November 2007

Pengantar
Pengelolaan sampah bukanlah sesuatu yang mudah dan murah. Sampai saat ini belum ada kota dan kabupaten yang benar-benar mampu mengelola 100% sampahnya dengan baik. Jumlah sampah yang terus meningkat dan semakin beragam membuat beban pemerintah semakin bertambah. Oleh karena itu, pola pengelolaan sampah terpadu harus direalisasikan. Pola tersebut mengharuskan adanya peran seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) yang optimal, termasuk mereka yang selama ini berperan melakukan pemanfaatan sampah sebagai mata pencahariannya. Operasi pemulung, pengepul (lapak dan bandar), pihak pengkompos dan pabrikan bahan daur-ulang harus didukung agar mereka semakin mampu meningkatkan pengelolaan sampah. Di sisi lain, masyarakat perlu terus diingatkan untuk melakukan berbagai upaya pengurangan jumlah sampah. Tidak hanya di rumahnya tetapi juga di tempat kerjanya. Buku ini berisi informasi yang mendasar tentang sampah dan konsep pengelolaannya yang dirasakan tepat saat ini. Para pembaca dapat menjumpai informasi mengenai hirarki pengelolaan sampah, berbagai jenis sampah dan peluang-peluang pemanfaatannya. Buku ini tidak dimaksudkan sebagai buku referensi yang memuat informasi mendalam tentang persampahan. Informasi yang disampaikan rasanya cukup untuk menumbuhkan pemahaman dasar tentang perlunya kita mengoptimalkan pemanfaatan sampah, sebagai bagian penting dari penerapan pola pengelolaan sampah terpadu. Lebih baik berkawan dengan sampah daripada terus menerus memeranginya. Selamat membaca. Jakarta, 12 November 2007 Direktur Permukiman dan Perumahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sebagai Ketua Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Basah Hernowo

DITERBITKAN OLEH
Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang beranggotakan wakil-wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri, Departemen Kesehatan, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Alamat Pokja: Jl. Cianjur No. 4, Menteng, Jakarta Pusat. Telp/ Faks (62-21) 31904113. Website: http://www.ampl.or.id. E-mail: pokja@ampl.or.id.

ATAS PENDANAAN
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum

ii

Foto / Taufik Ismail

PENGARAH
Basah Hernowo, Oswar Mungkasa dan Nugroho Tri Utomo (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional); Raymond Marpaung (Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum); Anggota Kelompok Kerja AMPL.

Daftar Isi
BERKAWAN DALAM KETERPADUAN Prinsip Keterpaduan Persepsi Harus Sama 1 9 11

PENYUSUN
Rudy Yuwono (Penulis), Taufik Ismail, Echi Desvita, Hidayah Pujiwati, Salida Arianti, Endro Adinugroho (Dukungan Penulisan); Isna Marifa, Nuraman Sjach, Laksmi Wardhani (Dukungan Editorial); Zarkoni, Endang Sunandar, Muhammad Taufik (Tata Letak & Desain Grafis)

AWALNYA JANGAN SAMPAI PUNYA BANYAK LAWAN 12 Cegah Pakai-Ulang Semua Dimulai di Rumah Perlu Juga di Kantor Extended Producer Responsibility MENGENALI KAWAN Sebagian untuk Dijual atau Dikompos Sebagian Harus Dibuang Sebagian dapat Dibakar MENELUSURI PERJALANAN KAWAN Jalur Formal dan Jalur Informal Peran Pemulung dan Pengepul KAWAN DILEBUR, KAWAN DIBENTUK Proses Daur-Ulang Faktor Sukses Beragam Jenis Plastik Daur-Ulang Skala Kecil YANG BUSUK YANG BERMANFAAT Kelemahan Kompos Dibuat Pupuk Cair DARI SAMPAH JADI ENERGI Dibakar Jadi Energi Dibusukkan Jadi Energi 14 15 16 18 20 21 24 25 27 28 30 33 37 40 43 44 48 50 52 55 56 57 60

Apresiasi
UNTUK SUBSTANSI
Cecep Saefudin dan Jajat Sudrajat (Staf Rumah Tangga Istana Kepresidenan Cipanas); Sri Bebassari, Eko Junaedy, dan Herlinda Murap (Dana Mitra Lingkungan); Kania Parwanti (Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok); Endang Setyaningrum (Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum); Astri Handayani dan Reski Dian Diniari (Sekretariat Pokja AMPL); Miki dan Sunatra (Dinas Pertamanan DKI); John Peter dan Domartin (Peka Group, Bandung), Rika Lestari (PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk), Danu Maraden (PT. Lippo Karawaci Tbk.), Defi Hendra (PT. Muhtomas); Douglas Manurung (PT. Godang Tua Jaya); Ibu Bambang Harini (Kompleks Perumahan Banjarsari); Markasan dan Edi (Kebun Binatang Ragunan dan Kirai); Hidayat, SE (Mitratani Mandiri Perdana); Tri Bangun Laksono (KLH); Bagong Suyoto; Eka Jatnika (ITENAS, Bandung); Suharsono dan Setiawan Wangsaatmaja (BPLHD Provinsi Jawa Barat); dan pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

UNTUK FOTO
Winarko Hadi (ESP); Heri Wibowo (Green Planet Indonesia, PT); Jan Ricko; Bismo Agung dan Yosep Arkian (Tempo); M. Gelora Sapta (Pikiran Rakyat).

UNTUK DUKUNGAN
Bayu, Desi, Rio, Dewi, Sahlan, dan Mistur (Qipra Galang Kualita, PT) iii

Tentang Buku Ini
Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama, berjudul BERKAWAN DALAM KETERPADUAN, memperkenalkan gagasan memperlakukan sampah sebagai sumberdaya daripada sesuatu yang harus dibuang. Pada bagian kedua, AWALNYA, JANGAN SAMPAI PUNYA BANYAK LAWAN, buku ini mengajak pembaca untuk mempelajari cara-cara untuk mencegah terjadinya sampah, sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi beban pada lingkungan dan sekaligus berhemat. Selanjutnya, buku ini menjelaskan karakteristik dan kategori sampah, serta perlakuan yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah yang harus dibuang. Bagian ini, bertajuk MENGENALI KAWAN, memperkenalkan istilah-istilah seperti Sampah Layak-Jual, Sampah Layak-Kompos, dan Sampah Layak-Buang. Bagian MENELUSURI PERJALANAN KAWAN, menggambarkan perjalanan Sampah Layak-Jual di Indonesia, serta peran sektor informal dan usaha kecil-menengah. Ini diikuti oleh bagian yang bertajuk KAWAN DILEBUR, KAWAN DIBENTUK, dimana proses daur-ulang beberapa jenis bahan dijelaskan. Bagian selanjutnya, YANG BUSUK YANG BERMANFAAT menjelaskan proses pembuatan kompos dari sampah organik. Terakhir, buku ini memperkenalkan konsep menggunakan sampah sebagai sumber energi listrik, dalam bagian berjudul DARI SAMPAH JADI ENERGI. Diharapkan bagian ini memberi harapan dan pandangan baru bahwa sampah tidak selamanya membawa petaka.

iv

Foto / Jan Ricko

KETERPADUAN
Di satu sisi, sampah semakin banyak dan beragam. Di sisi lain, kemampuan institusi pengelola sampah masih saja terbatas. Pola Pengelolaan Sampah Terpadu perlu segera diterapkan. Pola tersebut meminta kita untuk tidak langsung menganggap sampah sebagai lawan yang harus dibuang jauhjauh. Sebagian sampah adalah kawan yang dapat dimanfaatkan.

Berkawan dalam

Foto / Koleksi Mittran

1

kabupaten manapun di Indonesia. Semua penduduknya mau sampahnya tertangani dengan baik, tapi fasilitas dan anggaran untuk urusan kebersihan yang mampu disediakan sangatlah terbatas. Dari kebutuhan idealnya Rp100.000,00 per ton sampah, kota-kota di Indonesia rata-rata baru mampu menyediakan tidak lebih dari Rp15.000,00 per ton sampah. Tak heran jika berbagai masalah sampah pun sering kita dengar. Yang paling menyedihkan tentunya adalah bencana longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Kota Cimahi (Jawa Barat). 2

T

idak dapat dipungkiri, urusan pengelolaan sampah bukanlah perkara mudah bagi pemerintah kota atau

Foto-foto / M. Gelora Sapta / Pikiran Rakyat

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Bencana itu terjadi sekitar pukul 2 menjelang subuh, hari Rabu, 21 Februari 2005. Setelah diguyur hujan selama dua hari berturut-turut, gunungan sampah setinggi hampir 70 meter dengan luas 8 hektar di TPA Leuwigajah (Kota Cimahi, Jawa Barat) longsor dan menimpa puluhan rumah penduduk. Hampir 150 orang tewas tertimbun sampah dan ratusan lainnya cedera. Saksi mata mengatakan longsornya bukit sampah itu didahului oleh suara ledakan keras yang dicurigai sebagai ledakan gas metan. Longsornya timbunan sampah di TPA Leuwigajah menunjukkan ketidakmampuan kita untuk mengelola sampah secara baik. Sampah tetap saja ditimbun di TPA yang sebenarnya sudah penuh. Cara beroperasinya juga sangat ceroboh. Lahan penimbunan tidak pernah disiapkan, timbunan sampah jarang sekali dipadatkan, gas metan tidak pernah dikelola, penutupan sampah (soil covering) tidak dilakukan, dan kegiatan pemulung tidak diatur dengan baik. Celakanya hampir 400-an TPA di Indonesia memiliki permasalahan yang hampir serupa. Penutupan TPA Leuwigajah kemudian mengakibatkan lumpuhnya operasi pengelolaan sampah di kota-kota yang memanfaatkan TPA tersebut. Salah satunya adalah kota Bandung. Di berbagai pelosok kota Bandung, pada waktu itu, dapat kita jumpai onggokan sampah yang tidak terangkut. Selama hampir satu bulan, kota Bandung dipenuhi bau sampah yang sangat menyengat.
Foto / Eka Jatnika

3

Instansi kebersihan di kota-kota Indonesia sampai saat ini belum mampu memberi layanan pengumpulan sampah kepada seluruh penduduk perkotaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004, cakupan layanan pengumpulan sampah rata-rata masih sekitar 41%. Masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) yang besarnya harus mencapai 70% di tahun 2015. Di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Denpasar tingkat layanan yang dimiliki sudah di atas 70%. Namun sayangnya kualitas pelayanannya belum selalu memenuhi harapan penduduknya. Sekarang saja sudah sulit apalagi nanti. Dari tahun ke tahun, volume timbulan sampah terus bertambah. Tingkat pertambahannya dapat mencapai 4% per tahun

Permasalahan sampah di kota-kota Indonesia ada di setiap komponen pengelolaan sampah. Pengumpulan sampah belum dapat dilakukan secara optimal. Saat ini rata-rata baru sekitar 30% penduduk perkotaan di Indonesia yang sampahnya berhasil dikumpulkan. Rendah-nya kesadaran masyarakat membuat upaya pengumpulan sampah menjadi lebih sulit dan mahal. Misalnya, sampah yang menggenangi dan menyumbat sungai di Jakarta Barat. Pengangkatannya tentu membutuhkan anggaran yang lebih besar.

4

1,15% 35,59%
Dibakar Diolah (Kompos)

7,97%
Ditimbun

Institusi-institusi

pengelola

sampah

baru mampu melayani sekitar 41% rumah-rumah yang ada di perkotaan. Selebihnya, masyarakat menentukan caranya sendiri-sendiri. Pembakaran
Infografik/ Zack sumber/ BPS 2004 Foto / Sahlan

dilakukan oleh lebih dari 36% rumahrumah. Yang menyedihkan masih banyak rumah-rumah memilih untuk

14,01%
Lainnya (dibuang ke sungai, jalan, taman, dan sebagainya)

41,28%
Diangkut Petugas

membuangnya di kali atau sungai terdekat.

5

Foto / Taufik Ismail

sehingga volume timbulan sampah kita di tahun 2010 akan menjadi dua kali dari vo-lume timbulan di tahun 2005. Jenisnya juga semakin beragam. Sekarang banyak dijumpai sampah kemasan makanan atau minuman yang terbuat dari kertas dan plastik berlapis. Demikian juga sampah barang-barang elektronik. Pola pengelolaan sampah yang diterapkan oleh kebanyakan institusi pengelola sampah saat ini jelasjelas tidak akan mampu mengatasi beban itu. Pola pengelolaan sampah lain perlu segera diterapkan. Publik menyebutnya sebagai Pola Pengelolaan Sampah Terpadu (Integrated Solid Waste Management).

Jenis sampah yang ada sekarang semakin beragam. Sampah plastik semakin banyak dan beragam. Sampah elektronik sangat mudah dijumpai. Yang paling merepotkan adalah sampah yang terbuat dari materi gabungan, seperti plastik, kertas, dan alumunium. Contohnya, bekas kemasan makanan atau minuman.

Permasalahan juga dengan mudah dapat dijumpai di bagian hilir pengelolaan sampah, yaitu di tempat-tempat pembuangan akhir. Dari ratusan TPA yang ada di Indonesia, tidak ada satupun yang benar-benar menerapkan prosedur kerja suatu sanitary landfill. Penutupan sampah dengan tanah hanya dilakukan sesekali. Tidak semua TPA dilengkapi dengan lapisan dasar yang kedap. Keberadaan pemulung yang tidak terkendali juga semakin mempersulit pengoperasian TPA-TPA yang ada. Di beberapa TPA, seperti yang ada di kota Yogyakarta, hewan-hewan ternak malah dibiarkan berkeliaran untuk mencari makan.

6

Foto / Minarko Hadi

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Foto / Jan Ricko

Sampah rongsokan komputer merupakan salah satu contoh sampah jenis baru yang mulai banyak dijumpai saat ini. Sebagaimana diilustrasikan oleh tukang becak di tengah kota Surabaya ini, sampah-sampah jenis baru masih ditangani dengan cara-cara konvensional.

7

4
Upaya ini dapat dilakukan sebelum maupun sesudah upaya Buang. Sebagian sampah, khususnya yang kering dan nilai kalor bakarnya tinggi, dapat dijadikan bahan bakar dalam suatu pembangkit listrik. Sebagian sampah lainnya, khususnya bahan organik yang mudah membusuk, dapat menghasilkan gas metan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

5

Dilakukan sebagai pilihan terakhir di saat semua upaya sudah dioptimalkan. Metode yang banyak digunakan adalah sanitary landfill. Sampah dibuang di suatu wilayah yang sudah direkayasa guna mencegah adanya polutan-polutan dari timbunan sampah yang akan mencemari lingkungan.

Jika Pakai-Ulang adalah upaya penggunaan kembali barang secara langsung, Daur-Ulang adalah upaya pemanfaatan kembali suatu barang setelah melalui suatu proses. Barang yang sudah tidak terpakai lagi diolah untuk dijadikan produk baru yang bermanfaat. Contohnya, pembuatan kompos, daur-ulang kertas, daur-ulang plastik, dan sebagainya. Upaya ini banyak membutuhkan campur tangan produsen.

3 2
Usia pakai barang dapat diperpanjang bila kita mau merawatnya. Daya gunanya juga bertambah jika kita mampu memanfaatkan suatu barang untuk penggunaan lain yang berbeda dengan penggunaan utamanya. Itulah prinsip umum upaya Pakai-Ulang.
Infografik/ E. Sunandar

1
Dengan mengurangi jumlah barang-barang yang kita gunakan maka semakin sedikit pula barang yang perlu dibuang sebagai sampah. Upaya Cegah tidak melulu hanya ditujukan terhadap kuantitas sampah. Upaya ini perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali atau sampah yang tergolong sebagai bahan beracun dan berbahaya.

Pola pengelolaan sampah terpadu atau integrated solid waste management mengandalkan pendekatan multi-pihak yang berjenjang atau hirarkis. Hirarki diawali dengan upaya untuk mengurangi pembentukan sampah. Baik itu dilakukan oleh produsen maupun oleh para pengguna produk. Pengurangan sampah diawali dengan upaya Cegah (reduce) dan upaya PakaiUlang (reuse). Jika sampah sudah terlanjur terbentuk, hirarki pengelolaan selanjutnya adalah upaya Daur-Ulang (recycle). Tiga upaya awal tadi, yaitu reduce, reuse, dan recycle, populer disebut “upaya 3R”. Ada juga yang menyebutnya sebagai pendekatan zero-waste atau nirsampah. Harapannya jika kita mau menerapkan ketiga upaya itu, tidak akan lagi ada sampah yang perlu dibuang ke lingkungan. Sayangnya, harapan itu sulit untuk dipenuhi karena tidak semua sampah dapat dicegah, dipakai-ulang atau didaur-ulang. Sampah yang ada kemudian harus diwadahi, dikumpulkan, dibawa, dan dibuang ke suatu tempat pembuangan akhir yang sudah disiapkan sebelumnya. Pendekatan terakhir ini disebut sebagai upaya Buang (disposal). Besaran upaya ini sangat dipengaruhi oleh tingkat penerapan ketiga upaya sebelumnya. Pendekatan pengelolaan sampah lain yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang adalah upaya Tangkap-Energi (energy recovery). Upaya ini dapat diterapkan sebelum upaya Buang atau setelah sampah tertimbun lama di tempat pembuangan akhirnya.

8

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

PRINSIP KETERPADUAN
Pola Pengelolaan Sampah Terpadu meminta kita untuk jangan lagi terburu-buru membuang atau membakar sampah. Sebisanya manfaatkan
Praktek Pakai-Ulang dan Daur-Ulang, yang penerapannya dituntut dalam Pola Pengelolaan Sampah Terpadu, sebenarnya bukan hal baru bagi kita. Dari dulu, banyak orang sudah memanfaatkan berbagai jenis sampah untuk bahan baku proses produksinya. Misalnya, pemanfaatan ban bekas sebagai bahan pembuatan sandal.

sampah itu terlebih dulu! Caranya bermacammacam, bisa dalam bentuk Pakai-Ulang (reuse) maupun dalam bentuk Daur-Ulang (recycle). SiFoto / E. Sunandar

sanya dibuang dengan cara-cara yang lebih aman bagi lingkungan sekitar. Demikianlah hirarki yang dikenal dalam pola pengelolaan sampah terintegrasi itu (lihat diagram). Pola Pengelolaan Sampah Terpadu juga meminta semua pihak untuk ikut terlibat dan bekerjasama. Penghasil sampah, seperti penduduk, pengelola gedung, produsen barang, dan lainnya, harus terlibat aktif untuk melakukan upaya Cegah dan PakaiUlang. Sangat baik jika mereka juga turut melakukan upaya Daur-Ulang, perti sepengkom-

posan. Jika tidak melakukannya, mereka setidaknya dapat membantu optimasi upaya Daur-Ulang dengan memilah sampah sesuai kebutuhan pelaku DaurUlang. Di sisi lain, institusi pengelola sampah dan pihak-pihak yang terlibat dalam praktek daur-ulang harus lebih bekerjasama. Setidaknya untuk saling memberikan kesempatan ke masing-masing pihak

9

agar dapat melaksanakan tugasnya masing-masing secara optimal. Siapapun yang terlibat dalam pemanfaatan sampah harus dianggap sebagai subsistem pengelolaan sampah perkotaan. Jika dioptimalkan, kontribusi upaya pemanfaatan sampah akan sangat signifikan. Upaya tersebut diperkirakan dapat mengurangi 60% lebih sampah yang seharusnya dikelola pemerintah. Keuntungannya jelas banyak. Jumlah sampah yang perlu diangkut akan berkurang sehingga biaya operasi pengangkutan dapat ditekan. Usia pakai TPA dapat diperpanjang. Tingkat penggunaan sumber daya alam dapat ditekan karena kebutuhan terhadap bahan baku baru dapat dikurangi.

Pola Pengelolaan Sampah Terpadu diyakini dapat mengurangi kebutuhan kita terhadap TPA baru. Hal ini penting mengingat rencana pengembangan TPA baru hampir selalu ditolak oleh masyarakat sekitar. Mereka khawatir terhadap berbagai dampak lingkungan dan sosial yang akan di-timbulkan oleh operasi TPA. Penolakan juga terjadi walaupun suatu TPA direncanakan menggunakan teknologi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Banyak masyarakat sudah terlanjur tidak percaya bahwa pemerintah akan mampu menjalankannya dengan baik. Salah satu contohnya adalah penolakan sebagian masyarakat sekitar terhadap rencana pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong. Padahal, TPST yang akan menggunakan teknik balapress ini yang jauh lebih baik dari TPA-TPA yang ada.

10

Foto / Bismo Agung dan Yosep Arkian/ Tempo

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

PERSEPSI HARUS SAMA
Pengembangan Pola Pengelolaan Sampah Terpadu memang tidak mudah. Walau konsepnya sudah diperkenalkan sejak awal tahun ‘80-an, realisasi dari pola ini masih menjumpai banyak hambatan. Khususnya saat ingin memadukan pola kerja antara institusi pengelola sampah dengan pihak-pihak pelaku pemanfaatan sampah. Masih ada urusan regulasi, kelembagaan, ekonomi, sosial, dan budaya yang harus dibenahi. Walau sulit, pengembangan pola ini harus terus dicoba. Syaratnya, persepsi tentang sampah dan pengelolaannya harus disamakan. Pertama, sebagian besar sampah adalah
Dalam pola Pengelolaan Sampah Terpadu, semua pihak harus bekerjasama dalam kesetaraan. Keberadaan aktivitas daur-ulang harus dianggap sebagai subsistem pengelolaan sampah. Keberadaannya perlu diintegrasikan oleh pemerintah sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah kota. Dengan mendukung upaya mereka, volume sampah yang tertangani akan semakin sedikit karena banyaknya kalangan yang terlibat semakin besar.

kawan. Mereka masih dapat digunakan sebagai bahan baku dan sumber energi. Kedua, semua pihak harus bekerjasama. Pihak yang satu harus mempermudah pekerjaan pihak yang lain. Tentunya sesuai dengan peran, tanggung jawab, dan kemampuannya masing-masing.

11

Foto / Taufik Ismail

Awalnya
J A N G A N S A M PA I

Punya Banyak Lawan!
Urusan sampah jadi sulit kalau jumlahnya banyak. Urusan sampah jadi lebih sulit lagi kalau jenisnya ternyata tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, biar mudah, hindari mendatangkan barang-barang yang akan menjelma menjadi sampah yang merepotkan. Jika sudah terlanjur punya barang-barang itu, terus usahakan untuk memakainya berulang-ulang.

12

Foto / Taufik Ismail

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

upaya lainnya. Jika tidak di tingkat produsen, kedua upaya ini perlu dilakukan di tingkat pengguna. Sebagian menyebutnya sebagai upaya pencegahan sampah di sumbernya (source reduction). Alasan melakukan kedua upaya itu umumnya bersifat personal, yaitu untuk berhemat atau untuk berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan. Institusi pengelola sampah hampir tidak berperan sama sekali dalam upaya ini kecuali untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau melakukan kedua upaya tersebut. Biar bagaimanapun, semakin banyak masyarakat yang melakukan kedua upaya ini maka semakin berkurang beban institusi pengelola sampah. Di halaman-halaman berikut ini, kita dapat melihat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya Cegah dan Pakai-Ulang.

U

paya Cegah (reduce) dan Pakai-Ulang (reuse) diletakkan pada urutan awal dalam hirarki pengelolaan sampah terpadu (lihat diagram di halaman 8). Artinya, kedua upaya ini perlu dilakukan sebelum kita melakukan upaya-

Pengelola sampah kawasan perumahan Bumi Karang Indah, Jakarta Selatan, memanfaatkan drum bekas untuk dijadikan tong sampah. Setelah dibersihkan, drum bekas dicat ulang dengan warna-warna berbeda guna mendukung upaya pemilahan sampah kertas, plastik, organik, dan anorganik.

Foto /

Taufik

Ismail

13

Cegah
Cegah artinya menghindari memiliki barang-barang yang nantinya bakal menimbulkan sampah dalam jumlah banyak. Atau, yang nantinya bakal menjelma menjadi sampah yang tidak ramah lingkungan. Misalnya, karena mengandung bahan beracun dan berbahaya, atau karena sulit terdegradasi secara alamiah (non-biodegradable), atau karena tidak dapat didaurulang (non-recyclable). Banyak contoh pencegahan sampah (lihat boks), tetapi prinsipnya sama, yaitu 1) dengan lebih selektif saat membeli barang dengan cara mengurangi pembelian ba-

rang-barang yang kemasannya berlebihan, barang-barang sekali pakai (disposable), dan barang-barang yang mengandung bahan tidak ramah lingkungan. Memang tidak mudah untuk berlaku selektif. Selain perlu pengetahuan tentang spesifikasi barangbarang yang ada di pasaran, kita seringkali lebih tergoda untuk membeli barang-barang yang harganya lebih murah atau yang pemakaiannya lebih praktis. 2) Dengan memperbaiki cara kita bekerja, yakni dengan bekerja lebih efisien dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Berbagai peralatan yang menggunakan teknologi digital saat ini mampu mengurangi penggunaan banyak bahan. Misalnya, file elektronik akan mengurangi penggunaan kertas, foto digital yang tidak lagi membutuhkan film seluloid, dan sebagainya. Harganya juga semakin lama semakin terjangkau. 14

Foto / Taufik Ismail

Pakai-Ulang
Pakai-Ulang artinya pemanfaatan kembali benda-benda yang sudah terpakai secara langsung. Baik itu untuk pemanfaatan yang sama maupun berbeda. Contohnya banyak dan kitapun secara tidak sadar pasti pernah menerapkannya. Misalnya, saat kita menggunakan kotak kardus sepatu untuk menyimpan mainan anak-anak. Atau, saat kita menggunakan drum bekas untuk tong sampah. Kunci keberhasilan upaya Pakai-Ulang adalah kreativitas dan kerajinan kita dalam menemukan cara untuk memanfaatkan barang-barang terpakai. Dengan sedikit sentuhan seni, kaleng bekas dapat dimanfaatkan sebagai pot kembang yang indah. Dengan sedikit lebih rajin mencetak dokumen di kedua sisi dari selembar kertas, efisiensi penggunaan selembar kertas dapat digandakan.

15

Foto / Taufik Ismail

Semua Dimulai di Rumah
Upaya-cegah (reduce) dan pakai-ulang (reuse) harus diterapkan sejak di rumah. Ada yang mudah, ada juga yang sulit. Namun demikian, penerapan kedua upaya tersebut bisa-bisa malah membuat kita berhemat

Bawa tas belanjaan sendiri dari rumah. Jadi, kita tidak lagi perlu tas kresek atau kantung plastik dari toko tempat kita berbelanja.

Rencanakan dengan cermat barang-barang yang akan kita beli. Belilah barang dalam jumlah seperlunya, sesuai waktunya, dan sesuai catatan. Kalau kita ingat-ingat, pasti kita pernah membeli barang persediaan yang akhirnya tidak pernah digunakan sampai barang tersebut rusak atau kadaluarsa.

Langganan koran atau majalah seperlunya. Seringkali, kantor kita juga berlangganan koran atau majalah yang sama.

Kurangi beli bahanbahan pembersih yang mengandung bahan kimia beracun dan berbahaya. Saat ini, banyak tersedia alternatif lain yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, alat pembunuh nyamuk dan serangga tanpa menggunakan bahan kimia.

Kalau ada yang menyewakannya, jangan beli. Khususnya untuk film-film dalam format VCD maupun DVD.

Pelihara barang kita sebaik-baiknya. Selalu perbaiki dulu barang yang rusak sebelum memutuskan untuk membeli barang pengganti yang baru.

16

Gunakan kertas tisu seperlunya. Kalau perlu, letakkan di tempat yang agak menyulitkan biar kita tidak sebentar-sebentar menggunakannya. Sebagai gantinya, gunakan lap kain atau lainnya.

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Belilah barang dengan kemasan yang paling sedikit bahannya. Kemasan memang membuat suatu produk menjadi menarik. Namun, kemasan yang berlebihan hanya akan membuat tong sampah kita cepat penuh.

Belilah barang yang kemasannya dapat dipakai-ulang atau mudah didaur-ulang. Tambah terus pengetahuan kita mengenai jenis-jenis kemasan yang dapat dimanfaatkan kembali.

Kurangi beli barang sekali-pakai, seperti gelas atau piring kertas, sendok garpu plastik, batu baterai, ataupun lap kertas. Dengan menggunakan barang-barang yang dapat dipakaiulang, kita bisa lebih hemat.

Sebisanya belilah barang yang bahannya kuat (durable) sehingga tidak cepat rusak dan terbuang. Berikan barang bekas kita ke pihak lain yang mungkin membutuhkannya. Misalnya, majalah bekas, baju bekas, mainan anak, dan sebagainya. Kenali pemulung yang sering melintasi rumah kita. Mereka sumber informasi terbaik tentang berbagai barang bekas yang masih berguna.

Pisahkan potongan tanaman dalam kantung khusus dan berikan kepada mereka yang melakukan pengkomposan. Dalam jumlah yang lebih sedikit, sertakan juga sisa-sisa makanan.

Foto / Dok. Qipra

17

Perlu Juga di Kantor
Upaya-cegah (reduce) dan pakai-ulang (reuse) perlu juga diterapkan di kantor. Sudah dari sananya suatu kantor biasa menggunakan banyak kertas. Baik untuk urusan internal maupun urusan eksternal. Sasaran utama biasanya kertas. Lainnya, bisa tinta printer, alat tulis, amplop, dan sebagainya.

Gunakan kertas seperlunya. Hindari penggunaannya untuk coretan-coretan gagasan awal atau tulisan draft. Mengedit laporan draft dapat dilakukan langsung di komputer, kita tidak perlu mencetaknya.

Hindari kekeliruan dalam pencetakan. Kalau perlu tempelkan kertas petunjuk tentang bagaimana meletakkan posisi kertas di printer, khususnya untuk kertas dengan letterhead. Pastikan juga kita mencetak dokumen dengan benar.

Gunakan amplop bekas khususnya untuk pengiriman dokumen internal. Asalkan benar-benar berkualitas baik, gunakan tinta printer isi-ulang (refill). Atau, gunakan tinta printer yang produsennya masih mau membeli kembali cartridge bekas.

Gunakan alat kantor yang dapat digunakan berulang-ulang. Misalnya, ballpoint yang isinya dapat diganti.

18

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Cetaklah dokumen di kedua sisi kertas atau bolakbalik. Dengan demikian, ketebalan dokumen kita dapat berkurang separuhnya. Jika perlu dikirim per pos, ongkos kirimnya tentu lebih murah.

Sampaikan dokumen secara digital. Antar bagian, dokumen dapat dikirim melalui jaringan komputer (local area network atau LAN). Tidak perlu lagi ada dokumen yang perlu dicetak untuk masing-masing bagian. Untuk pengiriman ke kantor-kantor lain, gunakan surat elektronik (electronic mail atau e-mail).

Manfaatkan sisi kertas yang masih polos untuk kepentingan lain. Misalnya, untuk lembar catatan, kertas mesin faksimili (jenis plain paper fax machines), fotokopi, dan sebagainya.

Gunakan perangkat keras ataupun perangkat lunak kantor yang dapat meminimalkan penggunaan kertas. Misalnya, faks langsung dari komputer, penyimpanan file dan data secara elektronis yang dapat dihapus dan ditulis ulang (baik di harddisk, CD, dan flash disk).

Foto / Dok. Qipra

19

Walau merupakan tindakan personal, peranan produsen barang tetaplah sangat penting untuk menunjang keberlangsungan kedua upaya itu di tingkat pengguna. Para produsen perlu memikirkan konsekuensi pengelolaan sampah yang ditimbulkan dari keberadaan produk-produknya, khususnya yang menyangkut kemasan. Beberapa produsen memang sudah memulai upaya ini, setidaknya dengan mulai menyederhanakan bentuk kemasan. Di sisi lain, dunia usaha juga sudah melihat adanya beberapa peluang bisnis Pakai-Ulang. Sebagai contoh, usaha isi-ulang tinta printer yang saat ini menjamur di kota-kota besar Indonesia.

E
Foto / Taufik Ismail

Extended Producer Responsibility (EPR)

PR (Extended Producer Responsibility) adalah suatu konsep yang meminta produsen barang untuk secara langsung bertanggung jawab atas produk mereka setelah habis masa pakainya. Produsen diharuskan untuk mengambil sampah produknya kembali dan mengelolanya dengan menggunakan prinsip pakaiulang atau daur-ulang. Di beberapa negara maju seperti Uni-Eropa, Kanada, Amerika Serikat, Australia, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang, EPR sudah diwajibkan oleh pemerintahnya. Dengan adanya EPR, produsen mau tidak mau akan memperbaiki desain produknya. Mereka harus membuat produknya jadi lebih tahan lama (durable). Di sisi lain, setelah habis masa pakainya, mereka juga harus membuat sampah produknya dapat dimanfaatkan kembali. Atau setidaknya, sampah produknya dapat dikelola dengan mudah. Selain itu, EPR juga meminta produsen untuk mengembangkan cara pengumpulan sampah produknya secara efektif. Dengan kelangsungan EPR ini, tanggung jawab penanganan sampah akan terbagi. Tidak melulu menjadi urusan pemerintah, namun juga ke produsen atau pihak-pihak lain yang terlibat dalam distribusinya.

20

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

MENGENALI KAWAN
Sebagian sampah bisa dimanfaatkan, sebagian lagi memang harus dibuang. Sebagian kawan, sebagian lawan. Pola Pengelolaan Sampah Terpadu meminta kita untuk mengoptimalkan pemanfaatan kawan. Kenalilah kawan-kawan itu. Dan jangan lupa untuk mewaspadai lawan. Apalagi yang beracun dan berbahaya.
21

Foto / Taufik Ismail

Gelaran Sampah Sebelum Dipilah

penerapan dari pola pengelolaan tersebut. Cara mengenali sampah bisa bermacam-macam. Sumber informasi bisa siapa saja. Salah satunya adalah

P

engembangan pola Pengelolaan Sampah Terpadu harus disesuaikan dengan karakteristik sampah yang ada. Kita perlu untuk mengenali jenis sampah-sampah yang akan dikelola sebelum kita merencanakan

Penurunan Sampah Dari Gerobak

Pemungutan Sampah Layak-kompos

Pem

u

tan ngu

Plas

tik
Pemunguta n Kain
Pemungutan Kr esek

Pem

Kerta ungutan

s

mereka-mereka yang terlibat langsung dalam pengumpulan dan pemulungan sampah. Mereka tahu betul sampah mana yang masih memiliki nilai jual dan mana yang tidak. Mana yang harganya mahal, mana yang harganya murah. Tidak jarang juga mereka tahu sampah organik mana yang dapat dikompos dan mana yang tidak. Tidak percaya? Panggil saja tukang gerobak sampah yang setiap hari bertugas di lingkungan perumahan kita. Mintalah dia untuk membongkar muatan gerobaknya di depan kita. Lalu lihatlah cara mereka memilah sampah.
Fo to -F ot o /T au

fik

Ism

ail

SEBAGIAN UNTUK DIJUAL ATAU DIKOMPOS
Awalnya, ajak si tukang gerobak sampah untuk memilah dan mengelompokkan sampah-sampah yang masih laku dijual. Seperti yang kita duga, dia pasti akan mengambil kaleng, botol kaca, kertas, dan kardus dari tumpukan sampah. Tidak lupa juga dia mengambil kantong-kantong dan botol plastik. Setelah disatukan, jadilah kelompok sampah yang dapat kita sebut sebagai Sampah Layak-Jual. Artinya, sampah ini masih dapat dijual ke pihak-pihak lain yang akan memanfaatkannya sebagai bahan baku produknya. Yang agak mengejutkan, ternyata tidak semua kertas atau plastik diambil dan dimasukkan ke dalam kelompok Sampah Layak-Jual. Sebagai contoh, kertas berlapis lilin (wax-paper), plastik melamine, dan busa gabus (polystyrene foam). Si tukang gerobak sampah membiarkannya tetap di tumpukan sampah. Katanya, barang-barang itu tidak ada yang mau membelinya. Entah karena memang tidak bisa di daur-ulang, atau memang karena belum ada pasarnya di Indonesia. Kalau kita perhatikan tumpukan Sampah Layak-Jual itu, sebenarnya sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan langsung oleh pemilik rumah. Misalnya, kardus, kantong plastik, botol, dan lainnya. Jika pemilk rumah menerapkan upaya Cegah atau upaya Pakai-Ulang secara konsisten, beberapa barang tentunya tidak akan ada di dalam gerobak sampah. Lalu, ajak dia untuk mengelompokkan sampah-sampah yang dapat dibuat menjadi kompos. Dia akan mengelompokkan sampah-sampah potongan daun, rumput, batang-batang kecil, dan sisa dapur menjadi satu. Kelompok ini disebut Sampah LayakKompos. Berbeda dengan anggapan selama ini, tidak semua jenis sampah organik atau sampah basah dapat dijadikan bahan baku kompos. Batang-batang pohon keras dan sisa masakan tidak dimasukkan ke dalam kelompok ini. Walau demikian, jelas terlihat bahwa Sampah Layak-Kompos jumlahnya tetap yang terbanyak. Lebih dari separuh muatan gerobak sampah.
Packing Sampah Layak Kompos Packing Sampah Kertas

24

Sampah Layak Buang

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

SEBAGIAN HARUS DIBUANG
Setelah Sampah Layak-Jual dan Sampah Layak-Kompos dipisahkan, kita akan mendapatkan sampah yang nantinya benar-benar harus dibuang ke TPA. Inilah yang tidak dapat disebut sebagai kawan. Sebut saja mereka sebagai Sampah Layak-Buang. Jumlahnya, kurang lebih 30% dari tumpukan sampah awalnya. sampah tersebut. Sebagian Sampah Layak-Buang mungkin saja tergolong sebagai Sampah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Ini lawan yang perlu diwaspadai bersama. Sampah B3 mungkin saja merupakan benda yang mudah terbakar dan mudah meledak. Atau, sampah yang dapat mencederai orang-orang yang bersentuhan dengannya, misalnya jarum suntik, pisau, dan sebagainya. Sampah B3 juga mencakup benda-benda yang mengandung bahan kimia yang berbahaya, misalnya, kaleng cat, kaleng insektisida, kaleng lem perekat, dan sebagainya. Yang juga banyak dikhawatirkan orang adalah sampah B3 yang dapat meracuni tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya, misalnya sampah-sampah infeksius dari rumah sakit. Nilai ekonomisnya sudah sangat rendah karena hampir tidak ada lagi yang dapat dimanfaatkan dari

Foto-Foto / Taufik Ismail

25

16%
Sampah Layak Jual
Berbagai jenis sampah yang dapat diolah kembali untuk dijadikan bahan dasar pembuatan produk lain yang memiliki nilai ekonomis. Misalnya, botol, kaca, plastik, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

34%
Sampah Layak Buang (Disposable)
Berbagai jenis sampah yang sudah tidak layak atau tidak mampu untuk dimanfaatkan kembali. Sebagian terdiri dari sampah organik yang tidak dapat dijadikan kompos atau sampah kering yang tidak dapat didaur-ulang.

Infografik/ Zack

KOMPOSISI SAMPAH Sampah Layak-Kompos, yang disebut berbagai pihak sebagai sampah organik maupun sampah basah, memiliki jumlah terbanyak dibandingkan Sampah Layak-Jual maupun Sampah Layak-Buang. Secara keseluruhan, 70% isi gerobak sampah ternyata masih dapat dimanfaatkan. Jika upaya pemanfaatannya dapat dilakukan dengan optimal, hanya 30% dari sampah kita yang membutuhkan lahan TPA.

50%
Sampah Layak Kompos (Compostable)
Berbagai jenis sampah organik yang dapat membusuk (putrescible), dapat diuraikan oleh mikroba (biodegradable), dan berubah menjadi kompos. Misalnya, sampah dapur, sayuran, kulit buah, daun.

Foto / Taufik Ismail

Kita dikelilingi oleh berbagai benda yang nantinya akan menjadi sampah yang sulit terdegradasi secara alamiah, sampah yang tidak dapat didaur-ulang, atau sampah beracun dan berbahaya. Sebagai contoh, busa gabus (polystyrene foam). Banyak orang menyebutnya sebagai styrofoam (sebenarnya styrofoam adalah merek dagang produk gabus padat dari DOW Chemical). Busa gabus dipakai sebagai penyangga dalam kemasan barang-barang elektonik, piring, gelas, dan pembungkus makanan. Di alam, busa gabus tidak dapat terdegradasi secara alamiah. Bahan ini mudah terbakar dan asapnya dicurigai mengandung uap karsinogen mengingat gabus mengandung bahan kimia stirena.

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

KANDUNGAN ENERGI BERBAGAI JENIS SAMPAH
kandungan energi
(KKal/KG)

kadar air
(% berat basah)

kadar abu
(% berat kering)

Plastik Karet Kayu Kain Kertas Sisa tanaman Sisa makanan Kaleng Kaca

7.780 5.560 4.450 4.170 4.000 1.560 1.100 170 30

2 2 20 10 6 60 70 2 2

10 10 2 2 6 4 5 98 98

sumber/ Handbook of Solid Waste Magement by Frank K & G Tchobanoglous

SEBAGIAN DAPAT DIBAKAR
Ada cara lain untuk mengelompokkan sampah. Yaitu, berdasarkan layak-tidaknya sampah tersebut untuk dibakar. Pengelompokan dengan cara ini sangat bermanfaat bagi pengembangan sistem Tangkap-Energi, khususnya yang melibatkan proses insinerasi. Sampah dianggap sebagai Sampah Layak-Bakar jika berasal dari materi yang memang mudah terbakar. Artinya, materi itu tidak membutuhkan minyak atau lainnya agar dapat terbakar sampai habis. Materi demikian biasanya memiliki 1) nilai kalor atau kandungan energi (energy content) yang tinggi, atau minimal 1500 kilokalori per kilogramnya, 2) kandungan air (water content) yang rendah, atau maksimal 30 %, dan 3) kandungan abu (ash) yang rendah. Suatu materi dapat dikatakan layak-bakar jika materi tersebut tidak meledak atau mengemisikan gas racun saat terbakar. Misalnya gas dioksin, gas furan, dan debu logam berat. Terakhir, sampah tersebut memang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, baik untuk dipakai-ulang, dikompos, maupun didaur-ulang.
Plastik merupakan materi yang ideal untuk dibakar. Kandungan energinya mencapai 16.000 kkal per kilogram, kandungan airnya tidak lebih dari 5 %. Walau demikian, pembakaran beberapa jenis plastik yang mengandung klorida seperti PVC dapat mengemisi senyawa kimia beracun seperti dioksin. Oleh karena itu, kita perlu hati-hati dalam menggolongkan plastik sebagai Sampah Layak-Bakar. Lagipula sampah plastik masih dapat didaur-ulang sehingga pembakaran sampah plastik seringkali dianggap sebagai pemborosan sumber daya.

27

Foto / Dok. Mittran

Perjalanan
Kawan
kan pihak-pihak itu.

Menelusuri

Sampah Layak-Jual sudah dianggap kawan sejak dulu. Rantai perjalanan dan perdagangannya melibatkan sektor informal. Pembagian perannya jelas. Semua bisa berjalan dengan baik karena semua diuntungkan. Pengembangan Pola Pengelolaan Sampah Terpadu sebaiknya memanfaat-

28

Foto / Taufik Ismail

mengangkut sampah-sampah itu ke tempat pembuangan akhir (TPA). Itu pola formal yang dilakukan oleh institusi -institusi pengelola sampah di berbagai kota-kota Indonesia. Tentu ada juga perkecualian di sana-sini, khususnya jika ada fasilitas insinerasi atau fasiltas pengolahan sampah terpadu. Pola perjalanan sampah agak berbeda untuk sampah Layak-Jual. Perjalanannya dimulai saat pemulung mulai beraksi. Tempatnya bisa di mana saja. Bisa di bak sampah depan rumah, di bak sampah komunal, di TPS, dan bisa pula di TPA. Walau dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, peran pemulung dalam pengelolaan sampah sangatlah berarti. Apalagi jika diingat bahwa jumlah sampah Layak-Jual mencapai 15%-30% dari sampah yang ada.

P

erjalanan kebanyakan sampah sebenarnya sederhana. Dari bak-bak di depan rumah, sampah diangkut gerobak ke tempat pembuangan sementara (TPS). Setelah TPS penuh, truk sampah akan datang untuk

29

Foto / Heri WIbowo

JALUR FORMAL DAN JALUR INFORMAL
Pemulungan di TPA
Pemulung di TPA akan mengambil apapun yang masih bernilai jual. Mulai dari plastik kresek hingga kertas atau kardus basah. Persaingan sangat ketat karena jumlah pemulung yang sangat banyak. Sebagai contoh, di TPA Bantar Gebang ada sekitar duaribuan pemulung.

Pembuangan Akhir
Di sini, perjalanan sampah dianggap berakhir. Banyak TPA didesain sebagai suatu sanitary landfill. Keterbatasan biaya pengoperasian akhirnya membuat TPA-TPA dioperasikan secara open dumping. Tidak semua kota memiliki TPA. Ada 1 TPA yang digunakan oleh beberapa kota secara bersama-sama.

Pengiriman ke Pabrik Daur-Ulang
Sampah yang telah terpilah dan siapolah dikirim oleh lapak atau bandar ke pabrik-pabrik daur-ulang yang sudah memesannya. Di pabrik-pabrik itu, sampah akan diolah menjadi produk baru yang kemudian dijual ke pasaran. Pengiriman dlakukan dengan menggunakan truk-truk biasa.

Pengangkutan Sampah
Truk sampah bertugas untuk mengangkut sampah dari TPS sampai ke TPA. Saat ini, kebanyakan truk sampah yang ada masih menggunakan bak terbuka. Tiap truk mempunyai lokasi tugas dan jadwal pengangkutan sampah yang tetap. Beban kerja disesuaikan dengan jenis dan kapasitas dari truk sampah tersebut.

Penadahan dan Pemrosesan Awal di Bandar
Berton-ton sampah keluar-masuk Bandar. Sebagian besar mereka dapatkan dari Lapak langganan mereka. Disini sampah disiapkan untuk diproses di pabrik daur ulang. Ada yang dicacah, dan ada juga yang diolah menjadi pelet, seperti plastik. Banyak juga yang hanya di pak dan di padatkan.

Penampungan Sementara
TPS menampung sampah yang dikumpulkan dari sumber-sumbernya. Umumnya hanya berupa bak sampah terbuka berukuran besar. Sebagian besar TPS dibangun dan dimiliki oleh instansi kebersihan setempat, walau ada beberapa TPS yang tidak jelas kepemilikannya. Satu TPS di Jakarta umumnya dibuat untuk melayani satu kelurahan.

Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah di kawasan permukiman umumnya dibiayai sendiri oleh para warganya. Pelaksanaannya dikoordinasi oleh pengurus RW atau kelurahan setempat. Sampah dikumpulkan maksimal 3 kali seminggu. Gerobak masih banyak digunakan karena daya jangkau dan murahnya pengoperasian. Di daerah tertentu, pengambilan sampah dilakukan dengan mobil bak terbuka.

30

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Pemulungan di TPS
Tidak semua sampah layak-jual berhasil diambil oleh para pemulung yang beroperasi di pemukiman. Sebagian yag lolos akan diambil oleh para pemulung yang beroperasi di TPS. Sama dengan pemulungan di pemukiman, mereka hanya mengambil sampah yang bernilai jual tinggi, sepert botol dan wadah plastik, kertas, botol beling, dan alumunium.

Pewadahan Sampah
Dari bak sampah inilah perjalanan sampah dimulai. Banyak rumah memiliki bak sampahnya sendiri. Namun banyak juga rumah-rumah di kawasan kumuh yang memanfaatkan bak sampah komunal. Di pasar-pasar atau tempat keramaian umum lainnya, instansi kebersihan meletakan bak sampah kontainer. Sampai saat ini, jarang sekali dijumpai bak sampah khusus yang dibuat untuk mendukung upaya pemilahan sampah.

Penadahan di Lapak
Lapak menerima semua sampah layak-jual. Ada yang punya anak buah pemulung ada yang tidak. Setiap harinya mereka bisa membeli lebih dari seratus kilo sampah. Disini semua sampah dipilah dan dibersihkan lebih lanjut.

Pemulungan di Pemukiman
Pemulungan di pemukiman berjalan setiap saat. Pagi, siang, maupun sore. Kebanyakan pemulung memiliki pola kerja yang sudah disepakati di antara sesama pemulung atau lapak. Baik itu menyangkut wilayah kerja maupun jenis sampah yang di ambil. Pemulungan yang langsung dilakukan di pemukiman memiliki peluang terbesar untuk mendapatkan sampah-sampah yang bernilai tinggi.

Pola pengelolaan sampah yang berlaku di Indonesia sebenarnya melibatkan peran institusi formal, warga pemukiman dan sektor informal. Institusi pengelola sampah lebih banyak berperan di pengumpulan sementara, transportasi, dan pembuangan akhir sampah. Peran warga lebih banyak ada pada pengumpulan sampah. Sementara itu, sektor informal hanya berperan dalam pengumpulan dan perdagangan sampah Layak-Jual. Di beberapa tempat memang ada pengelolaan sampah berbasis masyarakat, di mana penduduk suatu kawasan permukiman turut serta dalam pengolahan sampah. Tapi jumlahnya saat ini sangat sedikit sehingga pengaruhnya dalam skala kota kurang begitu terasa. Diagram ini menunjukkan pola pengelolaan sampah yang melibatkan ketiga pihak tersebut.

Infografik/ E. Sunandar

Keterangan:

FORMAL

INFORMAL

31

KOMPOSISI JENIS MATERI SAMPAH LAYAK JUAL
Sampai saat ini, sampah plastik masih merupakan sampah yang paling banyak diperdagangkan. Menyusul berikutnya adalah sampah kertas, termasuk kardus dan karton.

BANDAR TERSPESIALISASI
Bandar atau pengepul besar umumnya terspesialisasi. Mereka hanya mau menerima suatu jenis sampah saja. Itulah sebabnya kenapa pengepul-pengepul besar lebih

9% 36%
Kertas Logam

3%
Beling

dikenal sebagai bandar kardus,

bandar

botol, atau bandar plastik. Omset bisnisnya lumayan besar. Tidak jarang omset seorang bandar bisa mencapai 5 juta rupiah sehari.

52%
Plastik

Foto / Jan Ricko

Foto / Taufik Ismail

PEMULUNG DI TPA
Pemulung mengenal pembagian konsesi wilayah kerja. Sebagian hanya boleh bekerja di kawasan pemukiman, sebagian lainnya hanya boleh bekerja di lokasi TPS. Di TPA, kelompok pemulungnya lain lagi. Pembagian ini terjadi berdasarkan kesepakatan-kesepakatan informal di antara mereka sendiri atau dengan para pengepul.

PEMULUNG DI PERUMAHAN
Seorang pemulung di kawasan pemukiman kota besar seperti Jakarta mampu mengumpulkan sampah Layak-Jual rata-rata sampai 30 kg per hari. Dengan dukungan peralatan kerja yang lebih baik, mereka pasti mampu me-

32

nyerap sampah Layak-Jual lebih banyak lagi.

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

PENGEPUL DAN PEMROSESAN AWAL
Beberapa pengepul besar juga memiliki peralatan untuk melakukan pemrosesan awal (preprocessing) beberapa jenis sampah Layak-Jual. Misalnya, pencacahan sampah plastik. Dengan demikian, sampah yang mereka jual akan memiliki harga yang lebih tinggi. Dan, keuntungannya juga meningkat berkali lipat.

TUMPUKAN SAMPAH LAYAK-JUAL
Berdasarkan data tahun 2003, ada 23% sampah kota Bandung yang tergolong sebagai sampah Layak-Jual. Atau, sekitar 1500 m3/hari. Hitung-hitungan sederhana menunjukkan bahwa aktivitas pemanfaatan sampah Layak-Jual berpotensi menimbulkan penghematan biaya operasi instansi kebersihan sebesar 15 juta rupiah per hari. Sudah sewajarnya kegiatan pemanfaatan sampah Layak-Jual diperhitungkan sebagai bagian integral dari upaya pengelolaan sampah kota.

Foto / Dok. Mittran

Foto / Dok. Mittran

PERAN PEMULUNG DAN PENGEPUL
Secara sekilas, para pemulung terlihat sama. Kerjanya juga tampak serampangan. Tapi sebenarnya mereka bekerja dengan pembagian konsesi yang jelas. Coba amati pemulung-pemulung yang sering beredar di kawasan rumah kita. Dari hari ke hari, pemulung-pemulung yang datang orang-orangnya selalu sama. Artinya, para pemulung memang memiliki wilayah kerja tertentu. Selain pembagian konsensi wilayah kerja, para pemulung juga mengenal pembagian konsesi untuk jenis-jenis sampah yang boleh dipulungnya. Ada pemulung yang hanya boleh

33

mengambil gelas atau botol minum plastik saja. Ada juga yang hanya boleh mengambil kardus atau karton saja. Semua berlangsung tertib walau tidak ada pihak yang mengawasinya. Pemulung membawa hasilnya ke pengepul. Di tangan pengepul, sampah kemudian dipilah-pilah lebih lanjut, dibersihkan, dikemas, untuk kemudian dijual ke pihak-pihak lain yang membutuhkannya. Di tangan pengepullah, sampah terpilah diubah statusnya menjadi bahan baku bagi suatu proses produksi. Ada pengepul kecil alias lapak dan ada juga pengepul besar alias bandar. Lapak umumnya menerima berbagai jenis sampah Layak-Jual yang dibawa pemulung. Sedangkan kebanyakan bandar hanya mau menerima jenis sampah tertentu saja yang umumnya dikirim lapak. Pengepul, khususnya pengepul besar atau bandar, menjual sampahnya ke pabrikan daur-ulang secara berkala dan dalam jumlah besar. Pihak pabrikan daur-ulang memang lebih senang bertransaksi dengan bandar. Alasannya, bandar bisa lebih menjamin kepastian pasokan bahan dalam volume besar dan kualitas yang baik. Sebagian bandar bahkan sudah mampu melakukan pemrosesan awal sesuai spesifikasi yang diinginkan pabrikan. pelet dengan spesifikasi tertentu. Misalnya, memproses sampah plastik sampai menjadi pelet-

Sebagai primadona, tidak susah bagi kita untuk menemukan pelaku daur-ulang plastik bekas. Mereka tidak hanya menangani plastik-plastik bekas kemasan saja, tetapi juga kabel, perangkat elektronik, mainan hingga komponen-komponen pada kendaraan bermotor. Sebagian besar masih menggunakan teknologi sederhana. Penggunaan teknologi yang lebih maju, khususnya untuk pemilahan dan pencetakan bijih pelet, sudah mulai dijumpai di beberapa pelaku daur-ulang plastik di Indonesia.

34

Foto / Taufik Ismail

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Para pelaku bisnis sampah Layak-Jual, khususnya pemulung dan pengepul, memiliki hubungan kerja yang saling menguntungkan. Tiap pihak menyadari ketergantungannya dengan pihak lainnya. Bandar seringkali turut menyediakan modal kerja ke lapak-lapak. Sebagai imbalannya,
Hampir di semua pengepul kita dapat menjumpai sampah kertas. Sumbernya memang sangat banyak, demikian juga kebutuhannya. Dari beratnya, kertas memang menempati urutan kedua terbanyak di antara sampah-sampah Layak-Jual lainnya. Di tingkatan pengepul, sampah kertas dikelompokkan berdasarkan kebutuhan konsumennya. Pengelompokan jenisnya bisa mencapai belasan. Termasuk di antaranya kertas koran, kertas bekas arsip kantor, kertas buku tulis, kertas HVS polos, art paper, kertas bekas majalah, sak semen, kertas kardus, kertas karton, dan lainnya. Hanya yang ada pemesannya yang dikumpulkan oleh pemilik lapak. Jika tidak ada pabrikan yang membutuhkan sampah kertas koran, pemilik lapak tidak akan mengumpulkannya. Setelah dikelompokkan, sampah kertas dipadatkan dan diikat untuk kemudian dikirimkan langsung ke pabrikan kertas. Berbeda dengan sampah plastik, pengepul tidak pernah melakukan pengolahan awal terhadap sampah kertas yang dikumpulkannya.

para lapak hanya akan menjual sampahnya ke bandar itu saja. Di beberapa tempat, lapak juga sering menyediakan tempat tinggal bagi para pemulung. Dan yang lebih penting lagi, para lapak juga turut melindungi konsesi dari setiap pemulung. Kontribusi pemulung dan pengepul terhadap upaya pengelolaan sampah sangat besar. Sayangnya, peran pemulung dan pengepul tidak pernah dikenal secara resmi. Sampai saat ini, belum ada institusi pengelola sampah yang menggambarkan keberadaan pengepul dalam skema-skema pengelolaan sampah resmi yang dikeluarkan institusi tersebut. Jarang juga ada penghitungan beban persampahan kota yang menghitung pengurangan jumlah sampah yang mereka lakukan. Suatu kota yang ingin mengembangkan Pola Pengelolaan Sampah Terpadu sebaiknya tetap melibatkan peran serta mereka. Sedapat mungkin, keterlibatan pemulung dan pengepul semakin difasilitasi agar hasil kerjanya lebih optimal. Biar bagaimana pun, mereka memiliki mekanisme kerja yang dapat mendukung pencapaian tujuan pengelolaan sampah perkotaan.

Foto / Istimewa

35

36

Foto / Dok Qipra

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

K A W A N

Kawan Dibentuk
Setelah dibeli, sampah plastik diubah menjadi produk plastik baru, sampah kertas menjadi kertas baru, dan sampah logam jadi produk logam baru. Pelakunya beragam. Ada yang berskala pabrikan dan ada yang berskala rumah tangga. Prinsip proses produksinya sama. Faktor sukses perlu diupayakan agar intensitas upaya daur-ulang dapat ditingkatkan. Mereka perlu dianggap sebagai subsistem pengelolaan sampah.

D I L E B U R ,

Ibu Bambang Harini, dari pemukiman Banjarsari (Jakarta Selatan) sedang memperkenalkan cara mendaur-ulang kertas ke anak sekolah. Caranya sangat sederhana. Cukup bermodalkan baskom atau ember, saringan, dan kain, kita sudah dapat membuat kertas daur-ulang dari koran atau kertas lainnya. Sebagian dari kita mungkin juga sempat berlatih membuat kertas dari koran bekas waktu di Sekolah Dasar.

37

Pelaku peleburan dan pengecoran besi (ironcasting) di daerah Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten (Jawa Tengah) sudah melakukan upaya daur-ulang ini sejak tahun 1950-an. Mereka hampir selalu menggunakan 100% bahan baku dari sampah besi. Setelah dilelehkan di dalam tungku, besi cair dituangkan ke dalam pasir cetakannya. Produknya bermacam-macam termasuk di antaranya perlengkapan pipa dan suku cadang kendaraan.

produknya dari 100% sampah daur-ulang atau pabrik yang menggunakan sampah tersebut sebagai campuran. Misalnya, pabrik kertas yang memanfaatkan campuran bahan pulp dari kertas bekas dengan bahan pulp baru. PT Indah Kiat Pulp and Paper di Serang (Provinsi Banten) atau PT Tjiwi Kimia di Sidoarjo (Provinsi Jawa Timur) menggunakan campuran pulp dari kertas bekas dalam jumlah yang besar sehingga sebagian harus didatangkan dari luar negeri. Demikian juga dengan pabrik plastik yang mencampur bijih pelet hasil daur-ulang dengan 38 bijih plastik baru.

D

i negara kita, pabrik yang memanfaatkan sampah sebagai bahan baku proses produksinya dapat dijumpai dengan mudah. Baik pabrik yang memproduksi

Foto / Rudy Yuwono

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Saat ini banyak pengepul sudah menggunakan peralatan yang lebih modern. Sebagai contoh, perusahaan Peka Group di Bandung memiliki alat pemilahan plastik yang menerapkan teknologi maju. Teknologi yang disebut hydrocyclone itu mengandalkan gaya sentrifugal untuk memisahkan plastik secara lebih baik. Demikian juga untuk pembuatan bijih peletnya. Dengan kapasitas output sekitar 200 ton per bulan, omset yang diterima setiap bulannya dapat mencapai milyaran rupiah.

Tingginya kebutuhan pabrik-pabrik tersebut mendorong para pengepul untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Selain lebih mengembangkan jaringan pengumpulannya, peralatan yang digunakannya juga semakin canggih. Mekanisasi dilakukan untuk alat-alat pemilahan, pembersihan, pembuatan bibit daur-ulang, sampai pengemasannya. Sampah yang dikumpulkan juga semakin beragam. Untuk mendapatkan plastik, mereka tidak hanya mengumpulkan sampah botol atau wadah plastik. Tetapi juga mengumpulkan kabel, komputer bekas, suku cadang mobil, dan sebagainya.

Foto / Taufik Ismail

39

Foto / E. Sunandar

Jenis sampah yang saat ini didaur-ulang juga semakin beragam. Salah satunya adalah compact disc (CD). Setelah lapisan film datanya dibuang, piringan plastiknya yang terbuat dari polikarbonat dapat dilebur kembali dan dijadikan bibit plastik. Materi alumunium di dalamnya dapat diekstraksi untuk kemudian dilebur kembali sebagai bahan alumunium siap-cetak.

PROSES DAUR-ULANG Proses daur-ulang suatu material pada prinsipnya sangat sederhana. Setelah dicacah dan dilelehkan, materi tersebut dicetak menjadi bibit-bibit materi siap-pakai. Bibit itu disebut pelet untuk materi plastik, atau bubur pulp untuk materi kertas, dan ingot untuk materi alumunium. Untuk mencapai spesifikasi yang diinginkan, zat pewarna ataupun bahan kimia lain dapat saja ditambahkan saat pencetakan bibit-bibit tersebut. Bibit-bibit itu kemudian diproses oleh pabrikan untuk dijadikan produk yang diinginkan. Semakin sering didaur-ulang, kualitas materi memang dapat menurun. Namun demikian, saat ini sudah ditemukan beberapa cara untuk menambah kekuatan produk daur-ulang.

40

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Proses daur-ulang biasanya harus memperhatikan kemurnian jenis materi sampah yang digunakannya. Materi jenis satu jangan sampai tercampur dengan materi jenis lainnya. Tercampurnya plastik jenis satu dengan plastik jenis lainnya akan menurunkan kualitas bijih pelet. Demikian juga halnya dengan daur-ulang kertas. Untuk menghasilkan kertas yang kuat dan bersih, materi sampah kertas yang digunakannya tidak boleh terkontaminasi dengan sisa makanan, plastik, logam, dan lainnya. Beberapa jenis kertas daur-ulang juga butuh bubur pulp yang bebas tinta. Oleh karena itu, bubur pulp seringkali harus dicuci dengan surfaktan agar tinta dapat terlepas dari bubur tersebut.

Hasil antara proses daur-ulang. Pelet untuk sampah plastik dan ingot untuk sampah alumunium.

Foto / Istimewa

41

Foto / E. Sunandar

Proses daur-ulang berbagai jenis sampah pada intinya mirip dengan proses daur-ulang plastik berikut ini. Sampah plastik dicacah, dilelehkan, dan kemudian dicetak menjadi bijih-bijih pelet. Bijih pelet kemudian dibeli pabrik-pabrik untuk kemudian dilelehkan kembali dan dicetak sesuai bentuk produk yang diinginkan.

Produksi barang baru

Pemilahan sampah plastik Pelet

Peleburan (pembuatan pelet)
Infografik/ E. Sunandar

Pembersihan dan pengepakan

Pencacahan

Untungnya saat ini sudah tersedia berbagai teknologi pemilahan dan pemisahan materi (reclamation) sampah. Plastik PVC dengan plastik HDPE dapat dipisahkan dengan mudah dan cepat walaupun keduanya sudah berada dalam kondisi cacahan. Demikian juga halnya dengan pemilahan beling berdasarkan warnanya. Teknologi optik sudah banyak diterapkan untuk memisahkan botol bening, botol berwarna coklat, dan botol berwarna hijau. 42

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

FAKTOR SUKSES Sukses tidaknya upaya daur-ulang ditentukan oleh banyak faktor. Yang utama adalah adanya permintaan pasar terhadap produk-produk daur-ulang. Permintaan akan tinggi jika ongkos penggunaan bahan daur-ulang masih lebih rendah daripada ongkos penggunaan bahan baru. Faktor-faktor lain yang turut berpengaruh antara lain adalah 1) kemudahan perolehan sampah daur-ulang dengan jumlah dan kualitas yang

memadai, 2) ketersediaan teknologi yang terjangkau baik itu menyangkut teknologi pemilahan, pemisahan materi-sasaran, ataupun pembuatan produk, dan 3) adanya kesadaran dan keinginan kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ongkos pembuatan produk daur-ulang umumnya memang lebih rendah daripada pembuatan produk tersebut dari material baru. Harga bahan baku yang terbuat dari sampah tentu masih lebih murah dari

Untuk membuat suatu produk dari suatu jenis materi biasanya dibutuhkan sampah dengan jenis materi yang sama. Pembuatan botol beling yang berwarna hijau membutuhkan sampah dari jenis beling berwarna hijau pula. Pemilahannya harus dilakukan dengan cermat guna menghasilkan produk botol baru yang berkualitas.

Foto / Taufik Ismail

43

BERAGAM JENIS PLASTIK Kita menyebut semuanya sebagai plastik. Botol plastik, kantong plastik, mainan plastik, piring plastik, map plastik, dan masih banyak lagi. Untuk kepentingan daur-ulang, materi plastik dibagi ke dalam 7 (tujuh) jenis. Pembagiannya didasarkan kepada struktur dasar senyawa kimia pembentuknya, seperti polyethylene, vinylchloride, propylene, dan styrene. Agar jenisnya mudah dikenali oleh masyarakat dan juga oleh pelaku daur-ulang plastik, tiap produk plastik umumnya dilengkapi dengan kode angka seperti ditunjukkan di bawah ini. Secara umum, plastik diklasifikasikan sebagai thermoplastic dan thermoset. Jika dipanaskan, plastik jenis thermoplastic akan meleleh. Apabila terus dipanaskan sampai suhu lebih dari 200ºC, plastik jenis ini akan mencair. Bila didinginkan, cairan itu akan mengeras kembali mengikuti bentuk. Plastik jenis inilah yang mungkin didaur-ulang. Contoh populernya adalah plastik jenis PET yang banyak digunakan untuk botol air minum dalam kemasan yang terbuat dari bahan PET. Sementara itu plastik thermoset sangat sulit untuk dilelehkan. Sekali dibentuk, plastik thermoset tidak mungkin untuk dibentuk kembali. Contohnya adalah plastik melamin yang paling mungkin hanya digunakan sebagai bahan pengganti pasir halus dalam proses sandblasting.

HDPE( High-density poly ethylene)
Banyak digunakan untuk botol susu kemasan, botol juice kemasan, botol sabun cuci dan pemutih, kantung belanja, dan kantung sampah. Setelah didaur-ulang, dijadikan wadah sabun cuci cair, wadah shampoo, botol oli motor, pipa, ember, peti, pot bunga, tempat sampah, bangku, tegel lantai, dan meja piknik.

V (Vinyl) /PVC (Polyvinyl chloride) PET (Polyethylene terephthalate)
Banyak digunakan untuk botol air minum kemasan, dan botol minuman ringan. Setelah didaur-ulang, dijadikan serat plastik, bahan pakaian polyester karpet, koper, atau untuk botol kemasan lagi. Banyak digunakan untuk wadah sabun cuci cair, map kertas, pipa air, tabung medis, insulator kabel, panel penahan karpet, dan lainnya. Setelah didaur-ulang, umumnya dijadikan wadah kemasan, tegel lantai, keset, rak kaset, boks elektrik, kabel-kabel, kerucut marka jalan, selang kebun, dan pipa.

44

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

LDPE (Low-density polyethylene)
Banyak digunakan untuk kantung cucian, lembar pembungkus makanan, kantung roti dan makanan beku, wadah makanan, dan botol saus. Setelah didaur-ulang, umumnya dijadikan tegel lantai, furnitur, wadah kompos, panel-panel bangunan, dan tempat sampah.

PS (Polystyrene)
Banyak digunakan untuk wadah CD, wadah telur, botol aspirin, busa gabus, dan beragam peralatan makan plastik. Setelah didaur-ulang, umumnya dijadikan termometer, stop-kontak lampu, insulator panas, wadah telur, penggaris, bingkai foto, cangkir-cangkir plastik, dan perkakas.

PP (Polypropylene)
Banyak digunakan untuk wadah air dalam kemasan gelas, suku cadang otomotif, botol obat, tutup botol aerosol, dan sedotan minum. Setelah didaur-ulang, umumnya dijadikan casing aki, lampu sein, kabel batere, sapu, sikat, langit-langit, dan pipa oli.

Lainnya
Banyak digunakan untuk wadah air minum 3-5 galon, wadah jus, beberapa jenis wadah makanan dan plastik tupperware. Setelah didaur-ulang, umumnya dijadikan botol atau rangka plastik.

45

Foto / Taufik Ismail

pada harga bahan baku baru. Dalam penentuan harga bahan daur-ulang, kita tidak perlu memasukkan biaya ekstraksi materi tersebut dari bentukan alamnya. Sebagai contoh, dengan menggunakan sampah alumunium, ongkos penambangan dan pengolahan bijih bauksit tidak perlu lagi diperhitungkan. Demikian juga dengan biaya pengangkutan material tersebut. Apalagi jika diingat bahwa kita butuh 5 ton bijih bauksit untuk menghasilkan 1 ton alumunium. Prosesnya juga lebih cepat. Dari sisi penggunaan air dan energi. Proses pembuatan alumunium daur-ulang hanya membutuhkan 5% dari energi yang dibutuhkan jika pembuatan dilakukan dengan menggunakan materi baru. Pembuatan kertas dengan menggunakan bubur pulp daur-ulang diyakini dapat menghemat tingkat penggunaan penggunaan air dan energi sampai 50% lebih.

Melihat faktor-faktor sukses upaya daur-ulang, tidak heran jika plastik merupakan materi yang paling banyak didaur-ulang. Plastik memenuhi semua faktor yang membuat suatu upaya daur-ulang sukses. Ongkos produksinya murah, sampah plastik mudah ditemukan, dan teknologi prosesnya terjangkau. Dari faktor lingkungan, plastik tergolong sebagai materi yang dianggap tidak ramah terhadap lingkungan. Alasannya, plastik merupakan materi yang sangat sulit terdegradasi secara alamiah. Para ahli memperkirakan degradasi alamiah plastik membutuhkan waktu sampai puluhan tahun.

46

Foto / Taufik Ismail

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Penciptaan pasar daur-ulang dapat lebih terbantu jika ada peraturan yang mengharuskan pabrikan untuk menggunakan sampah daur-ulang sebagai bahan bakunya. Atau jika ada kebijakan yang mendorong penggunaan produk daur-ulang oleh masyarakat. Undang-undang persampahan di Republik Filipina malah mengharuskan pemerintah membeli produk-produk daurulang untuk kebutuhan kantor-kantornya. Insentif terhadap pihak pengumpul dan produsen juga diyakini dapat meningkatkan besaran pasar daur-ulang.
Foto / Taufik Ismail

Kalau berbicara soal reinkarnasi produk, sampah kaleng alumunium dapat digolongkan sebagai salah satu contoh ideal. Dalam waktu kurang dari 8 minggu sejak dibuang, sampah kaleng alumunium sudah berubah lagi menjadi kaleng alumunium baru. Semua jenis sampah alumunium pada prinsipnya dapat didaur-ulang. Tidak hanya terbatas pada kaleng bekas minuman ringan saja. Lembar-lembar pembungkus makanan (alumunium foil) juga dapat didaur-ulang. Begitu juga dengan suku cadang kendaraan bermotor. Bahkan, lapisan tipis alumunium yang melekat pada kertas kotak minuman juga dapat didaur-ulang.

Kertas dibuat dari serat selulosa sehingga seharusnya sampah kertas dapat mudah terdegradasi di alam. Namun seiring berkembangnya zaman, jenis kertas jadi semakin beraneka ragam. Kertas sekarang tak hanya murni terdiri dari serat tumbuhan. Selain berwarna warni, kertas ada yang dilapisi lilin, plastik, dan tanah liat. Campuran-campuran inilah yang membuat sebagian kertas menjadi tidak ramah lingkungan lagi. Selain menjadi sulit terdegradasi, sampah kertas kemungkinan juga mengandung logam berat yang berasal dari tinta cetakan.

Foto / Istimewa

47

DAUR-ULANG SKALA KECIL Daur ulang lebih banyak dilakukan dalam skala kecil atau lebih tepat disebut sebagai industri rumah tangga. Sebagai contoh, daur-ulang sampah kertas banyak dilakukan oleh kelompok remaja, sanggar kerajinan, dan Pramuka. Ada juga yang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar di dekatnya. Salah satu contohnya adalah daur-ulang kertas yang dilakukan kelompok warga kelurahan Ancol. Pengelola Taman Impian Jaya Ancol (Jakarta Utara) mengirimkan sampah kertasnya untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas hias. Sebagian besar produk daur-ulang kertas hias tersebut kemudian dibeli kembali oleh pengelola taman hiburan tersebut. Selain dijadikan kertas, sampah kertas juga dimanfaatkan untuk pembuatan produk kerajinan.

Puluhan warga RW 08, Kelurahan Ancol, terlibat dalam pembuatan kertas daur ulang sampah-sampah yang dihasilkan PT Pembangunan Jaya Ancol. Kertas daur ulang itu kemudian dibuat menjadi kertas, amplop, tas, dan produk hias lain.

48

Foto / Echi Desvita

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Upaya daur-ulang, baik itu dalam skala rumah tangga maupun skala pabrikan, pastinya berpengaruh terhadap jumlah sampah yang harus ditangani institusi pengelola sampah. Diperkirakan sekitar 20% sampah kota dapat teratasi oleh pelaku daur-ulang tanpa pemerintah harus mengeluarkan biaya apapun. Dalam hitunghitungan volume sampah, kontribusi mereka sangat signifikan. Ada jutaan ton sampah setiap tahunnya di Indonesia yang dapat ditangani oleh pelaku daur-ulang. Pantas rasanya jika mereka dianggap juga sebagai subsistem pengelolaan sampah. Ruang dan kelancaran kerjanya perlu difasilitasi agar kontribusinya dalam pengelolaan sampah semakin optimal. Seperti disebutkan di awal, pemaduan pola kerja antara institusi pengelola sampah dengan pihak-pihak pemanfaat sampah tidaklah mudah. Kita masih perlu membenahi urusan regulasi, kelembagaan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Foto / Taufik Ismail

Sampah alumunium dapat juga dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan. Bapak Slamet dari Ciledug, telah lama menggeluti dunia olah alumunium menjadi beragam kerajinan tangan. Alumunium yang digunakannya kebanyakan berasal dari wadah minuman atau wadah pasta gigi dalam bentuk lembaran-lembaran. Dari lembaran-lembaran tersebut, Pak Slamet menganyamnya menjadi tikar, tas, tali, sabuk, dompet hingga sajadah. Alumunium yang Pak Slamet gunakan memang bukan berasal dari sampah buangan rumah tangga, akan tetapi berasal wadah atau bungkus reject dari pabrik.

49

Yang Busuk

YANG BERMANFAAT

Sampah Layak-Kompos berlimpah jumlahnya. Manfaatnya jelas, produksinya mudah, tetapi tetap saja belum banyak pihak yang mau secara serius menggarap pengkomposan sampah kota. Mungkin memang karena harga jualnya yang kurang menarik. Nilai ekonomis pengkomposan sebenarnya sangat tinggi andai saja kita mau menghitungnya sebagai suatu opsi pengelolaan sampah. Dan lagi, andai saja kita sedikit lebih kreatif, sampah Layak-Kompos dapat menghasilkan produk yang harga jualnya tinggi.

50

Foto / Taufik Ismail

Sampah kota dapat mengandung sampah organik sampai 70%. Sebagian besar sampah organik dapat kita golongkan sebagai sampah Layak-Kompos. Sampah dapur, kulit buah, batang tumbuhan lunak, daun, dan rumput adalah beberapa contoh sampah Layak-Kompos. Kompos yang baik hanya dapat dihasilkan bila kita menjaga komposisi dari sampah-sampah tersebut dengan tepat. Rasio kandungan Karbon dan Nitrogen (C/N) di awal-awal pengkomposan sebaiknya sekitar 30:1.

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

eperti disebutkan sebelumnya, sampah Layak-Kompos terdiri dari berbagai jenis sampah organik yang dapat membusuk (putrescible) dalam waktu kurang dari satu bulan. Jika didiamkan, sampah-sampah tersebut akan diuraikan oleh mikroba (biodegradable). Bisa secara aerobik, dapat pula secara anaerobik. Sisa-sisa proses penguraian mikrobiologis itulah yang dinamakan sebagai kompos. Warnanya coklat gelap dan bentuknya menyerupai butiran tanah yang lembab. Ada yang menggolongkan kompos sebagai pupuk, namun ada juga yang menggolongkannya sebagai materi pengkondisian tanah (soil conditioner). Keduanya betul. Kompos memang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan. Tidak hanya unsur hara makro seperti N, P, dan K, tetapi juga unsur hara mikro seperti Fe, B, S, dan Ca yang dibutuhkan oleh tanaman. Walau demikian, jangan bandingkan kandungan unsur hara kompos dengan unsur hara yang

S

0 Hari

14 Hari

28 Hari 21 Hari

Awalnya, sampah Layak-Kompos ditumpuk sesuai dengan komposisinya yang tepat. Di hari-hari selanjutnya, mikroba mulai menguraikan sampah organik sehingga suhu tumpukan naik mencapai 60oC. Pengadukan dilakukan guna menjaga suhu tumpukan agar tetap berada direntang 40o-60oC. Kelembaban juga perlu dijaga. Pada hari ke-14, sampah Layak-Kompos sudah mulai berubah wujudnya. Selain tampak kehitaman, materi sampah mulai hancur. Setelah hari ke-28, sampah Layak-Kompos biasanya sudah dapat dianggap matang dan siap untuk dimanfaatkan. Kompos matang memiliki nilai rasio kandungan Karbon dan Nitrogen (C/N) yang rendah. Di hari pertama, bisa saja sampah memiliki nilai C/N sekitar 30 : 1. Setelah 1 bulan, nilai C/N kompos mungkin tinggal 20-an. Dalam pengkomposan, mikroba memang mengubah senyawa karbon menjadi gas CO2 sehingga kandungan karbon sampah terus menurun. Kompos matang biasanya perlu diayak terlebih dahulu agar kompos memiliki gradasi butiran halus.

Foto / Taufik Ismail

51

dikandung pupuk kimia. Jelas, pupuk urea dan pupuk NPK memiliki kandungan unsur hara yang jauh lebih tinggi. Kelebihan kompos yang sebenarnya ada pada kemampuannya dalam memperbaiki kondisi tanah. Kompos dapat menggemburkan tanah sehingga oksigen dan air dapat meresap ke dalam tanah secara lebih baik.

KELEMAHAN KOMPOS
Kompos punya beberapa kelemahan yang dapat menghambat pemanfaatannya. Pertama, kualitasnya yang tidak merata. Mengingat bahan bakunya adalah sampah kota, proses pengkomposan sulit sekali menghasilkan produk kompos dengan kandungan yang konsisten. Belum lagi adanya kemungkinan bahwa kompos dari sampah kota juga mengandung logam berat yang dapat meracuni tumbuhan. Kelemahan kedua, volumenya yang besar. Hal ini menyulitkan pemanfaatannya, khususnya untuk pemanfaatan skala besar. Biaya pengangkutannya sangat tinggi. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara di Asia, jarak konsumen dengan produsen kompos sebaiknya tidak lebih dari 25 km untuk menjaga harga yang kompetitif. Kelemahan yang ketiga adalah kualitasnya yang tidak merata. Walau terlihat sangat bermanfaat, tidak banyak orang yang tertarik untuk memulai upaya pengkomposan yang berskala komersial. Penyebab utamanya adalah harganya yang sangat rendah. Di Jakarta saja,

Pengkomposan dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan cacing. Selain dapat membiakkan cacing yang memiliki nilai jual tinggi, kotoran cacing juga akan menambah kandungan hara kompos. Produk kompos jenis ini biasa disebut sebagai kompos kascing atau vermicompost.

52

Foto / Taufik Ismail

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

Kompos dapat dibuat dengan mudah. Setelah dicacah kecil-kecil, sampah Layak-Kompos hanya perlu ditumpuk untuk kemudian secara berkala disiram air dan diaduk. Setelah 4 minggu, kompos pun siap untuk dimanfaatkan. Agar pengkomposan berlangsung lebih optimal, kita bisa sedikit memodifikasi proses pengkomposan itu. Misalnya dengan memasukkan bibit mikroba (bioaktivator) ke tumpukan awal sampah Layak-Kompos agar proses pengkomposan dapat dipersingkat. Atau dengan menambahkan pupuk kimia guna meningkatkan kandungan hara kompos yang dihasilkan. Pengkomposan memang mudah untuk dilakukan Oleh karena itu, banyak keluarga yang turut melakukan pengkomposan di halamannya rumahnya sendiri. Upaya itu patut ditiru. Jika dilakukan bersama-sama di setiap rumah, upaya ini dapat mengurangi beban operasi pengelolaan sampah.

kompos berkualitas baik hanya dijual dengan harga 400 rupiah per kilogramnya. Padahal komponen ongkos produksinya cukup banyak. Mulai dari ongkos pendatangan sampah, upah pekerja, pengepakan, dan pemasaran. Hitung-hitungan kasar menunjukkan produsen kompos bisa-bisa hanya mendapat keuntungan 100 rupiah per kilogram kompos yang dihasilkannya. Itu pun belum memasukkan hitungan pengembalian biaya modal. Perlu diketahui, pengkomposan membutuhkan lahan yang sangat luas sehingga permodalannya juga cukup besar. Hitung-hitungan nilai ekonomisnya akan berbeda jika kita mau menganggap pengkomposan sebagai salah satu opsi pengolahan sampah. Dengan adanya pengkomposan, instansi kebersihan tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos pengangkutan berikut ongkos penimbunan sampah Layak-Kompos di TPA. Wajar saja jika kemudian ada pemikiran agar upaya pengkomposan dapat disubsidi sesuai dengan besar ongkos yang dapat dihemat.

53

Foto / Taufik Ismail

Pengkomposan tidak hanya dilakukan di pemukiman atau di perkebunan biasa. Di Istana Cipanas, kita juga dapat menjumpai aktivitas itu. Para petugas istana melakukan pengkomposan terhadap sampah-sampah daun dan sampah sisasisa makanan yang dihasilkan kompleks istana tersebut.

54

Foto-foto / Taufik Ismail

Pengkomposan sampah skala besar, sebagaimana dilakukan pihak Godang Tuajaya di Bantar Gebang, Kabupaten Bekasi, umumnya membutuhkan dukungan peralatan mekanis. Beberapa di antaranya adalah mesin pencacah dan conveyer belt. Pengkomposan juga dibantu dengan penggunaan wheel-loader untuk mengaduk sampah. Upaya pemberian subsidi pernah dilakukan pemerintah pada tahun 2006 kepada para produsen kompos di DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Banten sebagai bagian dari Western Java Environmental Manajemen Project (WJEMP). Targetnya, 60.000 ton produk kompos harus dapat dihasilkan para produsen dalam waktu kurang dari setahun. Subsidi diberikan ke para produsen sebesar 200 rupiah sampai 350 rupiah per kilogram kompos yang berhasil mereka jual. Syaratnya, mereka harus menggunakan sampah kota sebagai bahan baku kompos. Me-reka juga diwajibkan untuk melakukan pengkomposan secara aerobik guna mencegah emisi gas metan yang dapat menambah akumulasi gas rumah kaca. Syarat lainnya, kualitas produk kompos harus memenuhi persyaratan yang ditentukan. Selain pemberian subsidi, pemerintah juga terus melakukan upaya sosialisasi pengkomposan dan manfaat penggunaan kompos ke para penduduk. Beberapa kantor dinas di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, seperti dinas pertamanan dan dinas perkebunan, secara rutin selalu berusaha untuk membeli kompos.

DIBUAT PUPUK CAIR
Jika kompos dianggap kurang menarik, ada baiknya kita melihat potensi lain dari sampah Layak-Kompos. Misalnya, sebagai bahan baku pembuatan pupuk cair. Kelebihannya dibanding kompos padat sangat banyak. Konsentrasi kandungan haranya sangat tinggi. Aplikasi pupuk cair juga lebih mudah, cukup disiramkan Pengkomposan juga dapat dilakukan dengan menggunakan atau disemprotkan ke tanah. Harga jualnya lebihdapat membiakan cacing yang mebantuan cacing. Selain mahal. Pupuk cair dibuat dengan miliki ekstrak bahan organik yang dibusukkan dalam konmencampur air dengan cairan nilai jual tinggi, kotoran cacing juga akan menambah kandungan hara dari kompos. Produk kompos jenis ini biasa disi anaerobik. Pembuatannya membutuhkan waktu yang lebih singkat. disebut sebagai kompos kascing atau vermicompost. Proses pembusukan atau fermentasi sampah Layak-Kompos akan menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Biogas sebagian besar terdiri dari gas metana (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Potensi produksi biogas sebenarnya sangat besar mengingat jumlah sampah Layak-Kompos yang sangat banyak.

55

Foto-foto / Taufik Ismail

Energi
D A RI S AMPA H J A DI
Sebagian sampah masih mengandung energi. Upaya Tangkap-Energi (energy recovery) berusaha mengambil energi yang masih dikandung sampah. Pengambilannya dapat dilakukan degan berbagai cara, baik dengan membakarnya maupun membusukkannya. Upaya ini sekarang sedang banyak dipelajari kelayakannya di Indonesia.
eperti disebutkan sebelumnya, berbagai jenis materi sampah masih memiliki kandungan energi yang cukup besar. Besarnya berbeda-beda. Walau tidak selalu akurat, tingginya kandungan energi dari suatu materi dapat dilihat dari kemampuannya menahan nyala api. Plastik dan karet merupakan jenis sampah yang memiliki kandungan energi terbesar. Sementara itu, kaleng dan kaca memiliki kandungan energi terendah. Ada beberapa cara untuk mengambil energi yang ada dalam sampah. Pertama, dengan menggunakan sampah langsung sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Upaya ini dilakukan di suatu instalasi pembangkit listrk tenaga sampah. Orang menyebutnya sebagai fasilitas waste-to-energy. Kedua, dengan membiarkan sampah membusuk secara anaerobik sehingga menghasilkan biogas yang mengandung gas metana (CH4). Gas metana kemudian digunakan sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Cara kedua tentu hanya dapat dilakukan untuk sampah-sampah organik yang dapat membusuk atau kita menyebutnya sebagai Sampah Layak-Kompos.

S

Ban bekas merupakan salah satu jenis sampah yang memiliki kandungan energi yang sangat tinggi. Pembakarannya akan menghasilkan panas yang tinggi dan bertahan lama. Sayangnya pembakaran karet ban akan menghasilkan emisi yang kualitasnya sangat buruk.

56

Foto / Istimewa

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

DIBAKAR JADI ENERGI
Sampah jika dibakar akan mengeluarkan panas. Panasnya digunakan untuk menguapkan air. Uap panas kemudian dialirkan untuk menggerakkan turbin pembangkit (generator) listrik. Demikianlah prinsip kerja suatu instalasi pembangkit listrik tenaga sampah. Pembakaran sampah dilakukan di suatu tungku bakar (combustion chamber) yang terbuat dari bahan baja tahan-api. Suhu pembakaran harus mencapai setidaknya 7000C agar sampah dapat terbakar dengan baik. Agar dapat terbakar dengan baik, sampah harus memenuhi karakteristik tertentu (lihat bagian Mengenali Kawan). Jika kandungan energi sampah kita lebih lebih kecil dari 1.500 kilokalori per kilogramnya, ada kemungkinan kita membutuhkan bahan bakar tambahan guna membakar sampah itu sampai habis. Jika sampah kita terlalu basah atau kandungan air lebih besar dari 50%, sampah harus dikeringkan terlebih dahulu. Sampah kota-kota di Indonesia tidak jarang memiliki kandungan energi yang besarnya hanya sekitar 800 kilokalori per kilogram. Di sisi lain, kandungan organiknya sangat tinggi sehingga kandungan air sampah dapat mencapai 65%. Beberapa langkah persiapan, seperti pemilahan dan pengeringan, harus dilakukan agar sampah kota kita dapat digolongkan sebagai Sampah Layak-Bakar. 57

Instalasi Senoko merupakan salah satu dari 5 instalasi waste-to-energy di Singapura. Kapasitasnya 2400 ton per hari atau sepertiga dari jumlah sampah di negara itu. Bangunannya megah dan dikelilingi jalur hijau yang sekaligus berfungsi sebagai taman kota. Ampas pembakarannya tidak mengandung racun atau zat berbahaya sehingga dapat dipakai untuk bahan reklamasi daratan. Fasilitas ini tidak mencemari sehingga digunakan sebagai sarana pendidikan untuk anak sekolah yang ingin mengetahui bagaimana mengolah sampah secara baik dan benar.

Foto / Istimewa

Foto / Rudy Yuwono

Truk pengangkut sampah, setelah ditimbang akan menurunkan sampahnya ke kompartemen penyimpanan sementara. Ruang tersebut biasanya memiliki suhu yang agak tinggi agar kandungan air sampah dapat diturunkan.

Di dalam tungku bakar, sampah dibakar pada suhu 700oC - 1000oC. Panas pembakaran akan dialirkan ke boiler sehingga menghasilkan uap air dalam jumlah besar. Uap air akan dikirim ke unit generator pembangkit listrik.

Generator Listrik

Listrik

Menara Cerobong

Lengan Penggaruk Boiler Corong Input Sampah Kompartemen Penyimpanan Sampah Tungku Bakar Penanganan Abu Residu Sampah
Infografik/ E. Sunandar

Filter

Penanganan Debu Terbang

Abu residu sampah yang tidak terbakar (bottom ash) akan ditampung dan dikumpulkan untuk dibuang sesuai tatacara yang diperbolehkan. Jumlahnya dapat mencapai 17% dari total sampah terbakar. Logam yang terkandung dalam abu dapat dipisahkan menggunakan magnet.

Debu ringan yang berterbangan (fly ash) ditangkap oleh unit filter. Emisi gas buangan dikendalikan sebelumnya guna menghilangkan senyawa-senyawa asam, logam dan zat lain yang dinilai membahayakan. Gas yang telah melalui proses kontrol polusi dibuang melalui cerobong pembuangan.

Instalasi pembangkit listrik tenaga sampah sudah ada di mana-mana. Di negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, instalasi demikian sudah umum dipakai. Demikian juga di Cina dan Jepang, instalasi pembangkit listrik tenaga sampah sudah merupakan salah satu opsi pengelolaan sampah mereka. Instalasi pembangkit listrik tenaga sampah di kota Pudong, Shanghai, yang baru-baru ini dikunjungi Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, mengolah sekitar 1100-1200 ton sampah untuk menghasilkan listrik sebesar 40 MW. Sebagaimana penampakan umum di instalasi serupa, instalasi di kota Pudong itu terlihat sangat bersih, apik, dan asri. Salah satu kekhawatiran masyarakat tentang instalasi pembangkit listrik tenaga sampah adalah emisi polutan pembakaran sampahnya. Logikanya, kalau yang dibakar terdiri dari bermacam-macam materi maka emisi pembakarannya juga mengandung beragam jenis polutan. Mulai dari debu terbang, sulfur dan nitrogen dioksida, hidrokarbon, dan logam berat. Yang paling sering disebut-sebut tentunya adalah gas dioksin. Ada beberapa hal

58

Kalau Sulit Dilawan, Jadikan Kawan

yang harus dilakukan agar emisi pembakaran sampah tidak mengeluarkan emisi yang berbahaya. Pertama, pengawasan dan pemilahan ketat terhadap jenis-jenis sampah yang akan dibakar. Beberapa jenis plastik dipisahkan agar tidak ikut terbakar. Kedua, pengendalian proses pembakaran yang tepat. Suhu minimal 700oC harus tetap terjaga. Waktu retensi pembakaran juga harus memadai. Dan, ketiga, penggunaan teknologi pengendalian pencemaran udara yang tepat. Hal-hal demikian sudah menjadi persyaratan standar untuk setiap instalasi pembangkit listrik tenaga sampah. Perlu diingat bahwa instalasi pembangkit listrik tenaga sampah membutuhkan biaya operasi yang sangat mahal. Tiap ton sampah yang dibakar membutuhkan biaya operasi antara Rp150.000,00 sampai Rp200.000,00. Listrik yang dihasilkan memang dapat dijual. Namun efisiensi pembangkitan listrik dari instalasi seperti itu tidak bisa diharapkan sebesar instalasi-instalasi pembangkit listrik konvensional. Dari setiap seribu ton sampah kering per hari, listrik yang dihasilkan hanya sekitar 20 atau 30 Megawatt. Hasil penjualan listriknya paling-paling hanya mampu menutupi 25% dari biaya operasi instalasi tersebut.

DIBUSUKKAN JADI ENERGI
Sampah membusuk akan mengeluarkan biogas yang di antaranya mengandung 50% - 60% gas metana (CH4). Gas tersebut dapat langsung dijadikan bahan bakar untuk menggerakkan pembangkit listrik. Demikianlah prinsip kerja pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah. Semua TPA sampah, khususnya yang menerapkan pola pengoperasian sanitary landfill, menghasilkan gas tersebut. Gas tersebut harus dikeluarkan dari dalam tumpukan sampah secara terkendali. Jika tidak, gas tersebut dapat meledak sebagaimana yang dicurigai sebagai penyebab longsornya TPA Leuwigajah (lihat bagian Berkawan dalam Keterpaduan).

Foto / Winarto Hadi

59

Penangkapan gas metana dari timbunan sampah membutuhkan jaringan pipa yang tersambung dengan beberapa sumur penyerap gas. Setelah diproses agar lebih terkonsentrasi, gas metana dialirkan ke unit generator listrik. Sisa gas dibakar untuk menghindari terlepasnya metana ke atmosfer. Seperti diketahui, gas metana merupakan salah satu gas pembentuk rumah kaca. Pengaruh negatifnya dinilai 21 kali lipat dibandingkan pengaruh negatif karbondioksida. Keberhasilan untuk mengurangi lepasan gas metana ke atmoser dihargai lebih tinggi daripada pengurangan lepasan gas karbondioksida. Gas metana sendiri tergolong gas yang sangat berbahaya. Selain itu, pada konsentrasi 15% di udara, gas metana berpotensi menimbulkan ledakan dengan sendirinya.

TIMBUNAN SAMPAH DI TPA

SUMUR PENANGKAP BIOGAS

GENERATOR LISTRIK PENYARING GAS METANA

Infografik/ M. Taufik

Di dalam skema Clean Development Mechanism (CDM), pemanfaatan gas metana dari landfill termasuk sebagai salah satu kegiatan yang berpotensi mendapatkan kredit pengurangan gas rumah kaca. Potensi pemanfaatan skema CDM di Indonesia sebenarnya sangat besar. Menurut studi Bank Dunia di Indonesia, potensi emisi gas metana dari timbulan sampah di Indonesia mencapai 404 juta m3 per tahun. Gas ini dapat diubah menjadi listrik setara dengan 79 MW. Pemasukan dari carbon credit dapat mencapai 118 milyar rupiah per tahun. Dana yang terkumpul dapat digunakan untuk membiayai pengelolaan TPA yang baik dan pengelolaan sampah domestik secara menyeluruh. Saat ini, banyak kota di Indonesia sudah mulai mempelajari potensi TPA-nya masing-masing guna mengakses dana CDM tersebut. Masih banyak hambatan yang perlu diatasi termasuk juga masalah regulasi perjanjian kerjasama antara pemerintah kota dengan penyalur dana. 60

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful