You are on page 1of 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

1 Briket sebagai Sumber Energi Alternatif Biomassa pada umumnya mempunyai densitas yang cukup rendah, sehingga akan mengalami kesulitan dalam penanganannya. Densifikasi biomassa menjadi briket bertujuan untuk meningkatkan densitas dan menurunkan persoalan penanganan seperti penyimpanan dan pengangkutan (Bhattacharya dkk, 1996). Densifikasi menjadi sangat penting dikembangkan di negara-negara berkembang sebagai salah satu cara untuk peningkatan kualitas biomassa sebagai sumber energi. Secara umum densifikasi biomassa mempunyai beberapa keuntungan (Rayadeyaka Raditya Riseanggara, 2008) antara lain : a. Menaikkan nilai kalori per unit volume b. Mudah disimpan dan diangkut c. Mempunyai ukuran dan kualitas yang seragam. Biomassa mempunyai energi kira-kira 1/3 energi batubara per unit massa dan 1/4 energi batubara per unit volume. Densifikasi dapat mengubahnya menjadi masing-masing 2/3 dan ¾ (Bhattacharya dkk, 1996). Secara umum teknologi pembriketan dapat dibagi menjadi tiga (Rayadeyaka Raditya Riseanggara, 2008) yaitu : a. Pembriketan tekanan tinggi b. Pembriketan tekanan medium dengan pemanas c. Pembriketan tekanan rendah dengan bahan pengikat. Briket merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari limbah organik, limbah pabrik maupun dari limbah perkotaan. Bahan bakar padat ini merupakan bahan bakar alternatif atau 7

18 merupakan pengganti bahan bakar minyak yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal dalam waktu yang relatif singkat mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana (Kementrian Negara Riset dan Teknologi @2004.ristek.go.id).

Kuncoro dkk. (1999), meneliti pembakaran briket tanpa karbonasi akan menyebabkan penyalaan briket menjadi mudah dibandingkan dengan briket yang telah dikarbonasi. Hal ini dikarenakan briket tanpa karbonasi masih mengandung kadar volattile matter yang cukup banyak. Disamping itu mekanisme perubahan panas briket juga akan berubah. Sedangkan karakter pembakaran limbah pertanian pernah diteliti oleh Werther (2000), yang menyatakan antara lain, limbah pertanian banyak sekali mengandung volatile sehingga menyebabkan pembakaran dimulai pada temperatur rendah.

2.2 Komposisi Bahan Baku Adapun komposisi bahan baku yang digunakan untuk pembuatan briket organik adalah sebagai berikut : 2.2.1 Kulit Kopi Kopi (Coffea sp.) adalah spesies tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea (www.iccri.net). Tanaman ini tumbuhnya tegak, bercabang, dan bila dibiarkan tumbuh dapat mencapai tinggi 12 m. Jenis kopi yang banyak diusahakan di Indonesia yaitu Robusta dan Arabika, meskipun dulu ada kopi jenis Liberika di tanam di Indonesia, tapi sekarang sulit untuk dijumpai jenis tanaman tersebut (www.iccri.net), pohon kopi dapat dilihat pada Gambar 2.1.

17

Gambar 2.1 Tanaman Kopi (www.iccri.net) Menurut Direktorat Pascapanen Dan Pembinaan Usaha Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian (2010), dalam 1 ha areal pertanaman kopi akan memproduksi limbah segar sekitar 1,8 ton. Hasil penelitian Pusat Penelitian Kopi Kakao (2004), menunjukkan bahwa kadar C-organik kulit buah kopi adalah 45,3 %, kadar nitrogen 2,98 %, fosfor 0,18 % dan kalium 2,26 %. Selain itu kulit buah kopi juga mengandung unsur Ca, Mg, Mn, Fe, Cu dan Zn. Dalam proses pengolahan kopi secara basah akan menghasilkan limbah padat berupa kulit buah pada proses pengupasan buah (pulping) dan kulit tanduk pada saat penggerbusan (hulling). Kulit kopi selama ini tidak mengalami pemrosesan di pabrik karena yang digunakan hanya biji kopi yang kemudian dijadikan bubuk kopi instan (Baon, 2005). Telah dilakukan usaha untuk mengolah limbah kulit kopi untuk keperluan bahan bakar dalam bentuk padat, dimana pemanfaatannya adalah sama seperti briket batubara (Anonim, 2009). Antolin dalam Subroto (2007) menyatakan bahwa pembakaran limbah kulit kopi menghasilkan kadar sulfur yang rendah. Keringnya kandungan dari limbah kulit kopi akan menguntungkan karena dapat meningkatkan nilai kalor. Saenger, (2001) memperkuat hasil dengan menyatakan bahwa kulit parchment untuk kopi jenis Arabika yang tumbuh di Kenya

18 memiliki kadar air sebesar 10-11%. Kadar air yang tinggi dapat merusak kandungan biji kopi dan menurunkan mutunya. SNI 012907-2008 tentang biji kopi telah mensyaratkan batas kadar air dalam pengolahan adalah kopi sebesar 12,5%. Adapun sifat kimia dari kulit kopi dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Kulit Kopi (Bressani, 1972) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Komposisi Moisture Dry Mater Crude Fat Ash Phospor Carbon Nitrogen Calium Jumlah (%) 6.2 92.4 0.6 0.5 0.18 45.3 2.98 2.26

2.2.2 Ampas Kopi Instan Ampas kopi diperoleh dari proses pengolahan produksi kopi instan. Kopi instan merupakan kopi yang bersifat mudah larut dengan air tanpa meninggalkan serbuk. Bubuk kopi sangrai merupakan bahan baku kopi instant. Bubuk kopi diperoleh dari proses penghalusan biji kopi sangrai. Ekstraksi bubuk kopi dilakukan secara batch dalam kolom dengan sirkulasi pelarut air. Sisa bubuk hasil pelarutan dikempa secara manual untuk mengekstrak komponen kopi yang masih tertinggal. Kisaran rendemen ekstraksi antara 30 -32 % berat. Ampas kopi ini mengandung minyak dengan 11-20% berat (www.iccri.net).

17 2.2.3 Perekat Kanji Dalam pembuatan briket, ada yang menggunakan perekat dan ada juga yang tidak menggunakan perekat. Dengan menggunakan bahan perekat maka tekanan yang digunakan jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan briket tanpa memakai bahan perekat (Josep dan Hislop, 1981). Menurut Schuchart (1996) pembuatan briket dengan penggunaan bahan perekat akan lebih baik hasilnya jika dibandingkan tanpa menggunakan bahan perekat. Disamping meningkatkan nilai bakar dari briket, kekuatan briket dari tekanan luar juga lebih baik (tidak mudah pecah). Komposisi kimia dari perekat tepung tapioka pada Tabel 2.2 sebagai berikut : Tabel 2.2 Komposisi Kimia Tepung Tapioka (Erikson, 2011) No 1 2 3 4 5 6 Komposisi Air Abu Lemak Protein Serat Kasar Karbon Jumlah (%) 9.84 0.36 1.5 2.21 0.69 85.2

2.3 Standar Mutu Briket Kualitas briket yang dihasilkan menurut standar Internasional beberapa negara serta standar SNI dan Permen ESDM dapat dilihat pada tabel berikut. Sebagai data pembanding, sehingga dapat diketahui kualitas briket yang dihasilkan dalam penelitian ini. Karakteristik briket sesuai dengan standar masingmasing negara seperti pada Tabel 2.3 berikut. Tabel 2.3 Standar Kualitas Mutu Briket Batu Bara

18

Sumber : Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan (1994) di dalam Triono (2006)

2.4 Pembakaran Bahan Bakar Padat Pembakaran adalah konversi klasik biomassa menjadi energi panas (Diah Sundari, 2009). Dalam hal ini biomassa digunakan sebagai bahan bakar pada bentuk aslinya atau setelah mengalami perbaikan sifat fisik dalam bentuk bahan bakar padat. Energi panas yang dihasilkan selain dapat langsung dimanfaatkan untuk proses panas, juga dapat diubah menjadi bentuk energi lain (listrik, mekanis) dengan menggunakan jalur konversi yang lebih panjang (Abdullah, 1998). Pada prinsipnya pembakaran adalah reaksi sesuatu zat dengan oksigen dan menghasilkan energi. Bahan bakar umumnya adalah merupakan suatu senyawa hidrokarbon. Semakin besar energi yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar tersebut maka semakin baik fungsinya sebagai bahan bakar. Menurut Himawanto D. A. (2005), mekanisme pembakaran biomassa terdiri dari tiga tahap yaitu pengeringan (drying), devolatilisasi (devolatilization), dan pembakaran arang (char combustion). Tahapan tersebut antara lain : a. Pengeringan (drying)

17 Dalam proses ini bahan bakar mengalami proses kenaikan temperatur yang akan mengakibatkan menguapnya kadar air yang berada pada permukaan bahan bakar tersebut, sedangkan untuk kadar air yang berada di dalam akan menguap melalui pori-pori bahan bakar padat tersebut. Waktu pengeringan adalah waktu yang diperlukan untuk memanaskan partikel sampai ke titik penguapan dan melepaskan air tersebut. b. Devolatilisasi (devolatilization) Devolatilisasi yaitu proses bahan bakar mulai mengalami dekomposisi setelah terjadi pengeringan. Setelah proses pengeringan, bahan bakar mulai mengalami dekomposisi, yaitu pecahnya ikatan kimia secara termal dan zat terbang (volatile matter) akan keluar dari partikel. Volatile matter adalah hasil dari proses devolatilisasi. Volatile matter terdiri dari gasgas combustible dan non combustible serta hidrokarbon. Ketika volatile matter keluar dari poripori bahan bakar padat, oksigen luar tidak dapat menembus ke dalam partikel, sehingga proses devolatilisasi dapat diistilahkan sebagai tahap pirolisis. c. Pembakaran arang (char combustion) Sisa dari pirolisis adalah arang (fixed carbon) dan sedikit abu, kemudian partikel bahan bakar mengalami tahapan oksidasi arang yang memerlukan 70% - 80% dari total waktu pembakaran. Laju pembakaran arang tergantung pada konsentrasi oksigen, temperatur gas, bilangan Reynolds, ukuran, dan porositas arang. Arang mempunyai porositas yang tinggi. Porositas arang kayu berkisar 0,9 (Borman dan Ragland, 1998). Sulistyanto A. (2006), meneliti biobriket yang menggunakan bahan baku dari sabut kelapa yang dicampur dengan batubara dari hasil penelitiannya didapatkan bahwa

18 faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik pembakaran biobriket, antara lain : a. Laju pembakaran biobriket paling cepat adalah pada komposisi biomassa yang memiliki banyak kandungan volatile matter (zat-zat yang mudah menguap). Semakin banyak kandungan volatile matter suatu biobriket maka semakin mudah biobriket tersebut terbakar, sehingga laju pembakaran semakin cepat. b. Semakin besar berat jenis (bulk density) bahan bakar maka laju pembakaran akan semakin lama. Dengan demikian biobriket yang memiliki berat jenis yang besar memiliki laju pembakaran yang lebih lama dan nilai kalornya lebih tinggi dibandingkan dengan biobriket yang memiliki berat jenis yang lebih rendah, sehingga makin tinggi berat jenis biobriket semakin tinggi pula nilai kalor yang diperolehnya. 2.4.1 Syarat Bahan Bakar Menurut Duff dan Ravindranath (1992) dalam Febriyantika (1998), syarat-syarat bahan bakar yang dapat digunakan di sektor rumah tangga maupun industri adalah : a. Mudah digunakan

b. Tidak mengeluarkan asap yang berlebihan dan tidak berbau c. Tidak mudah pecah dalam penanganan

d. Kedap air dan tidak berjamur atau tidak mengalami degradasi e. Kandungan abunya rendah (kurang dari 7% berat kering)

f. Harga dapat bersaing dengan bahan bakar lain.

17

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembakaran Bahan Bakar Padat Faktor-faktor yang mempengaruhi pembakaran bahan bakar padat (Sulistyanto A, 2006), antara lain : a. Ukuran partikel Salah satu faktor yang mempengaruhi pada proses pembakaran bahan bakar padat adalah ukuran partikel bahan bakar padat yang kecil. Dengan Partikel yang lebih kecil ukurannya, maka suatu bahan bakar padat akan lebih cepat terbakar. b. Kecepatan aliran udara Laju pembakaran biobriket akan naik dengan adanya kenaikan kecepatan aliran udara dan kenaikan temperatur. Dengan kata lain, apabila kecepatan aliran udara mengalami kenaikan maka akan diikuti kenaikan temperatur dan laju dari pembakaran biobriket naik dalam satu renggang waktu. c. Jenis bahan bakar Jenis bahan bakar akan menentukan karakteristik bahan bakar. Karakteristik tersebut antara lain kandungan volatile matter (zat-zat yang mudah menguap) dan kandungan moisture (kadar air). Semakin banyak kandungan volatile matter pada suatu bahan bakar padat maka akan semakin mudah bahan bakar padat tersebut untuk terbakar dan menyala. d. Temperatur udara pembakaran Kenaikan temperatur udara pembakaran menyebabkan semakin pendeknya waktu pembakaran. e. Karakteristik bahan bakar padat

18 Terdiri dari kadar karbon, kadar air (moisture), zat-zat yang mudah menguap (volatile matter) , kadar abu (ash), nilai kalori.

2.6 Analisis Bahan Bakar Padat Ada dua metode untuk menganalisis bahan bakar padat yaitu analisis proximate dan analisis ultimate (Diah Sundari, 2009) yaitu : a. Analisis pendekatan (proximate analysis) Analisis proximate merupakan analisis yang digunakan untuk memperkirakan kinerja bahan bakar pada saat pemanasan dan pembakaran antara lain kadar air, zat terbang (volatile matter), kadar kalori dan abu. b. Analisis tuntas (ultimate analysis) Analisis ultimate komposisi bahan bakar padat berupa unsur-unsur C, H, O, N, S, abu dan air. Bahan bakar padat tersusun dari komponen yang dapat terbakar berupa komponen yang mengandung : C, H, S, yaitu unsur-unsur yang bila terbakar membentuk gas. Komponen yang tidak dapat terbakar, yaitu O, N, bahan mineral atau abu dan H2O. 2.7 Karakteristik Briket Bahan bakar padat memiliki spesifikasi dasar antara lain sebagai berikut : a. Nilai Kalor (Heating Value) Nilai kalor bahan bakar padat terdiri dari GHV (gross heating value/nilai kalor atas) dan NHV (net heating value/nilai kalor bawah). Nilai kalor bahan bakar adalah besarnya panas yang diperoleh dari pembakaran suatu jumlah tertentu bahan bakar di dalam zat asam.

17 Makin tinggi berat jenis bahan bakar, makin rendah nilai kalor yang diperolehnya (Arganda Mulia, 2007). Adapun alat yang digunakan untuk mengukur kalor disebut kalorimeter bom (Bomb Calorimeter). Prosedur pengujian nilai kalor mengikuti metode ASTM-2015 dan ASTM D-5865-03. Perhitungan nilai kalor menggunakan standar ASTM D-5865-03 dengan rumus : Nilai kalor atas (HHV) dapat dihitung menurut rumus: HHV = (T2 – T1 – Tkp) x cv (kj/kg) (2.1) sedangkan nilai kalor bawah (LHV) dihitung dengan persamaan menurut rumus: LHV = HHV – 3240 (kj/kg). Bila dilakukan n kali pengujian, maka:
n

(2.2)

HHV rata −rata = LHV rata −rata

( kJ / kg ) dan n = HHV rata −rata − 3240 ( kJ / kg ) )
i =1

∑HHV

(2.3)

dimana, T1 T2 Tkp cv = Suhu air pendingin sebelum dinyalakan (oC) = Suhu air pendingin sesudah dinyalakan (oC) = Kenaikan suhu kawat penyala = 0,05 (oC) = Panas jenis alat = 73.529,6 (kJ/kgoC).

b.

Kadar Air (Moisture) Kadar air bahan bakar padat ialah perbandingan berat air yang terkandung dalam bahan bakar padat dengan berat kering bahan bakar padat tersebut (Earl, 1974). Arang dengan nilai kadar air rendah akan

18 memiliki nilai kalor tinggi. Semakin tinggi kadar air maka dalam proses karbonisasi, akan lebih banyak kalor yang dibutuhkan untuk mengeluarkan air tersebut menjadi uap sehingga energi yang tersisa dalam arang menjadi lebih kecil. Prosedur perhitungan kadar air briket arang menggunakan standar ASTM D-3173 dengan rumus :
Kd r aa −a (% = ir ) a −b ×0 % 10 a

(2.4)

dimana, a = berat sampel sebelum dikeringkan (gr) b = berat sampel sesudah dikeringkan (gr).

c.

Kadar Abu (Ash) Abu adalah bahan yang tersisa apabila bahan bakar padat (kayu) dipanaskan hingga berat konstan (Earl, 1974). Batubara memiliki kandungan kadar abu yang terkandung di dalam materi bahannya. Kadar abu yang tinggi di dalam batubara tidak mempengaruhi proses pembakaran. Kadar abu yang tinggi di dalam batubara akan mempersulit penyalaan batubara, semakin tinggi kadar abu maka batubara akan semakin sulit terbakar. Kabar abu ini sebanding dengan kandungan bahan an-organik didalam kayu. Abu berperan menurunkan mutu bahan bakar karena menurunkan nilai kalor. Untuk mendapatkan nilai kadar abu, maka dapat digunakan standar ASTM D-3174 dengan persamaan berikut :
K adarabu (% = ) c −b × 100 % a

(2.5)

dimana, c = berat cawan + berat abu (gr)

17 b = berat cawan (gr) a = berat sampel sebelum pengabuan (gr).

d.

Volatile Matter (Zat-zat yang mudah menguap) Zat terbang terdiri dari gas-gas yang mudah terbakar seperti hidrogen, karbon monoksida (CO), dan metana (CH4), tetapi kadang-kadang terdapat juga gas-gas yang tidak terbakar seperti CO2 dan H2O. Volatile matter adalah bagian dari briket dimana akan berubah menjadi volatile matter (produk) bila briket tersebut dipanaskan tanpa udara pada suhu lebih kurang 950oC. Untuk kadar volatile matter ± 40% pada pembakaran akan memperoleh nyala yang panjang dan akan memberikan asap yang banyak. Sedangkan untuk kadar volatile matter rendah antara (15-25)% lebih disenangi dalam pemakaian karena asap yang dihasilkan sedikit. Semakin banyak kandungan volatile matter pada biobriket maka semakin mudah biobriket untuk terbakar dan menyala, sehingga laju pembakaran semakin cepat. Besarnya zat mudah menguap dihitung menggunakan standar ASTM D-3175 dengan rumus berikut :
Kehilangan berat (%) = a −d ×100 % a

Volatile matter (%) = kehilangan berat - kadar air dimana, a = berat awal (gr) d = berat sampel setelah pemanasan (gr). e. Fixed Carbon (FC)

(2.6)

18 Kandungan fixed carbon, yaitu komponen yang bila terbakar tidak membentuk gas yaitu KT (karbon tetap) atau disebut fixed carbon (www.chemeng.ui.ac.id.). Kadar karbon terikat mempengaruhi nilai kalor, semakin tinggi kadar karbon terikat akan semakin tinggi pula nilai kalornya karena setiap ada reaksi oksidasi menghasilkan kalori. Prosedur perhitungan kadar karbon terikat dilakukan dengan menggunakan standar ASTM D-3172 dengan rumus : Kadar FC (%) = 100 – (%air + % abu + %VM) (2.7)