LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN TUBERKULOSIS PARU

I. Konsep Dasar Penyakit A. Pengertian Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru, yang dapat ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Smeltzer, 2002;584). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.Kuman ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit.Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 µm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.

B. Epidemiologi/Insiden Kasus Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.Program penanggulangan secara terpadu baru dilakukan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy), meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis.Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis tidak terkendali, hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif). Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO, 1997).Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang, 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas. Di Indonesia pada tahun yang sama, hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga

setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000.Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif.

C. Penyebab/faktor predisposisi Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu basil mycobacterium tuberculosis tipe humanus dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik karena sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid).Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es).Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant.Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). Keduanya dinamakan tuberkulosis primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis kebanyakan didapatkan padausia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Individu yang berisiko tinggi untuk tertular tuberculosis adalah :  Mereka yang kontak dengan seseorang yang mempunyai TB aktif

atau mereka yang terinfeksi dengan HIV) Pengguna obat-obat IV dan alkoholik Setiap individu tanpa perawatan kesehatan yang adekuat (anak-anak di bawah usia 15 tahun dan dewasa muda antara yang berusia 15-44 tahun) Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya (misalnya. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam. mereka yang dalam terapi kortikosteroid. pasien dengan kanker.Dari focus primer. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droflet nuclei. penjara) Individu yang tinggal di daerah. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanyasanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. diabetes. Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembangbiak. Lokasi pertama kolonikuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN. Patofisiologi terjadinya tuberculosis paru Tuberkulosis tergolong airbone disease dimana penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuklei dalam udara oleh individu yang terinfeksi dalam fase aktif. makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akanbereplikasi dalam makrofag. akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. afrika. dan amerika latin) Setiap individu yang tinggal di institusi (misalnya fasilitas perawatan jangka panjang. Akan tetapi. perumahan subtandar kumuh Petugas kesehatan D.Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanismeimunologis non spesifik. gagal ginjal kronis) Imigran dari Negara dengan insiden TB yang tinggi (asia tenggara. institusi psikiatrik. pada sebagiankecil kasus. kuman TB menyebar . Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh limfe. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan.        Individu imunosupresif (termasuk lansia. basil berpindah kebagian paru – paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain.

Hal ini berbeda denganpengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain.kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yangmeradang (limfangitis).yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler. infeksi TB primer dinyatakan telah terjadi. Namun. Bila imunitas selulertelah terbentuk. proliferasi kuman TB terhenti. Hal tersebut ditandai olehterbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein. yang akan terlibat adalahkelenjar paratrakeal. focus primer di jaringan paru biasanyamengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelahmengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi.sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Kompleks primer merupakan gabungan antara focus primer. Kelenjar limfe regional juga akanmengalami fibrosis dan enkapsulasi. yaitu waktu yang diperlukan sejakmasuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. uji tuberculin masih negatif.Setelah kompleks primer terbentuk.begitu sistem imun seluler berkembang. yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus primer. yaitu timbulnya responspositif terhadap uji tuberculin. Pada saat terbentuknya kompleksprimer inilah.sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru. Masa inkubasi TB biasanyaberlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu. terjadi pertumbuhan logaritmikkuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi terhadaptuberculin. tetapi penyembuhannya biasanya tidaksesempurna focus primer di jaringan paru. kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103104. imunitas seluluer tubuh terhadap TB telahterbentuk.Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Jika focus primer terletak di lobus parubawah atau tengah. Komplikasi yang terjadi dapatdisebabkan oleh focus paru atau di kelenjar limfe . Selama masa inkubasi. kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus.Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleksprimer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Kuman TB dapat tetap hidup danmenetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.Setelah imunitas seluler terbentuk. Selama berminggu-minggu awal proses infeksi. Pada sebagian besar individu dengan system imun yang berfungsi baik. kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segeradimusnahkan. mengalami perkembangan sensitivitas.Dalam masa inkubasi tersebut.melalui saluran limfe menuju kelenjar limferegional.Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan dikelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena.

sehingga menyebabkan TBendobronkial atau membentuk fistula. kuman tetap hidup dalam bentuk dormant. kuman TBmenyebar secara sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkangejala klinis. Jika terjadinekrosis perkijuan yang berat. sebelum terbentuknya imunitas seluler. Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenikgeneralisata akut (acute generalized hematogenic spread). Massa kiju dapat menimbulkan obstruksikomplit pada bronkus sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis danateletaksis. Sedangkan padapenyebaran hematogen. Kelenjar limfehilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi. kuman menyebarke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapatmerusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus. terutama apeks paru atau lobus atasparu. Fokus primer di parudapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal.Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secaraakut.Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik.Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi pertumbuhannya olehimunitas seluler.misalnya otak. kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebarke seluruh tubuh. bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melaluibronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Melalui cara ini.Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat menyebabkanateletaksis. tulang. . yang sering disebut sebagai lesi segmental kolapskonsolidasi. ginjal. dapat terjadipenyebaran limfogen dan hematogen.Selama masa inkubasi. Pada penyebaran limfogen.sejumlah besar kuman TB masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruhtubuh. dan paru sendiri. akanmembesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat terganggu.Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk penyebaranhematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). Di berbagai lokasi tersebut.TB diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulansetelah terjadi infeksi. kuman TB akan bereplikasi dan membentuk kolonikuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi pertumbuhannya.regional. Pada bentuk ini. yang disebut TB diseminata. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TBdisebut sebagai penyakit sistemik. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensikuman TB yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran.

misalnya pada balita. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: a) Dengan atau tanpa gejala klinik b) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. Klasifikasi diagnostik TB adalah: 1. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. kelainan foto torax menyokong TB b. Bekas TB Paru dengan kriteria: a) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negative b) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. BTA mikroskopik langsung (+) ata biakan (+). Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. Klasifikasi a. Klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: 1. TB paru a. E. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. c) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. 2.Tuberkulosisdiseminata terjadi karena tidak adekuatnya sistem imun pejamu (host) dalammengatasi infeksi TB. b. Pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat . menunjukkan serial foto yang tidak berubah. 3. c) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. BTA mikroskopik langsung atau biakan (-)tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB. bakteriologik. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: a) Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif b) BTA negatif. biakan negatif tetapi radiologik positif. d) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. c. anemia dan lain-lain. Kelompok ini tidak perlu diobati (Smeltzer:2002. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimptomatik. b. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertaiseperti efusi pleura. Pasien dengan BTA mikroskopis yang lengkap .585) F. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darah. Gejala respiratorik. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah.2. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. pneumothorax. Bekas TB Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum BTA (-). Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. meliputi: a. tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB paru. 3. TB paru tersangka Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). Gejalaklinis Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai.Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.

G. (khususnya selama tahap dini). dan lain-lain 2. b. penurunan berat badan serta malaise. Gejala Psikologis Perasaan tak berdaya. meliputi: a.Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. nafas pendek saat beraktivitas. anoreksia.472) . ancietas. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. c. kesulitan tidur pada malam. ronki basah. ujung skapula. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik khususnya dada dan paru adalah sebagai berikut : Inspeksi Palpasi Perkusi : Dispnea. menyangkal. pengembangan napas tidak simetrs : Penurunan fremitus vokal. krekels. takhikardi. kelelahan umum dan kelemahan.d.Nyeri dada sering kali dirasakan pada daerah axilla. Sedangkan masa bebas serangan makin pendek. serta menggigil. suara napas amforik(karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronkus )) (Mansjoer:1999. mudah tersinggung. Gejala sistemik lain Keringat malam. dan jaringan granulasi e. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya. retraksi otot-otot interkostal. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. kelelahan otot. panas.radang. Wheezing Karena penyempitan lumen endobronkus: oleh karena secret. deviasi trakeal : redup Auskultasi : Tanda-tanda infiltrat ( bronkial. ketakutan.Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. Gejala sistemik.

Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda). simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. 3. Foto thorax Dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas. Bayangan milier 4. Pemeriksaan lain-lain . Pemeriksaan Radiologi Ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau para trakeal. BCG Terjadi reaksi cepat (3-7 hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm. Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) Setelah dilakukan kultur jaringan ditemukan adanya koloni matur akan berwarna krem atau kekuningan seperti kutil dan bentuknya seperti kembang kol. perubahan menunjukan TB dapat masuk rongga area fibrosa. Kultur sputum. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. 6. 2. Ditemukannya kuman mycobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. 5. Uji Tuberculin mantoux (tes kulit) Tuberculin positif. Dilakukan 3 kali pemeriksaan dahak. b. menunjukkan TBC aktif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. (Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Kelainan yang bilateral. Pemeriksaan diagnostik/penunjang 1.H.

Pemeriksaan fungsi pada paru. selama 13 – 18 bulan. 4. obat yang diberikan dengan jenis :    INH. Jangka pendek. kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas). I. peningkatan ruang mati. Jangka panjang Tata cara pengobatan :setiap 2 x seminggu.1. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan. positif untuk granula TB. 2. tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi. berat dan kerusakan sisa pada paru. Terapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja. biopsi kulit) positif untuk mycobakterium tuberkulosis. peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis. Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster. GDA dapat tidak normal tergantung lokasi.     Streptomisin injeksi 750 mg. Rifampicin. Ziehl Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat. urine dan cairan serebrospinal. Pas 10 mg. misalnya Hyponaremia. karena retensi air tidak normal. Biopsi jarum pada jaringan paru. didapat pada TB paru luas. penurunan kapasitas vital. Ethambutol 1000 mg. adanya sel raksasa menunjukan nekrosis. . Theraphy/Tindakan penanganan Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian : 1. Elektrosit dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi. Ethambutol. 3. 2. 5. Isoniazid 400 mg.

Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pirasinamid. Streptomisin dan Etambutol. dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. derivat Rifampisin/INH. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. Kuinolon. Pyridoxin (B6). Isoniazid (INH). 3. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :     Rifampicin. hasil pemeriksaan bakteriologik. 2. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. 3.Dengan fase selama 2 x seminggu. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1.Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan).Sedangkan jenis obat tambahan adalah Kanamisin. berat ringannya penyakit. Ethambutol. INH. 4. . Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB.Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan.

Keluhan Utama : Batuk b. nyeri dan sesak (pada tahap lanjut). b. o Nafas pendek saat beraktivitas o Kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari. menggigil dan atau berkeringat. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan A. . Makanan/cairan o Anorexia. tachipnoe.5. Pengkajian Status Kesehatan Saat ini a. c. o Kelelahan otot. o Ancietas. o Takhikardi. o Perasaan tak berdaya o Menyangkal. mudah tersinggung. ketakutan. o Tidak dapat mencerna makanan. / dispnoe pada kerja. Keluhan Saat ini o Pasien mengeluh batuk-batuk berdahak. (khususnya selama tahap dini). Aktivitas/istirahat o Kelelahan umum dan kelemahan. II. muntah Aktivitas Sehari-hari a. IntegritasEgo. Pencatatan dan pelaporan yang baku.batuk berdarah o Pasien mengeluh sesak napas o Pasien mengeluh nyari pada dada saat batuk berulang o Pasien mengeluh demam o Pasien mengeluh berkeringat di malam hari o Pasien mengeluh lemah dan merasa lelah o Pasien mengeluh tidak nafsu makan o Pasien mengeluh mual.

Penyuluhan/pembelajaran. o Adanya kondisi penekanan imun. . Interaksi sosial. o Perubahan pola biasa dalam tangguang jaawab / perubahan kapasitas fisik untuk melaksankan peran. o Gagal untuk membaik / kambuhnya TB. g.240) Pengkajian vital sign Suhu: peningkatan suhu Nadi : Takikardi RR : Takipnea Pengukuran berat badan: terjadi penurunan berat badan Pengkajian Per Sistem a. (Doenges: 2000. e. contoh . o mual muntah d. gelisah. Sistem Pernafasan. o Riwayat keluarga TB. o Batuk produktif atau tidak produktif. Keamanan. AIDS. o Turgor kulit buruk.o Penurunan BB. o Kehilangan lemak subkutan pada otot. o Perilaku distraksi. o Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk. o Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. Nyeri/kenyamanan. o Berhati-hati pada area yang sakit. o Tidak berpartisipasi dalam therapy. kanker. tes HIV positif (+) o Demam rendah atau sakit panas akut. o Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular. f.

wheezing Pemeriksaan Diagnostik  Pemeriksaan Laboratorium a.o Produksi sputum o Hemoptisis o Nyeri dada o Peningkatan frekuensi nafas. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Dada dan Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Dispnea. positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit. Ditemukannya kuman mycobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. deviasi trakeal :redup Auskultasi : bronkial. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Dilakukan 3 kali pemeriksaan dahak. Sistem Gastrointestinal o Mual Muntah c. mukoid kuning atau bercampur darah. Sistem Endokrin o Demam o Malaise o Anoreksia Pengkajian fisik a. limfositosis b. ronki basah. . Sputum Karakteristik sputum: hijau purulen. b. retraksi otot-otot interkostal.  Pemeriksaan Radiologi Ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau para trakeal. pengembangan napas tidak simetrs : Penurunan fremitus vokal. Kultur sputum.eningkait. Darah Gambaran LED normal atau m.

kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas). suara nafas tambahan (krekels). Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. penurunan berat badan . Tachipnea 3. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan.b. peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis. Kelainan yang bilateral. malaise 5. mual muntah. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh.857 ) B. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme ditandai dengan anoreksia. peningkatan ruang mati. Diagnosa Keperawatan 1. ditandai dengan batuk tidak produkif. penurunan kapasitas vital. ditandai dengan kelelahan umum. haemoptisis 2. (Price:2005. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan sesak napas. produksi sputum. Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik kurang. Bayangan milier  Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang lainnya o Uji Tuberculin mantoux (tes kulit) o BCG o Foto thorax o Ziehl Neelsen o Histologi atau kultur jaringan o Biopsi jarum pada jaringan paru o Elektrositdapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi o Pemeriksaan fungsi pada paru. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. menggigil 4. mukus yang banyak.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan tentang penyakit dan pengobatan tentang Tuberkulosis Paru .6.

suara napas sputum. Diagnosa Tujuan Tindakan/intervensi diberikan Mandiri: Rasional o Ronchi. o Berikan pasien posisi semi/fowler o Pengaturan tinggi. kental. amforik. wheezing menunjukkan Bersihan jalan Setelah napas efektif berhubungan tak askep selama 3x24 o Kaji fungsi pernapasan (bunyi jam bersihan jalan napas. jmlh basah. posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan. kriteria hasil: - peningkatan kerja pernapasan. krekels (-s) Sekret pasien dpt dikeluarkan Hemoptisis (-) Tidak retraksi adanya otot- bronkial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. ronki mengeluarkan efektif (catat mukosa/batuk karakter. adanya hemoptisis). irama & akumulasi sekret/ketidakmampuan utk membersihkan jalan napas yg dpt menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan napas pasien kembali Dengan kedalaman serta penggunaan otot aksesori) o Catat dengan sekret efektif.C. Efek infeksi dan/tdk adekuat hidrasi). Sputum berdarah kental/darah kerusakan cerah (kavitas diakibatkan paru)/luka Dispnea (-) bronkial. Ventilasi maksimal membuka area . kecepatan. Rencana Keperawatan No. wheezing. 1. Bantu pasien utk batuk & latihan napas dalam. ketidakmampuan untuk o Pengeluaran sulit bila sekret sangat kental (mis.

keperluan) o Pertahankan masukan cairan o Mencegah obstruksi/aspirasi. membuatnya mudah dikeluarkan. . udara/oksigen utk mengencerkan sekret. o Mencegah pengeringan membran mukosa (membantu pengenceran sekret). Kolaborasi: o Lembabkan inspirasi.interkostal - o Bersihkan sekret dari mulut & trakea (penghisapan sesuai atelektasis & meningkatkan gerakan sekret ke dlm jalan napas besar utk dikeluarkan. Penghisapan dapat diperlukan jika pasien tak mampu mengeluarkan sekret o Pemasukan tinggi cairan membantu sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.

Okstrifillin Bronkodilator ukuran lumen shg meningkatkan percabangan menurunkan (Choledyl). Asetilsistein o Agen (Mucomyst). dan positif mungkin bakterisid menjadi negatif secepat kegiatan pirazinamid. cth.o Beri obat-obatan sesuai indikasi: Agen mukolitik. Hipertermia berhubungan Setelah asuhan dilakukan Mandiri: keperawatan o Monitor suhu tubuh o Peningkatan suhu tubuh sering dengan proses selama 3 x 24 jam penyakit diharapkan tubuh menurun suhu pasien o Monitor input dan output cairan dengan terjadi karena daya tahan tubuh menurun o Suhu tubuh yang panas dapat mengurangi cairan tubuh akibat . rifampisin. teofillin (Theo-Dur). trakeobronkial tahanan thd aliran udara. OAT (Obat Anti Tuberkulosis) o Membuat konversi sputum BTA seperti: Isoniazid. cth. etambultol streptomisin. Bronkodilator. melalui 2. mukolitik menurunkan kekentalan & perlengketan sekret paru utk memudahkan pembersihan.

5 0C) Kulit kemerahan (-) .5-37.kriteria hasil: Pasien melaporkan badan panas Tubuh pasien tidak evaporasi sehingga perlu cairan yang adekuat o Kompres pasien pada lipat paha o Dapat dan aksila o Inspeksi warna kulit pasien o Peningkatan menimbulkan pada kulit Kolaborasi o Antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh o Berikan cairan intravena jika o Suhu tubuh yang panas dapat perlu mengurangi cairan tubuh akibat evaporasi suhu warna tubuh kemerahan menurunkan suhu tubuh teraba hangat Menggigil (-) Suhu pasien tubuh o Berikan Anti piretik jika perlu normal (36.

E. Evaluasi Evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria hasil yang terdapat dalam rencana keperawatan. .D. Implementasi Implementasi keperawatan dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang telah disusun.

Mansjoer. Edisi 8. 2. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. 2007. www. Diakses pada tanggal 1 Mei 2010. A. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 : Definisi & Klasifikasi.. Geissler. Retno Werdhani. Arthur C. Jakarta: EGC .Jakarta : Media Aesculapius. 2000. Edisi 11. Jakarta : EGC. Price. Edisi 6. Vol. Jakarta : EGC Santosa. Diagnosis.Jilid pertama. Guyton. A. Moorhouse. 2000. 2001. dan Klasifikasi Tuberkulosis. 2001.com. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Prima Medika. S. 2005.C. Smeltzer. Patofisiologi.S. Kapita Selekta Kedokteran. Budi. Vol. Doenges. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.DAFTAR PUSTAKA Asti. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi ketiga. Jakarta : EGC.1. dkk.wikipedia. 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful