Berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.

Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pun telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadits). Artinya, melalui jalan perdagangan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadan ya. Jual beli merupakan sesuatu yang diperbolehkan (QS 2 : 275), dengan catatan selama dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Dalil di atas dimaksudkan untuk transaksi offline. Sekarang bagaimana dengan tra nsaksi online di akhirzaman ini? Kalau kita bicara tentang bisnis online, banyak sekali macam dan jenisnya. Namun demikian secara garis besar bisa di artikan se bagai jual beli barang dan jasa melalui media elektronik, khususnya melalui inte rnet atau secara online. Salah satu contoh adalah penjualan produk secara online melalui internet seperti yang dilakukan Amazon.com, Clickbank.com, Kutubuku.com, Kompas Cyber Media, dll . Dalam bisnis ini, dukungan dan pelayanan terhadap konsumen menggunakan website , e-mail sebagai alat bantu, mengirimkan kontrak melalui mail dan sebagainya. Mungkin ada definisi lain untuk bisnis online, ada istilah e-commerce. Tetapi ya ng pasti, setiap kali orang berbicara tentang e-commerce, mereka memahaminya seb agai bisnis yang berhubungan dengan internet. Dari definisi diatas, bisa diketahui karakteristik bisnis online, yaitu: 1) Terj adinya transaksi antara dua belah pihak; 2) Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi; 3) Internet merupakan media utama dalam proses atau mekanisme akad t ersebut. Dari karakteristik di atas, bisa di lihat bahwa yang membedakan bisnis online de ngan bisnis offline yaitu proses transaksi (akad) dan media utama dalam proses t ersebut. Akad merupakan unsur penting dalam suatu bisnis. Secara umum, bisnis da lam Islam menjelaskan adanya transaksi yang bersifat fisik, dengan menghadirkan benda tersebut ketika transaksi, atau tanpa menghadirkan benda yang dipesan, tet api dengan ketentuan harus dinyatakan sifat benda secara konkret, baik diserahka n langsung atau diserahkan kemudian sampai batas waktu tertentu, seperti dalam t ransaksi as-salam dan transaksi al-istishna. Transaksi as-salam merupakan bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara tunai/disegerakan tetapi penyerahan b arang ditangguhkan. Sedang transaksi al-istishna merupakan bentuk transaksi deng an sistem pembayaran secara disegerakan atau secara ditangguhkan sesuai kesepaka tan dan penyerahan barang yang ditangguhkan. Ada dua jenis komoditi yang dijadikan objek transaksi online, yaitu barang/jasa non digital dan digital. Transaksi online untuk komoditi non digital, pada dasar nya tidak memiliki perbedaan dengan transaksi as-salam dan barangnya harus sesua i dengan apa yang telah disifati ketika bertransaksi. Sedangkan komoditi digital seperti ebook, software, script, data, dll yang masih dalam bentuk file (bukan CD) diserahkan secara langsung kepada konsumen, baik melalui email ataupun downl oad. Hal ini tidak sama dengan transaksi as-salam tapi seperti transaksi jual be li biasa. Transaksi online dibolehkan menurut Islam berdasarkan prinsip-prinsip yang ada d alam perdagangan menurut Islam, khususnya dianalogikan dengan prinsip transaksi as-salam, kecuali pada barang/jasa yang tidak boleh untuk diperdagangkan sesuai syariat Islam. KESIMPULAN Bisnis online sama seperti bisnis offline. Ada yang halal ada yang haram, ada ya ng legal ada yang ilegal. Hukum dasar bisnis online sama seperti akad jual beli dan akad as-salam, ini diperbolehkan dalam Islam. Adapun keharaman bisnis online karena beberapa sebab :

Sebagaima telah disebutkan di atas. bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengaturnya. Rukun-rukun jual beli menurut jumhur ulama : 1. * Mampu diserahkan oleh pelaku akad. kezhaliman. Syarat-syarat pelaku akad : bagi pelaku akad disyaratkan. seperti money gambling. (Fiqih Sunnah j uz III hal 123) Hal yang perlu juga diperhatikan oleh konsumen dalam bertransaksi adalah memasti kan bahwa barang/jasa yang akan dibelinya sesuai dengan yang disifatkan oleh si penjual sehingga tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari. berakal dan memilik i kemampuan memilih.1. Karena melanggar perjanjian (TOS) atau mengandung unsur penipuan. penipuan. * Mengetahui status barang (kualitas. banyak sekali godaan dan tantangan bagaiman a kita harus berbisnis sesuai dengan koridor Islam. 2. online sex. Selama kita berbisnis online sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan bermanfaat bagi orang lain. dan anak kecil (yang belum bi sa membedakan) tidak bisa dinyatakan sah. 3. Ada penjual. kecurangan dan yang s ejenisnya serta memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat didalam jual belinya. Syarat-syarat barang yang diakadkan : * Suci (halal dan baik). Ketika kita terjun ke bisnis online. hukum asal muâ amalah adalah al-ibaahah (boleh) s elama tidak ada dalil yang melarangnya. Dan lainnya yang tidak membawa kemanfaatan tapi justru mengakibatkan kemudhar atan. situs-situs yang bis a membawa pengunjung ke dalam perzinaan. seper ti narkoba. 2. * Milik orang yang melakukan akad. Ijab Kabul. Maka dari itu kita harus leb ih berhati-hati. * Bermafaat. insya Alloh uang yang didapat akan berkah. Jadi orang gila. Namun demikian. jenis dan lain-lain) * Barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakukan akad. kita harus memperhatikan hal-hal di bawah ini : Transaksi online diperbolehkan menurut Islam selama tidak mengandung unsur-unsur yang dapat merusaknya seperti riba. Judi itu haram baik di darat maupun di udara (online) 2. orang mabuk. 3. Jangan karena ingin mendapat dolar yang banyak lalu menghalalka n segala macam cara. Sistemnya haram. 4. 4. video porno. Wallahu a'lam . kuantitas. Ada pembeli. Barang yang diakadkan. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz V hal 3309) Syarat-syarat sah jual beli itu adalah : 1. Sebagai pijakan dalam berbisnis online. Barang/jasa yang menjadi objek transaksi adalah barang yang diharamkan. pelanggaran hak cipta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful