghemat air sebanyak 40 ribu gallon per tahun! Karenanya, gedung hijau konsulat Amerika juga telah menggunakan konstruksi baru dari produk ini. Direktur Pemasaran Falcon WaterFree Technologies Randall Goble menyatakan cara kerja teknologi ini jelas mendukung perindustrian. Menurutnya, jika kita mampu menghemat penggunaan air sebanyak sepuluh persen, pasti 200 milyar galon air akan kita hemat per tahunnya. Namun bukan berarti temuan itu bisa mulus dipasarkan. Temuan itu mendapat tentangan. "Kami menentang penemuan tempat kencing tanpa air ini. Pasalnya, ada kemunduran kesehatan jika menggunakannya," ujar Mike Arndt, direktur perkumpulan perpipaan dan sanitasi di Amerika. Menurutnya, memang ada penghematan dengan konservasi air, tetapi ada efek negatifnya di balik itu. Sebaliknya, Chuck Gerba, ilmuwan lingkungan Universitas Arizona di bidang ilmu mikrobiologi tidak menolak temuan itu. Menurutnya, waterless urinal sudah cukup teruji kesehatan sanitasinya. Dengan demikian diharapkan bau kamar mandi di tempat umum bisa teratasi. Siapa mau mencoba? MJ

Percik

Oktober 2006

35

ABSTRAK

Dampak Investasi Air Minum Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta
emerintah belum mampu menyediakan prasarana dan sarana pelayanan publik yang memadai, di antaranya, dalam bentuk pelayanan kebutuhan air minum. Pemenuhan kebutuhan air minum penduduk melalui air minum perpipaan khususnya penduduk miskin perkotaan, ditengarai dapat mengurangi beban pengeluaran air minum, beban pengeluaran bagi biaya pengobatan akibat penggunaan air minum yang tidak layak, dan mengurangi jumlah hari nonproduktif. Kondisi ini akan mendorong peningkatan produktivitas dan tabungan rumah tangga miskin yang mengarah pada meningkatnya pendapatan per kapita dan membaiknya kesenjangan pendapatan, yang akhirnya berdampak pada peningkatan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Investasi air minum, baik secara teoritis maupun secara empiris, terbukti mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air minum penduduk perkotaan, khususnya penduduk miskin, dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk yang berdampak pada perbaikan distribusi pendapatan. Kombinasi dari investasi air minum dan pemenuhan kebutuhan air minum penduduk miskin perkotaan akan menghasilkan pertumbuhan pro-poor, yaitu pertumbuhan ekonomi yang dapat mengurangi kesenjangan pendapatan dan kemiskinan. Dikaitkan dengan kondisi DKI Jakarta, investasi air minum yang bersifat pro poor merupakan suatu keniscayaan, dengan berbagai pertimbangan di antaranya (i) tingkat urbanisasi yang masih tinggi, dan (ii) proporsi penduduk

P

yang belum mendapat akses air minum perpipaan masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pertanyaan yang mengemuka adalah (i) apakah investasi air minum perpipaan di DKI Jakarta telah memicu pertumbuhan ekonomi yang bersifat pro-poor, (ii) apakah investasi air minum nonperpipaan di DKI Jakarta memicu pertumbuhan ekonomi pro-poor; (iii) apakah subsidi pemerintah dalam penyediaan air minum di DKI Jakarta memicu pertumbuhan ekonomi pro-poor. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, disertasi ini menggunakan model komputasi keseimbangan umum (Computable General Equilibrium/CGE) atau disingkat model CGE. Model CGE adalah suatu sistem persamaan simultan tak-linier yang menyimulasikan perilaku optimal dari semua konsumen dan produsen yang ada di dalam suatu perekonomian. Tiga skenario simulasi diterapkan dalam studi ini dengan menggunakan data SNSE DKI Jakarta Tahun 2000 untuk mengetahui skenario pembangunan air minum yang dapat mengarah pada pertumbuhan pro-poor, yaitu (i) simulasi investasi berupa peningkatan investasi air minum perpipaan dan air minum nonperpipaan, (ii) simulasi subsidi berupa penyediaan subsidi air minum bagi rumah tangga miskin yang bersumber dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat, (iii) simulasi investasi dan subsidi berupa peningkatan investasi air minum perpipaan yang disertai penyediaan subsidi air minum bagi rumah tangga miskin, baik dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan investasi air minum di DKI Jakarta berdampak pada pertumbuhan ekonomi tetapi tidak berpengaruh pada pengurangan kesenjangan, yang berarti pembangunan air minum di DKI Jakarta belum bersifat pro poor. Selain itu, agar terjadi pertumbuhan pro poor, investasi air minum perpipaan sebaiknya disertai dengan penyediaan subsidi dari pemerintah pusat. Semakin besar nilai investasi, semakin besar subsidi yang perlu diberikan. Beberapa rekomendasi penting, yaitu (i) pemerintah daerah sebaiknya menjadikan akses air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu target dan indikator keberhasilan pembangunan DKI Jakarta, (ii) penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin masih diperlukan jika proporsi rumah tangga miskin yang belum mendapat akses air minum perpipaan masih relatif besar. Sumber dana subsidi yang potensil di antaranya adalah dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan (iii) mengembangkan program pembangunan air minum berbasis masyarakat, (iv) air minum nonperpipaan masih dapat menjadi alternatif sumber air minum jika dilakukan pembenahan aspek regulasi, penyediaan sumber dana investasi, dan peningkatan jumlah sumber air seperti kran umum sehingga harga air minum nonperpipaan menjadi terjangkau, dan (v) pembenahan kendala akses bagi rumah tangga miskin seperti biaya pemasangan yang terjangkau.
Disertasi Oswar Mungkasa, Program Studi Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2006

36

Percik

Oktober 2006

P E R AT U R A N

Peraturan Daerah Kota Malang No. 10 Tahun 2001 tentang

Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)

K

ota-kota di Indonesia masih sedikit yang memiliki instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT). Penyebabnya adalah belum ada kesadaran yang baik dari para pejabat daerah untuk memperhatikan dengan serius sektor yang kotor ini. Padahal keberadaan sarana ini bisa berpengaruh signifikan terhadap kesehatan masyarakat secara umum. Malang sebagai kota sedang telah melangkah selangkah di depan. Kota ini telah memiliki IPLT. Untuk melestarikan sarana ini, Pemkot setempat menyiapkan perangkat aturan. Maka dikeluarkanlah Perda No. 10 Tahun 2001 tentang IPLT. Ini dimaksudkan agar masyarakat turut serta berpartisipasi dalam membantu pembiayaan pemeliharaan air kotor dan tinja karena ternyata dana yang dibutuhkan sangat besar. Selain untuk pembiayaan, dana digunakan untuk penambahan jaringan dan penanganan masalah lingkungan hidup. Perda itu mengatur soal tata cara penggunaan instalasi pengolahan lumpur tinja, retribusi, ketentuan pidana, sanksi, dan pengawasan. Perda ini terdiri atas tujuh bab dan 11 pasal. Perda itu menyebutkan bahwa wajib retribusi yang memanfaatkan IPLT wajib membayar retribusi. Yang dimaksud wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi daerah, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu.

Keberadaan Perda ini menjadi payung hukum bagi upaya perlindungan sumber air dari bahaya pencemaran, baik oleh bahan kimia, biologis, radio aktif, dan bahan pencemar lainnya serta upaya-upaya agar air tetap tersedia dalam yang cukup secara berkesinambungan. Perda ini juga untuk mencegah pencemaran air.

Air kotor atau lumpur tinja yang akan diproses di IPLT diangkut dari tempat penampungannya dengan menggunakan truk tangki khusus yang memenuhi persyaratan baik yang dikelola oleh pemerintah Kota Malang atau oleh pihak swasta. IPLT ini hanya boleh digunakan sesuai dengan fungsinya sebagai pengolahan air kotor dan lumpur tinja. Pelayanan, penelitian, dan penarikan distribusi atas air kotor dan lumpur tinja, limbah cair rumah tangga yang akan diproses di IPLT dilakukan oleh Dinas Kebersihan. Perda ini mengatur soal retribusi. Retribusi dikenakan kepada wajib retribusi. Pemungutan retribusi dilakukan dengan cara menggunakan karcis pada saat mobil tangki pengangkut lumpur tinja memasuki areal IPLT untuk di-

proses lebih sempurna. Besarnya retribusi ditetapkan sebesar Rp. 6.000 per meter kubik. Mengenai ketentuan pidana, perda ini menyebutkan setiap orang atau badan hukum yang melakukan usaha yang berhubungan dengan air kotor dan lumpur tinja dilarang membuang air kotor lumpur tinja dimaksud selain pada IPLT yang disediakan Pemda. Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah diancam kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 10 kali jumlah retribusi terutang. Sanksi juga akan dikenakan kepada pengangkut air kotor atau lumpur tinja yang mengalami kebocoran di perjalanan. Untuk mengawasi pelaksanaan peraturan daerah ini, Pemkot menyerahkan tugas tersebut kepada polisi, pamong praja, Dinas Kebersihan, dan Bapedalda sesuai dengan bidang dan tugas masing-masing. Keberadaan Perda ini menjadi payung hukum bagi upaya perlindungan sumber air dari bahaya pencemaran, baik oleh bahan kimia, biologis, radio aktif, dan bahan pencemar lainnya serta upaya-upaya agar air tetap tersedia dalam jumlah yang cukup secara berkesinambungan. Perda ini juga untuk mencegah pencemaran air. Air kotor (limbah) rumah tangga bisa menyebabkan penurunan kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang mengakibatkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Percik

Oktober 2006

37

POJOK ISSDP

Choice Model
hoice modelling (model pilihan) adalah suatu metode yang sering digunakan dalam studistudi marketing untuk mengetahui preferensi kemampuan membayar konsumen atas beberapa jenis produk yang ditawarkan. Dalam studi ini, metode ini dimodifikasi sedemikian hingga dapat digunakan untuk barang-barang dan jasa yang bersifat publik, seperti halnya fasilitas dan pelayanan sanitasi. Pelaksanaan metode ini dilakukan dengan cara menambahkan Modul Model Pilihan pada perangkat survei (kuesioner). Pada modul tersebut, responden diberi penjelasan mengenai beberapa alternatif fasilitas pengelolaan air buangan untuk memperbaiki kondisi sanitasi mereka. Tawaran yang diberikan meliputi 3 alternatif, yaitu sistem jaringan pipa air limbah perkotaan, sistem komunal dengan menggunakan "small-bore sewer", dan MCK plus. Ketiga alternatif diberikan dengan spesifikasi teknis yang memenuhi standar kesehatan dan lingkungan. Responden dapat membandingkan ketiga alternatif tersebut satu sama lainnya maupun terhadap jenis pelayanan sanitasi yang mereka miliki sekarang (status quo). Untuk ke 3 alternatif tersebut, responden juga diberikan alternatif-alternatif dalam kaitan dengan kontribusi modal bagi keperluan konstruksi, kontribusi tenaga untuk membantu selama konstruksi, dan besarnya pembayaran per hari atau per bulan yang harus mereka lakukan untuk menjamin keberlangsungan operasi dan pemeliharaan fasilitas-fasilitas tersebut. Dengan memberikan beberapa contoh kombinasi mengenai fasilitas pengelolaan air buangan, kontribusi yang diharapkan, dan besarnya biaya O&M, maka dapat dipelajari pola pilihan setiap responden yang selanjutnya dapat digunakan

C

untuk memperkirakan urutan jenis fasilitas yang paling disukai dan besarnya kemampuan membayar masyarakat untuk itu. Analisa yang dilakukan atas datadata yang diperoleh dari penerapan Model Pilihan tersebut menghasilkan pola pilihan atas fasilitas-fasilitas MCK Plus, sistem komunal, dan jaringan air limbah perkotaan yang berbeda-beda untuk setiap kota yang disurvei, seperti dapat dilihat pada tabel berikut:
Kota Bandung Banjarmasin Blitar Jambi Denpasar Payakumbuh Surabaya Surakarta Gabungan 8 Kota Pilihan I Jaringan Limbah MCK Plus Sistem Komunal Sistem Komunal Jaringan Limbah Sistem Komunal Sistem Komunal MCK Plus Sistem Komunal

pak bahwa hanya Denpasar yang memiliki urutan pilihan yang sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh literatur. Jaringan limbah perkotaan menempati urutan pertama sebagai sistem yang paling diminati oleh responden di kota ini, disusul oleh sistem komunal dan selanjutnya MCK Plus. Urutan ini sesuai dengan urutan kualitas pelayanan yang diberikan oleh ketiga alternatif sistem tersebut. Jaringan limbah perkotaan memiliki kemampuan pelayanan saniPilihan III Status Quo Status Quo MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus Jaringan Limbah Sistem Komunal MCK Plus Pilihan IV Sistem Komunal Sistem Komunal Jaringan Limbah Status Quo Status Quo Status Quo Status Quo Status Quo Status Quo

Pilihan II MCK Plus Jaringan Limbah Status Quo Jaringan Limbah Sistem Komunal Jaringan Limbah MCK Plus Jaringan Limbah Jaringan Limbah

Responden pada umumnya merasa bahwa ketiga alternatif yang ditawarkan merupakan perbaikan dari fasilitas sanitasi yang mereka miliki saat ini, seperti digambarkan oleh pola pilihan pada kota-kota Jambi, Denpasar, Payakumbuh, Surabaya, dan Surakarta. Sementara responden di Bandung dan Banjarmasin tidak menyukai sistem komunal dan menganggap bahwa fasilitas sanitasi yang mereka miliki saat ini sudah lebih baik dari sistem komunal yang ditawarkan. Sebaliknya untuk responden di kota Blitar, mereka menilai dari ketiga alternatif yang ditawarkan tersebut, hanya sistem komunal yang merupakan peningkatan dari fasilitas sanitasi yang mereka miliki sekarang. Mereka lebih memilih untuk tetap dengan kondisi mereka sekarang daripada beralih ke sistem jaringan limbah perkotaan ataupun MCK Plus. Mengenai urutan alternatif yang dipilih, mulai dari yang paling disukai sampai dengan yang tidak disukai, tam-

tasi yang tertinggi karena bukan hanya air buangan dialirkan menjauhi rumah tangga sehingga rumah tangga terbebas dari risiko penyakit dan estetika yang buruk akibat kontak dengan air buangan, namun air buangan juga diolah pada suatu instalasi pengolah air limbah (IPAL) terpusat yang aman sehingga tidak mencemari lingkungan. Sistem komunal pada dasarnya sama dengan jaringan limbah perkotaan hanya skalanya jauh lebih kecil, yaitu hanya melayani beberapa puluh sampai beberapa ratus rumah saja. Sistem ini juga dilengkapi dengan IPAL yang aman, walaupun secara teknis biasanya spesifikasinya tidak secanggih IPAL terpusat. Pada tahap pengembangannya, beberapa sistem komunal dapat digabungkan ke sistem jaringan air limbah yang lebih luas, sehingga sistem komunal ini banyak diterapkan sebagai solusi sementara sebelum dapat dikonversi menjadi jaringan air limbah perkotaan. MCK Plus merupakan MCK yang

38

Percik

Oktober 2006

POJOK ISSDP

dilengkapi dengan IPAL. Dengan pengelolaan yang baik, sistem ini cukup aman bagi lingkungan dan kesehatan dan cukup nyaman digunakan walaupun sifat pelayanan yang diberikan bukanlah sambungan rumah. Secara umum, sistem komunal merupakan sistem yang paling banyak disukai, yaitu sebagai pilihan pertama dari 4 kota yang terlibat dalam survei ini, yaitu Blitar, Jambi, Payakumbuh, dan Surabaya. Cukup menarik untuk diamati bahwa selagi sistem komunal ini merupakan pilihan yang paling disukai di 4 dari 8 kota yang disurvei, responden di 2 kota yang lain, yaitu Bandung dan Banjarmasin, justru tidak menghendaki sistem komunal sama sekali dan menganggap bahwa sistem ini lebih buruk dari fasilitas sanitasi mereka sekarang. Jaringan limbah sebagai pilihan pertama dipilih oleh responden di kota Bandung dan Denpasar, sementara responden di kota Banjarmasin dan Surakarta lebih memilih MCK plus sebagai pilihan pertama. Yang juga menarik adalah fakta bahwa hanya 1 kota, yaitu Blitar yang respondennya menganggap bahwa MCK Plus merupakan pilihan yang lebih buruk dari sarana sanitasi mereka sekarang. Hal ini konsisten dengan kondisi responden yang pada umumnya miskin dengan akses ke sarana sanitasi pribadi yang umumnya buruk sehingga dalam kesehariannyapun sebagian dari mereka memilih untuk menggunakan MCK umum. Hal ini umum terjadi pada masyarakat pendatang dan pengontrak dengan fasilitas sanitasi pada lokasi kontrakan yang sangat terbatas. Pola pilihan seperti tersebut di atas merupakan agregat dari pola pilihan di tingkat rumah tangga pada lokasi survei. Walaupun pada pelaksanan survei ini responden telah dijelaskan mengenai karakteristik ketiga alternatif yang ditawarkan tersebut, pengetahuan dan pengalaman responden atas ketiga alternatif tersebut tampak jelas mewar-

Kota Bandung telah memiliki jaringan air limbah sejak lama, walaupun cakupannya masih terbatas, tetapi telah cukup dikenali oleh warganya.

nai pola pilihan mereka. Dari 8 kota yang disurvei, hanya Denpasar dan Bandung yang respondennya menempatkan jaringan air limbah perkotaan sebagai pilihan pertama. Pada kenyataannya, sebenarnya ada 3 kota yang saat ini telah memiliki jaringan air limbah terpusat, yaitu Bandung, Denpasar, dan Surakarta. Jaringan air limbah di Denpasar saat ini sedang dalam tahap pembangunan dan dapat dikatakan sebagian besar penduduk Denpasar tahu mengenai hal ini. Kota Bandung telah memiliki jaringan air limbah sejak lama, walaupun cakupannya masih terbatas, tetapi telah cukup dikenali oleh warganya. Sementara untuk Surakarta, cakupan jaringan air limbahnya masih sangat terbatas dan kebetulan tidak ada yang berdekatan dengan lokasi sampling pada studi ini. Pengalaman langsung berhubungan dengan jaringan air limbah perkotaan tampaknya memang berpengaruh pada pilihan responden. Responden di Surakarta hanya menempatkan jaringan air limbah sebagai pilihan kedua, setelah MCK Plus. Pengalaman dan pengetahuan mengenai sistem yang ditawarkan ini pula yang menyebabkan sistem komunal merupakan sistem yang paling banyak dipilih, mengingat sistem ini paling banyak digunakan (melalui program SANIMAS) dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik. Masyarakat tampaknya cukup diyakinkan bahwa sistem ini dapat berhasil dengan baik dan pada kenyataannya cukup mudah

direalisasikan. Masyarakat Blitar sudah sangat mengenal sistem komunal, sehingga buat mereka tampaknya sistem yang diharapkanpun hanya sistem komunal; terbukti dari pola pilihan yang menempatkan jaringan air limbah dan MCK Plus di bawah sarana sanitasi mereka sekarang (status quo). Kasus yang senada tampaknya juga menjelaskan mengapa MCK Plus merupakan pilihan pertama di Surakarta. Pada lokasi-lokasi survei di kota ini, MCK umum yang ada pada umumnya dalam kondisi yang cukup baik, masyarakat sudah terbiasa dengan MCK, dan sebagian besar responden merupakan warga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan yang tentunya tidak memiliki kewenangan untuk menentukan jenis fasilitas ditempat mereka mengontrak sehingga alternatif yang membutuhkan sambungan rumah jadi tidak terlalu menarik. Pola pilihan yang berhasil digali dari studi ini juga mengindikasikan prioritas pemecahan permasalahan di lingkungan sendiri terlebih dahulu. Sebelum ditanya mengenai pilihan alternatif yang diinginkan, responden telah dijelaskan terlebih dahulu bahwa kelebihan dari sistem jaringan limbah perkotaan adalah permasalahan lingkungan yang lebih luas pada skala kota dapat lebih baik ditangani. Fakta bahwa sistem komunal tetap lebih banyak diminati dari jaringan air limbah perkotaan sedikit banyak mengindikasikan bahwa buat para responden yang penting adalah memecahkan masalah di tingkat mereka sendiri dahulu. Sekalipun studi ini tidak mengelaborasi lebih jauh alasan-alasan di balik pilihan responden, gejala ini konsisten dengan kecenderungan dari penduduk yang berpendapatan rendah untuk hanya peduli pada masalah-masalah mendesak yang langsung mereka hadapi. Bagi mereka, masalah lingkungan yang lebih luas masih merupakan hal yang terlalu "mewah" dibandingkan dengan tuntutan masalah hidup mereka yang sangat

Percik

Oktober 2006

39

POJOK ISSDP
didominasi oleh masalah keseharian, dengan pola pendapatan yang juga harian, ditambah lagi dengan tidak adanya jaminan pekerjaan yang menerus dan stabil. warkan tersebut. Secara ringkas kondisi kemauan membayar per bulan per rumah tangga untuk ketiga alternatif yang ditawarkan pada 8 kota yang disurvei dapat dilihat pada grafik berikut: jaringan limbah perkotaan, yang terendah adalah Rp. 4.700 per KK per bulan (di Banjarmasin) dan yang tertinggi adalah Rp. 54.000 per KK per bulan di Payakumbuh). Perkiraan keinginan membayar tersebut di atas cukup menggambarkan realitas yang ada. Pengalaman dengan program SANIMAS selama ini menunjukkan bahwa masyarakat pengguna rata-rata mengeluarkan antara Rp. 15.000 sampai Rp. 35.000 per KK per bulan untuk fasilitas MCK Plus. Sementara untuk sistem komunal SANIMAS, selama ini setiap keluarga yang tersambung pada sistem tersebut membayar antara Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 45.000 setiap bulannya. Perkiraan keinginan membayar tersebut menunjukkan bahwa sistem SANIMAS yang selama ini digunakan sebagai alternatif penanganan permasalahan sanitasi di daerah (miskin) perkotaan cukup menjanjikan untuk juga diterapkan pada kota-kota lain di Indonesia. Mengenai keinginan untuk membayar fasilitas jaringan limbah perkotaan yang rata-rata pada kisaran Rp 30.000 sampai Rp. 40.000 per KK per bulan, jumlah ini juga menunjukkan potensi yang cukup baik walaupun belum cukup untuk menjamin pembiayaan sistem jaringan air limbah yang berdasarkan literatur membutuhkan rata-rata Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000 per KK per bulan. Walaupun demikian, angka temuan ini tetap menjanjikan.Kombinasinya dengan subsidi pemerintah, pola subsidi silang pada pentarifan pelayanan air limbah, dan pengaturan yang ketat dan konsisten yang mewajibkan masyarakat berpenghasilan menengah - tinggi untuk tersambung ke sarana limbah perkotaan, diyakini dapat membuka jalan bagi realisasi pembangunan sistem jaringan air limbah perkotaan, yang untuk sebagian besar kota-kota besar di Indonesia mau tidak mau harus dilaksanakan di masa-masa mendatang.

Grafik: Keinginan Membayar Sarana Sanitasi per Bulan per Keluarga
80

70

Keinginan Untuk Membayar (ribuan Rp.)

komunal

60
sewer

komunal m ckplus

50

40
m ckplus

komunal

sewer s ewer komunal

mckplus sewer

30

komunal s ewer

s ewer mckplus

mckplus komunal

20

mckplus

10
mckplus sewer

0

Payakumbuh

Jambi

Banjarmasin

Denpasar

Surabaya

Bandung

Blitar

Lokasi Studi
Selain pola pilihan, studi ini juga mengukur keinginan masyarakat miskin di 8 kota yang disurvei untuk membayar dalam upaya peningkatan sarana sanitasi mereka. Tingkat keinginanan membayar (willingness to pay) ini tentunya sejalan dengan tingkat preferensi mereka terhadap alternatif yang ditawarkan. Yang diukur pada studi ini adalah berapa banyak responden mau membayar setiap bulannya untuk beralih dari sarana sanitasi yang mereka miliki sekarang ke salah satu dari ketiga alternatif yang ditawarkan tersebut. Dengan demikian, untuk alternatif-alternatif yang mereka anggap tidak lebih baik dari kondisi status quo mereka, perkiraan kemauan membayar mereka menjadi negatif, atau dengan kata lain mereka tidak ingin beralih ke alternatif yang ditaGrafik di atas menunjukkan bahwa masyarakat miskin pada lokasi yang disurvei memiliki keinginan membayar untuk salah satu alternatif yang ditawarkan antara Rp.4.700 sampai Rp. 67.000 per rumah tangga per bulan. Yang terendah adalah untuk pilihan jaringan air limbah di Banjarmasin, dan yang tertinggi adalah untuk sistem komunal di Payakumbuh. Keinginan membayar untuk MCK Plus berkisar antara Rp. 8.300 per KK per bulan (di Bandung) sampai dengan Rp. 53.000 per KK per bulan (di Surabaya). Untuk sistem komunal, keinginan membayar per KK per bulan berkisar antara Rp. 28.400 (di Surakarta) sampai dengan Rp. 67.000 (di Payakumbuh). Sedangkan untuk

40

Percik

Oktober 2006

Surakarta

S E P U TA R P L A N I N D O N E S I A

Plan Indonesia dalam Program Air dan Sanitasi Lingkungan
alam kurun waktu 2004-2005, Plan Indonesia melakukan upaya signifikan di sektor Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan. Plan memobilisasi sumber daya guna meningkatkan sanitasi lingkungan dan penanganan masalah air bersih di antaranya dengan membangun fasilitas air bersih bagi masyarakat di 80 desa terpencil terutama untuk mereka yang menemui kesulitan dalam memperoleh air yang aman untuk dikonsumsi. Proyek air dan sanitasi lingkungan ini telah memberi manfaat setidaknya bagi 15.000 keluarga di Indonesia. Pada Oktober 2005, Plan Indonesia menandatangani Nota Kesepakatan dengan Bappenas sebagai landasan resmi bantuan Plan kepada Pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan program air minum dan sanitasi lingkungan. Lokakarya terkait telah diselenggarakan dan dihadiri pejabat Bappenas, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan, dan Departemen Dalam Negeri, yang memberi masukan bagi pembuatan rencana aksi bersama antara Pemerintah Indonesia dan Plan. Saat ini kegiatan lain yang terkait dengan pemeliharaan kesehatan juga telah dikembangkan di 12 kantor program Plan dan telah menambah pengetahuan masyarakat akan dampak dari kurangnya kebersihan sehingga meningkatkan pengetahuan akan perilaku hidup sehat. Hal ini dilakukan melalui: (a) Pelatihan atas 500 sukarelawan/guru yang akan mempromosikan pemeliharaan kesehatan; (b) Mendidik ibu hamil dan kader; (c) Mendidik anak usia sekolah. Pendidikan pemeliharaan kesehatan juga telah menjangkau 50 Pusat Adituka (Asuh Dini Tumbuh Kembang Anak),

D

di mana disediakan air bersih dan MCK bagi anak. Selain itu, pendidikan pemeliharaan kesehatan menjadi prioritas bagi siswa sekolah, yang akan menjangkau keluarga dan masyarakat sekitar mereka. Kebersihan sekolah dan pendidikan pemeliharaan kesehatan diperlakukan sebagai komponen kunci dari program "FRESH" (Focusing Resource on Effective School Health) yang diterapkan di 70 sekolah dan melibatkan 3.500 anak. Penggunaan sumber air dan fasilitasi kebersihan serta promosi kebersihan merupakan komponen utama pendekatan ini.

Program FRESH yang dicanangkan pada tahun 2000 oleh WHO memiliki tujuan untuk mendorong pembuatan kebijakan dalam hal kesehatan sekolah, pemberian pelayanan kesehatan di sekolah, pendidikan kesehatan berbasis keterampilan, dan akses untuk menggunakan fasilitas pemeliharaan kesehatan yang memadai. Demikian halnya, Plan mendukung pula pengembangan jalur penyebaran informasi tentang perilaku yang sehat: dari anak-ke anak-ke orangtua-ke masyarakat. Para pelajar di sekolah memegang peranan penting dalam meningkatkan kesehatan sekolah.

"Kini Kami Lebih Mudah Mendapat Air"
bdullah, 43, tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya ketika melihat anak berwudhu di kran air di depan rumahnya, sebelum pergi sholat di siang hari itu. Menurut Abdullah, sebelum proyek perpipaan yang didukung oleh Plan, sangatlah sulit untuk mendapatkan air. "Seperti orang lain di desa, saya, istri, dan anak saya dulu harus mengambil air di mata air, yang jaraknya sekitar tiga kilometer di waktu subuh. Kami mandi dan sarapan di sana. Tapi sekarang, semuanya sudah benar-benar berubah," kata Abdullah, Februari lalu Di Desa Daha, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tempat Abdullah tinggal, tercatat lebih dari 300 rumah sudah terhubungkan dengan pipa air. Angka tersebut bakal meningkat sejalan dengan rencana komite pengguna air bersama Plan untuk memperluas cakupan ke beberapa desa lain. Proyek perpipaan ini dibangun pada Mei 2005. Masyarakat setempat bergotong-royong menggali lubang dan meletakkan pipa, sementara Plan menyediakan bahan lain, seperti semen dan ahli teknisnya. Melalui proyek ini, masyarakat berhasil membangun tempat penampungan air yang disalurkan dari mata air dan

A

dialirkan ke beberapa tempat yang mudah dijangkau penduduk. Masyarakat telah membentuk komite pengguna air untuk perawatan sarana. Setiap keluarga dikenakan biaya 1.000 rupiah (10 sents) setiap bulan. Untuk Dusun Tenga dan Madawa di Desa Daha, Plan merasa perlu merealisasikan harapan akan proyek saluran air itu. Dari banyak organisasi yang datang ke desa ini, hanya Plan yang dengan cepat menanggapi kebutuhan ini. "Namun, hal itu tidaklah mudah. Plan mengajukan sejumlah syarat yang harus diikuti, di antaranya kesediaan kami memberi kontribusi. Proyek tersebut harus melibatkan anggota masyarakat termasuk anak mulai dari perencanaan, desain, hingga perawatannya,'' tambah Abdullah. Menurutnya, instalasi pipa hanya memakan waktu empat hari. Pekerjaan itu lebih cepat tiga hari dari rencana. "Karena kebutuhan air sudah sangat mendesak, kami bekerja lebih cepat dan mengerahkan seluruh tenaga,’’ kata Abdullah. Kini beberapa anak suka mandi tiga kali sehari. "Kini kami punya waktu lebih untuk berkebun." Dan satu hal, mereka memiliki pengalaman dalam perencanaan hingga perawatan. (Plan)

Percik

Oktober 2006

41

I N F O BU K U

Channel Reservoir, Atasi Banjir dan Kekeringan

K

ekeringan bisa dianggap sebagai musibah, tapi bisa jadi berkah bila dikelola dengan baik. Penulis buku ini mengajukan dua filosofi sederhana agar kekeringan menjadi suatu berkah yakni pertama, bagaimana menyimpan kelebihan air musim hujan dan mendistribusikannya pada musim kemarau. Kedua, memilih komoditas secara horizontal maupun vertikal yang sesuai dengan tingkat ketersediaan air. Untuk menyimpan air di musim hujan dan mendistribusikannya pada musim kemarau sangat sederhana. Dengan menggunakan citra satelit dan foto udara yang skalanya proporsional, maka lokasi, jumlah, dan dimensi penampungan air dapat dipetakan. Sudah ada pilot proyek untuk menentukan kriteria lokasi seperti jenis tanah, lereng, batuan/bahan induk yang dikerjakan sejak tahun 2000. Pemilihan komoditas yang tepat dapat meminimalisasi risiko kekeringan dan meningkatkan pendapatan usaha tani. Secara

Judul: KUMPULAN PEMIKIRAN: BANJIR DAN KEKERINGANPENYEBAB, ANTISIPASI, DAN SOLUSINYA Penulis: Gatot Irianto Penerbit : CV Universal Pustaka Media, 2003 Tebal: xiii + 135 halaman

vertikal pemilihan komoditas dapat dilakukan dengan mengganti jenis, misalnya dari padi ke palawija. Sedangkan secara horizontal, pemilihan diarahkan terhadap beberapa varietas padi mana yang perakarannya dalam, atau berumur genjah. Selain itu, kekeringan dapat juga ditekan dengan pengembangan channel reservoir yang berfungsi menampung aliran permukaan dan hujan serta meningkatkan produktivitas lahan. Secara konsep, channel reservoir merupakan pengembangan dari sistem sawah dengan teras bertingkat yang

sejak lama diketahui sangat ideal dalam menampung, menyimpan, dan mendistribusikan air di alam. Channel ini dibangun dengan membendung aliran air di alur sungai sehingga air yang mengalir dicegat untuk mengisi reservoir maupun mengalir ke samping untuk mengisi cadangan air tanah. Ada tiga manfaat channel reservoir. Pertama, menampung sebagian besar volume air hujan dan aliran permukaan sehingga dapat menekan risiko banjir hilir karena volume air yang mengalir ke hilir rendah. Kedua, menurunkan kecepatan aliran permukaan, laju erosi dan sedimentasi sehingga waktu air menuju hilir akan lebih lama dengan tingkat sedimentasi yang rendah. Ketiga, peningkatan cadangan air tanah pada musim hujan akan memberikan persediaan air yang memadai di musim kemarau. Lebih ideal lagi apabila channel reservoir dibangun secara bertingkat yang lazim dikenal sebagai channel reservoir linear in cascade. MJ

Buang Air, Bukan Lagi Urusan Pribadi
da anggapan selama ini bahwa pengelolaan limbah rumah tangga, khususnya tinja, merupakan tanggung jawab rumah tangga itu sendiri. Asalkan setiap rumah memiliki jamban, penanganan jamban dianggap sudah memadai. Namun berbagai data menunjukkan bahwa angka penderita diare masih sangat banyak dan air bawah tanah tercemar. Hasil penelitian mengungkap itu terjadi bermula dari tinja. Ini menjadi salah satu problem perkotaan hingga kini. Di sisi lain, pemerintah hanya mengalokasikan sekitar 820 juta dolar AS untuk sektor sanitasi dalam 30 tahun terakhir. Artinya, setiap penduduk Indonesia hanya kebagian Rp. 200. Ini tentu sangat sedikit dari jumlah ideal Rp. 47.000 per tahunnya. Maka tidak heran banyak masalah yang muncul. Bahkan data menunjukkan 100 ribu anak mati karena diare. Yang mengkhawatirkan, Indonesia belum memiliki regulasi tentang tangki sep-

A

SANITASI PERKOTAAN: POTRET, HARAPAN, DAN PELUANG. INI BUKAN LAGI URUSAN PRIBADI
Penulis: Tim Bappenas, WSP-EAP Bank Dunia, AKADEMIKA, PT Waseco Tirta, dan BaliFokus Penerbit: Bappenas dan WSP-EAP Bank Dunia Tahun Terbit: 2006 Tebal: iv + 31 halaman

Judul:

tik. Tangki penampung tinja ini boleh dibangun di mana saja. Konon di Jakarta ada 100 ribu tangki septik. Selain itu tidak ada aturan yang mengharuskan setiap rumah tangga secara rutin menyedot tangki septik tersebut. Celakanya lagi tidak ada pihak yang merasa berkepentingan untuk memerika kondisi tangki septik di wilayahnya. Kenyataan itu jelas berbeda dengan perkembangan di kota-kota lain di dunia.

Di sana pengelolaan limbah rumah tangga mulai menggunakan sewerage system. Sistem ini pernah diterapkan di Bandung, Cirebon, Solo, dan Yogyakarta pada zaman Belanda, tapi justru ditinggalkan setelah merdeka. Model seperti ini sekarang ada di 10 kota yakni Balikpapan, Banjarmasin, Bandung, Jakarta, Medan, Prapat, Surakarta, Tangerang, dan Yogyakarta. Sayangnya kinerjanya tak memuaskan dan cakupan layanannya hanya 10 persen penduduk kota. Karena itu, pembenahan perlu segera dilakukan. Kota dan kabupaten harus menempatkan urusan ini sebagai kewajiban. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) tiap 1 dolar investasi di bidang sanitasi akan memberikan keuntungan ekonomi sama dengan delapan dolar AS. Untuk bisa mewujudkan itu Pemkot dan Pemkab harus menggandeng semua pihak terkait dan masyarakat. Dan itu harus dimulai dari sekarang! MJ

42

Percik

Oktober 2006

INFO SITUS

Penggunaan Kembali (Reuse)
http://www.ciwmb.ca.gov/reuse/
enggunaan kembali (reuse) didefinisikan sebagai menggunakan sesuatu di luar kegunaan awalnya tanpa melakukan proses pengubahan struktur secara signifikan pada sesuatu tersebut. Penggunaan kembali merupakan sebuah ide sederhana, bisa menghemat uang, energi, sumber daya dan ruang TPA, serta sangat bisa dilakukan oleh siapa saja. Penggunaan kembali merupakan tahap kedua dari proses bertingkat mengurangi sampah yakni reduce, reuse, dan recycle merupakan program penting untuk mengurangi sampah sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA). Di negara bagian California AS, mengurangi sampah ini telah diprogramkan dalam peraturan pemerintah setempat.

P

berbagai hal mengenai penggunaan kembali. Di dalamnya juga ada program-program yang dilakukan dan bantuan yang diberikan oleh dewan itu dalam rangka mengurangi sampah.

Penggunaan Kembali vs Daur Ulang
http://www.care2.com/channels/solutions/home/106

Penampung dan Penyalur Alat Elektronik Bekas
http://www.recycles.org/index.htm

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan kembali material. Salah satu di antaranya adalah menciptakan lapangan kerja baru. Menurut Institute for Local Self-Reliaance, ada potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja baru melalui upaya menggunakan kembali. ''Seandainya setengah dari 25,5 juta ton benda yang tahan lama seperti furnitur, pakaian, dan permesinan sekarang yang tidak terpakai di AS digunakan kembali, lebih dari 110 ribu pekerjaan baru akan muncul.'' Situs milik Dewan Pengelola Sampah Terpadu ini memberikan gambaran

ungkin belum ada lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak khusus di bidang daur ulang dan penggunaan kembali komputer bekas. Namun di luar negeri, lembaga seperti ini cukup banyak karena memang tingkat penggunaan barang di negara-negara maju tidak seperti di Indonesia yang menunggu sampai rusak. Di sana barang yang sudah habis masa pakainya biasanya dibuang alias diafkir. Recycle.org mencoba menampung komputer-komputer bekas tersebut kemudian menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan. Dan untuk keperluan itu, semua layanan diberikan secara cuma-cuma. Mereka yang butuh pun tinggal mengontak LSM ini tentu dengan identitas dan autentifikasi yang jelas. Melalui layanan ini, LSM ini mencoba mengurangi sampah komputer dan alat elektronik dibuang sia-sia, padahal teknologi yang ada di dalamnya masih bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai produktivitas. Anda tertarik untuk mendonasikan barang elektronik bekas Anda, atau justru Anda membutuhkannya? Coba buka situs ini.

M

anyak orang yang tidak bisa membedakan antara penggunaan kembali dan daur ulang. Padahal keduanya memiliki perbedaan yang nyata. Penggunaan kembali tak memerlukan proses produksi kembali untuk menggunakannya, sedangkan daur ulang merupakan upaya untuk menciptakan produk baru dari benda/barang yang sudah tidak terpakai. Penggunaan kembali mempertahankan kegunaan barang lebih lama. Mengapa penggunaan kembali sangat penting? Sebab pada saat yang bersamaan ada tuntutan untuk mengurangi sampah. Penggunaan kembali juga mempertahankan kualitas barang agar tetap bernilai ekonomis. Karenanya, sebenarnya penggunaan kembali lebih efektif dibandingkan dengan daur ulang. Alasannya, penggunaan kembali menjadikan barang tak menjadi sampah, mengurangi dari sumber, menghemat energi karena tak ada proses produksi untuk membentuk ke jenis barang lain, dan sebagainya. Selain membahas panjang lebar tentang penggunaan kembali, situs ini pun menyediakan banyak artikel tentang kesehatan khususnya menyangkut penanganan persampahan. Ada pula program-program terkait bidang persampahan yang dikelola oleh berbagai organisasi dan univertitas. MJ

B

Percik

Oktober 2006

43

INFO CD

Publikasi WASPOLA
ama WASPOLA mungkin sudah sering Anda dengar. Berbicara kebijakan nasional AMPL tak lepas dari WASPOLA. WASPOLA atau Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning, memang proyek yang dibentuk untuk melahirkan kebijakan nasional AMPL. Proyek kerja sama Bappenas, AusAid, dan Bank Dunia ini telah berlangsung beberapa tahun. Selain menyusun kebijakan, proyek ini melakukan uji coba penerapan kebijakan ini di daerah. Dalam kaitan itu, sekretariat WASPOLA mengeluarkan CD tentang kegiatan mereka pada tahun ini periode Januari-Juni 2006. CD berlabel WASPOLA Publication ini berisikan empat komponen yakni policy implementation, policy reform, management knowledge, dan project management and coordination. Komponen satu berisikan implementasi kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat di tingkat propinsi/kabupaten. Laporan kegiatan yang dimuat antara lain

N

implementasi di NTB, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Banten serta Bangka-Belitung yang diselenggarakan antara bulan JanuariFebruari. Laporan itu disertai pula laporan akhirnya yang disusun pada Maret-April. Selain itu, ada laporan mengenai rencana strategis pembangunan AMPL yang disusun oleh beberapa kabupaten yakni

kabupaten Bangka Selatan, Bangka Barat, Solok, Sawahlunto Sijunjung, Kebumen dan Pangkajane. Di komponen mengenai Policy Reform, ada laporan hasil studi tur ke Ho Chi Min, Vietnam . Studi itu memotret kondisi penyedia air skala kecil di kota tersebut. Laporan lainnya, berisi hasil studi tur ke Australia berkenaan dengan kebijakan Australia di bidang AMPL berbasis lembaga. Sedangkan komponen ketiga berisikan dokumen kebijakan antara lain prosiding berbagai lokakarya, pengembangan strategi komunikasi, Sanimas Outcome Monitoring Study (SOMS), pelatihan seperti fasilitasi, sinergi komunikasi, MPA-PHAST, CLTS dan sebagainya. Di komponen terakhir, CD ini memuat tentang laporan bulanan WASPOLA dari Januari hingga Juli dan laporan dalam bahasa Inggris JanuariApril 2006. Ada juga laporan mengenai laporan tahun lalu Juli-Desember 2005 serta rencana WASPOLA tahun 2006 yang dikeluarkan pada April 2006. MJ

Hancurnya Mata Rantai Kehidupan
embangunan adalah sebuah keharusan. Namun tak jarang pembangunan membawa korban. Hal ini terjadi bila mereka yang bergerak di dalamnya mengabaikan aspek-aspek yang seharusnya menjadi pijakan. Ketika hanya keuntungan yang menjadi target utama, manusia di sekelilingnya tak jarang harus rela menanggung beban penderitaan. Video CD produksi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) ini mengangkat tema tentang pencemaran terhadap aliran sungai. Padahal air tersebut merupakan sumber utama bagi masyarakat di sekitarnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Pabrik kertas dituding telah mencemari air sungai. Memang sepintas lalu perusahaan itu dilengkapi sarana pengolah limbah. Namun fakta

P

menunjukkan limbah yang dibuang ke sungai belum memenuhi baku mutu yang ditetapkan sehingga justru menjadi pencemar.

Film berdurasi 30 menit ini memperlihatkan betapa banyak warga yang menderita berbagai penyakit sebagai dampak menggunakan air sungai yang tercemar. Selain itu ditampilkan bahwa pencemaran itu tak hanya menimpa manusia tapi juga makhluk hidup lainnya. Alam mengalami kerusakan secara ekologis yang sangat dahsyat. Kondisi seperti ini tak bisa diperbaiki dengan cepat tapi butuh waktu yang panjang. Dampak kerusakannya pun akan berlangsung lama. VCD ini sangat tepat diputar dalam rangka pendidikan lingkungan. Diharapkan dengan melihat tayangan yang ada, orang akan tergerak untuk berperilaku peduli terhadap lingkungan dan akhirnya ikut menjaga kelestarian lingkungan tersebut. MJ

44

Percik

Oktober 2006

S E P U TA R W A S P O L A

Memaknai Kebijakan Nasional di Tingkat Lokal
Sepotong Senyum Dari Pekalongan
" Wah ….setelah sekian lama sulit air, akhirnya kita punya PDAM Desa sendiri!" demikian kata salah seorang warga Desa Kesesi, Njagung pada saat pertemuan warga malam itu dengan Pokja AMPL Kabupaten Pekalongan. Hasilnya membuahkan kesepakatan kerja sama membangun sarana air minum dengan membentuk kelembagaan pengelolaan air minum dari warga setempat. Setiap keluarga rela membayar Rp. 500.000 rupiah untuk sambungan rumah, sementara pemerintah membantu dari sisi bangunan penangkap air. Desa Kesesi adalah salah satu dari sekian ratus desa di 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah yang tengah melaksanakan program DAK ( Dana Alokasi Khusus) Air Bersih. Slamet, Budi dan Umar yang sudah mulai bisa tersenyum melihat hasil kerja keras mereka. Tiga orang ini adalah champion pokja AMPL yang menyadari bahwa "kalau proyek dilaksanakan hanya sesuai dengan petunjuk dari pusat maka dipastikan sarana tersebut pasti bernasib seperti proyek-proyek sebelumnya". Sebaliknya untuk menjadikan proyek ini berkelanjutan harus ada upaya serius walaupun disadari hal tersebut tidak mudah. Terpicu dengan kesadaran ini mereka bertiga didukung oleh anggota pokja lainnya menggagas penggunaan dana pendamping DAK akan dialokasikan untuk penyiapan masyarakat sekaligus untuk diseminasi kebijakan pada desa-desa calon penerima proyek DAK Air Bersih. Pengalaman itu merupakan contoh keberhasilan memaknai kebijakan naFOTO: WIWIT HERIS

sional di tingkat lokal. Mereka tidak semata-mata mengikuti petunjuk proyek dari atas, namun juga dengan keberanian untuk berpikir kritis dan kontekstual disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Tentu saja, andai Dana Alokasi Khusus sebesar Rp.1,3 milyar yang disalurkan APBN untuk Pekalongan dibiarkan begitu saja digunanakan untuk memperbaiki sarana dan peralatan teknis PDAM, nilai kemanfaatannya tidak akan signifikan bagi masyarakat perdesaan yang justru selama ini belum pernah merasakan air bersih mengalir di rumahnya. Refleksi dari fasilitator Cerita sukses dari Pekalongan tidaklah sama dengan di daerah lain. Ini terungkap dalam Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan di empat Kabupaten

selama bulan September 2006. Misalnya di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, data yang terekam dari lapangan menunjukkan angka kenaikan yang sangat signifikan pada pola kerusakan berbagai sarana sistem Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang telah dibangun pemerintah. Eskalasi kerusakan selama 15 tahun terakhir mencapai angka kumulatif sebesar 77 persen dari keseluruhan sarana yang tersedia. Artinya, kini masyarakat pengguna jasa AMPL sudah tidak bisa lagi memanfaatkan sarana yang hanya tersisa 23 persen. Ini menunjukkan Pemda setempat belum memiliki konsep tentang AMPL. Evaluasi yang mencuat dalam lokakarya di Kabupaten Wajo juga tak kurang memprihatinkan. Data yang terungkap menyebutkan terdapat sekitar 50 persen jumlah wilayah kecamatan di

Percik

Oktober 2006

45

S E P U TA R W A S P O L A
kabupaten tersebut yang tidak memperoleh layanan AMPL yang semestinya. Masyarakat kekurangan air untuk berbagai kebutuhan sehari-hari jika musim kemarau tiba. Padahal jika sumber cadangan air baku berupa Danau Tempe di wilayah tersebut bisa dialirkan, tentu hal semacam itu tak terjadi lagi. Demikian juga di Kabupaten Bima dan Dompu, sumber utama persoalan AMPL yakni makin berkurangnya jumlah sumber air baku dari tahun ke tahun di dua wilayah tersebut, akibat berbagai hal, di antaranya penebangan hutan yang tidak bertanggung jawab serta halhal lain berkaitan dengan penataan dan penggunaan ruang wilayah yang tidak terencana secara strategis. Juga ada "penyakit kronis" lain yaitu lambannya birokrasi dan ketiadaan koordinasi antarpihak, yang secara langsung berpengaruh pada minimnya data akurat yang tersedia baik tentang pemetaan, jumlah penduduk dan masyarakat yang potensial membutuhkan dan menjadi pengguna jasa AMPL. Fakta dan data itu menjadi pemicu bagi semua pihak yang terlibat dalam AMPL. Ini pijakan bagi tim WASPOLA untuk meneruskan langkah ke depan. Inti dari pendampingan WASPOLA pada tahun ini adalah meningkatkan kapasitas daerah sehingga mereka dapat menyusun perencanan sesuai dengan kebijakan nasional AMPL. Salah satu indikatornya yakni daerah "berani menawar suatu program" dengan kata lain daerah mempunyai keberanian untuk membuat terobosan mengadaptasi kebijakan dari pusat disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan di wilayahnya masing-masing Meneruskan roadshow dan lokakarya di daerah Proses pendampingan implementasi kebijakan di lapangan menunjukkan bahwa roadshow kepada pimpinan daerah dan anggota dewan merupakan cara jitu untuk lebih cepat mendapatkan dukungan politis. Pada bulan September ini, pengalaman roadshow di Purbalingga menunjukkan keberhasilan. Pemerintah kabupaten memberikan dukungan dengan penyiapan anggaran melalui instruksi Bupati No. 546.2/4 Tahun 2006 untuk gerakan pembangunan sumur resapan, penerapan Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan hal-hal yang berkaitan dengan AMPL. Roadshow yang lain juga telah dilakukan di Kabupaten Wajo, Bima, dan Dompu yang semuanya berlanjut dengan Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Daerah. Sedangkan Propinsi NTT, Kabupaten Brebes, Pemalang serta Propinsi Banten telah dilaksanakan pada bulan sebelumnya. Pokja AMPL Propinsi Banten juga menyatakan bahwa roadshow yang mereka selenggarakan cukup sukses. Sebanyak 17 kabupaten lainnya dijadwalkan akan melaksanakan roadshow di tahun ini. Menguatkan kapasitas daerah dengan MPA-PHAST MPA (Methodology for Participatory Assessment) adalah salah satu pendekatan yang terus dikembangkan WASPOLA untuk melibatkan masyarakat dalam efektifitas perencanaan dan pembangunan sehingga mereka ikut serta dalam pengambilan keputusan. Penerapan MPA-PHAST ini antara lain dilakukan oleh proyek WSLIC-2 di beberapa propinsi di Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus- 1 September 2006 diadakan pelatihan MPA-PHAST di dua regional yaitu Pujut, Lombok Tengah untuk lima propinsi di Indonesia timur diikuti 33 orang peserta dari region Indonesia Timur. Selama workshop peserta mempraktekkan secara langsung bersama warga di dua desa di Lombok Tengah. Kebanyakan peserta berkomentar bahwa pelatihan ini sangat mengasyikkan dan penting untuk mengubah cara berpikir pemerintah daerah tentang pendekatan berbasis masyarakat, sayangnya waktunya terlalu singkat. Lokakarya yang sama kemudian juga diadakan oleh PMD Depdagri di Semarang tanggal 19-22 September dan diikuti oleh 32 peserta dari region Indonesia barat.
FOTO: WIWIT HERIS

46

Percik

Oktober 2006

S E P U TA R W A S P O L A

Membekali pelaksana daerah dengan pelatihan dasar fasilitasi Pada bulan Juli dan Agustus 2006 diselenggarakan Pelatihan Ketrampilan Fasilitasi sebanyak dua angkatan dalam rangka penguatan kapasitas pokja. Pelatihan angkatan pertama diselenggarakan oleh PMD Depdagri di Yogyakarta dengan 32 peserta, sedangkan angkatan ke-2 diselenggarakan WASPOLA di Bali dengan 33 orang peserta dari berbagai propinsi. Latihan ini dipandang penting oleh peserta, karena ketrampilan fasilitasi merupakan faktor yang mendasar bagi para pelaksana kebijakan untuk mengubah sikap yang lebih kondusif, sekaligus mampu menguasai metode yang partisipatif sebagai titik tolak pendekatan yang berbasis masyarakat. Beberapa kabupaten menyatakan minatnya untuk melakukan pelatihan tersebut di wilayahnya sendiri antara lain Kabupaten Pandeglang. Mengangkat isu hulu hilir untuk menyelamatkan ketersediaan air baku Ketersediaan sumber daya air baku yang memenuhi standar menjadi hal yang sangat mendesak untuk kebutuhan pelayanan air minum. Sementara keterbatasan daerah pada kepemilikan sumber daya air baku belum sejalan dengan otonomi daerah yang secara administratif membagi wewenang wilayah tetapi belum pada kepemilikan sumber daya air baku. Hal tersebut sudah diperkirakan akan memicu konflik antarpihak berkepentingan maupun kelompok pengguna antardaerah. Perlu dicari model-model pengelolaan air baku yang efektif sehingga dapat menjamin penyediaan air minum yang berkelanjutan. Idealnya, ada model yang bisa menggambarkan keterlibatan semua pihak, sistem jasa lingkungan yang adil dan menyejahterakan semua termasuk dalam hal ini masyarakat. Lokakarya hulu hilir pertama telah diselenggarakan pada bulan Agustus

Ditemukan beberapa hambatan yang dialami dalam fasilitasi kebijakan antara lain disebabkan pemahaman yang kurang komprehensif dari pengambil keputusan.

presentasikan perencanaan kegiatan di propinsi masing-masing dengan memasukkan aspek komunikasi di dalamnya. Strategi komunikasi untuk mendukung implementasi kebijakan Sampai dengan September 2006 sudah tercatat 49 kabupaten yang difasilitasi tim WASPOLA. Jumlah yang sedemikian banyak tersebut membutuhkan terobosan-terobosan strategi untuk mempercepat proses adopsi dan implementasi kebijakan di lapangan. Dari hasil penjajakan tim komunikasi WASPOLA beberapa waktu lalu di tingkat pusat maupun daerah, ditemukan beberapa hambatan yang dialami dalam fasilitasi kebijakan antara lain disebabkan pemahaman yang kurang komprehensif dari pengambil keputusan menyebabkan lemahnya dukungan, sementara penguasaan skill di bidang advokasi masih kurang dan medianyapun sangat kurang. Di sisi lain lain perhatian publik rendah karena isu AMPL jarang diusung di mass media. Hambatan lain adalah adanya ego sektoral antardinas terkait, yang berpengaruh terhadap rendahnya motivasi daerah terhadap penyusunan renstra pembangunan AMPL. Untuk mengatasi permasalahan di atas, tim WASPOLA telah menyusun enam Strategi Komunikasi dan telah disempurnakan berdasar masukan dari Pokja AMPL dan pihak terkait lainnya. Strategi komunikasi yang dimaksud adalah suatu metode intervensi komunikasi terhadap beberapa elemen kunci implementasi kebijakan sehingga menjadi program yang berkelanjutan. Melalui lokakarya Internal Pokja AMPL pada tanggal 28 September 2006 telah disepakati peran dan tanggung jawab pendanaan yang akan dimasukkan dalam anggaran Pokja AMPL 2007. Dokumen ini akan menjadi panduan untuk pelaksanaan strategi komunikasi ke depan dan akan didistribusikan. (Wiwit Heris)

2006 di di Padang Sumatera Barat dengan mengambil tema "Optimalisasi Keterlibatan Stakeholder Daerah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Baku Lintas Wilayah". Lokakarya serupa juga akan dilakukan di di Propinsi Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Rintisan model yang didapat tersebut akan dibahas secara lebih mendalam lagi di tingkat nasional, sehingga dapat memberikan banyak masukan guna perbaikan kebijakan secara terus menerus. Pertemuan koordinasi nasional Pertemuan koordinasi nasional di tahun ini yang difasilitasi oleh Dirjen Bangda Depdagri berlangsung dengan sangat intensif dan partisipatif. Seluruh propinsi, kabupaten dan kota dampingan WASPOLA dari tahun 2003-2006 hadir dan telah menghasilkan kesepakatan-kesepakatan penting dalam pelaksanaan kebijakan. Tercatat empat daerah dampingan tahun 2004 telah menyelesaikan penyusunan rencana strategis pembangunan AMPL dan telah ditindaklanjuti dalam program secara operasional. Sementara sebanyak delapan daerah dampingan tahun 2005 sedang dalam proses penyelesaian. Dalam pertemuan tersebut peserta mendapatkan materi mengenai "Strategi Komunikasi untuk Mendukung Pembangunan AMPL BM di Daerah" dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Dan di akhir workshop mereka mem-

Percik

Oktober 2006

47

S E P U TA R A M P L

Pelatihan Promosi Kesehatan CWSH
C
ommunity Water Services and Health Project (CWSHP) mengadakan pelatihan Promosi Kesehatan di Surabaya tanggal 20 - 24 September 2006. Pelatihan ini bertujuan untuk koordinasi program antara CWSH dan Program Desa Siaga dari Promosi Kesehatan mengingat ada pendekatan yang sama antara keduanya. Pelatihan ini diikuti oleh petugas Kesehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan dari empat propinsi dan 20 kabupaten yaitu Propinsi Kalimantan Barat (5 kabupaten), Kalimantan Tengah (7 kabupaten), Bengkulu (3 kabupaten), Jambi (5 kabupaten). Pelatihan ini dibuka oleh Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen PP & PL Departemen Kesehatan RI. Ia mengharapkan para peserta pelatihan mampu menyunal dan Strategi Pengembangan Program Promosi Kesehatan, Pengorganisasian Usaha Kesehatan Sekolah, Klinik Sanitasi, CLTS sebagai Salah Satu Penanganan Alternatif Sanitasi, MPAPHAST, Komunikasi dan Pengembangan Mediam, serta Refleksi Diri. Pelatihan ini menghasilkan kesepakatan TUPOKSI sesuai dengan bidang programnya. Program tersebut meliputi empat hal yakni pemberdayaan, PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), promosi kesehatan, dan usaha kesehatan sekolah (UKS). Selain lahir kesepakatan, pelatihan itu menghasilkan beberapa rekomendasi di antaranya perlu pelibatan Departemen Pendidikan Nasional dan UKS dalam program, perlu ada situs khusus di bidang ini, dan pelatihan sanitarian puskesmas. Mahmud Yunus/MJ

sun suatu pendekatan program secara terpadu antara Program Penyehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan serta Usaha Kesehatan Sekolah. Materi yang dibahas antara lain pengenalan proyek CWSH, Kebijakan Nasional Pembangunan Sarana AMPL Berbasis Masyarakat, Kebijakan Nasio-

Orientasi Methodology For Participatory Assessment-Participatory Hygiene And Sanitation Transformation (MPA-PHAST)
irektorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat (PMD) Departemen Dalam Negeri (Depdagri), 19-23 September 2006 mengadakan kegiatan orientasi Methodology for Participatory Assessment-Participatory of Hygiene and Sanitation Transformation (MPAPHAST) di Semarang. Orientasi MPA-PHAST ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan fasilitasi individu-individu yang berkecimpung dalam sektor air minum dan penyehatan lingkungan mengenai penerapan metode MPAPHAST. Dengan kemampuan ini diharapkan peserta bisa meningkatkan efektifitas proses perencanaan, monitoring, dan evaluasi terhadap kegiatan pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan. Kegiatan orientasi ini dibuka oleh

D

Togap Siagian (Kasie Prasarana dan Sarana Permukiman Direktorat Jenderal PMD DepDagri) yang mewakili Dirjen PMD DepDagri, dan Oswar Mungkasa (Kasubdit. Permukiman dan Perumahan Bappenas), serta Gary D Swisher (WASPOLA Leader). Orientasi ini difasilitasi oleh Amin Robianto dan Herry Setyadi dari Citra Darani Jakarta dan Nur Khamid dari Meda Parahita Lumajang. Metodologi dalam MPA-PHAST meliputi beberapa tahapan yaitu tahap persiapan, perencanaan, implementasi dan monev yang tiap tahapannya saling berpengaruh satu sama lain dan terbagi atas tujuh variabel yaitu: variabel kesinambungan efektifitas, variabel efektifitas penggunaan, variabel ketanggapan program terhadap kebutuhan masyarakat, variabel partisipasi dalam pengelolaan, variabel partisipasi masyarakat

melalui pemberdayaan, variabel dukungan kelembagaaan dan variabel kebijakan. Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 36 peserta selain diisi materi berupa kerangka MPA-PHAST diikuti dengan pengenalan aspek-aspek apa saja yang memengaruhi kesinambungan pembangunan AMPL serta praktek lapangan menggunakan piranti MPA-PHAST. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan dikirim ketiga desa yang berbeda yaitu Desa Gondoriyo, Desa Genting dan Desa Bedono. Ketiga desa tersebut berada di wilayah Ambarawa, tepatnya masuk ke dalam Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Setelah melakukan praktek lapangan para peserta merasakan bahwa ternyata tidak mudah berhadapan dengan masyarakat. rie

48

Percik

Oktober 2006

S E P U TA R A M P L

Sosialisasi Kepedulian SPAM bagi Siswa
"H
ari genee masih boros air?? … Please dech!!" Begitu slogan yang pembuka yang disampaikan kepada siswa SMU Dharma Praja Denpasar pada acara Sosialisasi Kepedulian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bagi Siswa Pelajar SMU 2006, 22 September 2006 lalu. Acara ini merupakan hasil kerja sama Direktorat Pengembangan Air Minum Departemen Pekerjaan Umum dan PDAM Kota Denpasar. Kegiatan ini bertujuan memberi penjelasan tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan menanamkan kesadaran atas pentingnya kelestarian sumber daya air. Dua sekolah menjadi sasaran program ini yakni SMU Dharma Praja dan SMUN 8 Denpasar. Sebanyak 55 siswa SMU Dharma Praja dan 90 siswa SMUN 8 Denpasar mengikuti program ini dengan antusias. Siswa melakukan pengukuran kualitas air sungai yang terletak di dekat sekolahnya. Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan peralatan yang khusus untuk pendidikan, siswa SMU Dharma Praja menyimpulkan kondisi kualitas air sungai Badung berada dalam keadaan normal. Data yang diperoleh, pH air berada pada kisaran 8 dengan tingkat kekeruhan diatas 100 JTU (Jackson Turbidity Unit), jumlah oksigen terlarut rata-rata 4 mg/l. Dengan kondisi seperti ini, Sungai Badung berada dalam kondisi sedang, namun untuk parameter kekeruhan sudah berada pada kondisi buruk. Sedangkan analisa Tukad Ayung yang dilakukan oleh siswa SMUN 8 mengindikasikan sungai tersebut masih layak digunakan sebagai sumber air baku. Sungai Tukad Ayung masih digunakan sebagai sumber air baku oleh PDAM Denpasar di IPA Blusung. Siswa juga diajak berkeliling melihat sumber air baku serta pengolahannya di instalasi pengolahan air Blusung PDAM Kota Denpasar. Sebelumnya mereka juga diperkenalkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan air minum yaitu PP 16/ 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum dan KEPMENKES 907/ MENKES/ 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini mereka bisa menjadi duta SPAM yang sadar akan pentingnya air sehingga mampu mengajak kerabat dan teman terdekatnya untuk mensosialisasikan bagaimana kita harus berperilaku terhadap air. Mereka juga distimulasi untuk membuat usulan program kreatif yang berkaitan dengan usaha kampanye air dengan bentuk apapun. Dalam kesempatan ini pula, Radio CDBS Bali yang turut serta dalam acara ini, bersedia menjadi media remaja peduli lingkungan khususnya masalah air. MJ

enghadapi kompleksitas permasalahan bidang air minum dan sanitasi yang harus disampaikan kepada pemerintah, masyarakat dan media oleh humas dari institusi-institusi yang terkait di sektor air minum dan sanitasi, Water and Sanitation Network atau Jaringan Air dan Sanitasi bekerja sama dengan Forum Komunikasi Air Minum Indonesia (FORKAMI) mengadakan Workshop MOVE (Moderation and Visualization of Group Event) di Yogyakarta, 4-7 September 2006. MOVE adalah panduan internasional untuk para PR dan pendidikan dewasa dalam meningkatkan keahlian moderasi dan visualisasi. Workshop ini bertujuan mem-

Workshop Moderation And Visualization For Group Event (MOVE) M
berikan keahlian moderasi dan visualisasi yang sangat dibutuhkan oleh praktisi PR suatu institusi untuk merangkum suatu permasalahan atau kendala yang ada saat ini di bidang air minum dan sanitasi untuk kemudian ditindaklanjuti kepada pemerintah, masyarakat dan media dalam kemasan yang baik sehingga isu kritis yang sebenarnya dapat tersampaikan dengan jelas. Kegiatan ini diikuti oleh tiga puluh peserta dari POKJA AMPL, Badan Regulator, PDAM Kota Bogor, PDAM Kabupaten Bogor dan Yayasan Satunama. Workshop ini dibuka oleh Drs. Abdullah Muthalib, MM dan dimoderasi oleh Manfred Oepen dari Water

and Sanitation Network dan Frans Tugiman dari Yayasan Satunama. Metode MOVE telah diujicobakan di banyak negara termasuk Indonesia. Metode ini direkomendasikan oleh GTZ, USAID, World Bank, dan banyak organisasi dunia lainnya. MOVE menggunakan prinsip kerja sama dan partisipasi, visualisasi, dan evaluasi dan orientasi pada masalah. Manfred Oepen dan Frans Tugiman mengajarkan bahwa untuk menjadi seorang moderator MOVE, seseorang haruslah mampu memimpin audience tanpa harus mendominasi. Mereka harus bisa menghargai tiap gagasan dan pengalaman yang dilontarkan oleh audience. rie

Percik

Oktober 2006

49

f P U S TA K A A M P L BUKU UMUM

NATIONAL PROFILES ON CHILDRENS HEALTH AND THE ENVIRONEMENT: ASSESSING READINESS FOR
Penerbit: World Health Organization
IMPROVING ENVIRONMENTAL HEALTH PROTECTION AND CHEMICAL SAFETY FOR CHILDREN.

LAPORAN AKHIR PEKERJAAN KAJIAN EKONOMI DAMPAK INVESTASI SEKTOR AIR TERHADAP PEREKONOMIAN DI INDONESIA.
Penerbit: Dirjen Cipta Karya, DPU, Jakarta, 2006

LAPORAN PELATIHAN KETRAMPILAN DASAR FASILITASI: DALAM RANGKA IMPLEMANTASI KEBIJAKAN NASIONAL AMPL BERBASIS MASYARAKAT.
Penerbit: Dirjen PMD Departemen Dalam Negeri Indonesia, Jakarta, 2006

EKO HIDRAULIK PEMBANGUNAN SUNGAI: MENANGGULANGI BANJIR DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN WILAYAH SUNGAI. (EDISI 2).
Penulis: Maryono, Agus. Yogyakarta Penerbit: Program Magister Pascasarjana, UGM, 2005

P E D O M A N
BAD DAFTAR STANDAR BIDANG KONSTRUKSI DAN BANGUNAN SIPIL: STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI), PEDOMAN TEKNIS DAN PETUNJUK TEKNIS.
Penerbit: Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Dan Pengembangan, Jakarta, 2004.

PICTURE BOOK THE GOOD & THE INFRASTRUCTURE : ROAD & BRIDGE (VOL.1).
Penulis: Hartmann, Ekart & Unger, Heinz. Penerbit: World Bank, Jakarta, 2006

PERATURAN PERUNDANGAN

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 518/KMK.01/2005 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE PENGELOLAAN RISIKO ATAS PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR INDONESIA.
Penulis: Departemen Keuangan. Penerbit: Departemen Keuangan, Jakarta, 2005

PEDOMAN/PETUNJUK TEKNIK DAN MANUAL, EDISI PERTAMA, DESEMBER 2002: BAGIAN: 6 (VOL. II & III) AIR MINUM PERKOTAAN (SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PERKOTAAN).
Penerbit: Departemen Kimpraswil, Badan Penelitian Dan Pengembangan, Jakarta, 2002.

PEDOMAN/PETUNJUK TEKNIK DAN MANUAL, EDISI PERTAMA, DESEMBER 2002: BAGIAN: 5 (VOL. I) AIR MINUM PERDESAAN (SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PERDESAAN).

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR.
Penulis: Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, DPU, Jakarta 2005

Penerbit: Departemen Kimpraswil, Badan Penelitian Dan Pengembangan, Jakarta, 2002.

PEDOMAN/PETUNJUK TEKNIK DAN MANUAL, EDISI PERTAMA, DESEMBER 2002: BAGIAN: 6 (VOL. I) AIR MINUM PERKOTAAN (SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PERKOTAAN).
Penerbit: Badan Penelitian Dan Pengembangan, Departemen Kimpraswil, Jakarta, 2002

WATERS ACT 1920 (ACT 418) & WATER SUPPLY (FEDERAL TERRITORY OF KUALA LUMPUR) ACT 1998 (ACT 581)".
Penulis: International Law Book Services, 2001 Penerbit: International Law Book Services, Malaysia

MAJALAH
ACCESS
Edisi 8 Juli/Agustus 2006. Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme.

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 48 TAHUN 1996 TENTANG BAKU TINGKAT KEBISINGAN (DECREE OF THE STATE MINISTER OF ENVIRONMENT NUMBER: KEP-48/MENLH/11/1996 REGARDING NOISE LEVEL STANDARD)
Penerbit: Indonesia. Menteri Negara Lingkungan Hidup

LAPORAN PROYEK
LAPORAN PELAKSANAAN PELATIHAN TEKNIS SANIMAS, SURABAYA 4 - 14 JULI 2006 TA 2006".
Jakarta, Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pembinaan dan Pengendalian Prasarana dan Sarana Dasar Pedesaan, 2006

JOURNAL ISU - ISU GLOBAL USA: MELINDUNGI LINGKUNGAN 30 TAHUN KEMAJUAN AMERIKA SERIKAT.
Washington, D.C. eJournal USA. 2005

BULETIN CIPTA KARYA

No. 08/Tahun IV/2006.

50

Percik

Oktober 2006

A G E N DA
TA N G G A L 30 28 01 30 01 4-7 4-6 04 5-7 06 07 08 9-13 14 18 19-23 19-21 19 20-23 19-20 21 21 28 29 30 2-4 2-7 03 06 9-13 11 12 12 13 16 17 17 18 19 19 BULAN Agustus-1 September Agustus-1 September September Agustus-1 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober K E G I ATA N Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan AMPL-BM di Bandung Pelatihan MPA PHAST di Mataram Pertemuan Operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Lombok di NTB Rakor Kebijakan Nasional AMPL-BM di Makassar ISSDP Inception Report Pre-Workshop di Jakarta Lokakarya Moderation and Visualization of Group Event-MOVE (FORKAMI) di Yogyakarta Pelatihan Teknis WSS Untuk Propinsi Jabar, Sulsel dan Sulbar (WSLIC) di Surabaya Rapat Project WASPOLA2 & Sustainable Exit Strategy di Jakarta Pertemuan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM di Makassar Presentasi "Innovative Decision Making for a Sustainable Management of Water" (DIMSUM) di Jakarta Pelatihan Pengelolaan Data AMPL / SUSENAS 2006 di Jakarta Workshop Inception Report ISSDP di Jakarta Lokakarya ProAir Sumba Barat, Sumba Timur dan NTT di Kupang Sosialisasi Renstra di Solok Workshop AMPL-BM di Dompu Orientasi MPA-PHAST di Semarang Workshop Operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Bima Roadshow dan Workshop Operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Purbalingga Pelatihan Promosi Kesehatan CWSH di Surabaya Sosialisasi Renstra Kebijakan Nasional AMPL-BM di Banten Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Wajo Rapat Pembangunan Sarana Air Bersih (ProAir) di Sumba Barat Rapat Strategi Komunikasi WASPOLA2 di Jakarta Rakor Kegiatan AMPL di Jakarta Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM dan Roadshow di NTT Lokakarya Instrumen Pengelolaan Sumber Daya Air di Jakarta Uji Coba Lapangan Data SUSENAS di Palembang, Semarang, Minahasa, Kupang, Lombok Barat dan Ternate Seminar Akses dan Peran Masyarakat Lokal Dalam Penyediaan Air Minum di Jakarta Pertemuan Regional Initiative on Environment and Health di Jakarta Lokakarya Renstra Pembangunan AMPL-BM di Bukit Tinggi Sumatera Barat Persiapan TOT Regional dan Petemuan Nasional Scaling Up CLTS di Jakarta Roadshow dan Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Kupang Pertemuan Strategy Paper "Financing Piped Water Service" di Jakarta Rapat ProAir di Jakarta Pertemuan Percepatan Pembentukan dan Pendirian BPAL di Bali Persiapan Apraisal Western Java Environmental Management Project (WJEMP) di Jakarta Pertemuan Kebijakan Subsidi dan Public Service Obligation di Jakarta Rapat Uji Coba Kuesioner BPS di Jakarta Koordinasi Rencana Kerja WASPOLA dan POKJA AMPL di Jakarta Koordinasi Jaringan Komunikasi AMPL di Jakarta

Percik

Oktober 2006

51

K L I N I K I AT P I

Pertanyaan dapat disampaikan melalui redaksi Majalah Percik Kontributor: Sandhi Eko Bramono (Sandhieb@yahoo.com) Lina Damayanti (Ldamayanti@yahoo.com)

Majalah Percik bekerja sama dengan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia, membuka rubrik Klinik. Rubrik ini berisi tanya jawab tentang air minum dan penyehatan lingkungan.

Melindungi Sumber Air Sekitar TPA
Tanya: Saya mau mencari tahu teknologi atau cara yang bisa dilakukan terhadap wilayah atau daerah dengan kondisi terletak berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dalam jarak 10 m agar air bersihnya dapat terlindungi dari akibat pencemaran tersebut? Yang kedua, bagaimana caranya apabila daerah rumah warga yang berdekatan dengan pantai tersebut memiliki air bersih yang asin dan teknologi tepat guna bagi daerah seperti itu apa? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkam banyak terima kasih
chris tinto <tintochris@yahoo.co.uk>

pat pencemaran air tanah, maka tanah dan air tanah tersebut harus diremediasi dulu sebelumnya. Ini merupakan suatu teknik yang sangat mahal, karena di Amerika, untuk membersihkan suatu tempat yang tercemar oleh landfill, bisa menghabiskan biaya sekitar US$ 125 juta/lokasi. Ini adalah tindakan kuratif.

Jawab: Untuk kawasan-kawasan yang kemungkinan tercemar (seperti di sekitar TPA), harus diakui, akan mengalami kesulitan akses terhadap air bersih, jika sumbernya adalah air tanah. Perlindungan tanah dan air tanah yang memadai untuk kontsruksi TPA, sudah seharusnya dilakukan untuk mencegah pencemaran tanah dan air tanah. Ini adalah upaya preventif. Namun jika hal ini tidak memungkinkan untuk dilakukan, tentu saja harus dilakukan upaya akses terhadap air bersih dari sumber yang lainnya (misalnya dengan sistem perpipaan yang berasal dari IPA (Instalasi Pengolahan Air) yang sumbernya bukan air tanah di sekitar TPA. Tapi jika memaksakan diri untuk mengonsumsi air tanah dan jika terda-

Air tanah di sekitar pantai sangat mungkin untuk terintrusi air laut. Hal ini dapat dipecahkan dengan upaya preventif, yakni dengan melakukan penyedotan air tanah dalam laju alir (debit) yang telah ditetapkan (tidak berlebihan).
Teknologi yang umumnya digunakan adalah dengan Passive Reactive Barriers. Teknologi ini menggunakan semacam tembok penghalang dalam aliran air tanah. Tembok tersebut dilapisi dengan semacam chelator dan oksidator untuk mengikat dan mengoksidasi senyawasenyawa toksik dalam air lindi sampah. Oleh karenanya, upaya preventif lebih baik ketimbang upaya kuratif. Atau kita harus kembali menggunakan air yang tidak disuplai dari air tanah sekitar misalnya dengan sistem perpipaan dengan sumber air yang diambil dari daerah lain yang tidak tercemar. Untuk pertanyaan kedua, air tanah di sekitar pantai sangat mungkin untuk terintrusi air laut.

Hal ini dapat dipecahkan dengan upaya preventif, yakni dengan melakukan penyedotan air tanah dalam laju alir (debit) yang telah ditetapkan (tidak berlebihan). Karena jika terlalu tinggi (berlebihan), maka intrusi air laut akan terjadi, dan air akan berasa asin (ada masukan air laut). Jika memaksakan diri untuk menggunakan air tanah, ada teknologi yang bisa digunakan pada saat ini misalnya dengan teknologi Reverse Osmosis. Teknologi ini menggunakan prinsip menggunakan membran berpori kecil, dengan tekanan tinggi, untuk dapat menolak senyawa garam - garam yang terlarut/solution. Hanya saja biaya produksi airnya juga cukup mahal (sekitar US$ 2/m3). Sebagai perbandingan, air permukaan rata-rata di Indonesia diolah sekitar US$ 0.25/m3. Jika tidak mau menggunakan ini, terpaksa harus mengambil air dengan sistem perpipaan yang disuplai dari sumber lain di luar pantai. Kalau memang hal ini masih tidak memungkinkan, pemerintah dapat mendorong pemanfaatan teknologi RO dengan menerapkan subsidi pada kawasan-kawasan ini agar biaya investasi maupun biaya pengoperasian-pemeliharaan-perawatannya (akhirnya untuk menghitung biaya produksi / m3 air) terjangkau. Intinya adalah teknologi yang dipilih selain andal, harus juga terjangkau (technically achievable and economically affordable). Sandhi

52

Percik

Oktober 2006

KO S A K ATA
Piezometric head line
Disebut juga Hydraulic grade line-Garis potensi tekanan hidrolis (aliran) air pada saluran terbuka. Dalam prakteknya dapat dikatakan sebagai garis permukaan aliran.

Pit latrine (Jamban cemplung)
Salah satu jenis kakus dengan pelat jongkok di atas lobang bor berdiameter 20-30 cm dan berkedalaman 3-6 meter vertikal ke dalam tanah (tetapi tidak boleh melewati level air tanah). Dibangun dengan struktur atas berupa pelat beton ditambah pelindung struktur nonpermanen. Lobang kakus ditimbun hingga penuh dengan tanah jika sudah terisi tinja hingga setinggi 60 cm, sebelum pindah ke lobang yang baru.

Pit privy
Salah satu jenis kakus dengan pelat jongkok di atas lobang (cubluk) seluas 1,25 m2 dan kedalaman lebih kurang 1,5 m. Sekeliling lobang diselubungi dengan kayu. Dilengkapi dengan ventilasi untuk mengeluarkan gas yang terbentuk. Lobang cubluk harus diusahakan tidak menampung air pembilas.

Plain aeration
Proses aerasi terhadap air limbah yang akan diolah tanpa melibatkan lumpur aktif. Dengan adanya gelembung udara menerpa limbah, diharapkan terjadi proses koagulasi antara koloid dengan material berlemak lainnya. Biasanya dilakukan di awal pengolahan sebagai proses pre-aerasi.

Plain chlorination
Pengolahan air baku dari sumber air permukaan yang berkualitas fisis dan kimiawi (relatif) cukup baik (misalnya mata air, artesis dsb) sehingga yang diperlukan hanya proses khlorinisasi (disinfeksi) saja.

Plain concrete pipe
Buis beton tanpa tulangan-Pipa beton tanpa pembesian yang biasanya diaplikasikan untuk pipa berdiameter tidak lebih dari 24 inchi, serta yang akan menerima pembebanan tidak terlalu besar.

Plain sedimentation
Unit pengolahan air berupa bak pengendap (sedimentasi) yang hanya mengandalkan gaya gravitasi terhadap zat-zat (kotoran) yang berukuran besar di dalam air yang akan diolah (tanpa bantuan plat/tabung pengendap). Biasanya digunakan sebagai bak pengendap pendahuluan (Pre-sedimentation).

Plant (Instalasi)
Satu kesatuan sistem terdiri atas unit-unit yang bekerja saling menunjang dan bertujuan untuk memproses/menghasilkan sesuatu.

Plant layout (Tata letak instalasi)
Pola tata letak (susunan) unit-unit/komponen-komponen suatu instalasi (pengolahan) pada sebidang/seareal/sekawasan lahan rencana lokasi.

Plate settler (Plat pengendap)
Plat yang dipasang pada unit sedimentasi dengan posisi tertentu yang bertujuan antara lain untuk mengurangi turbulensi aliran air yang akan diolah dalam rangka memaksimalkan kemampuan pengendapan unit pengolah tersebut.

Plug-flow
Salah satu model aliran dalam bangunan (pengolahan) air berbentuk lonjong, di mana perbandingan panjang tabung dengan lebarnya sangat besar. Aliran air olahan masuk dan keluar dari bagian yang sama. Pada aliran ini besaran yang sangat berpengaruh adalah waktu detensinya.
Dikutip dari Kamus Istilah dan Singkatan Asing Teknik Penyehatan dan Lingkungan Penerbit: Universitas Trisakti

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful