B.PROSEDUR Perawatan konservatif 1. Indikasi Pada kehamilan <> = 180 mmHg atau diastole > = 110 mm Hg 2. Pengobatan a.

Di kamar bersalin (selama 24 jam) 1. Tirah baring 2. Infus RL (Ringer Laktat) yang mengandung 5% dekstrosa, 60-125 cc/jam, 3. 10 gr MgS04 50% i.m. sebagai dosis awal diulangi dengan dosis 5 gr MgSO4 50% i.m. setiap 6 jam, s/d 24 jam pascapersalinan (kalau tidak ada kontra indikasi pemberian MgS04 ) 4. Diberikan anti hipertensi: Yang digunakan: Klonidin suntikan i.v. (1 ampul mengandung 0,15 mg/cc), tersedia di kamar bersalin, dilanjutkan tablet Nifedipin 3 x 10 mg (pilihan pertama) atau tablet Metildopa 3 x 250 mg) Bila sistole > = 180 mmHg atau diastole > = 110 mm Hg digunakan injeksi 1 ampul Klonidin yang mengandung 0,15 mg/cc. Klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc lar.aquadest (untuk suntikan). Disuntikan : mula-mula 5 cc i.v. perlahan-lahan selama 5 menit. 5 menit kemudian tekanan darah diukur, bila belum ada penurunan maka diberikan lagi sisanya 5 cc i.v. dalam 5 menit sampai tekanan darah diastole normal. 5. Dilakukan pemeriksaan lab. tertentu (fungsi hepar dan ginjal) dan produksi urine 24 jam. 6. konsultasi dengan spesialis Mata, Jantung atau yang lain sesuai indikasi. b. Pengobatan dan evaluasi selama rawat tinggal di Ruang Bersalin setelah 24 jam masuk ruangan bersalin) 1. Tirah baring 2. Obat-obatan: - Roboransia: multivitamin - Aspirin dosis rendah 1 x 87,5 mg per hari - Antihipertensi (Klonidin 0,15 mg i.v. dilanjutkan Nifedipin 3 x 10 mg atau Metildopa 3 x 250 mg) 3.Pemeriksaan lab.: - Hb, PCV dan hapusan darah tepi - Asam urat darah - Trombosit - Fungsi ginjal/hepar - Urine lengkap - Produksi urine per 24 jam, penimbangan BB setiap hari - Diusahakan pemeriksaan AT III - Pemeriksaan Lab dapat diulangi sesuai dengan keperluan. 4. Diet tinggi protein, rendah karbohidrat 5. Dilakukan penilaian kesejahteraan janin.

m.i.4.respirasi > 16/menit .i. Hasil penilaian kesejahteraan janin jelek 1. tidak bertambah berat/buruk Catatan: Sebagai pertimbangan : bila perawatan konservatif berhasil dan didapatkan kematangan paru janin (Shake test + ) sebaiknya kehamilan diterminasi.Bila keadaan tetap.Adanya tanda-tanda impending eklampsia . Kehamilan aterm ( > 38 mg) Apabila perawatan konservatif gagal (lihat I.3) 2. Pemberian anti kejang: MgS04 Dosis awal: MgSO4 20% 2 gr.1.Refleks patela (+) .3. Segera rawat inap 2. Pengobatan medisinal 2.Penderita sudah mencapai perbaikan dengan tanda-tanda pre-eklamsia ringan.1.m. Penderita boleh pulang bila: .harus selalu tersedia kalsium glukonas 1 gr 10%(diberikan i. pada bokong kanan/kiri (masing-masing 5 gr) Dosis ulangan: MgSO4 50% 5 gr.v. Antihipertensi dapat dipertimbangkan diberikan bila: .Kenaikan progresif dari tekanan darah . Adanya gejala-gejala impending eklamsia 1. Tirah baring miring kesatu sisi 2.v. perawatan dilanjutkan sekurang-kurangnya selama 3 hari lagi (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu) . pelan-pelan pada intoksikasi MgS04) 2. I.urine sekurang-kurangnya 150 cc/6 jam .4.Adanya kelainan fungsi ginjal .3.5. 4.2.Adanya Sindrom Hellp .3.diulangi tiap 6 jam setelah dosis awal s/d 6 jam pasca persalinan Syarat pemberian: . Indikasi 1. Perawatan konservatif dianggap gagal bila: .2. Perawatan aktif 1. Infus RL yang mengandung 5% Dekstrosa dengan 60-125 cc/jam 2.Penilaian kesejahteraan janin jelek. MgSO4 50% 10 gr i. Adanya Sindrom Hellp 1.

s/d 24 jam pascapersalinan (kalau tidak ada kontra indikasi pemberian MgS04 ) 4. 6. Dilakukan pemeriksaan lab. Klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc lar. Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan "Non Stres Test" 3. tertentu (fungsi hepar dan ginjal) dan produksi urine 24 jam.diastole > 120 mmHg 3. Tirah baring 2. Tindakan seksio sesar dikerjakan bila: .v. Pengobatan dan evaluasi selama rawat tinggal di Ruang Bersalin setelah 24 jam masuk ruangan bersalin) 1. Obat-obatan: . Di kamar bersalin (selama 24 jam) 1. Jantung atau yang lain sesuai indikasi. Tirah baring 2. dilanjutkan tablet Nifedipin 3 x 10 mg (pilihan pertama) atau tablet Metildopa 3 x 250 mg) Bila sistole > = 180 mmHg atau diastole > = 110 mm Hg digunakan injeksi 1 ampul Klonidin yang mengandung 0. Infus RL (Ringer Laktat) yang mengandung 5% dekstrosa. perlahan-lahan selama 5 menit.PROSEDUR Perawatan konservatif 1.m. bila belum ada penurunan maka diberikan lagi sisanya 5 cc i. Indikasi Pada kehamilan <> = 180 mmHg atau diastole > = 110 mm Hg 2.v.penderita belum inpartu dengan skor pelvik jelek (Skor Bishop <> 5) B.systole > 180 mmHg .v.(Klonidin i.1.m.15 mg/cc). sebagai dosis awal diulangi dengan dosis 5 gr MgSO4 50% i. dilanjutkan Nifedipin 3 x 10 atau Metildopa 3 x 250 mg) ."Non Stres Test" jelek .2.aquadest (untuk suntikan). 5 menit kemudian tekanan darah diukur. (1 ampul mengandung 0. Pengobatan obstetrik 3.15 mg/cc. b. Diberikan anti hipertensi: Yang digunakan: Klonidin suntikan i. Pengobatan a. 60-125 cc/jam. dalam 5 menit sampai tekanan darah diastole normal. konsultasi dengan spesialis Mata. setiap 6 jam.v. Disuntikan : mula-mula 5 cc i. 10 gr MgS04 50% i. 3. 5. tersedia di kamar bersalin.

Urine lengkap .Diusahakan pemeriksaan AT III . 4. Pengobatan medisinal 2. Segera rawat inap 2.15 mg i.Adanya Sindrom Hellp .v.4. dilanjutkan Nifedipin 3 x 10 mg atau Metildopa 3 x 250 mg) 3. PCV dan hapusan darah tepi .Pemeriksaan lab.Antihipertensi (Klonidin 0.2.3) 2.Fungsi ginjal/hepar .Penderita sudah mencapai perbaikan dengan tanda-tanda pre-eklamsia ringan.1. Kehamilan aterm ( > 38 mg) Apabila perawatan konservatif gagal (lihat I. Perawatan aktif 1.Roboransia: multivitamin . Tirah baring miring kesatu sisi . rendah karbohidrat 5. tidak bertambah berat/buruk Catatan: Sebagai pertimbangan : bila perawatan konservatif berhasil dan didapatkan kematangan paru janin (Shake test + ) sebaiknya kehamilan diterminasi. Perawatan konservatif dianggap gagal bila: .Penilaian kesejahteraan janin jelek. Adanya Sindrom Hellp 1.Aspirin dosis rendah 1 x 87. Indikasi 1. Hasil penilaian kesejahteraan janin jelek 1.. perawatan dilanjutkan sekurang-kurangnya selama 3 hari lagi (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu) .2.Kenaikan progresif dari tekanan darah . penimbangan BB setiap hari .Adanya tanda-tanda impending eklampsia . I. Dilakukan penilaian kesejahteraan janin.: .3.Bila keadaan tetap.Hb.5 mg per hari .Trombosit . 3.Pemeriksaan Lab dapat diulangi sesuai dengan keperluan.1. 4.Asam urat darah . Penderita boleh pulang bila: . Diet tinggi protein. Adanya gejala-gejala impending eklamsia 1.Adanya kelainan fungsi ginjal .Produksi urine per 24 jam.

systole > 180 mmHg .Kes Weblog dr.5. Suparyanto.Kes berisi tentang materi kuliah untuk mahasiswa STIKES program studi S1 Keperawatan.v.3. untuk itu saran dan kritik untuk perbaikan penulisan sangat diharapkan (klik komentar).diulangi tiap 6 jam setelah dosis awal s/d 6 jam pasca persalinan Syarat pemberian: . Tindakan seksio sesar dikerjakan bila: .Refleks patela (+) .penderita belum inpartu dengan skor pelvik jelek (Skor Bishop <> 5) dr.2. Infus RL yang mengandung 5% Dekstrosa dengan 60-125 cc/jam 2. kewajiban bagi mahasiswa untuk membaca lebih lanjut pada referensi yang sesuai.m. MgSO4 50% 10 gr i.harus selalu tersedia kalsium glukonas 1 gr 10%(diberikan i. D3 Keperawatan dan D3 Kebidanan. M.i.v.i."Non Stres Test" jelek . Trims . Pengobatan obstetrik 3.v.urine sekurang-kurangnya 150 cc/6 jam .4. Dilarang copy materi dari blog ini.m. tanpa mencantumkan penulis dan alamat web (URL). M. Suparyanto. Antihipertensi dapat dipertimbangkan diberikan bila: (Klonidin i. pelan-pelan pada intoksikasi MgS04) 2.diastole > 120 mmHg 3. Banyak kekurangan dalam penulisan.2. pada bokong kanan/kiri (masing-masing 5 gr) Dosis ulangan: MgSO4 50% 5 gr.1. dilanjutkan Nifedipin 3 x 10 atau Metildopa 3 x 250 mg) . Pemberian anti kejang: MgS04 Dosis awal: MgSO4 20% 2 gr. Materi hanya merupakan resume. Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan "Non Stres Test" 3.respirasi > 16/menit .

Namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit ini.Kes Konsep Pre-Eklamsi 1 Pengertian Pre-eklamsia Preeklamsia dan eklamsia merupakan kumpulan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil. 2007). 2 Etiologi Menurut Mochtar (2007). Suparyanto.dan edema. proteinuria.Jumat. Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi. Teori yang sekarang dipakai sebagai penyebab preeklamsia adalah teori ”iskemia plasenta”. 17 Februari 2012 PRE EKLAMSIA (KERACUNAN KEHAMILAN) Dr.dan .oleh karena itu disebut ”Penyakit teori”. namun belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. hipertensi. hidramnion. Teori yang dapat diterima haruslah dapat menerangkan : (a) Mengapa frekuensi menjadi tinggi pada: primigravida. Banyak teori-teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan-kelainan vaskular atau hipertensi sebelumnya ( Mochtar. Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan. kehamilan ganda. M. tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa Prawirohardjo 2005 yang dikutip oleh Rukiyah (2010). bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : proteinuri. dan edema yang timbul karena kehamilan.

edema dan konvulsi sampai koma. sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel. beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum. b) Peran faktor imunologis Menurut Rukiyah (2010). bila terjadi kematian janin dalam kandungan. aktifasi pengumpulan dan fibrinolisis. Aktifasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan serotonin. sehingga terjadi penurunan produksi prostsiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat. Dari hal-hal tersebut diatas.molahidatidosa. yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.umumnya pada triwulan ke III. Hal ini dapat ditererangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna. Beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE-E. yang kemudian akan digant trombin dan plasmin. melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre-eklamsia dan eklamsia. jelaslah bahwa bukan hanya satu faktor. dan (e) Penyebab timbulnya hipertensi. (b) Mengapa frekuensi bertambah seiring dengan tuanya kehamilan . Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbu lagi pada kehamilan berikutnya. beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifasi sistem komplemen pada PE-E diikuti proteinuria. Adapun teori-teori yang dihubungkan dengan terjadinya preeklamsia adalah : a) Peran prostasiklin dan trombiksan Pada preeklamsia dan eklamsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskular.trombin akan mengkonsumsi anti trombin III. sehingga terjadi deposit fibrin. (c)Mengapa terjadi perbaikan keadaan penyakit. (d) mengapa frekuensi menjadi lebih rendah pada kehamilan berikutnya.proteinuria. c) Faktor genetik .

Yang jelas preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil. disamping infeksi dan perdarahan. lupus atau rematoid artritis. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. bila ibu hamil ketahuan beresiko. Beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklamsia dan eklamsia.Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain : (1) preeklamsia hanya terjadi pada manusia. riwayat preeklamsia pada ibu atau saudara perempuan. dan gangguan aliran darah kerahim. lumen arteriola sedemikian sempitnya . terutama sejak awal kehamilan. 3 Patofisiologi Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Faktor-faktor tersebut antara lain. Pada beberapa kasus. kegemukan. riwayat mengalami preeklamsia sebelumnya. kegemukan.gizi buruk. kelainan ginjal. (4) peran renin-angiotensin-aldosteron sistem (RAAS). preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali. kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas usia 40 tahun. (2) terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E. Faktor resiko terjadinya preeklamsia. (3) kescenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka. dokter kebidanan dan kandungan akan memantau lebih ketat kondisi kehamilan tersebut. riwayat kencing manis. Faktor resiko yang lain adalah riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan.mengandung lebih dari satu orang bayi. Oleh sebab itu.

2) Pre-eklamsia berat.sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. yaitu : 1) Pre-eklamsia ringan. Oliguria.kwalitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau midstream. bila disertai keadaan sebagai berikut a) Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang: atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan dengan jarak 1 jam. Adanya gangguan serebral.3 gr per liter. 4 Klasifikasi Menurut Mochtar (2007). b) Edema umum. c) Proteinuria kwantitatif ≥ 0. atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. maka tekanan darah akan naik. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme. gangguan visus. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus. dan rasa nyeri di epigastrium. Proteinuria ≥ 5gr per liter. . bila disertai keadaan sebagai berikut : a) b) c) d) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih. atau kenaikan berat badan ≥ 1 kg per minggu. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. mungkin karena retensi air dan garam. kaki jari tangan. Dibagi menjadi dua golongan.sebaiknya 6 jam. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya. yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam. dan muka.

ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerolus menurun. 2) Plasenta dan rahim Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta. bahkan pada keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan. Pada pre-eklamsia dan eklamsiasering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaanya terhadap rangsang. . Bisa pula karena terjadinja aspirasi pnemonia. 4) Paru-paru Kematian ibu pada pre-eklamsia dan eklamsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan decompensasi cordis. Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus. 3) Ginjal Filtrasi glomerolus berkurang oleh karena aliran ke ginjal menurun. resistensi pembuluh darah meninggi. sehingga terjadi partus prematus. Filtrasi glomerolus dapat turun sampai 50% dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.e) Terdapat edema paru dan sianosis. sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Pada eklamsia. sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin.atau abses paru. antara lain : 1) Otak Pada pre-eklamsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. 5 Perubahan Pada Organ-Organ Menurut Mochtar (2007) pada penderita preeklamasi dapat terjadi perubahan pada organ-organ.

Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri. dan protein serum. kadar gula darah naik sementara. diplopia. Setelah konvulsi selesai zat-zat organik dioksidasi. dan ambliopia. maka harus di curigai terjadinya pre eklamsia berat. 6 Frekuensi . Pada pre-eklamsia berat dan eklamsia. elektrolit. Jadi.atau di dalam retina.5) Mata Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. 6) Keseimbangan air dan elektrolit Pada pre-eklamsia ringan biasanya tidak dijumpai perubahan yang nyata pada metabolisme air. tidak terjadi gangguan keseimbangan elektrolit. Bila terdapat hal-hal tersebut. Oleh beberapa penulis/ahli kadar asam urat dalam darah dipakai untuk menentukan arah preeklamsia menjadi baik atau tidak setelah penanganan. Gula darah. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kejang-kejang. kristaloit. Pada eklamsia dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan odema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Dengan demikian cadangan alkalidapat kembali pulih normal.sehingga cadangan alkali akan turun. Gejala lain yang dapat menunjukkan tanda pre-eklamsia berat adalah adanya skotoma. asam laktat dan asam organik lainya naik. kadar natrium bikarbonat dan pH darah berada berada pada batas normal. dan dilepaskan natrium yang lalu bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk natrium bikarbonat.

Gejala subjektif : sakit kepala didaerah frontal.Ada yang melaporkan angka kejadian sebanyak 6% dari seluruh kehamilan. reflek meningkat. obesitas. gangguan visus. 7 Diagnosis Menurut Mochtar (2007). hipertensi. 2007).8 Penatalaksanaan Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit preeklamsia adalah : 1) Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinya. mual dan muntah. dan tidak tenang. . dan 12% pada kehamilan primigravida. dan proteinuria pada pemeriksaan laboratorium. 3) Pemulihan sempurna kesehatan ibu . 2) Pemeriksaan : tekanan darah tinggi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan : 1) Gambaran klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan. skotoma. edema. diabetes melitus. refleks meningkat. 2) Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang. diplopia. Menurut beberapa penulis lain frekuensi dilaporkan sekitar 3-10%. Gangguan serebral lainya : Oyong. dan timbul proteinuria. hidrops fetalis. dan umur yang lebih dari 35 tahun (Mochtar. kehamilan ganda. terutama primigravida usia muda.nyeri epigastrium. Lebih banyak dijumpai pada primigravida daripada multigravida. penglihatan kabur. Faktor-faktor predisposisi untuk terjadinya preeklamsia adalah molahidatidosa.

trombosit. fungsi ginjal.lemak dan garam. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.Pada kasus preeklasmia tertentu. kunjungan ulang selama 1 minggu.tidur/miring). roborantia. Bila setelah satu minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia berat. dengan cara : ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring. informasi terpenting yang perlu dimiliki oleh ahli obstetri agar penanganan kehamilan berhasil dan terutama kehamilan dengan penyulit hipertensi. urin lengkap. hematokrit. tiga tujuan tersebut dapat terpenuhi oleh induksi persalinan. asam urat darah. timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat. adalah kepastian usia janin (Cuningham dkk. Jika dalam perawatan dirumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Dengan demikian. dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni : 1) Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan. pemeriksaan laboratorium: hemoglobin. terutama pada wanita menjelang atau sudah aterm. Penanganan Preeklamsia ringan menurut Cuningham dkk.2005). diet : cukup protein. (2005). pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbital 3x30 mg atau diazepam 3x2 mg/oral selama 7 hari (atas instruksi dokter). 2) Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsi ringan berdasarkan kriteria : setelah duan minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala preeklamsia. fungsi hati. rendah karbohidrat. kenaikan berat badan ibu 1kg atau lebih/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu). .

2) Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) : persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan paa taksiran tanda persalinan. 2) Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medicinal.Perawatan obstetri pasien preeklamsia menurut Rukiyah (2010) adalah : 1) Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensi selama perawatan. (2005). bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensi selama perawtan maka kehamilanya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih. Usaha farmakologis mencakup pemakaian aspirin dosis rendah dan antioksidan. 2. persalinan ditunggu sampai aterm. Biasanya strategi-strategi ini mencakup manipulasi diet dan usaha farmakologis untuk memodifikasi mekanisme patofisiologis yang diperkirakan berperan dalam terjadinya preeklamsia. Konsep Pencegahan Preeklamsi Menurut Cuningham dkk. Berbagai strategi telah digunakan sebagai upaya untuk mencegah preeklamsia. 3) Cara persalinan : persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek kala II. Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi : 1) Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal. 1 Manipulasi diet .

Hal ini mendorong dilakukanya paling sedikit 14 uji klinis acak yang menghasilkan metaanalisis yang memperlihatkan bahwa suplementasi kalsium selama kehamilan menyebabkan penurunan bermakna tekanan darah serta mencegah preeklamsia. Berdasarkan sebagian besar studi di luar amerika serikat. Manipulasi diet lainya untuk mencegah preeklamsia yang telah diteliti adalah pemberian empat sampai sembilan kapsul yang mengandung minyak ikan setiap hari. Suplemen harian ini dipilih sebagai upaya untuk memodifikasi keseimbangan prostaglandin yang diperkirakan berperan dalam patofisiologi preeklamsia..4589 wanita nulipara sehat dibagi secara acak untuk mendapat 2g suplemen kalsium atau plasebo. dilakukan uji klinis acak multisentra pada wanita . Studi ini adalah suatu uji klinis acak yang disponsori oleh the National Institute of Child Health and Human development. Menurunya insiden preeklamsi pada kelompok terapi diperkirakan disebabkan oleh supresi selektif sintesis tromboksan oleh trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin. Dalam uji yang menggunakan penyamar-ganda ini.Salah satu usaha paling awal yang ditujukan untuk mencegah preeklamsia adalah pembatasan asupan garam selama hamil. Berdasarkan laporan ini dan laporan lain dengan hasil serupa. ditemukan bahwa wanita dengan diet rendah kalsium secara bermakna beresiko lebih tinggi mengalami hipertensi akibat kehamilan. Knuist dkk. Namun studi yang tampaknya definitif dilakukan oleh Lavine dkk. (1998) yang dikutip oleh Cuningham (2005). 2 Aspirin dosis rendah Dengan aspirin 60 mg atau plasebo yang diberikan kepada wanita primigravida peka-angiotensin pada usia kehamilan 28 minggu.(1997) yang dikutip oleh Cuningham (2005).

beresiko rendah dan tinggi di amerika serikat dan negara lain. tetapi konsumsi vitamin E dalam diet tersebut tidak berkaitan dengan preeklamsia. Penelitian sistematik pertama yang dirancang untuk menguji hipotesis bahwa terapi antioksidan untuk wanita hamil akan mengubah cedera sel endotel yang dikaitkan dengan preeklamsia. Juga . serum wanita dengan preeklamsia memperlihatkan penurunan mencolok aktivitas antioksidan.(1996) yang dikutip oleh Cuningham (2005). menguji hipotesis bahwa penurunan aktifitas antioksidan berperan dalam preeklamsia dengan mempelajari konsumsi diet serta konsentrasi vitamin E dalam plasma pada 42 kehamilan dengan 90 kontrol. Uji-uji klinis ini secara konsisten menperlihatkan aspirin dosis rendah efektif untuk mencegah preeklamsia. Schirif dkk. Dalam suatu analisis sekunder terhadap uji klinis intervensi resiko-tinggi. Sebanyak 283 wanita hamil 18 sampai 22 minggu yang beresiko preeklamsia dibagi secara acak untuk mendapat terapi antioksidan atau plasebo. Mereka berspekulasi bahwa tingginya kadar vitamin E yang diamati disebabkan oleh respons terhadap stres oksidatif pada preeklamsia. memperlihatkan bahwa pemberian aspirin dosis rendah secara bermakna menurunkan kadar tromboksan B2 ibu.. 3 Antioksidan Serum wanita hamil normal memiliki mekanisme antioksidan yang berfungsi mengendalikan peroksidasi lemak yang diperkirakan berperan dalam disfungsi sel endotel pada preeklamsia. Mereka menemukan kadar vitamin E plasma yang tinggi pada wanita dengan preeklamsia. Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan mengisyaratkan bahwa terapi semacam ini mungkin bermanfaat untuk mencegah preeklamsia.

pengenalan. lemak. lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. serta karbohidrat dan tinggi protein. penyerahan sumberdaya masyarakat.p <0. Jensen. Perawat dapat melakukan banyak hal dalam tugas pendukung. juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan (Mochtar. . serta pentingnya mengatur diet rendah garam. Konseling. ketenangan.2007). memberikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur.identifikasi wanita hamil yang beresiko tinggi.2000).terjadi penurunan bermakna insiden preeklamsia pada mereka yang mendapat vitamin C dan E dibandingkan dengan kelompok kontrol (17 versus 11 persen. Pada awal perawatan prenatal. Tindakan harus diambil untuk menambah pengetahuan dan akses publik pada perawatan antenatal. Terapi paling efektif adalah pencegahan. pengerahan sistem pendukung. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklamsia kalau ada faktor-faktor predisposisi. konseling nutrisi dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan merupakan komponen pencegahan yang esensial pada perawatan (Bobak. Kemampuan perawat dalam memeriksa faktor-faktor dan gejala-gejala preeklamsia pada klien tidak dapat terlalu dihrapkan. mengenali tanda-tanda sedini mungkin (preeklamsi ringan). 4 Pemeriksaan antenatal Pemeriksaan antenatal care yang teratur dan bermutu serta teliti. dan laporan gejalagejala peringatan fisik merupakan komponen inti untuk mengoptimalkan hasil pada maternal dan perinatal.02).