You are on page 1of 19

CSR Indonesia

N e w s l e t t e r
Vol. 1 Minggu 39 2007

media@csrindonesia.com www.csrindonesia.com

Dari Redaksi

Ramadan masih mewarnai newsletter kali ini. Bukan sekadar ikut-ikutan merayakannya, namun memang ada banyak hal yang bisa direnungkan di bulan suci ini berkaitan dengan perilaku perusahaan—atau setidaknya para pemodal dan eksekutifnya. Kebetulan sekali, dua minggu lalu sebuah jurnal CSR terkenal, Business and Society Vol. 46/3 September 2007 tiba di meja redaksi. Salah satu isinya yang paling menggelitik adalah tulisan Graafland dkk. yang berkesimpulan bahwa agama-agama monoteistik Ibrahimi memiliki pengaruh yang positif pada perilaku bisnis. Penelitian empiris yang mereka lakukan menunjukkan bahwa dibandingkan eksekutif atesitik dan panteistik, mereka yang monoteistik lebih menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab. Editorial kali ini mengutip peenlitian tersebut, dan kemudian menekankan pada salah satu agama Ibrahimi itu, yaitu Islam. Islam adalah agama yang menyatakan dirinya sebagai rahmat kepada seluruh alam, bukan sekadar rahmat bagi pemeluknya. Karenanya, ketika teks Quran dan hadith dibedah—oleh mereka yang Muslim maupun bukan—maka akan didapati banyak teks yang menekankan pada keseimbangan, keadilan dan tanggung jawab untuk memeliharanya. Selain menjadi tema Editorial kali ini, hal tersebut juga ditekankan oleh Endro Sampurna dalam Publikasi A+. Tulisan lainnya yang disajikan adalah dari Pamadi Wibowo yang menyoroti betapa pentingnya hubungan dengan pemangku kepentingan, dan karenanya sangat perlu bagi perusahaan memiliki kebijakan yang komprehensif selain juga peta pemangku kepentingan yang lengkap dan selalu dimutakhirkan. Sementara, Jalal menuliskan pemikiran CSR dari Michael Blowfield yang kebetulan dikenalnya. Blowfield yang kini adalah profesor di Universitas Cambridge memang pernah bermukim 10 tahun di sini. Selain sajian “tajil” berupa tiga tulisan dari kami, pembaca juga masih akan bisa menikmati tulisan dari Rokhmin Dahuri mengenai pemanasan global yang hanya bisa dihindari dampak-dampak terburuknya manakala kita semua bersepakat untuk mengusung pembangunan berkelanjutan sebagai moda berpikir dan bertindak. Berita CSR, seperti biasa, juga tersedia. Sebagai hidangan penutup, Pamadi kembali hadir dengan timbangan atas buku Natalia Yakovleva, Corporate Social Responsibility in the Mining Industry. Semoga apa yang kami sajikan bisa berguna bagi perkembangan CSR di tanah air.

Tentang A+ CSR Indonesia

A+ CSR Indonesia hadir sebagai social enterprise yang menghimpun berbagai keahlian profesional dalam isu-isu seputar CSR. Dengan keahlian itu, berbagai permasalahan yang ada dalam pelaksanaan CSR dapat diidentifikasikan dengan tepat dan peluang bagaimana melakukan perbaikan atasnya dapat direkomendasikan. Di sisi lain A+ juga menghimpun keahlian yang sama untuk memajukan konsep CSR yang substansial, agar khalayak dapat membedakannya dengan upaya menggunakan konsep tersebut untuk kepentingan di luar pembangunan berkelanjutan. A+ memang bertekad menjaga keseimbangan antara kritisisme terhadap kinerja sosial dan lingkungan perusahaan dengan optimisme rasional untuk perbaikannya.

Daftar Isi
Editorial Agama sebagai Sumber Nilai-nilai CSR .................... Berita CSR..................................................................... Info Layanan A+…....…………………………………. Publikasi A+ Memahami Hubungan dengan Pemangku Kepentingan.................................................................. Belajar CSR dari Michael Blowfield............................. Sinergi CSR dengan Perspektif Islam.......................... Artikel Pilihan Global Warming and Sustainable Development……... Informasi Buku CSR dalam Industri Tambang: Berkaca dari Belahan Dunia Lain ................................................................... 2 3-6 7

8 10 13 15 17

Green Ads Space
Untuk mengiklankan produk yang ramah sosial dan lingkungan, sponsorship, link ke laporan CSR perusahaan, agenda kegiatan CSR (pelatihan, seminar, lokakarya, ekspo) atau lainnya yang relevan silakan kontak ke media@csrindonesia.com.

A+ CSR Indonesia
Redaksi
Pamadi Wibowo (pamadi.wibowo@gmail.com) Jalal (jalal.csri@gmail.com) Taufik Rahman (rahman.taufik@gmail.com) Irpan Kadir (irpan.kadir@gmail.com) Reza Ramayana (reza.ramayana@gmail.com) Endro Sampurna (endara.sampurna@gmail.com) Website & Publikasi (media@csrindonesia.com)

Rukan Permata Senayan No A/6, Jl. Tentara Pelajar, Patal Senayan, Jakarta 12210 T: +62 21 57940610 F: +62 21 57940611

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

1

Editorial Agama sebagai Sumber Nilai-nilai CSR
Pembicaraan mengenai agama biasanya menjadi marak ketika ada peristiwa keagamaan tertentu diperingati. Karenanya, banyak orang di Indonesia kemudian juga bergiat membincangkan agama di bulan SeptemberOktober ini, tentu berkaitan dengan datangnya Ramadan buat umat Islam. Semoga saja ini bukan merupakan bukti kesalehan temporal belaka. Kebetulan pula, di Bulan September ini jurnal terkemuka dalam bidang CSR Business and Society Vol. 46/3 mengeluarkan sebuah artikel yang sangat menarik dari Graafland, dkk. berjudul ”Conceptions of God, Normative Convictions and Socially Responsible Business Conduct.” Kalau biasanya CSR dilihat dari sudut pandang ekonomi dan etika serta dianalisa dalam satuan organisasi, artikel ini hendak melihat bagaimana pengaruh kepercayaan religius terhadap tindakan para eksekutif dalam berbisnis. Hasilnya sangat menarik. Ternyata para eksekutif yang berasal dari tradisi agama-agama monoteistik Ibrahimi (Yahudi-Kristen-Islam) memiliki perilaku bisnis yang paling berorientasi tanggung jawab sosial, relatif jauh meninggalkan mereka yang ateistik serta panteistik. Ini merupakan bukti terbaru bahwa kepercayaan atas religi tertentu memang memiliki pengaruh atas perilaku bisnis. Kalau banyak pihak berpendapat bahwa ketika sudah terjun ke bisnis agama setiap orang adalah sama—yaitu penghambaan terhadap uang—ternyata anggapan itu harus direvisi. Agama memiliki pengaruh dalam cara orang berbisnis, tegas Graafland, dkk. Namun demikian, ada banyak studi sebelumnya yang mendapatkan hasil yang berbeda. Ada yang mendapatkan bukti bahwa religiositas tidalah menjamin perilaku bisnis yang lebih bertanggung jawab sosial, malahan—ini menyedihkan—ada yang mendapat bukti bahwa religiositas dan tanggung jawab sosial bisa berbanding terbalik. Studi Pava (2003) mengungkapkan bahwa kepercayaan tertentu bisa membuat orang bersikap pasif, radikal dan koersif, dan ini bisa tercermin pula dalam sikap mereka ketika berbisnis. Tentu saja, ketiga kesimpulan mengenai hubungan itu (positif, netral dan negatif) mungkin saja ditemukan pada masyarakatmasyarakat yang menjadi sampel penelitian. Sudah banyak penelitian dilakukan, namun sebagian besar ternyata hanya terkait dengan perilaku eksekutif di Amerika Serikat yang tentu saja tidak bisa mewakili warga dunia lainnya. Menurut Parvez dan Ahmed (2004), pengaruh nilai-nilai positif agama kini sedang mengalami pengikisan yang luar biasa hebat karena cara pandang atas dunia yang materialistik-sekular. Karenanya, menjadi tidak begitu mengherankan ketika mereka menemukan bahwa di negara-negara Muslim, CSR malahan terlihat sangat lemah. Hal ini karena Muslim tidak lagi memegang Islam sebagai sumber-sumber nilai yang dianut mereka—terutama ketika sedang menjalankan bisnis. Keadaan ini sungguh menyedihkan, karena tidak saja menerpa Islam, melainkan juga agama-agama Ibrahimi lainnya. Schwartz, Tamari dan Schwab (2007) menyatakan bahwa tidak jelas benar berapa proporsi investor Yahudi yang bersedia untuk memikirkan apakah investasinya sesuai dengan nilai-nilai Yahudi, namun kemungkinan angkanya di bawah investor Kristen dan Muslim. Kalau pertanyaan penting ”apakah agama memang memiliki pesan yang sejalan dengan CSR?” diajukan, maka hasilnya agak mudah ditebak. Ambil contoh Islam. Kamla, Gallhofer dan Haslam (2006) menyimpulkan bahwa “Islamic principles constitute a love of nature, and of people: the self and others, and an awareness of the importance of balance and the need to take reasoned actions to preserve this balance.” Kesimpulan ini ditarik dari puluhan ayat Quran, teks Hadith dan pendapat-pendapat ulama tradisional dan modern. Kalau keseimbangan adalah salah satu nilai paling penting dalam Islam, maka kesimbangan tujuan ekonomi-sosial-lingkungan dalam berbisnis seharusnya bukanlah hal yang asing bagi umat Islam. Dengan studi literatur yang komprehensif, Zinkin dan Williams (2006) lagi-lagi sampai pada kesimpulan yang kurang lebih sama: Islam bukan saja cocok dengan prinsip-prinsip dalam UN Global Compact, melainkan jauh melampauinya. Cukuplah bukti bahwa CSR adalah cara berbisnis yang islami. Sayangnya, perusahaan yang memiliki kinerja CSR yang tinggi—termasuk yang mengikatkan diri dalam Global Compact—bisa dihitung dengan jari. Indonesia adalah negara yang penduduknya majoritas Muslim, dan kondisi yang sama juga terjadi di sini. Sebagian besar perusahaan masih beroperasi dalam tatacara yang menafikan keseimbangan, keadilan dan kelestarian lingkungan dan sosial. Hal tersebut harus diubah dengan sungguh-sungguh, atau kita akan menciptakan neraka kita sendiri. Pendapat yang menyatakan bahwa “perusahaan tidak perlu masuk surga” adalah benar, namun bukankah para pemodal dan eksekutifnya akan menghadiri persidangan akuntabilitas dengan transparensi maksimum di akhirat kelak? Setiap kita pasti menginginkan surga di dunia dan akhirat. Buat para pemodal dan eksekutif, hanya dengan menjalankan bisnis yang bertanggung jawab sosial saja maka timbangan amal akan memberat. Kalau tanggung jawab itu diabaikan, timbangan dosalah yang akan memberat. “Verily, all things have We created in proportion and measure” (Quran 54: 49).

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

2

Berita CSR Percepatan Penghapusan Bahan Kimia Perusak Ozon Disetujui
22 September 2007 - Sumber : http://ww.ghabo.com/lingkungan/article/4411 Montreal - Pertemuan antar-pemerintah di Montreal, Kanada, Jumat (21/9), mencapai kesepakatan ‘bersejarah’ untuk mempercepat penghapusan bahan pembuat tipis ozon, kata jurubicara PBB. "Kami mencapai kesepakatan bersejarah," kata Nick Nuttal, jurubicara Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) seperti dilansir AFP. Negara berkembang dan maju telah sepakat untuk mempercepat tindakan guna menghapus secara bertahap HCFC (hydrochloroflurocarbon), bahan kimia berbahaya bagi lapisan ozon, kata Nuttal. Perincian kesepakatan itu direncanakan dibeberkan Sabtu oleh Menteri Lingkungan Hidup Kanada John Baird dan Direktur UNEP Achim Steiner pada suatu taklimat, katanya. "Semua unsur persetujuan itu masih diselesaikan tapi negara maju dan berkembang telah mencapai kesepakatan mengenai tindakan yang dipercepat mengenai HCFC demi keuntungan lapisan ozon dan terutama keuntungan perubahan cuaca," katanya. "Para ahli dan perunding masih menuntaskan perincian mengenai jumlahnya, tapi mereka tampaknya telah sepakat mengenai jumlah yang luas sekarang," kata Nuttal. Semua peserta telah bertemu di Montreal sejak Senin guna mengubah jadwal bagi penghapusan HCFC berdasarkan Protokol Montreal 190-negara, yang disahkan pada September 1987. Kalendar saat ini menyerukan negara maju untuk berhenti menggunakan bahan anti-ozon yang ditemukan di banyak lemasi es, alat pemadam dan hairspray sampai 2030, dan negara berkembang akan mengikutinya sampai 2040. Protokol itu dirancang untuk mengobati lubang yang menganga pada selimut molekul oksigen itu, yang melindungi kehidupan hewan dan tanaman dari sinar berbahaya ultraviolet Matahari. Luka pada atmosfir Bumi itu, yang tahun lalu diperkirakan lebih dari 29,5 juta kilometer persegi, diduga disebabkan oleh polutan yang lamban terserap di udara. Sembilan-puluh lima persen sasaran lama bagi penghapusan CFC (chlorofluorocarbon) paling lambat sampai 2010 sudah terpenuhi. Tetapi sebanyak 88.000 ton bahan pembuat tipis ozon maish diproduksi setiap tahun, 85 persen di antaranya di dunia industri. Dan para hali memperkirakan bahwa sebanyak 10.000 sampai 15.000 ton lagi dihasilkan secara gelap.

Firms Sign Up for Carbon Rating
21September 2007 - Sumber : http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/7002040.stm Nine leading companies including Coca-Cola and Cadbury have signed up to a scheme to measure and reduce the carbon footprint of certain products. They will measure the ecological impact of each product from the sourcing of raw materials through to disposal. Halifax, Muller and the makers of Andrex toilet tissue are also involved. The firms will use a draft product standard which is being developed by the government, Carbon Trust and BSI British Standards. Cadbury Schweppes will be calculating the embodied greenhouse gas emissions during the life cycle of a Dairy Milk bar, while Coca-Cola will consider the carbon footprint of both a sparkling and still drink from its product range. Kimberly-Clark intends to measure the environmental impact of Andrex Toilet Tissue and Huggies nappies. Low Carbon Britain The remaining companies and their products are: Aggregate Industries - Hard landscaping products (paving stones etc) The Co-operative Group - 200g and 400g punnet strawberries Halifax - Halifax Web Saver account Marshalls - Hard landscaping products (paving stones etc) Muller Dairy (UK) Limited - One type of yoghurt Scottish & Newcastle - Fosters lager and Bulmers cider Climate Change Minister Joan Ruddock said it was encouraging that so many top companies were "stepping up to the plate" on the issue of climate change. "The take-up from business of the Carbon Trust's scheme shows that there's real appetite and willingness to firstly understand, and secondly to reduce the impact that their products have on our planet." Tom Delay, chief executive of the government-funded Carbon Trust, said consumers were demanding more information on the climate change impact of products. "The unprecedented level of interest we have had in this initiative makes me confident that by working with manufacturers and producers to reduce indirect carbon emissions, we can move the UK another step closer to a low carbon economy," he said.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

3

'Complex Task' Alex Cole, Cadbury's corporate responsibility director, said the company had already been looking at its carbon footprint. "Whether it's British cows producing fresh milk or Ghanaian farmers growing cocoa, there's a whole bunch of activities that go into making a bar of Cadbury Dairy Milk," he said. "This process is helping us understand where our greatest energy impacts are - so we can bring them down as part of our Purple Goes Green project to do our bit for climate change". Paul Smith, from Coca-Cola Enterprises Europe, said understanding the overall footprint of individual

products will be a "complex task" requiring a detailed analysis of energy use and greenhouse gas emissions across its life cycle. "We are delighted to work in partnership with the Carbon Trust to undertake this task and hope to be able to support the proposed methodology and identify cost effective opportunities to reduce emissions generated across our supply chain," he added. Earlier this year, Carbon Trust launched the carbon reduction label with Walkers, Boots, and drinks makers Innocent. It states the emissions of their products and a commitment to reduce their product's emissions over a two year period.

The African Medical and Research Foundation (AMREF) Honors Merck & Co., Inc. with Global Corporate Philanthropy Award
19 September 2007 - Sumber : http://www.csrwire.com/News/9662.html New York - The African Medical and Research Foundation (AMREF) will bestow its annual Global Corporate Philanthropy Award on the research-driven pharmaceutical company Merck & Co., Inc., here tonight during its 50th anniversary gala. Also honored will be AMREF founder Dr. Thomas D. Rees for his life-time humanitarian achievements. "For Merck, philanthropy is at the core part of its business strategy," said Professor Miriam Were, Chairperson of the International AMREF Board of Directors and former UNFPA/CSTAA Director in Ethiopia. "Merck is at the forefront of efforts to improve access to medicines for the poorest people in the developing world, from the Merck MECTIZAN Donation Program, to its involvement in the fight against HIV/AIDS. We hope Merck's record of exemplary corporate citizenship will encourage other corporations to act likewise in helping to address the health and survival of women, men and children throughout Africa." Merck and AMREF have worked together since 2004 to support HIV/AIDS prevention interventions among youth through training, information, education and communication tools together with teachers and village health committees. Through these interventions, AMREF and Merck are working to reduce stigma and discrimination against people infected and affected by HIV/AIDS and to decrease HIV/AIDS prevalence rates in Uganda. "Merck is honored to be recognized for our philanthropic leadership by AMREF, with whom we share a strong commitment to creating sustainable health infrastructures in Africa," said Merck Chairman, President and CEO Richard T. Clark. "Improving access is about more than simply making our medicines and vaccines available. It requires a long-term view and a hands-on approach to health and other development challenges. It is our hope that through our efforts and those of our partners we will help identify and implement effective and sustainable solutions to global health challenges such as HIV/AIDS." Throughout its history, Merck has devoted considerable effort to bringing its medicines and vaccines, expertise and experience to people around the world. The Merck MECTIZAN(R) Donation Program, the single largest, longest standing public/private partnership of its kind, is widely regarded as one of the most successful and effective global health collaborations between the public and private sectors in the world. The program, which currently reaches more than 60 million people in Africa, Latin America and the Middle East each year for the treatment of river blindness, is now in its 20th year. Merck has applied its experience with the MECTIZAN Donation Program to others partnerships around the world that are helping to prevent and treat HIV/AIDS including The African Comprehensive HIV/AIDS Partnerships (ACHAP), a partnership among the Government of Botswana, Merck and The Merck Company Foundation and the Bill & Melinda Gates Foundation to support and enhance Botswana's national response to HIV/AIDS through a comprehensive approach to prevention, care, treatment and support. Botswana currently has more than 88,000 patients on anti-retroviral therapy, with more than 1,000 new patients enrolling in the national treatment program each month. According to the World Health Organization, the country's free antiretroviral treatment program has enrolled the highest proportion of eligible patients on the African continent.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

4

Merck has consistently ranked among the top two corporate donors in the United States in the annual ranking by the Chronicle of Philanthropy. In 2006, Merck's corporate cash and product donations were $826 million. In 2007, Merck celebrates the 50th anniversary of The Merck Company Foundation, the Company's chief source of funding support to qualified non-profit, charitable organizations. Since its inception, The Merck Company Foundation has contributed more than $480 million to support important initiatives that address societal needs and are consistent with Merck's overall mission to enhance the health and well-being of people around the world. AMREF Founder Tom Rees Honored with Humanitarian Award Today, AMREF also is honoring Dr. Tom Rees for his visionary efforts by bestowing on him its first-ever Humanitarian Award. His dear friends actor Robert Redford and columnist Liz Smith will be on hand to help him celebrate.

Dr. Rees, now 80, was born in Utah. He is a renowned plastic and reconstructive surgeon - he's trained just about all of the most respected plastic and reconstructive surgeons operating today -including Sherell Aston, Dan Baker and Charles Thorne. Tom Rees' surgical and academic career has spanned over 43 years. He served as the chair of the Department of Plastic Surgery at the Manhattan, Eye, Ear and Throat Hospital. He was a clinical professor of plastic surgery at New York University and a senior surgeon to the Institute for Reconstructive Surgery. During his plastic surgery fellowship at the Queen Victoria Hospital in Great Britain, Dr. Rees met his mentor Sir Archibald McIndoe, the surgeon renowned for having developed reconstructive surgical techniques to treat hundreds of RAF fighter pilots whose planes went down in flames. Dr. Rees’ training with Archie McIndoe literally changed his life – and began his lifelong commitment to the continent of Africa and its people

Seribuan Petani Labuhanbatu Duduki Lahan Konflik Sipef
19 September 2007 - Sumber : http://hariansib.com/2007/09/18/seribuan-petani-labuhanbatu-duduki-lahan-konflik-sipef/ Rantauprapat - Pasca aksi unjukrasa ratusan massa Kelompok Tani Berasatu (KTB) Labuhanbatu, Rabu 12 September lalu di kantor Bupati Labuhanbatu, massa tersebut kembali beraksi dengan menduduki lahan konflik dengan PT Sipef, Senin (17/9). Kali ini, jumlah massa yang diturunkan jauh lebih besar dari sebelumnya. Aksi ini merupakan bagian dari ketidakpercayaan KTB terhadap Pemkan dan DPRD setempat. KTB menuding Pemkab Labuhanbatu tidak aspiratif terhadap penyelesaian sengketa tanah antara KTB dengan PT Sipef. Pemkab dinilai tidak merealisasikan rekomendasi Komisi A DPRD Labuhanbatu yang teliti ulang Hak Guna Usaha (HGU) PT Sipef dan penghentian aktifitas kedua belah pihak yang bersengketa, di atas lahan konflik. Seribuan petani berjalan kaki menuju lahan konflik di Desa Meranti, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu. Setibanya di lahan, warga langsung memasang/ mendirikan tenda serta melakukan pebersihan di lahan yang diklaim tanah mereka. Massa juga mempersiapkan persediaan menginap di lahan sengketa itu. Selang satu jam lamanya, Kapolsek Kampung Rakyat AKP J Sembiring bersama beberapa orang jajarannya, datang menemui massa. Dalam dialog polsek meminta agar massa tidak melakukan anarkis atau pelanggaran hukum. Kapolsek juga menyarankan, penyelesaian sengketa tanah tersebut diselesaikan dengan kepala dingin. “Saat ini bulan Ramadhan, maka jangan kita nodai dengan aksi-aksi yang melanggarhukum”, pinta Kapolsek seraya menyarankan agar massa tidak perlu menginap di lahan dimaksud. Namun, Sabar dan Saeno yang menjadi koordinator massa, tetap bersikukuh akan menginap di lahan tersebut. Pengamatan wartawan, hingga sore hari persiapan massa KTB untuk menginap di lahan konflik, semakin bulat. Sementara pihak perusahaan yang ditemui wartawan di kawasan kantor yang berdekatan dengan lahan konflik, enggan dikonfirmasi. Terlihat, pihak perusahaan kasukkusuk dengan surat menyurat terkait persoalan dimaksud. “Sabar ya pak, kebetulan yang berhak memberikan keterangan. Lagi sibuk”, pinta salah seorang karyawan bidang administrasi. Saeno mengatakan, pihaknya akan melakukan penyisiran hari Selasa (18/9) di lahan sengketa. Pihaknya akan meminta para karyawan untuk meninggalkan lahan konflik. “Kita minta agar pihak perusahaan menghentikan aktifitasnya di lahan konflik ini,” tukasnya. (S25/p)

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

5

Frankfurt Auto Show Highlights Industry's Green Efforts
17 September 2007 - Sumber : http://greenbiz.com/news/news_third.cfm?NewsID=35904 Frankfurt - Small, fuel-sipping cars, high-tech electronics geared at improving efficiency rather than performance, and alternative-fuel vehicles dominated the International Auto Show that opened this week. From Smart's ForTwo Micro Hybrid to Toyota's iQ concept car, small cars are big at the show. But even the automakers most known for powerful behemoths unveiled eco-friendly additions in Frankfurt. DaimlerChrysler CEO Dieter Zetchshe said his company will begin production on a zero-emissions fuel cell Mercedes-Benz within three years, although it will have a smaller production run than its standard cars. Both BMW and Porsche showed off hybrid SUVs, BMW's X6 and Porsche's Cayenne. GM's Opel subsidiary unveiled the plug-in hybrid Flextreme, the European version of its Volt concept car announced in the U.S. earlier this year. Ford subsidiary Volvo also announced its ReCharge plug-in hybrid hatchback. Car companies are not just embracing alternative fuels at this year's show; they're also using new technologies to reduce emissions even from traditional fuels. Volkswagen debuted five car models, including a new version of the Golf that uses VW's BlueMotion technology to reduce emissions. Ford's European division also offered a look at three cars under its new ECOnetic line. The cars use diesel engines and design with an eye toward the environment to bring CO2 emissions to low levels. The green theme at this year's show was widely seen as a response to growing global concern about climate change, as well as the steadily rising price of gasoline, which this week hit a record $80.18 per barrel.

Jajak Pendapat
Sejak 30 Juli lalu, di www.csrindonesia.com, kami melakukan jajak pendapat mengenai pemberlakukan UU Perseroan Terbatas. Hingga 24 September 2007 sebanyak 66 responden telah memberikan pendapatnya. Bagi Anda yang ingin berpartisipasi silakan memberikan pendapat melalui website kami (lokasinya ada di bagian kanan paling bawah). Tabel berikut menunjukan hasil perhitungan sementara jajak pendapat: Pertanyaan: Apa sikap Anda terhadap Undang-Undang Perseroan Terbatas yang mewajibkan CSR? Pilihan Jawaban Jumlah Persentase Setuju 35 53.03 Tidak Setuju 30 45.45 Tidak Tahu 1 1.52 TOTAL 66 100% Undangan Menulis Bagi Anda yang sudah memberikan suara pada jajak pendapat mengenai sikap terhadap UU Perseroan Terbatas diundang untuk menuliskan argumentasi mengapa Anda setuju atau tidak setuju terhadap pemberlakukan UU tersebut. Tulisan dibuat sebanyak 4000 karakter (termasuk spasi). Tulisan ditunggu hingga 12 Oktober 2007 dan pemenang akan diumumkan pada Newsletter Vol. 1 No. 43 2007. Kami menyiapkan 2 buah buku untuk dua tulisan terbaik yang mewakili pilihan setuju dan tidak setuju.

Kutipan
We propose to replace ‘corporate social responsibility’ with an idea we call ‘company stakeholder responsibility’. This is not just semantics, but a new interpretation of the very purpose of CSR. ‘Company’ signals that all forms of value creation and trade, all businesses, need to be involved. ‘Stakeholder’ … suggests that the main goal of CSR is to create value for key stakeholders and fulfill our responsibilities to them. And ‘Responsibility’ implies that we cannot separate business from ethics. Edward Freeman and Ramakrishna Velamuri CSR factors may also take the form of particular businesses processes that previously were regarded as marginal to effective management but that now have gained recognition as being fundamental to business performance. David Grayson and Adrian Hodges

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

6

Info Layanan A+

Smart CSR Forum
Acara talkshow interaktif keempat Smart CSR Forum telah terselenggara pada Jumat 21 September 2007 pukul 15.0016.00. Dipandu oleh Jalal dari Lingkar Studi CSR, siaran tersebut menghadirkan Muhammad Endro Sampurna, pengajar Politik Lingkungan di FISIP UI. Temanya adalah “CSR dan Pembangunan Internasional”. Talkshow kali ini mengetengahkan pembahasan atas buku Michael Hopkins (2007), Corporate Social Responsibility and International Development. Dari hasil bacaan buku tersebut, Endro menyampaikan bahwa dewasa ini pemerintah di banyak negara tengah mengalami kesulitan berarti dalam menghadirkan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan publik. PBB, Bank Dunia dan IMF yang membantu pemerintah juga seperti tidak mampu untuk menghadirkan target kinerja mereka secara memadai. Lemahnya kualitas sumberdaya manusia terutama pada pemerintahan negara berkembang, tidak mencukupinya sumberdaya finansial, dan hambatan tindak korupsi ditengarai sebagai penyebab dominan. Di sisi lain, bisnis kian menunjukkan dirinya sebagai sebuah entitas sosial yang semakin kuat. Atas fakta tersebut Hopkins menyatakan urgensi dukungan dan keterlibatan entitas bisnis dalam program pembangunan pada berbagai negara sebagai perwujudan praktik CSR. Keterlibatan entitas bisnis dalam praktik pembangunan akan sangat membantu dalam pencapaian target-target MDGs tahun 2015 kelak. Lebih lanjut, karya Hopkins tersebut memetakan tiga bentuk partisipasi entitas bisnis dalam pembangunan. Pertama, partisipasi pembangunan dalam bentuk kegiatan filantropi. Kedua, partisipasi pembangunan atas investasi dan operasional perusahaan, seperti lapangan kerja serta kewajiban pajak dan royalti. Dan ketiga, partisipasi pembangunan berkelanjutan dari entitas bisnis hingga melampaui bisnis inti (core business) perusahaan. Dari tiga pola tersebut, Hopkins mengharapkan agar partisipasi pembangunan dari entitas bisnis lebih mengutamakan dua ide terakhir. Kegiatan filantropi menurutnya sering kali hanya akan menghasilkan sebuah hubungan ketergantungan masyarakat dan pemerintah atas “kebaikan hati” perusahaan. Sayangnya, dalam pengamatan Endro, praktik CSR perusahaan yang beroperasi di Indonesia masih didominasi oleh bentuk pertama di atas. Dan benar saja, keadaan masyarakat dan pemerintah yang tergantung atas keberadaan perusahaan telah terbukti terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Untuk itu, lanjut Endro, praktik keterlibatan pembangunan dari entitas bisnis haruslah proporsional sesuai dengan kapasitasnya. Satu hal yang patut diingat, bagaimanapun juga entitas bisnis bukanlah aktor pembangunan murni, maka sangat mustahil bila beban pembangunan seolah dialihkan pada pundak perusahaan semata. Seharusnya pembangunan merupakan program kerjasama tiga pihak (tri sector partnership) secara berimbang. Acara berikutnya akan kembali menghadirkan Microsoft Indonesia dengan bridging digital gap-nya (28 September). Seluruhnya dipersembahkan A+ CSR Indonesia/Lingkar Studi CSR agar pemahaman atas CSR yang substansial bisa kita peroleh bersama. Sampai bertemu di 95,9 FM setiap Jumat sore!

Seri Pelatihan CSR
A+ CSR Indonesia menyediakan layanan pelatihan internal untuk perusahaan dan pemangku kepentingannya. Kurikulum dan detail lainnya dapat dikembangkan bersama-sama sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda. Seri pelatihan ini mencakup: Pelatihan CSR umum tingkat dasar dan lanjut; spesifik bidang industri untuk migas, pertambangan, kehutanan, perkebunan, perbankan, teknologi informasi dan manufaktur; serta spesifik isu berkaitan dengan lingkungan, pemanasan global, HAM, ketenagakerjaan, hubungan dengan para pemangku kepentingan, hubungan dengan media massa, hubungan dengan ornop dan pelaporan. Silakan hubungi office@csrindonesia.com untuk keterangan lebih lanjut.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

7

Publikasi A+

Memahami Hubungan dengan Pemangku Kepentingan
Pamadi Wibowo Direktur Eksekutif Lingkar Studi CSR www.csrindonesia.com “We are in the midst of a worldwide revolution–an associational revolution …in what is now being called the third sector… And it is catching corporations flatfooted. The lessons are clear. Activism is increasing and becoming increasingly successful in determining what company can or cannot do in communities and societies.” Edmund Burke Pentingnya Pemangku Kepentingan Sejumlah eksekutif dalam sebuah kelompok kerja memaparkan bahwa globalisasi antara lain bermakna: ”An increasingly shared awareness across many public.” Atau,“..the shift of power away from nation-states and toward regions or ‘tribes’.” Yang pertama berarti:”warga sipil atau organisasi-organisasi voluntir kini dapat mewakili jutaan, ketimbang ratusan, konsumen atau pemilih, dan bahwa media internasional baru dapat memobilisasi jutaan warga tersebut dalam semalam jika mereka menghendaki. Sedang yang kedua berarti: ”..masyarakat secara umum meminta akuntabilitas lebih besar dari para powerful actors, seperti kalangan bisnis dan berharap agar mereka memberi tanggapan langsung pada tuntutan opini publik daripada menunggu opini tersebut dimediasi oleh pemerintah dalam bentuk legislasi atau peraturan.” (Schwartz dan Gibb, When Good Companies Do Bad Things, 1999). Ada kesejajaran pemahaman antara kutipan pernyataan Burke (dalam Managing a Company in an Activist World, 2005) tentang ”revolusi asosiasional sektor ketiga” di atas dengan makna globalisasi yang disampaikan oleh Schwartz dan Gibb. Di era globalisasi kini ada keniscayaan bahwa perusahaan atau entitas bisnis tidak dapat lagi menafikan keberadaan berbagai pihak lain yang berhubungan dengan eksistensi mereka secara multidimensional. Pihak lain, baik dalam arti individu, kelompok, organisasi atau masyarakat luas inilah yang dikenal sebagai stakeholder atau pemangku kepentingan. Edward Freeman (Strategic Management: A Stakeholder Approach, 1984) mendefinisikannya sebagai “persons and groups that affect, or are affected by, an organization’s decisions, policies, and operations.” Karakter pemangku kepentingan di era yang berciri masyarakat informasi, berkesadaran demokrasi tinggi serta memahami dampak kehadiran entitas bisnis tidak lagi memberi ruang bebas bagi entitas bisnis untuk tetap melakukan perilaku business as usual. Terutama ketika aneka skandal korporasi raksasa dan bencana lingkungan yang ditimbulkan oleh kiprah industri telah menjadi sajian berita telanjang. Aktivisme masyarakat di era kecanggihan teknologi informasi telah membuat adagium “the business of business is business” sebagai konstatasi kaum primitif. Hubungan dengan Pemangku Kepentingan sebagai Tema Sentral CSR Sesungguhnya bagaimana gambaran sikap tanggap kalangan bisnis dalam masyarakat global yang kian aktif, makin antisipatif dan sadar akan hak saat ini? Perubahan sikap tanggap, bahkan boleh disebut pergeseran paradigmatik, dari kalangan bisnis dalam berinteraksi dengan lingkungan dan para pemangku kepentingannya patut mendapat penilaian khusus. Ada nuansa positif. Indikasinya tercermin dari gejala mulai maraknya praktik Corporate Social Responsibility (CSR) secara global, utamanya di dua dekade terakhir ini. Namun demikian, masih sangat banyak kalangan bisnis yang belum menunjukkan perubahan fundamental dalam strategi interaksi dengan pemangku kepentingan mereka. Boleh jadi karena terbatasnya pemahaman, atau bahkan menafikan kebutuhan perubahan paradigmatik dalam kebijakan bisnis mereka. Indikasi hal ini tampak dari klaim realisasi program CSR yang ternyata hanya dilakukan secara sepihak. Seperti bisa disimak dari contoh klaim program CSR berikut:“jack up contributions, announce the start of a multimillion dollar charitable foundation, publicize their good works with glossy annual reports, buy half page ads in newspapers and magazines, publicizing their employee programs, underwriter public broadcasting programs, and expand their community and public affairs staffs” (Burke, 2005). Tanpa bermasud menghakimi contoh program di atas, yang banyak terjadi dalam contoh program tersebut adalah aneka program itu tidak kuat berakar dan kurang bermakna jika diletakkan di tengah-tengah konteks aktivisme masyarakat dan peran media massa saat ini. Hasil yang diharapkan dari contoh-contoh program CSR seperti itu tidak optimal. Bahkan mungkin menjadi kontraproduktif. Nuansa kamuflase menjadi menonjol ketika tidak ditemukan adanya pengakuan eksistensi dan keterlibatan pemangku kepentingan dalam seluruh program yang dipublikasikan. Perlu ditekankan bahwa substansi praktik CSR merujuk

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

8

pada realisasi prinsip trisector partnership (kemitraan antara perusahaan, masyarakat sipil dan pemerintah) yang merupakan pemaknaan paling popular atas hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholders engagement). Di mana terdapat hubungan resiprokal untuk saling mendengar, memahami kepentingan, juga harapan dan tuntutan dari dua pihak (kalangan bisnis dan pemangku kepentingannya). Di sinilah makna penting hubungan dengan pemangku kepentingan terletak, seperti termaktub dalam definisi berikut: ”..involves a stance of mutual responsibility, information sharing, open and respectful dialogue, and an ongoing commitment to joint problem solving” (Svendsen, The Stakeholder Strategy: Profiting from Collaborative Business Relationships, 1998; Waddock, Leading Corporate Citizens: Vision, Values, Value Added, 2006). Ekses negatif dari aktivisme masyarakat (demonstrasi, unjuk rasa, pemblokiran fasilitas industri, advokasi negatif terhadap operasional perusahaan), dan dampak pemberitaan negatif media massa akan dapat berkurang intensitasnya jika unsur-unsur pertautan pemangku kepentingan seperti termaktub dalam definisi di atas terpenuhi. Secara empiris banyak ditemui kasus kegagalan realisasi program CSR karena perusahaan tidak menjabarkan prinsip dalam kebijakan dan strategi hubungan dengan pemangku kepentingan. Kebutuhan Kebijakan Hubungan dengan Pemangku Kepentingan sebagai Panduan Manajemen Kesadaran melaksanakan program CSR dan pemahaman tentang hubungan dengan pemangku kepentingan adalah dua hal berbeda. Banyak dijumpai kasus di mana kalangan perusahaan yang sudah sadar tentang arti penting CSR terhadap kegiatan bisnis mereka tetapi tidak memahami bahwa dalam realisasinya membutuhkan landasan fundamental hubungan dengan pemangku kepentingan. Dari kalangan bisnis seperti inilah kerap terlontar pernyataan seperti: “Kami telah mengeluarkan milyaran rupiah untuk program pengembangan masyarakat (community development), donasi sosial, juga bantuan pendidikan dan beasiswa tetapi masyarakat masih berdemo dan memblokir fasilitas transportasi kami.” Kebijakan, strategi dan program CSR suatu perusahaan pada galibnya bukanlah upaya yang sepehuhnya mandiri dari sebuah perusahaan. Keberhasilan program CSR adalah hasil (dalam pengertian output maupun outcome) dari kehendak, perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi—proses siklikal dalam manajemen—yang dilakukan secara bersama antara perusahaan dengan para pemangku kepentingannya. Tanpa kemitraan sejajar, kolaborasi, berbagi informasi, musyawarah, dan pengatasan masalah bersama antara perusahaan dan pemangku kepentingannya, maka sangat

sulit tujuan luhur program CSR suatu perusahaan dapat terwujud. Yang hendak ditekankan di sini adalah adanya kebutuhan mutlak dari suatu perusahaan yang dengan sungguh-sungguh ingin melaksanakan CSR untuk merumuskan kebijakan hubungan dengan pemangku kepentingan yang berfungsi sebagai panduan sekaligus rujukan seluruh staf dalam pelaksanaan program CSR perusahaan. Dengan memperhatikan berbagai dinamika interaksi sosietal global di era masyarakat informasi saat ini, tak dapat ditampik bahwa hubungan dengan pemangku kepentingan merupakan kebutuhan yang niscaya. Tak terhindarkan bagi kegiatan entitas bisnis yang dalam eksistensinya akan selalu mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh pemangku kepentingan kegiatan mereka. Hal ini digambarkan dengan baik oleh Simon Zadek (AccountAbility, Stakeholder Engagement Standard, 2005) dalam kutipan berikut: “Today’s organisational challenges and the need to achieve sustainable development make it more important to engage both with previously ignored stakeholders, including the voiceless, and with more familiar stakeholders on new topics and in new ways. This is true for commercial enterprises entering new markets or facing changing societal expectations. It is equally true for public bodies, and civil society and labour organisations developing new constituencies and approaches to service and advocacy. Furthermore, the imperatives of sustainable development reinforce the need to engage with stakeholders to realise specific organisational goals, as well as to meet broader social, environmental and economic challenges such as the Millennium Development Goals.” Kebutuhan Pemetaan Pemangku Kepentingan Kebijakan hubungan dengan pemangku kepentingan merupakan suatu hasil akhir dari rangkaian kegiatan seperti: pengumpulan data tentang pemangku kepentingan perusahaan, pengolahan dan analisis data, diskusi panjang tentang kriteria penentuan klasifikasi pemangku kepentingan, penetapan strategi, dan perumusan berbagai pendekatan dan agenda program yang akan dilaksanakan secara bersama-sama dengan pemangku kepentingan tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan ini disebut pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping). Singkatnya, tahapan pendahulu yang mutlak harus dilakukan—sebelum kebijakan hubungan dengan pemangku kepentingan dirumuskan, adalah pelaksanaan pemetaan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, pemetaan pemangku kepentingan akan menyediakan seluruh kebutuhan data dasar yang dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan hubungan dengan pemangku kepentingan.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

9

Belajar CSR dari Michael Blowfield
Jalal Aktivis Lingkar Studi CSR www.csrindonesia.com
Ada nama cukup terkenal dalam dunia CSR yang sebetulnya memiliki akar-akar pengetahuan di Indonesia, yaitu Michael (Mick) Blowfield. Mick mempunyai pengalaman panjang di Indonesia, setidaknya satu dekade. Ia akrab dengan berbagai persoalan buruh, pertanahan, dan kehutanan. Ia juga pernah beristrikan orang Indonesia dan memiliki anak di sini. Pada dekade 1990an, Mick mengorganisasikan kampanye yang mengkritisi kinerja Nike di Indonesia. Bersama-sama dengan istrinya ketika itu, ia banyak pula meneliti masalah pertanahan. Pertemuan penulis dengan Mick terjadi ketika ia sudah hijrah ke Inggris, menjadi peneliti di Universitas Greenwich. Waktu itu kami terlibat dalam penelitian untuk memperbaiki tipologi sosial hutan alam untuk Lembaga Ekolabel Indonesia sekitar tahun 1999. Pada tahun 2003, namanya kembali terdengar di segelintir kalangan di sini karena disertasinya di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Sussex berjudul Ethical Trade: The Negotiations of a Global Ethic? juga konon menyangkut Indonesia. Ia kemudian menjadi konsultan untuk Business for Social Responsibility, sebuah think tank CSR yang sangat terkemuka, lalu pindah ke Center for Corporate Citizenship di Boston College. Kini, Mick adalah salah satu direktur di Programme for Industry Universitas Cambridge, selain menjadi profesor untuk bidang terkait CSR di sana. Ada banyak karya tulisnya seputar perdagangan etis dan CSR yang cukup popular. Yang terkait dengan Indonesia yaitu tulisan Implementation Deficit of Ethical Trade Systems, Lessons from Indonesia Cocoa and Timber Industries dipublikasikan pada Jurnal of Corporate Citizenship No. 13, 2004. Di situ ia menemukan kenyataan bahwa perdagangan etis belum mampu mengangkat kondisi ekonomi para petani kakao dan pekerja sektor kehutanan di Indonesia, terutama karena perdagangan etis ternyata memiliki bias budaya yang sangat kuat. Selama budaya lokal tidak diapresiasi, akan sulit bagi inisiatif perdagangan etis—juga CSR secara keseluruhan—untuk benar-benar bermanfaat bagi kelompok sasarannya. Karenanya, menurut Mick, sangat penting untuk menemukan konteks masingmasing negara dalam ber-CSR. Sebelum menyelesaikan disertasinya, ia sempat menuliskan Ethical Trade: A Review of Developments and Issues di Third World Quarterly, Vol. 20/4, 1998. Setelah disertasinya selesai, di tahun 2004 ia menulis CSR and Development: Is Business Appropriating Global Justice? yang dimuat di jurnal Development, Vol. 47/3 dan Ethical Supply Chain in Cocoa, Cofee and Tea Industry di jurnal GMI, Vol. 43. Di tahun berikutnya, tulisannya bersama Jedrej Frynas berjudul Setting New Agenda: Critical Perspectives on Corporate Social Responsibility in Developing World muncul di jurnal International Affairs Vol. 81/3, 2005, selain Does Society Want Business Leadership? An Overview of Attitudes and Thinking sebagai kertas kerja bulan Desember di The Center for Corporate Citizenship. Hingga penghujung Agustus lalu, penulis belum berhasil melacak tulisan-tulisannya yang berangka tahun 2006 dan 2007. Mungkinkah produktivitasnya menurun? Kelihatannya tidak. Mungkin cuma penulis saja yang kurang rajin dan teliti mencarinya, karena ternyata bahan presentasinya kemudian muncul juga. Presentasi itu ia lakukan untuk DSA Meeting di Bulan Juni 2007, dengan judul Poverty’s Case for Business: The Evidence, Misconceptions, Conceits and Deceit Surrounding Business Case for Corporate Responsibility. Nah, presentasinya itu tampaknya memuat sebagian dari isi buku terbarunya yang akan terbit Januari 2008 mendatang. Mungkin juga, Mick memang selama 2006 dan 2007 agak “bertapa” menyelesaikan buku itu. Bukunya itu ditulis bersama Alan Murray dan diberi judul Corporate Responsibility: A Critical Introduction (Oxford University Press, 2008). Ada hal yang sangat menarik dari bahan presentasinya itu, yaitu ia menguji hubungan antara motivasi perusahaan melakukan CSR (business measures) dengan berbagai ranah CSR (dimensions of corporate responsibility). Ia ingin mengetahui secara persis ranah mana dari CSR yang memang berkorelasi positif dengan kinerja bisnis tertentu. Ini tentu saja sangat menarik, karena kebanyakan studi yang ada hingga sekarang lebih memfokuskan diri pada kaitan antara kinerja CSR secara keseluruhan (seluruh ranah)—biasa disebut corporate social performance—dengan kinerja finansial perusahaan. Puluhan hasil studi macam ini misalnya diringkaskan oleh Jennifer Griffin dan John Mahon lewat The Corporate Social Performance and Corporate Financial Performance Debate (Business and Society, Vol. 36/1, 1997). Penelitian paling monumental di bidang ini mungkin adalah karya Marc Orlitzky, Frank Schmidt dan Sara Rynes bertajuk Corporate Social and Financial Performance: A Meta-analysis yang dipublikasikan di Organizational Studies Vol. 24/3, 2003. Saking popularnya, banyak pakar CSR yang menyatakan bahwa “cawan suci” CSR sudah ditemukan. Sementara, yang paling baru mungkin adalah upaya ambisius Isaiah Marom untuk menemukan satu teori yang menjelaskan kaitan itu lewat Toward a Unified Theory of CSP-CFP Link (Journal of Business Ethics, Vol. 67, 2006).

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

10

alasan yang dapat dipergunakan oleh manajer untuk membuat justifikasi mengapa program CSR tertentu harus dilaksanakan. Selama ini, ada banyak manajer yang kewalahan ketika ditanya atasannya mengapa harus melakukan program yang diajukannya. Bagian vertikal dari matriks yang dibuat Mick bisa membantu mereka mencari jawaban itu dengan tepat. Ketiga, tidak semua jenis ranah/program CSR ternyata memiliki kekuatan yang sama dalam hal memberikan keuntungan kepada perusahaan. Hubungan positif yang kuat dapat ditemukan pada 21 kotak, sementara yang positif namun relatif lemah ada di 62 kotak. Di luar itu, ada juga hubungan yang netral dan negatif (17 kotak). Ini berarti kemungkinan program CSR berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan memang besar (83 dari 100 kotak). Tentu saja, kalau memang seorang manajer harus mengalokasikan sumberdayanya yang terbatas untuk melakukan CSR yang terbaik untuk perusahaannya, maka ia harus memilih di antara yang memiliki hubungan positif yang kuat terlebih dahulu. Kelak, ketika terbukti lebih banyak lagi kotak yang ”menghitam”, maka para manajer akan lebih longgar lagi dalam memilih program-program CSR. Keempat, bahwa ranah CSR yang paling berpengaruh terhadap kinerja bisnis adalah eco-efficiency, yang ternyata berkait erat dengan enam kinerja: shareholder value, operational eficiency, access to capital, brand value and reputation, risk management, dan innovation. Hal ini sudah banyak dibahas oleh para pakar CSR seperti Daniel Esty dan Andrew Winston (Green to Gold, Yale Univerity Press, 2006) serta Stuart Hart (Beyond Greening: Strategies for a Sustainable World dalam Harvard Business Review on Business and the Environment, Harvard Business School Press, 2000). Mereka secara tegas menyatakan bahwa keuntungan yang sangat besar akan dinikmati oleh perusahaan yang secara serius memikirkan bagaimana membuat efisiensi penggunaan energi dan meminimumkan limbah. Perbedaannya, kebanyakan pakar masih menyatakan bahwa efisiensi menguntungkan perusahaan karena penghematan semata—jelas, dengan meningkatnya efisiensi maka sumberdaya yang dipergunakan untuk membuat setiap satuan produk akan menurun. Namun, menurut Mick, ternyata keuntungan perusahaan tidaklah semata-mata berasal dari penghematan, melainkan ada banyak keuntungan lainnya. Di antaranya adalah nilai merek dan reputasi. Kini makin banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk menunjukkan kinerjanya dalam mengurus salah satu dampak lingkungan paling penting: pemanasan global. Di Amerika Serikat, SEC hampir dipastikan akan meminta perusahaan-perusahaan untuk melaporkan apa yang mereka lakukan untuk menurunkan dampak pemanasan global mereka. Tentu saja, sebentar lagi akan terdapat daftar hitam mereka yang dianggap buruk kinerjanya. Padahal, efisiensi energi adalah salah satu cara paling popular dan dianggap paling penting untuk menurunkan dampak

Gambar 1. Kaitan antara Motivasi dan Ranah CSR

Sebagaimana yang terlihat pada Gambar 1 di atas, ambisi Mick tidaklah pada tataran itu. Ia menukik lebih dalam lagi, sehingga para manajer di perusahaanperusahaan yang harus memilih untuk mengalokasikan sumberdayanya ke aktivitas CSR tertentu bisa lebih fokus. Penjelasan gambar di atas adalah kotak berwarna hitam menunjukkan hubungan positif yang kuat, sementara kotak merah berarti hubungan positif namun relatif lemah, sementara yang berwarna abu-abu hubungannya netral dan negatif. Mick menemukan kaitan di atas setelah meneliti dengan saksama data yang tersedia dari studi-studi SustainAbility—think tank CSR pimpinan John Elkington—di tahun 2001 dan 2002. Yang patut disayangkan adalah bahwa Mick tidak memisahkan mana hubungan yang netral dengan yang negatif, yang pastinya sangat berharga untuk diketahui. Bukankah tak ada manajer yang menginginkan tindakan CSRnya malahan merugikan kepentingan pencarian keuntungan? Namun, dari yang berwarna hitam dan merahpun kita dapat belajar banyak. Pelajaran pertama adalah ada banyak sekali ranah CSR yang bisa dikerjakan. Selama ini banyak manajer yang tampak kebingungan ketika harus membuat program CSR. Ternyata, ada 10 ranah yang ditemukan Mick dalam CSR, dan masing-masing ranah tentu saja bisa dikembangkan lebih lanjut, tidak hanya mencakup 1 program. Kalau demikian, maka kemungkinan pengembangan program CSR memang sangat luas, tidak hanya terbatas pada filantropi dan pengembangan masyarakat semata—kemungkinan dua inilah yang paling popular, terutama di Indonesia. Kedua, ada berbagai macam alasan mengapa CSR harus dilakukan. Bagi perusahaan saja, ada 10 kemungkinan

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

11

pemanasan global. Wajar saja kalau dalam dunia yang kini ketakutan atas dampak perubahan iklim perusahaanperusahaan yang dipersepsi memiliki komitmen serius dalam mengurangi dampak pemanasan global akan mendapat reputasi yang prestisius. Kelima, masalah HAM dan kondisi pekerja memiliki pengaruh yang kedua terbesar. Penghormatan terhadap HAM akan membuat perusahaan mendapatkan brand value and reputation, risk management dan license to operate. Sementara program-program CSR berkaitan dengan working conditions berkaitan erat dengan revenue, operational efficiency, dan human capital. Penghormatan terhadap HAM hingga kini belum banyak dianggap sebagai bagian dari CSR yang sangat penting—termasuk di Indonesia—padahal perusahaan bisa mendapat keuntungan yang sangat besar dari situ. Manajemen risiko dan izin sosial adalah hal yang sangat besar manfaatnya buat perusahaan. Promosi HAM kepada pemangku kepentingan internal maupun eksternal memang bisa membuat risiko yang dihadapi perusahaan menurun. Sementara, izin sosial bisa lebih mudah diperoleh. Dari sudut pandang CSR, perolehan social license adalah sama pentingnya dengan perolehan legal license, karena bagaimanapun perusahaan akan sulit beroperasi manakala masyarakat setempat tidak mendukung keberadaannya. Kondisi pekerja akan berpengaruh pada pendapatan perusahaan, efisiensi operasional dan modal insani. Ini tentu saja mudah dipahami. Hanya pekerja yang puas dengan kondisi kerjanya saja yang akan menjadi produktif dan efisiesn—dan pada gilirannya akan tercermin dari pendapatan perusahaan. Dan, apabila perusahaan memang ingin beroperasi dalam jangka panjang, maka modal insani yang tinggi akan merupakan investasi terbaik. Keenam, hubungan dengan pemangku kepentingan nonbisnis—pakar CSR lainnya menamakan mereka pemangku kepentingan nonpasar atau pemangku kepentingan eksternal—ternyata juga memiliki pengaruh yang kuat, terutama dengan brand value and reputation serta social license. Hal yang sama juga terjadi pada ranah social development. Hal ini tentu saja mudah dimengerti, yaitu bahwa bentuk hubungan dengan pemangku kepentingan eksternal memang paling banyak mewujud dalam kegiatan-kegiatan terkait pengembangan sosial. Reputasi perusahaan serta izin sosial memang akan diperoleh manakala para pemangku kepentingan eksternal memandang perusahaan telah berbuat sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ketujuh, hingga sekarang tampaknya konsumen belumlah memberikan penghargaan yang memadai atas upaya perusahaan terkait CSR. Terbukti, tidak satupun ranah kegiatan CSR yang memiliki hubungan kuat positif dengan daya tarik bagi konsumen. Pada sembilan kotak memang ditemukan hubungan yang positif, namun lemah. Hal ini juga ditengarai oleh Esty dan

Winston, ketika membahas insentif bagi programprogram CSR lingkungan di Green to Gold. Mereka mengingatkan bahwa perusahaan tidaklah bisa terlalu berharap pada green premium, atau harga lebih tinggi yang diberikan konsumen pada produsen yang dianggapnya menunjukkan kinerja ramah lingkungan. Namun demikian, sesungguhnya ada satu dua bukti lain yang bisa diajukan untuk membantah hal ini. Program Ecomagination GE misalnya telah membuat GE kebanjiran pesanan mesin pesawat, karena mesin pesawat itu menggunakan bahan bakar lebih sedikit (ranah eco-efficiency), sementara jumlah gas rumahkaca buangannya juga lebih sedikit (ranah environmental products). Di sini, konsumen mungkin tidak membayar lebih mahal, namun jelas preferensinya telah ditunjukkan. Bukti yang menunjukkan bahwa konsumen mau membayar lebih mahal disajikan oleh penelitian Raj Sisodia, Jag Sheth dan David Wolfe di buku mereka Firms of Endearment (Wharton School Publishing, 2007). Mereka menemukan bahwa perusahaan pembuat peralatan outdoor terkenal Patagonia mendapatkan kepercayaan yang sangat tinggi dari konsumennya, sehingga loyalitas mereka tak tergoyahkan walaupun harus membayar harga hingga 20% lebih tinggi dibandingkan harga pesaingnya. Hal ini dikarenakan konsumen Patagonia memang adalah konsumen yang terdidik dalam masalah lingkungan. Kondisi yang sama juga diperoleh dari perusahaan-perusahaan kehutanan yang telah mendapatkan sertifikat ekolabel. Di Indonesia, sebuah perusahaan yang telah bersertifikat mengaku mendapatkan green premium berupa kenaikan hingga USD 90 perkubik kayunya dibandingkan sebelum memperoleh sertifikat. Hanya saja, memang masih terlampau sedikit jumlah konsumen yang demikian. Berbagai studi menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara kesediaan ”di mulut” konsumen dengan perilaku konsumsi yang sesungguhnya (lihat misalnya karya Karen Becker-Olsen dan Ronald Hill berjudul The Impact of Perceived Corporate Social Responsibility on Consumer Behavior, Center for Responsible Business University of California, Berkeley Working Paper 27, 2005; atau tulisan Harmen Oppewal, Andrew Alexander, dan Pauline Sullivan berjudul Consumer Perceptions of Corporate Social Responsibility in Town Shopping Centres and and Their Influence on Shopping Evaluations di Journal of Retailing and Consumer Services Vol. 13, 2006). Kedelapan, kali ini berkaitan dengan matriks yang lain, sayangnya pilihan di negara-negara berkembang ternyata jauh lebih sedikit. Kalau di negara-negara maju ada 21 kotak korelasi positif kuat antara ranah CSR dengan keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan, di negara berkembang hanya ada di 7 kotak. Mick menggunakan warna hijau untuk menjelaskan kaitan-kaitan itu dalam konteks negara berkembang. Seperti yang terlihat pada Gambar 2, di negara berkembang, ranah CSR yang paling menguntungkan perusahaan adalah pada ecoefficiency—ini tidak berbeda dengan di negara maju—dan di social development. Ini menunjukkan bahwa aspek

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

12

Gambar 2. Kaitan antara Motivasi dan Ranah CSR di Negara-negara Berkembang

lingkungan tetap penting untuk diperhatikan di negara berkembang, dan perwujudan CSR dalam pengembangan sosial juga ternyata menguntungkan perusahaan (bahkan mungkin lebih menguntungkan dibandingkan di negara-negara maju). Sementara, hubungan dengan pemangku kepentingan eksternal didapati terkait erat dengan izin sosial, dan karenanya juga sangat penting untuk diperhatikan. Pada ketiga hal inilah manajer-manajer perusahaan di negara-negara berkembang harus memfokuskan dirinya. Demikianlah pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari

presentasi Mick. Kalau ada kesempatan untuk memperbaiki presentasinya—di antaranya agar sesuai dengan kebutuhan para praktisi CSR di Indonesia— mungkin beberapa hal berikut bisa dipertimbangkan oleh Mick atau orang lain: (1) Memisahkan dengan jelas mana korelasi yang netral dengan yang negatif, agar pembaca bisa mendapatkan kejelasan yang lebih dalam lagi; (2) Menggunakan data yang lebih luas lagi, tidak hanya dari penelitian-penelitian SustainAbility, agar keberlakuannya bisa lebih kuat lagi; (3) Memberikan penjelasan yang lebih memadai tentang arti masingmasing business measures dan dimension of corporate responsibility; (4) Memberikan peringkat dan atau bobot dalam business measures, karena tidak setiap aspek di situ sesungguhnya memiliki pengaruh yang sama dalam menyumbang pada keuntungan perusahaan. Bagaimanapun, sebagai misal, license to operate mungkin lebih berpengaruh dibandingkan operational efficiency. Kalau pemeringkatan dan pembobotan bisa dilakukan, maka para manajer akan semakin tertolong dalam memilih program CSR yang terbaik untuk perusahaannya; dan (5) Melakukan penelitian yang mencari tahu hubungan antara ranah CSR (dimension of corporate responsibility) dengan berbagai manfaat yang diperoleh oleh masyarakat (society measures, bukan lagi business measures). Dengan demikian, kita akan mengetahui program-program CSR mana yang paling bermanfaat untuk masyarakat secara umum. Mungkin sebagian hal-hal yang diusulkan di atas akan terwujud begitu bukunya terbit di awal tahun depan. Dalam tiga setengah bulan ini, kita tampaknya harus bersabar dahulu. Begitu bukunya keluar, kita bisa menarik manfaat yang lebih jauh lagi dengan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Terima kasih banyak, Mick.

Sinergi CSR dengan Perspektif Islam
Muhammad Endro Sampurna Aktivis Lingkar Studi CSR www.csrindonesia.com Kekompleksan kepentingan ekonomi politik global merupakan ciri khas kehidupan peradaban manusia saat ini. Tidak kurang segala macam ideologi—dari yang samar-samar hingga yang tegas menyatakan— dijadikan selubung pemikiran manusia demi pencapaian kepentingan ekonomi politik semata. Berbagai referensi ilmiah menunjukkan bahwa pergulatan kepentingan tersebut telah mengorbankan sisi-sisi humanisme dan ekologisme demi pencapaian keuntungan ekonomi (single bottom line). Dan hamparan fakta buruknya manajemen sosial lingkungan negara dan korporasi semakin menguatkan empiris di atas. Peristiwa Chernobyl (1986), konflik Brent Spar (1995) antara Shell dengan Greenpeace, konflik masyarakat lokal Delta Niger dengan pemerintah Nigeria dan Shell disertai dengan eksekusi tokoh lokal—Ken Saro-Wiwa—tahun 1995, dan lainnya merupakan sekelumit kisah nyata betapa pencapaian kepentingan ekonomi politik semata dapat berakibat fatal bagi keseimbangan ranah sosial dan lingkungan. Belum lagi kisah yang berada di wilayah nasional—konflik masyarakat adat Papua dengan Freeport Indonesia, eksekusi Marsinah (1994), tragedi semburan lumpur panas Porong (2006-sekarang), eksploitasi berlebih hutan Indonesia, dan banyak lagi. Ketidakseimbangan dalam tujuan ekonomi-sosiallingkungan (triple bottom line) tersebut merupakan ironi bagi masyarakat Indonesia mengingat Indonesia

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

13

dikenal dengan masyarakat religius, masyarakat yang berusaha menjaga keseimbangan ranah sosial dan lingkungan di samping pencapaian ekonomi. Indonesia yang majoritas masyarakatnya adalah pemeluk Islam seakan hilang kendali dalam menjaga tataran keseimbangan tersebut. Seolah-olah Islam tidak memiliki anjuran keseimbangan triple bottom line dalam interaksi horizontal di muka Bumi ini. Atau seolah-olah generasi Islam saat ini tidak mampu menerjemahkan makna kehidupan Islami kala dibenturkan dengan dominasi kebutuhan materialis nan kapitalistik. Indonesia kini lebih dikenal dengan negara muslim dengan tingkat korupsi, kemiskinan, penghasil limbah, kerusakan hutan tertinggi di dunia. Padahal bila menilik pada perkembangan studi corporate social responsibility (CSR), perkembangan kapabilitas masyarakat sipil, dan kesadaran korporasi multinasional untuk peka sosial lingkungan belakangan ini, maka seharusnya peluang terciptanya dampak negatif dari operasional perusahaan dapat ditekan seminimal mungkin dan segera memaksimalkan dampak positif (manfaat) untuk para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Hal ini pula yang tergambar dalam berbagai codes of conduct etika bisnis. (Draft) ISO 26000, Global Reporting Initiatives (GRI), UN Global Compact, International Finance Corporation (IFC), dan lainnya telah menegaskan berbagai instrumen indikator bagi pelaksanaan komitmen CSR perusahaan demi pemenuhan target pembangunan berkelanjutan— seperti isu lingkungan hidup, hak asasi manusia, praktik ketenagakerjaan, perlindungan konsumen, tata kelola perusahaan, praktik operasional yang adil, dan pengembangan masyarakat. Dan bila ditilik lebih lanjut, sebenarnya prinsip-prinsip tersebut merupakan representasi berbagai komitmen yang dapat bersinergi dengan pengamalan prinsip kehidupan Islami. Bagaimana tidak? Dalam berbagai codes of conduct dinyatakan bahwa operasional perusahaan semestinya terbebas dari berbagai modus praktik korupsi (fight agains corruption) dan memberi jaminan layanan maksimal sepanjang ranah operasionalnya, termasuk layanan terpercaya bagi setiap produknya (provision and development of safe and reliable products). Hal ini pula yang secara tegas tercantum dalam Al-Quran. Berikut adalah petikan yang bersumber pada Surat al-A’raf ayat 85, “.... Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya,....” Begitu pula dengan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan sumberdaya alam. Dengan pengetahuan maksimal perusahaan terhadap CSR, maka seharusnya

alam dianggap sebagai pemangku kepentingan yang relevan. Mengapa? Alam dapat dianggap sebagai pihak yang dipengaruhi oleh dan memengaruhi kinerja perusahaan. Dengan daya dukung lingkungan, maka perusahaan dapat beroperasional demi pencapaian tujuan finansial. Dan sebaliknya, ketidakmampuan daya dukung lingkungan akan berpengaruh terhadap pencapaian finansial korporasi. Aktivitas mengubah bentang alam demi memperoleh sumberdaya alam seharusnya diikuti dengan kompensasi sosial dan fisik yang berimbang disertai perencanaan memadai dalam memperhitungkan kebutuhan sumberdaya alam generasi mendatang. Perhatian atas sumberdaya alam direpresentasikan minimal sekitar 95 ayat dalam Al-Quran. Salah satunya Surat Al-Baqarah ayat 11, “.... Janganlah kamu membuat kerusakan di muka Bumi....” Selain itu, isu perhatian sosial juga menjadi catatan tersendiri dalam studi CSR dan juga hadir dalam nilainilai Islam. Kepedulian perusahaan terhadap masyarakat lokal tergambar dalam aktivitas seperti pengakuan atas hak ulayat, keterbukaan informasi kegiatan perusahaan terhadap masyarakat (prior informed consent), maupun kegiatan pengembangan masyarakat dan kegiatan filantropi. Aktivitas kepedulian sosial tersebut diamanahkan dalam Surat Al-Hadid ayat 18, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, pria dan wanita, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” Bagi penulis, bukan menjadi satu-satunya tudingan apabila berbagai ketidakseimbangan sosial lingkungan yang terjadi di Indonesia disebabkan karena makin maraknya modus neo-kolonialisme oleh korporasi multinasional. Malah kini berkembang indikasi bahwa di saat korporasi multinasional mulai berbenah diri, korporasi nasional-lah yang mempunyai peranan cukup signifikan atas berbagai tindak dehumanisasi dan deekologisasi di Indonesia. Oleh karena itu, dengan mempelajari CSR—sebagai salah satu alternatif—disertai dengan berbagai teknis pelaksanaannya secara menyeluruh, maka seharusnya manusia Indonesia tidak perlu gagap menghadapi gelombang globalisasi. Mempelajari CSR secara utuh dan disandingkan dengan kebijakan nilai-nilai Islam dapat menghasilkan sinergi nyata bagi manusia Indonesia untuk menjawab tantangan gelombang globalisasi dan pencapaian keseimbangan triple bottom line di muka Bumi. Dan banyak pihak telah mengamini bahwa pencapaian keseimbangan triple bottom line hanya bisa terealisasi dengan komitmen kolaborasi kemitraan tiga pihak (tri-sector partnership, negara-korporasi-masyarakat sipil) secara sungguhsungguh dan proporsional.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

14

Artikel Pilihan

Global Warming and Sustainable Development
Rokhmin Dahuri 18 September 2007 Sumber: http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070918.F04

In

1972 the Club of Rome published a book titled Limits to Growth which described a project report on the destiny of humankind. Its conclusions were stunning: The world would ultimately run out of many key resources. Human use of natural resources would exceed the earth's capacity to generate those resources by the mid21st century, resulting in a decrease in economic development and a decline in social well-being of humanity. These limits would become the ultimate predicament of humans. Now, after 35 years, it is obvious that such an alarming prediction is closer to reality than many realize, or are willing to admit. Throughout history, human beings have lived on the earth's sustainable yield, the interest from its natural endowment. However, as the world population has doubled and as the global economy has expanded sevenfold over the last half-century, human claims on the earth have become excessive. We are asking more of the earth than it can give on a sustainable basis, creating not only a myriad of environmental problems such as deforestation, floods, desertification, overfishing, biodiversity loss, pollution, acid rain and global warming; but also a bubble economy, one whose output is artificially inflated by overexploiting the earth's natural endowments. If negative impacts of other environmental damages are limited at a local or regional scale, global warming and its concomitant effects would practically be hitting every corner of the world. Global warming is unequivocal as is now evident from observations of increases in average global air and ocean temperatures, widespread melting of snow and polar ice cups, and rising global mean sea level. There will be serious flood risks and increasing pressure for coastal protection in low-lying coastal zones such as Bangladesh, Vietnam, the north coast of Java and Kalimantan; small islands in the Caribbean, the Pacific and the Indonesian archipelago; and large coastal cities like New York, London, Cairo and Jakarta. Melting glaciers will initially increase flood risks, then strongly

reduce water supplies, eventually threatening one-sixth of the world population, particularly in the Indian subcontinent, parts of China and the Andes in South America. Indonesia plays a pivotal, unique, but to some extent dilemmatic role in combating global warming for three major reasons. First, as a developing nation with high unemployment and poverty, we are obliged to boost sustainable economic growth to provide employment and prosperity for all Indonesians. Since the economy of the country depends heavily on the primary sector, including agriculture, forestry, fisheries and mining, increasing economic growth means extracting more natural resources and opening up more forests, peat lands and other natural ecosystems. Meanwhile, deforestation, peatland degradation and forest fires are the third largest source of greenhouse gas (GHG) emissions after the energy and industry sectors, and have made Indonesia the third largest emitter of GHGs. Second, Indonesia is very likely to experience significant damages and losses with global climate change. Being the largest archipelago on earth with many low-laying coastal areas, Indonesia is highly vulnerable to the impacts of global warming. Sea level rise is predicted to cause about 2,000 small islands to disappear; inundate low-lying coastal zones, particularly the eastern coast of Sumatra, Jakarta Bay, most of the north coast of Java, and the majority of Kalimantan's coastal areas. The warmer world will also result in increased frequency of extreme weather events, prolonged droughts and heavy rainfall leading to big floods. Indonesia's productive coastal and marine ecosystems, agricultural areas and rich biodiversity are also at risk. This, in turn, may have devastating effects on the agriculture, fisheries, forestry and tourism sectors, thereby threatening food security, national income and the livelihoods of the majority of people. Third, being located on the equator connecting the Pacific and Indian Oceans, Indonesia is the largest source and sink of heat in the Asian region and the center of Asian monsoon circulation, which plays a key role in the dynamics of global climate.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

15

As the host of the 13th Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), which will be held in Bali, Dec. 413, Indonesia should take full advantage of such an invaluable world event to get international support in implementing sustainable development to make Indonesia a democratic, just and prosperous nation by 2030. Indonesia should also take the lead in advocating the global community, developing and developed nations, to halt global warming. Basically, global warming occurs when we release GHGs into the atmosphere faster than nature can absorb it, creating a greenhouse effect. Therefore, global warming can technically be resolved by reducing emissions of GHGs to a level that can safely be absorbed by the atmosphere, and at the same time enhancing the earth's capacity to absorb GHGs. Although there has been an increasingly stronger global awareness that global warming is the most serious threat ever not only to sustainable development but also to the survival of humankind itself. Yet, government leaders are not in agreement in finding solutions to curb global warming. Some industrialized countries, in particular the U.S. and Australia, argue that the Kyoto Protocol is seriously flawed as it does not commit developing countries to the same targets on cutting emissions as developed countries. In the meantime, developing nations, especially China and India, insist reducing GHG emissions should be weighted by the level of a country's economic development, which is crucial for developing countries to lift hundreds of millions people out of poverty.

To settle such a contentious disagreement on a fair basis, we have to use the polluter-pays principle and take into account the level of each country's economic development. This means that the more one country release GHGs, the more it has to cut emissions. However, if a country's level of economic development is still low (developing nations with high unemployment and poverty), then efforts to curtail GHG emissions must be assisted by the global community, particularly developed nations, through transfer of technology, financial assistance and free and fair (a win-win) international trade. In practice, cutting GHG emissions can be done by simultaneously raising energy efficiency and shifting from non-renewable to renewable energy. Each country certainly will have to design its own plan for increasing energy efficiency. Nonetheless, there are a number of common elements. Some are quite simple but highly effective, such as improving energy efficiency standards for household appliances, implementing more stringent residential and commercial air-conditioner standards, using tax credits and energy codes to improve the energy efficiency of all buildings. Finally, enhancing the earth's capacity in absorbing GHGs can be achieved through protecting existing natural ecosystems (such as forests, peatlands, lakes, coral reefs and seagrass beds), and simultaneously restoring degraded natural ecosystems according to conservation principles. The writer is professor of coastal and marine resource management at the Bogor Institute of Agriculture and a former minister of maritime affairs and fisheries.

Coffee Morning Discussion
with A+ CSR Indonesia

Program ini ditujukan untuk organisasi yang ingin mendapatkan pemahaman awal tentang CSR ataupun isu-isu terhangat berkaitan dengannya. Program gratis sepanjang dua jam akan membahas apa itu CSR serta apa relevansinya untuk organisasi Anda. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi

E: office@csrindonesia.com T: +62-21 57940611

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

16

Info Buku CSR dalam Industri Tambang:
Berkaca dari Pengalaman Belahan Dunia Lain
Judul Penulis Penerbit Halaman Corporate Social Responsibility in the Mining Industry Natalia Yakovleva Ashgate Publishing Limited, 2005 xiii+310

Pamadi Wibowo Direktur Eksekutif Lingkar Studi CSR www.csrindonesia.com
“A growing ‘Voice of Society’ is demanding that mining companies are pro-active. Particularly in developing countries, in the absence of a strong state and empowered stakeholders, it is argued that, especially where regulation is weakly developed or enforced, mining companies should develop their own models of environmental and social responsibility, that go beyond acting within their more narrowly defined legal obligations.” Alyson Warhurst (1998)

Menjawab Tantangan Buku ini mungkin bukan yang terbaik di bidangnya. Namun melalui buku ini, Yakovleva berhasil menyajikan analisis tentang bagaimana perusahaan pertambangan mengadopsi upaya-upaya untuk menjawab tuntutan global, nasional dan lokal dalam meningkatkan dampak positif dan menekan dampak negatif kegiatan mereka berbasis konsep Corporate Social Responsibility (CSR). Sebagai salah satu sektor industri utama dalam tatanan ekonomi global, industri pertambangan dalam banyak kasus memiliki posisi dominan dalam pembangunan sosio-ekonomi negara maju dan berkembang. Sektor industri ini berdampak sangat signifikan dalam arti positif maupun negatif. Tanpa menafikan dampak positifnya, dampak negatif dalam ranah sosial, lingkungan, politik dan budaya yang ditimbulkan sektor industri ini sangat luar biasa. Dampak negatif tersebut cenderung membesar di negara-negara berkembang atau di negara-negara yang menghadapi kendala ketidakefektifan sistem pemerintahan, ketiadaan regulasi (dan perundangan) yang memadai serta tingginya gejolak sosial-politik seperti di Republik Federasi Rusia (Republik Sakha) di mana kasus-kasus kajian dari buku dikemukakan. Kondisi di atas akan menjadi situasi buah simalakama bagi perusahaan pertambangan yang berupaya memperbaiki kinerja sosial, ekonomi dan lingkungan mereka. Upaya-upaya perbaikan kinerja multiaspek serta strategi pemenuhan tuntutan yang absah dari para

pemangku kepentingan akan menjadi tantangan yang sangat berat untuk bisa diwujudkan oleh perusahaan pertambangan di dalam atmosfer sosial, politik, budaya dan hukum yang tidak mendukung. Dalam situasi seperi inilah substansi analisis Yakovleva menjadi berarti untuk disimak. Dengan memfokuskan analisisnya pada empat wilayah kunci penerapan konsep CSR (pemeliharaan lingkungan; kesehatan dan keselamatan kerja; hubungan dengan karyawan; serta community development/CD), Yakovleva bukan hanya sekedar mengetengahkan wacana kritis tetapi juga contoh nyata dari alternatif tindakan yang dapat diambil oleh perusahaan pertambangan dalam menjawab tantangan kegiatan pertambangan yang bertanggung jawab. Sajian Telaah Lengkap Paparan yang disampaikan oleh buku dapat dikatakan lengkap yang ditunjang dengan referensi memadai. Secara umum Yakovleva memilah telaah bukunya dalam dua bagian. Empat bab pertama terangkum dalam bagian pertama, sedangkan bagian kedua terdiri dari dua bab. Pada bagian pertama, diketengahkan kajian tentang ihwal dan evolusi konsep CSR dan relevansinya bagi industri pertambangan serta metode penilaian pelaksanaan CSR (bab 1). Sementara uraian pada bab 2 difokuskan pada peran industri tersebut dalam pembangunan ekonomi dan dampaknya pada komunitas serta lingkungan. Bab 3 membahas perbedaan dan kekhasan sektoral yang mempengaruhi praktik CSR. Untuk mendukung uraiannya, bab ini menyajikan kasus telaah perbandingan dari strategi pendekatan sosial dan lingkungan yang diterapkan dua perusahaan pertambangan (emas dan berlian) di Republik Sakha, Republik Federasi Rusia. Bab 4, berisi paparan tentang kekhasan geografi lokal yang mempunyai pengaruh besar terhadap praktik pelaksanaan CSR suatu perusahaan pertambangan. Aspek utama dalam dimensi geografi lokal adalah: politik, ekonomi, hukum dan budaya.

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

17

Bagian kedua dari buku ini difokuskan pada penelitian serta diskusi mendalam tentang penerapan strategi pelaksanaan CSR dari dua perusahaan pertambangan yang diangkat sebagai kasus kajian.Penelitian dan diskusi yang dimaksud dilangsungkan dalam empat wilayah kunci CSR seperti telah disinggung di atas. Paparan yang penting untuk disimak dalam bagian kedua adalah yang menyangkut analisis yang cukup rinci tentang tiga model pelaksanaan program CD. Pada model pertama, perusahaan pertambangan bertindak sebagai agen utama penyelenggara CD. Model kedua, pembentukan dan pelaksanaan CD dilakukan oleh yayasan filantrofi perusahaan. Sedangkan model terakhir adalah pelaksanaan CD dengan nuansa tri-sector partnership yang melibatkan unsur administrasi pemerintah lokal, masyarakat dan perusahaan. Penutup Jika ada kritik yang dapat disampaikan terhadap buku ini maka hal itu diarahkan pada basis data yang dianalisa dalam kasus kajian. Sebagaimana dikemukakan oleh penulis buku ini, analisis data banyak dilakukan terhadap annual report, corporate report dan website dari industri pertambangan yang dijadikan kasus. Hal ini memang sah-sah saja, tetapi kajian selama ini menunjukkan bahwa sumber-sumber data seperti di atas masih banyak yang bersifat gincu. Kajian kasus yang diketengahkan tentu

akan semakin valid jika dilakukan dengan menggunakan penelitian lapang yang mendalam. Catatan terpenting yang layak dikemukakan dari buku ini adalah keberhasilan penulisnya untuk menyajikan uraian tentang langkah tindak yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan dalam upaya menjawab tuntutan tanggungjawab sosial dan lingkungan yang dewasa ini bersifat niscaya. Keniscayaan itu tercermin dalam kristalisasi tuntutan dan kepentingan yang absah dari para pemangku kepentingan perusahaan baik di tataran global, nasional dan lokal. Yakovleva memang tidak mungkin memberikan solusi berupa strategi pamungkas bagi perusahaan pertambangan dalam upaya meningkatkan kinerja sosial dan lingkungan di era di mana gagasan sustainable development sudah dapat dijabarkan dalam indiktor-indikator sosial dan lingkungan yang terukur. Namun wacana dan contoh kasus dari alternatif strategi yang dihadirkannya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan pertambangan yang berkomitmen untuk meningkatkan dampak positifnya dan menekan dampak negatif kegiatannya secara optimum. Melalui contoh kasus dari buku ini, perusahaan pertambangan dapat memilih piranti yang tersedia saat ini untuk menginkorporasikan kepentingan sosial dan lingkungan perusahaan dalam struktur manajemen mereka.

Kutipan
Verification by independent third parties of the information published in social responsibility reports is also needed to avoid criticism that the reports are public relations schemes without substance. European Comission But what exactly is corporate responsibility? Is it a mere concept currently in vogue, or is it a new structural approach which could indeed take responsibility into account insofar as long-term environmental preservation is concerned? Jerome Ballet and Damien Bazin For every company that sincerely implements its CSR [corporate social responsibility] policies, there are hundreds who greenwash, and for each of these there are hundreds more who don’t even bother with that. Craig Bennett Business also needs to embrace the critical collaboration approach; by going into partnership with government or civil-society groups business does not make itself immune to criticism. Business needs to learn to face challenges and criticism in an open and courageous manner and must also be able to accept that it has made mistakes, and should demonstrate that it is willing to learn from them. Ralph Hamman, Nicola Acutt, and Paul Kapelus It is a matter of understanding where the power actually lies. The reality is that however business is done in the world, it is inter-connected. John Browne The CSR discourse appears to signal a new form of co-operation between government, business and civil society in the promotion of social objectives. Bryane Michael As corporations learn from such reputational disasters and seek to develop more sophisticated risk management strategies, so has the concept of social license become increasingly important in understanding corporate behavior, and in explaining why, in what circumstances, and to what extent, corporations may choose to go beyond compliance with their existing legal obligations. Neil Gunningham, Robert Kagan and Dorothy Thornton

CSR Indonesia Newsletter Vol.1 Minggu 39 2007

18

Layanan A+ CSR Indonesia
A+ CSR Indonesia memberikan layanan jasa yang mencakup keseluruhan cakupan CSR. Seluruh layanan jasa yang diberikan ditujukan sebagai suatu upaya memberikan solusi yang bersifat terpadu, komprehensif, dan sinergis. Sebagaimana keyakinan A+ terhadap pentingnya kerjasama multipihak, maka ranah jasa tersebut tidak hanya ditujukan bagi perusahaan, melainkan juga bagi sektor lain (pemerintah dan kelompok masyarakat sipil) sebagai pemangku kepentingan yang akan menggunakan CSR bagi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Deskripsi layanan lengkap dapat dilihat pada situs www.csrindonesia.com, atau Anda bisa mengirim email ke alamat email office@csrindonesia.com untuk mendapatkan profil perusahaan.

Assessment (Kajian dan Penilaian) 1. Penilaian Sosial dan Lingkungan untuk Pengambilan Keputusan Investasi (Social and Environmental Aspects of Investment Screening). 2.Penilaian Dampak Sosial dan Lingkungan Projek (Social and Environmental Impacts Assessment). 3.Survei Data Dasar (Baseline Survey). 4.Penilaian Kebutuhan Masyarakat (Community Needs Assessments). 5.Pemetaan Isu Strategis dan Pemangku Kepentingan (Strategic Issues and Stakeholder Mapping). 6.Kajian Kebijakan dan Manajemen Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Review on CSR Policy and Management). Assistance (Bantuan dan Pendampingan) 1. Pengembangan Kebijakan CSR (CSR Policy Development). 2.Perencanaan Strategik CSR (CSR Strategic Planning). 3.Rekruitmen Spesialis CSR (CSR Specialist Recruitment). 4.Pengembangan Tim CSR (CSR Team Development). 5.Pelatihan Manajemen CSR (CSR Management Training). 6.Pelatihan Keterampilan Sosial untuk CSR (Social Skills Training for CSR). 7.Pendampingan Teknis Pelaksanaan Program CSR (CSR Program Technical Assistance). Assurance (Jaminan) 1. Audit Kinerja CSR (CSR Performance Audit). 2.Pelaporan dan Publikasi Program CSR (CSR Reporting and Publication) 3.Penilaian Independen atas Rencana atau Kinerja CSR (CSR Due Diligence). Advocacy (Advokasi) 1. Fasilitasi Hubungan dengan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Engagement Facilitation). 2.Fasilitasi Resolusi Konflik (Alternative Dispute Resolution/ADR). 3.Pengembangan Kerjasama Tim (Team Building). 4.Perencanaan Penutupan Operasi (Exit Strategy Planning). 5.Pengembangan Strategi Komunikasi CSR (CSR Communication Strategy Development). 6.Pelaksanaan Strategi Komunikasi CSR (CSR Communication Strategy Execution). 7.Kontribusi dalam Penyebaran Wacana dan Keterampilan CSR (Contribution to CSR Discourse and Skills).