CEDERA KEPALA BERAT

Disusun oleh : Nama Nim : I Putu Agus Indra Saputra : 1002055

Prodi S1 keperawatan STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA 2011

CEDERA KEPALA BERAT
A. LATAR BELAKANG Distribusi kasus cedera kepala / cedera otak terutama melibatkan kelompok usia produktif, yaitu antara 15 – 44 tahun, dengan usia rata – rata sekitar tiga puluh tahun, dan lebih didominasi oleh kaum laki – laki dibandingkan kaum perempuan. Adapun penyebab yang tersering adalah kecelakaan lalu lintas ( 49 % ) dan kemudian disusul dengan jatuh (terutama pada kelompok usia anak – anak). Pada kehidupan sehari – hari cedera kepala adalah tantangan umum bagi kalangan medis untuk menghadapinya, di mana tampaknya keberlangsungan proses patofisiologis yang diungkapkan dengan segala terobosan investigasi diagnosik medis mutakhir cenderung bukanlah sesuatu yang sederhana. Berbagai istilah lama seperti kromosio dan kontusio kini sudah ditingalkan dan klasifikasi cedera kepala lebih mengarah dalam aplikasi penanganan klinis dalam mencapai keberhasilan penanganan yang maksimal. Cedera pada kepala dapat melibatkan seluruh struktur lapisan, mulai dari lapisan kulit kepala atau tingkat yang paling ringan, tulang tengkorak , durameter, vaskuler otak, sampai jaringan otak sendiri. Baik berupa luka tertutup, maupun trauma tembus. Dengan pemahaman landasan biomekanisme-patofisiologi terperinci dari masing – masing proses di atas, yang dihadapkan dengan prosedur penanganan cepat dan akurat, diharapkan dapat menekan morbilitas dan mortalitasnya. Jenis beban mekanik yang menimpa kepala sangat bervariasi dan rumit. Pada garis besarnya dikelompokkan atas dua tipe yaitu beban statik dan beban dinamik. Beban statik timbul perlahan – lahan yang dalam hal ini tenaga tekanan diterapkan pada kepala secara bertahap, hal ini bisa terjadi bila kepala mengalami gencetan atau efek tekanan yang lambat dan berlangsung dalam periode waktu yang lebih dari 200 mili detik. Dapat mengakibatkan terjadinya keretakan tulang, fraktur multiple, atau kominutiva tengkorak atau dasar tulang tengkorak. Biasanya koma atau defisit neurologik yang khas belum muncul, kecuali bila deformasi tengkorak hebat sekali sehingga menimbulkan kompresi dan distorsi jaringan otak, serta selanjutnya mengalami kerusakan yang fatal. Mekanisme ruda paksa yang lebih umum adalah akibat beban dinamik, dimana peristiwa ini berlangsung dalam waktu yang lebih singkat ( kurang dari 200 mili detik).

Beban ini dibagi menjadi beban guncangan dan beban benturan. Komplikasi kejadian ini dapat berupa hematoma intrakranial, yang dapat menjadikan penderita cedera kepala derajat ringan dalam waktu yang singkat masuk dalam suatu keadan yang gawat dan mengancam jiwanya. Disatu pihak memang hanya sebagian saja kasus cedera kepala yang datang kerumah sakit berlanjut menjadi hematom, tetapi dilain pihak “ frekuensi hematom ini terdapat pada 75 % kasus yang datang sadar dan keluar meninggal “.

B. PENGERTIAN 1. Trauma / cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001) 2. Cedera kepala merupakan adanya pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran (Susan Nartin, 1996) 3. Cedera kepala adalah serangkaian kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma kepala ,yang dapat melibatkan kulit kepala ,tulang dan jaringan otak atau kombinasinya (Standar Pelayanan Medis ,RS Dr.Sardjito) 4. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas .(Mansjoer Arif ,dkk ,2000)

pembengkakan dan penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh pertumbuhan massa di dalam tengkorak. berbagai cedera bisa disebabkan oleh percepatan mendadak yang memungkinkan terjadinya benturan atau karena perlambatan mendadak yang terjadi jika kepala membentur objek yang tidak bergerak. Cedera kepala yang berat dapat merobek. maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan otak. pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. Kerusakan otak bisa terjadi pada titik benturan dan pada sisi yang berlawanan. perdarahan atau pembengkakan hebat. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas. . Perdarahan.tetapi meskipun memiliki helm alami. Otak bisa terluka meskipun tidak terdapat luka yang menembus tengkorak. otak sangat peka terhadap berbagai jenis cedera. ANATOMI FISIOLOGI Tulang tengkorak yang tebal dan keras membantu melindungi otak. meremukkan atau menghancurkan saraf. Bisa terjadi kerusakan pada jalur saraf.C.

Karena posisinya di dalam tengkorak. berbentuk tenda yang merupakan atap dari fossa cranii posterior memisahkan cerebrum dengan . keadaan ini disebut herniasi. keras dan tidak elastis. a. Meninges Meninges adalah selubung jaringan ikat non sarafi yang membungkus otak dan medulla spinalis yang barisi liquor cerebrospinal dan berfungsi sebagai schock absorber. berbentuk segitiga yang merupakan lanjutan kekaudal dari falx cerebri disebut Falx cerebelli. Duramater Merupakan selaput padat. Membentuk lipatan / duplikatur dibeberapa tempat. Sejenis herniasi serupa bisa mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen magnum) ke dalam medula spinalis. maka tekanan cenderung mendorong otak ke bawah. sedangkan duramater otak terdiri atas dua lembar yaitu lamina endostealis yang merupakan jaringan ikat fibrosa cranium. otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang menghubungkan otak dengan batang otak. dan lamina meningealis. arachnoidea dan piamater. Meninges terdiri dari tiga lapisan dari luar kedalam yaitu : duramater. Duramater pembungkus medulla spinalis terdiri atas satu lembar. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang otak mengendalikan fungsi vital (denyut jantung dan pernafasan). yaitu dilinea mediana diantara kedua hehemispherium cerebri disebut falx cerebri .

Sinus rectus terletak diantara falx cerebri dan tentorium cerebelli. kemudian mengalir ke v. Diantara aracnoidea dan piamater terdapat ruang spatium subaracnoidale. Sinus duramater yang tunggal adalah : sinus sagitalis superior. tidak masuk kedalam sulcus / fissura kecuali fissura longitudinalis. b. .Sinus sagitalis inferior menerima darah dari facies medialis otak. Diploicae. dan vv. dan vv. sinus rectus. Dari aracnoidea banyak muncul trabecula halus menuju kepiamater membentuk bangunan seperti sarang laba – laba. Sinus duramatis menerima aliran dari vv. celah sempit diluar duramater disebut spatium epidurale. sinus sagitalis inferior. Cerebri.vv. Aracnoidea Membran halus disebelah dalam duramater. Emissari. yang dibeberapa tempat melebar membentuk cisterna. Diantara dua lembar duramater. cerebri magna. Ada dua macam sinus duramatis yang tunggal dan yang berpasangan. Sinus petrosus superior dan inferior menerima darah dari sinus cavernosus dan mengalirkan masing – masing ke sinus traaanversus dan v. dan sinus occipitalis. Sinus duramater yang berpasangan yaitu sinus tranversus. dan lembaran yang menutupi sella tursica merupakan pembungkus hipophysis disebut diafragma sellae. Sinus tranversus menerima darah dari sinus sagitalis superior dan sinus rectus.cerebellum disebut tentorium cerebelli. sinus cavernosus. jugularis interna. dibeberapa tempat membentuk ruangan disebut sinus ( venosus ) duramatris. Sedangkan celah sempit diantara duramater dan aracnoidea disebut spatium subdurale. Cerebri. merupakan lanjutan dari v. sinus sigmoideus dan sinus petrosus superior dan inferior. Dari aracnoidea juga muncul jonjot – jonjot yang mengadakan invaginasi ke duramater disebut granulasio aracnoidales terutama didaerah sinus sagitalis yang berfungsi klep satu arah memungkinkan lalunya bahan – bahan dari LCS ke sinus venosus. jugularis interna. dengan sinus sagitalis superior membentuk confluens sinuum. Sinus sagitalis superior menerima darah dari vv. Emissari. Sinus occipitalis mulai dari foramen magnum. Diploicae. bergabung dengan confluens sinuum. Sinus sigmoideus merupakan lanjutan sinus tranversus berbentuk huruf S. vv.

.c. kemacetan dan situasi angkutan umum yang kurang menjamin keamanan juga menjadi alasan banyak orang cenderung memilih sepeda motor sebagai kendaraan alternatif irit BBM. Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian akibat trauma. "Gegar otak tampaknya meningkatkan penyakit Alzheimer atau demensia di kemudian hari. Di Amerika cedera kepala merupakan penyebab kematian terbanyak usia 15 – 44 tahun dan merupakan penyebab kematian ketiga untuk keseluruhan. mengandung vasa kecil. Ini baru satu rumah sakit. Soetomo ini mengatakan. Di negara berkembang seperti Indonesia. D. seperti dikutip Straits Times. Penelitian yang dilaporkan di Konfrensi Asosiasi Alzheimer Internasional di Perancis. Menjamurnya kemudahan layanan kredit sepeda motor. 2. tantangan tampilan saat ini yang hanya cedera otak sedang atau berat mempengaruhi orang untuk menderita demensia. mengingat bahwa kepala merupakan bagian yang tersering dan rentan terlibat dalam suatu kecelakaan. Ahli bedah syarat RSUD dr."cetus Dr Kristine Yaffe. tingginya angka kecelakaan saat ini dipengaruhi banyak hal. Di Surabaya. Piamater Piamater melekat erat pada otak dan medulla spinalis. Soetomo Surabaya menunjukkan sepanjang tahun 2010 tercatat kasus cedera otak mencapai 1503 kasus. Senin (18/7/2011). seiring dengan kemajuan teknologi dan pembangunan frekuensinya cenderung makin meningkat. selain kurangnya kedisiplinan pengendara dalam berlalu lintas. mengikuti setiap lekukan. EPIDEMIOLOGI 1. kasus cedera otak akibat kecelakaan masih terbilang tinggi. belum lagi ditambah dengan data dari wilayah lain di Surabaya dan rumah sakit luar kota. profesor dan direktur Klinik Gangguan Memori di San Francisco VA Medical Center.pimpinan penelitian yang berasal dari University of California. Ditempat tertentu bersama dengan ependyma membentuk tela choroidea. Data RSUD Dr. juga turut memicu bertambahnya jumlah pengendara sepeda motor. Piamater berperan sebagai barrier terhadap masuknya senyawa yang membahayakan.

Mekanisme Cedera kepala Berdasarkan mekanisme. ETIOLOGI 1. dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. Kecelakaan kerja 6. Kejatuhan benda keras 8. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobilmotor. KLASIFIKASI Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya gejala yang muncul setelah cedera kepala. Ada beberapa klasifikasi yang dipakai dalam menentukan derajat cedera kepaka. Kecelakaan lalu lintas 5. Kerusakan terjadi ketika energi/kekuatan diteruskan ke substansi otak energi diserap lapisan pelindung yaitu rambut kulit kepala dan tengkorak 4. Tidak ada fraktur tengkorak. Trauma pada olah raga 7. Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek . Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan.secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan 1.E. Trauma oleh benda tajam Menyebabkan cedera setempat dan menimbulkan cedera lokal 2. tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma . Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul. Luka tembak F. Cedera Kepala Ringan (CKR). cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Beratnya Cedera Glascow coma scale ( GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala a. 2. GCS 13– 15. jatuh atau pukulan benda tumpul. Trauma oleh benda tumpul menyebabkan kerusakan substansi otak 3.

kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.b. Dapat mengalami fraktur tengkorak.Mampu bergerak -Melokalisasi nyeri -Fleksi menarik -Fleksi abnormal -Ekstensi -Tidak ada respon Total 6 5 4 3 2 1 3-15 5 4 3 2 1 4 3 2 1 NILAI . laserasi atau hematoma intracranial. Skala Koma Glasgow No 1 RESPON Membuka Mata : -Spontan -Terhadap rangsangan suara -Terhadap nyeri -Tidak ada 2 Verbal : -Orientasi baik -Orientasi terganggu -Kata-kata tidak jelas -Suara tidak jelas -Tidak ada respon 3 Motorik : . Dapat mengalami kontusio cerebral. c. Cedera Kepala Berat (CKB) GCS lebih kecil atau sama dengan 8. Cedera Kepala Sedang ( CKS) GCS 9 –12. kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.

Lesi Intrakranial Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus. b. Morfologi Cedera Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas : a. Berdasarkan pada dalamnya koma dan lamanya koma. Tanda-tanda tersebut antara lain :     Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign) Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign ) Kebocoran CSS ( rhonorrea. 1) Perdarahan Epidural Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria.    Perdarahan Epidural Perdarahan Subdural Kontusio (perdarahan intra cerebral) Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT Scan yang normal. maka cedera otak difus dikelompokkan menurut kontusio ringan. Fraktur kranium Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak.3. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. Manifestasi klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan . Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. ottorhea) dan Parese nervus facialis ( N VII ) Sebagai patokan umum bila terdapat fraktur tulang yang menekan ke dalam. dan Cedera Aksona Difus ( CAD). biasanya memeerlukan tindakan pembedahan. lebih tebal dari tulang kalvaria. namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan koma. Umumnya terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media ( Sudiharto 1998). Termasuk lesi lesi local . dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. kontusio klasik. walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan.

Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara. bentuk yang paling ringan dari kontusio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia retrograd. Cirri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung 2) Perdarahan subdural Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural( kira-kira 30 % dari cedera kepala berat). namun karena ringan sering kali tidak diperhatikan. papil edema dan gejala herniasi transcentorial. 3) Kontusio dan perdarahan intracerebral Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal.dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran. nyeri kepala. Kemudian gejala neurology timbul secara progresif berupa pupil anisokor. dan ini merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada cedera kepala. termasuk batang otak dan cerebellum. walau terjadi juga pada setiap bagian otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural. Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. Cedera ini sering terjadi. namun terjadi disfungsi neurologist yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral. Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral. Apabila lesi meluas dan terjadi penyimpangan neurologist lebih lanjut 4) Cedera Difus Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat akselerasi dan deselerasi. muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Komosio Cerebro ringan akibat cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu. hemiparese. namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. amnesia integrad ( keadaan .

G. Bisa terjadi kerusakan pada jalur saraf. Dalam definisi klasik penderita ini akan sadar kembali dalam waktu kurang dari 6 jam. Cedera Aksonal difus ( Diffuse Axonal Injuri. pusing . Hilangnya kesadaran biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan reversible. Kerusakan otak bisa terjadi pada titik benturan dan pada sisi yang berlawanan. Banyak penderita dengan komosio cerebri klasik pulih kembali tanpa cacat neurologist. meremukkan atau menghancurkan saraf. penderita sering menunjukkan gejala dekortikasi atau deserebasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat. pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. Cedera kepala yang berat dapat merobek.DAI) adalah dimana penderita mengalami coma pasca cedera yang berlangsung lama dan tidak diakibatkan oleh suatu lesi masa atau serangan iskemi. berbagai cedera bisa disebabkan oleh percepatan mendadak yang memungkinkan terjadinya benturan atau karena perlambatan mendadak yang terjadi jika kepala membentur objek yang tidak bergerak. amnesia dan depresi serta gejala lainnya. Gejala-gejala ini dikenal sebagai sindroma pasca komosio yang dapat cukup berat. Perdarahan. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya cedera. perdarahan atau pembengkakan hebat. hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera batang otak primer. Biasanya penderita dalam keadaan koma yang dalam dan tetap koma selama beberapa waktu. PATOFISIOLOGI Otak bisa terluka meskipun tidak terdapat luka yang menembus tengkorak. Defisit neurologist itu misalnya : kesulitan mengingat.mual. namun pada beberapa penderita dapat timbul deficit neurogis untuk beberapa waktu. itupun bila bertahan hidup. Penderita sering menunjukkan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi. pembengkakan dan .amnesia pada peristiwa sebelum dan sesudah cedera) Komusio cedera klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunya atau hilangnya kesadaran.

Karena posisinya di dalam tengkorak. takikardia. maka tekanan cenderung mendorong otak ke bawah. . Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia. Sejenis herniasi serupa bisa mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen magnum) ke dalam medula spinalis. hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. fibrilasi atrium dan vebtrikel. perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit / 100 gr. karena akan menimbulkan koma. keadaan ini disebut herniasi. Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypicalmyocardial. tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejalagejala permulaan disfungsi cerebral. jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas. Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Pada saat otak mengalami hipoksia. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler.penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh pertumbuhan massa di dalam tengkorak. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %. maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan otak. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang otak mengendalikan fungsi vital (denyut jantung dan pernafasan). Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. Pada kontusio berat. yang merupakan 15 % dari cardiac output. dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . jaringan otak. Otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang menghubungkan otak dengan batang otak.

Peningkatan TIK yang mempunyai trias Klasik seperti :  Nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah. muntah. MANIFESTASI KLINIK Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya cedera kepala. 1. muntah seringkali proyektil  Penurunan tingkat kesadaran. . Perubahan kesadaran adalah merupakan indicator yang paling sensitive yang dapat dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow Coma Scale) 2. papil edema yang disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus.H. nyeri kepala. hemiparesa.

Keduanya mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba – tiba tanpa kontak langsung. peningkatan suhu. Kup dan kontra kup Cedera “cup” mengakibatkan kebanyakan kerusakan yang relatif dekat daerah yang terbentur. Kekuatan ini menyebabkan isi dalam tengkorak yang keras bergerak dan otak akan membentur permukaan dalam tengkorak pada otak yang berlawanan. 4. Deselerasi adalah kepala membentur benda yang diam. Kekuatan benturan Makin besar kekuatan makin parah kerusakan.         Dilatasi pupil ipsilateral. bagian posterior lobus aksipitalis dan bagian atas mesensefalon. irreguler. pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal. Lokasi benturan Bagian otak yang paling besar kemungkinannya menderita cedera kepala terbesar adalah bagian anterior dari lobus frantalis dan temporalis. maka akan terjadi kerusakan sepanjang jalan yang dilewati karena jaringan lunak menjadi sasaran kekuatan itu. mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal. Akselerasi dan deselerasi Akselerasi adalah benda bergerak mengenai kepala yang diam. 2. . Kebingungan Pucat Mual dan muntah Pusing kepala Terdapat hematoma Kecemasan Bila fraktur. bila kekautan itu diteruskan pada substansi otak. 3. Akibat dari trauma otak ini akan bergantung : 1. Penurunan nadi. sedangkan kerusakan cedera “kontra cup” berlawanan pada sisi desakan benturan.

Bradikardia (Denyut nadi kurang 60 X / menit). . Nyeri kepala menetap atau muntah – muntah yang tidak menghilang setelah pemberian obat – obatan analgesia/anti muntah. menentukan ukuran ventrikuler. pergeseran jaringan otak. Fractur impresi Fractur impresi sebabkan oleh suatu keluaran yang mendorong fragmen tentang turun menekan otak yang lebih dalam ketebalan tulang otak itu sendiri. febris. Luka tembus akibat benda tajam dan peluru. telinga. h. dll). b. 6. menyebabkan masuknya bakteri yang mengkontaminasi cairan spinal I. akibat fraktur ini dapat menimbulkan kontak cairan serebraspimal (CSS) dalam ruang sobarachnoid dalam sinus kemungkinan cairan serebraspinoa (CSS) akan mengalir ke hidung. PEMERIKSAAN DIAKNOSTIK 1. Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral. Perawatan selama 3 hari tidak ada perubahan yang membaik dari GCS. f. CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik. Rotasi Pengubahan posisi rotasi pada kepala menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak. Adanya kejang – kejang. Adanya lateralisasi. c. Penurunan GCS lebih 1 point dimana faktor – faktor ekstracranial telah disingkirkan (karena penurunan GCS dapat terjadi karena misal terjadi shock. d. Adanya fraktur impresi dengan lateralisasi yang tidak sesuai. Indikasi CT Scan adalah : a.5. misal fraktur depresi temporal kanan tapi terdapat hemiparese/plegi kanan. seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. g. trauma. e. jenis kejang fokal lebih bermakna terdapat lesi intrakranial dibandingkan dengan kejang general. 2. perdarahan.

Adanya corpus alineum. Patah tulang tengkorak Patah tulang tengkorak merupakan suatu retakan pada tulang tengkorak. Nyeri kepala yang menetap. Gangguan kesadaran (Bajamal A. Jadi indikasi meliputi jejas lebih dari 5 cm. Cairan serebrospinal (cairan yang beredar diantara otak dan meningens) bisa merembes ke hidung atau telinga. Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial 6. 5. Gejala fokal neurologis. fragmen tulang. kecuali jika pecahan tulang menekan otak atau posisinya bergeser. Patah tulang di dasar tengkorak bisa merobek meningens (selaput otak). Bakteri kadang memasuki tulang tengkorak melalui patah tulang tersebut. Sebagian besar patah tulang tengkorak tidak memerlukan pembedahan. . 4. Sebagai indikasi foto polos kepala meliputi jangan mendiagnose foto kepala normal jika foto tersebut tidak memenuhi syarat.H . Foto cervical bila ada tanda-tanda fraktur cervical J. perubahan struktur garis (perdarahan / edema). X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur). KOMPLIKASI 1.3. Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial. yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga di sekeliling jaringan otak. dan menyebabkan infeksi serta kerusakan hebat pada otak.1999). Luka tembus (tembak/tajam). Patah tulang tengkorak bisa melukai arteri dan vena. Pada kecurigaan adanya fraktur depresi maka dillakukan foto polos posisi AP/lateral dan oblique. Deformitas kepala (dari inspeksi dan palpasi). Tidak semua penderita dengan cidera kepala diindikasikan untuk pemeriksaan kepala karena masalah biaya dan kegunaan yang sekarang makin dittinggalkan.

. setelah terjadinya cedera pada otak yang tidak menyebabkan kerusakan fisik yang nyata. Hal ini bahkan bisa terjadi setelah cedera kepala yang ringan.2. tergantung kepada goncangan yang menimpa otak di dalam tulang tengkorak. Konkusio menyebabkan kelainan fungsi otak tetapi tidak menyebabkan kerusakan struktural yang nyata. Konkusio Konkusio adalah hilangnya kesadaran (dan kadang ingatan) sekejap.

Perdarahan intrakranial Perdarahan intrakranial (hematoma intrakranial) adalah penimbunan darah di dalam otak atau diantara otak dengan tulang tengkorak. Robekan otak adalah robekan pada jaringan otak. sebagian besar penderita mengalami penyembuhan total dalam beberapa jam atau hari. Beberapa penderita merasakan pusing. menjadi pelupa. pembengkakan yang sangat hebat bisa menyebabkan herniasi otak. Gegar otak & robekan otak Gegar otak (kontusio serebri) merupakan memar pada otak. maka bisa terjadi kerusakan lebih lanjut pada jaringan otak. yang biasanya disebabkan oleh pukulan langsung dan kuat ke kepala. kesulitan dalam berkonsentrasi. Hematoma epidural berasal dari perdarahan di arteri yang terletak diantara meningens . Hematoma yang luas akan menekan otak. Hematoma yang luas juga akan menyebabkan otak bagian atas atau batang otak mengalami herniasi. belajar dan bersosialisasi. kelumpuhan pada salah satu atau kedua sisi tubuh. 4. keadaan ini disebut sindroma pasca konkusio. Pada perdarahan intrakranial bisa terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Hematoma intrakranial bisa terjadi karena cedera atau stroke. Jika otak membengkak.Konkusio bisa menyebabkan kebingungan. Gejala-gejala ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. jarang lebih dari beberapa minggu. penderita bisa mengalami kesulitan dalam bekerja. emosi atau perasaannya berkurang dan kecemasan. MRI menunjukkan kerusakan fisik pada otak yang bisa ringan atau bisa menyebabkan kelemahan pada satu sisi tubuh yang diserati dengan kebingungan atau bahkan koma. menyebabkan pembengkakan dan pada akhirnya menghancurkan jaringan otak. atau bahkan kematian. Gegar otak dan robekan otak lebih serius daripada konkusio. gangguan pernafasan atau gangguan jantung. Bisa juga terjadi kebingungan dan hilang ingatan. terutama pada usia lanjut. yang seringkali disertai oleh luka di kepala yang nyata dan patah tulang tengkorak. depresi. sakit kepala dan rasa mengantuk yang abnormal. 3.

Kerusakan pada bagian otak tertentu Kerusakan pada lapisan otak paling atas (korteks serebri biasanya akan mempengaruhi kemampuan berfikir. rasa ngantuk. sakit kepala kadang menghilang. Hal ini terjadi karena patah tulang tengkorak telah merobek arteri. . Gejala berupa sakit kepala hebat bisa segera timbul tetapi bisa juga baru muncul beberapa jam kemudian. kelumpuhan. Daerah tertentu pada korteks serebri biasanya bertanggungjawab atas perilaku tertentu. pingsan dan koma. 5. emosi dan perilaku seseorang.dan tulang tengkorak. Selanjutnya bisa terjadi peningkatan kebingungan. tetapi beberapa jam kemudian muncul lagi dan lebih parah dari sebelumnya. lokasi yang pasti dan beratnya cedera menentukan jenis kelainan yang terjadi. darah di dalam arteri memiliki tekanan lebih tinggi sehingga lebih cepat memancar.

Lobus frontalis juga mengatur ekspresi wajah dan isyarat tangan. tekstur dan berat badan ke dalam persepsi umum. kasar dan kejam.6. Kerusakan kecil di bagian depan lobus parietalis menyebabkan mati rasa pada sisi tubuh yang berlawanan. memainkan alat musik atau mengikat tali sepatu). Kerusakan lobus frontalis Lobus frontalis pada korteks serebri terutama mengendalikan keahlian motorik (misalnya menulis. ceroboh. lalai dan kadang inkontinensia. Penderita bisa menjadi linglung atau mengigau dan tidak mampu berpakaian maupun melakukan pekerjaan sehari-hari lainnya. suka menentang. Kerusakan luas yang mengarah ke bagian depan atau samping lobus frontalis menyebabkan perhatian penderita mudah teralihkan. Kerusakan yang luas bisa mempengaruhi kemampuan penderita dalam mengenali bagian tubuhnya atau ruang di sekitarnya atau bahkan bisa mempengaruhi ingatan akan bentuk yang sebelumnya dikenal dengan baik (misalnya bentuk kubus atau jam dinding). . Kerusakan luas yang mengarah ke bagian belakang lobus frontalis bisa menyebabkan apati. tergantung kepada ukuran dan lokasi kerusakan fisik yang terjadi. Kerusakan yang kecil. jika hanya mengelai satu sisi otak. Efek perilaku dari kerusakan lobus frontalis bervariasi. Sejumlah kecil kemampuan matematikan dan bahasa berasal dari daerah ini. 7. biasanya tidak menyebabkan perubahan perilaku yang nyata. penderita mengabaikan akibat yang terjadi akibat perilakunya. kegembiraan yang berlebihan. Kerusakan yang agak luas bisa menyebabkan hilangnya kemampuan untuk melakukan serangkaian pekerjaan (keadaan ini disebut apraksia) dan untuk menentukan arah kiri-kanan. Daerah tertentu pada lobus frontalis bertanggungjawab terhadap aktivitas motor tertentu pada sisi tubuh yang berlawanan. Kerusakan lobus parietalis Lobus parietalis pada korteks serebri menggabungkan kesan dari bentuk. Lobus parietalis juga membantu mengarahkan posisi pada ruang di sekitarnya dan merasakan posisi dari bagian tubuhnya. meskipun kadang menyebabkan kejang.

menyimpan memori dan mengingatnya kembali serta menghasilkan jalur emosional. elektrolit dan keseimbangan nutrisi. Peninggatan tempat tidur pada bagian kepala f. akan mengalami perubahan kepribadian seperti tidak suka bercanda. Penggunaan steroid e. Bedah neuro 2. Pencegahan kejang c. Penderita dengan lobus temporalis sebelah kanan yang non-dominan. Pemantauan TIK dengan ketat. Kerusakan lobus temporalis Lobus temporalis mengolah kejadian yang baru saja terjadi menjadi dan mengingatnya sebagai memori jangka panjang. PENATALAKSANAAN Secara umum : 1. b. Pemeliharaan cairan. tingkat kefanatikan agama yang tidak biasa. Tindakan terhadap peningkatan TIK a. NGT . Lobus temporalis juga memahami suara dan gambaran. d. Oksigenasi adekuat c.8. Kerusakan pada lobus temporalis sebelah kiri menyebabkan gangguan pemahaman bahasa yang berasal dari luar maupun dari dalam dan menghambat penderita dalam mengekspresikan bahasanya. Terapi antikonvulsan e. Dukung ventilasi b. Kerusakan pada lobus temporalis sebelah kanan menyebabkan terganggunya ingatan akan suara dan bentuk. obsesif dan kehilangan gairah seksual. Pemberian manitol d. Tindakan pendukung lain a. K. CPZ untuk menenangkan pasien f.

Cegah gerakan hiperekstensi. seperti : Citicholine. Hiperfleksi ataupun rotasi. Indikasi sosial yang dipertimbangkan pada pasien yang dirawat dirumah sakit tidak ada yang mengawasi di rumah jika di pulangkan. b. Pengawasan dirumah harus dilakukan terus menerus selama kerang lebih 2 x 24 jam dengan cara membangunkan tiap 2 jam (Bajamal AH . adanya benda asing. Disability (ATLS . Penanganan pertama kasus cidera kepala di UGD Pertolongan pertama dari penderita dengan cidera kepala mengikuti standart yang telah ditetapkan dalam ATLS (Advanced Trauma Life Support) yang meliputi. Penderita mengalami kejang – kejang. . bersihkan muntahkan darah. sakit kepala yang menetap.1999). Gelisah.Tempat tinggal jauh dengan rumah sakit oleh karena jika terjadi masalah akan menyulitkan penderita. Pada pemeriksaan airway usahakan jalan nafas stabil. terjadi penurunan kesadaran. Pada saat penderita di pulangkan harus di beri advice (lembaran penjelasan) apabila terdapat gejala seperti ini harus segera ke rumah sakit misalnya : mual – muntah. Circulasi. dengan cara kepala miring. buka mulut.  Jika memungkinkan dapat diberikan obat neorotropik. Mobilisasi dilakukan sedini mungkin.1997). jika tidak muntah dicoba minum sedikit – sedikit (pada penderita yang tetap sadar). dengan dosis 3 X 250 mg/hari sampai minimal 5 hari. Breathing. anamnesa sampai pemeriksaan fisik secara seksama dan stimultan pemeriksaan fisik meliputi Airway.a.   Diberikan analgesia/antimuntah secara intravena. Perhatikan tulang leher. dimulai dengan memberikan bantal selama 6 jam kemudian setengah duduk pada 12 jam kemudian duduk penuh dan dilatih berdiri (dapat dilakukan pada penderita dengan GCS 15). Immobilisasi. Perawatan dirumah sakit Perawatan di rumah sakit bila GCS 13 – 15 meliputi :  Infus dengan cairan normoosmotik (kecuali Dextrose oleh karena dextrose cepat dimetabolisme menjadi H2O + CO2 sehingga dapat menimbulkan edema serebri) Di RS Dr Soetomo surabaya digunakan D5% ½ salin kira – kira 1500 – 2000 cc/24 jam untuk orang dewasa.

Pada penderita dengan GCS < 9 atau diperkirakan akan memerlukan perawatan yang lebih lama maka hendaknya dipasang maagslang ukuran kecil (12 Fr) untuk memberikan makanan yang dimulai pada hari I dihubungkan dengan 500 cc Dextrose 5%. Gunanya pemberian sedini mungkin adalah untuk menghindari atrophi villi usus. Febris. Mencegah normal flora usus masuk kedalam system portal. Perawatan di rumah sakit bila GCS < 13      Posisi terlentang kepala miring kekiri dengan diberi bantal tipis (head up 15° – 30°) hal ini untuk memperbaiki venous return sehingga tekanan intra kranial turun. Tempat tidur yang kotor. jika tidak ada perbaikan dapat diberikan vasopressor. pemberian makanan melalui pipa lambung ini akan ditingkatkan secara perlahan – lahan sampai didapatkan volume 2000 cc/24 jam dengan kalori 2000 Kkal.  Pada penderita yang gelisah harus dicari dulu penyebabnya tidak boleh langsung diberikan obat penenang seperti diazepam karena dapat menyebabkan masking efek terhadap kesadarannya dan terjadinya depresi pernapasan. Beri masker oksigen 6 – 8 liter/menit. Penderita mulai sadar. Atasi hipotensi.  Sedini mungkin penderita dilakukan mobilisasi untuk menghindari terjadinya statik pneumonia atau dekubitus dengan cara melakukan miring kekiri dan kanan setiap 2 jam. menambah energi yang tetap dibutuhkan sehingga tidak terjadi metabolisme yang negatip. Minimal penderita MRS selama 2 X 24 jam karena komplikasi dini dari cidera kepala paling sering terjadi 6 jam setelah cidera dan berangsur – angsur berkurang sampai 48 jam pertama. . Penurunan kesadaran. Pasang infus D5% ½ saline 1500 – 2000 cc/24 jam atau 25 – 30 CC/KgBB/24jam. c. Keuntungan lain dari pemberian makanan peroral lebih cepat pada penderita tidak sadar antara lain mengurangi translokasi kuman di dinding usus halus dan usus besar. usahakan tekanan sistolok diatas 100 mmHg. Shock. Kandung seni yang penuh. menetralisasikan asam lambung yang biasanya pH nya sangat tinggi (stress ulcer). Pada penderita gelisah dapat terjadi karena nyeri oleh karena fraktur.

Bila pernafasan buatan segera dilakukan. Kecermatan harus diperhatikan dalam menjamin letak yang benar dari tube endotrakhea. . 30% dalam hipoksemik (PO2 <65 mmHg). 13% dengan hipotensif (TD sistolik < 95mmHg. dapat dicapai outcome yang baik. TIK tinggi berhubungan dengan outcome yang lebih buruk. bukan esofageal. dan karenanya satu-satunya aspek yang paling penting dalam pengelolaan segera pasien tersebut adalah mempertahankan jalan nafas yang baik. Setiap pasien dengan cedera kepala berat harus diintubasi segera. Stabilisasi cardiopulmoner Cedera otak sering diperburuk oleh kerusakan sekunder. Penanganan pasien Di Unit Perawatan Intensif (UPI/ICU) Kelompok ini terdiri dari penderita yang tidak mampu mengikuti perintah sederhana bahkan setelah stabilisasi kardiopulmonal. Diperlihatkan bahwa hipotensi saat masuk (TD sistolik <90 mmHg) adalah satu dari tiga faktor pada pasien dengan cedera kepala berat dengan CT scan normal (dua lainnya adalah usia > 40 tahun dan posturing motor) yang. Karenanya wajib untuk menstabilkan kardiopulmoner segera. (3) pemeriksaan neurologis. bila ditemukan saat masuk.dan 12% dengan anemik (hematokrit < 30%). (2) pemeriksaan umum. a.d. Walau definisi tersebut memasukan cedera otak dalam spektrum yang luas. Miller melaporkan pasien dengan cedera otak berat yang dinilai saat masuk UGD. ia mengidentifikasikan kelompok dari penderita yang berada pada risiko maksimal atas morbiditas dan mortalitas. Pendekatan 'tunggu dan lihat' sangat mencelakakan dan diagnosis serta tindakan tepat adalah paling penting. Jalan Nafas Yang sering bersamaan dengan konkusi adalah terhentinya nafas untuk sementara. berhubungan dengan akan terjadinya peningkatan TIK. Apnea. (4) prosedur diagnostik 1. Apnea yang lama sering menjadi penyebab kematian yang segera pada suatu kecelakaan. atelektasis. aspirasi dan sindroma distres respirasi akuta (ARDS) sering bersamaan dengan cedera kepala berat. Pengelolaan pasien dibagi 4 tingkatan: (1) stabilisasi kardiopulmoner.

Hipotensi biasanya tidak karena cedera kepala semata. Darah kelompok O Rh negatif mungkin bisa digunakan selama belum tersedianya darah yang telah dibanding silang. Sekali tube endotrakheal pada tempatnya. Harus ditekankan bahwa pemeriksaan neurologis tidak berarti sepanjang pasien dalam hipotensif. sekresi.Jarang. Pada pasien cedera dengan hipotensif. Selama upaya mencari penyebab hipotensi. nadi dan tekanan darah pasien diperiksa dan siapkan jalur vena. atau keduanya. Dalam usaha mempertahankan jalan nafas. hipotensi adalah pertanda kehilangan darah banyak. Tekanan Darah Pada pasien cedera kepala sering di temukan Hipotensi dan hipoksia. penggantian volume harus dimulai dengan menggunakan salin normal atau plasmanat. kadar alkohol serum. kecuali pada fase terminal dimana sudah terjadi kegagalan medullari.Bila jalan nafas sudah diperbaiki. pertama harus dipikirkan cedera cord spinal yang terjadi (dengan kuadriplegia atau paraplegia) serta kontusi atau tamponade kardiak dan pneumotoraks tension sebagai penyebabnya. Umumnya digunakan kateter vena infraklavikular perkutaneus subklavian atau jugular. Transfusi darah harus dilakukan sesegera mungkin bila tekanan darah tidak bereaksi memadai terhadap penggantian cairan atau bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gm% (HCT 30%). Pada titik ini. sering kembali kepemeriksaan neurologis yang mendekati normal segera setelah tekanan darah diperbaiki. walau kadang-kadang pembukaan vena safena atau brakhial diperlukan untuk mendapat jalur vena yang memadai. Bila pasien hipotensif. darah dan muntah. Minimum dua jalur vena (gunakan Jelcos 14 atau 16) harus terpasang baik. b. Pasien yang tidak responsif terhadap stimulasi saat hipotensif. sangat penting untuk memperbaikinya sesegera mungkin. bila perlu dilakukan trakheostomi emergensi. darah bisa diambil untuk pemeriksaan rutin. terutama pada pasien dengan cedera maksilofasial berat dimana intubasi dihindari karena pembengkakan berat jaringan lunak serta adanya distorsi anatomi. saluran mulut dan nasal harus bersih dari semua benda asing. dan pengisapan seksama saluran trakheal harus dilakukan. skrining koagulasi. balon harus digembungkan untuk mencegah atau mengurangi aspirasi. Jauh lebih umum. .yang mana bisa tampak atau tersembunyi. Pentingnya parasentesis abdominal rutin pada pasien koma dengan hipotensif sudah terbukti. contoh untuk bank darah serta gas darah arterial.

otorrhea. Tulang belakang leher paling sering dikenai. maka di lanjutkan pada tahap berikutnya yaitu 2. kontusi renal atau jarang-jarang aneurisma aortik dissekting. dilakukan pemeriksaan umum secara cepat untuk mencari cedera lain. Adanya bising usus biasanya pertanda tenang. pneumotoraks atau hemotoraks. Lebih dari 50% pasien cedera kepala berat disertai cedera sistemik major lainnya.  Cedera abdominal: terutama laserasi hati. terutama pada anak dan orang tua. Kateter Kateter Foley ( 16-18 French untuk dewasa) diinsersikan dengan hati-hati dan urine dikirimkan untuk pemeriksaan urinalisis dan skrining toksik (bila tersedia). Perhatian khusus diberikan pada : Cedera kepala dan leher: laserasi. . Hematuria ringan mungkin sekunder atas kateterisasi traumatika. Pemeriksaan Umum Selama proses penstabilan kardiopulmoner. Setelah stabilitas pulmonal tercapai pada pasien yang mengalami cedera kepala berat. dan kombinasi tersebut harus selalu dicari walau kejadiannya hanya 2 hingga 5% dari pasien cederaCedera ekstremitas: Mungkin terjadi kerusakan tulang atau jaringan lunak (otot. Hematuria gross mengarah pada cedera renal dan iniindikasi untuk IVP emergensi. pembuluh darah). Perdarahan biasanya berakibat tenderness. rhinorrhea. (dengan bunyi jantung lemah.  Cedera tulang belakang: Trauma kepala dan tulang belakang mungkin bersamaan. limpa atau ginjal. Pemeriksaan rektal mungkin berguna. distensi vena jugular. kepala berat. setiap catatan membantu penaksiran kehilangan darah serta pengamatan perfusi renal.  Cedera pelvik: Cedera pada pasien yang tidak koma bisa ditetapkan secara klinis. Tindakan definitif pada kebanyakan pasien cedera ekstremitas dapat ditunda hingga setelah tindakan terhadap masalah yang mengancam nyawa. aspirasi. tempat perdarahan.c. saraf. atau ARDS. tamponade kardiak. guarding atau distensi abdominal. mata racoon (ekkhimosis periorbital). Konfirmasi radiologis biasanya diperlukan. dan hipotensi). Cedera pelvik sering bersamaan dengan kehilangan darah tersembunyi dalam jumlah besar. Perhatian khusus harus diberikan atas catatan masukan dan keluaran cairan. memerlukan penanganan oleh spesialis lain. Namun tanda-tanda ini mungkin tidak muncul dini dan mungkin tersembunyi pada pasien koma. Sebagai tambahan untuk menjamin keseimbangan cairan. Fraktura pada pasien gelisah harus dibidai segera untuk mencegah kerusakan saraf dan pembuluh bersangkutan.  Cedera toraks: fraktura iga.

dan gerakan mata. segera ditentukan adanya lesi massa intrakranial. data yang berharga dapat diperoleh. Sebagai dikemukakan didepan.pons pupil. dan respons pupil serta gerakan mata digunakan untuk menilai fungsi batang otak. Walau berbagai faktor dapat menghalangi penilaian akurat dari status neurologis pasien pada saat tersebut (hipotensi. lebih baik melaporkan baik respons terbaik maupun terburuk. res. Antara alert penuh dan koma dalam. hipoksia. SKG memberikan grading sederhana dari arousal dan kapasitas fungsional korteks serebral. . untuk keperluan ini SKG digunakan secara luas. Pemeriksaan Neurologis Segera setelah status kardiopulmoner distabilkan. Bila pasien menunjukkan respons yang bervariasi terhadap stimulasi. CT scanning mengungguli semua tes yang lebih kuno. atau intoksikasi). atau tes angiografi untuk melengkapi data tertentu. Sebagai stimulus nyeri standar adalah penekanan dalam terhadap bed kuku. tanda-tanda vital. Dengan kata lain. respons motor serta respons verbal). hipotensi. Pemeriksaan tidak hanya terbatas pada parameter ketidaksadaran yang digunakan dalam SKG (kemampuan membuka mata. Namun tes lain digunakan juga baik sebagai pengganti CT scanning. Manuver ini mencegah pasien menggeliat atau bergerak. namun hal yang sama pentingnya dalam menaksir pasien dengan gangguan kesadaran adalah usia. atau responsnya berbeda pada setiap sisi. terjadi perubahan kesadaran yang sinambung hingga sulit untuk melakukan penilaian secara objektif. 4. Pasien diintubasi dan diparalisakan memakai pankuronium (Pavulon) atau obat sejenis dan dipasang ventilasi mekanik. Prosedur Diagnostik Segera setelah keadaan kardiorespiratori distabilkan dan pemeriksaan neurologis pendahuluan dilengkapkan. Semua faktor tersebut berpengaruh dalam penentuan prognosis pada cedera kepala berat. yang berarti mencegah terjadinya peninggian TIK dan secara nyata menambah kualitas pemeriksaan diagnostik. respons motor sisi kiri dan kanan dicatat terpisah. Untuk mengikuti kecenderungan arah perjalanan penyakit. pemeriksaan neurologis cepat dan terarah dilaksanakan. dan hipoksia semuanya mempengaruhi buruknya outcome. Usia lanjut.3. tampilan respons yang terbaik lebih merupakan indikator prognostik yang lebih akurat dibanding respons yang terburuk.

lebih sedikit pasien yang mendapat amantadine tetap dalam keadaan vegetatif (17 persen) dibandingkan mereka yang diberi obat dummy sebanyak 32 persen. Setelah pengobatan selama empat minggu. Amantadine mulai banyak digunakan untuk mengobati cedera otak beberapa tahun belakangan. Namun belum pernah ada penelitian yang menunjukkan khasiat obat ini secara spesifik. mengikuti perintah atau menggunakan sendok dan sikat rambut.L. . pasien yang diberi amantadine telah mampu memberi jawaban ya-tidak. Amantadine Pasien dengan cedera otak parah yang diberi amantadine menjadi lebih cepat sembuh daripada mereka yang diberi obat dummy. Studi terhadap 184 pasien cedera otak di AS. PENGOBATAN 1. Jerman dan Denmark juga menemukan.

kemampuan tanyakan pola makan?   d. konstipasi. inkontinensia. Retensi urine. Waspadai fungsi ADH. ROM. ataksik) Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK Sistem saraf :   akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial. posisi saat kejadian. pola nafas (kusmaull. hiperalgesia. keluarga. aldosteron : retensi natrium dan cairan. Sistem pencernaan  Bagaimana sensori adanya makanan di mulut. f. anestesi. biot. status kesadaran saat kejadian. .  Fungsi sensoridiskriminasi suhu. hipestesia. e. penyebab trauma. hiperventilasi. pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian. kekuatan otot. refleks menelan. Pemeriksaan fisik    Sistem respirasi : suara nafas. c. ASUHAN KEPERWATAN 1.M. cheyene stokes. riwayat kejang. gerak volunter. Pengkajian a. b. akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis. Riwayat kesehatan: waktu kejadian.

Nyeri berhubungan dengan trauma kepala. Devisit perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran. Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya . 2. dan meningkatnya tekanan intrakranial. kesadaran tidak menurun. 8. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah: 1. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi. d ketidakmampuan pemasukan makanan atau mencerna makanan dan atau mengabsorbsi zat-zat gizi karena faktor biologis. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah. 9. Tujuan: Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan terhadap informasi. Intervensi :   Tinggikan posisi kepala 15 – 30 derajat dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis. 5. kerusakan jaringan 10. 4.2. 7. Ketidak seimbangan nutrisi kurang kebutuhan tubuh b. tindakan invasife. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial. immunosupresif. keterbatasan kognitif 3. Resiko infeksi b. adanya sekresi. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan berhubungan dengan gagal nafas.d trauma. 6. 3. dan tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Intervensi Keperawatan a.

Tujuan: Pasien akan merasa nyaman yang ditandai dengan tidak mengeluh nyeri. Monitor intake dan out put. catat lokasi nyeri. Intervensi:  Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri. Berikan sentuhan terapeutik. dan tanda-tanda vital dalam batas normal. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala. peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher. Lakukan kateterisasi bila ada indikasi. valsava meneuver. lakukan distraksi dan relaksasi. Bila akan memiringkan pasien. Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi dan pemenuhan nutrisi.     Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri. nafas cepat atau lambat. berkeringat dingin. prosedur (peningkatan lendir atau suction. Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur. peningkatan nadi. Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan karena dapat meningkatkan edema serebral. serangannya. pembalikan posisi dari samping ke samping (dapat menyebabkan kompresi pada vena leher). harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan. Pemberian obat analgetik sesuai dengan program. fleksi (harus bersamaan). rotasi kepala. .         tekanan pada vena leher. Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan intrakranial sesuai program. rangsangan nyeri. b. lamanya. perkusi).

c. Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 – 30 derajat. termasuk kaku kuduk. Pemberian oksigen sesuai program e. apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah. jalan nafas bersih. Circulasi. Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab. dan meningkatnya tekanan intrakranial. d. iritabel. muntah dan kenjang. tidak ada pus dari luka. Tujuan: Pasien akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra. Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hati. usaha dalam bernafas. Kaji tanda dan gejala adanya meningitis. leukosit dalam batas normal. adanya sekresi.     Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Kaji status pernafasan kedalamannya. integritas kulit baik. dan pernafasan dalam batas normal. Intervensi:   Kaji Airway. dan nilai elektrolit dalam batas normal. Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas. Tujuan: Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan tidak ada sesak atau kesukaran bernafas. Bila ada sekret segera lakukan pengisapan lendir. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri. Breathing. Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh. gangguan fungsi pergerakan. . Kaji. Intervensi:     Kaji adanya drainage pada area luka. sakit kepala. demam.

Intervensi:    Lakukan latihan pergerakan (ROM). dan kejang. tempat tidur bersih. menurunnya refleks. tidak ada iritasi pada kulit. Tujuan Intervensi:  Kaji status neurologis: perubahan kesadaran. Lakukan “back rub” setelah mandi di area yang potensial menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan nyeri. buang air besar dan kecil dapat dibantu. tubuh anak bersih.    Kaji tingkat kesadaran dengan GCS Monitor tanda-tanda vital setiap jam atau sesuai dengan protokol. perubahan pupil. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi. kurangnya respon terhadap nyeri.Intervensi:    f. aktivitas pergerakan menurun. Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tetap utuh. membran mukosa. dan ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine. Berikan cairan intra vena sesuai program. : Pasien terbebas dari injuri. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial. Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai. h. . Devisit perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran. g. Kaji intake dan out put. Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit. Berikan analgetik sesuai program. Tujuan: Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan berat badan.

seperti bagaimana cara memandikan anak. mengenakan pakaian. Intervensi:     Jelaskan klien tentang prosedur yang akan dilakukan. . makan – minum. Gunakan komunikasi terapeutik. Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan demonstrasikan. bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB. dan tujuannya. Tujuan: Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas berkurang yang ditandai dengan tidak gelisah dan orang tua dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi dan aktif dalam perawatan anak.     Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi. Anjurkan orang tua untuk selalu berada di samping anak. BAK dan BAB. membersihkan tempat tidur.Intervensi:  Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas. Kaji adanya konstipasi. Perawatan kateter bila terpasang. i. dan kebersihan perseorangan. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala. Ajarkan anak dan orang tua untuk mengekspresikan perasaan.

Suzanne CS & Brenda GB. Jakarta: CV Sagung Seto.blogspot. Asuhan Keperawatan Pada Anak. 3.php?option=com_content&view=article&id=68:cederakepala&catid=38:ppni-ak-category&Itemid=66 7. Jakarta: EGC. Volume 3. Edisi I. Anatomi fisiologi untuk mahasiswa keperawtan. Edisi 3. Suriadi & Rita Yuliani.com/news/read/293055-riset-obat-flu-percepat-pemulihan-cederaotak 8.Jakarta: EGC. Jakarta: EGC.com/index.html 6. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah.com/2011/07/askep-klien-dengan-trauma-kepala. http://ppni-klaten. Edisi 8. 1999. 5. http://kosmo. 4.vivanews.AMK. http://ainicahayamata. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.com/nursing-only/keperawatan-medikal-bedahkmb/askep-cedera-kepala/ . Edisi 3. DAFTAR PUSTAKA 1.wordpress.N. Syafudin. Cecily LB & Linda AS. 2000. http://dentingberdetak. 2003. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful