BAB I PENDAHULUAN

1.1

Pengertian Salah satu penyebab paling sering nyeri punggung pada orang dewasa adalah Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Apakah yang dimaksud HNP? Sebelum mengetahui lebih lanjut kita perlu mengetahui anatomi fisiologi berikut ini. Di antara dua korpus vertebrata yang berdekatan, dari vertebra servikalis II sampai vertebra sakralis terdapat discus intervertebralis. Discus itervertebralis terdiri atas nucleus pulposus di bagian tengah dan annulus fibrosus yang mengelilinginya. Nucleus pulposus mengandung berkas-berkas serat kolagen, sel jaringan ikat, dan sel tulang rawan. Bahan tersebut berfungsi sebagai peredam kejut antara korpus vertebra yang berdekatan dan juga berperan penting dalam pertukaran cairan antara discus dan kapiler. Annulus fibrosus terdiri dari cincin fibrosa kosentrik yang mengelilingi nukleus pulposus. Fungsinya adalah agar dapat terjadi gerakan antar korpus-korpus vertebra, menahan nucleus pulposus dan sebagai peredam kejut. Discus intervertebralis membentuk sekitar seperempat dari panjang keseluruhan kolumna vertebralis. Discus paling tipis terletak di region torakalis dan yang paling tebal di region lumbalis. Seiring bertambahnya usia, kandungan air diskus berkurang dan diskus menjadi lebih tipis. HNP adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna vertebralis pada diskus intervertebralis (diskogenik) (Harsono,1996). HNP adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek. HNP bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990). HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)

Selain itu serat-serat menjadi lebih kasar dan mengalami hialinisasi yang ikut berperan menyebabkan HNP melalui anulus disertai penekanan akar saraf spinalis. HNP juga dapat mengenai diskus servikalis. Walaupun pasien cenderung mengaitkan masalahnya dengan kejadian mengangkat barang atau membungkuk. Hal ini desebabkan oleh spasme otot-otot tersebut dan spasme menyebabkan penekanan pada saraf. 1. Saat timbul suatu gaya kompresi vertikal maka bagian lempeng tulang rawan yang terlepas tersebut bergeser ke belakang dan nukleus pulposus menonjol melalui serat anulus yang robek. Zat-zat tersebut merupakan reseptor nyeri sehingga timbul rasa nyeri pada diri pasien. Dengan demikian diskus C5-C6 menekan akar saraf C6 dan diskus C6-C7 mengenai akar C7. Sebagian besar HNP terjadi di daerah lumbal di antar-ruang L4-L5 atau L5-S1. Kandungan air diskus berkurang seiring bertambahnya usia (dari 90% pada masa bayi menjadi 70 % pada lansia). neuron saraf menjadi terjepit lalu timbul reaksi zat kimia/bioaktif (serotonin . Arah tersering HNP adalah posterolateral karena akar saraf di daerah lumbal ke bawah sewaktu keluar melalui foramen saraf .3 Gejala Gejala utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan. Pasien umumnya menceritakan riwayat serangan nyeri dan berkurangnya mobilitas tulang belakang secara bertahap. HNP adalah suatu proses bertahap yang ditandai dengan serangan-serangan penekanan akar saraf yang menimbulkan berbagai gejala dan periode penyesuaian anatomik. HNP servikalis berpotensi menimbulkan kelainan serius dan dapat terjadi kompresi medula spinalis bergantung pada arah penonjolan. Perubahan morfologik pertama yang terjadi pada ruptur diskus adalah memisahnya lempeng tulang rawan dari korpus vertebra di dekatnya.2 Patofisiologi Regio lumbalis merupakan bagian yang tersering mengalami hernia nukleus pulposus. HNP servikalis biasanya menekan akar di bawah ketinggian diskus. Pada umumnya HNP didahului oleh aktivitas yang berat dengan keluhan utamanya adalah nyeri di punggung bawah disertai nyeri otot sekitar lesi dan nyeri tekan. bradikinin dan prostaglandin). Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus.1. .

Immobilisasi Immobilisasi dengan menggunakan traksi dan brace. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pergerakan vertebra yang akan memperparah HNP. 4. c. 2. kecepatan perkembangan (akut atau kronik) . memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis. b. Meredakan Nyeri Kompres hangat dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri. Macam : a. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis. Obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid diberikan untuk mengatasi inflamasi.5 Manifestasi Klinis Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal. 3. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan vertebra servikalis. Traksi Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.1. Sedatif diberikan agar pasien merasa tenang dan tidak banyak bergerak/gelisah sehingga tidak menjadikan penyakitnya semakin parah. mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks. Disektomi dengan peleburan. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral. Pembedahan Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri yang dirasakan pasien. 1. d. Relaksan otot diberikan agar otot tidak tegang/spasme. Kompres hangat menimbulkan vasodilatasi sehingga tidak terjadi kekakuan pada daerah vertebra. torakal (jarang) atau lumbal.4 Penatalaksanaan 1. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.

CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I. M R I : untuk melokalisasi ruptur diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal. 1.6 Pemeriksaan Diagnostik     RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang. Identitas Pasien HNP terjadi pada umur pertengahan hal ini dikarenakan karena kandungan air discus telah berkurang sesuai dengan proses degeneratif pada tubuh manusia. kebanyakan . BAB II PENGKAJIAN 2.1. kronik dan berulang (kambuh).dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena. Nyeri punggung bawah yang berat.

mendenyut. kebutuhan istirahat terpenuhi.pada jenis kelamin pria dan pekerjaan atau aktivitas berat (mengangkat baran berat atau mendorong benda berat). P = paliatif/provokatif Trauma (mengangkat atau mendorong benda berat). nyeri otot. berapa lama diminumkan. berdiri belum kuat/mampu dan perlu bantuan bila berjalan hanya kuat 3 meter. hilang timbul. atau makin lama makin nyeri . seperti kena api. nyeri tumpul atau kemeng yang terus-menerus. Obat-obatan yang sedang diminum seperti analgetik. miring kanan dan kiri. terlentang duduk masih dibantu dan tahan < 10 menit. Penyebaran nyeri apakah bersifat nyeri radikular atau nyeri menyebar (referred fain). posisi yang bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan memperberat nyeri. T = time . Pengaruh pada aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti berjalan. Nyeri dirasakan pada paha. 2. Selain itu terdapat pula nyeri tekan. turun tangga. geringgingan Q = quality Sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti disayat. bradikinin dan prostaglandin). Neuron saraf menjadi terjepit lalu timbul reaksi zat kimia/bioaktif (serotonin . Hal ini desebabkan oleh spasme otot-otot tersebut dan spasme menyebabkan penekanan pada saraf. Zat-zat tersebut merupakan reseptor nyeri sehingga timbul rasa nyeri pada diri pasien. R = region Letak atau lokasi nyeri menunjukkan nyeri dengan setepat-tepatnya sehingga letak nyeri dapat diketahui dengan cermat. Nyeri bersifat menetap. Keluhan Utama Keluhan utama yang biasanya diutarakan pasien adalah nyeri pada punggung bawah. menyapu.2. dan bertambah nyeri bila digerakkan atau diangkat sampai menjalar ke pinggang S = severity Pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh. Kondisi seperti ini menyebabkan pasien lebih banyak terlentang. dalam memenuhi aktiivitas sehari-hari sebagian masih dibantu atau ketergantungan pada orang lain seperti BAB dan BAK. gerakan yang mendesak.

Riwayat Keperawatan a. sub akut. Ataupun adakah keluarga pasien yang mengalami penyakit tertentu yang ada hubungannya dengan penyakit pasien. b.Sifanya akut. karena bisa menimbulkan nyeri punggung bawah Selain itu perlu juga pasien ditanya apakah sebelumnya pernah jatuh. selain itu perlu ditanyakan pula obat apa yang sudah diminum pasien dan terapi apa yang dilakukan pasien untuk mengurangi nyerinya. adneksitis dupleks kronis. perlahan-lahan atau bertahap. pengaruh terhadap struktur di sekelilingnya dan banyaknya akar syaraf yang terkompresi  Aktivitas/istirahat . c. keganasan (mieloma multipleks). beratnya. Hal ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. metabolik (osteoporosis).3. bersifat menetap. Data Dasar Pengkajian Pasien Data yang diperoleh/diakajitergantung pada tempat kejadiannya. Riwayat penyakit sekarang Hal yang perlu ditanyakan adalah kronologis kejadian yang menyebabkan pasien mengalami HNP sampai akhirnya pasien menghubungi tenaga kesehatan. 2. hilang timbul. makin lama makin nyeri. Riwayat keluarga Hal yang perlu ditanyakan adalah apakah ada keluarga pasien yang mengalami penyakit yang sama dengan pasien. Nyeri otot dan geringgingan dirasakan apabila digerakkan. misalnya Tb tulang. Perlu juga ditanyakan mengenai riwayat menstruasi. Riwayat penyakit sebelumnya Hal ini perlu ditanyakan kepada pasien apakah klien pernah menderita Tb tulang. apakah akut/kronik.4. terpeleset ataupun mengalami sesuatu yang berhubungan dengan tulang belakangnya sehingga pasien merasa nyeri sepanjang kaki sampai pinggang. 2. osteomilitis. keganasan (mieloma multipleks). osteomilitis. metabolik (osteoporosis) karena penyakit tersebut dapat menyebabkan terjadinya HNP.

kelemahan otot. pinggang erangkat pada bagian tubuh yang terkena. paru-paru. Pemeriksaan Umum  Keadaan umum 1. hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah HNP menyebabkan perubahan pada TTV pasien. berjalan dengan terpincang-pincang. suhu. Perubahan pada nadi. Kaji kemungkinan adanya perubahan neurologist pada organ tersebut untuk mengetahui apakah organ tersebut masih berfungsi dengan baik/tidak. perut. Juga terdapat adanya inkontinensia atau retensi urine  Integritas ego Gejalanya adalah ketakutan akan timbulnya paralysis. Hal ini untuk mengetahui apakah HNP telah mempengaruhi organ tersebut. Pemeriksaan kemudian dilengkapi pemeriksaan jantung. Pemeriksaan tanda-tanda vital. nyeri tekan. penurunan rentang gerak sendi dari ekstremitas pada satu bagian tubuh. Hal ini ditandai dengan perubahan cara berjalan. menghindar dari keluarga dan orang terdekat  Neurosensori Gejalanya adalah kesemutan. bersin. dan ditandai dengan atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena  Eliminasi Gejala yang muncul adalah konstipasi dan mengalami kesulitan dalam defekasi. Pemeriksaan a. Nyeri menyebar ke kaki. Juga terdapat nyeri pada saat dipalpasi 2. dan kaku pada leher(servikal). membengkokkan badan. bokong/lumbal. spasme otot paravertebralis dan penurunan persepsi nyeri (sensori)  Nyeri/kenyemanan Gejalanya adalah nyeri seperti tertusuk pisau. yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk. . bahu/lengan.5. hipotonia.Gejala yang muncul antara lain membutuhka papan/matras yang keras saat tidur. depresi. kekakuan dan kelemahan pada tangan dan kaki ditandai dengan penurunan refleks tendon dalam. RR dan tekanan darah akan menyebabkan gangguan pada system tubuh. ansietas dan ditandai dengan pasien tampak cemas. mengangkat kaki dan fleksi pada leher.

palpasi dan perkusi a. Palpasi dan perkusi perut. b. distensi perut. Inspeksi a. pembengkakan. Hal ini dikarenakan arah tersering HNP adalah posterolateral karena akar saraf di daerah lumbal ke bawah sewaktu keluar melalui foramen saraf d. Ketika meraba kolumna vertebralis dicari kemungkinan adanya deviasi ke lateral atau antero-posterior. Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas.2. Hambatan pada pegerakan punggung . Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa HNP sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan morfologis pada tubuh pasien 3. Jika klien dapat mengenakan pakaian dengan wajar ini berarti fungsi muskuloskeletal dan persarafan pasien masih baik. Pemeriksaan motorik a. Kemungkinan adanya atropi. Hambatan yang terjadi dapat berupa kekakuan ataupun nyeri. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah saraf . begitu juga sebaliknya. Ini menunjukkan adanya kelainan muskuloskeletal yang mengenai bagian tubuh tersebut. d. pelvis dan tungkai selama begerak. kaki. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagian tubuh manakah yang memiliki nilai nyeri paling tinggi. kandung kencing penuh. palpasi pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasanyeri. perubahan warna kulit. Klien dapat menegenakan pakaian secara wajar/tidak. c. tungkai bawah. inspeksi punggung. b. ibu jari dan jari lainnya dengan menyuruh klien untuk melakukan gerak fleksi dan ekstensi dengan menahan gerakan.  Neuorologik 1. palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus sehingga tidak membingungkan klien. Bagian tersebut merupakan daerah dimana terjadi kelainan musculoskeletal dan persarafan akibat HNP c. pantat dan tungkai dalam berbagai posisi dan gerakkan untuk evaluasi neurogenik apakah saraf-saraf di bagian tersebut masih berfungsi dengan baik/tidak. Untuk mengatahui apakah HNP mempengaruhi fisiologis bagian tubuh tersebut.

rasa sakit. kemudian tendon achiles dipukul. Pemeriksan sensorik Pemeriksaan rasa raba. atropi otot pada maleolus atau kaput fibula dengan membandingkan kanankiri. lutut posisi fleksi. Salah satu tanda penurunan fungsi neurologist adalah menurunnya kemampuan saraf perifer dalam melakasanakan tugasnya untuk mempersarafi dan mengkoordinasi pergerakan otot. Selain itu dengan ROM dapat diketahui kekuatan otot dan persendian pasien apakah masih baik/buruk b. refleks lutut/patela/hammer (klien bebraring. Jika HNP menyerang pada saraf salah satu ekstremitas maka akan terjadi atropi otot pada maleolus atau kaput fibula yang dapat dilihat langsung perbedaan anatr ekstremitas 2. Pada HNP lateral di L4-5 refleks negatif. b. 4. atau untuk memeriksa ada/tidaknya penyebaran nyeri.perifer pasien masih baik ataukah sudah mengalami penurunan fungsi sehubungan dengan adanya proses patologik pada medulla spinalis yang mempersarafi bagian tubuh tersebut. 3. tumit diletakkan diatas tungkai yang satunya dan ujung kaki ditahan dalam posisi dorsofleksi ringan. b.duduk dengan tungkai menjuntai). pemeriksaan refleks a. tulang dan sendi. Refleks tumit. functio laesa.achiles (klien dalam posisi berbaring. Pada HNP lateral di L4-5 refleks negatif. rasa dalam dan rasa getar (vibrasi) untuk menentukan dermatom mana yang terganggu sehingga dapat ditentukan pula radiks mana yang terganggu. rasa suhu. Pemeriksaan range of movement (ROM) Pemeriksaan ini dapat dilakukan aktif atau pasif untuk memperkirakan derajat nyeri. Pemeriksaan penunjang  Foto rontgen yang digunakan untuk memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakan/ruang invertebratalis dan dapat digunakan untuk mengesampingkan kecurigaan patologis lain seperti tumor atau osteomielitis .

 Elektroneuromiografi (ENMG) untuk menegetahui radiks mana yang terkena / melihat adanya polineuropati. infeksi atau adanya darah  CT scan dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil dan adanya rupture discus intervertebratalis  MRI dapat menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak yang dapat memperkuat bukti adanya discus . Pemeriksaan ini dapat melokolisasi lesi pada tingkat akar saraf spinal utama yang terkena  Mielogram menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik  Venogram epidural dilakukan pada kasus dimana keqakuratan dari mielogram terbatas  Lumbal pungsi digunakan untuk mengesampingkan kondisi yang berhubungan.

bradikinin dan prostaglandin) yang merupakan reseptor nyeri yang spesifik sehingga timbul rasa nyeri yang dirasakan pasien. kelemahan otot dan nyeri/spasme otot paravertebralis. Hal ini menyebabkan pasien merasa lemas dan sulit bergerak pada anggota badan tetrutama pada daerah ekstremitas. Selain itu terdapat atrofi otot dan penurunan rentang gerak tubuh. Hal ini kemudian memicu terjadinya gangguan eliminasi alvi. Hal ini dikarenakan adanya lesi pada tulang belakang yang menimbulkan nyeri dan menyebabkan pasien malas bergerak sehingga pasien menjadi kurang aktifitas (immobilisasi). Hal tersebut menimbulkan munculnya reaksi zat kimia/bioaktif (serotonin. . Hal ini dapat menyebabkan gangguan mobilitas fisik pada diri pasien Pasien juga merasa tidak terasa jika ingin miksi serta susah untuk buang air besar. Nyeri disebabkan karena adanya trauma pada spinal cord sehingga menimbulkan gangguan sirkulasi/penekanan pada saraf pada daerah trauma. Pasien menjadi mengalami gangguan dalam berjalan.BAB III ANALISA DATA DAN MASALAH KEPERAWATAN 3. Pada data pengkajian ditemukan keluhan nyeri.1 Analisa Data Dari hasil pengkajian kita dapat membuat analisa data.

d perubahan status kesehatan BAB IV INTERVENSI KEPERAWATAN 4. Nyeri b. Gangguan mobilitas fisik b.d kurangnya aktifitas (immobilisasi) 4. Ketakutan dan kecemasan pasien dalam menghadapi HNP dapat menjadikan pasien stres.Pada integritas ego pasien juga mengalami masalah. lokasi nyeri minimal keparahan nyeri berskala 0 Indikator nyeri verbal dan noverbal (tidak menyeringai) . spasme otot Tujuan : Nyeri berkurang atau rasa nyaman terpenuhi Kriteria : · · · · Klien mengatakan tidak terasa nyeri.d Kompresi saraf. spasme otot. Hal ini dapat menyebabkan gangguan integritas ego ansietas pada pasien. Intervensi Nyeri b. Ansietas b.1. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) b. spasme otot 2. 1. terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus 3. 3.d nyeri.d Kompresi saraf. cemas dan depresi.2 Masalah Keperawatan Dari analisa data tersebut kita dapat mngambil diagnosa keperawatan sebagai berikut : 1.

terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus Tujuan : Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya Kriteria hasil : · · · Tidak terjadi kontraktur sendi Bertabahnya kekuatan otot Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas Intervensi Ubah posisi klien tiap 2 jam. Rasionalnya adalah untuk menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit. tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan . Mengajarkan tehnik untuk menurunkan ambang nyeri seperti mengajarkan metode relaksasi.Intervensi : Membantu klien untuk menentukan batas nyeri dengan skala 1-10. mengatur pernapasan. 2. Rasionalnya adalah gerakan aktif memberikan massa. Membatasi pergerakan klien. Rasionalnya adalah untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada syaraf tulang belakang dan mengurangi nyeri Mengalasi tempat tidur klien dengan alas yang keras (tripleks). spasme otot. rasional dari tindakan ini adalah pengetahuan terhadap skala nyeri untuk dapat melakukan tindakan sesuai dengan intensitas nyeri. Gangguan mobilitas fisik b. Sedangkan obat dapat menghambat reseptor nyeri yang ada di otak Mengkaji tanda vital pasien.d nyeri. dan menggunakan obat analgetika. Rasionalnya adalah tehnik relaksasi. Rasionalnya adalah untuk menjaga posisi tulang punggung tidak berubah. dan mengatur pernapasan dapat menurunkan ambang rasa nyeri. Rasionalnya adalah perubahan tanda vital dapat digunakan sebagai indikator adanya perubahan intensitas nyeri.

d kurangnya aktifitas (immobilisasi) Tujuan : Klien tidak mengalami konstipasi Kriteria hasil · · · · Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat Konsistensifses lunak Tidak teraba masa pada kolon ( scibala ) Bising usus normal ( 15-30 kali permenit ) Intervensi : Auskultasi bising usus. banyak minum dan makan buah-buahan. Rasionalnya adalah makanan tinggi serat menjadikan tinja lunak.Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit rasionalnya adalah otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan 3. Rasionalnya adalah merangsang peristaltik sehingga memudahkan pengeluaran tinja. catat lokasi dan karakteristik. banyak minum mengurangi penyerapan pada tinja Pemberian laksatif supositoria. Rasionalnya adalah mengidentifikasi derajat gangguan dan tingkat perbaikan konstipasi.d perubahan status kesehatan Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang/hilang. Observasi distensi abdomen bila bising usus menurun atau tidak ada. Rasionalnya adalah bising usus menandakan usus berfungsi normal. karakteristik dan banyaknya tinja. Catat frekwensi. Anjurkan untuk makan tinggi serat. 4. Respon klien tampak tersenyum. Rasionalnya adalah peristaltik menghilang pada distensi abdomen atau meningkat bila terjadi gangguan usus. Ansietas b. Intervensi . Kriteria hasil : · · Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekuatirannya. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) b.

Price. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Harsono. 2000. Rasionalnya adalah hal tersebut dapat diberikan pada klien agar dapat mengungkapkan perasaannya untuk meningkatkan koping sesuai dengan Evaluasi status psikologis dan tanda vital.Geissler A. 2003 . EGC..Moorhouse M. Jakarta . 2000.Kaji tingkat cemas klien.C. 2002 . Sylvia Anderson . PATOFISIOLOGI : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Buku Saku Diagnosis Keperawatan . Rasionalnya adalah mengidentifikasi kekuatan dan keterampilan klien dalam memecahkan masalah. Berikan informasi akurat dan jawab setiap pertanyaan klien. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Judith M . 2000. Yogyakarta. Edisi 8. Lynda Juall. Rencana Asuhan Keperawatan. Kapita Selekta Neurologi. bagaimana klien memecahkan masalah dan koping apa yang digunakan. Doenges.E. Jakarta. Gadjah Mada University Press. EGC . Rasionalnya adalah untuk menilai sejauh mana perkembangan dari intervensi yang diberikan. Rasionalnya adalah memberi kesempatan klien untuk mengambil keputusan sesuai dengan pengetahuannya.F. M. EGC. Jakarta : EGC Wilkinson.. Jakarta. Memberikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaannya. Edisi 3..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful